Beranda blog Halaman 8

Perubahan Iklim dan Ancaman Eksistensi Mata Ie Aceh Besar

Oleh Zhafiratul Lathifa*

Objek wisata Mata Ie merupakan destinasi wisata alami yang terletak di kaki bukit kapur di Desa Leu Ue, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, tepatnya berlokasi di kawasan markas Resimen Induk Kodam Iskandar Muda (Rindam). Objek wisata Mata Ie dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang rimbun sehingga kawasan objek wisata Mata Ie terasa sejuk dan teduh.

Pohon-pohon ini menjadi tempat naungan berbagai satwa seperti burung dan monyet ekor panjang.

Kolam-kolam pemandian bak warna hijau zamrud yang terdapat di kawasan Mata Ie seakan mengundang para pengunjung untuk merasakan sejuk airnya. Ditambah, bendungan atau pintu air yang terdapat pada kolam Mata Ie membuat aksen air terjun mini yang menambah keindahan.

Fasilitas yang terdapat di kawasan objek wisata Mata Ie pun terbilang lengkap, seperti: musala, toilet, kantin, dan lapangan tenis. Fasilitas-fasilitas ini membuat para pengunjung nyaman dan betah berlama-lama. Adapun biaya masuk per orang sebesar lima ribu rupiah.

Eksistensi Mata Ie memiliki peran yang krusial bagi sebagian masyarakat Aceh Besar. Mata Ie menjadi pemasok sumber air bersih melalui PDAM Tirta Mountala yang menaungi tiga kecamatan di Aceh Besar, yaitu Kecamatan Darul Imarah, Peukan Bada, dan Lhoknga. Keberadaan Mata Ie pun memberikan peluang ekonomi untuk bertahan hidup bagi banyak orang. Ada banyak individu yang menggantungkan mata pencariannya dari objek wisata tersebut seperti petani dan pedagang.

Namun, beberapa tahun terakhir, kolam di kawasan objek wisata Mata Ie mulai dilanda kekeringan. Tidak jarang kolam yang terdapat di Mata Ie menjadi kering total jika musim kemarau berkepanjangan. Kondisi ini berdampak pula pada kehidupan masyarakat di sekitar Mata Ie maupun bagi masyarakat yang menggantungkan hidup lewat eksistensi Mata Ie.

“Ada begitu banyak potensi alam yang dimiliki Mata Ie, salah satunya yaitu ekosistem karst. Karst adalah batuan kapur yang berfungsi untuk menyimpan air. Namun, saat ini kondisinya mengalami kerusakan sehingga berdampak pada berkurangnya debit air Mata Ie,” ujar Risma Sunarty, Dosen Manajemen Kebencanaan Universitas Muhammadiyah Aceh, Rabu, 24 April 2024.

Risma juga menjelaskan bahwa Mata Ie dianggap terancam kering akibat eksploitasi karst dari penambangan batuan untuk infrastruktur.

Akibatnya berdampak pada berkurangnya bentang alam dan tutupan lahan di sekitar kawasan sehingga fungsi ekologis karst terganggu dan memengaruhi biofisik ekosistem sebagai penyimpan air. Jika kawasan karst rusak, debit air pun berkurang, karenanya jika eksploitasi tidak segera dikurangi maka kawasan Mata Ie akan berdampak semakin buruk kedepannya.

Tidak hanya itu, Risma juga mengatakan, ancaman kawasan Mata Ie seperti eksploitasi batuan juga dapat berpengaruh pada berkurangnya vegetasi tutupan lahan yang dikhawatirkan akan berdampak pada area resapan air. Saat hujan turun, air tidak terserap ke tanah dan jadi terbuang begitu saja.

Kekeringan yang terjadi di Mata Ie menjadi kekhawatiran bagi warga Banda Aceh dan Aceh Besar, khususnya yang berdomisili di Kecamatan Darul Imarah dan sekitarnya. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada eksistensi Mata Ie. Salah satunya Halimatus Sa’diah yang sudah berjualan di sekitar kolam Mata Ie selama 17 tahun.

Ia mengaku, beberapa tahun terakhir ini harus mengerahkan usaha ekstra untuk menggenjot perekonomian keluarga karena pendapatan dari hasil berjualan di Mata Ie berkurang akibat sedikitnya pengunjung ketika kolam kering.

“Pokoknya, selama kolam Mata Ie kering, selama itu juga kami enggak bisa jualan,” keluh Halimatus Sa’diah, penjual gorengan, Senin, 22 April 2024.

Kolam Mata Ie juga digunakan sebagai tempat mencuci pakaian bagi para warga. Pemandangan ini sudah menjadi pemandangan umum bagi para pengunjung kolam Mata Ie. Pemandangan itulah yang penulis lihat saat berkunjung ke sana pada 22 April lalu. Dari atas jembatan tampak ibu-ibu berjejer mencuci pakaian dari pinggiran kolam membentuk barisan sejajar dengan arus air. Warga yang mencuci di kolam Mata Ie tidak hanya berasal dari kawasan setempat seperti Keutapang dan Gue Gajah saja, tetapi juga dari kawasan lainnya.

Leli, salah seorang warga Pekan Biluy, Kecamatan Darul Kamal, mengaku sudah sekitar lima tahunan ia mencuci ke Mata Ie. Ia mengeluhkan air di rumahnya yang tidak bersih sehingga lebih memilih untuk mencuci pakaian di Mata Ie. Namun, kondisi kekeringan Mata Ie kerap membuat Leli tidak jadi mencuci dan terpaksa mencuci pakaiannya di rumah meskipun kondisi air yang tidak terlalu bersih.

“Saya pernah datang, tetapi tidak jadi mencuci karena kondisi Mata Ie ternyata kering,” katanya.

Kondisi kekeringan Mata Ie menjadi sumber kekhawatiran bagi warga.

Pasalnya, kondisi kolam yang kering kerontang membuat warga harus menghadapi klasik permasalahan seperti macetnya distribusi air PDAM ke rumah mereka. Tentu saja, permasalahan ini menghambat kegiatan-kegiatan domestik rumah tangga seperti mandi ataupun mencuci.

Rahmiana Rahman, salah satu warga Desa Lamlumpu, Kecamatan Pekan Bada mengaku per Mei 2024 memasuki bulan kelima ia tidak mendapatkan cukup distribusi air PDAM selama tahun 2024. Berdasarkan penuturannya kepada penulis pada Jumat, 5 Mei 2024, distribusi air PDAM yang tidak sampai ke tempat tinggalnya, membuatnya mau tidak mau harus membeli air bersih. Untuk satu tangki isi 5.000 liter, ia harus merogoh kocek sebesar Rp200 ribu.

Macetnya distribusi air ini sudah terjadi bertahun-tahun sejak kolam Mata Ie dilanda kekeringan pada tahun 2017. Rahmiana juga mengeluh, karena kejadian ini, ia terkadang harus menumpang mandi di masjid atau mencuci pakaian di rumah kenalannya di kampung sebelah.

Aktivis muda, Satrio Adi Wicaksono, menjelaskan tentang mengapa kekeringan bisa terjadi. Menurutnya ini bukan kondisi yang “extra ordinary”.

“Kekeringan bukan sesuatu yang tidak lazim. Jika dilihat dari catatan sejarah, sejak dulu sudah ada kekeringan. Kekeringan umum terjadi apalagi jika melihat area yang cenderung kering karena curah hujannya sedikit, kekeringan juga disebabkan oleh cuaca yang menjadi lebih panas,” ujar alumni Program Doktoral Brown University dengan fokus studi Geologi dan Paleoklimatologi yang bekerja sebagai program officer International Union for Conservation Nature and Nature Resource(IUCN) regional Asiatersebut, Jumat, 26 April 2024.

IUCN merupakan organisasi perlindungan lingkungan terbesar di dunia yang didirikan pada tahun 1948. Organisasi ini berfokus pada bisnis dan keanekaragaman hayati, perubahan iklim, pengelolaan ekosistem, hukum lingkungan, kehutanan, kebijakan global, kawasan lindung, solusi berbasis alam, sains dan ekonomi, tata kelola dan hak, kelautan dan kutub bumi, gender dan warisan dunia.

Para anggota IUCN yang saat ini beranggotakan 78 negara yang ada di dunia akan berdiskusi tentang berbagai masalah lingkungan yang terjadi di dunia, kemudian merumuskan kemungkinan solusi dengan menyertakan berbagai pihak terkait.

Adapun paleoklimatologi yang menjadi konsentrasi Satrio merupakan cabang ilmu geologi yang mempelajari kondisi iklim bumi di masa lampau. Tujuannya adalah untuk memahami perubahan iklim yang telah terjadi sepanjang sejarah bumi dan faktor apa saja yang memengaruhinya sehingga membantu untuk memahami pola iklim masa depan dan dampak perubahan iklim global saat ini.

Perubahan iklim katanya dapat terjadi karena kandungan emisi CO2 di atmosfer menjadi sangat banyak dan berakibat pada perubahan temperatur bumi yang meningkat.

Fenomena perubahan iklim yang terjadi saat ini berpengaruh pada perubahan ketersediaan air, sehingga air menjadi lebih langka di banyak wilayah. Banyak negara sekarang menghadapi ancaman tidak memiliki air yang cukup dan menyebabkan kekeringan. Satrio juga menjelaskan, kekeringan bisa terjadi berkepanjangan secara intens karena cuaca yang menjadi lebih panas, kemarau yang menjadi lebih panjang, atau musim hujan yang menjadi lebih pendek.

“Namun, harus dipelajari lebih lanjut penyebab pasti kekeringan di suatu wilayah, apakah karena kekeringan meteorologis (curah hujan yang kurang), kekeringan hidrologis (kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah), ataupun kekeringan ekologis (kekurangan air di dalam tanah untuk kebutuhan pertanian),” urainya.

Satrio juga menambahkan, dampak perubahan iklim dapat memengaruhi kehidupan masyarakat. Kekeringan yang terjadi mengakibatkan produktivitas masyarakat terhambat. Kurangnya pemasok air bersih akibat kekeringan dapat berdampak pada ekonomi dan kesehatan masyarakat.  

Karenanya, keberadaan Mata Ie menjadi penyeimbang hidup banyak orang dan ekosistem. Penting untuk kita bersama-sama menjaga kesejahteraan lingkungan demi menjaga eksistensi Mata Ie sehingga Mata Ie dapat berfungsi seperti sedia kala.[]

Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]

Peran Perempuan dalam Pengelolaan dan Pelestarian Hutan di Gayo

Oleh Dea Chikita Eriadi*

Desa Mendale merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah. Secara georafis desa ini diapit oleh pegunungan dan Danau Laut Tawar. Danau ini menjadi salah satu sumber mata pencarian masyarakat Mendale dan sekitarnya.

Pegunungan di Desa Mendale merupakan kawasan hutan lindung yang secara langsung bersinggungan dengan Kawasan Ekosistem Leuser yang telah ditetapkan oleh The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) sebagai salah satu situs warisan dunia.

Tingginya kebutuhan akan lahan perkebunan sebagai salah satu sumber mata pencarian masyarakat mengakibatkan banyak terjadi perambahan dalam kawasan hutan lindung di sekitar itu. Padahal, hutan memiliki fungsi utama sebagai pengatur sumber mata air.

Namun, akibat perambahan liar tersebut banyak mata air menjadi kering. Banyak juga sumber resapan air yang tidak dapat menampung air lagi sehingga ketika hujan deras banyak terjadi longsor.

Sadar terhadap ancaman yang mungkin bisa menimpa masyarakat sekitaran hutan, munculah inisiatif dari desa untuk melakukan komunikasi dengan Kesatuan Pengelola Hutan (KPH). Selanjutnya, KPH merekomendasikan salah satu NGO yang bergerak di bidang lingkungan untuk memfasilitasi proses pengusulan perhutan sosial. Selanjutnya, sebagai NGO yang bergerak di bidang lingkungan, Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) datang ke Desa Mendale. Mereka melakukan sosialisasi kepada masyarakat serta aparatur desa sehingga terbentuklah LPHK Peteri Pukes.

Community Officer HAkA, Inike Yulia Putri, menjelaskan, kawasan hutan di sekitar Desa Mendale telah menjadi lahan kritis. Kondisi tersebut akan berdampak langsung terhadap masyarakat sekitar jika tidak dijaga dan dikelola dengan baik.

“Oleh sebab itu, LPHK Peteri Pukes mengurus perizinan perhutanan sosial agar hutan bisa dijaga dan dikelola langsung oleh masyarakat sekitaran hutan,” katanya, pada hari selasa tanggal 16 April 2024.

Sembari menunggu perizinan perhutanan sosial, HAkA sebagai lembaga yang mendampingi LPHK Peteri Pukes memberi bekal untuk kelompok dengan memfasilitasi pelatihan-pelatihan dan sosialisasi. Harapannya, nantinya kelompok masyarakat bisa mengelola hutan secara mandiri dan bisa menjaga hutan sekitaran desa mereka.

Kelompok LPHK Peteri Pukes sudah merancang rencana kegiatan untuk menjaga hutan serta sudah mulai memberdayakan perempuan dengan membuat produk olahan pangan yang diproduksi dan dipasarkan sendiri oleh kelompok. Menurut Diana, salah satu anggota LPHK Peteri Pukes, saat ini telah dibentuk ranger untuk berkeliling dan mengawasi hutan. Tim ini akan mulai turun ke lapangan setelah sertifikat perhutanan sosial diterbitkan instansi terkait.

Sebagai salah satu anggota ranger perempuan yang telah dibentuk oleh LPHK Peteri Pukes, Diana sangat menantikan untuk memulai kegiatannya sebagai ranger. Diana ingin menerapkan ilmu-ilmu yang sudah didapat dari beberapa pelatihan untuk kelestarian hutan desa mereka. Diana juga bercerita tentang pelatihan-pelatihan apa saja yang sudah mereka dapat dari HAkA.

“Kami sudah mendapat beberapa pelatihan seperti pelatihan GFW, pelatihan penggunaan drone, serta pelatihan pengolahan potensi desa berbasis ekonomi hijau. Kami juga melakukan beberapa kegiatan seperti pemetaan potensi wilayah hutan sekitaran Desa Mendale,” katanya.

Dari beberapa pelatihan dan kegiatan, pelatihan yang paling berkesan bagi anggota adalah pelatihan mengoperasikan drone. Para anggota LPHK dapat langsung mengoperasikan drone dengan dipandu ahli yang disediakan oleh HakA.

Agar tidak ada kekosongan kegiatan, sembari menunggu sertifikat perhutanan sosial terbit, anggota LPHK Peteri Pukes mulai dibimbing untuk menghasilkan produk pangan yang nantinya akan dipasarkan dan akan menjadi salah satu sumber penghasilan untuk anggota kelompok.

Seperti yang dikatakan Lia, salah satu anggota LPHK. Untuk saat ini mereka sedang mencoba membuat produk olahan pangan dengan sumber daya melimpah di sekitar mereka. Mereka mencoba membuat abon ikan mujair, stik labu, serta kerupuk lobster.

“Namun, karena beberapa kendala, sekarang kami mau berfokus dulu di olahan abon ikan mujair. Sekarang produk kami sedang dalam tahap pembuatan desain sekaligus sedang mengurus BPOM dan sertifikasi halal, setelah selesai produk ini akan langsung dipasarkan,” ujarnya.

Dengan adanya kegiatan pemberdayaan perempuan dan anggota pada kelompok LPHK Peteri Pukes, menjadikan LPHK sebagai wadah bagi ibu-ibu kreatif yang ingin mengembangkan diri dan membuat produk untuk dapat dipasarkan. Di balik kegiatan-kegiatan selingan yang dilakukan pada LPHK Peteri Pukes, tujuan utama LPHK Peteri Pukes tetap berfokus dalam pengurusan sertifikat perhutanan sosial agar dapat mengelola dan menjaga hutan sekitaran Desa Mendale. Dengan demikian, hutan tetap terjaga dari kerusakan-kerusan yang mungkin terjadi dan bisa memperbaiki lahan-lahan yang sudah kritis akibat kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga hutan.

Salah seorang aktivis perempuan di Gayo, Sri Wahyuni, mengatakan kawasan hutan di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah merupakan kawasan hutan yang langsung bersinggungan dengan kawasan Leuser. Banyak spesies hewan yang tinggal di hutan, khususnya hutan di Bener Meriah.

Ia bercerita, suatu hari, saat para ranger dari LPHK Damaran Baru (Bener Meriah) memantau hutan sekitaran Damaran Baru, mereka bertemu luwak dewasa dan anak-anak luwak yang tinggal di hutan. Banyak juga kayu-kayu besar yang diperkirakan umurnya sudah ratusan tahun.

“Cuma sekarang karena masyarakat tidak tahu kegunaan kayu, jadi banyak kayu yang ditebang secara liar untuk dijual. Sebenarnya, ada cara agar kita tidak perlu menebang kayu, tapi kayu tersebut tetap bisa menjadi sumber penghasilan untuk kita,” kata advokat, yang akrab disapa Ayu, pada hari sabtu tanggal 20 april 2024.

Caranya, kata Ayu, yakni dengan menanam kayu-kayu berbuah seperti alpukat, aren, dan kayu berbuah lainnya, sehingga kayu tidak perlu ditebang dan kita tetap bisa menikmati hasil dari kayu tersebut.

Ayu bercerita, sekarang sudah banyak pohon-pohon besar yang sudah sulit ditemui, seperti kayu beringin yang akarnya menjulang keluar, kayu grupel, dan kayu-kayu besar lainnya. Bahkan, di kebun Ayu di Bener Meriah pun hanya tersisa satu kayu grupel besar yang sengaja tidak ditebang.

Sekarang ini Ayu aktif melakukan budi daya kayu untuk dibagi-bagikan pada masyarakat untuk ditanam kembali. Ayu juga mempunyai tanah di daerah Wih Kuli, Kabupaten Aceh Tengah. Ia berniat menanam pohon di lahan tersebut.

“Saya tidak berniat mengalihfungsikan tanahnya menjadi kebun karena daerah Wih Kuli merupakan salah satu sumber air untuk desa-desa sekitarnya,” kata Ayu.

Menurut Ayu, setiap individu bisa menjaga hutan dengan menjadikan hutan sebagai lokasi wisata yang dijaga dengan konsep menyuguhkan keasrian alam.

Seperti di Bener Meriah yang memiliki objek wisata Pentagon. Yang menjadi “jualan” utamanya adalah panorama alam yang asri. Pemanfaatan alam dengan cara itu akan membuat masyarakat memahami fungsi dan dampak hutan secara langsung terhadap perekonomian mereka. Dengan begitu, akan timbul kesadaran untuk terus menjaga hutan dan pohon-pohon di hutan.

“Dengan menjaga hutan tetap asri, kita juga akan mendapatkan manfaat dari hutan. Salah satunya sumber air yang melimpah. Sekarang ini di berbagai daerah sudah banyak terjadi bencana kekeringan dan bencana banjir saat hujan melanda, salah satu penyebabnya karena rusaknya ekosistem hutan.”

default

Ketika hutan rusak, tidak ada lagi akar-akar yang bisa menjadi perekat tanah dan menjadi celah atau ruang bagi air untuk masuk ke dalam tanah. Serapan itu mestinya membuat air bisa tetap tersimpan di tanah. Air tanah inilah yang nantinya bisa menjadi salah satu sumber mata air yang bisa menopang kebutuhan air manusia.

“Dengan adanya celah-celah akar tanaman, air tidak akan menggenang dan menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor,” kata Ayu.[]

Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]

Sobotik: Mengubah Limbah Botol Plastik Menjadi Cuan

SEPTEMBER 2020. Ns. Nourica Hastuti, S.Kep. baru saja selesai kontrak dari pekerjaannya di sebuah yayasan di Banda Aceh. Ia memutuskan untuk tidak menerima tawaran perpanjangan kontrak. Alasannya sangat rasional. Perutnya yang sedang mengandung anak pertama semakin membesar. Sebagai calon ibu muda, Nouri ingin fokus pada persiapan kelahiran yang diperkirakan jatuh pada November 2020. Memasuki trimester ketiga masa kehamilan, Nouri ingin menikmati hari-hari selama proses mengandung dengan tenang. Tak direcoki oleh beban dan tanggung jawab kerja.

Namun, keadaan berkata lain. Pandemi Covid-19 yang saat itu sedang menggila mau tak mau mengusik ketenangan Nouri. Pandemi bukan saja membuatnya bagai terkurung oleh situasi. Bahkan sekadar untuk jalan-jalan menghirup udara segar di lingkungan sekitar pun jadi terbatas. Bagi Nouri yang terbiasa bekerja di lapangan dan berinteraksi dengan banyak orang, situasi itu sangat menyiksa. Namun, yang lebih merisaukannya adalah efek dari munculnya wabah tersebut. Banyak usaha gulung tikar. Orang-orang kehilangan pekerjaan. Termasuk suaminya, Zainuddin, yang mengajar di sekolah swasta di Aceh Besar. Zainuddin dirumahkan.

Dengan kondisi dirinya yang sudah menganggur, ditambah Zai yang juga kehilangan pekerjaan, otomatis pasutri muda ini jadi kehilangan sumber penghasilan. Mereka juga tak punya tabungan. Tadinya, satu-satunya yang menjadi tumpuan harapan untuk biaya persalinan adalah dari penghasilan Zai. Wabah memupuskan harapan tersebut. Sama seperti kebanyakan orang ketika itu, mereka nyaris hopeless.

“Namun, kami masih punya semangat. Dan karena semangat itu pula kami terus mencari-cari peluang, apa yang bisa kami lakukan di tengah situasi sulit itu,” cerita Nouri mengawali kisah rintisan usahanya saat ditemui di kediamannya di Desa Lamlumpu, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Sabtu, 20 April 2024.

Peluang itu datang. Menjelang akhir September 2020, Pemerintah Aceh mencari 200 entrepreneur muda melalui Sayembara Aceh Berdikari. Di antara syarat mengikuti sayembara ini adalah bukan aparatur sipil negara dan tidak sedang menerima bantuan dari pihak lain. Nouri dan Zai berdiskusi, mereka memenuhi dua syarat mutlak itu. Selebihnya, hanya persyaratan administrasi: berusia tak lebih dari 35 tahun, ber-KTP Aceh, dan sedang/ingin berwirausaha.

“Saya dan Zai berdiskusi, apa yang kira-kira bisa kami lakukan? Zai lantas mencetuskan ide untuk membuat sofa botol plastik. Kami sepakat. Ide tersebut saya eksekusi menjadi proposal. Alhamdulillah, proposal kami lolos,” kata ibu dua anak ini.

Ide mereka dianggap out of the box di antara ide-ide lain yang banyak berkutat di sektor usaha kuliner dan perkopian. Sebenarnya kata Nouri, ide daur ulang membuat sofa dari botol plastik ini bukanlah invensi atau reka cipta. Produk daur ulang tersebut telah lama diproduksi di luar Aceh. Namun, untuk di Aceh memang mereka yang memulainya. Hingga saat ini pun, belum terlihat ada usaha serupa lainnya. Tak heran, ketika proposal ide sobotik dinyatakan lolos dan mendapat uang pembinaan sebesar Rp5 juta, Nouri riang bukan kepalang. Mereka lega dan merasa bisa “bernapas” kembali. Usahanya membuat proposal seoptimal mungkin tidak sia-sia. Uang tersebut benar-benar mereka manfaatkan untuk menjalankan usaha. Sejak saat itu Sobotik yang merupakan akronim dari sofa botol plastik menjadi jenama untuk usaha mereka. Berselang bulan, Sobotik kembali memenangi kompetisi wirausaha yang dibuat Ikatan Wanita Pengusaha (Iwapi) Aceh.

Sofa berkualitas premium hasil karya Sobotik yang dibanderol Rp500 ribu. Sarung sofa dengan pola simpul dipelajari secara khusus dari seniman asal Jepang. Foto: Ihan Nurdun

Di luar kebutuhan untuk menyambung hidup, ada misi lain yang diemban Nouri dengan mendaur ulang sofa botol plastik atau sobotik. Yakni mengatasi persoalan sampah, khususnya di Kota Banda Aceh, yang trennya cenderung meningkat. Jika melihat data Aliran Sampah Kota Banda Aceh Tahun 2020 yang dirilis Badan Pusat Statistik Kota Banda Aceh pada 2021, potensi timbulan sampah pada 2020 mencapai 88.800 ton per hari. Dari angka tersebut, jumlah sampah yang dikelola mencapai 86.021 ton yang terbagi menjadi dua kategori, yakni pengurangan sampah dan penanganan sampah.

Masih berdasarkan data tersebut, pengurangan sampah yang dilakukan berupa pembatasan timbulan sampah (182,96 ton), pemanfaatan kembali sampah (4,75 ton), dan pendaur ulang sampah (12,105 ton) dengan total 12.293 atau 13,84% dari jumlah timbulan sampah. Sedangkan sampah yang ditangani, meski secara angka tampaknya besar yaitu 73.728 ton dengan total persentase 83,03% dari jumlah timbulan sampah, tetapi semuanya masih terpusat pada sampah yang terproses di tempat pemrosesan akhir (TPA). Sedangkan untuk pengolahan menjadi sumber energi atau pengolahan menjadi bahan baku pakan ternak, daur ulang, dan upcycle masih nol. Di luar itu, sampah yang tidak dikelola tercatat 2.778 atau setara 3,13%.

Aliran Sampah di Kota Banda Aceh, 2020. Sumber: bandaacehkota.bps.go.id

Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipatnya hanya berselang tahun saja. Perbandingan data yang sama jika merujuk pada Kota Banda Aceh Dalam Angka 2024 yang dirilis BPS Banda Aceh, potensi timbulan sampah pada tahun 2023 mencapai 255,81 ton per hari. Jumlah sampah yang dikelola mencapai 251,93 ton yang terdiri atas pengurangan sampah (41,47 ton) dan penanganan sampah (210,46 ton).

Aliran Sampah di Kota Banda Aceh, 2023. Sumber: BPS Kota Banda Aceh

Nouri yang telah menyadari bahwa adanya keterkaitan antara sampah dan dampaknya terhadap perubahan iklim, merasa perlu berbuat sesuatu. Apalagi, dengan latar belakang akademiknya sebagai seorang ners atau perawat, juga aktivitasnya yang banyak bergelut di masyarakat, ia cemas terhadap berbagai potensi yang dapat ditimbulkan oleh sampah. Karena itulah, kehadiran sobotik harapannya juga menjadi media untuk mengedukasi masyarakat. Dengan kreativitas mereka, botol-botol plastik yang selama ini berakhir di tong sampah mampu disulap menjadi sofa-sofa berkualitas premium.

Untuk urusan produksi, Nouri menyerahkan sepenuhnya kepada Zai. Bermodalkan mesin jahit pinjaman dari mertua, Zai berhasil memproduksi prototipe pertamanya. Bahan bakunya mereka kumpulkan dari hasil “memulung” di Lapangan Blang Padang. Salah satu ruang terbuka hijau di pusat Kota Banda Aceh yang ramai dikunjungi warga, terutama di akhir pekan. Di masa pandemi, yang memaksa orang-orang untuk lebih mengutamakan kesehatan, warga yang berolahraga ke Blang Padang di hari-hari biasa jadi meningkat. Intensitas individu untuk mengonsumsi air mineral juga lebih tinggi karena dianggap lebih sehat. Mirisnya, kata Nouri, botol-botolnya banyak yang ditinggalkan begitu saja di lapangan. Padahal di tempat itu sudah disediakan tong sampah.

“Botol-botol itulah yang kami pulung untuk membuat prototipe sobotik. Waktu itu saya sudah melahirkan, usia anak pertama saya, baru 44 hari. Jadi, aktivitas pertama yang dilakukan anak saya adalah memulung,” ucap Nouri sambil tertawa.

Rupanya kegiatan memulung ini justru menimbulkan reaksi dari orang-orang terdekatnya. Sebagai lulusan perguruan tinggi, berpendidikan, punya akses dan relasi, kok malah mulung? Imej memulung yang negatif dilekatkan pada pasangan yang menikah awal 2020 tersebut. Semiskin-miskinnya mereka, jangan sampailah memulung. Karena bisa menjatuhkan harkat dan martabat diri. Itulah yang mereka pikirkan.

“Bahkan pertanyaan seperti itu muncul dari orang tua sendiri. Mereka mengira kami sudah sangat putus asa sehingga tidak ada yang bisa dilakukan lagi,” kata lulusan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala itu.

Nouri tak ingin berkonfrontasi. Ia punya prinsip lakukan dan buktikan. Orang-orang hanya belum bisa melihat visi sebagaimana yang ia lihat. Tantangannya bukan hanya dari luar saja. Sebagai perempuan, sebagai ibu, sebagai istri, Nouri juga menghadapi tantangan domestik. Ketika mulai merintis Sobotik, ia sedang dalam kondisi hamil besar, kemudian melahirkan, dan mulai mengasuh bayi. Dari satu anak lalu bertambah satu anak lagi. Kadang-kadang ia mengalami mood swing akibat perubahan hormonal. Ia juga harus pandai-pandai menyiasati waktu agar pekerjaan rumah tangga tidak terbengkalai, usaha tetap berjalan lancar, perkembangan medsos Sobotik tetap terkontrol. Apalagi mereka tidak punya pengasuh. Juga belum punya karyawan. Otomatis semua pekerjaan harus ditangani bersama.

Ia berbagi peran dengan suaminya. Nouri fokus ke urusan promosi. Zai fokus ke urusan produksi. Nouri belajar autodidak bagaimana cara mendesain poster dan mengelola media sosial. Zai pun autodidak belajar menjahit dan berinovasi produk. Di samping itu, ketika ada kesempatan mengikuti berbagai pelatihan, Nouri juga ikut. Memasuki usia keempat, Sobotik mulai merangkak, buah hati pun bertambah. Kini Nouri dan Zai memiliki sepasang buah hati. Tantangan akan terus ada, tetapi visi dan misilah yang membuat mereka tetap konsisten.

Untuk membuat satu sofa ukuran standar, membutuhkan hingga 37 botol plastik ukuran 1,5 liter. Botol ini dirakit dan diikat supaya kokoh. Setelah itu baru diberi sarung dengan berbagai pilihan material. Ada yang kulit sintetis. Ada juga yang berbahan kain. Jika Sobotik memproduksi 10 sofa saja, maka ada 370 botol plastik yang berhasil didaur ulang. Menurut trainer Global Ecobriks Alliance, Rahmiana Rahman, salah satu cara mengatasi persoalan sampah plastik ialah dengan memanjangkan usianya. Karena yang membuat efek limbah plastik berbahaya ialah ketika bercampur dengan limbah organik dan menghasilkan senyawa kimia yang memicu terjadinya emisi gas rumah kaca (GRK). Karena itu, pemilahan sampai menjadi sangat penting. GRK inilah yang salah satu efeknya, sebagaimana dikutip dari buletin Gas Rumah Kaca memicu terjadinya pemanasan global dan akan berdampak terhadap krisis pangan di daerah tropis seperti Indonesia. Tanpa terkecuali di Aceh yang wilayahnya dikelilingi Selat Malaka dan Samudra Hindia.  

“Jika dibiarkan di alam, sampah plastik baru benar-benar terurai setelah berusia ratusan tahun. Jadi, mau tidak mau kita harus daur ulang, di antaranya dengan membuat ekobrik, diet plastik, dan membiasakan hidup ramah lingkungan dengan memilah sampah,” kata Rahmiana Rahman, 26 April 2024.

Jika diterjemahkan secara harfiah, ekobrik adalah bata ramah lingkungan yang terbuat dari botol plastik berisi sampah plastik. Standarnya kata Rahmiana, satu botol plastik kapasitas 1,5 liter dapat diisi dengan sampah plastik seberat 0,5 kilogram. Sedangkan yang kapasitas 600 mililiter, minimal bisa menampung 200 gram sampah plastik. Estimasinya, jika satu sofa Sobotik dirakit dari 37 ekobrik 1,5 liter, maka sudah 18,5 kilogram sampah plastik yang tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir. Dalam sebulan, setidaknya Sobotik memproduksi satu set produk yang terdiri atas tiga sofa dan satu meja.

“Kehadiran Sobotik merupakan usaha yang perlu diapresiasi karena telah berpartisipasi dalam menyelamatkan Bumi kita. Ini juga menjadi contoh bahwa sektor usaha hijau masih sangat potensial untuk digarap,” kata Direktur Rumah Relawan Remaja yang aktif mengampanyekan gerakan mendaur ulang limbah tersebut.

Aneka produk daur ulang berbahan dasar plastik (atas) dan ekobrik (bawah). Foto: Ihan Nurdin

Sejauh ini Sobotik masih fokus memproduksi sofa-sofa nonekobrik. Sedangkan untuk sofa-sofa berbahan ekobrik masih berdasarkan pesanan pelanggan. Biasanya konsumen membawa sendiri material ekobriknya untuk dirakit oleh Zai dan meng-custom sarungnya sesuai pesanan. Fokus Sobotik memang belum pada tahap memproduksi ekobrik karena membutuhkan proses dan waktu yang lama. Untuk mendapatkan bahan baku botol, Nouri dan Zai sudah tidak “memulung” lagi di taman-taman kota. Mereka membeli langsung dari warga dengan harga yang lebih tinggi di pasaran. Untuk satu botol plastik isi 1,5 liter, dibeli seharga Rp200. Di pengepul, harganya hanya Rp50. Selisih harga yang besar ini dinilai sepadan dengan kualitas produk yang diharapkan.

“Kami tidak menerima bahan baku yang cacat, misalnya peyot atau kotor.”

Sobotik memang sangat mengutamakan kualitas produk. Sejak awal visi mereka memang ingin mengubah sampah menjadi produk berkualitas premium. “Bisa tidak kami mengubah sampah ini harganya menjadi jutaan? Itu motivasi yang menggerakkan kami,” kata Nouri.

Bukan apa, mereka ingin mengubah imej yang selama ini melekat di ingatan banyak orang. Kalau sampah “cuma” bisa berujung di tempat sampah. Tapi, mungkinkah sampah ini “berakhir” di rumah wali kota? Jawabannya bisa. Tentu saja dengan mengubahnya menjadi produk yang setara kualitasnya untuk dipajang di rumah pejabat. Itulah yang telah dilakukan Sobotik. Mantan ketua PKK Banda Aceh merupakan salah satu pelanggan sofa yang diproduksi Sobotik. Suatu hari, Nouri dan Zai surprise saat utusan istri orang nomor satu di Banda Aceh mendatangi tempat workshop-nya. Mereka memesan satu set sofa. Usut punya usut, ternyata infonya didapat dari tayangan televisi. Sobotik juga pernah mendapatkan satu set pesanan sofa dari Dinas Industri kota dan sofa itu kerap dipamerkan di berbagai event kreatif.

Liputan demi liputan di televisi rupanya juga berdampak terhadap perubahan penilaian dari orang-orang yang tadinya usil. Ibunya Nouri misalnya, yang tadinya insecure karena anaknya memulung, kini malah kerap mengumpulkan botol-botol plastik yang ada di kantornya. Sobotik memang bertahan karena dukungan orang-orang di sekitarnya. Promosi dari mulut ke mulut, atau dari medsos ke medsos, memperluas jaringan distribusi produk hingga ke luar Banda Aceh dan ke luar Aceh. Kualitas produknya juga sudah teruji. Tak hanya sofa, banyak juga yang membeli sarung beanbag. Hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh akademisi Universitas Syiah Kuala, sofa nonekobrik made in Sobotik bisa menahan berat nyaris 200 kilogram.

Salah satu pelanggan Sobotik adalah Maria Ulfa Hasballah. Pendiri Sekolah Bintang Kecil ini mengaku rutin menempah sarung sofa kepada Sobotik untuk membungkus alat peraga edukasi bagi murid-muridnya yang berkebutuhan khusus. Persamaan visi misilah yang membuat perempuan yang biasa disapa Bunda Ulfa ini, yang tadinya menempah pada orang lain, mulai beralih ke Sobotik.

“Saya senang karena dengan hadirnya usaha ini bisa sekaligus mengedukasi orang banyak. Ini kan jalur dakwah karena dalam Islam menjaga lingkungan itu bagian dari ibadah,” kata PNS sekaligus dosen khusus di Universitas Muhammadiyah Aceh itu, 24 April 2024.

Alat peraga edukasi dengan material ekobrik yang dibalut dengan sarug sofa tempahan dari Sobotik. Foto: Dok Maria Ulfa

Sejak beberapa tahun terakhir Ulfa memang mulai menggalakkan pembuatan ekobrik bagi anak-anaknya. Sejak dini anak-anaknya diajarkan untuk memilah sampah dan apa bahayanya bagi lingkungan. Apalagi, sampai saat ini belum ada solusi untuk menangani sampah plastik. Satu-satunya yang memungkinkan dilakukan, ya, dengan memanjangkan usianya atau mengurangi ketergantungan terhadap plastik. Ekobrik yang dibuat oleh anak-anaknya itulah yang di-custom oleh Sobotik. Anaknya juga pernah mengikuti program edukasi yang dibuat oleh Sobotik.

Nouri dan Zai tak hanya fokus pada kegiatan produksi. Mereka juga mengadakan kelas-kelas edukasi untuk membuka wawasan publik tentang pengelolaan sampah. Misalnya, pelatihan mengolah plastik menjadi aneka kerajinan, robot plastik, atau cara membuat pembalut berbahan dasar kain yang aman dan ramah lingkungan. Mereka juga tak bosan-bosan mengampanyekan pengurangan sampah plastik. Edukasi yang oleh sebagian individu dianggap bertolak belakang dengan usaha yang dilakoni Nouri yang notabenenya membutuhkan plastik. Namun, lagi-lagi Nouri menegaskan, jumlah plastik yang tersebar di muka bumi tak sebanding dengan yang didaur ulang. Dan orang-orang yang sudah sadar akan bahaya limbah plasti juga masih segelintir. Sadar saja masih belum cukup. “Yang paling penting adalah aksi!”

Buah dari ketekunan itu, Sobotik semakin mendapat tempat di hati konsumen. Berawal dari kompetisi Aceh Berdikari, Sobotik kini semakin dikenal.[]

Tulisan ini merupakan liputan Fellowship Perempuan, Bisnis Berkelanjutan, dan Perubahan Iklim yang diselenggarakan ASPPUK, AJI Indonesia, dan Konde.co.

Sepak Terjang Rosi Sebagai Perempuan Konservasionis di Hutan Leuser

Oleh  Nurul Islamidini*

Stereotip mengenai larangan perempuan berkecimpung di lapangan masih mengakar kuat dalam pola pikir (mindset)sebagian besar masyarakat Aceh. Masyarakat menganggap perempuan lebih baik duduk manis di dalam biliknya mengurusi dapur, sumur, dan kasur. Efek dari paradigma klise semacam itu juga pernah dialami Rosi Safriana. Saat dijumpai langsung di salah satu kafe di Lambhuk pada 31 Maret 2024, Rosi yang merupakan seorang aktivis konservasi yang kerap bertugas dan melakukan penelitian di lapangan itu pun memaparkan kisahnya. 

Motivasi awal Rosi berkiprah di lapangan murni didasari atas kecintaannya akan keindahan alami alam raya. Di samping itu, petuah terkait keindahan semesta yang diucapkan salah seorang dosennya masih terus membekas di benak Rosi hingga hari ini.

“Manusia adalah makhluk surga. Sehingga manusia suka melihat keindahan seperti halnya alam, yang mana alam merupakan serpihan surga,” demikian sang guru berpesan. 

Selama bertugas di kawasan hutan, Rosi menunjukkan dedikasinya dengan mengumpulkan data konservasi dan ikut serta dalam proses pemulihan Kawasan Ekosistem Leuser, khususnya Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Perempuan berusia 23 tahun ini terlibat langsung dalam berbagai kegiatan lapangan, mulai dari memasang kamera jebakan (camera trap), hingga melakukan penelitian perilaku terhadap orang utan selama 3 bulan. 

Kredit Foto : Makmur Jaya

Namun, perjalanan Rosi di dunia konservasi tak selalu mulus. Tantangan yang dihadapi tidak hanya sebatas stigma fisik perempuan yang dianggap lebih lemah daripada laki-laki, tetapi juga tantangan psikologis, dan sosial.

Sebagai seorang perempuan, Rosi harus menghadapi berbagai kendala; mulai dari rasa tidak nyaman berada di lingkungan yang didominasi oleh perokok, hingga perjuangan untuk memperoleh restu orang tua demi bisa bekerja langsung di kawasan hutan.

Untuk lolos dari proses perizinan untuk bekerja dari orang tua, Rosi pun membagikan kiatnya. “Jadi, kita harus melakukan sebagaimana kita mau penelitian skripsi. Ada proses seminar proposal, revisi, seminar hasil, revisi, hingga sidang,” paparnya. Rosi menjelaskan proses serupa seminar proposal berfungsi memperjelas urgensi sekaligus rencana keberangkatan ke lapangan.

Pada kasus Rosi sendiri, dia akan mulai memberitakan kondisi krusial untuk berangkat ke lapangan kepada orang tuanya sejak setahun sebelum keberangkatan. Menjelang hari keberangkatan, proses seminar proposal diulang kembali dengan merincikan teknis keberangkatan. Setelah itu, orang tuanya biasa akan memberikan revisi berupa pemberian izin bersyarat meliputi permintaan penerimaan surat resmi dari kampus dan lembaga, memberikan kontak aktif staf lapangan, serta foto wajah dan sosial media mereka.

Bagi Rosi, memiliki strict parents merupakan salah satu sumber keberkahan. Lantaran tuntutan orang tuanya, Rosi menjadi lebih selektif akan aktivitas dan lingkup pertemanannya.

Menurutnya, anak perempuan dengan strict parents akan merasa tidak nyaman apabila pulang hingga larut malam. Tanpa pola asuh tersebut, menurut Rosi, bisa jadi anak perempuan akan pulang sesuka hati. 

Di samping itu, Rosi juga harus menghadapi tantangan fisik yang tidak kalah beratnya. Perjalanan ke lapangan seringkali membutuhkan persiapan matang, terutama bagi perempuan muslim yang cenderung menggunakan pakaian lebih banyak.

Ditambah lagi perempuan memiliki siklus datang bulan yang menuntut mereka menggunakan air lebih sering.

Bahkan, kondisi menstruasi tersebut tak jarang memberikan rasa sakit fisik kepada sebagian perempuan yang membuat mereka harus menunda kegiatan lapangan selama beberapa hari.  

Belum lagi ketika mendapati kondisi di mana beberapa staf lapangan laki-laki yang kurang peka terhadap hak perlindungan perempuan. Sehingga mereka kerap melemparkan lelucon vulgar yang membuat staf perempuan tidak nyaman. Namun hal tersebut kembali ke pribadi masing-masing dan tentu tidak semua staf laki-laki bertindak demikian.  

Selaku perempuan yang bekerja di lapangan, masalah terkait fisik tak berhenti sampai di situ. Rosi juga punya kisah menarik terkait bagaimana caranya menjaga diri terkait batasan sentuhan fisik antara dirinya selaku perempuan dengan staf laki-laki.

Terkadang ketika terjatuh, sebagian staf lapangan refleks menolong tanpa meminta izin terlebih dahulu terkait boleh-tidaknya menyentuh. Pada kondisi tersebut, Rosi harus tegas dan berusaha mencari alternatif lain terlebih dahulu seperti menarik kayu, menarik bahu atau lengan yang dilapisi baju, hingga akhirnya menerima pertolongan dengan menggenggam tangan.

Adegan tolong-menolong seperti itu sudah biasa terjadi. Sehingga selaku perempuan Rosi merasa perlu untuk mengatur strategi agar tidak muncul fitnah maupun perasaan di luar urusan profesional.

Terkait tantangan fisik yang dihadapi staf perempuan seperti Rosi, Nawi selaku pembimbing lapangan Rosi turut berpendapat. “Sebelumnya saya curiga kalau Rosi tidak akan mampu menjelajah dan meneliti perilaku orang utan. Namun ternyata dia sanggup berjalan jauh, pulang jam 7-8 malam, bahkan kehujanan. Intinya, dia ternyata perempuan yang luar biasa,” ujarnya saat diwawancarai melalui panggilan video pada 21 April 2024.

Kehati-hatian serupa juga Rosi terapkan ketika harus berhadapan dengan masyarakat yang berlawanan jenis. Ketika berinteraksi dengan warga desa—misalnya untuk mengadakan sosialisasi—perempuan kerap berada di posisi yang serba salah.

Apabila terlalu ramah, masyarakat bisa salah arti bahkan sampai ‘jatuh hati’. Namun apabila perempuan tersebut terlalu dingin, masyarakat jadi enggan terlibat dan menolak untuk bekerja sama. Sehingga banyak staf perempuan yang tidak dapat mengikuti pola pergaulan tersebut. 

Meski dipenuhi berbagai tantangan sebagai perempuan yang bekerja di lapangan, Rosi tetap bersemangat dan tidak ragu untuk tetap menjelajahi keindahan alam yang ada di sekitarnya. Bahkan sekalipun berjilbab lebar, Rosi mengakui bahwa hal tersebut sama sekali tidak mempersulit kinerjanya selama di lapangan. Bahkan, menurut ceritanya, kain jilbab yang lebar itu bahkan pernah melindunginya dari tajamnya sayatan rotan saat mengeksplorasi hutan. 

Kredit Foto : Junaidi Hanafiah

Berbagai tantangan tersebut nyatanya tidak membuat Rosi kehilangan momentum untuk menikmati keindahan hutan hujan tropis. Berbagai jalur hutan yang dia lalui membawanya menikmati keindahan hutan hujan tropis. Menurutnya, berbagai jalur hutan yang dia lalui memiliki kesan tersendiri. Ada kawasan hutan yang dipenuhi pohon salak, ada yang dipenuhi liana yang airnya dapat diminum, dan ada pula wilayah dipenuhi jurang dan jalan menanjak.

Rosi mengaku takjub saat menyaksikan kasih sayang seekor induk orang utan terhadap anaknya. Sang induk mengupas dan mengunyahkan buah yang keras, lalu diberikan kepada sang anak. Induk tersebut juga menjadikan dirinya sebagai jembatan bagi anaknya ketika hendak melewati ranting pohon yang sulit dijangkau. 

Rosi pun pernah geram sekaligus terkesima ketika Pasto—seekor anak orang utan—menjahilinya dan beberapa peneliti lainnya saat berkunjung. Pasto melempari ranting pada kawanan peneliti yang sedang makan siang. Setelah beberapa kali mereka pindah posisi, Pasto tetap usil melempari para peneliti. Hingga akhirnya, salah seorang anggota peneliti menggoyang-goyangkan dahan tempat Pasto bertengger, ia pun berteriak ketakutan.

Sang induk pun bangun, lantas memeluknya. Sang ibu mengekspresikan sesuatu kepada Pasto dengan bahasa yang tidak manusia mengerti. Namun, ekspresi sang induk seolah-olah mengisyaratkan kepada Pasto bahwa, “Mereka itu peneliti yang tidak merusak alam atau pun mengganggu kita. Jangan diganggu.” Rosi terkesima akan fakta bahwa induk orang utan tidak marah pada kehadiran manusia, tetapi justru fokus memperbaiki kenakalan anaknya.

Di akhir wawancara, Rosi pun menitipkan pesan untuk para perempuan yang kelak berkehendak untuk berkarir di lapangan agar tidak perlu takut.

Menurutnya, tak perlu menjadikan gender sebagai alasan untuk membatasi diri berkecimpung di dunia konservasi.

Kemudian, hendaknya perempuan meluruskan niatnya bahwa hutan bukanlah tempat untuk menampakkan kehebatan diri, tetapi menjadi wadah positif untuk belajar dan bekerja.[]

Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]

Keajaiban Hutan Mangrove: Pencegah Abrasi hingga Potensi Sumber Ekonomi

Oleh Putri Cut Habibi*

Hutan mangrove adalah ekosistem pesisir yang kaya akan keanekaragaman hayati dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Hutan ini merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan begitu sempurna karena memiliki keunikan tersendiri yang mampu hidup di air laut yang asin. Keberadaan hutan mangrove banyak dijadikan dan dikelola sebagai objek wisata, salah satunya adalah hutan mangrove di Aceh Jaya. 

Ekowisata mangrove ini terletak di Gampong Baro Sayeung, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya.

Jarak dari ibu kota Aceh Jaya yaitu Calang menuju ke lokasi ekowisata mangrove ini hanya perlu menempuh perjalanan sejauh 6,1 km. Perkiraan waktu 8-10 menit dengan menggunakan kendaraan seperti mobil atau sepeda motor. Lokasi yang cukup strategis membuat wisatawan mudah dalam menggunakan bantuan Google Maps. Dari jalan nasional Meulaboh—Banda Aceh, hanya berjarak beberapa meter dan wisatawan dapat melihat langsung ke wisata hutan mangrove ini.

Wisatawan yang datang ke sini akan disambut oleh penjaga dan membayar tiket cukup dengan harga 5.000/orang. Dengan begitu, wisatawan dapat menikmati langsung suasana hutan mangrove seluas 360 hektare ini. Di meja dekat pengambilan tiket juga disediakan buku dan majalah mengenai hutan mangrove yang dapat dibaca langsung oleh wisatawan. Setelah itu wisatawan dapat menelusuri mangrove dengan perantara jembatan kayu berwarna kuning, biru, dan merah. 

Terdapat delapan jenis pohon mangrove yang ditanam saat ini, yaitu Rhizophora Mucronata, Rhizophora Apiculata, Rhizophora Stylosa, Ghimnoriza, Avicennia Marina, Api-Api, Ceriop Tada, dan Nipah Fructian.

Ketika matahari sedang terik-teriknya dengan langit yang biru, suasana di hutan mangrove dengan pohon menjulang tinggi di sepanjang jembatan membuat suasana tetap sejuk. Di sepanjang jalan juga disediakan bangku-bangku untuk para wisatawan beristirahat dan menikmati suasana asri hutan ini.

Di sini juga terdapat banyak spot foto yang bagus, sehingga tidak heran di sepanjang perjalanan menyelusuri mangrove banyak wisatawan yang berswafoto. Di ujung jembatan terdapat menara besi yang bisa dinaiki oleh pengunjung. Dari atas pengunjung dapat melihat langsung tanaman mangrove. Selain pemandangan hutan mangrove, wisatawan juga dapat melihat pemandangan gunung dan air sungai yang begitu indah ketika terkena pantulan sinar matahari. 

Di sini juga disediakan perahu bagi wisatawan yang ingin menjelajah hutan mangrove lebih jauh. Selain dijadikan tempat wisata, hutan mangrove ini juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat edukasi dan penelitian bagi mahasiswa maupun kalangan lainnya. Hutan mangrove ini paling ramai dikunjungi pada hari Sabtu, Minggu, dan hari-hari libur seperti saat Lebaran. Pada hari biasa lainnya pengunjung yang datang tidak ramai. Meski begitu, hutan mangrove ini tetap dibuka di hari-hari biasa mulai Senin sampai Minggu kecuali hari Jumat. 

Aceh Jaya adalah kabupaten yang paling parah mengalami kerusakan akibat terjangan tsunami pada 26 Desember 2004.

Hampir seluruh prasarana dan sarana publik dan rumah penduduk hancur total tersapu gelombang. Letak kabupaten ini berada persis di bibir Samudra Hindia yang menjadi pusat episentrum gempa pemicu tsunami.

Dengan hadirnya mangrove ini akan memberikan manfaat seperti pencegah abrasi, perlindungan ekosistem perairan, dan mangrove ini sangat diperlukan untuk menyuplai oksigen. Selain itu, juga bisa menjadi buffer zone (kawasan penyangga) tsunami.

“Sebelum tsunami, mangrove yang ada tidak terlalu banyak dan biotanya juga sedikit. Setelah tsunami banyak lembaga seperti PMI, NGO, dan lembaga lain di luar sana dan masyarakat yang menanam mangrove, sehingga menjadi banyak dan juga menghasilkan biotan yang lebih banyak,” kata Karilman, pengelola hutan mangrove, Minggu, 14 April 2024. Karilman adalah salah satu pengelola hutan mangrove yang sudah bergabung semenjak tahun 2017. 

Proses pembiakan hutan mangrove ini cukup unik. Mangrove ini Tuhan ciptakan sebagai bagian dari siklus kehidupan yang begitu sempurna. Apabila pohon-pohon mangrove ini ditanam dan sudah tumbuh besar, maka pohon mangrove ini akan menghasilkan bunga. Dari bunga tersebut akan menghasilkan bakal buah dan menjadi besar. Apabila buah ini gugur, maka akan terus menancapkan diri ke tanah. Saat air surut, buah akan meraih tanah dan akan memperkuat akar sehingga tumbuhlah menjadi pohon mangrove yang baru.

“Mangrove yang kami tanam satu batang, jika dia berbuah ‘kan jatuh. Nah itu, akan tumbuh sendiri di samping ini, buah yang akan jatuh dari pohonnya. Sebatang kita tanam bisa tumbuh seribu batang,” kata Karilman. 

Berbeda dengan buah-buah lain, apabila jatuh akan tenggelam begitu saja. Di objek wisata ini juga ada pembibitan nursery dengan jumlah pohon mangrove sekitar 80.000 batang. Banyak aktivis atau pegiat lingkungan yang mengambil bibit mangrove di sini. Dalam pembangunan hutan mangrove ini banyak sekali rintangan yang dihadapi Karilman. Ia menafsirkan, sama seperti kehidupan rumah tangga yang selalu ada cek cok di balik keromantisan yang tampak dari luar. 

Kehadiran ekosistem mangrove ini memberi ruang hidup bagi kepiting, ikan, dan macam-macam hewan yang bermanfaat untuk rantai makanan. Kehadirannya sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat.

“Ramai yang mencari rezeki di hutan mangrove ini,” kata Dini, warga yang tinggal di dekat kawasan hutan mangrove ini. 

Secara tidak langsung hutan mangrove ini juga memberikan dampak begitu besar untuk mata pencaharian warga setempat untuk menangkap kepiting dan ikan untuk dijual. “Dari hutan mangrove dapat penghasilan juga dari pengunjung” kata Nabila, pedagang kecil di hutan mangrove yang baru bekerja selama libur Lebaran lalu. Biasanya yang berjualan di kantin tidak selalu orang yang sama.

Mangrove dan Efek Pemanasan Global

Pemanasan global yang ditandai dengan terjadinya peningkatan suhu bumi dapat menyebabkan es di kutub meleleh sehingga permukaan air laut semakin naik. Keberadaan hutan mangrove berperan besar dalam meminimalisasi dampak pemanasan global tersebut. Dengan adanya mangrove, maka abrasi pantai karena gerusan air laut dapat dicegah sehingga ekosistem pesisir tidak mudah terkikis. 

“Dengan adanya hutan mangrove ini, di saat pasang dia akan melindungi daerah sekitar peisisir pantai ini dari abrasi itu. Hutan mangrove adalah penyuplai oksigen bagi bumi yang sangat penting. Jadi, dia penghalang ketika pasang dan ini juga kalau orang Jepang, digunakan sebagai “jembatan” atau benteng untuk mencegah ombak tsunami, sedangkan kita secara alamiah hutan mangrove ini,” kata Sulastri, dosen pengampu mata kuliah Kebencanaan di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, 17 April 2024.

Hutan mangrove juga dapat menjadi lokasi transit bagi burung-burung migran untuk menuju benua lain. Namun, hal ini masih dilakukan riset oleh para ilmuwan. Pada musim tertentu pohon mangrove ini penuh dengan burung bangau putih. Namun, jika diperhatikan lagi juga terdapat burung-burung lain yang migrasi dari benua lain. 

Namun, masih banyak masyarakat yang belum paham akan manfaat mangrove sehingga pohon mangrove ini banyak ditebang untuk dijual bahkan ada juga yang dijadikan kayu bakar. Apabila hutan mangrove ini tidak dirawat, maka ekosistem pesisir akan terganggu, rantai makanan di sana akan rusak, habitat ikan dan kepiting terganggu, burung-burung tidak lestari dan menjadi punah. Sehingga yang mengalami kerugian terbesar adalah manusia itu sendiri. Dan mungkin kita juga akan kehilangan nyanyian kicauan burung. 

Apabila manusia menjaga alam, maka alam juga akan memberikan manfaat yang begitu besar bagi manusia.

Alam akan menjaga manusia dan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Bukan sebaliknya. Di balik semua itu, ada filosofi kehidupan yang bisa diambil dari keberadaan hutan mangrove ini. Kita dapat belajar bahwa untuk bisa sukses dan kuat, kita harus memiliki akar atau pendirian yang kuat.

Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]

Banjir Bandang di Musim Kemarau?

Oleh Insra Giarti Ningsih*

Lumpur tebal berselimut pasir pantai berbaur dalam deru aliran air sempadan Sungai Tenggulun pada 9 Maret 2024. Demikian kiranya kilas balik fenomena banjir bandang kecil di musim kemarau yang pernah menimpa Desa Sumber Makmur, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang.

Dalam beberapa bulan terakhir, kemarau panjang mengakibatkan kekeringan sumur di setiap rumah warga. Masyarakat pun terpaksa berbondong-bondong mengambil air dari sungai guna memenuhi kebutuhan harian. Namun, layaknya kata pepatah, “Sudah jatuh tertimpa tangga”, tiba-tiba banjir bandang kecil justru hadir. Hal tersebut mengakibatkan air yang semula jernih berubah menjadi cairan lumpur. Akibatnya, akses air bersih yang semestinya dapat digunakan warga dari sumur atau sungai pun terputus.

“Saya terpaksa membeli air mineral untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari,” ujar Wike, seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua orang anak, dengan raut wajah sedih sekaligus agak kesal.

Sebagai perempuan, Wike merasa kewalahan untuk beraktivitas tanpa ketersediaan air bersih yang memadai. Dia harus merogoh minimal 10.000 rupiah untuk membeli dua galon air isi ulang setiap harinya.

“Air sangat penting untuk aktivitas sehari-hari. Kondisi ini sangat merugikan saya, apalagi di bulan suci Ramadan, banyak keperluan yang harus dipenuhi. Tentu tidak cukup hanya untuk membeli air saja,” ujar Wike khawatir.

Keresahan tersebut dia sampaikan saat ditemui di kediamannya, di Desa Sumber Makmur pada 21 Ramadan 1445 H. Wike berharap kelak akses air dari Perusahaan Air Minum (PAM) bisa masuk ke desanya. Sehingga bila kemarau terjadi, warga tidak lagi kesulitan mencari air bersih.

Khairul Amri, Asisten GIS (pemetaan) HAkA, menjelaskan bahwa Sungai Tenggulun masuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang. Artinya, hulu Sungai Tenggulun berada di Gayo Luwes dan hilirnya di Tamiang. Jika dilihat dari pencitraan satelit, tampak pinggiran sungai berwarna cokelat. Hal tersebut mengindikasikan terjadinya longsor di hulu.

Amri yang dihubungi via telepon pada 3 April 2024 menjelaskan, “Salah satu faktor yang mungkin mengakibatkan terjadinya banjir bandang di musim kemarau tersebut adalah kerusakan hutan.”

Kondisi kerusakan hutan tersebut, menurutnya, mengakibatkan terjadilah longsong. Dia menduga bahwa curah hujan tinggi di daerah hulu mengakibatkan banjir di hilir yang kemudian berdampak pada hadirnya banjir bandang kecil.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Eko Cahyo Pristiwantoro, staf Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh, “Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan yang turun di Provinsi Aceh.”.

Dia jelaskan bahwa satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan. Dengan kata lain, terdapat potensi curah hujan tinggi atau bahkan hujan ekstrim di musim kemarau yang terjadi di daerah hulu, terutama di Provinsi Aceh, termasuk kawasan Aceh Tamiang.

Saat dihubungi via telepon pada 4 April 2024, Eko mengistilahkan kejadian banjir bandang kecil itu sebagai banjir kiriman. Artinya, banjir yang terjadi di hilir akibat tingginya curah hujan di hulu atau di gunung.

Eko mengimbau masyarakat untuk menjaga hutan, tidak lagi melakukan perambahan liar, dan melaksanakan reboisasi lahan gundul guna mencegah keberulangan banjir bandang serupa di kemudian hari. 

Kemudian, Novita Sari selaku Ibu Datok di Desa Sumber Makmur juga merasa sangat prihatin dengan warganya yang harus berjuang mendapatkan air bersih. Secara pribadi, dia tidak merasakan dampak langsung fenomena kekeringan air tersebut dikarenakan kebutuhan airnya masih tercukupi.

Hal tersebut dikarenakan pemukiman tempat tinggalnya berada di area irigasi. Novi, sapaan akrabnya, memahami kesulitan warganya untuk memperoleh air bersih saat aliran sungai satu-satunya di desa itu justru terdampak banjir bandang kecil. Sehingga air menjadi keruh berlumpur dan tidak dapat dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari mereka. 

Selain itu, warga juga mengeluhkan kondisi abu jalanan yang menggangu mata dan sistem pernafasan mereka, berhubung kondisi jalan Desa Sumber Makmur masih beralaskan bebatuan yang bercampur tanah dan pasir. Sehingga ketika musim kemarau tiba, jalanan yang kerap dilintasi berbagai mobil dari perusahaan yang melewati pemukiman warga menerbangkan debu yang cukup tebal secara berkesinambungan.

Adapun upaya yang dilakukan oleh pemerintah setempat beserta perusahaan adalah sebatas menyirami jalan tersebut dengan air. Harapannya, debu yang berterbangan dari jalan raya dapat berkurang. Namun sayangnya, musik kemarau yang ekstrem tampak membuat mobil penyiram jalan raya kewalahan. Sebab mobil tersebut harus melakukan penyiraman jalan secara berulang-ulang. Sehingga, beberapa waktu selanjutnya, mobil penyiraman pun berhenti beraktivitas. Tentu hal tersebut memicu kemarahan warga dan aksi demo untuk menutup jalan pun sempat digelar.

Ibu Datok selaku perwakilan warga di desanya berharap para pejabat di DPRK, DPRA, DPRI, Bupati Aceh Tamiang, bahkan Gubernur Aceh dapat merealisasikan pengaspalan jalan raya di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Mengingat banyak anak-anak dan pelajar—mulai dari PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA—yang harus diperhatikan kesehatannya. Sebab lingkungan sekolah kerap dicemari debu dari jalanan yang tidak teraspal saat dilewati kendaraan.

Pada akhirnya, manusia perlu menyadari dan memahami betapa penting akses air bersih di keseharian hidup kita, terlebih bagi kaum hawa. Pada kenyataanya, mencintai diri harus dimulai dari menjaga kebersihan dan keseimbangan alam di sekitar kita juga, termasuk hutannya.

Sebab jika hutan terjaga, maka sumber air juga akan terjaga. Tanpa kelestarian hutan, kekeringan akan hadir, dan selaku manusia, kita pun akan binasa.

Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]

Timbul Tenggelamnya Pemberitaan Pucok Krueng sebagai Kawasan Karst

Oleh Aini*

Ekspedisi menuju tempat wisata Pucok Krueng tidak banyak mengalami perubahan sejak 2021. Jalannya masih berstruktur kasar dipenuhi batu. Ragam rerumputan dan ranting pohon di sisi kiri dan kanan memeriahkan perjalanan. Sekelompok monyet pun bermunculan di tepi jalanan sepi. Ketika tiba di lokasi, hanya ada sebuah papan petunjuk. Menariknya, walau dengan segala keterbatasan akses tersebut, nyatanya kendaraan sekelas Pajero tetap tembus memasuki lokasi wisata ini.

Pucok Krueng bukan sekadar lokasi wisata alam yang sempat masyhur sebagai tempat pemandian para raja di masa lampau. Akan tetapi, Pucok Krueng juga dikenal sebagai Kawasan Karst yang menarik untuk dipelajari. Hal tersebut menjadikan tempat ini menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan lokal bahkan mancanegara. Pucok Krueng popular sebagai lokasi liburan dan juga penelitian. Gua yang terdapat di Pucok Krueng diinfokan tembus hingga ke Aceh Jaya jika ditelusuri menggunakan perahu. 

“Dulunya memang bisa dimasuki perahu. Kini sudah jadi tanggul untuk cadangan air baku sebuah perusahaan,” jelas Hasbullah, selaku pengelola tempat wisata, dengan logat Aceh Besar yang kental pada 13 April 2024. 

Penjelasannya tersebut terbukti ketika kita melihat ke arah mulut gua. Dari jalan masuk gua tersebut tampak bongkahan batu gunung yang terletak di tengah-tengah. Gua ini menjadi salah satu daya tarik, mengingat ekosistemnya yang kompleks. Bahkan sarang walet liar yang terkenal akan manfaatnya dan harganya yang tinggi juga dapat ditemui di tempat ini.

Selain karena keindahannya, kawasan Pucok Krueng juga merupakan lokasi dengan potensi karst (kawasan batu kapur) yang berfungsi sebagai kantong penyimpan cadangan air bersih dan daerah penyerapan karbon.

Karst mempunyai struktur unik dengan ruas rongga dan aliran air sungai di dalamnya. Walau informasi terkait karst di Kawasan Pucok Krueng cukup penting, sayangnya masih jarang media arus utama yang memberitakannya. Sejauh ini, hanya ada segelintir media yang memperkenalkan Pucok Krueng sebagai Kawasan Karst, semisal Mongabay dan Natgeo

Karst di Pucok Krueng mempunyai peranan penting terhadap ekosistem di sekitarnya. Tidak masifnya pemberitaan tersebut berbanding lurus dengan ketidaktahuan masyarakat umum tentang wilayah karst di Pucok Krueng. 

“Kurang tahu. Cuma lihat tempatnya kan cantik di Instagram. Jadi ke sinilah,” respons salah seorang pengunjung hadir. Padahal wilayah Karst Pucok Krueng menjadi salah satu bagian penting untuk diedukasikan kepada masyarakat sekitar dan juga para pelancong. 

Eksekutif daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menilai Karst Pucok Krueng hari ini terlihat tidak baik-baik saja. Artinya, kerusakan karst di suatu wilayah memberi dampak negatif di kemudian hari, semisal masalah kekeringan. Dari perspektif lingkungan dan ekologi, kerusakan karst berdampak pada keringnya mata air di sebuah wilayah.

“Ada beberapa faktor yang membuat Karst Pucok Krueng dalam kondisi tidak baik yaitu perambahan hutan di hulunya dan juga eksploitasi tambang seperti yang dilakukan pabrik semen,” papar M. Nasir, Deputi Direktur WALHI Aceh.

Dia menjelaskan bahwa proses pengambilan bahan baku semen selama ini dilakukan dengan menggunakan pengeboman dinamit. Adapun material semen hanya didapatkan di Gunung Karst, dengan bahan pokok berupa pasir kuarsa (quartz), tanah liat (clay), dan batu kapur. Sehingga tidak heran jika posisi setiap pabrik semen berada dalam jangkauan yang sama dengan Kawasan Karst.

Sembari meraih gawai, saat berada di Kantor Walhi Aceh, Nasir menunjukkan foto-foto penampakan karst dan menjelaskan kondisi terkini secara detail. Semisal kehadiran berita terkait keresahan Rencana Pembangunan Pabrik Semen di Gua 7 Pidie yang merupakan Kawasan Karst. Desakan perlindungan tersebut tidak hanya berlaku untuk Kawasan Karst terencana saja tetapi juga bagi bentangan alam karst yang berpotensi menjadi target pembangunan pabrik semen serupa seperti di Aceh Jaya atau di Aceh Tamiang, yang diketahui atau tidak merupakan Kawasan Hutan Lindung. 

Persoalan terkait Karst Pucok Krueng ini ternyata lebih kompleks jika ditelusuri lebih jauh. Bukan hanya karena posisinya yang berpengaruh terhadap eksistensi keindahan lokasi wisata, tetapi juga disebabkan peran krusialnya yang berpengaruh besar terhadap kesejahteraan dan kesehatan masyarakat sekitar.

Sebagai contoh, masyarakat Desa Naga Umbang yang terpaksa bergantung hidup pada air PDAM. Hal tersebut disebabkan air sumur warga mengalami pencemaran. Air sumur tersebut menjadi berminyak, sehingga tidak dapat digunakan untuk mandi dan memasak. Dampak buruk terhadap kualitas air pun mendulang protes dari masyarakat setempat. 

“Yang mereka desak itu bukan perlindungan karstnya, melainkan krisis airnya. Jadi kalau dicari berita masyarakat demo terhadap kerusakan Gunung Karst itu tidak ada, tapi dampak dari kerusakannya, yaitu krisis air,” jelas Nasir.

Sedangkan faktor penyebab krisis air yang berasal dari kerusakan Gunung Karst oleh pabrik semen belum ada tindak lanjut.

Dia memaparkan bahwa sejatinya pihak pemerintah mulai dari Camat hingga Anggota DPRI sempat meninjau langsung masalah ini, tetapi sebatas konteks krisis air. Selain itu, dampak buruk lainnya dari penggunaan mesin dinamit pada Gunung Karst telah menimpa beberapa rumah warga setempat. Sehingga tempat kediaman masyarakat pun menjadi retak.

Hasbullah, selaku pengelola tempat wisata Pucok Krueng, menyatakan bahwa dia pernah ditawari uang dengan jumlah yang fantastis untuk “melepaskan” kebunnya yang terletak di puncak gunung wilayah tersebut. Raut wajahnya tampak jengkel saat menceritakan kondisi itu.

“Sudah kena kebun saya itu. Mereka minta bagaimana cara (agar dilepaskan untuk perusahaan). Saya bilang, ‘Enggak ada cara kalau hanya memikirkan perut kalian!’”, jelasnya. Dia pun meneruskan kisahnya. “Kau jangan main-main dengan kebun aku,” Hasbullah memperagakan diri sembari menunjuk-nunjuk tanah dengan intonasi suara yang meninggi. Ekspresi wajahnya mewakili kekesalannya terhadap kerugian yang menimpa masyarakat. Dia tampak hanyut dalam perihnya kenangan masa lalu yang hingga kini tak kunjung membuahkan solusi. Sikap Hasballah yang lantang dalam memprotes kondisi tersebut membuatnya kerap dicari untuk proses lobi atau bahkan ditawari sebagai komite. 

Tak berhenti di tercemarnya air dan rusaknya rumah warga, aksi perusahaan semen tersebut nyatanya juga membawa efek buruk lainnya seperti pencemaran udara melalui debu aktif yang tersebar kepada masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan. Sayangnya, pemberitaan penting dan meresahkan ini hanya menjadi info musiman yang timbul-tenggelam walau dampak buruk yang ditimbulkan untuk masyarakat sekitar terjadi secara berkelanjutan hingga kini.

Tahun 2017, Walhi Aceh mendesak diberlakukannya perlindungan Kawasan Bentang Alam Karst di Aceh dengan tujuan menjaga kelestarian karst dari eksploitasi industri yang berlebihan. Namun tampaknya hingga kini belum ada tindakan nyata dari pemerintah setempat.

Di balik pentingnya fungsi Kawasan Karst bagi keberlanjutan hidup masyarakat dan peliknya permasalahan kerusakannya, sayangnya hingga kini pun Pucok Krueng belum kunjung ditetapkan sebagai Kawasan Lindung.

 Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]

Gayo Lues Semakin Panas

Oleh Yelli Sustarina*

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Namun, orang-orang masih mengenakan jaket dan penutup kepala. Di antaranya terlihat beberapa laki-laki menyandang kain sarung di bahu. Lalu lalang kendaraan belum begitu ramai. Kami yang baru saja tiba dari Banda Aceh langsung mencari rumah makan setelah check-in di Hotel Mulia, Blangkejeren, Gayo Lues.

Udara pagi itu benar-benar sejuk, sampai-sampai dari mulut kami keluar asap saat berbicara. Tidak hanya di waktu itu, hari-hari berikutnya selama mengikuti Serial Pelatihan Perempuan Peduli Leuser, jaket selalu membalut tubuh. Sering kali, saya harus menggosok-gosok tangan dan menempelkannya ke leher untuk mencipta kehangatan. Padahal, kami berada di dalam ruangan tertutup, tapi udara dingin seolah tidak punya batas untuk membersamai kami.

Itulah kondisi tujuh tahun lalu, saat pertama kali saya menginjakkan kaki ke daerah yang dijuluki Negeri Seribu Bukit ini. Di Oktober 2017, saya bersama 20-an perempuan lainnya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh USAID Lestari. Para perempuan ini berasal dari berbagai kabupaten, yaitu Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Banda Aceh. Pengalaman ini membuat kami berasumsi bahwa Gayo Lues daerah yang dingin.

Tujuh tahun berlalu. Pada 3-5 Februari 2024, saya datang lagi ke daerah ini dengan kegiatan yang serupa, tapi berbeda tema. Kali ini saya mengikuti Training and Field Trip to Leuser “Ecofeminism and Environmental Journalism (EEJ)” yang diselenggarakan Perempuan Peduli Leuser (PPL) bersama The Leader dan Biji-biji.

Berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, tentu saya mempersiapkan perbekalan untuk menahan tubuh dari udara dingin ketika hendak ke tempat ini.  Jadinya, saya membawa pakaian bewarna gelap dan tebal, disertai dengan dua jaket dan satu sarung. Bahkan, saya sempat menambah persediaan kaus kaki dengan membelinya dua pasang lagi sebelum berangkat ke Gayo Lues.

Salah satu panitia, Dian Guci, yang tujuh tahun lalu juga mengikuti kegiatan Serial Pelatihan PPL membawa baju yang kebanyakan bewarna hitam. Tak lupa pula ia membawa jaket untuk menutupi tubuh dari dinginnya udara daerah penghasil serai wangi itu.

Tidak Sedingin Dulu

Pagi Minggu, 3 Maret 2024, tepat pukul 06.30 WIB, saya bersegera turun dari lantai 3, kamar hotel tempat saya menginap. Hotel ini juga tempat kami menginap tujuh tahun lalu saat saya mengikuti Serial Pelatihan PPL. Saya ingin mengulang kenangan masa lalu, berjalan-jalan di sekitar hotel yang diselimuti kabut, sambil menikmati udara dingin sekitarnya.

Saya sengaja mengembuskan napas dari mulut dan berharap ada asap yang keluar, tapi nihil. Meskipun pepohonan di sekitarnya masih diselimuti kabut, saya bisa berjalan sekitar 200-an meter tanpa menggunakan jaket dan kaus kaki. Justru saya merasa gerah karena berjalan jauh, padahal maksud saya turun ke bawah pada jam segitu ingin menikmati udara dingin, tapi justru sebaliknya.

Ketika menuju tempat pelatihan yang dibuat di Aroma Leuser Coffee, Gayo Lues, saya menanyakan perihal perubahan udara ini ke sopir yang mengantar kami. “Iya, sekarang Gayo nggak sedingin dulu lagi. Apalagi sekarang musim panas, ya makin panaslah,” ujar Mader Hasugian.

Lucunya di tengah jalannya pelatihan, para peserta mulai meninggalkan jaket mereka dan mengipas-ngipasi tubuh dengan kertas. “Kirain Gayo dingin, eh, ternyata panas,” ujar Risty Nabila, salah satu peserta EEJ yang mengenakan ‘sweater’ berbulu.

Paham dengan keresahan peserta, panitia pun mencari solusi dengan menghadirkan kipas angin. Sayangnya, satu buah kipas angin yang berukuran 16 inci itu, tidak mampu menghadirkan hawa dingin ke ruangan yang berukuran sekitar 3×8 meter itu. Terlebih ruangan itu berdinding kaca tembus pandang, dengan atap seng, tentu suasana gerah semakin terasa ketika matahari makin meninggi.

Di hari ketiga pelatihan EEJ, panitia menghadirkan tiga buah kipas angin dan didirikan di tengah-tengah peserta. Apresiasi untuk panitia yang gerak cepat mencari kipas angin demi keberlangsungan kegiatan yang nyaman.

“Di sini emang nggak ada kipas angin, jadi saya pinjam ke saudara, satunya lagi dari rumah yang punya kafe,” ujar Susi, salah satu personel panitia.

Menurut Susi yang juga anggota PPL, dulu rumah-rumah di Gayo Lues  jarang menggunakan kipas angin atau AC. Namun, sekarang sudah ramai menggunakan alat pendingin itu karena cuaca panas. Sebab, beberapa tahun terakhir di Gayo semakin panas, terlebih saat musim kemarau tiba.

Perubahan Iklim itu Nyata

Bila ditilik pengalaman saya tujuh tahun silam, terlihat bahwa perubahan iklim itu nyata adanya. Bukan sekadar pernyataan pakar yang menakut-nakuti, tapi kita sudah merasakan dampaknya sendiri. Hanya saja kita seolah menutup mata dan abai akan itu semua. Bahkan, kita masih sering tidak peduli tentang penggunaan energi yang sia-sia, seperti tidak melepaskan charger handphone setelah digunakan di stop kontak, membuang sampah seenaknya, dan boros penggunaan air.

Saya begitu syok mendengar pernyataan Mahawan Karuniasa, Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia. “Bagi anak-anak, saat ini adalah cuaca tersejuk menuju masa depannya.” Kalimat itu langsung saya dengar dari beliau saat mengikuti Pelatihan “Green Growth Journalism” yang diadakan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) pada 16 Oktober 2023 di Medan.

Dampak perubahan iklim bisa dilihat dari kualitas air sungai yang sebelumnya jernih, kemudian menjadi keruh karena berkurangnya hutan. Suhu permukaan Bumi makin lama makin panas dan produksi pangan mulai berkurang. Tidak hanya itu, tingkat keasinan air laut dan debit air sumur juga semakin berkurang, sehingga kemungkinan besar terjadi kekeringan di masa depan,” ungkap Mahawan yang juga Ketua Umum Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIKI Network).

Kalau saat ini merupakan cuaca tersejuk bagi generasi mendatang, bisa dibayangkan bagaimana panasnya di masa depan? Sontak saya teringat akan sebuah video yang pernah diputar dulu saat mengikuti Serial Pelatihan PPL. Judulnya, “Surat dari Teman di Tahun 2070”. Dalam video yang berdurasi tujuh menit itu menggambarkan kehidupan manusia yang kesusahan mendapatkan air. Cairan ini menjadi langka dan merupakan benda paling berharga dibandingkan emas dan permata. Sungguh menyedihkan!

Hal yang bisa kita lakukan ialah sadari bahwa krisis iklim sedang terjadi dan semakin parah bila tidak diimbangi dengan perilaku hijau. Kita bisa menerapkan perilaku hijau seperti tidak menyisakan makanan, tidak tergiur mengikuti tren (fast fashion), mengganti penggunaan plastik sekali pakai dengan totebag, menggunakan listrik, air, dan kendaraan seperlunya. Terakhir, gunakan media massa dan sosial untuk memengaruhi orang lain agar ikut bereaksi melakukan hal yang sama. Seperti yang saya lakukan saat ini. [] 


Penulis adalah peserta program pelatihan EEJ (Ecofeminism and Environmental Journalism): Workshop and Field Trip to Leuser Project [A Decade of YSEALI Small Grant]

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di media Serambi Indonesia 25 Maret 2024.

Belajar Jurnalistik di Hutan Leuser


Setelah melewati jalan menanjak di sepanjang Desa Penosan Sepakat, Gayo Lues, bus sekolah yang dikemudikan Pak Utak dari Dinas Perhubungan Gayo Lues berbelok ke kanan. Mengikuti arah tanda panah bertuliskan Rainforest Lodges Kedah Bungalow.

Selanjutnya bus berhenti di sebuah area yang agak lapang di tengah-tengah kebun kopi. Kedah Lestari namanya. Itulah pemberhentian terakhir untuk kendaraan roda empat. Untuk melanjutkan ke Kedah Bungalow, pengunjung harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak permanen sejauh 2 kilometer. Kalau mau cepat, bisa juga naik sepeda motor.

Para penumpang bus turun. Jumlahnya 20-an orang, semuanya perempuan. Mereka adalah peserta dan panitia Training and Field Trip to Leuser “Ecofeminism and Environmental Journalism (EEJ)” yang diselenggarakan Perempuan Peduli Leuser (PPL) bersama The Leader dan biji-biji. Kegiatan ini mendapat dukungan melalui program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) yang dimenangi oleh  Koordinator PPL, Ayu ‘Ulya.

Para peserta segera berbaur dengan beberapa perempuan petani yang sedang istirahat di sebuah pondok di pinggir bukit.

Kedah Lestari salah satu lokasi wisata alam di Gayo Lues. Letaknya di Dusun Kedah, Desa Penosan Sepakat, Kecamatan Blang Jerango.

Sekitar 30—45 menit dari ibu kota Gayo Lues di Blangkejeren. Beberapa pondok dibangun di Kedah Lestari sebagai tempat pengunjung mengaso sambil menikmati pemandangan berupa gugusan perbukitan pinus dan kebun serai wangi. Di sana juga terdapat warung yang menjual minuman dan makanan ringan.

Selanjutnya, secara bergantian para peserta mulai dilangsir dengan tiga sepmor menuju Kedah Bungalow. Jalanannya terjal. Namun, pengemudi yang merupakan warga setempat sangat piawai. Mereka sudah terbiasa mengangkut wisatawan, peneliti, ataupun pendaki yang bertandang ke Kedah Bungalow. Tempat ini menjadi salah satu gerbang bagi para pendaki yang ingin mendaki Gunung Leuser, sang Primadona di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang ketinggiannya mencapai 3.304 mdpl.

Untuk menaklukkan puncak Leuser, perlu nyali yang kuat karena memerlukan waktu setidaknya hingga dua pekan. Selain Leuser, di kawasan ini terdapat beberapa puncak lain yang menjadi tujuan pendakian.

TNGL luasnya lebih dari 1 juta hektare. Inti dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang luasnya mencapai 2,8 juta hektare yang terletak di dua provinsi, Aceh dan Sumatera Utara. KEL merupakan kawasan konservasi penting di dunia yang memiliki fungsi, di antaranya, untuk menjaga ketersediaan sumber air dan menjadi paru-paru dunia.

Di Gayo Lues saja, terdapat lima daerah aliran sungai (DAS) yang menyuplai air untuk 13 kabupaten di Aceh. DAS tersebut, yaitu DAS Alas, Tamiang, Peureulak, Jambo Aye, dan Kuala Tripa yang berhilir ke Samudra Hindia di selatan dan Selat Malaka di utara dan timur Aceh.

KEL juga memiliki fungsi ekologis, penyerapan karbon, hingga rumah bagi empat spesies kunci: harimau, gajah, badak, dan orang utan.

Alasan-alasan itulah yang membuat panitia memilih Gayo Lues sebagai lokasi pelatihan EEJ pada 2—6 Maret 2024. Maka, ke-10 peserta yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Aceh, seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Jaya, Aceh Besar, Sabang, dan Banda Aceh dapat melihat dari dekat fungsi hutan Leuser untuk dunia. Di samping, mereka juga dapat merasakan langsung efek nyata perubahan iklim.

Salah satu peserta, Yelli Sustarina, yang pernah ke Gayo Lues pada 2017 merasakan kalau hawa di daerah penghasil serai wangi itu sekarang lebih panas. Pernyataan Yelli diamini dua anggota PPL yang berdomisili di Gayo Lues, Susi dan Lia, bahwa suhu di daerah mereka memang lebih panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dulu, saya selalu tidur dengan memegang botol berisi air panas untuk menetralisir rasa dingin. Sekarang, tidak perlu lagi,” kata Lia.

Selama sesi pelatihan, peserta mendapatkan materi-materi dari para mentor, seperti Dian Guci, Khalida Zia, Keumala, Rachmi, Cut Meviantira, Ayu ‘Ulya, termasuk saya.

Topik yang diangkat sangat beragam, mulai dari kesetaraan gender, teknik wawancara, teknik fotografi dan videografi, teknik menulis karya jurnalistik, hingga teknik menulis ‘story telling’. Harapannya, para peserta dapat memperdalam keterampilan menulis dan keterampilan menggunakan gawai sehingga dapat  menghasilkan karya-karya kreatif dan bergenre jurnalistik.

Kegiatan ini juga menghadirkan Laila Sabiha dari Malaysia selaku narasumber. Melalui paparan Laila, peserta dapat mengetahui apa saja tantangan yang dihadapi anak-anak muda dari negara jiran tersebut dalam menyuarakan isu-isu penyelamatan lingkungan dan perubahan iklim.

Bertemu Mr. Jali

Agenda ‘field trip’ dilaksanakan pada hari kedua pelatihan, Senin (4/3). Kegiatan ini diawali dengan mengunjungi Razali atau yang populer dengan sebutan Mr. Jali, di rumahnya di Desa Penosan Sepakat.

Susi dan Lia mengenalkan Mr. Jali sebagai “profesor Leuser” karena pengetahuannya yang mendalam tentang Leuser.

Sejak tahun ‘80-an Mr. Jali sudah keluar masuk Leuser sebagai pemandu. Ia mengenal habitat Leuser dengan baik. Setahunan terakhir aktivitas itu tidak dapat ia lakoni lagi karena stroke. Bicaranya patah-patah. Saat ia bicara dalam bahasa lokal, yang dapat dipahami oleh peserta hanya frasa ‘Allahu Akbar’ saja.

Lia dan Susi membantu menerjemahkan. Sehingga, tahulah kami kalau Mr. Jali menguasai beberapa bahasa asing, terutama Inggris. Buah dari interaksinya dengan para turis mancanegara yang selama ini mengunjungi Leuser.

Pertemuan dengan Mr. Jali sangat penting bagi peserta, meski tidak dapat berinteraksi banyak karena kondisinya, peserta memahami bahwa untuk peduli pada lingkungan tidak membutuhkan “embel-embel” gelar apa pun. Bahkan, Mr. Jali tidak lulus sekolah dasar. Namun, ia dapat mengenal dan mempelajari aneka flora dan fauna di Leuser. Instingnya yang kuat membuat Mr. Jali tidak membutuhkan GPS ketika sedang memandu pendaki.

Kepada Lia dan teman-temannya yang anak mapala, Mr. Jali pernah berjanji untuk memandu langsung mereka ke Leuser. Banyak yang ingin ia wariskan kepada anak-anak muda Gayo Lues. “Namun, beliau keburu sakit,” kata Lia.

Dari Mr. Jali pula peserta belajar tentang pentingnya semangat hidup. Meski untuk berjalan pun kini mesti dipapah, hari itu, ia menyusul juga ke bungalow. Sebuah tempat yang ia bangun khusus agar para pendaki bisa beristirahat sebelum dan sesudah mendaki Gunung Leuser.

Menanam pohon menjadi agenda utama selama berada di kawasan bungalow. Ini akan menjadi “kenang-kenangan” berharga bagi peserta. Peserta juga mempraktikkan langsung materi yang didapat sebelumnya. Mereka memotret, mereportase, dan mewawancarai narasumber.

Peserta merasakan langsung sensasi berada di hutan rimba.

Pohon-pohon besar berusia ratusan tahun dengan tajuk rindang memberikan kesempatan bagi paru-paru mendapat asupan oksigen yang benar-benar bersih. Kesempatan untuk meneguk langsung air dari sumber mata air tanpa cemas akan sakit perut. Memanjakan telinga dengan gemercik air sungai yang mengalir di antara batu-batu besar. Bahkan, suara tonggeret yang saling bersahutan terdengar sangat merdu dan akan menjadi “kebisingan” yang dirindukan dari EEJ 2024. []

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di media Serambi Indonesia 14 Maret 2024.

Pelatihan Penyelamatan dan Evakuasi Medan Terjal di Aceh Kembali Digelar

Seiring meningkatnya tren pertualangan di tengah masyarakat, ilmu terkait penanggulangan bencana untuk meminimalkan risiko kecelakaan menjadi penting. Untuk itu, Sekolah Vertical Rescue Indonesia Tingkat 1 pun kembali diselenggarakan oleh Tim Vertical Rescue Indonesia Regional Aceh pada tanggal 2-4 Maret 2024.

Pelatihan Penyelamatan dan Evakuasi Medan Terjal tersebut berlangsung di Kecamatan Mane, Kabupaten Pidie. Sekolah Vertical Rescue Indonesia ini dibuka untuk umum dengan biaya pendaftaran sudah ditentukan oleh panitia pelaksana. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan akan penanggulangan bencana bagi masyarakat, baik di bidang petualangan, olahraga, industri dan juga dunia kerja yang berhubungan dengan ketinggian. Keilmuan Vertical Rescue dianggap penting untuk dihadirkan demi menjalankan bidang-bidang tersebut dengan aman.

Koordinator Vertical Rescue Indonesia Regional Aceh, Fitriani, menyatakan bahwa ini merupakan kali kedua pihaknya menyelenggarakan Sekolah Vertical Rescue tingkat 1 di Aceh. Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 di Aceh ini diikuti oleh peserta dari berbagai instansi, baik pemerintah, industri, dan komunitas, yang berasal dari Aceh maupun luar Aceh.

“Pertama di balai Diklat Pidie, kedua di sini (Mane). Alhamdulillah antusias masyarakat dalam menimba ilmu semakin tinggi. Bahkan ada peserta dari Pekan Baru (Riau) dan Sumut,” terangnya. Fitriani mengaku bangga dengan antusiasme peserta yang mendaftarkan diri dari berbagai wilayah Aceh, bahkan dari luar Aceh.

Pelatihan Vertical Rescue dilaksanakan selama tiga hari. Hari pertama dan kedua peserta dibekali materi mencakup kompetensi dasar Vertical Rescue. Kemudian pada hari ketiga peserta secara langsung melakukan simulasi penyelamatan dan evakuasi korban.

Maya Riski, selaku ketua panitia, mengaku sangat senang bisa berkontribusi dalam mempersiapkan kegiatan ini. “Saya berterima kasih kepada Koordinator VRI Aceh yang telah mempercayakan saya sebagai ketua pelaksana kegiatan nasional ini.” Dia memaparkan bahwa di samping menjadi ketua pelaksana program, dia juga terlibat langsung sebagai peserta latih. Sebab, menurut penjelasannya, secara teknis pelaksanaan, rangkaian kegiatan tersebut sepenuhnya diambil alih oleh para instruktur.

Komandan Vertical Rescue Indonesia, Tedi Ixdiana, dalam sesi penutupan acara turut mengungkapkan kembali akan pentingnya ilmu Penyelamatan dan Evakuasi Medan Terjal di Aceh. “Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki topografi kawasan kars dan pegunungan yang terjal dan curam, semisal tebing dan jurang. Sehingga pelatihan Vertical Rescue seperti sekarang ini menjadi penting,” tutupnya.[]