Beranda blog Halaman 15

Farhaniza Farhan; Arsitek yang Meniti Sukses di Industri Kosmetik

1

Dewasa ini, kosmetik sudah menjadi produk peradaban yang sangat lekat dengan manusia. Bangsa yang pertama kali tercatat menggunakan berbagai losion, parfum dan bahkan lipstik serta deodoran, adalah bangsa Mesir. Guci-guci berisi parfum dan losion ditemukan di dalam makam para firaun yang dikuburkan di Lembah Para Raja. Kehadiran kosmetik di Mesir Kuno juga ditengarai melalui hieroglif yang menghiasi dinding makam. Kosmetik orang Mesir, tentu saja, terbuat dari bahan dan mineral alami.

Pada abad-abad selanjutnya, manusia modern mengikuti contoh bangsa Mesir. Jenis kosmetik semakin beraneka ragam. Yang semula “hanya” ditujukan untuk higiene seperti deodoran dan sabun mandi, kemudian diramaikan dengan produk-produk yang tujuannya meningkatkan daya tarik. Misalnya lipstik, maskara dan lain-lain.

Umat manusia juga semakin sadar akan perlunya “tampil maksimal”. Akibatnya, pasar dibanjiri permintaan kosmetik. Karena permintaan meningkat, produsen kosmetik harus memikirkan ketersediaan bahan baku. Apa yang tadinya mengandalkan pada alam, mulai bergeser ke produk sintetis. Dalam dunia parfum misalnya, ditemukannya aldehyda menggeser kedudukan minyak mawar dan “musk” dari kelenjar hewan, sebagai dasar pembuatan wewangian. Alasannya, karena aldehyda jauh lebih murah, juga lebih tahan lama.

Pergeseran bahan baku ini juga terjadi di lini kosmetik lain. Losion, alas bedak, dan macam-macam lagi, kini sebagian besar sudah meninggalkan bahan baku alamiah dan menggantinya dengan yang sintetis. Perkembangan dan persaingan kosmetik demikian cepat dan ketat, sehingga penggunaan bahan baku sintetis merajai dunia kecantikan.

Tiga puluh tahun belakangan, umat manusia mulai menyadari akibat negatif yang dibawa bahan baku sintetis dan kimiawi terhadap tubuh. Penderita penyakit yang disebabkan oleh alergi dan penyakit autoimun, yang semula sangat jarang kita dengar, angkanya naik secara mengejutkan. Demikian juga gangguan belajar, gangguan pencernaan bahkan gangguan kesuburan, mulai sangat umum dikeluhkan orang. Berbagai penelitian mencapai hasil yang mengejutkan: ternyata semua itu dapat ditelusuri sebabnya hingga ke makanan serta produk kosmetik yang kita gunakan sehari-hari.

Hal ini menggugah perhatian Farhaniza Farhan, akrab disapa Dara. Ibu dua anak lulusan Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung ini awalnya sekadar mengikuti saran kawan-kawannya, mencoba menggeser gaya hidup ke arah yang lebih sehat, lebih ramah lingkungan. 

Ia dan suaminya bergabung ke dalam sebuah klub yang mendorong anggotanya untuk sebisa mungkin menggunakan produk organik serta mengusung gaya hidup hijau. Saat itu Dara masih berkutat dengan proyek-proyek arsitektur, yang digelutinya sejak lulus. Sebelum menikah, Dara bekerja di sebuah biro arsitektur di Bali dan punya reputasi baik sebagai arsitek muda.

“Kemudian terjadi sesuatu yang menyebabkan saya mulai mendalami soal produk kosmetik,” ujar Dara. “Bermula dari reuni jurusan Teknik Lingkungan ITB beberapa tahun yang lalu. Seorang kawan suami membawa produk ‘cocoa butter, yang diproduksinya sendiri, menggunakan biji kakao dari kebun sanaknya di Sukabumi. Mengetahui bahwa saya orang Aceh, kawan itu mengatakan bahwa biji kakao Aceh dahulu sempat memperoleh predikat biji kakao terbaik di Asia Tenggara. Dia juga menyarankan pada saya untuk mencari tahu lebih banyak tentang cocoa butter sebagai alternatif losion organik yang tidak membahayakan kesehatan.”

Dengan coba-coba, trial dan error dan dengan peralatan sederhana, Dara mulai mencoba membuat cocoa butter sendiri. Produknya dipasarkan masih di kalangan terbatas, terutama di komunitas “serba organik” tempat ia menjadi anggota.

Sementara itu, dalam kehidupan pribadinya, Dara memiliki masalah sendiri. Beberapa tahun menikah, ia dan suaminya belum juga dikaruniai momongan. Dalam usaha untuk segera dikaruniai anak, dan mengetahui ‘apa yang salah’, Dara sempat delapan kali berganti dokter. Ia diduga mengalami PCO (polycistic ovarian syndrome), suatu kondisi ketidak seimbangan hormonal. Suaminya diduga mengalami asthernozoospermia. Istilah awamnya, gerakan spermanya lamban. Saat berkonsultasi pada salah seorang dokter ahli kandungan, Dara tersentak ketika sang dokter berkat, “Ini problem umum pada pasangan muda yang hidup di kota besar.”

“Kalimat itu seperti kilat yang menyambar kesadaran,” kata Dara. “Kenapa problem kesuburan disebut sebagai problem umum pasangan muda di perkotaan? Saya sungguh penasaran. Sejak saat itu giat mencari tahu tentang pengaruh hidup di kota besar pada kesehatan manusia.”

Dari berbagai hasil riset yang dibacanya, Dara mengetahui bahwa zat aditif dalam makanan dan kosmetik berpengaruh besar pada regulasi hormon di dalam tubuh. Dokter ahli yang saat itu memantau kesehatan dirinya dan suami, kerap juga menjadi tempatnya bertanya. Dari hasil diskusi dengan para dokter ini, Dara semakin paham betapa gaya hidup kota besar ternyata dapat menjadi biang kerok berbagai masalah kesehatan. Penjelasannya, kata Dara, misalnya karena para pekerja perkantoran kurang bergerak, terlalu banyak duduk, sehingga aliran darah terhambat. Makanan yang tersedia di perkantoran juga umumnya makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan atau zat-zat aditif. Semua ini berkontribusi pada timbulnya problem kesehatan, yang dapat berujung pada problem kesuburan.

“Menurut statistik, sepertiga dari perempuan di Indonesia mengalami kelainan hormon, tapi sebagian besar tidak mengetahui bahwa banyak hal yang kita anggap sebagai ‘hal sehari-hari’ itu dapat menjadi penyebabnya,” kata Dara. Ia melanjutkan, “Misalnya paraben, pengawet yang sangat populer digunakan dalam produk kosmetik. ”

Dari situs Environmental Working Group, didapat keterangan bahwa paraben dapat meniru cara kerja hormon estrogen dalam tubuh, dan mengganggu fungsi normal hormon yang mengatur fungsi reproduktif manusia, baik laki-laki mau pun perempuan. Paraben juga dapat mengganggu produksi hormon.

“Paraben digunakan secara luas dalam produk perawatan tubuh, bahkan saya lihat ada dalam produk vitamin untuk ibu hamil. Padahal, di Inggris paraben ini sudah dilarang. Namun, masih digunakan di Indonesia,” jelas Dara.

Ditemui di rumahnya di kawasan Merduati, Banda Aceh, pada Sabtu, 25 September 2021, Dara menceritakan bagaimana ia dan suaminya banting setir, mengubah gaya hidup, mengganti makanan mereka dengan segala yang organik sifatnya.

“Pokoknya sedapat mungkin kami menghindari zat aditif masuk terlalu banyak ke dalam tubuh,” kata Dara. “Dulu, di bagian bawah dagu saya ada pembengkakan kelenjar. Seperti ‘double chin’ begitu jadinya. Sejak banting setir ke gaya hidup hijau, perlahan-lahan kelenjar yang bengkak itu mengempis.”

Dara melanjutkan gaya hidup organiknya dengan mulai meninggalkan kosmetik yang menggunakan parfum dan aditif kimiawi. Ia mengganti pelembab kulit yang digunakannya dengan yang berbahan alami, juga berhenti menggunakan sabun dengan bahan alkali.  Sesudah merampungkan studi S2 di Universitas Gajah Mada dan menggondol gelar M.B.A., Dara memutuskan untuk mengembangkan riset dengan cocoa butter yang sudah diproduksinya.

“Saya mendirikan YaGI Natural tahun 2015,” kata Dara. Produk pertama YaGI adalah body butter, berbahan dasar cocoa butter. “Saya sempat menjajaki kerja sama dengan petani kakao di Aceh di Kabupaten Gayo Lues. Dasar pemikirannya adalah, berbisnis sambil beramal, membantu orang lain. Sebab sampai saat itu, masih sering terdengar keluhan petani bahwa produknya yang melimpah itu tidak ada yang menyerap.”

Proses pemasangan label produk yang siap untuk dipasarkan

“Tapi tetap saja, tahun 2015-2016 itu YaGI belum menjadi fokus utama saya. Saya masih juga mengerjakan proyek arsitektur. Terakhir saya mengerjakan desain Kawasan Industri Pulo Gadung,” kata Dara lagi.

Namun, kemudian, Tuhan menganugerahkan apa yang sudah begitu lama diidamkan. Dara hamil.  Ia yakin kondisi tubuhnya yang semakin sehat, juga hilangnya masalah fertilitas yang pernah dialaminya, adalah karena gaya hidup organik yang ditempuhnya. Saat itulah Dara berpikir serius untuk berkonsentrasi penuh pada  YaGI.

“Tahun 2018 saya mengambil kursus khusus kosmetologi di Inggris, untuk lebih mendalami bidang itu dan bisa mengembangkan YaGI lebih lanjut,” kata Dara. Ia dan suaminya juga mengambil keputusan penting lainnya, yaitu untuk pindah, pulang kampung ke Aceh, tepatanya di Banda Aceh.

Saat ditanya mengapa memutuskan pulang kampung, Dara tersenyum lebar menjawab, “Kami sudah lelah dengan hidup di kota besar seperti Jakarta.” Meski mengakui bahwa membangun bisnis di Aceh terkendala biaya yang cenderung lebih tinggi, tetapi Dara tetap memilih untuk membangun base bisnisnya di tanah nenek moyangnya ini.

Dari produk awal cocoa butter sederhana serta pemasaran dari mulut ke mulut, YaGI kini sudah dikemas dan dipasarkan dengan lebih profesional.

“Tahun ini produk YaGI sudah lolos kurasi untuk Kimia Farma, dan sudah mendapat izin edar dari BPOM,” Dara membanggakan hasil kerja kerasnya.

Pengembangan produk YaGI banyak didasari masukan dari konsumen. Dari konsumen juga Dara memperoleh dukungan serta dorongan untuk terus berproduksi. Salah satu pemakai YaGI, Flora Rosalia, merasa sangat terbantu.

“Kulit saya sensitif sekali. Gampang iritasi. Sulit sekali menemukan produk perawatan kulit yang cocok untuk kulit saya, saking sensitifnya. Saya senang sekali menemukan YaGI, brand lokal dengan spek tinggi,” kata Flora. Pemilik bisnis katering ini tambah senang karena menurutnya YaGI cukup mudah ditemukan di Banda Aceh. “Kemasannya juga bagus, meski saya rasa desainnya masih bisa dikembangkan lagi biar lebih kece.”

Seila Zhafira, Manajer Produksi di YaGI Natural, menjelaskan bahwa YaGI menggunakan bahan-bahan plant based alias dari tumbuhan. Tidak ada unsur hewani yang digunakan. YaGI juga tidak mengujicobakan produk-produknya pada hewan. Sebab, unsur plant based yang digunakan YaGI memenuhi standar keamanan MSDS (Material Safety Data Sheet) dengan persentase yang direkomendasikan.

Produk Yagi Natural

Sarjana Farmasi lulusan Universitas Syiah Kuala ini menyukai pekerjaannya di YaGI, dan ingin mengembangkan YaGI lebih lanjut, sehingga nantinya bisa meningkatkan kualifikasi Grade B dari BPOM menjadi Grade A.

“Dengan kualifikasi ini, YaGI boleh memproduksi lebih banyak jenis produk, bahkan juga produk untuk bayi,” jelas Seila. Ibu satu anak ini bergabung dengan YaGI pada April 2018.

“Waktu itu saya baru menikah, dan kebetulan juga baru lulus beasiswa S2 Turkiye Burslari untuk Jurusan Farmakologi. Walau pun saya sarjana Farmasi, tapi saya tidak terlalu banyak tahu tentang industri farmasi. Nah, saat bergabung dengan YaGI, saya berkesempatan untuk belajar banyak tentang industri farmasi ini. Ternyata sangat menarik, menantang, dan menyenangkan. Industri farmasi di Indonesia sebagian besar berada di Pulau Jawa, terutama di Jawa Barat, sedangkan Aceh ini tidak ada sama sekali. Mula-mula bergabung di YaGI sebagai Kepala Produksi, saya jadi tertantang untuk mendalami lebih lanjut tentang industri farmasi. Akhirnya, beasiswa farmakologi di Turki tidak jadi saya ambil, karena saya ingin mempelajari industri farmasi,” lanjut Seila.

“Saya menikmati bekerja di YaGI, karena sebagai sebuah perusahaan start up, perusahaan yang masih berkembang, di YaGI saya bisa leluasa mempelajari berbagai ilmu manajemen terkait industri farmasi ini, dan juga mengembangkan berbagai inovasi. Seandainya saya bekerja di industri atau perusahaan besar, saya tidak akan memperoleh kesempatan mengembangkan diri seluas yang saya dapat di YaGI. YaGI juga ‘produk lokal’ Aceh yang digagas dan dikerjakan putra-putri Aceh, membuat saya makin bangga bisa menjadi bagian darinya.”

Ditanya faktor apa lagi yang membuatnya betah bertahan di YaGI hingga sekarang, Seila menjawab bahwa iklim kerja di YaGI Natural kondusif.

“Sejak awal bergabung, saya banyak belajar manajemen dari Kak Dara,” kata Seila. “Kak Dara punya cara unik dalam mendekati anak buahnya. Orangnya fleksibel dan rendah hati, gayanya tidak pernah ‘sok atasan’. Dia terbuka untuk ditanya, diajak berdiskusi dan lain-lain. Saat awal, saya belum tahu banyak soal kosmetik. Dengan telaten Kak Dara mengajari saya, step by step, sehingga saya paham.”

Saat ini Seila sudah memiliki beberapa orang staf, dan lebih banyak terlibat dalam manajemen produksi.

“Sesudah memiliki staf, saya meniru cara dan pendekatan yang dilakukan Kak Dara untuk mengelola tim saya. Kak Dara membebaskan saya untuk memiliki sistem sendiri dalam mengelola tim selama sistem tersebut sejalan dengan kebijakan YaGI secara keseluruhan. Dan ini sangat saya hargai,” kata Seila lagi.

Di ujung wawancara, Dara membawa sampel produk YaGI untuk saya coba. Ada body butter, sabun cair, dan sampo. Saya mencoba body butter. Kesan pertama saya, wanginya lembut dan natural, teksturnya “kaya”. Jelas tak ada bahan sintetis yang ditambahkan untuk memperkuat aroma, seperti aldehida misalnya.

“Ya, banyak konsumen berkomentar bahwa aroma YaGI seperti aroma produk-produk high end,” Dara tersenyum. “Saya rasa, bahan baku alami terbaik yang kami pakai sudah bicara sendiri tentang kualitas produk ini, tanpa kami harus banyak menjelaskan.”

Setelah sekitar delapan puluh menit, akhirnya saya tinggalkan gedung rukan tiga lantai yang berfungsi ganda sebagai rumah sekaligus kantor dan ruang produksi YaGI itu. Di kepala masih tertinggal kalimat Dara

“Kalau hendak membeli sesuatu, coba baca daftar ingredients-nya. Cari tahu, apakah ada bahan yang berbahaya untuk kesehatan. Kita harus punya rasa ingin tahu yang tinggi, dan tidak berhenti mencari informasi.”

Sebuah saran yang bagus dan sangat masuk akal, dari seorang perempuan pengusaha yang tidak sekadar ingin kaya, tapi juga ingin membantu sesama.[]

Perjalanan Karier Nur Ratna Sari di Dunia Programming; Lahirkan Sejumlah Aplikasi untuk Pemko Banda Aceh

2

Keterlibatan perempuan di bidang perkodingan dewasa ini bisa dihitung jari. Kisah perempuan berdaya yang berkiprah sebagai programmer—ranah profesi yang konon didominasi laki-laki—masih sangat jarang. Belum lagi stigma rendahnya kemampuan bernalar perempuan dibandingkan laki-laki yang berseliweran di sana-sini. Menariknya, ragam kendala tersebut tidak menyurutkan semangat perempuan Aceh ini untuk terus berkembang menjadi seorang programmer andal. Dialah Nur Ratna Sari.

Sembari menyesap matcha latte pesanannya, Nur hanya tertawa renyah saat ditanyakan pendapatnya akan stigma ketidakmampuan perempuan terlibat secara profesional di ranah logika. Bagi Nur yang berprofesi sebagai Staf Ahli Programmer Pemerintah Kota Banda Aceh, pertanyaan demikian mungkin terkesan absurd. Sebagai perempuan yang belajar, bekerja, bahkan berprestasi dalam beragam kompetisi dengan mengandalkan penalaran, stigma yang menyebutkan logika perempuan lemah jelas menggelitik pikirannya.

“Memang dari awal sukanya matematika. Suka yang logic-logic begitu. Saat berkuliah di Informatika, pertama kali belajar pemrograman rasanya wow,” kisah Nur mengenang cinta pandang pertamanya pada programming di pertemuan perdana kami, Kamis, 14 Oktober 2021.

Menurut Nur yang awalnya tidak tahu menahu tentang programming, terdapat “konspirasi semesta” yang meluluskannya ke Jurusan Informatika, Fakultas MIPA, Universitas Syiah Kuala. Padahal sebelumnya dia justru berniat melanjutkan kuliah di MIPA Matematika. Walau masuk ke jurusan yang agak berbeda dari perencanaan awal, akan tetapi Nur tidak menafikan bahwa Matematika dan Informatika sangat erat kaitannya. Kedua jurusan tersebut menuntun para mahasiswanya untuk aktif bernalar dan memecahkan persoalan. Tentunya juga mengakrabkan mereka dengan logika dan angka. 

Menurut penuturan Nur, dia memperoleh pengalaman menarik terkait pemrograman sedari awal menjadi mahasiswa. Misalnya saat dosen memberikan tantangan proyek akhir sebagai pengganti ujian final. Tantangan tersebut semakin mendorong minatnya untuk mempelajari keterampilan koding lebih dalam lagi.

“Pernah ikut dan berhasil. Bonusnya enggak perlu ikut ujian final. Jadi mikir, ‘Kayaknya seru kalau dilanjutkan sebagai karier’,” ungkap Nur menjelaskan alasannya tertarik menjadi programmer.

Tak hanya ilmu di perkuliahan, dukungan teman-teman satu angkatan saat menjalani proses pendidikan juga sangat berpengaruh bagi perkembangan karier Nur kini. Menurutnya saat melakukan proses programming akan ada masa seseorang merasa stagnan. Program yang dirancang tidak selesai-selesai dan terus-terusan error. Pada saat-saat berat seperti itu dukungan kawan-kawan seperjuangan dirasa sangat membantunya.

Nur sebagai salah satu peserta kompetisi Hackathon 2019

Nur juga menyarankan calon programmer untuk bergabung dalam komunitas dan forum-forum programming online. Supaya jika menemukan kesulitan selama merancang program, mereka punya ruang untuk bertanya dan saling berbagi informasi. Sehingga mereka dapat menemukan solusi yang dicari tanpa harus berjuang sendirian.

“Gabung bersama komunitas itu sebenarnya penting. Namun, di sini sepertinya orang-orang masih ogah-ogahan. Di komunitas banyak pemikiran. Kita bisa tahu masalah orang dan cara mereka mengatasinya. Itu juga kadang-kadang jadi solusi bagi kita,” papar Nur terkait support system yang dibutuhkan calon programmer di luar kampus.

Selain menempuh pendidikan di tempat yang tepat dan bergabung di komunitas-komunitas yang sesuai dengan bakat atau minat, Nur juga menyarankan para anak muda untuk berani mencoba mengikuti ragam kompetisi dan pelatihan. Sehingga dapat menambah wawasan serta memperluas jejaring pertemanan.

Salah satu pengalaman berharga itu dirasakan sendiri oleh Nur ketika dia “iseng” mendaftarkan diri sebagai salah satu peserta Hackathon 2019. Sebuah kompetisi bertema Generasi Peduli #UangKita yang diselenggarakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia. Menghadirkan 39 finalis berlatar belakang project manager (hustler), designer (hipster), dan programmer (hacker) dari 3.500 pendaftar seluruh Indonesia. Melalui kompetisi Hackathon peserta ditantang untuk menciptakan ide inovatif dan solutif berbasis teknologi hanya dalam kurun waktu 38 jam. Kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran (awareness) dan rasa memiliki (sense of belonging) generasi muda terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Kelompok Nur berhasil menyabet juara dua dalam kompetisi tersebut. Mereka menawarkan prototipe aplikasi yang menerapkan prinsip citizen journalism melalui penggabungan fitur kamera dan artificial intelligence (AI) untuk mengawal pelaksanaan APBN. Mengusung tagar #PantauKita, aplikasi tersebut membantu pengguna memastikan bahwa anggaran yang telah dialokasikan di daerah sekitar mereka telah direalisasikan dan memadai.

Nur sedang merancang aplikasi #PantauKita bersama anggota timnya

“Tantangan sebagai programmer harus update ilmu selalu. Ilmu di perkuliahan saja tidak cukup. Setiap hari harus upgrade, upgrade, upgrade. Coba ikut kompetisi dan boothcamp, belajar lebih banyak dari mentor- mentor berpengalaman,” jelas Nur yang menjadi satu-satunya “hacker” perempuan pada kompetisi Hackathon 2019. 

Kini, perempuan kelahiran Banda Aceh tahun 1994 ini mampu menguasai beragam jenis bahasa pemrograman—dari PHP, Javascript, Ruby, Java hingga Go—yang membuktikan kecakapannya dalam berlogika. Menurut Nur, penting untuk mengajak perempuan ikut terlibat secara profesional di ranah programming. Sebab terdapat sudut pandang dan pemecahan masalah yang terkadang hanya disadari oleh perempuan. Sehingga kolaborasi antara programmer perempuan dan programmer laki-laki akan saling melengkapi ide dan argumen dalam proses perancangan aplikasi yang ramah bagi penggunanya (user-friendly). 

Bersama timnya di Pemerintahan Kota Banda Aceh, Nur telah menghasilkan beberapa aplikasi digital yang meningkatkan efisiensi kinerja para pegawai di dinas-dinas  di bawah Pemerintah Kota Banda Aceh. Dari Aplikasi Haba Pangan, E-Surat, hingga Absensi Wajah—menggantikan absensi sidik jari—yang terinspirasi kehadiran pandemi Covid-19.

Adapun dalam tahun 2021 ini, Nur bersama timnya sedang dalam proses pembuatan Aplikasi Disdukcapil (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil). Aplikasi tersebut merupakan layanan pembuatan akta kelahiran dan akta kematian yang nantinya dapat diakses secara daring oleh masyarakat Kota Banda Aceh. Sehingga diharapkan kehadiran aplikasi tersebut dapat mempermudah akses kepengurusan akta bagi masyarakat walaupun mereka tetap berada di rumah, terutama dalam kondisi pandemi seperti saat ini.   

Nur bersama staf ahli programmer Pemko Banda Aceh

“Capil Gemilang lagi progress. Sebab kepengurusan akta awalnya masih manual. Jadinya masyarakat harus bolak-balik ke kantor. Melalui aplikasi ini nanti pembuatan akta bisa diakses mandiri dari rumah saja,” jelas Nur penuh empati.  

Nur menekankan bahwa niatan baik saja tidaklah cukup dalam proses perubahan manual menuju digital. Sokongan promosi dan saran pengembangan aplikasi dari lintas pihak sangatlah penting. Agar kelak aplikasi yang sudah dirancang dengan baik dapat dikenal dan dipergunakan oleh masyarakat luas. Jika tim IT harus bergerak sendiri maka aplikasi semumpuni apapun tidak akan berguna. Sehingga aplikasi tersebut akan terbenam sia-sia.   

Selain itu, Nur juga berpesan agar anak muda, terutama perempuan, untuk berani mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Walaupun harus menjadi satu-satunya perempuan di ranah profesional yang digeluti, Nur menyemangati para perempuan tersebut untuk terus maju dan berkembang. 

“Jangan takut. Kita perempuan tidak perlu minder. Kalau kebanyakan minder nanti terbenam. Bodo amat dengan pendapat orang. Kita fokus bangun karier kita sendiri. Sugesti diri, ‘Bisa nih, pasti bisa!’,” pesan Nur. 

Sosok Inovatif dan Visioner

Walaupun selama tiga tahun terakhir berkiprah sebagai satu-satunya programmer perempuan di dalam timnya, Nur dikenal visioner dalam kinerjanya. Pemikiran Nur yang inovatif mampu membawa angin segar bagi anggota tim lainnya. Sehingga setiap aplikasi yang dihasilkan dapat berfungsi secara maksimal dan dipergunakan dengan nyaman oleh para penggunanya.

Lala Purnama Sari menggunakan aplikasi absensi wajah buatan Nur dan tim programmer Pemko Banda Aceh

“Aplikasi-aplikasi buatan Nur dan timnya kami gunakan setiap hari (kerja). Terbantu sekali, terutama Aplikasi Absensi Wajah. Keren lho, di dalam gelap pun fokus terdeteksi, lancar lagi. Pegawai lain masih menggunakan absensi fingerprint. Padahal bahaya sekali selama pandemi begini,” ujar Lala Purnama Sari, salah satu staf CPNS Pemerintah Kota Banda Aceh.  

Aplikasi Absensi dengan fitur face recognition tersebut diakui Lala sangat inovatif dan aman. Cukup menginstal aplikasi melalui gawai, absensi dapat dilakukan secara mandiri melalui perangkat telepon genggam masing-masing dengan menggunakan jaringan kantor. Absensi tersebut membantu mendata sekitar 4.000-an pegawai selama pandemi tanpa menciptakan kerumunan disebabkan antrean, sejak diluncurkan pada bulan Februari 2020.

Selain itu, Aplikasi E-Surat menjadi pilihan aplikasi favorit lainnya bagi Lala. Dengan kehadiran aplikasi tersebut kepengurusan surat-menyurat menjadi lebih efisien. Persetujuan dari pimpinan dapat diakses secara cepat, terlepas di mana pun mereka berada. Bahkan aplikasi tersebut sudah mendapatkan izin resmi dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), selaku badan yang memiliki wewenang atas tanda tangan elektronik.

Menurut keterangan Nur, aplikasi-aplikasi yang mereka ciptakan dapat berjalan efisien sebab telah melalui berkali-kali tahapan evaluasi dan pembaharuan. Sebagai pengguna, Lala tampak mengamini penyataan tersebut. Dia bahkan berharap ke depan tim programing Pemko Banda Aceh juga bisa mengembangkan aplikasi serupa E-Surat yang dikhususkan untuk pendataan Peraturan Walikota (Perwal) dan Surat Keterangan (SK) lainnya. Sehingga kepengurusan berkas-berkas tersebut tidak lagi harus diproses secara manual. Jadi proses kepengurusannya pun lebih efisien.

Nur sedang melakukan proses programming

Bersetuju dengan hal tersebut, lantas Nur mengutarakan harapannya agar ke depan dia mendapatkan kesempatan berkarier di perusahan startup berbasis teknologi. Dia ingin menambah wawasan dan meng-upgrade ilmu pengetahuannya melalui pengalaman lapangan. Dia juga berkeinginan mempelajari bisnis dan manajemen sumber daya manusia secara serius. Nur menyadari bahwa perjalanan cita-citanya masih panjang. Dia masih perlu banyak belajar serta membangun jejaring dengan orang-orang berlatar belakang keilmuan yang lebih beragam. []

Rina Suryani Oktari: Pakar Kebencanaan dan Kontribusinya untuk Publik

2

Berada di jalur cincin api (ring of fire), membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang rentan terhadap bencana, tak terkecuali Provinsi Aceh. Oleh karena itu, penelitian-penelitian tentang kebencanaan tak boleh dilakukan setengah hati. Lebih dari itu, hasil-hasil penelitian yang umumnya dilakukan oleh para ilmuwan harus bisa dikomunikasikan kepada masyarakat dengan “bahasa” orang awam. Hal itulah yang coba dilakukan oleh Rina Suryani Oktari. Ia hadir di masyarakat tidak hanya sebagai peneliti, tetapi juga sebagai bagian dari anggota masyarakat sehingga edukasi yang diberikan bisa mencapai sasaran.

Dr. Rina Suryani Oktari S.Kep., M.Si. salah satu peneliti penting di Tsunami and Disaster Mitigation Research Center atau UPT Mitigasi Bencana Universitas Syiah Kuala. Lembaga yang kini menjadi salah satu Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (iptek) Nasional di kampus berjuluk “Jantông Ate atau Jantung Hati Rakyat Aceh itu”. Akrab disapa Okta, saat saat ini dia menjabat sebagai Koordinator Klaster Riset Pendidikan dan Penanggulangan Bencana. Selain disibukkan dengan berbagai aktivitas riset terkait kebencanaan, sehari-hari Okta juga disibukkan dengan mengajar di Fakultas Kedokteran. Ia mengajar sembilan mata kuliah dan lima di antaranya berkaitan dengan kebencanaan.

Kamis, 7 Oktober 2021 lalu, Okta menyambut ramah kedatangan saya di TDMRC yang baru saja pindah ke gedung baru di Kompleks Universitas Syiah Kuala di Darussalam. Sebelumnya masih berkantor di gedung yang ada di kawasan pesisir Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa. “Yuk, kita ke ruangan saya, tapi ini masih kosong, masih pindah-pindah barang dari kantor lama,” katanya.

Hari itu Okta mengenakan seragam TDMRC berupa setelan atasan biru dengan bawahan hitam. Ruangannya ada di sisi kiri lobi. Masih kosong melompong karena belum ada perabotan apa pun selain tiga meja berikut kursinya. Sedangkan di lobi, “napas” lembaga penelitian itu mulai terasa lewat pajangan maket rumah tahan gempa dan sejumlah partisi berlapis poster hasil riset kebencanaan. “Di sinilah sehari-hari saya beraktivitas kalau tidak mengajar,” ujarnya.

“Berawal dari tsunami 2004 silam,” Okta memulai kisahnya ketika kami sudah duduk dengan nyaman, “saat itu saya masih berstatus mahasiswi di Fakultas Keperawatan UI, lalu bencana gempa bumi dan tsunami terjadi di Aceh. Karena saat itu saya aktif di BEM UI, tiga hari setelah bencana itu saya dan sejumlah teman dari UI dikirim ke Aceh sebagai relawan,” lanjutnya.

Kehendak untuk menjadi relawan ke Aceh itu bukan hanya karena terdorong oleh naluri kemanusiaan saja, tetapi karena ayahnya saat peristiwa alam itu terjadi sedang berada di Aceh. Ayah Okta asli Aceh, tetapi karena pekerjaannya sebagai pegawai BUMN di PT Pos Indonesia membuatnya sering pindah-pindah tugas dan terakhir ditempatkan di Jakarta. Ibunya berasal dari Bandung dan juga pegawai BUMN di perusahaan yang sama. Namun, beberapa tahun sebelum tsunami, ayahnya mengambil pensiun dini demi mengurus perkebunan keluarga di Aceh. Okta sendiri lahir di Bandung. Meski saat kelas empat SD hingga kelas tiga SMP bersekolah di Aceh, tetapi kemudian melanjutkan pendidikannya di Jakarta hingga masuk Universitas Indonesia di Fakultas Keperawatan.

“Saat tsunami itu ayah di Aceh, sedangkan ibu, saya, dan saudara yang lain semua di Jakarta. Ini yang menguatkan niat saya untuk ke Aceh, sekalian mencari ayah. Namun, kepergian saya itu tanpa sepengetahuan Ibu, kalau minta izin pasti tidak diizinkan, tetapi saya konsultasi pada kakak-kakak saya dan mereka tahu, saya jadi relawan ke Aceh,” kata perempuan kelahiran Bandung, 12 Oktober 1983 itu.

Tim relawan UI berangkat ke Aceh dengan pesawat Garuda pada pukul tiga dini hari, sehari sebelum pergantian tahun baru. Setibanya di Aceh, mereka langsung melakukan apa pun yang bisa dilakukan di lokasi bencana; mengevakuasi jenazah, membersihkan rumah sakit, mendatangi kamp-kamp pengungsian untuk melakukan apa yang memungkinkan dalam kondisi tanggap darurat. Dua minggu kemudian tugas mereka di Aceh selesai dan kembali ke Jakarta.

Namun, siapa sangka, keputusan yang diambil Okta 17 tahun silam itu telah mengubah haluan hidupnya secara drastis. Selama itu pula ia telah menetap di Aceh dan membangun kariernya sebagai dosen dan peneliti. Ia pun menemukan belahan jiwanya di Aceh.

Okta sering merasa takjub pada perjalanan hidupnya. Dia yang tidak pernah membayangkan bakal menjadi seorang dosen, malah kini berkecimpung di ranah akademik. Lebih-lebih, dia juga tak pernah berpikir bisa menjadi seorang peneliti, khususnya terkait kebencanaan. Namun, gempa dan tsunami Aceh yang menjadi bencana alam terdahsyat abad ini momentum penting bagi Okta.

Bungsu dari tiga bersaudara itu tercatat sebagai mahasiswi tingkat akhir di Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia saat gempa dan tsunami memorakporandakan Aceh pada 26 Desember 2004. Karena terkendala satu mata kuliah umum yakni Kewiraan, Okta yang seharusnya bisa lulus 3,5 tahun jadi molor satu semester. Karena MK Kewiraan tidak dibuka pada semester pendek, terpaksa Okta menunggu semester ganjil berikutnya. Di masa-masa “luang” itu, dia kembali teringat pada Aceh. Waktu dua minggu sebelumnya dirasa terlalu singkat untuk membantu warga yang sedang dilanca bencana. Berdasarkan informasi seorang teman, dia pun melamar sebagai health officer di Islamic Relief, salah satu NGO yang terlibat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh pascatsunami. Dengan bekal kemahiran berbahasa Inggris dan ilmu keperawatan—meskipun belum lulus kuliah—Okta diterima di NGO tersebut.

Saat semester ganjil tiba dan Okta kembali mengulang MK Kewiraan, dia yang sering bolak-balik Aceh untuk bekerja jadi terbentur dengan jadwal kehadiran yang tidak memenuhi angka 80 persen sehingga tidak lulus ujian. Teman-temannya mencandai dia dengan terkena “kutukan” MK Kewiraan.

“Nah, saat sedang sedih-sedih itulah saya bertemu dengan ketua Program Studi Keperawatan di FK USK, saat itu Jurusan Keperawatan belum menjadi fakultas seperti sekarang. Akhirnya saya pindah dari UI ke USK sehingga saya lulus sebagai alumnus USK,” ujar pengampu mata kuliah Knowledge Management untuk Pengurangan Risiko Bencana itu.

Setelah bekerja di Islamic Relief, Okta mendapatkan berbagai pelatihan tentang kebencanaan. Aktivitasnya sehari-hari yang bergiat langsung di lapangan dan berinteraksi dengan masyarakat penyintas bencana, membuat ibu tujuh putra-putri ini semakin bertambah pengetahuannya tentang kebencanaan dan humanitarian response. “Inilah yang menjadi motivasi saya hingga akhirnya bergelut sepenuhnya di kebencanaan, sebelum tsunami buta sekali tentang kebencanaan,” kata Okta yang telah melanglang buana ke empat benua untuk berbagi maupun belajar kebencanaan.

Tahun 2010, Okta bekerja di TDMRC sebagai Knowledge Dissemination Specialist untuk program Disaster Risk for Aceh (DRR-A). TDMRC dibentuk pada 30 Oktober 2006 oleh USK sebagai sumbangsih kampus dalam rekonstruksi Aceh akibat dampak bencana yang sangat dahsyat. Okta lantas dipercayakan untuk menangani berbagai diseminasi hasil riset dan kehumasan.

Di tengah perjalanan, TDMRC menginisiasi lahirnya Program Pascasarjana Kebencanaan. Hal ini memicu semangat Okta untuk melanjutkan program masternya di Ilmu Kebencanaan. Meski terkesan “banting stir” dari S-1, tetapi Okta sudah kadung jatuh cinta pada kebencanaan. Dia merupakan angkatan pertama di PPs Ilmu Kebencanaan USK. Tahun 2014, hanya berselang bulan setelah lulus S-2 pada 2013, Okta mulai meniti karier sebagai dosen di FK USK. Pada tahun itu pula, dia berhasil memperoleh fellowship Pan Asia Risk Reduction (PARR) Program di Universitas Kyoto, Jepang, yang disponsori oleh STAR Inc. Kyoto University.

Pengalaman ini sangat berharga baginya karena bisa langsung belajar dari ahli kebencanaan dunia di Jepang, Rajib Shaw, yang berasal dari India dan telah menetap di Jepang. Setidaknya ada 13 fellowship maupun program serupa lainnya, serta penghargaan yang telah diterimanya terkait kebencanaan. Kehausan Okta terhadap ilmu kebencanaan tidak hanya berhenti di situ, pada 2018 lalu Okta kembali mengambil studi S-3 untuk bidang ilmu Matematika dan Aplikasi Sains (dengan konsentrasi Ilmu Kebencanaan). Bidang ilmu ini terpaksa diambil sebagai alternatif karena di USK belum ada program S-3 kebencanaan. Okta resmi menyandang gelar doktor di depan namanya sejak Mei 2021 lalu. Okta lulus cumlaude dengan IPK 4.00 dan masa kuliah hanya 2,9 bulan.

Pengalaman bekerja di beberapa NGO dan lembaga PBB membuka mata Okta tentang apa yang paling substansial dari sebuah peristiwa bencana. Pascatsunami 2004, dalam kegiatan respons kemanusiaan (humanity respons) di berbagai lokasi pengungsian misalnya, Okta melihat sangat penting melakukan upaya mitigasi bencana.

“Kalau sebelum 2004 itu kita tidak siap. Sifatnya masih responsif. Ini yang mendasari saya menulis skripsi tentang manajemen bencana untuk menyelesaikan S-1, saya meneliti dari perspektif studi keperawatan,” katanya. Untuk tesis S-2 dia memilih topik diseminasi dan komunikasi sistem peringatan dini. Sedangkan S-3, topik penelitiannya terkait dengan Kreasi Pengetahuan dan Ketangguhan Masyarakat.

Momentum kedua yang juga tidak pernah dilupakan Okta ialah saat gempa mengguncang Aceh pada 2012 silam. Berkaca dari pengalamannya sendiri, saat itu Okta yang selama ini menganggap dirinya sudah “melek” bencana, tetapi tetap mengalami kepanikan saat gempa terjadi. Konon lagi masyarakat awam yang memang sangat minim pengetahuannya baik terhadap bencana maupun tentang mitigasi bencana. Ini artinya, berbicara tentang kebencanaan tidak hanya cukup berhenti pada teori-teori atau simulasi-simulasi yang dilakukan sesekali saja.

Kegelisahan Seorang Peneliti Perempuan

Berbagai capacity building yang diikutinya baik di dalam maupun luar negeri, membuat Okta semakin mantap di bidang kebencanaan. Namun, ada satu yang selalu mengusik hatinya.

“Saya melihat di berbagai forum yang saya ikuti masih didominasi laki-laki,” katanya, kondisi ini membuat Okta gelisah. Padahal, saat bencana terjadi, dampaknya sering kali dirasakan lebih besar oleh perempuan.

“Perempuan itu sering dilibatkan, tetapi tidak substantif. Oh, misalnya sudah mencapai kuota 30 persen, tetapi apakah benar-benar perempuan itu dilibatkan? Dalam sumbang saran, urun rembuk, jangan-jangan cuma datang saja, suaranya tidak didengar, seringnya ini terjadi dan ini hasil penelitian saya,” katanya.

Penelitian yang dimaksud ialah Gender Mainstreaming in a Disaster Resillient Village Programme in Aceh Province, Indonesia: Toward Disaster, yang telah terindeks Scopus dan dipublikasikan oleh Elsivier pada 2021. Dari sinilah Okta mulai berpikir penting dan perlunya keterlibatan perempuan, baik peneliti maupun praktisi dalam bidang kebencanaan. Atas dasar itulah, meskipun kini aktivitasnya lebih banyak di kampus dan meneliti, Okta tetap terjun untuk melakukan kerja-kerja di masyarakat. Melanjutkan kerja-kerja terdahulu saat masih di NGO. Ini pula yang membuatnya bergabung dengan Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) awal tahun ini dan langsung dipercayakan menjadi sekretaris.

Di lembaga ini para pakar kebencanaan berkumpul, di antaranya Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno M.T., Direktur Pusat Penelitian Penanggulangan Bencana Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta—penerima Sasaka Award dari Yayasan Nippon Jepang. Anggota MPBI bersifat pentahelix sehingga tidak hanya ada akademisi/peneliti saja, tetapi juga ada unsur pemerintah, masyarakat, dan usahawan. Komposisi anggotanya memang lebih inklusif dibandingkan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia yang lebih dulu diikuti oleh Okta. Bagi Okta suatu kehormatan dirinya yang baru beberapa bulan bergabung di MPBI, tetapi sudah dipercayakan menjadi sekretaris.

“Kita tidak mau keberadaan kita (perempuan) hanya sebatas fisik, tetapi substansinya juga harus ada. Alhamdulillah, teman-teman di MPBI ini kritis-kritis. Ini menjadi wadah baru bagi saya untuk menambah pengalaman dan pengetahuan,” katanya.

Tak ingin pintar sendiri, Okta juga mengajak mantan Dewan Pengarah Badan Penanggulangan Bencana Aceh, Risma Sunarti, dalam MPBI.

“Selama ini kebencanaan sangat Jawasentris, ya, jadi harapannya dengan adanya saya di MPBI, saya ingin ajak pakar-pakar kebencanaan di Aceh untuk bisa terlibat di organisasi itu. Saya melihat organisasi ini unik karena anggotanya dari berbagai elemen.”

Dia ingin, dengan adanya Okta di MPBI, akan membuat orang-orang di luar sana teringat kembali bahwa selama ini Aceh menjadi “laboratorium” bencana bagi banyak orang. Itu seharusnya menjadi acuan untuk melakukan kajian-kajian kebencanaan di berbagai daerah lainnya.

“Sekarang ini sedang ada riset tentang tsunami Selat Sunda, saya bilang kepada mereka di Aceh banyak pembelajaran yang mungkin bisa dipetik untuk daerah lain.”

Terlibat Inisiasi Rancangan Qanun Pendidikan Kebencanaan

Bagi Okta, aktif dalam kegiatan riset merupakan usahanya untuk merawat pengetahuan. Sekaligus evaluasi tentang kondisi kesiapsiagaan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan kata Okta, sifatnya dinamis, bisa naik turun seiring dengan perubahan sosial, ekonomi, bahkan politik.

Berkaca dari tsunami 2004 ujar Okta, berdasarkan hasil recovery assesmen-nya diketahui jika masyarakat Banda Aceh sudah tidak mempertimbangkan lagi bahaya tsunami. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya bermunculan tempat tinggal baru di kawasan pesisir yang rawan tsunami. Ini baru hitungan belasan tahun, bagaimana nanti setelah 25 tahun? Pertanyaan ini selalu menggelitik ruang batinnya.

“Jangan-jangan nanti generasi mendatang sudah lupa kalau tsunami besar 2004 pernah terjadi di Aceh, itu akan sangat disayangkan. Makanya, saya sangat serius mengkaji tentang knowledge creation sehingga saat bencana terjadi tindakan yang dilakukan bisa tepat,” kata fasilitator nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana itu.

Pada 2016 lalu, Okta juga termasuk salah satu anggota Satuan Tugas Pemulihan Gempa Pidie Jaya. Di pengujung kerja mereka di kabupaten itu, tim ini merekomendasikan kepada Pemerintah Aceh untuk melahirkan qanun atau peraturan daerah tentang pendidikan kebencanaan. Sebagai Koordinator Klaster Riset Pendidikan dan Penanggulangan Kebencanaan di TDMRC, Okta tentu saja menjadi juru kunci dalam melahirkan naskah akademik perda tersebut.

Rekomendasi itu bukan sembarang rekomendasi, semuanya berdasarkan hasil temuan di lapangan yang tidak sebentar. Juga berdasarkan hasil-hasil riset yang dilakukan Okta selama ini, intinya, dengan kondisi Aceh yang rawan bencana, sangat diperlukan adanya peraturan daerah tentang pendidikan kebencanaan. Idealnya, perda ini nantinya tidak hanya mengatur pada tata laksana penanganan mitigasi bencana di instansi atau lembaga formal saja, tetapi juga di sektor-sektor informal, seperti perusahaan.

Okta sangat bersemangat sekali dalam menyiapkan draf akademik perda ini. Tim ini juga melibatkan dosen-dosen di luar TDMRC dengan kepakaran berbeda-beda, seperti bidang pendidikan dan hukum. Pada Desember 2020 lalu, rancangan perda ini diparipurnakan di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Selanjutnya dibawa ke Kementerian Dalam Negeri untuk dikonsultasikan dengan pemerintah pusat. Namun, betapa kecewanya Okta saat tahu bahwa pihak Kemendagri mengatakan jika perda itu tidak dibutuhkan karena sudah ada Perda tentang Kebencanaan di Aceh. Sementara, menurut penilaian Okta, perda yang sudah ada masih sangat umum, tidak mengatur secara spesifik dan substantif perihal mitigasi dan edukasi bencana.

“Perjalanan penyusunan naskah akademik qanun (perda) ini sangat panjang, tetapi ketika difasilitasi ke Kemendagri malah diminta untuk dihentikan, sedihnya luar biasa,” matanya berkaca-kaca saat mengatakan itu.

Esensi dari perda ini, di antaranya mengatur tentang kepastian upaya pendidikan kebencanaan yang sistematis, berkelanjutan, dan tersruktur. Tidak sporadis seperti yang selama ini berjalan.

“PR untuk pendidikan kebencanaan ini banyak, perlu disiapkan sumber daya manusianya, kurikulum pendidikan, juga bisa diterapkan di sektor formal dan informal. Ini berat, tapi kita harus mulai, tetapi ketika kita sudah memulai dimentahkan lagi, sedihnya luar biasa, enggak tahu harus bilang apa. Padahal, kalau qanun ini disetujui, ini akan menjadi perda pertama di Indonesia dan selanjutnya bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” ucap Okta dengan suara bergetar.

Pengalamannya sebagai fasilitator nasional, sering menemukan jika kegiatan-kegiatan yang dilakukan pemerintah selama ini masih berbasis pada proyek, polanya dari atas ke bawah, bukan karena kebutuhan masyarakat. Bahkan kata Okta, secara vulgar ia pernah menemukan ada anggota pelatihan yang berceletuk, “Inikan untuk habisin anggaran.”

Mendengar ucapan itu jiwa Okta diliputi kesedihan, tantangan dalam mengedukasi masyarakat tentang mitigasi bencana masih sangat besar. Namun, kenyataan bahwa kerja kerasnya dalam menyusun naskah akademik yang menghabiskan waktu bertahun-tahun sejak 2016 ditolak oleh pemerintah pusat, lebih bikin nelangsa. Yang lebih disesalkannya lagi, ternyata ketika proses konsultasi ke Kemendagri itu, dirinya sebagai “kuncen” perancang naskah akademiknya malah tidak dilibatkan. Tahu-tahu mendapat kabar telah ditolak.

Namun, selalu ada jalan menuju Roma. Semangat tak boleh putus. Dia masih bertekad untuk memperjuangkan agar perda ini bisa diterima. “Ini tantangan banget, sekarang yang kita coba, ya tetap harus terus lalukan advokasi bahwa ini penting,” ujar penerima penghargaan Young Scientist – Integrated Research on Disaster Risk International, Bejing, Cina, pada 2019 lalu ini.

Fokusnya ke depan ialah terus melahirkan agen-agen perubahan yang bisa bergerak di masyarakat melalui komunitas Fasilitator Tangguh Bencana (FASTANA) yang dibentuknya pada 2015 untuk mendukung kerja-kerja TDMRC. Komunitas ini lahir sebagai implementasi communicating science yang menjadi jargonnya TDMRC. Melalui para relawan Fastana inilah penelitian-penelitian berbasis sains yang ditelurkan di TDMRC dikomunikasikan ke masyarakat. Uniknya, meski TDMRC notabenenya merupakan lembaga milik USK, tetapi anggota Fastana berasal dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Banda Aceh seperti USK, UIN Ar-Raniry, dan lain-lain.

Komunikatif dan Mengayomi

Dr Rina (tengah depan) bersama Imam (kiri depan) dan kawan-kawan di Bali pada 2019

Okta tidak hanya berkolaborasi dengan kolega sesama dosen saja, dia juga kerap melakukan penelitian dengan mahasiswanya. Adalah Imam Maulana, mahasiswa Okta di Fakultas Kedokteran yang telah merasakan buah manis hasil kolaborasi dengan Okta. Mahasiswa angkatan 2015 itu bisa menyandang gelar sarjana kedokteran tanpa perlu melewati proses Kuliah Kerja Nyata dan tanpa skripsi pula. Semua itu bisa terwujud setelah kerja kerasnya menggodok proposal Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat untuk dipertandingkan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-32 di Yogyakarta pada 2018. PKM tersebut berhasil meraih medali emas dan didanai oleh Kemenristekdikti.

Pertengahan 2018, Imam bergabung dengan Fasilitator Tangguh Bencana (FASTANA-TDMRC) memenuhi ajakan temannya, Hafizh Rizky, yang saat itu menjabat sebagai salah satu pengurus FASTANA-TDMRC. Sampai saat itu dia masih belum tahu kalau Okta yang mengampu mata kuliah Kebencanaan di FK adalah pembina organisasi tersebut. Lazimnya anggota baru, Imam pun mendapatkan pembekalan bersama anggota lainnya.

“Saya dapat pembekalan tentang kebencanaan, salah satunya tentang smong,” kata Imam.

Smong adalah rentetan sebuah peristiwa alam yang diawali dengan gempa kuat, disusul surutnya air laut, hingga naiknya air laut ke daratan. Smong merupakan istilah sekaligus kearifan lokal masyarakat Pulau Simeulu berdasarkan pengalaman nenek moyang mereka yang pernah mengalami bencana serupa puluhan tahun sebelumnya. Kerarifan lokal ini diwariskan secara turun-temurun melalui syair-syair kesenian nandong. Efeknya, saat tsunami 2004 silam, sangat minim korban jiwa di pulau itu.

Imam lantas mengangkat topik smong ini saat Kemenristekdikti membuka event bergengsi PKM yang dilombakan di Pimnas 2019. Ia juga mengajak rekannya, yaitu Lilla Raswita (FK 2017), Zahratunnisa (FT 2017), Septia Karlina (FKIP 2016), dan Mohd Hafidzh Almukarram (FT 2016) sebagai anggota tim. Buah pikir Imam lantas dikemas menjadi Paket Edukasi Bencana yang Islami (PECI) & Paket Kesenian Mitigasi Bencana (PASMINA) yang diadaptasi dari nandong smong.

“Setelah ide ada, selanjutnya saya mencari dosen pembimbing dan pilihan saya jatuh pada Bu Okta karena beliau dosen saya di kampus, sejak itulah komunikasi kami menjadi intens, apalagi tidak lama setelah itu terjadi pergantian pengurus FASTANA-TDMRC dan saya dipercayakan menjadi ketua periode berikutnya,” ujar Imam.

Di mata Imam, Okta merupakan sosok yang komunikatif dan mengayomi. Hal ini sangat ia rasakan di masa-masa pematangan proposal sebelum di-submit. Setidaknya, ada tiga hal yang membuat Imam berkesan pada sosok Okta. Pertama, dalam memberikan input, Okta sama sekali tidak membebani mahasiswa, dia lebih banyak mengajak mereka berdiskusi dan berbagi ide, alih-alih mendikte mereka dengan ide-idenya. Kedua, komunikasi yang mudah membuat Okta mendapatkan nilai plus dari Imam dan teman-temannya. Misalnya, meskipun proyek yang sedang mereka garap adalah aktivitas akademik, tetapi Okta bersedia dihubungi kapan saja, tak terkecuali di malam hari. Ini yang membuat Imam dan tim semakin bersemangat dalam menggodok ide-idenya. Sebuah privilege. Terakhir, sistem bimbingan berjenjang yang membuat Imam juga mendapat kepercayaan untuk “membimbing” dua rekannya. Ketika Imam sudah merasa mentok, barulah mereka berdiskusi dengan Okta.

“Hingga akhirnya, ketika proposal akan di-submit, kami duduk bareng, kami review lagi untuk yang terakhir kali, baca sama-sama, pake proyektor juga, sampai ke struktur kalimatnya kami telaah bersama. Kontribusi beliau sebagai pembimbing itu nyata, kami betul-betul dapat pembimbing, bukan pengawas,” ujar alumnus Fatih School Bilingual Banda Aceh itu.

Sembari menunggu pengumuman PKM, Okta juga mengajak Imam dan timnya terlibat dalam proyek-proyek penelitiannya. Bahkan, kata Imam, saking besarnya dukungan Okta kepada mereka, meskipun mereka mahasiswa, tetapi tetap dipercayakan sebagai first author, bahkan Okta rela mengeluarkan kocek pribadi dalam jumlah yang besar untuk memublikasikan penelitian mereka di jurnal ilmiah. Jadi, meskipun Imam saat itu masih mahasiswa, tetapi berkat bimbingan Okta, sudah menghasilkan sejumlah paper.

“Prinsip yang selalu beliau ajarkan ke kami, lakukan dulu, jangan tunggu sempurna, jangan sampai karena ingin sempurna malah tidak melakukan apa-apa.”

April 2019 menjadi bulan yang sangat berarti bagi Imam dan timnya. Pasalnya, proposal yang di-submit pada Desember 2018 diumumkan di bulan ini dan ternyata hasilnya sesuai harapan. PKM tersebut didanai oleh Kemenristekdikti. Ide ini lantas dilombakan di Pimnas ke-32 yang berlangsung di Universitas Udayana Bali. Tim Imam berhasil memecahkan rekor dan mempersembahkan medali emas untuk USK. Selama 32 tahun acara bergengsi itu dihelat, Imamlah yang pertama kali mempersembahkan medali emas tersebut. Dua prestasi ini yang membuat Imam bebas KKN dan bebas skripsi untuk pendidikan S-1.

Berkat prestasi ini Imam mendapatkan penghargaan dari Plt Gubernur sebagai salah satu dari 10 Pemuda Aceh Berprestasi 2019. Selain itu juga mengantarkan Okta mendapatkan penghargaan sebagai Dosen Pendamping PKM-M pada Pimnas ke-32 2019 dari Kemenristekdikti.

“Bagi saya pribadi, prestasi itu menjadi ‘penutup’ yang manis bagi saya dalam memperoleh gelar sarjana kedokteran,” ujar pemuda angkatan 2015 itu.

Sebenarnya, kata Imam, dia tergolong mahasiswa “angkatan tua”. Untuk angkatan dia idealnya lulus 3,5 tahun dan sudah selesai masa studi pada tahun 2019. Namun, karena Imam telat satu semester, dia tidak ingin masanya di kampus berakhir sia-sia, apalagi Imam juga aktif di organisasi. “Saya tidak ingin orang menilai saya terlambat selesai karena dikira aktif di organisasi, ketika akhir di kampus ditutup dengan bagus, itu akan mengubah imej orang,” katanya.

Bagi Imam sendiri, keberhasilannya di PKM ini bisa dibilang menakjubkan. Ia baru tahu jika event tersebut merupakan ajang bergengsi karena memperlombakan banyak cabang. Namun, yang lebih membuatnya terkejut ialah ternyata ada juga ajang pengabdian yang dilombakan. Pasalnya, ketika masih SMA, Imam tergolong siswa yang senang ikut berbagai olimpiade, tetapi begitu dia menjadi mahasiswa aktivitasnya berbalik arah dan lebih banyak bergiat di sosial. Ini pula yang menjadi alasannya aktif di berbagai organisasi kampus, salah satunya FASTANA di bawah naungan TDMRC.

Namun, yang lebih membuatnya bahagia ialah prestasi yang ia raih akan memberi dampak bagi mahasiswa lain nantinya. Mahasiswa lain yang ingin lulus tanpa KKN dan skripsi bisa mengikuti jejak yang telah dilakukan Imam. Dia pada akhirnya juga menjadi “buah bibir” di kalangan dokter yang bertugas di RSUZA.

Lahirnya Rakan Smong

Pelatihan Kesiapsiagaan di MAS Darul Hikmah dalam acara Disaster Resillience Festival 2021

Imam sudah lulus sebagai sarjana kedokteran dan sedang menjalani program co-ass di Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh. Dia pun tak lagi bergiat di FASTANA-TDMRC karena sudah menjadi alumni. Namun, berkat interaksi dan bimbingan Okta selama ini, membuat Imam menduplikasikan ilmu-ilmu tentang kebencanaan yang diperolehnya selama di FASTANA-TDMRC.

Kini Imam dipercayakan menjadi Direktur Eksekutif Generasi Aneuk Nanggroe Aceh atau GEN-A.  Di organisasi ini dia membentuk Rakan Smong sebagai divisi khusus untuk menjalankan berbagai kegiatan terkait sosialisasi kebencanaan.

Baru-baru ini, Rakan Smong GEN-A bersama empat komunitas pemuda lainnya baru saja menyelenggarakan pelatihan kesiapsiagaan bencana gempa bumi dan tsunami untuk siswa SMA/sederajat di tiga sekolah di Banda Aceh dan Aceh Besar dalam acara Disaster Resillience Festival 2021.

“Kegiatan ini melibatkan empat puluh peserta di empat sekolah itu,” kata Imam, “pelatihan ini akan berlangsung setiap Sabtu selama Oktober—November sebagai bagian dari peringatan bulan Pengurangan Risiko Bencana pada bulan Oktober,” katanya.

Ketiga sekolah tersebut, yaitu MAS Darul Hikmah Aceh Besar, SMA 1 Banda Aceh, dan SMA 13 Banda Aceh. Sekolah ini dipilih beberapa faktor, di antaranya pertimbangan tingkat kerentanan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami.

“Ketiga sekolah ini juga berada di zona merah tsunami dan memiliki riwayat terdampak gempa bumi,” ujarnya.

Okta memang masih gundah gulana karena draf perda pendidikan kebencanaan yang dirancangnya hingga saat ini masih belum jelas nasibnya. Namun, kejerian itu seolah seperti mendapatkan pelipur saat dia teringat pada kader-kader muda seperti Imam yang bisa menjadi estafet berikutnya. Ia selalu meyakini investasi yang selalu mendatangkan keuntungan dan kebaikan adalah berinvestasi pada ilmu pengetahuan dan manusia.[]

Cut Murnita; Sepenuh Hati Memberdayakan Disabilitas Psikososial

“Relawan itu sederhana, yang selalu berjuang dalam kebaikan. Jika kebaikan adalah penawar sedihnya, maka keikhlasan adalah pencapaian hidupnya.”

Cut Murnita, perempuan kelahiran Aceh Timur, 39 tahun silam ini lebih senang menyebut dirinya sebagai relawan lepas. Dengan begitu, Cut bisa melakukan banyak hal khususnya di bidang lingkungan dan pendampingan sosial. Jiwa relawan yang melekat pada Cut tidak usah diragukan lagi karena tidak perlu disuruh, kala hatinya sudah tersentuh. Bagi Cut apa yang ia lakukan itu adalah sebuah tabungan amal selama hidup di bumi. 

Perempuan yang akrab disapa dengan nama Putroe Julok (Putri Julok)—merujuk pada kampung halamannyaoleh teman-temannya ini, pernah menjadi relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Ranting Dewantara Aceh Utara pada tahun 2003. Kemudian di akhir tahun 2005, Cut bergabung di PMI Banda Aceh sebagai tim asesmen, distribusi, dan evakuasi. Lalu di 2006, Cut bergabung di tim ambulans PMI Aceh sampai 2013.  

Tidak hanya menjadi relawan PMI, Cut juga menjadi bagian tim Reaksi Cepat Tanggap (RCT) Aceh Utara selama 2003—2004. Kemudian pada Februari 2005, ia bergabung menjadi relawan Dompet Dhuafa untuk memberi bantuan korban tsunami Aceh. Khususnya menjadi pendidik di sekolah Ceria Dompet Dhuafa.

“Di sini kita membantu pemulihan psikis anak-anak yang trauma akibat dampak tsunami. Kita ajak mereka bermain dan belajar bersama. Selama tujuh bulan lamanya saya tinggal di pengungsian menjadi relawan. Kita tidak digaji, hanya diberi uang jatah makan setiap hari. Namun, pengalaman itu menjadi bagitu berharga bagi saya. Itulah yang bisa saya lakukan di situasi sulit masa itu,” ujar Cut saat diwawancarai pada Minggu, 26 September 2021.

Definisi relawan menurut Cut tidak terbatas pada si laki-laki atau perempuan, si jarak yang jauh atau dekat, dan si pintar atau tidak. “Relawan itu sederhana yang selalu berjuang dalam kebaikan. Jika kebaikan adalah penawar sedihnya, maka keikhlasan adalah pencapaian hidupnya. Bahagia pun juga sederhana, hanya senyum dari langit, bumi, dan seisinya,” ungkap perempuan yang hobi memancing dan bersepeda ini. Maka dari itu, setiap kegiatan baik yang menurutnya bisa dilakukan, ia siap menjadi relawan tanpa berharap bayaran.

Cut pernah terlibat dalam aksi penanaman 13 ribu pohon yang ada di Banda Aceh dan sekitarnya. Kegiatan ini digagas oleh Museum Tsunami Aceh dalam rangka memperingati 13 tahun tsunami Aceh pada tahun 2017. Cut yang ditunjuk sebagai koordinator lapangan saat itu, mengayomi 800 relawan yang turut terlibat dalam aksi penanaman pohon tersebut. Di sinilah ia menemukan teman-teman yang sevisi dengannya hingga terbentuklah perkumpulan relawan tanpa nama.

“Setelah kegiatan penanaman pohon yang digagas oleh Museum Tsunami itu, kami relawan ini tetap terhubung dan saling berkomunikasi. Jadi bila ada ide dari salah satu relawan, kita langsung gerak. Walau tidak ada yang mensponsori, kami tetap jalan, bahkan tak jarang menggunakan duit pribadi untuk membeli bibit.”

Cut mengaku bahwa kegiatan yang dilakukannya bersama teman-temannya itu, hanya sekadar bersenang-senang sambil beramal untuk masa depan. Jadi, setiap orang akan membawa satu pohon yang akan ditanam ke lokasi-lokasi yang mereka tentukan. Harapan mereka, pohon-pohon itu nantinya bisa tumbuh besar dan menjadi sumber udara bersih bagi kehidupan yang akan datang. Kegiatan ini mereka namai dengan ­clean up day.

Ide penanaman pohon ini mereka lakukan secara swadaya tanpa ada embel-embel di belakangnya. “Bila kita tidak mampu bersedekah dengan uang, maka bersedekahlah dengan pikiran, tenaga, dan menanam pohon. Paling tidak itu bisa menjadi tabungan amal kita di masa depan.” Pesan itu Cut dapat dari salah seorang teman relawannya yang kala itu membantu dirinya membawa bibit untuk ditanam di salah satu lokasi penanaman pohon.

“Waktu itu saya beri uang 50 ribu ke dia untuk isi bensin motornya. Namun, relawan yang bernama Reza ini menolaknya dengan halus dan menyampaikan kalimat tersebut kepada saya. Satu bulan setelah itu, dia pun meninggal dunia. Kalimatnya itu benar-benar mejadi pelajaran dan tertanam dalam ingatan saya. Jadi, setiap kali saya diminta untuk melakukan sesuatu secara sukarela, saya iyakan saja, selama itu berhubungan dengan lingkungan dan sosial, kenapa tidak?” ungkap Cut mengenang salah satu teman relawannya.

Pendamping Orang dengan Disabilitas Psikososial

Pada tahun 2018, Cut mulai bekerja di Forum Bangun Aceh (FBA) menjalankan program Aceh Comprehensive Community Mental Health (ACCMH) sebagai staf lapangan untuk pendampingan orang dengan disabilitas psikososial (ODDP). Di sini ia ditugaskan mendampingi tujuh ODDP di wilayah Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Selama pendampingan itu, Cut mengajarkan mereka berbagai keterampilan seperti menjahit, membuat kerajinan berupa tas, dompet, dan totebag kepada orang dampingannya. Khususnya ODDP yang sudah mandiri dan bisa diajarkan kreativitas. Salah satunya ialah Darma, warga Gampong Lam Alu Cut yang menjadi dampingan Cut Murnita.

Darma mengalami gangguan jiwa setelah tamat dari pesantren setingkat SMP. Ia pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh tahun 2017. Setelah sembuh, beberapa bulan kemudian Darma kambuh lagi dan dimasukkan kembali ke RSJ sampai tiga kali bolak balik. Hingga akhirnya di tahun 2019 Cut mulai mendampingi Darma. Selain itu, ada Bu Fatimah dan beberapa ODDP lainnya yang didampingi oleh Cut.

“Pendampingan ini sifatnya bukan memaksa karena kalau kita paksakan apa maunya kita terhadap mereka, tidak akan berhasil. Kita yang harus mengikuti alurnya mereka. Analisa dulu kebutuhan mereka, cari kemampuan positif yang bisa diberdayakan. Berikan pemahaman tentang kondisi mereka yang membuatnya menerima keadaan dan kenyataan. Sebab, ada ODDP yang tidak menerima bahwa mereka mengalami gangguan jiwa. Apalagi stigma yang melekat pada masyarakat menjadi penghambat untuk mendapatkan pengobatan. Di sinilah peran kami untuk memberi pemahaman dan dukungan kepada lingkungan sosial ODDP,” jelas Cut.

Persoalan kesehatan jiwa merupakan masalah yang krusial. Sebab, bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat, mereka yang mengalami gangguan tersebut bisa kembali rileps dan kambuh walau telah mendapatkan pengobatan dan perawatan. Tak jarang mereka yang sudah pernah dirawat di RSJ seperti Darma, kembali kambuh sakitnya ketika berada di tengah keluarga. Oleh karena itulah dibutuhkan pendampingan sosial, ekonomi, dan religi agar mereka tetap berada di koridor sehat jiwa.

Inilah tugas Cut, yaitu mendamping para ODDP agar mereka tetap sehat jiwa dan bisa produktif dalam kehidupanya. Setiap hari Cut yang tinggal di Darussalam, Banda Aceh harus pergi ke rumah-rumah ODDP untuk memantau perkembangan mereka. Kemudian menganalis apa yang menjadi kebutuhan mereka untuk dibantu dan diajarkan keterampilan sesuai dengan kemampuan ODDP. Di antaranya ada yang mampu menjahit seperti Darma akan dilatih kembali keahlian tersebut untuk mengisi kegiatan mereka. Bagi yang mempunyai keahlian berkebun akan diberikan modal usaha berupa bibit untuk bercocok tanam.

Selain itu, para ODDP ini juga diberikan motivasi dan terapi religi dengan mendatangkan psikiater dan ustaz atau ustazah. Mereka juga dilibatkan dalam kegiatan sosial dan kelompok dengan membuat pertemuan di Balai Rehabilitasi Kesehatan Jiwa yang ada di Puskesmas Kuta Baro. Keluarga dari ODDP juga dilibatkan dalam pengasuhan dengan memberikan pemahaman tentang kesehatan jiwa. Berharap mereka bisa mendampingi dan membantu pemulihan anggota keluarganya yang mengalami masalah kejiwaan.

Resign untuk Membangun Baluem Tanyoe

Dua tahun bekerja di FBA, Cut memutuskan untuk resign dari lembaga ini. Bukan berarti ia juga berhenti dari aktivitasnya, justru ia semakin terhubung dengan orang-orang yang didampinginya dengan membangun wadah yang diberi nama Baluem Tanyoe. Nama yang diambil dari bahasa Aceh ini mempunyai arti ‘tempat kita’ merupakan wadah yang dijadikan sebagai tempat penampung dari hasil kerajinan dan produk yang dihasilkan oleh ODDP dan keluarganya. Melalui Baluem Tanyoe, Cut kemudian memasarkan produk mereka hingga mendatangkan penghasilan untuk membantu perekonomian mereka.

Cut tidak sungkan memasarkan produk ODDP dampingannya ke teman-teman. Bahkan dia siap menjadi agen distributor untuk mereka. Seperti hasil kebun sayur Bu Fatimah, ia bantu menjualkannya di pasar, bahkan hasil dari penjualan sayur tersebut dapat membantu Bu Fatimah merenovasi rumahnya. Dan yang terpenting ialah gangguan jiwa yang dialami Bu Fatimah tidak pernah kambuh lagi. Padahal sebelumnya ia harus bolak balik ke RSJ untuk mendapatkan perawatan.

Siti yang merupakan adik ODDP Darma juga merasakan manfaat dari pendampingan ini. Ia dulu yang hanya berperan sebagai pendamping Darma saat ada kegiatan yang dibuat oleh Cut dan Puskesmas Kuta Baro, kini telah menjadi kader jiwa. Cut lah yang mengusulkan agar kader jiwa diambil dari keluarga ODDP. Tidak hanya itu, Siti juga dibekali dengan pemahaman tentang kesehatan jiwa dan berbagai keterampilan, seperti menjahit, pemasaran, kepemimpinan, media sosial, dan sebagainya.

Kegiatan pelatihan menjahit tas dan dompet untuk ODDP dan keluarganya

Siti juga sering dilibatkan dalam berbagai macam pelatihan, baik yang diadakan di puskesmas, FBA, dinas kesehatan, instansi pemerintahan, dan komunitas. Cut berharap Siti menjadi agen perubahan di gampongnya yang nantinya bisa membantu orang-orang di sekitarnya dan menjadi pengurus Baluem Tanyoe. Di kampungnya, Siti orang yang pertama turun tangan apabila ada masalah pada ODDP. Misalnya menfasilitasi mereka untuk mendapat obat atau menghubungi petugas puskesmas apabila ada ODDP yang kambuh. Selain itu, ia dan Darma juga dilibatkan dalam membuat pesanan tas dan totebag jika Cut mendapat orderan dari pelanggan.

“Baru pertama belajar menjahit langsung mendapat orderan dari Kak Cut. Rasanya senang sekali bisa menghasilkan uang dari usaha sendiri. Alhamdulillah cukup membantu perekonomian kami. Saya sangat bersyukur dengan kehadiran Kak Cut, bisa membantu keluarga kami. Dan saya pun juga punya kegiatan produktif yang menghasilkan uang sekarang,” ujar Siti saat dijumpai di rumahnya, pada Minggu 26 September 2021.

Begitu pula dengan Darma yang tidak pernah lagi kambuh. Selain menerima orderan pesanan dompet dan totebag, ia juga menjadi sebagai pengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Hanya saja aktivitas Darma harus diimbangi dengan kondisi fisiknya. Jika Darma tidak sanggup mengerjakan pesanan, Sitilah yang mengambil alih tugasnya.

“Itu sebabnya untuk pendampingan ODDP ini harus dibarengi dengan pendampingan keluarga. Saya pun bila ada pesanan dari orang, tidak melimpahkan semuanya ke Darma. Namun, menanyakan lagi berapa kesanggupan dia,” sambung Cut.

Dan yang terpenting dalam pendampingan ini, Darma sudah mengenal kondisi tubuhnya dan menyadari bahwa dirinya mengalami masalah kejiwaan. Ia pun juga selalu rutin meminum obat, berbeda dengan dulu yang tidak mau meminum obat sama sekali.

“Jadi, semua obat jiwa itu saya hafal namanya kecuali yang enggak ada nama. Sekarang dosis obat untuk saya sudah dikurangi, cuma sebelah-sebelah aja minumnya. Paling ketika saya tidak bisa tidur, saya akan minta diresepkan obat kepada perawat di Pusekesmas,” sambut Darma ketika kami membicarakan tentang dirinya.

Keluarga Darma dan Bu Fatimah adalah contoh kecil yang mendapatkan manfaat dari pendampingan ODDP yang dilakukan Cut. Dengan adanya wadah Baluem Tanyoeini Cut ingin menyasar lebih luas para ODDP dampingannya. Saat ini dia hanya fokus pada ODDP yang ada di Gampong Lam Alu Cut, Kuta Baro, Aceh Besar. Sebab menurut Cut, warga di kampung ini mempunyai risiko tinggi untuk masalah gangguan jiwa karena terdapat hubungan genetik yang menjadi faktor pemicu gangguan jiwa. Selain itu sumber penghasilan dari warga setempat hanya berpatokan pada hasil pertanian saja dan taraf perekonomiannya berada pada menengah ke bawah. Selain menadampingi kehidupan ODDP, Cut membantu perekonomian mereka dengan membuat kerajinan tangan dan memasarkannya melalui Baluem Tanyoe.

Siti dan Darma (ODDP)

“Jika Baluemini besar nantinya, semua ODDP yang pernah saya dampingi akan ikut terlibat, entah itu sebagai tim pemasaran, produksi, atau distributor dari produk Baluem. Sehingga mereka tidak hanya terbantu dari segi ekonomi saja, tapi juga membantu mereka untuk tetap berkegiatan. Sebab, punya uang saja tidak menjamin mereka akan sehat, tapi pengakuan dan keterlibatan mereka di masyarakat juga penting. Dengan begitu mereka merasa dihargai keberadaan mereka.”

Memasuki dua tahun berdirinya Baluem Tanyoe, Cut fokus pada produk kerajinan yang dihasilkan Baluem. Dalam membuat produk ia tidak hanya melibatkan ODDP saja, tapi juga warga lainnya yang mau terlibat dalan pembuatan produk kerajinan. Ia juga tidak enggan berbagi ilmu mengajarkan cara membuat dompet atau tas kepada orang lain. Menurutnya semakin banyak orang yang diajarkannya, maka ketersediaan sumber daya pun semakin banyak. Jadi, bila ada permintaan produk dalam jumlah besar, Cut sudah mempunyai orang-orang yang membuat produk tersebut. Di sela-sela itu, ia terus menyosialisasikan tentang isu kesehatan jiwa kepada teman, kerabat, dan masyarakat yang ditemuinya di berbagai kesempatan.

Begitulah Cut, ketika ia sudah terjun untuk mendampingi masyarakat ia akan sepenuh hati membantu sampai berhasil. Hal itu diakui oleh Dian Agustin, selaku Koordinator Proyek Program Aceh Comprehensive Community Mental Health (ACCMH) yang merupakan atasan Cut saat bekerja di FBA.

“Bisa dibilang, Kak Cut adalah relawan sejati. Dia begitu menjiwai pekerjaannya, bahkan melebihi tugas pokok dari yang ditentukan. Sampai saya bilang, ‘Kak bekerja itu jangan semua berdasarkan empati, kakak juga harus mikirin diri sendiri.’ Ya, tetap saja dia mentingin mereka bahkan ketika dia tidak berkerja di FBA pun masih terhubung dengan ODDP dampingannya,” ujar Dian saat ditemui pada Jumat, 15 Oktober 2021.

Dian yang pernah bekerja sebagai atasan Cut begitu dimudahkan saat bertemu ODDP. Pembawaan Cut yang ramah membuatnya diterima di semua kalangan. Bahkan untuk persoalan negosiasi baik itu dengan ODDP, masyarakat, bahkan pejabat pemerintahan, mudah saja baginya.

“Kak Cut tahu saja celahnya di mana. Jejaringnya banyak sehingga tidak kesulitan untuk menemui siapa saja saat menjalani program dan kegiatan yang kami lakukan. Misalnya mau menemui camat atau dinas-dinas terkait lainnya. Dia sudah tahu bapak ini tipikal yang bisa diajak ngopi untuk diskusi, ini harus di kantor dan sabagainya. Tidak semua orang mempunyai kemampuan seperti itu. Jadi, mudah saja bagi Kak Cut untuk melakukan itu, mungkin karena pengalaman kerjanya sebagai relawan sudah banyak sebelumnya,” tambah Dian.

Dian juga mengatakan bahwa Cut bukan tipikal orang cari nama, tidak perlu namanya disebut. Padahal orang dapat link atau ide dari dia, tapi nama orang lain yang muncul. Ia tidak mempermasalahkan hal itu. Hanya saja dia bukan tipikal orang yang bisa didikte. Kalau menurutnya tidak sesuai dengan prinsip dasarnya, dia lebih baik keluar dari lingkaran tersebut. Oleh sebab itu, Cut lebih memilih menjadi relawan lepas dibanding harus terikat dengan sebuah lembaga atau instansi. Namun, selama jasanya dibutuhkan untuk urusan kemanusiaan, ia siap pasang badan menjadi seorang relawan.[]

Penggerak Perempuan Pesisir di Alue Naga Banda Aceh

1

TULISAN OYSTER CHIP dengan tiga bintang berwarna kuning emas terlihat mencolok di kemasan yang didominasi hijau tua. Di bagian atas kemasan ada logo kartun dengan topi khas Aceh dan bertuliskan jenama Kiboy by Natural Food. Di bawahnya, terdapat “potongan-potongan” kerupuk yang menawarkan rasa gurih dan kriuk. Benar saja, saat saya mencicipi kerupuk yang ada di dalamnya, rasanya memang gurih dan kriuk-kriuk. Enak juga dijadikan tambahan sebagai lauk untuk makan.

Oyster Chip adalah camilan berupa kerupuk yang dibuat dari bahan baku tiram. Camilan ini diproduksi oleh ibu-ibu di Dusun Podia Mad, Desa Alue Naga, Kota Banda Aceh. Daging hewan bercangkang yang menjadi bahan baku utama camilan ini juga merupakan hasil budi daya yang dipanen oleh ibu-ibu di dusun itu. Sekitar lima puluh ibu rumah tangga di sana kini menjadi penggerak ekonomi keluarga yang terlibat sebagai petani maupun pengolah kerupuk tiram.

Desa Alue Naga merupakan salah satu desa pesisir di Kota Banda Aceh. Desa ini berjarak sekitar tujuh kilometer ke arah timur dari jantung kota. Terletak di Kecamatan Syiah Kuala, desa ini terbagi menjadi empat dusun, masing-masing Dusun Buenot, Musafir, Kutaran, dan Podia Mad. Antara Dusun Buenot dan Musafir dengan Dusun Kutaran dan Podia Mad dipisahkan oleh sungai (krueng) yang bermuara ke laut. Sungai ini menjadi salah satu urat nadi bagi warga Alue Naga untuk menopang ekonomi mereka. Jika para prianya banyak yang berprofesi sebagai nelayan, maka para perempuannya banyak yang berprofesi sebagai pencari tiram. Saban sore Alue Naga juga ramai dikunjungi wisatawan lokal. Itu sebabnya di antara warganya juga ada yang menjadi pedagang makanan.

Saat tsunami pada 26 Desember 2004 silam, Alue Naga termasuk salah satu desa yang porak-poranda. Bukan hanya merenggut banyak korban jiwa, tsunami juga turut mengubah tata letak desa ini karena mengalami pengurangan wilayah akibat bergesernya garis pantai. Belasan tahun setelah tsunami berlalu, berangsur-angsur kehidupan di sini mulai normal kembali, termasuk pada cara masyarakatnya yang bertahan hidup dengan mengandalkan potensi alam pesisir. Salah satunya adalah tiram yang hidup di sungai dan area payau sekitarnya.

Tiram-tiram itu kemudian dijual ke agen-agen pengepul. Sebagian ibu-ibu memilih menjual sendiri atau mengolah tiramnya untuk mendapatkan harga lebih. Tak heran jika di bantaran sungai terdapat banyak lapak nyak-nyak atau ibu-ibu yang menjual tiram, kepiting, ataupun kerang. 

Sejak dua tahun belakangan ini, tiram-tiram yang ada di Dusun Podia Mad tidak lagi sepenuhnya dijual segar kepada agen atau pengepul. Tiram-tiram itu diolah menjadi kerupuk yang dikemas dan dipasarkan dengan jenama Kiboy. Hasilnya, tiram-tiram Alue Naga kini bisa “nangkring” di sejumlah gerai makanan, swalayan, dan toko souvenir. Tidak hanya bisa dinikmati sebagai lauk pelengkap hidangan, tetapi sebagai makan ringan untuk teman di kala santai.

“Tidak hanya di Banda Aceh saja, camilan ini juga kita pasarkan sampai ke Jakarta, tepatnya di M-Bloc Market. Sering juga kami ikutkan dalam pameran-pameran UMKM yang dibuat oleh instansi,” kata Risna saat berbincang akhir September 2021 lalu.

Risna adalah sosok kunci di balik layar lahirnya produk turunan dari tiram ini. Berkat keseriusannya mendampingi ibu-ibu tersebut, tiram-tiram dari Alue Naga bisa dinikmati masyarakat dari berbagai daerah sebagai oleh-oleh. Namun, yang lebih penting, kehadiran produk turunan ini telah memberikan nilai ekonomi lebih bagi kelompok perempuan di desa tersebut.

Risna Erita, S.Pd. namanya. Usianya baru beranjak dua puluh lima tahun saat ini. Ia baru saja lulus dari Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh ketika direkrut sebagai tenaga magang oleh Lembaga Penelitian dan Pelatihan Natural Aceh pada 2018. Lembaga inilah yang sejak beberapa tahun lalu menjadikan sekelompok ibu-ibu di Alue Naga, khususnya Dusun Podia Mad sebagai binaan mereka. Setahun kemudian Risna akhirnya dipercayakan menjadi program manager, menggantikan posisi senior/atasan yang melanjutkan kuliah ke Pulau Jawa. Dengan posisinya itu, Natural Aceh kemudian memercayakan Risna untuk bertanggung jawab penuh pada Divisi Natural Food dalam pembinaan dan pendampingan ibu-ibu di Dusun Podia Mad.

“Desa Alue Naga ini merupakan salah satu desa penghasil tiram di Banda Aceh, selama ini pemanenan tiram di sini dilakukan secara konvensional, yakni dengan mengutip tiram-tiram yang tumbuh secara alami di batu-batu atau karang di sungai,” kata Risna, “tetapi sejak Natural Aceh masuk beberapa tahun lalu, sudah ada inovasi baru, baik pada cara budi daya tiram ataupun produksi produk turunan yang lebih bernilai ekonomis,” kata Risna saat ditemui di rumah produksi tiram Natural Aceh di Alue Naga.

Pada ibu-ibu di sana diperkenalkan sistem floating culture atau model peternakan tiram terapung. Jika selama ini tiram-tiram itu berkembang biak secara alami di bebatuan atau karang-karang, dengan model floating culture ini tiram-tiram itu akan berkembang biak di material-material khusus yang ditaruh di dalam air seperti galon atau ban bekas. Cara ini membuat proses pemanenan jadi lebih efektif dan hemat waktu. Selain itu juga bisa menjadi solusi untuk mendaur ulang limbah. Natural Aceh juga menyulap kawasan tambak di daerah itu sebagai lokasi baru untuk budi daya tiram. Tak hanya itu, Natural Aceh juga menanam bakau di kawasan tambak yang menjadi lokasi peternakan tiram untuk mendukung ekosistem pesisir sekitar.

Setelah program budi daya tiram ini berjalan, Risna kemudian menginisiasi ibu-ibu tersebut untuk mendapatkan pelatihan pengolahan produk dari tiram. Dari puluhan ibu-ibu yang selama ini dibina, enam di antaranya diandalkan sebagai tenaga produksi dan satu di antara mereka ditunjuk sebagai ketua kelompok.

“Kelompok kecil inilah yang diandalkan untuk mengolah tiram-tiram itu menjadi kerupuk, nuget, dan juga hidangan cepat santap seperti kari dan pepes tiram, tetapi kalau untuk prospek, kerupuk tiram yang lebih menjanjikan,” kata Risna.

Oyster Chip

Tantangan selanjutnya kata Risna, ialah mencari akses untuk memasarkan kerupuk tiram yang sudah dihasilkan oleh ibu-ibu tersebut. Diakui Risna, awalnya memang tidak mudah. Ia mendatangi satu demi satu toko-toko yang ada di Banda Aceh dan dinilai potensial untuk memasarkan produk kerupuk tiram, seperti toko souvenir yang ada di kawasan Peunayong Banda Aceh. “Kini setidaknya ada sekitar 30 toko yang kami titip jual oyster chip. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya, karena meskipun kita sudah menghasilkan produk yang bagus, tetapi kalau pemasarannya tidak jalan kan tidak bisa mendatangkan profit juga,”  katanya.

Walau bagaimanapun, Risna bertanggung jawab pada kesejahteraan anggota kelompok produksi karena upah yang dibayarkan kepada mereka sangat bergantung pada hasil penjualan produk.

Untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, Risna juga memasarkannya secara online di beberapa market place dengan nama akun Kiboy Food. Dia juga membuat sekaligus menjadi pengelola akun Instagram @kiboy_place dan @kiboy-food sebagai tempat untuk men-display camilan tiram ini secara online.

Ke depan, tidak hanya daging tiram yang akan diolah, tetapi cangkang tiram yang kaya akan kandungan kalsium dan magnesium juga akan diolah menjadi bubuk cangkang tiram. Risna juga berencana untuk mengolah pupuk kompos dengan memanfaatkan limbah dedaunan yang berlimpah di Podia Mad.

Kehadiran Risna melalui Natural Aceh dirasakan betul nilai positifnya oleh Yusniar, salah seorang anggota tim produksi yang sekaligus dipercayakan sebagai ketua kelompok. Sebelum hadirnya Natural Aceh kata Yusniar, dirinya yang sebelumnya sudah mendapat pembekalan dari Pusat Layanan Usaha Terpadu tentang cara pengolahan tiram pun membuat nuget tiram. Kemudian dia menjajakan sendiri hasil produksinya ke kantor-kantor pemerintahan.

Kondisi ini tak jarang membuatnya kelelahan, tenaganya tidak hanya terkuras untuk proses produksi, tetapi juga dinilai sangat tidak efisien karena harus berkeliling untuk menjual produk. Belum lagi risiko jika produk tak laku. Namun, setelah proses pemasaran diambil alih oleh Risna, ia tidak perlu lagi pusing untuk urusan pemasaran. Yusniar pun jadi lebih punya waktu luang bersama anak-anaknya di rumah. Apalagi selama pandemi yang intensitas dengan anak dirasakan cukup tinggi karena harus mendampingi mereka untuk belajar daring.

Selain itu, sejak didampingi oleh Risna, ibu-ibu ini juga dilatih ulang cara mengolah tiram yang sehat.

“Kalau sekarang fokus saya cuma di produksi saja, secara tenaga jauh lebih hemat karena saya tidak perlu lagi memikirkan pemasaran, kalau soal penghasilan memang agak kurang-kurang dikit dari yang sebelumnya, tetapi itu nggak masalah buat saya,” kata Yusniar.

Hal yang sama berlaku pula bagi ibu-ibu lain yang fokus pada mengambil tiram, dengan hadirnya Natural Aceh dan rumah produksi tiram, ibu-ibu itu tidak perlu lagi menjual tiram-tiramnya ke pengepul. Setelah dipanen, tiram bisa langsung dijual kepada Natural Food. Jika sebelumnya hanya mengandalkan tiram yang hidup di sungai, sejak ada penambahan lokasi peternakan tiram oleh Natural Aceh, panen yang dihasilkan pun bisa lebih banyak.

“Harga yang kita beli di atas harga yang mereka jual kepada agen, tetapi memang agak lebih miring dibandingkan mereka jual sendiri, tetapi hasil panen mereka langsung kita tampung,” kata Direktur Natural Aceh, Zainal Abidin Suradja, Rabu, 6 Oktober 2021.

Sosok yang Gigih

Risna awalnya adalah seorang mahasiswa magang di Natural Aceh. Namun, berkat kegigihan dan keseriusannya berkecimpung di masyarakat, Natural Aceh lantas mengangkatnya menjadi program manager. Zainal menuturkan, sosok Risna tidak saja memiliki kemampuan secara teknis, tetapi dia juga bisa berbaur dengan masyarakat setempat. Ia sosok yang komunikatif. Dan, seperti yang diketahui, komunikasi yang lancar menjadi salah satu kunci keberhasilan program-program yang dijalankan di masyarakat. Kadang-kadang Risna juga menginap di rumah produksi Natural Aceh yang ada di Podia Mad. Dengan cara ini, kedekatan yang terbangun antara Risna dengan warga tidak hanya sebatas urusan pekerjaan.

“Risna punya kemampuan yang bagus dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat dan lingkungan, dia punya passion di situ, tidak semua orang punya dedikasi seperti Risna. Kalau tahun ini tidak pandemi dia sudah ke Meksiko untuk mengikuti sebuah konferensi,” kata Zainal.

Sebagai contoh kata Zainal, belum lama ini Natural Aceh menerima dana dari salah satu instansi untuk program menanam mangrove di Kabupaten Simeulue. Salah satu kabupaten di Aceh yang berada di perut Samudra Hindia. Meski secara nominal jumlahnya terbatas, tetapi Risna sangat bertanggung jawab dan mengantar sendiri dana tersebut ke Kabupaten Simeulue. Untuk memudahkan mobilisasinya, Risna mengendarai sepeda motor, dilanjutkan naik kapal laut untuk menyeberang ke pulau. Namun, jarak Banda Aceh ke Simeulue bukanlah jarak yang dekat. Setidaknya, ada enam kabupaten yang harus dilalui. Pergi melintasi pesisir barat selatan Aceh dengan sepeda motor bisa dibilang sebuah “kegilaan”. 

“Dalam perjalanan itu Risna bahkan sampai mengalami kecelakaan, yang jatahnya tiga hari di sana jadi tertahan selama seminggu di Simeulue karena ada badai dan kapal tidak bisa berlayar, kalau orang lain mungkin sudah menyerah dengan kondisi seperti itu, tetapi dia sangat totalitas.”

Keputusan Zainal memilih Risna sebagai pendamping ibu-ibu di Alue Naga tidaklah salah. Risna dinilai mampu mengemban tanggung jawabnya dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari terobosan-terobosan yang diupayakan oleh Risna kepada ibu-ibu di sana. Natural yang semula hanya berorientasi pada kegiatan-kegiatan penelitian dan pelatihan, belakangan mulai memperluas program dengan mengembangkan social enteprise atau perusahaan sosial untuk membangun komunitas masyarakat. Salah satu yang sudah menunjukkan hasil positif adalah budi daya tiram di Alue Naga dengan output-nya kerupuk tiram.

Risna Erita lahir di Ujung Padang, Aceh Selatan, pada 1 September 1996. Pendidikan SD hingga SMA ia habiskan di kampung halaman dan hijrah ke Banda Aceh untuk melanjutkan kuliah di Universitas Bina Bangsa Getsempena di Fakultas FKIP Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan lulus pada 2018. Jiwa organisasinya telah tumbuh sejak di bangku sekolah dan semakin terasah setelah duduk di bangku perguruan tinggi. Sejumlah prestasi pun telah diraihnya, seperti menjadi delegasi Indonesia perwakilan Aceh dalam forum International Global Goals Summit 30 Negara di Kuala Lumpur, Duta Aksi Global (Global Goals Action Ambassador 2020, Duta Pepelingasih (Pemuda Peduli Lingkungan Asri dan Bersih) Indonesia Provinsi Aceh 2020,  finalis usaha bidang teknopreneur WMP Kemenpora RI 2020, 100 besar finalis usaha kuliner kreatif Indonesia food start up Indonesia MMXX. Risna juga terpilih sebagai Pemuda Berprestasi Aceh 2020 oleh Dinas Pemuda dan Olahraga, dan baru-baru ini ia terpilih sebagai The Country Winner (Indonesia) of Youth World Cup 2021 in Climate Action Category.

Sebagai seorang lulusan perguruan tinggi, di tengah tingginya animo lulusan muda untuk menjadi pegawai negeri sipil, Risna malah tak berminat untuk bekerja di pemerintahan. Ia begitu menikmati pekerjaannya bekerja di tengah-tengah masyarakat.

“Bekerja di masyarakat membuat kita bertumbuh, kerja-kerja yang tidak hanya berorientasi pada profit semata membuat kita lebih berkembang dan saya sangat menikmati aktivitas ini,” ujarnya di pengujung obrolan.

Karena motivasi itulah, meski tugasnya di Podia Mad hanya untuk membina ibu-ibu, tetapi dengan basic pendidikan sebagai guru, Risna juga mendidikasikan waktunya untuk mengajar les anak-anak di sana.[]

Marini Siregar; Ranger Perempuan Penjaga Hutan Leuser

Bila mendengar kata ranger, generasi tahun 90-an seperti saya pasti teringat akan sebuah serial televisi yang menampilkan aksi lima manusia super dinamai Power Rangers. Dengan meggunakan kostum rangers, mereka bertugas menyelamatkan warga bumi dari para monster yang ingin menguasai dunia. Serial yang populer di tahun 1993-2002 itu menyita banyak perhatian publik, khususnya anak-anak.

Power Rangers ini pada dasarnya hanyalah cerita fiktif yang diadaptasi dari serial televisi Jepang. Namun, di Aceh keberadaan ranger nyata adanya. Mereka adalah tim polisi hutan yang bertugas berpatroli dan melakukan aksi penyelamat hutan dari ancaman kegiatan illegal, seperti perburuan, perambahan, dan pembalakan liar. Hutan tersebut dinamai dengan Leuser, sebagian kawasannya dikenal sebagai Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Leuser inilah yang merupakan paru-paru dunia, sumber air bagi 4 juta penduduk Aceh dan Sumatera Utara, serta tempat tinggal berbagai macam satwa.

Dengan beban di punggung yang beratnya mencapai 50 kilogram sebagai bawaan, para ranger menyusuri Leuser berhari-hari.Terkadang mereka harus mengarungi sungai, melewati jalan menanjak, menurun, bahkan medan yang terjal pun harus dilalui untuk mencapai titik lokasi yang dituju. Belum lagi ketika mereka dihadapkan dengan para pembalak yang kadang susah untuk diajak kompromi. Bila tidak pandai-pandai bernogosiasi justru akan menimbulkan konflik yang dapat mengancam keselamatan diri.

Ranger bagian yang tidak bisa terpisahkan dari Leuser karena dengan adanya mereka, Leuser yang luasnya mencapai 2,6 juta hektare itu bisa terjaga keselamatannya dari para perambah. Tidak hanya mengamankan Leuser, ranger juga bertugas mencatat jejak, sarang, dan kotoran satwa serta menghancurkan jerat yang dipasang pemburu. Kegiatan itu rutin dilakukan sebulan sekali dengan lama patroli 14-15 hari. Selama berada di dalam Leuser, mereka membawa perbekalan seadannya, tidur di dalam tenda ditemani oleh penghunyi rimba.

Mungkin pekerjaan ini dianggap lazim bagi laki-laki, namun bukan berarti perempuan tidak dapat ikut berperan. Pekerjaan yang dilakukan Marini sebagai satu-satunya ranger perempuan yang ambil bagian sebagai tim patroli hutan di wilayah kerjanya menjadi contoh baik peran perempuan di ruang publik. Walau sudah menikah dan memiliki anak, nyatanya Marini masih saja aktif mengawal hutan Leuser hingga sekarang.

Lantas bagaimana Marini Siregar mampu bertahan hingga12 tahun lamanya menjalani profesi sebagai ranger? Mari simak kisahnya.

****

Minggu, 18 Juli 2021, saya bertolak ke Aceh Barat Daya (Abdya) dari Aceh Selatan yang merupakan tempat kediaman saya. Tujuan saya ke daerah tetangga ini untuk bertemu Marini Siregar yang juga teman sekomunitas saya di Perempuan Peduli Leuser (PPL). Ia tinggal di sebuah rumah dinas Puskemas Bineh Krueng, Kecamatan Tangan-tangan. Bersama suami dan ketiga anaknya, mereka menempati rumah tersebut, karena suami Marini berstatus sebagai petugas Ambulance Puskesmas Bineh Krueng.

Setiba di kediaman Marini, saya disambut oleh bocah laki-laki yang merupakan anak bungsu Marini. Kemudian disusul sang kakak berusia kurang lebih tiga tahun lebih tua dari si adik. Kedua bocah tersebut tersenyum, seolah mereka mengetahui bahwa saya orang yang ditunggu oleh ibu mereka. Tidak lama kemudian, Marini pun keluar menyambut kedatangan saya. Saat itu, Marini sedang sibuk mempersiapkan makan siang.

“Harap maklum saja ya Yel, kondisi rumah di hari libur ini,” ujarnya dengan seyum khas sambil mempersilakan saya dan suami duduk. Selanjutnya, ia bergegas ke dapur untuk membuat minuman dan mengambil cemilan untuk dihidangkan.

Marini yang saya lihat saat itu, hanyalah seorang perempuan biasa. Rasanya sungguh menakjubkan jika mengingat bahwa ibu tiga anak di hadapan saya ini sesungguhnya adalah seorang ranger. Sama halnya seperti Power Ranger yang terlihat biasa ketika berada di masyarakat dan akan berubah mengenakan kostum ranger saat melakukan upaya penyelamatan. Begitulah kehidupan Marini yang bisa menyesuaikan diri antara profesionalitasnya saat bekerja dan kesahajaannya saat bersama keluarga.

Bila Marini sedang melakukan patroli, anak-anak akan diasuh oleh sang suami. “Saya bilang ke anak-anak, ‘Mamak kerja nggak pulang selama beberapa hari, jadi kalian di rumah bersama abah ya.’ Mereka tanya kenapa saya lama di hutan dan ngapain aja di sana. Di situlah saya mengedukasi mereka tentang pentingnya menjaga hutan.” Jelas Marini.

Sebelum Marini berangkat untuk patroli ke hutan, semua persediaan di rumah seperti bahan makanan dan kebutuhan anak-anaknya disiapkan terlebih dahulu. Jadi, ketika Marini pergi meninggalkan rumah, ia merasa tenang. Sehingga ia dapat fokus terhadap apa yang dikerjakannya di hutan. Kemudian, ketika Marini pulang dari patroli, ia tidak lupa membawa buah tangan untuk anak-anaknya. Tidak perduli pakaiannya yang masih berlumpur, ia singgah dulu ke kedai untuk membeli jajanan sebagai oleh-oleh dibawa pulang. Begitulah keseharian Marini menyeimbangkan perannya sebagai seorang ibu dan ranger.

Pertama kali saya bertemu dengan Marini, yaitu di tahun 2017 saat kegiatan pelatihan Perempuan Peduli Leuser (PPL) yang diselenggarakan oleh USAID Lestari. Saat itu kami terpilih sebagai perwakilan perempuan dari lima kabupaten/kota di Aceh yang dilatih untuk mengampanyekan isu-isu lingkungan, khususnya Leuser.

Marini yang mewakili Kabupaten Abdya saat itu berstatus sebagai ranger di TNGL. Meskipun ia tahu banyak tentang isi dalam Leuser, tapi sang ranger lebih memilih diam dan banyak mendengarkan cerita dari teman-teman perempuan lainnya. Ia hanya berbicara seperlunya bila dimintai pendapat atau menceritakan pengalamannya selama di lapangan. Pembawaanya yang santai dan murah senyum membuatnya mudah berbaur dengan para peserta pelatihan, hingga ia dikenal baik oleh sesama anggota PPL.

Mungkin banyak yang penasaran tentang kehidupan Marini sebagai seorang ranger. Sebab, jarang sekali perempuan melakukan pekerjaan ini, terlebih harus berlama-lama di dalam hutan meninggalkan keluarga. Oleh karena itu, saya mendatanginya langsung untuk mendengarkan kisah awal mula Marini terlibat sebagai ranger hingga akhirnya ia mencintai profesinya tersebut.

Perempuan Satu-satuya    

Sebelum terlibat sebagai ranger, Marini adalah seorang honorer yang bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, untuk wilayah TNGL. Ia mengerjakan tugas di bagian tata usaha dan kebetulan hanya Marini seorang perempuan yang bekerja di situ. Di awal masa kerjanya, Marini merasa tidak percaya diri karena hanya dia sendiri yang perempuan.

“Baru beberapa bulan saya bekerja di situ, kemudian saya nggak masuk lagi sampai setahun lamanya. Sebab, saya berpikir akan dideskriminasi karena cuma sendiri perempuan. Rupanya pemikiran saya salah besar. Justru tempat ini yang memberi kenyamanan saya bekerja hingga sekarang. Padahal sebelumnya, saya ganti-ganti terus pekerjaan.” Ungkap Marini yang juga mengaku pernah bekerja di mini market dan di Bank.

Namun ketika Marini tidak masuk kerja, ia dipanggil lagi oleh atasannya dan menanyakan alasan kenapa ia tidak mau bekerja. Setelah menyampaikan alasan klasik yang ada dipikirannya, ia pun sadar bahwa tidak perlu ada yang ditakutkan karena rekan kerjanya tidak pernah macam-macam terhadapanya. Ia pun menghalau semua kegundahan yang dikhawatirkannya selama ini, lalu  bekerja kembali di instansi tersebut, meskipun hanya dirinya yang seorang perempuan.

Perempuan asal Sumatera Utara ini pun mulai tertarik dengan pekerjaannya yang awalnya hanya duduk manis di kantor, kemudian ingin mencoba terjun lapangan untuk berpatroli hutan. Marini penasaran melihat teman-temannya yang setiap bulan memasuki Leuser dengan membawa berbagai macam perbekalan dan perlengkapan. Awalnya ia hanya mencoba rute pendek selama dua malam, rupanya ia ketagihan menikmati perjalanan di hutan. Hingga akhirnya, ia memberanikan diri mengambil rute panjang sampai dua minggu lamanya memasuki Leuser hingga ke pedalaman.

“Sebelum kita turun ke lapangan, kita diperiksa dulu kesehatan dan fisiknya. Sebab, beban yang kita bawa tidaklah ringan. Begitu pula rute yang kita lewati bukanlah mudah. Tentu harus sehat fisiknya,” ujar ibu tiga anak ini.

Marini juga dibekali dengan berbagai macam pengetahun tentang apa yang harus dilakukan selama di hutan. “Jadi, ada semacam semester pendek dulu yang harus diikuti. Di sini kita belajar mengenali tanda-tanda satwa, seperti sarang, jejak, lintasan, dan kotorannya. Kemudian mengamati apakah masih ada ketersediaan makanan di sekitar satwa tersebut. Dengan begitu kita bisa memastikan keberadaan satwa tersebut di Leuser ini, berapa jumlah populasinya, dan di mana saja keberadaannya. Selain itu, kita juga belajar bagaimana tindakan yang kita lakukan saat menemukan orang yang sedang melakukan pembalakan, dan hal yang paling penting ialah bagaimana menginput temuan kita selama berada di hutan menjadi sebuah data dasar,” jelas Marini.

Itulah retetan kegiatan yang dilakukan Marini bersama teman-teman rangernya selama 15 hari di hutan Leuser. Jadi, mereka bukan sekadar jalan-jalan saja, melainkan bekerja untuk memperoleh data. Dari temuan merekalah dapat diketahui jumlah satwa yang tersisa, dan bagaimana kondisi hutan Leuser yang merupakan sumber air dan oksigen bagi kehidupan manusia.

Sebenarnya, apa yang dilakukan Marini saat ini jauh berbeda dari latar belakan pendidikannya. Perempuan kelahiran Kota Pinan, 23 Maret 1988, ini lulusan akutansi dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tahun 2007. Setelah mencoba berbagai macam pekerjaan, di tahun 2010 Marini bekerja di TNGL, hingga akhirya memilih menjadi ranger. Ia bisa beradaptasi dengan pekerjaannya itu walau semua teman-temannya laki-laki.

“Toh mereka semua sopan-sopan sama saya. Selama saya bekerja hingga sekarang, tidak pernah mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan. Justru saya sudah menganggap mereka sebagai keluarga. Dan mereka pun juga memberikan perhatian sesuai porsinya dan privasi sama saya. Misalnya saat di hutan, saya diberikan tenda sendiri. Kemudian ketika saya mandi di sungai dekat perkemahan, mereka pergi jauh-jauh supaya saya tidak terganggu dengan keberadaan mereka. Jadi, kalau saya nggak betah, tidak mungkin rasanya saya bisa bertahan sampai sekarang,” ujar Marini.

Sudut Pandang Pekerjaan Marini

Bekerja di tempat yang didominasi oleh laki-laki, tidak menjadi persoalan bagi suami Marini. Justru laki-laki yang bernama Jaddal Iman ini, selalu mendukung Marini selama istrinya bisa menjaga diri dan melakukan pekerjaan sesuai jalurnya. Namun, ada kalanya sudut pandang orang terhadap pekerjaan Marini membuat bunga api dalam rumah tangganya. Untungnya cobaan itu bisa mereka lalui dengan jalan diskusi dan saling membuka diri.

“Pandangan orang ketika saya bekerja di sini yang berat. Apalagi ketika turun patroli dari hutan, dilihat sendiri perempuan, semua mata tertuju pada saya. Bahkan suami saya sempat termakan hasutan orang yang membuatnya tidak sabar. Kemudian saya kasih pengertian ke dia, omongan orang jangan ditelan mentah-mentah gitu. Sebab, orang menyampaikan ke kita bukan karena niat baik, tapi ingin melihat kita hancur. Jadi, itu tergantung abang. Kalau misalnya saya disuruh keluar dari pekerjaan ini, saya keluar. Namun, kalau abang mendukung, saya melanjutkannya.” Kata Marini mengulang ucapan yang disampaikan ke suaminya.

Itulah tantangan Marini di masa awal-awal pekerjaannya. Seiring berjalannya waktu, orang-orang akhirnya memahami apa yang dikerjakan Marini bersama ranger lainnya. Hingga tidak ada lagi yang memandang buruk pekerjaannya. Bahkan masyarakat di sekitar Leuser pun sudah mengenal baik Marini. Ketika ada perselisihan di masyarakat tentang status kepemilikan hutan adat, Marini biasanya ambil bagian untuk bernegosiasi dengan para perempuan di tempat tersebut.

Berada di hutan dan melakukan patroli selama berhari-hari dan bermalam-malam, menjadi pengobat stress bagi Marini ketika bosan bekerja di kantor. Apalagi ketika ia menemukan hal-hal baru di dalam Leuser. Pengalaman berkesan yang membuat Marini semakin mencintai pekerjaannya ialah saat pertama kali menemukan jejak harimau secara langsung.

“Jadi, rasa penasaran saya terus muncul. Saat itu tidak ada perasaan takut sama sekali karena tujuan kita datang ke Leuser punya niat baik. Jauh-jauh datang ke sana menemukan sesuatu hal baru membuat kita merasa senang pastinya,” cerita Marini dengan semangat.

Anak sulung dari pasangan Alm Umar Dani Siregar dan Mardiana Pohan ini juga menjelaskan sekilas tentang perilaku harimau. Lebih lanjut Marini mengatakan bahwa bila harimau mencium keberadaan manusia, satwa yang satu ini akan menghindar. Jadi, ia dan teman-temannya hanya bisa menemukan jejaknya saja tanpa pernah bertemu langsung dengan raja hutan tersebut.

“Kemudian bila kita tersesat di hutan dan bertemu jejak harimau, maka ikuti saja jejak tersebut. Pasti jejak tersebut akan membawa kita ke tepi sungai. Jadi, bila sudah menemukan sungai tinggal ikuti saja alurnya hingga sampai ke perkampungan. Cara ini sering kami lakukan saat tersesat di hutan. Sebab, yang namanya GPS kan sering error, bahkan kadang-kadang kami lebih memilih mengikuti petunjuk alam dari pada alat buatan manusia,” ujar Marini dengan senyum khasnya.

Selama menjadi ranger, banyak ilmu baru yang ditemuinya khususnya pengetahuan dalam menjaga hutan. Marini berharap ke depan ada perempuan-perempuan lainnya yang mau dan tertarik melakukan tugas ini. Sebab, perempuan bisa bercerita lebih banyak tentang hutan khususnya bisa menjadi bahan edukasi bagi anak-anak mereka.

Teruntuk para perempuan, Marini berpesan supaya tetap berpikir positif dan percaya terhadap kemampuan diri. Jangan mau diintimidasi dan diintervensi oleh siapa pun dan jadilah diri sendiri. Bila mempunyai kemampuan dan keterampilan, teruslah mengasahnya dan belajar. Jangan pedulikan apa kata orang lain, selagi itu masih di jalur yang benar.[]

Rida Nurdin; Pengabdian Seorang Pengacara

“SAYA sudah lama melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti ini, sejak tahun 1998,” kata Rida Nurdin, mengawali perbincangan tentang aktivitas yang dilakoninya selama ini pada Minggu, 17 Juli 2021, di sebuah kafe di kawasan kampus Darussalam, Banda Aceh.

Itu artinya, aktivitas Rida yang bergiat pada isu-isu advokasi dan perlindungan perempuan dan anak sudah setua usia reformasi di Indonesia. Saat itu, Rida masih bergiat di Women Crisis Center yang dikelola Kelompok Kerja Transformasi Gender Aceh (KKTGA), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang digerakkan oleh aktivis perempuan dan diketuai Nursiti. “Jadi, memang ada komitmen pribadi, saya suka dengan kegiatan-kegiatan advokasi,” ujarnya lagi.

Kata “suka” yang terlontar dari mulut Rida jelas bukan kata-kata biasa. Sebagai seorang sarjana hukum lulusan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, dan profesinya sebagai pengacara, Rida tentu punya ilmu dan memang cakap. Kata suka itu bisa dimaknai sebagai pengabdiannya kepada kelompok rentan atas semua ilmu yang dimilikinya.

Rida adalah konselor psikologi dan hukum (pengacara) di Unit Pelayanan Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Provinsi Aceh. Ia bekerja di sana sejak masih bernama Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) hingga berubah menjadi UPTD setelah terbitnya Pergub No. 59 Tahun 2019. Tugasnya memberikan pendampingan hukum bagi perempuan dan anak korban kekerasan, anak yang berkonflik dengan hukum, serta perempuan yang berhadapan dengan hukum. Rida sudah akrab dengan pengadilan sejak sewindu lalu. Sidang demi sidang telah ia lalui untuk mendampingi perempuan atau anak yang berhadapan dengan hukum.

Sebelum bekerja di UPTD PPA, Rida sempat bekerja di sejumlah lembaga swadaya masyarakat seperti Forum LSM Aceh dan Mispi. Jobdesk-nya juga tak jauh-jauh dari kegiatan advokasi. Namun, akhirnya ia memilih berlabuh ke UPTD PPA. Menjadi pengacara bagi perempuan dan anak-anak berhadapan dengan hukum yang diadvokasi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Bagi Rida, semua ini merupakan panggilan jiwa.

“Kalau misalnya dibilang karena uang, di awal-awal dulu gajinya Rp150 ribu per bulan, jelas itu bukan tujuan,” kata Rida sambil tersenyum, “memang ada uang pendampingan yang saya terima, tapi per kasus yang ditangani, besarnya Rp150 ribu per surat tugas, tetapi sejak tahun ini menjadi Rp140 per surat tugas,” ujar perempuan yang genap berusia setengah abad itu.

Karena modal panggilan jiwa inilah, Rida selalu enjoy menikmati pekerjaannya. Alih-alih berharap penghasilan yang memadai dari pekerjaannya, justru uang pribadinya yang sering terpakai. Misalnya ketika turun lapangan ke daerah-daerah, uang perjalanan dinas dari kantor jelas tidak bisa meng-cover semua kebutuhan di lapangan yang sering kali di luar prediksi.

Namun, Rida tak pernah mempersoalkan itu. Ia meyakini, kerja-kerja ikhlas yang dilakukan karena dasar kemanusiaan dan semata-mata berlandas pada Sang Pemilik Semesta, pasti akan selalu tercukupkan. Ia bahkan bekerja lebih dari yang semestinya diberikan sebagai tanggung jawab profesional. Misalnya, rela menemui kliennya di hari-hari libur yang notabenenya di luar jam kerja dengan jarak yang cukup jauh.

Menurut Rida, kerja-kerja advokasi memang pekerjaan yang tidak saja menyita tenaga dan pikiran, tetapi juga waktu dan ekonomi. Menangani kasus seseorang yang sedang tersangkut hukum misalnya, tidak cukup hanya dengan mendampingi mereka saat menghadiri sidang demi sidang. Nyatanya, kehidupan orang-orang yang berhadapan dengan hukum ini sangat kompleks sehingga juga menyita perhatian untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang lain.

Rida Nurdin saat menemui kliennya di Kabupaten Aceh Besar

“Kadang-kadang di akhir pekan saat seharusnya kita menghabiskan waktu di rumah untuk keluarga, kita justru harus hadir bersama mereka, tetapi karena memang sudah punya komitmen dengan diri sendiri, ya dinikmati saja, keluarga pun sudah memahami karena selalu dikomunikasikan,” katanya.

Salah satu kasus yang pernah ditangani Rida dan sangat berkesan baginya ialah saat menangani seorang anak berkebutuhan khusus yang mengalami sodomi tahun 2020 lalu. Tidak diketahui siapa pelakunya karena memang sulit untuk mendapatkan informasi dari korbannya yang ABK. Peliknya, anak ini juga lahir dari hasil hubungan inses yang terjadi di barak pengungsian. Ibunya korban tsunami Aceh pada 2004 silam. Dan di sanalah ia mendapatkan perlakuan tak senonoh dari salah satu keluarganya.

Saat anak ini berusia dua tahun, ada salah satu keluarga yang mengadopsinya. Namun, ketika usia anak ini sudah remaja, ayah angkatnya meninggal dunia. Dari sinilah prahara demi prahara dalam hidup anak ini dimulai.

Ibu angkatnya tidak lagi bersedia merawatnya karena terlalu sering mendengar gunjingan tetangga perihal status anak tersebut. Ia pun memulangkan anak ini pada ibu kandungnya. Sang ibu yang telah menikah ternyata juga menolak karena suaminya tidak bersedia menerima anak itu. Kasus ini sempat ditangani oleh P2TP2A Aceh Besar, P2TP2A  Banda Aceh, dan Dinas Sosial Aceh sebagai kasus penanganan bersama. Penanganan yang dilakukan meliputi penanganan anak sebagai korban, saksi, dan pelaku. Juga penanganan perempuan sebagai korban dan perempuan yang berhadapan dengan hukum terhadap ibu anak tersebut.

Hidup remaja ABK ini pun sempat terlunta-lunta. Dia sempat menjadi anak jalanan. Sebelum akhirnya dirujuk ke UPTD PPA karena keterbatasan sumber daya di Aceh Besar, baik tenaga maupun dari sisi anggaran. Karena persoalannya yang kompleks, anak tersebut juga membutuhkan penanganan psikiater, advokasi pendidikan, dan penanganan dari psikolog.

“Kami lantas mencari tahu keberadaannya dan terhubunglah kami dengan ibu angkatnya dan ibu kandungnya. Dari sini saya jadi tahu ternyata si anak ini juga sudah dikeluarkan dari kartu keluarga ibu angkatnya, sekolahnya juga putus. Dalam kasus ini saya penanggung jawabnya, selain itu UPTD PPA juga mengadvokasi dengan lintas sektor dalam pemenuhan hak-hak korban,” kata Rida.

Karena tidak ada satu pun yang menerimanya, Rida lantas menitipkan anak tersebut di Lembaga Perlindungan Kesejahteraan Sosial untuk sementara. Tentu saja persoalannya tak selesai sampai di situ, kondisi remaja tersebut yang ABK, ditambah juga memiliki gangguan kemih sehingga sering mengompol, membuat Rida harus memutar otak untuk mengatasi persoalan itu.

“Kalau dia sudah ngompol saya sering mendapat telepon, nanti saya datang ke panti,” kata Rida sambil tertawa.

Rida juga mengadvokasi ke Baitul Mal Aceh sehingga anak tersebut mendapatkan bantuan dana zakat sebesar Rp1,5 juta. Dengan uang itulah dia membawa anak ini ke dokter spesialis dan digunakan untuk menebus obat yang harganya tidak murah. Sisanya untuk membeli keperluan sehari-hari anak tersebut.

Selanjutnya ia juga mengadvokasi ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Banda Aceh agar anak ini bisa mendapatkan kartu identitas anak (KIA). Berkat advokasi yang dilakukan Rida dan rekan-rekannya, anak tersebut akhirnya bisa ditampung oleh Panti Media Kasih. Media Kasih juga bersedia memasukkan nama anak ini dalam daftar kartu keluarga pemiliknya. Bukan hanya itu, Rida juga pernah membawanya untuk konsultasi dengan psikolog.

“Yang paling dibutuhkan oleh anak ini sebenarnya kehadiran orang tua, kasih sayang, makanya itu juga nggak boleh luput. Khusus untuk anak ini, seminggu sekali saya bawa jalan-jalan, kami bawa jajan di luar, kalau kita tidak punya kesabaran tentu nggak akan sanggup melakukan yang begini,” ujarnya lagi.

Namun, Rida cukup lega sebab ending dari perjuangan ini berakhir happy ending. “Saat ini anak itu sudah di Jakarta, ia ditempatkan di Panti Media Kasih Jakarta dan dididik menjadi hafiz (penghafal Quran) di sana, tapi masih sering komunikasi, sering video call. Anak ini betah di sana,” ujarnya haru.

Rida Nurdin saat mengantarkan kliennya ke bandara yang hendak pergi ke Jakarta

Cerita itu hanyalah segelintir saja tentang bagaimana totalitas seorang Rida Nurdin dalam bekerja. Bertahun-tahun menjadi pengacara, tak terhitung kasus yang berhasil diselesaikannya. Menjalani tugas sebagai advokat, memang bukan perkara mudah. Tak jarang Rida mendapatkan ancaman, umumnya ketika menangani kasus-kasus perebutan hak asuh anak. Suatu ketika, saat ia mendampingi kliennya di Aceh Besar, kaca mobil kliennya malah dihancurkan dengan parang oleh suaminya sendiri. Menghadapi kondisi-kondisi tak terduga ini kecut juga hati Rida, tetapi tak lantas membuatnya patah arang. Dukungan orang-orang di sekitarnya, seperti Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, Nevi Ariyani, dan Kepala UPTD PPA, Irmayani, memberinya keleluasaan dalam bekerja.

Di lain waktu saat ia menangani kasus perebutan hak asus anak kliennya yang bersuamikan seorang TNI, komandannya bahkan sampai datang ke kantornya dan mencoba mengintervensi. Pernah juga beberapa kali dipanggil polisi karena dituduhkan telah menyembunyikan anak-anak mereka yang sedang dalam perebutan hak asuh.

“Padahal ya bukan disembunyikan, tetapi anak ini diamankan sementara karena orang tuanya sedang menjalani proses hukum, dan ini juga sepengetahuan ibunya,”

Bagi Rida, selama yang diperjuangkan itu benar, tidak perlu merasa gentar. Didikan kedua orang tuanya, Nurdin Nasir dan Roslina, yang berprofesi sebagai TNI dan pengusaha kuliner telah membentuk karakternya menjadi sosok yang selalu disiplin dan penuh dedikasi saat mengemban amanah. Sejak kecil ia juga kerap diajarkan tentang arti berbagi dan itu terus terbawa hingga saat ini. Ditambah ia juga berada dalam lingkaran positif yang selalu mendukung kerja-kerjanya. Merekalah yang selalu membuatnya kembali bersemangat saat mengalami kendala dalam menjalankan tugasnya.

Di luar kerja-kerja advokasi, Rida juga aktif menghimpun zakat dari teman-temannya untuk disalurkan kepada individu-individu dari kelompok rentan. Tahun 2021 ini ia berhasil menghimpun dana zakat hingga Rp16 juta, tahun sebelumnya malah lebih besar lagi hingga Rp20 juta. Baginya menjadi kesenangan tersendiri saat bisa memudahkan hidup orang lain, tidak hanya di ranah hukum, tetapi juga dalam hal ekonomi atau pemenuhan hak-hak lainnya.

Praktik-praktik baik selalu membutuhkan motor sebagai penggerak, dan Rida memilih untuk menjadi penggeraknya.[]

Vivi Sharmila: Bisnis yang Berkembang Sarana Membantu Orang Lain

VIVI Sharmila atau yang lebih dikenal dengan sebutan Vivi Spa merupakan salah satu perempuan pengusaha di Aceh. Ia dikenal tidak saja karena usahanya, tetapi juga karena kiprahnya di masyarakat. Di Kota Banda Aceh, saat menyebut nama Vivi pasti akan langsung mengingatkan pada jenama Vivi Spa yang terdapat di sejumlah lokasi. Ini merupakan usaha berbasis perawatan tubuh yang mulai dirintisnya belasan tahun silam. Tempat ini sering menjadi akhir bagi kaum hawa untuk memanjakan diri, relaksasi, atau membuang penat bagi yang jenuh karena deraan rutinitas.

Suasana tempat perawatan yang nyaman dengan alunan musik relaksasi langsung menghadirkan perasaan tenang saat saya mengunjungi salah satu cabang Vivi Spa di Lampriet, Banda Aceh. Selain di sini, juga ada tiga cabang lainnya di kawasan Lamnyong, Lamlagang, dan Kampung Laksana. Dari empat lokasi ini mempekerjakan sekitar 80 perempuan.

Namun, siapa sangka, bisnis Vivi Spa yang terkenal ini, mulanya berawal dari garasi rumah? Pemiliknya, Vivi Sharmila, merupakan salah satu mantan terapis dari salon kecantikan ternama Indonesia, Martha Tilaar. 

“Saya lumayan terkenallah saat bekerja di Martha Tilaar. Jadi, setelah saya tidak bekerja lagi di situ, pelanggan-pelanggan saya dulu mencari keberadaan saya. Jadi, ada yang minta potong rambut, bonding dan sebagainya. Tidak mungkinkan, nggak saya layani? Kondisinya saat itu, saya masih tinggal di rumah saudara. Cuma ada garasi sebagai tempat yang memungkinkan untuk melakukan aktivitas salon saya. Padahal awalnya saya nggak niat buka salon, toh saat itu saya sedang mempunyai bayi yang harus saya asuh,” ujar Vivi saat berbincang.

Mulai dirintis sejak 2005, usaha Vivi berkembang pesat. Lantas bagaimana seorang Vivi mengembangkan bisnisnya, hingga akhirnya memiliki empat cabang dalam waktu 16 tahun, dan melatih ribuan perempuan dalam bidang kecantikan? Mari simak kisahnya agar bisa dijadikan contoh dan panutan.

****

Sabtu, 3 Juli 2021 saya tiba di Vivi Spa Lampriet di Jl. Mujair No.6, Bandar Baru, Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Kedatangan saya kemari bukan untuk mempercantik atau memanjakan diri seperti tamu lainnya, melainkan untuk mendengarkan kisah perjuangan Vivi Sharmila dalam membangun bisnis spanya.

Perempuan berseragam batik menyambut ramah kedatangan saya. Dengan senyum lebarnya, ia menawarkan bantuan. Namun, setelah mengetahui kalau saya ingin menemui sang owner, ia pun menyilakan saya duduk di kursi tamu. Saya menikmati ketenangan di ruangan itu; alunan musik yang menenangkan dan interior yang sedap dipandang. Beberapa menit kemudian, akhirnya yang ditunggu muncul di balik pintu dari ruangan sebelah. Ia menyapa saya dengan senyum semringah, sambil memberi salam sesuai protokol kesehatan. Setelah basa-basi, kami pun beranjak ke ruangan sebelah yang merupakan ruangan butik Vivi Spa.

Di sinilah saya mulai menggali seluk-beluk terbentuknya Vivi Spa dari cerita perempuan kelahiran Panton Labu, 13 Oktober 1982 ini. Sebelum terjun ke bisnis spa, Vivi menempuh pendidikan formal terlebih dahulu di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Banda Aceh. Ia mengambil jurusan kecantikan sesuai minatnya.

Tahun 2000, Vivi menjadi salah satu murid yang terpilih dari jurusannya untuk mengikuti pelatihan di salon kecantikan Martha Tilaar Jakarta. Saat itu Vivi masih kelas tiga, padahal persyaratan untuk mengikuti pelatihan harus tamat SMK karena Martha Tilaar mau buka cabang di Aceh. Jadi mereka merekrut alumni dari SMK, untuk dilatih dan dijadikan terapis di salon mereka nantinya.

Karena Vivi mempunyai kemampuan yang bagus, maka dipilihlah oleh gurunya untuk mengikuti pelatihan tersebut. Setelah mengikuti pelatihan selama enam bulan di Jakarta, Vivi pun pulang ke Aceh dan menyelesaikan sekolahnya yang sempat tertinggal. Setelah lulus, ia langsung bekerja di Martha Tilaar dengan lima tahun kontrak masa kerja.

Tsunami Sebagai Batu Loncatan

Tsunami Aceh tahun 2004 menjadi batu loncatan bagi Vivi untuk memulai usahanya. Padahal kala itu, ia dan suaminya hampir saja ditenggelamkan oleh gelombang besar yang disebut tsunami. Vivi yang tinggal di Gampong Lampulo, sempat merasakan terombang-ambing selama enam jam bersama reruntuhan material tsunami. Pasangan muda yang baru tiga bulan menikah ini, harus berjuang untuk menyelamatkan diri. Mereka sempat digulung-gulung oleh air bah dan dijepit oleh beberapa balok kayu yang ikut tersapu oleh tsunami. Vivi dan suaminya terus berpegangan tangan, sambil mendorong balok-balok kayu yang menjepit tubuh mereka.

“Mungkin ada sekitar 10 batang dengan panjang 6 meter, balok yang mengapit kami bersama dengan air tsunami itu. Kondisi saya saat itu sedang hamil muda. Perut saya pun juga ikut terjepit. Saya berpikir, mungkin tidak selamat anak ini. Jadi, saya nggak memperdulikan lagi kehamilan saya. Jangankan untuk mengosumsi vitamin, makan nasi pun tidak,” kenang Vivi.

Selama tiga hari dalam pengungsian, Vivi dihantui rasa takut yang amat dalam. Mungkin tidak hanya dia, tapi semua orang yang mengalami peristiwa tersebut merasakan demikian. Kengerian tsunami seperti yang diberitakan televisi dan media masa, tidak seberapa dibandingkan dengan orang yang megalaminya langsung. Terlebih ketika muncul isu, ada tsunami susulan yang membuat para korban tsunami kocar-kacir, tidak tenang, dan lari ke tempat tinggi untuk menyelamatkan diri. Begitu pula Vivi yang berkali-kali harus naik-turun tangga, ketika mendengar isu yang tidak jelas kabar burungnya itu.

Psikis Vivi benar-benar terganggu saat itu. Ia menolak semua makanan yang diberikan kepadanya. Melihat kondisi Vivi seperti itu, suaminya pun membawa Vivi ke Bireun tempat saudaranya. Di sini mereka memeriksakan kehamilan Vivi ke dokter spesialis kandungan. Saat di USG, rupanya masih ada denyut jantung dari janin yang dikandung Vivi.

“Ini benar-benar mukjizat dan di luar nalar menurut saya. Sebab, perut saya waktu itu kejepit oleh balok-balok besar. Kalau dilihat kondisi perut saya yang biru-biru, penuh lebam bekas jepitan hantaman, tidak mungkin rasanya bayi tersebut bertahan. Tambahnya lagi saya sempat terminum air tsunami karena tenggelam saat digulung-gulung ombak itu. Qadarullah, ia selamat dan lahir tanpa ada kurang satu pun.” Ujar ibu dari dua anak ini.

Di situlah Vivi bersemangat lagi, ia pun kembali merawat kehamilannya dan mengonsumsi makanan sehat. Dua hari di Bireun, Vivi dibawa oleh suaminya ke Medan. Di sana mereka menumpang di rumah orang Aceh yang tinggal di Medan, sebelum akhirnya mereka berangkat ke Jakarta tempat ibu mertua Vivi.

Beberapa bulan di Jakarta, suami Vivi kembali ke Aceh untuk mengurus keperluan pekerjaan. Sedangkan Vivi tinggal di Jakarta dengan mertuanya hingga anak pertamanya lahir di Jakarta. Anak yang telah melewati banyak perjuangan untuk selamat dari bencana besar itu, diberi nama Najla Qanita.

Lima bulan usia Najla, Vivi pun pulang ke Aceh sambil membawa bayinya. Semua orang kaget melihat Vivi karena mereka mengira ia ikut menjadi korban keganasan tsunami. Bahkan ada yang sempat menitipkan doa saat tahlilan untuk Vivi, karena dianggap sudah meninggal dunia.

“Mereka kira saya sudah meninggal. Sebab tidak ada kabar apa pun tentang saya. Terlebih saya tidak terlihat di Aceh, eh tiba-tiba pulang ke Aceh gendong bayi. Kaget kan orang?” ungkapnya dengan gelak tawa.

Di Aceh, Vivi mulai kembali menjalani hidup barunya dengan tinggal di rumah saudaranya di Kampung Keramat. Ia pun kembali bekerja sebagai terapis di Martha Tilaar untuk menyelesaikan kontraknya yang enam bulan lagi tersisa. Setelah itu, Vivi tidak melanjutkan lagi kontraknya, tapi memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan fokus mengasuh anaknya.

Rupanya keberadaan Vivi dikenal oleh orang-orang di sekitarnya. Khususnya para mahasiswi yang pernah menjadi pelanggannya di Martha Tilaar. Mereka datang menemui Vivi untuk disalon, seperti gunting rambung, rebonding, dan sebagainya. Saat itu Vivi tidak memiliki modal apa pun karena dia tidak berniat untuk membuka usaha salon. Namun, karena sudah diminta oleh pelanggannya, maka dimanfaatkanlah garasi rumah tempat tinggalnya untuk melakukan aktivitas salonnya.

“Kebetulan saat itu saya belum punya mobil, jadi di garasi itulah saya nyalonin mereka sambil ayun-ayun anak. Saya hanya punya cermin kecil, terus kursi tempat duduk, gunting, dan satu buah kipas angin. Awalnya cuma diminta untuk potongin rambut, terus ada yang minta rebonding juga. Jadi saya belilah catokan yang murah-murah itu. Untuk mencuci rambut, mereka harus ke kamar mandi dan untuk mengeringkan rambut menggunakan kipas angin secara manual. Ya, begitulah keadaan awalnya,” kata Vivi.

Mulai dari garasi rumah, semakin banyak yang mengetahui aktivitas salon Vivi. Mereka tahu dari mulut ke mulut, hingga semakin hari kian bertambah pelanggannya. Dari yang semula lima orang, meningkat jadi sepuluh, lima belas, dan seterusya. Uang dari hasil salonnya itu, Vivi belikan barang-barang untuk kebutuhan salonnya, seperti beli cermin yang lebih besar, alat pengering rambut, dan beberapa produk perawatan lainnya. Sebab, ada pelanggan yang meminta perawatan wajah (facial) ke Vivi.

Vivi berbincang dengan salah satu karyawannya terkait pelayanan kepada pelanggan

Tamunya yang datang pun mulai dari kalangan atas dan orang hebat-hebat yang sebelumnya pernah menggunakan jasa Vivi saat ia bekerja di Martha Tilaar. “Saya tanya ke ibu itu, ‘apa nggak malu Bu perawatan di sini dengan kondisi salon seadanya ini?’ Nggak apa-apa asalkan dengan Vivi bilang ibu-ibu itu,” jelas Vivi saat menceritakan kisahnya ke saya.

Setahun kemudian, Vivi menyewa sebuah toko yang berada di Kampung Laksana, Jalan Darma, tepatnya di belakang Pertamina. Sebab, tidak memungkinkan lagi aktivitas salonnya dilakukan di garasi rumah karena pelanggannya semakin ramai. Ia membeli perabotan untuk kebutuhan salonnya itu ke orang-orang kampung yang dikenalnya, agar bisa dicicil bayarannya.

Di salon barunya itu, sudah ada enam buah cermin, bathtub, dan perabotan lainnya pun sudah lumayan lengkap. Vivi mulai mengajarkan keahliannya ini ke adik, kakak, dan saudara-saudara terdekatnya untuk membantunya di salon. Begitu pula dengan perempuan-perempuan yang putus sekolah, ia rekrut untuk dilatih dan bekerja di salonnya. Di sini Vivi mulai memberikan jasa pelayanan spa karena sudah mempunyai barang-barang yang menunjang pelayanan tersebut.

“Ada sekitar tujuh orang yang bekerja dengan saya saat itu. Alhamdulillah, karena pelanggannya lumayan ramai, setahun kemudian kita pindah ke toko yang lebih besar di sebelahnya yang dibeli dari hasil salon tersebut. Saya merekrut karyawan yang lebih banyak lagi, sekitar 15 orang. Mereka kita latih selama tiga bulan, uang saku kita kasih, dan setelah bisa, kemudian baru kita pekerjakan di Vivi Spa.” Jelas Vivi.

Dua tahun setelah tsunami, tepatnya Tahun 2006 Vivi yang semula tidak berniat membuka usaha sudah menjadi pengusaha muda yang sukses di bidang kecantikan. Tidak hanya lihai dalam menata rambut dan melakukan spa, Vivi juga seorang make up (MUA) pengantin yang cukup terkenal di Kota Banda Aceh. Sehari dia bisa mendadani empat sampai lima pengantin, bila sedang banyak yang mengadakan acara pernikah. Bahkan bila di saat musim wisuda, Vivi bisa mendandani 80-100 wisudawati yang akan di wisuda dalam sehari.

“Itu mulai dari jam tiga pagi sudah ada yang datang untuk kita dandani. Mungkin dari sekitar 500-an orang yang di wisuda dari berbagai fakultas, seratusnya dandannya ke kita. Jadi, ada empat dan enam asisten yang membantu saya saat itu. Sebab waktu itu, cuma ada tiga MUA yang ada di Banda Aceh, jadi wajarlah kita banyak mendapat orderan,” cerita Vivi dengan penuh semangat.

Begitulah aktivitas Vivi di salon kecantikan yang dibangunnya, hingga mempekerjakan banyak perempuan yang dilatihnya mulai dari nol. Semua karyawan yang bekerja dengan Vivi bukanlah orang yang siap jadi, melainkan ditempa terlebih dahulu hingga mereka mempunyai keahlian dalam bidang yang digelutinya. Vivi bukan saja mengajarkan keahlian dalam menata rambut, spa, atau perawatan tubuh lainnya kepada para perempuan yang direkutnya, tapi juga teknik komunikasi, dan cara melayani pelanggan dengan baik sehingga membuat nyaman setiap pelanggannya. Bahkan Vivi juga melatih mereka menjadi seorang trainer sehingga bisa melatih perempuan lainnya yang akan direkrut menjadi karyawan berikutnya.

Vivi juga selalu memberi motivasi kepada karyawannya agar mempunyai mimpi dan bersemangat untuk meraih kesuksesan. Di antara para perempuan yang dilatih dan pernah bekerja dengannya, juga sudah ada yang membuka usaha salon sendiri. Itu menjadi sebuah kebanggan bagi Vivi karena ilmu yang diajarkan bermanfaat untuk orang lain dan mendatangkan penghasilan buat mereka.

Menurut Vivi kurang lebih ada seribu perempuan yang pernah dilatihnya sejak tahun 2005. Berbagai macam karakter perempuan sudah pernah dihadapi dengan bermacam tingkah perilaku. “Ada yang sudah sukses buka usaha salonnya sendiri, bisa jadi pelatih buat calon karyawan baru yang direkrut, ada yang masih bekerja dari pertama sampai sekarang, tapi banyak juga yang bertingkah dan melanggar kontrak secara sepihak. Alasannya juga beragam, karena sudah menikah, ada yang tidak cocok kemudian keluar, dan banyak juga yang berkhianat kemudian kabur tanpa ada kabar.”  

Perjalanan Vivi dalam mengembangkan bisnis spanya, sebenarnya tidak seperti yang terlihat mulus-mulus saja. Banyak kendala dan air mata di awal membangun bisnis spanya. Jika bukan karena pasionnya, mungkin Vivi sudah duluan menyerah sebelum sukses seperti sekarang. Namun, kendala itu akhirnya bisa juga dilaluinya setelah mengikhlaskan semua masalah yang menghampiri dirinya.

Kendala dalam Bisnis Spa

Pijat gratis untuk nenek-nenek di panti jompo

Vivi mengatakan kendala utama dalam merintis bisnis spa ini terletak pada sumber daya manusianya. Sebab yang ia bangun bukanlah barang atau benda, tapi manusianya. Bagaimana yang awalnya mereka tidak bisa apa-apa, menjadi orang yang mempunyai keahlian khusus sehingga mendatangkan penghasilan bagi mereka. Tentunya dalam mendidik manusia itu butuh kesabaran dan keikhlasan, karena bila tidak, akan menjadi bumerang bagi diri jika harapan tidak sesuai dengan kanyataan.

“Di awal-awal merintis usaha, saya sempat kaget dan stress berbulan-bulan ketika dihadapkan dengan masalah. Sebab masalahnya bukan karena nggak ada pelanggan, tapi di karyawannya. Ada yang sudah kita ajarkan kemudian mereka bertingkah saat bekerja, susah diatur, tidak melayani pelanggan dengan baik, tidak bisa diajak bekerjasama, dan sebagainya. Namun, yang paling menyakitkan itu di antara masalah lainnya, yaitu ketika setengah dari karyawan saya berhenti bekerja dan diambil oleh orang lain yang baru membuka bisnis spa dengan iming-iming gaji yang lebih besar dari gaji yang saya berikan.” 

Padahal saat itu Vivi sudah melatih mereka mulai dari nol dan mengeluarkan uang yang tidak sedikit selama masa pelatihan. Persoalan ini benar-benar menjadi masalah besar bagi Vivi, bahkan ia sampai ingin menyerah. Beruntung ia mempunyai suami yang selalu memberi motivasi dan semangat di kala ia jatuh.

“Suami saya bilang, ‘ilmu yang kamu kasih itu adalah ilmu bermanfaat untuk mereka, jadi kamu harus ikhlas memberikannya. Memang ikhlas itu tidak sekadar diucapkan di mulut, sakit hati dan kecewa pasti ada. Namun, lama-kelamaan kamu akan belajar mengikhlaskan dan melepaskan mereka dengan rasa tanpa beban. Perlu kamu ingat bahwa rezeki itu buka dari mereka, tapi dari Allah melalui mereka. Namun, bila mereka sudah tidak cocok dengan kita berarti itu bukan rezeki kita. Ada cara lain yang Allah gantikan untuk kamu nantinya.’ Dari situlah saya belajar menjadi pemimpin yang bijaksana, mempunyai hati yang luas, sehingga ketika menghadapi persoalan seperti itu saya bisa mengikhlaskannya tanpa beban,” jelas Vivi.

Vivi tidak mau membawa persoalan yang dihadapinya melalui jalur hukum. Walaupun sebenarnya jalan itu bisa ia tempuh karena para karyawan tersebut masih terikat kontrak kerja dengannya. Namun, Vivi lebih memilih mengikhlaskan dari pada memperpanjang persoalan. Ia mengikhlaskan semua ilmu yang sudah diajarkan kepada mereka karena amalan dari ilmu yang bermanfaat itu, tiada henti selama mereka masih mempergunakannya untuk jalan kebaikan.

Selain itu, ada tahap yang lebih menyakitkan lagi yang menurut Vivi tidak pantas untuk ditiru. Seorang karyawan yang menjadi kepercayaannya, justru membuka usaha salon yang konsepya sama dengan Vivi Spa tanpa sepengetahun dirinya. Kemudian merekrut semua pelanggan terbaik Vivi ke salon yang dibuka karyawan tersebut.

“Bagi saya sebenarnya tidak masalah kalau dia membangun usaha spa, karena dia sudah bekerja dan mungkin ingin mandiri juga dengan membuka usaha sendiri. Harusnya dia sudah keluar dulu dari tempat saya, baru membangun usahanya sendiri. Bukannya membangun usaha, tapi posisinya dia masih bekerja dengan saya sebagai seorang terapis. Otomatis dong saat dia bekerja di tempat saya, dia mengajak pelanggan saya pindah ke tempat dia,” ujar Vivi sedikit kesal.

Bahkan karyawan tersebut menjiplak semua konsep Vivi Spa, mulai dari menu, produk, dan seragam karyawan yang digunakan sama seperti yang dibuat Vivi. Padahal saat itu si karyawan masih terikat kontrak kerja dengan Vivi Spa. Saat Vivi mengklarifikasi semuanya ke dia, justru karyawan tersebut keluar dari Vivi Spa dengan tanpa terhormat dan meninggalkan Vivi begitu saja.

Manager Vivi sempat geram dan marah saat itu atas perilaku karyawan tersebut. Namun, apa yang dilakukan Vivi? Dia hanya diam dan mengikhlaskan tanpa mau memperkarakan hal itu. Baginya itu adalah ujian dan tantangan dalam bisnis spa.

“Saya tidak mau direpotkan dengan masalah-masalah kayak gitu. Setiap usaha pasti punya masalah, dari 100% perjalanan usaha hanya 40% yang aman. Selebihnya yang 60% itu adalah masalah. Jadi, saya nggak mau berlama-lama dengan masalah itu. Bila ada satu karyawan yang bermasalah, saya harus melepaskannya karena saya masih punya puluhan karyawan lainnya yang loyal ke saya. Anggap saja itu bukan rezeki saya dan saya nggak mau dipusingkan lagi dengan masalah tersebut. Makanya saya lebih memilih diam dari pada memperkarakannya.”

Fokus Vivi dalam mengembangkan bisnis spanya bukan pada masalah. Ia tidak mau terbeban dengan masalah seperti yang diceritakan di atas. Bila ada karyawan bermasalah, dia melepaskan karyawan tersebut bila dianggap sama-sama tidak cocok lagi. Kemudian Vivi merekrut orang baru yang kemudian dilatihnya lagi dari awal sampai siap jadi. Tak heran bila ditotalkan sejak tahun 2005, perempuan yang pernah dilatih Vivi sampai ribuan jumlahnya. Sebab masalah dalam bisnis spa ini selalu ada dan tidak jauh-jauh dari keloyalan seorang karyawan.

Fokus Vivi ialah bagaimana ia bisa tetap menjalani usahanya dan membuka cabang lebih banyak lagi, bahkan bisa di seluruh daerah yang ada di Aceh kemudian di luar Aceh. Itu terbukti sampai sekarang Vivi masih bisa bertahan dan terus melebarkan sayap usahanya ke berbagai daerah.

“Sekarang kita lagi proses tahap pembangunan Vivi Spa di Meulaboh dan Bireun. Lokasinya sudah dapat, tinggal launching saja lagi nanti mungkin di pertengahan atau akhir tahun ini.” Vivi sangat senang dengan apa yang diperolehnya saat ini.

Menurut Vivi untuk bisa sampai ke titik di mana ia harus mengikhlaskan semua masalah tersebut, butuh pembelajaran panjang. Pembelajaran itu ia dapat dari suami yang terus mendukung dan menyemangati Vivi ketika dihadapkan dengan masalah. Sebab yang menjadi masalah itu bukan karena tidak ada pelanggan atau dengan rumah tangganya, tapi terletak pada sumberdaya manusianya.

Vivi berharap ke depan bisa terus membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi perempuan. Dia terus melatih orang-orang yang menginginkan ilmu darinya walau ada yang akhirnya menghiantai. Namun, itu dianggapnya sebagai tabungan amal di akhirat kelak karena yang diajarinya ilmu yang bermanfaat. Vivi juga berkeinginan suatu saat nanti ia bisa melatih dan mendidik para ibu rumah tangga yang suaminya tidak mempunyai penghasilan. Dengan adanya keahlian yang dilatih, berharap akan mendatangkan penghasilan buat mereka dan keluarganya.

Aktivitas Sosial

Pelatihan menjahit untu ibu-ibu

Memiliki usaha yang mapan menjadi sarana bagi Vivi untuk kegiatan-kegiatan sosial. Ia memiliki orgnisasi nirlaba yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan yang bernama Yayasan Dara Mandiri Aceh. Yayasan ini berdiri pada 2018 dan Vivi merupakan pembinanya.

Melalui yayasan ini, ia menularkan semangat berbagi kepada mereka yang hidupnya kurang beruntung. Ia memberikan pelayanan kepada mereka sesuai bidang yang ditekuninya. Misalnya, memberikan potong rambut gratis untuk anak-anak di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kampung Jawa.

Pernah juga melakukan kegiatan yang sama dan berbagi dengan anak-anak panti asuhan Yayasan Islam Media Kasih, kegiatan memberikan pijat gratis untuk nenek-nenek di panti jompo Aceh, dan potong rambut bagi pasien di Rumah Sakit Jiwa Aceh.

Selain itu, Vivi juga membuat pelatihan gratis menjahit hijab syari di Gampong Lampulo, Gampong Keramat, dan Gampong Laksana. Vivi juga memberikan mainan dan buku cerita untuk anak-anak di Baby Care Bunda Meri. Kegiatan sosial ini rutin dilakukannya setiap tahun.[]

Nuu Husien; Ibunya Para Penyintas Talasemia

NUU Husien layak dilakabkan sebagai “ibunya” para thallers di Aceh. Suatu istilah yang disematkan bagi para penyintas talasemia: penyakit kelainan darah yang terjadi karena faktor genetik dan mengharuskan penyintasnya melakukan transfusi darah sepanjang hidup mereka. Orang-orang dengan talasemia memiliki hemoglobin rendah sehingga kerap mengalami anemia. Itu sebabnya para penyintas perlu melakukan transfusi darah secara rutin.

Penyakit ini, bukan saja namanya yang bikin keseleo lidah saat disebut, tetapi juga kalah populer di telinga orang awam dibandingkan penyakit-penyakit lain seperti hipertensi, kanker, tumor, tuberkulosis, atau diabetes. Padahal, penyakit ini justru lebih berbahaya karena tak bisa disembuhkan. Tak bisa pula dicegah melalui pola gaya hidup sehat. Itu artinya, prevalensi talasemia sangat memengaruhi kualitas generasi-generasi yang lahir di masa mendatang jika tidak dilakukan intervensi sejak dini.

Namun, sejak lebih dari sewindu lalu, pelan-pelan kampanye tentang talasemia mulai bergaung. Sejak Yayasan Darah Untuk Aceh (YDUA) yang digerakkan Nuu Husien hadir di Aceh pada 2012 lalu. Saat itu, Nuu menggagas gerakan kakak asuh bagi para thallers agar lebih mudah mendapatkan pendonor setiap bulannya. “Satu thallers kita usahakan punya tiga kakak asuh, karena mereka ini kan harus transfusi setiap bulan, sementara kita hanya bisa mendonorkan darah tiap tiga bulan sekali, minimal 2 bulan,” kata Nurjannah Husien, yang akrab disapa Kak Nuu oleh rekan-rekannya, “dulu terdata pernah punya lebih dari dua ribu pendonor,” ujar Nuu Husien.

***

Minggu ketiga Juni 2021 lalu, saya dan Nuu Husien bertemu di sebuah kedai kopi di bilangan Jalan Panglima Nyak Makam Banda Aceh. Hari yang terik dan cuaca yang bikin gerah membuat kami memilih minuman dingin untuk diseruput sambil berbincang. Nuu juga memesan sepiring nasi dengan lauk ayam goreng untuk santap siangnya. Cerita demi cerita meluncur dari mulut Nuu Husien berselang-seling dengan suapan nasi yang masuk ke mulutnya.

Perempuan kelahiran Aceh Jaya, 24 April 1969 ini berkisah, YDUA lahir dari pengalaman pribadinya yang “indah”. Suatu ketika, ibunda Nuu sakit dan membutuhkan transfusi darah. Beruntung, pihak keluarga sangat mudah mendapatkan darah. Bertahun-tahun kemudian, sepenggal pengalaman dari masa lalu inilah yang memantik Nuu Husien untuk turut berbagi kemudahan bagi orang lain.

Sedikit flash back, awalnya Nuu adalah penggerak di Yayasan Bumiku Hijau atau Yabumi. Awal tahun 2012, yayasan ini membuat kegiatan donor darah dan bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia Banda Aceh. Siapa sangka, pertemuannya dengan Ketua PMI Banda Aceh saat itu, dr Ridwan, mengubah haluan aktivitas seorang Nurjannah Husien. Dari yang awalnya bergerak di bidang lingkungan, beralih pada isu sosial kemanusiaan. Bersama empat rekan lainnya, Nuu akhirnya membentuk yayasan baru yang diberi nama Yayasan Darah Untuk Aceh. Kombinasi kata “darah” dan “Aceh” memang terkesan “gahar” dan di awal-awal dulu, menurut keterangan Nuu, sering mengingatkan orang pada konflik Aceh.

“Dari Dokter Ridwan kami tahu bahwasanya ada pasien di rumah sakit yang rutin butuh darah setiap bulan,” kata Nuu, Senin, 22 Juni 2021.

Sebagai orang awam yang berlatar belakang pendidikan ekonomi, ia pun sempat bingung saat dokter menyebutkan istilah talasemia untuk penyakit yang diderita oleh pasien yang rutin membutuhkan transfusi darah tersebut. Namun, kebingungan itu segera terjawab setelah ia mencari tahu di internet. Meski sangat minim informasi, tetapi setidaknya ada satu informasi yang menjadi hot button bagi Nuu, yakni munculnya angka 13,4% yang menginformasikan jumlah penderita talasemia di Aceh.

“Angka ini juga bikin saya penasaran, soalnya tidak ada keterangan lain selain angka itu. Jadi tidak diketahui angka riilnya berapa.”

Namun, Nuu meyakini ini bukanlah angka yang kecil. Berbekal angka itu, Nuu mulai mencari-cari informasi dan melakukan pendekatan kepada pihak-pihak yang menurutnya bisa memberikan informasi, khususnya para dokter. Tak hanya dokter-dokter yang ada di Aceh, ia juga menjalin hubungan dengan dokter yang ada di Jakarta. Nuu juga mulai melacak keberadaan para penyintas talasemia di Aceh. Untuk ini tidak begitu sulit, dia tinggal pergi ke Sentra Talasemia Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin di Banda Aceh.

Bukan hanya itu yang membuat dirinya kaget, pasien talasemiayang rutin melakukan transfusi darah di RSZA juga sangat banyak. Ada ratusan pasien dari berbagai daerah di Aceh dan umumnya berasal dari Kabupaten Aceh Besar dan Pidie. Jumlahnya pun dari tahun ke tahun terus bertambah. Misalnya, pada 2018 lalu menurut catatan YDUA hanya 550 pasien, tahun 2021 ini naik signifikan menjadi 750 pasien. Menurut Nuu, angka ini hanyalah fenomena gunung es.

“Kami juga mendapatkan fakta, ternyata selama ini para penyintas ini juga dikucilkan di lingkungannya, mereka ada kalanya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan,” kata Nuu.

Selidik punya selidik, pengucilan itu terjadi akibat minimnya informasi tentang penyakit genetik ini. Tidak ada istilah lokal untuk talasemia. Penderitanya yang mengharuskan transfusi darah rutin ada kalanya dianggap sebagai penyakit kutukan, sebagai tumbal, hingga guna-guna. Tak jarang, alih-alih berobat ke rumah sakit, keluarga justru membawa ke dukun. Bukan hanya itu, kasus-kasus yang ditemui YDUA bahkan ada istri yang mendapatkan perlakuan tak layak bahkan diceraikan suaminya karena dianggap sial telah melahirkan anak dengan talasemia. Fenomena sosial ini tentu saja tidak bisa dibiarkan, karena faktanya anak-anak talasemia lahir dari pasangan orang tua yang berstatus sebagai carrier atau pembawa gen.

“Inilah yang harus diedukasi sehingga sasaran kesalahan itu tidak hanya ditimpakan pada satu pihak saja, khususnya perempuan sebagai ibu yang melahirkan. Satu-satunya cara untuk mencegahnya lahirnya generasi-generasi dengan talasemiaialah tidak menikah sesama carier, caranya bisa diketahui melalui skreening darah. Tapi, ini memang tantangan, walau bagaimanapun yang namanya perasaan dan cinta kan sudah urusan hati,” katanya dengan mimik prihatin.

Menyadari betapa peliknya kondisi ini, Nuu menjadi semakin serius mengampanyekan tentang penyakit tersebut. Sejak awal terbentuknya YDUA, selain menginisiasi gerakan kakak asuh, dia juga terus melakukan sounding baik di media arus utama maupun media sosial seperti Twitter atau Facebook. Sejalan dengan itu, dia terus menjalin hubungan dengan berbagai pihak dan terlibat dalam proyek-proyek penelitian tentang talasemia. Bagi Nuu, ini ibarat membuka jalan di hutan rimba.

Di tahun-tahun pertema terbentuk, YDUA langsung digandeng oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia untuk terlibat dalam penelitian. Pihaknya juga bekerja sama dengan komunitas darah rhesus negatif di Banda Aceh sebagai upaya memenuhi ketersediaan darah bagi pasien yang memiliki darah rhesus negatif. Saat ini, YDUA juga sudah bekerja sama dengan Laboratorium Prodia untuk pemeriksaan atau screening darah gratis. Baru-baru ini, mereka juga menjalin kerja sama dengan UIN Ar-Raniry untuk penelitian dari aspek antroplogi dan psikologi.

Belajar Talasemia dari Hanoi hingga Yunani

Nuu Husin bersama Farah Diba berdiri di depan poster YDUA saat menghadiri konferensi internasional di Yunani

Dedikasi Nuu untuk menghadirkan literasi yang memadai tentang talasemia memang tak bisa dianggap sebelah mata. Ia bahkan rela merogoh kocek pribadi untuk menimba ilmu hingga lintas benua. Tahun 2012, saat usia YDUA masih seumur jagung, bersama pendiri lainnya, Aulia Rohendi, Nuu menghadiri seminar internasional tentang talasemia di Hanoi, Vietnam.

“Saya terpaksa menjual dua alat selam seharga satu sepeda motor untuk biaya kami ke Hanoi, biaya tiket, dan semua akomodasi selama lima hari di sana,” ujar perempuan yang juga lihai menyelam ini.

Namun, ada satu momentum selama perjalanan ke Hanoi yang membuat Nuu tidak pernah menyesali keputusannya saat itu. Dalam perjalanan menuju Hanoi, mereka transit di Kuala Lumpur. Dalam pesawat rute Kuala Lumpur—Hanoi ini ia bertemu dengan seorang gadis dari Asia Selatan, tepatnya dari Maladewa. Kursi mereka satu deret dan posisi gadis itu diapit oleh Nuu dan Aulia. Untuk mengisi waktu selama perjalanan, seperti biasa, perempuan ramah ini pun mulai menyapa “tetangganya”.

“Dan siapa sangka ternyata gadis itu seorang penyintas dan dia juga menjadi salah satu peserta seminar di Hanoi,” cerita Nuu yang masih mengingat dengan jelas memori itu, “saat itu juga ada perasaan haru yang muncul dalam diri saya, saya peluk gadis itu, saya menangis, benar-benar tidak bisa menahan emosi. Saya yakin ini bukan kebetulan, tetapi cara Allah membuka jalan pada saya…”

Dalam forum internasional itu, Nuu Husien tak melewatkan sedetik pun waktu yang mereka punya. Karena terkendala bahasa, kadang-kadang dia meminta Aulia untuk menerjemahkan paparan pemateri. “Saya menyimak, mencatat poin-poin penting. Saat itu saya bertekad, saya katakan pada Aulia, ‘Suatu hari, kita harus bisa presentasi seperti itu,’” ujar Nuu dengan penuh semangat.

Semangat itu menjadi oleh-oleh berharga setelah kembali lagi ke Aceh. Yang pertama dilakukan ialah segera membentuk badan hukum komunitas supaya lebih leluasa dalam bergerak. Pola kampanye pun mulai diubah, dari awalnya fokus pada pemenuhan darah bagi pasien, menjadi lebih fokus pada kegiatan-kegiatan penelitian sebagai upaya preventif untuk jangka panjang. Komitmennya adalah memutuskan rantai talasemia di Aceh yang sangat tinggi. YDUA berkomitmen hadir bukan saja untuk membantu persoalan jangka pendek. Misi lembaga ini mencegah terjadinya kelahiran dengan talasemia mayor pada 2035.

Tahun  2017, kesempatan kedua untuk belajar ke luar negeri kembali hadir. Kali ini ke Kota Thesaloniki, Yunani. Sebuah negeri di Semenanjung Balkan yang namanya sering muncul di buku-buku karena tokoh-tokohnya di masa lampau. Lagi-lagi, kegigihan dan pengorbanan Nuu diuji di sini. Kendala biaya tetap menjadi faktor utama. Ia berhasil mendapatkan sokongan dana dari salah satu perusahaan farmasi di Jakarta, ia juga mendapatkan bantuan dari Darwati A Gani, politisi perempuan di Aceh yang saat itu suaminya menjabat sebagai Gubernur Aceh. Namun, dana yang terkumpul masih jauh dari cukup. Ia memutuskan untuk menjual sepeda motornya untuk mendapatkan uang tambahan.

“Akhirnya, berangkatlah kami, tapi itu pun tidak semulus yang kami bayangkan, karena terkendala visa, kami tidak bisa langsung terbang ke Yunani dari Indonesia, tetapi harus mampir dulu di Jerman. Selama di Jerman kami menumpang pada WNI yang ada di sana,” kenangnya.

Perjalanannya ke Yunani kali ini bersama Farah Diba, salah satu relawan di YDUA dan berlatar belakang dari dunia kesehatan. Keberadaan Farah yang pernah studi di Jerman tentu saja sangat membantu.

Selama di Yunani, mereka bertemu dengan para ahli talasemia dunia seperti dari Amerika, Inggris, Siprus, dan sebagainya. Siprus pernah menjadi negara dengan kasus talasemia tinggi, tetapi kini kasusnya menjadi nol karena keseriusan intervensi pemerintahnya. Salah satunya dengan mencegah terjadinya pernikahan sesama carier. Bahkan, salah satu peserta adalah dokter dari Iran yang juga seorang penyintas. Pertemuan dengan dokter tersebut lagi-lagi menginspirasi Nuu untuk memasifkan kampanye talasemia di Aceh.

Namun, yang sangat berkesan saat itu, YDUA mendapatkan kesempatan untuk presentasi. Walaupun hanya beberapa menit di atas podium, tetapi bisa menyuarakan kondisi di Aceh ke panggung dunia tentulah kemewahan luar biasa. Nuu merasa impian kecilnya yang disampaikan pada Aulia tempo hari di Hanoi telah terwujud.

Kerja keras Nuu Husien dan para relawan di YDUA bukan hanya mengadvokasi kebutuhan darah bagi pasien saja. Secara psikologis juga memberikan pendampingan bagi mereka. Tak bisa dimungkiri, para thallers ini awalnya banyak yang memiliki tingkat kepercayaan diri rendah. Di rumah sakit misalnya, mereka seolah menjadi pasien kelas dua. Namun, berkat edukasi bertahun-tahun, kini mereka sudah berani speak up dan tak malu-malu lagi mengakui diri mereka sebagai penyintas. Yang lebih menggembirakan, komunitas-komunitas para thallers mulai terbentuk dengan induk bernama Squad Talasemia. Sudah terbentuk juga di beberapa daerah. Mereka yang tergabung di komunitas ini diharapkan bisa menjadi perpanjangan tangan untuk mengedukasi masyarakat.

Di awal-awal pandemi, Nuu sangat kesulitan mendapatkan darah untuk pasien talasemia, ia pun meminta Kasdam untuk mengirimkan pendonor akhirnya prajurit Batalion Raider di Mata Ie, Aceh Besar, melakukan donor darah massal

Membangun Rumah Singgah “Rumah Kita”

Dalam perjalanannya, pasien-pasien yang diadvokasi oleh YDUA bukan hanya pasien talasemia saja, melainkan pasien dengan penyakit-penyakit berat seperti kanker dan tumor. Mereka umumnya berasal dari luar Kota Banda Aceh dan berasal dari keluarga ekonomi lemah. Rumah singgah ini menjadi hunian sementara bagi pasien dan keluarga pasien yang berobat ke Banda Aceh. Tak hanya di Aceh saja, pendampingan juga dilakukan hingga ke rumah sakit yang ada di Jakarta.

Selain tidak berbayar, rumah singgah ini juga menyediakan makanan sehat gratis terutama bagi pasien. Nuu sering membagikan informasi tentang aktivitas rumah singgah di beranda media sosialnya dan itu menjadi sarana untuk untuk menghimpun donasi. Dalam istilah Nuu, orang-orang baik selalu dikirimkan Tuhan dengan cara yang ajaib. Misalnya, ketika stok pangan sudah menipis, tiba-tiba sudah ada yang mengantarkan sembako. Ia juga bersyukur karena di sekelilingnya hadir orang-orang yang tulus dan bergerak tanpa pamrih.

“Kampanye ini akan terus dilakukan, kenapa? Karena talasemia ini merupakan salah satu dari lima besar penyakit yang menggerogoti anggaran kesehatan kita. Estimasinya, satu anak itu dalam setahun bisa menghabiskan Rp300—400 juta rupiah, karena mereka tidak cukup hanya dengan transfusi saja, tetapi juga perlu mengonsumsi obat untuk menghilangkan efek penumpukan zat besi. Obat ini mahal dan dosisnya akan semakin tinggi bagi pasien yang transfusinya sering,” kata finalis Kartini Next Generation 2014 dari Kominfo dan CNN Heroes ini.

Berkat kampanye masif ini, pada peringatan World Talasemia Day pada 2016 lalu, Pemerintah Aceh akhirnya mencanangkan kampanye zero talasemia. Namun, Nuu berharap, tindak lanjut dari kegiatan itu bisa terus dilakukan dengan melahirkan berbagai kebijakan pencegahan talasemia. Dalam seminar yang digelar YDUA pada 10 Juli lalu, Ketua PKK Aceh, Diah Erti, sudah menyatakan ajakannya untuk bekerja sama dengan YDUA. Nuu tentu saja menyambut gembira ajakan ini.

Tantangan di Masa Pandemi

Istri Gubernur Aceh, Dyah Erti, berkunjung ke Rumah Kita pada Maret 2020 untuk mengantarkan donasi dan memastikan anak-anak di RK aman selama pandemi.

Kondisi pandemi menjadi tantangan tersendiri bagi YDUA untuk mendapatkan darah bagi pasien dampingan mereka. Kondisi ini membuat orang-orang takut mendonorkan darahnya ke PMI, sehingga stok darah di PMI sering kali kosong. Kalau sudah begini, Nuu akan “bermuka tebal” mengirimkan broadcast ke berbagai grup Whatsapp atau media sosial Facebook mengenai kebutuhan darah lengkap dengan nama pasien.

Tahun lalu, suatu kali ia sangat kesulitan mendapatkan darah untuk salah satu anak yang kondisinya sudah inkompatibilitas. Ini merupakan reaksi penolakan alamiah tubuh jika pasien mendapatkan darah dari orang-orang yang berbeda dan tidak cocok. Dalam kasus pasien tersebut, sudah beberapa pendonor dites kecocokan darahnya tetapi tidak ada yang sesuai. Namun, tiba-tiba Nuu mendapat informasi kalau Gubernur Aceh Nova Iriansyah akan melakukan donor darah ke PMI. Ia pun mencari tahu apa jenis golongan darah gubernur dan ternyata cocok dengan pasien tersebut.

Setelah mengetahui itu, ia langsung mengontak rekannya di PMI dan meminta agar darah itu disiapkan untuk pasien.

“Alhamdulillah, darah Pak Gub cocok dengan pasien ini dan kali itu dia berhasil mendapatkan pendonor,” kata Nuu, tetapi, yang ia tidak sangka, kondisi ini kembali berulang, sayangnya pada kali kedua ini pasien tidak bisa diselamatkan.

Namun, ia bersyukur, kejadian itu membuat pemimpin daerah jadi tahu bagaimana susahnya mencari darah di masa pandemi ini. Tak lama berselang, Pemerintah Aceh mengeluarkan kebijakan wajib donor darah bagi setiap ASN. “Ini salah satu bentuk dukungan pemerintah yang sangat besar, walaupun darah-darah itu tidak semuanya digunakan untuk pasien talasemia, tetapi kebijakan ini perlu diapresiasi apalagi di tengah kondisi sulit seperti sekarang,” katanya.

Tiga jam bersama Nuu Husien rasanya terlalu singkat, banyak cerita kerelawanan yang perlu diteladani dari sosok yang penuh energi itu. Darinya juga kita bisa belajar; semangat untuk membantu orang lain tak selamanya dipantik oleh pengalaman buruk atau menyedihkan. Jika kebahagiaan bisa menggerakkan, mengapa harus menunggu pengalaman pahit?[]

Sigupai Mambaco: Bakti Literasi Sang Dara Bohemian

Kampung Tangah Rawa, Aceh Barat Daya, adalah pemukiman tua di batas Kecamatan Susoh dengan Blangpidie. Disebut ‘tangah rawa’ atau ‘di tengah rawa’ karena pada akhir abad ke-19 kampung ini memang berdiri di tanah rawa, yang banyak mengepung Susoh masa itu. Namun, versi lain mengatakan bahwa “rawa” di sini, dibaca sesuai pengucapan bahasa Jamu (rao), sebenarnya menunjukkan asal muasal penduduk kampung ini. Yaitu dari Rao, sebuah kecamatan yang kini termasuk Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.

Di kampung yang penduduknya ramah ini, sebuah rumah di Dusun Kulam Tuha tampaknya seperti magnet bagi anak-anak. Setiap Ahad sore, rumah itu ramai oleh anak-anak yang duduk-duduk membaca. Di hari lain, mereka tampak asyik mendengarkan dongeng yang dituturkan seorang dewasa. Hari lain lagi, eksperimen sederhana seperti membuat kompos dan mendaur ulang sampah, hadir di situ.

Itulah selintas kegiatan yang ada di Sigupai Mambaco (Sigupai Membaca) besutan Nita Juniarti.

“Sebetulnya saya ini lulus sebagai ‘tukang asah batu nisan’,” canda Nita. Candaan ini biasa dilemparkan orang saat tahu jurusan yang digeluti Nita di kampusnya dulu. Namun, gadis penduduk asli Susoh kelahiran 1993 ini tidak sakit hati bila ada yang berguyon begitu.

“Yang penting sikap pribadi kita. Setiap pilihan ada konsekuensinya,” katanya saat dihubungi via telepon, Kamis, 17 Juni 2021. Pembawaan Nita yang riang dan positif, seolah cermin sederet pengalaman hidupnya yang menarik.

Selepas lulus dari Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Ar Raniry Banda Aceh, Nita sempat menjadi pengajar dan staf di PAUD UIN Ar Raniry. Menjadi ‘kakak asrama’ di Fatih Bilingual School Banda Aceh juga sempat dilakoninya.

“Saya memang sangat tertarik pada dunia pendidikan, budaya dan literasi,” ujar Nita. Tahun 2015 saat mulai menjadi jurnalis sebuah media siber, Nita dipilih Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) sebagai salah satu kuli flashdisk meliput kegiatan Explore Pulo Aceh.

Selain piawai menulis, yang ditabalkannya dengan menjuarai beberapa lomba menulis, Nita mengaku tak betah diam menetap di suatu tempat. Rekam jejaknya sejak 2015 menunjukkan kedinamisan yang mendukung pengakuannya ini.

“Saya suka anak-anak, dan gemar sekali jalan-jalan alias merantau,” katanya. Hobinya ini mendorongnya menjadi pegiat program Pustaka Ransel besutan komunitas Aceh Let’s Do It. Sekelompok perempuan muda yang ingin ‘menularkan virus gemar baca’ pada anak usia sekolah, membawa buku dalam ransel dan merambah daerah-daerah terpencil untuk memperkenalkan asyiknya membaca. Dalam tugasnya ini, Nita merambah Kecamatan Pulo Aceh di Kabupaten Aceh Besar, juga Kabupaten Aceh Tamiang.

Aktivitas buku keliling di Desa Mon Mameh Kecamatan Setia, Aceh Barat Daya @dok Nita Juniari

Namun, Nita tak puas hanya menularkan virus literasi dan pendidikan di kampungnya, Aceh. Ia ingin dapat berguna bagi bangsa Indonesia.

“Karena itu saya mendaftar ke program Indonesia Mengajar. Kali pertama melamar saya belum berjodoh dengan program gagasan Pak Anies Baswedan ini. Tapi kali kedua, saya lulus tes dan ditempatkan di Banggai, Sulawesi Tengah.”

Setahun di Banggai, mata Nita semakin melek akan kenyataan bahwa manusia Indonesia yang melek literasi masih sangat langka. Selama setahun menjadi Pengajar Muda, sebuah komunitas anak muda di Banggai memberinya gagasan dan semangat.

Penyala Banggai, sebuah komunitas relawan, menggelar Minggu Membaca setiap Ahad. Dan peminatnya banyak. Mereka juga membuat berbagai kegiatan lain seperti pengajian untuk anak-anak dan sebagainya. Saat itu sebuah ilham menyala di kepala saya. Saya yakin, anak-anak kampung saya dapat memperoleh banyak manfaat dari kegiatan yang serupa,” tutur Nita. Ia menengarai bahwa minat baca anak-anak dan kaum muda di desanya sebenarnya sangat baik.

“Mereka hanya belum punya sarana memadai untuk menyalurkan minat baca itu,” katanya bersemangat.

Pulang dari Banggai, gadis murah senyum putri sulung Bapak Azmi dan Ibu Nurbaiti ini lantas memutuskan untuk segera mewujudkan proyek idealis yang inspirasinya diperolehnya di rantau. Tujuh Januari 2018, berbekal buku-buku bacaan dalam ransel, keranjang milik ibunya dan sehelai ‘terpal’ (alas plastik tebal), Nita memulai apa yang kemudian menjadi embrio dari komunitas literasi Sigupai Mambaco.

Nita mulai mangkal di Lapangan Persada, Blangpidie, Aceh Barat Daya. Pertimbangannya, karena lapangan olah raga itu terletak di pusat Kota Blangpidie, di pinggir jalan utama pusat perdagangan yang ramai. Namun, setelah beberapa kali mangkal di sana, ternyata tak seorang pun mampir ke lapak bukunya.

“Jadi saya pindahkan. Awalnya ke kawasan Kompleks Perkantoran Bukit Hijau, lalu ke Dermaga Ujong Serangga, Susoh.”

Nita membuka lapaknya setiap sore hari Ahad. Di sinilah Sigupai Mambaco mulai berkembang. Sore hari, pantai dan TPI Ujong Serangga selalu ramai dikunjungi orang. Bukan hanya para tauke ikan, tetapi juga warga masyarakat yang JJS alias jalan-jalan sore.

“Banyak anak-anak juga. Awalnya mereka yang datang menengok lapak kami, selalu menanyakan apakah buku-buku itu dijual,” Nita tersenyum mengingat-ingat. “Ketika tahu bahwa buku-buku itu boleh dibaca di tempat, gratis tis tis, banyak anak yang wajahnya langsung ‘menyala’ kegirangan.”

Langkah Nita tidak langsung mulus. Dengan koleksi buku sekitar 400 judul, saat buka lapak Nita hanya bisa membawa100 judul karena terbatasnya tempat di sepeda motornya. Di masa awal ia membuka lapak baca, tak sedikit orang ragu bahwa ia akan berhasil.

“Yang mengejek juga banyak. Menurut mereka, masyarakat kita tak terbiasa ‘butuh membaca’. Jadi membuat taman bacaan akan sia-sia saja,” cerita Nita.

Anak-anak belajar mewarnai di rumah Nita Juniarti yang menjadi base camp Sigupai Mambaco @dok Nita Juniar

Memang benar, selama tiga bulan perdana ia menggelar perpustakaan sederhananya, lapaknya tak pernah mendapat pengunjung. Tapi, Nita tidak putus asa.

Keluarga adalah pendukung utamanya. Saat Nita sedang berjuang memperkenalkan lapak bacanya, kadang-kadang ayah atau adiknya sengaja datang ke lapaknya untuk mengantarkan buku. Dari hanya sendirian membawa dan menunggui lapak bacanya, Nita kemudian mendapat asisten setia. Adiknya, Randa Zahrial.

“Awalnya Randa ragu bergabung dengan Sigupai Mambaco. Namun, kemudian, di tahun 2018 Sigupai Mambaco mendapat dukungan berupa cator (becak-motor) dan rak buku dari Asuransi Astra. Nah, saya tidak pandai mengendarai becak motor yang berat itu. Di sinilah peran Randa dituntut.”

Dengan becak motor yang dikendarai Randa, Sigupai Mambaco dapat meluaskan jangkauannya. Buku yang dapat dibawa pun bertambah jumlahnya. April 2018, Nita merantau ke Muara Enim, Sumatera Selatan, untuk menjadi Community Development Facilitator dalam program Muara Enim Cerdas. Saat itulah Randa mulai sepenuhnya menjadi penanggung jawab program Bukling (Buku Keliling) Sigupai Mambaco.

“Awalnya saya sempat khawatir Sigupai Mambaco akan buyar. Apalagi karena sepanjang tahun 2019 saya rutin bolak-balik ke Jakarta, bahkan kemudian menetap di Malang sebagai Community Development Facilitator dalam proyek Sekolah Sehat JAPFA sampai pertengahan tahun 2020. Namun, dukungan keluarga di rumah membuat kegiatan Sigupai Mambaco tetap berjalan, walau pun saya sedang tidak ada di Abdya (Aceh Barat Daya),” kata Nita.

Memang, keluarga Nita adalah pilar-pilar utama pendukung kegiatan Sigupai Mambaco. Ibunda Nita bahkan bertindak sebagai manajer yang menangani kegiatan yang akan diadakan Sigupai Mambaco. Mulai dari menghubungi narasumber hingga pendaftaran anggota, semua dilakukan sang bunda. Bahkan, selain di Dermaga Susoh, kegiatan Sigupai Mambaco kini diadakan di rumah orang tua Nita di Jalan Rawa Sakti.

“Mamak adalah suporter utama saya,” aku Nita. “Bila saya tengah menyusun program, beliau bahkan membebaskan saya dari tugas rutin di rumah. Saya diperbolehkan nongkrong terus di depan laptop,” lanjut Nita seraya tertawa kecil. “Seringkali, ibu-ayah saya, bahkan juga nenek dan kakek, membantu membuka perpustakaan. Menata buku-buku dan menyimpannya kembali, mengawasi jalannya pinjam-meminjam buku, dan sebagainya.”

Mengelola komunitas Sigupai Mambaco memberikan kepuasan batin yang penuh. Terutama ketika apa yang dilakukan dalam komunitas ini berhasil menginspirasi orang lain untuk turut “menularkan virus literasi”.

Sekelompok anak-anak Sigupai Mambaco melakukan praktik cuci tangan. @dok Nita Juniari

Seperti baru-baru ini, ketika dua anggota muda Sigupai Mambaco, Shifa (12) dan Tasya (11), menggagas kegiatan “Keta Buku”. Dalam bahasa Aneuk Jamee, bahasa ibu mereka, keta berarti sepeda. Shifa dan Tasya mulai berkeliling dengan sepeda seraya membawa buku untuk dipinjamkan.

“Kami sempat mengadakan aksi galang dana untuk membeli sepeda bagi mereka. Sebab sepeda yang mereka gunakan sudah tidak layak. Alhamdulillah, kini keempat sepeda yang kami perlukan sudah ada.”

Keempat sepeda itu merupakan sumbangan dari Wakil Ketua DPRA asal Partai Gerindra, Safaruddin, seorang putra asli Kampung Rawa, Susoh. Warna-warni ungu dan merah sepeda-sepeda itu agaknya akan membantu menjaga semangat Shifa dan Tasya tetap menyala.

Kini, dari hanya sehelai alas plastik dan seratusan buku, hanya digawangi Nita seorang, Sigupai Mambaco telah berkembang menjadi perpustakaan dengan koleksi 1000-an buku, 11 pengurus tetap, 39 relawan, ditambah cator dan sepeda Bukling. Pandangan masyarakat juga perlahan telah bergeser. Dari heran, skeptis bahkan sinis, kini Sigupai Mambaco sudah dikenal luas di Aceh Barat Daya. Sepak terjang Nita bahkan telah diapresiasi Pemerintah dengan penunjukannya sebagai Perempuan Inspiratif (Peringkat 3) Tingkat Provinsi Aceh.

“Ke depannya, kami akan lebih memusatkan kegiatan Sigupai Mambaco pada isu literasi baca tulis dan lingkungan hidup. Kami ingin Sigupai Mambaco menjadi sebuah tempat bekerja, belajar, dan bertumbuh bagi anak-anak Aceh Barat Daya, serta bisa menjadi salah satu think-tank pendidikan dan penelitian di Aceh,” harap Nita.[]