Beranda blog Halaman 13

Hutan yang Ditebang, Konser yang Disalahkan

Akhirnya terulang lagi, kejadian 20 tahun silam yang pernah menimpa Aceh Selatan, yaitu banjir besar yang meluapkan sungai-sungai di sekitarnya. Longsor yang menimbun jalan raya, derasnya arus sungai yang menghanyutkan rumah warga, dan perkampungan ikut terendam juga. Kejadiannya itu di tahun 2002, hal ini saya singgung hanya untuk mengingatkan saja.  

Kamis, 1 September 2022 tepat menjelang siang, alam kembali murka. Aliran sungai yang semula jernih berubah pekat seketika, meluap memasuki rumah warga hingga menggenangi jalan raya. Tak kuat tanah menahan debit air, longsor pun terjadi menutupi bagian jalan dengan berbagai meterialnya. Jembatan yang semula kokoh, mau tak mau harus menyerah karena kuatnya tekanan air yang akhirnya membuatnya ambruk juga.

Ketika musibah itu terjadi banyak yang berasumsi mengeluarkan opini akan sebab musabab banjir terjadi. Dulu di tahun 2002, belum ada yang namanya internet dan gadget. Jadi, persoalan penyebab banjir hanya menjadi obrolan di warung kopi atau gosip antartetangga saja. Kalau pun ada berita di koran, hanya mengabarkan tentang dampak banjir dan kerugian yang ditimbulkan. Sedangkan cerita mistis di balik itu hanya beredar di masyarakat setempat, setelah itu hilang dengan sendirinya.

Namun, seingat saya sebelum banjir tahun 2022, tidak ada pergelaran konser sama sekali, toh saat itu masa konflik Aceh, tapi banjir tetap terjadi.

Konser Jadi Tersangka Banjir

Saya menyaksikan kejadian banjir Aceh Selatan dua hari yang lalu melalui kiriman video teman-teman karena saya berada di Banda Aceh. Ingatan langsung terbayang saat banjir di tahun 2002 lalu. Hampir setiap status Whats App (WA) teman-teman saya di kampung memposting video banjir. Saya ikuti satu persatu untuk melihat kondisi banjir di sana. Selang beberapa waktu, sudah ada video yang menggabungkan video konser Festival Pesona Barat Selatan dengan kejadian banjir.

Video itu seolah-olah menuding konser tersebutlah penyebab dari bala banjir yang terjadi. Terlebih ditambah dengan putaran lagu sedih dari Rafly Kande membuat bulu kuduk merinding. Entah siapa yang mengedit video itu, hingga banyak masyarakat yang mempercayainya. Mulailah bermunculan di postingan WA teman-teman video konser sebagai penyebab dari banjir.

Ada yang menuliskan bahwa ini azab karena membuat konser di negeri bertuah. Ada pula yang menuliskan #PesonaAcehSelatan (No) #PesonaBala (Yes). Beberapa diantaranya menyebut bahwa sehari setelah konser terjadi banjir pertanda bala, dan lainnya. Kemudian diperparah dengan beredarnya foto dan video hoax yang dibuat oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

Video banjir mobil hanyut dari daerah lain, dibilang kejadian di Tapaktuan. Video air tergenang di sawah disebut Lapangan Naga, lokasi pergelaran konser di acara Festival Barat Selatan. Dan berbagai macam muncul opini dan asumsi orang terkait banjir yang terjadi. Anehnya itu dipercaya banyak orang dan disebarluaskan tanpa ada upaya menyaring berita yang masih menjadi opini itu.

Kalau menurut saya, sungguh literasi kebencanaan kita masih sangat rendah.

Penyebab Banjir

Jika kita runut satu persatu penyebab banjir menurut ilmu pengetahuan, bahwa banjir terjadi karena kurangnya keberadaan pohon, curah hujan yang tinggi, air sungai yang meluap, dan tertutupnya saluran air. Tidak ada satu pun penyebabnya karena konser. Toh kalau seandainya penyebabnya konser, Banda Aceh akan lebih sering terjadi banjir karena sebentar-sebentar mengadakan konser. Bahkan orang di Jakarta sana akan tenggelam karena banyaknya pergelaran konser.

Apa yang paling memungkinkan banjir terjadi? Menurut opini saya ialah kurangnya keberadaan pohon karena ditebang oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Empat bulan lalu saat saya pulang kampung, tepatnya di Samadua Aceh Selatan, saya melihat beberapa gunung yang ada di sana sudah gundul karena pembukaan lahan. Namun sepintas saya lihat, tak ada yang mempersoalkan. Bahkan saya ngeri sendiri mengingat dapak yang terjadi di kemudian hari. 

Lain lagi dengan aliran sungai yang penuh dengan sampah. Pernah di tahun 2017 lalu, saya dan teman-teman dari Komunitas Perempuan Peduli Leuser (PPL) melakukan wawancara kepada warga yang tinggal di sekitar aliran sungai dan pantai di Samadua dan Tapaktuan Aceh Selatan. Semua warga yang kami wawancara mengatakan membuang sampah ke sungai dan ke laut. Alasannya karena tidak ada tempat pembuangan sampah akhir, sehingga memilih membuangnya ke sungai atau laut.

Dari pantauan kami di beberapa sungai yang ada di Aceh Selatan tepatnya di daerah Tapaktuan dan Samadua didominasi oleh sampah rumah tangga, seperti popok, bungkusan makanan, plastik dan sebagainya. Akibatnya aliran air sungai yang semula dalam, menjadi dangkal karena banyaknya sampah yang masuk ke sungai. Nah, ketika curah hujan tinggi seperti beberapa hari terakhir, sungai pun meluap hingga mengakibatkan banjir.

Hutan yang awalnya berfungsi untuk menyerap air ke dalam tanah ketika curah hujan tinggi tidak ada lagi karena sudah dibabat oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Ditambah dangkalnya sungai akibat sampah menjadi kemungkinan terbesar penyebab banjir. Bukan karena perkara konser.

Nah, sampai di sini saya kira cukup mengerti bagi orang yang berilmu dan menggunakan akalnya.

Semoga ke depan kita bisa bertanggung jawab terhadap alam, menjaganya dengan benar, mengawasinya dari orang-orang yang merusak hutan.

Sebelum kita menuduh sebuah pergelaran menjadi tersangka penyebab maksiat, introspeksi dulu perilaku harian kita. Jangan-jangan kitalah pelaku maksiat sebenarnya, tapi kita tidak sadar melakukannya karena dianggap hal biasa.

Pesan untuk penguasa dan pengusaha, ingatlah alam punya titik jenuhnya. Jangan demi fulus illegal loging jadi mulus, pengelolaan sampah tak terurus, dan tambang emas bertambah terus. Bila alam sudah murka, tunggulah bencananya.

Yelli Sustarina | Perempuan Peduli Leuser | Anggota Forum Aceh Menulis Banda Aceh

Memahami Kesetaraan Gender dan Keselamatan Jurnalis

Saya cukup surprise saat melihat para peserta Training Kesetaraan Gender dan Keselamatan Jurnalis yang dibuat oleh Divisi Gender Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh di Hotel Oasis, Banda Aceh, pada Sabtu—Minggu, 27—28 Agustus 2022 lalu.

Rasa takjub—jika tak ingin disebut terkejut—itu bukan karena pelatihan ini memang dikhususkan bagi perempuan jurnalis, melainkan karena dari 20 peserta training, hanya satu dua yang wajahnya familier bagi saya. Selebihnya merupakan wajah-wajah baru yang berdasarkan hasil identifikasi melalui permainan-permainan selama pelatihan, usia mereka di lapangan rata-rata di bawah lima tahun.

Melihat ada sebanyak itu perempuan jurnalis berkumpul dalam satu ruangan tentulah sangat menggembirakan. Karena itu artinya, dunia kepenulisan (baca: jurnalis) di Aceh ke depan akan semakin berwarna.

Profesi jurnalis tak lagi dikaitkan dengan profesi maskulin yang hanya memungkinkan untuk dilakoni oleh laki-laki saja.

Namun, di sisi lain ini juga menjadi tantangan tersendiri. Apakah jumlah yang mulai bertumbuh ini bisa berkontribusi dalam menyuarakan isu-isu yang selama ini masih terkesampingkan, khususnya yang berkaitan dengan isu-isu perempuan dan kesetaraan gender. Jawabannya tentu saja bisa karena perubahan adalah kenicayaan.

Kuncinya ada pada kualitas jurnalis itu sendiri. Menjadi jurnalis, tentu bukan semata-mata karena memiliki modal keterampilan menulis. Keterampilan teknis ini bisa dengan mudah dipelajari. Namun, mampukah jurnalis mengusung misi profesi sebagai alat kontrol sosial dan penyambung lidah masyarakat dalam mengakses informasi?

Karena misi mulia itu pula menurut saya pelatihan ini menjadi sangat relevan. Seorang jurnalis bukanlah selembar daun yang hanyut mengikuti arus. Idealnya jurnalis adalah pengemudi perahu yang bisa mengendalikan arus. Isu-isu yang diliput oleh seorang jurnalis menentukan sekuat apa arus yang akan ia hadapi. Semakin besar isunya menyentuh ke ruang publik, maka potensi olengnya perahu akan semakin besar.

Untuk itu, seorang jurnalis (perempuan) harus punya bekal-bekal di luar keterampilan teknis karena dengan bekal itulah dia bisa “mengendalikan” arus yang bisa mengancam keselamatan dirinya.

Lalu, apa saja potensi ancaman bagi jurnalis perempuan? Setidaknya ada dua: internal dan eksternal. Ancaman internal bisa berasal dari lingkungan kerja atau kantor. Sebaliknya, ancaman eksternal berasal dari individu-individu atau situasi di luar kantor/lapangan yang bisa menyebabkan ketidakamanan/ketidaknyamanan bagi jurnalis, baik secara fisik maupun psikis.

Umumnya, sebagaimana disampaikan Direktur Eksekutif LSM Flower Aceh, Riswati, yang menjadi salah satu narasumber dalam pelatihan itu, kekerasan yang sering dialami perempuan adalah kekerasan berbasis gender (KBG), yakni kekerasan yang terjadi akibat perbedaan perlakuan antara laki-laki dengan perempuan berdasarkan konstruksi sosial.

Bentuk-bentuk kekerasan atau diskriminasi berbasis gender ini meliputi empat hal, yaitu pelabelan/stereotipe, subordinasi/penomorduaan, beban ganda, dan kekerasan (verbal, fisik, psikologis). Pelaku ketidakadilan ini sangat kompleks, mulai dari lingkungan terkecil seperti rumah tangga, lingkungan sosial, tempat kerja, hingga negara.

Potensi diskriminasi ini bisa dihindari atau diminimalisasi dengan cara menaikkan posisi tawar perempuan agar setara dengan laki-laki di luar hal-hal yang bersifat kodrati atau karunia Tuhan yang tak bisa dikonstruksi. Contohnya, perempuan telah dikaruniai oleh Tuhan untuk bisa melahirkan, menyusui, memiliki vagina dan payudara. Sementara laki-laki terlahir dengan kodrat memiliki penis dan berjakun.

Adapun hal-hal yang bersifat konstruksi sosial merupakan perlakuan atau tindakan yang dilekatkan pada jenis kelamin tertentu berdasarkan kesepakatan sosial. Sederhananya, sesering apa kita mendengar ungkapan-ungkapan seperti “perempuan mengurus rumah tangga”, “laki-laki pencari nafkah”, “warna merah muda untuk perempuan”, “warna biru untuk laki-laki”. Pembedaan-pembedaan tersebut sangat tidak berdasar karena bisa dilakukan oleh jenis kelamin yang berbeda.

Hal-hal semacam ini juga memungkinkan terjadi di ruang-ruang redaksi tempat perempuan jurnalis bekerja. Mereka harus berusaha ekstra agar bisa menempati posisi-posisi strategis di ruang redaksi. Perempuan juga kerap menjadi “martir” untuk menghadapi narasumber-narasumber laki-laki yang sulit ditembus laki-laki. Namun, ketika penugasan itu bukan karena kecerdasan atau intelektualitas perempuan, melainkan karena dia “perempuan” yang sering dilekatkan dengan imej “bisa meluluhkan” hati lelaki, pada saat itulah perempuan telah menjadi korban pelabelan atau stereotipe.

Yang lebih menyakitkan lagi, ketika ada perempuan cerdas maka tak jarang disebut memiliki “otak” laki-laki. Dalam konteks ini, maka perempuan tersebut telah mengalami subordinasi karena kecerdasannya itu dianggap sebagai “titisan” laki-laki.

Konstruksi sosial ini kata Riswati, terjadi karena beberapa faktor, seperti kultur atau budaya masyarakat setempat, adat istiadat, agama, pendidikan, ekonomi, hingga hukum. Meskipun dalam praktiknya kekerasan berbasis gender ini bisa dilakukan oleh siapa saja, tetapi realitasnya lebih banyak perempuan yang menjadi korban. Hal ini tak terlepas dari kelanggengan budaya patriarki yang selalu menomorsatukan dan mengistimewakan laki-laki sehingga kesempatan antara laki-laki dengan perempuan menjadi tidak adil atau setara.

Lelaki lebih banyak mendapatkan pemakluman dari lingkungan sekitarnya ketimbang perempuan. Lelaki yang mendapatkan posisi bagus di tempat kerja dianggap prestasi, sedangkan bagi perempuan dianggap sebagai ambisi. Jika laki-laki tidak disiplin bisa dimaklumi, tetapi tidak dengan perempuan. Laki-laki tidak pantas meliput isu-isu gaya hidup sehingga dilimpahkan pada perempuan. Sebaliknya, perempuan tak dianggap cakap untuk meliput isu-isu seperti politik atau investigasi karena dianggap sulit.

Bahkan, menurut Despriyani Zamzami, yang telah menjadi jurnalis sejak di masa konflik Aceh, kerja-kerja jurnalistik merupakan kerja-kerja yang mengandalkan kecerdasan. Kecerdasan itu akan terlihat dari ketajaman jurnalis tersebut dalam menentukan angle liputan dalam sebuah peristiwa. Bahkan ia menekankan bahwa siapa pun yang berkecimpung di dunia ini, khususnya perempuan, harus memiliki karier dan tidak hanya sekadar bekerja.

Oleh karena itu, tak heran jika dalam banyak forum, pelatihan-pelatihan tentang kesetaraan gender memang masih diprioritaskan untuk perempuan. Tujuannya agar semakin banyak perempuan yang melek pada isu-isu kesetaraan dan pengetahuan itu yang akan membentuk barrier atau perlindungan secara alamiah di dalam diri perempuan. Misalnya, ketika rekan kerja laki-laki memulai pembicaraan yang manipulatif atau menjawil dengan tujuan seksualitas, perempuan tersebut memiliki keberanian untuk menolak obrolan tersebut.

Dampak dari budaya patriarki tersebut, seperti dipaparkan psikolog Siti Rahmah, berdampak pada tingginya kasus-kasus pelecehan seksual pada perempuan bekerja. Tahun 2021 saja, setidaknya tercatat ada 338.496 kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan bekerja di Indonesia. Pelecehan seksual ini tak hanya bisa dipahami sebagai penetrasi alat kelamin saja, tetapi juga setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, atau psikologis, termasuk ancaman dengan tindakan tertentu atau pemaksaan dan perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang.

Akibat perbedaan-perbedaan yang dilekatkan pada perempuan dan laki-laki berdasarkan jenis kelamin tadi, korban-korban pelecehan seksual mengalami dampak psikologis yang luar biasa, seperti kebingungan, ketakutan, rasa bersalah, mendapat harapan kosong atau ilusi, meminimalisasi tindakan pelaku, memaksimalisasi kesalahan sendiri, membela pelaku, tidak berani melaporkan, mencabut laporan, hingga berpikir dengan cara berpikir masyarakat atau pelaku.

Dengan menyadari beberapa hal di atas setidaknya akan membuka ruang berpikir bagi perempuan untuk menyadari atau mengidentifikasi potensi ancaman seperti apa yang memungkinkan terjadi pada dirinya. Jika itu terkait dengan ancaman-ancaman ketika meliput di lapangan, maka penting untuk mengetahui prosedur atau tata cara meliput dan prinsip-prinsip keselamatan pribadi, seperti tidak bersikap mencolok, selalu waspada, dan perlu menghindari kebiasaan mengekspos lokasi liputan.

Di luar itu, penting juga bagi perempuan jurnalis untuk memahami kelebihan atau potensi yang ia miliki. Dengan demikian ia tahu apa yang harus “dijual” dari dirinya. Saya kira, hal-hal kecil semacam menuliskan best of me sebagai individu maupun sebagai jurnalis yang ditugaskan oleh trainer di awal pelatihan ini menjadi pemantik yang asyik untuk memberikan citra positif bagi diri sendiri.

Sebagai penutup, mengutip kembali apa yang dijelaskan oleh Riswati, penting memahami kesetaraan gender untuk memastikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan, dan potensi yang dimiliki laki-laki dan perempuan terpenuhi dan terwujudnya akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat pembangunan yang setara bagi laki-laki dan parempuan.

Kondisi ini akan bisa dicapai jika kampanye terhadap antidiksriminasi menjadi pekerjaan rumah bagi siapa pun yang bisa dilakukan dengan cara di antaranya meningkatkan kesadaran kritis dan perspektif yang adil gender dan nondiskriminatif.[]

Pendampingan Psikologis, Komunikasi Efektif, dan Penulisan Sebagai Media Healing

“Saya memperhatikan ada murid yang sangat pendiam, tapi sorot matanya menyiratkan gejolak perasaan mendalam,” curhat seorang guru Panti Asuhan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Aceh (Yakesma) di Gampong Kajhu, Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Dia merupakan salah seorang peserta workshop pendampingan psikologis, komunikasi efektif, dan penulisan sebagai media healing yang berlangsung di Yakesma. Program tersebut merupakan series pengabdian masyarakat yang dilakukan para dosen Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Komunitas Perempuan Peduli Leuser (PPL) dan Yakesma. Pelatihan yang diberikan kepada 19 relawan Yakesma itu berlangsung sejak Juni hingga November 2022 mendatang.

Rizanna Rosemary, Dosen Ilmu Komunikasi USK, menyebutkan kesembilan belas relawan yang mengikuti program tersebut merupakan guru, pengasuh, dan pengelola Yakesma yang mendampingi anak asuh sehari-hari, termasuk anak-anak penyintas kekerasan seksual.

Dia menilai pemberdayaan dan dukungan terhadap para pendamping penyintas kekerasan seksual masih sangat rendah. Padahal, menurutnya, para pendamping tersebut juga memperoleh paparan tekanan emosional yang cukup besar selama proses pengasuhan dan penyembuhan trauma bagi anak-anak tersebut.

“Tujuan workshop ini membawa sedikit ilmu dari kampus untuk dibagikan dan didiskusikan bersama-sama relawan Yakesma. Sifatnya membangun pembelajaran dua arah,” papar sang ketua pelaksana program di Aula Yakesma, 6 Agustus 2022.

Ijan, sapaan akrabnya, menyatakan bahwa pada sesi pertama di pertengahan Juni lalu, para peserta diberi materi oleh perwakilan komunitas PPL terkait pentingnya manfaat menulis dan mempraktikkan aktivitas menulis untuk penyembuhan (writing for healing).

Kemudian pada sesi kedua, di akhir Juni, para peserta diberi pembekalan terkait pemahaman psikologi diri dan anak, manajemen stres, dan tata cara rileksasi bersama dosen Psikologi Klinis USK, Maya Khairani.

“Adapun untuk materi hari ini lebih terkait pada komunikasi. Zakirah memberikan informasi tentang komunikasi efektif dalam menghadapi anak-anak, dan saya memberikan informasi bagaimana melek media dapat mendukung pola asuh anak.

Melek media artinya kita punya akses informasi tetapi tetap berpikir kritis,” papar pakar komunikasi massa dan komunikasi kesehatan tersebut.

Zakirah Azman, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP USK, berpandangan bahwa komunikasi efektif dapat dibangun dengan beberapa cara, semisal melalui pengembangan empati dan peningkatan kemampuan menyimak informasi (deep listening). 

“Bagaimana cara menghadapi anak-anak yang berbeda latar belakang, usia, bahkan yang berkasus? Pasti banyak sekali kendala sekaligus pendekatan solusinya. Oleh karena itu, saya sangat ingin mendengarkan pengalaman dari para relawan semua,” ujarnya di sesi diskusi.

Zakirah melihat banyak kasus unik di dunia nyata terkait komunikasi dan manajemen perilaku yang belum termaktub di buku-buku dan jurnal-jurnal ilmiah kampus. Dia menilai penting untuk menilik pendekatan pemecahan masalah dan pengalaman sehari-hari relawan Yakesma dalam mendidik dan membina anak-anak terutama penyintas kekerasan seksual untuk didokumentasikan.

“Banyak sekali pengalaman yang teman-teman dapatkan dalam menghadapi anak-anak yang berbeda perilaku. Maka penting mendokumentasikan hal tersebut sebagai inspirasi dan pembelajaran bagi kita bersama,”

kata pendidik bidang Komunikasi Organisasi dan Massa tersebut.

Pendamping Bercerita

Saat pemateri mengapresiasi kinerja para relawan Yakesma dengan besaran pahala yang akan diperoleh selaku pendidik dan pengasuh, salah seorang peserta justru bercelutuk.

“Dua-duanya, Bu.

Pahala dan dosa kami sama banyaknya,”

seru peserta yang dikenal dengan panggilan Ummi tersebut.

Sontak pernyataan jujur itu mengundang gelak seluruh peserta. Menurutnya, proses mengasuh dan mendampingi anak-anak, terutama penyintas kekerasan seksual, tidaklah seindah kisah-kisah dongeng. 

“Mungkin pahala mengasuh ada, tapi waktu kita emosi, bukankah semua pahala itu hilang juga? Entah timbangan mana yang lebih berat?” ujarnya sendu.

Menurutnya, secara teori, semua pihak pastinya berharap segala hal akan baik-baik saja dalam proses mendidik anak-anak. Namun pada kenyataanya, jika kasus telah hadir di depan mata maka akan lain ceritanya. Dia menilai butuh usaha ekstra dan kesabaran yang tidak sedikit dari para relawan dalam membina anak-anak tersebut.

Cerita unik lainnya juga datang dari salah seorang guru PAUD Yakesma, Nisa namanya. Sebagai seorang ibu beranak dua yang juga berperan sebagai guru, dia sempat menerima aksi protes dari sang anak karena dianggap tidak memberikan porsi kasih sayang yang adil.

“Suatu malam, anak saya curhat ke ayahnya. ‘Ayah, mamak kalau di sekolah kan untuk anak orang dipanggil Neuk, Boh Hatee, tapi kalau sama kami di rumah, mamak kayak macan beranak,’ protes sang anak,” tutur Nisa. Penggalan ceritanya yang belum selesai itu justru membuat ruang digerumuhi tawa.

Nisa merefleksikan bahwa keikutsertaan anaknya untuk bersekolah di tempat yang sama di mana dia mengajar membuat sang anak belajar menilai perbedaan perilaku sang ibu di sekolah dan di rumah.

“Ternyata anak saya sangat peka.

Terus sambil bercanda ayahnya menjawab,’Mamak di sekolah digaji, makanya lembut’, lalu anak saya menjawab, ‘Makanya, ayah gaji juga dong Mamak biar lembut di rumah’,”

jelas sang guru terkikih dan para peserta lainnya pun turut tergelak.

Sang guru berpendapat bahwa mengasuh anak-anak di sekolah menguras cukup banyak energi dan emosi. Sehingga, menurutnya, tanpa dia sadari terkadang dia harus menomorduakan anak-anaknya sendiri.

“Terkadang kelelahan membuat kita menjadi egois. Saya tanpa sadar menggap anak saya sudah dewasa karena memiliki adik. Padahal usianya masih kecil,”

ujarannya itu menjadikan seisi ruang geming.

Zakirah menimpali bahwa kejadian yang dialami oleh Nisa pada dasarnya juga pernah dialami oleh dirinya dan banyak pendidik di luar sana secara tidak disadari. Dia berpendapat bahwa hal tersebut tidak lantas menjadikan seorang dicap sebagai guru atau orang tua yang buruk. Maka, menurutnya, penting untuk mengomunikasikan dan memberikan pemahaman kepada anak.

“Cara memberi pemahaman kepada setiap anak itu berbeda-beda, tapi salah satu caranya adalah dengan memberi pengertian,” sarannya.

Di akhir sesi, Rizanna menyatakan bahwa dia menyakini besarnya potensi para relawan untuk menuliskan lebih banyak cerita berdasarkan pengalaman mereka masing-masing. “Saya yakin, proses menulis ini akan menjadi media self-healing. Mereka memiliki wadah untuk mengekspresikan diri melalui tulisan. Kelak ketika dibukukan, produk karya tersebut menjadi jalan aktualisasi diri, merasakan kepuasan karena karya berhasil dipublikasi,” tutupnya.

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Serambi Indonesia 15 Agustus 2022

Pengalaman Mengunjungi Stasiun Restorasi Kawasan Hutan Tenggulun Aceh Tamiang

Kilat kepak sayap biru burung cekakak (kingfishers) melintas cepat dan hilang sekejap dalam hektaran lahan sawit di sepanjang mata memandang. Bebauan khas sawit bercampur lembabnya aroma lembah menyeruak kuat ke udara.

Sinyal gawai timbul tenggelam dari dua bar 4G, E, hingga ketiadaan akses sama sekali. Jalanan sempit, dataran kecokelatan bergelombang, taburan kerikil bebatuan, dan juga lubang-lubang dengan air yang tergenang.

Membutuhkan lebih dari 5 kilometer jarak tempuh menggunakan kendaraan pribadi dengan kondisi jalan demikian jika bertolak dari titik bekas jalur kereta api di Simpang Semadam hingga tiba di Stasiun Restorasi Kawasan Hutan Tenggulun, Aceh Tamiang.

Jika di sepanjang perjalanan sebelumnya pohon-pohon sawit berjejer tegap, di lokasi hutan lindung tersebut pepohonan sawit justru telah tumbang, membusuk, tergantikan beragam tumbuhan lainnya; gaharu, durian, cempedak, damar, petai, dan berbagai jenis tanaman keras hutan. Keberagaman tumbuhan di lokasi restorasi tak hanya terlihat menawan tetapi juga menawarkan udara yang jauh lebih segar. 

“Awal mula masyarakat melakukan restorasi seluas 232 hektare dengan melibatkan tiga kelompok tani (poktan) hutan; Tukul Lestari, Subur Lestari, dan Karya Bersama. Selama proses restorasi, banyak terjadi perubahan. Banjir tetap terjadi, tetapi intensitasnya berkurang,” jelas Amran, Ketua poktan Tukul Lestari.

Dia tambahkan, tahun 2019 dan 2021 muncul dua poktan lainnya, Sungai Rambe dan Mudah Sepaka, sehingga luas hutan kelola masyarakat kini mencapai 509 ha.

Staf Lapangan Forum Konservasi Leuser (FKL) yang telah menetap di Desa Tenggulun sejak tahun 1977 ini menuturkan bahwa restorasi menargetkan 60 persen tanaman produktif dan 40 persen tanaman keras. Menurutnya, sekitar 30 perwakilan negara dunia pernah singgah ke lokasi restorasi, termasuk Amerika Serikat, Perancis, Belanda, dan Australia. Amran memaparkan bahwa kawasan restorasi juga berfungsi sebagai pusat studi dan penelitian keanekaragaman hayati

Tergeraknya masyarakat Aceh Tamiang, termasuk Tenggulun, untuk memakmurkan kawasan restorasi tidak terlepas dari pengalaman pahit akan banjir bandang yang pernah menimpa mereka tahun 2006.

Doles, salah seorang warga Tenggulun, yang berpindah haluan dari seorang “preman sawit” menjadi pejuang restorasi lingkungan mengisahkan bagaimana kesadaran akan pentingnya penjagaan lingkungan hidup membuat hatinya tergerak untuk peduli dan berhenti melakukan aktivitas yang dapat merusak alam dalam jangka panjang. 

“Saat keluar dari ‘lingkaran setan’ memang sulit. Ada banyak ancaman, termasuk ancaman nyawa. Tetapi kalau niat kita tulus untuk memperjuangkan kebenaran, maka semua akan Allah mudahkan,” tuturnya.

Doles menceritakan bagaimana transisi hidup yang terjadi padanya dari seorang yang hanya terpicu dengan uang dan tak ambil pusing akan keselamatan lingkungan, menjadi sosok yang sangat cinta akan kelestarian alam. Hati yang telah tersentuh kesadaran dan wawasan yang semakin terbuka membuatnya paham bahwa harta sesungguhnya yang dimiliki masyarakat Tamiang bukanlah puluhan juta rupiah yang dikantongi, melainkan keberadaan keseimbangan kawasan hutan dengan keanekaragamannya yang asri. 

“Dulu, saat menjadi ‘preman sawit’, uang saya banyak, tetapi saya seperti gembel. Uangnya habis begitu saja, tidak berkah. Kini, saya sadar dan menjadi sangat cinta untuk menjaga serta merestorasi kawasan hutan. Terkadang, kalau ingat betapa saya dulu tidak peduli terhadap alam, saya merasa begitu emosional,”

kisah staf Stasiun Restorasi Kawasan Hutan Tenggulun ini.

Bahasa Cinta Konservasionis

Perjalanan mengelilingi Aceh Tamiang sejak 1-4 Agustus 2022 tersebut mempertemukan saya tidak hanya dengan kelompok tani, staf restorasi, dan warga desa, tetapi juga dengan para konservasionis, yaitu orang-orang yang hatinya telah terpaut untuk menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan hidup. 

“Jika dilihat dari sisi ekonomi ekologis, kita butuh memahami efek jangka panjang suatu siklus kehidupan. Sawit memang memberi penghidupan, tetapi apakah efek jangka panjang dari kerusakan yang ditimbulkannya itu setimpal?”, tutur Farwiza Farhan, chairperson HAkA (Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh) saat kami menghabiskan waktu menyantap hidangan makan siang bersama di kawasan restorasi Tenggulun.

Wiza, panggilan akrab sang eco-activist ini, menilai bahwa idealnya, setengah dari isi bumi ini seharusnya dikonservasi. Adapun Rubama, Program Officer HAkA, menjelaskan bahwa pada dasarnya konservasi hutan terbagi dalam 3 hal, yaitu perlindungan, pemanfaatan, dan pengawetan.

Sang advokat komunitas Provinsi Aceh ini menjelaskan bentuk pengawetan hutan bisa melalui ilmu pengetahuan yang didukung oleh kehadiran stasiun riset atau kembali membudidayakan tanaman-tanaman yang mulai langka. 

“Jadi, bukan dengan mengawetkan kayu di hutan ya,” tegasnya.

Adapun bentuk pemanfaatan bidang konservasi, jelas sang penggagas Desa Wisata di Gampong Nusa, Aceh Besar ini, dilakukan melalui pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), sektor jasa lingkungan, pengelolaan tata air, dan juga ekowisata yang dapat menggerakkan ekonomi masyarakat. Dia juga memaparkan bahwa restorasi biasanya dilakukan pada lahan yang sudah pernah rusak yang kemudian dikembalikan lagi fungsinya sebagai hutan lindung. 

“Restorasi itu berarti mengembalikan fungsi, bisa dengan menanam, merawat, dan memanfaatkan. Restorasi itu bagian dari konservasi, spesifikasinya masuk bagian pengawetan dan perlindungan,” tuturnya.

Rubama menjelaskan bahwa kawasan hutan lindung (KHL) memiliki fungsi-fungsi lindung, semisal untuk menyimpan sumber mata air. Dia menambahkan, hutan lindung juga berfungsi sebagai rumah satwa. Satwa berperan penting dalam proses penyerbukan hutan secara alami untuk mendukung keseimbangan keanekaragaman hayati.

“Yang terpenting, hutan lindung berfungsi sebagai sumber-sumber kehidupan manusia. Ada air, tanaman obat, patahan ranting untuk kayu bakar, dan sebagainya. Hutan lindung juga penting untuk mitigasi dan adaptasi bencana”, jelas Rubama.

Ru, panggilan akrabnya, melihat tidak ada larangan memanfaatkan hutan selama tidak berlebihan dan tidak menyalahi aturan keseimbangan fungsi alam dan lingkungan hidup. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan sawit selama penanamannya diselang dengan pepohonan lain seperti durian dan petai. Dia menilai hutan tidak boleh ditanami satu jenis pohon saja (homogen)

Pernyataan tersebut disepakati Doles. Dia bercermin pada pengalamannya sendiri. Menurutnya, Tuhan membuat kebutuhan manusia itu tidak banyak, tetapi ketika manusia menuruti hal yang melebihi kebutuhan, maka di situlah muncul ketidakberkahan. 

“Buah naga, buah semangka.

Hutan terjaga, masyarakat sejahtera,”

tutupnya sembari berpantun.

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Serambi Indonesia

Peran Kader Posbindu Mewujudkan Lansia Sehat di Masa Pandemi

Oleh Mardhatillah*)

“Lansia Sehat, Indonesia Kuat”. Kalimat tersebut diusung oleh pemerintah sebagai tema memperingati Hari Lanjut Usia Nasional yang jatuh pada 29 Mei 2022. Definisi penduduk usia lanjut (lansia) menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia ialah mereka yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Lalu bagaimana lansia sebagai kelompok yang rentan menjadi sehat sehingga dapat mewujudkan Indonesia yang kuat?

Pertanyaan tersebut membuat saya menelusuri fakta menarik pada sebuah Publikasi Statistik Penduduk Usia Lanjut 2021 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam publikasi tersebut menyebutkan bahwa seiring semakin membaiknya fasilitas dan layanan kesehatan, terkendalinya tingkat kelahiran, meningkatnya angka harapan hidup, serta menurunnya tingkat kematian, telah membuat jumlah dan proporsi penduduk lanjut usia terus mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari 50 tahun terakhir, persentase penduduk lanjut usia di Indonesia meningkat dari 4,5 persen pada tahun 1971 menjadi sekitar 10,7 persen atau sekitar 28 juta jiwa pada tahun 2020. Angka tersebut diproyeksi akan terus mengalami peningkatan hingga mencapai 19,9 persen pada tahun 2045 atau seperlima dari seluruh penduduk Indonesia.

Namun, di balik keberhasilan peningkatan populasi lansia tersebut, terselip tantangan yang harus diwaspadai, yaitu ke depannya Indonesia akan menghadapi fenomena penuaan penduduk (ageing population). Fenomena ini dapat dimanfaatkan sebagai bonus demografi kedua, dengan syarat apabila populasi lansia masih produktif dan dapat memberikan dampak perekonomian bagi negara. Jika yang terjadi sebaliknya, maka tentu ini akan menjadi beban bagi negara.

Tantangan lainnya ialah pandemi Covid-19. Lansia menjadi kelompok yang paling rentan karena melemahnya fungsi imun serta adanya penyakit degeneratif seperti jantung, hipertensi, dan diabetes. Pada awal tahun 2022, saat varian Omicron menyerang, Kemenkes menyebutkan bahwa 50% pasien yang meninggal adalah lansia dan belum mendapatkan vaksinasi lengkap. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan kelompok umur lainnya. Pada kondisi ini, lansia memerlukan perlindungan dan akses terhadap makanan bergizi, ketersediaan kebutuhan dasar, obat-obatan, serta perawatan sosial. Keluarga juga memiliki peran penting untuk melindungi serta menjaga lansia selama pandemi, misalnya dengan memperhatikan protokol kesehatan mencegah penyebaran Covid-19, serta memastikan terpenuhinya kebutuhan kesehatan sehari-hari lansia. Agar lansia dapat berkontribusi, maka harus diberdayakan. Selain dapat memberikan manfaat secara ekonomi, pemberdayaan lanjut usia dimaksudkan agar lanjut usia tetap dapat melaksanakan fungsi sosialnya dan berperan aktif secara wajar dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (UU Nomor 13 Tahun 1998).

Untuk melihat bagaimana realita di lapangan, saya menemui salah satu kader POSBINDU-PTM (Pos Binaan Terpadu Penyakit Tidak Menular) Gampong Suka Damai, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh. Dian Puspita namanya. Ia menjadi kader kesehatan sejak 2019 hingga sekarang. Saya menemuinya pada Selasa, 24 Mei 2022 saat kegiatan Posbindu di kompleks Kantor Geuchik Gampong Suka Damai.

Dian menjelaskan kegiatan di Posbindu yang setiap bulannya melakukan pemeriksaan gratis untuk gula darah, kolesterol, dan asam urat. Rata-rata pasien yang datang sekitar 50 orang. Tidak hanya lansia saja, masyarakat mulai dari usia 15 tahun juga dapat mengunjunginya. Bagi lansia yang tidak sanggup datang, maka akan dilakukan kunjungan rumah oleh kader.

Selama pandemi, Dian berbagi cerita tentang pengalamannya mengedukasi vaksinasi dan protokol kesehatan pada lansia. “Untuk vaksinasi itu susah-susah gampang. Saat memberikan penyuluhan ke rumah warga, ada yang tidak mau membuka pintu rumahnya. Jika posko vaksinasi dibuka di posyandu, mereka bersembunyi di rumahnya masing-masing. Untuk masyarakat yang ragu itu banyak mempertanyakan kandungan vaksin bukan masalah program vaksinasinya. Mereka sudah terlanjur mengkonsumsi berbagai info di sosial media dan WhatsApp Group. Berita yang mereka dapatkan adalah tentang efek samping dari vaksinasi yang menyebabkan lumpuh, meninggal dan sebagainya. Disinilah tugas saya sebagai kader untuk memerangi berita hoaks dan membuat masyarakat lebih percaya dan yakin bahwa vaksinasi ini halal dan aman,” Dian menjelaskan.

Posbindu ini berada di bawah naungan Puskesmas Batoh. Posko vaksinasi dibuka di puskesmas setiap Selasa dan Kamis, serta terdapat juga gedung posyandu di tiap-tiap desa. Lebih lanjut, Dian menjelaskan berkat adanya kerja sama antara tenaga kesehatan puskesmas, perangkat desa, dan kader, yang telah memberikan contoh bahwa vaksinasi ini halal dan aman, pada akhirnya mampu membuat masyarakat semakin banyak yang antusias mendapatkan vaksinasi. Untuk para lansia, mereka akan disarankan melakukan check-up atau konsultasi ke dokter terlebih dahulu.

Saat ini pemerintah telah melonggarkan aturan pembatasan terkait pencegahan pandemi Covid-19. Hal ini merupakan langkah awal memulai transisi pandemi ke endemi. Masa transisi ini dilakukan secara bertahap agar dapat dipahami oleh semua pihak. Pemerintah juga masih perlu bersiaga apabila terjadi gelombang Covid-19 susulan, lantaran di beberapa negara masih terjadi lonjakan kasus yang cukup tinggi. Masker masih diwajibkan khusus untuk populasi rentan (lansia, ibu hamil, anak-anak yang belum divaksin dan masyarakat yang memiliki penyakit komorbid), dan bagi yang bergejala seperti batuk, demam, dan pilek.

Jika melihat data jumlah vaksinasi untuk Provinsi Aceh yang diakses melalui vaksin.kemkes.go.id pada 28 Mei 2022. Untuk kelompok lansia dosis satu telah mencapai 90,35%, dosis dua mencapai 68,48%, dan dosis ketiga mencapai 10,70%. Dosis ketiga atau booster cakupannya masih cukup rendah. Proses edukasi mengubah perilaku masyarakat bukanlah tugas jangka pendek. Peran kader sebagai salah satu sosok yang paling dekat dengan masyarakat sangat penting diperhitungkan. Kader yang lebih tanggap dan memiliki pengetahuan kesehatan yang baik, akan mampu menjembatani masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal. Oleh karena itu, memakai masker, mencuci tangan dan mendapatkan vaksinasi seharusnya sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat masa kini.[]

*) Anggota Komunitas Jurnalis Warga Banda Aceh dan alumnus D4 Gizi Poltekkes Kemenkes Aceh melaporkan dari Banda Aceh.

IMKA: Desa Terpilih di Kecamatan Ulee Kareng untuk Lokasi Vaksinasi Massal

Oleh Rahmat M*

Pengumuman akan adanya vaksinasi massal berkumandang dari toa masjid Gampong Ie Masen, Kaye Adang, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Seluruh masyarakat diundang untuk menghadiri acara tersebut. Saya salah seorang warga yang ikut menghadiri vaksinasi massal itu.

Hari itu, Jumat, 29 April 2022, pelaksanaan vaksin massal atas kerja sama  Rumah Sakit Bhayangkara Banda Aceh dan Pemerintah Gampong Ie Masen Kaye Adang yang mewakili Kecamatan Syiah Kuala, berlangsung dengan baik. Antusias  masyarakat  tinggi, terdata dari pasien yang divaksinasi sebanyak 1.085 orang, baik warga Ie Masen Kaye Adang, maupun warga dari desa lain yang ada di Kecamatan Syiah Kula.

Ditunjuknya Ie Masen Kaye Adang sebagai tempat pelaksanaan vaksinasi tidak terlepas dari pelaksanaan pemerintahan desa yang baik dan hubungan masyarakat yang harmonis.

Dalam catatan sejarah, awal mulanya Gampong Ie Masen Kaye Adang (IMKA) merupakan gampong dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar yang bernaung di Kecamatan Ingin Jaya. Namun, sejak perluasan Kota Banda Aceh, gampong ini bergabung ke wilayah Kota Banda Aceh. Ditetapkan berdasarkan PP Nomor 5 Tahun 1983 sebagai salah satu gampong di Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.  Sewaktu masih dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar, gampong ini hanya berpenduduk 60 KK dengan jumlah 600 jiwa. Begitu bergabung dengan daerah tingkat II Kota Madya Banda Aceh, jumlah penduduk bertambah setiap tahunnya. Pertumbuhan penduduk ini bukanlah disebabkan oleh peningkatan angka kelahiran (fertilitas), melainkan karena hadirnya pendatang baru yang membuat rumah dan bertempat tinggal di IMKA. Data terbaru tahun 2021, jumlah penduduk ada  1.307 KK dengan jumlah  4.595  jiwa.

Dengan luas 73,25 ha, letak IMKA juga sangat strategis, terletak di tengah dan diapit oleh desa-desa lain sehingga memudahkan segala akses. Sebelah utara berbatasan dengan Gampong Pineung menuju arah Darussalam sebagai tempat perkuliahan dengan mudah dijangkau. Sebelah selatan berbatasan dengan Gampong Doi, yang dekat dengan akses menuju pasar Ulee Kareng. Sebelah timur berbatasan dengan Gampong Meunasah Papeun, Kabupaten Aceh Besar. Sementara sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Kota Baru yang langsung berhadapan dengan jalan Teuku Panglima Nyak Makam, tempat  warung-warung kopi dan kafé berjejer dan mudah dijumpai.

Harmonisasi Sosial

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, harmoni berarti selaras atau serasi. Sedangkan makna  ’sosial’ menurutEnde M.C adalah cara tentang bagaimana individu saling berhubungan secara baik dan saling menghargai satu sama lain. Harmonisasi sosial adalah sesuatu yang sesuai dengan keinginan masyarakat, seperti keadaan tertib, teratur, dan aman dengan kondisi setiap individu hidup sejalan dan serasi dengan tujuan masyarakat.

Faktor-faktor terwujudnya harmonisasi sosial masyarakat antara lain, adanya kecocokan antarmasyarakat dalam melakukan hubungan sosial, menyikapi perbedaan dengan sikap positif, serta ada toleransi.

 Pemerintah gampong dan masyarakat IMKA memiliki toleransi dan menyikapi perbedaan dengan sangat baik. Baik itu antara strata masyarakat yang sejahtera dan kurang sejahtera, maupun antara penduduk asli dan pendatang. Khusus penerimaan terhadap pendatang sangat terbuka dan menghargai. Ketika seseorang mempunyai sumber daya (SDM) yang baik, maka dialah yang akan dipakai, tanpa membedakan penduduk asli atau pendatang.

Selain itu sebagai salah satu gampong urban yang terus berkembang, keberadaan hunian-hunian baru dari luar juga diterima dengan baik. Misalnya terdapat beberapa asrama mahasiswa di gampong ini, yakni asrama Teunom (Aceh Jaya), asrama Samatiga (Aceh Barat), asrama Susoh (Abdya), asrama Nagan Raya, dan asrama putri Pereulak (Aceh Timur). Masih di pinggir jalan utama, yakni Jalan Pangraed, berdiri pula sebuah kompleks perumahan di lahan seluas lebih kurang 5.000 m, yakni Perumahan Alamanda. Semuanya hidup berdampingan dalam keragaman, rukun, dan damai.

Saat ini, Gampong IMKA yang berada di bawah komando Keuchik Zulfikar, dan Sekdes Junaidi berkembang maju. Representasi kemajuan itu dengan mudah disaksikan dari keberadaan masjidnya, yakni Masjid  An-Nur yang semakin diperluas dan indah, serta kantor desa yang nyaman. Kedua tempat pusat kegiatan masyarakat itu  berdampingan di lokasi yang sama. Kantor desa adalah sebuah bangunan sederhana. Di halamannya ada taman bunga nan asri sehingga membuat pengunjung yang akan mengurus sesuatu betah menunggu. Di samping kantor, terdapat tiga ruangan yang melengkapi, yakni ruangan posyandu, tuha peut gampong), dan badan usaha milik gampong).

Memasuki ruangan kantor desa yang bersih dan rapi, para pegawai dengan sigap dan ramah melayani segala urusan masyarakat. Kantor Gampong Ie Masen Kaye Adang beroperasi setiap Senin–Jumat dari pukul 08.00-16.45 WIB.  Berkat kerja sama semua pihak dalam berbagai bidang dan keteraturan jalannya pemerintahan gampong dan masyarakat, menjadikan Ie Masen Kaye Adang  meraih beberapa prestasi. Pada tahun 1989-1990, berturut-turut menjadi Desa Terbaik Se- Kecamatan Syiah Kuala. Pada tahun 1990 juga menjadi juara pertama Lomba Desa Tingkat Kota Madya Banda Aceh. Untuk saat ini termasuk salah satu desa terbaik di bidang kebersihan, pelayanan administrasi, dan kerja sama dengan pemerintahan daerah di Kecamatan Syiah Kuala.

Harmonisasi desa, meningkatkan kepercayaan terhadap desa tersebut, baik kepercayaan pemerintah daerah maupun masyarakat desa itu sendiri. Pemerintah daerah menjadi nyaman melaksanakan kegiatan bersama dengan pemerintah desa.

 Di gampong sendiri, secara teratur posyandu dilaksanakan dua kali sebulan, yakni Posyandu Balita, dan Posyandu Lansia (berumur di atas 55 tahun), juga Posbindu (Pos Pelayanan Terpadu, berumur di atas 15 tahun).  Pelaksanaan posyandu tersebut selalu diminati oleh masyarakat, tentu  berkat hubungan baik perangkat desa dengan masyarakatnya.

Sementara itu,  kegiatan lain yang berlangsung dalam waktu belakangan ini di IMK,  selain pelaksanaan  vaksinasi massal,  juga ada perlombaan voli antar-SMA putra se-Banda-Aceh, yang berlangsung pada 10-13 Maret 2022. Kejuaraan itu terselenggara atas kerja sama yang baik antara Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kota Banda Aceh dengan Pemerintahan Gampong Ie Masen Kaye Adang. Pertandingan ini merupakan hiburan yang cukup menyenangkan bagi masyarakat menjelang memasuki bulan Ramadhan yang baru berlalu. Ajang ini juga dimanfaatkan untuk mengedukasi warga agar mau vaksinasi Covid-19/

Kembali ke suasana vaksinasi massal, ini merupakan vaksinasi massal yang kedua yang berlangsung di IMKA, setelah vaksinasi massal pertama sukses berlangsung di awal Januari 2022.  Hadir dalam acara vaksinasi massal kedua ini adalah dr. Hafiz, bersama rekan-rekannya dari Rumah Sakit Bhayangkara Lamteumeun Banda Aceh. Mereka tak hentinya memberikan pencerahan  kepada masyarakat yang hadir, bahwa vaksinasi kedua bisa dilakukan paling cepat 28 hari setelah vaksinasi pertama. Sedangkan vaksin penguat (booster), dapat dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan setelah mendapatkan suntikan vaksin dosis kedua.

Sebagai tipikal masyarakat urban yang terbuka dan maju, banyak masyarakat yang sebelumnya masih ragu, tidak melakukan vaksin di vaksinasi pertama, akhirnya melakukannya di vaksinasi massal yang kedua ini.

Ie Masen Kaye Adang tentu bukanlah satu-satunya gampong di kota urban. Namun, gampong ini mewakili gampong lainnya yang tatanan kotanya teratur, pelaksanaan pemerintahan desa yang berlangsung dengan baik, serta hubungan masyarakatnya yang harmonis.  

 Saya, mewakili segenap warga Gampong Ie Masen Kaye Adang Kecamatan Syiah Kuala kota Banda Aceh, mengucapkan selamat Idulitri 1443 H, mohon maaf lahir dan bathin.[]

Penulis adalah anggota Komunitas Jurnalis Warga Banda Aceh

Ikhtiar Melawan Pandemi dengan Vaksinasi

Bumi yang kita tinggali saat ini sudah berusia sangat tua, memasuki usia uzur. Berbagai macam cobaan penyakit sudah pernah dirasakan oleh Bumi. Sejarah mencatat banyak sekali penyakit yang telah merenggut nyawa banyak orang. Situasi kacau yang ditimbulkan oleh wabah secara global telah berhasil melahirkan temuan-temuan di bidang kesehatan.

Penyakit yang memengaruhi banyak orang itu disebut pandemi. Sepanjang sejarah, telah terjadi sejumlah wabah yang membunuh ratusan ribu hingga jutaan umat manusia.

Pandemi Flu Spanyol adalah pandemi yang paling diingat dengan tingkat kematian tinggi di antara mereka yang berusia di bawah lima tahun, usia 20-40 dan 65 tahun ke atas.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat angka kematian yang tinggi di kalangan orang sehat, termasuk di tahun 2040-an, menjadi ciri khas pandemi ini. Meskipun virus H1N1 tahun 1918 telah disintesis dan dievaluasi, sifat-sifat yang membuatnya begitu menghancurkan tidak dipahami dengan baik. Dengan tidak adanya vaksin influenza dan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri sekunder yang mungkin terkait dengan influenza, upaya pengendalian di seluruh dunia terbatas pada intervensi non-farmasi seperti; isolasi, kebersihan pribadi yang baik, penggunaan disinfektan, dan akses publik yang terbatas. demonstrasi, diterapkan secara tidak merata.

Pada tahun 1918, tidak ada obat untuk  influenza atau antibiotik untuk mengobati komplikasi seperti pneumonia. Banyak rumah sakit kewalahan. Banyak teater, ruang dansa, bioskop, dan gereja telah ditutup selama beberapa bulan, tetapi pemerintah belum memberlakukan blokade atau blokade yang lebih ketat  untuk mengekang penyebaran virus.

Sebagian besar kedai minuman, yang memiliki jam kerja terbatas selama perang,  tetap buka. Liga Sepak Bola dan Piala FA juga dibatalkan karena perang, tetapi tidak ada upaya yang dilakukan untuk membatalkan  atau membatasi partisipasi dalam pertandingan lain. Acara olahraga untuk 4.444 pria dan kerumunan besar kompetisi sepak bola wanita berlanjut selama pandemi.

Sejumlah upaya juga dilakukan oleh pemerintah, jalanan di dalam kota dan sekitarnya disemprot dengan desinfektan dan beberapa orang memakai masker anti-kuman, saat mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Pesan-pesan layanan kesehatan pun membingungkan banyak orang-dan, seperti saat ini, banyak kabar bohong dan teori konspirasi bertebaran. Di beberapa pabrik, aturan dilarang merokok dilonggarkan, dengan keyakinan bahwa rokok akan membantu mencegah infeksi.

Kondisi kaos flu Spanyol tidak jauh berbeda pada tahun 1918 di Hindia-Belanda, yang melanda kota-kota besar di Jawa. Hingga 1,5 juta orang telah menjadi korban kekerasan virus dari daratan Eropa. Lambatnya respons pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi gelombang pertama pandemi flu Spanyol menjadi penyebab tingginya angka kematian tersebut. Pemerintah saat itu hanya memiliki sedikit strategi pencegahan dini. Mereka  menganggap enteng virus itu dan menyamakannya dengan flu biasa.

Setelah mendapati angka kematian yang semakin tinggi, pemerintah mulai bergerak menangani penyebaran virus. Berbagai upaya pun mereka lakukan. Langkah awal adalah dengan membentuk Influenza Commissie pada 16 November 1918. Komisi ini bertugas menginvestigasi akar penyebaran dan gejala flu spanyol. Kebijakan yang dihasilkan di antaranya imbauan untuk mengenakan masker hingga pendistribusian obat anti-influenza.

Selain pemerintah, masyarakat juga berusaha sekuat tenaga mencari jalan terbaik untuk menanggulangi wabah. Mereka bahkan rela melakukan segala cara agar terbebas dari penyakit tersebut, mulai dari metode medik sampai cara klenik. Cara terakhir itu lazim dilakukan kalangan bumiputera dan Tionghoa.

Majalah HistoriA menulis bahwa di tengah situasi genting dan penuh kekalutan seperti itu, pemerintah dan masyarakat dibuat pusing dengan munculnya informasi-informasi palsu tentang wabah flu spanyol, mulai dari cara penanganan, obat-obatan, hingga sebab kemunculan virus. Sejumlah oknum memanfaatkan momen tersebut untuk menyebar berita bohong agar tercipta kepanikan di masyarakat.

“Menjamurnya berbagai berita bohong selama periode tersebut, ternyata dilihat sebagai kesempatan emas bagi segelintir oknum untuk mengeruk keuntungan dengan memanfaatkan kepanikan masyarakat,” tulis Ravando dalam Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919.

Lemahnya literasi kesehatan juga mengakibatkan jatuhnya korban flu Spanyol tanpa pernah mendapatkan bantuan yang berarti. Pesan-pesan layanan kesehatan pun membingungkan banyak orang, dan seperti situasi saat ini, banyak kabar bohong dan teori konspirasi bertebaran.

Di beberapa pabrik, aturan dilarang merokok dilonggarkan, dengan keyakinan bahwa rokok akan membantu mencegah infeksi.

Dalam sebuah debat tentang pandemi, anggota parlemen dari partai Konservatif, Claude Lowther, lantang bertanya: “Apakah sudah ada faktanya bahwa cara yang ampuh untuk melawan influenza itu adalah dengan merokok tiga kali sehari?”

Berbagai kampanye dan membagikan selebaran dilakukan untuk memperingatkan agar tidak menyebarkan penyakit melalui batuk dan bersin.

Pada November 1918, News of the World menyarankan para pembacanya: “Mencuci hidung dengan sabun dan air setiap malam dan pagi; paksa diri Anda untuk bersin pada malam dan pagi hari, lalu bernapas dalam-dalam. Jangan mengenakan selendang; langsung pulang ke rumah selepas kerja dan menyantap bubur hangat.”

Covid-19 hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern yang sudah jauh lebih baik di dalam gaya hidup; teknologi, informasi, gawai pintar, dan kemajuan pengetahuan di bidang kesehatan. Kita punya semuanya yang menuntun kita menjadi tanggap dan siaga bencana. Kemudian sejarah kaos flu Spanyol terulang kembali; persebaran berita bohong, informasi palsu dari pihak yang tidak bertanggung jawab demi keuntungan pribadi, berita palsu, dan rendahnya literasi di tengah masyarakat.

Padahal, ada berita-berita dan informasi yang dapat menjadi sumber rujukan utama yang ditulis oleh para ahli di bidangnya. Namun, menikmati berita bohong seolah adalah sebuah kenikmatan, sehingga kita menjadi mengulang-ulang informasi untuk sebuah gejala penyakit, atau sekadar memberikan informasi dan pesan layanan kesehatan. Miris sekali, karena kita sudah masuk ke zaman di mana penggunaan gawai pintar yang bisa mengakses berita baik dan terpercaya hanya lewat sentuhan jari.

Namun bukan berarti, berita baik tersebut tidak menjadi konsumsi masyarakat Indonesia saat ini. Ada banyak masyarakat Indonesia yang teguh, komitmen, dan bersungguh-sungguh demi tercapainya imun yang lebih baik dan sebagai ikhtiar di masa pandemi.

Tak gentar pada berita bohong, mereka melakukan vaksinasi 1, 2, dan 3, bahkan sampai booster. Pencapaian tingkat pemahaman dan nalar yang lebih kritis telah membawa mereka mencapai daya pikir yang lebih bijaksana.

Salah seorang warga Banda Aceh, Enny (42), seorang wirausahawan menuturkan perjuangannya untuk mendapatkan vaksinasi, “Waktu awal-awal pandemi, saya sangat khawatir terpapar virus korona, setelah ada imbauan pemerintah tentang vaksinasi, saya bilang sama suami dan anak saya, ‘Ayo, kita cari vaksin buat cegah penularan,'” katanya pada 15 Maret 2022.

Tidak berhenti sampai di situ, Enny juga mengajak tetangganya untuk melakukan vaksinasi, “Kamu sudah lama tidak pulang kampung, nanti kamu terpapar karena belum vaksin,” katanya kepada si tetangga.

Enny juga bercerita bahwa awalnya tetangganya menolak untuk melakukan vaksinasi, “Tapi kemudian saya terus mengimbau dan mengedukasi dia supaya mau melakukan vaksinasi, karena saya takut kalau dia lalu lalang di depan rumah saya, saya dan keluarga jadi terpapar.”

Fernando (18), warga Peunayong mencari informasi dan tempat di mana vaksinasi dilakukan, “Sebagai ikhtiar di masa pandemi dan bertujuan untuk menjaga imunitas, saya mencari tahu di mana lokasi vaksinasi, setelah mendapatkan informasi akurat, saya membawa orang tua saya untuk melakukan vaksinasi sampai booster, karena meskipun hoaks atau berita bohong di luar sana bertebaran, tapi pemerintah sudah menjamin mutu dan kualitas vaksin, jadi kenapa harus takut?” katanya.

Sejauh mata memandang ada banyak kisah-kisah sukses vaksinasi Covid-19 di tengah masyarakat Indonesia yang patut diacungi jempol.

Frina salah satunya. Setelah mendapatkan informasi dan sumber yang berasal dari seorang dokter, kegunaan, fungsi, dan faedah melakukan vaksinasi, Frina akhirnya memutuskan untuk melakukan vaksinasi, “Tidak berselang lama setelah informasi dari sumber yang akurat tersebut, Frina melakukan vaksinasi, sebagai ikhtiar untuk menjaga diri dari tertularnya virus. Setelah melakukan vaksinasi, tidak merasakan efek samping yang terlalu berat seperti isu-isu miring di luar sana, dan setelah vaksinasi, Frina merasakan tubuh menjadi lebih bugar,” katanya.

Berita bohong yang beredar di tengah-tengah masyarakat adalah tantangan karena berita bohong yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab lebih dipercaya daripada informasi akurat dari para ahli di bidang kesehatan.

Yuk, belajar dari sejarah silam masa pandemi flu Spanyol.[]

Penulis adalah anggota Jurnalis Warga Banda Aceh dan Ketua Forum Lingkar Pena Banda Aceh

Cakupan Vaksinasi pada Kelompok Rentan di Banda Aceh Masih Rendah

Banda Aceh — Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Kesehatan terus mengupayakan agar cakupan vaksinasi pada kelompok rentan bisa terus meningkat. Di antaranya dengan melakukan Gebyar Vaksinasi Lansia (GVL). Hingga April 2022, jumlah lansia di Banda Aceh yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis 1 sebanyak 9.722 orang (72,05%); dosis 2 sebanyak 6.904 orang (51,17%); dan booster sebanyak 1.452 (10,76%).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, drg. Supriady M.Kes, mengatakan kelompok rentan dalam hal ini lansia, menjadi sasaran prioritas vaksinasi Covid-19. Rata-rata kematian akibat Covid-19 selama dua tahun ini umumnya terjadi pada lansia dengan usia di atas 60 tahun.

“Lima puluh persen yang meninggal dunia karena Covid-19 di Banda Aceh adalah lansia,” katanya dalam talkshow Memperluas Cakupan Vaksinasi pada Kelompok Rentan yang berlangsung di Radio Serambi FM, Selasa, 19 April 2022.

Lansia pada umumnya juga memiliki riwayat penyakit bawaan atau komorbid seperti diabetes, hipertensi, jantung, atau stroke sehingga imunitas tubuhnya perlu diperkuat dengan vaksinasi. Dengan demikian, tubuh akan lebih siap ketika terpapar oleh virus tersebut.

Berdasarkan data yang dipaparkan Supriady, selain vaksinasi lansia yang persentasenya masih rendah, untuk target vaksinasi anak, disabilitas, ibu hamil dan menyusui juga masih rendah. Anak yang sudah mendapatkan vaksin dosis 1 sebanyak 17.980 orang (62,88%), dosis 2 sebanyak 7.470 orang (26,13%), dan dosis 3 hanya 1 orang (0,00%). Sedangkan ibu hamil dan menyusui untuk dosis 1 sebanyak 11 orang (0,01%), dosis 2 sebanyak 6 orang (0,00%), dan dosis 3 sebanyak 3 orang (0,00%). Adapun disabilitas untuk dosis 1 sebanyak 19 orang (0,02%), dosis 2 sebanyak 14 orang (0,01%), dan dosis 3 sebanyak 2 orang (0,00%).

Secara umum, total cakupan vaksinasi di Kota Banda Aceh sudah mencapai 123,00% untuk dosis 1 (234.048 orang), 89,72% untuk dosis 2 (170,736 orang), dan 16,25% untuk dosis 3 (16,25%). Oleh karena itu, Supriady meminta agar semua pihak bisa bersikap kooperatif dalam program vaksinasi ini. Demikian juga dengan individu yang memiliki anggota keluarga yang masuk dalam kategori rentan, seperti anak-anak, lansia, atau disabilitas, agar bersedia membawa atau mendampingi mereka untuk mendapatkan vaksinasi.

Talkshow ini juga menghadirkan Roos Afrida, warga Banda Aceh. Dalam kesempatan itu Roos memaparkan sejumlah persoalan yang ada di level akar rumput terkait program vaksinasi Covid-19. Di antaranya, keengganan warga untuk vaksinasi lebih karena khawatir terhadap adanya kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI). Pemberitaan yang ada di media terkait beberapa KIPI yang terjadi di kalangan masyarakat menjadi ketakutan tersendiri.

“Ketidakpercayaan terhadap vaksin Covid-19 juga masih ada. Ada juga yang masih percaya pada hoaks seperti tidak mau divaksinasi karena takut disuntikkan microchip ke dalam tubuh,” kata Roos.

Tak hanya itu, munculnya aneka varian Covid-19 dengan nama yang asing bagi masyarakat awal telah menimbulkan persepsi tersendiri bagi masyarakat. Tak jarang nama-nama Covid-19 dianggap sebagai candaan, misalnya, “Kalau ada Omicron berarti ada Tantecron,” kata Roos.

Roos juga menyampaikan harapannya agar pemerintah lebih proaktif lagi dalam memberikan pelayanan vaksinasi kepada warga yang disabilitas. Hal ini karena disabilitas memiliki kendala tersendiri seperti terbatasnya akses ke pusat pelayanan vaksinasi sehingga perlu dilakukan jemput bola.[]

Ini Strategi Pemko Banda Aceh dalam Meningkatkan Cakupan Vaksinasi Lansia

Banda Aceh — Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Kesehatan telah melakukan sejumlah strategi untuk memaksimalkan cakupan vaksinasi bagi masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan, dalam hal ini kalangan lansia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, drg. Supriady R, M.Kes. mengatakan, adapun strategi tersebut di antaranya melakukan penyuluhan yang masif ke masyarakat dengan mendatangi warga dari rumah ke rumah.

“Dalam melakukan penyuluhan ini kami menurunkan bidan ke gampong-gampong, bekerja sama dengan babinsa (TNI) dan bhabinkantibmas (Polri) dengan tujuan mengedukasi masyarakat akan pentingnya vaksinasi Covid-19. Namun, saat itu tidak langsung divaksinasi, tetapi kita mencari tahu dulu apa saja kendala yang dihadapi oleh warga,” ujar drg. Supriady dalam talkshow Memperluas Cakupan Vaksinasi pada Kelompok Rentan yang berlangsung di Radio Serambi FM, Selasa, 19 April 2022.

Selanjutnya Dinkes Banda Aceh juga melakukan Gebyar Vaksinasi Lansia (GVL) di sembilan kecamatan yang ada di wilayah Kota Banda Aceh. Vaksinasi diselenggarakan di sejumlah titik yang mudah diakses oleh masyarakat. GVL ini dilakukan sebagai salah satu upaya menurunkan penyebaran Covid-19 di Kota Banda Aceh, khususnya pada lansia mengingat mereka termasuk dalam kelompok rentan karena memiliki daya tahan tubuh yang lemah.

Setidaknya ada dua tempat yang menjadi lokasi vaksinasi massal Gebyar Vaksinasi Lansia ini, yaitu di Kompleks Objek Wisata Kapal Apung dan Taman Sari Banda Aceh. Untuk menarik minat warga, bagi siapa saja yang melakukan vaksinasi akan mendapatkan hadiah berupa minyak goreng dan gula.

“Sedangkan selama bulan Ramadan ini kami juga melakukan Safari Ramadan Vaksinasi yang dipusatkan di masjid. Dalam HUT Kota Banda Aceh yang jatuh pada 22 April ini kita juga melakukan layanan vaksinasi massal, tetapi karena ini jatuh pada bulan puasa, eventnya diselenggarakan pada 18 Mei 2022,” kata Supriady.

Dengan adanya Safari Ramadan Vaksinasi ini, warga yang datang ke masjid untuk salat Tarawih bisa sekaligus mendapatkan vaksinasi Covid-19 sehingga akan menghemat waktu dan tenaga mereka tanpa perlu mendatangi pusat pelayanan kesehatan seperti ke puskesmas.

Mewakili pemerintah, Supriady mengimbau masyarakat agar tetap melakukan vaksinasi meskipun saat ini kasus Covid-19 bisa dibilang sudah melandai.

“Jangan hanya melakukan vaksinasi karena tuntutan administrasi, atau karena keperluan untuk pulang kampung atau mudik, tetapi lakukan karena kesadaran sendiri karena vaksinasi ini memang sangat dibutuhkan oleh tubuh,” katanya.

Berdasarkan pemaparan Supriady, hingga April 2022, jumlah lansia di Banda Aceh yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis 1 sebanyak 9.722 orang (72,05%); dosis 2 sebanyak 6.904 orang (51,17%); dan booster sebanyak 1.452 (10,76%).[]

Amankah Vaksinasi Covid-19 Saat Tubuh Berpuasa?

Bulan suci Ramadan telah tiba. Bagi seluruh umat Islam, datangnya bulan Ramadan ditandai dengan perintah wajibnya menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Tak hanya itu, malam harinya juga disunahkan untuk melakukan ibadah salat Tarawih berjemaah. Oleh karena itu, tubuh yang sehat dan stamina yang kuat merupakan kunci terlaksanakannya ibadah secara maksimal di bulan ini.

Dibolehkannya salah Tarawih berjemaah pada Ramadan 1443 H/2022 M ini merupakan sesuatu yang perlu disyukuri. Meskipun begitu, tentunya kita tidak boleh abai pada protokol kesehatan karena pandemi Covid-19 belum musnah seratus persen. Namun, agar ibadah tidak terusik jangan abaikan vaksinasi Covid-19.

Menurut dr Liza Fathiariani, yang selama ini menjadi vaksinator Covid-19 di Museum Aceh, melakukan vaksinasi Covid-19 saat tubuh sedang berpuasa aman-aman saja.

“Prosedurnya sama saja dengan hari biasa, asalkan yang bersangkutan tidak dalam keadaan sakit seperti demam dengan suhi di atas 38 derajat. Intinya lulus skrining,” kata dr Liza, Rabu, 30 Maret 2022.

Hal yang sama juga berlaku bagi lansia ataupun anak-anak. Selama mereka tidak memiliki masalah kesehatan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Namun, sebelum mendapatkan vaksinasi ada baiknya perlu memperhatikan beberapa hal seperti istirahat yang cukup di malam hari, mengonsumsi makanan bergizi saat sahur, dan mencukupi kebutuhan cairan tubuh dengan meminum air putih yang cukup.

“Penting diketahui bahwa vaksin itu disuntikkan ke otot, panjang prosesnya untuk sampai ke perut (lambung). Jadi, kalau ada yang merasa mual atau pusing itu lebih ke efek psikosomatis saja,” kata dr Liza yang saat ini bertugas di Rumah Sakit Jiwa Aceh.

Dikutip dari alodokter.com, gangguan psikosomatis adalah keluhan fisik yang terjadi atau dipengaruhi oleh pikiran/emosi, bukan oleh alasan fisik yang jelas seperti luka/infeksi. Kondisi seperti ini bisa dialami oleh individu dengan berbagai usia dengan gejala seperti sakit kepala, sakit punggung, mudah lelah, nyeri otot, sesak napas, jantung berdebar kencang, atau telapak tangan berkeringat.

Jadi, bagi Anda yang ingin melakukan vaksinasi selama bulan puasa ini, tinggal mendatangi saja gerai-gerai vaksinasi terdekat.[]