Banda Aceh–Menyikapi berkembangnya pernyataan kontroversial di media sosial yang menolak partisipasi Perempuan Aceh dalam ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) berdasarkan penafsiran yang sempit terhadap teks Al-Qur’an, Balai Syura Ureung Inong Aceh (Balai Syura) dan seluruh elemen gerakan perempuan menegaskan bahwa, memilih dan dipilih dalam pemilu dan pilkada merupakan hak politik warga negara Indonesia, termasuk Perempuan Aceh.
Jaminan atas pemenuhan hak ini telah dinyatakan dengan tegas dalam konstitusi dan sejumlah peraturan perundang-undangan di bawahnya, baik dalam bentuk UU maupun qanun. Hal ini sejalan dengan prinsip nondiskriminasi dan kesetaraan substantif yang dinyatakan dalam Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984).
Selain itu, baik UU Pemerintah Aceh (UUPA), UU Pemilihan Kepala Daerah, maupun Qanun Aceh tentang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota, tidak ada satu pun yang melarang perempuan untuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Bahkan UUPA telah mewajibkan Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota untuk memajukan dan melindungi hak-hak perempuan.
Pasal 8 Qanun Aceh tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan juga telah menegaskan jaminan atas hak perempuan untuk menduduki posisi jabatan politik di eksekutif maupun legislatif secara proporsional, melakukan berbagai aktivitas politik sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dan dicalonkan sebagai anggota legislatif oleh partai politik nasional maupun partai politik lokal. Karenanya, larangan bagi perempuan Aceh untuk mencalonkan diri dalam pilkada merupakan pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan dan perampasan hak konstitusional perempuan.
Sejarah Islam telah mencatat peran penting tokoh perempuan seperti Sayyidah Khadijah, Sayyidah Aisyah, dan Sayyidah Fatimah dalam mendukung dan menyebarkan ajaran Islam, tanpa melarang mereka untuk berpartisipasi dalam kepemimpinan politik. Aceh sendiri memiliki warisan kepemimpinan perempuan yang kuat dengan 4 ratu yang memimpin Aceh selama 59 tahun, yang didukung oleh dua ulama besar, Nuruddin Ar-Raniry dan Abdurrauf As-Sinkili.
Ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki tempat yang penting dalam sejarah kepemimpinan di Aceh. Oleh karenanya, penting bagi publik di Aceh untuk mempelajari kembali sejarah ini guna menghindari kesalahpahaman dan merawat ingatan bersama.
Terhadap permasalahan di atas, Balai Syura Ureung Inong Aceh dan seluruh elemen gerakan perempuan menyatakan sikap:
1. Mendesak Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota agar:
a. Memastikan setiap warga negara termasuk perempuan terlindungi dan terpenuhi hak konstitusionalnya sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, termasuk dalam hal ini memastikan setiap perempuan yang mencalonkan diri dalam pilkada atau terlibat dalam politik tidak menghadapi diskriminasi atau hambatan karena keberadaannya sebagai perempuan.
b. Mengambil langkah-langkah konkret untuk mempromosikan dan melindungi hak-hak perempuan dalam politik, termasuk mendukung keterlibatan mereka dalam bursa pilkada dan posisi kepemimpinan politik lainnya, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
c. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang hak-hak perempuan dalam politik, serta menghapus stereotipe dan prasangka gender yang dapat menghalangi partisipasi perempuan.
2. Meminta Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh dan Panwaslih Kab/Kota untuk meningkatkan pengawasannya terhadap penggunaan konten atau materi kampanye yang mengarah kepada hoaks dan politisasi SARA dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah sejak dari tahap persiapan, dan melakukan langkah-langkah konkrit untuk pencegahan.
3. Menyerukan kepada seluruh bakal calon/calon kepala daerah dan tim suksesnya agar berkompetisi secara fair dalam keseluruhan tahapan proses pemilihan kepala daerah, tanpa harus melakukan politisasi agama/politisasi syariat Islam untuk menjegal perempuan menggunakan hak politiknya.[]
AKHIR tahun lalu bisa dikatakan menjadi “nightmare” bagi Amana—bukan nama asli. Gara-gara satu postingan yang viral di media sosial berbasis audio visual, dirinya pun menjadi “bulan-bulanan” di jagat maya. Semula Amana tak peduli, tetapi risakan demi risakan yang ditujukan kepada dirinya di media sosial semakin brutal. Komentar-komentar yang dilontarkan bernada kasar, penuh kebencian, misoginis, hingga body shaming. Tidak hanya mengganggu, komentar-komentar tersebut membuat Amana merasa terancam.
Saat ditelusuri ulang oleh perempuanleuser.com pada Minggu, 9 Juni 2024, video yang diunggah menjelang akhir November 2023 tersebut sudah mencapai 2,3 juta view; 58,6 ribu like; 4.111 komentar; dan 1.416 reshare.
Setelah video tersebut viral, kotak pesan di media sosial Amana dibanjiri permintaan pesan dari akun-akun yang tak dikenal. Anehnya, meski peristiwa yang memicu kejadian tersebut terjadi di Aceh, tetapi orang-orang (akun) yang menghujatnya juga berasal dari wilayah lain di Indonesia. Sebagiannya terdeteksi sebagai akun robot. Komentarnya cenderung seragam. Dan, tentu saja sangat provokatif. Misalnya, ‘Ibu-ibu ***** *** penjilat’, ‘Siapa perempuan itu? Sok-sok membela pengungsi’, atau ‘Gua tandain lu ya bu’. Ada juga komentar dalam bahasa Aceh yang artinya ‘injak saja lehernya’. Atau komentar ‘Cari aja info akun mbaknya’, bahkan ada yang menyebut ‘ibu ******anak’.
Namun, yang lebih membuat Amana miris, komentar-komentar lancang tersebut tampaknya memang disengaja karena dia seorang perempuan. Dalam komentar-komentar tersebut, misalnya, terdapat kata inong (bahasa Aceh) yang berarti perempuan. Komentator yang merasa superior tampaknya lupa, meskipun berinteraksi di dunia maya tetap saja perlu etika.
“Kalau sasarannya laki-laki, saya yakin komentar-komentarnya tidak akan seperti itu,” kata Amana saat diwawancarai perempuanleuser.com pada Kamis malam, 6 Juni 2024.
Bahkan, buntut dari postingan di media sosial itu, efeknya terasa hingga di dunia nyata. Ada orang yang dengan sengaja menandai (tag) akun pribadinya di postingan yang sedang viral.
“Beberapa hari setelah kejadian itu, saya dan rekan-rekan makan di sebuah kafe di Banda Aceh, tak lama setelah itu muncul postingan di sebuah akun yang menyatakan keberadaan saya di kafe tersebut,” cerita Amana.
Tentu saja Amana merasa ngeri. Wajahnya kadung “ditandai” oleh warganet. Sampai-sampai ketika ia sedang makan di sebuah kafe pun, ada orang yang diam-diam merekam keberadaannya dan memostingnya di media sosial. “Bagaimana kalau saya masih di sana? Lalu orang-orang datang dan meluapkan kemarahannya kepada saya?”
Yang Amana tak habis pikir, ada pula akun yang membeberkan alamat tempat tinggal pribadinya. Amana cemas. Terutama setelah ada akun yang mengomentari postingan Amana bersama anaknya di sebuah platform media sosial. Ketika sudah melibatkan keluarganya, tentu saja Amana tak bisa menganggap itu sepele. Amana pun menjadi paranoid.
“Kami sudah warning dengan halus. Kalau kamu masih bersikeras, jangan salahkan kami kalau kami main kasar. Ngeri saya. Benar nggak nih?” kata Amana menirukan salah satu komentar di unggahan foto ia dengan anaknya.
“Sampai sekarang saya masih parnoan,” ujar ibu satu anak tersebut.
***
Amana adalah salah satu staf yang bekerja di lembaga yang berkonsentrasi pada penangangan pengungsi di seluruh dunia. Sejak bergabung di lembaga itu, Amana kerap bertugas ke lokasi-lokasi tempat para pengungsi Rohingya terdampar di Aceh. Pada 23 November 2023 lalu, subuh-subuh buta Amana bersama tiga petugas keamanan telah bertolak dari Pidie menuju Banda Aceh. Ia mengejar waktu agar tak ketinggalan kapal cepat yang bertolak pada pukul delapan pagi dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, menuju Pelabuhan Balohan, Sabang.
Pada pukul 22.30 WIB sebelumnya, sekitar 200-an pengungsi Rohingya terdampar di perairan Sabang. Itulah yang membuat Amana berpikir untuk tiba di Sabang secepat mungkin. Para pengungsi harus mendapat penanganan secepatnya. Terutama yang berkaitan dengan kebutuhan logistik. Di antara mereka juga ada yang memerlukan penanganan medis segera.
Sementara itu, warga setempat menolak keberadaan Rohingya dan meminta mereka segera dipindahkan dari Sabang. Amana menjelaskan bahwa urusan pindah-memindahkan pengungsi bukanlah kewenangan lembaganya. Melainkan kewenangan pemerintah daerah.
Ketika salah seorang warga menyampaikan “uneg-unegnya” perihal penolakan pengungsi Rohingya, ada orang yang merekam “orasi” tersebut. Video tersebut kemudian diunggah ke media sosial. Lalu viral. Netizen latah berkomentar tanpa tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Amana yang menjadi satu-satunya staf perwakilan dari organisasi tersebut pun menjadi sasaran empuk. Ia dicerca habis-habisan di jagat maya. Amana merasa dirinya diawasi dan dipantau di jagat nyata sehingga tak berani pergi ke kafe yang sama berulang-ulang.
“Ke mana-mana saya pakai masker. Nggak berani lagi pakai atribut organisasi kalau pergi-pergi,” kata perampuan asli Aceh tersebut.
Meski belum begitu familer di kalangan masyarakat umum, tetapi sebagai orang yang bekerja di lembaga internasional, Amana mengetahui kalau dirinya sedang mengalami kekerasan berbasis gender online (KBGO). Hal ini membuatnya agak lebih mudah menangani tekanan-tekanan psikologis yang terjadi akibat perisakan di media sosial. Namun, meskipun kekerasan itu terjadi di dunia maya, efek psikologisnya tak bisa dianggap sepele.
“Kalau menghadapi orang marah-marah secara langsung sebenarnya sudah biasa bagi saya, orang pukul-pukul meja, tapi ini yang paling mengerikan adalah ada orang-orang yang nge–tag akun pribadi, menyerang pribadi saya, DM ke akun pribadi,” katanya.
***
Ilustrasi: femina.co.id
Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFENet)—sebuah organisasi masyarakat sipil yang memperjuangkan hak-hak digital, di antaranya, hak atas rasa aman di ranah digital—dalam buku panduan Memahami dan Menyikapi Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) mendefinisikan KBGO sebagai kekerasan langsung pada seseorang yang didasarkan atas seks atau gender dan difasilitasi oleh teknologi.
Versi Komnas Perempuan menyebutnya dengan istilah kekerasan siber berbasis gender (KSBG). Ada juga istilah kekerasan seksual berbasis elektronik (KSBE) sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.
Merujuk pada buku panduan terbitan SAFENet, sebagaimana dikutip dari ykp.or.id, terdapat enam aktivitas yang dapat dikategorikan sebagai KBGO. Meliputi pelanggaran privasi, pengawasan dan pemantauan, perusakan reputasi, online harassment, ancaman dan kekerasan, dan community targeting.
Efek KBGO, tak hanya menyebabkan gangguan atau kerugian psikologis, keterasingan sosial, atau kerugian ekonomi saja, tetapi juga dapat menyebabkan terbatasnya mobilitas dan sensor diri.
Beberapa dampak di atas dirasakan oleh Amna. Selain menjadi paranoid, ia tak lagi leluasa mengunggah momen-momen berharga dirinya dengan keluarga di media sosial. Bahkan untuk sementara waktu ia sempat “diungsikan” ke provinsi lain.
“Ini yang membuat saya nyaman karena lingkungan dan rekan-rekan kerja saya sangat peduli dengan keselamatan dan keamanan kami di lapangan,” kata Amana.
Kasus KBGO Semakin Tinggi
Menurut catatan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), kasus KBGO di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Ditilik dari model kasusnya pun, sebagaimana disebutkan komisioner Komnas Perempuan, Andy Yentriyani, semakin berkembang. Dikutip dari Tempo, Yentri merincikan, pada 2017 kasus KBGO yang dilaporkan ke Komnas Perempuan ada 16 kasus. Naik menjadi 97 pada 2018, lalu menjadi 281 kasus pada 2019. Angkatnya melonjak drastis pada 2020 menjadi 940 kasus yang dilaporkan. Naik lagi menjadi 1.721 pada 2021. Sedikit menurun pada 2022 menjadi 1.697 dan menjadi 1.272 pada 2023.
“Namun, ini bukan berarti jumlah KBGO berkurang, melainkan sekarang semakin banyak kanal pengaduan KBGO selain ke Komnas Perempuan,” katanya sebagaimana diberitakan Tempo, 5 Juni 2024.
Pegiat literasi digital di Aceh, Hendra Syahputra, yang juga dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menilai, rendahnya literasi masyarakat Indonesia tercermin dari interaksi maupun komentar-komentar yang ditinggalkan di internet. Literasi yang rendah menurutnya akan berdampak pada rendahnya kemampuan individu dalam menganalisis maupun untuk mencari sumber informasi yang benar sehingga gampang terprovokasi, mudah tersulut emosi, dan “anarkis”.
“Mereka ini kalau membaca berita atau informasi cuma fokus di judul saja dan suka latah dalam berkomentar, fear off missing out atau FOMO, alhasil tak peduli meskipun komentar-komentarnya melukai orang lain, senangnya ‘merujak’ orang,” kata Hendra, Minggu, 9 Juni 2024.
Jika melihat Status Literasi Digital di Indonesia 2023 hasil survei yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk mengukur skor indeks literasi digital antara laki-laki dan perempuan, skor perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki untuk pilar etika digital, yakni berada pada angka 4,01 dari skor 1—5. Sedangkan laki-laki berada pada angka 3,98. Ini artinya, perempuan lebih berkemampuan dalam menyadari, menyesuaikan diri, dan menerapkan etika digital atau netiquet ketika berada di jagat maya.
Sementara untuk pilar budaya digital, selisih antara skor laki-laki dengan skor perempuan hanya satu poin. Skor laki-laki 3,82 poin dan perempuan 3,81 poin. Untuk pilar keahlian digital, skor laki-laki berada pada angka 3,53 poin dan perempuan 3,47 poin. Terakhir, pilar keamanan digital, skor laki-laki 3,32 poin dan perempuan 3,25 poin.
Realitas ini berbanding lurus dengan banyaknya perempuan yang menjadi korban kekerasan di ranah internet. Perempuan yang notabenenya lebih sopan dan berbudaya, justru sering menjadi korban karena secara keahlian dan keamanan digital skornya masih di bawah netizen laki-laki.
Hendra berharap, pemerintah bisa terus menyosialisasikan literasi digital kepada masyarakat. Dengan demikian, tidak ada Amana-Amana lain yang menjadi korban kebrutalan di ranah digital yang berbasis gender.[]
“Hari ini kita masak mi ayam. Jadi, Koki Ummi Syifa akan membagi ke dalam empat kelompok ya! Masing-masing kelompok, ada satu orang tua dan dua orang anak.” Ujar Syifa yang bertugas sebagai guru dalam program Orang Tua Mengajar pada hari itu (8/05/2024). Hampir tiga jam, para orang tua dan anak-anak berkutat dengan aktivitas yang dinamai fun cooking tersebut.
Ada yang bertugas merebus mi, menumis ayam, merajang sayuran, dan mempersiapkan kuah, hingga akhirnya tersajilah mi ayam kuah. Mereka menikmati bersama sambil diselangi canda tawa, dan anak-anak ikut bahagia beraktivitas dengan orang tua mereka. Begitulah sekelumit aktivitas di komunitas belajar yang digagas oleh Rahmiana Rahman.
Lembaga pendidikan non formal yang dinamai Bumoe Leraning Community ini, hadir sebagai alternatif dalam menyikapi pendidikan konvensional yang lebih menekan pada kecakapan dan sebuah nilai. Di komunitas ini, orang tua berkumpul, belajar bersama dalam pengasuhan, berproses, dan saling sharing membersamai anak.
“Metode yang digunakan fokus pada tahapan perkembangan anak, jadi tidak mengegas anak dalam belajar seperti pendidikan sekolah formal pada umumnya. Di sini lebih melihat potensi anak dan apa yang ia sukai.” Ungkap Rahmi yang merupakan Katua Yayasan Rumah Relawan Remaja, tempat bernaungnya Bumoe Learning Community (10/05/2024).
Sebab, menurut sepengetahuan Rahmi sebagai santri tallents mapping bahwa untuk mencapai sebuh kompetensi fitrah, ada yang namanya Tallents, Attitude, Skill, Knowladge (TASK). Pengembangan inilah yang membawa anak memaksimalkan potensi fitrahnya agar bermanfaat di masyarakat atau di kehidupan nyata. Hal seperti ini jarang didapati di pendidikan konvensional, khususnya di persekolahan.
Berdasarkan pengalamannya yang pernah menjadi guru di sekolah selama 7 tahun, pendidikan konvensional yang terdapat di sekolah-sekolah saat ini banyak yang menyimpang dari pendidikan yang sebenarnya. Misalnya saja dalam memberikan sebuah penilaian. Kadang guru terpaksa memberikan nilai bagus kepada muridnya demi mempertahankan nama baik sekolah. Tuntutan institusi sekolah terhadap civitasnya membuat pendidik mencederai makna pendidikan itu sendiri. Terlebih anak-anak dipaksa demi yang namanya kurikulum dan sebagainya, sehingga membuat anak terbebani bahkan tidak segan berbuat curang.
Kecurangan ini pernah Rahmi alami semasa ia menjadi murid dan bersekolah di sekolah umum. Di mana saat ujian kelulusan sekolah, guru memberikan kunci jawaban kepada murid-muridnya agar sekolah tersebut terlihat bagus karena muridnya lulus 100%. Belum lagi ketimpangan antara guru honorer dan guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), masih jadi polemik internal di dalam dunia pendidikan konvensional.
“Saya pernah merasa “ditindas” guru-guru senior saat jadi guru honorer di Sekolah Dasar Negeri (SDN) saat itu. Dipaksa masuk jam pelajaran lebih banyak, mendapat bayaran lebih sedikit, kegiatan ekstra kurikuler di sekolah saya yang pegang. Padahal sudah jelas yang berpenghasilan dari negara siapa, tapi tugas tersebut dilimpahkan kepada kami yang honorer,” keluh Rahmi. Meskipun ia menikmati pekerjaan tersebut, tapi dalam hakikat pendidikan sebenarnya bukanlah seperti itu.
Pengalaman lainnya yang ia temui saat menjadi guru dan kepala asrama di Sekolah Internasional, banyak guru mengeluh dan komplain terhadap kebijakan sekolah yang sepihak. Namun, mereka tidak punya pilihan dan hanya bisa bertahan dalam ketidaknyamanan. Persaingan antar guru pun kerap terjadi demi mendapat perhatian dari atasan. Lain lagi perkara orang tua yang meyalahkan guru atau pihak sekolah ketika anaknya bermasalah. Seolah pendidikan hanya dilimpahkan kepada pihak sekolah tanpa campur tangan orang tua. Kenyataan-kenyatan seperti itu jelas menodai yang namanya pendidikan.
Berangkat dari pengalaman tersebutlah Rahmi tidak ingin anaknya masuk ke dalam dunia pendidikan konvensional, sehingga dibuatlah pendidikan alternatif berdasarkan fitrah anak yang dinamai Bumoe Learning Community. Selain anaknya sendiri, komuintas ini juga menerima anak dan orang tua yang mau belajar bersama dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Harapannya akan banyak anak dan orang tua yang mendapatkan pendidikan sesuai kebutuhan fitrahnya.
Rahmi sedang membacakan buku cerita untuk anak-anak.
Flashback Pendidikan Konvensional
Selain Rahmi, Ada Zamira Bibi yang sepakat bahwa perlu ada pengganti atau alternatif dari pendidikan konvensional yang dipraktikkan secara turun temurun selama ini. Menurut Zamira pendidikan konvensional saat ini sudah kurang relevan untuk anak-anak zaman sekarang.
Sebab berdasarkan pengalaman sekolahnya di pendidikan formal, mulai tingkat kanan-kanak hingga bangku perkuliahan tidaklah memberi dampak signifikan terhadap kehidupannya. Karena mungkin dipengaruhi beberapa faktor, misalnya pilihan jalan hidup dan sebagainya. Hanya satu hal yang bisa dilihat bahwa pendidikan konvensional mendapat output berupa gelar dan ijazah.
“Standar pengukuran pendidikan konvensional cenderung menyamaratakan potensi anak, lebih menitikberatkan pada angka, dinilai dengan capaian numerik, dan scoring. Padahal tidak demikian ketika kita sudah melihat keunikan anak-anak, tentu setiap anak punya score terbaiknya masing-masing.” Jelas Zamira yang merupakan praktisi tallents mapping.
Zamira meyakini bahwa Allah SWT menciptakan kita dan anak-anak dengan kekuatan dan kelemahannya sekaligus. Hanya saja pendidikan konvensional cenderung melihat anak-anak dari sisi kekuatannya saja. Sedangkan sisi kelemahannya dibuat seragam melalui standar-standar yang sudah diterapkan.
Contohya saja anak yang mempunyai kecerdasan matematika dan analisa terhadap angka dinilai sebagai anak yang pintar dan cerdas, sehingga dijadikan juara kelas. Padahal ada kecerdasan lain yang tidak diakomodir oleh sekolah sehingga menutupi kecerdasan anak-anak di bidang lainnya. Sebab di masyarakat tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pintar secara akademik saja, tapi ada keterampilan lain yang membuatnya hidup lebih baik dan berdampak dalam masyarakat.
Sebenarnya tidak masalah anak-anak itu bersekolah di manapun dengan sekolah model apapun, hanya saja orang tua ikut berperan dalam memberikan pendidikan tersebut. Namun, selama ini kita kurang tepat memahami makna sejati pendidikan karena menganggap bahwa pendidikan itu sama dengan sekolah. Padahal pendidikan itu sangat berbeda dengan persekolahan.
“Pendidikan tidak mesti harus di sekolah, karena di rumah pun bisa menjalani pendidikan. Begitu pula di sekolah, belum tentu semuanya terdidik. Kalau sekolah-sekolah saja, tapi barang kali tidak ada fungsi pendidikan di rumah yang dilakukan orang tua, sama saja.” Ujar Zamira
Maka dari itu, Zamira sepakat dan mendorong anak-anaknya untuk punya mindset pendidikan yang tepat dan berikhtiar dengan menjali metode pendidikan berdasarkan fitrah.
Anak-anak bisa belajar di mana pun, termasuk di kafe.
Pendidikan Berdasarkan Fitrah
Pendidikan berdasarkan fitrah adalah sebuah konsep pendidikan yang memberikan ruang seluas-luasnya kepada anak untuk tumbuh selaras fitrahnya, agar kelak hidupnya bermanfaat untuk diri, keluarga, dan banyak manusia. Ada delapan aspek fitrah yang harus dikembangkan pada anak agar pendidikan fitrahnya tercapai.
Delapan aspek ini meliputi fitrah keimanan, belajar dan bernalar, perkembangan, bakat, estetika, seksualitas, individualitas, dan jasmani. Semua fitrah ini perlu dirawat bersama-sama karena setiap fitrah punya fase “golden age-nya” masing-masing. Dan dalam pendidikan fitrah yang paling unik saat orang tua merawat fitrah anak, maka fitrah dirinya akan ikut bercahaya kembali.
Hal tersebutlah yang dirasakan Zamira ketika memilih pendidikan fitrah untuk anaknya. Awalnya anak pertama Zamira bersekolah di Sekolah Alam pada tingkat dasar. Selesai dari itu, anaknya memilih unschooling karena Zamira memberikan kesempatan kepada anaknya untuk belajar apa yang diinginkan dan diminati sesuai fitrahnya.
Pilihan tersebut tentunya membuat Zamira punya hak penuh dalam mendidik anaknya. Meskipun di rumah, tapi setiap aktivitasnya dipenuhi dengan pembelajaran karena orang tualah yang paling paham anak-anaknya. Beginilah seharusnya pendidikan sejati yang berasal dari rumah.
Sadar akan pentingya kebutuhan pendidikan berdasarkan fitrah, Zamira pun mendirikan sebuah Program Pendidikan dan Pembelajaran Enterpreneurship untuk anak dan pemuda yang diberi nama Hubbika House Creative. Konsep fitrah yang dipakai di sini, sebagai salah satu pendekatan dalam membersamai orang tua untuk menghidupkan kembali fitrah anak, memaluai proses pembelajaran yang berbeda dengan pendidikan konvensional.
Baik Rahmi maupun Zamira, mereka adalah perempuan kreatif yang paham akan kondisi pendidikan saat ini. Tidak mau anak-anak mereka mengalami pengalaman yang sama dengan jalan pendidikan konvensional yang mereka tempuh, maka mereka mendirikan lembaga pendidikan yang sesuai dengan fitrahnya anak.
Sebab ketika kita memberikan anak-anak ruang yang lebih luas untuk menjadi diri sendiri, mereka akan lebih mudah menemukan jati diri. Tidak perlu menjadi hebat seperti orang lain, cukup menjadi diri sendiri yang bermanfaat itu lebih baik dalam kehidupan bermasyarakat. []
Hijaunya perbukitan Gayo Lues, Aceh, menjadi perlindungan bagi berbagai hewan, diantaranya rusa. Masyarakat di Gayo Lues menyebut rusa dengan nama tradisionalnya, akang dan/atau giongen. Meski rusa dikenal sebagai hewan langka, namun sebagian warga Gayo Lues masih mengonsumsinya. Daging rusa masih dapat ditemukan di pasar umum mingguan di hampir seluruh wilayah.
Rusa merupakan salah satu satwa liar yang banyak memberikan manfaat bagi manusia, salah satunya yaitu canggah/tanduknya yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Meski belum dibuktikan secara ilmiah, namun masyarakat tradisional Gayo Lues sangat mempercayainya. Hal ini menjadi salah satu faktor dari tetap maraknya perburuan rusa di Gayo Lues. Padahal, sebagai bagian dari ekosistem, rusa berperan penting dalam menjaga keseimbangan alam.
Mengulik Perburuan Rusa di Gayo Lues: Antara Tradisi dan Dilema Konservasi
Keindahan pegunungan hutan Gayo Lues mengandung cerita-cerita yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam, tradisi serta tantangan konservasi yang harus dihadapi.
Salah satunya adalah tradisi berburu, yang secara rutin masih dilakukan masyarakat Pining, Gayo Lues. Tradisi ini disebut mungaro (berburu). Bagi warga Pining, mungaro merupakan tradisi yang telah dilakukan puluhan bahkan ratusan tahun lamanya.
Menjalankan mungaro tidak bisa sembarangan, melainkan ada tahapan dan aturannya. Pertama, masyarakat akan meminta seorang pawang untuk mengatur jalannya acara mungaro. Pawang adalah seseorang yang ilmunya dianggap telah mumpuni, mengetahui seluk beluk hutan dan penghuninya.
Di Gayo Lues, pawang banyak macamnya, ada pawang rusa, pawang harimau, pawang gajah dan lain-lain. Sebelum memasuki hutan untuk berburu, pawang mengatur strategi berburu, sekaligus mengatur pembagian tugas warga yang termasuk tim perburuan. Anggota tim ini disebut pong nangkok.
Rusa Sambar di kebun sawit (bedelau.com)
Tugas pong nangkok beraneka ragam, bergantung pada keahlian masing-masing. Ada ahli melacak jejak, ahli mengarahkan anjing pemburu, hingga menjaga aliran air. Dalam ilmu berburu Gayo Lues, menjaga aliran air sangat penting, karena hewan buruan yang dikejar anjing pemburu akan selalu lari ke aliran air.
Selesai berburu nanti, daging hewan buruan akan dibagi-bagi antar anggota tim. Secara tradisional, pawang mendapat bagian daging dada hingga kepala. Setelah pawang, giliran pong nangkok yang pertama kali berhasil menombak buruan mendapat bagian daging. Baru kemudian daging dibagi rata di antara anggota tim.
Mungaro dimulai dengan acara “meminta izin” kepada pawang tue. Pawang tue adalah tetua orang halus yang menurut kepercayaan tradisional menghuni hutan-hutan Gayo. Setelah selesai meminta izin barulah rombongan berburu boleh masuk. Secara tradisional, berburu hanya boleh dilakukan pada hari-hari Senin, Selasa dan Kamis.
Salah seorang warga Pining yang masih mencari rezeki dengan berburu rusa adalah Pak Aman Dalam obrolan eksklusif bersama kami, Rabu 10 April 2024, Pak Aman menceritakan pengalaman hidupnya sebagai pemburu.
Dituturkan Pak Aman, secara tradisional rusa diburu dengan cara ditombak (kunyur). Namun kini sudah banyak pemburu yang menggunakan senjata api.
Berbedanya teknik yang digunakan dalam menangkap rusa dapat disebabkan oleh kondisi lapangan, keahlian pemburu, dan jenis senjata atau peralatan yang tersedia. Pada umumnya, ada dua metode utama yang digunakan untuk menangkap rusa: menembak dan menombak.
Mungaro atau berburu di Pining Gayo Lues dengan hasil buruan kijang (lintasgayo.com)
Metode menembak, pemburu menggunakan senjata api untuk menembak rusa dari jarak yang relatif jauh. Teknik ini membutuhkan keterampilan membidik, dan menemukan posisi yang tepat untuk memastikan tembakan yang akurat dan efektif. Metode menembak digunakan dalam berburu di daerah terbuka dimana jarak pandang cukup luas.
Dalam teknik tombak, pemburu menggunakan tombak atau panah untuk menyerang rusa dari jarak yang lebih dekat. Teknik ini memerlukan keahlian ketika mengendap mendekati rusa, serta keterampilan dalam melempar tombak atau melepaskan panah. Metode ini digunakan dalam berburu di hutan dengan vegetasi rapat, di mana ruang gerak terbatas dan pemburu harus mengandalkan keterampilan pengejaran yang lebih intensif.
Kedua metode tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan pilihan antara keduanya sering kali tergantung pada preferensi pemburu, kondisi lingkungan, dan hukum atau regulasi yang berlaku dalam kegiatan berburu di suatu wilayah.
Ada dua jenis Cervidae di hutan-hutan Indonesia. Satu, rusa biasa, juga dikenal sebagai rusa Jawa, kijang atau muncak (Muntiacus muntjak). Kijang adalah spesies rusa kecil yang umumnya ditemukan di Indonesia, khususnya di pulau Jawa.
Sementara itu, rusa sambar (Cervus multicolor) adalah spesies rusa yang lebih besar, ditemukan di sebagian besar Asia Selatan dan Tenggara.
Di Indonesia, rusa sambar ada di pulau Sumatera dan Kalimantan. Perbedaan rusa dan kijang terletak pada bentuk tanduk serta besar tubuhnya. Tanduk rusa sambar berceranggah seperti ranting pohon. Sedangkan kijang memiliki tanduk kecil yang lurus saja. Tubuh rusa sambar juga lebih besar, umumnya tingginya adalah antara 1-1.6 m, dengan panjang rata-rata 1.5 m. Rusa sambar jantan dewasa beratnya dapat mencapai 125 kg, sedangkan betinanya 90 kg.
Perbedaan rusa sambar dan kijang (gardaanimalia.com)
Menurut Pak Aman, jumlah rusa yang ditangkapnya bervariasi.
“Tidak menentu, kadang banyak tapi kadang juga bisa sedikit,” katanya. “Waktu berburunya kadang lama, terkadang tidak,” tambahnya. Menurutnya, keberuntungan agaknya sangat berpengaruh pada hasil perburuan.
Pak Aman biasa menjual daging buruannya di pasar mingguan. Namun, tidak jarang warga yang menginginkan daging rusa datang langsung ke rumah Pak Aman untuk membeli hasil buruan.
Di negara lain, berburu hewan tertentu diperbolehkan selama sang pemburu memiliki izin, dan berburu hanya dalam musim berburu. Di Aceh, Gayo Lues khususnya, belum ada peraturan atau undang-undang yang mengatur musim berburu, atau penegakan hukum yang ketat terhadap peraturan tersebut. Hal ini membuat pemburu bebas untuk berburu sepanjang tahun. Padahal, praktik perburuan tanpa batas ini sangat mengancam populasi rusa Sambar.
Saat ini, rusa Sambar sudah masuk dalam daftar merah IUCN, karena populasinya sudah menciut drastis.
Menurut Pak Aman, di Gayo Lues belum ada restoran khusus yang menjual daging rusa. Saat ditanya mengapa orang suka makan rusa, Pak Aman tersenyum. “Daging rusa itu enak, dagingnya lebih empuk daripada daging sapi. Dan bisa juga dijadikan obat,” ungkapnya.
Pernyataan Pak Aman bahwa daging rusa dapat dijadikan obat memunculkan rasa ingin tahu, zat apa yang dikandung daging rusa. Secara tradisional masyarakat mempercayai bahwa daging rusa dapat membantu dalam pengobatan berbagai masalah kesehatan, seperti meningkatkan stamina, meningkatkan daya tahan tubuh, atau bahkan mengatasi penyakit tertentu.
Namun, klaim semacam itu seringkali lebih bersifat anekdotal atau berdasarkan tradisi turun temurun, bukan didukung oleh penelitian ilmiah yang komprehensif.
Keuntungan yang didapat Pak Aman dari hasil menjual daging rusa, tidak tentu. “Tapi (harga per kilogramnya) selalu di atas Rp. 100.000,” paparnya.
Antara Hobi, Budaya, dan Paksaan Ekonomi
Motif berburu rusa sangat beragam. Tidak semua penduduk lokal menggantungkan mata pencahariannya pada perburuan rusa. Ada pula yang menjadikannya sebagai hobi yang merupakan bagian dari budaya mereka. Namun, ada juga yang terpaksa mengandalkan perburuan rusa sebagai sumber pendapatan utama.
Dalam penelusuran kami, kami menemukan bahwa sebagian warga melakukan perburuan rusa adalah karena suka. Berawal dari mengikuti tradisi mungaro, kemudian menjadi semacam hobi. Namun, mereka mengatakan bahwa kegiatan ini bukan sekedar berburu saja, namun sudah menjadi ritual turun temurun yang sangat dihargai dan harus dilestarikan.
Pohon keluarga Cervidae (gardaanimalia.com)
Di sisi lain, ada sebagian warga yang menganggap perburuan rusa sebagai sumber pendapatan utama mereka. Mereka berburu rusa didorong kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi. Tidak bisa diingkari, dewasa ini masalah ekonomi masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia, dan di Gayo Lues khususnya.
Dikutip dari laman Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, rusa sambar sudah lama dikategorikan sebagai hewan yang dilindungi, sehingga “barang siapa dengan dengan sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakannya dalam keadaan hidup atau mati dan bagian-bagiannya adalah tindakan melanggar hukum sehingga dapat dikenakan sanksi pidana dan denda sesuai ketentuan hukum yang berlaku.”
Inilah dilema konservasi rusa sambar. Disatu sisi ada rusa yang harus dilindungi, di sisi lain ada manusia yang tentu saja memiliki hak asasi yang harus dipenuhi. Harus ada pemecahan yang seimbang, yang menyediakan keadilan baik bagi manusia, mau pun bagi rusa.
Menjaga Keseimbangan Ekosistem: Pandangan Ahli
Menurut Pak Ikhsan Hasbiullah, dosen di Universitas Syiah Kuala (USK), populasi rusa di hutan berkaitan langsung dengan populasi harimau dan konflik antara manusia dan satwa.
“Kita tinjau dengan POV harimau,” katanya. “Harimau berburu untuk makan hanya seminggu sekali.”
Harimau juga hanya memangsa seekor rusa saja. Dengan kata lain, rusa tidak akan punah kalau hanya diburu harimau. Sedangkan manusia, sekali buru dapat menangkap rusa hingga beberapa ekor. Berkurangnya populasi rusa akibat diburu, menyebabkan harimau kekurangan mangsa. Ini kerap kali menjadi sebab, harimau turun gunung memangsa ternak manusia.
Ketika ditanya tentang upaya mengurangi perburuan rusa di hutan, Pak Ikhsan menyarankan pendekatan yang lebih holistik. “Carilah hobi lain yang juga menguntungkan dan carilah kegiatan sampingan,” jelasnya.
Pendekatan ini mencerminkan pemahaman bahwa alternatif perburuan rusa yang menarik dan ekonomis diperlukan untuk mengubah perilaku masyarakat. Pendapat Pak Ikhsan menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam upaya konservasi dengan menciptakan alternatif yang menarik dan berkelanjutan secara ekonomi serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, kami berharap dapat melestarikan kelangsungan hidup rusa Gayo Lues, serta harimau dan spesies lainnya.
Kami menemui seorang pegiat konservasi, namun beliau menolak untuk disebutkan namanya. Maka, dalam tulisan ini beliau akan kami sebut “Pak X” saja.
Senada dengan Pak Ikhsan, Pak X menyebut bahwa populasi rusa berdampak pada populasi harimau.
Sebagai predator utama KEL, harimau sangat bergantung pada ketersediaan rusa sebagai salah satu sumber makanannya. Menurunnya populasi rusa tidak hanya mengganggu keseimbangan ekologi tetapi juga mengancam kelangsungan hidup harimau.
Menghadapi tantangan ini, salah satu solusi yang diusulkan adalah membangun suaka atau penangkaran rusa sebagai upaya berkelanjutan.
“Itu hal yang sangat positif, namun butuh waktu sangat lama untuk direalisasikan,” kata Pak X. Ditekankannya, bahwa mendirikan dan mengelola penangkaran rusa memerlukan perencanaan dan pengelolaan yang matang. Hal ini antara lain karena penangkaran membutuhkan lahan khusus untuk pemeliharaan, penggembalaan dan sebagainya.
“Hanya melalui kerjasama yang kuat dan kesadaran akan pentingnya perlindungan ekosistem kita dapat mencapai keberhasilan dalam upaya konservasi,” tegasnya. []
Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]
Di balik hamparan hutan lebat di kaki Gunung Leuser, tersembunyi sebuah gerbang istimewa. Gerbang menuju dunia flora dan fauna yang memesona, menjadi rumah bagi para ilmuwan dan penjelajah yang ingin menguak misteri alam liar Aceh.
Gerbang itu adalah Stasiun Penelitian Soraya. Secara administratif, Stasiun Penelitian ini terletak di wilayah Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh.
Meski telah menjadi tujuan para peneliti, baik lokal mau pun internasional, mencapai SP (Stasiun Penelitian) Soraya bukan perkara mudah. Memulai perjalanan dari Banda Aceh, Rabu 24 April 2024, perjalanan saya ke kamp singgah di daerah Gelombang, Desa Suka Maju, membutuhkan 10-11 jam melalui perjalanan darat.
Setiba di Gelombang, kami disambut pihak pengelola kamp. Seraya menunggu tibanya kapal robin yang akan kami naiki untuk menuju SP Soraya, kami diajak mengelilingi pasar pekan. Rombongan kami dipandu seorang perempuan ramah bernama Kartini, akrab dipanggil Kak Kar.
Ternyata, dia adalah juru masak yang bertugas di SP Soraya.
Hari itu dia ada di Gelombang untuk membeli persediaan bahan makanan. Gelombang merupakan pusat perdagangan bagi masyarakat sekitar. Di sini dihimpun hasil panen, baik yang dikirim dari Medan maupun hasil kebun masyarakat sekitar.
Hadir sepekan sekali pada hari Rabu, masyarakat menyebut “pasar tumpah” ini sebagai Pasar Raya Pekan Gelombang. Puncak keramaian pasar ini sekitar pukul 10.00 WIB, hingga menjelang siang.
Setelah tiga jam menanti, akhirnya kapal robin yang kami tunggu tiba juga. Kak Kar juga sudah selesai membeli kebutuhan harian untuk di stasiun penelitian. Banyaknya tidak tanggung-tanggung. Maklumlah, bahan makanan itu adalah persediaan untuk sepekan ke depan.
Pasar Raya Pekan Gelombang
Sebagai koki, Kak Kar tidak setiap hari bisa pergi berbelanja. Selain letak Pasar Gelombang yang sangat jauh, perjalanan melalui sungai juga tidak selalu mulus, karena ada saat air naik atau banjir. Misalnya di musim hujan. Pada saat demikian, perahu tempel berangkat hanya pada waktu tertentu saja.
Saat saya berkunjung, ada 12 orang di Soraya, termasuk saya dan kawan-kawan. Artinya, setiap hari, tiga kali sehari, Kak Kar harus memasak untuk 12 orang, ditambah suguhan minuman hangat dan camilan, setiap pagi dan sore.
Kami menyusuri Lae (Sungai) Alas, sejauh 16 km dengan waktu tempuh 2-3 jam, menggunakan perahu motor tempel. Masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan robin.
Pemandangan indah di sepanjang jalan, tidak mengurangi rasa ingin tahu saya tentang sosok Kak Kar. Tugasnya sebagai juru masak membuatnya harus tinggal di SP Soraya. Kak Kar berpenampilan kokoh, akan tetapi SP Soraya yang dikepung rimba raya tentunya memberikan pengalaman lain bagi mereka yang harus menetap di sana.
Akhirnya kami tiba di dermaga perahu SP Soraya. Stasiun Penelitian ini diberi nama sesuai dengan nama sungai yang mengalir di dekatnya, yaitu Lae Soraya. Jalan menuju kamp adalah jalan hutan yang terjal.
Stasiun Penelitian Soraya adalah salah satu stasiun penelitian yang dikelola oleh Forum Konservasi Leuser (FKL).
Pada 1970-an, Stasiun Penelitian Soraya merupakan kawasan Hak Perusahaan Hutan (HPH) PT. ASDAL dan PT. HARGAS. Setelah masa izin penguasaan hutan untuk dua perusahaan tersebut habis, kemudian LDP (Leuser Development Program) membangun Stasiun Penelitian Soraya pada tahun 1994. Kamp ini pernah dibakar OTK pada 2001, saat konflik bersenjata berkobar di Aceh. Pada tahun 2016 FKL bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Aceh membangun kembali stasiun penelitian ini.
Badan terasa letih, setelah makan malam yang sedap, saya langsung tertidur. Namun, pukul empat pagi saya terbangun. Hidung saya tergelitik harumnya masakan. Di dapur, ternyata Kak Kar sudah sibuk memasak.
“Wah, sudah bangun? Sini duduk, Kakak buatkan teh,” sapa Kak Kar hangat. Sambil meladeni obrolan saya, Kak Kar mengolah bahan yang dibeli pada saat di pasar tadi menjadi sarapan yang menggugah selera.
“Setiap hari Kakak memang harus bangun cepat. Seringkali pukul 4 pagi seperti sekarang, tapi kadang-kadang malah jam 2 sudah bangun. Memasak bekal, untuk adik-adik yang akan mengadakan penelitian, masuk ke hutan mencari orangutan,” kata Kak Kar saat saya tanya.
Kegiatan memasak dan menyiapkan makanan ini terlihat sederhana. Namun ternyata sebelum Kak Kar datang, jabatan koki di SP Soraya sudah berkali-kali berganti. Kebanyakan juru masak sebelum Kak Kar kurang betah karena lokasi kerja mereka di tengah hutan raya.
“Awalnya, Kakak bekerja di Resort Taman Nasional di Ketambe,” cerita Kak Kar. “Lalu Kakak diajak bekerja di sini. Kakak mau, karena kerjanya cuma disuruh masak,” ucap Kak Kar. Bagi Kak Kar, memasak itu hobi yang menghasilkan. Sejak kecil, perempuan pencinta kuliner ini memang gemar memasak.
“Waktu kecil dulu, paling senang menonton Ibu memasak,” kata Kak Kar.
Dari sinilah kemampuannya berkembang. Sebagai remaja tanggung, Kartini telah kerap dimintai bantuan oleh kerabat atau para tetangga yang mengadakan kenduri. Karena inilah, Kak Kar menjadi sangat paham seluk beluk masakan dan kue-kue tradisional.
Masakan Telu Bebek dan Asam Jing Khas Provinsi Aceh
Kecintaannya terhadap memasak inilah yang mengantarnya menjadi koki. Awalnya, Kak Kar dihadirkan ke Soraya untuk memberikan training pada juru masak baru. Sayangnya, juru masak baru itu tak betah. Hingga akhirnya Feri Sandria, Manajer Kamp Soraya, meminta Kartini untuk menjadi juru masak resmi SP Soraya.
“Selama Kak Kar masih sehat, masih bersedia bekerja, kami akan terus meminta bantuan Kak Kar di camp ini. Ke depannya, kalau Kak Kar ingin berhenti bekerja, harapan kami bisa menemukan pengganti seperti Kak Kar,” ujar Feri.
Koki ahli dan berpengalaman mungkin banyak. Akan tetapi, juru masak sebuah stasiun penelitian memerlukan orang yang sanggup bertahan dengan kondisi tempat kerja. Tak mudah untuk bekerja di stasiun penelitian seperti Soraya.
Tak ada sinyal telepon genggam maupun internet di sini. Dapur tempat kami bercakap, dinding bagian atasnya terbuka, dan menghadap langsung ke kegelapan rimba.
“Dapur kami pernah diacak-acak hewan,” ujar Kak Kar.
Sistem bekerja sebagai juru masak di Soraya adalah sistem shift. Kak Kar tinggal dan bekerja di Soraya 20 hari dalam sebulan. Setelah itu dia mendapat libur. Biasanya, waktu libur dimanfaatkannya untuk pulang ke kampungnya di Ketambe.
Menurut Kak Kar, keluarganya kini mendukung profesinya sebagai juru masak stasiun penelitian. Sebagai anak keempat dari enam bersaudara, Kak Kar punya abang dan adik laki-laki yang menginginkan keamanan saudari mereka terjamin sepenuhnya saat bekerja.
“Mulanya keluarga memang sempat ragu melepas Kakak, karena Soraya jauh dari kampung kami,” papar Kak Kar.
Lokasi stasiun penelitian tersebut jauh masuk ke dalam hutan, berbeda dengan wisma di Ketambe tempatnya mula-mula bekerja. Tapi, keluarganya percaya bahwa Kak Kar dapat mengatasi kesulitan kerja di hutan. Lagipula, Kak Kar menyukai pekerjaannya itu.
“Kakak sudah 8 tahun bertugas di kamp. Di sini dapat bertemu banyak kenalan baru, para peneliti dan para pengelola camp yang datang silih berganti,” kisahnya. Kak Kar merasa nyaman bekerja di Soraya. Katanya, dia tidak ingin mencari pekerjaan lain.
“Kakak belum siap berhenti bekerja di Soraya. Kakak betah di sini. Suasananya nyaman dan banyak teman. Kalau tinggal di kampung, kakak malah bingung mau ngapain,” tuturnya sembari tertawa.
“Kami sebagai keluarga memang akan tetap terus mendukung Kakak. Kami yakin pekerjaan yang ditekuninya positif dan tidak merugikan orang lain, bahkan sangat membantu,” ungkap Raja, adik kandung Kartini, 5 Mei 2024 via sambungan telepon.
Minat Kak Kar tidak terbatas pada memasak. Dia mengaku sangat senang bila diajak peneliti dalam kegiatan penelitian. Kak Kar memanfaatkan kesempatan ini untuk menambah wawasan, mengenal seluk beluk hutan, dan berkenalan langsung dengan alam dan flora fauna penghuninya.
Selama di kamp Soraya, Kak Kar banyak belajar mengenai tumbuhan herbal dan obat-obatan. Ia menanam tumbuhan obat-obatan ini di seputar SP Soraya.
“Sebagian tanaman di sini Kakak beli bibitnya di pasar. Tapi, kadangkala ketika tim masuk hutan, mereka menemukan bibit tanaman obat, lalu dibawa pulang dan ditanam di sekitar kamp,” ujarnya.
“Kakak senang sekali apabila diajak adik-adik peneliti untuk masuk hutan,” sambung Kak Kar. “Suatu kali ada yang meneliti jenis-jenis ikan yang ada di sungai seputar kamp. Kakak diajak menyusuri sungai, memancing dan menangkap ikan. Senang sekali, apalagi hasil tangkapannya banyak waktu itu.”
Kartini alias Kak Kar (di tengah)
Ikan-ikan yang ditangkap untuk kepentingan penelitian, setelah selesai didokumentasikan dan diambil datanya, tidak dibuang. Kak Kar akan dengan sigap mengolahnya menjadi masakan yang lezat.
“Biasanya ikan hasil tangkapan itu dipanggang, atau dimasak gulai asam jing (andaliman/Sichuan pepper, Zantoxylum acanthapodium). Ikannya macam-macam, ada ikan jurung, ikan kerling dan ikan baung. Ikan yang dimasak gulai asam jing itu biasanya ikan baung (Hemibagrus, Sp). Ikan lainnya Kakak lebih senang kalau dibakar saja,” tutur Kak Kar.
Kecintaan Kartini memasak, membuatnya bersedia menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan bahan pangan tertentu. Untuk mendapatkan bebek misalnya. Gulai bebek adalah keahlian Kak Kar dan merupakan menu favorit anggota tim kamp Soraya.
“Sesekali Kakak masak kuah telu (gulai bebek). Karena bebek jarang dijual di pasar Gelombang, jadi Kakak beli di Kota Subulussalam,” ungkap Kak Kar. Padahal, dari Gelombang ke Subulussalam memakan waktu hingga 1 jam jika ditempuh dengan sepeda motor.
Demikianlah dedikasi Kartini pada pekerjaan yang sudah kadung dicintainya. Semangat dan dedikasi Kartini pada pekerjaannya, yang tak kalah penting dari aktivitas para peneliti dan pengelola kamp, memberikan inspirasi berharga.
Di kamp Soraya, tak ada pekerjaan yang sepele. Semua memiliki peran penting dalam usaha penelitian dan pelestarian alam.
Disadari atau tidak, Kak Kar telah menjadi pahlawan bagi dunia ilmiah Aceh. Sehat terus, Kak. Soraya membutuhkan Kakak.[]
Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]
Objek wisata Mata Ie merupakan destinasi wisata alami yang terletak di kaki bukit kapur di Desa Leu Ue, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, tepatnya berlokasi di kawasan markas Resimen Induk Kodam Iskandar Muda (Rindam). Objek wisata Mata Ie dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang rimbun sehingga kawasan objek wisata Mata Ie terasa sejuk dan teduh.
Pohon-pohon ini menjadi tempat naungan berbagai satwa seperti burung dan monyet ekor panjang.
Kolam-kolam pemandian bak warna hijau zamrud yang terdapat di kawasan Mata Ie seakan mengundang para pengunjung untuk merasakan sejuk airnya. Ditambah, bendungan atau pintu air yang terdapat pada kolam Mata Ie membuat aksen air terjun mini yang menambah keindahan.
Fasilitas yang terdapat di kawasan objek wisata Mata Ie pun terbilang lengkap, seperti: musala, toilet, kantin, dan lapangan tenis. Fasilitas-fasilitas ini membuat para pengunjung nyaman dan betah berlama-lama. Adapun biaya masuk per orang sebesar lima ribu rupiah.
Eksistensi Mata Ie memiliki peran yang krusial bagi sebagian masyarakat Aceh Besar. Mata Ie menjadi pemasok sumber air bersih melalui PDAM Tirta Mountala yang menaungi tiga kecamatan di Aceh Besar, yaitu Kecamatan Darul Imarah, Peukan Bada, dan Lhoknga. Keberadaan Mata Ie pun memberikan peluang ekonomi untuk bertahan hidup bagi banyak orang. Ada banyak individu yang menggantungkan mata pencariannya dari objek wisata tersebut seperti petani dan pedagang.
Namun, beberapa tahun terakhir, kolam di kawasan objek wisata Mata Ie mulai dilanda kekeringan. Tidak jarang kolam yang terdapat di Mata Ie menjadi kering total jika musim kemarau berkepanjangan. Kondisi ini berdampak pula pada kehidupan masyarakat di sekitar Mata Ie maupun bagi masyarakat yang menggantungkan hidup lewat eksistensi Mata Ie.
“Ada begitu banyak potensi alam yang dimiliki Mata Ie, salah satunya yaitu ekosistem karst. Karst adalah batuan kapur yang berfungsi untuk menyimpan air. Namun, saat ini kondisinya mengalami kerusakan sehingga berdampak pada berkurangnya debit air Mata Ie,” ujar Risma Sunarty, Dosen Manajemen Kebencanaan Universitas Muhammadiyah Aceh, Rabu, 24 April 2024.
Risma juga menjelaskan bahwa Mata Ie dianggap terancam kering akibat eksploitasi karst dari penambangan batuan untuk infrastruktur.
Akibatnya berdampak pada berkurangnya bentang alam dan tutupan lahan di sekitar kawasan sehingga fungsi ekologis karst terganggu dan memengaruhi biofisik ekosistem sebagai penyimpan air. Jika kawasan karst rusak, debit air pun berkurang, karenanya jika eksploitasi tidak segera dikurangi maka kawasan Mata Ie akan berdampak semakin buruk kedepannya.
Tidak hanya itu, Risma juga mengatakan, ancaman kawasan Mata Ie seperti eksploitasi batuan juga dapat berpengaruh pada berkurangnya vegetasi tutupan lahan yang dikhawatirkan akan berdampak pada area resapan air. Saat hujan turun, air tidak terserap ke tanah dan jadi terbuang begitu saja.
Kekeringan yang terjadi di Mata Ie menjadi kekhawatiran bagi warga Banda Aceh dan Aceh Besar, khususnya yang berdomisili di Kecamatan Darul Imarah dan sekitarnya. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada eksistensi Mata Ie. Salah satunya Halimatus Sa’diah yang sudah berjualan di sekitar kolam Mata Ie selama 17 tahun.
Ia mengaku, beberapa tahun terakhir ini harus mengerahkan usaha ekstra untuk menggenjot perekonomian keluarga karena pendapatan dari hasil berjualan di Mata Ie berkurang akibat sedikitnya pengunjung ketika kolam kering.
“Pokoknya, selama kolam Mata Ie kering, selama itu juga kami enggak bisa jualan,” keluh Halimatus Sa’diah, penjual gorengan, Senin, 22 April 2024.
Kolam Mata Ie juga digunakan sebagai tempat mencuci pakaian bagi para warga. Pemandangan ini sudah menjadi pemandangan umum bagi para pengunjung kolam Mata Ie. Pemandangan itulah yang penulis lihat saat berkunjung ke sana pada 22 April lalu. Dari atas jembatan tampak ibu-ibu berjejer mencuci pakaian dari pinggiran kolam membentuk barisan sejajar dengan arus air. Warga yang mencuci di kolam Mata Ie tidak hanya berasal dari kawasan setempat seperti Keutapang dan Gue Gajah saja, tetapi juga dari kawasan lainnya.
Leli, salah seorang warga Pekan Biluy, Kecamatan Darul Kamal, mengaku sudah sekitar lima tahunan ia mencuci ke Mata Ie. Ia mengeluhkan air di rumahnya yang tidak bersih sehingga lebih memilih untuk mencuci pakaian di Mata Ie. Namun, kondisi kekeringan Mata Ie kerap membuat Leli tidak jadi mencuci dan terpaksa mencuci pakaiannya di rumah meskipun kondisi air yang tidak terlalu bersih.
“Saya pernah datang, tetapi tidak jadi mencuci karena kondisi Mata Ie ternyata kering,” katanya.
Kondisi kekeringan Mata Ie menjadi sumber kekhawatiran bagi warga.
Pasalnya, kondisi kolam yang kering kerontang membuat warga harus menghadapi klasik permasalahan seperti macetnya distribusi air PDAM ke rumah mereka. Tentu saja, permasalahan ini menghambat kegiatan-kegiatan domestik rumah tangga seperti mandi ataupun mencuci.
Rahmiana Rahman, salah satu warga Desa Lamlumpu, Kecamatan Pekan Bada mengaku per Mei 2024 memasuki bulan kelima ia tidak mendapatkan cukup distribusi air PDAM selama tahun 2024. Berdasarkan penuturannya kepada penulis pada Jumat, 5 Mei 2024, distribusi air PDAM yang tidak sampai ke tempat tinggalnya, membuatnya mau tidak mau harus membeli air bersih. Untuk satu tangki isi 5.000 liter, ia harus merogoh kocek sebesar Rp200 ribu.
Macetnya distribusi air ini sudah terjadi bertahun-tahun sejak kolam Mata Ie dilanda kekeringan pada tahun 2017. Rahmiana juga mengeluh, karena kejadian ini, ia terkadang harus menumpang mandi di masjid atau mencuci pakaian di rumah kenalannya di kampung sebelah.
Aktivis muda, Satrio Adi Wicaksono, menjelaskan tentang mengapa kekeringan bisa terjadi. Menurutnya ini bukan kondisi yang “extra ordinary”.
“Kekeringan bukan sesuatu yang tidak lazim. Jika dilihat dari catatan sejarah, sejak dulu sudah ada kekeringan. Kekeringan umum terjadi apalagi jika melihat area yang cenderung kering karena curah hujannya sedikit, kekeringan juga disebabkan oleh cuaca yang menjadi lebih panas,” ujar alumni Program Doktoral Brown University dengan fokus studi Geologi dan Paleoklimatologi yang bekerja sebagai program officer International Union for Conservation Nature and Nature Resource(IUCN) regional Asiatersebut, Jumat, 26 April 2024.
IUCN merupakan organisasi perlindungan lingkungan terbesar di dunia yang didirikan pada tahun 1948. Organisasi ini berfokus pada bisnis dan keanekaragaman hayati, perubahan iklim, pengelolaan ekosistem, hukum lingkungan, kehutanan, kebijakan global, kawasan lindung, solusi berbasis alam, sains dan ekonomi, tata kelola dan hak, kelautan dan kutub bumi, gender dan warisan dunia.
Para anggota IUCN yang saat ini beranggotakan 78 negara yang ada di dunia akan berdiskusi tentang berbagai masalah lingkungan yang terjadi di dunia, kemudian merumuskan kemungkinan solusi dengan menyertakan berbagai pihak terkait.
Adapun paleoklimatologi yang menjadi konsentrasi Satrio merupakan cabang ilmu geologi yang mempelajari kondisi iklim bumi di masa lampau. Tujuannya adalah untuk memahami perubahan iklim yang telah terjadi sepanjang sejarah bumi dan faktor apa saja yang memengaruhinya sehingga membantu untuk memahami pola iklim masa depan dan dampak perubahan iklim global saat ini.
Perubahan iklim katanya dapat terjadi karena kandungan emisi CO2 di atmosfer menjadi sangat banyak dan berakibat pada perubahan temperatur bumi yang meningkat.
Fenomena perubahan iklim yang terjadi saat ini berpengaruh pada perubahan ketersediaan air, sehingga air menjadi lebih langka di banyak wilayah. Banyak negara sekarang menghadapi ancaman tidak memiliki air yang cukup dan menyebabkan kekeringan. Satrio juga menjelaskan, kekeringan bisa terjadi berkepanjangan secara intens karena cuaca yang menjadi lebih panas, kemarau yang menjadi lebih panjang, atau musim hujan yang menjadi lebih pendek.
“Namun, harus dipelajari lebih lanjut penyebab pasti kekeringan di suatu wilayah, apakah karena kekeringan meteorologis (curah hujan yang kurang), kekeringan hidrologis (kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah), ataupun kekeringan ekologis (kekurangan air di dalam tanah untuk kebutuhan pertanian),” urainya.
Satrio juga menambahkan, dampak perubahan iklim dapat memengaruhi kehidupan masyarakat. Kekeringan yang terjadi mengakibatkan produktivitas masyarakat terhambat. Kurangnya pemasok air bersih akibat kekeringan dapat berdampak pada ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Karenanya, keberadaan Mata Ie menjadi penyeimbang hidup banyak orang dan ekosistem. Penting untuk kita bersama-sama menjaga kesejahteraan lingkungan demi menjaga eksistensi Mata Ie sehingga Mata Ie dapat berfungsi seperti sedia kala.[]
Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]
Desa Mendale merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah. Secara georafis desa ini diapit oleh pegunungan dan Danau Laut Tawar. Danau ini menjadi salah satu sumber mata pencarian masyarakat Mendale dan sekitarnya.
Pegunungan di Desa Mendale merupakan kawasan hutan lindung yang secara langsung bersinggungan dengan Kawasan Ekosistem Leuser yang telah ditetapkan oleh The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) sebagai salah satu situs warisan dunia.
Tingginya kebutuhan akan lahan perkebunan sebagai salah satu sumber mata pencarian masyarakat mengakibatkan banyak terjadi perambahan dalam kawasan hutan lindung di sekitar itu. Padahal, hutan memiliki fungsi utama sebagai pengatur sumber mata air.
Namun, akibat perambahan liar tersebut banyak mata air menjadi kering. Banyak juga sumber resapan air yang tidak dapat menampung air lagi sehingga ketika hujan deras banyak terjadi longsor.
Sadar terhadap ancaman yang mungkin bisa menimpa masyarakat sekitaran hutan, munculah inisiatif dari desa untuk melakukan komunikasi dengan Kesatuan Pengelola Hutan (KPH). Selanjutnya, KPH merekomendasikan salah satu NGO yang bergerak di bidang lingkungan untuk memfasilitasi proses pengusulan perhutan sosial. Selanjutnya, sebagai NGO yang bergerak di bidang lingkungan, Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) datang ke Desa Mendale. Mereka melakukan sosialisasi kepada masyarakat serta aparatur desa sehingga terbentuklah LPHK Peteri Pukes.
Community Officer HAkA, Inike Yulia Putri, menjelaskan, kawasan hutan di sekitar Desa Mendale telah menjadi lahan kritis. Kondisi tersebut akan berdampak langsung terhadap masyarakat sekitar jika tidak dijaga dan dikelola dengan baik.
“Oleh sebab itu, LPHK Peteri Pukes mengurus perizinan perhutanan sosial agar hutan bisa dijaga dan dikelola langsung oleh masyarakat sekitaran hutan,” katanya, pada hari selasa tanggal 16 April 2024.
Sembari menunggu perizinan perhutanan sosial, HAkA sebagai lembaga yang mendampingi LPHK Peteri Pukes memberi bekal untuk kelompok dengan memfasilitasi pelatihan-pelatihan dan sosialisasi. Harapannya, nantinya kelompok masyarakat bisa mengelola hutan secara mandiri dan bisa menjaga hutan sekitaran desa mereka.
Kelompok LPHK Peteri Pukes sudah merancang rencana kegiatan untuk menjaga hutan serta sudah mulai memberdayakan perempuan dengan membuat produk olahan pangan yang diproduksi dan dipasarkan sendiri oleh kelompok. Menurut Diana, salah satu anggota LPHK Peteri Pukes, saat ini telah dibentuk ranger untuk berkeliling dan mengawasi hutan. Tim ini akan mulai turun ke lapangan setelah sertifikat perhutanan sosial diterbitkan instansi terkait.
Sebagai salah satu anggota ranger perempuan yang telah dibentuk oleh LPHK Peteri Pukes, Diana sangat menantikan untuk memulai kegiatannya sebagai ranger. Diana ingin menerapkan ilmu-ilmu yang sudah didapat dari beberapa pelatihan untuk kelestarian hutan desa mereka. Diana juga bercerita tentang pelatihan-pelatihan apa saja yang sudah mereka dapat dari HAkA.
“Kami sudah mendapat beberapa pelatihan seperti pelatihan GFW, pelatihan penggunaan drone, serta pelatihan pengolahan potensi desa berbasis ekonomi hijau. Kami juga melakukan beberapa kegiatan seperti pemetaan potensi wilayah hutan sekitaran Desa Mendale,” katanya.
Dari beberapa pelatihan dan kegiatan, pelatihan yang paling berkesan bagi anggota adalah pelatihan mengoperasikan drone. Para anggota LPHK dapat langsung mengoperasikan drone dengan dipandu ahli yang disediakan oleh HakA.
Agar tidak ada kekosongan kegiatan, sembari menunggu sertifikat perhutanan sosial terbit, anggota LPHK Peteri Pukes mulai dibimbing untuk menghasilkan produk pangan yang nantinya akan dipasarkan dan akan menjadi salah satu sumber penghasilan untuk anggota kelompok.
Seperti yang dikatakan Lia, salah satu anggota LPHK. Untuk saat ini mereka sedang mencoba membuat produk olahan pangan dengan sumber daya melimpah di sekitar mereka. Mereka mencoba membuat abon ikan mujair, stik labu, serta kerupuk lobster.
“Namun, karena beberapa kendala, sekarang kami mau berfokus dulu di olahan abon ikan mujair. Sekarang produk kami sedang dalam tahap pembuatan desain sekaligus sedang mengurus BPOM dan sertifikasi halal, setelah selesai produk ini akan langsung dipasarkan,” ujarnya.
Dengan adanya kegiatan pemberdayaan perempuan dan anggota pada kelompok LPHK Peteri Pukes, menjadikan LPHK sebagai wadah bagi ibu-ibu kreatif yang ingin mengembangkan diri dan membuat produk untuk dapat dipasarkan. Di balik kegiatan-kegiatan selingan yang dilakukan pada LPHK Peteri Pukes, tujuan utama LPHK Peteri Pukes tetap berfokus dalam pengurusan sertifikat perhutanan sosial agar dapat mengelola dan menjaga hutan sekitaran Desa Mendale. Dengan demikian, hutan tetap terjaga dari kerusakan-kerusan yang mungkin terjadi dan bisa memperbaiki lahan-lahan yang sudah kritis akibat kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga hutan.
Salah seorang aktivis perempuan di Gayo, Sri Wahyuni, mengatakan kawasan hutan di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah merupakan kawasan hutan yang langsung bersinggungan dengan kawasan Leuser. Banyak spesies hewan yang tinggal di hutan, khususnya hutan di Bener Meriah.
Ia bercerita, suatu hari, saat para ranger dari LPHK Damaran Baru (Bener Meriah) memantau hutan sekitaran Damaran Baru, mereka bertemu luwak dewasa dan anak-anak luwak yang tinggal di hutan. Banyak juga kayu-kayu besar yang diperkirakan umurnya sudah ratusan tahun.
“Cuma sekarang karena masyarakat tidak tahu kegunaan kayu, jadi banyak kayu yang ditebang secara liar untuk dijual. Sebenarnya, ada cara agar kita tidak perlu menebang kayu, tapi kayu tersebut tetap bisa menjadi sumber penghasilan untuk kita,” kata advokat, yang akrab disapa Ayu, pada hari sabtu tanggal 20 april 2024.
Caranya, kata Ayu, yakni dengan menanam kayu-kayu berbuah seperti alpukat, aren, dan kayu berbuah lainnya, sehingga kayu tidak perlu ditebang dan kita tetap bisa menikmati hasil dari kayu tersebut.
Ayu bercerita, sekarang sudah banyak pohon-pohon besar yang sudah sulit ditemui, seperti kayu beringin yang akarnya menjulang keluar, kayu grupel, dan kayu-kayu besar lainnya. Bahkan, di kebun Ayu di Bener Meriah pun hanya tersisa satu kayu grupel besar yang sengaja tidak ditebang.
Sekarang ini Ayu aktif melakukan budi daya kayu untuk dibagi-bagikan pada masyarakat untuk ditanam kembali. Ayu juga mempunyai tanah di daerah Wih Kuli, Kabupaten Aceh Tengah. Ia berniat menanam pohon di lahan tersebut.
“Saya tidak berniat mengalihfungsikan tanahnya menjadi kebun karena daerah Wih Kuli merupakan salah satu sumber air untuk desa-desa sekitarnya,” kata Ayu.
Menurut Ayu, setiap individu bisa menjaga hutan dengan menjadikan hutan sebagai lokasi wisata yang dijaga dengan konsep menyuguhkan keasrian alam.
Seperti di Bener Meriah yang memiliki objek wisata Pentagon. Yang menjadi “jualan” utamanya adalah panorama alam yang asri. Pemanfaatan alam dengan cara itu akan membuat masyarakat memahami fungsi dan dampak hutan secara langsung terhadap perekonomian mereka. Dengan begitu, akan timbul kesadaran untuk terus menjaga hutan dan pohon-pohon di hutan.
“Dengan menjaga hutan tetap asri, kita juga akan mendapatkan manfaat dari hutan. Salah satunya sumber air yang melimpah. Sekarang ini di berbagai daerah sudah banyak terjadi bencana kekeringan dan bencana banjir saat hujan melanda, salah satu penyebabnya karena rusaknya ekosistem hutan.”
default
Ketika hutan rusak, tidak ada lagi akar-akar yang bisa menjadi perekat tanah dan menjadi celah atau ruang bagi air untuk masuk ke dalam tanah. Serapan itu mestinya membuat air bisa tetap tersimpan di tanah. Air tanah inilah yang nantinya bisa menjadi salah satu sumber mata air yang bisa menopang kebutuhan air manusia.
“Dengan adanya celah-celah akar tanaman, air tidak akan menggenang dan menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor,” kata Ayu.[]
Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]
SEPTEMBER 2020. Ns. Nourica Hastuti, S.Kep. baru saja selesai kontrak dari pekerjaannya di sebuah yayasan di Banda Aceh. Ia memutuskan untuk tidak menerima tawaran perpanjangan kontrak. Alasannya sangat rasional. Perutnya yang sedang mengandung anak pertama semakin membesar. Sebagai calon ibu muda, Nouri ingin fokus pada persiapan kelahiran yang diperkirakan jatuh pada November 2020. Memasuki trimester ketiga masa kehamilan, Nouri ingin menikmati hari-hari selama proses mengandung dengan tenang. Tak direcoki oleh beban dan tanggung jawab kerja.
Namun, keadaan berkata lain. Pandemi Covid-19 yang saat itu sedang menggila mau tak mau mengusik ketenangan Nouri. Pandemi bukan saja membuatnya bagai terkurung oleh situasi. Bahkan sekadar untuk jalan-jalan menghirup udara segar di lingkungan sekitar pun jadi terbatas. Bagi Nouri yang terbiasa bekerja di lapangan dan berinteraksi dengan banyak orang, situasi itu sangat menyiksa. Namun, yang lebih merisaukannya adalah efek dari munculnya wabah tersebut. Banyak usaha gulung tikar. Orang-orang kehilangan pekerjaan. Termasuk suaminya, Zainuddin, yang mengajar di sekolah swasta di Aceh Besar. Zainuddin dirumahkan.
Dengan kondisi dirinya yang sudah menganggur, ditambah Zai yang juga kehilangan pekerjaan, otomatis pasutri muda ini jadi kehilangan sumber penghasilan. Mereka juga tak punya tabungan. Tadinya, satu-satunya yang menjadi tumpuan harapan untuk biaya persalinan adalah dari penghasilan Zai. Wabah memupuskan harapan tersebut. Sama seperti kebanyakan orang ketika itu, mereka nyaris hopeless.
“Namun, kami masih punya semangat. Dan karena semangat itu pula kami terus mencari-cari peluang, apa yang bisa kami lakukan di tengah situasi sulit itu,” cerita Nouri mengawali kisah rintisan usahanya saat ditemui di kediamannya di Desa Lamlumpu, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Sabtu, 20 April 2024.
Peluang itu datang. Menjelang akhir September 2020, Pemerintah Aceh mencari 200 entrepreneur muda melalui Sayembara Aceh Berdikari. Di antara syarat mengikuti sayembara ini adalah bukan aparatur sipil negara dan tidak sedang menerima bantuan dari pihak lain. Nouri dan Zai berdiskusi, mereka memenuhi dua syarat mutlak itu. Selebihnya, hanya persyaratan administrasi: berusia tak lebih dari 35 tahun, ber-KTP Aceh, dan sedang/ingin berwirausaha.
“Saya dan Zai berdiskusi, apa yang kira-kira bisa kami lakukan? Zai lantas mencetuskan ide untuk membuat sofa botol plastik. Kami sepakat. Ide tersebut saya eksekusi menjadi proposal. Alhamdulillah, proposal kami lolos,” kata ibu dua anak ini.
Ide mereka dianggap out of the box di antara ide-ide lain yang banyak berkutat di sektor usaha kuliner dan perkopian. Sebenarnya kata Nouri, ide daur ulang membuat sofa dari botol plastik ini bukanlah invensi atau reka cipta. Produk daur ulang tersebut telah lama diproduksi di luar Aceh. Namun, untuk di Aceh memang mereka yang memulainya. Hingga saat ini pun, belum terlihat ada usaha serupa lainnya. Tak heran, ketika proposal ide sobotik dinyatakan lolos dan mendapat uang pembinaan sebesar Rp5 juta, Nouri riang bukan kepalang. Mereka lega dan merasa bisa “bernapas” kembali. Usahanya membuat proposal seoptimal mungkin tidak sia-sia. Uang tersebut benar-benar mereka manfaatkan untuk menjalankan usaha. Sejak saat itu Sobotik yang merupakan akronim dari sofa botol plastik menjadi jenama untuk usaha mereka. Berselang bulan, Sobotik kembali memenangi kompetisi wirausaha yang dibuat Ikatan Wanita Pengusaha (Iwapi) Aceh.
Sofa berkualitas premium hasil karya Sobotik yang dibanderol Rp500 ribu. Sarung sofa dengan pola simpul dipelajari secara khusus dari seniman asal Jepang. Foto: Ihan Nurdun
Di luar kebutuhan untuk menyambung hidup, ada misi lain yang diemban Nouri dengan mendaur ulang sofa botol plastik atau sobotik. Yakni mengatasi persoalan sampah, khususnya di Kota Banda Aceh, yang trennya cenderung meningkat. Jika melihat data Aliran Sampah Kota Banda Aceh Tahun 2020 yang dirilis Badan Pusat Statistik Kota Banda Aceh pada 2021, potensi timbulan sampah pada 2020 mencapai 88.800 ton per hari. Dari angka tersebut, jumlah sampah yang dikelola mencapai 86.021 ton yang terbagi menjadi dua kategori, yakni pengurangan sampah dan penanganan sampah.
Masih berdasarkan data tersebut, pengurangan sampah yang dilakukan berupa pembatasan timbulan sampah (182,96 ton), pemanfaatan kembali sampah (4,75 ton), dan pendaur ulang sampah (12,105 ton) dengan total 12.293 atau 13,84% dari jumlah timbulan sampah. Sedangkan sampah yang ditangani, meski secara angka tampaknya besar yaitu 73.728 ton dengan total persentase 83,03% dari jumlah timbulan sampah, tetapi semuanya masih terpusat pada sampah yang terproses di tempat pemrosesan akhir (TPA). Sedangkan untuk pengolahan menjadi sumber energi atau pengolahan menjadi bahan baku pakan ternak, daur ulang, dan upcycle masih nol. Di luar itu, sampah yang tidak dikelola tercatat 2.778 atau setara 3,13%.
Aliran Sampah di Kota Banda Aceh, 2020. Sumber: bandaacehkota.bps.go.id
Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipatnya hanya berselang tahun saja. Perbandingan data yang sama jika merujuk pada Kota Banda Aceh Dalam Angka 2024 yang dirilis BPS Banda Aceh, potensi timbulan sampah pada tahun 2023 mencapai 255,81 ton per hari. Jumlah sampah yang dikelola mencapai 251,93 ton yang terdiri atas pengurangan sampah (41,47 ton) dan penanganan sampah (210,46 ton).
Aliran Sampah di Kota Banda Aceh, 2023. Sumber: BPS Kota Banda Aceh
Nouri yang telah menyadari bahwa adanya keterkaitan antara sampah dan dampaknya terhadap perubahan iklim, merasa perlu berbuat sesuatu. Apalagi, dengan latar belakang akademiknya sebagai seorang ners atau perawat, juga aktivitasnya yang banyak bergelut di masyarakat, ia cemas terhadap berbagai potensi yang dapat ditimbulkan oleh sampah. Karena itulah, kehadiran sobotik harapannya juga menjadi media untuk mengedukasi masyarakat. Dengan kreativitas mereka, botol-botol plastik yang selama ini berakhir di tong sampah mampu disulap menjadi sofa-sofa berkualitas premium.
Untuk urusan produksi, Nouri menyerahkan sepenuhnya kepada Zai. Bermodalkan mesin jahit pinjaman dari mertua, Zai berhasil memproduksi prototipe pertamanya. Bahan bakunya mereka kumpulkan dari hasil “memulung” di Lapangan Blang Padang. Salah satu ruang terbuka hijau di pusat Kota Banda Aceh yang ramai dikunjungi warga, terutama di akhir pekan. Di masa pandemi, yang memaksa orang-orang untuk lebih mengutamakan kesehatan, warga yang berolahraga ke Blang Padang di hari-hari biasa jadi meningkat. Intensitas individu untuk mengonsumsi air mineral juga lebih tinggi karena dianggap lebih sehat. Mirisnya, kata Nouri, botol-botolnya banyak yang ditinggalkan begitu saja di lapangan. Padahal di tempat itu sudah disediakan tong sampah.
“Botol-botol itulah yang kami pulung untuk membuat prototipe sobotik. Waktu itu saya sudah melahirkan, usia anak pertama saya, baru 44 hari. Jadi, aktivitas pertama yang dilakukan anak saya adalah memulung,” ucap Nouri sambil tertawa.
Rupanya kegiatan memulung ini justru menimbulkan reaksi dari orang-orang terdekatnya. Sebagai lulusan perguruan tinggi, berpendidikan, punya akses dan relasi, kok malah mulung? Imej memulung yang negatif dilekatkan pada pasangan yang menikah awal 2020 tersebut. Semiskin-miskinnya mereka, jangan sampailah memulung. Karena bisa menjatuhkan harkat dan martabat diri. Itulah yang mereka pikirkan.
“Bahkan pertanyaan seperti itu muncul dari orang tua sendiri. Mereka mengira kami sudah sangat putus asa sehingga tidak ada yang bisa dilakukan lagi,” kata lulusan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala itu.
Nouri tak ingin berkonfrontasi. Ia punya prinsip lakukan dan buktikan. Orang-orang hanya belum bisa melihat visi sebagaimana yang ia lihat. Tantangannya bukan hanya dari luar saja. Sebagai perempuan, sebagai ibu, sebagai istri, Nouri juga menghadapi tantangan domestik. Ketika mulai merintis Sobotik, ia sedang dalam kondisi hamil besar, kemudian melahirkan, dan mulai mengasuh bayi. Dari satu anak lalu bertambah satu anak lagi. Kadang-kadang ia mengalami mood swing akibat perubahan hormonal. Ia juga harus pandai-pandai menyiasati waktu agar pekerjaan rumah tangga tidak terbengkalai, usaha tetap berjalan lancar, perkembangan medsos Sobotik tetap terkontrol. Apalagi mereka tidak punya pengasuh. Juga belum punya karyawan. Otomatis semua pekerjaan harus ditangani bersama.
Ia berbagi peran dengan suaminya. Nouri fokus ke urusan promosi. Zai fokus ke urusan produksi. Nouri belajar autodidak bagaimana cara mendesain poster dan mengelola media sosial. Zai pun autodidak belajar menjahit dan berinovasi produk. Di samping itu, ketika ada kesempatan mengikuti berbagai pelatihan, Nouri juga ikut. Memasuki usia keempat, Sobotik mulai merangkak, buah hati pun bertambah. Kini Nouri dan Zai memiliki sepasang buah hati. Tantangan akan terus ada, tetapi visi dan misilah yang membuat mereka tetap konsisten.
Untuk membuat satu sofa ukuran standar, membutuhkan hingga 37 botol plastik ukuran 1,5 liter. Botol ini dirakit dan diikat supaya kokoh. Setelah itu baru diberi sarung dengan berbagai pilihan material. Ada yang kulit sintetis. Ada juga yang berbahan kain. Jika Sobotik memproduksi 10 sofa saja, maka ada 370 botol plastik yang berhasil didaur ulang. Menurut trainer Global Ecobriks Alliance, Rahmiana Rahman, salah satu cara mengatasi persoalan sampah plastik ialah dengan memanjangkan usianya. Karena yang membuat efek limbah plastik berbahaya ialah ketika bercampur dengan limbah organik dan menghasilkan senyawa kimia yang memicu terjadinya emisi gas rumah kaca (GRK). Karena itu, pemilahan sampai menjadi sangat penting. GRK inilah yang salah satu efeknya, sebagaimana dikutip dari buletin Gas Rumah Kaca memicu terjadinya pemanasan global dan akan berdampak terhadap krisis pangan di daerah tropis seperti Indonesia. Tanpa terkecuali di Aceh yang wilayahnya dikelilingi Selat Malaka dan Samudra Hindia.
“Jika dibiarkan di alam, sampah plastik baru benar-benar terurai setelah berusia ratusan tahun. Jadi, mau tidak mau kita harus daur ulang, di antaranya dengan membuat ekobrik, diet plastik, dan membiasakan hidup ramah lingkungan dengan memilah sampah,” kata Rahmiana Rahman, 26 April 2024.
Jika diterjemahkan secara harfiah, ekobrik adalah bata ramah lingkungan yang terbuat dari botol plastik berisi sampah plastik. Standarnya kata Rahmiana, satu botol plastik kapasitas 1,5 liter dapat diisi dengan sampah plastik seberat 0,5 kilogram. Sedangkan yang kapasitas 600 mililiter, minimal bisa menampung 200 gram sampah plastik. Estimasinya, jika satu sofa Sobotik dirakit dari 37 ekobrik 1,5 liter, maka sudah 18,5 kilogram sampah plastik yang tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir. Dalam sebulan, setidaknya Sobotik memproduksi satu set produk yang terdiri atas tiga sofa dan satu meja.
“Kehadiran Sobotik merupakan usaha yang perlu diapresiasi karena telah berpartisipasi dalam menyelamatkan Bumi kita. Ini juga menjadi contoh bahwa sektor usaha hijau masih sangat potensial untuk digarap,” kata Direktur Rumah Relawan Remaja yang aktif mengampanyekan gerakan mendaur ulang limbah tersebut.
Aneka produk daur ulang berbahan dasar plastik (atas) dan ekobrik (bawah). Foto: Ihan Nurdin
Sejauh ini Sobotik masih fokus memproduksi sofa-sofa nonekobrik. Sedangkan untuk sofa-sofa berbahan ekobrik masih berdasarkan pesanan pelanggan. Biasanya konsumen membawa sendiri material ekobriknya untuk dirakit oleh Zai dan meng-custom sarungnya sesuai pesanan. Fokus Sobotik memang belum pada tahap memproduksi ekobrik karena membutuhkan proses dan waktu yang lama. Untuk mendapatkan bahan baku botol, Nouri dan Zai sudah tidak “memulung” lagi di taman-taman kota. Mereka membeli langsung dari warga dengan harga yang lebih tinggi di pasaran. Untuk satu botol plastik isi 1,5 liter, dibeli seharga Rp200. Di pengepul, harganya hanya Rp50. Selisih harga yang besar ini dinilai sepadan dengan kualitas produk yang diharapkan.
“Kami tidak menerima bahan baku yang cacat, misalnya peyot atau kotor.”
Sobotik memang sangat mengutamakan kualitas produk. Sejak awal visi mereka memang ingin mengubah sampah menjadi produk berkualitas premium. “Bisa tidak kami mengubah sampah ini harganya menjadi jutaan? Itu motivasi yang menggerakkan kami,” kata Nouri.
Bukan apa, mereka ingin mengubah imej yang selama ini melekat di ingatan banyak orang. Kalau sampah “cuma” bisa berujung di tempat sampah. Tapi, mungkinkah sampah ini “berakhir” di rumah wali kota? Jawabannya bisa. Tentu saja dengan mengubahnya menjadi produk yang setara kualitasnya untuk dipajang di rumah pejabat. Itulah yang telah dilakukan Sobotik. Mantan ketua PKK Banda Aceh merupakan salah satu pelanggan sofa yang diproduksi Sobotik. Suatu hari, Nouri dan Zai surprise saat utusan istri orang nomor satu di Banda Aceh mendatangi tempat workshop-nya. Mereka memesan satu set sofa. Usut punya usut, ternyata infonya didapat dari tayangan televisi. Sobotik juga pernah mendapatkan satu set pesanan sofa dari Dinas Industri kota dan sofa itu kerap dipamerkan di berbagai event kreatif.
Liputan demi liputan di televisi rupanya juga berdampak terhadap perubahan penilaian dari orang-orang yang tadinya usil. Ibunya Nouri misalnya, yang tadinya insecure karena anaknya memulung, kini malah kerap mengumpulkan botol-botol plastik yang ada di kantornya. Sobotik memang bertahan karena dukungan orang-orang di sekitarnya. Promosi dari mulut ke mulut, atau dari medsos ke medsos, memperluas jaringan distribusi produk hingga ke luar Banda Aceh dan ke luar Aceh. Kualitas produknya juga sudah teruji. Tak hanya sofa, banyak juga yang membeli sarung beanbag. Hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh akademisi Universitas Syiah Kuala, sofa nonekobrik made in Sobotik bisa menahan berat nyaris 200 kilogram.
Salah satu pelanggan Sobotik adalah Maria Ulfa Hasballah. Pendiri Sekolah Bintang Kecil ini mengaku rutin menempah sarung sofa kepada Sobotik untuk membungkus alat peraga edukasi bagi murid-muridnya yang berkebutuhan khusus. Persamaan visi misilah yang membuat perempuan yang biasa disapa Bunda Ulfa ini, yang tadinya menempah pada orang lain, mulai beralih ke Sobotik.
“Saya senang karena dengan hadirnya usaha ini bisa sekaligus mengedukasi orang banyak. Ini kan jalur dakwah karena dalam Islam menjaga lingkungan itu bagian dari ibadah,” kata PNS sekaligus dosen khusus di Universitas Muhammadiyah Aceh itu, 24 April 2024.
Alat peraga edukasi dengan material ekobrik yang dibalut dengan sarug sofa tempahan dari Sobotik. Foto: Dok Maria Ulfa
Sejak beberapa tahun terakhir Ulfa memang mulai menggalakkan pembuatan ekobrik bagi anak-anaknya. Sejak dini anak-anaknya diajarkan untuk memilah sampah dan apa bahayanya bagi lingkungan. Apalagi, sampai saat ini belum ada solusi untuk menangani sampah plastik. Satu-satunya yang memungkinkan dilakukan, ya, dengan memanjangkan usianya atau mengurangi ketergantungan terhadap plastik. Ekobrik yang dibuat oleh anak-anaknya itulah yang di-custom oleh Sobotik. Anaknya juga pernah mengikuti program edukasi yang dibuat oleh Sobotik.
Nouri dan Zai tak hanya fokus pada kegiatan produksi. Mereka juga mengadakan kelas-kelas edukasi untuk membuka wawasan publik tentang pengelolaan sampah. Misalnya, pelatihan mengolah plastik menjadi aneka kerajinan, robot plastik, atau cara membuat pembalut berbahan dasar kain yang aman dan ramah lingkungan. Mereka juga tak bosan-bosan mengampanyekan pengurangan sampah plastik. Edukasi yang oleh sebagian individu dianggap bertolak belakang dengan usaha yang dilakoni Nouri yang notabenenya membutuhkan plastik. Namun, lagi-lagi Nouri menegaskan, jumlah plastik yang tersebar di muka bumi tak sebanding dengan yang didaur ulang. Dan orang-orang yang sudah sadar akan bahaya limbah plasti juga masih segelintir. Sadar saja masih belum cukup. “Yang paling penting adalah aksi!”
Buah dari ketekunan itu, Sobotik semakin mendapat tempat di hati konsumen. Berawal dari kompetisi Aceh Berdikari, Sobotik kini semakin dikenal.[]
Tulisan ini merupakan liputan Fellowship Perempuan, Bisnis Berkelanjutan, dan Perubahan Iklim yang diselenggarakan ASPPUK, AJI Indonesia, dan Konde.co.
Stereotip mengenai larangan perempuan berkecimpung di lapangan masih mengakar kuat dalam pola pikir (mindset)sebagian besar masyarakat Aceh. Masyarakat menganggap perempuan lebih baik duduk manis di dalam biliknya mengurusi dapur, sumur, dan kasur. Efek dari paradigma klise semacam itu juga pernah dialami Rosi Safriana. Saat dijumpai langsung di salah satu kafe di Lambhuk pada 31 Maret 2024, Rosi yang merupakan seorang aktivis konservasi yang kerap bertugas dan melakukan penelitian di lapangan itu pun memaparkan kisahnya.
Motivasi awal Rosi berkiprah di lapangan murni didasari atas kecintaannya akan keindahan alami alam raya. Di samping itu, petuah terkait keindahan semesta yang diucapkan salah seorang dosennya masih terus membekas di benak Rosi hingga hari ini.
“Manusia adalah makhluk surga. Sehingga manusia suka melihat keindahan seperti halnya alam, yang mana alam merupakan serpihan surga,” demikian sang guru berpesan.
Selama bertugas di kawasan hutan, Rosi menunjukkan dedikasinya dengan mengumpulkan data konservasi dan ikut serta dalam proses pemulihan Kawasan Ekosistem Leuser, khususnya Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Perempuan berusia 23 tahun ini terlibat langsung dalam berbagai kegiatan lapangan, mulai dari memasang kamera jebakan (camera trap), hingga melakukan penelitian perilaku terhadap orang utan selama 3 bulan.
Kredit Foto : Makmur Jaya
Namun, perjalanan Rosi di dunia konservasi tak selalu mulus. Tantangan yang dihadapi tidak hanya sebatas stigma fisik perempuan yang dianggap lebih lemah daripada laki-laki, tetapi juga tantangan psikologis, dan sosial.
Sebagai seorang perempuan, Rosi harus menghadapi berbagai kendala; mulai dari rasa tidak nyaman berada di lingkungan yang didominasi oleh perokok, hingga perjuangan untuk memperoleh restu orang tua demi bisa bekerja langsung di kawasan hutan.
Untuk lolos dari proses perizinan untuk bekerja dari orang tua, Rosi pun membagikan kiatnya. “Jadi, kita harus melakukan sebagaimana kita mau penelitian skripsi. Ada proses seminar proposal, revisi, seminar hasil, revisi, hingga sidang,” paparnya. Rosi menjelaskan proses serupa seminar proposal berfungsi memperjelas urgensi sekaligus rencana keberangkatan ke lapangan.
Pada kasus Rosi sendiri, dia akan mulai memberitakan kondisi krusial untuk berangkat ke lapangan kepada orang tuanya sejak setahun sebelum keberangkatan. Menjelang hari keberangkatan, proses seminar proposal diulang kembali dengan merincikan teknis keberangkatan. Setelah itu, orang tuanya biasa akan memberikan revisi berupa pemberian izin bersyarat meliputi permintaan penerimaan surat resmi dari kampus dan lembaga, memberikan kontak aktif staf lapangan, serta foto wajah dan sosial media mereka.
Bagi Rosi, memiliki strict parents merupakan salah satu sumber keberkahan. Lantaran tuntutan orang tuanya, Rosi menjadi lebih selektif akan aktivitas dan lingkup pertemanannya.
Menurutnya, anak perempuan dengan strict parents akan merasa tidak nyaman apabila pulang hingga larut malam. Tanpa pola asuh tersebut, menurut Rosi, bisa jadi anak perempuan akan pulang sesuka hati.
Di samping itu, Rosi juga harus menghadapi tantangan fisik yang tidak kalah beratnya. Perjalanan ke lapangan seringkali membutuhkan persiapan matang, terutama bagi perempuan muslim yang cenderung menggunakan pakaian lebih banyak.
Ditambah lagi perempuan memiliki siklus datang bulan yang menuntut mereka menggunakan air lebih sering.
Bahkan, kondisi menstruasi tersebut tak jarang memberikan rasa sakit fisik kepada sebagian perempuan yang membuat mereka harus menunda kegiatan lapangan selama beberapa hari.
Belum lagi ketika mendapati kondisi di mana beberapa staf lapangan laki-laki yang kurang peka terhadap hak perlindungan perempuan. Sehingga mereka kerap melemparkan lelucon vulgar yang membuat staf perempuan tidak nyaman. Namun hal tersebut kembali ke pribadi masing-masing dan tentu tidak semua staf laki-laki bertindak demikian.
Selaku perempuan yang bekerja di lapangan, masalah terkait fisik tak berhenti sampai di situ. Rosi juga punya kisah menarik terkait bagaimana caranya menjaga diri terkait batasan sentuhan fisik antara dirinya selaku perempuan dengan staf laki-laki.
Terkadang ketika terjatuh, sebagian staf lapangan refleks menolong tanpa meminta izin terlebih dahulu terkait boleh-tidaknya menyentuh. Pada kondisi tersebut, Rosi harus tegas dan berusaha mencari alternatif lain terlebih dahulu seperti menarik kayu, menarik bahu atau lengan yang dilapisi baju, hingga akhirnya menerima pertolongan dengan menggenggam tangan.
Adegan tolong-menolong seperti itu sudah biasa terjadi. Sehingga selaku perempuan Rosi merasa perlu untuk mengatur strategi agar tidak muncul fitnah maupun perasaan di luar urusan profesional.
Terkait tantangan fisik yang dihadapi staf perempuan seperti Rosi, Nawi selaku pembimbing lapangan Rosi turut berpendapat. “Sebelumnya saya curiga kalau Rosi tidak akan mampu menjelajah dan meneliti perilaku orang utan. Namun ternyata dia sanggup berjalan jauh, pulang jam 7-8 malam, bahkan kehujanan. Intinya, dia ternyata perempuan yang luar biasa,” ujarnya saat diwawancarai melalui panggilan video pada 21 April 2024.
Kehati-hatian serupa juga Rosi terapkan ketika harus berhadapan dengan masyarakat yang berlawanan jenis. Ketika berinteraksi dengan warga desa—misalnya untuk mengadakan sosialisasi—perempuan kerap berada di posisi yang serba salah.
Apabila terlalu ramah, masyarakat bisa salah arti bahkan sampai ‘jatuh hati’. Namun apabila perempuan tersebut terlalu dingin, masyarakat jadi enggan terlibat dan menolak untuk bekerja sama. Sehingga banyak staf perempuan yang tidak dapat mengikuti pola pergaulan tersebut.
Meski dipenuhi berbagai tantangan sebagai perempuan yang bekerja di lapangan, Rosi tetap bersemangat dan tidak ragu untuk tetap menjelajahi keindahan alam yang ada di sekitarnya. Bahkan sekalipun berjilbab lebar, Rosi mengakui bahwa hal tersebut sama sekali tidak mempersulit kinerjanya selama di lapangan. Bahkan, menurut ceritanya, kain jilbab yang lebar itu bahkan pernah melindunginya dari tajamnya sayatan rotan saat mengeksplorasi hutan.
Kredit Foto : Junaidi Hanafiah
Berbagai tantangan tersebut nyatanya tidak membuat Rosi kehilangan momentum untuk menikmati keindahan hutan hujan tropis. Berbagai jalur hutan yang dia lalui membawanya menikmati keindahan hutan hujan tropis. Menurutnya, berbagai jalur hutan yang dia lalui memiliki kesan tersendiri. Ada kawasan hutan yang dipenuhi pohon salak, ada yang dipenuhi liana yang airnya dapat diminum, dan ada pula wilayah dipenuhi jurang dan jalan menanjak.
Rosi mengaku takjub saat menyaksikan kasih sayang seekor induk orang utan terhadap anaknya. Sang induk mengupas dan mengunyahkan buah yang keras, lalu diberikan kepada sang anak. Induk tersebut juga menjadikan dirinya sebagai jembatan bagi anaknya ketika hendak melewati ranting pohon yang sulit dijangkau.
Rosi pun pernah geram sekaligus terkesima ketika Pasto—seekor anak orang utan—menjahilinya dan beberapa peneliti lainnya saat berkunjung. Pasto melempari ranting pada kawanan peneliti yang sedang makan siang. Setelah beberapa kali mereka pindah posisi, Pasto tetap usil melempari para peneliti. Hingga akhirnya, salah seorang anggota peneliti menggoyang-goyangkan dahan tempat Pasto bertengger, ia pun berteriak ketakutan.
Sang induk pun bangun, lantas memeluknya. Sang ibu mengekspresikan sesuatu kepada Pasto dengan bahasa yang tidak manusia mengerti. Namun, ekspresi sang induk seolah-olah mengisyaratkan kepada Pasto bahwa, “Mereka itu peneliti yang tidak merusak alam atau pun mengganggu kita. Jangan diganggu.” Rosi terkesima akan fakta bahwa induk orang utan tidak marah pada kehadiran manusia, tetapi justru fokus memperbaiki kenakalan anaknya.
Di akhir wawancara, Rosi pun menitipkan pesan untuk para perempuan yang kelak berkehendak untuk berkarir di lapangan agar tidak perlu takut.
Menurutnya, tak perlu menjadikan gender sebagai alasan untuk membatasi diri berkecimpung di dunia konservasi.
Kemudian, hendaknya perempuan meluruskan niatnya bahwa hutan bukanlah tempat untuk menampakkan kehebatan diri, tetapi menjadi wadah positif untuk belajar dan bekerja.[]
Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]
Hutan mangrove adalah ekosistem pesisir yang kaya akan keanekaragaman hayati dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Hutan ini merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan begitu sempurna karena memiliki keunikan tersendiri yang mampu hidup di air laut yang asin. Keberadaan hutan mangrove banyak dijadikan dan dikelola sebagai objek wisata, salah satunya adalah hutan mangrove di Aceh Jaya.
Ekowisata mangrove ini terletak di Gampong Baro Sayeung, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya.
Jarak dari ibu kota Aceh Jaya yaitu Calang menuju ke lokasi ekowisata mangrove ini hanya perlu menempuh perjalanan sejauh 6,1 km. Perkiraan waktu 8-10 menit dengan menggunakan kendaraan seperti mobil atau sepeda motor. Lokasi yang cukup strategis membuat wisatawan mudah dalam menggunakan bantuan Google Maps. Dari jalan nasional Meulaboh—Banda Aceh, hanya berjarak beberapa meter dan wisatawan dapat melihat langsung ke wisata hutan mangrove ini.
Wisatawan yang datang ke sini akan disambut oleh penjaga dan membayar tiket cukup dengan harga 5.000/orang. Dengan begitu, wisatawan dapat menikmati langsung suasana hutan mangrove seluas 360 hektare ini. Di meja dekat pengambilan tiket juga disediakan buku dan majalah mengenai hutan mangrove yang dapat dibaca langsung oleh wisatawan. Setelah itu wisatawan dapat menelusuri mangrove dengan perantara jembatan kayu berwarna kuning, biru, dan merah.
Terdapat delapan jenis pohon mangrove yang ditanam saat ini, yaitu Rhizophora Mucronata, Rhizophora Apiculata, Rhizophora Stylosa, Ghimnoriza, Avicennia Marina, Api-Api, Ceriop Tada, dan Nipah Fructian.
Ketika matahari sedang terik-teriknya dengan langit yang biru, suasana di hutan mangrove dengan pohon menjulang tinggi di sepanjang jembatan membuat suasana tetap sejuk. Di sepanjang jalan juga disediakan bangku-bangku untuk para wisatawan beristirahat dan menikmati suasana asri hutan ini.
Di sini juga terdapat banyak spot foto yang bagus, sehingga tidak heran di sepanjang perjalanan menyelusuri mangrove banyak wisatawan yang berswafoto. Di ujung jembatan terdapat menara besi yang bisa dinaiki oleh pengunjung. Dari atas pengunjung dapat melihat langsung tanaman mangrove. Selain pemandangan hutan mangrove, wisatawan juga dapat melihat pemandangan gunung dan air sungai yang begitu indah ketika terkena pantulan sinar matahari.
Di sini juga disediakan perahu bagi wisatawan yang ingin menjelajah hutan mangrove lebih jauh. Selain dijadikan tempat wisata, hutan mangrove ini juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat edukasi dan penelitian bagi mahasiswa maupun kalangan lainnya. Hutan mangrove ini paling ramai dikunjungi pada hari Sabtu, Minggu, dan hari-hari libur seperti saat Lebaran. Pada hari biasa lainnya pengunjung yang datang tidak ramai. Meski begitu, hutan mangrove ini tetap dibuka di hari-hari biasa mulai Senin sampai Minggu kecuali hari Jumat.
Aceh Jaya adalah kabupaten yang paling parah mengalami kerusakan akibat terjangan tsunami pada 26 Desember 2004.
Hampir seluruh prasarana dan sarana publik dan rumah penduduk hancur total tersapu gelombang. Letak kabupaten ini berada persis di bibir Samudra Hindia yang menjadi pusat episentrum gempa pemicu tsunami.
Dengan hadirnya mangrove ini akan memberikan manfaat seperti pencegah abrasi, perlindungan ekosistem perairan, dan mangrove ini sangat diperlukan untuk menyuplai oksigen. Selain itu, juga bisa menjadi buffer zone (kawasan penyangga) tsunami.
“Sebelum tsunami, mangrove yang ada tidak terlalu banyak dan biotanya juga sedikit. Setelah tsunami banyak lembaga seperti PMI, NGO, dan lembaga lain di luar sana dan masyarakat yang menanam mangrove, sehingga menjadi banyak dan juga menghasilkan biotan yang lebih banyak,” kata Karilman, pengelola hutan mangrove, Minggu, 14 April 2024. Karilman adalah salah satu pengelola hutan mangrove yang sudah bergabung semenjak tahun 2017.
Proses pembiakan hutan mangrove ini cukup unik. Mangrove ini Tuhan ciptakan sebagai bagian dari siklus kehidupan yang begitu sempurna. Apabila pohon-pohon mangrove ini ditanam dan sudah tumbuh besar, maka pohon mangrove ini akan menghasilkan bunga. Dari bunga tersebut akan menghasilkan bakal buah dan menjadi besar. Apabila buah ini gugur, maka akan terus menancapkan diri ke tanah. Saat air surut, buah akan meraih tanah dan akan memperkuat akar sehingga tumbuhlah menjadi pohon mangrove yang baru.
“Mangrove yang kami tanam satu batang, jika dia berbuah ‘kan jatuh. Nah itu, akan tumbuh sendiri di samping ini, buah yang akan jatuh dari pohonnya. Sebatang kita tanam bisa tumbuh seribu batang,” kata Karilman.
Berbeda dengan buah-buah lain, apabila jatuh akan tenggelam begitu saja. Di objek wisata ini juga ada pembibitan nursery dengan jumlah pohon mangrove sekitar 80.000 batang. Banyak aktivis atau pegiat lingkungan yang mengambil bibit mangrove di sini. Dalam pembangunan hutan mangrove ini banyak sekali rintangan yang dihadapi Karilman. Ia menafsirkan, sama seperti kehidupan rumah tangga yang selalu ada cek cok di balik keromantisan yang tampak dari luar.
Kehadiran ekosistem mangrove ini memberi ruang hidup bagi kepiting, ikan, dan macam-macam hewan yang bermanfaat untuk rantai makanan. Kehadirannya sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat.
“Ramai yang mencari rezeki di hutan mangrove ini,” kata Dini, warga yang tinggal di dekat kawasan hutan mangrove ini.
Secara tidak langsung hutan mangrove ini juga memberikan dampak begitu besar untuk mata pencaharian warga setempat untuk menangkap kepiting dan ikan untuk dijual. “Dari hutan mangrove dapat penghasilan juga dari pengunjung” kata Nabila, pedagang kecil di hutan mangrove yang baru bekerja selama libur Lebaran lalu. Biasanya yang berjualan di kantin tidak selalu orang yang sama.
Mangrove dan Efek Pemanasan Global
Pemanasan global yang ditandai dengan terjadinya peningkatan suhu bumi dapat menyebabkan es di kutub meleleh sehingga permukaan air laut semakin naik. Keberadaan hutan mangrove berperan besar dalam meminimalisasi dampak pemanasan global tersebut. Dengan adanya mangrove, maka abrasi pantai karena gerusan air laut dapat dicegah sehingga ekosistem pesisir tidak mudah terkikis.
“Dengan adanya hutan mangrove ini, di saat pasang dia akan melindungi daerah sekitar peisisir pantai ini dari abrasi itu. Hutan mangrove adalah penyuplai oksigen bagi bumi yang sangat penting. Jadi, dia penghalang ketika pasang dan ini juga kalau orang Jepang, digunakan sebagai “jembatan” atau benteng untuk mencegah ombak tsunami, sedangkan kita secara alamiah hutan mangrove ini,” kata Sulastri, dosen pengampu mata kuliah Kebencanaan di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, 17 April 2024.
Hutan mangrove juga dapat menjadi lokasi transit bagi burung-burung migran untuk menuju benua lain. Namun, hal ini masih dilakukan riset oleh para ilmuwan. Pada musim tertentu pohon mangrove ini penuh dengan burung bangau putih. Namun, jika diperhatikan lagi juga terdapat burung-burung lain yang migrasi dari benua lain.
Namun, masih banyak masyarakat yang belum paham akan manfaat mangrove sehingga pohon mangrove ini banyak ditebang untuk dijual bahkan ada juga yang dijadikan kayu bakar. Apabila hutan mangrove ini tidak dirawat, maka ekosistem pesisir akan terganggu, rantai makanan di sana akan rusak, habitat ikan dan kepiting terganggu, burung-burung tidak lestari dan menjadi punah. Sehingga yang mengalami kerugian terbesar adalah manusia itu sendiri. Dan mungkin kita juga akan kehilangan nyanyian kicauan burung.
Apabila manusia menjaga alam, maka alam juga akan memberikan manfaat yang begitu besar bagi manusia.
Alam akan menjaga manusia dan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Bukan sebaliknya. Di balik semua itu, ada filosofi kehidupan yang bisa diambil dari keberadaan hutan mangrove ini. Kita dapat belajar bahwa untuk bisa sukses dan kuat, kita harus memiliki akar atau pendirian yang kuat.
Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]