Beranda blog Halaman 6

Semoga Harga Beras Bisa Murah

Harapan saya sebagai ibu rumah tangga tidak muluk-muluk, semoga harga beras bisa lebih murah.

Eva Kusmaningsih (43)
Warga Desa Ilie, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh

Saya warga asli Banda Aceh. Lahir dan besar di ibu kota provinsi. Saat masa-masa konflik dulu situasi di Banda Aceh cenderung lebih “aman” dibandingkan di daerah-daerah lain di Aceh.

Namun, bukan berarti kami sama sekali tidak merasakan suasana yang mencekam. Sebelum tahun 2000-an, saya bersekolah di kawasan dekat Kampus Universitas Abulyatama di Gampong Lam Ateuk, Aceh Besar. Kadang-kadang kami kesulitan mendapatkan angkutan umum (labi-labi) jika keadaan sedang tidak kondusif.

Kemudian, di sore hari, karena ada pemberlakuan jam malam, jadi sejak pukul enam sore hingga pukul enam pagi suasana di kampung sudah sangat sepi. Kalau malam tidak bisa ke mana-mana.

Sebagai ibu kota provinsi, di Banda Aceh juga sering terjadi demo-demo oleh mahasiswa. Waktu itu saya berpikir, kapan Aceh aman?

Alhamdulillah, sekarang kita sudah merasakan perdamaian. Setelah damai ini, sebagai masyarakat kecil, harapan saya tidak muluk-muluk. Saya seorang istri dan ibu dari empat anak.

Suami saya bekerja di gudang gas LPG sebagai buruh dengan penghasilan yang tidak besar. Saya sendiri juga bekerja sebagai petugas cleaning service di sebuah rumah sakit di Banda Aceh. Pendapatan saya tiap bulan di bawah UMR.

Saya sangat bersyukur karena tidak menganggur, meskipun dengan penghasilan yang kami peroleh mustahil kami bisa menabung. Sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sangat bersyukur.

Kami memiliki empat orang anak. Yang sulung sudah tamat SMA dan tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena keterbatasan keuangan kami. Saat ini anak sulung kami juga sudah bekerja dan masih menyimpan harapan bisa kuliah.

Yang kedua dan ketiga juga sedang dalam masa pendidikan. Sedangkan yang terakhir belum bersekolah, baru berusia tiga tahun.

Sebagai ibu rumah tangga, harapan saya adalah harga beras bisa lebih murah. Dengan enam orang anggota keluarga, kami bisa menghabiskan beras hingga tiga sak setiap bulannya.

Dengan harga beras seperti sekarang, kami harus mengeluarkan Rp700 ribu per bulan hanya untuk beras. Tapi kan kita tidak makan nasi saja? Perlu juga ikan, lauk.

Belum lagi harga bahan pokok yang lain juga mahal-mahal. Mulai dari gula sampai minyak. Semoga ini menjadi perhatian pemerintah.

Kalau yang lain, seperti pelayanan di kantor-kantor pemerintah, saya lihat sudah baik. Ini pengalaman, saya, ya. Mungkin berbeda dengan orang lain. Tapi yang paling terasa adalah di ekonomi.

Kemudian, kalau bisa biaya di perguruan tinggi juga jangan terlampau mahal sehingga masyarakat seperti kami ini bisa menyekolahkan anak hingga ke universitas.[]

Ayah Menggali Lubang untuk Tempat Kami Bersembunyi

Saat balita, adik saya pernah melihat orang berbaju hitam menodongkan senjata pada mamak. Saat bisa bicara, adik saya menjadi gagap. Entah karena trauma itu penyebabnya, saya tidak bisa memastikannya.

Fitriyani (33)
Warga Luengbaro, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen

Saya Fitriyani. Ketika masa konflik, saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Dalam ingatan saya yang agak samar-samar, saya sering bermain dengan adik yang paling kecil, umurnya masih satu tahun. Adik saya badannya gemuk, kulitnya putih. Saya sering menggendongnya.

Siang hari tentara sering berdiri di depan rumah kami. Entah untuk berjaga atau apa, saya tidak tahu jelas. Ayah saya seorang pegawai negeri sipil (guru), jadinya para tentara cukup baik pada ayah. Terkadang, ada juga yang menodongkan senjata sehingga ayah harus menampakkan surat-surat sekolah sebagai bukti ia abdi negara.

Ada hari yang mencekam saat kontak senjata antara GAM dan TNI terjadi di desa kami di Luengbaro, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen.

Ketika mobil tank lalu-lalang di depan rumah kami. Saat suara bom menggelegar dan menggetarkan tanah. Kami tidak tidur di atas kasur atau di dalam kamar, tapi di tanah yang beralaskan terpal biru.

Ayah menggali lubang di dalam rumah untuk tempat persembunyian saya, mamak, dan adek. Agar peluru tidak mengenai kami. Itu trauma yang masih saya rasakan saat ini, takut gelap.

Di malam hari, sering terdengar suara langkah sepatu yang berat. Ayah selalu tidur di balik pintu sehingga bisa langsung membukanya ketika ada yang mengetuk pintu. Yang datang laki-laki, mereka minta beras, uang, kadang bebek atau ayam juga.

Adik saya dulu sampai takut setiap melihat orang memakai baju hitam. Pernah di suatu siang, kami tinggal bertiga di rumah: adik, saya, dan mamak. Lalu, datang tentara berpakaian hitam dan menodongkan senjata di pelipis mamak. Sedangkan adik saya dalam gendongan mamak. Orang itu bertanya, ayah saya di mana, apakah ayah saya seorang GAM?

Itu menjadi trauma berat untuk adik saya. Sampai saya kelas 5 SD kalau saya tak salah ingat. Setiap dia melihat orang berbaju hitam, dia pasti menangis tak henti-henti. Sampai-sampai mesti dirajah untuk mengembalikan semangatnya (tueng seumangat).

Lambat laun ia mulai sembuh dari ketakutan itu. Tapi saatnya bisa bicara, adik saya menjadi gagap. Entah karena trauma itu penyebabnya, saya tidak bisa memastikannya.

Banyak juga orang hilang di desa kami. Hampir tiap hari suara tam tum terdengar. Tak jauh di depan rumah kami ada kamp tentara, mereka sering turun ke rumah kami. Ada yang baik, ada yang sebaliknya.

Yang baik sering memberi kami roti (ransum) yang keras. Ada yang membacakan cerita dongeng. Ketika sedang tidak kontak senjata, mereka sering duduk ramai-ramai di depan rumah kami. Halaman rumah penuh dengan manusia berbaju loreng.

Saat kamp itu kosong, justru GAM yang sering ke rumah kami. Mereka makan di rumah kami. Mamak selalu kewalahan untuk masak dalam jumlah besar. Setelah makan, mereka pulang dengan membawa beras, bebek, ayam, kadang sejumlah uang yang diberikan ayah semampunya.

Pernah sekali waktu, ayah menyuruh kami buru-buru masuk ke lubang persembunyian. Saya dan adik ditidurkan beralaskan bantal, semua duduk di lubang itu. Ternyata, sesaat kemudian lewat mobil tank, diikuti gelegar suara bom. Jaraknya sekitar dua kilometer dari rumah kami.

Harapan saya, jangan ada lagi konflik di Aceh, apa pun jenis dan bentuknya. Karena masih banyak anak-anak yang dulu terpapar langsung dengan kekerasan konflik, sekarang mereka sudah dewasa dan masih belum pulih dari rasau trauma.

Semoga damai ini abadi. Pemerintah Aceh juga tidak boleh melupakan orang-orang yang telah berjasa di masa lalu.[]

Sistem Pendidikan dan Pelayanan Publik Perlu Diperbaiki

Ada beberapa aspek yang menurut saya perlu dibenahi seperti sistem pendidikan atau perbaikan pelayanan publik di segala bidang.

Maria Ulva (38)
Gampong Blang Garot, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie

Kondisi sebelum damai sangat mencekam. Saya tinggal di daerah yang dianggap paling rawan dan pusat persembunyian GAM. Kampung saya di Gampong Blang Garot, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie.

Setiap hari pasti terdengar kontak senjata. Ketika itu, saya masih menjadi siswa SMP. Menjelang malam (mulai pukul 6 sore hingga pukul 6 subuh), sudah tidak ada masyarakat yang berani keluar rumah. Berada di dalam rumah pun masih ketakutan.

Bukan tidak mungkin rumah-rumah penduduk justru menjadi sasaran orang GAM yang ingin bersembunyi atau didatangi aparat yang ingin mencari orang GAM.

Yang paling menakutkan itu ketika diterapkannya darurat militer sekitar tahun 2002-2004, sebelum tsunami terjadi. Saat itu, kendaraan bermotor tidak dibenarkan beroperasi sehingga kami harus ke sekolah menggunakan sepeda menempuh jarak 10 km.

Dan kondisinya benar-benar tidak aman karena kontak senjata bisa terjadi kapan saja. Bahkan pengeboman juga sering terjadi saat itu.

Penyisiran dilakukan secara besar-besaran di setiap kampung sehingga banyak kampung yang terpaksa mengungsi di masjid atau musala. Kemudian, banyak masyarakat yang tidak bersalah menjadi target aparat ketika mereka menanyakan di mana GAM.

Setelah tsunami saya mulai mendengar kabar tentang perdamaian Aceh. Saya mendengar berita di TV dan juga perbincangan warga bahwa Aceh sudah damai. Banyak juga masyarakat yang saat itu tidak peduli lagi dengan kondisi konflik karena duka yang mendalam akibat kehilangan keluarga dan sanak saudara setelah tsunami.

Sebagai remaja yang pernah merasakan ketakutan saat-saat konflik melanda Aceh, sudah pasti saya berharap agar Aceh bisa tetap aman dan damai. Sekarang keluar rumah di malam hari tidak perlu takut, bisa bekerja dengan aman, tidak ada lagi pemeriksaan-pemeriksaan seperti dulu.

Untuk kondisi saat ini menurut saya sudah ideal karena kita sudah merasa aman. Mau keluar rumah pukul 2-3 malam pun tidak perlu takut lagi. Namun, saya juga memiliki harapan agar damai ini menjadi lebih berarti bagi kita.

Ada beberapa aspek yang menurut saya perlu dibenahi, seperti sistem pendidikan atau perbaikan pelayanan publik di segala bidang. Jangan lagi kalau misalnya ada yang dikenal atau istilahnya “orang dalam”, maka fasilitas itu baru bisa kita digunakan dengan baik. Agar daerah kita bisa maju, maka hal-hal seperti ini masih harus diperhatikan dan dibenahi.

Dan juga, lebih baik untuk tidak lagi membahas luka lama agar bisa hidup berdampingan dengan semua pihak. Aktivitas sehari-hari saya sekarang adalah sebagai guru di sebuah madrasah aliah di Pidie.[]

Nyawa yang Dihabisi Mungkin Tidak Pernah Bisa Kita Ikhlaskan

Bukan karena saya tidak takut, akan tetapi passion berbisnis yang saya miliki menambah sejumput keberanian untuk terus maju di masa mencekam itu.

Nasriana (55)
Warga Gampong Meunasah Bak U, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar

Saya lahir di Gampong Meunasah Bak U, Kecamatan Leupung, pada 18 September 1970. Saya ingin mengisahkan sekelumit pengalaman hidup ketika melalui masa-masa kelam selama konflik bersenjata di Aceh.

Tahun 1990-an, ketika konflik terjadi, saya sudah menjalankan bisnis mode dengan menjual pakaian dari Jakarta yang kemudian dibawa masuk ke Malaysia melalui penerbangan Medan. Tahun 1997 dan 1998, kondisi Banda Aceh cenderung aman, tetapi berbeda dengan kondisi di daerah-daerah. Selama perjalanan bisnis itu, momentum konflik bersenjata terpanas di Aceh yang saya rasakan terjadi pada tahun 1999.

Di masa konflik bersenjata, saya memang jarang menetap di gampong karena harus bolak-balik melakukan perjalanan bisnis. Namun, selama perjalanan saya kerap melihat langsung masyarakat yang dihilangkan secara paksa saat sweeping militer.

Walau di tengah runyam masa konflik bersenjata, saya tetap memutuskan berbisnis ke Malaysia. Bukan karena saya tidak takut, akan tetapi passion berbisnis yang saya miliki menambah sejumput keberanian untuk terus maju di masa mencekam itu.

Kami pernah ditodong senjata di Lhoksemawe. Lutut gemetar, jantung berdebar kencang. Ada sekitar 2-3 kali saya melihat penumpang yang diambil dan dihilangkan. Saya terus berselawat selama perjalanan itu.

Saya tidak merasakan secara instens efek dari konflik bersenjata. Akan tetapi, keluarga besar saya yang menetap di Leupung menjadi korban dari sengketa senjata antara TNI dan GAM. Di lorong rumah kami di Leupung, baku tembak terjadi.

Akan tetapi tetap saja, bencana kemanusiaan tersebut tetap menyisakan serpihan luka di batin saya. Walau tidak melihat dan tidak merasakan secara langsung penyiksaan atau pembunuhan semasa konflik, akan tetapi kenangan ngeri tersebut tetap saja menghantui hingga kini.

Kalau melihat senjata, rasanya trauma berat. Kalau gempa-tsunami itu saya pikir memang takdir, ya, sudahlah. Tetapi masa konflik itu menderita sekali. Nyawa yang dihabisi mungkin tidak pernah bisa kita ikhlaskan.

Leupung memiliki sejarah panjang yang cukup kelam. Kecamatan Leupung bukan saja salah satu wilayah terparah di Aceh yang dihantam bencana megatsunami, melainkan juga daerah bekas konflik bersenjata.

Di wilayah ini, gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dari Daerah IV Sagoe XXV (struktur militer GAM Aceh Rayeuk) melakukan operasinya.[]

Banyak Hal yang Terjadi di Luar Akal Sehat

Di masa konflik, banyak hal yang terjadi di luar akal sehat. Sedangkan di masa damai, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Hafsah binti Abdullah (58)
Warga Gampong Keude Dua, Kecamatan Darul Ihsan, Kabupaten Aceh Timur

Saya mulai menyadari ada sesuatu yang tidak “beres” di Aceh sejak tahun 1980-an. Saat itu saya belum menikah. Kebetulan orang tua saya berasal dari Pidie–salah satu basis konflik yang sangat parah. Pada masa itu, orang-orang belum memiliki sarana MCK di dalam rumah seperti sekarang. Alhasil, ketika mereka ingin BAB harus pergi ke sungai atau ke kebun di sekitar rumah.

Saya ingat sekali, salah satu tetangga memperingatkan saya untuk berhati-hati jika ingin BAB di malam hari. Katanya, nanti bisa kepergok dengan “orang-orang” yang kemungkinan ada di dekat rumah-rumah warga.

Siapa orang itu? Katanya AM. Apa itu AM? Belakangan saya baru tahu kalau itu singkatan untuk Aceh Merdeka.

Setelah menikah, saya ikut suami ke Aceh Timur. Kami tinggal di pedalaman Kecamatan Idi Rayek. Memasuki tahun 1990-an, desas-desus mengenai sesuatu yang tidak beres itu semakin nyata. Kehidupan kami yang semula tenang menjadi terusik sehingga harus mengungsi.

Itulah untuk pertama kalinya saya merasakan menjadi pengungsi, pada awal tahun 1990-an. Setelah situasi agak tenang, kami kembali lagi ke kampung. Lebih dari separuh warga kampung kami yang suku Jawa tak kembali lagi.

Pada tahun 1999, situasi kembali memanas, kami kembali mengungsi. Saya kira, saya masih bisa kembali ke kampung seperti sebelumnya. Ternyata, sampai hari ini kami tak kembali lagi ke sana. Rumah kami terpaksa dibongkar. Sedangkan rumah salah satu keluarga saya dibakar OTK. Beberapa kerabat saya memutuskan untuk menetap di Sumut.

Hingga beberapa tahun setelah itu kami tinggal di rumah orang. Mencari nafkah sangat sulit saat itu. Para suami tak bisa ke kebun tanpa ditemani istri. Tapi, ada juga peristiwa memilukan. Seseorang yang saya kenal, istrinya suku Jawa–justru ditembak oleh OTK saat sedang memetik cokelat.

Selain punya kebun, suami saya juga pedagang hasil bumi. Truk kami pernah diancam bakar oleh awak nanggroe. Ancaman yang kami rasakan dari kedua belah pihak. Suami saya termasuk segelintir laki-laki di kampung kami yang memilih untuk tetap bertahan di kampung pada saat itu. Pernah ada tentara yang mengomel, katanya asal mereka masuk ke kampung kami jarang sekali terlihat ada laki-laki.

Pada masa itu, kabar kematian menjadi “makanan” sehari-hari kami. Telinga kami terbiasa mendengar suara letusan senjata, suara ledakan, suara panser dan truk reo yang horor, hingga suara helikopter yang datang untuk mengambil mayat. Saya pernah melihat jasad yang masih menggelepar-gelepar setelah ditembak, pernah melihat jasad yang lututnya terpelintir. Semua ingatan itu masih terang di ingatan. Suami saya juga pernah dipukuli oleh TNI hingga bergeser tulang rusuknya.

Di masa konflik, banyak hal yang terjadi di luar akal sehat. Misalnya, kendaraan jenis RX King atau GL Pro, termasuk baju mantel dianggap identik dengan GAM. Saat terjadi perang besar di Idi Rayek, saya terpaksa mencemplungkan mantel suami saya ke sumur. Kemudian, jika rumah kita pernah atau sering didatangi aparat, justru dicurigai oleh pihak GAM. Begitu terjepitnya keadaan masyarakat saat itu.

Damai ini tentu harus disyukuri. Ini anugerah dari Allah. Setelah damai mencari nafkah menjadi lebih tenang. Tapi, saya lihat, yang kaya kaya terus, yang miskin miskin terus. Orang-orang di kampung saya masih banyak yang kesulitan mencari pekerjaan. Bahkan salah satu tetangga saya yang suaminya korban peristiwa berdarah PT Bumi Flora, sampai hari ini masih tinggal di tanah wakaf.[]

Saya Pernah Ditodong Pistol

Rasanya sangat nikmat bisa tidur di tempat tidur lagi, bukan di kolongnya seperti pada masa konflik.

Musni (48)
Warga Gampong Pawoh, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya

Sekitar tahun 2001—2003, saya bekerja sebagai operator di sebuah wartel di Kota Blangpidie. Wartel itu berada di bagian belakang sebuah kafe yang cukup laris.

Masa itu, ada banyak pos aparat dibangun di Blangpidie, sepanjang jalan menuju Susoh, juga di jalan menuju Tapaktuan.

Sedikit pengalaman “menarik”, saya pernah ditodong pistol, diancam akan dibunuh, karena saya meminta agar para pelanggan yang masih duduk di kafe untuk beranjak. Sebab hari itu hari Jumat, menjelang salat, jadi kafe dan wartel akan ditutup.

Rupanya, salah satu pelanggan tak terima. Dia mengejar saya ke belakang, pistol di tangan.

Saya lari ke wartel, cepat-cepat mengunci pintu lalu menelepon abang sepupu di Pos SGI.

Sambil menunggu abang saya datang, saya gemetaran mendengar pelanggan berbaju loreng di luar berteriak-teriak sambil menendang dan berusaha mendobrak pintu wartel.

Syukurlah, abang saya segera datang. Peristiwa itu berakhir damai. Rupanya pangkat abang saya lebih tinggi, sehingga setelah diajak bicara oleh abang saya, pelanggan yang anggota TNI itu tidak pernah merusuh lagi di kafe.

Masa itu sangat tegang, saya jarang berani tidur di kampung (Pawoh), dan memilih tidur di rumah kakak saya di Blangpidie. Sebab di kampung setiap malam suasana sangat mencekam.

Orang laki semuanya bersembunyi menyelamatkan diri, takut akan “diangkat” aparat. Kami pun tidur di lantai, karena takut terkena peluru nyasar bila terjadi kontak senjata.

Waktu tentara (nonorganik) ditarik pulang, saya merasakan kelegaan. Saya kembali berani tidur di kampung.

Semoga Damai Berlangsung Abadi

Saya bersyukur dengan apa yang sudah kami dapat, tapi kan tidak salah kalau kami berharap dapat meningkatkan hidup kami?

Cut Fahmeulu (39)
Warga Dusun Merpati, Gampong Blang Oi, Banda Aceh

Kampung saya di Lhoong, Aceh Besar. Masa konflik saya masih duduk di bangku SMP. Waktu itu, terutama masa referendum, setiap kali patroli aparat lewat, kami anak-anak sekolah diwajibkan (oleh GAM) untuk berdiri di ambang pintu atau di teras rumah, sambil meneriakkan yel-yel: :ACEH MERDEKA! ACEH MERDEKA! REFERENDUM YESSS!!!

Ada abang-abang dan kakak-kakak mahasiswa yang kerap datang ke kampung untuk sosialisasi tentang referendum. Kami iya iya saja, karena anak SMP apalah yang kami ketahui.

Bukan mau sombong, gadis di kampung saya terkenal elok. Banyak kawan saya yang lebih tua (usia 17-20 th) pacaran dengan aparat yang bertugas di pos-pos yang didirikan di seputar kampung saya. Sedihnya, ketika hubungan mereka dengan serdadu Indonesia diketahui (oleh GAM), tidak sedikit dari mereka malam-malam dibawa ke gunung. Ada yang setelah dua-tiga hari dikembalikan dalam kondisi stres dan trauma, tapi banyak juga yang tidak kembali.

Masa itu, kami sering sekali mendengar letusan senjata, bahkan tembakan beruntun minimi. Setiap kali mendengar tembakan, kami cepat-cepat tiarap. Kontak senjata terjadi tak kenal waktu, cukup sering ketika kami pulang sekolah mendadak terdengar tembakan. Kami semua buru-buru tiarap, tak peduli di jalan, lumpur atau resam berduri. Yang penting selamat.

Masa remaja saya rasanya mencekam sekali, karena terus-terusan terjadi kontak senjata, juga penculikan. Kalau ke gunung, kami juga cukup sering menemukan mayat. Ketika akhirnya damai terjadi, rasanya seperti surga hidup ini.

Saya berani ke mana-mana, bahkan sendiri pun berani. Kami pun berani memulai usaha, dan menjalani hidup dengan tenang. Hanya, makin lama kenapa makin sulit bagi kami untuk mengembangkan usaha, ya? Harga barang naik semakin tinggi sementara modal kami segini-gini saja.

Tadinya kami berharap, damai akan membawa kemakmuran. Saya bersyukur dengan apa yang sudah kami dapat, tapi kan tidak salah kalau kami berharap dapat meningkatkan hidup kami?

Suami pernah mencoba menjadi sopir ojol, tapi tak bertahan lama karena bagian keuntungan dari aplikasi untuk supir sedikit sekali. Sekarang alhamdulillah anak saya yang sulung sudah bekerja, jadi beban kami sudah berkurang. Semoga damai berlangsung abadi.[]

Tak Ingin Menukar Damai dengan Apa Pun

Itu masa-masa paling buruk dalam hidup saya. Alhamdulillah, semua sudah berlalu. Saya tidak ingin menukar damai ini dengan apa pun.

Martini binti Zakaria (74)
Warga Dusun Pawoh, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya

Masa konflik itu sangat menegangkan bagi saya. Ada masa ketika (GAM) menyuruh seluruh gampong di Aceh Barat Daya menaikkan bendera bulan bintang. Mereka yang tidak memasang, dipukuli atau dibawa ke gunung.

Kampung kami (Susoh) tidak terlalu ditekan untuk memasang bendera, mungkin karena dekat Pos SGI. Tapi kampung-kampung lain seperti Babahrot, Kuala Batee, dll. yang dekat ke gunung, mereka (GAM) memeriksanya ke setiap rumah, apakah ada bendera bulan bintang.

Di kampung-kampung itu, GAM juga meminta dua anak muda untuk dilatih kemiliteran setiap pagi. Ada si X, sekarang ini dia bidan, karena adiknya yang laki-laki sakit-sakitan, dia mengajukan diri untuk dilatih. Memang si badannya tinggi gagah.

Karena dia mengerti ilmu kesehatan, orang itu (GAM) hormat padanya. Selama konflik keluarga dia aman, karena teuntra pun respek pada orang kesehatan.

Saya pernah menemukan jenazah orang tersangkut di pagar tetangga. Orang itu bukan orang kampung kami. Entah dari mana. Kondisinya menyeramkan, karena matanya dicongkel, lalu dipasakkan di keningnya. Beberapa jarinya juga tidak ada.

Anak saya yang laki-laki, waktu itu (di masa DOM) kuliah di Banda Aceh. Tapi sesudah referendum dia pulang. Nah, ketika dia di kampung itulah penyakit asma dan asam lambung saya tambah menjadi, karena cemas akan keselamatan dia.

Setiap malam saya sembunyikan anak saya di kandang bebek, supaya tidak ketahuan oleh TNI dan orang itu (GAM).

Anak-anak muda lain juga tidak ada yang tidur di kampung, semua bersembunyi. Masa itu saya tidak berani salat Subuh di masjid.

Saya juga mencemaskan menantu saya. Sebab walau pun dia tinggal di Blangpidie, tapi dia punya beberapa kebun yang harus diurus. Setiap kali dia pergi mengurus kebunnya, saya tidak berhenti berzikir, mendoakan keselamatannya.

Dari rumah mantu saya di Kuta Tuha, Blangpidie, kita bisa mendengar suara tembakan di arah gunung. Anak tetangga kami, seorang perwira polisi, setiap pulang sekolah selalu dijemput mobil polisi. Bahkan satu kali pernah dijemput dengan mobil yang macam tank itu (mobil lapis baja).

Ketika abang sulung kami di Banda Aceh meninggal, kami sesaudara naik L300 ke Banda Aceh.

Perjalanan memakan waktu lama karena setap kali melewati pos aparat, kami harus berhenti.

Mereka (aparat) mencari orang yang mengenakan peci dan menyelindang sarung, karena itu dianggap tanda orang GAM.

Di salah satu pos, kedua abang saya yang pergi bersama kami sempat mengalami kekerasan, ditampar dan dipukul perutnya. Lalu mereka disuruh tiarap di pinggir jalan. Adik bungsu saya menangis-nangis, berkata bahwa keduanya adalah abang kami, kami akan ke Banda Aceh karena abang kami yang tertua meninggal.

Setelah itu, kedua abang kami dilepas, kami boleh melanjutkan perjalanan. Tapi perjalanan kami begitu lambat karena pos yang kami lalui begitu banyak, sehingga keponakan kami, anak abang kami, yang bekerja di Jakarta, sudah sampai lebih dulu di Banda Aceh.[]

Anak Saya Direnggut Konflik, Cucu Saya Direnggut Tsunami

Luka masa konflik jangan terulang lagi. Rawatlah lewat kesejahteraan masyarakatnya.
_Meridum | 80+_

Saya Meridum. Saya lahir pada masa Jepang hengkang dari Indonesia pada tahun 1945, di Nagan Raya.

Tidak ada tanggal pasti mengenai hari kelahiran saya. Kata orang tua saya, saya lahir ketika Jepang “plueng” (lari) dari Aceh. Dan ketika itu awal kemerdekaan sangat menyedihkan karena jangankan pakaian, makanan pun masih sangat sulit untuk diperoleh.

Ketika saya beranjak remaja hingga menikah, saya merasakan juga konflik Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Aceh yang terjadi pada tahun 1953 dan berakhir pada tahun 1962. Ketika itu banyak kerusuhan terjadi dan banyak juga yang meregang nyawa.

Yang paling menyayat hati juga yaitu konflik bersenjata antara GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia.

Selaku orang awam yang tinggal di kampung bagian pante di Aceh Barat, sangat dekat hutan dan harus menyebrangi sungai. Setiap hari suara tembak terdengar. Tak jarang saya harus mengungsi ke sana kemari karena takut anggota baju loreng atau orang GAM datang ke kampung.

Masa itu, tahun-tahun genting kami hadapi dengan penuh air mata. Kami punya kedai usaha kelontong tapi tak bisa memutar modal dan sering merugi.

Kadang mereka yang mengaku GAM atau baju loreng tak jarang mengancam keluarga agar dibebaskan untuk masuk ke kedai dan mengambil barang sesukanya.

Kejadian yang tak bisa saya lupakan seumur hidup saya yaitu pada tahun 2003, ketika saya berdoa dan berharap keluarga saya tetap utuh, termasuk anak- anak saya.

Saya hanya mempunyai satu anak laki-laki yang hidup sampai dewasa dan berkeluarga di Aceh Jaya dan tinggal di sana. Saya tinggal dengan anak perempuan saya dan membantunya berjualan di keude.

Anak laki laki saya bekerja sebagai penjual kayu tiang rumah. Ia juga teungku yang belajar di Dayah Tanoh Ano, dan bergaul dengan siapa pun termasuk orang GAM yang sering masuk ke hutan.

Ternyata, ia dicurigai oleh pihak baju loreng. Sebenarmya orang baju loreng juga sering berjumpa dan bertegur sapa dengannya. Tapi ada satu komandan yang mencuriagai anak saya sebagai pihak GAM.

Suatu hari, anak saya sedang berwudu di sumur belakang rumahnya yang terbuka. Hanya ada bilik mandi yang terbuat dari kayu. Namun, mengambil air harus dengan timba.

Magrib itu, ia sedang membasuh wajahnya sambil membungkuk. Tiba-tiba … dooorrr! Suara tembak berbunyi keras mengenai pelipisnya.

Lalu ada utusan yang datang dari Aceh Jaya menemui saya. Dia mengatakan, “Aneuk Mak teungoh peureule keu Mak, yak tajak laju.”

Katanya anak saya sedang membutuhkan saya, dia mengajak saya bergegas.

Hati dan perasaan saya langsung tidak enak. Saya meurateb (berzikir) di sepanjang perjalanan. Tanpa saya sadari, saya sudah merasakan sesuatu yang menyakitkan tentang anak saya, walaupun tidak dikatakan anak saya ka habeh umu atau sudah berpulang kepada Ilahi.

Jarak terasa jauh karena dari tempat saya tinggal di Pante Cermen harus menyebrangi sungai dengan rakit. Lalu naik mobil dari kampung ke kota. Mencari mobil sewa de kota Melaboh untuk sampai ke Teunom.

Sesampai saya ke rumahnya, saya melihat anak saya terbujur kaku pucat tak bernyawa. Betapa hancurnya hati saya ketika itu.

Apa pun itu, dan siapa pun itu penembaknya, saya tidak mau mencari tahu karena anak saya telah hilang nyawanya.

Dan konflik itu sangat menyakiti hati saya. Hidup dalam ketakutan dan masih trauma dengan kejadiannya.

Kehilangan saya rupanya tak berhenti sampai di situ. Ketika tsunami terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004, cucu saya–dari anak perempuan sulung saya–yang tinggal di Banda Aceh juga hilang tak diketahui jasadnya.

Setelah itu baru terjadi perdamaian dan tidak terdengar suara tembak atau kericuhan konflik.

Saya sudah mengalami kesulitan, kesedihan, dan sakit selama konflik. Saat ini ketika sudah damai, harapan saya, rawatlah dan sejahterakan rakyat, berikan pendidikan untuk anak-anak saat ini. Sejahterakan masyarakatnya dari semua sisi baik ekonomi dan sosialnya.[]

Teks dan foto dikirim oleh Sarah

Rakyat Sipil yang Menjadi Korban Itu adalah Guruku

Damai itu adalah kebebasan bergerak dalam menjalankan kehidupan yang normal.

Hari itu di tahun 2002, aku masih kelas VI SD. Suatu pagi, di halaman sekolah yang seluas lapangan bola kaki, para siswa dengan seragam merah putih asyik menikmati waktu senggang sebelum bel masuk kelas bunyi. Ada yang asyik main bola, main petak umpet, main lompat-lompat karet, ada juga yang asyik menjaga dagangan (jajanan), termasuk aku salah satunya. Hari-hari terakhir kami di sekolah karena tak lama lagi akan memasuki ujian akhir nasional.

Sudah menjadi patokan bagi kami para siswa, jika motor Honda Super Cub 80 yg ditunggangi oleh Guru Matematika sudah terparkir di halaman kantor guru, tak lama kemudian bel pasti bunyi.

Namun, pagi itu, sudah lewat dari waktu biasanya, tapi bel masuk kelas belum juga dibunyikan. Tentunya itu yang sangat diharapkan oleh hampir semua siswa, sampai kemudian terjadi sesuatu. Alih-alih suara bel, justru terdengar suara dentuman senjata yang memecahkan suasana.

Semua siswa lari ke kelas. Sedangkan aku, entah kenapa justru lari ke kantor guru, mungkin karena posisiku lebih dekat dengan kantor.

Tidak lama kemudian, salah seorang warga dari desa sekitar sekolah muncul dan menerobos ke kantor dewan guru. Dengan napas terengah-engah beliau mengatakan, bahwa salah seorang guru kami ditembak.

Suasana kantor langsung histeris. Guru-guru bergegas ke luar. Kepala Sekolah langsung bergegas dengan motornya. Beberapa guru lain menuju ke lokasi dengan berjalan kaki.

Aku, dengan keberanian yang datang entah dari mana, lari menuju ke lokasi kejadian yang jaraknya sekitar satu kilometer dari sekolah.

Untuk pertama kalinya aku melihat rakyat sipil menjadi korban akibat selisih paham antara TNI dengan GAM. Guruku terbaring di aspal bersimbah darah. Guru Matematika yang kami tunggu-tunggu.

Aku menangis sejadi-jadinya di dekat beliau. Semua orang yang hadir di sana menangis tanpa terkecuali. Untuk pertama kalinya Aku merasakan kehilangan sosok berarti dalam hari-hariku di sekolah. Guruku yang humoris itu sudah pergi untuk selama-lamanya.

Kelas Terakhir dengan Pak Guru

Sehari sebelum kejadian tersebut, beliau membuka kelas dengan main tebak-tebakan (teka-teki).

“Gajah mati meninggal apa?”

Salah satu temanku spontan menjawab, “Meninggalkan gading, Pak.“

“Benar!” pungkas beliau, “kalau harimau mati?” lanjutnya.

“Belang, Pak.” Serentak kami menjawab.

Kami mengetahui jawabannya karena ada di buku bacaan. Tidak berakhir di situ, Pak Guru melanjutkan.

“Nah, kalau manusia mati meninggalkan apa?”

“Meninggalkan baju, Pak”

“Bukan!”

“Rumah!”

“Bukan.”

Hampir semua barang rumah tangga kami sebutkan, tetapi masih saja bukan itu jawab guruku.

Sejenak kelas menjadi hening, menunggu jawaban dari sang guru. Lalu, dengan telunjuk diarahkan ke atas, sambil diturunkan perlahan, beliau menjawab, “Maanusiaa matiiiii meninggalkaan naaaaaaama …”

“Oooowh. Iya ya.”

Beliau langsung terkekeh girang karena kami kalah tebakan. Kami melanjutkan pelajaran setelahnya.

Guruku itu paling humoris.

Pelajaran utama yang beliau ajari adalah Matematika, juga kadang-kadang mengajarkan PPKN, Bahasa Indonesia, dan Mulok (Muatan Lokal).

Beliau sangat humoris dan penuh jenaka saat mengajar pelajaran Mulok. Namun, sangat disegani dan ditakuti okeh murid-murid yang sedikit bandel. Begitu tampak beliau dari kejauhan saja mereka langsung sembunyi, agar tidak ketahuan.

Saat melihatnya bersimbah darah, aku melihat beliau tidak lagi bergerak, tapi matanya masih terbuka belinangan air mata, dan tersenyum. Orang-orang di sekitar sangat histeris saat itu, tidak tahu harus melakukan apa.

Beberapa hari kemudian, kampung kami banyak didatangi tentara, setiap hari suasana begitu tegang karena hentakan serentak kaki para tentara atau guncangan mobil tank.

Seminggu kemudian, di malam hari, kampung kami dihebohkan dengan kejadian kebakaran gedung sekolah MIN yang jaraknya 300 meter dari rumahku. Beberapa sekolah di kemukiman tetangga juga mengalami nasib yang sama.

Totalnya ada empat bangunan sekolah/madrasah: MIN 1 Gapui, MTSs Gapui, SD Impres, hanya sekolahku yang tidak dibakar, yakni SDN 1 Gapui, mungkin karena letaknya dikelilingi hutan yang dominan bambu sehingga tak begitu tampak di malam hari. Sejak saat itu, aktivitas sekolah dihentikan.

Sekolah itu baru aktif kembali tahun 2003, saat aku sudah beranjak SMP. Sebenarnya, ada juga momen lain setelah aktivitas sekolah dihentikan sementara.

Teringat sekali sampai sekarang. Saat itu, kami yang kelas VI mau ujian akhir. Aku sering memperhatikan beberapa guru sekolah kami berkumpul di rumah salah satu guru, tepat di depan rumah orang tuaku. Ternyata, mereka melakukan sebuah rapat mengenai ujian kelulusan kami.

Mengemban Tugas Berat

Hingga suatu hari, aku dipanggil ke rumah guru tersebut, aku diminta menuliskan semua nama-nama teman sekelasku. Dan tugas yang paling berat adalah aku diminta untuk mendatangi setiap rumah teman-teman sekelas untuk membagikan lembar soal ujian.

Beberapa temanku yang rumahnya berdekatan denganku ternyata juga sudah pernah dipanggil ke rumah guru tersebut, tapi mereka semua menolak dengan alasan takut. Tidak ada yang memberitahuku tentang itu, bahkan guru pun.

Aku adalah orang terakhir yang dipanggil. Namun, karena keinginanku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya begitu tinggi, aku memutuskan untuk menerima “tugas” tersebut. Sampai-sampai orang tuaku memarahiku, tapi niatku sudah sangat bulat saat itu.

Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, jiwa beraniku memang sudah tumbuh sejak kecil.

Sekarang Aceh sudah dua puluh tahun damai. Dalam sepekan ini, menjelang peringatan dua dekade damai Aceh pada 15 Agustus 2025, terdapat pro-kontra terhadap larangan menaikkan bendera bulan bintang (bendera GAM) dalam peringatan hari damai Aceh. Padahal, yang menjadi momentumnya bukan di bendera.

Menurut pendapat saya, akan tetapi bagaimana masyarakat Aceh bisa bergerak dalam segala aspek, tanpa perasaan khawatir kalau-kalau akan diperiksa, akan dituduh, bahkan ditodong senjata. Damai itu adalah kebebasan bergerak dalam menjalankan kehidupan yang normal.

Semoga dengan damai Aceh dapat membuka kembali pola pikir seluruh masyarakat Aceh serta merasakan manfaatnya secara adil dan merata.

Khususnya bagi Generasi Z, kalian tidak harus merasakan kembali peristiwa yang pernah dirasakan oleh orang-orang terdahulu yang hidup dalam situasi konflik bersenjata. Namun, sejarah masyarakat Aceh yang pernah hidup dalam situasi demikian patut diketahui dan dikenang.

Penulis adalah warga Neulop II Gapui, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie

Sosok Ayah di Masa Konflik

Menjadi seorang laki-laki Aceh yang hidup di masa konflik amat sangat menakutkan. Bagaimana tidak, kaum ini selalu dicurigai oleh kedua belah pihak yang bertikai. Sedikit saja salah bertindak, nyawa jadi taruhan. Sedikit saja ada gelagat yang dianggap mencurigakan, siap-siap menjadi target sasaran. Bila tidak sesuai dengan yang diinstruksikan, harus rela menerima hukuman tanpa pembelaan.

Bagi yang melakukan perlawanan disebut pemberontak. Sedangkan yang tidak ikut berjuang disebut sebagai penghianat. Mereka serba salah, diteror dari dua arah. Padahal mereka hanyalah sipil yang harus dilindungi, tapi merekalah yang kerap menjadi korban dan sasaran. Inilah era ketika masyarakat Aceh berada pada kegelapan, harga diri di ujung kaki para tentara dan kombatan.

Rentetan peristiwa berdarah yang pernah terjadi di Aceh, melibatkan banyak kaum laki-laki. Di antaranya para ayah yang mempunyai anak-anak yang mestinya dihidupi. Namun, kekejaman konflik Aceh membuat anak-anak yatim kehilangan sosok ayah. Seperti tragedi Jambo Kupok di Aceh Selatan pada 17 Mei 2003, belasan laki-laki dibakar hidup-hidup di sebuah rumah kosong oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Rintihan kesakitan dan lolongan pilu dari korban terdengar langsung ke telinga anak-anak. Larut bersamaan dengan kobaran api yang begitu mencekam. Salah satunya Ali Usman yang menjadi saksi hidup dalam peristiwa itu. Usianya baru beranjak 15 tahun, tapi ia harus berhadapan dengan trgedi yang memilukan. Pasalnya, di antara yang menjadi korban pembakaran itu adalah ayahnya, Suwandi, (bbc.com; Kesaksiaan korban peristiwa Jamboe Kupok, diakses 27 Juli 2023).

Selain tregedi Jambo Kupok, terdapat benyak peristiwa lainnya seperti tragedi Simpang KKA (Aceh Utara), tragedi Rumoh Gedong (Pidie), tragedi Beutong Ateuh (Aceh Barat–sekarang Nagan Raya) dan banyak peristiwa lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Ini menunjukkan betapa sulitnya menjadi laki-laki dan betapa takutnya anak-anak kehilangan sosok ayah pada masa itu.

Memori Korban Konflik dari Orang Terdekat

Di antara banyak peristiwa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) semasa konflik bersenjata Aceh, ada juga rentetan peristiwa yang tidak terdata. Ini berkaitan dengan orang-orang terdekat saya. Meskipun tidak seberat peristiwa besar yang disebut di atas, tapi memori ini tidak bisa serta-merta dibuang begitu saja.

Ingatan ini menjadi landasan dasar bagi saya, betapa susahnya hidup di masa konflik. Bahkan untuk saya yang berusia anak-anak saat itu, kehilangan ayah menjadi momok yang sangat menakutkan. Terlebih pekerjaan Ayah saya seorang sopir angkutan umum, tidak menutup kemungkinan terjadi perilaku kekerasan di perjalanan oleh pihak yang bertikai. Berikut kumpulan memori yang sudah pernah saya dengar dari Ayah yang kemudian saya konfirmasi ulang lagi kebenarannya ke Ayah (27 Juli 2024).

Contoh kecilnya saja dulu di sekitar tahun 2000, saat Ayah membawa mobil lintas Tapaktuan–Meulaboh, ia sering ditahan di Posko Brimob Lamainong, Aceh Barat Daya. Para tentara meminta jatah uang kepada Ayah, tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Begitu pula bila ada kebutuhan tentara yang ingin dibelikan di Meulaboh, mereka meminta bantuan Ayah untuk membelinya. Namun, lagi-lagi pakai uang Ayah.

Kekerasan verbal pun tak jarang diterima Ayah. Namun, dalam kondisi tersebut apa yang bisa diperbuat? Diam dan menjawab seperlunya adalah cara terbaik daripada membantah. Tidak hanya itu,  karena salah sangka oleh pihak tentara, mobil Ayah juga pernah diadang oleh mobil tentara. Lalu Ayah diproses di posko tentara sambil ditodong senjata.

Masalahnya sepele, yaitu surat yang disangka dititipkan oleh seseorang tentara kepada Ayah rupanya sudah dikirim melalui kantor pos ke Medan. Hal itu baru terungkap setelah tiga hari Ayah mendapat ancaman dari tentara. Selama itu, Ayah merasa tertekan karena setiap melalui posko brimob tersebut, Ayah ditanyai tentang surat. Bahkan Ayah sempat bertanya ke rekan-rekan seprofesinya tentang surat tersebut, setiap kali berpapasan dengan sopir yang dikenal Ayah. Barangkali ada dititipkan di mobil mereka. Namun, tak satu pun yang tahu keberedaan surat itu. Padahal surat yang dimaksud sudah dikirim via kantor pos oleh oknum yang bersangkutan.

Seusai kejadian itu, koflik Aceh semakin memanas. Banyak masyarakat yang tidak bersalah jadi korban. Persoalan bunuh-membunuh kian sering terdengar. Termasuk ayah angkatnya Ayah (kakek saya) menjadi korban tembak oleh oknum kombatan. Kejadiannya itu selepas magrib, kakek didatangi oleh oknum kombatan di rumahya.

Tanpa banyak tanya, oknum tersebut langsung menembakkan satu peluru ke paha kanan kakek dengan jarak satu meter. Akibatnya kakek tidak tertolong setelah sempat dilarikan ke rumah sakit. Nenek yang melihat kejadian itu, langsung berteriak histeris dan memohon kepada oknum tersebut agar tidak menyakiti kakek lagi. Ternyata oknum tersebut melakukan hal itu karena sakit hati lantaran tidak dikasih uang oleh kakek.

Kakek yang saat itu beprofesi sebagai kepala desa (keuchik) memang sering didatangi oleh pihak tentara maupun kombatan. Namun, siapa sangka malam itu ia menjadi korban keberingasan oknum yang mengaku membela bangsa. Sungguh sedih istri dan anak-anak yang ditinggalkannya. Terlebih anak bungsunya masih berusia balita. Saya saja sebagai cucu angkatnya begitu terpukul dengan kematiannya yang tak wajar, konon lagi anak kandungnya jauh lebih hancur melihat ayahnya diperlakukan demikian.

Berjuang di Tengah Konflik

Ayah kemudian memutuskan tidak lagi bekerja sebagai sopir, karena situasi yang semakin memburuk. Ia memilih bekerja di rumah menjaga kios kecil yang sebelumnya dikelola oleh ibu. Sayangnya, penghasilan dari menjaga kios tidak bisa mencukupi keluarga kami. Akhirnya ibu terpaksa mengambil alih dengan berjualan pakaian dan kasab sulam benang emas yang dijahitnya sendiri.

Ibulah yang pergi-pergi keluar daerah menawarkan barang dagangannnya, dan saya selalu ikut menemani ibu. Sebab ketika di dalam perjalanan terjadi sweeping oleh tentara, maka akan mudah dilewatan karena ada anak kecil. Tidak hanya itu, saya juga ikut membantu ibu dengan berjualan es di sekolah, umur saya baru delapan tahun. Namun, di situasi itu, perempuan dan anak-anak mengambil peran mencari rezeki karena para lelaki kesulitan bekerja di luar rumah lantaran kondisi yang tidak aman.

Di suatu waktu, jelang peringatan 4 Desember, Ibu disuruh menjahit bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) oleh kombatan. Ia terpaksa menerimanya bukan karena kepepet uang, toh saat itu bayarannya cuma Rp1500 per lembarnya. Namun, ibu takut kalau menolaknya akan berakibat buruk bagi keluarga kami.

Di lain sisi, ibu juga khawatir tentara mengetahui bahwa ibu menjahit bendera GAM. Karena jika pihak tentara tahu, keluarga kami pasti akan dihabisi karena dianggap mendukung GAM. Ada yang unik saat itu, melihat aktivitas ibu menjahit benang kasab, beberapa tentara meminta ibu menjahit lambang mereka dengan menggunakan benang kasab. Jadi, ketika siang ibu membuat pesanan jahitan tentara, sedangkan malamnya ibu menjahit bendera GAM.

Hingga di tahun 2003, ketika diberlakukannya Darurat Militer di Aceh padan tanggal 19 Mei, kami yang tinggal di pedalaman dekat gunung, tepatanya di Gampong Air Sialang Hilir, Samadua, Aceh Selatan disuruh mengungsi. Semua orang kampung yang tinggal berbatasan dengan pegunungan juga ikut mengungsi. Ibu kehilangan mata pencahariannya, sedangkan ayah tidak bekerja. Beberapa hari setelah kami diungsikan, Ayah mencari pekerjaan karena tidak ada uang di tangan dan persedian makanan semakin menipis.

Alhamdulillah, Ayah kembali menjadi sopir angkutan umum. Namun, kali ini lintas Tapaktuan–Kandang (Kluet Selatan). Meskipun lintasan daerah ini merupakan zona merah pada masa konflik, Ayah tetap mengambil risiko itu demi menghidupi anak-anak dan istrinya. Benar saja, beberapa minggu setelah ayah menjadi sopir, perilaku kekerasan pun kembali diterima Ayah dari pihak tentara.

Kali ini masalahya karena seorang tentara menuduh Ayah menabrak pacarnya. Padahal perempuan (pacar tentara) tersebut jatuh sendiri tepat di depan mobil yang dikendarai Ayah. Tentara itu pun mengamuk dan memukul punggung Ayah dengan gagang senjata. Tidak cukup itu, pipi Ayah juga dipukul dengan gagang senjata hingga Ayah tersungkur tak berdaya. Tentara itu juga mengancam Ayah agar tidak menceritakan kejadian itu ke siapa pun. Setelah itu, barulah Ayah dilepaskan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.

Tidak ada yang membela, di mata meraka Ayah salah karena menabrak pacar tentara. Meskipun tidak seperti itu kronologisnya dan walaupun ada saksi para penumpang Ayah yang melihat kejadian itu, mereka bisa berbuat apa? Hanya bisa bungkam seribu bahasa menyaksikan Ayah dihajar tentara.

Beberapa hari setelah kejadian itu, gigi ayah rontok satu per satu. Jangan tanya bagaimana rasa sakitnya, tapi ayah kembali lagi dengan aktivitasnya demi mencari rezeki. Terlebih saat itu kami sedang mengungsi, dan harus membayar sewa rumah sebagai tempat mengungsi membuat Ayah kuat, meskipun menyimpan rasa trauma. Ayah kembali menjalani aktivitasnnya sebagai sopir.

Di suatu hari, Ayah juga pernah terjebak dalambaku tembak antara tentara dan kombatan di Gunung Lokrukam, ketika hendak pergi ke tempat kerjanya mengambil mobil. Saat itu Ayah menggunakan sepeda motor. Ayah hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Allah agar selamat dari kontak senjata tersebut. Sambil menepi di antara mobil tentara, ayah terus melajukan motornya, tanpa memedulikan anak peluru berseliweran di atas kepala Ayah. Hingga akhirnya sampai ke kampung Air Pinang, Tapaktuan, Aceh Selatan, tepatnya di rumah toke Ayah. Orang-orang pada menangis melihat Ayah karena lolos dari maut. Meskipun Ayah selamat, ingatan mencekam berada di tengah kontak senjata, tentu tidak mudah dilupakan dalam sekejap mata.

Selain ayah dan kakek yang mengalami perlakuan kekerasan di masa konflik, juga ada guru sekolah saya. Kejadiannya itu menjelang damai Aceh di tahun 2004. Guru laki-laki yang mengajar pelajaran fiqih di sekolah saya, disandra di gunung oleh kombatan. Bahkan kami satu sekolah sempat membuat doa bersama untuk keselamatan sang guru. Qadarullah, guru tersebut akhirnya dibebasakan setelah kurang lebih satu bulan disandra dan membayar tebusan.

Selama guru tersebut disandra, selama itu pula mata pelajaran fikih di sekolah kosong karena tidak ada yang menggantikannya. Saya tidak tahu bagaimana perlakuan kombatan kepada dia selama itu. Namun, dari situ saya bisa menyimpulkan tidak mudah hidup sebagai seorang ayah di masa konflik Aceh.

Harapan ke Depan

Damai Aceh memang sudah 20 tahun berlangsung, tapi ingatan kelam tentang koflik Aceh masih melekat. Terutama bagi mereka yang pernah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan di masa itu. Tentunya kejadian lalu, jangan sampai terulang lagi pada anak cucu. Cukuplah mereka yang merasakan hidup dalam ketidaknyamanan.

Korban konflik pelanggara HAM berat seperti yang saya paparkan di awal tulisan, sudah barang tentu mendapatkan rekonsiliasi dan ganti rugi dari negara. Walaupun itu belum sepadan, tapi langkah baik pemerintah perlu kita apresiasi. Namun, tidak semua korban konflik Aceh terdata dengan baik, terlebih untuk kasus-kasus orang terdekat yang saya ceritakan di tulisan.

Harapan terbesar saya sebagai keluarga korban konflik Aceh, berharap ada pelayanan rehabilitasi mental dan kesehatan yang kompeten untuk masyarakat Aceh. Memang saat ini, masyarakat Aceh bisa berobat gratis ke pelayanan kesehatan. Namun, mutu pelayananannya masih jauh panggang dari api. Di tulisan ini saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar bagaimana mutu pelayanan kesehatan di Aceh. Cukup masyarakat kalangan bawah sajalah yang tahu karena mereka yang sering mengaksesnya.

Sedangkan para pejabat dan pengusaha yang punya uang, pasti memilih pelayanan kesehatan di negeri jiran ketika sakit. Menurut kacamata awam saya, kalaulah para petinggi daerah dan penguasa rupiah memilih pelayanan kesehatan yang ada di sini, dikarenakan memang kualitasnnya bagus, itulah yang diinginkan masyarakat korban konflik, mendapat pelayanan kesehatan yang sama tanpa membeda-bedakan kelas dan latar belakang. Semoga harapan itu kesampaian setelah 20 tahun Aceh DAMAI.[]

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Menulis Jurnalisme Warga yang diselenggarakan oleh Koalisi NGO HAM Aceh pada Juli 2025.