Beranda blog Halaman 9

The Story of Rohingya: Stuck at Furious Sea, Strand on the land of Southeast Asia

Rhusaimah (26) didn’t know what was happening. She was at a loss as to where to go. She and her family had transported by truck for many times. However, they were not able to stay in one place.

Rhusaimah was not able to communicate for a long time during that chaos condition. However, it was admitted that she was exhausted. Her face looks haggard. The clothes she wore looked shabby, full of sand flakes from the sea.

Rhusaimah was one of the many passengers on the eighth boat that anchored on the coast of Aceh Besar on Sunday, December 10, 2023 at around 5:30 a.m. (UTC+7). Shealong with 134 other refugeesarrived, driving a wooden boat, on the beach of Blang Ulam Hamlet, Gampong Lamreh, Mesjid Raya Subdistrict, Aceh Besar, Aceh, Indonesia.

Krueng Raya (Aceh Besar) Police Chief, Ipda Rolly Yuiza Away, said that the Rohingya refugees consisted of 35 men, 65 women, 15 boys and 20 girls.

“Their position from the boat is one kilometer away. After getting off the ship, the immigrants were walking until they arrived at this place, namely Blang Ulam Hamlet,” said Ipda Rolly Yuiza Away.

Residents asked the United Nations High Commission for Refugees (UNHCR) to immediately relocate 135 Rohingya refugees who landed in the local coastal area.

“UNHCR, which is now on site, has asked us to move them no later than this afternoon,” said Lamreh Village Secretary Asmadi Kadafi in Aceh Besar on Sunday, 10th December 2023.

Rohingya Faces Massive Rejection

The Rohingya are a Muslim ethnic minority in Myanmar. According to UNHCR, the Rohingya have lived in Myanmar for centuries. On the other hand, the majority group in Myanmar views the Rohingya as migrants whose population growth has only been in Myanmar for the last century.

In 1982, the Rohingya population was officially not recognized by the Myanmar government. Hence, the Rohingya people become stateless. What then happened to them? Social tension ensued in the community. Then the Rohingya people were persecuted.

UNHCR said there were village burnings, killings, and massive human rights violations against the Rohingya.

Therefor, the Rohingya was forced to leave Myanmar. Nowadays, more than a million people have left Myanmar since the 1990s.

Rakhine people have rich natural resources. But they are denied access to education, services and citizenship rights. (Lilianne Fan – Cultural Anthropologist & Humanitarian)

Where is the Rohingya fleeing to?

The majority of the Rohingya ethnic group fled to Cox Bazar Camp in Bangladesh. Some people are sheltered in Thailand and India, others have to choose Indonesia as their destination on the purpose of staying alive.

The Rohingya has arrived in Indonesia since 2015. The current number reaches 1,487 Rohingya refugees in Indonesia, and its number expected to grow. The locations of the Rohingya refugees are in Aceh, North Sumatra, and Riau, and some others in Sidoarjo, East Java.

Initially, the arrival of Rohingya refugees in Indonesia was welcomed, especially by the people in Aceh. However, gradually, there were a number of conditions that made the Indonesian people reject the arrival of Rohingya refugees.

The reason is that the shelters are no longer accommodate the growing number of refugees. Another reason is because there are refugees who do not adhere to norms, customs, and commit criminal acts in refugee areas.

Rohingya Issue is an ASEAN Issue

Rohingya issue is a gift for ASEAN to mediate on (Daniel Awigra – Human Rights Defender)

Adriana Elizabeth, an Asean researcher from the National Innovation Research Agency (BRIN), said it is can not be denied that cultural differences could create disagreements between local people and the refugees. As the thinking of refugees is in their survival mode, only how to save themselves. Hence, the chaos condition made the Acehnese community felt a little disturbed. However, the government has made efforts to keep prioritising the safety of Aceh people too.

“We also cannot turn a blind eye, if refugees are in front of us. Universally, Indonesia also takes responsibility. But the refugee problem is not only Indonesia’s problem, because Myanmar is a country in ASEAN. So, ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) must also take responsibility,” Adriana said on Metro TV.

“If Myanmar is unable to solve this problem, then it should be brought to ASEAN, because this is a form of regional commitment that must also be borne by every country in ASEAN,” he said.

Aceh Government to Set Up Temporary Shelters

The Acting Governor of Aceh, Achmad Marzuki, stated that he would prepare a temporary shelter for the 1,684 Rohingya refugees.

“I will hold a meeting with UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) and IOM (International Organization for Migration), and follow up on the instructions of the central government that humanitarian refugees must be assisted, and immediately determine where a suitable location for shelter is,” said Achmad Marzuki, Monday night, December 11, 2023.

Achmad Marzuki admitted that he understood the unrest of the Acehnese people who expressed rejection. “I understand that the residents are restless. For example, there are public toilets in the village that have become chaotic because many people use them with an inappropriate capacity. Perhaps this is also a reason for the refugees to be transferred from their village. We will find a solution as soon as possible to deal with this problem. As we don’t have a shelter for that many people,” he stated.

Until now, nine Rohingya refugee boats have arrived in Aceh with a total of 1,684 people since November 14, 2023. The refugees arrived four batches in Pidie, two batches in Sabang, and one batch each in Bireuen, East Aceh, and Aceh Besar.

Source: Digdata | Photos: Riska Munawarah, Ayu ‘Ulya, and Digdata

Menemukenali Pergerakan Kelompok Punk di Aceh

Hari-hari esok adalah milik kita
Terciptanya masyarakat sejahtera
Terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa ORBA

Marilah kawan, mari kita kabarkan
Di tangan kita tergenggam arah bangsa
Marilah kawan, mari kita nyanyikan
Sebuah lagu, tentang PEMBEBASAN

Gema lirik lagu Buruh Tani memenuhi sisi jalan utama menuju Jembatan Ulee Lheue. Bendera dengan kombinasi warna semangka pun berkibar terhempas kencangnya angin pesisir pantai. Sekelompok orang muda berpakaian serba hitam dengan corak desain dan aksesoris khas tampak berkumpul mempertunjukkan kreativitasnya sembari menggalang dana untuk masyarakat Palestina pada 4-5 November 2023.

“Punk itu sebenarnya genre musik, jalan hidup, idiologi tentang kemanusiaan. Kita enggak suka lah lihat ada penindasan, kekerasan. Kita sangat menolak,”

jelas Pablo, salah seorang punker yang tergabung dalam komunitas Rencong Punk Collective.

Dia menilai punk sebagai jalan hidup yang digunakan untuk memberantas ketidakadilan. Pablo dan rakan-rekannya punya cara tersendiri untuk menegakkan keadilan dan mematahkan stigma negatif terkait punk dengan menggunakan karya-karya kreatif mereka, baik melalui lagu-lagu, kaos berdesain, dan kegiatan sosial.

Sejatinya, punk adalah bentuk ideologi yang kaya akan makna dan sejarah. Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda terhadap tatanan hidup berlandaskan keyakinan We Can Do It Ourselves.

Punk sendiri dibentuk untuk melawan sistem kapitalisme. Oleh karenanya, punk kerap digambarkan sebagai bentuk budaya yang menyimpang dari budaya dominan. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui ideologi mereka yang bercerita tentang alam, lingkungan, ekonomi, sosial, politik, bahkan agama.

“Adanya kegiatan PANKA (Pandangan Kabur) ini untuk menyambung suara-suara yang tertindas melalui karya kreatif. Sehingga tidak ada lagi diskriminasi terhadap kaum tertentu tanpa mengetahui bagaimana mereka sebenarnya,” sebut Oja

Dia menuturkan bahwa PANKA terbentuk sebagai wujud keresahannya pribadi dikarenakan melihat ketimpangan, ketidakadilan, dan diskriminasi yang terjadi pada kaum minoritas yang salah satunya adalah kawan-kawan punk itu sendiri. Oja menyebutkan bahwa dengan adanya aksi positif dari PANKA ini diharapkan dapat menjadi jalan untuk menghapus stigma-stigma negatif yang tidak sesuai dengan realitas.

“Sebaiknya kita tidak menilai orang lain dari luarannya saja. Tapi nilai juga mereka dari perbuatan-perbuatannya,”

jelas inisiator PANKA.

Jika merujuk pada pernyataan seorang psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, punk dikategorikan sebagai gerakan dari dunia kesenian. Kekhasan kaum punk kadang kala tercermin daridandanan nyeleneh yang mengaburkan batas antara idialisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, dan meyakini bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas).

Salah satu contoh karya genius dari anggota Rencong Punk Collective berjudul Air Putih. Lagu yang ciptaan Fauzi FKJ ini menyindir santun paradigma pergeseran kebiasaan ‘ngopi’ yang biasanya menjadi wadah kearaban yang kini menjadi jalur bagi sebagian orang untuk pamer kemapanan, terutama di media sosial.

Minggu pagi, sampai sore hari
Kuciptakan lagu hanya dengan air putih
Memang kopi, gudang inspirasi
Tak ada kopi bukan berarti kau berhenti

Narasi umum terkait kopi sebagai gudang inspirasi yang seakan menjadi acuan mutlak produktivitas dibantah melalui kontra narasi kehadiran air putih. Sang seniman seakan ingin menyatakan bahwa air putih yang harganya lebih murah dibanding kopi, bahkan cenderung gratis, pun tetap dapat membuat orang-orang mampu menghasilkan karya kreatif.

Jika menelusuri karya musik kaum punk, mereka cenderung tidak menghadirkan musik rock teknik tinggi atau lagu cinta menyayat hati. Genre musik punk justru lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu punk menceritakan rasa frustasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran, serta represi aparat, pemerintah, dan figure penguasa terhadap rakyat.

Hal tersebut kerap menjadikan punk dicap sebagai musik rock and roll aliran kiri. Sehingga jarang mendapatkan kesempatan untuk tampil di media-media arus utama dan perusahaan rekaman pun menjadi enggan mengorbitkan mereka.

Tak Kenal, Maka Tak Sayang

“Mereka sering duduk-duduk dekat taman di luar kawasan Masjid Raya. Ada yang bertindik, macam-macamlah. Sayang sekali, padahal masih muda,” cerita Yusuf, seorang supir labi-labi yang usianya sudah lebih separuh abad.

Sebagai warga Aceh yang sudah puluhan tahun bekerja sebagai pramudi kendaraan umum di Banda Aceh, Yusuf meresahkan kehadiran sekelompok orang muda dengan tampilan yang dianggapnya nyentrik dan berkumpul bercampur baur di sudut-sudut pusat kota tanpa kegiatan positif. Dia menamai kelompok tersebut dengan sebutan punk.

“Banyak orang di Aceh saat melihat orang tampil berbeda di jalanan, langsung dicap punk, padahal bukan. Karena dia tidur di jalanan, dikatai punk, padahal enggak. Jangan salah kaprah,” jelas Pablo yang turut diamini oleh rekannya Onge.

Berdasarkan pengalaman mereka, stigma negatif yang serampangan dilekatkan masyarakat kepada kelompok punk menuai dampak buruk terhadap pergerakan positif mereka. Misalnya, mereka mengalami pembubaran dan penertiban saat melakukan aksi.

“Aksi kita dibubarkan karena tidak memiliki surat izin menggelar aksi penggalangan dana untuk Turki saat itu. Saat esoknya meminta izin ke Dinas Sosial, tetap tidak diberi, karena dianggap pungli (pungutan liar)”, jelas Onge.

Pada dasarnya, punker di Aceh juga melakukan gerak positif yang belum banyak disadari masyarakat, seperti mendistribusikan makanan gratis untuk warga sekitar, melakukan bakti sosial, menggelar penggalangan dana untuk korban bencana alam dan perang, serta melakukan aktivitas entrepreneurship dengan berdagang kaos, stiker, dan juga lagu.

“Berbagi. Hal paling membuat kami puas saat bisa berbagi untuk masyarakat,”

jelas Pablo dengan mata berbinar.

Rencong Punk Collective yang memiliki markas di kawasan Lueng Bata ini secara resmi telah membangun kerja sama untuk menyalurkan dana bantuan kepada lembaga-lembaga resmi kemanusiaan seperti ASAR Humanity dan ACT. Beberapa aksi penggalangan dana yang sukses dilaksanakan oleh kelompok punk di Banda Aceh ini di antaranya bantuan kemanusiaan terhadap kasus Genosida Palestina, Bencana Gunung Semeru dan Bajir Aceh Tamiang.

“Rencong Punk Collective berisi orang muda dari Medan, Kalimantan, Sumatera Barat, dan Banda Aceh. Ada yang beraktivitas sebagai musisi, seniman grafis, usaha sablon, dan mengamen,” papar Bayu.

Prinsip DIY (Do It Yourself) kelompok punk diwujudkan dengan merintis usaha dan distribusi terbatas demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Hal itu juga mejadi wujud nyata perlawanan terhadap korupsi dan bentuk protes terhadap bobroknya birokrasi pemerintah. Arti simbol yang melekat pada kaum punk melalui pakaian alakadar, nyeleneh, bahkan compang-camping menyiratkan arti anti-kemapanan dan anti-kapitalisme.

Hal tersebut seakan menyuarakan,
“Lebih baik mengenakan pakaian seadanya dari jerih payah sendiri dari pada menggunakan baju mewah hasil dari merampas hak orang lain”.

“Dukungan yang kami butuhkan adalah pendampingan pada kegiatan dan keseharian kami. Sebagian kawan-kawan kan ngamen, belum ada pekerjaan. Jadi tolong dipahami. Kami minta toleransi,” ungkap Pablo

Sejalan dengan itu, Oja, menambahkan kalau kehadiran PANKA tersebut juga bermaksud agar terbuka kesadaran masyarakat untuk memperlakukan kelompok punk sama seperti manusia lainnya. Dia menyarankan masyarakat untuk tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja. Serta mengimbau masyarakat untuk turut memberikan hak kawan-kawan punk untuk mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik.

“Ngamen itu bukan pilihan dan kemauan mereka. Keadaan yang memaksa mereka demikian. Perlakukan kawan-kawan punk ini seperti kita-kita. Beri mereka kesempatan mencari kerja, prioritaskan mereka juga,” harapnya.

Instruktur Perempuan Panjat Tebing Tingkat ASEAN Berstandar SEACF Pertama dari Aceh

Fitriani, alias Purchel, kembali menghadirkan kisah menggemparkan pada series panjat tebing. Setelah mengikuti Instructor Training Course (ITC) di Tebing Batu Templek, Fitriani secara resmi didapuk sebagai satu-satunya Instruktur Sport Climbing Perempuan dari Aceh di tingkat ASEAN.

Sport Climbing adalah aktivitas olah raga memanjat atau mendaki pada permukaan tebing dengan menggunakan peralatan lengkap berstandar badan legal. Peserta menggunakan kekuatan fisik dan teknik untuk naik ke atas dinding atau rute pendakian yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Saya sendiri sudah membekali level 1 dan 2 tahun 2021, kemarin lanjut level 3, baru setelahnya ITC,” jelas Purchel kepada tim perempuanleuser.com

Pelatihan instruktur panjat tebing yang diadakan sejak 5-12 November 2023 di Cisanggarung Jawa Barat ini digelar oleh SEACF Instructor Training & Assessment melalui Vertical Rescue Indonesia, yang dikomandoi oleh Tedi Ixdiana. SEACF merupakan badan legal olah raga panjat tebing (sport climbing) se-Asia Tenggara yang mengeluarkan sertifikat resmi kepada para penggiat olah raga panjat tebing dari level 1-3, hingga menjadi instruktur.

“Saya merasa bangga atas pencapaian diri sendiri, sekaligus merasa memikul tanggung jawab yang besar,” papar Fitriani.

Dia menilai bahwa prestasi yang dicapainya tidak terlepas dari peran banyak pihak yang telah membimbing dan mendukungnya hingga sejauh ini. Purchel menyatakan bahwa sebenarnya sangat banyak para penggiat panjat tebing di Aceh yang memiliki lebih banyak pengalaman dibandingkan dirinya, baik di bidang tebing alam maupun sport climbing.

Sebagai Perempuan, awalnya Purchel mengikuti ITC sebagai hobi yang ingin dia seriuskan. Awalnya, dia tidak punya ekspektasi tinggi selain mendedikasikan waktu dan tenaga untuk memajukan olah raga panjat tebing di daerahnya, Pidie, Aceh, Indonesia.

“Awalnya, untuk meningkatkan skill dan manajemen risiko. Namun, setelah resmi dinyatakan lulus sebagai instruktur oleh SEACF, saya jadi punya harapan besar untuk mengembangkan olah raga panjat tebing sesuai standar yang meminimalkan risiko dalam aktivitasnya,” jelasnya.

Akan tetapi, di balik gemerlap kesuksesannya kini, terdapat pula perjalanan terjal yang jarang diketahui banyak orang. Terutama terkait besarnya biaya yang harus dikeluarkan dan ditanggung seorang diri demi menggapai cita-cita membangun negeri.

“Biayanya Purchel kumpulkan dari jerih payah sendiri, tanpa bantuan dari pemerintahan bidang terkait. Sudah mencoba menghubungi KONI Aceh, tapi sayangnya belum mendapatkan respons,” jelas Putri Aceh ini saat ditanyakan ada tidaknya dukungan pemerintah dalam proses tersebut.

Namun, Fitriani menyatakan tetap bersyukur telah dipertemukan dengan orang-orang baik dan peduli yang terus mendukung proses pembelajarannya secara teknis dan nonteknis sebagai seorang penggiat olah raga panjat tebing.

“Terima kasih kepada Pengurus Panjat Tebing Kab. Pidie, Tedi Ixdiana, dan juga para instruktur dari Vertical Rescue Indonesia, yang terus mendukung sejak awal saya bergabung sebagai anggota Vertical Rescue Indonesia sampai menjadi Instruktur Sport Climbing SEACF seperti sekarang,” tutupnya.

Hasilkan Tabungan Dari Limbah Rumah Tangga

Oleh Zakiyah Drazat*

Awal mula saya tertarik mengolah limbah rumah tangga, saat saya menonton YouTube, seorang yang merekam kisah penyakit kanker yang dialaminya. Ia bercerita tentang pola hidup sehat yang harus dia jalani untuk proses penyembuhan. Kemudian orang tersebut menanam sayuran organik di pekarangan rumahnya untuk konsumsi sehari-hari karena saat itu sulit mendapatkan sayur organik di tempat ia tinggal.

Dari pengalaman YouTuber tersebut, saya mulai mempelajari tentang pertanian organik, pupuk organik, khususnya dari limbah rumah tangga. Akhirnya saya mulai memilah sampah organik dan anorganik. Awalnya saya buat lubang di samping rumah untuk menampung sampah organik dari sisa dapur, yang saya campur dengan daun kering untuk dijadikan kompos.

Saya menemukan sedikit masalah dengan metode lubang sampah tersebut, aroma kepala udang yang saya buang ke lubang tersebut menimbulkan aroma tidak sedap di pekarangan, ada lalat juga yang beterbangan. Di musim penghujan semakin tidak nyaman aroma sampah, saya khawatir mengganggu tetangga.

Akhirnya saya belajar lagi cara mengolah sampah yang lebih mudah dan tidak menimbulkan bau busuk. Akhirnya saya menemukan seorang penyuluh pertanian yang sudah mendapatkan penghargaan penyuluh berprestasi tingkat nasional, yang membuat konten YouTube tentang edukasi sampah organik dari limbah rumah tangga menjadi pupuk cair organik (PCO).

Alhamdulilah saya berucap syukur karena dipertemukan dengan konten yang saya butuhkan ilmunya. Kemudian saya pelajari lebih detail dan saya coba praktikkan ilmunya. Saya membeli ember besar yang ada tutupnya, kemudian racikan bahan fermentasi saya buat sesuai yang diajarkan, lalu semua sampah organik dari dapur saya masukkan ke dalam ember tersebut. Setelah saya menunggu beberapa minggu, akhirnya saya bisa panen PCO.

Pengolahan limbah menjadi pupuk cair organik.

Lubang tanam yang saya buat, akhirnya saya jadikan untuk menampung sampah organik kering dari pekarangan rumah, seperti daun mangga, daun kelengkeng, daun nangka, dan semua sampah daun yang ada di pekarangan. Untuk menghasilkan pupuk kompos, saya juga campur dengan sisa sampah organik cair dan rumput basah jika ada, serta tidak lupa menambahkan sedikit kotoran hewan (kohe) sapi untuk membantu proses penguraian sampah organik tersebut.

Awalnya kompos organik tersebut saya jadikan campuran media tanam (metan) untuk bunga. Namun, pada tahun 2019 saya menemukan bakat dan minat anak saya yang kami panggil Dek Nadha dalam hal bercocok tanam (ada bakat naturalistik), karena saya khawatir getah bunga yang saya pelihara dari jenis talas dan aglonema membahayakan bagi Nadha, akhirnya saya mulai berpikir untuk mencoba tanam sayur dalam pot di atap rumah (rooftop).

Sejak saat itu kami mulai mencoba menanam sayuran. Metan kami campur dengan pupuk kompos dari hasil pekarangan, untuk kotoran hewan (sapi atau kambing) kami ambil dari milik tetangga yang punya ternak sapi ataupun kambing. Sekam mentah kala itu masih kami beli di nursery tempat langganan kami membeli bunga dan tanaman hias lainnya.

Alhamdulillah dalam waktu 45 hari kami sudah menikmati hasilnya, saat itu yang pertama kami panen dari kebun rooftop adalah bayam, kangkung, dan sawi. Karena usia tanaman ini tergolong singkat dan cepat bisa dipanen. Kemudian tanaman lainnya mulai menunjukkan hasil yang baik juga dari segi pertumbuhan terlihat sehat dan subur.

Karena ilmu POC sudah kami pelajari dan kami praktikkan, alhamdulillah sudah bisa dipanen hasilnya, cairan POC tersebut kami campur dengan air biasa, lalu kami siram pada tanaman secara berkala, setiap dua sampai tiga hari sekali kami siram pada tanaman secara rutin. Akhirnya kami tidak lagi membeli sayur di pasar karena semua kebutuhan sayur sudah tercukupi dari kebun rooftop dengan ukuran 4×8 m persegi tersebut.

Waktu itu masih belum terpikirkan untuk menjual sayuran, karena Dek Nadha masih kecil. Dia hanya menikmati sensasi panen dengan sangat bahagia, sebelumnya dia juga menikmati sensasi takjub melihat proses tumbuh kembang biji tanaman mulai berkecambah hingga tumbuh besar dan bisa di panen. Setiap momennya begitu dinikmati oleh Dek Nadha.

Saat Covid-19 melanda dunia dan masuk juga ke Aceh, sehingga diberlakukan lockdown pada akhir Februari 2020 di Banda Aceh, kami sangat terbantu dengan hasil kebun mini yang ada di rofftop, kami tidak bisa ke pasar, tetapi kebutuhan untuk konsumsi sayur kami terpenuhi, apalagi kami bisa panen sayur segar setiap harinya dari pekarangan kami, meskipun dengan lahan terbatas.

Tepat bulan Mei 2020, setelah lebaran Idulfitri, kami ditawari untuk menggarap lahan sawah milik tetangga lain desa, kebetulan tetangga depan rumah sepupu saya, dengan sistem bagi hasil. Karena ibu tersebut yang biasa kami panggil Makpo mau berangkat ke tanah suci, yang direncanakan masa itu berangkat Juni, belum ada pengumuman menunda berangkat haji karena Covid-19.

Akhirnya setelah panen padi yang perdana kami tanam di bulan September 2020, kami semakin semangat berkebun karena sudah banyak sekam gratis dan berlimpah dari sawah. Fungsi sekam untuk membantu media tanam menjadi porous, sehingga akar tanaman leluasa bernapas dan mencari makanan dalam pot. Tanaman kami pun semakin subur-subur tumbuhnya.

Karena sudah mahir menanam tanaman yang gampang tumbuh dari jenis tanaman lokal, kami pun mulai mencoba tanaman impor yang kualitas super food seperti kale, kailan, swiss chard, sawi pakcoy, selada romaine dan lainnya, yang sistem panennya tidak harus dicabut, tetapi bisa dipetik daunnya saja sampai berkali-kali. Kale, kailan, swiss chard, dan pakcoy bisa bertahan hingga usia satu tahun dengan sistem petik daunnya saja. Nanti akan tumbuh daun yang baru, begitu seterusnya. Hal ini menghemat waktu dan tenaga dalam menanam, lebih efisien juga. Akhirnya setiap tahun kami terus menghasilkan tanaman dari pekarangan yang bisa menghemat uang belanja.

Suatu hari muncul pertanyaan Dek Nadha, “Kalau orang dewasa bekerja menghasilkan uang, bagaimana cara anak-anak bisa menghasilkan karena belum bisa bekerja, Mi?”

Saya jawab, bisa dengan yang disukai, seperti membuat dan menjual hasil kerajinan tangan, bercocok tanam, dan lain-lain. Akhirnya Nadha memilih untuk berkebun. Kemudian kami juga memelihara ayam agar bisa panen kotoran ayam untuk kohe campuran metan. Pakannya juga kami fermentasi agar kandang ayam tidak bau menyengat dari aroma kotoran ayam tersebut.

Karena saya sibuk dengan pekerjaan, akhirnya kebun mini di rooftop di ambil alih oleh Nadha (5,5 tahun). Nadha menawarkan ide menjual sayur kepada umi dan abinya sebagai pelanggan awal. Agar Nadha mendapatkan pemasukan tambahan di luar jatah yang kami berikan sebagai orang tuanya.  Alhamdulillah, setelah lima bulan (sejak Mei 2023) dia mengelola kebun sambil bermain dan kami bantu-bantu juga. Akhirnya, tanggal 24 Oktober 2023, saat celengan dibuka, Nadha mendapat tabungan sebesar Rp1.250.000 dari hasil kebun mini rooftop.[]

Penulis adalah jurnalis warga Banda Aceh dan mahasiswa S-2 Magister Ilmu Kebencanan USK Banda Aceh

Menemukan “Oase” Hijau di Tengah Panasnya Cuaca Ekstrem

Oleh Nurul Muhdiyah*

Akhir-akhir ini wilayah Indonesia dilanda cuaca yang sangat panas. Suhunya bahkan mencapai 35—30  derajat celcius. Akibatnya sebagian wilayah terasa lebih panas dari hari biasanya. Banyak warga mengeluhkan kenaikan suhu yang ekstrem tersebut. Beraktivitas pun menjadi tidak nyaman karena gerah.

Biasanya udara panas disebabkan oleh uap air yang berganti dari musim hujan ke musim kemarau. Namun, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) peningkatan suhu terjadi karena minimnya pertumbuhan awan dan perubahan kondisi dinamika atmosfer.

Saya sendiri juga merasakan hal yang sama. Paparan  matahari sejak pagi hingga menjelang sore membuat rumah kami terasa lebih panas dari biasanya. Apalagi rumah saya di Banda Aceh berada tak jauh dari pantai. Jika malam tiba, maka akan menghasilkan uap yang membuat ruangan terasa lebih hangat dan pengap. Badan pun terasa dehidrasi. Belum lagi keringat yang terus bercucuran. 

Selain itu, saya juga tinggal di perumahan yang berdempetan antara satu rumah dengan rumah lainnya. Ventilasi udara hanya mengandalkan satu-satunya pintu dan jendela depan sebagai akses hilir mudik angin. Dari samping kiri maupun kanan sama sekali tidak ada pergantian udara karena rumah saya berada di tengah-tengah. Minimnya pepohonan membuat lokasinya terasa gersang.

Di tengah hangatnya pemberitaan maupun pembicaraan netizen di ruang maya mengenai ekstremnya suhu di Indonesia, saya pun mencari alternatif untuk menjaga daya tahan tubuh. Alhasil saya mendatangi ruang terbuka hijau yang diberi nama Taman Trembesi yang berada di sudut Kota Banda Aceh. Lokasi taman ini tanpa sengaja saya “temukan” saat jalan-jalan sore beberapa waktu sebelumnya.

Taman Trembesi ini berada sekitar dua kilometer dari pusat Kota Banda Aceh. Tepatnya di Jalan Teuku Raja Kemala, persis di belakang Rusunawa Gampong Keudah, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh. Ini adalah satu-satunya taman yang paling dekat dengan tempat saya tinggal.  Keberadaan taman ini memang tidak banyak diketahui oleh masyarakat karena letaknya tepat di belakang rumah susun. Meski begitu, taman ini tetap ada pengunjungnya. Di hari-hari weekend biasanya agak ramai. Di tengah cuaca ekstrem yang serasa melepuhkan kulit kepala, rasanya tak berlebihan jika saya mengatakan taman ini sebagai “oase” hijau.

Bunga kumis kucing, salah satu koleksi tanaman yang ada di Taman Trembesi.

Tempatnya yang asri dan sejuk membuat siapa pun yang datang ke sana terasa betah. Taman Trembesi ini dilengkapi dengan lintasan khusus (jogging track) untuk orang yang ingin berolahraga dan juga tempat bermain bagi anak-anak. Fasilitas lainnya seperti musala dan toilet.

Kurang lebih sudah satu bulan saya mengunjungi taman ini untuk berolahraga. Biasanya saya pergi pada pukul 16.30 dan pulang pada pukul 18.00. Di taman ini juga terdapat banyak pohon dan di setiap pohon dituliskan nama-nama dari jenis pohon tersebut. Selain itu juga banyak terdapat tanaman hias. Selain sebagai ajang rekreasi, pengetahuan kita tentang tumbuh-tumbuhan pun jadi bertambah dengan datang ke sini. Saya sering pergi ke taman itu bersama kakak atau ibu. Terkadang, saya datang ke sana bukan untuk berolahraga, tetapi untuk menulis. Tempat favorit saya adalah batu gajah besar di bawah pohon-pohon angsana yang menjulang tinggi.

Suasananya yang sejuk membuat ibu saya merasa nyaman, apalagi di taman tersebut terdapat banyak sekali bunga sehingga dia sangat menyukainya.

“Dapat menghilangkan beban pikiran,” kata Ibu.

Bahkan beberapa kali Ibu menagih untuk dibawa ke Taman Trembesi. Ibu biasanya hanya jalan-jalan saja memutari jogging track. Sebagai penderita diabetes, Ibu sangat merasakan efek dari suhu panas. Tubuhnya sering terasa seperti terbakar. Ketika berada di taman dan angin bertiup sepoi-sepoi, ia merasa lebih rileks dan lebih nyaman.

Bukan hanya untuk sekadar cuci mata dan berolahraga saja, taman ini juga biasanya digunakan untuk tempat berekreasi bersama keluarga atau kegiatan  edukasi yang diadakan oleh sekolah dasar untuk murid-muridnya.  Karena memang taman ini memiliki lapangan yang luas sehingga cocok bagi anak-anak yang sedang aktif dan tempat  yang asik bagi anak-anak untuk mengenal alam. 

Baniah.

Di taman ini ada tiga orang yang bertugas sebagai penjaga sekaligus merawat taman. Dua di antaranya adalah perempuan dan salah satunya bernama Baniah. Mereka bekerja dari pukul delapan pagi hingga pukul enam sore. Setelah rutin berkunjung, kami mulai berkenalan dan terkadang sempat mengobrol di sela-sela ia bertugas.

Baniah adalah perempuan paruh baya yang sudah menghabiskan dua puluh tahun lebih waktunya untuk mengurus taman-taman kota di Banda Aceh. Sejak sepuluh tahun terakhir ia ditempatkan di Taman Trembesi ini oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Banda Aceh–taman ini di bawah pengelolaan Pemko Banda Aceh. Sebelumnya, sejak 2002 Baniah bekerja di bagian pembibitan di lokasi yang lain.

Setiap harinya perempuan yang akrab dipanggil Kak Bani itu berangkat bekerja dengan sepeda mini miliknya. Dari rumahnya ke taman membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Tugasnya membersihkan dedaunan yang berserakan di taman. Ia juga bertugas mengurus tanaman yang ada di taman. Semua pekerjaan itu ia lakukan bersama satu rekannya yang perempuan. Kak Bani adalah sosok yang ramah dan murah senyum sehingga ketika berbicara terasa lebih akrab.


Ia berasal dari Bireuen. Pendidikan dasar hingga menengah atas ia tamatkan di kampung kelahirannya. Lulus SMA barulah ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Abulyatama, Aceh Besar. Ia kuliah di Jurusan Pertanian. Ia menjalani masa kuliahnya sama seperti mahasiswa pada umumnya. Yang membedakan barangkali status ekonomi mereka. Karena kesulitan ekonomi, terkadang Kak Bani harus mengambil cuti kuliah agar bisa bekerja.

Ia bukan tipikal orang yang pilih-pilih pekerjaan. Apa pun dilakoninya asal halal. Ia pernah bekerja di tempat pengolahan ikan asin di Aceh Besar. Pernah juga bekerja di toko roti. Setelah punya uang, ia pun kembali melanjutkan kuliahnya. Hingga di pertengahan tahun 90-an ia dinyatakan lulus dan berhasil meraih gelar sarjana pertanian. Meski sudah punya ijazah sarjana, Baniah tetap betah bekerja sebagai pengurus taman. Setelah berbincang-bincang dengannya pada Selasa, 24 Oktober 2023, barulah saya “ngeh” dengan ketelatenannya mengurus tamanan. Ternyata ia memang punya basic tentang tanaman.

Baniah juga korban tsunami Aceh yang terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004. Ketika itu ia tinggal di Gampong Jawa, sebuah desa di Banda Aceh yang berbatasan dengan sungai Krueng Aceh dan berjarak sekitar dua kilometer dari pantai. Tetangga kampung tempat Taman Trembesi berada. Saat tsunami terjadi, dia sedang bekerja di taman yang berada di bantaran Krueng Aceh di kawasan jalan protokol.

Ketika terjadi gempa dan gelombang tsunami mulai naik ke daratan, ia memanjati halte yang berada di dekatnya.

“Pas saya naik ke halte, air tsunami itu bisa saya sentuh,” ucap Baniah. Bahkan ia sempat menyelamatkan seorang siswa SMA, tetapi karena gelombangnya terlampau besar, siswa itu terlepas kembali. Keluarganya sendiri, termasuk adik kandung perempuannya ikut menjadi korban bencana besar itu. Hingga awal-awal setelah tsunami, ia masih mengalami trauma. Pelan-pelan, seiring berjalannya waktu trauma itu pulih dengan sendirinya.

Baniah barangkali tidak menyadari kalau profesinya itu sangat berjasa untuk keberlanjutan usia Bumi. Di tengah perubahan iklim yang menuju “pelelehan global” ini, ketelatenan dan kecekatannya mengurus taman sudah menjadikan oase hijau di tengah padatnya pemukiman Banda Aceh. Dan karena Baniah pula, kunjungan demi kunjungan ke Taman Trembesi terasa mengasyikkan.[]

Penulis adalah mahasiswa UIN Ar-Raniry dan berdomisili di Banda Aceh

Cita-Cita Ayu Menjadi Dokter Terenggut oleh Perubahan Iklim

AYU MAGHFIRAH tak pernah menyangka cita-citanya untuk menjadi dokter kandas begitu saja. Alih-alih kuliah di fakultas kedokteran, ia bahkan tak pernah merasakan bagaimana serunya mengenakan seragam putih abu-abu dengan menyandang status sebagai siswa sekolah menengah atas. Masa-masa yang oleh Chrisye dalam bait-bait “Kisah Kasih di Sekolah” disebut sebagai tiada masa paling indah (kecuali-red) masa-masa di sekolah.

“Saya mengalah untuk tidak melanjutkan sekolah karena pada saat itu abang saya juga sedang sekolah di SMA. Orang tua tidak sanggup membiayai,” kata Ayu, “harusnya tahun ini saya sudah tamat SMA,” katanya lagi saat mengobrol di rumahnya, Rabu petang, 6 September 2023.

Ayu adalah putri sulung pasangan Zubaidah dan Rafifuddin. Ia punya dua adik: Fitria yang masih duduk di bangku SMP dan Zulfikar yang baru berusia tiga tahun. Sebelum menikahi Zubaidah, Rafifuddin punya dua anak dari pernikahan sebelumnya, salah satunya Fajar, yang hanya berselisih usia beberapa tahun dengan Ayu. Usai SMA, Fajar pun tak bisa mengenyam kuliah.

Sebagai anak, Ayu tak ingin menambah beban ayah dan ibunya. Sebagai kakak, ia juga merasa bertanggung jawab terhadap kedua adiknya. Itu sebabnya, ketika lulus SMP pada tahun 2020—di tengah pandemi Covid-19—Ayu tak punya pilihan selain berhenti sekolah dan bekerja.

Ayu bukanlah anak yang berasal dari keluarga berpunya. Hal itu terlihat jelas dari profesi orang tuanya. Juga dari rupa rumahnya di Gampong Pasie Beutong, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Material rumahnya terbuat dari kayu beratapkan seng yang tampak seperti material bekas pakai. Rumah itu mungil, hanya ada satu kamar tidur dan ruang tamu kecil yang dilapisi coran semen kasar. Kamar mandinya di luar. Di ruang tamu itulah, beralaskan selembar tikar plastik, kami duduk dan mengobrol.

Tak ada perabotan apa pun selain sebuah lemari es dan televisi berukuran kecil di rumahnya. Tanah tempat rumah itu berdiri pun bukan milik sendiri. Namun, letak rumah yang berada di ujung kampung dan berbatasan langsung dengan areal persawahan di kaki bukit adalah bonus, membuat suasananya sangat indah dan nyaman. Di pagi hari, Ayu sering terbangun karena kicauan burung-burung.

Rafifuddin bekerja sebagai pemecah batu gunung. Namun, pada Mei 2023, ia telah meninggal dunia karena sakit yang sudah lama dideritanya. Keluarga Ayu pun menjadi pincang. Beban Ayu sebagai anak sulung kian bertambah. Ia menjadi tumpuan harapan adik-adiknya. Adapun Zubaidah, bekerja sebagai petani yang menggarap sawah orang lain. Ada dua petak sawah yang ia garap yang luasnya masing-masing 2.500 dan 1.500 meter persegi.

Dari hasil garapan tersebut, setidaknya keluarga ini tidak perlu membeli beras untuk makan sehari-hari. Namun, menggarap sawah pun kini tak mudah. “Karena sawah kami adalah sawah tadah hujan. Hasilnya tak pernah mencapai nisab untuk membayar zakat,” kata Zubaidah. Yang artinya, hasil panen tidak sesuai harapan.

Sebagai sawah tadah hujan, Zubaidah hanya bisa menggarap sawahnya setahun sekali. Barangkali akan lain ceritanya jika ada saluran irigasi. Sungai atau sumber mata air pun tidak ada di sekitar sawah yang ia garap. Satu-satunya sumber air yang bisa diharapkan adalah hujan dari langit. Namun, hujan pun sekarang tak bisa diprediksi lagi. Bulan-bulan berakhiran –ber tak bisa lagi jadi acuan musim penghujan. “Memang lebih sering tidak ada air,” kata Zubaidah.

Biasanya, Zubaidah mulai membajak sawahnya begitu memasuki September, bulan berikutnya mulai menanam. Di awal tahun, mereka sudah bisa menyantap hidangan dengan beras baru dari hasil panen. “Tapi sampai sekarang kondisi sawahnya masih kering kerontang,” kata perempuan berusia 40-an tahun itu.

Tanpa air yang cukup, sawah yang dikelola Zubaidah benar-benar tak bisa ditanami. Palawija pun tak bisa ditanam karena tanahnya jenis liat. Dengan kondisi seperti itu, mustahil kebutuhan keluarga mereka tercukupi jika hanya mengandalkan dari bersawah. Untuk makan saja susah, konon lagi untuk membiayai sekolah Ayu di SMA. Penghasilan Rafifuddin sebagai pemecah batu pun tak cukup untuk sepenuhnya menopang ekonomi keluarga.

Sebagai orang tua, Zubaidah dan almarhum Rafifuddin menguat-nguatkan hati ketika meminta agar Ayu berbesar hati untuk berhenti sekolah. Ia pun terpaksa menguatkan hati ketika Ayu harus bekerja pontang-panting demi meringankan beban ayah ibunya.

Putus sekolah bukan berarti kesempatan Ayu untuk berleha-leha. Justru itulah awal bagi dirinya untuk menjadi manusia “dewasa”. Ya, keadaan membuat Ayu dewasa sebelum waktunya.

“Saya pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga, pernah juga di swalayan. Sekarang saya bekerja di kafe yang menjual menu-menu Jepang. Saya menjadi koki, biasanya saya memasak ramen,” kata Ayu dengan bibir mengembang.

Dibandingkan dua pekerjaan sebelumnya, Ayu mengakui bekerja sebagai koki lebih lumayan penghasilannya. Namun, jam kerjanya pun “lumayan” juga. Dia mulai bekerja pukul sepuluh pagi dan pulang pukul sepuluh malam. Ia juga jadi punya keterampilan memasak Japanesse food. Kafe tempatnya bekerja ada di Kota Banda Aceh. Sekitar 30 menit berkendara roda dua dari rumahnya di pinggiran kota. Terkadang Ayu ikut juga mengupah di sawah orang lain. Biarpun begitu, Ayu bahagia karena bisa membantu ibunya. “Setiap gajian uangnya selalu saya berikan kepada Ibu.” Ada nada bangga pada suaranya.

Namun, satu hal yang barangkali tak diketahui Ayu, jika iklim tak berubah, orang tuanya mungkin bisa bersawah dengan tenang. Hasil panennya bagus. Ia tak harus kehilangan haknya untuk bersekolah. Ayu bahkan tak tahu perubahan iklim telah merenggut masa kanak-kanaknya. Yang ia tahu, orang tuanya miskin. Dan ia putus sekolah karena kemiskinan itu.

“Hm … enggak tahu, mungkin ada dijelaskan di sekolah, tetapi saya lupa,” jawab Ayu ragu-ragu saat ditanyai apakah dia pernah mendengar atau memahami istilah perubahan iklim.

Dampak dari cuaca yang semakin ekstrem tak hanya berdampak pada Ayu. Fathia dan Aijaz, dua bersaudara yang masing-masing duduk di bangku SMP dan SD sering mengeluhkan suhu udara yang belakangan terasa semakin panas.

“Si bungsu Aijaz paling sering mengeluh tidak bisa konsentrasi belajar di sekolah karena kelasnya panas,” kata ibunda Fathia dan Aijaz, Dian Guci, Senin, 4 September 2023.

Letak sekolah Aijaz yang hanya sekitar dua kilometer dari pantai di kawasan Ulee Lheue, Banda Aceh, seolah menghantarkan hawa panas tak berkesudahan. Apalagi ketika matahari berada di puncak kepala, hawa udara pesisir seolah mendidihkan ubun-ubun. Bahkan ketika di rumah pun, Aijaz lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Ia tidak nyaman bermain-main di pekarangan karena terik yang menggigit.

Belasan tahun lalu kata Dian, suasana di sekitar rumahnya masih sangat menyenangkan. Meskipun berada di wilayah kota madya, tetapi rumah-rumah penduduk belum padat. Pepohonan masih banyak. Di sekitarnya juga masih banyak rawa. Sekarang, nyaris tak ada lagi lahan kosong di areal tersebut. Pohon-pohon berganti dengan bangunan-bangunan permanen. Imbasnya sangat terasa bagi anak-anaknya. Mereka tak lagi leluasa bermain di luar rumah. Saat duduk di beranda rumah, pandangannya bertabrakan dengan dinding-dinding rumah warga.

“Kalaupun ada angin terasa kering, sama sekali tidak sejuk,” kata Dian lagi.

Sementara Fathia, yang mulai tahun ini sudah masuk sekolah berasrama di salah satu SMP terpadu di Banda Aceh, juga mengeluhkan hal yang sama. Kamar asramanya sangat panas dan membuatnya jadi susah tidur karena gerah. Sementara sebagai pelajar di sekolah berasrama, Fathia harus sudah bangun sebelum subuh untuk berbagai persiapan. “Karena kurang tidur, efeknya jadi mengantuk di kelas,” kata Dian mengenai keluhan putrinya.

Keluhan yang sama juga kerap dirasakan santri-santri di Dayah Baitul Arqam di Sibreh, Aceh Besar. Salah satunya Biyya, santri kelas satu sanawiah yang baru-baru ini terpaksa libur hampir sepekan karena batuk kering dan asmanya kumat.

Padahal, Baitul Arqam letaknya di perkampungan yang jauh dari kawasan pantai. Masih banyak pepohonan di sekitarnya. Namun, hawanya juga tak jauh berbeda dengan di kawasan perkotaan yang dekat pesisir dan padat penduduk. Tak hanya Biyya, ada juga santri yang mengalami demam atau sariawan karena dehidrasi.

“Karena panas dan kurang minum, tubuh jadi dehidrasi, akhirnya jatuh sakit. Kalau sudah begitu, mereka istirahat dulu dua atau tiga hari. Kalau setelah tiga hari belum berkurang juga demamnya, baru dijemput oleh orang tua atau wali santri,” kata Syarifah Aini, salah satu pengasuh santri di Baitul Arqam.

Bagi santri yang rumahnya di luar Banda Aceh atau Aceh Besar, pihak pesantrenlah yang membawa mereka ke puskesmas terdekat.

Saat tidur pun, para santri lebih suka tidur di lantai ketimbang di kasur. Meskipun di setiap kamar ada kipas angin, tetapi tak banyak membantu. Tak jarang, ada juga santri yang mandi di malam hari untuk mengurangi rasa panas.

“Kasihan anak-anak, mereka seharusnya bisa tidur dengan nyaman dan cukup karena mereka juga perlu berkonsentrasi untuk belajar, tetapi suhu akhir-akhir ini memang terasa sangat panas. Kadang-kadang ada yang ke ruang kelas pun membawa kipas angin portabel,” kata Aini.

Perubahan Iklim dan Rantai Berbagai Problema

Ayu dan ibunya, Zubaidah. @Ihan Nurdin/perempuanleuser.com

Apa yang terjadi pada Ayu barangkali dianggap sebagai situasi biasa saja. Toh, tak hanya Ayu, ada banyak anak di Aceh yang mengalami putus sekolah karena berbagai faktor. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, pada tahun ajaran 2020/2021 setidaknya ada 1.849 anak di Aceh yang putus sekolah mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK. Dengan angka masing-masing 853 anak; 448 anak; 290 anak; dan 258 anak (Katadata.co.id). Nama Ayu Maghfirah bisa jadi salah satu yang termasuk dalam pendataan itu.

Namun, yang barangkali belum banyak diketahui atau tidak disadari, anak-anak seperti Ayu putus sekolah karena perubahan iklim. Lebih tepatnya, oleh kemiskinan yang dipicu oleh efek perubahan iklim.

“Ya, karena persoalan perubahan iklim ini bisa merembet ke mana-mana dampaknya, bisa ke sosial-ekonomi, bisa juga ke masalah kesehatan, bahkan bisa memicu problem sosial lain, seperti rebutan air untuk kebutuhan pertanian,” kata Dr. Saumi Syahreza, S.Si., M.Si., Koordinator Divisi Bencana Hidrometeorologi dan Perubahan Iklim Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, Selasa, 19 September 2023.

Jika dikaitkan dengan konteks kemiskinan di Aceh, menurutnya memerlukan kajian khusus apakah dampak dari perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan angka kemiskinan di Aceh. Namun, jika melihat ciri-ciri yang ditimbulkan akibat perubahan iklim, jelas-jelas kekeringan dan bencana hidrometeorologi lainnya termasuk di dalamnya. Yang membuat petani gagal panen atau nelayan berkurang hasil tangkapannya. Apalagi, jika melihat data BPS Aceh, kemiskinan terbesar di Aceh terjadi di perdesaan dengan persentase mencapai 17,06 persen (BPS, 2022) dari total 818,47 ribu penduduk miskin di Aceh.

“Kekeringan yang terjadi akibat perubahan pola hujan tentu saja dapat menyebabkan terjadinya gagal panen atau menurunnya kualitas hasil panen, ” katanya, “tak hanya kekeringan, perubahan iklim juga bisa meningkatkan risiko hama pada tanaman, seperti belalang atau wereng,” ujar dosen Jurusan Fisika FMIPA USK itu.

Saumi menjelaskan, perubahan iklim secara sederhana dapat dipahami pada kondisi berubahnya suhu dan cuaca di Bumi. Perubahan ini dapat terjadi secara alamiah oleh berbagai sebab. Namun, yang menjadi catatan adalah perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia, seperti industrialisasi, penggunaan bahan bakar fosil, deforestasi, dan penggunaan barang-barang elektronik yang memicu peningkatan emisi gas rumah kaca.

“Emisi gas rumah kaca ini dapat memerangkap panas matahari di atmosfer dan secara umum perubahan naiknya suhu Bumi terjadi karena meningkatnya efek gas rumah kaca ini,” katanya.

Dr. Saumi Syahreza, S.Si., M.Si. @Ihan Nurdin/perempuanleuser.com

Bila ditilik dari aspek kesehatan, kekeringan ataupun kelembaban yang disebabkan oleh perubahan iklim dapat memicu perpindahan alergen melalui pergerakan angin. Bisa juga menumbuhkan spora atau jamur yang menjadi bibit-bibit penyakit. Namun, karena bentuknya yang sangat halus sehingga tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

“Alergen-alergen inilah ‘biang kerok’ penyebab terjadinya alergi, demam, bahkan radang mata pada kelompok-kelompok rentan yang susah beradaptasi pada perubahan tersebut. Terutama pada anak-anak dan lansia,” kata Saumi.

Apa yang dialami Aijaz, Fathia, atau Biyya setidaknya menjadi tesis dari apa yang disampaikan oleh Saumi. Pergerakan angin kata Saumi, juga dapat menerbangkan radiasi-radiasi yang dipantulkan matahari kepada benda-benda yang bersifat konduktor atau penghantar panas, seperti aspal atau logam. Jadi, semakin banyak bangunan di suatu tempat dan semakin sedikit ruang-ruang terbuka hijaunya, maka semakin besar terjadinya hantaran panas. Semakin tinggi pula paparan radiasi atau alergen tadi.

Saumi sendiri merasakan jika suhu di Banda Aceh cenderung meningkat. Bahkan, kata Saumi, jika merujuk pada data situs meteoblue.com, menunjukkan tren temperatur udara di Banda Aceh dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Hasil penelitian Saumi dan rekan-rekannya di TDMRC juga menunjukkan adanya kenaikan permukaan air laut di Banda Aceh akibat perubahan iklim.

Cuaca mendung membuat murid MIS Lamgugob Banda Aceh bermain dengan nyaman di halaman sekolah. @Ihan Nurdin/perempuanleuser.com

Anak-anak memang rentan dengan perubahan iklim. Anak-anak, seperti dijelaskan oleh dr. Liza Fathiariani, pernapasannya lebih cepat dan udara yang dihirup lebih banyak dibandingkan orang dewasa.

“Akibatnya,” kata dokter yang rajin ngeblog untuk memberi edukasi tentang kesehatan dan parenting ini, “udara yang dihirup anak-anak lebih banyak sehingga kalau udaranya kotor atau berpolusi, maka gas polutan seperti nitrogen akan lebih banyak terhirup dibandingkan orang-orang dewasa,” ujar dr. Liza yang sehari-hari bertugas di RSJ Aceh.

Bagi anak-anak yang punya bakat alergi, maka perubahan iklim dapat memicu munculnya alergi. Di antara gejalanya, hidung tersumbat, gatal-gatal, atau bersin-bersin. “Partikel-partikel polutan itu menjadi penyebab alergi,” katanya.

Dalam sebuah jurnal berjudul Climate Change and Allergic Diseases: An overview yang terbit tahun 2022, perubahan iklim telah memengaruhi banyak aspek dalam kehidupan manusia. Cuaca ekstrem tidak hanya menyebabkan panas dan kekeringan, banjir, angin topan, atau menurunnya produktivitas pertanian, tetapi juga menyebabkan migrasi spesies, distribusi penyakit yang ditularkan melalui vektor, air, udara, maupun makanan.

Perubahan iklim selanjutnya dapat berdampak pada kesehatan secara tidak langsung yang menyebabkan kekurangan gizi, penyakit mental, pengangguran terkait kesehatan, kekerasan, hingga konflik.

Sebagaimana disampaikan Saumi, dampak-dampak akibat perubahan iklim memang ibarat jalinan rantai panjang yang akan memicu satu demi satu persoalan. Selain beradaptasi, juga diperlukan langkah-langkah mitigasi, seperti memperbanyak ruang terbuka hijau.

Setidaknya, agar anak-anak seperti Ayu masih bisa menyimpan secuil harapan akan masa depan yang cerah. Atau anak-anak seperti Aijaz, Fathiya, dan Biyya bisa belajar dengan tenang dan nyaman. Karena merekalah estafet bangsa ini.

“Saya masih bercita-cita menjadi dokter. Sampai sekarang pun saya masih menyimpan cita-cita itu,” kata Ayu menyudahi obrolan. Matahari bergulir. Senja menjelang. Angin menggerakkan dedaunan … pelan … pelan sekali ….[]

Rahasia di Balik Viralnya Kasus Sungai Menggamat

Menggamat adalah sebuah pemukiman yang dikelilingi pegunungan dan sungai-sungai. Wilayah ini terletak jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Masyarakat Menggamat dikenal menghormati tatanan adat setempat. Mereka menjunjung tinggi kearifan sosial yang ramah terhadap kelestarian alam dan lingkungan.

Nilai-nilai keseimbangan alam tersebut dijaga oleh masyarakat Menggamat dari generasi ke generasi. Salah satu bentuk aksi ramah alam tersebut tercermin dari adanya larangan menjala dan meracuni ikan di sungai Menggamat.

Siapa pun yang melanggar aturan tersebut akan diberi sangsi. Seingat saya, aturan tersebut sudah hadir bahkan semenjak saya kecil. Hal tersebut membuktikan besarnya cinta masyarakat Menggamat terhadap keseimbangan alam raya bahkan sejak nenek moyang mereka.

Sewaktu saya masih bersekolah di SMA tahun 2006, kami masih sering mandi di Sungai Menggamat. Masyarakat membuat sumur kecil di pinggir sungai dan mengambil airnya untuk persediaan air minum dan kebutuhan rumah tangga. Hampir seluruh warga desa bergantung hidup pada air sungai tersebut.

Panorama Menggamat dan Krueng Kluet – Sumber Foto Koleksi Pribadi @Eva

Dahulu, kami bisa berenang selama berjam-jam di sungai tanpa ada larangan dari orang tua. Masyarakat setempat membuat rakit dari batang pisang dan mengayuhnya mengaliri aliran sungai yang jernih dan indah. Kami pun bisa memancing ikan dan mencari udang dengan leluasa di sungai ini.

Sungai Menggamat menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat dan keberadaannya telah memberikan manfaat serta mengasah berbagai keterampilan kami selaku manusia.

Sungai Mengamat merupakan salah satu sungai yang mengaliri 9 desa yang ada di kecamatan Kluet Tengah, yaitu Desa Simpang Tiga, Simpang Dua, Mersak, Pulo Air, Kampung Padang, Kampung Sawah, Koto, Malaka dan Jambur Papan.

Selain air sungai yang digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari, Sungai Menggamat juga menjadi tumpuan utama masyarakat untuk mengaliri persawahan dan perkebunan mereka. Sungai Menggamat juga menjadi tempat “mangeri” pada acara khitanan anak-anak desa.

Namun sungguh disayangkan, sejak beberapa tahun terakhir, telah muncul kejanggalan-kejanggalan pada Sungai Menggamat kami. Minimal dua kali, berkisar di antara tahun 2017-2019, saya mendapati langsung kondisi di mana ikan-ikan mati terapung tanpa diketahui penyebabnya di aliran Sungai Menggamat.

Baru-baru ini, kami kembali dihebohkan dengan kondisi air Sungai Menggamat yang keruh bercampur lumpur padahal sebelumnya tidak ada hujan.

Pencemaran Sungai Menggamat Juli 2023 – Sumber Foto Masyarakat Kluet Tengah

Kejanggalan tanda-tanda alam semacam itu tentu menimbulkan tanya di benak masyarakat Menggamat. Belum lagi dengan semakin masif terdengar omelan para ibu yang terus menerus melarang anak-anak mereka untuk mandi di sungai tersebut.

Sebenarnya, ada apa dengan sungai kami?

Masih terngiang di benak kami akan kehebohan saat DLH Kabupaten Aceh Selatan mengambil sampel air di Sungai Menggamat pada 16 Juli 2023 lalu dicek kebenaran kondisi air sungai terkini di laboratorium. Sebagai masyarakat, kami sunggu khawatir akan hasilnya.

Sungai yang airnya biasa kami gunakan sebagai sumber kehidupan sejak dulu, kini sedang mengalami diagnosis. Ada apa sesungguhnya dengan Sungai Menggamat?

Sudah sebulan lebih, setelah pengambilan sampel air, kami belum kunjung tahu hasil analisis kondisi air sungai kami. Apakah hasilnya memang belum keluar atau tidak dipublikasi? Entahlah.

Kenyataan di lapangan sekaligus dukungan pengetahuan dari pemaparan info media tentang Das Aceh Selatan Berubah Warna Diduga Aktivitas Tambang pada tanggal 20 Juli 2023 dan juga penyajian data dari Situs Berita Lingkungan, Mongabay pada 4 Agustus 2023 lalu terkait kerusakan alam dan lingkungan hidup di Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, Indonesia, tentu membuat kami, selaku masyarakat adat setempat, merasa marah.

Pernyataan Sikap Masyarakat – Sumber Foto Masyarakat Kluet Tengah

Kembali ke cerita tentang kondisi air Sungai Menggamat. Sejauh yang masyarakat tahu, sampel air sungai yang mengeruh pada bulan Juli lalu telah dikirimkan ke Baristan Banda Aceh untuk dilakukan uji laboratorium. Saya berharap kepada seluruh masyarakat, terutama awak media untuk ikut memantau proses ini dan mendukung Kadis DLH Kecamatan Aceh Selatan, Bapak Teuku Masrizal, untuk segera memublikasikan hasil uji laboratorium terhadap sampel air Sungai Menggamat tersebut.

Kami yakin pemerintah akan mengambil langkah bijak dalam melindungi kebaikan Sungai Menggamat serta kesehatan dan kesejahteraan kehidupan masyarakat setempat dengan tetap menjaga kearifan lokal yang erat kaitannya dengan kelestarian alam dan lingkungan hidup.

Derita Ibu dan Anak di Balik Pencemaran Sungai Menggamat

Pada Rabu, 16 Agustus 2023, saya merasa miris melihat kondisi terkini kampung halaman saya, di Menggamat, Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Sebuah desa yang dikelilingi gunung yang seharusnya memiliki sumber air yang sehat, tapi justru kini mengalami pencemaran air yang parah.

Kawasan hutan yang menjaga dan menjadi tumpuan kehidupan kami pun mulai sirna. Segalanya berubah menjadi petaka bagi kami selaku masyarakat disebabkan oleh ‘ulah tangan-tangan jahil’.

Sungai Menggamat mengaliri 9 dari 13 desa di Kecamatan Kluet Tengah. Sumber air bersih itu, kini dalam kondisi mengkhawatirkan. Air sungai kini berubah pekat.

Dua tahun terakhir, banyak emak-emak yang melarang anak-anak mereka untuk mandi di sungai. Keluhan gatal-gatal menjadi alasan masyarakat menjauhi Sungai Menggamat. Kami pun kebingungan akan unsur apa yang kini dikandungnya?

Pencemaran Sungai Menggamat - Koleksi Foto Forum Komunitas Kluet Tengah

Pencemaran Sungai Menggamat Juli 2023 – Sumber Foto Masyarakat Kluet Tengah

Sungai yang sudah puluhan tahun menjadi sumber kehidupan masyarakat akar rumput, kini telah berubah menjadi sumber bahaya. Saya bingung dan mempertanyakan kenapa?

Tak dapat dimungkiri, sumber air bersih menjadi pondasi keluarga yang sehat. Jika sumber air tak lagi bersih, maka awal kerusakan tatanan kehidupan dalam keluarga timbul.

Jika keluarga sudah tak lagi sehat, maka kesengsaraan dan kemiskinan akan melanda suatu daerah. Jika kerusakan sumber air tersebut tidak kunjung diantisipasi, maka efek negatif tersebut yang akan dirasakan oleh masyarakat di Kecamatan Kluet Tengah ke depan.

Pernyataan Sikap- Sumber Foto Masyarakat Kluet Tengah

Suara Para Ibu

Perempuan, terkhusus ibu, adalah orang pertama yang akan merasakan langsung dampak dari kerusakan lingkungan di sekitarnya. Sebab sebagai ibu, kamilah orang pertama yang sadar betapa penting kehadiran air bersih untuk keluarga tercinta.

Koleksi foto masyarakat Kluet Tengah, Aceh Selatan

Masyarakat Kluet Tengah – Sumber Foto Masyarakat Kluet Tengah

Para ibu merupakan orang yang paling sering membutuhkan air bersih setiap waktu. Air bersih digunakan untuk memasak, mencuci, mandi, bahkan untuk sekadar minum. Kehadiran air bersih menjadi sangat penting untuk menjamin kesehatan keluarga.

Saat air macet, apalagi tercemar dan rusak, para ibulah yang menjadi orang pertama yang menerima keluhan dari anak-anak mereka. Semisal keluhan yang timbul akibat anak-anak mandi di sungai yang sudah tercemar.

“Bu, badanku gatal. Di sini gatal, di situ juga gatal,”.

Lelah dan kebingungan dengan kondisi yang harus dicarikan solusi, kami pun akhirnya hanya mampu melarang anak-anak kami untuk tidak mandi di sungai lagi.

Mandi di sungai merupakan kegembiraan bagi anak-anak di kampung kami. Tempat mereka tumbuh dan berkembang, serta menyatu dengan alam. Anak-anak belajar banyak dari interaksi mereka dengan alam sekitar.

Tapi kini, lihatlah, kami terpaksa melarang mereka untuk mendekati alam, tempat terbaik di mana seharusnya mereka dapat belajar dan membangun interaksi sosial. Sebab alam yang telah tercemar menjadi berbahaya, kondisi tersebut terbukti dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan otak anak kami di sini.

Koleksi foto masyarakat Kluet Tengah, Aceh Selatan

Demo Masyarakat- Sumber Foto Masyarakat Kluet Tengah

Lantas, siapa yang akan bertanggung jawab terhadap kejahatan ini?

Saya seorang ibu, warga asli Menggamat, mengimbau kepada seluruh masyarakat, termasuk kaum ibu, untuk dapat bersama-sama menjaga sumber air kita dan mencegahnya dari dampak pencemaran.

Demi meredam kegelisahan ini, saya berharap kepada DLH Kabupaten Aceh Selatan untuk dapat memublikasikan segera hasil uji lab dari pencemaran air sungai Menggamat yang telah dilakukan pada bulan Juli 2023 lalu. Sekian dan terima kasih. []

Dilaporkan langsung dari Menggamat oleh tim Perempuan Peduli Leuser. Tanda tangan petisi di link ini: https://chng.it/HmG4DZh5RC

Kepunahan Satwa Liar; Hal yang Tak Tergantikan oleh Uang

“Pesan nenek, ‘Orang yang dekat dengan Allah maka akan dekat juga dengan hewan ciptaan Allah.’ Nyatanya hewan juga mengetahui apa yang kita lakukan, perbuatan baik maupun jahat,” jelas Tgk. Hj. Rahimun, S. Ag. mewakili Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang hadir sebagai pemateri FGD Teungku Inong yang digelar di Aceh Barat pada 28 Juli 2023.

Teungku Inong merupakan sebutan yang disematkan kepada para perempuan ulama di Provinsi Aceh. Umumnya mereka memimpin pesantren tradisional (dayah), mengajar Al-Qur’an dan hadis, juga penceramah, dan biasanya memiliki sejumlah jemaat.

Focus Group Discussion alias Diskusi Kelompok Terarah dengan tema “Perlindungan Satwa dalam Perspektif Syariat Islam” ini menghadirkan 15 Teungku Inong dari berbagai wilayah di Provinsi Aceh untuk mendiskusikan tantangan dan peluang terhadap penjagaan keberlangsungan hidup satwa liar di Aceh melalui dukungan Fatwa MPU Aceh Nomor 3 Tahun 2022 tentang Perburuan dan Perdagangan Satwa Menurut Perspektif Syariat Islam.

Keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada kesinambungan penjagaan alam semesta beserta isinya, maka kehadiran program ini menjadi penting.

“Kerusakan hutan kita semakin parah jika dibiarkan begitu saja. Penting untuk mencari solusi bersama dalam menjaga kekayaan alam kita,”

papar Munira mewakili Yayasan HAkA (Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh) selaku pihak penyelenggara program.

Selaras dengan tujuan program, Ummi Hanisah selaku pimpinan Dayah Diniyah Darussalam—tempat acara ini dilaksanakan—menambahkan, “Dengan adanya Fatwa MPU, terjadi sinkronisasi dalam mengatasi kerusakan yang ada di lingkungan hidup kita. Merupakan langkah mulia untuk menjaga keberlangsungan hidup alam semesta bersama-sama.”

Sejalan dengan itu, Dra. HJ. Zikriati, MA, pembina Dayah Darul Muta’allimin yang turut serta dalam program FGD Teungku Inong ini menjelaskan bahwa istilah perburuan identik dengan sesuatu yang dikejar.

Menurutnya, “Boleh diburu tapi dengan cara yang dibenarkan. Namun yang sekarang ini sering terjadi perburuan itu kepada hewan yang dilarang.”

Menurut Fatwa MPU, terdapat satwa liar yang boleh diburu jika halal dimakan, tapi jika sudah hampir punah tidak boleh diburu lagi. “Jika dilarang berarti hampir punah, tidak boleh dimakan lagi sebab tergolong dalam satwa yang dilindungi,” papar Ummi Rahimun.

Kemudian, Ummi Rizqi dari Manggamat menamai fenomena masifnya perburuan satwa liar yang dilakukan oknum tertentu semata untuk pamer di media sosial sebagai bagian dari ‘hobi yang tak lazim’. “Mungkin awalnya disebabkan faktor ekonomi, mereka melakukan perburuan liar karena desakan, tapi kemudian menjadi candu,” sesalnya.

Pada kenyataanya, Fatwa MPU Aceh Nomor 3 Tahun 2022 poin kelima menegaskan bahwa,

‘Berburu Satwa Liar yang tidak halal dimakan adalah dilarang’.

Hal tersebut dipertegaslangsung oleh Ummi Rahimun dalam sesi FGD Teungku Inong. Dia memaparkan,

“Manusia tidak sanggup menggantikan makhluk yang Allah ciptakan. Maka janganlah kamu punahkan binatang ciptaan Allah. Apabila sembarangan membunuh binatang, maka hukumnya haram, itu perlakuan menyimpang (fasad).”

Efek Jera

“Tidak ada satu pun ciptaan Allah yang tidak berguna. Sayangnya kita sebagai manusia tidak mau tahu manfaat kehadiran ciptaan Allah itu,” sebut Dr. Zalikha, M.Ag., sebagai salah satu peserta FGD. Menurut kisahnya, saat berusia 10 tahun, dia masih menemukan banyak kehadiran Burung Toktok Beuragoe yang khas dengan bunyi pelatuknya. Menurut Ummi Zalikha, kini burung tersebut sudah semakin sulit ditemukan keberadaannya.

Terkait semakin tingginya rasio kepunahan burung khas daerah ini, Ummi Rahimun turut menjejali sesi diskusi seru tersebut dengan pengalamannya. “Burung Enggang biasa saya sebut Ak-Ak. Jika dia berkicau di pagi hari, itu tandanya anak-anak sudah harus bersiap berangkat ke sekolah.” Kenangan keakraban tersebut jelas mencerminkan betapa hubungan timbal balik antara satwa liar dan masyarakat Aceh pernah terjalin begitu dalam.

Sejalan dengan cerita tersebut, Ummi Hanisah dalam sesi diskusi turut mempertegas bagaimana keterkaitan hubungan antara manusia dengan alam semesta benar adanya. Dia memaparkan, “Kalau kita tidak menggangu satwa maka mereka pun akan menjaga kita. Saat kita tidak bersahabat lagi dengan alam, maka bencana yang merugikan kita bisa terjadi.Sebab kita memiliki keterikatan emosional terhadap satwa dan alam sekitar.”

Pernyataan terkait efek jera dari kepunahan satwa sekaligus kerusakan alam itu turut disetujui oleh peserta lainnya. “Kelak generasi kita tidak dapat lagi belajar langsung dari alam. Mereka hanya bisa belajar lewat internet atau buku bergambar,” papar Teungku Masyitah asal Aceh Timur gundah. Dia menjelaskan bahwa perilaku dan gaya hidup masyarakat yang tidak melestarikan lingkungan demi kepentingan pribadi mesti diganti. Sebab penjagaan alam harus dilakukan bersama-sama.

Memugar rasa

“Kami memanggil gajah dengan sebutan datok. Dulu masyarakat tidak takut gajah karena tidak mengganggu gajah. Namun sekarang banyak sekali masyarakat membuka lahan di habitat gajah. Hal tersebut merusak habitatnya.” Jelas Ummi Lia membeberkan fenomena terkini yang terjadi di wilayah Tamiang.

Hilangnya kepekaan rasa akan hubungan timbal balik antara manusia dan alam semesta diduga para peserta menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kejahatan terhadap satwa. Selain itu, faktor ekonomi, ketidaktahuan, dan keserakahan menjadi alasan tambahan terjadinya perburuan dan perdagangan satwa liar yang semestinya dilindungi.

“Saya punya hubungan emosional dengan harimau. Dulu, orang tua saya memiliki harimau penjaga, rimueng itam (harimau hitam). Waktu kecil, mereka sering memberi makanan harimau tersebut,” kisah Ummi Rahimum memaparkan keakraban yang terjalin antara masyarakat Aceh dahulu dengan satwa liar di sekitar mereka.

Selayaknya yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 41 yang berisikan larangan bagi manusia untuk merusak bumi. Maka sudah seharusnya masyarakat Aceh, Indonesia, bahkan dunia memahami pentingnya mempunyai keterhubungan rasa terhadap eksistensi alam semesta beserta isinya.

“Rasa sekarang ini sudah jarang di masyarakat, sebab kebanyakan orang hanya mengedepankan logika dan teknologi. Semoga kita kembali sadar untuk memiliki keterikatan rasa terhadap segala ciptaan Allah. Sebagai khalifah, mari kita junjung tinggi perintah Allah untuk menjaga alam dan seluruh isinya,” harap Ummi Rahimun mewakili MPU Aceh. []

[Wawancara]: Ampon: Kami Tidak Berani Ambil Risiko

0

Pembangunan rumah susun bagi santri Dayah Darul Ihsan H. Tgk. Hasan Krueng Kalee berakhir mangkrak. Bangunan tersebut sudah terbengkalai sejak Desember 2022. Sebagian semen di tiang pondasi dan lantai sudah mulai terkikis dan retak. Berdasarkan informasi yang didapat Tim KJI Aceh dari pihak pesantren, semua barang-barang material yang tersisa di lokasi sudah diambil oleh para pekerja.

 Jika dilihat dari kontrak, semestinya pembangunan rusun tersebut sudah selesai dikerjakan pada Desember 2022 dengan masa pengerjaan selama 120 hari (4 bulan). Hingga Mei 2023, bangunan tersebut masih berbentuk kerangka bangunan dua lantai, belum ada dinding dan atap yang terpasang dan kayu-kayu penyangga di lantai dua masih berjejer rapi, begitu juga dengan lantai satu.

Kontraktor proyek adalah CV Asolon Utama dengan nilai pagu Rp3,5 miliar dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Perusahaan ini kerap menerima proyek pembangunan di Aceh. Sebelumnya, Tim KJI-Aceh menghubungi pemilik CV Asolon, Riswansyah, lewat email. Ia hanya menjawab singkat dan mengaku sedang berada di luar Aceh. Ia mengarahkan Tim KJI-Aceh untuk menemui Teuku alias Ampon, Project Manager CV Asolon Utama. Berikut petikan wawancara Ampon kepada Tim KJI-Aceh saat di temui di Taufik Kupi Jl. Pocut Baren Banda Aceh, Kamis, 25 Mei 2023.

Bagaimana awal mula CV Asolon mendapatkan proyek proyek rumah susun Pondok Pesantren Darul Ihsan?

Jadi tahap awal lelang pertama itu kami mengikuti lelang melalui Kementerian PUPR. Sebelum memasukkan penawaran, kami melihat lapangan terlebih dahulu. Ternyata lahannya sudah oke dan bisa kerja. Cuma kondisi jalan saja yang tidak bisa digunakan jika masuk alat berat.

Di tengah perjalanan setelah jadi kontrak, tanda tangan kontrak, kami ke sana lagi dan ternyata sudah ada bangunan lain. Sebelum dipasang crane itu, area sekitar 20×40 meter persegi itu belum ada bangunan. Jadi ternyata mereka dapat proyek juga dari APBA, APBK, dan APBN. Tiga dapat dia, termasuk hebat pesantren itu.

Kenapa tidak langsung membangun?

Saat itu, saya selaku teknik lapangan tidak berani untuk melakukan pancang karena jaraknya itu antara dinding mereka ke pondasi kami sekitar 4-5 meter. Itu akan otomatis sewaktu kita pancang akan terjadi diagram pancang play media. Jadi akan berpengaruh bergeser pondasi mereka dan bisa patah. Jadi saya kala itu tidak berani. Sebab bangunan yang baru dibangun itu akan patah kalau kita paksa bikin pemancang.

Apa tindakan selanjutnya?

Setelah itu kami melapor ke Satker lalu rapat. Kami menunggu kepastian jawaban dari pihak satker, sebelum pemasangan tiang. Kami takut juga jadi masalah, kecuali Satker berani mengeluarkan surat perintah melaksanakan pengerjaan, jadi nanti resiko ditanggung sama Satker.

Akibatnya jadi berlarut larut. Kami dari perusahaan minta kesatker jangan lama -lama beri kepastian, sebab sudah berjalan dua minggu. Kami sudah mengajukan untuk review desain, untuk permohonan bore pile. Jadi kami ajukan dulu, lalu rapat dengan satker dan balai, rapat, rapat. Setelah itu kami mulai menghitung struktur ulang karena tidak ada konsultan yang mau lagi menghitung. dan kami khawatir nanti berubah desainnya, bebannya kan berubah lagi, jadinya menghitung struktur kekuatan bangunanya. Kalau desai dulu pancang, itu kan sudah include, kita tidak usah menghitung lagi. Jadi kita lakukan uji sondir kemarin. Ternyata kemarin ada perubahan dari pemerintah harus jadi 10 meter bore pile kedalamannya jadi harus bertambah karena bebannya. Kemarin sekitar 4-5 meter.

Apakah anggaran ikut bertambah?

Skenario tadi tidak membengkakkan anggaran, justru lebih hemat sedikit. Kalau pancang lebih mahal karena harus dimobilisasi. Nah alasan kita tidak berani itu pertama karena jarak spasi antara bangunan proyek kita dan bangunan baru itu terlalu dekat jaraknya. Kedua, akses untuk memasukkan jalan crane juga susah karena jalanan sempit. Itulah yang menguntungkan kami dikeluarkan justifikasi untuk mengeluarkan adendum perubahan kontrak. Karena kita bukan satu, semua lokasi seperti itu di pesantren lain.

Jadi kami rapat dengan Satker mencari cara supaya ada perubahan dan persetujuan lagi. Jadi akhirnya ada satu keputusan setelah 45 menunggu. Coba bayangkan dari hari kontrak berapa hari sudah terbuang waktu. Sementara deadline itu Desember 2022.

Apa penyebab proyek itu mangkrak?

Proyek kemarin itu tidak ada bank guarantee (BG). Kalau dikasih, mungkin proyek tetap bisa jalan. Di paket APBN ini Kami ada enam paket yang sama yakni merehab bangunan. Ada yang selesai. Yang lain struktur, dan  ini gak siap semua. Ada yang beda, ada yang berbobot, ada yang tinggi lagi, pokoknya rata-rata enggak Jadi ini alasan mangkraknya.

Ini terus terang saya bilang, ini ada campur tangan dari pihak pesantren. Kami dari awal dulu bekerja siang malam, mereka maunya kami dipotong kontrak saja. Jadi saya lihat di sini tidak semua pihak mendukung 100 persen proyek tersebut. Misalnya jalan akses malah di pagar. maunya biarlah kami lewat dari satu pagar itu. Sewaktu itu jalannya terbuka, kadang ditutup, saat terakhir pekerjaan malah ditutup. Kami sudah buat jalan, jadi anggaran jalan kami saja sudah besar. Itu pakai dana pribadi perusahaan.

Jadi kami memperhitungkan, apabila itu macet itu parah tidak bisa masuk karena kita alat berat semua masuk. Jadi waktu dulu kami masuk di sini, malah ditutup. Lalu saat mau dibangun, tiba-tiba ada bangunan lain. Perencanaan tidak salah.

Tapi ada perubahan desain. Kami juga menghitung ulang struktur karena ada bangunan lain di sampingnya. Itu makan waktu, gak bisa hanya satu-dua minggu. Pembahasan lagi, hitung lagi ulang, sampai hitungan hari ke-46, itu ada berita acaranya ada di Satker. Kami rapat itu ada setiap hari rapat. Jadi kita kejar terus.

Apakah pihak pesantren memberitahu ada pembangunan lain kepada pihak CV Asolon?

Maunya dari pesantren memberi tahu soal itu terlebih dahulu. tapi ini tidak ada pemberitahuan sama sekali, jika ada, mungkin kami akan menyesuaikan perencanaan itu. Mereka ini kan juga tidak mau rugi dan lari dari perhitungannya.

Berapa lama proses masa pelelangan?

Lebih satu bulan dari masukan pelelangan. Kalau APBN cepat sedikit prosesnya, gak kayak APBA. Pokoknya mereka dikejar karena waktu. Tetapi kalau seandainya waktu tidak ada perubahan desain kemungkinan kita di-finishing itu mungkin bisa dibantu. Minusnya, di-finishing kita. Karena dia kalau ini sudah mengejar atap, kita sudah enak kerja di dalamnya.

Benarkah proyek ini bisa disebut gagal?

Kalau dibilang 100 persen hancur kali, enggak juga. Misalnya karena tanah timbun, kami susah masuk ke dalam. Item pekerjaan kita kan K300, jadi tidak bisa kita cor pakai molen. Kita sediakan molen di situ kemarin apabila ada kekurangan. Paling misal ada kekurangan 0,3 mm. Itu perlu kita aduk.

Jadi kalau pakai molen kita tidak bisa masuk dan harus menunggu sampai seminggu. Kalau kita bongkar jalan ini akan habis lagi uang sekitar Rp 200 juta dan bikin nambah kerjaan. Kami minta naikkan itu tidak ada anggaran. Di situlah kontraktor selama ini terjadi masalah. Jadi ujungnya imbas di pelaksana, di kontraktor disalahkan. Seharusnya ada biaya untuk jalan. Misalnya, habis Rp100 juta kami siap tanggung Rp50 juta.

Tidak ada anggaran untuk prasarana jalan?

Tidak termasuk. Itu mereka gak mau menanggung, maka gak kami buat. Kami kalau di APBN ini setiap minggu rapat. Terkadang di lapangan nge-zoom. Ada lagi terkadang masalah finansial.

Kalau dihitung, berapa persen pengerjaan yang sudah dilaksanakan?

Sekitar 42 persen. Kalau target saya 45 persen kemarin. Karena kemarin ada yang tidak dihitung jadi kita tidak bisa membuat apa-apa lagi, yaudah lah. Pokoknya, ketimbang itu anggaran uang muka baru tarik dan belum habis masih ada uangnya karena luncurnya tahapan. Habis itu kami tidak ada bobot lebih, tidak taring uang. Misalnya bobot Rp 30 juta, tapi tarik Rp 60 juta, itu tidak ada. Baru uang muka kami tarik.

Berita terkait: Proyek Mangkrak Dayah Darul Ihsan Krueng Kalee

Jadi karena hitungan, dipotong uang muka, sehingga berapa sisa. Uang muka berapa persen. Apa 20 persen atau 30 persen, kalau 30 persen berarti masih ada lebih berapa persen. Kalau 20 persen, berarti ada lebih lagi uang yang harus dikembalikan. Pokoknya volume harus sesuai.

Mereka itu mungkin sudah melihat dan mengasumsikan ini tidak akan terkejar lagi sampai siap. Jadi yang kita sesalkan kenapa tidak ada BG atau bank garansi. Kalau APBN ini kan tidak ada kebijakan.

Apa proyek ini berdampak karena meninggalnya Kepala Satker Diaz Rossano?
 Sampai saat ini belum ada pembicaraan. Lagi pula sudah putus kontrak. Tidak ada hak kita untuk itu. Cuma tinggal bersiap nanti jika ada hal-hal mungkin nanti masuk audit Badan Pemeriksa Keuangan. Itu pasti nanti masuk di administrasinya. Nanti di akhir tahun, siap gak siap tetap masuk BPK. Ini uang sudah tersalur segini, mereka sudah menilai sendiri kemarin.

Benarkah pekerja mengambil material bangunan karena tidak dibayar kontraktor?
 Tukang memang sudah duluan pulang, kita sudah bayar gaji. Kita pakai tenaga dari Medan, kita kemarin ada orang di Banda Aceh sekitar hampir 2 orang. Yang di situ sekitar 30 orang kita pekerjakan, sebelum kita siap itu sudah dipotong. Jadi terus terang saya bilang, kalau soal hasil pekerjaan, itu saya memang kecewa dengan tukang. Tidak ada kerapian kerjanya

Tapi kalau yang ambil besi itu, orang perusahaan. Jadi di situ ada dua orang, Fuadi dan Edi. Edi itu orang lapangan yang saya didik di situ, jadi besi itu diambil kemudian dibawa pulang. Jadi tidak ada material yang dijual untuk bayar gaji pekerja, yang ada dibawa pulang ke gudang kita. Dan Pihak perusahaan tahu terkait pengambilan besi dan material sisa karena ada konfirmasi kepada saya.

Pihak pesantren ada membantu proyek?

Saya kurang sreg dengan pihak pesantren. Air kami dimatikan. Padahal kami bayar. Mereka juga mengusulkan supaya pemerintah memotong kontrak kami.[]