MINIMNYA dukungan anggaran untuk Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh (DPPPA) berdampak pada tidak optimalnya program-program yang dijalankan untuk isu-isu terkait perlindungan perempuan dan anak di Aceh.
Anggaran yang minim, menyebabkan DPPPA selama ini hanya bisa fokus pada program-program yang sifatnya penanganan kasus. Sedangkan program-program yang sifatnya pencegahan atau preventif belum bisa dioptimalkan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin masa depan perempuan dan anak di Aceh akan menjadi semakin suram dengan berbagai ancaman kekerasan yang mereka hadapi.
Mengingat, kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak di Aceh cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Modus-modus kekerasan dan kejahatan yang dilakukan terhadap perempuan dan anak juga semakin bervariasi.
Kekhawatiran tersebut mengemuka dalam focus group discussion yang dilaksanakan oleh Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) di hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh, Senin, 16 Juni 2025. FGD ini diikuti oleh lebih 20 peserta yang berasal dari perwakilan SKPA terkait, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan jurnalis. Hadir juga anggota Komisi V DPRA.
Koordinator MaTA, Alfian, menyampaikan bahwa FGD ini, di antaranya, bertujuan untuk merumuskan strategi yang efektif dan berkelanjutan dalam mengadvokasi isu-isu perlindungan perempuan dan anak di Aceh agar masuk dalam berbagai dokumen perencanaan daerah. Dokumen-dokumen tersebut, seperti rencana pembangunan jangka menengah (RPJM), rencana strategis (renstra), atau rencana kerja (renja).
“Sebagai langkah awal, MaTA telah menyusun laporan background study dan policy brief. Dokumen tersebut sudah kami serahkan kepada Bappeda dan juga DPRA pada bulan Mei lalu. Penyusunan dokumen ini telah dimulai sejak enam lalu, kami melakukan kajian dan penguatan data dari berbagai unsur masyarakat di enam kabupaten/kota di Aceh,” kata Alfian.
Selanjutnya, yang paling penting adalah mengawal agar apa yang telah dirumuskan dalam background study dan policy brief berjudul “Mendorong Transformasi Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan GEDSI untuk Pembangunan Berkeadilan” bisa masuk dalam RPJM yang rancangan awalnya per hari ini sudah diserahkan ke legislatif untuk tahapan selanjutnya.
“Oleh karena itu, FGD ini menjadi penting untuk kita berkoordinasi agar setiap elemen ini mengawal sesuai kapasitas masing-masing. Yang perlu kita garisbawahi bahwa isu ini adalah tanggung jawab semua orang, tidak bisa dipikul oleh DPPPA sendiri,” kata Alfian.
Secara rinci, background study tersebut berisikan 23 rekomendasi yang berkaitan dengan pencegahan, penanganan kasus, hingga rehabilitasi bagi korban kekerasan. Rekomendasi ini perlu diintegrasikan ke berbagai dokumen perencanaan pembangunan, khususnya dalam RPJMA 2025–2029 dan Rencana Strategis DPPPA.
Sementara itu, anggota Komisi V DPRA, Syarifah Nurul Carissa, menyatakan komitmennya dalam memperjuangkan isu-isu perlindungan perempuan dan anak di legislatif. Komisi V yang membidangi isu kesehatan, sosial, dan kesejahteraan saat ini memiliki tiga anggota legislatif perempuan. Dua lainnya, yaitu Martini dan Diana Putri Amelia. Komposisi ini menurutnya menjadi satu kekuatan tersendiri di parlemen.
Di antara upaya yang dilakukan pihaknya adalah bertemu dengan Deputi BPJS di Medan untuk membicarakan agar BPJS juga dapat menanggung biaya berobat bagi korban kekerasan dalam rumah tangga.
“Namun, kebijakan BPJS ternyata memang tidak bisa menanggung untuk KDRT. DPRA juga mencari solusi lain seperti berkoordinasi dengan baitul mal,” kata Syarifah.
Ia juga menyampaikan beberapa informasi terbaru terkait Raqan Perlindungan Perempuan dan Raqan Perlindungan Anak.
Untuk Raqan Perlindungan Perempuan sudah difasilitasi ke Kementerian Dalam Negri dan tinggal menunggu nomor untuk pengesahan menjadi qanun.
Adapun Raqan Perlindungan Anak masih perlu ditinjau ulang dan kemungkinan baru bisa masuk ke program legislasi tahun 2026.
“Kehadiran Qanun Perlindungan perempuan nantinya bisa menjawab sejumlah persoalan yang dirasakan oleh perempuan selama ini,” katanya.
Adapun perwakilan dari DPPPA, Isna, menyampaikan informasi terkini terkait perubahan nomenklatur dan penambahan bidang di DPPPA. Bidang-bidang tersebut meliputi Bidang Perlindungan Perempuan, Bidang Perlindungan Khusus Anak, dan Bidang Perencanaan Pengendalian Penduduk. Dengan perubahan ini diharapkan upaya-upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak bisa lebih terfokus.
Selain itu, beragam respons dan saran kritis juga disampaikan oleh tiap-tiap peserta.[]
Banda Aceh—Untuk mendorong kesadaran bersama tentang bahaya kekerasan seksual yang meningkat, Balai Syura Ureung Inong Aceh mengadakan Kajian Duha dengan tema “Tanggung Jawab Sosial Islam terkait Pencegahan Kekerasan Seksual di Aceh.” Kajian ini berlangsung di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, dan dihadiri oleh berbagai perwakilan lembaga perempuan Aceh, Jumat, 7 Maret 2025.
Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan Hari Perempuan Internasional (IWD) 2025 dan bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai implementasi nilai-nilai Islam dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di masyarakat.
Selain itu, juga membahas optimalisasi peran aktif masyarakat, khususnya perempuan Aceh, dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan.
Kajian ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Rasyidah, M.Ag. selaku Ketua Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh dan Masithah dari Fatayat NU Aceh.
Rasyidah mengatakan, kepedulian terhadap pencegahan dan penanganan kekerasan seksual merupakan kewajiban setiap individu. Pencegahan ini tidak cukup dengan doa, tetapi diperlukan aksi nyata.
“Dalam Islam, aksi nyata ini merupakan dakwah amar makruf nahi mungkar dan melaksanakannya menjadi jalan untuk mendapatkan predikat sebagai orang yang beruntung. Namun, di antara kita masih banyak yang lebih memilih diam dan abai daripada peduli dengan aksi nyata,” tegas Rasyidah.
Sebagai refleksi bersama, perlu dibangun kembali sistem pengawasan komunal terhadap anak-anak di masyarakat. Pada masa-masa sebelumnya, setiap individu merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan menegur anak-anak yang tidak berada di sekolah atau berperilaku menyimpang. Di Aceh konsep ini dikenal dengan istilah “pageu gampong” atau pagar kampung, yakni setiap anak dianggap sebagai bagian dari komunitas.
Ungkapan “anakmu, anakku, anak kita semua” menjadi hal yang lumrah di masa lalu. Namun, saat ini kepedulian sosial seperti ini kian menurun, seiring melemahnya fungsi sosial tokoh mayarakat.
“Situasi ini berkontribusi pada meningkatnya perilaku negatif di kalangan anak-anak, termasuk kekerasan seksual,” kata Rasyidah.
Senada dengan itu, Masithah menambahkan tentang pentingnya pengawasan orang tua terhadap akses pada teknologi digital oleh generasi muda, agar aktivitas di media sosial tetap positif. Di era ini, anak-anak dan remaja memiliki akses tak terbatas ke berbagai informasi dan konten melalui internet.
“Kecanggihan teknologi, jika tidak diimbangi pengawasan dan bimbingan yang tepat, dapat berdampak negatif, termasuk paparan konten pornografi, pelecehan seksual (cyber harassment), dan berbagai bentuk eksploitasi seksual lainnya.”
Para peserta kajian sepakat bahwa orang tua perlu meningkatkan literasi digital agar dapat memahami cara kerja teknologi dan melindungi anak-anak dari potensi bahaya di dunia maya.
Selain itu, fakta bahwa pelaku kekerasan seksual sering kali adalah orang yang dikenal korban, bahkan memiliki hubungan dekat seperti ayah, teman, atau keluarga menjadi keresahan besar. Hal ini menjadi tantangan serius dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual.
Masyarakat perlu lebih peka terhadap tanda-tanda potensi kekerasan seksual, terutama di lingkungan keluarga atau orang terdekat.
Korban sering kali takut atau malu melaporkan kejadian yang dialami, terutama jika pelaku memiliki otoritas. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang aman dan suportif sangat penting agar korban berani berbicara dan mencari bantuan.
Faizah dari Balai Syura Kota Banda Aceh turut berbagi pengalamannya tentang aksi nyata untuk penanganan kekerasan seksual. Menurutnya, sangat penting berstrategi dalam menjalankan aksi nyata ini. Sebagai tuha peut perempuan, Faizah menerima beberapa laporan kasus KS, dan jalur penangan yang diupayakannya melalui silent movement. Ini menjadi lebih aman menurutnya.
Efek jera bagi pelaku juga bagian yang hangat dalam Kajian Duha Balai Syura ini.
Salah satu peserta, Nur, dari pengajian komunitas Lam Duro menyampaikan kegelisahannya terkait efek jera yang kurang berefek untuk menjerakan pelaku. Cambuk, bahkan penjara masih sangat ringan menurutnya. Mestinya kata Nur bisa lebih berat lagi.
Peran perempuan Aceh saat ini sangat dibutuhkan dalam mencegah kasus kekerasan seksual. Selain itu, pengajian-pengajian perlu diaktifkan kembali sebagai wadah edukasi dan diskusi. Bersamaan dengan itu, organisasi terkait juga harus lebih aktif berkontribusi dalam upaya pencegahan dan penanganan kasus secara lebih strategis.[]
Dengan ucapan bismillah, sepanjang perjalanan pulang saya menetapkan tujuan ingin menuliskan sebahagian kenangan indah di tanah tempat saya dilahirkan, yaitu Gampong Namploh Blang Garang. Secara administrasi pemerintahan, saya menemukan informasi bahwa Gampong Namploh Blang Garang memiliki kode Kemendagri 11.11.01.2007. Kode ini menunjukkan bahwa gampong saya telah memiliki status administrasi pemerintahan yang jelas.
Gampong saya terletak di Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, dan berbatasan dengan beberapa desa lain, yaitu Gampong Kandang, Namploh Krueng, Gampong Putoh, dan Gampong Namploh Baro. Luas wilayahnya sekitar 1.234 km2 dengan jumlah penduduk berkisar 341 jiwa. Berulang kali ayah saya mengatakan, bahwa banyak janda di gampong kami dan sekaligus berperan sebagai kepala keluarga.
Pemberian nama dusun menggunakan nama tokoh yang memiliki karakteristik istimewa, bahkan salah satunya menjadi situs bersejarah dan dipercaya oleh banyak orang sebagai tempat keramat. Alhasil, setiap hari Senin dan Kamis ada orang yang datang ke kampung kami untuk peuglah kaoy atau melepaskan nazar. Mereka membawa ketan, ayam, bebek, kambing, bahkan sapi untuk dimasak di lokasi tersebut. Banyak juga yang datang dari jauh, bahkan beberapa seingat saya berasal dari Peureulak, Aceh Timur.
Semoga niat peuglah kaoy ini tidak melenceng dari aturan Allah. Peuglah kaoy ini juga memberi dampak ekonomi kepada masyarakat setempat dan juga memiliki dampak sosial lainnya karena warga dapat merasakan nikmatnya kuah kari kambing atau lembu yang juga dibagikan kepada masyarakat. Istilahnya yak theun kuah bak kubu.
Sedangkan dua dusun lagi, yaitu Dusun Tgk Tanoh Abee dan Dusun Tgk Di Pantee jug memiliki cerita dan sejarah luar biasa karena kedua tokoh tersebut adalah orang dengan pengetahuan yang baik dan suri teladan bagi masyarakat.
Mata Kehidupan Orang-orang di kampung saya memiliki profesi yang beragam. Ada yang berjualan, bertani, bergerak di sektor layanan jasa, dan juga menjadi pegawai pemerintah. Banyak juga yang merantau dan punya cerita sukses kendati ada juga yang sedih, juga ada yang bekerja sebagai buruh kasar. Maka, sangat wajar jika kemudian setiap saat muncul rasa rindu dalam diri saya untuk pulang kampung karena akan bertemu orang tua, sanak saudara, dan sahabat-sahabat baik. Kerinduan itu bertambah sempurna saat membayangkan bisa menyusuri lorong lorong atau jurong-jurong kecil yang tentunya penuh dengan kenangan manis.
Aneka juadah dan makanan tradisional yang dijual seperti bu guri, seupet, keukarah, hingga boh usen sudah berganti tangan peraciknya karena para miwa dan nyakwa yang dulu gesit sudah pada sepuh, bahkan beberapa sudah kembali ke akhirat.
Pada kepulangan kali ini di pertengahan Februari 2025, pagi-pagi sekali saya menyusuri satu lorong yang sebahagian jalannya sudah diaspal. Terlihatlah ada buhom (kompleks kuburan) salah satu keluarga tokoh di kampung kami yang di dalamnya penuh dengan tanaman cabai dan timun suri. Ini pasti dipersiapkan untuk Ramadan dan ternyata sudah mulai panen kecil. Rezeki saya bisa menikmati timun suri segar di pagi itu. Ada empat buah yang sudah tua dan bisa dipanen. Timun suri itu pun langsung dipetik dan berpindah ke tangah saya. Sebagai gantinya, saya menyodorkan uang Rp50 ribu. Begitu sampai di rumah, saya pecahkan es batu dan mencemplungkan ke dalam daging timun yang sudah dibersihkan, juga sedikit gula pasir. Rasanya nikmat luar biasa.
Perempuan Tangguh dan Berkarya
Selepas dari kebun timun suri, saya bertandang ke sebuah rumah dan terdengar aktivitas di dapur yang cukup ramai. Ternyata, ibu-ibu di dapur sedang mempersiapkan pesanan nasi goreng untuk acara penutupan pengajian TPA yang akan ditutup sementara untuk menghadapi Ramadan. Ibu yang punya rumah langsung keluar dengan sambutan yang sangat hangat. Itu salah satu ciri khas orang kampung, adat peumulia jamee sangat dijaga dan kemudian disusul oleh anak perempuannya yang notabene merupakan pemilik pohon anggur dan aneka tanaman lainnya seperti strobery dan bayam brazil yang tumbuh menghijau dan sangat subur.
Dari mulutnya yang munggil keluarlah cerita bagaimana anggur bisa berbuah lebat dengan aneka jenis. Ia bercerita bahwa tanaman anggur membutuhkan perawatan yang bagus. Harus konsisten merawatnya. Perlakuan ini sama juga dengan perjalanan sebuah rumah tangga, butuh dirawat dan diberi “pupuk”, serta perlu dipangkas atau dibuang cabang-cabang yang tidak diperlukan.
Ketika saya tanya apa motivasinya menanam, ibu muda ini menjawab selain karena hobi dan menjadi saluran yang menyenangkan untuk membuat hari-harinya menjadi lebih bahagia. Plusnya ada rupiah yang dapat diperoleh untuk mengisi dompet dan ikut mendukung keuangan rumah tangga.
Ayo, ibu-ibu dan mamak-mamak di mana pun berada, mari kita penuhi lahan perkarangan kita dengan tanaman yang bernilai. Karena selain kita dapat nilai (value), juga bisa meningkatkan posisi tawar kita (bargaining) dalam rumah tangga karena ada unsur kemandirian. Tentunya, alam pun menjadi lebih hijau dan sehat.
Kalau ekonomi kita sehat, rumah tangga menjadi lebih tangguh. Sebuah pembelajaran luar biasa, bukan?
Secara otomatis pula, melalui kegiatan berkebun di rumah, ibu-ibu sudah mendukung program kerja pemerintah terutama 10 program pokok PKK yang ketiga, yaitu pangan. Dalam hal pangan, PKK menggalakkan penyuluhan untuk pemanfaatan pekarangan, antara lain, dengan menanam tanaman yang bermanfaat, seperti sayuran, umbi-umbian, buah-buahan, dan bumbu-bumbuan. Bahkan juga dianjurkan memelihara unggas dan ikan serta cara pemeliharaannya di lahan pekarangan mereka sendiri. Hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga. Selebihnya dapat dijual untuk menambah pendapatan keluarga dan meningkatkan penganekaragaman pangan lokal.
Berbicara soal pangan lokal tentu lebih sehat, lebih murah, dan terjamin kualitasnya. Hanya saja, ketika disajikan atau diolah butuh sedikit kreativitas karena generasi sekarang, yakni Gen-Z atau Gen Alpha tentu beda dengan generasi terdahulu para Baby Boomer. Generasi muda sekarang punya kecenderungan mengonsumsi makanan yang tentu berbeda seleranya dengan generasi-generasi sebelumnya. Umumnya suka yang instan dan terkadang mengabaikan kualitas gizi makanan yang dikonsumsi tersebut. Hal ini menjadi tantangan dan PR bagi para orang tua agar pangan lokal dapat diolah dan disajikan secara menarik. Juga, perlu membangun kebiasaan positif dalam mengonsumsi makanan agar real food lebih disukai ketimbang junk food.
Sehat Itu Mahal Seseorang bisa sehat tentu dipengaruhi oleh banyak faktor. Beberapa orang yang saya jumpai di kampung terlihat masih bugar kendati usianya lebih tua dari saya. Menurut mereka, makan secukupnya, tetapi tetap berimbang adalah kuncinya. Artinya, dalam setiap makanan yang dikonsumsi ada karbohidrat, protein, dan sayur rebus sudah cukup. Sedangkan untuk asupan buah pada umumnya mereka makan pisang atau buah pepaya. Seringnya, buah pepaya atau boh peutek ini juga melengkapi manisnya kuah reuboh yang menjadi konsumsi hari-hari para miwa atau nyakwa.
Orang tua di kampung, terutama di era nenek saya dan juga secara umum berlaku sampai sekarang, mendapat asupan vitamin D berupa sinar matahari yang cukup. Mereka mendapatkan vitamin D saat beraktivitas di sawah, kebun, atau di pekarangan rumah. Hingga usia senja chik (nenek) saya memiliki pola hidup yang sangat teratur, termasuk kebutuhan berjemur dibarengi culek bak naleung atau mencabut rumput dengan menggunakan pisau. Masyaallah, orang kampung hidup dengan keberterimaan diri sepenuhnya bahwa apa pun yang dijalani adalah bagian dari ketentuan Allah. Mereka bangun lebih cepat dan juga tidur lebih cepat. Namun, tampaknya budaya itu sekarang sudah bergeser. Di rumah-rumah tampak belum ada aktivitas kendatipun matahari sudah mulai tinggi. Mungkin karena sang empunya tidur terlalu larut sehingga kesulitan beraktivitas di pagi hari.
Gampong Sudah Berubah Suasana gampong semasa saya kecil jauh lebih asri dan hijau. Datangnya banjir yang hampir setiap tahun justru membuat tanah tanah menjadi lebih subur. Hingga awal tahun ’90-an, kampung saya masih banyak pohon durian, termasuk di kebun tanjong milik keluarga kami. Jika cerita enak dan puasnya makan durian, masa-masa itu sudah pernah saya lewati. Ada jenis boh drien mee, kecil buahnya tapi rasanya legit. Ada jenis durian berbuah besar, yang dalam satu batang mungkin hanya ada beberapa buah saja, tapi kalau jatuh suaranya seperti bom meletus saking kerasnya suara gedebum. Suaranya sampai ke rumah kami yang berselang beberapa jauh dari Tanjong.
Ada aneka ragam jenis durian lainnya yang memang sungguh nikmat dan memang buah surga ini bikin ter-hawa-hawa atau kepingin. Semua itu tinggal kenangan. Kebun Tanjong saat ini telah bersalin rupa menjadi pusat peradaban dengan berdirinya Dayah MUDI Mesra 2 sebagai sebuah harapan baru bagi para fisabillah. Juga harapan menjadi pusat pendidikan agama yang terintgerasi memberi kesejahteraan kepada warga kampung saya.
Hal lainnya yang menggelisahkan saya adalah kondisi air sungai yang keruh dan menyusut karena buangan sampah, limbah rumah tangga, ataupun dampak dari galian C. Anak-anak sekarang pasti tak senyaman saat kami kecil dulu ketika mandi berjam-jam di sungai. Pada musim tertentu, kami masih bisa mencari pempeng/lokan atau kerang sungai karena sungai masih memiliki pantee atau pantai.
Saya berharap akan ada kebijakan pengelolaan sampah, apalagi buangan got rumah tangga tidak turun ke sungai karena sungai bisa rusak dan ketika sungai rusak maka rusak juga peradaban.
Pemimpin Muda Dalam beberapa tahun terakhir, pimpinan gampong atau keuchik sudah berasal dari kalangan anak muda. Salut saya atas keberanian mereka memimpin roda pemerintahan yang tentu tidaklah mudah dan banyak tantangannya. Beberapa program yang mereka jalankan juga memberi dampak dan perhatian langsung kepada kelompok rentan, seperti anak yatim, ada usaha berkelanjutan, dan daging meugang tidak perlu beli karena gampong menyediakannya secara gratis. Masyarakat yang berkurban pun selalu ada karena dibuat sistem julo-julo.
Saya mencintai gampong saya karena saya percaya itu adalah sebagian dari iman. Saya juga berharap, jika ada beberapa anak putus sekolah dapat dicegah dengan sistem subsidi silang atau bentuk pemberdayaan lainya. Karena putus sekolah akan berdampak buruk, apalagi buat anak perempuan yang bisa menyebabkan mereka menikah di usia anak. Mata rantai kemiskinan tidak akan putus bila angka putus sekolah tinggi dan sejumlah dampak lainnya termasuk harus bekerja di usia anak.
Semoga gampong halaman saya terus berbenah dan warganya hidup sejahtera dan bahagia. Dengan demikian, tamsilan Blang Garang yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti Sawah Gembira benar adanya.[]
Penulis adalah Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Aceh
Setelah menamatkan dua buku Seri Pangan Nusantara yang ditulis oleh Ahmad Arif, yakni Sorgum Benih Leluhur untuk Masa Depan dan Sagu Papua untuk Dunia, saya jadi bernostalgia ke masa lalu. Pada masa-masa di tahun ‘90-an saat saya berusia sekolah dasar dan orang tua saya yang berprofesi sebagai petani tinggal di sebuah perkampungan di Aceh Timur.
Seperti yang pernah saya kisahkan pada tulisan-tulisan terdahulu, kampung masa kecil saya itu konturnya berbukit-bukit. Masyarakatnya bertahan hidup dari bertani dan berkebun. Aneka palawija, seperti cabai, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, hingga sayur-sayuran menjadi tumpuan hidup warga di fase-fase awal. Pada fase berikutnya mereka mulai berkebun, utamanya menanam kakao (cokelat) dan kelapa. Pada fase berikutnya, perkampungan ini justru “lenyap” akibat terjadinya konflik sosial. Pada masa-masa sebelum konflik terjadi, tinggal di perkampungan itu sangat membahagiakan. Kebutuhan akan pangan, sebagaimana yang menjadi konteks dari tulisan ini nantinya, sangat mudah didapat.
Pada masa-masa itu, di awal-awal tahun ‘90-an, selain untuk bersekolah, nyaris seluruh waktu saya habis di ladang atau di kebun. Ibu sering mengajak saya dan adik pergi ke ladang. Kalau hari Minggu, bisa dipastikan seharian kami bakal berada di ladang. Belakangan, setelah ayah fokus menggalas, ia jadi jarang ke ladang.
Meski hidup dan tumbuh dalam kondisi yang serbaterbatas, tetapi jiwa kanak-kanak saya sangat bahagia. Terbatas yang saya maksud di sini adalah prasarana dan sarana pembangunan. Misalnya, pada masa itu jalan utama di kampung kami belum beraspal, bahkan sampai sekarang pun belum. Listrik baru masuk sekitar tahun ‘97, saat saya sudah hijrah ke kota untuk melanjutkan pendidikan SLTP. Air bersih juga sangat susah karena terbatasnya sumber-sumber mata air. Parit-parit atau sumur baru melimpah air ketika musim hujan tiba. Kami terbiasa mandi dengan air yang sangat terbatas, yang kami ciduk sedikit demi sedikit di ceruk-ceruk parit atau sumur. Di musim kemarau, di dasar sumur yang airnya sedikit itu, terkadang tampak hitam oleh kecebong. Saat cidukan air kami siram ke badan, tak jarang kecebong-kecebong itu ikut mendarat. Namun, hal-hal semacam itu tak sekali pun menjadi keluhan kami.
Lingkungan tempat kami tinggal sangat kondusif. Dengan teman-teman sebaya semuanya sangat kompak. Kami, anak-anak di dusun itu, terbiasa mencari kayu bakar bersama di kebun-kebun kelapa; main rumah-rumahan; atau menggembala ternak. Kami pergi dan pulang sekolah bersama-sama, juga sering mengerjakan tugas sekolah bersama; malamnya mengaji dan hampir selalu diwarnai dengan bermain petak umpet. Belum semua rumah mempunyai televisi sehingga aktivitas bermain bersama lebih disukai anak-anak, alih-alih mengurung diri di rumah. Rumah warga yang punya televisi itu pada malam harinya sering ramai. Para tetangga yang tak punya barang “mewah” itu di rumahnya, ke sanalah mereka menikmati hiburan di malam hari.
Saya dan anak-anak lainnya di kampung sangat akrab dengan ladang. Berada di ladang sangat menyenangkan. Satu kebanggaan tersendiri bagi saya kalau punya baju “kerja”, yakni baju yang hanya dipakai khusus untuk ke ladang. Jadi, kalaupun kotor tak masalah. Justru kalau semakin kotor bisa menjadi indikator tingkat kerajinan. Jika saya ingat-ingat lagi sekarang, ladang-ladang dan kebun milik orang tua kami dulu adalah laboratorium besar yang sangat luar biasa. Di ladang itu kami bisa bermain tanah tanpa perlu takut kotor.
Lebih dari itu, kami bisa mengenali aneka jenis tanah: mana tanah yang subur, mana tanah yang tandus; mana tanah liat, mana tanah humus. Saat berada di ladang atau kebun, otot-otot kami terlatih untuk menjadi lebih kuat. Fungsi motorik kami berkembang dengan alami. Kami terbiasa berjalan di atas permukaan tanah yang licin selepas hujan. Biasa juga berjalan menanjak di kebun-kebun kakao dengan beban berat di kepala karena menyunggi hasil panen. Bergelantungan di pohon atau main perosotan dari ketinggian bukit benar-benar menguji nyali.
Begitu juga fungsi sensorik. Pancaindra kami terbiasa mengolah atau menerima informasi yang bersumber dari alam. Misalnya, ketika sedang bermain di hutan, kami bisa mendeteksi apakah ada ancaman atau tidak “hanya” dari mendengar suara anjing menggonggong di kejauhan. Kalau suaranya intens, itu berarti sedang ada warga yang memburu babi. Babi rusak adalah ancaman kalau kita berada di hutan.
Dengan ikut bekerja membantu orang tua di ladang, seperti membersihkan gulma pada tanaman atau saat memanen cabai dan kakao, kami bisa belajar mengenai morfologi tumbuhan. Bagaimana bentuk bunga tanaman, kapan putik bunga berubah menjadi bakal buah, hingga kapan waktunya panen. Bahkan kami bisa menakar beratnya dari wadah yang digunakan. Pelajaran matematika bisa dipelajari secara alami dan (sebenarnya) sangat mudah dan menyenangkan. Dari satu ember biji kakao basah yang dipanen sudah bisa dikira-kira berapa uang yang dihasilkan nanti. Bonus berladang adalah bisa melihat aneka binatang, seperti ragam jenis semut, burung, tupai, monyet, dan babi hutan. Saya juga pernah melihat trenggiling melintas.
Pernah tinggal di desa adalah salah satu hal yang sangat saya syukuri dan saya rindukan saat ini. Terutama tentang adanya pemahaman bahwa alam sangat pemurah kepada manusia. Alam menyediakan banyak kebutuhan manusia, terutama soal kebutuhan pangan. Menurut hemat saya, sekalipun hidup tak bergelimang harta, tetapi jika kebutuhan pangan tercukupi, maka kita tak perlu merasakan kesengsaraan. Di kampung kami, sumber pangan, khususnya sayur-sayuran sangat melimpah.
Saya akan mencoba mengingat-ingat kembali sayuran apa saja yang dengan mudahnya kami peroleh pada saat itu. Kangkung dan pakis adalah dua sejoli yang sangat mudah didapat. Dua jenis sayuran ini sama-sama membutuhkan tempat yang lembab (basah) untuk bertumbuh. Pakis banyak tumbuh di pinggir pinggir parit atau di kebun-kebun kelapa/cokelat yang teduh. Kangkung banyak tumbuh di parit-parit tak bertuan yang dapat kami petik dengan gratis.
Pernah suatu kali kami beramai-ramai pergi memetik kangkung di parit besar. Masing-masing kami membawa pulang kangkung air satu kantong plastik besar. Kangkung air beda dengan kangkung tajuk/tanam. Kangkung air memiliki daun dan batangnya besar-besar. Tekstur batangnya lebih renyah. Saat dipetik atau dipitili muncul suara ‘tup-tup’ karena efek suara angin yang terkurung di dalam rongga batang. Ketika ditumis atau dilemak sangat enak.
Di antara bedeng-bedeng cabai, mudah sekali menemukan sintrong atau daun meranti. Ini sebenarnya jenis gulma, tetapi enak dijadikan sayuran. Sintrong memiliki aroma yang tajam, tetapi ketika diurap atau ditumis dengan campuran sayuran lain, aroma menyengat daun sintrong justru menjadi penggugah selera. Bayam rusa yang daunnya lebar-lebar juga tumbuh dengan sendirinya. Begitu juga dengan bayam ek itek atau bayam liar yang juga masuk dalam kategori gulma, tetapi bisa disayur. Ada juga sawi hutan yang warnanya hijau pekat dan bunganya kuning. Tomat bunga tumbuh dengan buah yang sangat lebat. Saat berada di kebun, kami sering merambat sayuran hutan seperti sawi hutan, meranti, sintrong, bayam, dan pucuk gambutan (rambot bue) alias markisa hutan untuk disayur campur. Nantinya dimakan dengan lalapan terasi atau sambal kelapa. Dengan lauk ikan asin, duh, nikmatnya.
Kalau daun ubi jangan ditanya. Terkadang tumbuh sendiri di semak-semak. Daun ubi karet pun bisa dimakan karena pucuknya muda-muda. Begitu juga dengan pucuk labu tanah yang sering tumbuh di belakang rumah atau di dekat dekat kandang lembu atau di semak-semak kebun kelapa. Pisang monyet mudah sekali didapat, tumbuh di dekat-dekat parit. Batang dalamnya enak sekali disayur. Buahnya yang seukuran jari-jari tangan, meskipun penuh dengan biji, tetapi memiliki rasa asam-asam buah yang segar.
Kalau perlu jantung pisang tinggal petik saja. Begitu juga kalau kepingin memasak gulai pisang muda, tak perlu kelimpungan mencarinya. Di semak-semak, pohon rimbang tumbuh sebagaimana pohon hutan lainnya. Siapa saja bebas memetik. Di semak-semak itu pula tumbuh petai cina yang bijinya enak dibuat oblok-oblok atau botok, jenis lauk yang dibuat dari olahan biji petai dengan campuran kelapa parut.
Pohon terong, gambas, labu, kecipir, atau kacang panjang yang ditanam di ladang buahnya melimpah saking suburnya tanah. Ada juga daun kelor yang meskipun bukan konsumsi utama, tetapi ada di sekitar rumah. Buah-buahan hutan, seperti seri, cimpluan, dan markisah hutan menjadi favorit untuk diburu.
Bunga atau bonggol pepaya bukanlah sayur mahal seperti sekarang. Buah pepaya mengkal pun bisa ditumis atau dijadikan campuran kuah pliek. Bisa juga dimasak kuah lada yang segar. Ketika pohon nangka yang ada di kebun coklat berbuah, juga bisa dimasak untuk melengkapi variasi hidangan di dapur. Semua itu tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk membelinya. Sayur-sayur yang dibeli hanyalah sayur-sayuran yang tak tumbuh di tempat kami, seperti kol, wortel, atau kentang dan sangat jarang dibeli.
Kebutuhan dapur yang perlu dibeli hanya perbawangan, minyak, gula-garam, beras, atau rempah-rempah. Kalau ikan, karena kampung kami yang jauh dari pesisir, lebih sering mengandalkan ikan-ikan kering, seperti teri, kepah, sarden, telur, atau ikan asin. Saya hampir tak pernah mendengar ibu mengeluh karena tak tahu hendak menyayur apa.
Membayangkan kembali secuil masa lalu tersebut saja rasanya sudah bikin saya kenyang. Namun, saat melihat bahwa kampung itu sekarang sudah bersalin rupa menjadi areal perkebunan sawit, alam yang murah itu pun menjadi “mahal”. []
DUA buku karya wartawan Kompas, Ahmad Arif, masing-masing berjudul Sorgum Benih Leluhur untuk Masa Depan dan Sagu Papua untuk Dunia yang menjadi bagian dari buku Seri Pangan Nusantara akhirnya selesai saya baca. Buku ini saya beli menjelang akhir tahun 2023 saat Ahmad Arif datang ke Banda Aceh untuk mengisi pelatihan yang diinisiasi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh bersama Wild Conservation Society (WCS). Buku pertama selesai saya baca di awal tahun 2024, sedangkan buku kedua menjadi buku pertama yang saya tuntaskan di tahun 2025 ini. Isi buku ini ibarat hidangan yang terbuat dari sorgum dan sagu; mengonsumsinya bikin kenyang dan sehat.
Judul: Sagu Papua untuk Dunia Pengarang: Ahmad Arif Bahasa: Bahasa Indonesia Genre: Humaniora Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia X ANJ Tahun : 2019 Halaman: 208 (cetakan ke-2) ISBN: 978-602-481-199-0
Karena buku terakhir yang saya tuntaskan adalah Sagu Papua untuk Dunia, maka resensi ini lebih menitikberatkan pada isi buku tersebut. Meski demikian, muatan, substansi, dan alur penceritaan kedua buku ini sama, yakni sama-sama mengulas tentang masing-masing komoditas pangan yang (pernah) menjadi sumber konsumsi utama masyarakat di wilayah timur Indonesia tersebut. Inti persoalannya memiliki irisan yang sama, yaitu terpinggirkannya (termarginalkan) komoditas pangan lokal akibat invasi beras. Alih-alih membuat Indonesia mandiri pangan, kebijakan pemerintah yang seragam pada akhirnya justru (akan) menjadi penyebab krisis pangan di Indonesia.
Buku ini terdiri dari atas lima bab: Tanah Asal Sagu (Bab 1); Sagu Adalah Ibu (Bab 2); Lapar di Kampung Sagu (Bab 3); Sumber Pangan Masa Depan (Bab 4); dan Sagu Papua untuk Dunia (Bab 5). Penulisannya diawali dengan prolog berisi cuplikan pidato Presiden Sukarno pada tahun 1952 yang berisikan kegelisahan Presiden tentang ketergantungan pangan Indonesia pada negara lain. Pada masa itu, pemerintah menggelontorkan uang setiap tahunnya hingga 150 juta dolar untuk mengimpor beras. Sukarno menyadari betul bahwa kemandirian suatu negara sangat dipengaruhi oleh kedaulatan pangan. Oleh sebab itu, Sukarno bilang, “Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa; apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka ‘malapetaka’. Oleh karena itu, perlu usaha besar-besaran, radikal, dan revolusioner.”
Ironisnya, meskipun cita-cita akan kedaulatan pangan telah digaungkan sejak era Orde Lama, nyatanya sampai kini Indonesia belum mandiri pangan. Fakta miris lainnya, beberapa komoditas pangan lokal justru semakin terpinggirkan dan dianggap sebagai sumber pangan kelas dua seperti yang dialami sorgum dan sagu. Program-program yang dibuat pemerintah untuk swasembada pangan justru tidak berbasis pada potensi sumber daya pangan lokal. Seiring dengan seragamnya pola konsumsi beras dari Aceh hingga Papua, aneka pangan lain yang menjadi sumber karbohidrat seperti ubi, talas, atau ketela tak lagi dianggap sebagai sumber pangan pokok. Kehadirannya hanya sebatas pelengkap atau camilan. Selaras dengan itu pula, penderita penyakit-penyakit degeneratif yang dulu tak begitu dikenal oleh masyarakat kini semakin akrab di telinga kita. Efek dari mengonsumsi beras (nasi) yang tinggi kadar glikemik atau mengonsumsi terigu yang tinggi gluten.
Indonesia adalah negara kepulauan yang terbentang di sepanjang garis khatulistiwa dari Aceh hingga Papua. Kultur masyarakatnya yang agraris ditambah kondisi maritimnya telah menciptakan sistem budaya yang sangat-sangat beragam. Setiap daerah memiliki ciri khas atau keunikan masing-masing yang menjadi bagian dari identitas budayanya. Misalnya, antara satu provinsi dengan provinsi lain dapat dipastikan jenis makanan dan pola konsumsinya beragam. Bahkan antarwilayah di dalam satu provinsi saja tidak tertutup kemungkinan memiliki variasi kuliner yang sangat beragam.
Di Aceh misalnya, selain menjadikan beras sebagai makanan pokok, masyarakatnya juga sangat tergantung pada sumber protein hewani karena hasil lautnya yang melimpah. Lidah masyarakat Aceh sangat akrab dengan ikan sehingga tak mengherankan jika “sayurnya” orang Aceh adalah aneka lauk olahan ikan. Hidangan tempe atau tahu bagi masyarakat Aceh hanya pelengkap, bukan menu atau sumber protein utama. Itu sebab, hanya menyajikan menu tempe atau tahu kepada orang Aceh bisa dianggap “pelit”. Dalam berbagai upacara adat, menu-menu yang bersumber dari olahan protein hewani selalu menduduki “kasta” tertinggi.
Sementara di Jawa, (dulu) masyarakatnya terbiasa mengolah ubi kayu menjadi tiwul atau nasi jagung. Demikian pula di Indonesia timur yang pada awalnya tidak menjadikan beras sebagai konsumsi utama, tetapi mengonsumsi sagu yang diolah menjadi papeda atau berbagai variasi olahan sorgum. Namun, entah mengapa dan entah sejak kapan, orang-orang yang mengonsumsi tiwul, nasi jagung, atau talas dan pisang sebagai pengganti nasi identik dengan kemiskinan.
Ibu saya yang masa kecilnya dihabiskan di pelosok Aceh Tamiang di sekitar daerah perkebunan sering mengaitkan kemiskinan warga pada masa itu dengan “terpaksa” makan nasi jagung atau ubi karena tak sanggup membeli beras. Harga beras mahal, terutama di musim-musim paceklik. Bagi mereka yang bekerja di perkebunan karet, jatah beras yang mereka peroleh dari perkebunan juga tak mencukupi. Maka, nenek saya yang rajin pun menanam aneka jenis tanaman di sekitar rumahnya untuk “mengakali” agar tidak kelaparan ketika musim paceklik tiba. Aneka jenis pisang, aneka jenis tebu, pepaya, ubi, tumbuh subur di pekarangan rumahnya.
Gejala yang sama juga terjadi di Papua, generasi mudanya kini tak lagi mengenal dan mau mengonsumsi sagu. Pelan-pelan masyarakat Papua mengalami ketergantungan pada beras melalui program-program pembagian beras raskin oleh pemerintah yang diseragamkan dari Aceh hingga Papua. Padahal, Papua adalah surganya sagu karena beraneka jenis varietas sagu tumbuh di sana. Bukan hanya itu, daerah ini juga memiliki potensi cadangan sagu yang luar biasa. (hal. 16; 37)
Selain sebagai bahan baku pangan, sagu di Papua juga menjadi bagian dari unsur budaya yang lekat. Adat istiadat masyarakat Papua menjadikan sagu sebagai “ibu” yang mengikat mereka sejak lahir hingga mati. Namun, mencermati apa yang dinarasikan di dalam buku ini, ketika konsumsi sagu mulai ditinggalkan, ancaman krisis pangan semakin menghantui masyarakat Papua. Lebih ironisnya lagi, gizi buruk dialami oleh anak-anak Papua seperti yang terjadi di Kabupaten Asmat, di tempat yang justru tanaman sagu tumbuh dengan subur. Sementara rantai pasoknya juga telah didominasi oleh para pendatang. Lama kelamaan identitas Papua yang identik dengan papeda (sagu) pun semakin luntur. Tergerus oleh “modernisasi” yang terjadi karena pergeseran pola konsumsi.
Alih fungsi lahan besar-besaran juga terus menggeser pertumbuhan sagu yang selama ini tumbuh di lahan-lahan berawa yang memiliki genangan air. Kondisi ini bertolak belakang dengan semangat pemerintah yang terus menciptakan program-program semacam cetak sawah baru untuk menopang produksi pangan di Indonesia. Namun, justru menghilangkan lahan-lahan pangan yang sudah ada. Dibandingkan padi, tanaman sagu lebih banyak memiliki keunggulan. Secara geografis, sagu lebih mudah tumbuh di tanah Papua yang konturnya berupa pegunungan dan banyak terdapat rawa, tidak mengharuskan di hamparan yang datar. Dari segi waktu, menanam padi lebih boros waktu dan membutuhkan perawatan yang intens. Belum lagi, penggunaan pupuk pada padi yang dapat menjadi kontaminan bagi ekosistem. Dalam konteks lingkungan, menanam sagu selaras dengan cita-cita besar mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan. Konon lagi jika mengonversi lahan sagu menjadi tanaman monokultur seperti sawit, jelas-jelas ibarat menabur angin untuk nantinya menuai badai di masa depan. (hal. 129)
Di Aceh sagu juga nyaris punah. Tanaman tersebut di Aceh disebut dengan istilah bak sage atau bak meuria (rumbia). Beberapa orang yang saya tanyai tentang pohon sagu mengaku bingung apakah sagu dan rumbia sama? Bahkan ada yang tak dapat membayangkan bagaimana yang disebut dengan bak sage atau sagu. Di Aceh, salah satu daerah yang pernah sangat terkenal dengan sagunya adalah Kabupaten Aceh Barat. Sekitar dua dekade silam, teman kuliah saya yang berasal dari Aceh Barat masih menjadikan boh meuria teupeujruek atau asinan buah rumbia sebagai buah tangan ketika balik ke Banda Aceh setelah mudik. Namun, kini asinan rumbia seolah menjadi legenda.
Di Kabupaten Pidie, sari pati sagu diolah menjadi beureune sage atau sagu kering yang jika diolah menjadi bubur atau lepat sagu rasanya sangat nikmat–selain mengenyangkan. Almarhumah nenek buyut saya pernah menjadikan rumbia sebagai salah satu penopang hidupnya. Ia memiliki sepetak kebun rumbia yang daunnya bisa dipanen untuk dijadikan atap. Adapun batangnya, ketika sudah masa panen, bisa diparut dan dijual untuk dijadikan pakan unggas atau diolah untuk diambil sari patinya menjadi tepung. Dua dekade berlalu, kebun-kebun rumbia yang biasanya banyak tumbuh di dekat sumber-sumber air atau di rawa di tengah sawah mulai menghilang. Berganti dengan kompleks-kompleks perumahan atau ditebang karena merasa tak memiliki manfaat.
Salah satu ciri khas rumoh Aceh yang ikonik adalah menjadikan daun rumbia sebagai atapnya. Jalinan atap daun rumbia yang rapat tidak saja menjadikan suasana di dalam rumah menjadi sejuk, tetapi juga awet hingga puluhan tahun.
Melalui Sagu Papua untuk Dunia pandangan dan wawasan kita terbuka dan tersadar bahwa hilangnya satu per satu batang sagu (khususnya) di Papua bukan semata-mata karena kurangnya edukasi masyarakat, melainkan ada peran politis yang secara sengaja atau tidak, disadari atau tidak, telah meminggirkan sagu sebagai pangan pokok masyarakat Papua. Pemberian izin terhadap alih fungsi lahan dan penyeragaman beras sebagai komoditas bantuan beras miskin (raskin), ditambah kebijakan-kebijakan yang pro pada produk-produk pangan impor hanya segelintir contoh kebijakan keliru yang berakibat fatal. Kita tentu tak ingin kebijakan-kebijakan seperti itu terus menjadi momok bagi masa depan pangan Indonesia.
Terlepas dari muatannya yang sangat bergizi, buku ini juga sangat eye catching dari segi tampilan. Baik Sorgum ataupun Sagu keduanya memiliki sampul yang sederhana, tetapi kuat dan sarat makna. Warnanya soft dan memikat. Desainnya full colour dan dilengkapi dengan foto-foto jepretan Ahmad Arif yang sangat “bercerita”. Antarbab dipisahkan dengan ilustrasi yang menarik. Jarak antarbaris dan ukuran maupun jenis huruf juga sangat nyaman di mata. Bagi pembaca Kompas, tentu akrab dengan nama Ahmad Arif. Maka, siapa yang meragukan hasil karya tulisnya?[]
Saat itu, aku enggak berniat menjadi direktur. Tapi aku berniat memahami kondisi dan persepsi setiap anggota tim.
Khalida Zia menguak kembali memori silamnya saat ditanyakan sejarahnya terpilih untuk pertama kali sebagai Direktur Eksekutif The Leader, sebuah organisasi kepemudaan berbasis di Banda Aceh, Indonesia. Laksana plot twists cerita jenaka di layar kaca, Zia berkisah tentang keunikan prosesi pemilihannya sebagai perempuan pemimpin empat tahun silam.
“Aku sempat kaget. Sebab awalnya aku datang kan bukan sebagai calon. Tiba-tiba diajukan tim untuk masuk daftar kandidat dan menang voting,” tutur Zia kocak dibarengi tawa khasnya.
Sarjana Sosiologi Universitas Syiah Kuala ini merasa bahwa sudah sejak lama dia memiliki kepekaan terhadap orang-orang di lingkungan sosialnya, tetapi saat itu dia belum merasa perlu untuk mengambil peran. Namun, semenjak bergabung di The Leader, Zia berkesempatan untuk bertemu dengan beragam jenis manusia yang unik. Dia menghabiskan waktu duduk dan mendengarkan obrolan baru yang tidak sepenuhnya dia mengerti, tetapi berusaha dia pahami. Keluar dari zona nyaman anak rumahan untuk lebih sering ‘ngopi’ membahas beragam topik yang mengasah kepekaan hati.
Hingga akhirnya, perempuan Aceh kelahiran Pante Gajah, Bireuen, ini mengambil langkah konkret untuk secara langsung bertukar sapa terkait kondisi dan persepsi setiap anggota The Leader. Perlahan tapi pasti, Zia melakukan janji temu untuk ngobrol dari hati ke hati dengan para anggota tim.
“Aku cuma tanya, ‘Apa yang kamu rasakan sekarang terhadap organisasi kita?’ Dari situ obrolannya menjadi panjang dan mendalam,” papar Zia dalam usahanya memahami situasi dan dinamika The Leader di awal kepemimpinannya.
Dia menilai pertemuan secara personal memberikan setiap orang kesempatan untuk menjadi asli dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka dibanding pertemuan secara berkelompok.
Dia itu effort! Melakukan personal approach sama semua anggota. Secara internal sekarang kita jadinya bagus banget,
jelas Ratu, salah seorang anggota The Leader Generasi 4.
Ratu menimpali bahwa setiap direktur The Leader punya kekuatan dan keunikan masing-masing, termasuk di masa kepemimpinan Khalida Zia. Menurutnya, leadership ala Zia terbukti berhasil merekatkan dan mengajak berbagai individu di The Leader untuk saling bekerja sama dan merasa nyaman satu sama lain. Pencapaian tersebut, menurutnya, patut diapresiasi.
Komentar serupa juga datang dari Rima, anggota The Leader Generasi 3. Dia menilai Zia memiliki kemampuan untuk merangkul setiap anggota dengan pendekatan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan pribadi anggota masing-masing. Rima merasa kehadiran Zia sebagai pemimpin berhasil menghadirkan kembali perasaan nyaman yang dulu sempat pudar.
“Salah satu hal yang paling saya kagumi dari kepemimpinan Zia adalah rasa percaya yang dia tanamkan kepada timnya dalam menjalankan tugas-tugas. Dia percaya pada setiap kemampuan individu dengan tetap memberikan arahan dan pengawasan yang dirasa perlu,” ungkap Rima.
Pemilihan Khaliza Zia sebagai Direktur Eksekutif The Leader pada tahun 2020 yang terkesan insidental itu pada dasarnya punya akar penyebab yang cukup kuat. Keinginannya untuk memahami keunikan dan potensi setiap individu di dalam organisasi dengan cara mendatangi dan berbincang dari hati ke hati tanpa disadari telah membangun ikatan kepercayaan (trust) setiap anggota terhadap Zia.
“Aku adalah orang yang senang belajar dengan tekun. Ketika diberi kesempatan melakukan hal baik, aku akan dengan senang hati mencobanya,” jelas Zia atas tanya mengapa tak menolak kesempatan kepemimpinan yang cukup mendadak tersebut.
Perempuan yang kerap terlibat sebagai peneliti lapangan bidang ilmu sosial dan budaya ini mengaku kesempatan berharga tersebut digunakannya untuk belajar lebih banyak hal tentang leadership; dari memahami masalah organisasi, merancang alur kepemimpinan, mengumpulkan tawaran solusi, bahkan membentuk tim untuk berbagi peran.
Aku merasa dengan melihat lebih dalam, kita jadi tahu potensi sebenarnya dari setiap orang,
ungkap Zia.
Menurutnya, kebanyakan orang cenderung bekerja hanya dengan orang-orang yang membuat mereka merasa nyaman. Namun, Zia melakukan hal sebaliknya. Dia cenderung lebih suka membuat orang-orang tersebut merasa nyaman bekerja sama dengannya walau pun di awal mungkin tidak terlalu cocok.
“Ketika aku merasa dia bisa tetapi orang-orang tidak percaya, aku semakin tertantang untuk membuktikan. Saat tim terbentuk, semua belajar kembali dari nol.”
Zia mengaku bahwa di awal-awal kepemimpinannya, dia tidak berusaha membawa The Leader ke arah tertentu. Dia lebih memilih mengambil waktu untuk memahami alur dan siklus kepemimpinan berdasarkan keinginan para anggotanya. Ambisi pribadinya sebagai pemimpin dikesampingkan. Zia justru berfokus untuk menghadirkan kondisi senyaman mungkin untuk para anggota tim bertumbuh.
Aku justru banyak mendengarkan dan membuat organisasi sesuai keinginan orang-orang di dalamnya,
ungkap Zia.
Zia menjelaskan tentang ketidakpunyaannya akan peta leadership yang sangat rapi kala itu. Dia lebih memilih menggunakan perasaannya untuk meyakinkan orang-orang bahwa apapun yang mereka lakukan merupakan kepemilikan bersama. Dia memilih untuk lebih banyak diam dan mendengarkan keinginan anggota timnya. Memastikan agar setiap anggota menyadari bahwa mereka setara.
Jadi mereka bisa secara aman dan nyaman berbicara, bertindak, dan mengekpresikan diri sejati mereka,
imbuh Zia.
Bak gayung bersambut, tampaknya niatan sang penerima penghargaan Best Impactful Creation pada Peace Innovation Academy 2022 ini pun diamini oleh para anggota tim The Leader. Beragam komentar positif terkait kepemimpinan Zia yang dinilai berhasil menghadirkan ruang aman dan nyaman bagi anggotanya pun bermunculan. Salah satunya dari sang bendahara, Zikrullah alias Mr. Zik.
Zia berhasil menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan dan bebas tekanan. Dia mampu memimpin dengan tenang dan penuh perhatian,
ungkap Mr. Zik, anggota The Leader Generasi 4.
Sang Treasurer The Leader yang saat tulisan ini diterbitkan sedang menempuh pendidikannya di Amerika Serikat menilai kepemimpinan Zia mampu menghadirkan rasa aman dan ketentraman. Di bawah arahan Zia, Zik merasa menjalankan tugas tanpa paksaan dan tetap penuh semangat.
Pengalaman serupa ternyata juga dirasakan oleh sang ahli desain digital yang merupakan anggota The Leader Generasi 4, Shaddiq. Dia secara terbuka mengakui bahwa pada awal bergabung di organisasi tersebut sempat mengalami kerenggangan (gap) pemahaman yang cukup besar—dari gaya berkomunikasi, topik pembicaraan, hingga candaan di antara para anggota—yang menurutnya membingungkan. Shaddiq sendiri mengalami momentum di mana dia merasa tidak nyambung dan kesulitan beradaptasi saat awal-awal bergabung di The Leader.
“Butuh waktu nyaris 2 tahun untuk aku beradaptasi. Sebelumnya, aku merasa tak ada yang benar-benar mau tahu tentang aku. Aku bahkan sempat merasa kehadiranku hanya dibutuhkan sebagai tools. Namun hal itu berubah ketika hadir sesosok kakak gila yang bernama Zia,” ungkap Shaddiq. “Dia satu-satunya orang yang saat itu mencoba mencari tahu tentangku, mengapa aku di sini dan untuk apa aku di sini.”
Shaddiq cerita bahwa Zia adalah sosok pertama yang membuat kehadiran dirinya terasa berharga di organisasi kepemudaan tersebut. Sebagai pemimpin, Zia dianggap berhasil merangkul dan membentuk kepercayaandirinya juga kebanggaannya sebagai bagian dari The Leader.
Jalan perempuan bukanlah jalan tol, demikian narasi yang kerap diutarakan oleh para aktivis perempuan di Aceh. Zia, selaku bagian dari Aktivis Perempuan Aceh, tentu paham betul berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi seorang perempuan pemimpin dari provinsi terbarat Indonesia.
Selaku Direktur Eksekutif The Leader periode 2020-2024, Zia tentu menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan faktor pencapaian dan juga risiko. Keluasan hatinya sebagai pemimpin yang seutuhnya percaya akan kemampuan para anggotanya dalam berbuat tentu juga disertai risiko yang kelak akan dia tanggung. Namun menariknya, selaku perempuan pemimpin, Zia justru menjalankan tampuk kepemimpinan dengan realistis. Dia mampu menghadirkan keseimbangan perasaan dan logika secara bersamaan. Sehingga gaya kepemimpinan Zia jauh dari kesan baper (bawa perasaan) dan micromanage (pengawasan dan pengarahan yang berlebihan).
Sebab aku semudah itu bahagia dengan hal-hal sederhana. Saat melihat tim berkembang, aku sudah merasa senang. Aku percaya setiap manusia itu unik dan aku selalu penasaran dengan potensi yang mereka miliki,
jawab Zia saat ditanyai mengapa mudah baginya percaya pada tim.
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Kepemimpinan perempuan ala Khalida Zia tidak hanya menghadirkan kesempatan setara bagi seluruh anggota untuk berkembang dengan sukses, tetapi juga rasa aman bagi mereka untuk menikmati kegagalan dan belajar. Hal tersebut merupakan pendekatan kepemimpinan yang realistis sekaligus empati.
Empati, itulah kata yang sangat cocok untuk mendeskripsikan seorang Zia
sebut Mardhatillah, anggota The Leader Generasi 4.
Mardha mengaku belajar banyak hal terkait empati selama kepemimpinan Zia. Menurut Mardha, empati dari seorang Zia dapat dilihat dengan jelas melalui obrolan santai bersamanya, caranya memperlakukan orang-orang di sekitarnya secara konsisten, hingga postingan-postingan di media sosialnya yang selalu menghadirkan sudut pandang unik yang dapat diambil sebagai pembelajaran.
Komentar serupa juga diutarakan Kekem, anggota The Leader Generasi 4. Menurutnya, Zia adalah sosok pemimpin dan juga teman yang mampu menyeimbangkan antara logika dan perasaannya. Sehingga, empati yang dihadirkan mampu menvalidasi emosi dan juga masuk akal.
Zia itu berpengaruh bukan sekadar sebagai pemimpin The Leader tetapi juga secara personal di hidup kami,
ungkapnya Kekem yang diamini para anggota lain.
Saat Kekem sakit parah tempo hari, satu-satunya orang yang terlintas di pikirannya untuk bercerita adalah Zia. Menurut Kekem, Zia adalah tipe orang yang tahu kapan harus pakai logika dan kapan harus pakai perasaan. Tentu penting baginya agar perasaan sedih dan terlukanya divalidasi. Akan tetapi dia juga perlu dikuatkan dengan nasihat-nasihat masuk akal. Kedua hal itu diperolehnya dari sosok Zia.
Dalam merekam jejak berserak kepemimpinan perempuan seorang Khalida Zia di The Leader selama nyaris 50 bulan ke belakang, tentu selalu ada hal yang perlu dikritisi untuk perbaikan ke depan maupun hal yang wajib diselebrasi sebagai kenangan baik yang dapat dijadikan acuan di masa yang akan datang. Untuk itu, beragam pendapat dari anggota tim pun dihimpun.
Branding saat ini menurut aku downgrade sih. Tapi dalam praktik lapangannya justru branding The Leader itu berhasil,
papar Ratu.
Sang ahli bidang Project Management The Leader memberikan pernyataan yang awalnya terkesan ambigu. Namun kemudian Ratu memberikan pemaparan lanjutan. Menurutnya, jika ditarik sejarah ke 12 tahun silam sejak The Leader didirikan (27/12/2012), benar bahwa terjadi penurunan kepopuleran organisasi ini di kalangan orang muda.
Namun menurutnya, kehadiran The Leader sebagai ‘pemain tunggal’ Organisasi Kepemudaan Non-Government (NGO) sejak saat itu justru telah terbukti menginspirasi banyak pihak untuk menghadirkan organisasi kepemudaan serupa (bahkan yang disponsori raksasa keuangan) yang lahir dan berkembang di Provinsi Aceh sekarang ini.
“Aku melihat secara branding pamornya tidak seperti dulu. Tapi secara internal, Ratu menganggap kita itu upgrade. Karena dulu, Ratu juga sempat ngerasain apa yang Shaddiq rasain. Cuma Me being Me adalah kunci.” Papar Ratu yang menyatakan sadar akan dinamika yang terjadi tetapi tidak merasa harus menjelaskan hal tersebut secara blak-blakan ke semua orang.
Terkait kondisi internal tim The Leader yang mengalami peningkatan, Ratu menilai Zia berhasil meleburkan suasana yang setara di antara anggota tim. Sehingga celah kekikukan antargenerasi menjadi kecil. Jadinya antara satu anggota dengan anggota lainnya dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dengan nyaman.
Aku merasa justru bagus. Seharusnya kita memang seperti ini, merasa setara. Saat orang-orang bisa mengekpresikan diri mereka sepenuhnya, konsep Horizontal Leadership benar-benar teraplikasikan, gitu.
Kemudian, saran lainnya muncul dari Mardha. Dia menilai ada sistem organisasi yang seharusnya dibenahi, bahkan jauh sebelum kepemimpinan Zia. Namun, menurutnya, hal itu belum dihadirkan hingga kini.
Ada kalanya mencuat kebingungan akan istilah “Standar The Leader” dalam membuat program, terutama jika mengacu pengalaman generasi sebelumnya. Namun belum ada guideline spesifik terkait hal ini,
papar Mardha yang pernah mengambil peran sebagai pimpinan program.
Mardha menilai ada kalanya Standar Operational Program (SOP) menjadi penting untuk dimiliki sebuah organisasi. Tujuannya agar keberhasilan ataupun kegagalan sebuah program yang dijalankan terukur secara ideal. Tanpa SOP, menurutnya, akan muncul multitafsir standar kesuksesan program. Mungkin sebagian tim merasa sudah memberikan yang terbaik, akan tetapi sebagian tim lainnya merasa program belum sesuai ekspektasi.
Menanggapi saran terkait standar, Zia yang merupakan anggota The Leader Generasi 2, mengakui bahwa pernah mendengarkan istilah tersebut. Namun sayangnya, secara pribadi dia tidak memahami makna maupun acuannya. Bagi Zia, selama kepemimpinannya, dia memiliki definisi tersendiri terhadap program yang dianggapnya sukses dan sesuai standar.
Sebuah program dianggap sukses ketika menciptakan solusi bagi masalah di sekitarnya. Program yang berhasil itu dipikirkan, dirancang, dan digerakkan bersama-sama, bukan hanya ide atau instruksi dari satu atau dua orang saja. Program yang sukses itu menciptakan kebermanfaatan bagi orang lain dan juga rasa aman dan puas bagi tim The Leader sendiri saat menjalankannya,
papar sang Direktur Eksekutif The Leader periode 2020-2024 itu.
Training Panglima Laot Bersama The Leader
Zia mengaku merasa senang ketika The Leader mudah dijangkau banyak pihak dan tidak harus tampil ekslusif. Sehingga dia dan timnya mencoba melakukan berbagai pendekatan untuk menjalin hubungan akrab dengan masyarakat akar rumput, lintas komunitas dan organisasi, bahkan pemerintah setempat.
“Makanya muncul program-program yang sengaja diadakan di daerah-daerah seperti Program DreamMaker di Pulau Aceh, Pulau Simeule, dan Aceh Timur. Pelatihan Panglima Laot di Simeulue. Pelatihan Aparatur Gampong di Sabang. Juga Pelatihan Pegawai di BPS Bireuen,” papar Zia.
Selain program bersifat kedaerahan, Zia menambahkan, terdapat pula program-program keren berstandar nasional dan bergaya urban lainnya yang berhasil digelar oleh tim The Leader di masa kepemimpinannya. Seperti Program Aku Berani Cerita (ABC), Aceh Art Peace Camp 1 dan 2, Tahun Toleransi dan Program Toleransi di Sekolah bareng Ayu Kartika Dewi, Dear Young Leader bersama Narasi TV dan AWE(Academy for Women Entrepreneurs).
AWE(Academy for Women Entrepreneurs)
Di samping itu, selama kepemimpinannya sebagai Direktur Eksekutif The Leader, Zia cukup banyak menghadiri undangan dari pemerintah dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) setempat. Zia secara konsisten turut menghadirkan Juru Bahasa Isyarat (JBI) dalam program-program The Leader agar lebih inklusif dan terjangkau oleh banyak pihak. Bahkan, The Leader sudah menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) bersama DP3A (Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Aceh terkait dukungan penyediaan ruang aman dan pencegahan kekerasan seksual dalam lingkungan organisasi.
Menariknya, dalam keterwujudan program-program sebuah organisasi, efek echo-chamber semacam self claim (klaim sepihak) atau overclaim (klaim berlebihan) terhadap sebuah keberhasilan tentu perlu dihindari. Echo Chamber atau Efek Ruang Gema dapat dimaknai sebagai sikap seseorang yang hanya menemukan informasi atau pendapat yang sesuai dengan perspektif dirinya sendiri tanpa mencari tahu sisi informasi lain di luar lingkungannya.
Untuk mencegah kondisi echo-chamber tersebut, maka penting untuk menghadirkan keragaman sudut pandang dari lintas generasi. Semisal perspektif dari Kenara, anggota The Leader Generasi 2, terkait sepak terjang kepemimpinan Khalida Zia.
Menurutnya, butuh waktu bagi Zia untuk beradaptasi dan memahami keberagaman anggota tim yang berada di The Leader. Namun, seiring waktu berjalan, dia melihat bahwa Zia terbukti mampu memimpin The Leader dengan menampilkan keunikan warnanya tersendiri.
“Aku kerap memantau perkembangan The Leader dari media sosial dan grup WhatsApp. Dari Zia, aku jadi memahami tagline, “Everyone Can Be A Leader” dengan cara tersendiri. Zia berhasil menunjukan bagaimana dia memimpin dan mengkoneksikan personal interest anggotanya dengan visi misi organisasi ini,” kata Kenara.
Apresiasi atas kinerja Zia dan timnya tidak hanya datang dari lingkar anggota The Leader saja. Baru-baru ini, seorang teman Seniman Aceh mengutarakan rasa sukanya atas program-program The Leader yang dirasa mampu menjangkau pihak-pihak yang semakin beragam.
Aku suka yang The Leader lakukan sekarang, program-programnya menjangkau seni dan masyarakat akar rumput. Mimpi-mimpi yang dibicarakan terbukti nyata dalam kepedulian terhadap orang-orang sekitar,
ucap sang senimal mural tersebut.
Layaknya peribahasa, “Ada Ubi, Ada Talas. Ada Budi, Ada Balas.” Rima pun ikut menitipkan sebuah pesan mendalam. Baginya, kehadiran Zia sebagai Direktur Eksekutif The Leader telah menghadirkan pengalaman yang luar biasa.
Empat tahun terasa sangat singkat. Saya berharap dapat terus bekerja dan belajar bersama, sekaligus melihat Zia melanjutkan perannya sebagai Direktur. Generasi baru juga masih membutuhkan sosok seperti Zia sebagai pemimpin yang mampu merangkul timnya dan memahami keberagaman yang ada.
Dia menilai The Leader telah berhasil menghadirkan ruang aman dan nyaman untuk banyak orang bertumbuh, termasuk para anggotanya. Tentu di balik pasang-surut kepemimpinan Zia, ada kritik dan apresiasi yang datang silih berganti. Akan tetapi, tentu kita yakin bahwa seperti Para Direktur The Leader sebelumnya, Khalida Zia telah memberikan yang terbaik selama masa jabatannya memimpin.
Jika ada kekurangan, itu mungkin hanya dari perspektif orang lain, tetapi dari sudut pandang saya, Zia telah melakukan yang terbaik.
Tea ceremoni menyambut kedatangan peserta Green Leader 10 di Kompleks Eco Camp yang berlokasi di Jalan Pakar Barat, No. 3, Dago, Kecamatan Coblong, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Suasana hening saat makan bersama yang diawali dengan doa dan membacakan tujuh renungan sebelum makanmembuat kita lebih menyadari manfaat dan fungsi dari setiap suapan yang masuk ke mulut kita.
Peserta mendapat kesempatan mengunjungi Taman Hutan Raya Djuanda–Kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman dengan jenis pinus yang terletak di Sub-Daerah Aliran Sungai Cikapundung dan DAS Citarum yang membentang mulai dari Curug Dago, Dago Pakar, sampai Curug Maribaya yang merupakan bagian dari kelompok hutan Gunung Pulosari.
Kompleks Eco Camp yang berlokasi di Jalan Pakar Barat, No. 3, Dago, Kecamatan Coblong, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tempat kegiatan berlangsung sangat asri.
Bermain angklung bersama anak-anak korban gempa Kertasari, Bandung, Jawa Barat.
“Yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”
–Ali bin Abi Thalib–
Kalimat itu kutemukan di buku Filosofi Teras yang ditulis oleh Henry Manampiring. Maknanya begitu mendalam sehingga memberiku keyakinan untuk berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan Green Leader 10 di Eco Camp. Sebelumnya ada keraguan di hati karena partisipannya dari berbagai lintas agama, daerah, usia, dan lembaga atau komunitas.
Terlebih, kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Lingkungan Hidup ini pemiliknya beragama Katholik. Ketika aku dimasukkan ke dalam grup Green Leader 10, aku melihat banyak para suster yang juga turut serta. Seketika terlintas pikiran yang “bukan-bukan”, apa nantinya keimananku terganggu ketika mengikuti kegiatan ini?
Sebagai masyarakat Aceh yang melekat dengan fanatisme agama, aku mengakui bahwa persoalan agama menjadi prinsipal. Agama tidak hanya menjadi pedoman spiritual, tetapi juga identitas budaya yang sudah tertanam di dalam jiwa. Namun, bagaimana ketika aku berinteraksi dengan orang yang berbeda agama?
Aku jadi semakin penasaran, apa sebenarnya tujuan Eco Camp membuat kegiatan seperti ini? Dan apa misi mereka? Aku harus menemukan jawabannya agar tidak menerka-nerka dan berprasangka. Jadi, berangkatlah aku dari Aceh menuju Jakarta pada tanggal 19 Oktober 2024. Selanjutnya dari Jakarta ke Bandung pada tanggal 20 Oktober 2024. Selama perjalanan itu, hatiku terus gundah gulana mempertanyakan apakah aku bisa hidup berdampingan dengan mereka yang berbeda agama selama 11 hari?
Aku Sudah Sampai; Aku di Rumah
Setibanya aku di Kompleks Eco Camp yang berlokasi di Jalan Pakar Barat, No. 3, Dago, Kecamatan Coblong, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, aku langsung disambut dengan senyum semringah para anak muda berompi. Kutaksir usia mereka sekitar 20-an tahun, dua di antaranya menyodorkan beberapa lembar kertas kapadaku, sebagai persyaratan untuk registrasi.
Peserta lainnya semakin banyak berdatangan. Aku mengulurkan tangan untuk berkenalan. Rupanya mereka dari berbagai daerah. Ada yang dari Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Surabaya, Manado, hingga Papua. Namun, aku belum menemukan satu orang pun peserta yang berhijab sepertiku. Untungnya, mereka ramah-ramah. Kami pun saling berinteraksi, menanyakan asal daerah dan hal sederhana lainnya.
Sembari menunggu, aku melihat sebuah tulisan yang ditempelkan di tembok Eco Camp menggunakan flyer besar sehingga dari jarak 10 meter terlihat jelas tulisannya.
“Aku Sudah Sampai; Aku di Rumah.” Lama kupandangi kalimat itu, sambil melihat sekelilingnya. Di tempat ini terdapat berbagai pohon menjulang tinggi, beraneka macam tanaman tertata rapi, beragam dedaunan rindang yang membuat tempat ini begitu hijau dan teduh. Terlebih, riak aliran sungai membisik di telinga, seolah aku begitu familier dengan tempat ini.
Seketika ingatanku terlempar ke masa 25 tahun yang lalu, ketika usiaku baru beranjak tujuh tahun. Suasana seperti ini mirip seperti suasana di rumah nenek yang ada di Aceh Selatan. Di rumahnya terdapat pepohonan rimbun, bunga bermekaran, tanaman terhampar, dan dedaunan yang menghijau. Keberadaan telaga dan sungai kecil yang begitu jernih di depan rumah nenek menambah eksotis tempat itu.
Berbagai jenis tanaman yang ada di Eco Camp Bandung, pernah kulihat di rumah nenek, kecuali pala dan cengkih yang tidak kutemukan di sini. Sayangnya, setelah 12 tahun kepergian nenek, tanamannya pun ikut menghilang karena tidak dijaga oleh generasi sesudahnya. Bahkan telaga yang mengeluarkan sumber mata air yang begitu jernih telah ditimbun. Pepohonan seperti jambu, durian, palem, kelapa, dan kopi juga ditebang, sedangkan tanaman seperti berbagai macam jenis keladi menjadi mati karena tidak diurus lagi oleh empunya.
Tujuh Kesadaran Baru Hidup Ekologis
Selama sebelas hari, kami belajar tentang ekologi di Eco Camp. Kami mempelajari tujuh kesadaran baru ekologis. Kemudian yang diimplementasikan selama kegiatan Eco Camp. Kesadaran pertama, yaitu berkualitas. Seperti visinya Eco Camp menjadi manusia berkualitas yang merawat bumi dan berguru pada bumi. Maka setiap pagi sebelum memulai kegiatan para peserta melakukan earth care.
Para peserta dibagi menjadi delapan kelompok, masing-masingn terdiri atas 3—5 orang. Tugas earth care adalah memilah sampah, menyiapkan makanan di dapur, berkebun, menyapu halaman, membersihkan ruang makan, dan membersihkan aula sebagai tempat kegiatan. Setiap kelompok melakukan tugas earth care selama 15 menit per harinya. Dan setiap hari tugasnya berbeda-beda sesuai jadwal yang sudah ditentukan.
Selama aku mengikuti kegiatan atau pelatihan, baru kali ini kutemukan pelatihan yang pesertanya diminta melakukan pekerjaan rumah seperti itu. Bahkan sehabis makan harus mencuci piring. Bayangkan, aku jauh-jauh dari Aceh ke sana “hanya” untuk melakukan pekerjaan rumah yang setiap hari kulakukan? Terkadang kulakukan dengan hati dongkol karena kecapaian atau bosan melakukan tugas berulang.
Rutinitas ini memberikan makna lain. Ternyata, untuk menjadi manusia berkualitas kita harus hidup sebagai manusia yang mandiri. Dimulai dengan melakukan hal-hal kecil seperti membereskan rumah. Bayangkan bila setiap anggota keluarga melakukan earth care secara kompak, pasti setiap rumah bersih, tidak ada lagi sampah yang berantakan, ruangan yang acak-acakan, atau halaman yang tak terurus. Sebab semuanya mempunyai kesadaran ekologinya sendiri.
Kesadaran yang kedua ialah sederhana. Ini lebih ke pola pikir dan pola hidup. Bagaimana kita menyederhanakan hidup ini sehingga merasa cukup dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Sebab, bila setiap manusia menurutkan keinginannya maka bumi ini tidak cukup untuk memenuhinya.
Menurut National Footprint and Biocapacity Accounts (2022), jika semua orang hidup seperti orang Amerika, maka membutuhkan 5,1 Bumi untuk bisa memenuhi keinginannya. Dan untuk standar hidup orang Indonesia, membutuhkan 1,5 Bumi. Padahal Bumi kita hanya satu. Bila keinginan demi keinginan terus dilanjutkan, maka sumber daya yang disediakan alam habis untuk memenuhi keinginan manusia. Bisa jadi 20—50 tahun ke depan generasi kita tidak bisa menikmati kehidupan seperti kita saat ini.
Untuk melatih hidup sederhana, para peserta yang jumlahnya 40 orang mengambil makanan secukupnya setiap kali waktu makan. Sebelumnya akan ada yang memimpin doa dan membacakan tujuh renungan sebelum makan. Ketika mengambil makanan sampai duduk di meja makan, semua dalam keadaan hening. Sampai semua peserta mendapatkan makanan, barulah dibacakan doa yang diikuti dengan renungan.
“Marilah makan berkeadilan. Ambil secukupnya dan habiskan apa yang diambil. Membuang makanan adalah mencuri dari orang miskin. Ingat, masih banyak orang kelaparan. Hindari sikap serakah dan budaya membuang. Belajarlah hidup sederhana dan secukupnya.” Itulah penggalan bunyi poin kedua dari tujuh poin renungan sebelum makan.
Selama sebelas hari aku mengikuti pelatihan ini, aku selalu menghabiskan makananku. Begitu juga teman-teman yang lain. Aku jadi teringat saat dulu mengikuti pelatihan di hotel. Saking banyaknya makanan yang tersedia, aku mengambil makanan sesukaku, akhirnya malah bersisa. Berdalih ingin memperbaiki gizi, tetapi ternyata aku lupa bahwa keserakahan akan membawa malapetaka. Dan sehabis aku ikut pelatihan di hotel, selalu saja aku jadi sakit perut.
Namun, tidak di pelatihan Eco Camp. Aku sangat menikmati makanannya walaupun menunya ala vegetarian. Rasanya jauh lebih nikmat dari masakan hotel berbintang. Di sini, aku merasakan keajaiban rasa. Bentuk dan warna dalam sepiring makanan yang aku ambil terasa lezat. Semua menunya enak. Saat kutanya pada tim dapur yang memasak makanan tersebut, ternyata mereka tidak menggunakan penyedap instan sama sekali. Mereka menggunakan kaldu jamur yang mereka racik sendiri.
Kesadaran yang ketiga hemat. Pepatah mengatakan hemat pangkal kaya. Namun, hemat untuk mengumpulkan kekayaan diri sendiri sama dengan egosentrik. Hemat yang dimaksud di sini ialah hemat karena peduli dan berbagi pada sesama, terutama yang lemah dan miskin. Prinsipnya hemat pangkal selamat sama dengan ekosentris—yakni menjadikan alam atau ekologi sebagai pusat pemikiran atau aktivitas.
Kesadaran yang keempat peduli. Di pelatihan Eco Camp ini peserta diajarkan tentang Teori Membumi, Kesadaran Hati, & Mindfulnes, Spiritualitas dan Ekologi Kehidupan, Awakening the Dreamer & Changing the Dream, Green Business, Active Hope & Cosmic Walk.
Semua itu untuk menumbuhkan rasa dan sikap kepedulian kami terhadap bumi. Dengan demikian, setelah pulang tiap-tiap peserta bisa menerapkannya di daerah masing-masing. Kepedulian untuk memberi melahirkan semangat berbagi yang merupakan poin kelima.
Dalam sesi berbagi, kami mendatangi sebuah sekolah dasar di Kecamatan Kertasari, Bandung, Jawa Barat. Kawasan tersebut pada 18 September 2024 lalu terkena musibah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,0. Dampaknya, sebanyak 450 warga dari tiga desa terpaksa mengungsi, 58 orang luka ringan, dan 23 lainnya luka berat.
Oleh karena itu, kami ingin menghibur korban gempa di sana, terutama anak-anak. Ada puluhan anak-anak di sana. Kami bernyanyi; bergembira sambil bermain angklung. Tiap-tiap anak mendapatkan satu angklung. Dipandu oleh Pak Freddy sebagai dirigen, kami memainkan tiga buah lagu, salah satunya ‘Hallo-Hallo Bandung’.
Meskipun tidak sempurna karena kami hanya sempat beberapa kali latihan, dan anak-anak pun baru kali itu mengenal angklung, tetapi alunan musik begitu harmonis terdengar di telinga. Anak-anak bermain penuh antusias. Tawa, canda, gembira terlihat dari wajah mereka. Di situ aku merasakan kebermaknaan hidup yang merupakan poin keenam.
Ternyata, bahagia tidak melulu karena punya banyak harta, tapi hal kecil, sederhana, sanggup dilakukan dengan gembira itu jauh lebih indah. Bila kita tidak lagi memikirkan tentang diri sendiri, hidup jauh lebih bermakna.
Dan kesadaran yang terakhir ialah harapan. Meskipun bumi sedang tidak baik-baik saja, tetapi kita punya harapan untuk memperbaiki dan menjaganya. Seperti yang disampaikan oleh salah seorang pemateri Green Leader, Bijaksana Junerosano.
“Bila kau melihat anjing mati yang mengeluarkan bau menyengat, maka lihatlah gigi putihnya yang bersih.”
Jadi, kita harus melihat sisi positif dari setiap peristiwa atau kejadian.
Sebelas hari berada di Eco Camp menyadarkanku bahwa untuk menjaga bumi bukan tugas satu umat beragama saja, tetapi semua manusia. Tidak peduli apa agamanya, suku, dan daerah mana asalnya yang jelas kita tinggal di bumi yang sama.
Pikiran negatif dan prasangka yang kubangun saat menuju Eco Camp runtuh seketika. Selama di sana, aku sangat nyaman melakukan ibadah. Khusus bagi peserta muslim, setiap masuk waktu salat, diberikan kebebasan untuk salat berjemaah di musala. Pada hari-hari tertentu, peserta yang beragama Katholik juga melakukan misa bersama.
Keimananku jadi semakin kuat ketika berada di tengah keberagaman. Keyakinan kita dalam berhubungan dengan Tuhan berbeda-beda, tetapi kita disatukan dengan tujuan yang sama, yakni menjaga alam ini agar tetap lestari hingga bisa diteruskan untuk generasi mendatang.[]
Penulis adalah anggota Perempuan Peduli Leuser; copywriter dan fasilitator Bumoe Learning Community. Tulisan-tulisan lainnya dapat dibaca di www.yellsaint.com.
Ada misteri di setiap takdir temu dan langkah kaki. Setidaknya hal itu yang tercermin dari ucapan Gita Kamath saat menyatakan kehadiran dirinya untuk pertama kali di Aceh. Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia ini hadir dalam rangka memantau program kerja sama pembangunan Australia-Indonesia, khususnya di bidang penanggulangan dan pengurangan risiko bencana, pemberdayaan perempuan, tata pemerintahan, dan juga keadilan.
“Bulan ini merupakan bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Indonesia, termasuk di Aceh. Selamat kepada BNPB atas terselenggaranya bulan PRB dengan baik melalui penandatanganan program SIAP SIAGA,” ungkap Gita pada Rabu pagi di Banda Aceh (9/10/2024)
Gita menyebutkan bahwa tahun 2024 merupakan tahun istimewa. Di tahun ini, masyarakat Aceh bahkan dunia akan memperingati 20 tahun tragedi bencana megatsunami yang pernah terjadi di provinsi terbarat Negeri Zamrud Khatulistiwa. Di tahun ini pula, negara Australia dan Indonesia memperingati hubungan diplomatik yang terjalin dengan baik antara kedua negara selama 75 tahun lamanya.
Perjanjian perpanjangan kerja sama program SIAP SIAGA untuk 2024-2027 tersebut ditandatangani oleh Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath bersama Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rustian di Banda Aceh.
“Sudah ada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, baik secara keilmuan maupun dampaknya terhadap penanganan bencana. Manajemen kebencanaan juga diperkenalkan dalam program SIAP SIAGA. Karena hasil kerja sama ini sudah terlihat, sehingga dilakukan perpanjangan kerja sama,” ungkap Rustian.
SIAP SIAGA merupakan program kemitraan Australia-Indonesia untuk manajemen risiko bencana yang bertujuan meningkatkan kemampuan Indonesia dalam mencegah, mempersiapkan, menanggapi, dan memulihkan diri dari bencana. Program tersebut menggunakan Problem-Driven Iterative Approach (PDIA) atau ‘Manajemen Adaptif’ yang berfokus pada konsep kolaborasi pentahelix. Pentahelix adalah kolaborasi yang melibatkan lima komponen penting yakni unsur pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan media. Sehingga diharapkan terbentuk efektivitas sistem penanggulangan bencana secara keseluruhan, bukan hanya efektivitas sub-sistemnya.
SIAP SIAGA bekerja dengan mitra di tingkat nasional dan daerah untuk mengidentifikasi hambatan dalam sistem penanggulangan bencana di berbagai tingkat pemerintah dan masyarakat. Kemudian melalui program tersebut dirancang solusi untuk meningkatkan efektivitas pelayanan penanggulangan bencana. Program SIAP SIAGA selaras dengan prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Indonesia (RPJMN). Program ini juga sejalan dengan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana, dan Strategi Kemanusiaan Pemerintah Australia.
Adapun lokasi kerja program SIAP SIAGA yang sudah berjalan berada di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Pihak pemerintahan Indonesia berharap perpanjangan kerja sama bersama pemerintahan Australia untuk dua tahun ke depan juga membuka kesempatan untuk pengembangan program SIAP SIAGA di wilayah lainnya.
“Kita harap bisa dikembangkan. Seperti di Sumatra karena adanya isu megathrust dan juga di Sulawesi karena dekat dengan ibu kota Nusantara. Itu harapan kita, mudah-mudahan bisa terealisasi dari sekarang sampai 2027”.
Petuah Indonesia, Wejangan Australia
“Ada sebuah pribahasa Indonesia yang sangat saya sukai, ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Oleh karena itu, ijinkan saya membaca pidato saya dalam bahasa Indonesia dan saya mohon maaf jika ada ucapan yang salah,” papar Gita Kamath dalam sambutannya pada Selasa Malam di Banda Aceh (8/10/2024).
Oktober yang merupakan Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia terasa pekat berwarna dengan kehadiran Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia yang memilih berpidato dengan bahasa ibu rakyat Nusantara walau berada di tengah-tengah alumni Univesitas Australia yang tidak diragukan lagi kefasihan bahasa Inggris mereka. Tak berhenti di situ, Gita bahkan ikut menggunakan satu-dua kata dalam bahasa Aceh yang berhasil mengundang riuh tepuk tangan puluhan peserta hadir pada acara Australia Alumni Networking Dinner in Aceh tersebut.
“Alumni memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kerja sama antara Australia dan Indonesia. Alumni juga memiliki peran dalam mendukung bisnis, keamanan, dan kemakmuran bagi kedua negara,” papar Gita.
Foto Kredit: Australian Embassy Indonesia
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Farwiza Farhan—alumni magister dari University of Queensland [UQ], jurusan Manajemen Lingkungan—mengamini manfaat besar yang dia terima selaku putri Aceh yang melanjutkan pendidikan ke Negeri Kangguru tersebut.
“Saya pertama kali ke Australia di tahun 2009. Sampai di Australia saya merasa dunia saya tiba-tiba terbuka begitu luas. Saya belajar begitu banyak hal, berkenalan dengan sangat banyak orang,” papar sang penerima The Ramon Magsaysay Award for Emergent Leadership 2024.
Wiza, panggilan akrabnya, menyebutkan melalui pendidikan yang tepat, setiap orang berkesempatan untuk memberikan perubahan positif untuk dirinya dan juga masyarakat di sekitarnya. Sang aktivitas lingkungan dan konservasionis hutan di Kawasan Ekosistem Leuser tersebut menilai Australia menjadi jalan baginya untuk mengembangkan diri dan kemudian kembali ke Indonesia untuk berbakti.
“Sebab hati saya tetap di Aceh. Hati saya tetap di Kawasan Ekosistem Leuser,” papar sang penerima National Georgraphic Wayfinder 2022 dan pemimpin baru TIME100 Next 2022.
Hingga saat ini, terdapat lebih dari 400 alumni Australia asal Aceh. Adapun total keseluruhan alumni pendidikan Australia yang berasal dari Indonesia mencapai 200.000 orang. Perwakilan pemerintahan Australia tersebut menilai alumni dapat menjadi jembatan antara kedua negara untuk membangun pemahaman terkait Indonesia dan Australia serta masyarakatnya. Menurutnya, walau hubungan antarnegara itu penting, akan tetapi hubungan antar manusialah yang benar-benar sangat penting bagi terwujudnya keakraban kedua negara.
“Hubungan kita sudah terjalin selama ratusan tahun dalam perdagangan dan budaya. Tahun ini kita merayakan hubungan diplomatik antara Australia dan Indonesia yang telah berlangsung selama 75 tahun,” jelasnya.
Sang perwakilan Australia untuk Indonesia menyebutkan bahwa hubungan diplomatik yang terjalin antara Indonesia dan Australia telah membuka jalan bagi kedua negara untuk saling belajar, bertukar pengetahuan, terutama terkait mitigasi bencana. Gita menyebutkan, Australia selayaknya Indonesia, merupakan negara yang juga rawan terhadap bencana alam. Maka kerja sama dan saling dukung antara kedua negara merupakan hal yang penting untuk terus dirawat bersama.
“Banyak hal yang bisa kami pelajari dari Indonesia. Saat ini kita memiliki satu program di bidang penelitian terkait perubahan iklim. Nama programnya KONEKSI,” jelas Gita.
Kemitraan Australia-Indonesia dalam riset, sains, dan inovasi (KONEKSI) merupakan bentuk komitmen Australia dalam mendukung solusi berbasis pengetahuan melalui Platform Kemitraan Pengetahuan Australia-Indonesia. Penelitian dan inovasi akan menjadi dasar untuk menciptakan solusi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan adaptif terhadap dampak perubahan iklim dan kebutuhan sosial ekonomi yang terus berkembang. Sehingga tercapai Agenda Pembangunan Berkelanjutan di 2030.
Selayaknya pembelajaran yang diperoleh Oz dari Nusantara, maka Indonesia pun mempelajari banyak hal dari Australia. Selaku alumni, Farwiza menyebut Australia sebagai negara yang mampu melakukan penerimaan terhadap siapa pun. Menurutnya, di Australia, orang-orang bisa memilih apapun yang dia inginkan dan diterima apa adanya tanpa ada penolakan.
“Semua orang bisa menjadi dirinya sendiri. Jadi kita bisa belajar banyak dari Australia soal menghargai keragaman,” tutupnya.[]
Hari kedua kami memulai pagi dengan refleksi diri. Kak Alifi yang memandu kegiatan menanyakan apa saja hal yang disyukuri dan membuat kami bahagia pada pagi hari itu. Tentunya masing-masing peserta mempunyai jawaban yang beragam sesuai hal yang dirasakan.
Saya sangat bersyukur pada hari itu. Pagi buta saat hamparan danau Lut Tawar masih diselimuti kabut, saya dapat merasakan hawa dingin menembus sweater yang saya kenakan. Kabut tersebut kemudian sedikit demi sedikit menghilang, terganti dengan kehadiran mentari pagi yang begitu indah.
Bersama Kak Masni, salah seorang peserta asal Aceh Barat, kami berjalan kaki menuju bukit yang berada di sebelah Hotel Renggali. Dari atas bukit tersebut, saya bisa melihat luasnya danau yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Laksana memandangi lautan yang luas, hanya saja lebih tenang tanpa kehadiran gelombang.
Saya begitu khidmat menikmati pemandangan pagi itu. Rasanya begitu tenang diri ini melihat keindahan ciptaan Ilahi. Saya dan Kak Masni pun tak lupa mengabadikan diri lewat beberapa foto yang kami ambil bergantian menggunakan ponsel pintar.
Kesadaran Diri
Tujuan dari sesi Keamanan Psikososial bersama Kak Alifi adalah mengenalkan kesadaran diri dan keadaan lingkungan sosial di sekitarnya. Kemudian bagaimana lingkungan-lingkungan tersebut berpeluang memberikan dampak pada kesejahteraan fisik, digital, dan juga mental para aktivis dan jurnalis.
Bagi saya, psikososial merupakan kata yang tidak asing. Kata tersebut pernah saya dapatkan semasa kuliah pada materi Keperawatan Jiwa.
Psikososial berakar pada dua penggalan kata, yaitu psiko (berhubungan dengan mental/kejiwaan), dan sosio (bergubungan dengan orang lain dan lingkungan sekitar).
Adapun domain psikososial yang dimaksud dalam pelatihan ini ialah ketersediaan sumber daya dan kesadaran akan sistem lingkungan. Faktor psikologi individu dan aspek lingkungan sosial. Perasaan, pikiran, kognisi, perilaku, tindakan. Keragaman pengalaman subjektif. Serta kesadaran diri dalam memahami stres.
Psikososial adalah hubungan antara kondisi sosial seseorang dengan kesehatan mentalnya. Elemen yang terdapat dalam psikologi berupa pikiran, perasaan, emosi, sikap, perilaku. Sedangkan elemen sosial berupa interaksi dan relasi, lingkungan, budaya dan tradisi, peran dan tugas, serta konstruksi gender.
Kemudian Kak Alifi menunjukkan teori ekologi sistem yang menjelaskan bagaimana individu berinteraksi dan bergantung pada sistem di sekitarnya.Teori ini memiliki lima sistem lingkungan berlapis yang saling berkaitan, yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem.
Kesadaran diri itu merupakan kemampuan seseorang untuk memahami secara mendalam hal-hal yang membentuk diri.
Termasuk di dalamnya menyangkut tentang kepribadian, tindakan, nilai, tujuan, keyakinan, kebutuhan, emosi, dan pikiran. Juga kemampuan untuk memahami dampaknya pada diri sendiri dan orang lain. Agar setiap peserta memahami makna kesadaran diri, Kak Alifi memberikan beberapa pertanyaan untuk dijawab oleh masing-masing peserta.
“Apa yang membuat ANDA menjadi ANDA saat ini?”
Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut terdapat beberapa pertanyaan turunannya. Setelah menjawab pertanyaan tersebut, saya menyadari ternyata peran saya banyak, yaitu sebagai seorang ibu, istri, anak, atasan (kepala sekolah), bawahan (copywriter), teman, adik, dan role model (guru). Dengan peran sebanyak itu, tentu banyak persoalan dan rintangan yang saya hadapi yang berpotensi mengganggu psikis saya pribadi.
Untungnya saya bisa menentukan capaian dari peran saat ini agar termotivasi untuk menjalankan peran tersebut dan menganalisa siapa saja yang terpengaruhi oleh tindakan saya. Selama proses menjawab pertanyaan tersebut, saya mulai bisa melihat benang merah kehidupan saya saat ini. Sehingga saya mampu memahami kekuatan dan keterbatasan saya pribadi.
Ketika mendengarkan banyaknya cerita dari beragam peran yang dilakoni oleh orang-orang di sekitar, maka timbul kesadaran akan keberagaman latar belakang yang harus dijalani seseorang. Kesadaran tersebut memunculkan empati pada saya setiap kali berinteraksi dengan mereka.
Materi tersebut membantu saya memahami situasi kerja yang lebih kompleks dan berisiko tinggi, serta dampak apa yang terjadi dalam lingkungan yang lebih luas. Sehingga saya mampu mengelola emosi berlebih ketika dihadapkan pada persoalan yang menantang.
Dua jam lebih pemaparan materi kesadaran diri membuat saya membuka mata akan pilihan hidup yang saya jalani saat ini. Apalagi sebelum jam makan siang, kami diberikan sebuah permainan yang membuat kami paham tentang kondisi setiap orang berbeda-beda.
Dalam permainannya, kami diberikan satu gulungan kertas yang di dalamnya berisi kasus cerita. Kami harus menjadi tokoh dalam cerita tersebut. Kemudian ada beberapa pernyataan yang diajukan oleh panitia. Bila tokoh tersebut bisa melakukan instruksi tersebut, maka peserta diminta maju satu langkah. Namun, bila tidak mampu maka mundur satu langkah.
Saya mendapatkan tokoh cerita yang menurut saya memiliki kemampuan untuk kerap maju dan memilih kata “ya” pada beragam pernyataannya. Sehingga saya menjadi tokoh yang maju paling depan. Menariknya, di lain sisi, terdapat teman saya yang dengan latar belakang tokoh yang sama seperti yang saya memiliki, justru berakhir di posisi yang paling akhir.
Melalui kasus ini kita menyadari bahwa setiap orang dengan latar belakang berbeda menghasilkan respons yang berbeda-beda pula dari setiap kesempatan dan tantangan yang ada. Bahkan orang-orang dengan persoalannya sama sekalipun, tetap bisa berakhir berbeda. Hal itu dikarenakan perbedaan sudut pandang, kapasitas mental, dukungan orang terdekat, pengetahuan, dan sebagainya bagi setiap orang dalam menyikapi setiap persoalan dan kesempatan yang hadir.
Mengenal Emosi dan Menajemen Stres
Ini merupakan materi hari ketiga bersama Kak Alifi yang berjudul, “Tantangan Emosional dalam Bekerja Sebagai Aktivis dan Jurnalis.”
Diskusi dimulai dengan membahas sebuah studi kasus tentang seorang aktivis yang berangkat dari Barat Selatan Aceh ke Takengon, menghabiskan waktu di perjalanan begitu lama. Di perjalanan mobil yang ditumpanginya mogok. Sedangkan dia hanya makan satu bungkus roti sebelum berangkat tadi. Pada akhirnya, dia pun tiba ke tempat tujuan pada pukul 21.00 WIB dengan kondisi lemas dan kelaparan.
Dari kasus tersebut kami diminta untuk mengungkapkan emosi yang muncul bila berada di posisi sang tokoh. Berbagai jawaban seperti marah, kesal, sesal, gemetar, letih, lemas, capek, lesu dan emosi lainnya muncul dari peserta. Hal tersebut merupakan ungkapan emosi yang peserta sampaikan dalam menyikapi sebuah kejadian atau peristiwa.
Apa jadinya bila emosi tersebut terus dipendam dan ditekan dalam-dalam? Tentu lama-kelamaan emosi itu akan meledak dan berdampak buruk pada kesehatan mental. Oleh karenanya, kemampuan untuk mengatur stres agar emosi dapat tersalurkan dengan baik menjadi penting.
Stres merupakan respon fisiologis terhadap sumber stres (stressor) internal atau eksternal. Stres muncul akibat ketidakseimbangan antara sumber daya dengan tuntutan atau tekanan yang ada.
Ada dua macam stres, yaitu eustress (stres positif) dan distress (stres negatif). Eustress muncul saat level stres cukup tinggi yang dibarengi dengan motivasi untuk bergerak menyelesaikan sesuatu. Misalnya saat dihadapkan dengan ujian tes CPNS, tubuh meresponnya dengan cara belajar lebih giat untuk bisa menjawab soal. Sedangkan distress muncul saat level stress terlalu tinggi atau terlalu rendah, tapi tubuh tidak mampu mengatasi stress tersebut. Sehingga akan memunculkan berbagai emosi seperti sedih, takut, tertekan, cemas, kesepian, bahkan putus asa.
Agar stres tersebut tidak menjadi masalah bagi kehidupan kita, perlu langkah-langkah dalam mengatasinya. Pertama, kita perlu Identifikasi stres tersebut. Kenali berbagai tantangan dan risiko yang umumya berpotensi mengganggu kondisi psikososial kita. Kemudian Sadari reaksi saat stress muncul. Misalnya pada fisik, otot tegang, lemas, sedih, cemas, menangis, atau menjauh dari orang-orang. Kemudian, Validasi kondisi diri terkini yang mungkin memang sedang stress atau tidak baik-baik saja. Selanjutnya Relaksasi dan Stabilisasi dengan menarik nafas dalam untuk meredakan reaksi emosi. Terakhir Self Care (merawat diri) dengan melakukan rutinitas perawatan diri secara holistik seperti jalan-jalan, nge-gym, spa ke salon, dan sebagainya sesuai dengan individu masing-masing.
Selain itu, ada cara cepat dan efektif untuk mengurangi itensitas emosi negatif dengan menggunakan panca indra, yang disebut Teknik Self-Soothing. Dimulai dari Penglihatan dengan cara meredupkan cahaya, bisa juga menutup mata, melihat warna favorit atau yang menenangkan seperti dedaunan hijau dan pepohonan, dan menonton film atau video yang menyenangkan.
Kemudian untuk Sentuhan bisa menyentuh benda halus seperti selimut atau boneka, melakukan pijatan, mandi air hangat atau dingin. Dari Suara kita bisa mendengarkan bunyi yang menyenangkan pikiran, seperti musik yang disukai, suara alam seperti riak air, kicauan burung atau angin.
Pada Penciuman bisa menggunakan aromaterapi, udara segar, lilin wangi/dupa, atau wawangian yang membuat nyaman. Dan terakhir, untuk Perasa bisa menggunakan rasa yang kuat seerti pedas, makan perlahan, minum air hangat/dingin, makan makanan kesukaan atau makan yang membawa nostalgia bahagia seperti masakan ibu.
Teknik Self-Sooting ini pernah kami praktikkan pada saat Morning Reflection di hari terakhir. Masing-masing peserta menggunakan semua indranya untuk menikmati benda yang ada di sakitarnya menggunakan panca indra. Mulai dari melihat 5 objek, dengar 4 suara, sentuh 3 benda, cium 2 bau, dan rasakan satu suasana. Hasilnya memang benar melegakan dan berhasil menjadikan para peserta bersemangat menjalani hari, meskipun di hari terakhir.
Sebagai penutup tulisan, saya akan membagikan konsep Lingkar Kendali yang menjadi salah satu cara sederhana mengelola stres. Konsep ini dikenalkan oleh Stephen Covey dalam bukunya The Habits of Highly Effective People.
Dalam lingkar kendali terdapat 3 lingkaran yang terdiri atas; Lingkar Kendali, Lingkar Pengaruh (sebagian di dalam kendali), dan Lingkar Peduli (di luar kendali).
Dalam Lingkar Kendali, fokus terletak pada pikiran, tindakan, dan perkataan kita yang bisa dikendalikan. Pada Lingkaran Pengaruh, alihkan perhatian dan energi kita pada hal-hal yang berada dalam kendali seperti sikap, usaha, pola pikir, kondisi kesehatan, keluarga, atau kinerja tim. Adapun Lingkar Peduli alias lingkaran terluar yang tidak bisa dikendalikan, seperti komentar atau tindakan orang lain, kebijakan pemimpin, pandemi, resesi, dan cuaca maka kita tidak memiliki kuasa apapun pada posisi tersebut. Maka fokuskan diri pada Lingkar Kendali dan Lingkar pengaruh saja dan tidak perlu menghabiskan energi dan atensi yang dimiliki pada Lingkar Peduli sebab dapat meningkatkan stres dan kecemasan.
Ketika menghadapi sebuah persoalan, fokuslah pada hal-hal yang dapat kita kendalikan. Sehingga Lingkaran Pengaruh akan bertambah luas.
Dengan mengidentifikasi mana yang menjadi kendali dan mana yang berada di luar kendali, kita dapat mengikis stres dan bisa menjaga keseimbangan emosional dan mental dalam menghadapi tantangan hidup.
Sejauh ini bagaimana? Apakah teman-teman aktivis dan jurnalis sudah mengenali diri dan paham cara mengambil tindakan ketika dihadapkan berbagai persoalan? Mari kita kembali menilik diri.
Tentu penting bagi aktivis dan jurnalis untuk memiliki mental yang sehat agar keamanan psikososialnya terjaga tanpa ada hambatan. Untuk itu, penting bagi kita untuk memahami tata cara merawat diri (self-care) yang benar. Lantas bagaimana caranya? Nantikan ulasan selanjutnya ya!