Beranda blog

Hidup di Daerah Bencana: Berdamai dengan Ancaman

0

Tanah kering teronggok di tepi jalan, membentuk tanggul panjang yang mengepulkan debu setiap kali angin bertiup. Tanggul ini rerata tingginya satu meter. Di beberapa tempat bahkan mencapai satu setengah meter.

Ahad, 14 Februari 2026, Gampong Paya Rabo Lhok, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, masih dipeluk dampak banjir dahsyat November 2025. Warna coklat menguasai pemandangan. Dinding rumah-rumah seolah terpoles cat warna khaki. Jalanan berselaput kerak. Warna sendu merayap bahkan pada daun pepohonan. Sebagian mengering, mati. Menjadi saksi dahsyatnya gempuran air yang mengamuk.

Diam-diam kami berdoa agar hujan cuti hari ini. Kami berbekal jas hujan, tetapi sekali hujan turun, seluruh jalanan akan berubah licin berlumpur. Kendaraan kami yang bukan four wheel drive dipastikan akan mengalami kesulitan. Kami juga tidak membawa pacok, sepatu bot karet.

“Dua minggu ini sudah lumayan, Kak,” kata field buddy kami, Nurwida. “Sebagian besar rumah sudah bebas tumpukan lumpur. Kami juga sudah mulai bisa mendapat akses ke air bersih.”

Keluarga Nurwida, akrab disapa Wida, harus mengeluarkan biaya dua setengah juta rupiah untuk membersihkan sumur. Sumber air di rumah mereka tercemari air banjir plus sedimen lumpur. Airnya yang semula jernih berubah kental berminyak. Boro-boro untuk minum. Untuk mandi pun tak layak.

“Jadi bagaimana kalian minum, pasca banjir?”

“Kami kan mengungsi, Kak. Ada bantuan di pengungsian.”

Setelah minum teh hangat yang disuguhkan, Tim perempuanleuser.com diantar Wida menyusuri jalan, lalu mendaki sebuah tanggul. Di puncak tanggul ada dua bangunan kayu, keduanya berlapis debu kuning tua. Kami melewati bangunan pertama, menuju rumah di bagian belakang. Rumah itu rumah panggung. Didirikan di atas beberapa tiang pancang. Dulu tentunya tiang-tiang itu menancap langsung ke tanah. Sekarang mereka terbenam dalam lapisan sedimen. Hanya tangga ke pintu utama yang nampak.

“Tinggi air sampai di sana,” Wida menunjuk ke atas. Ada garis kuning gelap di dinding kayu, sedikit di bawah plafon. Sekitar tiga meter dari lantai rumah, atau empat meter dari tanah.

“Kami sudah biasa menghadapi banjir tahunan. Tapi banjir November kemarin itu diluar dugaan,” kata Wida.

Kondisi di sekitar rumah warga di Desa Rabo Lhok, Sawang, pascabencana ekologis akhir November 2025. Foto direkam pada 14 Februari 2026.

Gampong Paya Rabo Lhok dialiri Sungai Sawang, bagian dari DAS (Daerah Aliran Sungai) Krueng Peusangan. Hulu DAS Krueng Peusangan ada di Danau Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah. Seperti sebuah keluarga besar, Krueng Peusangan dan anak-anaknya mengalir sepanjang 128 km, melintasi lima kabupaten/kota, mulai dari Kabupaten Bener Meriah hingga bertemu Selat Malaka di Kabupaten Bireuen.

Setiap tahun Sungai Sawang menampung limpahan air dari Krueng Peusangan, yang setiap tahun juga menerima grojogan air dari gunung gemunung sekitarnya. Menurut Direktur Politeknik Artificial Intelligence Budi Mulia Dua Yogyakarta, Dr Ridho Rahmadi, dalam presentasi di kanal berbagi videonya, rimba di gunung gemunung sekitar hulu DAS Krueng Peusangan mengalami perubahan besar dalam satu dekade terakhir. Tampilan citra satelit dari daerah itu menunjukkan deforestasi berat. Warna hijau tua rimba berubah menjadi hijau sage perkebunan sawit. Padahal daerah hulu sungai ditetapkan sebagai daerah konservasi dan serapan air. Seharusnya fungsi ini bersifat tetap, tidak dapat diubah.

Surat Keputusan  Menteri Kehutanan RI No.170 Tahun 2000 tentang Penunjukan kawasan Hutan dan Perairan, menyatakan bahwa 167.443 hektare atau 65% dari luasan kawasan DAS Peusangan adalah kawasan budi daya atau areal penggunaan lain. Sebanyak 47.816 hektare (18%) merupakan hutan lindung; 24.383 hektare (9,5%) hutan produksi; sisanya berupa kawasan hutan produksi terbatas, suaka alam, dan perairan.

Dalam wawancara dengan Mongabay pada tahun 2017, Kepala Dinas Kehutanan Aceh Husaini Syamaun mengatakan bahwa beberapa DAS di Aceh ada dalam kondisi kritis. Dan DAS Krueng Peusangan adalah yang paling gawat. Ini disebabkan pembukaan kawasan hutan untuk dijadikan perkebunan kopi dan kentang. Galian C juga menjadi faktor perusak. Padahal tidak ada izin untuk galian C di DAS Peusangan, walau kenyataan di lapangan mengatakan lain (Mongabay Indonesia, 24 Januari 2017).

“Dulu kalau banjir, biasanya tidak tinggi. Paling-paling sebetis, pernah juga sepaha,” kata seorang perempuan paruh baya yang mengikuti Tim ke rumah narasumber, “tapi tidak pernah seperti kemarin (November 2025).”

“Kami pasrah saja. Sejak saya lahir, memang selalu banjir. Jadi saya pikir, memang akan selalu seperti ini,” kalimat itu dikeluarkan Dara, narasumber kami, saat ditanya apa yang dipikirkannya tentang banjir tahunan itu. Gadis langsing berkulit terang ini ekspresinya malu-malu, wajahnya kerap disembunyikan ke dinding, atau ke balik kain yang menudungi kepala. Suara bebek meleter dan kanak-kanak bermain menjadi latar percakapan kami.

Dara Assyifa, kelahiran Februari 2005, selesai SMP melanjutkan pendidikannya di Dayah Nasrul Muta’llimin, Bungkah. Sehari-hari dia menggarap sawah yang dulu biasa digarap ayahnya. Dia tinggal bersama dua adik laki-lakinya, di rumah kayu di Dusun Damee Sabe, yang dikepung sedimen banjir itu. Plafon rumah itu tak ada. Dengan menengadah sedikit, kita dapat melihat langsung pada kayu-kayu kasau dan atap seng. Kasur diletakkan di lantai, bersama beberapa barang lain. Termasuk satu lemari kecil berisi barang pecah belah.

“Ayah di Lhokseumawe bersama kakak. Ibu di Malaysia,” dengan lirih dia menjelaskan absennya orang tuanya. Dara anak keempat dari enam bersaudara. Kakak-kakaknya sudah berkeluarga di rantau. Salah seorang tinggal di Kota Lhokseumawe.

“Ayah sakit mata. Jadi Kakak membawanya ke Lhok, supaya mudah berobat.” Saat banjir bandang menyerbu Paya Rabo Lhok, Dara dan adik-adiknya mengarungi air setinggi pinggang, menuju Lapangan Desa Paya Rabo. Belajar dari pengalaman, lapangan itu biasanya tidak terdampak banjir. Pun di sana lebih mudah mendapatkan sinyal telepon selular, karena ada sebuah menara salah satu provider seluler di sana.

Dara mengaku sangat takut, karena listrik mati, kondisi desanya gelap gulita. Dia memegang telepon genggamnya erat-erat. Tangannya diangkat setinggi mungkin, agar ponselnya terhindar dari air.

“Waktu itu saya hanya berpikir, saya harus bisa menghubungi Kakak di Lhok(seumawe). Supaya bisa mengabari tentang kondisi kami,” kata Dara.

Dara Assyifa

Lapangan Desa Paya Rabo ternyata terkena banjir juga. Walau hanya setinggi mata kaki, tapi alirannya deras. Dara dan adik-adiknya berhasil menemukan tempat di mana mereka bisa berdiri, tidak terlalu terganggu arus banjir. Tak lama setelah tiba di Lapangan Desa, Dara segera menerima panggilan telepon dari kakaknya. Sinyalnya buruk, terputus-putus. Namun, sang kakak sempat menanyakan seberapa tingginya banjir di Paya Rabo, dan apakah Dara serta kedua adiknya baik-baik saja.

“Kami mengungsi di Dayah (Pesantren) Darul Al Ikhlas. Di sana memang selalu kering, tidak pernah kebanjiran,” jelas Dara.

Selama di pengungsian, dia mengandalkan telepon genggamnya untuk tetap berhubungan dengan keluarganya. Pada hari-hari normal, benda itu juga menjadi ruang rehat dari kerja berat menggarap sawah. TikTok adalah aplikasi pilihannya, walaupun dia tidak bisa menyebutkan TikToker favoritnya. Pokoknya scrolling, katanya. Konten Aceh yang selalu ditontonnya. Selain itu, dia suka mengakses film-film Hindustan melalui YouTube.

Dia menggeleng ketika ditanya apakah dia menggunakan TikTok atau YouTube untuk mencari tahu tentang bencana yang melanda Paya Rabo Lhok.

“Ya, pernah dengar,” katanya tentang Siklon Senyar. Tapi dia tidak begitu paham kaitan Siklon Senyar dengan banjir. Dia juga tidak mencoba mencari informasi lebih lanjut. Tapi alasan Dara mengapa dia tidak cari tahu tentang Senyar, cukup seronok.

“Nggak tertarik,” katanya polos. “Soalnya kan memang (kampung ini) tiap tahun banjir. Jadi ya biasa saja. Tapi saya diberi tahu orang tentang Siklon Senyar. Katanya banjir ini gara-gara Senyar. Cuma saya nggak paham apa itu siklon.”

Beberapa hari mengungsi, Dara dijemput kakaknya yang tinggal di Lhokseumawe. Jarak antara Gampong Paya Rabo Lhok-Kota Lhokseumawe biasanya dapat ditempuh dalam satu jam saja. Kalau kakak Dara memerlukan waktu hingga begitu lama untuk sampai kampung mereka, itu menunjukkan halangan yang harus dihadapi.

Dara menginap di rumah kakaknya selama dua pekan. Lalu keluarga memutuskan bahwa Dara dan adik-adiknya harus kembali, untuk menjaga rumah mereka. Pulang ke Paya Rabo Lhok, Dara menghadapi tugas baru: membersihkan tumpukan lumpur.

Bila mengupahkan pada orang lain, biaya membersihkan rumah sebesar 6×6 meter persegi mencapai empat juta rupiah. Dara dibantu adik-adik dan tetangga, bahu membahu mengeruk sedimen lumpur. Butuh waktu, tenaga, plus ketabahan–namun akhirnya rumah mereka bisa bebas juga dari sekapan lumpur.

Walaupun sampai saat ini sisa sedimen masih tertumpuk di sekitar rumahnya, Dara tidak memiliki keinginan untuk pergi atau pindah dari Paya Rabo.

“Di sini banyak saudara. Saya tidak ingin ke mana-mana,” ujarnya. Dara cukup beruntung. Dia dan adik-adiknya masih bisa menempati rumah mereka sendiri, tidak usah lagi tinggal di Balee Dayah, maupun di tenda-tenda jingga BPBD yang terpasang di beberapa tempat.

“Harapan saya banjir tidak datang lagi….,” kata Dara pelan, “tapi kalau pun datang lagi, apa boleh buat. Kita kan tidak bisa berbuat apa-apa.”

Perempuan Pewaris Nabi Idris

Raudhatul Muna (paling kanan) bersama ibu (tengah) dan neneknya (kiri) duduk di gazebo pekarangan rumah ibunya di Dusun Barona, Paya Rabo, Sawang. Foto: perempuanleuser.com

Tangannya bergerak lincah dan pasti, mendorong kain ke bawah sepatu jarum. Bagi Raudhatul Muna, 25 tahun, ibu muda berpostur tegap asal Dusun Barona, Paya Rabo, menjahit bukan sekadar cara kreatif mencari uang. Itu hobinya, ditekuni sejak SMA. Sekarang hobi itu sudah berkembang menjadi profesi, yang bahkan menjadi periuk nasi utama keluarganya. Untuk sehelai gamis, Muna menetapkan tarif 70-90 ribu bagi setiap pakaian yang dijahitnya.

“Kalau pasang payet, lebih (mahal) lagi,” katanya. Payet yang  memberi efek gemerlap dan mewah memang sangat disukai kaum perempuan Paya Rabo Lhok. Terutama untuk pakaian khanduri (pesta).

Usaha Muna cukup sukses. Pelanggannya datang dari seluruh gampong. Bahkan dari Keudee Sawang, ibu kota kecamatan. Sebelum banjir, Muna memiliki sebuah toko kecil di Barona. Dia bersama anak dan suaminya tinggal di ruang bagian belakang toko.

Pekan itu hujan turun secara konstan. Terus-menerus, tak berhenti, selama empat hari. Selasa 25 November 2025, Muna mendapat kabar melalui grup berbagi pesan kampung suaminya, bahwa air Sungai Sawang naik. Tengah malam, saat air sudah mencapai toko, Muna memutuskan untuk mengungsi ke rumah ibunya di Dusun Kuta Carok, yang berjarak hampir satu kilometer dari Barona.

“Suami saya tetap tinggal di toko untuk menjaga barang-barang kami,” kata Muna. Sepanjang malam ia tidak dapat tidur. Gemuruh air terdengar lain di telinganya.

“Di rumah Mamak pun air naik terus. Akhirnya kami putuskan untuk pergi ke Lapangan Desa. Di sana tanahnya lebih tinggi.”

Sebelum mengungsi ke lapangan, Muna menelepon suaminya. Ternyata di toko pun air sudah mencapai pinggang. Suami Muna terpaksa meninggalkan toko mereka, pergi ke rumah orang tuanya di Dusun Cot Suwe. Panggilan telepon pukul 3 pagi itu merupakan komunikasi terakhir mereka. Setelah itu, semua usaha menelepon suaminya, gagal.

“Listrik mati dan jaringan hilang total, lebih dari satu bulan lamanya,” cerita Muna. “Malam itu akhirnya kami semua menuju Dayah Darul Al Ikhlas. Sepertinya, seisi gampong mengungsi di situ. Perempuan dan anak-anak menempati balee (semacam bangunan gazebo besar tempat mengaji, umumnya dindingnya hanya separuh). Lebih dari sebulan kami tinggal di dayah.”

Muna tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak tahu bahwa aliran listrik putus karena sembilan tower dalam jaringan Aceh-Sumatera Utara telah roboh diterjang amukan banjir bandang. Dia juga tidak pernah mendengar, apa itu Siklon Senyar. Baginya, ada siklon atau tidak, sama saja. Yang sudah jelas adalah, rumah dan tokonya rusak. Barang-barangnya hancur. Motornya bahkan terendam lumpur hingga tak dapat lagi digunakan.

“Buat apa?” ia terdengar heran ketika ditanya apakah dia tidak ingin merekam bencana yang melanda desanya, dan menyebarkannya melalui media sosial. Muna merasa tak ada perlunya menyebarluaskan kabar, bahwa banjir telah meluluhlantakkan kampungnya.

“Ada juga saya dengar kata orang, bahwa ini (banjir) gara-gara penebangan (hutan). Tapi, banjir yang melanda kampung kami ini kan terjadi atas kehendak Allah. Jadi, ya, sudah, saya merasa tidak perlu mencari tahu sebabnya, atau mencoba mencegahnya. Tidak perlu juga menyebarkannya. Karena kehendak Allah kan pasti akan terjadi,” katanya.

Pasca banjir, perhiasan emas hasil jerih payahnya menjahit dijual untuk membeli keperluan sehari-hari, juga untuk biaya membetulkan mesin jahitnya yang terendam banjir. Walaupun perhiasannya habis dijual, Muna tidak menyesal.

“Karena kan itu untuk keperluan hidup kami juga,” ujarnya tegas. Keputusan menjual semua perhiasan itu disetujui sang suami, yang belum bisa menemukan pekerjaan lagi. Selama ini suami Muna bekerja serabutan, kadang-kadang menggarap sawah, kadang ikut orang membangun rumah.

Muna menggunakan aplikasi berbagi pesan untuk mempromosikan bisnisnya. Bila ia selesai menjahit baju klien yang menurutnya menarik, misalnya, maka Muna akan memasangnya di status aplikasi pesan. Atau langsung membagikannya di grup pertemanannya.

Ketika duduk di Kelas XII SMA Krueng Mane, Muna mendapat pengalaman tak terlupakan. Saat itu tahun 2020, Covid-19 membuat kegiatan belajar mengajar dengan metode konvensional, ambruk centang perenang. Bersama kawan-kawannya, Muna terpaksa sering duduk di warung kopi. Ini gara-gara mereka butuh Wi-Fi untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah.

“Waktu ujian juga cari Wi-Fi. Waktu itu ujian rasanya lebih berat dan capek daripada ujian biasa. Capek scrolling, capek tunggu soal-soalnya loading.”

Muna mengaku cukup trauma oleh banjir kemarin. Apalagi karena harta bendanya ikut musnah bersama banjir. Tapi dia tidak merasa perlu memikirkan, apa yang dapat dilakukannya untuk mencegah kehilangan seperti itu, seandainya banjir datang lagi.

Hom,” (tidak tahu) katanya, menjawab pertanyaan apakah dia memiliki tas siaga. Yaitu tas berisi dokumen penting, pakaian, sekadar makanan dan barang-barang lain yang dibutuhkan saat darurat bencana. Hom juga yang dijawabnya, ketika ditanya situs internet apa yang sering diaksesnya. “Saya tidak candu ‘main hape’, lebih suka menjahit,” alasannya.

Kondisi jembatan gantung yang rusak parah di Desa Rambong Payong, Kec. Sawang, Aceh Utara setelah diamuk banjir bandang.

Berbeda dengan di Paya Rabo, penduduk Gampong Blang Seunong, Aceh Timur, memiliki kesadaran mitigasi bencana. Blang Seunong juga langganan banjir tahunan. Begitu seringnya banjir melanda dan mengisolasi desa ini dari dunia luar, sehingga penduduk berinisiatif untuk menyimpan sebuah jalo (sampan) di rumah. Meski tidak semua rumah memiliki jalo, namun mereka mengatur agar paling tidak setiap empat rumah memiliki satu jalo. Bila diperlukan, evakuasi bisa segera dilakukan tanpa harus menunggu bantuan dari luar.

Kesadaran akan “bencana rutin” ini juga membuat pemilik kedai terbesar di Blang Seunong bersiap-siap.

“Setiap musim hujan, Nek Guru (julukan pemilik kedai) selalu  menyediakan stok sembako dan barang-barang keperluan sehari-hari lainnya dalam jumlah besar. Sebab beliau tahu, bila banjir datang, penduduk akan kesulitan belanja keluar desa. Dan kedainya pasti akan jadi tujuan utama,” cerita Yessi, relawan yang dihubungi via sambungan telepon.

Yessi berasal dari Alue Ie Mirah, desa yang bertetangga dengan Blang Seunong. Menurut Yessi, mereka juga umumnya memiliki semacam mezanin di rumah, sehingga bila air naik mereka dapat segera memindahkan barang-barang berharga ke atas, jauh dari jangkauan banjir. Informasi tentang cuaca dari BMKG, ketinggian air, tempat evakuasi dan sebagainya, juga dibagikan di grup berbagi pesan yang beranggotakan penduduk desa.

Tetapi bagi Muna, banjir tahunan yang selalu melanda Paya Rabo tidak pernah terlalu tinggi. Paling-paling setengah betis. Airnya pun cepat surut lagi. Jadi tidak perlu khawatir, atau mengadakan usaha mitigasi segala. Sedangkan banjir dahsyat seperti bulan November 2025, “Tidak akan terjadi lagi,” katanya yakin.

Ah, hom.

Cerita Pejuang Data Base: Petualangan dalam Gulita

Windi Maharani

Mobil berbelok. Pemandangan Kuala Simpang dengan jalan-jalan dan gedungnya yang berselaput debu, mulai berganti. Awalnya muncul sebentuk minaret. Sendirian, masjidnya sembunyi di balik tembok. Minaret ini tampilannya mirip mercusuar, hanya saja lautnya bukan air melainkan rumput dan pepohonan yang penuh debu sedimen banjir. Lalu kelapa sawit muncul, seperti pasukan gargoyle berbaris hingga ke batas sawang.

“Di sini ini langganan banjir juga,” kata Pak Sopir. Kami menghela napas panjang. Selalu begitu. Sawit, dan “langganan banjir”. Seperti dua sejoli sehidup semati, tak terpisahkan.

Jalanan menuju Tenggulun sebagian rusak berkerakal. Di dalam mobil kami seperti butiran boba, terkocok sempurna. Tapi akhirnya tanda bahwa kami sudah sampai Tenggulun tampak juga: deret garis sinyal di layar telepon seluler mendadak hilang.

Memang tak ada sinyal seluler di Tenggulun. Penduduk yang memerlukan komunikasi harus mencari tempat dimana sinyal seluler bisa ditangkap. Untuk internet, mereka biasanya pergi ke kafe.

“Sebab itu pekerjaan kami memutakhirkan data base sering terhambat,” kata Windi Maharani, 23 tahun, penduduk Tenggulun. Dia dan kawannya, Nia Ramadhani, 20, adalah operator data base Kelompok Cendana. Sebuah kelompok masyarakat sipil yang dimotori perempuan, dan memiliki perhatian pada lingkungan hidup dan ekonomi masyarakat.

Malam itu, Jumat 6 Februari 2025, kami duduk menikmati kopi di sebuah kafe. Kafe itu terletak di ruas jalan tempat sinyal seluler dapat diterima dengan baik. Espresso yang disediakan sungguh sedap.

“Waktu banjir itu kami beramai-ramai pergi ke bukit mencari sinyal,” ujar Windi. “Tapi lumayan sulit untuk mengurus data base di sana. Sebab itu pemutakhiran data base agak terbengkalai selama banjir.”

Data base yang disebutnya adalah kumpulan data tentang hutan, flora dan fauna serta kondisi lingkungan di daerah restorasi Tenggulun. Kelompok Cendana rutin mengadakan patroli ke hutan. Selain memetakan lingkungan hidup seputar Tenggulun, mereka juga mengawasi kalau-kalau ada pelanggaran etika terhadap lingkungan.

Dengan luas 151,43 km persegi, Tenggulun adalah kecamatan terluas di Kabupaten Aceh Tamiang. Curah hujan pada bulan November mencapai 241,70 mm dan bulan Desember 342,70 mm. (Sumber: Kecamatan Tenggulun dalam Angka, Biro Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang, 2024) Sedangkan perkebunan, luas kebun kelapa sawit baik kebun rakyat maupun korporasi mencapai 413,500 ribu hektar (Sumber: data.acehtamiangkab.go.id)

Curah hujan setinggi itu seperti sudah meramalkan, bahwa banjir akan selalu jadi menu tahunan.

“Tapi sebelum banjir besar November lalu, ada sesuatu, sih, Bu,” kata Windi.

“Maksudnya?”

“Yah, hari itu saya sedang ada kegiatan di SMA lain di Kuala Simpang. Di sana ada seorang bapak tua penjual es krim mengajak bicara.” Windi memang baru saja lolos jadi tenaga P3K di sebuah SMA.

Laki-laki tua penjual es krim mengatakan bahwa suasana dan cuaca saat itu serupa dengan suasana dan cuaca sebelum peristiwa banjir besar 2006. Hujan turun tanpa henti, terus menerus selama beberapa hari. Langit penuh awan gelap, suasana serba muram, menekan perasaan. Lelaki tua itu mengingatkan Windi agar berhati-hati, dan agar menjaga keluarganya.

Sore itu, air mulai berkumpul di lekukan-lekukan jalan di Tenggulun. Semakin lama semakin tinggi. Karena sudah terbiasa dengan banjir tahunan, warga bersikap biasa saja. Windi bahkan berputar mengelilingi kampung-kampung dengan motornya.

Nia Ramadhani (kanan) usai memanen jamur tiram milik usaha Kelompok Cendana.

Sementara itu di tempat lain, menjelang malam, dari gawainya Nia melihat sebuah video di aplikasi Facebook. Video mendirikan bulu kuduk: banjir bandang menerjang Sibolga. Ini bukan banjir bandang biasa, melainkan galodo. Banjir bandang dahsyat yang membawa balok-balok kayu, batu, lumpur dan sampah lainnya.

“Saya sempat bilang pada Ayah, ‘yaa Allah, kasihan sekali orang-orang Sibolga,’ ” kata Nia. Semakin larut malam, semakin tinggi air. Video itu adalah video media sosial terakhir yang sempat ditonton Nia. Sebab kemudian sinyal seluler lenyap. Tentu saja saat itu Nia tidak tahu bahwa menara-menara provider seluler sudah banyak yang rusak diterjang banjir.

“Tapi anehnya, air banjir itu relatif bersih, warna air hujan saja, tidak coklat butek seperti banjir biasa,” Windi menyambung. “Hari Selasa 25 November, sebelum padam lampu, saudara kami sedang mengadakan kenduri. Jadi kami membantu memasak dan sebagainya. Hujan deras turun terus. Kami meracik bahan makanan dan memasak di bawah siraman hujan. Kaki kami terendam air banjir…. Tapi itulah, airnya bersih. Aneh.”

Karena air tampak jinak, tak ada yang merasa khawatir. Seperti kata Windi, bagi masyarakat Tenggulun, banjir itu hidangan rutin.

“Hujan dua hari, banjir. Hujan dua hari, banjir,” kata Windi.

Proses pembangunan hunian sementara di Desa Paya Rabo Lhok, Sawang, Aceh Utara. Foto direkam pada 14 Februari 2026.

Malam hari selepas Isya, air sudah mulai mencapai anak tangga pertama rumah. Rumah Windi dibangun lebih tinggi dari tanah. Ada beberapa anak tangga sebelum mencapai teras. Lewat gawai, Windi juga melihat berita bahwa Kota Langsa sudah terendam banjir. Sibolga bahkan dilanda longsor.

“Saat itu para tetangga yang rumahnya lebih rendah, sudah berkumpul ke rumah saya, karena rumah mereka sudah terendam,” ujar Windi. Awalnya, semua orang mengira bahwa air takkan naik lagi, dan akan segera surut.

“Tapi saya merasa ada yang berbeda kali itu. Selain karena ada peringatan bapak tua di Kuala Simpang, saya sendiri juga punya perasaan tidak enak. Makin malam, hujan makin deras. Angin bertiup kencang. Bunyi air malam itu menakutkan sekali. Gemuruh, seperti sedang marah.  Atap rumah kami berderak-derak dihajar angin dan hujan. Apalagi, listrik mendadak padam. Sinyal telepon seluler hilang total. Berdiam diri kegelapan sambil mendengar gemuruh air dan angin, benar-benar mencekam.”

Keesokan harinya, saat kenduri, situasi memburuk. Mereka tengah membaca tahlil ketika air mulai masuk rumah. Rupanya semua parit, saluran air, sungai kecil, sudah kewalahan menampung hujan. Air cepat sekali naik. Namun begitu, mereka tetap menyelesaikan tahlil, walaupun baju basah kuyup semua.

Di rumah Windi, tinggi air belum mencapai rumah, tetapi rumahnya sudah mulai dipenuhi sanak saudara yang mengungsi. Rumah keluarga besar Windi dihuni sekitar 20 orang, terdiri atas nenek, paman dan bibi, kedua orang tua Windi, lalu Windi sendiri dengan saudara-saudara kandung, sepupu serta keponakan. Rentang usia mereka mulai dari beberapa bulan hingga nyaris seabad.

“Nggak apa-apa ni,” kata para bapak. “Sebentar lagi juga surut. Kalian tidur saja, biar kami berjaga.”

Perkiraan mereka meleset. Bukannya surut, air makin mengamuk. Menjelang tengah malam para bapak membangunkan anggota keluarga yang perempuan, karena air sudah masuk rumah. Keluarga besar Windi memutuskan untuk mengungsi ke rumah tetangga yang tanahnya jauh lebih tinggi.

“Entah kenapa, saya merasa itu tidak akan cukup. Saya bilang pada ayah dan paman, lebih baik kita pergi sekarang. Saya usulkan agar mereka menebang beberapa batang pisang di belakang, lalu membuat rakit. Supaya nenek, sepupu dan keponakan yang masih kecil-kecil bisa segera mengungsi ke tempat aman,” anak bungsu dari enam bersaudara itu bercerita berapi-api. Salah seorang bibi Windi mendukung usul keponakannya itu untuk segera mengungsi.

“Ayok, kita pergi sekarang, daripada nanti kita tidak bisa lewat, terjebak di sini!” katanya.

Tapi para bapak “Tetap keukeuh,” kata Windi. Saran Windi untuk membuat rakit dan segera mengungsi, tidak digubris.

“Nanti saja, tunggu terang. Jadi enak kita, nampak jalan,” kata para bapak. Memang ada benarnya. Sebab, sumber cahaya waktu itu hanya dari telepon genggam plus senter. Dan semuanya sudah kehabisan daya, sebab listrik padam sejak kemarin.

Kemudian, sebagai usaha pertahanan, kaum bapak menggali tanah kebun. Tanah itu dilapisi terpal, dibuat semacam tanggul untuk menghempang celah pintu-pintu. Tujuannya untuk menahan air tetap di luar selama beberapa jam, sampai udara terang dan mereka bisa melihat jalan.

Tapi tidak lama, perkataan Windi terbukti. Sedikit lewat tengah malam, air menyerbu. Dari pintu depan, belakang, bahkan merembes melalui celah lantai. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain meninggalkan rumah itu. Windi masih sempat membatin, menyesali mengapa usulnya untuk pergi sejak awal, atau membuat rakit, tidak didengar. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.

Malam itu mereka semua bergiliran dalam rombongan kecil mengarungi air setinggi dada, perlahan-lahan dan meraba-raba, karena situasi gelap gulita. Tak bisa melihat apa-apa, mereka bisa saja terperosok ke dalam parit atau lubang.

Anak-anak dan balita diberangkatkan lebih dulu, menumpang ember-ember besar tempat cuci pakaian. Nenek Windi yang sudah amat sepuh, 98 tahun, dinaikkan ke atas ban dalam, yang dipinjam dari tetangga. Windi dan ibunya berangkat dalam rombongan terakhir. Mereka sempat tertinggal jauh, karena kesulitan mengarungi air deras, dalam gelap dan tanpa alas kaki.

Ketika akhirnya tiba di masjid yang dijadikan tempat pengungsian, halaman depan rumah ibadah itu pun sebenarnya sudah penuh air. Begitu juga di bagian belakang, di mana masyarakat membuat tanggul untuk menghalangi air dari sungai masuk ke masjid.

Mereka semua mengungsi tanpa persiapan apapun. Tak ada yang sempat membawa bahan makanan–jangankan makanan, pakaian ganti pun tak sempat. Maka setelah terang hari dan air surut, anak-anak muda yang berkumpul di Masjid menembus sisa air ke rumah masing-masing, mencari bahan makanan. Beras dan mie instan yang sudah terendam air berlumpur pun mereka bawa. Saat kembali ke Masjid, mereka “menemukan” tiga ekor ayam mendekam di ranting-ranting semak. Ketiga ayam itu mereka sembelih, dan mereka masak.

Bersyukur, ada beberapa warga yang rumahnya selamat dari banjir. Mereka langsung mengulurkan tangan, mengirimkan mie instan, sedikit beras, pisang, pepaya, apa pun yang dapat diberikan, pada para pengungsi.

“Yang paling mencemaskan, kami sama sekali tidak tahu situasi di luar. Tidak bisa mengabari saudara atau siapa pun di luar Tenggulun. Sementara orang di Kuala Simpang juga cemas karena tidak tahu kabar kami, apakah kami selamat atau tidak. Sebab, semua orang Tamiang tahu bahwa Tenggulun langganan banjir, jadi kalau Kuala Simpang saja hancur apalagi Tenggulun,” cerita Windi.

“Untungnya, setelah air surut kami bisa pergi ke bukit, dapat sinyal di sana,” sambung Nia. Gadis itu tidak mengungsi ke masjid, melainkan ke rumah neneknya, yang memang letaknya jauh lebih tinggi. “Berhari-hari, setiap sore, kami pergi ke bukit. Suasana di sana jadi ramai sekali. Seperti Pekan.”

Begitu ramainya, hingga salah seorang kawan Windi punya ide untuk berjualan kopi. Idenya sukses, jualannya laris.

“Di bukit itulah kami bisa melihat berita tentang dahsyatnya banjir di Kuala Simpang,” sambut Windi. “Sebelum itu pernah ada seorang bapak dari kota lewat di masjid, dia memberitakan bahwa banyak rumah di Kuala Simpang hilang dibawa banjir. Dan setelah kami lihat di internet, ternyata memang semengerikan itu.”

Nia Ramadhani bersama anggota Kelompok Cendana saat melakukan patroli hutan. Foto: dok pribadi

Hidup di pengungsian jauh dari nyaman. Empat hari di masjid, hari kelima Windi pulang untuk membersihkan rumah. Mencoba membuat rumahnya kembali bisa ditiduri. Kesulitan tidak berhenti di situ. Harga bahan bakar dan bahan makanan melonjak tinggi. Gas ukuran 3 kg mencapai 150 ribu satu tabung. Cabai merah 300 ribu sekilo. Mie instan yang pada hari biasa seharga 1500-2000 rupiah, saat itu dijual 5000 rupiah. Penduduk desa sebelah yang tidak kebanjiran, menjual bensin seharga 50-70 ribu seliter, dan tidak boleh dibeli hanya seliter.

“Pada hari pertama setelah banjir, masyarakat desa tetangga itu memang langsung membantu kami. Mereka memberikan air bersih. Tapi dihari kedua, waktu kami kembali ke sana karena memerlukan air, ternyata kami disuruh bayar,” kenang Windi.

Saat itu uang menipis dengan cepat. Akhirnya, para penyintas banjir ini menggunakan air sumur yang masih keruh untuk memasak nasi. Sedangkan untuk air minum mereka menampung air hujan.

Selama itu, listrik masih tetap padam.

“Ada satu hari listrik menyala, yaitu ketika Presiden Prabowo datang,” ujar Windi. Nia di sebelahnya tersenyum-senyum seperti mendengar lelucon. “Iya, listrik sempat menyala sehari itu, di Kuala Simpang. Tapi setelah Presiden pergi, listrik padam lagi.”

Berbeda dengan Dara atau Muna, Windi dan Nia sadar betul kaitan antara banjir dengan menghilangnya hutan.

“Saya melihat dengan mata kepala sendiri rumah-rumah di desa tetangga, yang luluh lantak oleh banjir. Saya juga tahu, bahwa mayoritas pekerjaan mereka adalah menebang kayu di hutan. Karena itu saya yakin betul, bahwa banjir ini bukan sembarang banjir, melainkan banjir karena penggundulan hutan. Dan tugas kitalah untuk menyadarkan mereka, bahwa alam ini perlu dijaga,” di sebelahnya, Nia mengangguk-angguk.

“Saya tidak peduli kata orang, yang menyebut bahwa tugas patroli ke hutan itu tidak cocok untuk perempuan.  Saya akan tetap patroli, saya akan tetap mencoba menyadarkan mereka, bahwa alam ini bukan warisan, melainkan titipan.”[]

Karya jurnalistik ini merupakan hasil kerja sama Perempuan Peduli Leuser (perempuanleuser.com) dengan Combine Resource Innovation (combine.or.id) untuk liputan dengan topik Perempuan, Internet, dan Kebencanaan.

Ketangguhan Farhani Syawal di Tengah Putusnya Informasi Pascabanjir Bandang di Gayo

1

KENDARAAN roda empat yang dikemudikan Farhani menyusuri sepanjang Jalan Yos Sudarso Kota Takengon pagi itu, Rabu, 26 November 2025. Berangkat dari rumahnya di Jalan Malim Mudo, Farhani bermaksud mengantarkan adiknya yang mengajar di salah satu sekolah di daerah Toa, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Sekitar enam—tujuh kilometer dari tempat tinggal mereka di Tetunjung, Kecamatan Laut Tawar—kawasan ibu kota kabupaten. Farhani mengemudi dengan sangat awas.

Hujan yang terus mengguyur membuat jarak pandang Farhani terbatas. Bilah wiper di kaca depan terus bergerak ke kiri dan kanan, menyapu butiran air yang hinggap di kaca mobil. Pegunungan sekitar yang mengepung Kota Takengon seperti terbungkus selimut kelabu. Langit terlihat muram. Banjir mulai menggenangi titik-titik jalan yang lebih rendah. Dalam perjalanan pulang mobil Farhani sempat mogok di sekitar Pasar Paya Ilang. Sementara itu, genangan banjir makin tinggi. Farhani semakin tak tenang.

Dalam ingatan Farhani, sejak sepekan sebelumnya hujan memang terus mengguyur daerah berhawa sejuk itu. Puncaknya adalah di hari Rabu tersebut. Membuat Kota Takengon yang dingin semakin dingin.

“Cuaca saat itu sekitar 14 derajat,” kata Farhani saat ditemui di kediamannya, Senin, 16 Februari 2026.

Berhari-hari hujan membuat Farhani gelisah. Di benaknya terus-terusan timbul pertanyaan: ada apa ini, ya? Kok hujan nggak berhenti-berhenti. Ia pun menyibukkan diri dengan “bermain” ponsel. Membuka portal berita dan membaca informasi apa saja yang berseliweran di media sosial. Ke mana-mana pun tak bisa sebab hujan sama sekali tak berjeda.

Antrean panjang untuk mendapatkan layanan internet darurat di pascabencana pada 28 November 2025 di Takengon, Aceh Tengah.

Ia juga intens berkomunikasi dengan kakaknya yang tinggal di Kabupaten Bireuen. Namun, komunikasi itu terhenti saat Rabu siang listrik padam, diikuti sinyal internet yang hilang total. Farhani pun tak bisa lagi berselancar di dunia maya. Kondisi itu berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Selama hari-hari tersebut ia mengusir kebosanan dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an.

Informasi terakhir yang ia ketahui sebelum internet padam total adalah banjir di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, di pesisir utara Aceh. Informasi yang membuatnya bingung. Yang ia tahu, Juli tak pernah banjir. Ia penasaran, tetapi tak tahu mau mengonfirmasi ke siapa. Ia hanya menduga-duga, mungkin karena jebolnya Bendungan Irigasi Pante Lhong di Desa Beunyot.

Rasa penasaran itu terus bercokol di pikirannya sepanjang malam, bahkan berhari-hari. Belakangan ia tahu, banjir terjadi karena luapan Krueng Peusangan yang berhulu di dataran tinggi Gayo itu tak sanggup menahan debit air hujan. Alhasil, banjir bandang menyapu apa saja di selingkar pinggang Krueng Peusangan yang bermuara ke Selat Malaka. Mulai dari Kabupaten Aceh Tengah melalui Kabupaten Bener Meriah hingga ke Kabupaten Bireuen.

Di hari Minggu, Farhani mendapat kabar yang tak kalah mengejutkan, Jembatan Teupien Mane di Juli putus total. Bersamaan dengan itu, kebutuhan pokok di Kota Takengon mulai langka. Masyarakat mulai panik dan memborong apa saja yang bisa mereka beli. Tanpa jembatan itu, akses transportasi dari pantai utara menuju dataran tinggi Gayo otomatis terputus total. Beberapa jembatan yang ada di sepanjang jalur lintas Bireuen—Takengon juga putus, seperti Jembatan Tenge Besi (Bener Meriah) dan Jembatan Jamur Ujung (Aceh Tengah). Itu artinya, pasokan ke Takengon terhenti total. Tiga jalur alternatif dari Kabupaten Pidie (via Pameue), Kabupaten Nagan Raya (via Beutong), dan Kabupaten Aceh Utara (via Gunung Salak) juga terputus. Gayo terisolasi total.

Setelah internet putus, Farhani bukan hanya tak bisa menghubungi keluarganya yang ada di Bireuen, Pulau Sumatra, dan Pulau Jawa, termasuk keponakannya di Jepang. Ia juga tak bisa mengakses informasi apa pun. Bahkan tidak tahu-menahu apa yang terjadi di kecamatan-kecamatan sekitarnya. Dunia seolah menjadi hening.

Aceh Tengah merupakan salah satu kabupaten yang terletak di dataran tinggi Gayo. Berada pada titik koordinat 4022’ 14,42”–4042’ 40,8” LU dan 960 15’ 23,6” –970 22’ 10,76” BT. Topografinya didominasi oleh pegunungan dan perbukitan yang menjadi urat nadi Pegunungan Bukit Barisan. Berada pada ketinggian mulai dari 200—2.600 mdpl. Sebagian besar kawasan permukiman dan pusat kotanya berada di kisaran 1.200 mdpl. Kabupaten ini bertetangga dengan Bener Meriah—yang memiliki kondisi geografi dan topografi yang sama. Tak heran jika panorama alam dan suhu udara di daerah ini sangat indah dan sejuk.

Penampakan Gunung Bur Ni Telong pada 29 November sebelum dinyatakan Level III atau Siaga pada 30 Desember 2025.

Keindahan lanskap alam dan keberadaan Danau Lut Tawar di Gayo, ditambah Gunung Berapi Bur Ni Telong di Bener Meriah, menjadi magnet yang membuat Aceh Tengah menjelma menjadi daerah wisata. Ditambah daerah ini merupakan penghasil kopi arabika terbesar yang cita rasa dan kualitasnya telah mendunia. Memasuki akhir tahun merupakan puncak-puncak wisatawan berkunjung ke sini. Seiring dengan semakin populernya Aceh Tengah, berbagai kegiatan pemerintah juga kerap dibuat di Takengon, termasuk dari pemerintah pusat. Saat banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025, banyak wisatawan, buyer kopi, jurnalis, dan ASN dari berbagai instansi terperangkap berhari-hari di Aceh Tengah.

Pada Kamis, 27 November 2025, pemerintah daerah setempat mengoperasikan layanan telekomunikasi darurat di Kantor Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian. Berduyun-duyun orang datang ke sana. Antrean di pekarangan kantor mengular. Dengan jaringan internet yang sangat terbatas, setiap individu hanya diperbolehkan mengirim pesan kepada keluarganya melalui operator khusus. Farhani tidak termasuk yang mengantre di kantor tersebut.

“Saya sempat mengakses Starlink, tetapi yang ada di kantor kelurahan. Perangkatnya dibantu oleh pemerintah,” kata Farhani.

Banjir dan longsor tidak hanya memutus jembatan, tetapi juga meluruhkan lereng-lereng bukit dan menutupi badan jalan. Pascabanjir, Gunung Bur Ni Telong juga sempat terbatuk-batuk. Per 30 Desember 2025, pihak berwenang menaikkan statusnya menjadi Level III atau siaga. Keluarga Farhani di Bener Meriah terpaksa mengungsi ke rumahnya di Takengon. Pada 3 Januari 2026, levelnya diturunkan ke Level II atau waspada. Masyarakat pun sedikit lebih lega.

Jiwa Kemanusiaan yang Terpanggil

Warga melintasi kawasan bencana di jalur alternatif yang menghubungkan Kabupaten Bener Meriah dengan Kabupaten Aceh Tengah via Desa Wih Porak Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kab Bener Meriah.

Farhani Elwani Syawal namanya. Ia biasa disapa Farhani. Perempuan berdarah Minang yang telah menjadi asoe lhok atau warga tempatan Desa Tetunjung itu lahir sebelum peristiwa pemberontakan pada tahun 1965. Ia menuturkan, kakeknya yang seorang sipir adalah orang Minang pertama yang menginjakkan kaki di Tanah Gayo pada tahun 1920-an. Bahkan, kata Tetunjung yang menjadi nama desa tersebut diambil dari bahasa Minang yang berarti terujung. Orang tua Farhani lahir di Tetunjung. Begitu juga dengan Farhani dan saudara-saudaranya. Karena itulah, tanpa melupakan leluhur asalnya, Farhani merasa dirinya sebagai orang Gayo tulen. Sebagai orang Aceh. Sehari-hari ia fasih berbahasa Gayo.

Farhani menghabiskan masa-masa SD hingga SMK di Takengon. Saat tiba waktunya masuk perguruan tinggi, ia memilih kuliah di Akademi Akuntansi Indonesia (AAI) di Kota Padang, di tanah asal leluhurnya. Selanjutnya, ia kuliah S-1 di Unversitas Medan Area (UMA). Setelah itu, ia pulang ke Takengon dan menjadi dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Putih. Ia mengajar ilmu akuntansi. Karena tuntutan profesi, ia pun melanjutkan S-2 ke Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Tamat pada tahun 2009. Setelah tidak lagi mengajar di kampus, Farhani sepenuhnya bekerja di Dinas Perdagangan Aceh Tengah. Di sanalah ia mengabdi selama belasan tahun hingga pensiun sejak dua tahun terakhir.

Di usia senjanya, setelah sang suami meninggal dunia, Farhani kini tinggal berdua dengan adiknya. Ia tidak memiliki buah hati. Meski begitu, ia tidak merasa kesepian. Ia tetap aktif dan eksis. Pribadinya hangat dan mudah bergaul. Ia rajin mengikuti pengajian agar hari-hari pascapensiun tidak membosankan. Ia juga semakin gandrung dengan internet karena memiliki banyak waktu luang.

“Kalau main internet bisa berjam-jam saya. Selain untuk mengobrol sama keluarga dan teman-teman di WhatsApp, saya menggunakan internet untuk mengakses media sosial, saya punya Facebook. Saya membaca berita-berita, terutama yang berkaitan dengan politik,” katanya.

Ia juga aktif sebagai pengurus masjid di kampungnya. Sesuatu yang sangat disyukuri oleh Farhani, khususnya di hari-hari pascabencana akhir tahun lalu. Karena jiwa lasaknya itulah dia tak bisa diam saat tahu banjir tersebut ternyata menimbulkan dampak yang sangat parah.

Berpuluh tahun hidup dan tinggal di Gayo, belum pernah ia melihat hujan turun berhari-hari selebat itu. Yang memicu terjadinya banjir bandang dan tanah longsor. Setelah Rabu terakhir di bulan November 2025 itu, pegunungan yang memagari Kota Takengon kini memiliki parut-parut bekas longsoran. Farhani merasa masygul setiap kali melihatnya.

Sehari setelah listrik padam dan internet putus total, Farhani masih berpikir semua baik-baik saja. Sampai, seorang kawannya bercerita, bahwa desa mereka–termasuk di kampung tetangga—mulai kedatangan para pengungsi yang berasal dari desa-desa di sekitar Danau Laut Tawar. Mereka tiba di Tetunjung setelah seharian berjalan kaki untuk keluar dari desa yang sudah tertimbun longsor. Cerita itu membuat Farhani tercengang dan kehilangan kata-kata.

“Ternyata sedemikian parahnya. Mereka cerita kalau rumahnya sudah hanyut,” kisahnya.

Mendengar cerita tersebut, jiwa kemanusiaan Farhani terpanggil. Ia tak bisa hanya diam dan berpangku tangan. Mula-mula, yang ia utarakan adalah keinginan untuk datang ke lokasi. Ia ingin memastikan dan melihat sendiri bagaimana kondisinya. Namun, keinginan itu ditentang oleh teman-temannya. Mereka meminta Farhani untuk “tahu diri”.

“Kita sudah tua, jangan nanti malah merepotkan orang. Sudah ada tim BPBD yang mengurus mereka,” kata Farhani menirukan larangan temannya saat ia mengajak mereka pergi ke daerah Mendale di sekitar danau.

Farhani memahami kekhawatiran temannya. Ia tak boleh memaksakan diri. Meskipun keinginan hatinya begitu kuat, dan ia pernah menaklukkan beberapa gunung di Sumatera Barat semasa mudanya dulu, tetapi kondisinya sekarang berbeda. Tungkai-tungkainya tak lagi sekuat dulu. Lagipula, hujan masih turun meskipun curahnya tidak lagi sederas hari-hari sebelumnya.

“Tapi karena keinginan saya begitu kuat, akhirnya di hari Sabtu ketika sudah tidak hujan lagi, saya pergi juga ke Mendale. Kami jalan kaki beberapa kilometer. Itu pun kami dimarah-marahi orang juga. Pulang dari situ saya bilang ke kawan, ‘Kita harus bantu mereka,’” kata Farhani penuh semangat.

Farhani berpikir cepat. Dalam kondisi tanggap darurat seperti itu, kebutuhan utama para pengungsi tentulah mendapatkan makanan. Ia pun berinisiatif mengumpulkan beras dari warga sekitar. Ia mendatangi satu per satu rumah warga di Tetunjung. Mengumpulkan beras berapa pun jumlahnya yang bisa mereka sumbang. Yang ingin menyumbangkan pakaian layak pakai juga diterima. Di luar perkiraan Farhani, kebanyakan para ibu rumah tangga di sana ternyata sudah menunggu-nunggu orang yang datang untuk menghimpun bantuan. Saat mengingat itu hati Farhani terasa hangat. Kepekaan hati perempuan telah mendorong mereka untuk meringankan beban para penyintas yang sedang kesulitan. Bahkan, salah satu teman Farhani yang mengelola home stay berinisiatif menggratiskan tempatnya bagi para relawan dari luar daerah. Ia membuat pengumuman khusus di media sosial sehingga informasnya dapat tersebar.

Perhatian Farhani tidak hanya pada pengungsi dari luar desa saja. Warga setempat yang berasal dari keluarga ekonomi lemah juga tak luput dari perhatiannya. Ia mengecek siapa saja warganya yang kehabisan beras atau kesulitan berbelanja karena tak punya uang. Ia prioritaskan hanya bagi yang benar-benar membutuhkan, seperti yang memiliki banyak anak. Supaya tidak terlalu mencolok, saat mengantarkan beras ia sembunyikan di balik mukenanya.

“Saya bilang sama warga, ‘eh berdosa kita kalau sempat ada warga kita kelaparan karena nggak bisa beli beras’. Makanya saya himpun lagi donasi beras untuk warga di sini. Ada yang saya antarkan setelah magrib, ada juga setelah subuh biar nggak dilihat sama yang lain,” ujarnya.

Beras-beras yang sudah dikumpulan itu kemudian dimasak oleh Farhani dan kawan-kawan. Selanjutnya, dibagikan kepada para pengungsi yang menempati masjid di desa tetangga. Lebih kurang sebulan lamanya ia memasak dan membagikan nasi bungkus untuk para pengungsi. Farhani juga berkeliling ke beberapa titik pengungsian yang ada di seputaran Kota Takengon untuk melihat langsung kondisi pengungsi.

Sebelum menggalang donasi beras, terlebih dahulu Farhani menghadap pada kepala dusun. Ia menyampaikan rencananya secara gamblang. Bahwa hasil donasi akan diberikan untuk pengungsi dan warga yang membutuhkan. Ide tersebut disambut baik dan disampaikan pada pengurus masjid. Kepala desa juga menyambut antusias dan memberi kewenangan penuh bagi Farhani.

Sebagai penduduk asli Tetunjung, Farhani merasa memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar. Ia termasuk orang yang dituakan dan warga menaruh hormat padanya. Kondisi ini memberinya keleluasaan karena suaranya masih didengar, usulan-usulannya dipertimbangkan. Hasilnya nyata, banyak warga yang mau menyumbang beras melalui dirinya.

Bencana, kata Farhani, memberikan dampak pada banyak hal, khususnya bagi perempuan. Urusan domestik yang selama ini selalu dibebankan kepada perempuan, menjadi “beban pikiran” sendiri bagi perempuan di tengah situasi menghadapi bencana. Ia mencontohkan salah satu tetangganya yang memiliki empat anak yang masih kecil-kecil. Saat bencana terjadi, suaminya sedang berada di Banda Aceh. Ia sendiri diliputi rasa waswas karena tak bisa mengirim atau menerima kabar dari suaminya akibat terputusnya saluran komunikasi. Sedangkan efek padamnya listrik menyebabkan banyak urusan domestik yang terbengkalai.

Selain tetap harus mengasuh anaknya yang masih kecil, tetangga tersebut juga harus memikirkan bagaimana caranya agar bisa menanak nasi dan anak-anaknya bisa tetap mandi, sedangkan bak air kosong karena PDAM juga turut padam. Belum lagi menghadapi kerewelan anak-anak. Kondisi seperti itu jelas-jelas membuat mereka kebingungan. Kelelahan bertambah. Melihat kesusahan tetangganya, Farhani memanggil tetangga lain dan meminta mereka membantu mengisi bak air di rumah tetangganya. Farhani juga mengeluarkan sampah-sampah di rumahnya dan meminta orang lain untuk membawanya ke bak pembuangan sampah.

Suasana Bandara Rembele di Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah yang biasanya lengang menjadi sangat ramai setelah bencana. Sebelum jalur darat bisa dilalui, satu-satunya jalan keluar dari Gayo hanya via udara.

Persoalan tak berhenti sampai di situ. Beberapa hari setelah bencana, kebutuhan bahan pokok di Takengon mulai langka. Utamanya beras. Panic buying telah menyebabkan stok sembako habis dengan cepat. Gas elpiji habis. Begitu juga dengan BBM. Nyaris semua SPBU kehabisan stok. Kalaupun ada yang masih memiliki stok, antreannya bisa hingga berkilo-kilometer. Harga minyak eceran per liter mencapai Rp25 ribu rupiah, bahkan ada yang menjual lebih. Harga satu tabung gas 3 kilogram mencapai ratusan ribu, yang 15 kg bahkan lebih dari satu juta rupiah. Sekitar sepuluh hari pascabencana, beras mulai masuk ke Takengon dan harganya gila-gilaan.

“Satu karung beras ada yang sampai Rp500 ribu rupiah. Syukurnya saya sudah belanja di hari Jumat. Karena cuma berdua di rumah jadi kami nggak perlu stok yang banyak. Gas sudah nggak ada waktu itu, kami masak balek sama kayu, masak dan mencuci dengan air sumur, syukurnya kami punya sumur di rumah.”

Mereka yang berada di pengungsian tentu lebih menyedihkan. Di hari-hari atau minggu-minggu pertama, banyak di antara mereka yang hanya terbengong-bengong saja di tenda atau tempat pengungsian. Tidak ada yang bisa dilakukan karena untuk urusan memasak biasanya masih dilakukan warga setempat. Minggu-minggu berikutnya baru para pengungsi terlibat di dapur umum sehingga mulai ada sedikit aktivitas.

Dijuluki si Ratu Share

Farhani mendokumentasikan struktur tanah yang menurutnya “unik” dengan ponsel pintarnya saat mengunjungi lokasi bencana di Desa Burlah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah pada 17 Februari 2026.

Farhani mulai mengenal internet sejak dekade 2000-an. Meskipun saat itu internet belum semasif sekarang dan penggunaannya masih terbatas, tetapi kehadirannya sangat membantu aktivitasnya sebagai seorang pendidik di perguruan tinggi. Ia jadi lebih mudah untuk mencari bahan ajar. Begitu juga saat ia bekerja sebagai PNS di instansi pemerintah, kehadiran internet memberikan kemudahan dalam banyak hal, terutama dalam mengakses informasi. Ia sudah menggunakan telepon seluler berbasis Android sejak lebih dari sepuluh tahun silam. Sebelum mengenal Android, ia menggunakan perangkat BlackBerry Messanger.

Dalam proses pengurusan pangkat atau pemberkasan lainnya dalam sistem administrasi kepegawaian, tinggal menginput data digital pada sistem data base yang telah ditentukan. Kehadiran internet juga telah melahirkan inovasi-inovasi berupa kemunculan berbagai aplikasi yang dapat memudahkan kerja-kerja pegawai. Jadi lebih efektif dan efisien. Farhani mengaku tak mengalami kendala dalam mengakses berbagai aplikasi untuk pegawai pemerintah. Di luar urusan pekerjaan, ia menggunakan internet untuk mencari resep masakan, mendengarkan ceramah-ceramah agama, hingga menonton video-video tentang kesehatan.

“Surat-surat dinas yang sebelumnya harus dikirim manual, sejak ada internet bisa kita kirim PDF, langsung diterima saat itu juga, jadi lebih hemat waktu dan biaya. Bayangkan kalau nggak ada internet, kita harus datangi semua kantor camat di Aceh Tengah ini, dan itu menghabiskan banyak waktu dan tenaga,” kata Farhani.

Farhani terdorong menggunakan Android mulanya karena sang adik yang disebutnya lebih “kekinian”. Jiwanya yang selalu penasaran jadi semakin terdesak untuk segera membeli. Meskipun dalam banyak hal ia kerap mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, tetapi yang berkaitan dengan IT, ia lebih suka berkonsultasi dengan anggota keluarga yang lebih paham.

“Seandainya salah, saya nggak dimarahi oleh mereka,” katanya sembari tertawa.

Sejak mengenal internet, Farhani mengaku sangat ketergantungan. Ia bahkan menyebut dirinya sudah “candu”. Betah berjam-jam menatap layar gawai. Aktivitas menggulir konten (scrolling) terasa sangat menyenangkan. Suatu waktu, sepupunya yang berdomisili di provinsi tetangga menegurnya karena terlalu banyak menghabiskan waktu untuk “bermain” ponsel. Ia pun menyarankan Farhani untuk mengikuti program belajar menerjamahkan Al-Qur’an dengan metode Tamyiz.

“Belajarnya online lewat HP,” begitu kata sepupunya. Terdorong oleh rasa penasaran, Farhani pun mendaftar. Ia mengikuti programnya, mengerjakan dan menyetorkan tugas-tugas harian. Ia menemukan keasyikan baru. Ternyata belajar Tamyiz sangat menyenangkan. Meskipun harus memelototi layar gawai berjam-jam, bahkan terkadang hingga larut malam, tetapi ia merasa menjadi lebih produktif. Dari hari ke hari pengetahuannya tentang Al-Qur’an bertambah. Ibadahnya menjadi lebih bermakna karena bacaan-bacaan Qur’an yang dihafal diketahui artinya. “Bahkan saya sudah bisa menuliskannya,” kata Farhani.

Kawan-kawannya terkadang meledeknya, nenek-nenek asyik main HP saja. Namun, sambil berseloroh Farhani menjawab, “Aku lagi kuliah S-3.”

Mengikuti program tersebut juga membuat jejaring pertemanan Farhani semakin luas. Ia kini punya teman online di berbagai daerah di Indonesia. Latar belakang mereka juga beragam. Pertemanan ini membuatnya selalu bersemangat melalui hari-hari setelah tak lagi menjadi pekerja kantoran. Farhani perlu membuat otaknya terus “bekerja” untuk mencegah kepikunan karena faktor usia. Semangat ini juga ia tularkan kepada teman-teman sesama lansia. Ia sering “mengompori” mereka supaya tak menyia-nyiakan ponselnya. “Jangan banyak bengong, gunakan HP untuk membaca informasi,” begitu ia sering mengatakan kepada teman-ttemannya.

“Alhamdulillah, sekarang sudah tujuh tahun saya belajar Tamyiz. Kalau saking asyiknya hingga jam dua—tiga malam biasa saja,” ujarnya.

Maka itu, saat bencana terjadi akhir tahun lalu dan internet padam untuk waktu yang sangat lama, Farhani sempat terkendala dalam mengerjakan tugas-tugas menerjemahkan Al-Qur’an. Ponselnya baru terkoneksi dengan jaringan internet setelah dua pekan. Sebagai pengguna provider Smartfren, jaringannya lebih lama pulih dibandingkan pengguna Telkomsel.

Hal pertama yang ia lakukan saat terhubung dengan internet adalah mengontak keluarganya yang ada di Bireuen, Bekasi, termasuk yang di Batam. Mereka sangat mencemaskan dirinya. Apalagi, keponakannya yang di Jepang melihat dari internet kalau Tetunjung sudah “putih” dan diyakini tenggelam oleh banjir. Informasi itu sempat membuat keluarganya panik. Saat terhubung kembali dengan dirinya, barulah mereka tenang.

“Mereka bilang, itu Ratu Share gimana, ya, enggak ada internet,” tuturnya.

Di grup keluarga ataupun grup-grup lainnya, Farhani dikenal rajin membagikan apa saja sehingga ia dijuluki “Ratu Share”. Baginya, setiap informasi yang diakses dan dirasa penting terasa kurang lengkap jika tidak dibagikan kepada mereka. Konten-konten yang sering ia bagikan, seperti informasi kesehatan atau ceramah agama dari ustaz favoritnya. Namun, tak semua yang dibagikan mendapat respons positif sebab ada juga konten yang meragukan. Seperti saat wabah Covid-19 berkecamuk, ada konten yang dibagikan oleh Farhani justru dipertanyakan kebenarannya.

“Ada yang bilang, ‘Apa itu di-share, itu kan hoaks.’ Kadang, memang ada yang cuma saya baca judul aja dan saya pikir bagus, ya, sudah, saya share aja. Toh nggak menghabiskan banya kuota juga,” katanya.

Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Farhani untuk berbagi informasi. Prinsipnya sederhana, jika tak suka dengan informasi yang dia bagikan, tinggal skip saja atau hapus. Nggak perlu ngomel-ngomel. Ia hanya ingin berbagi pengetahuan kepada mereka. Ia mengakui, jika informasi yang berseliweran di media sosial terkadang membingungkan. Namun, ia punya cara sendiri untuk “mendeteksi” hoaks. Dalam konteks bencana misalnya, pernah ia menemukan konten di Facebook yang menampilkan lokasi bencana seolah-olah di Aceh Tengah, ternyata bukan. Selain memperhatikan detail wilayahnya, ia juga menjadikan bahasa yang digunakan sebagai acuan. Misalnya, menampilkan konten seolah-olah di Gayo, tetapi cara bicaranya justru jauh dari kesan orang Gayo. Itu turut menjadi perhatian bagi Farhani.

Namun, yang paling sering ia dapatkan justru pesan-pesan penipuan yang mengatasnamakan institusi pajak atau pensiun. Farhani tak pernah terkecoh sebab modus penipuan seperti itu sudah ada sejak tahun 2000 melalui telepon rumah. Jika ada nomor-nomor asing yang masuk, ia juga memeriksa melalui aplikasi Getcontact. Justru ini menjadi kekhawatirannya bagaimana data pribadi seseorang sangat mudah bocor dan menjadi target penipuan di ranah digital.

Saat bencana, ketika listrik padam dan gas tidak ada, orang-orang pun mulai kembali memasak dengan kayu. Dalam kondisi seperti itu, kebiasaan Farhani berbagi ternyata sangat bermanfaat. Ketika salah seorang teman mudanya mengeluhkan cara menyalakan api dengan kayu, dengan senang hati Farhani membuat tutorialnya dan mengirimkannya kepada sang teman.

Berkaca dari bencana November 2025 lalu, meskipun intensitas hujan cukup tinggi dan Aceh Tengah merupakan daerah rawan longsor, tetapi tidak ada pesan atau informasi apa pun dari instansi pemerintah yang masuk ke ponselnya. Padahal, jika mengacu pada Undang-Undang Keterbukaan Informasi publik, pemerintah berkewajiban memberikan informasi serta merta kepada publik untuk mengantisipasi bahaya. Di antaranya, informasi tentang bencana alam dan situasi darurat.

Saling Menguatkan

Warga yang berdomisili di sekitar Danau Laut Tawar, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah mencuci pakaian ke danau pascabanjir bandang, Jumat, 29 November 2025.

Setelah kembali terakses internet, Farhani langsung berselancar. Barulah ia “melihat” kondisi yang sesungguhnya. Ia melihat di Pidie Jaya rumah-rumah tertimbun lumpur, begitu juga di Aceh Tamiang. Kabar-kabar tentang bencana ia akses melalui TikTok atau Instagram, tetapi yang paling sering melalui Facebook. Lebih dari 60 tahun umurnya, ia mengaku inilah banjir paling dahsyat yang pernah ia saksikan.

Ia meyakini bencana ini merupakan cobaan yang diberikan oleh Allah untuk Aceh, khususnya di Gayo. Ia tak menampik bahwa bencana tentu tak terjadi dengan sendirinya tanpa pemicu. Namun, ia tak ingin melihat dari sudut pandang politik atau perusakan lingkungan yang dilakukan oleh orang-orang tak bertanggung jawab karena dapat membangkitkan emosi dan sakit hati karena tak ada penyelesaian.

“Sakit hati, kecewa tetap karena hutan ditebangi, hasilnya diambil, sedangkan kita nggak dapat apa-apa kecuali bencana, kita menderita. Ini barusan saya baru saja tulis komentar, saya bilang ini investasi akhirat kita, yang penting kita ingat, kita nggak izin. Saya sebutir debu pun enggak izin, akhirat harus dibalikin sama si penjajah itu, si pengkhianat itu,” kata Farhani dengan suara bergetar.

Ia hanya ingin fokus pada apa yang bisa dilakukan. Misalnya, mengajak teman-temannya di WhatsApp grup untuk menggalang donasi kepada para pengungsi. Ia juga rajin menyambangi tempat-tempat pengungsian yang ada di seputar Kota Takengon. Ia melihat ibu-ibu dan anak-anak yang hanya bisa termenung. Wajah mereka menyiratkan trauma. Farhani sempat “protes” pada panitia pengungsian, mengapa mereka tidak dilibatkan. Setidaknya mereka bisa menghibur mereka. Hasil dari protes itu, panitia akhirnya menghubungi pihak dinas kesehatan. Psikolog didatangkan untuk menangani anak-anak yang mengalami trauma. Guru-guru relawan juga didatangkan ke pengungsian untuk mengajari anak-anak.

“Saya bilang ke mereka, jangan terlalu larut dengan aktivitas penebangan hutan karena semakin membuat mereka stres.”

Bagi Farhani, aktivitas sosial seperti itu bukan hal baru. Gerakan serupa sudah pernah ia lakukan dua dekade silam saat gempa dan tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004. Waktu itu, ia juga sibuk menggalang donasi untuk disumbangkan kepada para penyintas yang umumnya mendiami kawasan pesisir. Setelah peristiwa besar itu, edukasi tentang mitigasi gempa dan tsunami lebih sering didengungkan. Namun, untuk bencana-bencana lain, semacam mitigasi banjir atau longsor menurutnya hampir tak pernah disosialisasikan.

Ia juga tak berusaha untuk mencari tahu melalui situs-situs resmi, seperti situs BMKG atau situs kebencanaan lainnya. Pun, setelah bencana November 2025 lalu. Melihat informasi bencana justru memicu rasa takut dan trauma yang belum sepenuhnya hilang dalam dirinya. Dalam keadaan demikian, ia hanya memasrahkan diri kepada Tuhan.[]

Karya jurnalistik ini merupakan hasil kerja sama Perempuan Peduli Leuser (perempuanleuser.com) dengan Combine Resource Innovation (combine.or.id) untuk liputan dengan topik Perempuan, Internet, dan Kebencanaan.

Tiga Serangkai Perempuan Milenial dalam Memori Bencana dan Penggunaan Internet di Desa

0

“Saat ngecek HP, lo, saldoku kok habis? Tadi masih utuh, 22 juta sekian,” ungkap Betti Lestari parau saat memaparkan pengalaman penggunaan internet paling membekas dalam ingatannya ketika berada di Indiee Coffee, Desa Tenggulun, Sabtu, 7 Maret 2026.

Lahir dan bertumbuh di Kecamatan Tenggulun, Aceh Tamiang, sang Ketua Kelompok Cendana ini mengaku telah menggunakan internet sekitar satu dasawarsa. Kelompok Cendana merupakan perkumpulan perempuan akar rumput di Desa Sumber Makmur, Tenggulun, yang berusaha menjaga kelestarian hutan dengan membantu kelompok restorasi dan mengelola hasil hutan bukan kayu (HHBK) menjadi produk bernilai ekonomi.

Perempuan yang lahir di awal milenial itu memaparkan memori manis saat pertama kali mengenal dan menggunakan internet. Bagi petani sayur sepertinya yang sungguh pemalu dalam menghadapi orang banyak, kehadiran internet laksana pengaminan setelah panjangnya doa.

“Kalau jualan di internet mudah. Posting, beri harga, tulis opsi pengantaran. Orang-orang bisa langsung memesan, saya tinggal mengantarkan,” papar Betti, “jadi tidak perlu teriak-teriak, ‘Sayuur … sayuur …. Buaah … buaah …’,” sambungnya tergelak.

Koneksi di Tengah Bencana

Warga yang melintasi Kota Lintang Bawah di Kecamatan Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, terpaksa menutup mulut dan hidung untuk menghindari paparan debu dari bekas lumpur pascabencana akhir November 2025 yang sudah mengering.

Ranger perempuan kelahiran 1981 ini mengaku kehadiran internet—walau terkadang kerap macet-macet—telah membantunya serta para warga berkomunikasi lebih mudah terutama saat menghadapi momentum bencana. Masyarakat Tenggulun sendiri telah menghadapi dua kali bencana dahsyat banjir bandang dan longsor pada tahun 2006 dan 2025. Bagi Betti, tetap terdapat perbedaan dalam kehidupannya ketika menghadapi kondisi bencana sebelum dan sesudah internet ada.

“Saat bencana 2006, internet belum ada, listrik mati, berita pun kosong. Mungkin karena sudah terbiasa, jadi tidak merasa kesusahan berkomunikasi. Tapi bencana 2025, kita sudah ada internet, terbiasa cari berita, penasaran bercampur panik, terus overthinking,” papar Betti sembari mengulum senyum.

Kemudian terkait penggunaan internet untuk mengakses informasi bencana, Betti mengaku jarang menggunakannya. Informasi bencana yang pernah dibacanya secara virtual hanya sebatas berita terkait bencana gempa dan tsunami. “Kalau bencana terbaru tidak mencari beritanya. Cukup melihat tanda-tanda alam saja,” imbuhnya.

Pada tahun 2006, Betti menghadapi musibah banjir bandang bersama keluarganya di Desa Sumber Makmur. Namun, pada penghujung tahun 2025 lalu, dia justru sedang berada di Linge, berjarak jauh dari rumah, selama belasan hari lamanya. Linge merupakan salah satu kecamatan di Aceh Tengah yang terdampak bencana ekologis cukup parah. Akses jalan rusak, jembatan terputus, tiang-tiang listrik tumbang, dan distribusi logistik mandek. Alhasil, Betti bersama masyarakat yang turut ikut dalam pergelaran Festival Nenggeri Linge saat itu terpaksa mengevakuasi diri dengan berjalan kaki selama 3 malam 2 hari untuk mencapai pusat Kota Takengon.

Menurut keterangan Betti, sinyal internet pertama kali didapatkannya kembali pascabencana ketika tiba di Takengon. Satu per satu pesan via chat WhatsApp masuk memenuhi gawainya. Teks virtual dari abang, kakak, adik, hingga tetangga dari kampung halaman yang menanyakan kabarnya hadir satu per satu, kecuali chat dari sang suami.

Alhasil, saat melanjutkan perjalanan pulang hingga ke Tamiang dan bertemu keluarga, Betti pun melampiaskan rasa kesalnya. Suaminya, menurut cerita Betti, sempat heran sebab setelah 12 hari tak berjumpa, ketika bertemu, justru mereka tidak bertegur sapa.

“Abang memang biasanya nelepon. Tapi ini kan sinyal sedang sulit. Apa susahnya mengirim sebuah chat?” papar Betti, “Merajuk dong saya!” jelasnya sembari tertawa renyah.

Tidak Melulu Internet Positif

Anggota Kelompok Cendana kerap memanfaatkan waktu berkumpul bersama untuk saling berbagi informasi.

Selalu ada pasang surut keadaan di dalam kehidupan, demikian juga dengan pengalaman dalam penggunaan internet di keseharian. Di samping cerita penggunaan internet positif untuk berdagang dan saat menghadapi bencana, Betti juga punya pengalaman lainnya. Kisahnya menghadapi penipuan online (cyber fraud) melalui pesan WhatsApp dan teror telepon berulang.

“Memang ada telepon resmi dan yang tidak. Sayangnya, saya belum bisa membedakan,” jelas Ketua Kelompok Cendana yang saat itu sedang mengurus perpajakan untuk menerbitkan izin usaha kelompok mereka.

Betti sempat merasa curiga karena nomor-nomor itu kerap kali menghubunginya di akhir pekan, Sabtu dan Minggu, yang menurut pemahamannya bukan hari kerja perkantoran pada umumnya. Dia kerap mengabaikan pesan teks dan telepon tersebut, tetapi lagi-lagi dia terus menerus dihubungi. Betti sempat berkonsultasi dengan beberapa sejawat yang menurutnya paham akan kondisi tersebut, tetapi saran yang didapatkannya hanya sebatas kalimat, “Tetap hati-hati dan waspada!”, tanpa menemukan arahan tindakan konkret lainnya.

Bak kata pepatah, “malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih”, setelah cukup lama bertahan bermodalkan kewaspadaan, benteng pertahanan perempuan tamatan sekolah dasar ini runtuh juga. Besarnya rasa sayang bercampur kekhawatiran akan potensi dicabutnya izin usaha Kelompok Cendana jika pengurusan perpajakan tak kunjung usai membuat sang Ketua gamang.

Di hari nahas itu, tepatnya di bulan Ramadhan 1446 Hijriah, sebuah aksi penipuan dalam bentuk suara (voice phishing) pun terjadi. Sang penelepon mengaku sebagai staf perwakilan kantor pajak. Tidak ada pemaparan yang mencurigakan, semua penjelasan terdengar valid, dan yang terpenting tak ada permintaan transaksi keuangan yang mencolok, kecuali untuk pembelian meterai elektronik sebesar 12.500 rupiah.

“Saya diminta menekan 6 digit nomor acak. Katanya untuk transaksi meterai. Saya merasa aman karena jumlah uangnya kecil dan bukan pin rekening,” jelas Betti menerawang ingatan setahun silam.

Lantas hanya dalam hitungan detik, notifikasi penarikan uang sebanyak dua kali pun hadir, yaitu sebesar sembilan juta sekian-sekian dan dua belas juta sekian-sekian. Kala itu, Betti belum menyadari bahwa 6 digit nomor acak tersebut merupakan OTP (one-time password), kode verifikasi dinamis untuk mengecek kebenaran identitas pengguna dan membuka akses ke rekening sang nasabah.

“Awalnya saya enggak percaya. Setelah berulang kali cek BYOND (rekening online), saldo saya hanya tinggal beberapa puluh ribu saja,” sesalnya.

Tak tunggu lama, Betti langsung menghubungi beberapa sejawat terpercaya untuk berkonsultasi. Dari rekannya yang bekerja di bank hingga Pembina Kelompok Cendana. Kemudian dia langsung melayangkan laporan ke Polres dan bank pusat. Namun, apa hendak dikata, semua usahanya berakhir nihil.

“Ekonomi saya memang pas-pasan, tetapi saya tidak gelap mata terhadap uang. Saya ini petani, sudah terbiasa bekerja keras. Tidak tertarik pada iming-iming hadiah,” jelas perempuan yang dikenal ahli mengolah aneka kuliner sehat ini.

Pada akhirnya, luka dan duka dari efek penipuan via internet tersebut dipendam oleh Betti seorang diri. Dia tidak ingin mengkhawatirkan anggota kelompoknya, suaminya, dan juga orang tuanya. Kesehatan mental perempuan Tenggulun yang dikenal tangguh ini sempat merosot tajam. Namun, perlahan tapi pasti, Betti menguatkan diri untuk bisa bangkit kembali.

“Jadi jarang keluar rumah. Tetap puasa, tetap memasak, tapi lebih sering mengurung diri di kamar dan menangis sendirian,” kisahnya. Betti menilai dukungan suami dan sejawat yang terus menyemangati membuat asanya tak jadi patah.

Walau mengaku agak trauma menggunakan internet setelah mengalami penipuan online, Betti tetap tidak ingin berhenti menggunakan akses dunia maya tersebut untuk menebarkan kebajikan. Dia menilai kejadian merugikan itu sebagai cobaan sekaligus pembelajaran hidup yang hikmahnya sangatlah berharga baginya.

“Kita berpikir positif saja. Itu bukan rezeki kita. Rezeki itu terkadang datang enggak disangka-sangka dan hilang enggak ketebak bagaimana.”

Betti pun memberikan beberapa tips dalam berinternet agar terhindar dari penipuan. Pertama, jangan sembarangan merespons nomor yang tidak dikenal. Kedua, jangan sembarangan mengklik tautan yang dibagikan. Ketiga, pikirkan, pakai logika, dan tetap waspada.

“Saya belajar untuk lebih waspada. Kejadian ini menjadi pendorong bagi saya untuk semakin pintar berinternet,” tutur Betti.

Starlink dan Harapan Baru

Anggota Kelompok Cendana menerima bantuan hibah perangkat internet Starlink dan panel surya untuk menunjang aktivitas dan produktivitas kelompok.

Perempuanleuser perlu menempuh sekitar 490 km perjalanan mengendarai mobil dari pusat kota Banda Aceh hingga tiba di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang. Perjalanan yang menghabiskan waktu tempuh hingga 11 jam tanpa jeda itu akhirnya dibagi dalam dua sesi. Sesi Banda Aceh-Langsa dan Langsa-Aceh Tamiang. Bukan hanya demi mencegah efek kelelahan akut selama perjalanan di bulan Ramadhan, tetapi juga karena banyaknya jalan dan jembatan rusak sulit akses yang diakibatkan oleh bencana ekologis berupa banjir bandang dan longsor, serta gempa bumi, yang terjadi di Aceh pada November dan Desember 2025.

Sumber Makmur adalah salah satu desa yang masyarakatnya hidup dalam ribuan hektare perkebunan sawit. Menariknya, di kecamatan ini pula berdiri Stasiun Restorasi Kawasan Hutan Tenggulun. Stasiun riset tersebut hadir dengan tujuan mengembalikan kawasan hutan lindung yang sebelumnya pernah ditanami sawit menjadi hutan tropis kembali melalui penanaman pohon tegakan seperti pohon durian, jengkol, sukun, dan sebagainya. Perlu kita ingat bersama bahwa sawit bukanlah pohon dan hektaran perkebunan sawit bukanlah hutan.

Memerlukan jarak tempuh sejauh 22 km—dengan kondisi jalan bergelombang, penuh kerikil, nyaris tanpa aspal—untuk mencapai Desa Sumber Makmur jika bertolak dari Simpang Seumadam di jalan lintas nasional Banda Aceh–Medan. Selain akses jalan yang sulit, desa tersebut juga mengalami keterbatasan akses internet. Tower jaringan internet di sana kerap rusak. Sehingga jaringan internet yang dibutuhkan sering mengalami kendala akses.

“Saya pernah menyampaikan aspirasi kepada pemerintah daerah terkait kebutuhan perbaikan jalan/infrastruktur dan jaringan internet. Tapi hingga kini belum digubris,” papar Betti.

Sehingga ketika Combine Resource Innovation (CRI) asal Yogyakarta menghibahkan satu unit paket konektivitas darurat berupa perangkat internet satelit Starlink dan panel surya sebagai dukungan akses informasi kepada Kelompok Cendana pada Maret 2026 lalu, para anggota kelompok perempuan Desa Sumber Makmur itu tampak begitu gembira.

“Alhamdulillah, internetnya lancar,” seru Sulastri, salah seorang anggota Kelompok Cendana, girang.

Kemudian Betti memaparkan salah satu kendala terbesar yang dihadapi kelompok perempuan di bidang ekonomi konservasi adalah keterbatasan akses internet untuk mempromosikan dan memasarkan produk mereka secara daring. Jenis produk yang dipasarkan Kelompok Cendana di antaranya jamur tiram, tepung pisang dan ubi, serta berbagai produk daur ulang dari olahan limbah lidi sawit dan sampah plastik.

Kendala lain terkait akses internet yang dirasakan anggota Kelompok Cendana  adalah ketika harus mengunggah data-data berukuran besar hasil patroli hutan yang dilakukan oleh para ranger perempuan. Orang-orang muda ditugaskan untuk mengirimkan informasi kondisi hutan terkini di sekitar mereka. Namun, karena lemahnya akses internet, mereka terpaksa pergi ke salah satu kafe di desa sebelah yang jarak tempuhnya tidak dekat dengan kondisi jalan bergelombang penuh bebatuan. Bukan hanya tantangan jarak yang melelahkan dan kondisi jalan yang cenderung tidak aman, lebih dari itu, para anggota bertugas kembali harus merogoh kocek pribadi demi membayar minuman, cemilan, sekaligus paket starlink di tempat tersebut.

“Kehadiran starlink ini mengurangi masalah akses internet yang kami hadapi. Jadi agak meringankan beban,” ungkap Betti sembari berterima kasih.

Internet Newbie

Penggunaan internet telah memudahkan Sulastri dalam memantau perkembangan anaknya di sekolah

Walau sama-sama lahir sebagai generasi awal milenial, pengalaman eksplorasi internet Sulastri berbeda jauh dibandingkan Betti Lestari. Kalau Betti sudah akrab dengan internet sejak sepuluh tahun lalu, Lastri justru baru menggunakan internet sejak tiga bulan terakhir, persisnya setelah bencana ekologis melanda Sumatera.

“Karena keadaan ekonomi, jadi belum bisa beli,” papar Lastri terkait alasannya tak kunjung memiliki telepon pintar. “Anak-anak pun banyak yang sedang sekolah, jadi kita mementingkan sekolah anak-anak dulu,” imbuh ibu empat anak itu. 

Selaku ibu, Lastri cenderung lebih sering mengalah demi memenuhi kebutuhan buah hati dan keluarganya. Namun, perempuan kelahiran Juni 1982 tersebut mengaku merasa sering ketinggalan informasi karena tidak dapat menggunakan internet. Padahal setelah menggunakan smartphone, Lastri semakin menyadari betapa dia merasa lebih produktif dengan mengakses internet positif.

“Belanja sekarang bisa pakai HP. Mau jualan juga bisa pakai HP. Bisa promosi online juga. Dulu tidak tahu apa-apa,” sebut Lastri mencurahkan isi hatinya.

Selain tujuan mengakses informasi dan menjaga koneksi daring sesama anggota Kelompok Cendana, Lastri menyebutkan alasan utamanya berhijrah dari ponsel jadul ke ponsel pintar adalah demi mendukung kebutuhan pendidikan anak-anaknya.

“Sekarang seluruh wali murid harus punya smartphone. Sebab semua tugas sekolah anak-anak dikirimkan melalui grup WhatsApp,” paparnya.

Secara umum, Lastri menggunakan gawainya untuk berkomunikasi, mendukung pembelajaran sekolah anak, dan sesekali mengakses hiburan melalui media sosial. Internet juga digunakan olehnya bersama anggota Kelompok Cendana lainnya untuk mempromosikan produk-produk kreasi kelompok mereka seperti piring lidi sawit serta tikar dan tas anyaman dari limbah plastik di marketplace.

“Rasanya enggak nyangka. Kok bisa kreasi buatan tangan saya dibeli, bahkan hingga ke luar negeri. Itu kan limbah!” tutur Sulastri, “bangga saya. Limbah yang dibuang bisa saya oleh menjadi uang,” kisahnya.

Kemudian saat ditanyakan tentang pengalamannya mengakses informasi resmi terkait bencana melalui internet, sontak dia menggelengkan kepala dan berkata, “tidak pernah”. Lastri dan keluarganya terbiasa membaca tanda-tanda alam di sekitar secara langsung dibandingkan mencari informasi terkait bencana melalui internet.

“Kami memperhatikan perilaku semut. Kalau gerombolan semut sudah merayap ke dinding atas, itu tandanya banjir akan segera tiba,” jelasnya.

Namun, selaku masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah yang hidup di wilayah rawan bencana seperti Tenggulun, mau tidak mau Lastri dituntut untuk bisa berdamai dengan potensi bencana banjir berulang. Dia lantas membagikan segelintir kearifan lokal terkait tata cara menghadapi banjir di wilayahnya. Kata Lastri, jika banjir datang tanpa kehadiran hujan, maka kemungkinan air surut dengan cepat. Namun, tambahnya, jika banjir hadir disertai hujan gerimis tanpa henti, dia menyarankan untuk segera mengungsi ke wilayah aman yang lebih tinggi.

“Memang sebagai perempuan, kita sering merasa tidak nyaman hidup di pengungsian. Harus selalu berpakaian labuh dan tidak bebas bergerak seperti di rumah,” kisahnya, “Mau pindah rumah, uang pun engga ada. Ya sudah, berdamai saja dengan keadaan,” imbuh Lastri yang sempat mengungsi selama tiga hari selama bencana dahsyat pada November 2025 silam.

Banyak tantangan dan perubahan skenario hidup yang harus dihadapi oleh masyarakat di wilayah rawan bencana seperti yang dialami Lastri dan keluarganya. Tidak sedikit waktu dan tenaga yang terkuras saat harus kembali membersihkan tempat tinggal yang basah dan tergenang lumpur. Ditambah lagi guncangan ekonomi karena harga bahan pokok yang seketika melambung tinggi. “Saat bencana, wafer yang harganya 2 ribu jadi 25 ribu, harga bensin sempat mencapai 100 ribu per liter, bahkan air mineral sedang dihargai 25 ribu,” kenang Lastri.

Uang hasil penjualan kebun seluas 3 hektare yang seharusnya digunakan untuk membeli kebun lainnya yang berjarak lebih dekat dari rumah, berakhir terpakai demi bertahan hidup pascabencana. Dari memperbaiki lantai rumah yang rusak parah dan mengecor lubang sarang ular kobra agar tak lagi nyasar memasuki kediaman mereka.

“Cuma dapat 14 rante tanah (± ½ hektare). Selebihnya sudah habis untuk bertahan hidup. Jika menunggu bantuan, entah kapan. Sedangkan kobra sudah sering masuk rumah. Kan takut!!” Lastri berkisah, raut wajahnya gelisah.

Saat membandingkan kondisi dahsyatnya bencana banjir bandang yang dia hadapi pada tahun 2006 dan 2025 jika dikaitkan dengan kehadiran internet, Lastri pun berkomentar. “Lumayan 2025 ini. Walau internet terputus sementara, masih tetap bisa saling berkomunikasi nantinya. Dulu di 2006 tanpa internet, untuk mengetahui kabar keluarga saja, kita harus datang dan lihat langsung sendiri. ”

Menariknya, walau tergolong newbie di dunia perinternetan, Lastri tetap menyetujui pentingnya kehadiran internet dalam merespons bencana. “Bedalah! Orang yang punya internet akan dapat informasi lebih cepat. Sedangkan saya, enggak tahu apa-apa kecuali diberi tahu langsung,” jelasnya.

Perempuan yang menamatkan pendidikannya di bangku sekolah dasar ini berharap kehadiran internet pada ponsel pintarnya dapat menambah pengetahuan dan informasi yang dapat mencerdaskannya di masa depan. “Sedih rasanya ketika enggak tahu apa-apa. Semoga saya bisa lebih pandai dalam menggunakan internet. Agar enggak ketinggalan informasi lagi,” ungkap Sulastri.

Internet Bagi Teman Disabilitas

Lainawidar saat diwawancarai oleh perempuanleuser.com di rumahnya pada 14 Februari 2026.

Bak kata pepatah, “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Dari Aceh Tamiang, cerita perempuan milenial terkait internet dan bencana berpindah ke Aceh Utara. Penuturan jujur dari pengalaman khas perempuan menghadapi kedahsyatan bencana dan bagaimana internet hadir di kehidupan seorang disabilitas tunadaksa (disabilitas fisik tangan dan kaki).

Lainawidar, alias Kak Na, demikian namanya dikenal. Dia memiliki sekelebat memori baik saat menggunakan internet dari gawai saudaranya. Sebuah fenomena yang menurutnya langka. Video yang membuktikan bahwa sejatinya di dunia ini dia tidaklah sendirian.

“Wah, ternyata ada juga orang yang kondisinya mirip saya. Masih muda dan sukses pula. Saya jadi terinspirasi,” seulas senyum pun muncul membingkai wajah sendunya.

Hal itu tampaknya menjadi satu-satunya memori baik bagi Kak Na terkait penggunaan internet. Walau ingin mengeksplorasi internet lebih jauh, tetapi dia tidak memiliki ponsel pintarnya sendiri. Anak terakhir dari enam bersaudara ini hanya bisa berpuas hati menjangkau dunia luar melalui telepon dan sms dari ponsel jadulnya.

“Pernah lihat tapi tidak pernah pakai perangkat internet. Mereka punya informasi yang cepat karena ada internet di HP-nya,” paparnya. Walau ingin mengeksplorasi internet lebih jauh, Kak Na paham kalau kondisi ekonomi keluarganya tidak cukup ramah untuk menghadirkan ponsel pintar untuk dia miliki.

Kesulitan semakin bertambah setelah bencana ekologis berupa banjir bandang setinggi lima meter meluluhlantakkan rumah keluarganya. Sempat terjatuh dan terbawa air banjir, Kak Na nyaris putus asa. Lantas dia meminta keluarganya untuk segera pergi menyelamatkan diri dan meninggalkannya seorang diri. Namun, sang abang menolak “ide gila” itu dan tetap berusaha mengevakuasi mereka berdua ke tempat yang aman.

“Saya merasa terbatas karena perbedaan fisik. Mereka bisa jalan sendiri, saya kan enggak!” ungkap Kak Na, suaranya serak, kedua bola matanya berkaca-kaca.

Pengalaman khas perempuan disabilitas dirasakan langsung oleh Kak Na selama berada di pengungsian. Tidak ada hal yang bisa dibawa, kecuali dirinya sendiri, saat berusaha lari dari amukan air bah.

Selama dua malam Kak Na terus memakai pakaian basah di pengungsian. Tidak ada air untuk diminum, konon lagi untuk membersihkan diri. Padahal saat itu dia sedang menstruasi. Bahkan dia sempat terserang demam tinggi dan mengalami diare. Bantuan baru tiba hari kelima pascabencana.

“Rasanya sulit. Seandainya ada pertolongan untuk mengganti celana dalam dan pembalut, pasti bisa lebih nyaman,” pikirnya saat itu.

Menurut pengamatan Lainawidar, saat bencana melanda, orang-orang tidak lagi sibuk dengan gawainya. Tak ada aktivitas kabar-mengabari. Setiap orang sibuk menyelamatkan diri dan mencari tempat teraman untuk mereka tuju.

Kecamatan Sawang di Aceh Utara tak ubahnya seperti Kecamatan Tenggulun di Aceh Tamiang. Masyarakat di kedua tempat itu sudah sangat familier dengan kondisi bencana banjir berulang. Namun yang menarik, warga di kedua lokasi menyatakan bahwa bencana ekologis berupa banjir bandang dan longsor pada penghujung 2025 silam merupakan versi terdahsyat sejauh ini.

Di Aceh Utara sendiri, bencana besar yang tercatat sejarah telah terjadi sebanyak tiga kali yaitu pada tahun 1983, 2000, dan 2025. Masyarakat setempat percaya bahwa tingginya intensitas bencana sebanding dengan maraknya penebangan pohon di wilayah pegunungan dan eksploitasi galian C di Sungai Sawang. Alhasil, suhu di Sawang dirasa semakin panas dan rasa durian pun dipercaya semakin hambar, belum lagi bencana yang hadir semakin meresahkan dari tahun ke tahun disebabkan kerusakan lingkungan yang masif dan perubahan iklim.

“Takut! Apalagi kalau suasana mendung, langsung panik. Bagaimana kalau banjir lagi?” jawab perempuan kelahiran 1984 tersebut saat ditanya tentang kondisinya terkini.

Saat ditemui, Kak Na dan keluarganya sudah kembali ke rumah mereka. Rumah itu diselimuti debu halus kecoklatan yang menempel di sekeliling dinding rumah. Di berbagai sudut di luar rumah terdapat tumpukan-tumpukan lumpur yang belum sepenuhnya kering. Suasana Sawang masih terasa cukup mencekam walau nyaris mencapai tiga bulan pascabencana.

“Bencana membuat kondisi di sekitar saya lebih sulit. Kondisi sekitar rumah menjadi becek dan licin. Sedangkan bantuan dukungan khusus untuk disabilitas seperti alat bantu jalan (walker) belum juga saya dapatkan,” papar perempuan yang memiliki keahlian menjahit dan merangkai bunga ini.

Perempuan Sawang yang menamatkan pendidikannya hingga di bangku SMP ini mengaku bahwa salah satu hal yang sangat dibutuhkan oleh seorang perempuan disabilitas sepertinya adalah toilet khusus di dalam rumah. Sehingga dapat memperkecil risiko kecelakaan saat harus mengakses kamar mandi di luar rumah yang cenderung jauh dan licin.

Saat ditanya tentang pengalamannya menyaksikan informasi terkait bencana di internet, Kak Na menyebutkan bahwa dirinya pernah melihat dari media sosial di ponsel pintar yang saudaranya tunjukkan. Terkadang dia ikut nimbrung untuk sesekali melihat tontonan yang disaksikan oleh anggota keluarganya melalui gawai masing-masing. 

“Saya sering penasaran melihat orang-orang yang berinternet. Kok sepertinya mereka asyik sekali, ya?” ungkap Kak Na. “Saya berharap bisa punya HP internet juga. Bisa jadi saya enggak bisa ke mana-mana, tetapi melalui akses internet, saya bisa tetap terinspirasi dan mengurus diri sendiri,” tutup Lainawidar.[]

Karya jurnalistik ini merupakan hasil kerja sama Perempuan Peduli Leuser (perempuanleuser.com) dengan Combine Resource Innovation (combine.or.id) untuk liputan dengan topik Perempuan, Internet, dan Kebencanaan.

Cerita dari Balik Layar: Perempuan, Internet, dan Pengetahuan Bertahan Menghadapi Banjir Berulang

BENCANA biasanya tidak datang tanpa tanda. Ada banyak isyarat yang disampaikan lewat pesan alam. Hujan yang turun lebih lama dari biasanya, sungai yang mulai meluap, air yang semula jernih berubah menjadi keruh, hingga hewan-hewan seperti burung, tikus, atau serangga bergerak massal menjauhi sungai atau lembah yang menjadi isyarat awal, bahwa banjir segera tiba.

Di banyak rumah, perempuan sering menjadi orang pertama yang bergerak mencari informasi, baik bertanya kepada tetangga, mengecek keadaan cuaca, memantau keadaan di sekitarnya sembari mengemasi barang-barang berharga. Ia juga orang pertama yang berperan menenangkan anak, mencarinya ketika belum sampai ke rumah, atau menghubungi via telepon jika anaknya berada di daerah berbeda untuk memastikan keadaannya.

Dalam situasi seperti itu, internet menjadi alat penting untuk mencari kabar, berbagi informasi, dan saling mengingatkan. Dari balik layar itulah, cerita-cerita tentang cara bertahan menghadapi banjir yang datang berulang perlahan terbentuk. Cerita yang jarang terdengar, tetapi menyimpan pengetahuan penting bagi kehidupan sehari-hari dan ke depannya.

Seperti cerita yang dituturkan oleh dua perempuan yang tinggal di Gampong Air Sialang Hilir. Sebuah kampung di Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Secara geografis, Gampong Air Sialang dikelilingi aliran sungai. Nama Air Sialang sendiri tidak lahir tanpa alasan, karena nama tersebut diambil dari nama sungai yang mengelilingi kampung ini, mulai dari Air Sialang Tengah, Air Sialang Hulu, hingga Air Sialang Hilir.

Selain sungai Air Sialang, daerah ini juga diapit oleh dua sungai lainnya, yaitu sungai Air Sarap dan Sungai Air Gadang. Untuk menuju ke permukiman, warga harus melewati beberapa jembatan penghubung. Sungai yang mengitari kampung itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Tak heran, terdapat banyak sumber mata air yang dibuat menjadi telaga di kampung ini. Namun di balik itu, juga menyimpan potensi ancaman saat hujan turun dalam waktu lama. Yaitu banjir yang datang secara berulang. Ada yang berskala besar hingga menelan jiwa dan harta benda, tapi ada juga yang hanya naik air sebatas ukuran mata kaki. Khususnya di rumah warga yang bangunannya masih rendah.

Bagi warga setempat, terutama para perempuan yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, perubahan tinggi air di sungai menjadi sesuatu yang selalu diperhatikan. Ketika hujan turun lebih lama dari biasanya, mereka mulai bersiap. Barang-barang penting diangkat lebih tinggi, stok makanan dan pakaian anak-anak disiapkan. Dokumen keluarga dan ijazah disimpan di tempat yang lebih aman.

Sebab, menurut sejarahnya, di Gampong Air Sialang pernah terjadi banjir dari waktu ke waktu. Pengalaman menghadapi banjir besar di masa lalu masih tersimpan dalam ingatan warga. Bahkan menjadi sebuah nilai-nilai kearifan lokal lewat cerita yang disampaikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Jauh sebelum telepon genggam dan media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kisah-kisah tentang bencana disampaikan lewat cerita orang tua kepada anak-anak mereka. Salah satu cerita yang masih diingat oleh sebagian warga adalah kisah tentang “Jailali Hanyut”, sebuah tragedi banjir besar yang terjadi sekitar tahun 1960-an.

Kehadiran internet kian memudahkan Suhartati berkomunikasi dengan anaknya yang terpisah oleh jarak. Ia juga kerap mencari informasi di internet tentang cara berkebun.

Suhartati (47 tahun), warga Air Sialang yang lahir pada tahun 1979, mengaku pertama kali mendengar cerita itu dari orang tuanya. Kisah tersebut sering diceritakan ulang sebagai pengingat bahwa banjir besar pernah terjadi di kampung mereka.

“Kami tidak mengalami langsung, tapi cerita itu sering disampaikan orang tua dulu. Mereka bilang pernah ada banjir yang sangat besar, sampai ada satu keluarga yang hanyut,” kata Suhartati yang merupakan ibu dari empat orang anak kepada perempuanleuser.com, 28 Februari 2026.

Cerita yang sama juga diketahui oleh warga lainnya bernama Surianti B (49 tahun). Ia mendengar kisah itu dari orang tuanya sejak masih kecil. Menurut cerita yang diwariskan di kampung, peristiwa itu bermula dari hujan lebat yang turun berhari-hari pada bulan Ramadan.

Saat itu, seorang warga bernama Jailali sedang berkebun di hulu Sungai Sikabu, tepatnya di daerah Panton Luas, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Bersama istrinya dan seorang bayi mereka, Jailali tinggal sementara di sebuah pondok kecil di kebun yang berada di pinggiran sungai. Namun, hujan yang turun tanpa henti membuat air sungai meluap dengan cepat. Banjir besar datang membawa arus yang sangat deras hingga menghanyutkan pondok tempat mereka berteduh.

“Menurut cerita orang tua kami, pondok itu hanyut bersama air bah. Jailali dan istrinya terbawa arus,” ujar Surianti yang merupakan Kepala Sekolah TK At-Taqwa Air Sialang.

Beberapa waktu kemudian, warga menemukan Jailali dan istrinya dalam keadaan tidak bernyawa. Tubuh mereka ditemukan tidak jauh dari rumah Surianti. Tepatnya di Talago Lubuk Ek ‘Ot. Namun, di tengah tragedi itu, sebuah kisah yang sering diceritakan kembali oleh orang tua di kampung menjadi bagian yang paling diingat oleh warga. Bayinya Jailali ditemukan dalam keadaan selamat, berpegangan pada sehelai daun keladi di tepi tebing dekat Talago Punjuik.

Cerita tentang “Jailali Hanyut” mungkin terjadi puluhan tahun yang lalu. Akan tetapi, ingatan tentang banjir besar itu masih hidup dalam percakapan warga Gampong Air Sialang. Bagi generasi seperti Suhartati dan Surianti, kisah yang mereka dengar dari orang tua dulu bukan sekadar cerita lama. Ia menjadi pengingat bahwa sungai yang mengelilingi kampung mereka bisa berubah menjadi ancaman ketika hujan turun tanpa henti.

Puluhan tahun setelah cerita itu diwariskan dari generasi ke generasi, banjir kembali menguji warga Air Sialang. Pada tahun 2002, tepatnya pada 14 Ramadhan 1423 H, air sungai kembali meluap setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Bagi Suhartati, peristiwa itu datang pada masa yang sangat rentan dalam hidupnya. Saat banjir terjadi, ia baru saja melahirkan anak keduanya.

Air terus naik hingga membuat akses keluar masuk kampung terganggu. Suaminya yang saat itu sedang berada di daerah lain berusaha pulang ke rumah. Untuk sampai ke kampung, ia harus menyeberangi aliran sungai yang airnya sudah mencapai dada orang dewasa.

“Waktu itu saya baru melahirkan. Suami saya harus menyeberangi sungai dengan air setinggi dada supaya bisa sampai ke rumah. Terdengar pula kabar bawah rumah Abang sepupu saya hanyut terbawa banjir membuat perasaan saya semakin sedih,” kenang Suhartati dengan mata berkaca-kaca.

Situasi tersebut membuat warga kembali merasakan bagaimana rapuhnya akses menuju kampung yang dikelilingi aliran sungai. Ketika air meluap, beberapa rumah warga terbawa arus dan jembatan tidak dapat dilalui. Sehingga warga harus mencari cara lain untuk bisa saling menjangkau dan terhubung.

Surianti intens menggunakan internet untuk menunjang profesinya sebagai guru. Kreativitasnya juga bertambah berkat pengetahuan yang ia dapat melalui internet.

Cerita yang hampir serupa juga dialami oleh Surianti. Saat banjir melanda kampungnya, ia sedang berada jauh dari rumah karena sedang melanjutkan kuliah di Banda Aceh. Ia baru bisa pulang dua hari setelah kejadian banjir tersebut. Namun, perjalanan pulang ke kampung tidak mudah. Untuk sampai ke rumahnya di Air Sialang, Surianti harus menyeberangi Sungai Air Sarap. Karena jembatan yang biasa digunakan warga putus. Tidak bisa dilalui kendaraan bermotor, kecuali dengan jalan kaki dan menyusuri aliran sungai.

“Saya begitu terkejut melihat keadaan kampung. Waktu itu belum ada HP, saya baru tahu kejadian banjir setibanya di sini. Jadi, mobil yang mengantar kami tidak bisa masuk ke kampung Air Sialang. Terpaksa saya harus menyeberangi sungai Air Sarap lalu berjalan kaki sekitar 1 km untuk sampai ke rumah,” kenangnya.

Setibanya di rumah, Surianti juga mendapatkan kabar duka bahwa beberapa petak sawah peninggalan ayahnya kini sudah berubah menjadi aliran sungai. Meskipun banjir kali ini tidak merenggut nyawa, tapi banyak warga kehilangan harta benda.

Pengalaman itu membuat mereka kembali menyadari bahwa banjir bukan hanya cerita masa lalu seperti yang dulu sering disampaikan oleh orang tua mereka. Banjir masih menjadi bagian dari kehidupan yang terus berulang di kampung tersebut.

Pengetahuan Praktis yang Lahir dari Pengalaman

Kondisi sungai di Desa Air Sialang

Sejak saat itu, cara masyarakat menghadapi banjir perlahan berubah. Jika sebelumnya banyak hal dilakukan secara spontan saat air sudah meluap, kini warga mulai lebih peka terhadap tanda-tanda alam. Perempuan di rumah sering menjadi orang pertama yang mengingatkan keluarga ketika hujan turun lama atau ketika air sungai mulai meningkat.

Pengalaman tersebut perlahan membentuk cara-cara bertahan yang bersifat praktis. Pengetahuan ini tidak selalu tertulis, tetapi tumbuh dari pengalaman sehari-hari, dari mengamati sungai, mengingat peristiwa banjir di masa lalu, hingga belajar dari kejadian yang pernah menimpa saudara sendiri. Bagi banyak perempuan di kampung ini, pengalaman itu kemudian diterjemahkan menjadi strategi sederhana untuk menjaga keluarga tetap aman ketika air sungai mulai naik.

Suhartati adalah salah satu yang belajar dari pengalaman itu. Ia menyadari bahwa kampung tempat tinggalnya berada di wilayah yang kerap dilanda banjir. Kesadaran itu memengaruhi keputusan besar yang ia ambil bersama suaminya, ketika membangun rumah pada tahun 2009. Mereka sengaja membuat pondasi rumah lebih tinggi dari rumah-rumah di sekitarnya, bahkan membangun rumah bertingkat dengan lantai dua.

Menurut Suhartati, keputusan itu tidak muncul begitu saja. Ia melihat bagaimana setiap kali ada perbaikan jalan di kampung, timbunan tanah dan aspal baru membuat permukaan jalan semakin tinggi. Akibatnya, rumah-rumah warga yang lebih lama dibangun menjadi semakin rendah dibandingkan jalan.

“Kami sudah tahu kampung ini langganan banjir. Jadi waktu bangun rumah kami buat pondasinya tinggi dan ada lantai dua,” kata Suhartati yang juga merupakan pengrajin kasab di Gampong Air Sialang.

Keputusan itu kemudian terbukti menjadi langkah yang tepat. Saat banjir melanda pada tahun 2014, banyak rumah warga mulai dimasuki air. Namun, rumah Suhartati tetap aman karena posisinya lebih tinggi. Hal yang sama juga terjadi ketika banjir kembali datang pada tahun 2024.

Pada banjir terakhir itu, situasi di sekitar rumahnya justru jauh lebih mengkhawatirkan. Jembatan Kadai, yang berjarak sekitar 20 meter dari rumahnya, hancur terbawa arus sungai. Tidak hanya itu, satu rumah warga yang berada di dekat jembatan juga ikut hanyut terseret banjir.

Meski rumahnya selamat dari genangan air, rasa khawatir tetap menyelimuti Suhartati. Bagian belakang rumahnya berbatasan langsung dengan Sungai Air Sialang. Ia selalu membayangkan kemungkinan terburuk jika suatu saat arus sungai mengikis tepi tanah di belakang rumahnya. Karena itu, setiap kali hujan lebat turun, ia selalu memantau kondisi sungai.

“Kalau tanggul pembatas sungai sudah mulai tenggelam, saya langsung bersiap-siap,” ujarnya.

Bersiap bagi Suhartati berarti segera mengemasi barang-barang penting. Dokumen keluarga, pakaian, dan beberapa kebutuhan lain dipindahkan ke lantai dua rumah. Ia juga menyiapkan stok makanan untuk berjaga-jaga jika banjir semakin besar. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, ketika banjir datang, warga tidak selalu memiliki banyak pilihan untuk menyelamatkan diri.

“Kalau harus lari pun mau ke mana? Kampung ini memang dikelilingi air,” katanya.

Pengalaman serupa juga membentuk cara berpikir Surianti, yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di TK At-Taqwa Air Sialang. Lokasi sekolah tempat ia mengajar memiliki sejarah tersendiri. Menurut cerita warga, kawasan tempat sekolah itu berdiri dulunya merupakan jalur aliran Sungai Air Sarap.

Kondisi sungai yang melintasi Desa Air Sialang yang dipenuhi sampah plastik.

Hal itu juga selaras dengan cerita Suharti yang lokasi tempatnya berkebun, termasuk jalur aliran Sungai Air Sarap. Ia mengingat cerita orang-orang tua di kampung bahwa jika ditarik garis lurus, aliran sungai itu dahulu sejajar dengan lokasi TK At‑Taqwa Air Sialang dan MIN 10 Aceh Selatan.

Seiring waktu, aliran sungai berubah arah. Bekas jalur sungai itu kemudian menjadi kebun warga dan sebagian dibangun menjadi fasilitas pendidikan. Meski kini terlihat seperti daratan biasa, ingatan tentang aliran sungai lama itu masih hidup dalam cerita warga. Kesadaran akan risiko itu membuat Surianti selalu waspada ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, terutama saat anak-anak sedang berada di sekolah.

“Kalau hujan lebat dan anak-anak masih di sekolah, kami minta mereka tetap di dalam kelas dulu,” jelasnya.

Ia memilih menunggu sampai hujan sedikit reda sebelum meminta orang tua menjemput anak-anak mereka. Langkah ini dilakukan untuk menghindari risiko jika air sungai tiba-tiba meluap. Selain itu, bangunan sekolah juga dibuat dengan pondasi yang lebih tinggi dibandingkan sebagian rumah warga di sekitarnya. Hal ini cukup membantu ketika banjir datang.

Pada banjir tahun 2014, air sempat masuk ke halaman dan ruang kelas sekolah. Namun, ketinggiannya hanya sampai mata kaki. Meski demikian, air yang masuk sempat merusak beberapa barang yang ada di sekolah.

Buku-buku dan dokumen yang berada di lantai menjadi basah. Lemari dan meja yang terkena air banjir juga mulai lapuk. Hingga sekarang masih ada bekas ketinggian air yang pernah masuk ke sekolah itu. Dan kini menjadi saksi bisu bahwa banjir kerap menghampiri kampung ini.

Perubahan kecil kemudian terjadi pada tahun 2018, ketika sekolah mendapatkan bantuan pembangunan pagar. Tanpa disadari, pagar tersebut kemudian menjadi pelindung tambahan ketika banjir besar kembali datang pada tahun 2024. Saat itu, banyak rumah warga di sekitar sekolah terendam air karena posisinya lebih rendah. Namun, halaman dan bangunan TK At-Taqwa relatif lebih aman dari terjangan banjir.

Bagi Surianti dan Suhartati, pengalaman-pengalaman tersebut perlahan membentuk pengetahuan yang tidak diajarkan di ruang kelas mana pun. Pengetahuan itu lahir dari pengamatan terhadap sungai, dari ingatan tentang banjir di masa lalu, serta dari upaya sederhana untuk melindungi anak-anak dan keluarga ketika air mulai naik.

Di kampung yang dikelilingi aliran sungai seperti Air Sialang, pengetahuan praktis semacam itu menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Ia hidup dalam keputusan-keputusan kecil. Dari cara membangun rumah, menyimpan dokumen penting, hingga memastikan anak-anak tetap aman ketika hujan turun lebih lama dari biasanya.

Internet dalam Strategi Bertahan Warga

Berkreasi mengolah sampah plastik menjadi ekobrik

Jika pengalaman menghadapi banjir berulang telah melahirkan berbagai pengetahuan praktis bagi warga Gampong Air Sialang, maka di masa sekarang pengetahuan itu juga semakin diperkaya oleh kehadiran internet.

Suhartati mengaku bahwa internet membantunya memahami kondisi cuaca dan perkembangan bencana di berbagai daerah. Ketika hujan turun berhari-hari, ia kerap membuka informasi prakiraan cuaca untuk mengetahui kemungkinan yang akan terjadi di wilayahnya. Dari internet pula ia mengetahui bagaimana bencana berdampak di wilayah lain.

Salah satu peristiwa yang ia ingat adalah banjir bandang yang melanda beberapa wilayah Aceh pada November 2025 lalu. Khususnya di bagian utara, timur, dan tengah Aceh seperti Pidie, Aceh Timur, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Aceh Tengah. Dampak dari bencana  itu, membuat akses informasi di kampung mereka justru sangat terbatas. Banjir yang terjadi menyebabkan listrik di Air Sialang padam hingga dua minggu lamanya.

Situasi tersebut memaksa warga kembali menjalani kehidupan seperti masa lalu. Pada malam hari mereka menggunakan lampu minyak sebagai penerangan. Di dapur, kayu bakar kembali menjadi bahan utama untuk memasak karena gas LPG sulit didapatkan. Setiap pagi warga pergi ke telaga untuk mencuci dan mengambil air yang akan digunakan untuk memasak dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Untuk mandi, warga mendatangi beberapa talago yang terdapat di Gampong Air Sialang, seperti Talago Lamen, Talago Nek Maricat, Talago Tampang, Talago Surau, Talago Meunasah, Talago Punjuik, dan Talago Lubuk Ek’ot. Inilah sumber air yang selama ini menjadi tempat warga membersihkan diri ketika air di rumah tidak bisa digunakan.

Listrik hanya menyala tiga hari sekali dan itu pun hanya beberapa jam. Pada saat-saat itulah Suhartati berusaha memanfaatkan internet untuk melihat berita tentang bencana yang terjadi di daerah lain.

“Kalau listrik hidup sebentar, saya langsung buka internet. Saya lihat berita banjir di daerah lain dan memantau keadaan sekitar di sini juga,” ujarnya.

Melihat berbagai berita bencana sering menimbulkan rasa waswas di dalam dirinya. Ia membayangkan kemungkinan yang sama bisa saja terjadi di kampungnya. Karena itu, setiap kali jaringan internet kembali tersedia, ia selalu menghubungi anaknya yang sedang bekerja di Meulaboh, Aceh Barat untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.

Namun, bagi Suhartati, internet tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi ketika bencana terjadi. Dari internet pula lahir kesadaran baru tentang pentingnya menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Rumah Suhartati berdiri tepat di tepi Sungai Air Sialang. Ketika musim kemarau tiba, ia sering melihat sungai berubah menjadi tempat penumpukan sampah warga. Bau tidak sedap dari tumpukan sampah tersebut kerap tercium hingga ke rumahnya.

Kegelisahan itu mendorongnya mencari cara agar sampah plastik tidak lagi dibuang begitu saja ke sungai. Inspirasi datang ketika ia bertamu ke rumah seorang teman dan melihat plastik bekas sabun cair diolah sebagai kerajinan tangan. Sebagai pengrajin kasab yang terbiasa menyulam benang emas dengan berbagai pola, rasa ingin tahunya muncul. Ia mulai memperhatikan pola dan bentuk kerajinan tersebut.

Sepulang dari rumah temannya, Suhartati membuka internet untuk mencari video tentang cara membuat tas dan tikar dari plastik bekas sabun cair. Setelah mempelajarinya dengan saksama, ia akhirnya berhasil membuatnya sendiri. Sejak saat itu, plastik bekas sabun cuci pakaian tidak lagi dibuang. Ia mengumpulkannya untuk dijadikan bahan kerajinan tangan.

Tas dari plastik bekas tersebut bahkan ia gunakan sendiri ketika pergi mencuci pakaian ke telaga. Ketika tetangga melihatnya membawa tas itu, banyak yang tertarik dan ingin belajar membuatnya. Suhartati kemudian mengajak para perempuan di sekitar rumahnya untuk mengumpulkan plastik bekas sabun cuci mereka. Setelah terkumpul banyak, ia mengajarkan cara membuat tikar dan tas dari plastik tersebut sesuai dengan kreativitas masing-masing. Perlahan-lahan kebiasaan membuang plastik bekas sabun ke sungai pun mulai berkurang.

“Daripada dibuang ke sungai, lebih baik kita buat jadi barang yang bisa dipakai,” katanya.

Selain itu, ia juga mengajak anak-anaknya membuat ecobrick dari plastik kemasan makanan. Botol plastik tersebut diisi dengan potongan plastik hingga padat dan rencananya akan disusun menjadi sofa sederhana, jika jumlahnya sudah cukup banyak. Sementara itu, botol plastik bekas produk perawatan tubuh dikumpulkan untuk dijual kembali. Menurut Suhartati, langkah kecil itu ia lakukan agar warga mulai melihat bahwa sampah bisa memiliki nilai.

“Mulainya dari diri sendiri dulu. Kalau orang lihat bagus, biasanya mereka ikut.”

Suhartati juga merasa senang ketika suatu waktu anaknya, Nazira (8 tahun), mengikuti kegiatan “Aktivitas Asyik dan Seru Mengenal Kampung Air Sialang” yang diadakan oleh Yellsaints Family. Dalam kegiatan itu, anak-anak diajak menjelajahi delapan sumber mata air yang ada di Gampong Air Sialang, sekaligus belajar tentang sejarah kampung mereka. Termasuk kisah banjir besar yang dikenal dengan peristiwa Jailali hanyut.

Sepulang dari kegiatan tersebut, Nazira pulang dengan penuh cerita. Ia bercerita tentang mata air yang mereka kunjungi, tentang banjir yang pernah terjadi di kampungnya, hingga tentang pentingnya menjaga lingkungan agar bencana tidak semakin parah. Cerita-cerita itu disampaikan dengan antusias, seolah membuka cara pandang baru bagi seorang anak tentang kampung tempat ia tumbuh.

Bagi Suhartati, momen itu menjadi harapan kecil yang berarti. Ia melihat bagaimana pengetahuan yang selama ini hidup dari pengalaman orang dewasa mulai dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Ia percaya, jika anak-anak sudah memahami pentingnya menjaga sungai dan lingkungan, maka kebiasaan membuang sampah sembarangan perlahan bisa berubah.

“Kalau dari kecil sudah tahu, nanti mereka pasti lebih peduli,” ujarnya.

Di tengah ancaman banjir yang terus berulang, bagi Suhartati, perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Cukup dari anak-anak yang pulang membawa cerita, lalu tumbuh dengan kesadaran untuk menjaga kampungnya sendiri.

Selain membuat kerajinan tangan, Suhartati juga membantu suaminya berkebun. Di lahan yang dulu disebut-sebut sebagai bekas aliran sungai, mereka menanam cabai dan berbagai sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam kegiatan berkebun itu, internet juga menjadi sumber pengetahuan baru baginya. Ia kerap mencari informasi tentang cara pembibitan cabai, perawatan tanaman, hingga cara mengatasi hama.

“Kalau ada tanaman yang tidak bagus pertumbuhannya, saya cari di internet bagaimana cara merawatnya,” jelasnya.

Bagi Suhartati, internet bukan hanya membantu memantau bencana, tetapi juga menjadi sarana belajar untuk menjaga sumber penghidupan keluarga. Meski internet membantu Suhartati memperoleh banyak informasi tentang cuaca dan bencana, ia juga menyadari bahwa tidak semua informasi yang beredar di dunia maya dapat dipercaya begitu saja. Menurutnya, berita yang belum jelas kebenarannya kerap membuat orang menjadi panik jika tidak disikapi dengan bijak.

Ia pernah mendengar cerita dari anaknya yang tinggal di Meulaboh. Suatu hari anaknya menerima kabar dari internet bahwa Aceh Selatan sedang dilanda banjir besar. Karena khawatir, anaknya segera menelepon untuk memastikan keadaan keluarganya di kampung. Setelah dikonfirmasi, ternyata banjir tersebut hanya terjadi di satu wilayah, yaitu di Kecamatan Sawang saja. Sementara daerah Air Sialang masih dalam kondisi aman. Selain itu, Suhartati juga beberapa kali menerima pesan berantai yang memperingatkan akan terjadi gempa besar atau banjir besar. Namun, ia memilih untuk tidak langsung panik.

“Kalau dapat informasi seperti itu, saya tetap waspada saja. Kalau tidak terjadi, Alhamdulillah. Yang penting kita sudah bersiap-siap,” ujarnya.

Menurutnya, lebih baik tetap berhati-hati daripada mengabaikan informasi sama sekali. Namun, ia juga menilai masyarakat perlu lebih bijak dalam menyebarkan kabar yang belum jelas sumbernya.

“Jangan langsung diteruskan kalau belum tahu benar atau tidak. Lebih baik dicek dulu, bisa lewat televisi atau sumber yang jelas,” katanya.

Bagi Suhartati, arus informasi yang cepat kadang juga menimbulkan rasa khawatir. Berita tentang berbagai bencana di banyak tempat membuatnya semakin sering memantau kondisi lingkungan di sekitarnya.

Berbeda dengan Suhartati, Surianti memanfaatkan internet terutama untuk mendukung aktivitas pendidikan di sekolah. Sebagai kepala sekolah di TK At-Taqwa Air Sialang, ia sering menggunakan internet untuk mencari informasi tentang metode pembelajaran serta perkembangan anak usia dini. Selain itu, ia juga memantau informasi cuaca dan kebencanaan agar dapat mengambil keputusan yang tepat ketika anak-anak masih berada di sekolah saat hujan turun dengan intensitas tinggi.

Internet juga menjadi sarana penting baginya untuk membangun solidaritas sosial. Ketika banjir dan longsor melanda beberapa wilayah Aceh di bulan November 2025 lalu, ia berkomunikasi dengan teman-temannya sesama alumni PGSD tahun 2003 melalui  grup WhatsApp. Dari percakapan tersebut muncul inisiatif untuk menggalang dana bagi korban bencana.

Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui teman-teman mereka yang berada di daerah terdampak. Aktivitas serupa juga pernah dilakukan sebelumnya ketika banjir besar melanda Ladang Rimba pada tahun 2024. Dalam kegiatan tersebut, Surianti bahkan melibatkan anak-anak di TK At-Taqwa untuk ikut belajar tentang kepedulian sosial. Bersama para muridnya, ia mengadakan kegiatan penggalangan dana di kampung Air Sialang.

“Kami ajarkan kepada anak-anak bahwa membantu orang lain itu penting. Bisa saja suatu hari nanti kita juga mengalami hal yang sama,” ujarnya.

Menurut Surianti, pengalaman menghadapi banjir di kampungnya sendiri juga menunjukkan pentingnya upaya mitigasi yang lebih baik. Ia berharap suatu saat ada pembangunan saluran air atau parit di sepanjang jalan Air Sialang. Saluran tersebut diharapkan dapat membantu mengalirkan air hujan menuju Sungai Air Sarap atau Sungai Air Sialang, sehingga genangan air tidak lagi masuk ke rumah-rumah warga.

Terkait dalam menyikapi berita hoaks tentang bencana di internet, ia tidak terlalu ambil pusing. Baginya yang penting selalu waspada. Sebab, menurutnya, sebelum internet hadir seperti sekarang, masyarakat justru lebih mudah diliputi kepanikan ketika menerima kabar yang belum tentu benar.

Ia masih mengingat peristiwa yang terjadi pada tahun 2005, beberapa bulan setelah tsunami Aceh dan Nias. Saat itu trauma masyarakat terhadap gempa dan tsunami masih sangat kuat. Suatu malam beredar kabar bahwa air laut sedang naik dan berpotensi menimbulkan tsunami. Tanpa memastikan kebenaran informasi tersebut, warga di Gampong Air Sialang beramai-ramai berlari menuju daerah pegunungan untuk menyelamatkan diri. Namun, setelah ditunggu lama, kabar tersebut ternyata tidak benar.

Peristiwa seperti itu bahkan terjadi beberapa kali. Setiap kali gempa terasa, warga segera berlari ke dataran tinggi karena tidak memiliki informasi yang jelas mengenai kondisi yang sebenarnya. Menurut Surianti, situasi sekarang sudah jauh berbeda. Dengan adanya internet, informasi mengenai gempa dapat diketahui dengan cepat dan lebih akurat.

“Sekarang kalau ada gempa, langsung ada pemberitahuan di telepon dari BMKG. Kita bisa tahu pusat gempa di mana, kedalamannya berapa, dan apakah berpotensi tsunami atau tidak,” ujarnya.

Informasi tersebut membuat masyarakat tidak lagi panik seperti dulu. Internet, menurutnya, membantu warga mengambil keputusan dengan lebih tenang dan terarah. Meski demikian, ia tetap mengingatkan bahwa informasi yang beredar di internet harus disikapi dengan bijak.

Bagi Suhartati dan Surianti, kabar tentang bencana yang beredar di dunia maya sebaiknya dipahami sebagai pengingat untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan sebagai sumber kepanikan. Banjir memang datang dan pergi di kampung ini, tapi pengalaman yang ditinggalkan tidak pernah benar-benar hilang. Cerita itu menetap di ingatan warga Gampong Air Sialang, meresap dalam cara mereka memandang langit, mendengar deras hujan, hingga memutuskan apa yang harus diselamatkan lebih dulu ketika air mulai naik.

Dulu, ketidakpastian membuat orang berlari tanpa arah. Kini, di tengah keterbatasan yang masih ada, perempuan-perempuan seperti Suhartati dan Surianti menemukan cara lain untuk bertahan, menggabungkan ingatan lama dengan pengetahuan baru dari layar kecil di tangan mereka.

Dari sana, mereka belajar membaca cuaca, memilah informasi, menjaga keluarga tetap terhubung, hingga mengubah sampah menjadi harapan. Internet tidak menghilangkan banjir, tetapi memberi mereka ruang untuk tidak lagi sepenuhnya tak berdaya. Dan dari langkah-langkah kecil yang mereka lakukan, tumbuh satu hal yang tak kalah penting dari bantuan apa pun: keyakinan bahwa mereka bisa tetap berdiri, bahkan ketika air kembali datang.[]

Karya jurnalistik ini merupakan hasil kerja sama Perempuan Peduli Leuser (perempuanleuser.com) dengan Combine Resource Innovation (combine.or.id) untuk liputan dengan topik Perempuan, Internet, dan Kebencanaan.

Balai Syura Perkuat Perempuan di Daerah Bencana

0

TIGA BULAN setelah bencana ekologis melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir 2025, banyak penyintas masih hidup dalam kondisi serba terbatas. Sebagian warga masih tinggal di tenda darurat, sementara hunian sementara (huntara) di beberapa lokasi belum sepenuhnya siap atau layak dihuni.

Dalam situasi ini, penguatan peran perempuan dinilai menjadi kunci penting dalam menjaga ketahanan keluarga dan lingkungan sosial di tengah masa pemulihan pascabencana. Pasalnya, bencana alam kerap memicu terjadinya berbagai persoalan lain, khususnya bagi perempuan.

“Tidak ada ujian tanpa rapor. Setiap ujian pasti ada pelajaran yang bisa kita ambil,” ujar Ketua Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh, Rasyidah, dalam diskusi Penguatan Peran Perempuan dalam Situasi Pascabencana bersama ibu-ibu di Dusun Pasi, Desa Keude Bungkaih, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Minggu, 8 Maret 2026.

Ia menekankan bahwa dalam menghadapi bencana, masyarakat perlu mengedepankan tiga sikap utama, yakni kesabaran, husnuzan atau berprasangka baik, serta tawakal kepada Tuhan. Namun tawakal, kata dia, bukan berarti pasrah tanpa usaha.

“Tawakal itu bukan berarti tidak berusaha dan menerima apa adanya. Kita harus berusaha maksimal dulu, baru kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah,” kata Rasyidah dalam diskusi yang sekaligus untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Rasyidah menjelaskan, bencana yang dipicu oleh hujan ekstrem pada akhir November 2025 lalu tidak hanya menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh. Selain merusak rumah dan lahan pertanian, bencana juga memicu kerentanan baru, terutama bagi perempuan dan anak.

Dalam situasi darurat, risiko kekerasan berbasis gender juga meningkat. Sejumlah kasus yang dilaporkan di berbagai daerah pascabencana mencakup pelecehan seksual, pengintaian di fasilitas mandi (MCK) terbuka, hingga kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan keluarga.

“Predator tetap beraksi saat bencana. Ketika situasi kacau, perempuan menjadi semakin rentan,” katanya.

Selain ancaman kekerasan, perempuan juga menghadapi kesulitan akses selama masa pemulihan bencana. Kerusakan jalan di sejumlah wilayah membuat mobilitas menjadi terbatas.

Akibatnya, perempuan sering harus bergantung pada bantuan pihak luar untuk memenuhi kebutuhan dasar maupun mendapatkan akses layanan. Kondisi seperti inilah yang kerap dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan dengan berbagai modus.

Anggota Presidium BSUIA lainnya, Rukiyah Hanum, menambahkan, kondisi hunian dan fasilitas pengungsian yang aman menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya kekerasan.

Jika terjadi kasus yang mengancam keselamatan korban, masyarakat diminta tidak ragu melaporkannya kepada aparat penegak hukum.

“Kalau perselisihan biasa bisa diselesaikan di tingkat gampong. Tapi kalau menyangkut keselamatan nyawa, itu harus dilaporkan ke polisi,” ujarnya.

Situasi ekonomi yang memburuk juga berdampak pada hubungan dalam rumah tangga. Dalam beberapa kasus, tekanan hidup memicu meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“KDRT meningkat pascabencana. Bisa suami ke istri, istri ke anak, bahkan istri ke suami,” ujar Hanum.
Di sisi lain, beban ekonomi keluarga juga meningkat. Banyak sumber penghidupan warga yang rusak akibat bencana.

Seorang peserta diskusi menceritakan bagaimana berbagai aset produksi warga hilang atau rusak.
“Ada yang usaha batu bata, semua bahan yang sudah dibuat hanyut sampai ke laut. Mesin jahit juga ada yang hilang. Sawah banyak yang tertimbun lumpur,” katanya.

Peran Perempuan Tetap Vital

Meski menghadapi berbagai kerentanan, perempuan dinilai tetap memegang peran penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat selama masa darurat hingga pemulihan.

Di banyak gampong, perempuan menjadi penggerak dapur umum yang menyediakan makanan bagi para penyintas. Sebagian lainnya aktif mencari bantuan, mengorganisasi komunitas, atau berupaya mencari sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.

“Peran perempuan sangat penting, misalnya di dapur umum. Dari sana kehidupan di gampong bisa tetap berjalan,” kata Rasyidah.

Ia juga menekankan bahwa pengalaman yang dialami perempuan selama menghadapi bencana merupakan pengetahuan berharga yang perlu didengar dan dijadikan dasar dalam perencanaan pemulihan.

“Pengalaman perempuan itu sebenarnya adalah pengetahuan,” ujarnya.

Karena itu, organisasi perempuan di tingkat komunitas diharapkan tetap aktif bekerja selama masa tanggap darurat hingga pemulihan. Kehadiran mereka dinilai penting untuk memastikan kebutuhan perempuan dan anak tetap terlindungi dalam situasi krisis.

“Mari sama-sama kita perkuat peran perempuan. Mereka tidak hanya berjuang untuk keluarga, tetapi juga untuk menjaga lingkungan sosial di tengah situasi bencana,” katanya.

Di sejumlah lokasi pengungsian, fasilitas yang belum memadai memunculkan berbagai persoalan perlindungan.
Beberapa pengungsi mengeluhkan kondisi hunian sementara yang belum menyediakan ruang kamar terpisah bagi keluarga. Selain itu, fasilitas sanitasi seperti kamar mandi juga belum sepenuhnya terpisah antara laki-laki dan perempuan.

“Kondisi seperti ini membuat ibu-ibu tidak nyaman. Huntara tanpa kamar bisa berbahaya,” ujar seorang peserta diskusi.

Diskusi ini juga diwarnai dengan penyampaian informasi tentang penggunaan internet sehat dan positif oleh Ihan Nurdin dari Perempuan Peduli Leuser. Peserta didorong untuk memanfaatkan perangkat teknologi dalam mengakses informasi terkait kebencanaan sebagai upaya mitigasi. Juga mengakses informasi dari website atau akun-akun yang terpercaya.

Warga setempat, Rahmi, yang juga turut memfasilitasi pertemuan dan diskusi tersebut menyampaikan, di Desa Bungkaih banyak rumah warga yang hancur diamuk banjir. Namun, tidak ada korban jiwa di desa ini. Kata Rahmi, areal pertambakan di Dusun Pasi yang langsung berbatasan dengan laut sekarang sudah berubah menjadi kuala baru.

Di akhir kegiatan, pihak Balai Syura juga memberikan sejumlah bantuan kepada warga, seperti mukena, kain sarung, perlengkapan bayi, Al-Qur’an dan Iqran, tasbih, dan paket sembako yang berasal dari donasi banyak pihak.[]

Combine Hibah Dua Perangkat Starlink untuk Komunitas Perempuan di Aceh

Combine Resource Institution (CRI) sebuah yayasan yang berbasis di Yogyakarta menghibahkan dua unit paket konektivitas darurat berupa perangkat internet satelit Starlink dan panel surya kepada dua komunitas perempuan di Aceh. Bantuan ini ditujukan untuk mendukung kegiatan komunitas sekaligus memperkuat akses komunikasi warga penyintas bencana banjir dan longsor di Aceh.

Dua komunitas penerima hibah tersebut adalah Perempuan Peduli Leuser (PPL) di Banda Aceh dan Kelompok Cendana di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang. Penyerahan perangkat untuk Kelompok Cendana difasilitasi oleh tim PPL.

Koordinator PPL, Ayu ’Ulya, mengatakan bahwa komunikasi antara pihaknya dengan pihak Combine telah terjalin sejak awal bencana terkait dengan beberapa agenda kerja sama. Salah satunya yang berkaitan dengan rencana hibah perangkat tersebut.

“Sejak awal bencana, PPL dan Combine terus berkomunikasi mengenai kemungkinan hibah perangkat konektivitas ini.  Kami melakukan asesmen dan mengajukan beberapa lokasi, tetapi untuk tahap awal ini ada dua perangkat yang dihibahkan,” kata Ayu ‘Ulya yang didampingi dua personel PPL, Ihan Nurdin dan Dian Guci, saat penyerahan perangkat kepada Kelompok Cendana, Kamis, 5 Maret 2026.

Serah terima dengan PPL, Rabu, 4 Maret 2026.

Ia berharap perangkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan positif serta membantu meningkatkan produktivitas kelompok perempuan di desa tersebut. Pemilihan Kelompok Cendana juga bukan tanpa alasan, melainkan karena pertimbangan kelompok tersebut melakukan kerja-kerja pemberdayaan dan pengorganisasian perempuan. Khususnya di bidang pemberdayaan ekonomi perempuan dan penjagaan lingkungan yang sejalan dengan visi misi PPL.

“Semoga perangkat ini bisa dipergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, termasuk untuk memperkuat kegiatan kelompok dan meningkatkan produktivitas anggota. Semoga organisasinya semakin solid dan usaha kelompok semakin berkembang setelah ada internet di sini,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ayu juga mengingatkan pentingnya setiap individu untuk bisa melek digital mengingat tantangan di media siber juga sangat kompleks. Misalnya, penyebaran hoaks dan penipuan (phising) yang sangat merugikan hingga game dan judi online yang sangat meresahkan.

Internet Masih Sulit Diakses

Proses pemasangan perangkat

Sementara itu, Ketua Kelompok Cendana, Beti Lestari, mengatakan keterbatasan akses internet selama ini menjadi kendala besar bagi warga Desa Sumber Makmur. Jaringan internet belum menjangkau wilayah desa secara merata karena lokasinya yang sangat terpelosok.

Untuk mendapatkan koneksi yang stabil, warga biasanya harus pergi ke Desa Tenggulun yang dapat ditempuh sekitar 15–20 menit menggunakan sepeda motor. Dalam keadaan darurat, di mana mereka memerlukan akses internet di malam hari tentunya sangat berisiko.

“Ketiadaan internet sangat menyulitkan kami dalam mengakses informasi, terutama saat terjadi bencana seperti akhir tahun lalu, kami jadi ketinggalan informasi, pekerjaan jadi tersendat. Alhamdulillah, sekarang sudah ada bantuan perangkat Starlink. Terima kasih untuk PPL yang sudah menjembatani bantuan hibah dari Yayasan Combine,” kata Beti.

Ia menceritakan pengalamannya saat banjir bandang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu. Saat itu ia sedang mengikuti kegiatan di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Selama beberapa hari ia terjebak dalam kondisi tanpa akses internet. Ketika akhirnya ia mendapatkan jaringan, ia tetap tidak bisa menghubungi keluarganya di Tenggulun karena desa tersebut tidak memiliki koneksi internet yang memadai.

“Ketika saya sudah bisa mengakses internet, justru keluarga di rumah tidak bisa dihubungi karena di desa kami tidak ada jaringan,” ujarnya.

Dalam aktivitas sehari-hari, keterbatasan internet juga menyulitkan kegiatan kelompok. Untuk menginput data kegiatan atau laporan, anggota kelompok harus pergi ke desa tetangga agar bisa mendapatkan akses jaringan. Selain menghabiskan banyak waktu juga menghabiskan banyak biaya.

Kebutuhan akan konektivitas yang andal menjadi semakin penting setelah serangkaian bencana hidrometeorologi melanda wilayah Sumatra pada akhir 2025.

Kampanye internet positif

Pada November 2025, fenomena Siklon Tropis Senyar memicu hujan sangat lebat hingga ekstrem di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Sistem cuaca langka yang terbentuk di Selat Malaka tersebut meningkatkan intensitas curah hujan dan memicu banjir serta tanah longsor di berbagai daerah.

Di tengah kondisi bencana, keterbatasan jaringan komunikasi kerap membuat warga kesulitan memperoleh informasi, menghubungi keluarga, maupun berkoordinasi dengan pihak luar.

Karena itu, perangkat internet satelit seperti Starlink dinilai penting untuk memastikan komunikasi tetap berjalan, terutama di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi konvensional.

Perempuan Peduli Leuser (PPL) merupakan komunitas perempuan yang bergerak dalam advokasi lingkungan, kampanye perlindungan Kawasan Ekosistem Leuser, serta penguatan peran perempuan dalam isu sosial dan ekologis di Aceh melalui pendekatan jurnalistik.

“Terima kasih kepada Combine yang sudah memercayakan kami sebagai mitra lokal untuk melakukan asesmen dan pendistribusian perangkat. Dengan adanya dukungan perangkat konektivitas ini, semoga komunitas perempuan di Aceh dapat lebih mudah mengakses informasi, memperkuat jaringan kerja, serta meningkatkan kapasitas mereka dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk risiko bencana di masa depan,” kata Ayu.[]

Perjalanan Mendebarkan Pulang ke Kampung Halaman di Gayo Lues via Aceh Tengah

0

“Kita berangkat jalur darat saja, ya, enggak berani jalur udara, cuaca di Banda Aceh sedang hujan,” ujar teman sekantor yang bersamanya aku akan melakukan perjalanan dinas dari Kota Banda Aceh menuju Kabupaten Gayo Lues. Kampung halamanku. Kabupaten yang terletak di jalur Bukit Barisan dan karenanya dijuluki Negeri Seribu Bukit.

Setelah memesan tiket di salah satu travel rute Banda Aceh-Blangkejeren, aku pun mempersiapkan segala keperluan untuk melaksanakan perjalanan tersebut.

Awalnya, aku berpikir kami akan berangkat menuju Gayo Lues melalui jalur Aceh Barat Daya melewati Kecamatan Terangun. Pascabanjir bandang terjadi, jalur Terangun itu adalah satu-satunya akses yang bisa dilewati dari dan menuju ke Gayo Lues.

Setelah dijemput oleh sopir travel, barulah kami tahu kalau jalur yang akan ditempuh ternyata via Aceh Tengah. Ini jalur umum yang biasanya ditempuh menuju Gayo Lues sebelum banjir bandang menerjang. Langsung terbayang olehku jalan yang masih rusak dan sangat ekstrem untuk dilalui via Aceh Tengah. Sebelumnya aku juga baru pulang ke kampung, tapi melalui jalur Aceh Barat Daya di pantai barat selatan Aceh.

Namun, sopir tersebut meyakinkan kami bahwa jalur Banda Aceh–Aceh Tengah–Gayo Lues sudah aman. Ada dua jalur yang biasanya dilewati melalui Aceh Tengah, yaitu jalur Kecamatan Bintang yang melewati tepi Danau Lut Tawar dan jalur Isaq di Kecamatan Linge. Kali ini kami akan melewati jalur Isaq. Lebih aman, begitu kata sopirnya. Bismillah. Maka berangkatlah kami pada Jumat malam, 20 Februari 2026 bersama para penumpang lainnya.

Kami tak banyak protes, dan langsung melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan, sang sopir juga banyak bercerita tentang bencana alam ekologis yang terjadi pada akhir November 2025 lalu. Ia bercerita, saat kejadian itu ia sempat terjebak beberapa hari di Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Ia sedang dalam perjalanan menuju Banda Aceh dengan membawa penumpang mahasiswa dan sejumlah logistik sebagai bekal mereka di kos nanti. Logistik itulah yang mereka masak dan makan bersama selama terjebak di sana.

Setelah beberapa hari terjebak, sang sopir akhirnya memberanikan diri keluar dari Linge bersama dengan rombongan lainnya dan meninggalkan mobilnya di rumah warga setempat.

Sang sopir menyebutkan, bahwa mencekamnya kejadian tersebut melebihi mencekamnya pada saat kejadian tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Logistik berkurang, keluarga tak bisa dihubungi karena sinyal internet padam total, hanya secercah harapan bahwa musibah itu akan berakhir.

Pascabencana banjir, pihak travel, khususnya yang beroperasi di rute Banda Aceh–Gayo Lues mengalami kemerosotan pendapatan karena jalur ke sana lumpuh total. Sampai akhirnya rute Blangkejeren–Banda Aceh melalui Kecamatan Terangun, Kabupaten Aceh Barat Daya dibuka.

Namun, konsekuensinya adalah naiknya tarif angkutan. Banyak penumpang yang kontra dengan kenaikan tarif yang diberlakukan saat itu, padahal kenaikan tarif tersebut tidak sebanding dengan risiko yang ditanggung. Terlebih, saat itu BBM juga sangat langka. Tarif normal ke Gayo Lues sebelum bencana Rp270 ribu. Harganya melambung tinggi menjadi Rp400 ribu pascabencana. Saat aku pulang kemarin, harga tiket sudah turun menjadi Rp300 ribu.

Keadaan saat itu begitu kacau. Berbagai macam harga bahan pokok naik. Bantuan ke Kabupaten Gayo Lues hanya bisa disalurkan lewat udara dan itu pun tidak merata.

Setelah sopir selesai bercerita, aku diserang kantuk. Malam kian larut. Perjalanan dari Banda Aceh memang dilakukan malam hari. Aku pun tertidur, meski sesekali terjaga karena perjalanan tidak begitu mulus. Lubang-lubang di beberapa titik badan jalan membuat mobil tidak stabil. Membuat penumpang di dalam ikut berguncang.

Kondisi Jembatan Atu Peltak di Kec. Rikit Gaib, Gayo Lues, pascabanjir bandang.

Paginya, 21 Februari 2026, saat aku terbangun, kami sudah sampai di daerah Ise-Ise di Kecamatan Pantan Cuaca. Sudah masuk Kabupaten Gayo Lues. Jalanan di kawasan ini berkelok-kelok menuju Kecamatan Rikit Gaib. Pemandangan di sekitar sini yang banyak ditumbuhi pohon pinus masih sama. Indah dan menawan. Apalagi masih diselimuti kabut.

Namun, aku melihat secara langsung, bahwa Gayo Lues belum benar-benar pulih, walaupun sudah tiga bulan bencana alam ekologis berlalu. Kabupaten Gayo Lues tercatat sebagai salah satu daerah yang paling parah diamuk bencana.

Selama perjalanan itu, aku melihat bangunan sekolah yang hancur, jembatan yang sudah miring, rumah yang hancur, jalanan yang rusak dan badan jalan yang amblas, serta persawahan yang rusak parah dan tepat wisata yang rusak pula. Di beberapa titik juga sedang dibangun hunian sementara agar masyarakat tak lagi mengungsi dengan fasilitas seadanya.

Setelah sampai di Blangkejeren dan menyelesaikan tugas-tugas kami, aku menuju kampungku di Gumpang, Kecamatan Putri Betung. Sebelumnya untuk menuju kampungku (lintas Blangkejeren-Kutacane) diberlakukan buka-tutup jalan di jam-jam tertentu. Alhamdulillah, saat aku berangkat tidak diberlakukan aturan itu sehingga tak perlu mengantre lama saat menuju kampungku.

Tapi tetap saja hatiku dag dig dug ser saat melewati akses yang terkena longsor terutama di Daerah Tetumpun, Tangsaran, dan Begade Empat. Apalagi saat usai hujan, jangan coba-coba menguji adrenalin di jalur itu. Ketiga tempat itu adalah titik akses paling parah saat bencana terjadi dan membutuhkan waktu yang sangat lama dalam perbaikannya. Semoga saja segera pulih.

Kayu besar yang terbawa arus banjir bandang dan tersangkut di areal persawahan Desa Gumpang.

Saat di jalur Tetumpun itu aku tak berani lewat, untung saja ada orang baik yang menawarkan bantuan untuk membawa motorku sampai ke jalan yang bagus.

Saat sudah sampai di Desa Gumpang, aku mengunjungi persawahan yang tak jauh dari rumahku. Kami melihat areal persawahan itu kini berubah bentuk. Sudah ada aliran sungai baru yang melewati areal tersebut.

Dulunya tanah itu ditanami padi dan beberapa komoditas lain. Sekarang tak ubahnya seperti hamparan bebatuan dan pasir. Terasa gersang saat matahari menyinari. Sepertinya tak bagus lagi untuk bercocok tanam seperti dulu. Struktur tanah telah berubah, bebatuan besar dan kayu-kayu memenuhi areal tersebut. Ah, bagaimana petani mau menanam kalau begini.

Aku memandang nun ke sana. Memandangi sinar mentari yang menyinari tanah yang dulunya subur, namun kini harus hancur diterpa bencana. Hatiku terasa masygul. Segeralah pulih Gayo Lues. Segeralah pulih Aceh.[]

Catatan perjalanan, 23 Februari 2026

Perempuan, Le‌user, dan Lu​ka‌ A‌ntrop‌osen di Aceh

Oleh Syarifah Huswatun Miswar*

Banjir bandang yang melanda sejumlah wila‌yah di Aceh (juga di Sumatera Utara dan Sumatera Barat) pada akhir November 2025 lalu​ bu‌kanlah peristiwa yan​g datang tanpa sebab. Air yan‌g m⁠eluap, lumpur yang memas‌uki rumah-rumah, dan​ lahan yang rusak tidak bisa semata-mata dijelaskan seb​agai akibat hujan d‌er‌as.

Ia adala‍h hasil dari proses‌ panjang, ketik​a‍ hutan kehilangan fung​sinya sebagi penjaga k​es​eimbangan, d‌an alam dipaksa tunduk pada logika ekonomi yang m‌enggadaikan daya dukung ke‌hidu​pan. Perubaha‌n terjadi tak hanya di darat, tet‌ap​i juga​ di udara, la‌ut, bahkan pada jan‌gkauan lebih luas dari bumi tempat kita tinggali.

Dalam setiap b‌encana ekologis, negara c‌enderung‌ berbicara melalui angka: jumlah ko‌rban, rumah rusak, serta kerugian m‌aterial.​ Namun‌, ada dimensi lain yang sering lup​ut dari perhati‌an, yakni bagaimana krisis ekologis pertama-tama dirasakan melalui tub​uh manusia, terutama tubuh perempuan.

Ke​tika h​utan runtuh, yang lebih dulu kehilangan kese‌i​mbangan bukanlah statistik, melainkan kehidupan sehri-hari yang dikelola oleh perempuan.

D‌i b​anyak‌ komunitas di Aceh, perempuan memiliki​ peran se​ntral dalam mengatur air, pangan,‌ dan ritme rumah t​angga. Mereka meng‌etahui kapan air sungai mula​i be‌rubah‌ war​na, kapan sumur tidak lagi layak minum, dan kapan hasil kebun menu‌r​un kualitasnya. Pe‌ngetahuan ini lahir​ dari pengalama hidup y​ang terus‌-menerus bersentuhan den‌gan alam, bukan dari l‌aporan teknis atau peta kebijakan.

Ketika banjir bandang datang, beban perem​p⁠uan tidak berhent‌i pada status sebag​ai penyintas. Mereka tetap harus memastikan anak-anak makan, mera​wat lansia,‍ membersihkan lumpur,‌ mencari air bersih, dan memulihkan kehidupan di tengah k​eterbatasan. Namun, kerja ini jarang dike​nali sebagai b​agian dari dampak bencana. Nega​ra menyebut “pengungsi”, tetapi sering melupakan ker​ja reprouktif yang runtuh dan harus‌ dibangun kembali, sebagian besar dari kerja itu‌ dilakukan oleh perempuan.

Kawasan Ekosistem Leuser selama berabad-abad bukan sekadar hampar‌an hutan​. Ia adalah mitra hidup​:‌ penjaga air‌, penyeimbang iklim lokal,​ dan ruang hidup bagi manus‌ia serta makhluk n‌on-manusia. Namun, dal‌am beberapa dekade ter​akhir, Leuser semakin sering diper‌lakukan sebagai komoditas. Hutan‌ d​ihitung dalam‌ satuan ekonomi, di‌peta‌kan sebagai su​m‌ber‌ d‌aya, dan dibuka atas nama pembang‌unan.

W‌a‌ja​h antroposen di Aceh semakin jelas, d‌i mana ketika relasi manusia dan alam be​rgeser dari‌ hubungan timbal‌ balik menjadi relasi penguasaan.​ Deforestasi dan alih fungsi lahan tidak hany‌a mengubah lanskap fisik‌, tetapi juga merusak sistem ekologis yang selama ini melindungi kehidupan. Dampaknya hadir secara nyata:​ b​anj​ir yang s​ema​kin sering, tanah yang kehilangan daya serap, dan​ sikl‌us a​ir yang terganggu.

Apa yang terjad‌i d‌i Aceh s‌ejatinya tidak berdiri sendiri. Logika y‌ang mendorong pembukaan hutan di Sumatra bekerja dalam jaringan global yang sama dengan ekspl‌oitasi sumber daya di berbagai belahan dunia. Na‌luri‌ man​usia untuk menguasai cadangan e‌n​ergi demi rasa aman yang dulu menopang kelangsungan hidup, kini bekerja dalam sk​a‌la planet melalui mekanisme pasar,​ izin konses, dan kebijakan pembangu‌nan.‍

Namun,​ da​mpak dari logika global ini tidak te‌rbagi secara​ adil. Wilayah seperti Aceh menanggung b‌eban ekologi​s p‌aling berat, sem‌enta‌ra manfaat ekonominya sering menga​lir ke tempat lain.

Dalam situasi ini, peremp​u​an kembali berada di garis depan dampak krisis, sekaligus paling jauh dari ruang pe‌nga​mbilan keputusa‌n.

Tubuh p​erempuan sejatinya berfung‌si sebagai s‌ensor awal krisis ek​olog‌is. Merek​a​ yang p​er‌tama merasakan sulitnya air bersih, p‌erubahan pola pangan, dan meningk​atn​ya beb​an kerja ketika alam tidak lagi‌ men‌opang kehidupan. Namun, s‌uara ini jarang dianggap‌ sebagai sumber pengetahuan yang sah. Perempu‌an kerap⁠ diposisikan sebaga​i korban pasif, bukan seb‌agai subjek yang memahami‌ perubah‌an ekologis secara langsung.

Di s​ekitar Leuser, terda​pat pen​getahuan lokal yang lahir dari pengalaman panja‌ng hidup berdampingan dengan hutan. Pengetahuan ini tidak romantik;​ i‌a​ prakti​s dan berorientasi pada keberlanjutan. Namun, dalam banyak kasus​, pengetahuan​ tersebut tersingkir oleh logika pasar dan proy‌e​k pembangu‌n‌an j​angka pende​k. Yang hilang bukan hanya tradisi, tetapi ju‌ga sistem pengetahuan yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Banjir banda​ng di Aceh seharusn‌ya​ dibaca sebagai perin​gatan, buka​n sekadar⁠ musibah yang akan segera dilupakan. Jika Leuser dan kawasa‌n se​kitarnya terus dipela‌kukan sebagai komoditas, maka per​empuan akan ter​us m​ejadi pihak yang paling aw‌al menanggung dampaknya dan paling lama mem‌uli​hkan kehidupan​ setelah‌nya.

Menyelamatkan Leuser bukan s​emata s‌oal kebijak​an teknis atau targe​t lingkungan.⁠ Ia m‌enuntut p‌erubahan ca‌ra pandang: bah​wa krisis ekologis selalu memiliki dimens​i sosial dan gender, dan bahwa perempuan buk​an pelengkap narasi, me‌lainkan subjek penge​t‌ahuan yang perlu di dengar. P‌ercaya atau tidak, k‌risis ekologis selalu lebih d‌ulu berbicara melalui tubu​h perempu​an. Pertanyaannya bukan lagi apakah banjir akan terul‌ang, melainkan apakah kita bersedia mendengarkan suara yang selam​a‌ ini paling de​kat d‌engan alam?[]

Penulis adalah anggota Perempuan Peduli Leuser. Saat ini sedang menempuh studi doktoral di Central China Normal University, Political Science and Foreign Studies, International Relations

Editor: Ihan Nurdin

Ramadan di Bawah Tenda Biru

Oleh Yessi*

Rabu, 21 Januari 2026

Pukul 09.30 pagi itu, saya dan kawan-kawan bersiap pergi ke Blang Seunong. Blang Seunong, desa yang berada di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, adalah salah satu desa yang terdampak paling parah akibat banjir bandang pada 26 November 2025 lalu. Mengingat medan yang akan kami datangi tidak mudah, sebelum pergi kami memastikan dahulu kondisi sepeda motor kami. Dan benar saja. Beberapa titik jalan yang kami lalui masih digenangi air, lumpur lengket, dan jalanan yang kanan kirinya longsor. Dari kejauhan kita bisa melihat hutan gundul di sana sini, dan, ironisnya, pokok-pokok kelapa sawit yang berbaris rapi, nyaris tidak terdampak bencana.

Kami bergerak dari Desa Akoja, Alue Ie Mirah, dan setelah menempuh dua jam perjalanan, kami sampai di Blang Seunong. Memasuki desa, kami disambut pemandangan yang membuat kelopak mata tiba-tiba menghangat. Titik-titik air berdesakan, seolah berlomba ingin keluar.

Di sisi kiri jalan ada barisan sepeda motor terparkir rapi. Pemiliknya memilih berjalan kaki, karena di depan sana sedang ada mobil yang mengeruk lumpur sisa banjir. Saya lihat di kiri jalan ada tenda-tenda penuh anak-anak. Rupanya mereka siswa sekolah yang berlokasi tepat di seberangnya. Anak-anak ini terpaksa belajar di tenda karena bangunan sekolah mereka rusak parah. Tidak ada lagi suasana riang khas sekolah seperti yang biasanya dulu terlihat. Seluruh situs sekolah dipenuhi lumpur yang mulai memadat, lumpur yang terhampar seluas mata memandang.

Kami bertemu dengan Pj. Kepala Sekolah, Nurzaitun, S.Pd. Menurut Bu Nurzaitun, kegiatan belajar mengajar (KBM) baru dilakukan dua hari, mengingat kondisi yang tidak memungkinkan. Anak-anak belajar dengan baju dan peralatan belajar seadanya. Tapi mereka tetap terlihat sangat antusias belajar.

Sambil menunggu pengerukan lumpur, kami mampir di kedai salah seorang warga. Nek Gu, begitu dia biasa dipanggil. Ia menceritakan bahwa seumur hidupnya belum pernah ia mengalami musibah banjir seperti ini. Banjir memang bukan hal baru di desa  itu, tetapi kali ini dampaknya luar biasa parah. Kedainya hancur, seluruh barang dagangan rusak. Bangunan rumahnya bahkan sampai terangkat dan bergeser ke tempat lain.

Kondisi Kantor Keuchik Blang Seunong. Foto: Yessi

Kerugian material sudah pasti sangat besar. Kedai Nek Gu merupakan kedai terbesar, sekaligus satu-satunya kedai terlengkap di desanya. Beberapa hari sebelum banjir Nek Gu baru saja berbelanja stok barang dalam jumlah besar, mengingat pada masa lalu, setiap kali banjir naik, akses warga untuk keluar sangat sulit. Maka dipastikan warga akan berbelanja di kedainya. Walau mengalami kerugian besar, Nek Gu masih bersyukur karena semua orang selamat, tidak ada korban jiwa dalam bencana banjir ini.

Perjalanan kami lanjutkan. Kami dijemput oleh kawan kami, Pak Abdul Halim.  Di sepanjang jalan cuaca cerah, bagus,  kontras dengan pemandangan yang kami lihat. Rumah-rumah rusak parah, tidak lagi bisa ditinggali. Tenda-tenda berdiri di samping, depan, atau tepat di tengah di tapak rumah. Sementara bangunan rumahnya sendiri sudah hilang, hanyut terbawa arus banjir.  Jejak banjir terlihat  di tembok-tembok bangunan yang masih ada, di pohon-pohon kelapa, juga pada pokok pohon-pohon yang kering dan mati tercekik banjir.

Dari keterangan warga di sana, ketinggian banjir mencapai kabel listrik, atau sekitar enam meter. Banjir ini bukan sekedar air seperti dulu, tapi juga membawa lumpur dan gelondongan kayu-kayu besar yang menghancurkan  rumah dan kebun warga.

Kami berjalan bersama iring-iringan mobil rombongan relawan dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Mereka membawa bungkusan paket-paket sembako, juga mengadakan pemeriksaan serta pengobatan gratis dari rumah ke rumah, didampingi oleh  kepala dusun.

Desa Blang Seunong memiliki lima dusun. Ada tiga dusun terdampak banjir paling parah, yaitu Dusun Blang Seunong, Dusun Peulalu, dan Dusun Parek. Sementara dua dusun lainnya yang terletak di perbukitan, aman dari banjir.

Aktivitas ekonomi pascabencana belum normal sepenuhnya, tetapi pelan-pelan warga sudah mulai berangkat kembali ke kebun. Kedai-kedai juga sudah mulai buka. Kita sudah bisa memesan kopi dan gorengan hangat di sana.

Aktivitas warga hampir kembali normal sejak  2 atau 3 hari belakangan (mulai sekitar tanggal 18 Januari), ketika lumpur di jalan mulai dibersihkan. Sebelum itu mereka bertahan di tenda-tenda pengungsian dalam kondisi seadanya. Warga seolah terjebak, tak bisa ke mana-mana. Bahkan untuk menengok rumah masing-masing pun, butuh berjalan kaki enam jam pergi pulang, untuk jarak yang dalam kondisi normal dapat ditempuh dalam waktu 7-10 menit. Hal ini disebabkan lumpur yang masih sangat tebal. Hingga beberapa lama setelah air surut, belum ada  alat berat masuk desa untuk membantu mengeruk lapisan lumpur. Sebelumnya warga sempat membuat permohonan, ditandatangani seluruh warga, meminta pinjaman alat berat kepada perusahaan (Medco, red) dan pemerintah setempat agar lumpur dapat dibersihkan secara maksimal.

Warga yang kami jumpai mengatakan bahwa minimnya perhatian dari pemerintah membuat proses pemulihan berjalan lambat. Dari pembicaraan bersama warga kami mendapati bahwa ternyata sedari dulu, atas prakarsa mandiri, warga membuat jalo (sampan kecil) yang disimpan di rumah masing-masing, agar jika sewaktu-waktu banjir mereka dapat segera evakuasi diri.

Tidak semua warga memiliki sampan. Tetapi mereka mengatur bahwa setidaknya dalam setiap 4 rumah yang berdekatan, akan ada satu rumah yang memiliki sampan. Selain kehadiran speedboat dari pemerintah yang dihibahkan di tahun 2023, inisiatif mitigasi inilah yang membuat warga dapat diselamatkan tepat waktu tanpa harus menimbulkan korban jiwa.

Bersama Pak Abdul Halim dan istrinya, Ibu Masyitah, guru di SDN  Blang Seunong, kami berkeliling desa. Tampak bangunan kantor keuchik yang rusak berat. Juga SMPN 5 Pante Bidari, SMAN  2 Pante Bidari, masjid, menasah, dan balai pengajian, semuanya masih terkubur lumpur. Warga bersama TNI sempat membersihkan sebagian lumpur yang ada. Namun karena keterbatasan alat kerja, pembersihan maksimal tidak dapat dilakukan. Sebagai akibatnya bangunan-bangunan itu tetap belum bisa digunakan.

“Ramadan sudah dekat. Di mana salat Tarawih dan kegiatan ibadah lainnya akan diselenggarakan nanti?” tanya kami.

“Kami akan bergotong royong membersihkan masjid. Sementara itu, dalam bulan suci Ramadan ini kami akan menghidupkan kembali kegiatan ibadah di bawah tenda,” sahut warga.

Menurut rencana, tenda-tenda untuk ibadah ini akan ditegakkan di halaman masjid. Rencananya kerangkanya dibuat dari baja ringan yang diperoleh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sementara atapnya adalah lembaran plastik lebar yang kemudian dilapisi lagi dengan terpal plastik yang lebih tebal.

“Tetapi kami masih belum tahu dari mana atau bagaimana kami bisa memperoleh tikar, sajadah, pelantang, dan lampu penerangan yang diperlukan untuk menunjang kegiatan salat Tarawih, maupun perlengkapan salat lainnya,” mereka menyambung.

Tenda sekolah darurat di Desa Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur. Foto: Yessi

Kami juga mengunjungi sekolah darurat yang didirikan di bawah tenda. Puluhan siswa-siswi usia sekolah dasar duduk di atas tikar plastik, khusyuk mendengarkan sang guru yang berdiri di depan. Semangat dan optimisme mereka untuk tetap menimba ilmu di tengah situasi darurat pascabencana ini membuat mata spontan basah.

Cukup jelas bahwa inisiatif, juga optimisme masyarakat, untuk pulih dan bangkit dari kondisi pascabencana banjir ini sangat kuat. Namun, itu tidak berarti bahwa mereka tidak memerlukan bantuan. Magnitudo bencana galodo November 2025 terlalu besar bagi rakyat untuk dapat mengatasinya secara mandiri. Mereka membutuhkan bantuan sekecil apa pun agar pemulihan ini berjalan dengan tepat dan tuntas sehingga warga bisa mulai menata kembali kehidupan mereka. Ini bukan bicara tentang siapa yang sudah membantu dan siapa yang belum, melainkan tentang kerja sama dan empati.

Kehadiran negara tidak ditandai dengan kunjungan para pejabat. Rakyat menantikan tindakan nyata. Tindakan cepat tanggap yang didampingi kebijakan struktural, langsung menyasar pada ketersediaan kebutuhan dasar manusia, tanggapan atas situasi darurat yang tengah dihadapi, itulah yang diperlukan.

Jalo, yang dengan kesadaran penuh disediakan penduduk di rumah masing-masing sebagai antisipasi banjir, seharusnya menjadi inspirasi mitigasi bencana di kemudian hari. Aceh telah memiliki Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB), yang dibentuk pada tahun 2017 silam. Sesuai dengan visi Forum PRB Aceh yaitu “menjadi organisasi yang permanen dalam hal memberikan pemahaman terhadap bencana di kalangan masyarakat Aceh”, maka Aceh tentunya telah memiliki konsep dan mekanisme mitigasi kebencanaan yang mumpuni. Tanpa melupakan SOP mitigasi bencana internasional seperti misalnya pengadaan “ransel darurat bencana” bagi setiap anggota keluarga, kearifan lokal seperti penyediaan jalo sebagai moda evakuasi, atau konsep ketahanan pangan “peger ni keben” dalam masyarakat Gayo, yang dapat menjadi cadangan pangan masa bencana, selayaknya dimasukkan ke dalam rencana mitigasi kebencanaan khas Aceh. 

Jam telah menunjukkan pukul 14.25 ketika kami bergegas pulang. Kami berjalan perlahan di atas lapisan lumpur yang memadat. Tidak bisa terlalu gegas, risiko terpeleset selalu ada.

Langit mulai gelap oleh mendung. Jika hujan turun, besar kemungkinan kami akan terjebak, tak dapat pulang. Karena tanah lumpur yang dikerok dari badan jalan hanya ditumpukkan di tepi, sehingga bila hujan turun cukup deras maka tumpukan itu akan meleleh, kembali menggenangi jalan.

Dalam perjalanan pulang kami melewati Desa Pante Labu, Alue Ie Mirah. Pemandangan yang terhampar di sepanjang jalan nyaris sama: lumpur di mana-mana. Mengerak hingga ke batas sawang. Sedikit nyala harapan terbersit dari huntara (hunian sementara) Pante Rambung, Kecamatan Pante Bidari, yang telah dibangun oleh Pemerintah.

Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al Farlaky, memulai peletakan batu pertama pembangunan huntara di Kecamatan Idi Rayeuk pada 9 Januari 2025. Rencananya huntara akan dibangun di Simpang Jernih, Serba Jadi, Idi Rayeuk, Peureulak, Julok Madat, dan Pantee Bidari. Untuk Kecamatan Pante Bidari sendiri, direncanakan akan dibangun 87 unit huntara.

Huntara dibangun dengan dua pendekatan, yakni secara in-situ (di lokasi semula) dan melalui relokasi, disesuaikan dengan tingkat kerusakan dan kondisi wilayah terdampak. Secara fungsi, huntara dibangun sebagai hunian darurat sementara proses pembangunan huntap (hunian tetap) berlangsung. Pembangunan huntap pun akan difasilitasi oleh Pemerintah Aceh Timur dengan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat.

Pantauan kami, huntara yang telah dibangun memiliki dua desain. Yang satu berupa rangkaian rumah kopel dengan lingkungan yang ditata, lainnya berupa rumah-rumah mandiri yang dipisahkan satu sama lain dengan grid (gang). Sambil kembali mengendarai motor, menyusuri jalan pulang, kami diam-diam mengucapkan doa. Semoga  kondisi segera membaik, dan semoga rakyat terdampak bencana akan segera memperoleh kembali kedamaian dari hidup yang normal. Itulah harapan kami. Harapan kita semua.[]

Penulis adalah warga Desa Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur

Penanganan Bencana Harus Berbasis Pengetahuan Lokal dan Sains

Situasi bencana tidak hanya memicu kerusakan fisik, tetapi juga secara signifikan meningkatkan kerentanan perempuan, terutama ibu hamil dan menyusui. Direktur LSM Flower Aceh, Riswati, M.Si., menegaskan bahwa dalam kondisi darurat hingga pascabencana, perempuan dan anak menghadapi risiko berlapis, mulai dari ancaman penularan penyakit di pengungsian, keterbatasan akses kebersihan, hingga minimnya fasilitas yang ramah perempuan.

“Penyediaan hunian sementara kerap belum sensitif terhadap kebutuhan perempuan, dan masih terbatasnya data serta respons kebencanaan berbasis kerentanan,” kata Riswati.

Kerentanan kelompok rentan inilah yang mengemuka dalam webinar bertajuk “Bencana Banjir Sumatra dalam Perspektif Lingkungan, Pembangunan Ekonomi, dan Kerentanan terhadap Perempuan dan Anak” yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh atau Aceh Climate Change Initiative (ACCI) Universitas Syiah Kuala, Kamis, 15 Januari 2026.

Dalam forum tersebut, Koordinator Divisi Mitigasi Bencana Geologi Pusat Penelitian Mitigasi Bencana Tsunami (Tsunami Disaster Mitigation Research Center) Universitas Syiah Kuala, Prof. Mukhsin, menekankan pentingnya pengurangan risiko bencana (PRB), mengingat Indonesia berada di kawasan lempeng tektonik aktif, sementara bencana yang paling sering terjadi justru banjir.

Ia memaparkan bahwa penanggulangan bencana harus dikelola dalam siklus yang jelas, yakni prabencana melalui asesmen risiko dan mitigasi, saat bencana melalui tanggap darurat, serta pascabencana melalui rehabilitasi dan rekonstruksi.

“PRB juga perlu mempertimbangkan return period sebagai dasar perencanaan dan kesiapsiagaan,” ujarnya.

Ia turut menyoroti pentingnya pengetahuan sosial lokal, seperti praktik smong di Pulau Simeulue, serta peran sains dan rekayasa untuk memperkuat sistem dan data kebencanaan. Menurutnya, penanganan bencana bersifat lintas batas sehingga kolaborasi multipihak, termasuk internasional, menjadi krusial.

“Dalam konteks tata kelola, kerja multistakeholder dan pendekatan multidisiplin penting untuk koordinasi penanganan bencana hingga fase rehabilitasi dan rekonstruksi,” katanya.

Sementara itu, Prof. Budy Resosudarmo dari Arndt-Corden Department of Economics sekaligus Head of Australian National University Indonesia Project menegaskan bahwa tingkat kejadian natural hazard dan bencana di Indonesia tergolong tinggi dan berdampak luas. Dampak tersebut, kata dia, kerap lebih berat dirasakan oleh masyarakat miskin sehingga berpotensi memperlebar ketimpangan.

“Karena itu, kebijakan publik perlu memperkuat pengetahuan kebencanaan, sistem peringatan dini, serta dukungan bantuan pascabencana dan pemulihan, termasuk dukungan finansial,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dampak jangka panjang bencana terhadap anak, termasuk menurunnya peluang pendidikan bagi anak terdampak dibandingkan yang tidak terdampak. Untuk itu, ia mengangkat pentingnya instrumen perlindungan seperti pengembangan asuransi kebencanaan dengan prinsip pemerataan dan subsidi silang antarpeserta.

Dalam fase pemulihan, Prof. Budy menekankan bahwa pascabencana tidak hanya menyangkut rekonstruksi fisik, tetapi juga pemulihan mata pencaharian yang membutuhkan horizon jangka panjang, sekitar lima hingga sepuluh tahun.

Webinar ini diikuti oleh lebih dari 150 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, terdiri atas praktisi, akademisi, perwakilan pemerintah, serta berbagai lembaga terkait. Kegiatan dibuka oleh Head of ACCI USK, Ir. Suraiya Kamaruzzaman, M.T., dan dimoderatori oleh Prof. Cut Dewi.

Forum ini menegaskan bahwa banjir sebagai bencana yang paling sering terjadi memerlukan penguatan manajemen risiko bencana yang terintegrasi, sejak prabencana hingga pemulihan jangka panjang, sekaligus memastikan perlindungan yang memadai bagi kelompok rentan.

Sejumlah masukan juga dicatat sebagai langkah tindak lanjut bagi pemerintah daerah dalam menghadapi bencana hidrometeorologi, antara lain penegakan aturan terhadap penebangan hutan dan aktivitas tambang yang tidak berkelanjutan; rehabilitasi kawasan hulu dan daerah aliran sungai melalui penanaman tanaman konservasi dan pendekatan agroforestry bernilai ekonomi; percepatan penyediaan hunian sementara dan relokasi permanen di lokasi aman; serta pemenuhan kebutuhan dasar kelompok rentan dan perbaikan sarana pendidikan serta kesehatan.

Melalui kegiatan ini, ACCI USK mendorong penguatan agenda PRB yang komprehensif, berbasis data dan teknologi yang andal, kolaboratif lintas lembaga, sensitif terhadap kelompok rentan, serta menempatkan pemulihan sosial-ekonomi jangka panjang sebagai bagian integral dari strategi kebencanaan.[]