Kategori
Literasi Kesehatan Jurnalisme Warga

Cakupan Vaksinasi pada Kelompok Rentan di Banda Aceh Masih Rendah

Banda Aceh — Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Kesehatan terus mengupayakan agar cakupan vaksinasi pada kelompok rentan bisa terus meningkat. Di antaranya dengan melakukan Gebyar Vaksinasi Lansia (GVL). Hingga April 2022, jumlah lansia di Banda Aceh yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis 1 sebanyak 9.722 orang (72,05%); dosis 2 sebanyak 6.904 orang (51,17%); dan booster sebanyak 1.452 (10,76%).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, drg. Supriady M.Kes, mengatakan kelompok rentan dalam hal ini lansia, menjadi sasaran prioritas vaksinasi Covid-19. Rata-rata kematian akibat Covid-19 selama dua tahun ini umumnya terjadi pada lansia dengan usia di atas 60 tahun.

“Lima puluh persen yang meninggal dunia karena Covid-19 di Banda Aceh adalah lansia,” katanya dalam talkshow Memperluas Cakupan Vaksinasi pada Kelompok Rentan yang berlangsung di Radio Serambi FM, Selasa, 19 April 2022.

Lansia pada umumnya juga memiliki riwayat penyakit bawaan atau komorbid seperti diabetes, hipertensi, jantung, atau stroke sehingga imunitas tubuhnya perlu diperkuat dengan vaksinasi. Dengan demikian, tubuh akan lebih siap ketika terpapar oleh virus tersebut.

Berdasarkan data yang dipaparkan Supriady, selain vaksinasi lansia yang persentasenya masih rendah, untuk target vaksinasi anak, disabilitas, ibu hamil dan menyusui juga masih rendah. Anak yang sudah mendapatkan vaksin dosis 1 sebanyak 17.980 orang (62,88%), dosis 2 sebanyak 7.470 orang (26,13%), dan dosis 3 hanya 1 orang (0,00%). Sedangkan ibu hamil dan menyusui untuk dosis 1 sebanyak 11 orang (0,01%), dosis 2 sebanyak 6 orang (0,00%), dan dosis 3 sebanyak 3 orang (0,00%). Adapun disabilitas untuk dosis 1 sebanyak 19 orang (0,02%), dosis 2 sebanyak 14 orang (0,01%), dan dosis 3 sebanyak 2 orang (0,00%).

Secara umum, total cakupan vaksinasi di Kota Banda Aceh sudah mencapai 123,00% untuk dosis 1 (234.048 orang), 89,72% untuk dosis 2 (170,736 orang), dan 16,25% untuk dosis 3 (16,25%). Oleh karena itu, Supriady meminta agar semua pihak bisa bersikap kooperatif dalam program vaksinasi ini. Demikian juga dengan individu yang memiliki anggota keluarga yang masuk dalam kategori rentan, seperti anak-anak, lansia, atau disabilitas, agar bersedia membawa atau mendampingi mereka untuk mendapatkan vaksinasi.

Talkshow ini juga menghadirkan Roos Afrida, warga Banda Aceh. Dalam kesempatan itu Roos memaparkan sejumlah persoalan yang ada di level akar rumput terkait program vaksinasi Covid-19. Di antaranya, keengganan warga untuk vaksinasi lebih karena khawatir terhadap adanya kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI). Pemberitaan yang ada di media terkait beberapa KIPI yang terjadi di kalangan masyarakat menjadi ketakutan tersendiri.

“Ketidakpercayaan terhadap vaksin Covid-19 juga masih ada. Ada juga yang masih percaya pada hoaks seperti tidak mau divaksinasi karena takut disuntikkan microchip ke dalam tubuh,” kata Roos.

Tak hanya itu, munculnya aneka varian Covid-19 dengan nama yang asing bagi masyarakat awal telah menimbulkan persepsi tersendiri bagi masyarakat. Tak jarang nama-nama Covid-19 dianggap sebagai candaan, misalnya, “Kalau ada Omicron berarti ada Tantecron,” kata Roos.

Roos juga menyampaikan harapannya agar pemerintah lebih proaktif lagi dalam memberikan pelayanan vaksinasi kepada warga yang disabilitas. Hal ini karena disabilitas memiliki kendala tersendiri seperti terbatasnya akses ke pusat pelayanan vaksinasi sehingga perlu dilakukan jemput bola.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *