Beranda blog Halaman 15

Amrina Habibi; Bekerja Bukan Sekadar Mengabdi untuk Negara

JIKA menyebut nama Desa Lampageu di Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, orang-orang mungkin akan bertanya, di mana itu Lampageu? Namun, saat disebutkan nama Ujong Pancu, bisa dipastikan langsung terbayang pada kawasan pesisir yang diapit oleh laut dan pegunungan. Inilah daratan terakhir di ujung barat Pulau Sumatera. Dan Lampageu, merupakan desa terakhir di ujung daratan ini. Karena panoramanya yang indah, wisatawan lokal sering datang ke tempat ini; sekadar untuk mengaso di pinggir laut sambil menikmati segarnya kelapa muda dengan camilan ringan ataupun memancing untuk melarung jenuh karena rutinitas. Bagi yang suka bertualang, dengan mengeluarkan sedikit tenaga ekstra untuk mendaki gunung, sudah bisa menikmati panorama ciamik Pantai Lhok Mata Ie yang ada di sisi barat pulau. Tak jarang anak-anak muda menghabiskan akhir pekan dengan berkemah di bibir Samudra Hindia itu.

Desa Lampageu hanya terletak sekitar delapan kilometer di barat Kota Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Tak lebih dari setengah jam berkendara dari jantung kota Banda Aceh. Namun, desa ini rasa-rasanya seperti sangat terisolasi. Seolah tak tersentuh ingar-bingar ibu kota. Akses jalan mulus beraspal menuju kawasan Ujong Pancu hanya sampai Desa Lambadeuk, tiga desa tetangga sebelum Lampageu. Tidak ada kendaraan umum yang beroperasi ke kawasan yang pernah diporak-porandakan tsunami ini. Sepanjang jalan di kawasan ini, adalah biasa melihat kotoran ternak yang bertebaran di badan jalan. Saat akhir pekan banyak pesepeda melewati jalur ini.

Dihuni oleh 110 kepala keluarga, sebagian besar penduduk di desa ini berstatus warga dengan ekonomi lemah. Para lelakinya adalah nelayan tradisional atau bekerja sebagai pedagang ikan di pasar. Aktivitas melaut sangat dipengaruhi oleh cuaca dan musim. Sementara para perempuannya banyak yang menjadi pencari nafkah utama. Mereka ada yang bertani cabai, mencari rotan, atau membuat kue. Sekitar tujuh puluh warga Lampageu adalah anak-anak usia sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.

Sepertiga anak-anak itu berkumpul di Balee Nelayan Lampageu pada Jumat petang, 2 Juli 2021. Rerata adalah murid-murid usia sekolah dasar. Berkumpulnya mereka di sana tak lain untuk menyambut kehadiran sekaligus peresmian Taman Baca Rumah Lentera Habibi di desa mereka. Meski seremonial acara baru dimulai pukul lima sore, tetapi anak-anak itu sudah hadir di sana sejak setelah asar. Mereka duduk bersila mengikuti pola persegi bangunan permanen tersebut. Beberapa ibu juga terlihat hadir mewakili perangkat desa. Sejak tiga hari sebelumnya, anak-anak itu sudah begitu sibuk. Mereka membersihkan pekarangan balai nelayan yang tadinya dipenuhi belukar. “Supaya saat tamu-tamu datang hari ini, pekarangan balai sudah terlihat bersih,” ujar Irawati, warga sekitar yang menjadi tuan rumah acara itu.

Sikapnya yang ramah dan bersahaja membuatnya Amrina (duduk di tangga) bisa berinteraksi dan melebur dengan baik di masyarakat sehingga memudahkan kerjanya dalam mengadvokasi @dok Amrina Habibi

Salah seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA bertindak sebagai komando dan meramaikan sore itu dengan meminta anak-anak memperkenalkan diri dan menyebutkan cita-cita mereka. Canda dan celoteh gembira mereka meriangkan suasana. Angin pesisir berembus menghalau gerah karena terpaan panas yang menyengat hingga menjelang senja. Di kejauhan tampak pesisir Kota Banda Aceh berupa gundukan daratan yang dinaungi pohon-pohon cemara. Tak lama kemudian, acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai.

***

Adalah Amrina Habibi, seorang master hukum yang menjadi “bidan” di balik lahirnya Taman Baca Rumah Lentera Habibi Desa Lampageu. Meskipun ia seorang aparatur sipil negara dan berstatus sebagai pegawai negeri sipil dengan amanah Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Aceh, Amrina tak ingin membatasi ruang gerak hanya sebatas menunaikan “kewajiban” pada negara saja. Ia tak ingin seragam cokelatnya membatasi kerja-kerja sosialnya yang telah dilakoni sejak masih di bangku kuliah. Bahkan jauh sebelum itu, saat ia masih remaja. Itu sebabnya, bersama beberapa sahabatnya Amrina mendirikan Yayasan Rumah Lentera Habibi dan dipercayai sebagai ketua. Yayasan ini resmi berbadan hukum medio 2020 lalu, walaupun aktivitasnya telah berlangsung sejak tiga tahun lalu.

Amrina memilih Lampageu sebagai lokasi pertama Rumah Baca Yayasan Lentera Habibi atas keprihatinannya pada tumbuh kembang anak-anak di desa itu. Anak-anak di sana, tidak memiliki aktivitas berarti setelah pulang sekolah. Sebagai anak pesisir, waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk bermain di pantai. Kesibukan orang tua mereka dalam mencari nafkah membuat anak-anak ini kurang mendapatkan pengawasan orang tua. Di musim-musim tertentu, mereka akan pergi ke gunung untuk memetik buah jemblang. Namun, yang lebih mengkhawatirkan ialah tak sedikit dari anak-anak itu yang justru lalai dengan gawai. Bagaimana jika mereka mengakses konten-konten negatif? Bagaimana jika mereka kecanduan game? Bagaimana jika mereka jadi malas belajar? Banyak “bagaimana” lainnya yang akhirnya menjadi dasar keputusan Amrina dan teman-teman untuk menghadirkan taman baca sebagai sentral edukasi bagi anak-anak Lampageu.

“Ini kami lakukan sebagai panggilan jiwa dan di luar kegiatan dinas, sama sekali tidak berbasis anggaran dan merupakan hasil swadaya teman-teman,” kata Amrina.

Dengan hadirnya taman baca ini, anak-anak itu setidaknya jadi punya tempat untuk bermain sambil membaca dan melakukan aktivitas literasi lainnya. Sebagai aktivis perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan, Amrina mafhum bahwa literasi adalah kunci dari segala hal. Salah satunya, untuk mencegah terjadinya kasus-kasus pelecehan ataupun kejahatan seksual pada anak. Anak-anak yang teredukasi dengan baik, atau memiliki kecakapan literasi yang memadai, tentu akan lebih awas pada orang asing. Setidaknya bisa mengenali perilaku atau modus-modus orang dewasa yang membuat mereka tidak nyaman.

Sebelumnya, taman baca serupa juga sudah dibentuk di Desa Ujong Bate, Kecamatan Mesjid Raya, melalui Forum Partisipasi Masyarakat untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Aceh yang diketuai oleh Amrina. Namun, karena PUSPA masih berafiliasi dengan instansi pemerintah, Amrina ingin membentuk taman baca sendiri yang pengelolaannya lebih fleksibel.

Amrina Habibi bersama salah satu perempuan penyintas KDRT yang telah berhasil melewati masa-masa suram di hidupnya @dok Amrina

Sejak belia, perempuan kelahiran Samalanga, 30 Maret 1975 ini memang sudah diasah kepekaan sosialnya oleh ibu dan ayahnya. Sang ibu, almarhumah Azizah, adalah seorang guru yang tidak saja pandai mengajarkan alif ba ta atau a be ce de, tetapi juga guru kehidupan yang telah mengajarkan nilai-nilai kehidupan; pentingnya berbagi, mengutamakan kejujuran, disiplin, dan jangan pernah berhenti belajar. Sedangkan ayahnya, H Achmad Namploh, adalah orang di balik suksesnya Amrina sebagai seseorang yang cakap di atas panggung. Sebagai Juru Penerang yang bekerja di Dinas Penerangan tingkat kabupaten, Haji Achmad sering berkeliling kampung untuk menginformasikan berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah di masa itu. Amrina kecil sering diajaknya saat bertugas. Dalam setiap kesempatan, Amrina selalu diberikan panggung oleh ayahnya. “Walaupun itu hanya sebatas menyampaikan satu atau dua buah pantun sebelum acara dimulai,” kenang Amrina pada salah satu fragmen masa kecilnya bersama sang ayah saat berbincang dengan penulis pada Selasa, 15 Juni 2021, “tapi pengalaman itu melatih tumbuhnya rasa percaya diri saya sehingga menjadi berani saat berbicara di depan orang banyak,” ujar ibu dari empat buah hati ini.

“Saya tidak canggung beraktivitas di ruang publik karena orang tua mendidik kami dengan relasi kuasa yang setara. Tidak membedakan antara anak lelaki dengan perempuan, selalu mendukung aktivitas kami selama itu positif, itu menjadi modal saya sampai sekarang,” kata Amrina.

Petuah guru mengajinya di masa kecil, Tgk Imum Ali Hanafiah, turut menjadi pelecut tambahan bagi Amrina untuk tumbuh menjadi pribadi yang teguh dan punya prinsip. “Perempuan harus mandiri, punya bargaining, dan bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.” Kalimat itu selalu terekam di ingatannya hingga kini. Nilai-nilai itu membuat Amrina tumbuh sebagai sosok yang tidak hanya bisa menopang diri sendiri, tetapi juga menjadi tumpuan bagi perempuan lain. Ia bersyukur karena bisa bernaung di instansi yang pekerjaan utamanya mengadvokasi perempuan dan anak. Pekerjaan ini adalah estafet dari kerja-kerja sosial yang ia lakukan di masa-masa aktif berorganisasi seperti di KNPI, AMPI, Pemuda Pancasila, HMI, hingga organisasi berbasis swadaya masyarakat seperti Balai Syura Ureung Inong Aceh dan Kohati.

Pengalaman berharga saat ia menakhodai Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di bawah naungan instansi yang sama. Di luar yang orang pikirkan, pusat pelayan terpadu itu justru menjadi “rumah kehidupan” bagi Amrina. Ia bisa belajar dan berbagai pengalaman untuk membangun keluarga yang lebih berkualitas.

“Pengalaman dan kehidupan buruk seseorang menjadi pengalaman berarti buat saya, sebaliknya pengalaman saya pun bisa dibagi kepada orang lain,” katanya.

Ka DP3A Nevi Ariyani didampingi Amrina Habibi menyerahkan buku secara simbolis kepada salah satu anak sebagai tanda telah diluncurkannya Taman Baca Rumah Lentera Habibi di Gampong Lampageu @Ihan Nurdin

Kesempatan-kesempatan seperti ini memang selalu digunakan Amrina dengan baik. Misalnya, dalam setiap agenda turun ke daerah untuk urusan dinas, ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan komunitas ataupun individu yang membutuhkan bantuannya. Lewat pertemuan-pertemuan informal inilah dia bisa menggali banyak informasi dari masyarakat tentang persoalan khususnya yang dialami oleh perempuan dan anak, atau menanamkan pengetahuan tentang kesetaraan gender yang menjadi kunci relasi yang setara antara perempuan dengan laki-laki. Dia juga kerap memberikan konsultasi gratis bagi perempuan yang mengalami problem keluarga seperti KDRT atau yang berhadapan dengan hukum di luar kerja-kerjanya sebagai ASN.

Amrina mengakui, memang tidak mudah melakukan kerja-kerja advokasi seperti ini. Tantangan terbesarnya adalah minimnya kesadaran masyarakat atau individu tentang peran-peran kodrati dengan persepsi masyarakat tentang jenis kelamin. Tak ayal, seorang perempuan yang kerap mengalami KDRT malah enggan buka suara karena dianggap mempermalukan keluarga atau menganggap itu sesuatu yang lumrah dengan dalih “berbakti” pada suami. Belum lagi misalnya, nilai-nilai agama yang luhur belum terintegrasi dengan baik dalam tatanan kehidupan sehingga seringkali teks-teks agama dimaknai di luar konteks.

“Padahal Islam itu sudah sangat luar biasa mengatur tentang berbagai aspek kehidupan kita, kalau bicara tentang perempuan, betapa posisi perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya dalam agama, tetapi realitasnya tidak seperti itu,” ujar perempuan Inspirator Forum PUSPA Nasional Tahun 2017 KPPPAI ini.

Kesadaran ini memang perlu dibangun secara kolektif dengan menghadirkan kegiatan-kegiatan literasi yang berbasis di akar rumput, melibatkan banyak sumber daya, dan mampu menjangkau banyak tempat. Itulah substansi dibentuknya Yayasan Lentera Habibi.

“Ini akan menjadi exit strategy agar kami bisa terus berbuat kalau nanti sudah pensiun dari dinas, kerja-kerjanya meliputi penguatan literasi, budaya, dan kesejahteraan sosial,” ujar Amrina menjelaskan visi dari yayasannya. Mereka yang terlibat di yayasan ini beragam, mulai dari ASN seperti dirinya, polisi, pengacara, pekerja LSM, hingga psikolog. Kolaborasi adalah fondasi yang dibangun Amrina. Ia menyadari betul-betul, berjejaring adalah kunci kesuksesan di zaman ini.

***

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Aceh Kombes Pol Ade Harianto dan Ka DP3A Nevi Ariyani menyapa anak-anak usai peresmian Taman Baca Rumah Lentera Habibi @Ihan Nurdin

Senja yang bercampur rona merah jingga memantul di cakrawala. Satu per satu para bocah dan ibu-ibu yang tadi berkumpul di balai pulang menuju rumah masing-masing. Begitu juga dengan beberapa tamu undangan yang hadir khusus untuk memberi dukungan bagi Amrina dan teman-teman. Di antaranya Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, Nevi Ariyani, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Aceh Kombes Pol Ade Harianto, dan Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak Polda Aceh, AKP Elfiana, beberapa rekan wartawan, serta perwakilan dari Forum Anak Tanah Rencong. Namun, tidak dengan Amrina, dia masih di balai bersama beberapa rekan untuk membahas rencana tindak lanjut setelah peluncuran taman baca.

Sebagian Desa Lampageu sudah gelap karena dipunggungi matahari. Namun, kehadiran Yayasan Lentera Habibi, diharapkan bisa terus “menerangi” desa yang meskipun hanya selemparan batu dari ibu kota provinsi, tetapi tetap perlu perhatian khusus karena masuk dalam wilayah desa terluar, terdepan, dan tertinggal. Bukankah seterang-terangnya cahaya adalah cahaya ilmu dan pengetahuan?[]

Saprina Siregar Sukses Terapkan Kasih Sayang sebagai Dasar Pendidikan Inklusif

SAPRINA SIREGAR mengawali kariernya di dunia pendidikan sebagai guru di salah satu pesantren di Kabupaten Aceh Besar. Pernah juga mengajar di salah satu madrasah ibtidaiah di Kota Banda Aceh, sempat pula bekerja di lembaga swadaya masyarakat, sampai akhirnya “kecemplung” dan menenggelamkan dirinya dalam dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) inklusif sejak 2009 silam.

Lebih dari satu dekade menjadi praktisi PAUD inklusif, perempuan yang akrab disapa Bu Ina ini sangat kenyang dengan asam garam dalam mengelola PAUD inklusif. Berbagai formulasi dan praktik baik hasil uji coba yang selama ini ia terapkan di sekolah, lama kelamaan menjadi sebuah strategi yang bisa diterapkan secara permanen.

Bahkan, banyak praktisi PAUD yang mulai mengadopsi strategi yang oleh Bu Ina disebut sebagai “strategi kasih sayang” atau “strategi kayang”. Mengadopsinya pun mudah karena ia sudah mengemasnya menjadi sebuah buku berjudul Strategi Kayang di Sekolah Inklusi. Pada 2018 lalu, buku tersebut diikutkan dalam lomba yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan di luar sangkaannya buku itu berhasil meraih juara tiga.

Sejak itu, istilah “strategi kayang” semakin bergema di kalangan pendidik anak usia dini, khususnya di Aceh. Ina pun mendapat amanah yang lebih besar, Kementerian Pendidikan menunjuknya sebagai Pendamping PAUD untuk tiga kabupaten di Aceh; Aceh Besar, Aceh Jaya, dan Pidie dalam rentang waktu tiga tahun pada 2020—2022. Tugasnya mendampingi penjagaan mutu PAUD bidang manajerial, entrepreneur, supervisi, dan kolaborasi pembelajaran.

Saprina Siregar dengan buku Strategi Kayang di PAUD Inklusi hasil karyanya

“Kasih sayang adalah esensi dari sebuah pendidikan, karena setiap manusia ini pada dasarnya ingin dikasihi, saya ingin anak-anak bahagia, ceria, bisa bertumbuh sesuai kondisi mereka,” kata Ina saat berbincang dengan penulis, Jumat, 18 Juni 2021.

Konsep dasar ini merujuk pada sifat pengasih dan penyayang Sang Maha Pencipta, yaitu Arrahman dan Arrahim yang banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu sifat terpuji Allah Swt.

Pentingnya Sekolah Inklusif

Di telinga masyarakat awam, istilah sekolah inklusif atau PAUD inklusif mungkin masih terdengar asing. Sebenarnya, ini merupakan istilah untuk menunjukkan kondisi atau sistem sebuah sekolah yang menggabungan murid yang berkebutuhan khusus (ABK) dengan murid kebanyakan atau non-ABK. Sekolah inklusif memang belum familier, bahkan keberadaannya masih sangat langka. Sehingga para orang tua dengan ABK sering dibikin pusing saat mencari sekolah yang kondusif bagi buah hatinya.

Selama ini, anak-anak berkebutuhan khusus kerap disekolahkan di sekolah luar biasa, sedangkan anak-anak kebanyakan disekolahkan di sekolah-sekolah umum seperti yang kita kenal selama ini. Kalaupun ada ABK yang disekolahkan di sekolah umum, tak sedikit yang malah menjadi korban risakan. Kondisi ini tak ayal menimbulkan “gap” antara ABK dengan anak-anak kebanyakan. Dampaknya, membuat ABK malah kehilangan kepercayaan diri saat bergaul di masyarakat, sementara anak-anak kebanyakan sulit mengasah empatinya.

“Nah, inilah yang ingin kita ubah dengan adanya sekolah inklusif,” kata Ina, “interaksi antara ABK dan anak-anak kebanyakan pelan-pelan akan menumbuhkan rasa percaya diri ABK. Sedangkan pada anak-anak kebanyakan, empati mereka akan semakin bertumbuh. Anak kebanyakan kita beri kepercayaan untuk membantu atau menolong temannya yang ABK, mereka kita ajarkan untuk menghargai perbedaan dan ketidaksempurnaan sebagai anugerah Tuhan. Mereka akan merasa bangga saat bisa menolong orang lain,” kata Ina.

Masuknya Ina ke dalam dunia pendidikan inklusif bisa dibilang semacam kebetulan. Di tahun 2009, Ina sedang berada di rumah adiknya yang saat itu sedang melahirkan. Sebagai seorang kakak yang sudah lama menjadi ibu, Ina pun mengurus keponakannya dengan telaten. Seorang teman adiknya yang sedang bertamu rupanya diam-diam mengamati cara Ina mengurus keponakannya. Tak lama berselang, sang adik mengabari Ina kalau temannya itu meminta sang kakak untuk bekerja di sekolah PAUD-nya.

“Tamu tersebut adalah Bu Shadia Marhaban, pemilik yayasan sekolah PAUD Kasya Inklusif, sekolah yang kemudian menjadi tempat saya mengabdi selama dua belas tahun,” kata Ina.

Kasya ibarat laboratorium bagi Ina. PAUD ini bisa dibilang yang pertama di Banda Aceh menerapkan sistem inklusif. Saat pertama kali memutuskan bergabung dengan Kasya, Ina tak punya bekal apa pun tentang sekolah PAUD, alih-alih berpengalaman di dunia pendidikan inklusif. Di belakang namanya memang tersemat gelar sarjana pendidikan Islam, tetapi basic-nya adalah guru Pendidikan Agama Islam.

“Modal dasar saya awalnya karena saya memang sangat menyukai anak-anak,” ujar perempuan murah senyum kelahiran Takengon, 7 April 1975 ini, “saya juga belajar dari pengalaman diri sendiri, apa saja pengalaman di masa kecil yang saya rasa tidak menyenangkan atau tidak saya sukai, tidak akan saya terapkan pada anak-anak saya, begitu juga pada murid-murid saya,” katanya.

Kedekatan Saprina Siregar dengan sejumlah murid-muridnya

Setahun pertama di Kasya, Ina diberikan kepercayaan sebagai wakil kepala sekolah. Setahun kemudian, tanggung jawabnya lebih besar menjadi kepala sekolah. Kepercayaan dari pemilik yayasan membuat Ina jadi lebih leluasa dalam mengembangkan sekolah. Tak heran jika Kasya kemudian menjadi tempatnya bereksperimen hingga dua tahun kemudian lahirlah Strategi Kayang. Sebuah strategi yang menjadikan kasih sayang sebagai dasar dalam melayani peserta didik. Ina juga menatar para guru agar bisa mengelola sekolah sesuai dengan visi kasih sayang.

Semua pelayanan di sekolah harus berstandar kasih sayang yang diaplikasikan dalam gerak-gerik dan perilaku kepala sekolah, pendidik, peserta didik, orang tua, dan lingkungan sekitar. Itu sebabnya, pelibatan orang tua secara intens sangat penting dalam memantau perkembangan anak. Ina sendiri secara pribadi selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dengan para orang tua murid. Lama-lama, kebiasaan ini memunculkan program Parenting Day sebagai ruang konsultasi bagi orang tua murid. Dari sinilah, berbagai persoalan yang dialami orang tua dengan ABK biasanya perlahan-lahan ikut terkuak.

Ina juga senang mengamati. Obrolan-obrolan dengan orang tua murid tak luput begitu saja darinya. Misalnya, ketika ada orang tua yang bercerita tentang kondisi sekolah lain yang kepala sekolahnya sulit ditemui, atau guru yang tidak tahu program-program yang dijalankan sekolah, atau kecemasan mereka karena guru abai pada murid-muridnya karena sibuk bermain ponsel, diam-diam Ina mencatat semua itu di memorinya.

“Jangan sampai itu terjadi di sekolah saya! Sekecil apa pun ilmu yang didapat langsung dipraktikkan di sekolah, kami juga memaksimalkan pelayanan, dalam artian hubungan kami dengan orang tua harus terjalin dengan baik karena kami akan rutin membicarakan perkembangan anak dengan para orang tua,” katanya.

Pelayanan itu misalnya, diawali dengan menjalin hubungan baik dengan orang tua murid. Bahkan, tak hanya ayah atau ibu murid saja, tetapi juga nenek, atau siapa pun yang terlibat langsung dalam pengasuhan di rumah. Ini penting, khususnya bagi orang tua yang memiliki ABK, untuk menyamakan persepsi dalam memberikan terapi kepada anak.

Itu sebabnya, murid-murid yang sekolah di Kasya selalu diawali dengan screening dasar untuk mengobservasi anak yang meliputi enam aspek, yaitu instruksi/kepatuhan, bahasa, kognitif, fisik/motorik, sosial/emosional, dan kemandirian. Dari hasil observasi ini akan diketahui apakah anak-anak tersebut merupakan anak kebanyakan, atau ABK yang notabenenya mengalami kondisi seperti keterlembatan berbicara (speech delay), gangguan konsentrasi, gangguan pendengaran, sindrom martan, autis, down sindrom, atau celebral palsy. Dalam hal ini pihak sekolah juga menggandeng psikolog untuk kepentingan dalam mendiagnosa dan memberikan terapi pada anak.

Screening ini sangat penting karena tidak semua orang tua mampu mengenali ciri-ciri ABK. Tanpa pengetahuan yang memadai, akan berdampak pada cara menangani ABK, salah-salah penanganan yang tadinya ringan bisa menjadi sedang atau parah, begitu juga sebaliknya, kalau penanganannya benar, yang sedang bisa menjadi ringan,” ujar peraih juara III Lomba Apresiasi GTK PAUD Dikmas Tingkat Nasional 2018 ini.

Menjadi seorang guru PAUD kata Ina, juga harus memiliki sensitivitas yang tinggi. Seorang guru harus tahu kapan muridnya sedang merasa tidak nyaman. Orang-orang yang sedang merasa tidak nyaman, karena marah misalnya, cenderung ingin menyendiri. Kondisi ini membuat pihak sekolah akhirnya menyediakan “kursi ekspresi berbagi rasa”. Anak-anak yang sedang merasa tidak nyaman biasanya dengan sendirinya akan langsung duduk di kursi itu. Guru yang mendapati muridnya di kursi berbagi rasa ini tidak akan bertanya lagi ada apa dengan mereka.

Para guru juga begitu, jika mereka mengalami kendala saat menangani murid tertentu, mereka akan memberi kode pada guru—yang disebut dengan kode dan pembagian peran—lain sehingga ketidaknyamanan itu tidak akan diketahui oleh murid. Wajar saja, menjadi guru di sekolah inklusif lumrah berhadapan dengan murid-murid yang superaktif atau tantrum. “Kalau gurunya tidak memiliki rasa kasih sayang, mereka pasti nggak sanggup menghadapi situasi ini. Karena berlandaskan kasih sayang ini juga, kita tidak paksa guru yang sedang sedih misalnya, untuk menghadapi murid yang sedang tantrum atau tidak nyaman.”

Cerminan dari sikap, perilaku, cara berkomunikasi, berpakaian, bahasa tubuh, dan gestur yang berbasis kasih sayang ini pada akhirnya memberikan dampak yang besar. Perubahan positif mulai dirasakan oleh seluruh insan sekolah. Guru juga dibiasakan untuk selalu mengatakan “maaf” jika tanpa sengaja melakukan kesalahan. Permintaan maaf itu tidak hanya disampaikan kepada anak, tetapi juga pada orang tua jika misalnya mereka melakukan keteledoran yang berdampak pada anak. Artinya, kata Ina, sekolah selalu breusaha untuk bersikap kooperatif.

“Di sekolah inklusif ini setiap anak mendapatkan perlakuan yang sama, yang berbeda hanya program pendidikannya karena disesuaikan dengan kondisi anak,” ujar dosen luar biasa STKIP AN-Nur Prodi PG PAUD ini.

Perlakuan itu misalnya, semua anak mendapat kesempatan yang sama dalam setiap event yang diselenggarakan sekolah. Tak terkecuali bagi ABK. Bahkan, dalam sebuah pertunjukan seni tari, seorang murid dengan kondisi duduk di kursi roda juga pernah terlibat. “Murid itu kita dudukkan di kursi roda, bagi anak-anak seperti ini, bisa berpartisipasi saja sudah sangat luar biasa, mereka sangat senang dan bahagia karena tidak dibeda-bedakan,” ujarnya lagi.

Mendirikan PAUD Inklusif Harsya

Saprina Siregar memberi arahan bagi para guru dalam Raker I PAUD Inklusi Harsya

Riak-riak kecil juga kerap dirasakan Ina, misalnya, masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang sekolah inklusif membuat segelintir orang tua resah dengan kebijakan sekolah yang mencampurkan ABK dengan anak kebanyakan. Padahal, pendidikan inklusif tidak hanya memberikan keadilan pendidikan pada semua anak, tetapi juga sedini mungkin memperkenalkan pada anak tentang perbedaan fisik, mental, sosial, serta bagaimana mereka belajar menerima dan menyukai orang lain, menghargai perbedaan, dan melakukan kegiatan bersama. Itu sebabnya, ketika murid kebanyakan atau orang tua bisa menerima “kekhususan” yang ada di Kasya, baginya itu sebuah berkah yang besar. Karena diakui atau tidak, tidaklah mudah mengubah mindset orang lain dalam menghadapi kondisi yang tidak ideal di sekitarnya.

Berbagai kesempatan dimanfaatkan Ina untuk mengampanyekan sekolah inklusif. Memang tak semua orang bisa menerima, tetapi setidaknya ia sudah mencobanya. Tantangan lain juga terletak pada fasilitas pendukung seperti prasarana dan sarana belajar, serta program dan kurikulum yang lebih kompleks. Setiap anak membutuhkan penanganan yang berbeda, makanya komposisi antara ABK dan anak kebanyakan di sekolah inklusi tak boleh lebih dari 30:70.

Berkat kepiawaiannya menulis, Ina juga membagikan pengetahuannya menjadi buku. Setidaknya, beberapa buku sudah ia tulis berdasarkan pengalamannya di Kasya; Terapi Kasih Sayang di Rumah Kasya, Kasih Sayang di Rumah Kasya Catata dari Meja Bu Ina, Strategi KAYANG di Sekolah Inklusi, dan Karya Nyata: Strategi KAYANG di PAUD Kasya. Di luar itu, ia juga telah menelurkan beberapa buku lain baik solo maupun antologi. Bagi Ina, menulis bukan saja jalan untuk menyalurkan hobi, tetapi sarana untuk berbagi pengetahuan dan membangun kekuatan dalam komunitas. Itu pula yang membuatnya menahbiskan kayang sebagai nama komunitas untuk menghimpun ibu-ibu yang suka menulis; Komunitas Literasi Kayang.

Terlepas dari berbagai tantangan yang ada, Ina selalu bersyukur. Ia memiliki orang-orang yang senantiasa mendukungnya. Suami, anak-anak, keluarga, dan teman-temannya sangat mendukung aktivitasnya. Dukungan itu yang membuat Ina akhirnya berani mengepakkan sayap lebih lebar. Setelah dua belas tahun di PAUD Inklusif Kasya, Ina memutuskan untuk mendirikan sekolahnya sendiri yakni PAUD Inklusif Harsya. Tahun ajaran baru ini, PAUD ini resmi hadir untuk menambah daftar keberadaan PAUD inklusif di Banda Aceh.

Bagi Ina, di mana pun dia berada, kuncinya menjalani aktivitas tetaplah harus bertumpu pada Tuhan. Di samping, mengabdi dengan sepenuh hati dan kasih sayang. Sebab, sesuai moto hidupnya, hanya dengan kasih sayang perbedaan bisa dirangkul.[]

Solusi Faber-Castell dalam Penjagaan Lingkungan di Era PJJ dan PTM Terbatas

1

Aku sibuk mencari pena terbaik, padahal sebuah pensil bisa berfungsi sama baiknya.

(30+ Soht On Sale)

Petikan bijak itu muncul di sela derai tawa saat saya menonton kisah kocak dari film komedi romansa 30+ Soht On Sale. Siapa sangka, kalimat singkat yang dituturkan oleh sang pemeran utama di akhir sesi film tersebut mampu membangkitkan kembali memori lama. Sebuah ingatan yang cukup manis. Kenangan takdir yang mempertemukan saya untuk pertama kalinya dengan produk-produk legendaris Faber-Castell.

Tahun 2004, saat itu saya sedang menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sebagai remaja tanggung, saya dan teman-teman sedang senang-senangnya belajar dan bergaul. Hayalan, bualan, dan mimpi kami masih tinggi. Rasa takut dan malu masih minim. Entah karena sistem kinerja otak yang belum sempurna terbentuk atau disebabkan efek samping gejolak darah muda yang berapi-api. Intinya, di masa keemasan itu, saya merasa begitu percaya diri untuk menyongsong masa depan.

Nyatanya, bagi saya, momen-momen penuh warna dan tawa itu hanya berlangsung singkat. Saat tsunami melanda Aceh, tanpa sadar, impian-impian yang sebelumnya saya dekap erat-erat, pelan-pelan meredup, nyaris padam. Setelah kerusakan alam dan lingkungan yang begitu dahsyat, kehilangan tempat tinggal, hidup di kamp pengungsian berbulan-bulan, berhenti sekolah beberapa caturwulan, hingga kehilangan begitu banyak teman sepermainan, cita-cita gempita saya sebelumnya menjadi terseok-seok. Pascabencana, saya pun hanya mampu melewati hari-hari dengan bingung sekaligus murung. Semesta seakan menyedot saya ke dalam mimpi buruk yang begitu panjang. Sehingga, mimpi-mimpi indah yang rencananya diwujudkan sebulan demi sebulan berubah menjadi perjuangan untuk sekadar bertahan hidup senapas demi senapas.

Setelah berbulan-bulan mengungsi, saya sekeluarga pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Sebab kondisi kamp pengungsian tidak lagi kondusif. Pada kenyataannya, setelah diterpa bencana gempa dan tsunami, rumah kami pun tidak bisa dikatakan cukup layak untuk ditempati. Namun, minimal masih ada satu-dua ruang yang bisa dibersihkan dan terasa cukup aman untuk menampung seluruh anggota keluarga.

Kemudian, bulan berlalu, tahun pun berganti. Beberapa aktivitas di Provinsi Aceh, terutama Banda Aceh, mulai hidup kembali. Sejak pertengahan tahun 2005, sekolah dan kantor pun mulai aktif, walau dalam kondisi seadanya. Saya dan adik-adik pun kembali bersekolah walau tanpa seragam, buku bacaan, maupun peralatan sekolah.

Hingga suatu hari, sepulang kantor, ibu saya tiba di rumah dengan menjinjing sebuah tas pakaian hitam berukuran sedang berbahan kulit sintetis. “Ini hadiah peralatan belajar dari Faber-Castell,” tutur ibu sembari meletakkan tas tersebut di hadapan saya dan adik-adik.

www.faber-castell.co.id

Sontak, kami pun berebutan membongkar muatan isi tas misterius itu. Kami temukan berkotak-kota peralatan mewarnai berwarna-warni. Ada yang berjenis pensil kayu, krayon, cat air, hingga cat minyak. Mata kami berbinar-binar. Tak hanya itu, terdapat juga peralatan sekolah seperti kertas origami, buku gambar, buku tulis, pensil, rautan pensil, setip, dan penggaris. Menariknya, tas hadiah tersebut tidak hanya berisi peralatan menggambar dan menulis, tetapi juga berisi alat-alat musik seperti tamborin, suling recorder, dan pianika. Puas membongkar seluruh isi tas, wajah saya pun merona.

Sejujurnya, momen tersebut menjadi salah satu momen pascabencana yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Euforia semacam ini tentu tak mampu dipahami oleh semua orang. Sebab bagi mereka yang diliputi benderang mentari, sekelebat cahaya menjadi tak ada arti. Namun bagi orang-orang yang terjerebab dalam lorong gulita, seberkas sinar mampu membangkitkan asa. Dan pendar mungil di hati itulah yang saya rasakan kembali saat pertama kali berjumpa Faber-Castell.

Déjà vu

Sebuah nomor tak dikenal meninggalkan keterangan dua missed call di layar android. Bingung, saya menerka-nerka siapa kiranya dan apa gerangan pemilik nomor tersebut menghubungi. Sepersekian detik kemudian, gawai saya kembali bergetar. Masih dari nomor yang sama.

“Halo kak, ada di rumah? Saya mau mengantar pesanan,” sapa suara di seberang.

“Pesanan?” Saya tergagap. “Lho, seingat saya, dalam seminggu ini enggak pesan apa-apa tuh,” jawab saya linglung.

“Ada, Kak. Dari Faber-Castell nih,” jelas suara di ujung telepon.

“Oh, ya, ya. Datang aja. Saya di rumah,” klik, percakapan pun berakhir dalam geming.

Sabtu, 29 Mei 2021, paket itu pun tiba di genggaman. Saya merasa senang sekaligus bingung. Andai saja paket tersebut tidak disertai “surat cinta” kepada para rekan media dan blogger dari PR Manager Faber-Castell Indonesia, Pak Andri Kurniawan, maka sungguh saya akan berada dalam momen kebagongan yang nyata. Bayangkan, hati siapa yang tidak akan cukuwak kalau pada akhirnya hadiah yang diterima ternyata salah alamat ataupun salah orang.

Drama akhir pekan pun usai. Lalu terbitlah hari senin. Pada tanggal 31 Mei 2021, sebuah email pengumuman terkait jadwal dan link webinar “Refleksi Pendidikan Indonesia, di antara PJJ dan PTM” pun mendarat dengan mulus. Saat itu saya merasa begitu lega. Baru kali ini saya mengalami momen menerima paket lebih awal daripada pengumuman pesertanya. Seakan mengalami Déjà vu, lagi-lagi Faber-Castell hadir menemui saya dengan surprise-nya.

Rasa Peduli

Pandemi rasa tsunami. Itulah istilah yang saya sematkan untuk kondisi rakyat Indonesia, bahkan dunia, semenjak kehadiran Covid-19 sejak tahun 2020 silam. Bagi saya pribadi, tahun pandemi dan tahun tsunami nyaris begitu serupa. Kehadiran pandemi maupun bencana tsunami sama-sama membuat masyarakat gusar dan kesulitan, ekonomi runtuh, dan aktivitas di sekolah maupun kampus pun ditiadakan.

Adapun segelintir perbedaan antara keduanya terletak pada opsi pendidikan. Saat bencana tsunami terjadi, pendidikan formal di sekolah-sekolah provinsi Aceh digantikan pembelajaran seadanya di kamp pengungsian dengan bantuan para relawan. Adapun kini, di masa pandemi, kegiatan belajar formal yang dulunya full dilakukan di sekolah digantikan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah atau Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas jika memungkinkan.

Diakui atau tidak, sejatinya selalu ada berkah dan tantangan di setiap perubahan. Berkah dan tantangan itu juga hadir semenjak munculnya kebijakan PJJ dan PTM terbatas bagi keberlangsungan pendidikan anak-anak bangsa.

Keterkejutan perubahan sistem pendidikan tersebut tidak hanya menimpa para murid, tetapi juga guru sekaligus orang tua, terutama para ibu. Peningkatan stres dan beban kerja yang berganda membuat kebanyakan perempuan rentan. Berempati akan permasalah tersebut, saya pun menerbitkan sebuah tulisan di media massa berjudul “Andai Perempuan Tahu”. Karya kecil itu merupakan sebentuk dukungan moril yang saya curahkan demi menguatkan para pendidik dan orang tua, terutama kaum perempuan, yang kerap menjadi garda keluarga, terlebih selama masa pandemi.

Oleh karenanya, saat terpilih sebagai salah satu peserta webinar PJJ dan PTM , sungguh hati saya berbunga-bunga. Namun, awalnya saya sempat agak skeptis juga. Sebab kebanyakan seminar daring yang berlangsung cenderung monoton dan membosankan. Saya sempat gamang, “Akankah webinar ini berakhir menggenaskan?”

Lantas, pucuk di cinta ulam pun tiba. Sepertinya semesta sedang berbaik hati. Entah bagaimana, webinar pendidikan yang diadakan oleh Faber-Castell Indonesia ini justru tampil simpel dan menarik.

Menghadirkan Ibu Saufi Sauniawati dan Bapak Christian sebagai narasumber, webinar yang digelar nyaris 3 jam itu sama sekali tidak menyurutkan minat para peserta. Bahkan di detik-detik akhir kegiatan pun diskusi justru kian membara. Sehingga, Pak Andri Kurniawan, selaku moderator pun tampak ekstra hati-hati mengefisienkan waktu diskusi webinar di tengah gempuran “semangat 45” para peserta.

Akhirnya, kekhawatiran saya pun terbantahkan dan itu merupakan hal yang menyenangkan. Kebahagiaan semakin bertambah mana kala soalan yang saya ajukan menjadi salah satu pertanyaan terpilih untuk direspons oleh para narasumber. Semakin lega hati ini. Mengingat pertanyaan itu sejatinya merupakan keluh kesah para sejawat yang belum mampu saya rumuskan formula jawabannya. Beruntung sekali, sebab pertanyaan tersebut direspons sang pemateri, Bu Saufi.

Isi pertanyaan yang saya ajukan dalam webinar tersebut kira-kira begini, “Dari slide penjelasan yang diberikan, saya menangkap bahwa terdapat transisi yang besar pada peran orang tua dalam mendidik anak-anak mereka di rumah selama era PJJ. Tapi kenapa ya Bu, penambahan beban tersebut justru rerata dirasakan oleh kaum ibu? Lantas sejauh mana peran ayah selama pandemi? Adakah solusi yang bisa diajukan untuk para suami dalam membantu mengurangi double/tripel burdens para istri sehingga sebagai ibu mereka tidak mengalami stres akut saat mendidik anak?”

Sungguh, saat menekan tombol enter setelah menuliskan pertanyaan itu, entah mengapa timbul sedikit sesal. Sebab, saya merasa bahwa problem tersebut seakan sudah menjadi “rahasia umum” dan ujung-ujungnya berakhir dalam pengabaian tanpa solusi. Semacam kondisi yang sudah dianggap lumrah dari sononyo. Namun, hati kecil saya masih berharap bahwa akan ada tawaran opsi yang diberikan oleh Bu Saufi selaku pakar pendidikan.

Beruntung, ternyata Bu Saufi menanggapi dengan serius pertanyaan tersebut. Dengan senyum merekah, sebagai seorang ibu dari tiga orang anak, Bu Saufi menghadirkan jawaban faktual dan solutif dari permasalahan itu.

“Secara psikologis, pemberi kecerdasan itu ada di ayah sebenarnya. Makanya ayah harus ada kontributif ya. Adapun kontribusi paling kecil yang bisa saya sarankan kepada para ayah yang pulangnya sore, tolong ditanyakan begini pada anak, ‘Hari ini sudah belajar apa? Sudah gimana sama mama?’ Dua hal itu saja. Hal seperti itu sudah membuat para istri, ‘Alhamdulillah, akhirnya ada yang nanya,’ gitu.”

Bayangkan, itu baru satu contoh jawaban mencerahkan dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan selama sesi diskusi. Maka tak heran atmosfir diskusi webinar pendidikan yang digelar oleh pihak Faber-Castell dalam rangka syukuran HUT Faber-Castell ke-260 tahun itu terasa berkah dan hidup. So, untuk para pembaca yang ingin informasi lebih lanjut terkait PJJ dan PTM dapat mengakses materi-materi tersebut di SINI.

Niatan Baik

Paket Belajar Online Faber-Castell ini ide awalnya muncul saat kami menyadari bahwa pemberlakuan PJJ ini ternyata tidak bisa diakses secara maksimal oleh seluruh anak Indonesia,” papar Pak Christian di akhir sesi webinar. Dug… jantung saya seakan ingin loncat mendengarkan pernyataan tersebut. Sebab, butuh empati dan kerendahan hati untuk menyadari problematika mendasar semacam itu.

Menurut keterangan Pak Christian, tidak semua orang tua di Indonesia memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, misalnya untuk membeli laptop, demi mendukung anak-anak mereka memperoleh akses pembelajaran selama PJJ. Jadi paket belajar online dengan harga terjangkau tersebut dimunculkan oleh pihak Faber-Castell sebagai bagian dari dukungan akses PJJ yang merata bagi seluruh siswa di nusantara.

Contoh soal PJJ yang dapat dikerjakan dengan mudah dengan penggunaan Stylus

“Jadi, walaupun hanya punya gawai, dengan menggunakan Stylus Faber-Castell, anak-anak bisa tetap fokus mengerjakan soal-soal dengan mudah. Para orang tua pun tidak harus pusing dengan kegiatan ngeprint materi dan soal berulang-ulang. Esensi dari PJJ itu kan paperless,” jelas Pak Christian.

Selain itu, hal menarik lainnya dari paket belajar online ini adalah kesadaran pihak Faber-Castell untuk tidak “mendewa-dewakan” pembelajaran daring semata. Hal itu terbukti dengan tetap dihadirkannya peralatan belajar manual, seperti pensil, pulpen, setip, dan rautan dalam paket belajar tersebut. Ini menjadi poin penting, sebab PJJ maupun PTM terbatas, tetap ada saatnya para siswa memakai peralatan belajar manual tersebut selama pembelajaran.

Kemudian, dalam praktik penjagaan alam dan lingkungan, selain mengurangi penggunaan kertas (paperless), praktik baik lainnya adalah dengan menggunakan produk-produk berkualitas. Walaupun pensil masih harus menggunakan potongan-potongan kayu untuk melapisi inti grafit, pemilihan produk pensil yang tepat tentu membuat penggunaannya lebih awet. Semisal memilih menggunakan pensil Faber-Castell dengan desain yang cukup ramah lingkungan—tanpa penambahan cincin logam, penghapus, dan gagang—serta kekokohan kayu dan kelegaman inti pensilnya menjadikan produk Faber-Castell ini punya kemampuan all in one untuk digunakan dalam segala situasi dan kondisi.

Minimal menurut pengalaman saya pribadi, hal itu benar terjadi. Sekali beli, pensil Faber-Castell bisa digunakan berbulan-bulan hingga bertahun. Sebab saat diraut, inti pensil tidak mudah patah dan ukuran pensilnya amat nyaman digenggam. Jadi pensilnya lebih awet dan kita pun tetap betah menggunakannya dalam kurun waktu yang lama. Jadi, ramah lingkungan itu bukan sekadar menghindari produk plastik sekali pakai, tetapi juga bisa dilakukan dengan penggunaan produk berkualitas yang awet digunakan dalam jangka waktu yang panjang. Nah, bagi para pembaca yang penasaran dengan beragam produk Faber-Castell lainnya, silakan cek di LINK berikut ini ya.

Informasi lebih lanjut kunjungi juga: www.faber-castell.co.id.

Yuk Jaga Bumi Bareng Greevi

1

“I only feel angry when I see waste. When I see people throwing away things we could use.”

“Saya merasa marah jika melihat pemborosan. Saat saya melihat orang membuang barang yang bisa digunakan.”

—Mother Teresa

Kita sering mendapati slogan, “Buanglah sampah pada tempatnya.” Namun, jarang kita mengetahui definisi sampah yang sesungguhnya. Bahkan masih sedikit dari kita yang sadar bahwa tidak semua sampah layak dibuang. Sebab sebahagiannya bisa digunakan kembali (reuse) bahkan didaur ulang (recycle).

Berdasarkan istilah Statistik Lingkungan UNSD, sampah atau limbah didefinisikan sebagai bahan sisa dari produk utama yang dipasarkan dan tidak lagi digunakan—baik untuk keperluan produksi, transformasi, maupun konsumsi—sehingga ingin dibuang. Dengan kata lain, limbah atau sampah adalah bahan yang tidak diinginkan atau tidak lagi dapat digunakan, zat apa pun yang dibuang setelah penggunaan utama karena tidak lagi berharga, rusak, dan tidak berguna.

Pengertian di atas sungguh menarik. Sebab, jika kita tatap lamat-lamat dan renungi dalam-dalam, makna ‘rusak, tidak berguna, tidak berharga’ itu menjadi sangat relatif. Suatu benda yang dianggap tidak berguna bagi seseorang bisa jadi merupakan hal yang berharga bagi orang lain. Oleh karenanya, pemahaman akan manajemen sampah menjadi penting untuk dipelajari. Sehingga, sebagai konsumen kita menjadi bijak dalam memilih produk macam apa yang ramah lingkungan dan bisa mengurangi jumlah sampah (reduce) di muka bumi ini.

Sampah, Antara Whoever dan Whatever?

Dalam Hukum Kekekalah Energi disebutkan.

“Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Dia hanya dapat diubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi yang lain.”

Sejatinya besaran energi di alam semesta ini adalah tetap. Sehingga, segala macam energi yang terlibat dalam suatu proses kimia atau fisika hanya berupa perpindahan atau perubahan bentuk energi semata. Jika berkaca dari persoalan sampah, kita akan menyadari bahwa penggunaan materi di alam semesta secara tidak wajar berpotensi merusak keseimbangan alam.

Jika diumpamakan penumpukan sampah sekali pakai laksana lemak jenuh yang dikandung bumi, maka keabaian kita tidak seharusnya berbuah keluh, “Ih, gerah. Waduh, airnya kuning. Idih, tanahnya gersang. Hiks, hujannya jarang. Sial, kebanjiran.” Sadar atau tidak, demikianlah hasil yang kita petik dari ke-whatever-an kita terhadap menajemen sampah sehingga kita ikut menanggung imbas dari penderitaan bumi yang sedemikian rupa.

Maka penting disadari bahwa setiap kita memiliki peran penting dalam proses penjagaan bumi. Pengelolaan sampah secara bijak—reduce, reuse, recycle—merupakan segelintir aksi nyata pembuktian cinta kita kepada ibu bumi (mother earth). Air, tanah, udara, bumi memberikan begitu banyak untuk umat manusia. Andai kita tidak mampu membalas dengan kebaikan serupa pada bumi, minimal kita berusaha untuk mengurangi dampak kerusakannya. Cuz, whoever you are, your actions matter.

Bergerak Bersama Greevi

Greevi a.k.a green village (desa hijau) merupakan sebuah program bisnis sosial yang diinisiasikan oleh Komunitas Rumah Relawan Remaja (3R). Beragam sampah berbahan baju dan kain bekas diolah kembali menjadi tas kain (goodie bag) dan kantong (pouch) gaul siap pakai.

Semangat yang diusung melalui program ini, selain memperkuat sisi ekonomi masyarakat setempat melalui kreativitas daur ulang, juga menyasar pada perubahan pola pikir masyarakat Aceh terhadap pengurangan sampah, terutama sampah sekali pakai. “Seharusnya kita tidak gengsi menggunakan kembali barang-barang yang masih layak pakai atau didaur ulang. Toh, masih bagus kok. Selain hemat biaya, juga menjaga bumi,” ungkap Kasuma, salah seorang pengurus program Greevi tersebut.

Tanggapan senada juga datang dari Faza, seorang content creator yang tampak berwara-wiri menggunakan produk Greevi Collection dalam beberapa aktivitasnya. “Enak digunakan, simpel dan ringan. Apalagi untuk kegiatan santai.” Saat ditanyakan perasaannya menggunakan barang daur ulang, dia pun menambahkan, “Ngapain malu. Kan tasnya bagus. Yang penting warnanya senada atau netral dengan pakaian,” ungkap sang desainer grafis tersebut.

Selain daur ulang tas, Greevi Collection juga mengembangkan produk sabun handmade. Walau pun dibuat sendiri secara manual, sabun ini tetap menghasilkan busa dan enak digunakan. Setelah beberapa kali pemakaian, selain harum, saya sendiri merasakan kelembutan sabun tersebut di kulit. Pokoknya, enggak kalah deh dengan produk sabun ternama lainnya.

Pada akhirnya, perlu kita sadari bersama bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari menjaga diri. Bumi adalah satu-satunya rumah yang kita miliki hingga saat ini. Baik tidaknya kondisi bumi tentu akan memengaruhi kualitas hidup manusianya. Jadi, mari kita jaga bumi kita dengan menjadi konsumen cerdas. Dimulai dari kegiatan-kegiatan sederhana seperti mematikan arus listrik yang tidak terpakai, menutup keran air jika baknya sudah penuh, mencabut pengisi daya laptop dan gawai jika baterai sudah maksimal, membawa kantung belanja sendiri, dan ikut menjadi pendukung produk-produk kreativitas Greevi. Tunggu apa lagi. Yuk, bersama kita jaga bumi.[]

Menapaktilasi Perjuangan Profesor Eka Srimulyani dalam Menjembatani Mimpi Diri, Mahasiswa, dan Warga Desa

“Walaupun anak Ayah menikah, dia akan tetap lanjut kuliah. Nah, saya lihat kliknya di situ.”

Lengkungan senyum menghiasi wajah Eka Srimulyani saat menceritakan kenangan prosesi lamaran sang suami kepada orang tuanya. Sembari menyeruput kopi arang pesanannya, perempuan kelahiran Jeuram, Nagan Raya, Aceh Barat, ini menuturkan serangkaian kisah perjalanan hidupnya. Bertempat di sudut taman warkop T36 Banda Aceh, Selasa 18 Mei 2021, Eka membagikan pengalaman perjuangannya sebagai perempuan Aceh dalam menggapai cita-cita, sejak masa singlehood, menikah, hingga menjadi Ph.D Mama.

“Saat menjadi mahasiswa full-time, kita selalu dihantui beban pikiran. Ditambah lagi anak masih kecil. Jauh dari keluarga besar, apalagi saat itu masa konflik. Dulu sempat terpikir untuk menyerah. Tapi kehadiran pasangan yang tepat menjadi jembatan penguat. Frekuensinya ketemu. Visinya sama,” papar Eka terkait pengalamannya saat menempuh studi Doktoralnya (S-3) di University of Technology Sydney, Australia.   

Sebagai perempuan berkeluarga yang melanjutkan jenjang studi ke perguruan tinggi, dengan waktu dan energi yang serba terbatas, Eka menyadari bahwa menetapkan skala prioritas itu menjadi penting. Selain itu, pembiasaan diri menikmati tantangan dan keluar dari zona nyaman juga membantunya menjalani kehidupan dengan tenang walau berada di tengah gempuran riak-riak tekanan. Terutama ketika menempuh pendidikan di negeri orang.

“Konflik itu sendiri banyak sekali menyisakan rasa was-was. Saya dibesarkan dalam situasi yang tidak selalu nyaman, terbiasa dengan situasi-situasi yang tidak mudah. Saya sadar bahwa hidup itu tidak selalu tenang, indah, dan berbunga-bunga. Sehingga punya mekanisme proteksi internal. Saya lihat, kondisi Aceh yang secara umum tidak datar seperti ini membuat perempuan Aceh cukup kuat.”

Pernyataan tersebut sejalan dengan kutipan pendapat sang supervisor, Barbara Leigh. Dalam sekapur sirih buku bergenre inspirasi dan motivasi yang diterbitkan Eka di tahun 2020, Berjuang untuk Seimbang: Catatan Sederhana Tentang Keluarga dan Kerja, Barbara berpendapat. “Hal yang saya kagumi dari Eka adalah ketenangan hati. Ada beberapa tantangan besar yang dihadapinya dalam meraih cita-cita profesional, tetapi tekat kuat, pikiran penuh pertimbangan, dan ketenangan hati tetap menguasainya,” tulis Adjunct Professor University of Technology, Sydney, Australia ini.

Energi Cinta Pewujud Cita-cita

Dalam bukunya, Berjuang untuk Seimbang, Eka mengisahkan bagaimana keberhasilan cita-cita dan karirnya itu tidak terlepas dari dukungan banyak pihak, terutama dari para perempuan. Kenangan baik, kasih sayang, dan teladan yang ia terima selama menempuh pendidikan itulah yang dia jadikan stok energi baik untuk disebarkan kepada orang-orang yang mampu ia jangkau.

Saat mengonfirmasikan pernyataan ini, Eka pun berkisah. “Saya dipertemukan dengan orang-orang baik. Aura itu yang saya nikmati dalam-dalam. Saya merasa mendapat kesempatan untuk berkembang. Jadi, kalau sekarang saya akrab bersama mahasiswa, karena pembimbing saya juga begitu terhadap saya. Saya diperlakukan dengan sangat baik sampai sekarang. Jadi saya mendapatkan contoh (role model).”

Bagi Eka, dalam mendidik manusia, contoh konkret selalu lebih efektif dibanding sekadar teori. Menurutnya, level mendidik itu tidak boleh hanya berhenti di tingkat kepintaran tetapi juga seharusnya menyentuh sisi-sisi kemanusiaan. “Menurut saya, maunya pendidikan itu tidak hanya pemenuhan pada level pengetahuan, tapi juga afeksi dan psikomotor, keterampilan, itu satu paket sebenarnya. Perubahan bukan cuma menjadi lebih pintar, ada pengetahuan. Tetapi juga afeksi, rasa, empati, dan juga pada tindakan,” jelas akademisi yang pernah dua kali menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry.

Pewujudan pendidikan itu seharusnya tidak melulu melalui medium formal seperti ruang kelas saja. Mendidik dan menjalin afeksi juga bisa dilakukan saat melakukan konsultasi di warung kopi atau kafe. Membentuk ruang-ruang suportif agar masyarakat mahasiswa bisa mengembangkan potensi terbaik mereka dan terhindari dari sifat ku’eh (bahasa Aceh).

Ku’eh—iri dan dengki—saya pikir, semua kita punya. Memang sulit untuk menjadi orang yang betul-betul ikhlas. Namun, kemampuan untuk merasa senang dengan kebahagiaan orang lain itu perlu dimiliki. Sebab jika tidak, justru akan menjadi sumber malapetaka. Kita ini kayak magnet energi kan. Jadi softskill saling dukung mendukung itu harus dibiasakan. Dilatih, misalnya dengan membiasakan diri mengapresiasi orang lain minimal sekali dalam satu hari,” papar sang akademisi UIN Ar-Raniry yang telah bergelar profesor sejak di usianya yang ke-37 tahun.

Eka juga berharap agar seluruh masyarakat, terutama mahasiswa, memotivasi diri agar terus belajar. Melatih keinginan untuk mengetahui banyak hal baru. Memberikan pemikiran dan perhatian terhadap lingkungan sekelilingnya. Bisa menerima kekurangan diri dengan terus berupaya menjadi versi terbaik mereka sendiri.

“Yang bagus kan kita menjadi pembelajar sepanjang hayat. Di dunia yang terus berubah, kekuatan dari dalam (inner) penting untuk dimiliki. Pendidikan itu jangan sampai menghasilkan tenaga buruh yang bisa digantikan mesin. Tapi kerja-kerja yang high order thinking and skills. Tapi jangan sampai masyarakat kita terlalu memuja teknologi dan sains sampai merasa hampa. Materialnya sudah tapi immaterialnya itu juga harus ada. Ada keseimbangan,” papar lulusan post-doctoral di International Institute for Asian Studies (IIAS) Leiden, Belanda ini.

Universitas Membangun Desa

Eka merupakan segelintir contoh guru besar perguruan tinggi yang tidak melekatkan citra kampus menara gading atau pendidikan tidak merakyat pada dirinya. Hal itu terbukti dari kesungguhannya untuk terus terlibat mendampingi masyarakat secara langsung bahkan sejak masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pada tahun 2006 silam. “Saya berinteraksi dan terlibat dalam isu-isu pemberdayaan masyarakat sudah sangat lama. Sesibuk apapun, saya tetap menyempatkan diri terjun ke lapangan. Ternyata, ini panggilan jiwa. Pada akhirnya, menurut saya, ilmu itu harus punya dimensi praktisnya, kebermanfaatan langsung bagi masyarakat,” ungkap sang peneliti senior di International centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS).

Universitas Membangun Desa (UMD) adalah salah satu contoh program pengabdian masyarakat yang dilakukan UIN Ar-Raniry berkolaborasi bersama KOMPAK (DFAT). Ini merupakan sebentuk kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) termatik dengan fokus percepatan penanggulangan kemiskinan. Di sini Eka berperan dalam memberikan sentuhan desain program yang lebih pro rakyat. Sehingga KKN tidak hanya menjadi seremonial kampus semata. Kegiatan tersebut dilaksanakan sejak 2016. Kecamatan Arongan Lambalek pun terpilih sebagai lokasi binaan.

Saat kegiatan diinisiasi, berdasarkan data statistik, Arongan Lambalek adalah kecamatan termiskin di Aceh Barat. Kondisi ini disebabkan oleh nilai jual komoditi unggulan mereka yang turun drastis di pasaran. Sementara sawah sering dilanda banjir oleh luapan air sungai. Hal ini disebabkan oleh kerusakan kondisi hilir sungai yang tertutupi tumbuhan enceng gondok.

Sejak saat itu, Eka bersama timnya menggerakkan mahasiswa untuk bertransformasi menjadi aktor pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.Secara bergantian, gelombang demi gelombang mahasiswa KKN diturunkan di lokasi yang sama. Memang bukan hal yang mudah dalam membentuk pola pikir masyarakat agar berkembang. Namun, semangat untuk terus memajukan masyarakat desa tercermin jelas dari Eka. “Tantangannya, masyarakat kita belum selesai dengan membangun kembali trust, saling percaya. Jadi potensi konflik di gampong itu kadang-kadang ikut memengaruhi. Itu terjadi. Memang rumit. Membutuhkan kesungguhan. Tapi prinsip kita mencoba memediasi. Cari solusi,” ungkapnya.

Berbagai pendekatan dilakukan dan ragam tantangan dicoba selesaikan sebijaksana mungkin. Hingga akhirnya, masalah gulma enceng gondok yang membebani masyarakat itu justru bertransformasi menjadi hasil kerajinan yang memberikan pemasukan tetap bagi warga. Hasil kerajinan tersebut bahkan tembus hingga ke pasar internasional.

Bagi Eka, program pengabdian masyarakat tersebut tidak hanya memberi manfaat untuk warga sekitar, tetapi secara konseptual juga bisa digunakan sebagai acuan di tempat lainnya. Menurutnya, justru kebanyakan program dunia yang berdampak besar kerap kali dimulai dari pengabdian-pengabdian para dosen dan mahasiswa.

“Saya bahagia karena mahasiswa bisa kita ajak berpikir bersama, tidak hanya mementingkan diri sendiri. Pada akhirnya mereka pun bisa merasa, ‘Oh, ternyata keberadaan kami itu berharga.’ Pengrajin-pengrajin yang mereka dampingi sekarang sudah punya pendapatan sendiri. Keluarga-keluarga miskin sudah ada income tetap. Bahagia karena mereka bukan sekadar menjadi mahasiswa KKN untuk mendapatkan nilai. Tapi mampu membawa perubahan. Membawa masyarakat untuk memiliki motivasi,” cerita sang reviewer penelitian nasional dan internasional tersebut.

Harapan Bagi Generasi Muda

Sebagai seorang perempuan sekaligus ibu dari dua orang anaknya yang juga perempuan, Eka sangat menyadari pentingnya memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan untuk terus berkembang. Termasuk kesempatan memperoleh pendidikan. “Semua kita sebenarnya harus belajar sampai pada titik tertinggi yang kita mampu. Itu berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Kebetulan anak saya perempuan. Semangatnya untuk belajar sampai pada titik yang dia impikan, tetap kita dukung terus. Jadi sebagai anak perempuan yang hidup dalam masyarakat Aceh dia tidak merasa terhalang mimpinya hanya karena dia seorang perempuan.”

Sistem patriarki yang mendarah daging di negeri ini kerap merugikan banyak pihak, terutama perempuan. Patriarki merupakan bentuk asimetris dari relasi kuasa (power relation). Kondisi ketidakseimbangan dalam membahagiakan kedua belah pihak, perempuan dan laki-laki. Pembebanan pada perempuan kerap terjadi bahkan melewati ambang batas kemampuannya. Sayangnya, pendidikan tinggi pada perempuan pun tidak serta merta berhasil menghapus sistem patriarki ini. Bahkan kini sistem tersebut menjelma menjadi bentuk patriarki wajah baru.

“Oh iya, ada sesuatu yang keliru dalam masyarakat kita. Itu yang dinamakan partiarki.Pendidikan untuk perempuan pun ada kalanya malah menghasilkan bentuk patriarki wajah baru. Perempuan sudah bekerja, tapi dia di rumah pun masih bekerja juga. Kan double burden. Menurut Prof. Al-Yasa’ Abubakar, ‘Dalam dimensi relasi memang pada tingkat tertentu kita perlu berkorban. Kadang-kadang pengorbanan itu sebuah kenikmatan juga.’ Tapi jangan melampaui ambang batas,” papar penulis Buku Keluarga dan Relasi Kuasa di Provinsi Aceh yang diterbitkan pada akhir 2020 lalu.

Menurut Eka, untuk mengubah sistem patriarki yang sudah mendarah daging di masyarakat itu perlu waktu dan keterlibatan lintas pihak. Harus ada program dari pemerintah, komunikasi yang dibangun antarkeluarga, juga upaya-upaya bersama yang dilakukan oleh lintas organisasi dan komunitas. Harus dibangun gerakan kolektif secara masif.

“Intinya, perempuan dan laki-laki itu saling bermitra, berkolaborasi, bukan berkompetisi. Kalau bahagia, ya dua-duanya bahagia. Tidak ada yang dirugikan. Jadi jangan pernah takut untuk saling mendukung. Toh, pada akhirnya, tidak ada pihak yang dirugikan ketika perempuan itu berpendidikan dan terberdaya,”tutup Prof. Eka mengakhiri sesi bincang-bincang seru sore hari itu.[]

Jatuh Bangun Yulianti Meniti Karier Bidan hingga Mendirikan Bidan Holik Aceh

Berprofesi sebagai bidan merupakan pilihan hidup Yulianti, SST. Perempuan yang akrab disapa Kak Uli oleh tim Bidan Holik Aceh ini, begitu bangga dengan profesinya. Sebab, itulah yang menjadi andalan hidupnya setelah melewati proses pendidikan kebidanan yang butuh perjuangan.

Ya, sekolah di bidang kesehatan seperti halnya di jurusan kebidanan bukanlah perkara mudah. Butuh investasi uang, pikiran, dan waktu yang panjang untuk menyelesaikan semuanya. Setelah lulus pun masih banyak aral melintang, terutama saat mendapatkan pekerjaan. Lulusan kebidanan yang kian membeludak membuat persaingan begitu ketat di dunia kerja. Bahkan di antaranya terpaksa rela bekerja tak bergaji sebagai bidan bakti demi mempertahankan gengsi.

Namun, pilihan itu tak bisa ditempuh Uli karena ia masih mempunyai tanggung jawab lain. Selesai kuliah bukan berarti selesai pula urusannya. Sebab gengsi tidak bisa mengembalikan aset-aset orang tuanya yang tergadai demi membiayai pendidikannya. Tidak bisa juga membantu biaya sekolah adik-adiknya, bahkan tak mampu sekadar untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.

Uli ingin profesinya dihargai, setidaknya dengan mendapatkan jerih payah sesuai kemampuannya. Bisa menjadi sumber penghasilan yang memadai. Sebuah pilihan yang realistis demi keberlangsungan hidup seorang anak manusia. Namun, instansi mana yang mau menerima seorang fresh graduate yang hanya berbekal selembar ijazah? Uli pun berbalik haluan, banting setir kerja serabutan hanya demi untuk makan. Bagaimana kisah Uli bertahan hidup hingga akhirnya membangun Bidan Holik Aceh? Mari simak ceritanya agar bisa dijadikan contoh dan panutan.

***

Kamis, 11 Maret 2021 saya mendatangi Apotek Family Farma di Jalan Teuku Muhammad Daud Beureueh, Banda Aceh. Kedatangan saya untuk menemui pemilik Bidan Holik Aceh yang tidak lain ialah Yulianti. Lima menit menunggu, seorang perempuan turun dari Agya kuning menuju ruang tunggu apotek. Senyumnya merekah saat melihat saya duduk di sofa lalu menghampiri dan menyalami saya yang datang ditemani suami. Uli menyapa kami dan meminta maaf atas keterlambatannya. Sesaat kemudian ia pun mengajak saya ke ruang praktik Bidan Holik yang juga di gedung itu.

Kami tiba di ruangan seukuran 4×3 meter dan tampak pasangan muda yang sedang menunggui bayinya dipijat oleh pegawai Bidan Holik Aceh. Terdapat bak mandi yang dipenuhi bola-bola plastik, digunakan untuk bayi berenang. Meskipun tidak terlalu besar, ruangan itu sangat nyaman karena didekorasi dengan warna biru laut yang cerah lengkap dengan beberapa lukisan hewan bawah laut.

Uli mempersilakan saya untuk melihat proses pijat bayi atau baby massage. Bayi itu terlihat senang dipijat, begitu juga dengan orang tuanya tampak bahagia mengikuti proses itu. Setelah pemijatan selesai, Uli menggendong bayi tersebut sambil mengobrol dengan orang tuanya. Mereka kelihatan akrab karena ini bukanlah kali pertama bayi itu dibawa ke Bidan Holik untuk dipijat.  

“Bayi yang dipijat pasti hasilnya lebih maksimal. Ibarat dua tanaman yang satu dipupuk dan lainnya dibiarkan tumbuh begitu saja. Tentu tanaman yang dipupuk akan tumbuh lebih subur. Begitu pula bayi yang dipijat, pertumbuhan dan perkembangannya akan lebih baik karena akan memengaruhi daya isap saat ia menyeusui. Bila kebutuhan ASI tercukupi, aliran darah pun akan lancar yang akan mengantarkan nutrisi ke seluruh sel-sel tubuh. Hal ini akan berpengaruh pada kenaikan berat badan bayi karena nutrisi tercukupi. Begitu pula aliran darah yang lancar ke otak akan merangsang perkembangan otak anak,” jelas Uli memaparkan manfaat pijat bayi.

Orang tua bayi tersebut terlihat fokus menyimak penjelasannya. Tak terkecuali saya. Mungkin karena saya juga mempunyai bayi, informasi tersebut sangat menarik untuk diikuti. Namun, kedatangan saya ke sana bukanlah sekadar untuk mendengarkan tentang informasi bayi, tapi lebih dari itu. Lebih tepatnya mendengarkan kisah Uli dalam merintis usaha berbasis jasa; Bidan Holik Aceh.

Uli lantas mengajak saya ke ruangan sebelah. Kliennya tadi kembali dilayani oleh pegawainya. Di ruang sebelah kami bisa mengobrol dengan nyaman tentang jatuh bangunnya meniti kariernya sebagai seorang bidan profesional.

Susahnya Mencari Pekerjaan Tanpa Rekomendasi

Uli memulai pendidikannya di perguruan tinggi dengan bersekolah di Akademi Kebidanan (Akbid) Saleha Banda Aceh. Ia lulus pada 2011, tahun saat mulai diberlakukannya surat tanda register bagi seluruh tenaga kesehatan yang ingin bekerja di sektor pelayanan kesehatan. Uli yang baru saja lulus tahun itu belum bisa mengurus STR. Aturannya dua tahun setelah kelulusan baru bisa mendapatkan STR. Meskipun sudah ada peraturan tersebut, Uli tetap saja nekat melamar pekerjaan di pelayanan kesehatan. Berbekal ijazah D3, perempuan asal Aceh Besar ini mendatangi puskesmas di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Ia berharap ada kesempatan kepadanya untuk bekerja di sana. Sebab, dialah satu-satunya tumpuan orang tua dan harapan bagi kelima adiknya yang masih bersekolah.

“Orang tua mengeluarkan biaya besar untuk uang kuliah saya, paling tidak saya bisa membantu mereka dengan memberikan uang jajan adik setelah lulus. Meskipun ibu PNS, tapi gajinya tidak seberapa lagi karena sudah banyak ambil kredit di bank. Beberapa asetnya seperti sawah juga tergadai demi menguliahkan saya. Sedangkan ayah tidak bisa bekerja karena sakit. Makanya besar harapan ke saya agar bisa sedikit meringankan beban yang dipikul orang tua,” ungkap Uli.

Karena itulah Yuli benar-benar sangat membutuhkan pekerjaan. Namun, setiap kali ia melamar pekerjaan di pelayanan kesehatan, mereka selalu meminta persyaratan STR selain ijazah. Kemudian mereka juga meminta rekomendasi dari orang yang berpengaruh di pelayanan kesehatan tersebut. Sesuatu yang menurutnya sudah menjadi rahasia umum. Uli yang awam tentang persoalan itu mempertanyakan perihal rekomendasi tersebut. Sebagai lulusan baru yang minim pengalaman dan tidak punya kenalan orang berpengaruh, ia hanya bisa diam saat dimintai persyaratan tersebut. Lebih lanjut pihak puskesmas menjelaskan kalaupun ia diterima di pelayanan tersebut, statusnya hanya sebagai bidan bakti. Ia harus rela bekerja tanpa digaji.

Akhirnya ia mengurungkan niatnya dan mencari tempat pelayanan kesehatan lain. Kondisi yang sama kembali terulang. Selain STR juga diminta surat rekomendasi. Itu pun tetap dengan status sebagai bidan bakti. Hampir seluruh puskesmas di Aceh Besar dan Banda Aceh yang didatangi menetapkan persyaratan tersebut.

Belum juga menyerah, perempuan kelahiran 18 November 1989 ini mencoba melamar pekerjaan di rumah sakit. Hasilnya juga sama, ia tidak mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. Semua rumah sakit yang menerima surat lamaran pekerjaannya menolak Uli.

Menjadi Tukang Cuci dan Membuat Kue

Selama menunggu penantian pengurusan STR, Yuli bekerja serabutan. Ia membuka jasa laundry di rumah. “Saya mencuci baju orang karena tidak punya uang. Tidak mungkin lagi saya meminta kepada orang tua karena utang-utangnya saja sudah menumpuk. Jadi, saya membuka jasa laundry abal-abalan di rumah dan mencuci baju para tetangga. Selain itu, baju kotor teman-teman adik saya di pesantren saya suruh bawa pulang ke rumah untuk dicuci. Walaupun hasilnya tidak seberapa, tapi lumayanlah untuk mencukupi uang jajan adik saya yang satu itu. Namun, masih ada empat orang adik saya lainnya yang membutuhkan biaya sehari-hari untuk sekolah,” katanya.

Untuk menambah pemasukan, ia membuat kue basah dan menitipkannya ke kedai kopi. Dibantu oleh adik-adiknya, ia melakukan semua pekerjaan tersebut dengan ikhlas. Hasil dari jualan kue dan jasa laundry digunakan untuk membantu uang jajan adik-adiknya sehari-hari. Pekerjaan tersebut dilakoninya selama kurang lebih satu tahun.

Meski begitu, Uli juga sering dilibatkan dalam proses membantu persalinan pasien bidan-bidan senior mantan dosennya. Kebetulan ia mempunyai kedekatan emosional dengan beberapa bidan yang mempunyai klinik bersalin.

“Ibu ada lowongan buat saya, nggak? Saya belum ada STR, hanya berbekal ijazah D3. Apa saja boleh saya lakukan untuk membantu Ibu di klinik,” ujar Yuli sedikit mengiba saat menghubungi bidan-bidan senior tersebut.

Dari hasil menjaga pasien tersebutlah ia mendapat uang tambahan. Bila ada pasien yang akan melahirkan, dialah yang mendampingi hingga selesai. Setelah pasien pulang, dia juga yang datang ke rumah pasien tersebut untuk memandikan bayinya. Bermula dari pekerjaan memandikan bayi inilah, Uli mulai dikenal banyak orang.

Tantangan di Masyarakat

Selama melakoni pekerjaan memandikan bayi itulah Uli melihat masih banyak praktik yang dilakukan oleh mablin (dukun beranak) pada ibu pascasalin yang tak sesuai dengan ilmu kebidanan modern.

“Saya melihat ibu-ibu yang baru melahirkan dipijat oleh mablin atau wawak-wawak. Namun, cara pemijatannya tidaklah benar, justru membahayakan si ibu. Contoh yang paling sering saya temukan ialah ibu pascalahir dipijat untuk menaikkan perut. Padahal rahim si ibu masih dalam keadaan luka karena baru saja melahirkan. Kemudian dipijat oleh mablin sambil ditekan-tekan dan diangkat-angkat hingga membuat si ibu merasa kesakitan. Belum lagi batu panas yang dibalut menggunakan kain, lalu diletakkan di atas perut sambil ditekan-tekan. Hal seperti itu membuat perut relaksasi sehingga akan berpotensi terjadi perdarahan. Sebab prinsipnya rahim harus berkontraksi agar proses penyembuhan luka membaik. Bahkan kami akan menyuntikkan oksitosin kepada ibu melahirkan agar rahimnya berkontraksi, melakukan MA3K salah satunya masase perut, masase rahim supaya rahim dapat berkontraksi,” jelas Yuli.

Namun, yang ditemukan dirinya di lapangan justru rahim ibu pascamelahirkan dibuat relaksasi dengan cara dipijat. Rahim yang dalam keadaan luka tersebut akhirnya mengeluarkan banyak darah dan itu disangka baik oleh mereka. Padahal itu berisiko membuat si ibu perdarahan yang mengakibatkannya anemia, makanya kebanyakan ibu melahirkan kelihatan pucat karena kekurangan darah. “Sebab perdarahan lebih dari 500 mg disebut perdarahan patologi/penyakit,” lanjut Yuli.

Praktik tak sesuai lainnya ialah banyaknya pantangan bagi ibu pascasalin. Si ibu tidak diizinkan makan dan minum terlalu banyak, makan tidak boleh lebih dari tiga sendok, minum tidak boleh lebih dari tiga teguk, dan minum itu pun sangat jarang sekali, bahkan sampai kering bibir si ibu baru diizinkan minum. Belum lagi pantangan untuk memakan daging, ikan, udang, dan sebagainya. Makanan yang diberikan kepada ibu melahirkan hanya berupa sayur bening daun ubi, ikan keumamah (ikan kayu) atau kareng (teri kering). Padahal ibu melahirkan butuh asupan gizi yang tinggi dari berbagai makanan untuk memulihkan kondisi tubuhnya dan penyembuhan rahim.

“Dengan kondisi seperti itu, produksi ASI pun juga terhambat karena si ibu merasa tertekan dengan perlakuan yang tidak menyenangkan. Padahal si ibu harusnya dibuat senang dan bahagia agar hormon prolactin bekerja sehingga meningkatkan produksi ASI. Tapi, ini justru malah disakiti yang membuat si ibu stres. Ketika ASI tidak ada, lalu mereka bilang ASI ibu tidak enak, kemudian diberilah susu formula. Begitu ASI keluar, bayinya tidak mau lagi menyusui karena sudah bingung puting. Anak pun sering menangis karena kembung, lalu diberi pisang karena disangka lapar. Padahal bayi baru lahir belum bisa mencerna makanan padat karena sistem pencernaaannya masih dalam proses tahap perkembangan. Praktik seperti itu terus dilakukan, meskipun salah karena dilakukan berulang-ulang dianggap sesuatu kebenaran oleh masyarakat.”

Melihat kondisi tersebut batin Uli berontak. Ia pernah menyampaikan kegundahannya pada salah satu pasien dan keluarganya, tetapi dia justru diserang.

“Orang-orang dulu juga seperti itu, tapi mereka baik-baik saja,” jawab keluarga pasien.

Hal ini menjadi dilema bagi Uli, saat ia berusaha menyampaikan kebenarannya justru akan berpotensi menimbulkan konflik.

“Saat itu saya dimarahi sama ibu pasien, mertuanya, dan orang-orang sekitarnya. ‘Kamu tahu apa anak kemarin sore mau sok mengajarkan orang tua,’ kata mereka kepada saya. Berbagai bantahan datang dari mereka bila saya sampaikan kebenarannya. Salah-salah ngomong, bisa-bisa saya kehilangan job memandikan bayi,” tuturnya.

Dalam menghadapi tantangan itu, ia pun harus pandai-pandai berkomunikasi mengambil hati pasien dan keluarganya. Supaya mablin tidak tersinggung ketika ia sampaikan ilmunya dan tidak disangka menjadi musuh karena berpeluang mengambil job mereka. Uli banyak belajar dari bidan-bidan senior bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan pasien. Untuk memperdalam ilmunya tersebut, Uli pun memutuskan untuk melanjutkan kuliah D4 Kebidanan di Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) pada 2012.

Orang tuanya kembali harus menggadaikan sawah untuk biaya pendaftaran masuk perguruan tinggi. “Uang hasil dari gadai sawah itu semuanya habis untuk biaya masuk. Setelah saya hitung-hitung semua kwitansinya tercatat 25 juta lebih sedikit yang harus saya keluarkan.”

Selama dua tahun kuliah, ia tetap menyambinya dengan pekerjaan memandikan bayi. Namun, ia mulai menambah beberapa treatment lainnya seperti pijat bayi, perawatan tali pusat, edukasi perawatan bayi baru lahir kepada pasien, dan cara menyusui yang benar. 

Tamat kuliah pada 2014 dengan menyandang gelar Sarjana Sains Terapan, Uli pun menikah. Beruntung suaminya mempunyai jaringan yang bisa membuatnya diterima bekerja di sebuah rumah sakit. “Entah bagaimana prosesnya saya tidak tahu. Akhirnya saya bekerja di rumah sakit tersebut beberapa bulan. Sedangkan pekerjaan memandikan bayi tetap saya lakukan di samping bekerja sebagai bidan di rumah sakit tersebut.”

Kemudian pada saat itu, sedang ada dibuka lowongan pekerjaan bagi tenaga medis untuk sebuah rumah sakit yang baru dibuka. Uli memutuskan mengikuti proses seleski di rumah sakit tersebut. Semua tes yang dibuat rumah sakit dilaluinya, akhirnya ia diterima sebagai tenaga bidan di rumah sakit tersebut.

Karena rumah sakit ini baru dibuka, mereka masih menerapkan sistem roling dalam penempatan tenaga medis. Jadi, di tahun pertama dan kedua bekerja di situ, Uli berkesempatan mengikuti berbagai pelatihan yang dibuat pihak rumah sakit. Sistem roling yang dibuat rumah sakit juga memberikan kesempatan belajar bagi dirinya untuk mendalami ilmu dan pengalaman menjadi bidan.

“Saya pernah ditempatkan di ruang bersalin, kemudian dipindahkan ke instansi gawat darurat, lalu pindah lagi ke ruang perinatolgi. Jadi, saya bisa belajar banyak saat menangani pasien di ruang-ruang tersebut. Akhirnya semua dokter umum dan spesialis yang ada di rumah sakit itu saya kenal yang menambah jejaring pertemanan saya.”

Selama bekerja di rumah sakit, Uli tidak lagi menerima job memandikan bayi dari bidan-bidan senior. Sebab, setiap ia membantu persalinan di rumah sakit, ia juga berkesempatan untuk memandikan bayi mereka setelah pulang. Bahkan saking banyaknya pasien, ia tidak sanggup menanganinya sendiri. Ia pun mencari bidan junior yang sama sepertinya dulu untuk membantu pekerjaannya tersebut.

“Saat itu saya sudah punya karyawan, walaupun dua orang hasil dari pekerjaan tersebut sangat lumayan bagi saya. Kemudian saya terpikir, mau sampai kapan saya bekerja sama orang dan saya mulai membandingkan gaji yang saya dapat dari rumah sakit dengan penghasilan saya di luar. Akhirnya saya memutuskan untuk resign dari rumah sakit karena saya ingin fokus membangun usaha saya dengan tim yang saya bentuk.”

Diceraikan dan Jatuh ke Titik Terendah

Januari 2019, Uli resmi tidak bekerja lagi di rumah sakit. Akibatnya ia harus berusaha lebih keras untuk membangun semuanya dari nol. Begitu pula dengan pasien yang semulanya ramai, kini menjadi berkurang karena ia harus mencari pasien sendiri.

“Pasien pun jadi terputus karena saya tidak bekerja lagi di rumah sakit yang secara otomatis tidak ada lagi pemasukan untuk saya. Apalagi yang namanya kita masih merintis semua masih terbatas, termasuk modal. Jadi, waktu itu saya tidak pikir panjang saat resign sehingga ada sedikit timbul penyesalan di hati,” ungkap Yuli.

Terlebih rumah tangga Yuli saat itu sedang dilanda masalah. Ia harus merasakan pahitnya ditinggal suami karena diceraikan. “Kami belum punya buah hati, mungkin itu alasan utama dari kehancuran rumah tangga saya,” suaranya tercekat seakan ada beban berat yang masih disimpannya di dalam hati.

Situasi itu membuat Uli benar-benar merasa berada di titik terendah. Perkerjaan tak punya, teman pun tiada. Dua pegawainya terpaksa diistirahatkan karena tidak mampu menggaji mereka. Jangankan untuk membantu orang tua, untuk biaya hidup sendiri pun dia tak punya. Ia merasa sudah salah mengambil keputusan, tapi ia segera sadar bahwa apa pun jalan yang dipilihnya, itu adalah pilihan. “Nggak mungkin lagi melaju ke belakang karena waktu tidak bisa diputar. Sehingga pertama kali yang saya lakukan saat itu adalah salat. Itulah salat yang paling khusuk dalam hidup saya selama ini,” ungkapnya.

Dalam salat itu, ia berdoa kepada Allah Swt agar diberikan solusi atas masalah yang dihadapinya. Ia mengadukan semua masalah yang dialaminya kepada Sang Pencipta. “Saya tidak bisa hidup tanpa bantuan Engkau karena saya adalah ciptaan Engkau. Jadi, apa pun yang terjadi di masa lalu dan masa depan, Engkaulah yang tahu dan Engkau yang punya solusi atas masalah yang saya hadapi sekarang,” rintih Uli dalam doanya saat itu.

Setelah salat, tiba-tiba ia terpikir untuk membuat akun Instagram. Padahal sebelumnya ia tidak pernah menggunakan aplikasi tersebut. Dia meminta bantuan kepada salah satu pasiennya untuk dibuatkan akun Instagram. Pasien tersebut sedikit merasa aneh sebab di zaman digital seperti sekarang masih ada orang yang tidak tahu cara membuat akun Instagram. Apalagi Uli juga tergolong milenial.

“Walau awalnya diketawain oleh pasien saya, tapi dia tetap mau membantu saya untuk membuat akun Instagram. Kemudian dia juga mengajari saya cara meng-upload foto dan penggunaan beberapa fitur lainnya yang terdapat di Instagram. Akhirnya pada 4 Mai 2019, terbentuklah akun Instagram Bidan Holik Aceh.”

Bangkit dan Membangun Bidan Holik Aceh

Mengenai penggunaan nama Bidan Holik, ia teringat akan satu kata holic yang bermakna kecanduan. Ia merasa cocok kata itu disandingkan dengan kata bidan yang merupakan profesinya. Sebab bila menggunakan jenama Bidan Yuli, tidak ada yang mengenalnya karena masih banyak bidan lainnya yang jauh lebih terkenal dan senior dari dirinya.

“Saya memilih kata holic yang kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi holik. Dengan nama tersebut saya berharap orang-orang akan kecanduan dalam artian positif menggunakan jasa saya. Maksudnya saya mau orang yang sudah treatment pada saya datang lagi dan lagi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Kata holic yang mulanya bermakna negatif tidak selamanya buruk. Sama halnya seperti hidup saya yang sedang terpuruk, susah, dan sedang dilanda masalah akan bangkit menjadi pribadi yang lebih baik dan positif. Jadi, saya sengaja mengutip kata yang negatif untuk dijadikannya positif, maka jadilah Bidan Holik Aceh,” tutur Yuli.

Dengan penuh semangat dan keyakinan, ia pun kembali menghubungi bidan-bidan senior agar ketika ada pasien yang membutuhkan jasa memandikan bayi bisa menggunakan jasanya. Setiap kali melakukan tugasnya seperti memandikan bayi, memijat, dan perawawatan bayi lainnya, ia mengunggahnya ke Instagram.

Hingga suatu hari, orang yang berpengaruh di Aceh menjadi salah satu pasiennya. Anak mantan gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, menggunakan jasanya untuk perawatan bayinya. Uli dengan sigap menjalani tugasnya, mulai dari memandikan, memijat bayi tersebut, hingga perawatan lainnya. Tanpa sepengetahuan dirinya, Darwati Agani—istri Irwandi Yusuf—merekam aktivitasnya.  

“Bu Darwati memasukkan saya ke siaran langsung Instagramnya. Tidak lama kemudian, HP saya mulai dibanjiri banyak pesan, bahkan ada yang menelepon saya untuk mengkonfirmasi bahwa saya masuk siarang langsung Bu Darwati. Saya kaget dan balik bertanya apa itu siaran langsung, begitulah saking kurang update-nya saya,” ujarnya sambil tergelak.

Berkat unggahan Darwati, akun Instagram Bidan Holik Aceh mulai dikenal. Beberapa hari setelah itu, follower-nya bertambah menjadi empat ribu yang sebelumnya hanya beberapa puluh saja. Efeknya dia kebanjiran pekerjaan yang diterimanya melalui pesan Instagram. Hingga sebulan setelah video itu diunggah, Uli mempunyai jadwal memandikan bayi hingga satu bulan berikutnya.

Ia merasa inilah jawaban Tuhan atas semua doa yang dipanjatkannya beberapa waktu lalu. Ia pun memanggil kembali pegawai yang sempat diistirahatkan. Semakin hari nama Bidan Holik Aceh semakin dikenal. Beberapa pasien yang menggunakan jasanya secara sukarela mempromosikan usahanya. Sebab setelah melakukan treatment mereka mempostingnya ke Instagram masing-masing.

“Dari Instagram si A, kemudian diketahui oleh si B dan seterusnya, hingga semakin banyak yang mengetahui tentang Bidan Holik Aceh dan menggunakan jasa kami. Sampai hari ini sudah 19 ribu follower Bidan Holik Aceh dan kami sering mendapatkan orderan via Instagram. Dilihat sangat aktif di Instagram, alhamdulillah pada Agustus 2019 pihak Family Farma mengajak saya untuk melakukan praktik di tempat ini. Saya benar-benar tidak menyangka Allah akan kasih semuanya setalah beberapa kesulitan yang saya alami sebelumnya,” tukas Yuli.

Untuk memperdalam ilmu dan wawasannya, ia mengikuti berbagai pelatihan berbayar yang ada di luar Aceh dengan biayanya sendiri. Ia pun diajarkan cara berbisnis dan beberapa turunan ilmu kebidanan yang sudah dikembangkan. Tercatat ada empat pelatihan yang diikutinya. Mulai dari tiket penginapan, biaya pelatihan, tiket pesawat, dan biaya hidup selama pelatihan, ditanggungnya sendiri demi mendapatkan sertifikat dan pendalaman ilmu. Di awal 2020, ia berhasil membuat CV Bidan Holik Aceh dan memperkerjakan beberapa bidan untuk membantu usahanya.

Saat ini ada sepuluh pegawai yang berasal dari profesi bidan dan enam orang admin yang bukan bidan bekerja membantu Bidan Holik Aceh. Ia membuka rekrutmen saat menerima tenaga bidan yang bekerja untuknya, kemudian melatih sampai mereka benar-benar mahir melakukan perawatan, seperti pijat bayi, cara berkomunikasi dengan baik, dan beberapa skill penunjang lainnya.

Ia juga membuka cabang Bidan Holik di berbagai daerah. “Untuk saat ini ada lima tempat, yaitu di Meulaboh, Birueun, Lokseumawe, Lhoksukon, dan Aceh Selatan. Saya mengundang bidan dari daerah tersebut ke Banda Aceh, kemudian dilatih sampai mereka bisa dilepaskan untuk melakukan treatment di daerahnya masing-masing. Selama mereka di Banda Aceh, semua keperluannya saya yang tanggung begitu pula dengan semua pelatihan, saya berikan secara gratis. Setelah mereka setuju dengan kotrak yang Bidan Holik buat barulah mereka bisa bekerja di daerah masing-masing,” katanya semringah.

Di mata tim Bidan Holik Aceh, Uli dikenal baik dan pengertian. Ia memperlakukan karyawannya laiknya teman. Ia memberi kesempatan kepada bidan-bidan junior untuk bekerja di tempatnya dengan gaji sesuai dengan UMR.

“Alhamdullillah, penghasilan dari sini lebih mencukupi untuk kebutuhan saya dan jauh lebih tinggi bila bekerja di tempat lain,” ujar Uswah, salah satu pegawai Bidan Holik Aceh.

Uli sangat bersyukur dengan apa yang diperolehnya sekarang. Dengan usaha ini dia sudah bisa membuka lapangan pekerjaan untuk para bidan. Ia pun bisa membantu melunasi utang-utang orang tuannya dan membiayai pendidikan adik-adiknya. Begitu pula dengan fasilitas lainnya seperti rumah dan mobil sudah bisa ia miliki dari hasil jerih payahnya selama ini. Namun, yang paling penting Yuli bisa menerapkan ilmu kebidanan sesuai dengan apa yang dipelajarinya di dunia perkuliahan, tanpa harus sungkan mengatakan praktik perawatan ibu pascalahir yang salah dipahami masyarakat selama ini.

Kisah dari Yuli ini tentunya bisa dijadikan contoh teladan bagi banyak orang, khususnya tenaga bidan dan tenaga kesehatan lainnya. “Andai semua bidan bisa berpikir lebih kreatif dan tidak ada yang mau bakti tanpa digaji, pasti jasa bidan akan lebih dihargai. Sebab, pemerintah akan kewalahan karena tidak ada bidan yang mau bakti sehingga mau tidak mau pemerintah juga harus memberikan imbalan yang sesuai untuk jasa bidan dan tenaga kesehatan dengan gaji yang sesuai,” katanya berharap secuil harapan keadilan bagi rekan-rekan seprofesinya di luar sana.

Ia berharap lulusan bidan lebih mandiri dan tidak berharap ke orang lain apalagi menggunakan cara-cara yang tidak baik untuk mendapatkan pekerjaan. Yang terpenting teruslah berusaha dan berdoa karena dia sudah membuktikan, proses usaha dan doa sehingga sukses membangun usaha Bidan Holik Aceh.[]

Nuraini, Teungku Inong Modern Pendiri Balee Beut Kawasan Kampus

Empati dan peduli menjadi acuan penting untuk menjalani hidup dengan baik, terutama di era modern. Sikap-sikap itulah yang membuat kehidupan masyarakat tetap hangat. Kehidupan sehat yang jauh dari paradigma sosial berupa serangan kesepian (loneliness). Secanggih apa pun kehidupan, sebagai makhluk sosial, sejatinya setiap manusia tetap saling membutuhkan; memahami-dipahami, mencintai-dicintai, menolong-ditolong. Prinsip hidup semacam itulah yang tercermin jelas dalam keseharian aktivitas Nuraini Anazy S.Pd., yang akrab disapa Ummi Tet.

“Sedang bersiap-siap untuk takziah. Salah seorang warga baru berpulang ke Rahmatullah,” ujar Nuraini saat saya temui di kediamannya pada Minggu siang, 11 April 2021. Sebagai seorang perempuan berpengaruh di Gampong Rukoh, Banda Aceh, jadwal kegiatan Nuraini tergolong cukup padat. Setelah 24 tahun hidup di desa ini, Ummi Tet menjadi sangat melebur dengan masyarakat.

Penyuluh Kementerian Agama Non-PNS di Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, ini mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk mendidik dan membina masyarakat akan ajaran Islam. Sebagai pemimpin keagamaan perempuan, Ummi Tet menjadi tempat berlabuh bagi ibu-ibu yang ingin memperdalam pengetahuan agama dan memperbagus bacaan Quran mereka. Tak hanya itu, sikap Ummi Tet yang supel ternyata juga menarik minat banyak anak muda, terutama mahasiswa, untuk ikut belajar mengaji di Balai Pengajian Al-Ikhlas yang ia dirikan. Apalagi, ia tinggal di kawasan Kota Pelajar Mahasiswa Darussalam sehingga mudah diakses oleh mahasiswa yang kuliah di sejumlah perguruan tinggi yang ada di sana.

Balee ngaji ini aktif sejak 2010. Awalnya untuk mengajarkan anak sendiri. Saya ngajar ngaji di TPA juga. Namun, masih ada masyarakat yang minta diajarkan ngaji di rumah,” jelas ibu tiga anak tersebut. Pengajian ini berjalan karena banyaknya permintaan, baik dari kalangan ibu-ibu maupun mahasiswa.

Para ibu, suami, dan anak-anak mereka ingin belajar mengaji tapi malu atau takut berguru ke teungku di dayah. “Di sebagian dayah kan masih menggunakan metode memukul dengan rotan saat mengajar. Memang ada murid yang cocok seperti itu, tapi ada juga yang tidak kan. Kalau saya, tetap menggunakan metode Iqra walau mengajar di balee beut (balai pengajian). Pembelajaran tajwidnya juga saya sesuaikan dengan kebutuhan,” jelasnya.

Teungku Inong Modern

Walau menyandang predikat sebagai tokoh agama perempuan, Ummi Tet selalu bersikap ramah dan enggak neko-neko. Hal tersebut membuatnya mudah dekat dengan masyarakat dari beragam latar belakang dan usia. Dari orang dewasa, remaja, hingga kanak-kanak. 

Nuraini sendiri berpendapat bahwa tata cara penyampaian ilmu pengetahuan agama kini harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan personal. Sehingga masyarakat tidak takut dan tetap berminat untuk belajar. “Kita dulu, kalau enggak dipukul, enggak bisa. Kini beda. Anak-anak sekarang jika dipukul, besoknya enggak datang lagi,” papar Ummi Tet.

Selain program mengaji secara tatap muka, Nuraini juga membuka kelas belajar tajwid secara daring melalui gawai. Hal itu dilakukannya untuk menjangkau masyarakat lebih luas. Terutama bagi mereka yang berada di luar wilayah Banda Aceh. Program tersebut tentunya membantu masyarakat berkonsultasi mengenai bacaan Al-Qur’an dengan lebih fleksibel.

Kunjungan Mahasiswa Universitas Syiah Kuala ke Balai Pengajian Al-Ikhlas

Nah, adapun di kalangan mahasiswa, motivasi mereka belajar mengaji agak sedikit berbeda. Disebabkan ketidaklancaran membaca Al-Qur’an, para mahasiswa jadi tidak lulus program Tahsin. Secara otomatis, walau sudah lulus sidang skripsi, ijazah mereka tetap ditahan sementara oleh pihak kampus. “Sebenarnya UIN Ar-Raniry sudah punya wadah untuk belajar mengaji, cuma terkadang anak-anaknya memang kurang usaha. Biasanya mereka kesulitan karena enggak punya dasar ilmu. Mungkin karena logat daerahnya kan. Melafalkan 29 huruf hijaiah pun mereka kesulitan. Jadi harus di-peutakteh (tuntun).”

Di tengah padatnya kesibukan Nuraini dari pagi hingga malam; sebagai Penyuluh Kementerian Agama Non-PNS, pemimpin wirid Yasin Majlis Ta’lim, pengajar Al-Qur’an di TPA dan Diniah, dan panitia MTQ, nyatanya kegiatan balee beut di rumahnya tetap saja eksis. Pengajian itu digelar empat malam dalam sepekan, dari Senin hingga Kamis. Selepas magrib adalah waktu anak-anak belajar mengaji. Adapun bakda isya waktunya para dewasa dan orang tua. Semua usaha baik itu tidak akan berjalan lancar tanpa dukungan orang-orang tercinta. “Untuk pengajaran Iqra saya dibantu oleh kedua orang anak laki-laki saya. Jika yang hadir tidak ramai, maka mengajinya satu per satu. Kalau ramai, kita pakai metode tadarus bergantian. Jika bacaannya salah, langsung kita perbaiki.”

Untuk pembelajaran Quran di balee beut ini, Ummi Tet sama sekali tidak mematok harga untuk jasanya. Siapa pun umat Islam yang ingin belajar diterimanya. Karena keterbatasan waktu dan jarak, terkadang banyak juga masyarakat yang datang mengaji bukan pada waktu yang semestinya. Sembari dia memasak di dapur atau menggosok baju di siang hari. Atas dasar keinginan belajar agama, Ummi Tet dengan ikhlas meluangkan waktunya. ”Pembayaran suka rela. Tidak ada patokan. Terkadang ada yang membawa sayur-sayuran dari kampung. Alhamdulillah, kita terima. Insyaallah tetap kita ajarkan walau tidak dibayar. Nanti Allah kasih rezeki lain yang tidak kita sangka-sangka,” jelasnya semringah.

Kemudian, bagi Nuraini, tidak ada yang namanya kegagalan dalam mengajarkan Al-Qur’an. Walau harus melalui proses yang panjang, ia yakin setiap orang Islam akan lancar mengaji selama dia punya kemauan. “Kalau yang gagal tidak ada, cuma lama. Ada yang sampai tiga tahun baru bisa. Tapi ada juga yang tiga bulan sudah bisa baca Quran padahal awalnya Iqra pun tidak mengerti. Semua tergantung tekad, ya. Kalau mau belajar, semua bisa,” kenang Teungku Inong ini.

Ummi Tet menyerahkan hadiah di TPA An-Nur Sabilussalam

Di akhir pertemuan, perempuan kelahiran Sigli 1972 ini menceritakan bahwa awalnya dia memang pernah belajar mengaji di dayah-dayah kecil di kampungnya. Namun, ayahnyalah yang menjadi sosok utama dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam padanya. “Saya belajar dari Bapak. Beliau seorang petani biasa tapi pintar bertajwid dan tilawah. Dulu ada siaran khusus di radio tentang tajwid. Saya duduk di pangkuannya, menyimak bersama Bapak.”

Tampaknya, keberhasilan pola pengasuhan sang ayah telah menjadikan Nuraini sukses menjalani kehidupannya. Dia bisa mengelola waktunya secara bijak. Di balik beragam aktivitasnya yang cukup padat, dia tetap mampu mencurahkan segenap perhatian untuk keluarga tercinta. Tak heran, bimbingan yang ia berikan untuk para buah hati telah membawa mereka mengukir prestasi sejak dini. Bahkan Ummi Tet sendiri berhasil terpilih sebagai pemenang lomba pola asuh terbaik ibu dan anak. Sungguh sebuah perjalanan karier keperempuanan yang mengagumkan dan tentu patut dijadikan contoh teladan.[]

Bedah Buku “Rihon”; Soal Kerinduan Perempuan

0

Rindu adalah perasaan yang manusiawi. Saat merindu, kita dibawa pada dimensi lain. Dimensi dimana dunia menjadi samar. Hanya objek rindu kita yang mencuat.

Dalam kumpulan cerpen bertajuk Rihőn (rindu) Ihan Nurdin menuangkan berbagai rindunya. Kerinduan pada kemurnian, cinta dan kehangatan kemanusiaan.

Ihan banyak mengeksplorasi perasaan perempuan (dan non perempuan) dalam menghadapi berbagai konflik.

Sebagai jurnalis, Ihan terbiasa mencari angle unik mendalami sebuah peristiwa. Ia dapat menemukan hal-hal renik dalam perasaan perempuan, yang tidak atau belum digarap penulis lain.

Kompilasi cerita pendek setebal 200-an halaman ini, akan dibedah pada Jumat, 9 April 2021.  Pisau bedah dipegang penyair Diyus Hanafi dan penulis Dian Guci.

Dikenal dengan diksinya yang unik, Diyus tentunya akan menampilkan operasi pembedahan yang menarik.

Sementara itu, acara besutan Perempuan Peduli Leuser ini akan berlangsung di Cafe Albatros, Gampong Peulanggahan, dari pukul 14.30-16.30 WIB.

Diketahui, Perempuan Peduli Leuser (PPL) adalah komunitas beranggotakan perempuan dari lima Kabupaten/Kota di Aceh.

Fokus utama kegiatan mereka adalah isu-isu lingkungan hidup, kesetaraan, hak anak dan pemberdayaan.

Sebagai komunitas gabungan boomers-milenial-Gen Z, mereka mengoptimalkan platform media sosial sebagai alat kampanye.

Rindu lukisan, mata suratan, hatimu nan merindu, kata komponis besar Ismail Marzuki. Mereka yang merindu kegiatan literasi sastra dari perempuan, oleh perempuan dan untuk perempuan, sila mengontak narahubung: Yelli Sustarina di nomor 085260080834. [DG]

Artikel ini dipublikasikan di situs Nukilan.id 2 April 2021.

Kisah Rubama Membangun Perempuan Akar Rumput hingga Menjadi Pejuang Ekologi

Setengah jam menuju pukul empat sore. Matahari mulai redup. Semilir angin pepohonan di sepanjang Jalan T. Panglima Nyak Makam berembus malu-malu. Tak jauh dari bibir jalan terlihat sebuah rumah toko satu pintu yang difungsikan sebagai warung kopi; Leuser Coffee.

Di dalam warkop ber-tagline­-kan “konservasi dalam sebungkus kopi” itu tampak sekumpulan anak muda. Sebagian mereka sibuk menata letak kursi rotan, meja kayu, kamera, layar, dan juga sound system. Menurut kabar yang beredar, pada malam harinya akan diadakan pameran foto virtual yang memaparkan kondisi hutan di Provinsi Aceh selama sepuluh tahun terakhir.

Dari belasan orang yang berada di warkop itu, saya melihat seorang perempuan—berkemeja putih dengan kerudung warna linen hex—sedang berdiskusi santai bersama beberapa sejawatnya. Dialah Rubama.

“Kita tahu di hutan itu ada sumber kehidupan bagi siapa pun, terutama perempuan. Dulu orang tua kita kalau sakit tidak lari ke apotek, tapi larinya ke tumbuhan. Tapi apa yang terjadi hari ini? Penghilangan lahan bagi mereka, tidak bisa lagi masuk ke kawasan hutan.” Papar Rubama menjelaskan bagaimana kondisi hutan Aceh di masa lalu dan kini, mengawali perbincangan, Minggu, 21 Maret 2021.

Doc. Mongabay

Perempuan Aceh ini sejak dulu dikenal sangat antusias terhadap isu pemberdayaan masyarakat dan lingkungan hidup. Citranya sebagai warga—tentu setelah melalui segenap pancaroba—yang berhasil memajukan gampongnya sendiri, Gampong Nusa, sebagai desa wisata yang ramah lingkungan sudah diketahui khalayak ramai.

Menariknya, Rubama ternyata telah melebarkan sayap aksinya dengan bergabung bersama Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA). Transisi karier tersebut sempat menyedot perhatian banyak kenalannya, tak terkecuali warga net. “Nusa itu bagian dari tanggung jawab saya sebagai warga. HAkA ini tempat saya bekerja dan mencari nafkah. Saya sudah di HAkA sejak 2017,” cerita Rubama semringah.

Lalu di tahun 2018, bersama HAkA, Rubama melakukan inisiasi penanaman kembali pohon di Kawasan Ekosistem Leuser di wilayah Kabupaten Bener Meriah. Ia memfasilitasi kelompok perempuan Desa Damaran Baru, Kecamatan Timang Gajah, untuk bersama melindungi kawasan hutan melalui konsep Community Patrol Team: Women’s Ranger atau MpU Uteun.

Melalui Program Konservasi Keanekaragaman Hayati ke Wilayah Kelola Perempuan ini, mereka melakukan kegiatan rutin bersama-sama masyarakat. Misalnya berpatroli hutan, membudidayakan lebah madu dan ikan air tawar, hingga terciptanya kawasan ekowisata. Dengan kata lain, seraya menjaga hutan, diharapkan kelompok perempuan ini juga mendapat manfaat ekonomi dari kegiatan tersebut.

“Apa yang dilakukan oleh HAkA selama ini adalah memperkuat. Sebenarnya, di tingkat tapak itu sudah banyak sekali gerakan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat di kawasan hutan. Hal ini kemudian dirajut, diperkuat melalui advokasi. Melindungi hutan itu tidak bisa sendiri-sendiri. Maka koneksi dan jejaring itu sangat penting,” jelas sang pemenang KEHATI Award 2020 ini.

Doc. HAkA

Perempuan dan Hutan

“Hutan itu untuk siapa?” Ini merupakan pertanyaan penting yang perlu dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali masyarakat Aceh. Apalagi jika mengingat betapa strategisnya letak Kawasan Ekosistem Leuser (KEL)—dengan luasan hutan mencapai 2,6 juta hektare—yang sebagian besar lokasinya tersebar di 13 kabupaten di Provinsi Aceh. Dengan kata lain, sebagian besar masyarakat Aceh merupakan orang-orang yang bersinggungan langsung dengan hutan, serta menjadi orang-orang yang paling cepat merasakan dampak baik maupun buruk darinya.

Kemudian, terkait penggunaan dan pengelolaan hutan Aceh, Ru—sapaan akrab Rubama—turut memberikan pandangannya. “Di sini hidup habitatnya satwa, di sini hidup habitatnya manusia, mereka saling berhabitus. Habitus itu tempat makhluk hidup bekerja, mencari rezeki, dan sebagainya. Manusia punya itu. Satwa punya itu. Tumbuhan juga punya itu. KEL itu tidak hanya hutan lindung. Di sana ada areal penggunaan lain (APL) di mana masyarakat akan tinggal. Ada hutan produksi, yang biasanya ada hak guna usaha (HGU). Makanya penting untuk menghadirkan keadilan ekologi. Tidak ada yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.”

Bagi Rubama, membicarakan hutan itu sama artinya dengan membicarakan “dapur kehidupan”. Maka menjadi aneh baginya ketika terdapat doktrin yang menyatakan bahwa perempuan dan hutan merupakan kombinasi yang tabu. “Ketika hari ini dianggap perempuan tabu masuk hutan, itu karena sistem patriarki yang kental. Sampai hari ini kita tahu betul bahwa ada banyak hal yang sangat mendiskriminasikan perempuan.”

Adapun beberapa fakta lapangan yang dapat dijadikan contoh adalah sebagai berikut. Pertama, terkait kasus ketika perempuan dilarang bekerja di kebun. Alasannya klasik, terkait kekuatan fisik. Andai pun kelak fisik mereka terbukti mampu bekerja, lagi-lagi mereka hanya dianggap sebatas membantu; membantu orang tua, membantu saudara laki-laki, membantu suami. Dengan kata lain, perempuan seakan tidak memiliki ruang kemandirian dan kemerdekaan personal. Kedua, terkait pengelolaan sumber daya alam, katakanlah air, elemen paling urgen bagi manusia, terlebih perempuan. Kesehatan reproduksi perempuan itu sangat dekat dengan air. Air berasal dari alam. Kalau air rusak maka rusaklah kehidupan. Namun, sayangnya, di banyak rapat desa terkait pengelolaan sumber daya alam, perempuan jarang dilibatkan. Tak heran, angka persentase keterbatasan akses informasi bagi perempuan menjadi cukup tinggi. Tentunya, masih banyak permasalahan serupa lainnya.

Berlandaskan fenomena tersebut, Ru dan tim HAkA pun tergerak untuk membenahi hal tersebut. “Jadi, apa yang dilakukan kawan-kawan di Damaran Baru itu adalah pembagian peran pengelolaan hutan desa. Siapa melakukan apa. ‘Yuk, kita punya sistem yang bisa digunakan secara setara. Enggak ada pihak yang merasa disakiti. Enggak ada pihak yang direndahkan.’ Karena patriarki itu kan konstruksi sosial,” imbuhnya.

Ia juga menambahkan, disadari atau tidak, pada kenyataannya manusia tidak hanya “merampas” hasil alam dari masyarakat yang tinggal di seputaran kawasan hutan. Namun, juga lupa memberikan penghargaan-penghargaan terhadap pengalaman dan keilmuan lokal yang telah mereka bagikan. “Ketimbang mengajari, kita lebih banyak belajar dari mereka,” jelas Rubama. Oleh karenanya, ia mengajak orang-orang untuk membuat gerakan mengembalikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. “Misal, saat kita membuat tulisan, jangan gunakan bahasa-bahasa yang tinggi. Gunakanlah penjelasan yang menarik dan mudah dimengerti oleh masyarakat,” jelasnya.

Pendidikan Kemasyarakatan

Sebuah momentum diskusi paling menohok bersama Rubama sempat terjadi. Saat saya menanyakan pendapatnya mengenai ketiadaan korelasi pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi dengan permasalahan kehidupan nyata masyarakat. Ia pun merespons hal tersebut dengan pemaparan yang sungguh bijak.

“Sebenarnya, pengetahuan yang real itu ada pada warga. Pengetahuan itu ada di sudut-sudut gampong. Seluas gampong itu, sebanyak itulah ilmu pengetahuan. Jadi tidak akan ada istilah mahal untuk pendidikan. Kita kembali pada konsep, ‘Arti pendidikan itu apa sih sebenarnya?’” papar Rubama.

Doc. Rubama

Menurutnya, sistem pendidikan kita saat ini kurang menghargai pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki masyarakat di tingkat tapak. Para pendidikan kita dikonstruksikan untuk terpaku pada kurikulum sedemikian rupa sehingga mereka terjebak di dalamnya. Mereka sibuk menuliskan konsep tapi nihil dalam praktik. Para pendidik diberi begitu banyak tuntutan manajemen—memegang begitu banyak kelas bahkan mata pelajaran—sehingga mereka terlampau lelah. Belum lagi dukungan kesejahteraan bagi mereka yang masih tergolong rendah. Pada akhirnya, saat tiba waktu mengajar, mereka hanya bisa marah-marah. Sehingga murid-murid masa kini cenderung mudah stress.

“HAkA dan Nusa itu pasti berbeda. Tapi kita punya benang merah yang sama, yaitu kekuatan masyarakat itu dilakukan di tingkat tapak. Kita ini berangkat dari satu kesamaan akar. Akarnya apa? Bergerak sesuai kebutuhan. Makanya, Nusa punya paket kelas outdoor. Kita ingin memutarbalikkan fenomena itu. Melalu program ini, para siswa bisa belajar langsung di sudut-sudut gampong. Mereka melihat, menyentuh, membaui, mengecap, dan merasakan langsung ilmu pengetahuan yang biasanya hanya bisa mereka lihat di buku dan pelajari di dalam kelas.” Bahkan saking asyiknya belajar di Gampong Nusa, sering kali Rubama menemukan para murid yang menolak untuk mengakhiri waktu belajar di sana. “Kami enggak mau pulang. Masih mau main.” Kenang Rubama bahagia.

Kepekaan Rubama dalam mengembangkan masyarakat Aceh, terutama kaum perempuan, ternyata tidak terlepas dari pola asuh keluarganya. Kesetaraan perlakuan dan kemerdekaan berekspresi telah dirasakanya semenjak kecil.

“Ayah Ru Imam Gampong. Orang yang dihormati masyarakat pada masanya. Anaknya semua perempuan. Tapi waktu kecil, Ru boleh main ke lapangan, manjat pohon, berambut pendek. Enggak ada larangan. Pas waktu ngaji, pergi ngaji. Jadi sistem patriarki di keluarga kami itu sama sekali tidak terasa. Kami semua diperlakukan sama,” kenang Rubama tersenyum simpul penuh arti.

Di akhir pertemuan, Rubama menyatakan bahwa dia percaya setiap perempuan memiliki potensi yang mampu membuat mereka bersinar. Setiap perempuan itu unik. Mereka memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Buang jauh-jauh rasa pesimis, sebab rasa pesimis bisa jadi bukan murni berasal dari ketidakmampuan diri, akan tetapi dibentuk oleh sistem.

“Saya sangat percaya seluruh perempuan di dunia, terutama perempuan Aceh, punya potensi yang sangat besar. Potensi ini dipahami ketika kita tahu siapa diri kita. Mengetahui diri hanya terjadi ketika kita merdeka. Ketika perempuan menjadi ibu, jadilah ibu yang merdeka. Ketika perempuan menjadi akademisi, jadilah akademisi yang merdeka. Tidak ikut-ikutan. Sebab setiap perempuan yang terlahirkan ke dunia membawa potensi diri masing-masing.”[]  

Transformasi Badriah A Taleb; dari Korban dan Penyintas hingga Pejuang Hak Asasi Perempuan

Mengenakan setelan blazer dan rok hitam, jilbab dasar putih bermotif bunga violet dan biru, wajahnya sesekali dibuat meriah oleh senyum merekah. Tutur katanya lembut, jawaban dan ceritanya mengalir runtut dan teratur. Ia memesan kopi, yang disesapnya sedikit-sedikit selama berbincang. Sesekali ekspresinya menguat, ketika menuturkan beberapa hal yang mengungkit kenangan tak menyenangkan. Darah ulee balang Aceh tampak jelas membayang dalam kalimat-kalimatnya. Hari itu kami bertemu di sebuah kedai kopi di Banda Aceh, Jumat, 12 Maret 2021.

Namanya Badriah A Taleb. Biasa disapa Kak Bad, perempuan berputra tiga ini adalah pendamping korban, saksi, dan sekaligus penyintas kekerasan fisik dan mental.

“Saya menyaksikan bagaimana perempuan kawan-kawan sekampung saya berkali-kali menjadi korban kekerasan. Baik itu kekerasan psikologis, maupun kekerasan fisik,” tutur Badriah memulai. “Pelaku kekerasan bervariasi. Mulai dari pasangan hidup, orang tua hingga pada masyarakat sekitar.”

Badriah menengarai bahwa perilaku kekerasan pada perempuan di kampungnya adalah warisan dari sistem kemasyarakatan yang dipahami secara parsial.

“Seperti yang saya alami sendiri. Saat menikah ditahun 1992, suami saya saat itu melarang saya  keluar rumah untuk keperluan apa pun, kecuali untuk menggarap sawah,” terang Badriah. “Saya dilarang mengenakan baju model lain, kecuali baju kurung yang panjangnya hingga ke lutut, dikombinasikan kain sarung. Kalau ke sawah, saya harus mengenakan sehelai kain panjang menutupi kepala dan seluruh tubuh saya. Bagian depan kain itu harus ditarik mengalingi muka, agar menghalangi tatapan langsung orang ke wajah saya. Rambut saya sangat panjang kala itu, sampai terjela di tanah, karena perempuan muda tidak boleh memotong rambutnya.”

Sedari kecil, sebagai seorang perempuan dari keluarga ulee balang, Badriah dididik untuk selalu mengenakan baju dan rok panjang. Ia juga dilarang untuk bermain di luar rumah. Pulang sekolah, ia harus tinggal di rumah menjaga adik-adiknya.

“Sampai kelas lima SD saya tak punya kawan bermain,” cerita Badriah. Lulus SMP, perempuan kelahiran Meunasah Lhok, Aceh Utara tahun 1975 ini, dilarang untuk melanjutkan sekolah ke SMA. Alasannya, toh kelak ia harus menikah, melahirkan, dan mengurus keluarga. Tidak perlu sekolah terlalu tinggi untuk melakukan itu semua.

Badriah melanjutkan pendidikan dengan mondok di pesantren. Tapi ia hanya sanggup melakoninya selama delapan bulan, karena masuk pesantren bukanlah cita-citanya.

“Saya ingin kuliah di FKIP. Jadi guru,” ujar Badriah. Namun, orang tuanya hanya mengizinkan abangnya untuk kuliah, di fakultas hukum. Sedang Badriah sendiri tidak diizinkan.

“Saya masih sering memikirkannya. Berandai-andai, seandainya saya boleh kuliah waktu itu, mungkin sekarang sudah berhasil,” mata Badriah agak menerawang, mengingat-ingat masa lalunya. Abangnya, yang kuliah di fakultas hukum, keluar setelah dua semester.

Selama di pesantren Badriah sakit-sakitan. Diam-diam ia memendam derita batin karena mondok di situ tidak sejalan dengan keinginannya.

“Karena kesal, akhirnya saya putuskan untuk menerima lamaran seseorang,” kata Badriah. Itu terjadi saat usianya baru menginjak 17 tahun. Setelah menikah, pasangan baru itu tinggal di rumah sederhana yang dibuatkan orang tua Badriah. Untuk membiayai hidup, Badriah menggarap sawah.

Suaminya, yang sebelum menikah tidak begitu dikenalnya, tidak pernah membantunya bekerja. Lelaki itu juga sering pulang dalam keadaan mabuk. Badriah mencari nafkah sendiri dengan menjadi buruh pabrik bata, juga buruh tani.

“Semua saya kerjakan sendiri. Mulai dari membersihkan, membajak, menyemai benih hingga menanam. Saat padi tumbuh dan memerlukan perawatan, saya juga yang mengerjakan. Walaupun sedang hamil atau menyusui,” Badriah tersenyum pahit mengingat masa itu. “Suami saya baru akan turun tangan bila sudah waktunya panen. Saat itu dia justru akan melarang saya ke sawah. Dia sendiri yang memanen padi yang saya tanam, dia yang mengangkut, dia yang menjual dan menguasai seluruh hasilnya. Saya dan anak-anak tidak kebagian apa-apa.”

Di sisi lain, Badriah mengatakan bahwa sang suami tidak melakukan kekerasan fisik terhadapnya.

“Kalau soal itu, tidak. Saya tak pernah dipukulnya,” kata Badriah. “Tapi selama 13 tahun menikah, masa-masa dia tinggal dan berada di rumah bisa dihitung dengan jari.”

Selama pernikahan mereka, suaminya boleh dibilang tak pernah hadir untuk Badriah dan anak-anak mereka.  Dengan alasan bekerja, lelaki itu selalu bepergian. Tidak pula sebentar kepergiannya itu.

“Kadang dua tahun, pernah juga hingga lima tahun lamanya,” kata Badriah. “Kalau sesekali dia pulang, dibawanya dua pak biskuit, satu bungkus roti, beberapa bungkus mi instan. Itu saja, pemberian yang saya dan anak-anaknya terima. Selain itu tidak ada lagi.”

Suatu kali di tahun 2003, setelah suaminya pulang sebentar ke kampung, Badriah mengajak anak-anaknya untuk mencoba mencari si ayah. Saat itu Badriah dalam keadaan hamil dua bulan. Mereka sampai di Banda Aceh dengan bekal sangat tipis. Karena tahu bahwa ayah mereka konon berjualan es krim, kala melihat seorang penjual es krim salah satu putra Badriah berseru, “Ayah!” Agar tidak terlalu malu, Badriah membeli es krim seharga lima ratus rupiah. Kemudian sang tukang es krim bertanya, mengapa anak Badriah memanggilnya ayah. Pertahanan Badriah runtuh, diceritakannya semua. Si tukang es krim iba bukan buatan, diajaknya Badriah dan anak-anaknya untuk sementara tinggal di rumahnya. Selama tinggal dengan Pak Es Krim, Badriah tidak lelah memperlihatkan foto suaminya pada tukang-tukang es krim lain. Sampai akhirnya, ada yang mengenal suami Badriah, dan bisa menunjukkan alamatnya.

Penuh harap, Badriah pergi ke alamat tersebut. Benar, suaminya tinggal di situ. Namun, harapan Badriah hancur saat dilihat suaminya ternyata sudah hidup dengan perempuan lain. Badriah hanya menyampaikan bahwa ia hamil, dan malamnya kembali ke Aceh Utara. Sejak saat itu mereka putus komunikasi. Sang suami tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Namun, juga tidak menceraikannya.

Dari apa yang dialaminya sendiri, Badriah menilai bahwa pemahaman masyarakat kampungnya tentang hak dan kewajiban suami istri selama ini masih bersifat tradisional. Yaitu pemahaman yang sifatnya turun-temurun. Belum terdapat kesadaran untuk mempelajari lebih lanjut, apa yang sesungguhnya ada dalam ajaran agama Islam.

“Setelah mengikuti kegiatan dan diskusi dengan lembaga pemberdayaan perempuan yang mengadakan program di kampung, barulah terbuka pikiran saya,” kata Badriah. “Pelan-pelan saya mulai memahami posisi, hak, dan kewajiban seorang perempuan yang diatur dalam agama, juga yang diatur oleh negara.  Hak dan kewajiban perempuan sebagai istri, sebagai ibu, dan sebagai individu. Sebelum itu, pemahaman saya terbatas pada ajaran tradisional bahwa seorang istri wajib mematuhi apa pun kata suaminya, karena ‘surga seorang istri terletak di telapak kaki suaminya‘. Mempertanyakan keputusan suami, apalagi menentangnya, adalah dosa besar,” jelas Badriah, merujuk pada hadits populer ‘…law shaluha libasyarin ayyasjuda, libasyaril la amartul mar ata antasjuda li zawjiha, min ‘izhami haqi alayha.’ (…andaikan pantas, maka aku (Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalaam) akan perintahkan seorang istri untuk bersujud pada suaminya, sebab besarnya hak suami pada istrinya. (HR Tirmidzi dan al Hakim))

“Malam setelah saya paham bahwa seorang istri ternyata tidak hanya harus melaksanakan kewajiban, namun juga memiliki hak yang harus dipenuhi oleh suaminya, saya menangis sejadi-jadinya. Barulah saya tahu, bahwa apa yang selama ini saya yakini sebagai hal yang wajar dilakukan oleh seorang suami, ternyata menyimpang.” Badriah tersenyum lagi. “Sejak saat itu saya bertekad untuk membantu sesama perempuan untuk memahami posisi, hak dan kewajiban mereka.”

Badriah bertemu dengan para relawan dari lembaga RPuK (Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan) saat berada di pengungsian karena desa mereka dilanda tsunami pada 2004 silam. Di pengungsian itu Badriah terpaksa mencari kayu-kayu bekas dan berbagai karung plastik serta potongan tripleks, untuk membuat tempat berteduh. Badriah membangun sendiri gubuknya.

Tahun 2005, masih di pengungsian itulah, Badriah diajak untuk mengikuti bimbingan dan refleksi yang diadakan RPuK untuk perempuan pengungsi. Acara itu awalnya diadakan di sebuah meunasah. Menurut kesaksian Yusdarita, relawan RPuK yang kemudian menjadi sahabat Badriah, saat pertama kali bertemu dengan sahabatnya itu ia ketakutan setengah mati.

“Waktu itu penampilan dia menakutkan. Rambut panjang terjela-jela sampai tanah, mata mendelong, kepala ditutup kain panjang. Buat saya saat itu, dia kelihatan seperti kuntilanak,” Yus, begitu ia biasa disapa, terkekeh mengenang perjumpaan pertama dengan Badriah. “Mana dia memilih saya untuk menjadi pendampingnya, lagi. Saya ngeri betul waktu itu.”

Yus bercerita bahwa oleh psikolog yang bekerja sama dengan RPuK, Badriah didiagnosa menderita waham (kondisi kejiwaan seseorang meyakini sesuatu sebagai hal yang absolut, namun tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Keyakinan ini berasal dari pemikiran yang tidak terkontrol.)

“Saya sangat lama berada dalam kondisi pemahaman yang keliru itu. Jadi sebetulnya pemikiran dan jiwa saya tidak menerima perlakuan suami, termasuk juga keluarga dan masyarakat pada saya, tapi saya tak bisa berbuat apa pun sehingga menimbulkan tekanan jiwa yang luar biasa,” kata Badriah.

Didampingi RPuK, perlahan-lahan Badriah berhasil memperoleh kembali keseimbangan dirinya.

“Saya menjadi anggota Kelompok Beudoh Beusaree (Bangkit Bersama) dampingan RPuK. Anggota Beudoh Beusaree adalah janda serta perempuan kepala keluarga. Setiap kali ada acara dan diskusi, saya selalu datang, meski pun tak pernah bicara apa-apa. Tapi karena sesi-sesi terapi, perlahan keadaan saya mulai membaik,” cerita Badriah.

“Titik balik sepenuhnya terjadi di tahun 2007,” lanjutnya. “Ketika itu ada acara diskusi dengan pemateri dari LBH Apik Lhokseumawe. Temanya tentang mekanisme penyelesaian kasus di tingkat gampong. Diskusi itu benar-benar mencerahkan saya. Selesai diskusi, saya putuskan menggugat suami, untuk memperjelas status dan kedudukan saya di mata hukum.”

Badriah menggugat suaminya ke pengadilan syariah, dan mendapatkan haknya. Ia sah bercerai secara hukum agama maupun negara. Dengan kejelasan statusnya tersebut, pikiran Badriah benar-benar dimerdekakan. Ia pun terjun sepenuhnya ke dunia pendampingan.

Diawali dengan menjadi Ketua Beudoh Beusaree, memberi sosialisasi tentang kesetaraan plus hak dan kewajiban perempuan pada rekan-rekan sekampungnya, Badriah mulai memberikan konsultasi dan pendampingan pada perempuan korban kekerasan. Di rumahnya ia menerima mereka. Ia mendengarkan, mencatat, dan merujuk korban ke lembaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalahnya.

“Dari luar nampaknya saya membantu orang. Padahal sesungguhnya saya sendiri juga mendapatkan banyak sekali manfaat. Saya jadi memiliki jaringan yang kuat, memiliki contact person di instansi-instansi terkait, bertemu banyak stake holder dan sebagainya, yang semuanya membantu saya untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan,” tutur Badriah.

Bahwa Badriah memberikan layanan konsultasi, perlahan diketahui secara luas oleh masyarakat. Kaum perempuan berdatangan dari berbagai tempat, bahkan dari luar gampongnya, untuk berkonsultasi pada Badriah. Kelompoknya berkembang, dari hanya 14 anggota menjadi 50 orang lebih. Badriah juga menginisiasi suatu bentuk koperasi bagi anggotanya.

Badriah bekerja nyaris tanpa henti. Hampir setiap hari ada yang datang mengonsultasikan masalahnya. Telepon genggamnya sangat sering berbunyi, bahkan ketika ia tengah berada di sawah, tak terkecuali pada malam hari. Badriah menerima semuanya dengan hati lapang, karena ia tahu bahwa kaumnya di desa sangat membutuhkan bantuan moril.

“Oh, ya, pasti ada perasaan itu,” ujar Badriah saat ditanya apakah ia pernah merasa jenuh. “Saat merasa letih dan jenuh, biasanya saya ambil motor, pasang headphone di telinga, menyetel musik, lalu naik motor, jalan-jalan tanpa tujuan. Sampai kepala saya jernih kembali,” katanya. Ia tersenyum manis saat mengatakan jenis musik yang dipilihnya sebagai ‘obat’:

“Musik kecapi suling Sunda,” katanya. “Suara kecapi dan suling Sunda sangat menenangkan, cepat membantu pemulihan jiwa saya yang lelah.”

Menurut Badriah, dalam sehari ia bisa melayani konsultasi hingga tiga-empat perempuan.

“Tidak pernah saya tolak. Saya tahu betapa sakitnya berada dalam posisi korban yang tak berdaya,” kata Badriah. Dalam menjalankan misi kemanusiaan ini, ketiga anak lelakinya, ibu dan adik perempuan Badriah adalah rekan dan pendukungnya yang paling utama.

“Mereka tahu apa yang harus dilakukan, seandainya datang tamu yang ingin berkonsultasi sementara saya sedang tak ada di rumah,” cerita Badriah. “Mereka langsung menyiapkan ruangan, menyuguhi, kalau perlu bahkan mereka sudah tahu cara mencatat data tamu.  Mereka mendukung saya sepenuh hati.”

Saat ini, selain berbakti pada masyarakat melalui RPuK, Badriah juga tergabung dalam Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Aceh Utara, sejak tahun 2012.

“Tahun 2015 ada acara Bazaar Layanan, tahun 2016 ada Yandu (Pelayanan Terpadu) Itsbat Nikah besutan RPuK,” terang Badriah. “Saya terlibat dalam keduanya.”

Perjuangan Badriah memperkenalkan kesetaraan, hak, dan kewajiban suami istri serta hak anak, sangat sering membentur tantangan hebat.

“Oleh komunitas saya, saya pernah dicalonkan menjadi keuchik. Gara-gara itu saya dijuluki ‘perempuan pembawa aliran sesat’ dan ‘pelanggar syariah’ oleh tetua kampung. Rekan sekampung sesama perempuan dibuat enggan bergaul dengan saya. Tapi saya tidak peduli, terus berusaha untuk melakukan sosialisasi tentang kesetaraan pada mereka yang mau mendengarkan.”

Tahun 2015, beberapa bulan setelah menerima Anugerah Perempuan Aceh Award, kegigihan Badriah mendapat tantangan besar. Dalam rapat musrenbangdes, Badriah mengutarakan kritik tentang penggunaan dana desa yang menurutnya tidak sesuai peruntukannya. Hasilnya, berbulan-bulan ia menerima teror. Putranya yang kedua bahkan patah tangan akibat dianiaya oleh oknum keuchik atau kepala desa yang merasa tersinggung. Sengketa antara Badriah dengan keuchik ini selalu gagal diselesaikan di tingkat gampong, sehingga akhirnya Badriah memutuskan untuk membawanya ke ranah hukum. Pengadilan di Lhoksukon memenangkan perkara Badriah. Setelah itu, sanksi adat bagi Badriah (dicoret dari daftar penerima raskin, beasiswa anak-anaknya tidak diberikan, tidak dilibatkan dalam kegiatan desa dan lain sebagainya) akhirnya dicabut. Ia kembali dilibatkan dalam kegiatan dan rapat gampong.

“Alhamdulillah, aparatur desa yang sekarang jauh lebih terbuka. Mereka selalu mengundang saya dalam rapat-rapat desa. Saya juga dilibatkan sebagai pendamping dan konselor apabila ada kasus menimpa perempuan dan anak,” ujar Badriah. “Program saya untuk mengadakan layanan berbasis komunitas, juga pembentukan Forum Anak Gampong, mendapat prioritas dalam rencana pembangunan gampong. Saya juga dilibatkan dalam penyusunan draf aturan terkait mekanisme penyelesaian sengketa di tingkat gampong.”

Tidak terasa, matahari sudah condong jauh ke barat. Badriah menghabiskan kopinya, demikian juga Yusdarita. Mereka bermaksud untuk kembali ke kampung sore itu. Badriah ke Aceh Utara, Yusdarita ke Bener Meriah.

Melihat kedua pejuang hak asasi di tingkat akar rumput itu, hati terasa bagai mau pecah. Keharuan dan kebanggan campur aduk. Badriah dengan pakaiannya yang sangat representatif, dengan sinar matanya yang penuh percaya diri, pasti sangat berbeda dengan sosok Badriah ‘kuntilanak’ dulu, saat ia terbenam dalam penderitaan.

“Tekad saya adalah sedapat mungkin membantu kaum perempuan untuk mendapatkan hak kesetaraan. Bagi saya, tidak ada kepuasan yang melebihi kebahagiaan melihat kebangkitan kembali korban yang saya dampingi, baik secara psikologis, maupun fisik,” ujar Badriah menutup pertemuan kami.

Saat menatap Badriah berjalan pergi, kami dibuat yakin, bahwa superhero itu memang ada. Salah satunya, mengejawantah ke dalam tubuh perempuan asal Dusun Meunasah Lhok, Gampong Muara Batu itu: Badriah A Taleb.

__________________________________blang oi, Maret 2021