Beranda blog Halaman 14

Mengapa Ada Warga Enggan Vaksinasi?

Kamis, 24 Februari 2022, seperti biasa setiap sorenya untuk menghilangkan suntuk dan bosan, saya berjalan-jalan ke kawasan objek wisata Ulee lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Kawasan yang terdapat pelabuhan ini merupakan salah satu lokasi favorit masyarakat di Banda Aceh dan sekitarnya untuk dikunjungi setiap sorenya.

Walaupun penyebaran Covid-19 telah berlangsung sejak awal 2020, kawasan ini masih banyak diminati dan juga didatangi oleh pengunjung. Tak terkecuali bagi warga yang berjuang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan cara berdagang makanan di sepanjang kawasan ini.

Kesadaran masyarakat terhadap Covid-19 bisa dibilang masih sangat rendah. Begitu juga ketidakpercayaan masyarakat terhadap Covid-19, masih banyak ditemukan di lapangan. Salah satunya adalah seorang pedagang berinisial D yang sehari-hari berjualan di kawasan wisata Ulee Lheue Banda Aceh.

Kamis sore itu saya berbincang-bincang dengan Bang D. Dia merupakan lulusan salah satu kampus yang ada di Banda Aceh. Menurut Bang D, kepercayaan masyarakat terhadap Covid-19 sangat minim. Begitu juga dirinya.

“Alasan masyarakat kurang percaya Covid-19 karena yang sering terinfeksi kebanyakan mereka yang sudah renta,” kata Bang D. Sedangkan bagi yang tidak memiliki riwayat penyakit bawaan menurutnya aman-aman saja. Bang D percaya Covid-19 itu ada, tetapi ia menilai tidak begitu berbahaya.

Di sisi lain sampai sekarang Bang D masih enggan untuk divaksinasi. Dia tidak percaya dengan penyebaran virus ini dan juga program vaksinasi yang digalakkan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

“Untuk aktivitas sehari-hari saya juga tidak menggunakan masker, kalaupun saya memakai masker hanya saat ada tim keamanan yang melakukan pemantauan. Setelah mereka pergi saya mencopotnya kembali,” ceritanya.

Ia sendiri pernah ditegur dan dinasihati oleh pihak keamanan karena tidak taat prokes, tetapi dia hanya “mengiyakan” saja di depan petugas. Saat itu pihak keamanan juga menasihati Bang D supaya melakukan vaksinasi sehingga kesehatannya lebih terjamin ketika mencari nafkah. Tak hanya itu, dengan vaksinasi juga turut serta melindungi orang lain dari penularan.

Bang D berdalih, dirinya selama ini banyak berinteraksi dengan turis-turis dan juga orang-orang dari luar daerah, tetapi dia mengaku tidak mengalami gejala-gejala seperti terkena Covid-19. Ia juga punya pengalaman lain, adiknya sempat tidak sanggup bangun setelah disuntik vaksin.

Ia juga bingung dengan keadaan sekarang seolah-olah begitu mudahnya orang terinfeksi Covid-19. Mereka yang mengalami demam biasa sudah didiagnosa terinfeksi Covid-19. Padahal, menurut Bang D, di awal-awal pandemi muncul, mereka yang tertular virus ini cukup minum obat dan karantina mandiri saja di rumah.

Menurutnya program vaksinasi yang akhir-akhir ini sangat gencar hanyalah permainan politik antarnegara. Untuk menjaga stabilitas politik, pemerintah tidak enak untuk menolak vaksin yang berasal dari negara luar. Hal inilah yang membuatnya ragu soal vaksin. “Jika di awal-awal masyarakat bisa sembuh hanya dengan karantina 14 hari dan minum obat demam, mengapa sekarang harus perlu vaksin, dan seolah-olah dampak yang disebabkan oleh Covid-19 sangat berbahaya?”

Dia juga mengatakan bahwa negara Cina yang membuat vaksin dan menyuplai vaksin ke Indonesia malah tidak menggunakan vaksin tersebut. Namun, dia tidak menjelaskan dari mana mendapatkan informasi itu. Karena keraguannya itu pula Bang D tidak menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Dia menjalankan aktivitasnya tanpa masker, padahal sehari-hari dia berinteraksi dengan banyak orang, seperti wisatawan dari luar provinsi, bahkan mancanegara.

Bang D juga menceritakan, seorang kakek-kakek di kawasan itu yang berprofesi sebagai tukang becak selalu bekerja tanpa memakai masker. Saban hari dia mengantar jemput tamu-tamu asing ke pelabuhan, tetapi dia selalu sehat. Hal ini semakin menguatkan keraguan Bang D. Ia juga mengatakan, kejadian-kejadian ikutan pascaimunisasi seperti dugaan kelumpuhan yang dialami oleh individu tertentu turut memengaruhi persepsi masyarakat terhadap vaksin.

Pedagang lain yang saya temui di kawasan ini ialah Bapak M, seorang penjual gorengan. Dia mengatakan untuk urusan vaksinasi ini ikut saja apa yang dikatakan oleh kepala desa di kampungnya sehingga dia sudah mendapatkan suntikan vaksin dosis pertama. Namun, karena sekarang dia belum terlalu mendesak untuk keperluan administrasi, jadi belum mau melakukan vaksinasi untuk dosis kedua. Jika dibutuhkan baru dia akan ke rumah sakit katanya.

Ia juga menyatakan kebingungannya karena Covid-19 ini akan menjadi perhatian serius menjelang hari-hari besar Islam, sementara saat hari besar agama umat lain dianggap biasa-biasa saja. Dia juga bercerita jika anaknya yang masih usia sekolah awalnya tidak mau divaksinasi, tetapi setelah ditegur dan diberitahukan oleh guru kalau tidak suntik vaksin nantinya tidak bisa praktik di sekolah atau luar sekolah karena tidak ada sertifikat vaksin, barulah anaknya mau divaksinasi.

Sedangkan pedagang lainnya, Bapak Abd, yang juga berjualan di kawasan Ulee Lheue ini mengaku sangat ingin untuk divaksinasi. Namun, kondisinya yang mengalami penyakit diabetes melitus membuat harapannya sirna.[]

Ditulis oleh Maghfudh, jurnalis warga Banda Aceh

Vaksinasi sebagai Refleksi Rasa Syukur

Saya merasa senang sekali karena terpilih sebagai salah seorang peserta workshop dan mentoring Jurnalis Warga bertema Memperluas Literasi Kesehatan Melalui Jurnalisme Warga pada Sabtu-Minggu, 19-20 Februari 2022.

Pelatihan yang mencakup tentang ‘literasi kesehatan di masa pandemi’ itu, menghadirkan pemateri yang kompeten di bidangnya. Awalnya saya kurang percaya diri, disebabkan kemampuan literasi yang masih rendah terutama di bidang penulisan. Ditambah lagi, jujur saya akui bahwa saya belum divaksinasi dengan alasan ingin menyiapkan kondisi badan agar fit dan prima dulu sehingga ketika divaksinasi berjalan aman.

Namun, dalam suasana pelatihan yang penuh ‘warna’ itu, baik perbedaan usia, latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan talenta, kami seluruh peserta diberikan bimbingan dan dukungan yang sangat baik. Selain dibimbing bagaimana menjadi jurnalis atau reporter warga, juga mendapat pemahaman yang baik tentang kesehatan di masa pandemi Covid 19 ini.

Satu hal yang berkesan iaalah ketika pemateri seorang perempuan praktisi kesehatan dan juga penulis,memberikan dorongan kepada saya, “Jangan takut divaksin, ya. Karena semua orang bisa divaksin dengan treatment (pemeriksaan dan persiapan) yang benar,” begitu ucapnya.

Motivasi diri

Penulis di lokasi vaksinasi Museum Aceh

Selama ini memang berita tentang vaksin yang berseliweran di media sosial simpang siur, terutama di grup WhatsApp yang saya punya. Mendukung dan menolak vaksin dan saling sahut. Namun, hari ini, Selasa, 1 Maret 2022, berbekal motivasi diri yang didapat dari pelatihan, saya bertekad dan bersiap untuk vaksinasi.

Matahari agak malu menampakkan diri, cuaca sedikit mendung, tapi tidak hujan. Saya tiba di gedung Museum Aceh, tempat pelaksanaan vaksinasi sekitar pukul 15.00 WIB. Sejak tanggal 13 Januari 2022 lalu, Pemerintah Aceh telah memindahkan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 Banda Aceh Convention Center ke Museum Aceh. Suasana lingkungan museum yang asri memacu semangat saya. Dalam ruangan ada empat spot vaksinasi, yakni spot Rumah Sakit Zainoel Abidin (RSUZA), Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), Rumah Sakit Kesdam, dan RS Bhayangkara.

Saya sempat sejenak berdiskusi dengan petugas. “Ada dua vaksin yang tersedia, Pak. Moderna dan Pfizer,” katanya.

Moderna adalah vaksin yang diproduksi oleh Moderna TX, USA Amerika serikat, dan sejak tanggal 2 Juli 2021 telah mengantongi izin penggunaan darurat (emergency use authorizm-EUA) oleh Badan Pengawas Obat dan makanan (BPOM). Sedangkan Pfizer telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari BPOM sejak tanggal 14 Juli 2021. Pfizer merupakan produksi gabungan Pfizer, sebuah perusahaan farmasi Amerika Serikat dengan menggandeng BionTech, perusahaan dari jerman (penelusuran Google), mantap bukan!

Lebih lanjut petugas menjelaskan bahwa jika tekanan darah masih di bawah 180, maka vaksinasi masih aman dilakukan. Dan juga kedua vaksinasi telah disuntikkan pada ribuan orang dengan baik dan aman. Jadi masyarakat diimbau tidak pilih-pilih vaksin.  Hanya saja biasa efeknya sedikit pegal dan demam. Penjelasan petugas itu, membuat keresahan saya hilang dan saya memutuskan memilih vaksin Pfizer. Sebelumnya tekanan darah saya diukur dan dinyatakan aman untuk divaksinasi.

Lega sekali rasanya setelah divaksinasi, hanya terasa agak pegal di lengan bekas suntikan, tapi stamina menjadi berlipat. Dokter yang ramah berujar, “Jangan lupa datang ke vaksin kedua ya, Pak. Paling cepat 21 hari setelah vaksin pertama ini” .

“Siap, Pak!” jawab saya semangat.

Dengan bangga saya memajang foto di media sosial, seolah menyatakan, ‘Saya telah menunaikan kewajiban sebagai warga negara yang baik.” Ufh… sekian lama menanggung keraguan usai sudah akhirnya.

Selalu baik pada diri sendiri dan pada orang lain, demikian ujaran salah seorang pemateri di bidang jurnalistik.  Melakukan vaksinasi adalah salah satu kebaikan yang kita hadiahkan kepada diri sendiri.

Dengan demikian tubuh akan lebih kuat menolak penyakit. Menurut sumber yang sahih, dalam masa pandemi ini, orang-orang yang terkena Covid-19 hampir semuanya yang belum pernah divaksinasi. Selain itu, ketika kita sudah divaksinasi dan merasakan manfaatnya, bisa berbagi cerita pengalaman sendiri, serta mengajak orang-orang di sekeliling untuk ikut divaksinasi. Baik itu keluarga sendiri, teman sejawat, sanak famili, dan orang-orang di sekeliling.

“Coba lihat saya yang sudah vaksin, merasa lebih fit dan semangat dalam menjalani keseharian. Ayo ikut vaksin!!”

Demikianlah kebaikan yang dapat kita bagikan kepada orang lain.

Satu kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda dan vaksinasi adalah refleksi rasa syukur dari segala kebaikan itu.[]

Ditulis oleh Rahmat M, Jurnalis Warga Banda Aceh

Cerita Baik dari Zikrullah, Sukarela Vaksinasi setelah Tahu Manfaatnya

Semalam saya tiba-tiba mendapat pesan dari WhatsApp, isinya seperti ini, “Mardha, kalau Abang mau vaksin booster, cara dapatnya gimana ya?”

Pesan tersebut berasal dari M. Zikrullah, salah satu anggota The Leader yang juga merupakan mahasiswa S2 program Split Master di Universitas Syiah Kuala dan University of Rhode Island dari beasiswa BPSDM Aceh.

Setelah membaca pesan tersebut, saya pun cukup terkejut, lantaran pada umumnya orang menghindari vaksin, tapi teman saya ini malah bertanya dan ingin divaksinasi. Untuk menjawab rasa penasaran, saya pun bertanya lebih lanjut tentang alasan mengapa ia ingin divaksinasi, setelah saya memberikan arahan bagaimana cara mendapatkan vaksin booster.

Beliau bercerita bahwa karena sering bepergian ke luar daerah, vaksin menjadi salah satu kebutuhannya, tidak hanya untuk meningkatkan imunitas tubuh di masa pandemi ini, tapi juga untuk memenuhi persyaratan administrasi yang harus melampirkan sertifikat vaksin sebagai syarat melakukan perjalanan ke luar daerah. Di sisi lain, ketika mengunjungi tempat wisata, kantor pemerintahan atau tempat tertentu yang membutuhkan sertifikat vaksin, maka ia pun tak perlu khawatir lagi.

Lebih lanjut, ia pun juga bercerita pada awalnya keluarga intinya tidak percaya dengan Covid dan vaksin. Namun, sejak awal tahun 2022, salah satu anggota keluarganya harus dirawat di rumah sakit karena terkena Covid-19, dari situ baru muncul kesadaran dan pemahaman oleh seluruh anggota keluarga tentang bahaya Covid-19 dan pentingnya vaksinasi.

M. Zikrullah, pada awal vaksin dosis 1, melakukannya secara terpaksa karena tuntutan administrasi sebagai guru. Kemudian lama-kelamaan mulai paham betapa pentingnya vaksin, sejak ada salah satu temannya yang terkonfirmasi positif Covid-19. Pada saat temannya terkena Covid-19, ada yang sudah divaksinasi dan ada juga yang belum.

Ia pun baru memahami ternyata ada perbedaan gejala yang dialami, pada temannya yang belum divaksinasi gejala yang dirasakan sangat terasa seperti anosmia (tidak bisa mencium bau dan rasa), batuk, flu, dan sakit tenggorokan sedangkan pada temannya yang sudah divaksinasi gejalanya hanya ringan dan lebih cepat recovery. Jadi dari kejadian tersebut dapat menjadi pertimbangannya untuk melakukan vaksinasi dosis 2.

Dari cerita pengalaman Zikrullah, saat pandemi ini sering sekali kita mendengar dan melihat ada orang yang percaya Covid-19 dan ada juga yang menentang segala hal yang berkaitan dengan virus ini. Sebenarnya apa yang memengaruhi seseorang dalam berpikir sehingga menimbulkan sebuah keputusan yang pro dan kontra?

Mengutip sebuah tulisan dari humanhow.com tentang bias kognitif yang memengaruhi manusia dapat membuat keputusan yang rasional atau irasional. Jika dilihat dari pengertiannya, bias kognitif atau bisa juga disebut sebagai bias berpikir adalah suatu kesalahan sistematis dalam berpikir yang memengaruhi cara seseorang, sehingga dapat mendorong dalam mengambil keputusan atau penilaian yang tepat atau tidak.

Salah satu faktornya adalah herd behavior (perilaku kawanan) yaitu seseorang cenderung melakukan apa yang dilakukan oleh sekelompok orang di sekitarnya, padahal sebagai individu, belum tentu membuat pilihan yang sama. Dalam konteks pandemi, masyarakat sering kali lebih sering mengikuti apa yang orang di sekitarnya lakukan, padahal itu belum tentu benar.

Contoh: “Ah, teman-temanku pada gak pake masker, jadi ngapain aku pake masker juga.” “Di daerahku kayaknya aman deh, gak ada covid, jadi gak apa-apa kalau aku mau jalan-jalan.”  Dua contoh ini merupakan bias berpikir yang membuat seseorang mengambil tindakan yang salah, sedangkan pada contoh cerita M. Zikrullah, ia lebih yakin mau vaksin dosis 2 setelah mendengar cerita pengalaman dari dua temannya yang terkena Covid-19 dan ini bentuk dari bias berpikir yang mengarah pada tindakan yang benar.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, 68% pasien positif Covid-19 meninggal dunia karena belum mendapatkan vaksinasi dosis lengkap. Pada saat pandemi, tentu bias berpikir ini akan sangat merugikan banyak pihak, apabila tindakan yang dilakukan mengarah pada keputusan irasional. Pembahasan mengenai bias berpikir ini juga dibahas melalui akun Instagram @cisdi_id , mereka memberikan saran untuk menghindari bias kognitif di era pandemi yang dapat merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitar, caranya, yaitu:

1. Akui dan sadari bahwa kita memiliki bias dalam berpikir.

2. Kritis dalam menerima informasi dan lakukan riset dari sumber terpercaya dan

3. Jangan mengambil keputusan saat sedang lelah karena dalam situasi tersebut sangat rentan membuat keputusan yang salah.

Akhir kata, tidak apa-apa kalau dulunya Anda tidak percaya Covid-19 dan vaksin, dan juga lebih percaya apa yang disampaikan oleh lingkungan terdekat Anda daripada para pakar dan ahli. Namun, dari kesalahan tersebut, cobalah “tobat” dengan cara membuka mata dan hati untuk melihat dari perspektif yang berbeda.[]

Ditulis oleh Mardhatillah, jurnalis warga Banda Aceh

Kesibukan Mencari Nafkah Tidak Menghalangi Bu Darmawati untuk Vaksinasi

Saat melintasi kawasan Darussalam, tepatnya di seputaran gerbang kampus dekat UPT Perpustakaan Universitas Syiah Kuala, akan terlihat banyak penjual aneka jajanan. Kawasan ini memang ramai dengan mahasiswa sehingga banyak pedagang kaki lima berjualan makanan. Ada tiga kampus di sini, yaitu Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry, dan STAI Tgk Chik Pante Kulu. Wajar saja kalau kawasan ini tak pernah sepi.

Salah satu penjual makanan di sana ialah Ibu Darmawati. Ia menjual aneka gorengan seperti bakwan, tempe, pisang goreng, dan pisang molen. Gerobak dagangan Bu Darmawati tak jauh dari gerbang kampus. Menandai gerobak dagangan Bu Darmawati sangat mudah. Ada tulisan “Gorengan Asikk” di gerobaknya.

Bu Darmawati tinggal di Gampong Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala. Ia berasal dari Kecamatan Geulumpang Minyeuk, Kabupaten Pidie. Ia memiliki lima orang anak.

Ibu Darmawati sudah berjualan gorengan sejak tahun 2015. Setiap hari dia berjualan gorengan dari pagi hingga malam. Namun, sejak pandemi Covid-19 mulai masuk ke Aceh pada Maret 2020, geliat ekonomi di kawasan ini lumpuh total. Para pedagang tidak diperkenankan berjualan untuk menghindari terjadinya kerumunan. Selain itu, karena perkuliahan menjadi online, otomatis kawasan ini jadi sepi.

Bu Darmawati pun terpaksa berhenti berjualan selama lebih kurang lima bulan. “Setelah diperbolehkan lagi berjualan, saya kembali berjualan, tetapi penghasilan jauh menurun dari biasanya,” kata Bu Darmawati, Senin, 28 Februari 2022.

Bu Darmawati melayani pembeli @Irda Agustina

Ia bercerita, jika sebelumnya omset yang didapat bisa mencapai Rp2,5 juta per hari, setelah pandemi tiba jadi menurun drastis, bahkan pernah hanya cukup balik modal saja sekitar Rp1 juta.

“Tapi sekarang sudah mulai normal lagi, pendapatan sudah bisa seperti dulu lagi,” katanya.

Meski sehari-hari ia disibukkan dengan mencari nafkah dari siang hingga malam, tetapi tidak menghalangi Bu Darmawati dan keluarganya untuk melakukan vaksinasi Covid-19. Ia bersama suami dan kelima anaknya semua sudah mendapatkan suntikan vaksin dosis pertama.

Ia sadar bahwa semua orang harus menjaga kesehatan saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Apalagi pekerjaannya sebagai pedagang yang bertemu dengan banyak orang bisa dibilang cukup berisiko. Mereka sekeluarga melakukan vaksinasi di kantor desa tempat mereka tinggal.

Di kawasan lain, ada Bu Nurmala Dewi yang berjualan di seputaran depan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Bu Mala berjualan buah-buahan di trotoar jalan seperti jambu, timun, mangga, dan lain-lain.

Sama seperti halnya Bu Darmawati, Bu Mala juga tetap menyempatkan diri untuk melakukan vaksinasi meski dia sibuk mencari nafkah. Bu Mala merupakan warga Gampong Lambitra, Aceh Besar, dan punya tiga anak. Dua laki-laki dan satu perempuan. Ia juga berasal dari Pidie, persisnya di Grong-Grong. Di kampungnya juga aktif disosialisasikan untuk suntik vaksin oleh perangkat desa.[]

Ditulis oleh Irda Agustina, jurnalis warga Banda Aceh

Peran Paralegal Perempuan dalam Mitigasi Bencana dan Preservasi Lingkungan

0

Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA) menggelar pelatihan paralegal perempuan dan workshop dan teungku inong (perempuan ulama), 27-28 Februari 2022, bertempat di Hotel Rasamala, Banda Aceh.

Aceh yang memiliki tutupan hutan terluas di Indonesia, membutuhkan semua tenaga dan kekuatan untuk mempertahankan keutuhan lingkungan hidupnya. Yayasan HAkA yang bergerak di lingkungan hidup, mengadakan pelatihan perempuan paralegal bagi aktivis di tingkat tapak (akar rumput)untuk memberi suara nyata pada perempuan di tingkat tapak yang bergerak di isu lingkungan.

Pelatihan paralegal ini diadakan secara teratur sejak tahun 2020, diikuti oleh perempuan aktivis lingkungan dari 11 Kabupaten di Aceh, antara lain Aceh Barat Daya, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tamiang dan lain-lain.

Hadir pula Ibu Sumini, penggagas patroli Mpu Uteun di desa Damaran Baru, Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah. Desanya kini sudah menjadi Kampung Wisata Ramah Lingkungan (Ecovillage) yang memperoleh API Award 2020.

Ibu Sumini bersama fasilitator HAkA, Pak Budi Arianto

Patroli MpU Uteun kini beranggotakan sekitar 12 anggota aktif, belum terhitung para pendamping, yang berasal dari kaum bapak dan pemuda. Keunggulan strategi patroli Mpu Uteun dalam mengurangi kegiatan illegal logging di Desa Damaran Baru adalah komunikasi dari hati ke hati.

“Keahlian khusus perempuan adalah membaca gerak hati orang lain,”

ujar Sumini.

“Sejak awal patroli, kami membawa makanan dan minuman. Setiap bertemu pelaku penebangan liar, kami ajak mereka duduk ngopi, lalu mengobrol basa basi sampai akhirnya isi hati mereka tercurah. Di situlah baru kami pelan-pelan memberi mereka pengertian tentang bahayanya penebangan tak terkendali.”

MpU Uteun yang berarti “Penjaga Hutan” mulai aktif sejak bencana banjir bandang meluluh lantakkan Damaran Baru pada 2015. Mulanya mendapat cibiran terutama dari kaum lelaki, disebut “perempuan kurang kerjaan”, kini dengan didampingi Yayasan HakA Mpu Uteun justru menjadi penggerak ekonomi Desa Damaran Baru, dengan semakin berkembangnya wisata alam di sana.

Sumini memaparkan bahwa mereka juga sedang mengembangkan usaha penangkaran anggrek asli Tanah Gayo. Terutama jenis anggrek yang tumbuh di Bur ni Telong (bahasa Gayo = gunung berapi). Pada tahun 2019, beberapa ahli botani dari LIPI Bogor bahkan menemukan dua species anggrek baru di Tanah Gayo.

“Para ahli menyebut, rimba yang masih lebat di daerah kami menyimpan banyak spesies anggrek langka,” Sumini mengisahkan.

Bulbophyllum acehense | kompas.com

Salah satunya diberi nama Bulbophyllum acehense adalah anggrek epifit (menumpang tumbuh pada pohon lain) yang tumbuh alami di pegunungan hutan Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

Ditemukan oleh Dr. Destario Metusala, M.Sc, Peneliti di Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya (PPKTKR) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Epithet spesies menggunakan nama propinsi Aceh sebagai petunjuk bahwa kawasan Aceh memiliki keunikan diversitas anggrek yang tinggi. Penelitian diterbitkan di jurnal nasional Biologi Tropis.

Anggrek satunya diberi nama Paphiopedilum bungebelangi. Dalam bahasa Gayo, “bunga Belangi” berarti “bunga yang indah”

Ciri keluarga Paphiopedilum adalah bagian bunga yang berbentuk seperti bibir menggantung. Anggrek Bungabelangi memiliki bibir berwarna merah marun.

Anggrek ini masuk dalam regulasi Appendix I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), tidak boleh diperdagangkan.

Paphiopedilum bungebelangi | kompas.com

Dalam pelatihan selama dua hari ini, dua puluh paralegal perempuan seluruh Aceh berbagi pengalaman, membuka ruang komunikasi antar paralegal, untuk menyamakan dan memperkuat gerakan serta partisipasi perempuan dalam isu lingkungan hidup, khususnya di Aceh.

Hadir dalam sesi pertama, narasumber yang kompeten dalam bidangnya yaitu Sepriadi Utama, SH (Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Aceh), Suraiyya Kamaruzzaman, MT (aktivis, Kepala Pusat Studi Perubahan Iklim Universitas Syiah Kuala) dan Dr. Rina Suryani Oktari S.Kep., M.Si. (Kepala Tsunami Disaster Mitigation and Relief Centre USK).

Sesi tanya jawab dengan para pakar terasa hidup, bahkan sempat dihiasi tetesan air mata. Yaitu ketika paralegal wakil dari Aceh Tengah dan Aceh Barat Daya berbagi pengalaman mereka di lapangan.

Wakil Aceh Tengah, ibu Halimatussahdiah menceritakan tentang konflik masyarakat dengan gajah, sementara salah satu wakil Aceh Barat Daya (Abdya) dari Kecamatan Babah Rot, ibu Ira Maya, menceritakan perjuangannya mengadvokasi keberadaan tambang di desanya.

Jalannya diskusi larut menjadi agak emosional ketika Bu Diah menceritakan bahwa konflik dengan gajah di desanya sempat memakan korban tewas dari kalangan penduduk. Sementara Bu Ira Maya dengan berapi-api menceritakan usahanya memperoleh dokumen AMDAL dari tambang yang beroperasi di wilayah desanya, yang berujung ancaman.

Dari kiri ke kanan: Sepriady Utama, Suraiyya Kamaruzzaman, Rina Suryani Oktari

Menanggapi hal ini, aktivis kawakan Suraiyya Kamaruzzaman mengatakan bahwa sudah waktunya Ira Maya mengganti strategi advokasi.

“Jangan frontal. Gunakan jaringan, bergeraklah di belakang panggung,” nasihat Kak Aya, begitu dosen USK ini biasa dipanggil. “Cari dukungan dari tokoh yang memiliki “power”, biarkan mereka yang bicara.”

Kepala Kantor Komnas HAM perwakilan Aceh, Sepriady Utama, SH, mengatakan bahwa segala pelanggaran HAM yang dialami ibu-ibu paralegal ini dilapangan dapat dilaporkan ke Komnas HAM.

“Dalam situasi pandemi ini, kami memiliki prosedur pelaporan secara online. Ibu-ibu sekalian tinggal melampirkan laporan kronologi kasus dan identitas pelapor, yang tentu saja akan kami rahasiakan,” kata Sepriady.

Sedangkan Dr. Rina Suryani Oktari S.Kep., M.Si. yang akrab dipanggil Okta, mengatakan bahwa kekuatan ibu-ibu di tingkat tapak ini dapat membantu menengarai potensi bencana yang disebabkan kerusakan lingkungan. DR Okta juga mengingatkan, dalam situasi bencana, perempuan dan anak-anak adalah mereka yang mengalami dampak paling keras.

Karena itu, penting bagi ibu-ibu paralegal ini untuk mengetahui apa saja hak perempuan dan anak-anak, dan bagaimana memenuhi hak-hak tersebut. Bukan dalam situasi bencana saja, namun juga pada langkah-langkah strategis dalam proses mitigasi bencana.

Wakil dari Aceh Timur, ibu Yessi, yang sempat berbagi tentang bencana kebocoran gas PT Medco di kampungnya, merasa bahwa pelatihan ini benar-benar memberinya kekuatan untuk semakin siap bertindak, dan melancarkan advokasi.

“Bicara lingkungan, bicara advokasi lingkungan dan analisis sosial ternyata tidak hanya bicara tentang alamnya, hutan, tanah, air namun juga bercerita tentang interaksi sosial manusia denganalam sekitar, dirinya dgn org lain, dan juga bicara tentang bagaimana melihat dirinya sendiri, bagaimana mengetahui bahwa kita sudah mendapatkan apa yang  memang seharusnya didapatkan, baik itu pendidikan, kebebasan berpikir dan menentukan pilihan atas hidupnya,” ujar Yessi.

Teungku Inong: Agama dan Penyelamatan Ruang Hidup | Discover Aceh Official

Kemudian ia mengutip Dr. Danial Murdani, S.Ag., M.Ag, Rektor IAIN Lhokseumawe, dan Profesor Eka Srimulyani, Ph.D, guru besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh, yang juga merupakan narasumber dalam pelatihan ini:

“Kesadaran akan lingkungan hidup adalah sebagian dari keyakinan beragama,” katanya.

“Konsekuensinya, kita sebagai muslim wajib menjaga lingkungan hidup kita. Kalau mengutip Prof Eka, jangan sampai kita menjadi “kafir ekologis”, kita semua memiliki tanggung jawab terhadap alam raya ini.” pungkasnya.[]

Farhaniza Farhan; Arsitek yang Meniti Sukses di Industri Kosmetik

1

Dewasa ini, kosmetik sudah menjadi produk peradaban yang sangat lekat dengan manusia. Bangsa yang pertama kali tercatat menggunakan berbagai losion, parfum dan bahkan lipstik serta deodoran, adalah bangsa Mesir. Guci-guci berisi parfum dan losion ditemukan di dalam makam para firaun yang dikuburkan di Lembah Para Raja. Kehadiran kosmetik di Mesir Kuno juga ditengarai melalui hieroglif yang menghiasi dinding makam. Kosmetik orang Mesir, tentu saja, terbuat dari bahan dan mineral alami.

Pada abad-abad selanjutnya, manusia modern mengikuti contoh bangsa Mesir. Jenis kosmetik semakin beraneka ragam. Yang semula “hanya” ditujukan untuk higiene seperti deodoran dan sabun mandi, kemudian diramaikan dengan produk-produk yang tujuannya meningkatkan daya tarik. Misalnya lipstik, maskara dan lain-lain.

Umat manusia juga semakin sadar akan perlunya “tampil maksimal”. Akibatnya, pasar dibanjiri permintaan kosmetik. Karena permintaan meningkat, produsen kosmetik harus memikirkan ketersediaan bahan baku. Apa yang tadinya mengandalkan pada alam, mulai bergeser ke produk sintetis. Dalam dunia parfum misalnya, ditemukannya aldehyda menggeser kedudukan minyak mawar dan “musk” dari kelenjar hewan, sebagai dasar pembuatan wewangian. Alasannya, karena aldehyda jauh lebih murah, juga lebih tahan lama.

Pergeseran bahan baku ini juga terjadi di lini kosmetik lain. Losion, alas bedak, dan macam-macam lagi, kini sebagian besar sudah meninggalkan bahan baku alamiah dan menggantinya dengan yang sintetis. Perkembangan dan persaingan kosmetik demikian cepat dan ketat, sehingga penggunaan bahan baku sintetis merajai dunia kecantikan.

Tiga puluh tahun belakangan, umat manusia mulai menyadari akibat negatif yang dibawa bahan baku sintetis dan kimiawi terhadap tubuh. Penderita penyakit yang disebabkan oleh alergi dan penyakit autoimun, yang semula sangat jarang kita dengar, angkanya naik secara mengejutkan. Demikian juga gangguan belajar, gangguan pencernaan bahkan gangguan kesuburan, mulai sangat umum dikeluhkan orang. Berbagai penelitian mencapai hasil yang mengejutkan: ternyata semua itu dapat ditelusuri sebabnya hingga ke makanan serta produk kosmetik yang kita gunakan sehari-hari.

Hal ini menggugah perhatian Farhaniza Farhan, akrab disapa Dara. Ibu dua anak lulusan Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung ini awalnya sekadar mengikuti saran kawan-kawannya, mencoba menggeser gaya hidup ke arah yang lebih sehat, lebih ramah lingkungan. 

Ia dan suaminya bergabung ke dalam sebuah klub yang mendorong anggotanya untuk sebisa mungkin menggunakan produk organik serta mengusung gaya hidup hijau. Saat itu Dara masih berkutat dengan proyek-proyek arsitektur, yang digelutinya sejak lulus. Sebelum menikah, Dara bekerja di sebuah biro arsitektur di Bali dan punya reputasi baik sebagai arsitek muda.

“Kemudian terjadi sesuatu yang menyebabkan saya mulai mendalami soal produk kosmetik,” ujar Dara. “Bermula dari reuni jurusan Teknik Lingkungan ITB beberapa tahun yang lalu. Seorang kawan suami membawa produk ‘cocoa butter, yang diproduksinya sendiri, menggunakan biji kakao dari kebun sanaknya di Sukabumi. Mengetahui bahwa saya orang Aceh, kawan itu mengatakan bahwa biji kakao Aceh dahulu sempat memperoleh predikat biji kakao terbaik di Asia Tenggara. Dia juga menyarankan pada saya untuk mencari tahu lebih banyak tentang cocoa butter sebagai alternatif losion organik yang tidak membahayakan kesehatan.”

Dengan coba-coba, trial dan error dan dengan peralatan sederhana, Dara mulai mencoba membuat cocoa butter sendiri. Produknya dipasarkan masih di kalangan terbatas, terutama di komunitas “serba organik” tempat ia menjadi anggota.

Sementara itu, dalam kehidupan pribadinya, Dara memiliki masalah sendiri. Beberapa tahun menikah, ia dan suaminya belum juga dikaruniai momongan. Dalam usaha untuk segera dikaruniai anak, dan mengetahui ‘apa yang salah’, Dara sempat delapan kali berganti dokter. Ia diduga mengalami PCO (polycistic ovarian syndrome), suatu kondisi ketidak seimbangan hormonal. Suaminya diduga mengalami asthernozoospermia. Istilah awamnya, gerakan spermanya lamban. Saat berkonsultasi pada salah seorang dokter ahli kandungan, Dara tersentak ketika sang dokter berkat, “Ini problem umum pada pasangan muda yang hidup di kota besar.”

“Kalimat itu seperti kilat yang menyambar kesadaran,” kata Dara. “Kenapa problem kesuburan disebut sebagai problem umum pasangan muda di perkotaan? Saya sungguh penasaran. Sejak saat itu giat mencari tahu tentang pengaruh hidup di kota besar pada kesehatan manusia.”

Dari berbagai hasil riset yang dibacanya, Dara mengetahui bahwa zat aditif dalam makanan dan kosmetik berpengaruh besar pada regulasi hormon di dalam tubuh. Dokter ahli yang saat itu memantau kesehatan dirinya dan suami, kerap juga menjadi tempatnya bertanya. Dari hasil diskusi dengan para dokter ini, Dara semakin paham betapa gaya hidup kota besar ternyata dapat menjadi biang kerok berbagai masalah kesehatan. Penjelasannya, kata Dara, misalnya karena para pekerja perkantoran kurang bergerak, terlalu banyak duduk, sehingga aliran darah terhambat. Makanan yang tersedia di perkantoran juga umumnya makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan atau zat-zat aditif. Semua ini berkontribusi pada timbulnya problem kesehatan, yang dapat berujung pada problem kesuburan.

“Menurut statistik, sepertiga dari perempuan di Indonesia mengalami kelainan hormon, tapi sebagian besar tidak mengetahui bahwa banyak hal yang kita anggap sebagai ‘hal sehari-hari’ itu dapat menjadi penyebabnya,” kata Dara. Ia melanjutkan, “Misalnya paraben, pengawet yang sangat populer digunakan dalam produk kosmetik. ”

Dari situs Environmental Working Group, didapat keterangan bahwa paraben dapat meniru cara kerja hormon estrogen dalam tubuh, dan mengganggu fungsi normal hormon yang mengatur fungsi reproduktif manusia, baik laki-laki mau pun perempuan. Paraben juga dapat mengganggu produksi hormon.

“Paraben digunakan secara luas dalam produk perawatan tubuh, bahkan saya lihat ada dalam produk vitamin untuk ibu hamil. Padahal, di Inggris paraben ini sudah dilarang. Namun, masih digunakan di Indonesia,” jelas Dara.

Ditemui di rumahnya di kawasan Merduati, Banda Aceh, pada Sabtu, 25 September 2021, Dara menceritakan bagaimana ia dan suaminya banting setir, mengubah gaya hidup, mengganti makanan mereka dengan segala yang organik sifatnya.

“Pokoknya sedapat mungkin kami menghindari zat aditif masuk terlalu banyak ke dalam tubuh,” kata Dara. “Dulu, di bagian bawah dagu saya ada pembengkakan kelenjar. Seperti ‘double chin’ begitu jadinya. Sejak banting setir ke gaya hidup hijau, perlahan-lahan kelenjar yang bengkak itu mengempis.”

Dara melanjutkan gaya hidup organiknya dengan mulai meninggalkan kosmetik yang menggunakan parfum dan aditif kimiawi. Ia mengganti pelembab kulit yang digunakannya dengan yang berbahan alami, juga berhenti menggunakan sabun dengan bahan alkali.  Sesudah merampungkan studi S2 di Universitas Gajah Mada dan menggondol gelar M.B.A., Dara memutuskan untuk mengembangkan riset dengan cocoa butter yang sudah diproduksinya.

“Saya mendirikan YaGI Natural tahun 2015,” kata Dara. Produk pertama YaGI adalah body butter, berbahan dasar cocoa butter. “Saya sempat menjajaki kerja sama dengan petani kakao di Aceh di Kabupaten Gayo Lues. Dasar pemikirannya adalah, berbisnis sambil beramal, membantu orang lain. Sebab sampai saat itu, masih sering terdengar keluhan petani bahwa produknya yang melimpah itu tidak ada yang menyerap.”

Proses pemasangan label produk yang siap untuk dipasarkan

“Tapi tetap saja, tahun 2015-2016 itu YaGI belum menjadi fokus utama saya. Saya masih juga mengerjakan proyek arsitektur. Terakhir saya mengerjakan desain Kawasan Industri Pulo Gadung,” kata Dara lagi.

Namun, kemudian, Tuhan menganugerahkan apa yang sudah begitu lama diidamkan. Dara hamil.  Ia yakin kondisi tubuhnya yang semakin sehat, juga hilangnya masalah fertilitas yang pernah dialaminya, adalah karena gaya hidup organik yang ditempuhnya. Saat itulah Dara berpikir serius untuk berkonsentrasi penuh pada  YaGI.

“Tahun 2018 saya mengambil kursus khusus kosmetologi di Inggris, untuk lebih mendalami bidang itu dan bisa mengembangkan YaGI lebih lanjut,” kata Dara. Ia dan suaminya juga mengambil keputusan penting lainnya, yaitu untuk pindah, pulang kampung ke Aceh, tepatanya di Banda Aceh.

Saat ditanya mengapa memutuskan pulang kampung, Dara tersenyum lebar menjawab, “Kami sudah lelah dengan hidup di kota besar seperti Jakarta.” Meski mengakui bahwa membangun bisnis di Aceh terkendala biaya yang cenderung lebih tinggi, tetapi Dara tetap memilih untuk membangun base bisnisnya di tanah nenek moyangnya ini.

Dari produk awal cocoa butter sederhana serta pemasaran dari mulut ke mulut, YaGI kini sudah dikemas dan dipasarkan dengan lebih profesional.

“Tahun ini produk YaGI sudah lolos kurasi untuk Kimia Farma, dan sudah mendapat izin edar dari BPOM,” Dara membanggakan hasil kerja kerasnya.

Pengembangan produk YaGI banyak didasari masukan dari konsumen. Dari konsumen juga Dara memperoleh dukungan serta dorongan untuk terus berproduksi. Salah satu pemakai YaGI, Flora Rosalia, merasa sangat terbantu.

“Kulit saya sensitif sekali. Gampang iritasi. Sulit sekali menemukan produk perawatan kulit yang cocok untuk kulit saya, saking sensitifnya. Saya senang sekali menemukan YaGI, brand lokal dengan spek tinggi,” kata Flora. Pemilik bisnis katering ini tambah senang karena menurutnya YaGI cukup mudah ditemukan di Banda Aceh. “Kemasannya juga bagus, meski saya rasa desainnya masih bisa dikembangkan lagi biar lebih kece.”

Seila Zhafira, Manajer Produksi di YaGI Natural, menjelaskan bahwa YaGI menggunakan bahan-bahan plant based alias dari tumbuhan. Tidak ada unsur hewani yang digunakan. YaGI juga tidak mengujicobakan produk-produknya pada hewan. Sebab, unsur plant based yang digunakan YaGI memenuhi standar keamanan MSDS (Material Safety Data Sheet) dengan persentase yang direkomendasikan.

Produk Yagi Natural

Sarjana Farmasi lulusan Universitas Syiah Kuala ini menyukai pekerjaannya di YaGI, dan ingin mengembangkan YaGI lebih lanjut, sehingga nantinya bisa meningkatkan kualifikasi Grade B dari BPOM menjadi Grade A.

“Dengan kualifikasi ini, YaGI boleh memproduksi lebih banyak jenis produk, bahkan juga produk untuk bayi,” jelas Seila. Ibu satu anak ini bergabung dengan YaGI pada April 2018.

“Waktu itu saya baru menikah, dan kebetulan juga baru lulus beasiswa S2 Turkiye Burslari untuk Jurusan Farmakologi. Walau pun saya sarjana Farmasi, tapi saya tidak terlalu banyak tahu tentang industri farmasi. Nah, saat bergabung dengan YaGI, saya berkesempatan untuk belajar banyak tentang industri farmasi ini. Ternyata sangat menarik, menantang, dan menyenangkan. Industri farmasi di Indonesia sebagian besar berada di Pulau Jawa, terutama di Jawa Barat, sedangkan Aceh ini tidak ada sama sekali. Mula-mula bergabung di YaGI sebagai Kepala Produksi, saya jadi tertantang untuk mendalami lebih lanjut tentang industri farmasi. Akhirnya, beasiswa farmakologi di Turki tidak jadi saya ambil, karena saya ingin mempelajari industri farmasi,” lanjut Seila.

“Saya menikmati bekerja di YaGI, karena sebagai sebuah perusahaan start up, perusahaan yang masih berkembang, di YaGI saya bisa leluasa mempelajari berbagai ilmu manajemen terkait industri farmasi ini, dan juga mengembangkan berbagai inovasi. Seandainya saya bekerja di industri atau perusahaan besar, saya tidak akan memperoleh kesempatan mengembangkan diri seluas yang saya dapat di YaGI. YaGI juga ‘produk lokal’ Aceh yang digagas dan dikerjakan putra-putri Aceh, membuat saya makin bangga bisa menjadi bagian darinya.”

Ditanya faktor apa lagi yang membuatnya betah bertahan di YaGI hingga sekarang, Seila menjawab bahwa iklim kerja di YaGI Natural kondusif.

“Sejak awal bergabung, saya banyak belajar manajemen dari Kak Dara,” kata Seila. “Kak Dara punya cara unik dalam mendekati anak buahnya. Orangnya fleksibel dan rendah hati, gayanya tidak pernah ‘sok atasan’. Dia terbuka untuk ditanya, diajak berdiskusi dan lain-lain. Saat awal, saya belum tahu banyak soal kosmetik. Dengan telaten Kak Dara mengajari saya, step by step, sehingga saya paham.”

Saat ini Seila sudah memiliki beberapa orang staf, dan lebih banyak terlibat dalam manajemen produksi.

“Sesudah memiliki staf, saya meniru cara dan pendekatan yang dilakukan Kak Dara untuk mengelola tim saya. Kak Dara membebaskan saya untuk memiliki sistem sendiri dalam mengelola tim selama sistem tersebut sejalan dengan kebijakan YaGI secara keseluruhan. Dan ini sangat saya hargai,” kata Seila lagi.

Di ujung wawancara, Dara membawa sampel produk YaGI untuk saya coba. Ada body butter, sabun cair, dan sampo. Saya mencoba body butter. Kesan pertama saya, wanginya lembut dan natural, teksturnya “kaya”. Jelas tak ada bahan sintetis yang ditambahkan untuk memperkuat aroma, seperti aldehida misalnya.

“Ya, banyak konsumen berkomentar bahwa aroma YaGI seperti aroma produk-produk high end,” Dara tersenyum. “Saya rasa, bahan baku alami terbaik yang kami pakai sudah bicara sendiri tentang kualitas produk ini, tanpa kami harus banyak menjelaskan.”

Setelah sekitar delapan puluh menit, akhirnya saya tinggalkan gedung rukan tiga lantai yang berfungsi ganda sebagai rumah sekaligus kantor dan ruang produksi YaGI itu. Di kepala masih tertinggal kalimat Dara

“Kalau hendak membeli sesuatu, coba baca daftar ingredients-nya. Cari tahu, apakah ada bahan yang berbahaya untuk kesehatan. Kita harus punya rasa ingin tahu yang tinggi, dan tidak berhenti mencari informasi.”

Sebuah saran yang bagus dan sangat masuk akal, dari seorang perempuan pengusaha yang tidak sekadar ingin kaya, tapi juga ingin membantu sesama.[]

Perjalanan Karier Nur Ratna Sari di Dunia Programming; Lahirkan Sejumlah Aplikasi untuk Pemko Banda Aceh

2

Keterlibatan perempuan di bidang perkodingan dewasa ini bisa dihitung jari. Kisah perempuan berdaya yang berkiprah sebagai programmer—ranah profesi yang konon didominasi laki-laki—masih sangat jarang. Belum lagi stigma rendahnya kemampuan bernalar perempuan dibandingkan laki-laki yang berseliweran di sana-sini. Menariknya, ragam kendala tersebut tidak menyurutkan semangat perempuan Aceh ini untuk terus berkembang menjadi seorang programmer andal. Dialah Nur Ratna Sari.

Sembari menyesap matcha latte pesanannya, Nur hanya tertawa renyah saat ditanyakan pendapatnya akan stigma ketidakmampuan perempuan terlibat secara profesional di ranah logika. Bagi Nur yang berprofesi sebagai Staf Ahli Programmer Pemerintah Kota Banda Aceh, pertanyaan demikian mungkin terkesan absurd. Sebagai perempuan yang belajar, bekerja, bahkan berprestasi dalam beragam kompetisi dengan mengandalkan penalaran, stigma yang menyebutkan logika perempuan lemah jelas menggelitik pikirannya.

“Memang dari awal sukanya matematika. Suka yang logic-logic begitu. Saat berkuliah di Informatika, pertama kali belajar pemrograman rasanya wow,” kisah Nur mengenang cinta pandang pertamanya pada programming di pertemuan perdana kami, Kamis, 14 Oktober 2021.

Menurut Nur yang awalnya tidak tahu menahu tentang programming, terdapat “konspirasi semesta” yang meluluskannya ke Jurusan Informatika, Fakultas MIPA, Universitas Syiah Kuala. Padahal sebelumnya dia justru berniat melanjutkan kuliah di MIPA Matematika. Walau masuk ke jurusan yang agak berbeda dari perencanaan awal, akan tetapi Nur tidak menafikan bahwa Matematika dan Informatika sangat erat kaitannya. Kedua jurusan tersebut menuntun para mahasiswanya untuk aktif bernalar dan memecahkan persoalan. Tentunya juga mengakrabkan mereka dengan logika dan angka. 

Menurut penuturan Nur, dia memperoleh pengalaman menarik terkait pemrograman sedari awal menjadi mahasiswa. Misalnya saat dosen memberikan tantangan proyek akhir sebagai pengganti ujian final. Tantangan tersebut semakin mendorong minatnya untuk mempelajari keterampilan koding lebih dalam lagi.

“Pernah ikut dan berhasil. Bonusnya enggak perlu ikut ujian final. Jadi mikir, ‘Kayaknya seru kalau dilanjutkan sebagai karier’,” ungkap Nur menjelaskan alasannya tertarik menjadi programmer.

Tak hanya ilmu di perkuliahan, dukungan teman-teman satu angkatan saat menjalani proses pendidikan juga sangat berpengaruh bagi perkembangan karier Nur kini. Menurutnya saat melakukan proses programming akan ada masa seseorang merasa stagnan. Program yang dirancang tidak selesai-selesai dan terus-terusan error. Pada saat-saat berat seperti itu dukungan kawan-kawan seperjuangan dirasa sangat membantunya.

Nur sebagai salah satu peserta kompetisi Hackathon 2019

Nur juga menyarankan calon programmer untuk bergabung dalam komunitas dan forum-forum programming online. Supaya jika menemukan kesulitan selama merancang program, mereka punya ruang untuk bertanya dan saling berbagi informasi. Sehingga mereka dapat menemukan solusi yang dicari tanpa harus berjuang sendirian.

“Gabung bersama komunitas itu sebenarnya penting. Namun, di sini sepertinya orang-orang masih ogah-ogahan. Di komunitas banyak pemikiran. Kita bisa tahu masalah orang dan cara mereka mengatasinya. Itu juga kadang-kadang jadi solusi bagi kita,” papar Nur terkait support system yang dibutuhkan calon programmer di luar kampus.

Selain menempuh pendidikan di tempat yang tepat dan bergabung di komunitas-komunitas yang sesuai dengan bakat atau minat, Nur juga menyarankan para anak muda untuk berani mencoba mengikuti ragam kompetisi dan pelatihan. Sehingga dapat menambah wawasan serta memperluas jejaring pertemanan.

Salah satu pengalaman berharga itu dirasakan sendiri oleh Nur ketika dia “iseng” mendaftarkan diri sebagai salah satu peserta Hackathon 2019. Sebuah kompetisi bertema Generasi Peduli #UangKita yang diselenggarakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia. Menghadirkan 39 finalis berlatar belakang project manager (hustler), designer (hipster), dan programmer (hacker) dari 3.500 pendaftar seluruh Indonesia. Melalui kompetisi Hackathon peserta ditantang untuk menciptakan ide inovatif dan solutif berbasis teknologi hanya dalam kurun waktu 38 jam. Kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran (awareness) dan rasa memiliki (sense of belonging) generasi muda terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Kelompok Nur berhasil menyabet juara dua dalam kompetisi tersebut. Mereka menawarkan prototipe aplikasi yang menerapkan prinsip citizen journalism melalui penggabungan fitur kamera dan artificial intelligence (AI) untuk mengawal pelaksanaan APBN. Mengusung tagar #PantauKita, aplikasi tersebut membantu pengguna memastikan bahwa anggaran yang telah dialokasikan di daerah sekitar mereka telah direalisasikan dan memadai.

Nur sedang merancang aplikasi #PantauKita bersama anggota timnya

“Tantangan sebagai programmer harus update ilmu selalu. Ilmu di perkuliahan saja tidak cukup. Setiap hari harus upgrade, upgrade, upgrade. Coba ikut kompetisi dan boothcamp, belajar lebih banyak dari mentor- mentor berpengalaman,” jelas Nur yang menjadi satu-satunya “hacker” perempuan pada kompetisi Hackathon 2019. 

Kini, perempuan kelahiran Banda Aceh tahun 1994 ini mampu menguasai beragam jenis bahasa pemrograman—dari PHP, Javascript, Ruby, Java hingga Go—yang membuktikan kecakapannya dalam berlogika. Menurut Nur, penting untuk mengajak perempuan ikut terlibat secara profesional di ranah programming. Sebab terdapat sudut pandang dan pemecahan masalah yang terkadang hanya disadari oleh perempuan. Sehingga kolaborasi antara programmer perempuan dan programmer laki-laki akan saling melengkapi ide dan argumen dalam proses perancangan aplikasi yang ramah bagi penggunanya (user-friendly). 

Bersama timnya di Pemerintahan Kota Banda Aceh, Nur telah menghasilkan beberapa aplikasi digital yang meningkatkan efisiensi kinerja para pegawai di dinas-dinas  di bawah Pemerintah Kota Banda Aceh. Dari Aplikasi Haba Pangan, E-Surat, hingga Absensi Wajah—menggantikan absensi sidik jari—yang terinspirasi kehadiran pandemi Covid-19.

Adapun dalam tahun 2021 ini, Nur bersama timnya sedang dalam proses pembuatan Aplikasi Disdukcapil (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil). Aplikasi tersebut merupakan layanan pembuatan akta kelahiran dan akta kematian yang nantinya dapat diakses secara daring oleh masyarakat Kota Banda Aceh. Sehingga diharapkan kehadiran aplikasi tersebut dapat mempermudah akses kepengurusan akta bagi masyarakat walaupun mereka tetap berada di rumah, terutama dalam kondisi pandemi seperti saat ini.   

Nur bersama staf ahli programmer Pemko Banda Aceh

“Capil Gemilang lagi progress. Sebab kepengurusan akta awalnya masih manual. Jadinya masyarakat harus bolak-balik ke kantor. Melalui aplikasi ini nanti pembuatan akta bisa diakses mandiri dari rumah saja,” jelas Nur penuh empati.  

Nur menekankan bahwa niatan baik saja tidaklah cukup dalam proses perubahan manual menuju digital. Sokongan promosi dan saran pengembangan aplikasi dari lintas pihak sangatlah penting. Agar kelak aplikasi yang sudah dirancang dengan baik dapat dikenal dan dipergunakan oleh masyarakat luas. Jika tim IT harus bergerak sendiri maka aplikasi semumpuni apapun tidak akan berguna. Sehingga aplikasi tersebut akan terbenam sia-sia.   

Selain itu, Nur juga berpesan agar anak muda, terutama perempuan, untuk berani mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Walaupun harus menjadi satu-satunya perempuan di ranah profesional yang digeluti, Nur menyemangati para perempuan tersebut untuk terus maju dan berkembang. 

“Jangan takut. Kita perempuan tidak perlu minder. Kalau kebanyakan minder nanti terbenam. Bodo amat dengan pendapat orang. Kita fokus bangun karier kita sendiri. Sugesti diri, ‘Bisa nih, pasti bisa!’,” pesan Nur. 

Sosok Inovatif dan Visioner

Walaupun selama tiga tahun terakhir berkiprah sebagai satu-satunya programmer perempuan di dalam timnya, Nur dikenal visioner dalam kinerjanya. Pemikiran Nur yang inovatif mampu membawa angin segar bagi anggota tim lainnya. Sehingga setiap aplikasi yang dihasilkan dapat berfungsi secara maksimal dan dipergunakan dengan nyaman oleh para penggunanya.

Lala Purnama Sari menggunakan aplikasi absensi wajah buatan Nur dan tim programmer Pemko Banda Aceh

“Aplikasi-aplikasi buatan Nur dan timnya kami gunakan setiap hari (kerja). Terbantu sekali, terutama Aplikasi Absensi Wajah. Keren lho, di dalam gelap pun fokus terdeteksi, lancar lagi. Pegawai lain masih menggunakan absensi fingerprint. Padahal bahaya sekali selama pandemi begini,” ujar Lala Purnama Sari, salah satu staf CPNS Pemerintah Kota Banda Aceh.  

Aplikasi Absensi dengan fitur face recognition tersebut diakui Lala sangat inovatif dan aman. Cukup menginstal aplikasi melalui gawai, absensi dapat dilakukan secara mandiri melalui perangkat telepon genggam masing-masing dengan menggunakan jaringan kantor. Absensi tersebut membantu mendata sekitar 4.000-an pegawai selama pandemi tanpa menciptakan kerumunan disebabkan antrean, sejak diluncurkan pada bulan Februari 2020.

Selain itu, Aplikasi E-Surat menjadi pilihan aplikasi favorit lainnya bagi Lala. Dengan kehadiran aplikasi tersebut kepengurusan surat-menyurat menjadi lebih efisien. Persetujuan dari pimpinan dapat diakses secara cepat, terlepas di mana pun mereka berada. Bahkan aplikasi tersebut sudah mendapatkan izin resmi dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), selaku badan yang memiliki wewenang atas tanda tangan elektronik.

Menurut keterangan Nur, aplikasi-aplikasi yang mereka ciptakan dapat berjalan efisien sebab telah melalui berkali-kali tahapan evaluasi dan pembaharuan. Sebagai pengguna, Lala tampak mengamini penyataan tersebut. Dia bahkan berharap ke depan tim programing Pemko Banda Aceh juga bisa mengembangkan aplikasi serupa E-Surat yang dikhususkan untuk pendataan Peraturan Walikota (Perwal) dan Surat Keterangan (SK) lainnya. Sehingga kepengurusan berkas-berkas tersebut tidak lagi harus diproses secara manual. Jadi proses kepengurusannya pun lebih efisien.

Nur sedang melakukan proses programming

Bersetuju dengan hal tersebut, lantas Nur mengutarakan harapannya agar ke depan dia mendapatkan kesempatan berkarier di perusahan startup berbasis teknologi. Dia ingin menambah wawasan dan meng-upgrade ilmu pengetahuannya melalui pengalaman lapangan. Dia juga berkeinginan mempelajari bisnis dan manajemen sumber daya manusia secara serius. Nur menyadari bahwa perjalanan cita-citanya masih panjang. Dia masih perlu banyak belajar serta membangun jejaring dengan orang-orang berlatar belakang keilmuan yang lebih beragam. []

Rina Suryani Oktari: Pakar Kebencanaan dan Kontribusinya untuk Publik

2

Berada di jalur cincin api (ring of fire), membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang rentan terhadap bencana, tak terkecuali Provinsi Aceh. Oleh karena itu, penelitian-penelitian tentang kebencanaan tak boleh dilakukan setengah hati. Lebih dari itu, hasil-hasil penelitian yang umumnya dilakukan oleh para ilmuwan harus bisa dikomunikasikan kepada masyarakat dengan “bahasa” orang awam. Hal itulah yang coba dilakukan oleh Rina Suryani Oktari. Ia hadir di masyarakat tidak hanya sebagai peneliti, tetapi juga sebagai bagian dari anggota masyarakat sehingga edukasi yang diberikan bisa mencapai sasaran.

Dr. Rina Suryani Oktari S.Kep., M.Si. salah satu peneliti penting di Tsunami and Disaster Mitigation Research Center atau UPT Mitigasi Bencana Universitas Syiah Kuala. Lembaga yang kini menjadi salah satu Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (iptek) Nasional di kampus berjuluk “Jantông Ate atau Jantung Hati Rakyat Aceh itu”. Akrab disapa Okta, saat saat ini dia menjabat sebagai Koordinator Klaster Riset Pendidikan dan Penanggulangan Bencana. Selain disibukkan dengan berbagai aktivitas riset terkait kebencanaan, sehari-hari Okta juga disibukkan dengan mengajar di Fakultas Kedokteran. Ia mengajar sembilan mata kuliah dan lima di antaranya berkaitan dengan kebencanaan.

Kamis, 7 Oktober 2021 lalu, Okta menyambut ramah kedatangan saya di TDMRC yang baru saja pindah ke gedung baru di Kompleks Universitas Syiah Kuala di Darussalam. Sebelumnya masih berkantor di gedung yang ada di kawasan pesisir Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa. “Yuk, kita ke ruangan saya, tapi ini masih kosong, masih pindah-pindah barang dari kantor lama,” katanya.

Hari itu Okta mengenakan seragam TDMRC berupa setelan atasan biru dengan bawahan hitam. Ruangannya ada di sisi kiri lobi. Masih kosong melompong karena belum ada perabotan apa pun selain tiga meja berikut kursinya. Sedangkan di lobi, “napas” lembaga penelitian itu mulai terasa lewat pajangan maket rumah tahan gempa dan sejumlah partisi berlapis poster hasil riset kebencanaan. “Di sinilah sehari-hari saya beraktivitas kalau tidak mengajar,” ujarnya.

“Berawal dari tsunami 2004 silam,” Okta memulai kisahnya ketika kami sudah duduk dengan nyaman, “saat itu saya masih berstatus mahasiswi di Fakultas Keperawatan UI, lalu bencana gempa bumi dan tsunami terjadi di Aceh. Karena saat itu saya aktif di BEM UI, tiga hari setelah bencana itu saya dan sejumlah teman dari UI dikirim ke Aceh sebagai relawan,” lanjutnya.

Kehendak untuk menjadi relawan ke Aceh itu bukan hanya karena terdorong oleh naluri kemanusiaan saja, tetapi karena ayahnya saat peristiwa alam itu terjadi sedang berada di Aceh. Ayah Okta asli Aceh, tetapi karena pekerjaannya sebagai pegawai BUMN di PT Pos Indonesia membuatnya sering pindah-pindah tugas dan terakhir ditempatkan di Jakarta. Ibunya berasal dari Bandung dan juga pegawai BUMN di perusahaan yang sama. Namun, beberapa tahun sebelum tsunami, ayahnya mengambil pensiun dini demi mengurus perkebunan keluarga di Aceh. Okta sendiri lahir di Bandung. Meski saat kelas empat SD hingga kelas tiga SMP bersekolah di Aceh, tetapi kemudian melanjutkan pendidikannya di Jakarta hingga masuk Universitas Indonesia di Fakultas Keperawatan.

“Saat tsunami itu ayah di Aceh, sedangkan ibu, saya, dan saudara yang lain semua di Jakarta. Ini yang menguatkan niat saya untuk ke Aceh, sekalian mencari ayah. Namun, kepergian saya itu tanpa sepengetahuan Ibu, kalau minta izin pasti tidak diizinkan, tetapi saya konsultasi pada kakak-kakak saya dan mereka tahu, saya jadi relawan ke Aceh,” kata perempuan kelahiran Bandung, 12 Oktober 1983 itu.

Tim relawan UI berangkat ke Aceh dengan pesawat Garuda pada pukul tiga dini hari, sehari sebelum pergantian tahun baru. Setibanya di Aceh, mereka langsung melakukan apa pun yang bisa dilakukan di lokasi bencana; mengevakuasi jenazah, membersihkan rumah sakit, mendatangi kamp-kamp pengungsian untuk melakukan apa yang memungkinkan dalam kondisi tanggap darurat. Dua minggu kemudian tugas mereka di Aceh selesai dan kembali ke Jakarta.

Namun, siapa sangka, keputusan yang diambil Okta 17 tahun silam itu telah mengubah haluan hidupnya secara drastis. Selama itu pula ia telah menetap di Aceh dan membangun kariernya sebagai dosen dan peneliti. Ia pun menemukan belahan jiwanya di Aceh.

Okta sering merasa takjub pada perjalanan hidupnya. Dia yang tidak pernah membayangkan bakal menjadi seorang dosen, malah kini berkecimpung di ranah akademik. Lebih-lebih, dia juga tak pernah berpikir bisa menjadi seorang peneliti, khususnya terkait kebencanaan. Namun, gempa dan tsunami Aceh yang menjadi bencana alam terdahsyat abad ini momentum penting bagi Okta.

Bungsu dari tiga bersaudara itu tercatat sebagai mahasiswi tingkat akhir di Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia saat gempa dan tsunami memorakporandakan Aceh pada 26 Desember 2004. Karena terkendala satu mata kuliah umum yakni Kewiraan, Okta yang seharusnya bisa lulus 3,5 tahun jadi molor satu semester. Karena MK Kewiraan tidak dibuka pada semester pendek, terpaksa Okta menunggu semester ganjil berikutnya. Di masa-masa “luang” itu, dia kembali teringat pada Aceh. Waktu dua minggu sebelumnya dirasa terlalu singkat untuk membantu warga yang sedang dilanca bencana. Berdasarkan informasi seorang teman, dia pun melamar sebagai health officer di Islamic Relief, salah satu NGO yang terlibat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh pascatsunami. Dengan bekal kemahiran berbahasa Inggris dan ilmu keperawatan—meskipun belum lulus kuliah—Okta diterima di NGO tersebut.

Saat semester ganjil tiba dan Okta kembali mengulang MK Kewiraan, dia yang sering bolak-balik Aceh untuk bekerja jadi terbentur dengan jadwal kehadiran yang tidak memenuhi angka 80 persen sehingga tidak lulus ujian. Teman-temannya mencandai dia dengan terkena “kutukan” MK Kewiraan.

“Nah, saat sedang sedih-sedih itulah saya bertemu dengan ketua Program Studi Keperawatan di FK USK, saat itu Jurusan Keperawatan belum menjadi fakultas seperti sekarang. Akhirnya saya pindah dari UI ke USK sehingga saya lulus sebagai alumnus USK,” ujar pengampu mata kuliah Knowledge Management untuk Pengurangan Risiko Bencana itu.

Setelah bekerja di Islamic Relief, Okta mendapatkan berbagai pelatihan tentang kebencanaan. Aktivitasnya sehari-hari yang bergiat langsung di lapangan dan berinteraksi dengan masyarakat penyintas bencana, membuat ibu tujuh putra-putri ini semakin bertambah pengetahuannya tentang kebencanaan dan humanitarian response. “Inilah yang menjadi motivasi saya hingga akhirnya bergelut sepenuhnya di kebencanaan, sebelum tsunami buta sekali tentang kebencanaan,” kata Okta yang telah melanglang buana ke empat benua untuk berbagi maupun belajar kebencanaan.

Tahun 2010, Okta bekerja di TDMRC sebagai Knowledge Dissemination Specialist untuk program Disaster Risk for Aceh (DRR-A). TDMRC dibentuk pada 30 Oktober 2006 oleh USK sebagai sumbangsih kampus dalam rekonstruksi Aceh akibat dampak bencana yang sangat dahsyat. Okta lantas dipercayakan untuk menangani berbagai diseminasi hasil riset dan kehumasan.

Di tengah perjalanan, TDMRC menginisiasi lahirnya Program Pascasarjana Kebencanaan. Hal ini memicu semangat Okta untuk melanjutkan program masternya di Ilmu Kebencanaan. Meski terkesan “banting stir” dari S-1, tetapi Okta sudah kadung jatuh cinta pada kebencanaan. Dia merupakan angkatan pertama di PPs Ilmu Kebencanaan USK. Tahun 2014, hanya berselang bulan setelah lulus S-2 pada 2013, Okta mulai meniti karier sebagai dosen di FK USK. Pada tahun itu pula, dia berhasil memperoleh fellowship Pan Asia Risk Reduction (PARR) Program di Universitas Kyoto, Jepang, yang disponsori oleh STAR Inc. Kyoto University.

Pengalaman ini sangat berharga baginya karena bisa langsung belajar dari ahli kebencanaan dunia di Jepang, Rajib Shaw, yang berasal dari India dan telah menetap di Jepang. Setidaknya ada 13 fellowship maupun program serupa lainnya, serta penghargaan yang telah diterimanya terkait kebencanaan. Kehausan Okta terhadap ilmu kebencanaan tidak hanya berhenti di situ, pada 2018 lalu Okta kembali mengambil studi S-3 untuk bidang ilmu Matematika dan Aplikasi Sains (dengan konsentrasi Ilmu Kebencanaan). Bidang ilmu ini terpaksa diambil sebagai alternatif karena di USK belum ada program S-3 kebencanaan. Okta resmi menyandang gelar doktor di depan namanya sejak Mei 2021 lalu. Okta lulus cumlaude dengan IPK 4.00 dan masa kuliah hanya 2,9 bulan.

Pengalaman bekerja di beberapa NGO dan lembaga PBB membuka mata Okta tentang apa yang paling substansial dari sebuah peristiwa bencana. Pascatsunami 2004, dalam kegiatan respons kemanusiaan (humanity respons) di berbagai lokasi pengungsian misalnya, Okta melihat sangat penting melakukan upaya mitigasi bencana.

“Kalau sebelum 2004 itu kita tidak siap. Sifatnya masih responsif. Ini yang mendasari saya menulis skripsi tentang manajemen bencana untuk menyelesaikan S-1, saya meneliti dari perspektif studi keperawatan,” katanya. Untuk tesis S-2 dia memilih topik diseminasi dan komunikasi sistem peringatan dini. Sedangkan S-3, topik penelitiannya terkait dengan Kreasi Pengetahuan dan Ketangguhan Masyarakat.

Momentum kedua yang juga tidak pernah dilupakan Okta ialah saat gempa mengguncang Aceh pada 2012 silam. Berkaca dari pengalamannya sendiri, saat itu Okta yang selama ini menganggap dirinya sudah “melek” bencana, tetapi tetap mengalami kepanikan saat gempa terjadi. Konon lagi masyarakat awam yang memang sangat minim pengetahuannya baik terhadap bencana maupun tentang mitigasi bencana. Ini artinya, berbicara tentang kebencanaan tidak hanya cukup berhenti pada teori-teori atau simulasi-simulasi yang dilakukan sesekali saja.

Kegelisahan Seorang Peneliti Perempuan

Berbagai capacity building yang diikutinya baik di dalam maupun luar negeri, membuat Okta semakin mantap di bidang kebencanaan. Namun, ada satu yang selalu mengusik hatinya.

“Saya melihat di berbagai forum yang saya ikuti masih didominasi laki-laki,” katanya, kondisi ini membuat Okta gelisah. Padahal, saat bencana terjadi, dampaknya sering kali dirasakan lebih besar oleh perempuan.

“Perempuan itu sering dilibatkan, tetapi tidak substantif. Oh, misalnya sudah mencapai kuota 30 persen, tetapi apakah benar-benar perempuan itu dilibatkan? Dalam sumbang saran, urun rembuk, jangan-jangan cuma datang saja, suaranya tidak didengar, seringnya ini terjadi dan ini hasil penelitian saya,” katanya.

Penelitian yang dimaksud ialah Gender Mainstreaming in a Disaster Resillient Village Programme in Aceh Province, Indonesia: Toward Disaster, yang telah terindeks Scopus dan dipublikasikan oleh Elsivier pada 2021. Dari sinilah Okta mulai berpikir penting dan perlunya keterlibatan perempuan, baik peneliti maupun praktisi dalam bidang kebencanaan. Atas dasar itulah, meskipun kini aktivitasnya lebih banyak di kampus dan meneliti, Okta tetap terjun untuk melakukan kerja-kerja di masyarakat. Melanjutkan kerja-kerja terdahulu saat masih di NGO. Ini pula yang membuatnya bergabung dengan Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) awal tahun ini dan langsung dipercayakan menjadi sekretaris.

Di lembaga ini para pakar kebencanaan berkumpul, di antaranya Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno M.T., Direktur Pusat Penelitian Penanggulangan Bencana Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta—penerima Sasaka Award dari Yayasan Nippon Jepang. Anggota MPBI bersifat pentahelix sehingga tidak hanya ada akademisi/peneliti saja, tetapi juga ada unsur pemerintah, masyarakat, dan usahawan. Komposisi anggotanya memang lebih inklusif dibandingkan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia yang lebih dulu diikuti oleh Okta. Bagi Okta suatu kehormatan dirinya yang baru beberapa bulan bergabung di MPBI, tetapi sudah dipercayakan menjadi sekretaris.

“Kita tidak mau keberadaan kita (perempuan) hanya sebatas fisik, tetapi substansinya juga harus ada. Alhamdulillah, teman-teman di MPBI ini kritis-kritis. Ini menjadi wadah baru bagi saya untuk menambah pengalaman dan pengetahuan,” katanya.

Tak ingin pintar sendiri, Okta juga mengajak mantan Dewan Pengarah Badan Penanggulangan Bencana Aceh, Risma Sunarti, dalam MPBI.

“Selama ini kebencanaan sangat Jawasentris, ya, jadi harapannya dengan adanya saya di MPBI, saya ingin ajak pakar-pakar kebencanaan di Aceh untuk bisa terlibat di organisasi itu. Saya melihat organisasi ini unik karena anggotanya dari berbagai elemen.”

Dia ingin, dengan adanya Okta di MPBI, akan membuat orang-orang di luar sana teringat kembali bahwa selama ini Aceh menjadi “laboratorium” bencana bagi banyak orang. Itu seharusnya menjadi acuan untuk melakukan kajian-kajian kebencanaan di berbagai daerah lainnya.

“Sekarang ini sedang ada riset tentang tsunami Selat Sunda, saya bilang kepada mereka di Aceh banyak pembelajaran yang mungkin bisa dipetik untuk daerah lain.”

Terlibat Inisiasi Rancangan Qanun Pendidikan Kebencanaan

Bagi Okta, aktif dalam kegiatan riset merupakan usahanya untuk merawat pengetahuan. Sekaligus evaluasi tentang kondisi kesiapsiagaan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan kata Okta, sifatnya dinamis, bisa naik turun seiring dengan perubahan sosial, ekonomi, bahkan politik.

Berkaca dari tsunami 2004 ujar Okta, berdasarkan hasil recovery assesmen-nya diketahui jika masyarakat Banda Aceh sudah tidak mempertimbangkan lagi bahaya tsunami. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya bermunculan tempat tinggal baru di kawasan pesisir yang rawan tsunami. Ini baru hitungan belasan tahun, bagaimana nanti setelah 25 tahun? Pertanyaan ini selalu menggelitik ruang batinnya.

“Jangan-jangan nanti generasi mendatang sudah lupa kalau tsunami besar 2004 pernah terjadi di Aceh, itu akan sangat disayangkan. Makanya, saya sangat serius mengkaji tentang knowledge creation sehingga saat bencana terjadi tindakan yang dilakukan bisa tepat,” kata fasilitator nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana itu.

Pada 2016 lalu, Okta juga termasuk salah satu anggota Satuan Tugas Pemulihan Gempa Pidie Jaya. Di pengujung kerja mereka di kabupaten itu, tim ini merekomendasikan kepada Pemerintah Aceh untuk melahirkan qanun atau peraturan daerah tentang pendidikan kebencanaan. Sebagai Koordinator Klaster Riset Pendidikan dan Penanggulangan Kebencanaan di TDMRC, Okta tentu saja menjadi juru kunci dalam melahirkan naskah akademik perda tersebut.

Rekomendasi itu bukan sembarang rekomendasi, semuanya berdasarkan hasil temuan di lapangan yang tidak sebentar. Juga berdasarkan hasil-hasil riset yang dilakukan Okta selama ini, intinya, dengan kondisi Aceh yang rawan bencana, sangat diperlukan adanya peraturan daerah tentang pendidikan kebencanaan. Idealnya, perda ini nantinya tidak hanya mengatur pada tata laksana penanganan mitigasi bencana di instansi atau lembaga formal saja, tetapi juga di sektor-sektor informal, seperti perusahaan.

Okta sangat bersemangat sekali dalam menyiapkan draf akademik perda ini. Tim ini juga melibatkan dosen-dosen di luar TDMRC dengan kepakaran berbeda-beda, seperti bidang pendidikan dan hukum. Pada Desember 2020 lalu, rancangan perda ini diparipurnakan di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Selanjutnya dibawa ke Kementerian Dalam Negeri untuk dikonsultasikan dengan pemerintah pusat. Namun, betapa kecewanya Okta saat tahu bahwa pihak Kemendagri mengatakan jika perda itu tidak dibutuhkan karena sudah ada Perda tentang Kebencanaan di Aceh. Sementara, menurut penilaian Okta, perda yang sudah ada masih sangat umum, tidak mengatur secara spesifik dan substantif perihal mitigasi dan edukasi bencana.

“Perjalanan penyusunan naskah akademik qanun (perda) ini sangat panjang, tetapi ketika difasilitasi ke Kemendagri malah diminta untuk dihentikan, sedihnya luar biasa,” matanya berkaca-kaca saat mengatakan itu.

Esensi dari perda ini, di antaranya mengatur tentang kepastian upaya pendidikan kebencanaan yang sistematis, berkelanjutan, dan tersruktur. Tidak sporadis seperti yang selama ini berjalan.

“PR untuk pendidikan kebencanaan ini banyak, perlu disiapkan sumber daya manusianya, kurikulum pendidikan, juga bisa diterapkan di sektor formal dan informal. Ini berat, tapi kita harus mulai, tetapi ketika kita sudah memulai dimentahkan lagi, sedihnya luar biasa, enggak tahu harus bilang apa. Padahal, kalau qanun ini disetujui, ini akan menjadi perda pertama di Indonesia dan selanjutnya bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” ucap Okta dengan suara bergetar.

Pengalamannya sebagai fasilitator nasional, sering menemukan jika kegiatan-kegiatan yang dilakukan pemerintah selama ini masih berbasis pada proyek, polanya dari atas ke bawah, bukan karena kebutuhan masyarakat. Bahkan kata Okta, secara vulgar ia pernah menemukan ada anggota pelatihan yang berceletuk, “Inikan untuk habisin anggaran.”

Mendengar ucapan itu jiwa Okta diliputi kesedihan, tantangan dalam mengedukasi masyarakat tentang mitigasi bencana masih sangat besar. Namun, kenyataan bahwa kerja kerasnya dalam menyusun naskah akademik yang menghabiskan waktu bertahun-tahun sejak 2016 ditolak oleh pemerintah pusat, lebih bikin nelangsa. Yang lebih disesalkannya lagi, ternyata ketika proses konsultasi ke Kemendagri itu, dirinya sebagai “kuncen” perancang naskah akademiknya malah tidak dilibatkan. Tahu-tahu mendapat kabar telah ditolak.

Namun, selalu ada jalan menuju Roma. Semangat tak boleh putus. Dia masih bertekad untuk memperjuangkan agar perda ini bisa diterima. “Ini tantangan banget, sekarang yang kita coba, ya tetap harus terus lalukan advokasi bahwa ini penting,” ujar penerima penghargaan Young Scientist – Integrated Research on Disaster Risk International, Bejing, Cina, pada 2019 lalu ini.

Fokusnya ke depan ialah terus melahirkan agen-agen perubahan yang bisa bergerak di masyarakat melalui komunitas Fasilitator Tangguh Bencana (FASTANA) yang dibentuknya pada 2015 untuk mendukung kerja-kerja TDMRC. Komunitas ini lahir sebagai implementasi communicating science yang menjadi jargonnya TDMRC. Melalui para relawan Fastana inilah penelitian-penelitian berbasis sains yang ditelurkan di TDMRC dikomunikasikan ke masyarakat. Uniknya, meski TDMRC notabenenya merupakan lembaga milik USK, tetapi anggota Fastana berasal dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Banda Aceh seperti USK, UIN Ar-Raniry, dan lain-lain.

Komunikatif dan Mengayomi

Dr Rina (tengah depan) bersama Imam (kiri depan) dan kawan-kawan di Bali pada 2019

Okta tidak hanya berkolaborasi dengan kolega sesama dosen saja, dia juga kerap melakukan penelitian dengan mahasiswanya. Adalah Imam Maulana, mahasiswa Okta di Fakultas Kedokteran yang telah merasakan buah manis hasil kolaborasi dengan Okta. Mahasiswa angkatan 2015 itu bisa menyandang gelar sarjana kedokteran tanpa perlu melewati proses Kuliah Kerja Nyata dan tanpa skripsi pula. Semua itu bisa terwujud setelah kerja kerasnya menggodok proposal Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat untuk dipertandingkan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-32 di Yogyakarta pada 2018. PKM tersebut berhasil meraih medali emas dan didanai oleh Kemenristekdikti.

Pertengahan 2018, Imam bergabung dengan Fasilitator Tangguh Bencana (FASTANA-TDMRC) memenuhi ajakan temannya, Hafizh Rizky, yang saat itu menjabat sebagai salah satu pengurus FASTANA-TDMRC. Sampai saat itu dia masih belum tahu kalau Okta yang mengampu mata kuliah Kebencanaan di FK adalah pembina organisasi tersebut. Lazimnya anggota baru, Imam pun mendapatkan pembekalan bersama anggota lainnya.

“Saya dapat pembekalan tentang kebencanaan, salah satunya tentang smong,” kata Imam.

Smong adalah rentetan sebuah peristiwa alam yang diawali dengan gempa kuat, disusul surutnya air laut, hingga naiknya air laut ke daratan. Smong merupakan istilah sekaligus kearifan lokal masyarakat Pulau Simeulu berdasarkan pengalaman nenek moyang mereka yang pernah mengalami bencana serupa puluhan tahun sebelumnya. Kerarifan lokal ini diwariskan secara turun-temurun melalui syair-syair kesenian nandong. Efeknya, saat tsunami 2004 silam, sangat minim korban jiwa di pulau itu.

Imam lantas mengangkat topik smong ini saat Kemenristekdikti membuka event bergengsi PKM yang dilombakan di Pimnas 2019. Ia juga mengajak rekannya, yaitu Lilla Raswita (FK 2017), Zahratunnisa (FT 2017), Septia Karlina (FKIP 2016), dan Mohd Hafidzh Almukarram (FT 2016) sebagai anggota tim. Buah pikir Imam lantas dikemas menjadi Paket Edukasi Bencana yang Islami (PECI) & Paket Kesenian Mitigasi Bencana (PASMINA) yang diadaptasi dari nandong smong.

“Setelah ide ada, selanjutnya saya mencari dosen pembimbing dan pilihan saya jatuh pada Bu Okta karena beliau dosen saya di kampus, sejak itulah komunikasi kami menjadi intens, apalagi tidak lama setelah itu terjadi pergantian pengurus FASTANA-TDMRC dan saya dipercayakan menjadi ketua periode berikutnya,” ujar Imam.

Di mata Imam, Okta merupakan sosok yang komunikatif dan mengayomi. Hal ini sangat ia rasakan di masa-masa pematangan proposal sebelum di-submit. Setidaknya, ada tiga hal yang membuat Imam berkesan pada sosok Okta. Pertama, dalam memberikan input, Okta sama sekali tidak membebani mahasiswa, dia lebih banyak mengajak mereka berdiskusi dan berbagi ide, alih-alih mendikte mereka dengan ide-idenya. Kedua, komunikasi yang mudah membuat Okta mendapatkan nilai plus dari Imam dan teman-temannya. Misalnya, meskipun proyek yang sedang mereka garap adalah aktivitas akademik, tetapi Okta bersedia dihubungi kapan saja, tak terkecuali di malam hari. Ini yang membuat Imam dan tim semakin bersemangat dalam menggodok ide-idenya. Sebuah privilege. Terakhir, sistem bimbingan berjenjang yang membuat Imam juga mendapat kepercayaan untuk “membimbing” dua rekannya. Ketika Imam sudah merasa mentok, barulah mereka berdiskusi dengan Okta.

“Hingga akhirnya, ketika proposal akan di-submit, kami duduk bareng, kami review lagi untuk yang terakhir kali, baca sama-sama, pake proyektor juga, sampai ke struktur kalimatnya kami telaah bersama. Kontribusi beliau sebagai pembimbing itu nyata, kami betul-betul dapat pembimbing, bukan pengawas,” ujar alumnus Fatih School Bilingual Banda Aceh itu.

Sembari menunggu pengumuman PKM, Okta juga mengajak Imam dan timnya terlibat dalam proyek-proyek penelitiannya. Bahkan, kata Imam, saking besarnya dukungan Okta kepada mereka, meskipun mereka mahasiswa, tetapi tetap dipercayakan sebagai first author, bahkan Okta rela mengeluarkan kocek pribadi dalam jumlah yang besar untuk memublikasikan penelitian mereka di jurnal ilmiah. Jadi, meskipun Imam saat itu masih mahasiswa, tetapi berkat bimbingan Okta, sudah menghasilkan sejumlah paper.

“Prinsip yang selalu beliau ajarkan ke kami, lakukan dulu, jangan tunggu sempurna, jangan sampai karena ingin sempurna malah tidak melakukan apa-apa.”

April 2019 menjadi bulan yang sangat berarti bagi Imam dan timnya. Pasalnya, proposal yang di-submit pada Desember 2018 diumumkan di bulan ini dan ternyata hasilnya sesuai harapan. PKM tersebut didanai oleh Kemenristekdikti. Ide ini lantas dilombakan di Pimnas ke-32 yang berlangsung di Universitas Udayana Bali. Tim Imam berhasil memecahkan rekor dan mempersembahkan medali emas untuk USK. Selama 32 tahun acara bergengsi itu dihelat, Imamlah yang pertama kali mempersembahkan medali emas tersebut. Dua prestasi ini yang membuat Imam bebas KKN dan bebas skripsi untuk pendidikan S-1.

Berkat prestasi ini Imam mendapatkan penghargaan dari Plt Gubernur sebagai salah satu dari 10 Pemuda Aceh Berprestasi 2019. Selain itu juga mengantarkan Okta mendapatkan penghargaan sebagai Dosen Pendamping PKM-M pada Pimnas ke-32 2019 dari Kemenristekdikti.

“Bagi saya pribadi, prestasi itu menjadi ‘penutup’ yang manis bagi saya dalam memperoleh gelar sarjana kedokteran,” ujar pemuda angkatan 2015 itu.

Sebenarnya, kata Imam, dia tergolong mahasiswa “angkatan tua”. Untuk angkatan dia idealnya lulus 3,5 tahun dan sudah selesai masa studi pada tahun 2019. Namun, karena Imam telat satu semester, dia tidak ingin masanya di kampus berakhir sia-sia, apalagi Imam juga aktif di organisasi. “Saya tidak ingin orang menilai saya terlambat selesai karena dikira aktif di organisasi, ketika akhir di kampus ditutup dengan bagus, itu akan mengubah imej orang,” katanya.

Bagi Imam sendiri, keberhasilannya di PKM ini bisa dibilang menakjubkan. Ia baru tahu jika event tersebut merupakan ajang bergengsi karena memperlombakan banyak cabang. Namun, yang lebih membuatnya terkejut ialah ternyata ada juga ajang pengabdian yang dilombakan. Pasalnya, ketika masih SMA, Imam tergolong siswa yang senang ikut berbagai olimpiade, tetapi begitu dia menjadi mahasiswa aktivitasnya berbalik arah dan lebih banyak bergiat di sosial. Ini pula yang menjadi alasannya aktif di berbagai organisasi kampus, salah satunya FASTANA di bawah naungan TDMRC.

Namun, yang lebih membuatnya bahagia ialah prestasi yang ia raih akan memberi dampak bagi mahasiswa lain nantinya. Mahasiswa lain yang ingin lulus tanpa KKN dan skripsi bisa mengikuti jejak yang telah dilakukan Imam. Dia pada akhirnya juga menjadi “buah bibir” di kalangan dokter yang bertugas di RSUZA.

Lahirnya Rakan Smong

Pelatihan Kesiapsiagaan di MAS Darul Hikmah dalam acara Disaster Resillience Festival 2021

Imam sudah lulus sebagai sarjana kedokteran dan sedang menjalani program co-ass di Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh. Dia pun tak lagi bergiat di FASTANA-TDMRC karena sudah menjadi alumni. Namun, berkat interaksi dan bimbingan Okta selama ini, membuat Imam menduplikasikan ilmu-ilmu tentang kebencanaan yang diperolehnya selama di FASTANA-TDMRC.

Kini Imam dipercayakan menjadi Direktur Eksekutif Generasi Aneuk Nanggroe Aceh atau GEN-A.  Di organisasi ini dia membentuk Rakan Smong sebagai divisi khusus untuk menjalankan berbagai kegiatan terkait sosialisasi kebencanaan.

Baru-baru ini, Rakan Smong GEN-A bersama empat komunitas pemuda lainnya baru saja menyelenggarakan pelatihan kesiapsiagaan bencana gempa bumi dan tsunami untuk siswa SMA/sederajat di tiga sekolah di Banda Aceh dan Aceh Besar dalam acara Disaster Resillience Festival 2021.

“Kegiatan ini melibatkan empat puluh peserta di empat sekolah itu,” kata Imam, “pelatihan ini akan berlangsung setiap Sabtu selama Oktober—November sebagai bagian dari peringatan bulan Pengurangan Risiko Bencana pada bulan Oktober,” katanya.

Ketiga sekolah tersebut, yaitu MAS Darul Hikmah Aceh Besar, SMA 1 Banda Aceh, dan SMA 13 Banda Aceh. Sekolah ini dipilih beberapa faktor, di antaranya pertimbangan tingkat kerentanan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami.

“Ketiga sekolah ini juga berada di zona merah tsunami dan memiliki riwayat terdampak gempa bumi,” ujarnya.

Okta memang masih gundah gulana karena draf perda pendidikan kebencanaan yang dirancangnya hingga saat ini masih belum jelas nasibnya. Namun, kejerian itu seolah seperti mendapatkan pelipur saat dia teringat pada kader-kader muda seperti Imam yang bisa menjadi estafet berikutnya. Ia selalu meyakini investasi yang selalu mendatangkan keuntungan dan kebaikan adalah berinvestasi pada ilmu pengetahuan dan manusia.[]

Cut Murnita; Sepenuh Hati Memberdayakan Disabilitas Psikososial

“Relawan itu sederhana, yang selalu berjuang dalam kebaikan. Jika kebaikan adalah penawar sedihnya, maka keikhlasan adalah pencapaian hidupnya.”

Cut Murnita, perempuan kelahiran Aceh Timur, 39 tahun silam ini lebih senang menyebut dirinya sebagai relawan lepas. Dengan begitu, Cut bisa melakukan banyak hal khususnya di bidang lingkungan dan pendampingan sosial. Jiwa relawan yang melekat pada Cut tidak usah diragukan lagi karena tidak perlu disuruh, kala hatinya sudah tersentuh. Bagi Cut apa yang ia lakukan itu adalah sebuah tabungan amal selama hidup di bumi. 

Perempuan yang akrab disapa dengan nama Putroe Julok (Putri Julok)—merujuk pada kampung halamannyaoleh teman-temannya ini, pernah menjadi relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Ranting Dewantara Aceh Utara pada tahun 2003. Kemudian di akhir tahun 2005, Cut bergabung di PMI Banda Aceh sebagai tim asesmen, distribusi, dan evakuasi. Lalu di 2006, Cut bergabung di tim ambulans PMI Aceh sampai 2013.  

Tidak hanya menjadi relawan PMI, Cut juga menjadi bagian tim Reaksi Cepat Tanggap (RCT) Aceh Utara selama 2003—2004. Kemudian pada Februari 2005, ia bergabung menjadi relawan Dompet Dhuafa untuk memberi bantuan korban tsunami Aceh. Khususnya menjadi pendidik di sekolah Ceria Dompet Dhuafa.

“Di sini kita membantu pemulihan psikis anak-anak yang trauma akibat dampak tsunami. Kita ajak mereka bermain dan belajar bersama. Selama tujuh bulan lamanya saya tinggal di pengungsian menjadi relawan. Kita tidak digaji, hanya diberi uang jatah makan setiap hari. Namun, pengalaman itu menjadi bagitu berharga bagi saya. Itulah yang bisa saya lakukan di situasi sulit masa itu,” ujar Cut saat diwawancarai pada Minggu, 26 September 2021.

Definisi relawan menurut Cut tidak terbatas pada si laki-laki atau perempuan, si jarak yang jauh atau dekat, dan si pintar atau tidak. “Relawan itu sederhana yang selalu berjuang dalam kebaikan. Jika kebaikan adalah penawar sedihnya, maka keikhlasan adalah pencapaian hidupnya. Bahagia pun juga sederhana, hanya senyum dari langit, bumi, dan seisinya,” ungkap perempuan yang hobi memancing dan bersepeda ini. Maka dari itu, setiap kegiatan baik yang menurutnya bisa dilakukan, ia siap menjadi relawan tanpa berharap bayaran.

Cut pernah terlibat dalam aksi penanaman 13 ribu pohon yang ada di Banda Aceh dan sekitarnya. Kegiatan ini digagas oleh Museum Tsunami Aceh dalam rangka memperingati 13 tahun tsunami Aceh pada tahun 2017. Cut yang ditunjuk sebagai koordinator lapangan saat itu, mengayomi 800 relawan yang turut terlibat dalam aksi penanaman pohon tersebut. Di sinilah ia menemukan teman-teman yang sevisi dengannya hingga terbentuklah perkumpulan relawan tanpa nama.

“Setelah kegiatan penanaman pohon yang digagas oleh Museum Tsunami itu, kami relawan ini tetap terhubung dan saling berkomunikasi. Jadi bila ada ide dari salah satu relawan, kita langsung gerak. Walau tidak ada yang mensponsori, kami tetap jalan, bahkan tak jarang menggunakan duit pribadi untuk membeli bibit.”

Cut mengaku bahwa kegiatan yang dilakukannya bersama teman-temannya itu, hanya sekadar bersenang-senang sambil beramal untuk masa depan. Jadi, setiap orang akan membawa satu pohon yang akan ditanam ke lokasi-lokasi yang mereka tentukan. Harapan mereka, pohon-pohon itu nantinya bisa tumbuh besar dan menjadi sumber udara bersih bagi kehidupan yang akan datang. Kegiatan ini mereka namai dengan ­clean up day.

Ide penanaman pohon ini mereka lakukan secara swadaya tanpa ada embel-embel di belakangnya. “Bila kita tidak mampu bersedekah dengan uang, maka bersedekahlah dengan pikiran, tenaga, dan menanam pohon. Paling tidak itu bisa menjadi tabungan amal kita di masa depan.” Pesan itu Cut dapat dari salah seorang teman relawannya yang kala itu membantu dirinya membawa bibit untuk ditanam di salah satu lokasi penanaman pohon.

“Waktu itu saya beri uang 50 ribu ke dia untuk isi bensin motornya. Namun, relawan yang bernama Reza ini menolaknya dengan halus dan menyampaikan kalimat tersebut kepada saya. Satu bulan setelah itu, dia pun meninggal dunia. Kalimatnya itu benar-benar mejadi pelajaran dan tertanam dalam ingatan saya. Jadi, setiap kali saya diminta untuk melakukan sesuatu secara sukarela, saya iyakan saja, selama itu berhubungan dengan lingkungan dan sosial, kenapa tidak?” ungkap Cut mengenang salah satu teman relawannya.

Pendamping Orang dengan Disabilitas Psikososial

Pada tahun 2018, Cut mulai bekerja di Forum Bangun Aceh (FBA) menjalankan program Aceh Comprehensive Community Mental Health (ACCMH) sebagai staf lapangan untuk pendampingan orang dengan disabilitas psikososial (ODDP). Di sini ia ditugaskan mendampingi tujuh ODDP di wilayah Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Selama pendampingan itu, Cut mengajarkan mereka berbagai keterampilan seperti menjahit, membuat kerajinan berupa tas, dompet, dan totebag kepada orang dampingannya. Khususnya ODDP yang sudah mandiri dan bisa diajarkan kreativitas. Salah satunya ialah Darma, warga Gampong Lam Alu Cut yang menjadi dampingan Cut Murnita.

Darma mengalami gangguan jiwa setelah tamat dari pesantren setingkat SMP. Ia pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh tahun 2017. Setelah sembuh, beberapa bulan kemudian Darma kambuh lagi dan dimasukkan kembali ke RSJ sampai tiga kali bolak balik. Hingga akhirnya di tahun 2019 Cut mulai mendampingi Darma. Selain itu, ada Bu Fatimah dan beberapa ODDP lainnya yang didampingi oleh Cut.

“Pendampingan ini sifatnya bukan memaksa karena kalau kita paksakan apa maunya kita terhadap mereka, tidak akan berhasil. Kita yang harus mengikuti alurnya mereka. Analisa dulu kebutuhan mereka, cari kemampuan positif yang bisa diberdayakan. Berikan pemahaman tentang kondisi mereka yang membuatnya menerima keadaan dan kenyataan. Sebab, ada ODDP yang tidak menerima bahwa mereka mengalami gangguan jiwa. Apalagi stigma yang melekat pada masyarakat menjadi penghambat untuk mendapatkan pengobatan. Di sinilah peran kami untuk memberi pemahaman dan dukungan kepada lingkungan sosial ODDP,” jelas Cut.

Persoalan kesehatan jiwa merupakan masalah yang krusial. Sebab, bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat, mereka yang mengalami gangguan tersebut bisa kembali rileps dan kambuh walau telah mendapatkan pengobatan dan perawatan. Tak jarang mereka yang sudah pernah dirawat di RSJ seperti Darma, kembali kambuh sakitnya ketika berada di tengah keluarga. Oleh karena itulah dibutuhkan pendampingan sosial, ekonomi, dan religi agar mereka tetap berada di koridor sehat jiwa.

Inilah tugas Cut, yaitu mendamping para ODDP agar mereka tetap sehat jiwa dan bisa produktif dalam kehidupanya. Setiap hari Cut yang tinggal di Darussalam, Banda Aceh harus pergi ke rumah-rumah ODDP untuk memantau perkembangan mereka. Kemudian menganalis apa yang menjadi kebutuhan mereka untuk dibantu dan diajarkan keterampilan sesuai dengan kemampuan ODDP. Di antaranya ada yang mampu menjahit seperti Darma akan dilatih kembali keahlian tersebut untuk mengisi kegiatan mereka. Bagi yang mempunyai keahlian berkebun akan diberikan modal usaha berupa bibit untuk bercocok tanam.

Selain itu, para ODDP ini juga diberikan motivasi dan terapi religi dengan mendatangkan psikiater dan ustaz atau ustazah. Mereka juga dilibatkan dalam kegiatan sosial dan kelompok dengan membuat pertemuan di Balai Rehabilitasi Kesehatan Jiwa yang ada di Puskesmas Kuta Baro. Keluarga dari ODDP juga dilibatkan dalam pengasuhan dengan memberikan pemahaman tentang kesehatan jiwa. Berharap mereka bisa mendampingi dan membantu pemulihan anggota keluarganya yang mengalami masalah kejiwaan.

Resign untuk Membangun Baluem Tanyoe

Dua tahun bekerja di FBA, Cut memutuskan untuk resign dari lembaga ini. Bukan berarti ia juga berhenti dari aktivitasnya, justru ia semakin terhubung dengan orang-orang yang didampinginya dengan membangun wadah yang diberi nama Baluem Tanyoe. Nama yang diambil dari bahasa Aceh ini mempunyai arti ‘tempat kita’ merupakan wadah yang dijadikan sebagai tempat penampung dari hasil kerajinan dan produk yang dihasilkan oleh ODDP dan keluarganya. Melalui Baluem Tanyoe, Cut kemudian memasarkan produk mereka hingga mendatangkan penghasilan untuk membantu perekonomian mereka.

Cut tidak sungkan memasarkan produk ODDP dampingannya ke teman-teman. Bahkan dia siap menjadi agen distributor untuk mereka. Seperti hasil kebun sayur Bu Fatimah, ia bantu menjualkannya di pasar, bahkan hasil dari penjualan sayur tersebut dapat membantu Bu Fatimah merenovasi rumahnya. Dan yang terpenting ialah gangguan jiwa yang dialami Bu Fatimah tidak pernah kambuh lagi. Padahal sebelumnya ia harus bolak balik ke RSJ untuk mendapatkan perawatan.

Siti yang merupakan adik ODDP Darma juga merasakan manfaat dari pendampingan ini. Ia dulu yang hanya berperan sebagai pendamping Darma saat ada kegiatan yang dibuat oleh Cut dan Puskesmas Kuta Baro, kini telah menjadi kader jiwa. Cut lah yang mengusulkan agar kader jiwa diambil dari keluarga ODDP. Tidak hanya itu, Siti juga dibekali dengan pemahaman tentang kesehatan jiwa dan berbagai keterampilan, seperti menjahit, pemasaran, kepemimpinan, media sosial, dan sebagainya.

Kegiatan pelatihan menjahit tas dan dompet untuk ODDP dan keluarganya

Siti juga sering dilibatkan dalam berbagai macam pelatihan, baik yang diadakan di puskesmas, FBA, dinas kesehatan, instansi pemerintahan, dan komunitas. Cut berharap Siti menjadi agen perubahan di gampongnya yang nantinya bisa membantu orang-orang di sekitarnya dan menjadi pengurus Baluem Tanyoe. Di kampungnya, Siti orang yang pertama turun tangan apabila ada masalah pada ODDP. Misalnya menfasilitasi mereka untuk mendapat obat atau menghubungi petugas puskesmas apabila ada ODDP yang kambuh. Selain itu, ia dan Darma juga dilibatkan dalam membuat pesanan tas dan totebag jika Cut mendapat orderan dari pelanggan.

“Baru pertama belajar menjahit langsung mendapat orderan dari Kak Cut. Rasanya senang sekali bisa menghasilkan uang dari usaha sendiri. Alhamdulillah cukup membantu perekonomian kami. Saya sangat bersyukur dengan kehadiran Kak Cut, bisa membantu keluarga kami. Dan saya pun juga punya kegiatan produktif yang menghasilkan uang sekarang,” ujar Siti saat dijumpai di rumahnya, pada Minggu 26 September 2021.

Begitu pula dengan Darma yang tidak pernah lagi kambuh. Selain menerima orderan pesanan dompet dan totebag, ia juga menjadi sebagai pengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Hanya saja aktivitas Darma harus diimbangi dengan kondisi fisiknya. Jika Darma tidak sanggup mengerjakan pesanan, Sitilah yang mengambil alih tugasnya.

“Itu sebabnya untuk pendampingan ODDP ini harus dibarengi dengan pendampingan keluarga. Saya pun bila ada pesanan dari orang, tidak melimpahkan semuanya ke Darma. Namun, menanyakan lagi berapa kesanggupan dia,” sambung Cut.

Dan yang terpenting dalam pendampingan ini, Darma sudah mengenal kondisi tubuhnya dan menyadari bahwa dirinya mengalami masalah kejiwaan. Ia pun juga selalu rutin meminum obat, berbeda dengan dulu yang tidak mau meminum obat sama sekali.

“Jadi, semua obat jiwa itu saya hafal namanya kecuali yang enggak ada nama. Sekarang dosis obat untuk saya sudah dikurangi, cuma sebelah-sebelah aja minumnya. Paling ketika saya tidak bisa tidur, saya akan minta diresepkan obat kepada perawat di Pusekesmas,” sambut Darma ketika kami membicarakan tentang dirinya.

Keluarga Darma dan Bu Fatimah adalah contoh kecil yang mendapatkan manfaat dari pendampingan ODDP yang dilakukan Cut. Dengan adanya wadah Baluem Tanyoeini Cut ingin menyasar lebih luas para ODDP dampingannya. Saat ini dia hanya fokus pada ODDP yang ada di Gampong Lam Alu Cut, Kuta Baro, Aceh Besar. Sebab menurut Cut, warga di kampung ini mempunyai risiko tinggi untuk masalah gangguan jiwa karena terdapat hubungan genetik yang menjadi faktor pemicu gangguan jiwa. Selain itu sumber penghasilan dari warga setempat hanya berpatokan pada hasil pertanian saja dan taraf perekonomiannya berada pada menengah ke bawah. Selain menadampingi kehidupan ODDP, Cut membantu perekonomian mereka dengan membuat kerajinan tangan dan memasarkannya melalui Baluem Tanyoe.

Siti dan Darma (ODDP)

“Jika Baluemini besar nantinya, semua ODDP yang pernah saya dampingi akan ikut terlibat, entah itu sebagai tim pemasaran, produksi, atau distributor dari produk Baluem. Sehingga mereka tidak hanya terbantu dari segi ekonomi saja, tapi juga membantu mereka untuk tetap berkegiatan. Sebab, punya uang saja tidak menjamin mereka akan sehat, tapi pengakuan dan keterlibatan mereka di masyarakat juga penting. Dengan begitu mereka merasa dihargai keberadaan mereka.”

Memasuki dua tahun berdirinya Baluem Tanyoe, Cut fokus pada produk kerajinan yang dihasilkan Baluem. Dalam membuat produk ia tidak hanya melibatkan ODDP saja, tapi juga warga lainnya yang mau terlibat dalan pembuatan produk kerajinan. Ia juga tidak enggan berbagi ilmu mengajarkan cara membuat dompet atau tas kepada orang lain. Menurutnya semakin banyak orang yang diajarkannya, maka ketersediaan sumber daya pun semakin banyak. Jadi, bila ada permintaan produk dalam jumlah besar, Cut sudah mempunyai orang-orang yang membuat produk tersebut. Di sela-sela itu, ia terus menyosialisasikan tentang isu kesehatan jiwa kepada teman, kerabat, dan masyarakat yang ditemuinya di berbagai kesempatan.

Begitulah Cut, ketika ia sudah terjun untuk mendampingi masyarakat ia akan sepenuh hati membantu sampai berhasil. Hal itu diakui oleh Dian Agustin, selaku Koordinator Proyek Program Aceh Comprehensive Community Mental Health (ACCMH) yang merupakan atasan Cut saat bekerja di FBA.

“Bisa dibilang, Kak Cut adalah relawan sejati. Dia begitu menjiwai pekerjaannya, bahkan melebihi tugas pokok dari yang ditentukan. Sampai saya bilang, ‘Kak bekerja itu jangan semua berdasarkan empati, kakak juga harus mikirin diri sendiri.’ Ya, tetap saja dia mentingin mereka bahkan ketika dia tidak berkerja di FBA pun masih terhubung dengan ODDP dampingannya,” ujar Dian saat ditemui pada Jumat, 15 Oktober 2021.

Dian yang pernah bekerja sebagai atasan Cut begitu dimudahkan saat bertemu ODDP. Pembawaan Cut yang ramah membuatnya diterima di semua kalangan. Bahkan untuk persoalan negosiasi baik itu dengan ODDP, masyarakat, bahkan pejabat pemerintahan, mudah saja baginya.

“Kak Cut tahu saja celahnya di mana. Jejaringnya banyak sehingga tidak kesulitan untuk menemui siapa saja saat menjalani program dan kegiatan yang kami lakukan. Misalnya mau menemui camat atau dinas-dinas terkait lainnya. Dia sudah tahu bapak ini tipikal yang bisa diajak ngopi untuk diskusi, ini harus di kantor dan sabagainya. Tidak semua orang mempunyai kemampuan seperti itu. Jadi, mudah saja bagi Kak Cut untuk melakukan itu, mungkin karena pengalaman kerjanya sebagai relawan sudah banyak sebelumnya,” tambah Dian.

Dian juga mengatakan bahwa Cut bukan tipikal orang cari nama, tidak perlu namanya disebut. Padahal orang dapat link atau ide dari dia, tapi nama orang lain yang muncul. Ia tidak mempermasalahkan hal itu. Hanya saja dia bukan tipikal orang yang bisa didikte. Kalau menurutnya tidak sesuai dengan prinsip dasarnya, dia lebih baik keluar dari lingkaran tersebut. Oleh sebab itu, Cut lebih memilih menjadi relawan lepas dibanding harus terikat dengan sebuah lembaga atau instansi. Namun, selama jasanya dibutuhkan untuk urusan kemanusiaan, ia siap pasang badan menjadi seorang relawan.[]

Penggerak Perempuan Pesisir di Alue Naga Banda Aceh

1

TULISAN OYSTER CHIP dengan tiga bintang berwarna kuning emas terlihat mencolok di kemasan yang didominasi hijau tua. Di bagian atas kemasan ada logo kartun dengan topi khas Aceh dan bertuliskan jenama Kiboy by Natural Food. Di bawahnya, terdapat “potongan-potongan” kerupuk yang menawarkan rasa gurih dan kriuk. Benar saja, saat saya mencicipi kerupuk yang ada di dalamnya, rasanya memang gurih dan kriuk-kriuk. Enak juga dijadikan tambahan sebagai lauk untuk makan.

Oyster Chip adalah camilan berupa kerupuk yang dibuat dari bahan baku tiram. Camilan ini diproduksi oleh ibu-ibu di Dusun Podia Mad, Desa Alue Naga, Kota Banda Aceh. Daging hewan bercangkang yang menjadi bahan baku utama camilan ini juga merupakan hasil budi daya yang dipanen oleh ibu-ibu di dusun itu. Sekitar lima puluh ibu rumah tangga di sana kini menjadi penggerak ekonomi keluarga yang terlibat sebagai petani maupun pengolah kerupuk tiram.

Desa Alue Naga merupakan salah satu desa pesisir di Kota Banda Aceh. Desa ini berjarak sekitar tujuh kilometer ke arah timur dari jantung kota. Terletak di Kecamatan Syiah Kuala, desa ini terbagi menjadi empat dusun, masing-masing Dusun Buenot, Musafir, Kutaran, dan Podia Mad. Antara Dusun Buenot dan Musafir dengan Dusun Kutaran dan Podia Mad dipisahkan oleh sungai (krueng) yang bermuara ke laut. Sungai ini menjadi salah satu urat nadi bagi warga Alue Naga untuk menopang ekonomi mereka. Jika para prianya banyak yang berprofesi sebagai nelayan, maka para perempuannya banyak yang berprofesi sebagai pencari tiram. Saban sore Alue Naga juga ramai dikunjungi wisatawan lokal. Itu sebabnya di antara warganya juga ada yang menjadi pedagang makanan.

Saat tsunami pada 26 Desember 2004 silam, Alue Naga termasuk salah satu desa yang porak-poranda. Bukan hanya merenggut banyak korban jiwa, tsunami juga turut mengubah tata letak desa ini karena mengalami pengurangan wilayah akibat bergesernya garis pantai. Belasan tahun setelah tsunami berlalu, berangsur-angsur kehidupan di sini mulai normal kembali, termasuk pada cara masyarakatnya yang bertahan hidup dengan mengandalkan potensi alam pesisir. Salah satunya adalah tiram yang hidup di sungai dan area payau sekitarnya.

Tiram-tiram itu kemudian dijual ke agen-agen pengepul. Sebagian ibu-ibu memilih menjual sendiri atau mengolah tiramnya untuk mendapatkan harga lebih. Tak heran jika di bantaran sungai terdapat banyak lapak nyak-nyak atau ibu-ibu yang menjual tiram, kepiting, ataupun kerang. 

Sejak dua tahun belakangan ini, tiram-tiram yang ada di Dusun Podia Mad tidak lagi sepenuhnya dijual segar kepada agen atau pengepul. Tiram-tiram itu diolah menjadi kerupuk yang dikemas dan dipasarkan dengan jenama Kiboy. Hasilnya, tiram-tiram Alue Naga kini bisa “nangkring” di sejumlah gerai makanan, swalayan, dan toko souvenir. Tidak hanya bisa dinikmati sebagai lauk pelengkap hidangan, tetapi sebagai makan ringan untuk teman di kala santai.

“Tidak hanya di Banda Aceh saja, camilan ini juga kita pasarkan sampai ke Jakarta, tepatnya di M-Bloc Market. Sering juga kami ikutkan dalam pameran-pameran UMKM yang dibuat oleh instansi,” kata Risna saat berbincang akhir September 2021 lalu.

Risna adalah sosok kunci di balik layar lahirnya produk turunan dari tiram ini. Berkat keseriusannya mendampingi ibu-ibu tersebut, tiram-tiram dari Alue Naga bisa dinikmati masyarakat dari berbagai daerah sebagai oleh-oleh. Namun, yang lebih penting, kehadiran produk turunan ini telah memberikan nilai ekonomi lebih bagi kelompok perempuan di desa tersebut.

Risna Erita, S.Pd. namanya. Usianya baru beranjak dua puluh lima tahun saat ini. Ia baru saja lulus dari Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh ketika direkrut sebagai tenaga magang oleh Lembaga Penelitian dan Pelatihan Natural Aceh pada 2018. Lembaga inilah yang sejak beberapa tahun lalu menjadikan sekelompok ibu-ibu di Alue Naga, khususnya Dusun Podia Mad sebagai binaan mereka. Setahun kemudian Risna akhirnya dipercayakan menjadi program manager, menggantikan posisi senior/atasan yang melanjutkan kuliah ke Pulau Jawa. Dengan posisinya itu, Natural Aceh kemudian memercayakan Risna untuk bertanggung jawab penuh pada Divisi Natural Food dalam pembinaan dan pendampingan ibu-ibu di Dusun Podia Mad.

“Desa Alue Naga ini merupakan salah satu desa penghasil tiram di Banda Aceh, selama ini pemanenan tiram di sini dilakukan secara konvensional, yakni dengan mengutip tiram-tiram yang tumbuh secara alami di batu-batu atau karang di sungai,” kata Risna, “tetapi sejak Natural Aceh masuk beberapa tahun lalu, sudah ada inovasi baru, baik pada cara budi daya tiram ataupun produksi produk turunan yang lebih bernilai ekonomis,” kata Risna saat ditemui di rumah produksi tiram Natural Aceh di Alue Naga.

Pada ibu-ibu di sana diperkenalkan sistem floating culture atau model peternakan tiram terapung. Jika selama ini tiram-tiram itu berkembang biak secara alami di bebatuan atau karang-karang, dengan model floating culture ini tiram-tiram itu akan berkembang biak di material-material khusus yang ditaruh di dalam air seperti galon atau ban bekas. Cara ini membuat proses pemanenan jadi lebih efektif dan hemat waktu. Selain itu juga bisa menjadi solusi untuk mendaur ulang limbah. Natural Aceh juga menyulap kawasan tambak di daerah itu sebagai lokasi baru untuk budi daya tiram. Tak hanya itu, Natural Aceh juga menanam bakau di kawasan tambak yang menjadi lokasi peternakan tiram untuk mendukung ekosistem pesisir sekitar.

Setelah program budi daya tiram ini berjalan, Risna kemudian menginisiasi ibu-ibu tersebut untuk mendapatkan pelatihan pengolahan produk dari tiram. Dari puluhan ibu-ibu yang selama ini dibina, enam di antaranya diandalkan sebagai tenaga produksi dan satu di antara mereka ditunjuk sebagai ketua kelompok.

“Kelompok kecil inilah yang diandalkan untuk mengolah tiram-tiram itu menjadi kerupuk, nuget, dan juga hidangan cepat santap seperti kari dan pepes tiram, tetapi kalau untuk prospek, kerupuk tiram yang lebih menjanjikan,” kata Risna.

Oyster Chip

Tantangan selanjutnya kata Risna, ialah mencari akses untuk memasarkan kerupuk tiram yang sudah dihasilkan oleh ibu-ibu tersebut. Diakui Risna, awalnya memang tidak mudah. Ia mendatangi satu demi satu toko-toko yang ada di Banda Aceh dan dinilai potensial untuk memasarkan produk kerupuk tiram, seperti toko souvenir yang ada di kawasan Peunayong Banda Aceh. “Kini setidaknya ada sekitar 30 toko yang kami titip jual oyster chip. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya, karena meskipun kita sudah menghasilkan produk yang bagus, tetapi kalau pemasarannya tidak jalan kan tidak bisa mendatangkan profit juga,”  katanya.

Walau bagaimanapun, Risna bertanggung jawab pada kesejahteraan anggota kelompok produksi karena upah yang dibayarkan kepada mereka sangat bergantung pada hasil penjualan produk.

Untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, Risna juga memasarkannya secara online di beberapa market place dengan nama akun Kiboy Food. Dia juga membuat sekaligus menjadi pengelola akun Instagram @kiboy_place dan @kiboy-food sebagai tempat untuk men-display camilan tiram ini secara online.

Ke depan, tidak hanya daging tiram yang akan diolah, tetapi cangkang tiram yang kaya akan kandungan kalsium dan magnesium juga akan diolah menjadi bubuk cangkang tiram. Risna juga berencana untuk mengolah pupuk kompos dengan memanfaatkan limbah dedaunan yang berlimpah di Podia Mad.

Kehadiran Risna melalui Natural Aceh dirasakan betul nilai positifnya oleh Yusniar, salah seorang anggota tim produksi yang sekaligus dipercayakan sebagai ketua kelompok. Sebelum hadirnya Natural Aceh kata Yusniar, dirinya yang sebelumnya sudah mendapat pembekalan dari Pusat Layanan Usaha Terpadu tentang cara pengolahan tiram pun membuat nuget tiram. Kemudian dia menjajakan sendiri hasil produksinya ke kantor-kantor pemerintahan.

Kondisi ini tak jarang membuatnya kelelahan, tenaganya tidak hanya terkuras untuk proses produksi, tetapi juga dinilai sangat tidak efisien karena harus berkeliling untuk menjual produk. Belum lagi risiko jika produk tak laku. Namun, setelah proses pemasaran diambil alih oleh Risna, ia tidak perlu lagi pusing untuk urusan pemasaran. Yusniar pun jadi lebih punya waktu luang bersama anak-anaknya di rumah. Apalagi selama pandemi yang intensitas dengan anak dirasakan cukup tinggi karena harus mendampingi mereka untuk belajar daring.

Selain itu, sejak didampingi oleh Risna, ibu-ibu ini juga dilatih ulang cara mengolah tiram yang sehat.

“Kalau sekarang fokus saya cuma di produksi saja, secara tenaga jauh lebih hemat karena saya tidak perlu lagi memikirkan pemasaran, kalau soal penghasilan memang agak kurang-kurang dikit dari yang sebelumnya, tetapi itu nggak masalah buat saya,” kata Yusniar.

Hal yang sama berlaku pula bagi ibu-ibu lain yang fokus pada mengambil tiram, dengan hadirnya Natural Aceh dan rumah produksi tiram, ibu-ibu itu tidak perlu lagi menjual tiram-tiramnya ke pengepul. Setelah dipanen, tiram bisa langsung dijual kepada Natural Food. Jika sebelumnya hanya mengandalkan tiram yang hidup di sungai, sejak ada penambahan lokasi peternakan tiram oleh Natural Aceh, panen yang dihasilkan pun bisa lebih banyak.

“Harga yang kita beli di atas harga yang mereka jual kepada agen, tetapi memang agak lebih miring dibandingkan mereka jual sendiri, tetapi hasil panen mereka langsung kita tampung,” kata Direktur Natural Aceh, Zainal Abidin Suradja, Rabu, 6 Oktober 2021.

Sosok yang Gigih

Risna awalnya adalah seorang mahasiswa magang di Natural Aceh. Namun, berkat kegigihan dan keseriusannya berkecimpung di masyarakat, Natural Aceh lantas mengangkatnya menjadi program manager. Zainal menuturkan, sosok Risna tidak saja memiliki kemampuan secara teknis, tetapi dia juga bisa berbaur dengan masyarakat setempat. Ia sosok yang komunikatif. Dan, seperti yang diketahui, komunikasi yang lancar menjadi salah satu kunci keberhasilan program-program yang dijalankan di masyarakat. Kadang-kadang Risna juga menginap di rumah produksi Natural Aceh yang ada di Podia Mad. Dengan cara ini, kedekatan yang terbangun antara Risna dengan warga tidak hanya sebatas urusan pekerjaan.

“Risna punya kemampuan yang bagus dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat dan lingkungan, dia punya passion di situ, tidak semua orang punya dedikasi seperti Risna. Kalau tahun ini tidak pandemi dia sudah ke Meksiko untuk mengikuti sebuah konferensi,” kata Zainal.

Sebagai contoh kata Zainal, belum lama ini Natural Aceh menerima dana dari salah satu instansi untuk program menanam mangrove di Kabupaten Simeulue. Salah satu kabupaten di Aceh yang berada di perut Samudra Hindia. Meski secara nominal jumlahnya terbatas, tetapi Risna sangat bertanggung jawab dan mengantar sendiri dana tersebut ke Kabupaten Simeulue. Untuk memudahkan mobilisasinya, Risna mengendarai sepeda motor, dilanjutkan naik kapal laut untuk menyeberang ke pulau. Namun, jarak Banda Aceh ke Simeulue bukanlah jarak yang dekat. Setidaknya, ada enam kabupaten yang harus dilalui. Pergi melintasi pesisir barat selatan Aceh dengan sepeda motor bisa dibilang sebuah “kegilaan”. 

“Dalam perjalanan itu Risna bahkan sampai mengalami kecelakaan, yang jatahnya tiga hari di sana jadi tertahan selama seminggu di Simeulue karena ada badai dan kapal tidak bisa berlayar, kalau orang lain mungkin sudah menyerah dengan kondisi seperti itu, tetapi dia sangat totalitas.”

Keputusan Zainal memilih Risna sebagai pendamping ibu-ibu di Alue Naga tidaklah salah. Risna dinilai mampu mengemban tanggung jawabnya dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari terobosan-terobosan yang diupayakan oleh Risna kepada ibu-ibu di sana. Natural yang semula hanya berorientasi pada kegiatan-kegiatan penelitian dan pelatihan, belakangan mulai memperluas program dengan mengembangkan social enteprise atau perusahaan sosial untuk membangun komunitas masyarakat. Salah satu yang sudah menunjukkan hasil positif adalah budi daya tiram di Alue Naga dengan output-nya kerupuk tiram.

Risna Erita lahir di Ujung Padang, Aceh Selatan, pada 1 September 1996. Pendidikan SD hingga SMA ia habiskan di kampung halaman dan hijrah ke Banda Aceh untuk melanjutkan kuliah di Universitas Bina Bangsa Getsempena di Fakultas FKIP Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan lulus pada 2018. Jiwa organisasinya telah tumbuh sejak di bangku sekolah dan semakin terasah setelah duduk di bangku perguruan tinggi. Sejumlah prestasi pun telah diraihnya, seperti menjadi delegasi Indonesia perwakilan Aceh dalam forum International Global Goals Summit 30 Negara di Kuala Lumpur, Duta Aksi Global (Global Goals Action Ambassador 2020, Duta Pepelingasih (Pemuda Peduli Lingkungan Asri dan Bersih) Indonesia Provinsi Aceh 2020,  finalis usaha bidang teknopreneur WMP Kemenpora RI 2020, 100 besar finalis usaha kuliner kreatif Indonesia food start up Indonesia MMXX. Risna juga terpilih sebagai Pemuda Berprestasi Aceh 2020 oleh Dinas Pemuda dan Olahraga, dan baru-baru ini ia terpilih sebagai The Country Winner (Indonesia) of Youth World Cup 2021 in Climate Action Category.

Sebagai seorang lulusan perguruan tinggi, di tengah tingginya animo lulusan muda untuk menjadi pegawai negeri sipil, Risna malah tak berminat untuk bekerja di pemerintahan. Ia begitu menikmati pekerjaannya bekerja di tengah-tengah masyarakat.

“Bekerja di masyarakat membuat kita bertumbuh, kerja-kerja yang tidak hanya berorientasi pada profit semata membuat kita lebih berkembang dan saya sangat menikmati aktivitas ini,” ujarnya di pengujung obrolan.

Karena motivasi itulah, meski tugasnya di Podia Mad hanya untuk membina ibu-ibu, tetapi dengan basic pendidikan sebagai guru, Risna juga mendidikasikan waktunya untuk mengajar les anak-anak di sana.[]