Beranda blog

Regulasi Teknis untuk Pemenuhan Hak Disabilitas

0

Pemerintah Aceh menggelar konsultasi publik dan penjaringan masukan substansi Ranpergub Aceh tentang Pelaksanaan Qanun Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Kegiatan ini diikuti oleh seratusan peserta dari berbagai perwakilan lembaga dan organisasi, serta berlangsung sehari penuh di Hotel Ayani Banda Aceh, Kamis, 8 Januari 2026.

Kepala Biro Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat Setda Aceh, Dr. Yusrizal Zainal, menjelaskan bahwa konsultasi publik dan penjaringan masukan ini merupakan tindak lanjut dari lahirnya Qanun Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas.

“Qanun tersebut tidak dapat dijalankan secara efektif tanpa adanya pergub dan karena itu pertemuan ini menjadi penting. Ini ruang yang strategis untuk berkontribusi dalam mencapai target tersebut,” kata Yusrizal dalam sambutannya.

Pemerintah Aceh kata Yusrizal, menaruh perhatian penuh dan bersungguh-sungguh dalam melanjutkan rancangan pergub tersebut. Keberadaannya akan menjadi pilar yang sangat penting untuk mengoptimalkan output yang diharapkan. Ia berharap proses penjaringan bisa segera selesai dan draf ranpergub bisa segera difinalkan.

“Kita juga berpacu dengan waktu. Harapannya apa yang jadi tujuan penyusunan pergub ini nantinya dapat diimplementasikan secara efektif dan menjadi instrumen hukum yang sah,” katanya.

Mengapa Pergub Ini Penting?

Sementara itu, Plt. Kadis Sosial Aceh, Chaidir, M.M., dalam paparan materi pengantar menjelaskan, penyusunan ranpergub tersebut berlandas pada Qanun Nomor 2 Tahun 2025. Qanun itu hadir sebagai solusi untuk berbagai persoalan yang dihadapi oleh para penyandang disabilitas.

Ia menjelaskan, penyandang disabilitas memiliki hak yang setara sebagai warga negara.

Namun, dalam kenyataannya, masih terdapat kesenjangan pada akses layanan dasar, perlindungan sosial, ataupun pada pemberdayaan.

Oleh karena itu, pergub ini nantinya akan menjadi regulasi teknis sehingga qanun tersebut dapat diimplementasikan. Ia juga menekankan, dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas perlu integrasi lintas sektor, yang peran strategisnya ada di dinas sosial.

“Saya tidak mau ada regulasi, tapi tidak bisa diimplementasikan karena terkendala dengan kewenangan yang lebih tinggi. Pergub ini sangat urgen karena di sinilah norma, standar, prosedur, dan kriteria pelaksanaan Qanun Nomor 2 Tahun 2025 tersebut dijabarkan,” kata Chaidir saat pemaparan materi pengantar sebelum penjaringan dan penelaahan rancangan pergub.

Setelah di-SK-kan oleh gubernur, pergub tersebut juga akan menjadi pedoman teknis bagi organisasi perangkat daerah dalam merencanakan, menganggarkan, dan melaksanakan berbagai program yang berkaitan dengan pemenuhan hak penyandang disabilitas. Kehadiran qanun atau pergub ini juga diharapkan bisa menyelesaikan persoalan data terkait jumlah penyandang disabilitas di Aceh. Tanpa data, perencanaan penganggaran yang berpihak pada disabilitas tidak bisa dilakukan secara inklusif.

“Misalnya sekarang, Kemensos minta data berapa penyandang disabilitas yang terdampak bencana, tapi datanya masih simpang siur. Masing-masing OPD punya data, atau datanya tidak ter-up date. Ke depan, semoga semua data terintegrasi, by name by addres,” katanya.

Dampak dari persoalan tersebut, banyak individu atau kelompok disabilitas yang tidak mendapatkan perhatian pemerintah dalam penanganan pascabencana. Kondisi ini diharapkan bisa diatasi dengan adanya Pergub Pelaksanaan Qanun Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Selain menjamin pemenuhan hak penyandang disabilitas yang sistematis, kehadiran pergub ini juga bisa membuat program-program yang dirancang oleh OPD lebih terarah dan tidak tumpang tindih.

“Dan sejalan dengan visi misi gubernur, kita berharap terwujudnya Aceh yang ramah dan inklusif bagi disabilitas,” ujarnya.

Selain Chadir, paparan materi pengantar juga disampaikan oleh dua narasumber lain, yaitu Nurdani, S.H. dari Kementerian Hukum Provinsi Aceh. Ia menyampaikan tentang Regulasi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Penyandang Disabilitas. Kedua, Bayu Satria dari Youth ID Aceh yang menyampaikan topik Mewujudkan Aceh Inklusif: Perspektif Penyandang Disabilitas terhadap Ranpergub.

Pada sesi kedua yang dimulai setelah zuhur, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok membahas dan memberikan masukan untuk bagian-bagian yang sudah ditentukan.

Ranpergub tentang Pelaksanaan Qanun Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas terdiri atas 14 bab yang terbagi menjadi 63 pasal. Ranpergub ini menjabarkan beberapa hal substansi, di antaranya, Sosialisasi Pelindungan dan Bantuan Hukum; Pemberian Bantuan, Dukungan, dan Pendampingan Kewirausahaan; hingga tentang Unit Layanan Disabilitas.[]

Tampil Cantik: Semangat bagi Penyintas Bencana

0

Di sebuah ruangan luas, seorang perempuan bersimpuh, tangannya sibuk mengikat-ikat sehelai handuk kecil. Mulanya ekspresinya biasa saja. Seiring waktu, ada perubahan di wajah itu. Seperti geram. Gemas. Ikatan pada handuk berkali-kali dieratkannya. Matanya berkaca-kaca.

Seorang perempuan berkacamata menghampirinya. Bertanya lembut.

“Ibu kesal pada siapa? Atau pada apa? Boleh Ibu ceritakan?”

Dan perempuan itu pun bercerita.

Dia marah pada keadaan. Pada ketidakmampuannya menyediakan makanan untuk anak-anaknya. Pada tenda, pada tempatnya tidur yang hanya beralas tikar. Di akhir cerita, air matanya mengalir tak terbendung. Terisak-isak. Perempuan berkacamata yang sedari tadi mendengarkan, memeluknya. Belasan perempuan lain memperhatikan adegan itu. Ekspresi mereka memahami.

Setelah mengeluarkan beban yang bertumpuk di hati, perempuan tadi tampak lebih tenang. Ira, perempuan yang berkacamata, menjelaskan kepadanya bahwa setelah beban perasaan berkurang, maka kita harus kembali tenang dan menyayang. Keluarga membutuhkan ketenangan kita. Boneka beruang lucu yang tadi dibuat dengan cara mengikat kencang-kencang, penuh emosi itu, sekarang harus dijaga dan disayang.

“Triknya begitu,” kata Ira pada perempuanleuser.com. “Mereka semua korban terdampak bencana. Beban psikologis sudah pasti ada. Masalahnya, mereka tidak punya ruang, kesempatan, dan waktu untuk menjaga kesehatan mental mereka, karena disibukkan usaha bertahan hidup. Di situlah kami hadir, memberikan ruang dan kesempatan tadi.”

Hari itu, Jumat, 19 Desember 2025, Tim Institut Teknologi Bandung (ITB) Peduli ada di Gampong Raya Dagang, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Mereka hadir untuk membantu meringankan beban para korban terdampak Galodo[1] Sumatera yang terjadi pada 26 November 2025.

Bu Ira, panggilan sehari-hari Dr. Ira Adriati, M.Sn., adalah Ketua Tim Psikososial atau trauma healing. Dalam kegiatan layanan psikososial ini ia dibantu dua mahasiswa magister, Rahyannita Ilma dan Binda Intan Zahrani. ITB sendiri bekerja sama dengan Prodi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK), serta Universitas Al Muslim Bireuen. Tim akan melakukan aksi tanggap bencana di Kecamatan Peusangan dan Kecamatan Kuta Blang pada 19-20 Desember 2025. Selain layanan psikososial, layanan lain yang diberikan adalah layanan kesehatan, donasi obat-obatan dan sembako, juga pemasangan instalasi pengolahan air bersih.

Fakultas Kedokteran USK diperkuat jajaran dokter ahli, termasuk ahli anak, ahli penyakit dalam, ahli THT, serta ahli kulit dan kelamin. Penanggung jawab Tim USK adalah Dr.rer.nat. dr. Muhsin, Sp.PD dari Fakultas Kedokteran.

Klinik darurat dibuka di masjid Desa Jambo Kajeung. Turut turun tangan, Direktur Rumah Sakit Pendidikan USK, Dr. dr. Mulkan Azhary, M.Sc., Sp.P (K). Para pengabdi masyarakat ini bekerja sejak pukul delapan pagi. Berhenti hanya ketika pasien sudah tak ada lagi. Saat ini terjadi, matahari sudah tinggi dan pasien yang dilayani mencapai 150 orang.

Absennya tempat tinggal serta sarana sanitasi yang memadai, ditambah kondisi lingkungan pasca banjir dan cuaca tak menentu, menyebabkan para pengungsi banyak yang terdampak infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan penyakit kulit. Namun, yang tak kurang banyaknya, adalah mereka yang terdampak secara psikologis. Di sinilah layanan psikososial berperan.

Tim Psikososial ITB bekerja sama dengan tim dari Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USK membawa program pemulihan psikologis untuk usia PAUD-SD, usia remaja, dan usia dewasa. Tim USK diketuai Dr. Sanusi, S.Pd., M.Si.

Kabupaten Bireuen adalah salah satu kabupaten yang mengalami kerusakan sangat parah akibat bencana galodo. Saksi mata mengatakan bahwa gelombang banjir bandang yang menerjang beberapa wilayah di Bireuen berasal dari dua arah. Satu, dari arah selatan atau arah hulu Krueng Peusangan; dan yang kedua dari arah timur, dari anak-anak sungai yang mengalir di sana. Volume air yang sangat tinggi, ditambah balok-balok kayu besar yang turut hanyut, menghantam Bireuen dengan kekuatan penuh.

Harian Serambi Indonesia melaporkan bahwa 28 jembatan, terdiri atas 8 jembatan rangka baja, 4 jembatan kayu, dan 16 jembatan beton berbagai ukuran, putus total. Bupati Bireuen, H. Mukhlis, S.T., menyebut bahwa delapan jembatan berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan. Dua ribu hektare sawah hancur, 16 ribu rumah terdampak, mulai dari kerusakan berat, sedang hingga ringan. Total sekitar 110 ribu kepala keluarga mengungsi. Melihat ini, tanpa menghitung korban jiwa pun, sudah pasti rakyat Bireuen menanggung beban yang sangat berat.

Dalam dua hari bertugas, Tim Psikososial ITB baru melayani kaum ibu. “Bukan tidak mau membantu kaum bapak memulihkan diri. Tetapi ketika kami datang, para bapak masih sangat sibuk, memperbaiki ini-itu, evakuasi korban, bahkan membuka jalan,” jelas Ira. Namun, ke depan, tim berharap bahwa para bapak akan dapat mengikuti kegiatan ini juga.

“Sebab ini bukan kali pertama dan terakhir kami turun,” kata Ira. “Pemulihan dari bencana perlu waktu. Dan Tim kami insyaaallah akan mendampingi masyarakat Aceh hingga tuntas.”

Kegiatan psikososial yang diampu Tim ITB meliputi kegiatan menyanyi, menari, menggambar, mewarnai gambar dan bercerita untuk anak-anak. Kegiatan menggambar diintegrasikan dengan layanan pemulihan trauma, anak-anak diminta menggambarkan apa yang membuat mereka takut. Bagi remaja, kegiatan meliputi latihan sensorik dan emosi seperti merobek kertas, membangun “segitiga harapan”, merangkai gelang manik-manik dan gantungan kunci tali prusik. Para ibu dibantu “bersentuhan” dengan emosi mereka melalui kegiatan sharing, membuat boneka dari handuk dan membuat kain jumputan. Mereka juga mendapat sesi terapi khusus bertajuk Photo Therapy.

Seorang peserta usia anak menceritakan tentang gambar yang dibuatnya (dok: Tim Psikososial ITB)

Salah satu hasil mewarnai gambar. Tulisan pada layangan adalah pertanyaan dari Tim. Perhatikan jawaban kanan atas: “Siapa yang bisa menolong kamu saat banjir? Allah.” (dok: Tim Psikososial ITB)

Ada hal menarik terjadi dalam sesi sharing. Ira menawarkan pada peserta, siapa yang bersedia berbagi cerita lebih dulu. Semula, semua enggan. Tapi ketika ada peserta memberanikan diri untuk sharing dan Ira memberikan kosmetik sebagai apresiasi, mendadak antusiasme peserta yang lain timbul.

“Agaknya sudah menjadi naluri perempuan,” kata Ira tersenyum lebar, “walaupun di tengah keadaan darurat, perempuan selalu ingin tampil sebaik mungkin.”

Kosmetik yang dibagikan merupakan sumbangan dari Ikatan Orangtua Mahasiswa (IOM) ITB. Disebutkan, bahwa tampil bersih, wangi, dan menarik, selain merupakan fitrah manusia dan sunah Nabi, juga membangkitkan kembali rasa percaya diri. Pada korban bencana, harga dan kepercayaan diri adalah salah satu aset dasar yang hancur. Maka dengan membantu mereka memulihkan harga diri, akan lebih mudah bagi mereka untuk mengatasi tantangan hidup.

Terapi lain yang dibawa oleh Tim ITB adalah phototherapy. Beberapa foto khusus ditunjukkan pada peserta. Lalu mereka diminta menceritakan apa yang mereka rasakan saat melihat gambar itu, bagaimana pikiran mereka.

Phototherapy Kit (dok: perempuanleuser.com)

Foto yang mendapat komentar paling banyak dan paling menarik adalah foto wajah manusia yang dibalut helaian kain kasa. Seperti mumi Mesir. Peserta menyebut bahwa foto itu seperti mewakili keadaan mereka saat ini, yang seperti ditutup mata, hidung dan mulut, tak bisa berbuat apa-apa. Di lain saat, foto beberapa pasang kaki mendapat komentar bahwa kita (masyarakat terdampak bencana) harus tetap melangkah, pantang menyerah, mencari jalan ke arah pemulihan. Dan karena kaki yang nampak ada beberapa pasang, mereka mengomentari bahwa “kita harus bekerja sama”.

“Komentar-komentarnya menunjukkan pemahaman atas situasi yang mereka hadapi, dan resiliensi yang luar biasa,” ujar Ira. “Bahkan anak-anak pun begitu. Selanjutnya kami sekadar mengelaborasi, sikap mental serta tindakan apa yang sebaiknya diambil, setelah masa darurat berlalu.”

Disebutkan, bahwa para ibu yang membuat kain jumputan, mendapat ide untuk “melanjutkan hidup”, setelah melihat hasil karya mereka.

Hasil karya para peserta tengah dijemur (dok: Tim Psikososial ITB)

“Mereka langsung penuh ide, ingin membuat ini-itu dengan teknik jumputan ini. Ada yang sampai berlinang air mata, karena merasa dirinya ‘hidup’ dan kembali memiliki harapan, apa yang bisa dilakukannya di masa depan,” kata Ira.

Ekspresi emosi seorang peserta setelah sesi membuat jumputan (dok: Tim Psikososial ITB)

Dalam sesi kreativitas untuk remaja, kegiatan dibagi dua. Remaja putra membuat gantungan kunci dari tali prusik[1], remaja putri membuat gelang manik-manik. Sebelum itu, mereka melalui rangkaian terapi merobek kertas, membuat “Segitiga Harapan” dari batang bambu, serta mengisi kuesioner tentang kelebihan dan kekurangan diri masing-masing.

Membuat gelang manik-manik (dok: Tim Psikososial ITB)

Tim ITB bersama seorang penduduk dan remaja putra yang “pamer” gantungan kunci DIY (dok: Tim Psikososial ITB)

Saat sesi merobek kertas, sebagian peserta memprotes. “Sayang banget, Bu, kertas bagus begini dirobek-robek,” kata mereka.

Ira meyakinkan mereka bahwa ini ada maksudnya. Dia menganjurkan agar para remaja itu membayangkan kertas di tangan sebagai rintangan terbesar yang mereka hadapi saat ini, lalu merobeknya.

“Ayo robek, robek lagi!” Ira menyemangati. “Robek semua rintangan!”

Suasana jadi meriah saat para remaja itu bersemangat “merobek rintangan”. Wajah mereka aga berubah, menjadi lebih percaya diri.

“Senang sekali bisa sedikit membantu mereka mengeluarkan kepribadian positif mereka kembali,” kata Ira. Kedua asistennya yang turut hadir saat wawancara, mengangguk tanda setuju.

“Luar biasa mereka,” kata Binda, “bencana sebesar ini, mereka hadapi dengan sikap yang tetap positif.”

“Kami beruntung bisa ikut dalam tim ini,” sambung Ilma, “banyak sekali pelajaran hidup yang kami dapat.”

“Ya. Sejatinyanya, bukan kami yang membantu mereka. Tapi merekalah yang membantu kami, untuk lebih memahami hidup, serta memahami artinya bersyukur,” pungkas Ira lagi.[]

[1] Tali prusik adalah tali kecil berbahan sintetis (biasanya polyester), digunakan sebagai alat bantu pendakian atau panjat tebing, untuk membuat simpul yang menjerat tali utama

[1] Galodo adalah istilah Minangkabau untuk banjir bandang yang disertai benda-benda besar seperti batang kayu, batu dan lain-lain

Pendampingan Perempuan dan Penguatan Kesadaran Lingkungan Jadi Fokus Pemulihan di Balee Panah

0

Perempuanleuser.com | Bireuen—Warga Gampong Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, masih menjalani proses pemulihan pascabanjir yang melanda wilayah mereka. Selain dampak sosial dan ekonomi, warga menyoroti persoalan lingkungan yang dinilai turut berkontribusi terhadap terjadinya bencana.

Isu tersebut mengemuka dalam pertemuan Yayasan Perempuan Anak dan Negeri (YPANBA) bersama Pemerintah Gampong Balee Panah, Selasa (7/1/2025), di sela persiapan peletakan batu pertama pembangunan tiga unit rumah bantuan bagi warga terdampak di Dusun Kayee Jato.

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan pelaksanaan program pemulihan pascabencana berbasis masyarakat, dengan fokus pada pendampingan perempuan dan penguatan kesadaran lingkungan.

Keuchik Balee Panah, Muntazar, SE, menyampaikan bahwa banjir menjadi pengingat penting akan perlunya menjaga keseimbangan lingkungan.

“Pemulihan pascabanjir tidak cukup hanya membangun kembali rumah warga, tetapi juga harus disertai upaya menjaga lingkungan agar kejadian serupa tidak terus berulang,” ujarnya.

Ia juga menekankan peran strategis perempuan dalam proses pemulihan keluarga dan komunitas.

Sementara itu, Desy Setiawaty, Staf Program YPANBA, menyampaikan bahwa pendekatan pemulihan yang dilakukan YPANBA tidak hanya berfokus pada bantuan darurat, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat.

“Kami melihat perempuan penyintas memiliki pengalaman dan pengetahuan penting dalam menghadapi bencana. Pendampingan ini bertujuan memperkuat peran mereka sebagai agen pemulihan sekaligus penjaga lingkungan di tingkat keluarga dan komunitas,” jelasnya.

Warga menilai banjir tidak semata disebabkan curah hujan tinggi, tetapi juga dipengaruhi perubahan kondisi lingkungan, termasuk penebangan hutan dan perluasan kebun sawit yang mengurangi daya dukung alam serta meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

Hasil pemantauan lapangan menunjukkan kondisi posko pengungsian masih belum layak, dengan keterbatasan akses air bersih, sanitasi yang tidak memadai, serta minimnya ruang privasi bagi perempuan dan anak.

Dari sisi ekonomi, banjir menyebabkan terhentinya sumber penghidupan warga, khususnya perempuan yang sebelumnya bergantung pada usaha kecil seperti produksi kue, berkebun, dan bekerja di kilang kayu.

Melalui pendekatan pemulihan yang mengintegrasikan isu lingkungan, YPANBA berharap masyarakat tidak hanya pulih dari dampak banjir, tetapi juga semakin sadar akan pentingnya perlindungan lingkungan guna mengurangi risiko bencana di masa depan.[]

Liburan Jadi Asyik Karena Bertualang Mengenal Kampung

Oleh Innaya Zahra Hafiza*

Liburan sekolah sudah tiba, saya bersama teman-teman melakukan kegiatan bertualang. Mulai dari mengenal delapan sumber mata air yang ada di Gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, mengenal sampah organik dan anorganik, hingga makan-makan dan mewarnai bersama teman-teman baru.

Saat mengenal delapan sumber mata air, kami menjungi telaga pertama, yaitu Talago Mengkudu.

Mengapa dinamai Talago Mengkudu? Karena ada pohon mengkudu di telaga itu. Namun, sekarang pohon mengkudunya tidak ada lagi karena sudah ditebang. Sekarang telaga tersebut sudah tidak dipakai lagi, karena tidak ada yang merawatnya. Mungkin sudah banyak lintah yang hidup di telaga itu.

Telaga kedua yang kami kunjungi adalah Talago Nek Maricat. Mengapa dinamai Talago Nek Maricat? Karena telaga tersebut punya Nek Maricat. Dia dulunya dukun di kampung Air Sialang. Kalau ada yang “merampot” atau kesambet, diobati oleh Nek Maricat. Di telaga ini airnya bersih dan jernih, banyak ikan-ikan kecil yang hidup di telaga ini. Setelah itu, kami memilih sampah organik dan anorganik. Di sini cuma ada sampah organik yang berasal dari daun-daun yang jatuh.

Sumber mata air yang ketiga kami kunjungi adalah Talago Surau. Mengapa dinamakan Talago Surau? Karena telaga tersebut dekat sekali dengan surau tempat kaum ibu belajar. Di situ airnya bersih dan jernih. Ibu-ibu bisa mencuci, mandi, dan berwudu di sini. Setelah itu kami memungut sampah organik dan anorganik. Di sini banyak sampah anorganik dari kemasan sampo, sabun, dan lainnya. Bahkan sampahnya juga ada di kolam.

Salah satu telaga yang kami kunjungi. Foto: Yelli Sustarina

Lanjut ke sumber mata air yang keempat, namanya Talago Tampang. Mengapa dinamai Talago Tampang? Karena dulu ada pohon tampang (Artocarpus lamellosus) yang sangat besar sekali. Panjang atau tingginya mencapai 200 m. Telaga ini airnya jernih, bersih, dan banyak ikannya. Kita juga bisa mandi dan mencuci baju di sini. Cuma di sini juga banyak sampah dari kemasan sampo, sabun, dan lainnya.

Kami lanjut lagi ke sumber mata air yang kelima. Talago Meunasah. Mengapa dinamakan Talago Meunasah? Karena berdekatan dengan meunasah atau surau. Telaga itu sangat dalam dan kalau saya mandi, bisa tenggelam saya saking dalamnya. Airnya juga jernih dan banyak ikan-ikan kecil berenang. Setelah itu, kami memilih sampah organik dan anorganik di sekitar telaga.

Sumber mata air yang keenam kami kunjungi adalah Talago Punjuik. Mengapa dinamakan Talago Punjuik? Karena atas surau yang ada di samping telaga berbetuk punjut, tali pocong. Konon katanya dulu banyak penampakan pocong, tapi itu hanya mitos orang tua dulu. Sekarang tidak pernah ada lagi tampak pocongnya dan telaga ini banyak orang yang pakai untuk mandi, mencuci, dan lainnya. Kami pun juga memilih sampah di sekitar telaga.

Sumber mata air yang ketujuh kami kunjungi adalah Talago Lubuk Ek ‘Ot. Dinamakan Lubuk Ek ‘Ot karena dulunya ada pohon bambu besar. Saat angin datang, bambu itu berderit-derit dan bunyinya terdengar serupa ek ‘ot, ek ‘ot. Makanya dinamai Lubuk Ek ‘Ot. Di sini juga banyak sampah organik dari dedaunan pohon yang jatuh di sekeliling telaga.

Lanjut ke sumber mata air yang terakhir ialah Talago Lamen. Mengapa dinamai Talago Lamen? Karena telaganya berada di halaman rumah. Ini telaga terbaru karena telaga yang ada di sampingnya sudah tidak bagus lagi.

Innaya Zahra Hafiza

Setelah bertualang, kami duduk di teras rumah Bunda Yelli. Tas kami dibagikan oleh bunda-bunda lainnya. Saya mengambil kotak bekal yang sudah disiapkan dari rumah untuk dimakan bersama dengan teman-teman. Terlebih dahulu kami mencuci tangan dulu sebelum makan lalu berdoa bersama.

Sehabis makan, kami duduk di dekat Talago Lamen. Bunda Atul memilah sampah organik dan anorganik yang kami temukan di sekitar telaga. Setelah itu, kami dibagi dua kelompok untuk menonton video banjir menggunakan laptop. Ada juga video fungsi pohon di hutan dan perbedaan tanah yang kosong dengan tanah yang berisi tumbuhan.

Setelah kami menonton video, kami dibagikan boneka gypsum untuk diwarnai. Saya mendapatkan bentuk kupu-kupu, saya pun mewarnainya dengan warna pink dan ungu.

Setelah itu, saya difoto oleh Bunda Yelli dan kami pun juga berfoto bersama. Liburan sekolah kali ini sungguh berkesan buat saya, karena sebelumnya tidak ada kegiatan yang seperti ini di kampung kami. Saya jadi paham bahwa ternyata kampung saya punya sumber air yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh kampung lainnya. Setelah semua kegiatan selesai, kami membaca doa penutup majelis lalu pulang sambil bersalaman dengan semua bunda-bunda fasilitator dan menyanyikan lagu “Gelang Sepatu Gelang”.[]

Status Gunung Bur Ni Telong Turun ke Level Waspada (II)

0

REDELONG–Pada Sabtu, 3 Januari 2026, Status aktivitas vulkanik Gunung Burni Telong di Kabupaten Bener Meriah diturunkan dari Level III (Siaga) ke Level II (Waspada).

Penurunan ini dilakukan berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental Gunung Bur Ni Telong. Penurunan status mulai berlaku sejak pukul 14.00 WIB, 3 Januari 2026.

Aktivitas kegempaan vulkanik menunjukkan tren penurunan sejak 1 Januari 2026. Hingga 3 Januari siang, gempa yang terekam berkuang dan tidak teramati asap kawah secara visual.

Namun, berdasarkan rilis yang diterbitkan BPBD Bener Meriah, meski diturunkan, potensi bahaya tetap masih ada. Gunung ini dikenal sensitif terhadap gempa tektonik, sehingga peningkatan aktivitas dapat terjadi kembali sewaktu-waktu.

Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati area kawah dalam radius 3 km. Menghindari area fumarol dan solfatara. Juga senantiasa mewaspadai embusan gas vulkanik, terutama saat cuaca mendung ata hujan.[]

Gajah Liar Masuk Perkampungan di Bener Meriah

Sekelompok gajah liar di Kecamatan Permata terekam dalam sebuah video berdurasi tiga puluh detik. Kondisi terkini salah satu perkampungan di Kabupaten Bener Meriah tersebut dilaporkan langsung oleh Zainuddin, warga setempat, kepada tim perempuanleuser.com pada Jumat (2/1/2026).

“Kampung kami turun gajah.

Sejak minggu, 28 Desember 2025.”

Keterangan itu dikirim Zainuddin melalui pesan WhatsApp. Zai, panggilan akrabnya, menyatakan jalan-jalan di Bener Meriah yang sebelumnya sempat terputus kini sudah mulai dapat dilalui kembali. Namun, masyarakat di desanya masih terus bergelut dengan tantangan arus listrik yang tak kunjung hadir lebih dari satu bulan lamanya.

Gajah-gajah liar yang masuk ke pemukiman diduga warga turun dari Gunung Salak (kawasan perbatasan Aceh Utara dan Bener Meriah). Zai menyatakan pascabanjir bandang susulan yang kembali menghantam Bener Meriah pada Desember 2025, warga mulai menyaksikan gajah-gajah liar memasuki perkampungan. Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Sumatera tampaknya bukan saja meresahkan manusia, tetapi juga para gajah.

Gajah liar yang kehilangan rute jelajah, kelaparan, dan tersesat masuk perkampungan warga Bener Meriah memerlukan penanganan segera. Menghadirkan pawang untuk mengarahkan kelompok gajah tersebut agar dapat kembali ke wilayah asalnya dapat kembali menghadirkan ruang aman bagi manusia dan juga gajah. Sehingga potensi interaksi negatif antara keduanya dapat dicegah.

Apalagi jika mengingat kondisi masyarakat Bener Meriah terkini yang mengungsi karena kehilangan tempat tinggal mereka dikarenakan bencana. Masyarakat Permata yang bertahan hidup tanpa rumah. Warga yang terpaksa tinggal di lapangan terbuka, yang hanya beralaskan sehelai tikar dan beratapkan selembar terpal.

“Mungkin ini ujian bagi masyarakat kami. Setelah banjir bandang kemarin, gajah datang lagi,” timpal Zai.[]

Gunung Bur Ni Telong Siaga Level III

0

Status aktivitas vulkanik Gunung Bur Ni Telong di Kabupaten Bener Meriah secara resmi ditingkatkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Penetapan kenaikan level tersebut dilakukan pada pukul 22.45 WIB, Selasa, 30 Desember 2025.

Peningkatan status ini menyusul adanya peningkatan aktivitas gunung api yang signifikan dan potensi letusan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Berdasarkan informasi resmi yang dikeluarkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bener Meriah dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan penuh.

Pihak berwenang menetapkan zona bahaya sejauh 4 kilometer dari puncak Gunung Bur Ni Telong. Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras melakukan aktivitas apa pun di dalam radius tersebut guna menghindari ancaman material vulkanik jika terjadi erupsi.

Masyarakat diharapkan tetap tenang namun siaga, mengikuti arahan resmi dari PVMBG dan BPBD, serta Jangan terpancing oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Data lainnya yang dirilis oleh BPBD Bener Meriah adalah 24 kampung risiko tinggi  yang tersebar di Kecamatan Bukit, Kecamatan Wih Pesam, dan Kecamatan Timang Gajah. Desa-desa tersebut meliputi Bale Atu, Hakim Tunggul Naru, Bale Redelong, Rembele, dan Karang Rejo di Kecamatan Bukit. Selanjutnya Desa Wonosobo, Burni Telong, Pante Raya, Wih Pesam, Lut Kucak, Simpang Balik dan Bener Mulia di Kecamatan Wih Pesam. Desa berikutnya adalah Kenine, Fajar Harapan, Damaran Baru, Bandar Lampahan, Karang Jadi, Mude Benara, Rembune, Pantan Pediangan, Bukit Mule, Lamapahan, Lampahan Timur, dan Lampahan Barat di Kecamatan Timang Gajah.

Adapun total individu di desa dengan risiko tinggi sebanyak 26.072 jiwa. Dari jumlah tersebut, terdapat kelompok rentan yang menjadi prioritas evakuasi, meliputi: 2.086 lanjut usia (lansia), 3.482 anak-anak, 187 ibu hamil, dan 114 penyandang disabilitas.

Selain keselamatan jiwa, data aset warga juga menjadi perhatian, terdata ada hewan ternak (sapi, kerbau, kambing, dan unggas) yang berada di wilayah terdampak. Pemerintah daerah telah menyiapkan titik-titik pengungsian dengan total kapasitas mencapai puluhan ribu orang. Beberapa lokasi utama evakuasi meliputi: GORS Bener Meriah & Pasar Pekan Simpang Tiga: Kapasitas 1.000 orang (Untuk warga Kec. Bukit); SMP M, SMA M, & Lapangan Bola Blang Panas: kapasitas 5.000 orang (Untuk warga Kec. Wih Pesam); Kampus USK II Lampahan & SDN Simpang Layang: kapasitas 5.000 orang (Untuk warga Kec. Timang Gajah); dan SMAN 3 Timang Gajah & MTsS Blang Rongka: kapasitas 5.000 orang.

BPBD menekankan pentingnya menyaring informasi di tengah situasi darurat ini. Masyarakat diminta hanya memantau kanal komunikasi resmi melalui situs www.bpbd.benermeriahkab.go.id atau menghubungi kontak layanan PVMBG Aceh di nomor 0811-1222-679.

Berdasarkan Laporan Khusus dengan Nomor: 181/GL.03/BGL/2025 yang diterbitkan oleh BNPB Bener Meriah, dijelaskan bahwa Gunung Bur Ni Telong merupakan gunung tipe strato dengan ketinggian puncak 2.624 mdpl. 

Pada tanggal 30 Desember 2025 pukul 20.43 WIB hingga pukul 22.45 WIB terekam terjadi sebanyak tujuh kali gempa terasa dengan lokasi berdekatan, yaitu sekitar lima kilometer sebelah barat daya Gunung Bur Ni Telong. 

Peningkatan kegempaan di Gunung Bur Ni Telong telah terjadi sejak bulan Juli 2025. Hingga 30 Desember 2025, telah terjadi sekitar 10 kali peningkatan gempa vulkanik dalam. Peningkatan semakin intensif pada bulan November dan Desember 2025. Terjadinya gempa susulan setelah gempa tektonik  lokal menunjukkan aktivitas magma yang mudah terpicu oleh terjadinya gempa di sekitar gunung.

Disebutkan pula bahwa potensi bahaya dapat berupa erupsi yang disertai dengan gempa tektonik. Potensi ancaman bahaya lain berupa embusan gas vulkanik di daerah sekitar tembusan gas belerang (solfatara) dan uap air dan gas (fumarol ) yang dapat membahayakan jika konsentrasi gas yang terhirup melewati nilai ambang batas aman.[]

Masyarakat Sipil Nilai Negara Gagal Kelola Ekosistem Aceh

0

Banda Aceh—Hingga hari ke-28 pascabencana hidrologi yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatera, ribuan warga terdampak masih hidup dalam kondisi tidak layak. Situasi tersebut dinilai mencerminkan kegagalan negara dalam menjamin hak dasar warga atas keselamatan, perlindungan, dan lingkungan hidup yang sehat.

Komunitas Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf menilai bencana berulang ini bukan sekadar banjir musiman, melainkan krisis ekosistem akibat akumulasi kesalahan kebijakan negara. Kerusakan daerah aliran sungai (DAS), ekspansi perkebunan monokultur dan pertambangan, tata ruang yang abai pada daya dukung lingkungan, serta lemahnya penegakan hukum disebut sebagai faktor utama yang memperparah dampak bencana.

“Ini bukan peristiwa alam biasa, tetapi bencana ekosistem yang lahir dari kegagalan tata kelola ruang dan kebijakan pembangunan,” demikian pernyataan komunitas tersebut dalam diskusi publik di Banda Aceh, Selasa (23/12/2025).

Atas dasar itu, mereka mendesak Presiden Republik Indonesia segera menetapkan status bencana nasional atas bencana hidrologi di Aceh dan Sumatera, membuka akses bantuan internasional, serta memastikan penanganan bencana dilakukan secara serius dan objektif tanpa pertimbangan politik. Negara juga diminta menegakkan hukum secara tegas terhadap seluruh bentuk perusakan lingkungan.

Desakan tersebut merujuk pada hasil Muzakarah Ulama Aceh yang digelar pada 14 Desember 2025 di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, yang secara tegas merekomendasikan langkah-langkah tersebut sebagai bentuk perlindungan terhadap keselamatan rakyat.

Dalam diskusi tersebut, sejumlah akademisi dan praktisi menegaskan bahwa peringatan ilmiah terkait risiko bencana sebenarnya telah lama disampaikan, namun diabaikan oleh negara.

Akademisi Nurul Ikhsan menyebut realitas politik kerap menutup mata terhadap temuan ilmiah. Ketidakseriusan itu, menurutnya, memicu tuntutan kuat agar status bencana segera dinaikkan menjadi bencana nasional.

Sementara itu, Ivan Krisna menilai Aceh dan Sumatera tidak layak dipaksakan menjadi wilayah monokultur, khususnya sawit. Penggantian hutan dan kebun rakyat dengan perkebunan sawit, pembangunan kanal yang memotong topografi alami, serta degradasi tanah telah menciptakan limpasan air besar dalam ruang resapan yang semakin sempit.

“Melawan banjir dengan infrastruktur semata adalah pendekatan keliru. Kuncinya ada pada pemulihan keseimbangan ekosistem dan menjadikan DAS sebagai basis kebijakan tata ruang,” ujarnya.

Dahlan, mewakili Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), menegaskan kegagalan tata ruang Aceh telah berlangsung lama. RTRW dinilai tidak pernah benar-benar berbasis DAS, sementara usulan buffer ekologis berupa kebun campuran yang menyerupai hutan justru diabaikan. Di tengah luasnya kawasan budidaya, tekanan terhadap hutan lindung masih terus terjadi.

Ia juga menyoroti banyaknya kawasan hutan yang berada di luar kawasan hutan negara, sehingga membutuhkan koordinasi serius antara Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK). “Tanpa tim tata ruang yang dinamis dan multistakeholder, Aceh akan terus menuju bencana berikutnya,” kata Dahlan.

Dari sisi hukum, praktisi Affan menyebut pemerintah berada dalam kondisi “kesepian gagasan”. Ribuan alat berat beroperasi di kawasan hutan, sementara respons negara dinilai lamban dan reaktif. Menurutnya, momentum bencana ini harus dimanfaatkan untuk mendorong langkah jangka pendek dan panjang, mulai dari tanggap darurat, pemulihan ekosistem sungai, hingga advokasi hukum dan gugatan kebijakan.

Sejumlah tokoh masyarakat sipil lainnya mengingatkan agar energi gerakan tidak padam dan tetap berpijak pada pengetahuan serta analisis ilmiah.

Sebagai tindak lanjut, Komunitas Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf bersama elemen masyarakat sipil merekomendasikan evaluasi total seluruh izin sawit dan tambang di Aceh, moratorium perkebunan sawit dan pertambangan hingga daya dukung ekosistem pulih, serta peninjauan ulang RTRW Aceh berbasis DAS.

Mereka juga mendorong pemetaan menyeluruh seluruh DAS dengan ketentuan minimal 30 persen kawasan DAS wajib memiliki tutupan hutan, serta perlindungan sungai purba sebagai infrastruktur ekologis alami.

“Bencana ini adalah cermin. Yang dipertaruhkan bukan hanya kebijakan, melainkan masa depan Aceh dan Sumatera,” demikian pernyataan sikap tersebut.[]

Petualangan Mengunjungi Sumber Mata Air di Gampong Air Sialang

0

Oleh: Ath Thahira Najwa*

Liburan telah tiba, saya dan teman-teman, juga adik-adik berpetualang mengunjungi delapan sumber mata air yang ada di Gampong Air Sialang Hilir, Samadua, Aceh Selatan. Kegiatannya dibuat oleh Yellsaints Family.

Jadi, pada hari Sabtu, 27 Oktober 2025 lalu saya bergegas menyiapkan bekal untuk dibawa saat berpetualang. Padahal mulai kegiatannya pukul 09.30 WIB, tapi saya sudah siap sejak pukul 08.00 WIB karena memang hari ini hari yang saya tunggu-tunggu.

Saking semangatnya, saya turut menjemput teman-teman yang belum hadir. Kebetulan rumah saya bersebelahan dengan tempat kegiatan Yellsaints Family. Ketika jam menunjukkan waktu hampir pukul 09.30 WIB, sedangkan teman-teman belum juga tiba, saya pun berinisiatif menjemput mereka supaya kegiatan berjalan tepat waktu.

Setelah teman-teman ramai, Bunda Atul dan Bunda Ulfa yang menjadi fasilitator di kegiatan ini, langsung mengumpulkan anak-anak membentuk lingkaran. Lalu kami bernyanyi sambil memperkenalkan diri satu per satu lewat lagu, dan dilanjutkan dengan membaca doa belajar. Setelah itu, barulah melakukan pemanasan dengan senam aram sam-sam dan gemu pemire.

Kami juga dikenalkan dengan permainan tradisional, yaitu tang-tang pukuik. Dalam permainan ini, ada dua orang yang bertugas sebagai “penjaga” dan membentuk formasi “gerbang” dengan cara menautkan kedua tangan mereka. Adapun yang lainnya membentuk barisan seperti kereta api sambil memegang bahu teman. Kemudian berjalan sambil menunduk melewati tangan dari dua orang yang berjaga tadi. Saya baru tahu ada permainan seperti itu, karena sebelumnya kami tidak pernah memainkannya.

Setelah bermain, kami dikenalkan lagu ‘Banjir Datang karena Apa?’ Barulah setelah itu berjalan kaki menuju sumber mata air sambil menyanyikan lagu tersebut.

Ath Thahira Najwa

Petualangan kami pertama mengunjungi sumber mata air yang diberi nama Talago Mengkudu. Menurut penjelasan Bunda Yelli, dulunya ini tempat mandi dan juga tempat kebutuhan menggambil air bersih. Namun, karena tidak dirawat, sumber mata air ini tidak digunakan lagi. Semak-semak pun sudah memenuhi badan telaga.

Kami tidak bisa turun ke bawah karena sudah banyak semak, takut ada ular dan biawak yang menghuni telaga itu. Disebut sebagai Talago Mengkudu karena di sini dulunya banyak batang mengkudu, makanya disebut Talago Mengkudu.

Kemudian, kami menuju sumber mata air yang kedua. Namanya Talago Nek Maricat. Ini telaga pribadi milik almarhumah Nek Maricat, kata Bunda Yelli. Semasa hidupnya Nek Maricat berprofesi sebagai penyembuh. Di sini airnya sangat jernih sehingga tampak ikan-ikan kecil yang berenang-renang. Bunda Yelli juga menjelaskan ciri-ciri air yang bersih, yaitu jernih, tidak berasa, dan tidak berbau. Airnya juga sejuk.

Kami bisa merasakan air di telaga ini, dan benar-benar segar dan sejuk. Di sekelilingnya juga masih banyak pohon yang rimbun sehingga telaga ini terjaga dan terlindungi. Tidak ada sampah plastik di sini, yang ada sampah dedaunan. Saya memungutnya dan memasukkan ke dalam tempat sampah organik yang dipegang oleh Bunda Atul.

Kami mengunjungi sumber mata air yang ketiga, yaitu Talago Surau. Airnya juga bersih dan jernih, bahkan kami bisa melihat udang galah yang sedang bermain di ekor telaga. Kata Bunda Ulfa, telaga ini disebut Talago Surau karena bersebelahan dengan surau kaum ibu. Jadi, surau ini juga digunakan oleh ibu-ibu untuk mandi, mencuci, dan juga berwudu. Telaga ini terdiri atas beberapa bagian. Di bagian depan ada tempat menaruh pakaian, yang tingginya sekitar satu meter, ada kolam tempat mandi, dan ekornya (alirannya) tempat mencuci ikan atau piring, dan kamar mandi atau WC di bagian paling ujung.

Setelah itu, kami mengunjungi Talago Tampang. Ini sumber mata air yang keempat. Namanya diambil dari pohon besar yang dulu pernah hidup di dekat telaga. Namanya batang tampang. Tingginya sekitar 200 meter, dengan diameter sekitar 2 meter, kata Bunda Ulfa. Di sana banyak burung elang bersarang. Tapi, sekarang batangnya tidak ada lagi karena sudah ditebang.

Kami lanjut ke Talago Meunasah, yang kelima. Ini tempat pemandian laki-laki. Dinamakan Talago Meunasah karena ada meunasah yang digunakan oleh laki-laki. Telaga ini paling besar dan dalam dibandingkan telaga lainnya. Setelah puas di sini, kami lanjut berjalan kaki lagi sambil menyanyikan lagu ‘Banjir Datang karena Apa?’.

Akhirnya, kami tiba ke Talago Punjuik, sumber mata air yang keenam. Menurut penjelasan Bunda Atul, nama telaga ini diambil dari Surau Punjuik yang ada di samping telaga. Konon katanya kepala surau itu berbentuk punjut, seperti ikat tali pocong. Selain itu, menurut cerita orang dulu katanya di sini sering terlihat hantu pocong karena dekat juga dengan kuburan.

Kegiatan mewarnai setelah bertualang. Foto: Yelli Sustarina

Lanjut ke sumber mata air yang ketujuh. Namanya Talago Lubuk Ek ‘Ot. Untuk menuju telaga ini kini harus menyeberang alur yang airnya sedalam betis saya. Disebut Talago Lubuk Ek ‘Ot karena dulunya ada batang bambu besar yang bila ditiup angin, bunyinya ek ‘ot, ek ‘ot. Begitu kata Bunda Atul. Telaganya kecil, tapi airnya sangat jernih dan sejuk karena di sekelilingnya ada pohon-pohon tinggi yang rimbun.

Setelah itu kami menuju sumber mata air yang terakhir, yaitu Talago Lamen. Disebut Talago Lamen karena berada di depan halaman rumah Bunda Yelli. Ini telaga yang baru saja dibuat, sebagai pengganti Talago Subarang Air yang sudah tertimbun. Kata Bunda Yelli, dulunya telaga ini adalah bekas dari kandang ayam dan pernah juga dijadikan tempat pembuangan sampah. Namun, sekarang sudah digali menjadi telaga dan airnya sangat jernih.

Setelah puas bertualang kami pun makan bersama. Kemudian menonton video tentang banjir, longsor, dan video tentang fungsi pohon di hutan. Setelah menonton kami mewarnai boneka gipsum, lalu pulang. Saya sangat senang bisa bertualang seperti itu. Liburan pun jadi terasa menyenangkan karena ada cerita yang bisa saya sampaikan ke teman-teman saat kembali bersekolah nanti.[]

Penulis adalah siswa MIN 10 Samadua, Aceh Selatan.

Ketika Bencana Tak Boleh Diceritakan

0

Oleh Afrizal Akmal*

Ada sesuatu yang ganjil ketika bencana harus disaring sebelum diceritakan. Air boleh meluap, tanah boleh runtuh, rumah boleh hanyut—tetapi kata-kata tentang itu harus menunggu izin. Atau lebih tepatnya: harus menyesuaikan diri.

Siaran pers Komite Keselamatan Jurnalis mengingatkan kita pada satu kenyataan lama yang selalu ingin disangkal negara: bahwa kekuasaan paling gelisah bukan pada kerusakan alam, melainkan pada cerita tentangnya. Sebab cerita adalah cermin. Dan cermin, kata penguasa, sering kali tak sopan.

Dalam sejarah, bencana selalu datang lebih jujur daripada pidato. Ia tak pandai berbohong. Ia tak mengenal eufemisme. Ia hanya menunjukkan akibat dari sebab yang terlalu lama disembunyikan. Karena itu, ketika jurnalis dilarang merekam, ketika siaran dipadamkan, ketika berita dihapus, yang sesungguhnya terjadi bukanlah pengendalian informasi—melainkan ketakutan terhadap kenyataan.

Negara barangkali lupa: pers tidak menciptakan bencana. Pers hanya menyebutkannya. Yang menciptakan bencana adalah kebijakan yang menunda, kesombongan yang menolak bantuan, dan keinginan untuk tampak kuat di depan kamera, meski rapuh di lapangan.

Membatasi pemberitaan bencana adalah bentuk kekerasan yang sunyi. Ia tidak memukul tubuh, tetapi melumpuhkan nalar publik. Ia tidak menumpahkan darah, tetapi mengaburkan sebab-akibat. Dan ketika fakta tak boleh beredar, yang tersisa hanyalah monolog kekuasaan—tanpa koreksi, tanpa rasa malu.

Dalam konstitusi kita, hak atas informasi bukan hadiah. Ia bukan kemurahan hati negara. Ia adalah hak warga negara, terutama ketika keselamatan dipertaruhkan. Dalam situasi bencana, informasi bukan sekadar berita; ia adalah alat bertahan hidup. Menyembunyikannya berarti mengambil risiko atas nyawa orang lain.

Yang lebih menyedihkan: pembungkaman ini tidak selalu datang dalam bentuk larangan resmi. Ia hadir sebagai bisikan, tekanan halus, sensor diri, atau “kesepakatan damai” yang pura-pura melupakan pidana. Kekuasaan bekerja paling efektif ketika ia tak perlu berteriak.

Karena itu, pernyataan KKJ layak didukung bukan hanya oleh jurnalis, tetapi oleh siapa pun yang masih percaya bahwa demokrasi hidup dari terang, bukan dari gelap yang ditata rapi. Negara yang kuat bukan negara yang membungkam kritik, melainkan negara yang sanggup mendengar kabar buruk—dan belajar darinya.

Permintaan maaf yang dituntut KKJ bukanlah soal etika pribadi presiden semata. Ia adalah pengakuan politik bahwa negara telah keliru menempatkan citra di atas keselamatan, narasi di atas fakta, dan kuasa di atas nurani.

Sebab pada akhirnya, bencana akan berlalu. Air akan surut. Kamera akan dimatikan. Tapi cara negara memperlakukan kebenaran—itulah yang akan diingat sejarah.

Dan sejarah, seperti bencana, tak bisa disensor.[]

*Penulis adalah inisiator Gerakan Hutan Wakaf (ikhw.org)