JIKA menyebut nama Desa Lampageu di Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, orang-orang mungkin akan bertanya, di mana itu Lampageu? Namun, saat disebutkan nama Ujong Pancu, bisa dipastikan langsung terbayang pada kawasan pesisir yang diapit oleh laut dan pegunungan. Inilah daratan terakhir di ujung barat Pulau Sumatera. Dan Lampageu, merupakan desa terakhir di ujung daratan ini. Karena panoramanya yang indah, wisatawan lokal sering datang ke tempat ini; sekadar untuk mengaso di pinggir laut sambil menikmati segarnya kelapa muda dengan camilan ringan ataupun memancing untuk melarung jenuh karena rutinitas. Bagi yang suka bertualang, dengan mengeluarkan sedikit tenaga ekstra untuk mendaki gunung, sudah bisa menikmati panorama ciamik Pantai Lhok Mata Ie yang ada di sisi barat pulau. Tak jarang anak-anak muda menghabiskan akhir pekan dengan berkemah di bibir Samudra Hindia itu.
Desa Lampageu hanya terletak sekitar delapan kilometer di barat Kota Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Tak lebih dari setengah jam berkendara dari jantung kota Banda Aceh. Namun, desa ini rasa-rasanya seperti sangat terisolasi. Seolah tak tersentuh ingar-bingar ibu kota. Akses jalan mulus beraspal menuju kawasan Ujong Pancu hanya sampai Desa Lambadeuk, tiga desa tetangga sebelum Lampageu. Tidak ada kendaraan umum yang beroperasi ke kawasan yang pernah diporak-porandakan tsunami ini. Sepanjang jalan di kawasan ini, adalah biasa melihat kotoran ternak yang bertebaran di badan jalan. Saat akhir pekan banyak pesepeda melewati jalur ini.
Dihuni oleh 110 kepala keluarga, sebagian besar penduduk di desa ini berstatus warga dengan ekonomi lemah. Para lelakinya adalah nelayan tradisional atau bekerja sebagai pedagang ikan di pasar. Aktivitas melaut sangat dipengaruhi oleh cuaca dan musim. Sementara para perempuannya banyak yang menjadi pencari nafkah utama. Mereka ada yang bertani cabai, mencari rotan, atau membuat kue. Sekitar tujuh puluh warga Lampageu adalah anak-anak usia sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.
Sepertiga anak-anak itu berkumpul di Balee Nelayan Lampageu pada Jumat petang, 2 Juli 2021. Rerata adalah murid-murid usia sekolah dasar. Berkumpulnya mereka di sana tak lain untuk menyambut kehadiran sekaligus peresmian Taman Baca Rumah Lentera Habibi di desa mereka. Meski seremonial acara baru dimulai pukul lima sore, tetapi anak-anak itu sudah hadir di sana sejak setelah asar. Mereka duduk bersila mengikuti pola persegi bangunan permanen tersebut. Beberapa ibu juga terlihat hadir mewakili perangkat desa. Sejak tiga hari sebelumnya, anak-anak itu sudah begitu sibuk. Mereka membersihkan pekarangan balai nelayan yang tadinya dipenuhi belukar. “Supaya saat tamu-tamu datang hari ini, pekarangan balai sudah terlihat bersih,” ujar Irawati, warga sekitar yang menjadi tuan rumah acara itu.

Salah seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA bertindak sebagai komando dan meramaikan sore itu dengan meminta anak-anak memperkenalkan diri dan menyebutkan cita-cita mereka. Canda dan celoteh gembira mereka meriangkan suasana. Angin pesisir berembus menghalau gerah karena terpaan panas yang menyengat hingga menjelang senja. Di kejauhan tampak pesisir Kota Banda Aceh berupa gundukan daratan yang dinaungi pohon-pohon cemara. Tak lama kemudian, acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai.
***
Adalah Amrina Habibi, seorang master hukum yang menjadi “bidan” di balik lahirnya Taman Baca Rumah Lentera Habibi Desa Lampageu. Meskipun ia seorang aparatur sipil negara dan berstatus sebagai pegawai negeri sipil dengan amanah Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Aceh, Amrina tak ingin membatasi ruang gerak hanya sebatas menunaikan “kewajiban” pada negara saja. Ia tak ingin seragam cokelatnya membatasi kerja-kerja sosialnya yang telah dilakoni sejak masih di bangku kuliah. Bahkan jauh sebelum itu, saat ia masih remaja. Itu sebabnya, bersama beberapa sahabatnya Amrina mendirikan Yayasan Rumah Lentera Habibi dan dipercayai sebagai ketua. Yayasan ini resmi berbadan hukum medio 2020 lalu, walaupun aktivitasnya telah berlangsung sejak tiga tahun lalu.
Amrina memilih Lampageu sebagai lokasi pertama Rumah Baca Yayasan Lentera Habibi atas keprihatinannya pada tumbuh kembang anak-anak di desa itu. Anak-anak di sana, tidak memiliki aktivitas berarti setelah pulang sekolah. Sebagai anak pesisir, waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk bermain di pantai. Kesibukan orang tua mereka dalam mencari nafkah membuat anak-anak ini kurang mendapatkan pengawasan orang tua. Di musim-musim tertentu, mereka akan pergi ke gunung untuk memetik buah jemblang. Namun, yang lebih mengkhawatirkan ialah tak sedikit dari anak-anak itu yang justru lalai dengan gawai. Bagaimana jika mereka mengakses konten-konten negatif? Bagaimana jika mereka kecanduan game? Bagaimana jika mereka jadi malas belajar? Banyak “bagaimana” lainnya yang akhirnya menjadi dasar keputusan Amrina dan teman-teman untuk menghadirkan taman baca sebagai sentral edukasi bagi anak-anak Lampageu.
“Ini kami lakukan sebagai panggilan jiwa dan di luar kegiatan dinas, sama sekali tidak berbasis anggaran dan merupakan hasil swadaya teman-teman,” kata Amrina.
Dengan hadirnya taman baca ini, anak-anak itu setidaknya jadi punya tempat untuk bermain sambil membaca dan melakukan aktivitas literasi lainnya. Sebagai aktivis perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan, Amrina mafhum bahwa literasi adalah kunci dari segala hal. Salah satunya, untuk mencegah terjadinya kasus-kasus pelecehan ataupun kejahatan seksual pada anak. Anak-anak yang teredukasi dengan baik, atau memiliki kecakapan literasi yang memadai, tentu akan lebih awas pada orang asing. Setidaknya bisa mengenali perilaku atau modus-modus orang dewasa yang membuat mereka tidak nyaman.
Sebelumnya, taman baca serupa juga sudah dibentuk di Desa Ujong Bate, Kecamatan Mesjid Raya, melalui Forum Partisipasi Masyarakat untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Aceh yang diketuai oleh Amrina. Namun, karena PUSPA masih berafiliasi dengan instansi pemerintah, Amrina ingin membentuk taman baca sendiri yang pengelolaannya lebih fleksibel.

Sejak belia, perempuan kelahiran Samalanga, 30 Maret 1975 ini memang sudah diasah kepekaan sosialnya oleh ibu dan ayahnya. Sang ibu, almarhumah Azizah, adalah seorang guru yang tidak saja pandai mengajarkan alif ba ta atau a be ce de, tetapi juga guru kehidupan yang telah mengajarkan nilai-nilai kehidupan; pentingnya berbagi, mengutamakan kejujuran, disiplin, dan jangan pernah berhenti belajar. Sedangkan ayahnya, H Achmad Namploh, adalah orang di balik suksesnya Amrina sebagai seseorang yang cakap di atas panggung. Sebagai Juru Penerang yang bekerja di Dinas Penerangan tingkat kabupaten, Haji Achmad sering berkeliling kampung untuk menginformasikan berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah di masa itu. Amrina kecil sering diajaknya saat bertugas. Dalam setiap kesempatan, Amrina selalu diberikan panggung oleh ayahnya. “Walaupun itu hanya sebatas menyampaikan satu atau dua buah pantun sebelum acara dimulai,” kenang Amrina pada salah satu fragmen masa kecilnya bersama sang ayah saat berbincang dengan penulis pada Selasa, 15 Juni 2021, “tapi pengalaman itu melatih tumbuhnya rasa percaya diri saya sehingga menjadi berani saat berbicara di depan orang banyak,” ujar ibu dari empat buah hati ini.
“Saya tidak canggung beraktivitas di ruang publik karena orang tua mendidik kami dengan relasi kuasa yang setara. Tidak membedakan antara anak lelaki dengan perempuan, selalu mendukung aktivitas kami selama itu positif, itu menjadi modal saya sampai sekarang,” kata Amrina.
Petuah guru mengajinya di masa kecil, Tgk Imum Ali Hanafiah, turut menjadi pelecut tambahan bagi Amrina untuk tumbuh menjadi pribadi yang teguh dan punya prinsip. “Perempuan harus mandiri, punya bargaining, dan bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.” Kalimat itu selalu terekam di ingatannya hingga kini. Nilai-nilai itu membuat Amrina tumbuh sebagai sosok yang tidak hanya bisa menopang diri sendiri, tetapi juga menjadi tumpuan bagi perempuan lain. Ia bersyukur karena bisa bernaung di instansi yang pekerjaan utamanya mengadvokasi perempuan dan anak. Pekerjaan ini adalah estafet dari kerja-kerja sosial yang ia lakukan di masa-masa aktif berorganisasi seperti di KNPI, AMPI, Pemuda Pancasila, HMI, hingga organisasi berbasis swadaya masyarakat seperti Balai Syura Ureung Inong Aceh dan Kohati.
Pengalaman berharga saat ia menakhodai Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di bawah naungan instansi yang sama. Di luar yang orang pikirkan, pusat pelayan terpadu itu justru menjadi “rumah kehidupan” bagi Amrina. Ia bisa belajar dan berbagai pengalaman untuk membangun keluarga yang lebih berkualitas.
“Pengalaman dan kehidupan buruk seseorang menjadi pengalaman berarti buat saya, sebaliknya pengalaman saya pun bisa dibagi kepada orang lain,” katanya.

Kesempatan-kesempatan seperti ini memang selalu digunakan Amrina dengan baik. Misalnya, dalam setiap agenda turun ke daerah untuk urusan dinas, ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan komunitas ataupun individu yang membutuhkan bantuannya. Lewat pertemuan-pertemuan informal inilah dia bisa menggali banyak informasi dari masyarakat tentang persoalan khususnya yang dialami oleh perempuan dan anak, atau menanamkan pengetahuan tentang kesetaraan gender yang menjadi kunci relasi yang setara antara perempuan dengan laki-laki. Dia juga kerap memberikan konsultasi gratis bagi perempuan yang mengalami problem keluarga seperti KDRT atau yang berhadapan dengan hukum di luar kerja-kerjanya sebagai ASN.
Amrina mengakui, memang tidak mudah melakukan kerja-kerja advokasi seperti ini. Tantangan terbesarnya adalah minimnya kesadaran masyarakat atau individu tentang peran-peran kodrati dengan persepsi masyarakat tentang jenis kelamin. Tak ayal, seorang perempuan yang kerap mengalami KDRT malah enggan buka suara karena dianggap mempermalukan keluarga atau menganggap itu sesuatu yang lumrah dengan dalih “berbakti” pada suami. Belum lagi misalnya, nilai-nilai agama yang luhur belum terintegrasi dengan baik dalam tatanan kehidupan sehingga seringkali teks-teks agama dimaknai di luar konteks.
“Padahal Islam itu sudah sangat luar biasa mengatur tentang berbagai aspek kehidupan kita, kalau bicara tentang perempuan, betapa posisi perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya dalam agama, tetapi realitasnya tidak seperti itu,” ujar perempuan Inspirator Forum PUSPA Nasional Tahun 2017 KPPPAI ini.
Kesadaran ini memang perlu dibangun secara kolektif dengan menghadirkan kegiatan-kegiatan literasi yang berbasis di akar rumput, melibatkan banyak sumber daya, dan mampu menjangkau banyak tempat. Itulah substansi dibentuknya Yayasan Lentera Habibi.
“Ini akan menjadi exit strategy agar kami bisa terus berbuat kalau nanti sudah pensiun dari dinas, kerja-kerjanya meliputi penguatan literasi, budaya, dan kesejahteraan sosial,” ujar Amrina menjelaskan visi dari yayasannya. Mereka yang terlibat di yayasan ini beragam, mulai dari ASN seperti dirinya, polisi, pengacara, pekerja LSM, hingga psikolog. Kolaborasi adalah fondasi yang dibangun Amrina. Ia menyadari betul-betul, berjejaring adalah kunci kesuksesan di zaman ini.
***

Senja yang bercampur rona merah jingga memantul di cakrawala. Satu per satu para bocah dan ibu-ibu yang tadi berkumpul di balai pulang menuju rumah masing-masing. Begitu juga dengan beberapa tamu undangan yang hadir khusus untuk memberi dukungan bagi Amrina dan teman-teman. Di antaranya Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, Nevi Ariyani, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Aceh Kombes Pol Ade Harianto, dan Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak Polda Aceh, AKP Elfiana, beberapa rekan wartawan, serta perwakilan dari Forum Anak Tanah Rencong. Namun, tidak dengan Amrina, dia masih di balai bersama beberapa rekan untuk membahas rencana tindak lanjut setelah peluncuran taman baca.
Sebagian Desa Lampageu sudah gelap karena dipunggungi matahari. Namun, kehadiran Yayasan Lentera Habibi, diharapkan bisa terus “menerangi” desa yang meskipun hanya selemparan batu dari ibu kota provinsi, tetapi tetap perlu perhatian khusus karena masuk dalam wilayah desa terluar, terdepan, dan tertinggal. Bukankah seterang-terangnya cahaya adalah cahaya ilmu dan pengetahuan?[]








































