Beranda blog Halaman 14

Respons Positif Warga Desa Bah Aceh Tengah terhadap Vaksin Covid-19

Oleh Maghfudh*

Pada 28 Februari 2022, saya bersama relawan lainnya melakukan perjalanan ke sebuah desa di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh tengah. Perjalanan kami membutuhkan waktu sekitar 7-8 jam dari sekretariat Rumah Relawan Remaja di Banda Aceh. Perjalanan ini bukan tanpa alasan.

Sejak September 2021 hingga sekarang, saya dan lima relawan lainnya bergabung dalam sebuah komunitas bernama Rumah Relawan Remaja dan mengikuti sebuah program dari 3R yaitu (Pustaka Kampung Impian (PKIp). Saat ini kami sedang menjalankan tugas penempatan di Desa Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, sedangkan satu tim lagi di Desa Serempah. Kami bertugas di sana untuk jangka waktu satu bulan.

Berhubung saya sedang berada di desa, sembari berjalan dan menikmati indahnya pemandangan dan juga dinginnya udara, saya menelusuri lorong-lorong dan gang-gang rumah warga yang tersusun dan diadang oleh pemandangan pegunungan yang indah.

Sore 27 Maret 2022, setelah menjalankan kegiatan bersama adik-adik setempat, saya menyempatkan untuk keliling desa dan pandangan saya tiba-tiba mengarah pada sebuah rumah. Di beranda tampak duduk dua anak-anak dan juga dua bapak-bapak, serta ibu yang sedang asyik menyiapkan dagangannya. Saya pun berjalan menuju ke arah mereka. Mereka menyapa saya sembari mengajak mampir dan ngopi bersama. Maklum, di sana kaya akan kopi. Masyarakat sudah terbiasa jikalau ada orang baru selalu mereka suguhkan kopi. Begitulah keramahtamahan dan khasnya tanah Gayo.

Di sela-sela ngopi, salah seorang bapak bernama Sugianto sedang melanjutkan pembicaraan mengenai vaksinasi yang dilakukan di salah satu sekolah yang ada di desa tersebut. Mereka mengatakan, ternyata masih ada anak-anak yang tidak mau vaksinasi karena alasan takut jarum. Selain itu, menurut Sugianto, sebagian orang tua tidak setuju anaknya divaksinasi karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan setelah vaksinasi. Informasi-informasi semacam itu mereka dapatkan dari berbagai platform tanpa saringan.

Untuk akses masyarakat dalam melakukan vaksinasi sangat dipermudah. Berkat kerja sama reje (kepala desa) dan perangkat desa lainnya yang melakukan sosialisasi mengenai vaksin, membuat masyarakat antusias untuk vaksinasi yang dilakukan di kantor reje. Warga setempat sangat berterima kasih kepada kepala desa.

Sugianto saat ini sudah masuk usia 59 tahun, dia sudah melakukan vaksinasi pertama pada 8 Mei 2021 dan yang kedua pada 5 Juni 2021. Begitu pun dengan istrinya Suryani. Awalnya dia mengatakan, pada saat vaksinasi cuma di sekitar bekas suntikan yang agak terasa kebas.

“Tapi untuk lainnya, alhamdulillah tidak ada,” kata Sugianto.

Suryani juga demikian, setelah vaksinasi pertama tidak ada muncul gejala selain kebas di bagian suntikan dan bagian bahu. Namun, saat vaksinasi kedua ada sedikit kambuh asam lambung.

“Sebelumnya Ibu belum ngerasa penyakit lambung, eeh setelah vaksinasi asam lambung Ibu kumat. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit dan sudah mendingan alhamdulillah,” kata Suryani, 58 tahun, yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

Berdasarkan percakapan saya dengan Reje Mude Sedang, bahwa hampir 98% masyarakat dengan kriteria pemuda, remaja dan anak, ibu-ibu, dan juga lansia di Desa Bah sudah melakukan vaksinasi. Selebihnya untuk anak-anak dan lansia memang masih ada beberapa yang belum melakukan vaksinasi karena faktor usia dan penyakit bawaan (komorbid).

Salah satu lansia di Desa Bah, Siti Aisyah yang umurnya sekitar 70 tahun, mengaku bahwa vaksinasi Covid-19 cukup aman. Hingga saat ini nenek tersebut sudah melakukan vaksinasi dua kali. Ia sama sekali tidak merasa takut. Ia mengatakan, pemerintah harus menganjurkan semua orang baik muda atau tua untuk vaksinasi agar sehat dan bisa beraktivitas dengan nyaman di tengah pandemi Covid-19.

Untuk anak-anak sekolah juga ada dilakukan vaksinasi, tetapi kurangnya peran orang tua terhadap sosialisasi kepada anak-anaknya membuat tidak semua anak mau divakasinasi. Kekhawatiran para orang tua bermacam-macam, ada yang mengaku masih ragu dengan kandungan vaksin, ditambah faktor anak-anak tersebut yang takut jarum suntik. Seorang murid SD, Naima Rezeki, mengaku tidak mau divaksinasi karena takut jarum suntik.

Ketika saya bertanya kepada masyarakat secara acak, baik ibu-ibu, bapak-bapak, dan juga pemuda, kenapa mereka melakukan vaksinasi? Umumnya mereka menjawab demi keamanan dan kenyamanan saat bepergian sebab tidak semua kebutuhan tersedia di desa mereka. Sebagian yang lain menjawab, meski mereka berada di desa, tetapi tidak menutup kemungkinan orang luar mendatangi desa mereka dan bukan tidak mungkin membawa virus Covid-19.

“Dengan kita vaksinasi sistem kekebalan tubuh kita akan meningkat terhadap penjagaan melawan virus dan juga kalaupun kita terserang ataupun tertular gejala yang ditimbulkan agak sedikit ringan dibandingkan jikalau kita tidak melakukan vaksin,” ujar seorang warga Desa Bah.[]

Penulis merupakan relawan di 3R dan anggota Komunitas Jurnalis Warga Banda Aceh

Belajar dari Semangat Loshe Lisa Membumikan Vaksinasi di SMP Methodist

Oleh  Munawwar*

Yayasan Methodist merupakan salah satu lembaga pendidikan yang ada di Kota Banda Aceh. Yayasan ini berada di Jalan Pocut Baren Nomor 3 Gampong Mulia, Banda Aceh, dan menaungi empat jenjang pendidikan, yaitu TK, SD, SMP, dan SMA. Untuk tingkat SMP dipimpin oleh Sheilisa yang akrab dipanggil Loshe Lisa. Saya sendiri tercatat sebagai guru PPkN di SMP Methodist Banda Aceh.

Loshe Lisa sangat aktif dalam mengawasi pergerakan peserta didik. Tak jarang bagi peserta didik yang diantar oleh orang tuanya langsung bertemu dengan Loshe Lisa. Melalui sapaan hangat, “Selamat pagi, Nak,” seolah menjadi mantra yang menyemangati peserta disik untuk belajar.

Ketika Covid-19 melanda dunia dan sampai ke Aceh pada Maret 2020, yang diikuti dengan adanya kebijakan pembelajaran jarak jauh, Loshe Lisa menjadi orang yang paling sibuk. Saat saya mewawancarai Loshe Lisa pada awal Maret 2022, beliau bercerita bahwa kehadiran Covid-19 memang memberikan banyak dampak negatif, tetapi juga ada yang positif, “Yakni memaksa kita melakukan perubahan, seperti pola pembelajaran yang berubah, guru-guru juga diberikan pelatihan agar melek teknologi. Membiasakan penggunaan platform seperti Zoom, Google Meet, WhatsApp, Instagram, Google Classroom, dan YouTube,” katanya.

Belakangan ketika pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan vaksinasi, Loshe Lisa sangat memercayai pemerintah, bahkan ia termasuk orang yang melakukan vaksinasi di tahap-tahap awal. Ia percaya melalui vaksin dapat memberikan efek positif untuk kesehatan. Ketika program vaksinasi sudah menyasar anak-anak usia sekolah, ia menyosialisasikan vaksinasi kepada peserta didik dan mengarahkan langsung para orang tua murid melalui personal chatt agar anak-anaknya diberikan vaksin Covid-19. Ia juga mendorong agar semua guru SMP melakukan vaksinasi.

Loshe Lisa juga mengedukasi mereka dengan menceritakan pengalamannya sebelum dan sesudah vaksinasi. Seperti munculnya efek pegal atau perasaan mengantuk dan lapar. Efek ini menurutnya sangat lumrah, bahkan bayi yang diimunisasi pun juga mengalami efek seperti demam setelah disuntik.

“Melalui testimoni langsung dari orang yang mereka kenal, akan membuat mereka percaya dan yakin bahwa vaksin itu aman. Tentunya akan berbeda apabila yang menyampaikan orang yang tidak dikenali,” kata Loshe Lisa tentang strategi “membumikan” vaksin di SMP Methodist Banda Aceh.

Tak berhenti sampai di situ, ia juga membuat seminar tentang Covid-19 dan vaksinasi dengan menghadirkan dokter ke sekolah. Setelah seminar, para guru dan tenaga kependidikan mulai melakukan vaksinasi. Hasilnya, satu per satu guru dan peserta didik mulai minta divaksinasi karena mereka telah memiliki pemahaman bahwa vaksin sangat menolong dalam kondisi pandemi seperti sekarang. Semua guru di SMP Methodist saat ini sudah melakukan vaksinasi sampai tahap dua. Tujuannya agar semua bisa sehat dan bisa menjalankan kegiatan dengan baik.

“Saya juga mencari cara supaya bisa memperoleh vaksin pada jenjang SMP dengan mencari cara siapa yang bisa memfasilitasi. Kebetulan saya memiliki teman di Puskesman Kuta Alam, yang ingin vaksinasi saya antar ke lokasi vaksinasi. Tidak hanya kepada guru, saya juga mengantarkan peserta didik untuk melakukan vaksinasi bagi yang tidak bisa diantarkan oleh orang tuanya,” ujarnya penuh semangat.

Loshe Lisa memang tidak mengundang vaksinator ke sekolah karena jumlah peserta didik yang belum melakukan vaksinasi jumlahnya sedikit. Dalam hal vaksinasi Loshe Lisa memang sangat fokus dan ia mengurusnya sendiri. Tak heran jika ia hafal berapa jumlah peserta didik yang sudah mendapatkan vaksin. Ia menamsilkan vaksin itu seperti benteng bagi tubuh. Saat ini sebanyak 153 peserta didik jenjang SMP sudah melakukan vaksinasi. Hanya satu orang yang belum mendapatkan vaksin. Ternyata setelah beliau cari tahu, yang belum vaksinasi ini karena dilarang oleh orang tuanya.

“Orang tuanya sudah melakukan vaksin, tetapi mengalami gejala yang kurang enak dan trauma,” katanya menceritakan perihal satu murid yang belum vaksinasi.

Pelajar SMP Methodist Banda Aceh

Ia juga memberikan motivasi kepada peserta didik mengenai pentingnya vaksin dan bahaya Covid-19, sehingga mereka bisa mengedukasi orang tua dan keluarga di rumah dengan memberikan pemahaman seperti yang didapatkan di sekolah. Jangan sampai orang tua mereka termakan berita-berita hoaks tentang vaksin. Setiap pertemuan di kelas Loshe Lisa tak bosan-bosannya menyampaikan kepada peserta didik, “Ayo kalian ngomong dan menyensor informasi!”

Meski sekarang semua peserta didik dan guru sudah divaksinasi dan sekolah mulai tatap muka, tetapi protokol kesehatan tetap diberlakukan dengan ketat. Setiap orang yang masuk ke sekolah harus mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau dengan hand sanitizer.

Ketika akan masuk ke ruang belajar senantiasa dicek suhu tubuhnya dan dicatat di buku yang telah tersedia. Begitu juga saat pulang, suhu tubuh siswa kembali dicek.  Saat waktu istirahat, peserta didik tidak boleh ke mana-mana. Mereka harus makan di ruang kelas karena kantin tidak boleh dibuka untuk menghindari terjadinya kerumunan. Peserta didik diharuskan membawa bekal dari rumah atau diantar oleh orang tua saat waktu istirahat. Selain iu juga peserta tidak diperbolehkan meminjam alat tulis temannya. Apabila mereka diminta ke depan untuk menjawab pertanyaan di papan tulis, maka harus menggunakan spidol sendiri.

Jika ada peserta didik yang sakit seperti batuk atau pilek, mereka tidak diizinkan belajar secara tatap muka, tetapi melalui pembelajaran jarak jauh. Namun, jika mereka mengalami sakit di sekolah, maka diminta pulang setelah dijemput oleh orang tuanya. Begitu juga jika ada peserta didik yang pergi ke luar kota, maka ketika masuk sekolah diwajibkan melakukan tes antigen. Jika hasilnya negatif baru diizinkan mengikuti pelajaran sebagaimana biasanya.

Loshe Lisa juga sangat memperhatikan imbauan pemerintah tentang tata cara belajar di masa pandemi. Misalnya dengan memperhatikan jarak antarmeja yang harus terpaut 1,5 meter. Dalam satu ruangan hanya terisi oleh 18 peserta didik. Pada awal pembelajaran tatap muka jenjang SMP, pihak sekolah mengeluarkan surat dengan pemberitahuan ketentuan, pengantaran, penjemputan peserta didik, dan area parkir kendaraan. Orang tua tidak boleh lama-lama di area sekolah setelah mengantarkan peserta didik karena semakin lama akan menimbulkan kerumunan.    

“Vaksin itu hanya salah satu cara agar membuat imun tubuh lebih tinggi, tapi bukan berarti membuat kita tidak tertular. Setekah vaksinasi pun bisa tertular hanya saja gejalanya lebih ringan,” demikian Loshe Lisa selalu menjelaskan kepada orang-orang di sekitarnya. Menurutnya hal ini penting diberitahu agar orang-orang tetap menjaga prokes.

Ia selalu berprinsip, bahwa para orang tua telah memercayakan anak mereka kepada pihak sekolah sehingga perlu menjaga kepercayaan itu dengan tanggung jawab penuh. Peserta didik harus dijaga dengan baik dengan memberi instruksi yang jelas tentang wajib masker, menjaga jarak, tidak berkerumun, diantar dan dijemput pada waktunya. Semoga pandemi cepat berakhir.[]

Penulis adalah guru SMP Methodist Banda Aceh dan anggota Komunitas JW Banda Aceh. Mahasiswa PPs UIN Ar-Raniry

Vaksinasi Bikin Atlet PON Aceh Tak Waswas saat Latihan

Meski Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 yang berlangsung di Provinsi Papua sudah berlalu, tetapi euforianya masih melekat di hati masyarakat Indonesia. Atlet Aceh yang ambil bagian dalam event ini pun sukses menyumbangkan berbagai medali yang membanggakan daerah. Salah satunya Mega Lestari (27) di cabang olahraga panjat tebing.

Mega salah satu penyumbang medali perak boulder perorangan di Porwil Bengkulu 2019 yang menjadi tiketnya untuk bisa mengikuti PON XX 2021 di Papua. Walaupun tidak meraih medali, tidak memutuskan semangat Mega untuk lebih keras lagi berlatih mengikuti PON XXI Aceh- Sumut 2024 mendatang. Selain itu Mega juga sudah meraih tiga medali emas dan tiga medali perak pada Pekan Olahraga Aceh (PORA) Jantho 2018.

Mega lahir di Kuning II, Aceh Tenggara, 08 Maret 1995. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Banda Aceh. Mega mulai serius menekuni panjat tebing saat menjadi anggota Mapala STIK dari tahun 2013, dan memacu dirinya sendiri untuk menjadi atlet profesional.

Mega mengawali kariernya sebagai atlet dengan latihan keras, disiplin, jatuh bangun. Sikapnya yang tenang selalu jadi kunci keberhasilannya, hingga kiprahnya sebagai atlet berhijab di cabang olahraga ekstrem ini semakin diperhitungkan. Ia berharap prestasi yang sudah ditorehkan dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk mengharumkan nama Aceh di masa depan.

Seperti diketahui, PON XX berlangsung di tengah kondisi pandemi Covid-19. Untuk persiapan PON Papua 2021, Mega dan atlet lainnya melakukan latihan gabungan di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh. Namun, semenjak pandemi Covid-19 mulai masuk ke Aceh pada Maret 2020, banyak aktivitas yang dibatasi dan harus menjaga jarak.

Para atlet dan peminat panjat tebing pun enggan melakukan latihan gabungan karena sadar akan risiko tertular Covid- 19, padaha; latihan gabungan sangat diperlukan dalam latihan panjat tebing. Hal ini tentu saja sangat berdampak pada kualitas hasil latihan dan prestasi panjat tebing atlet Aceh.

Karena sadar akan risiko tertular Covid-19, Mega dan atlet panjat tebing lainnya pun melakukan vaksinasi dosis pertama dan kedua di Puskesmas Banda Raya sebagai upaya preventin menjaga imunitas tubuh. Setelah menerima dosis kedua vaksin Covid- 19, Mega merasa semakin aman dan menjadi lebih percaya diri menghabiskan waktunya untuk belatih bersama atlet lainnya.

“Walaupun kita bisa tertular virus, tapi setidaknya kita bisa mengurangi dampak terkena virus dan mengurangi dampak menulari virus kepada orang lain, dan itu demi kebaikan kita bersama,” kata Mega saat berbincang pada pertengahan Maret 2022.

Setelah vaksinasi, tidak ada kendala atau efek samping apa pun yang dirasakan Mega, baik setelah vaksin dosis pertama ataupun kedua. Pihak medis Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh juga menyosialisasikan serta mewajibkan para atletnya untuk melakukan vaksinasi selama Pelatihan Daerah (Platda) PON Papua 2021.

Selain Mega Lestari, ada juga atlet muda yang baru saja mengukir prestasi pada Prakualifikas Pekan Olahraga Aceh (Pra-PORA) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh pada 25 Oktober 2021 lalu. Sarah Salsa Bila (20) namanya. Ia merupakan atlet Panjat Tebing muda, dan meraih medali perak pertamanya pada Boulder Mix Pra-PORA FPTI 2021 mewakili FPTI Banda Aceh.

Sarah Salsa Bila

Sarah lahir di Simpang Empat, Nagan Raya, Aceh, 19 Desember 2001 dan sedang duduk di bangku kuliah Universitas Syiah Kuala (USK). Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Kelautan dan Perikanan USK ini memiliki hobi berkegiatan di alam bebas dan mulai serius menekuni panjat tebing saat menjadi anggota Mapala Leuser USK dari bulan Juli 2021 lalu.

Meskipun baru mulai menekuni olahraga ekstrem panjat tebing selama tiga bulan, Sarah langsung meraih prestasi pada kejuaraan panjat tebing pertamanya dan ini merupakan hasil dari kesungguhan dan kedisiplinannya selama latihan dan memacu dirinya untuk menjadi atlet profesional hingga saat ini. Tidak sampai di situ, saat ini Sarah sedang mempersiapkan diri untuk kejuaraan selanjutnya pada akhir tahun ini yaitu pada PORA Pidie 2022 mendatang. Ia berharap akan mengukir prestasi yang lebih gemilang dan membanggakan kedua orang tuanya serta bisa mengikuti PON XXI Aceh-Sumut 2024 yang akan datang seperti Mega Lestari.

Selain menjadi atlet panjat tebing, Sarah juga adalah seorang atlet pencak silat yang telah meraih banyak prestasi. Sarah memiliki banyak kegiatan, selain menjadi atlet juga menjadi mahasiswa yang aktif pada organisasi-organisasi kampus USK. Sebagai mahasiswa, Sarah memiliki kewajiban untuk melakukan vaksinasi dosis pertama untuk melanjutkan studinya. Meski memiliki kegiatan yang padat setiap harinya, tetapi tidak menghalangi Sarah untuk melakukan vaksinasi dosis pertama di Banda Aceh Convention Hall.

Sama seperti Mega, setelah melakukan vaksinasi dosis pertama, Sarah juga mengaku tidak ada efek samping yang yang dirasakannya. Akan tetapi, ia belum berani untuk melakukan vaksinasi dosis kedua dan masih mencari tahu lebih dalam apakah suntikan kedua itu menyebabkan masalah atau efek samping.[]

Ditulis oleh Irda Agustina, anggota Komunitas Jurnalis Warga Banda Aceh dan anggota Mapala Leuser USK

Turnamen Voli Jadi Ajang Sosialisasi Vaksinasi Covid-19

Banda Aceh—Pada 10—13 Maret 2022 telah berlangsung pertandingan vola voli antar-SMA di Kota Banda Aceh. Kejuaraan itu diselenggarakan oleh Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kota Banda Aceh, bekerja sama dengan Pemerintahan Desa Ie Masen Kaye Adang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

Pertandingan berlangsung di lapangan voli IKVC di Jalan Pang Raed Desa Ie Masen Kayee Adang, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.

Menurut panitia pelaksana, Bapak Saidi, ada sebelas regu voli SMA/MA di Banda Aceh yang berpartisipasi dalam kejuaraan ini. Bukan hanya itu, dia juga mengatakan bahwa ajang ini juga menjadi ajang sosialisasi vaksinasi Covid-19 bagi warga.

“Tema yang diusung adalah Ayo Olahraga, Imunitas Tubuh Semakin Kuat, Jauhi Narkoba, Chip/Higgs Domino, Judi Online, dan Sejenisnya,” kata Pak Saidi.

Menurut keterangan Pak Saidi, seluruh peserta, pelatih, dan official sudah divaksinasi. Panitia juga tidak berhenti menyuarakan agar penonton senantiasa menjaga jarak sebagai salah satu protokol kesehatan.

“Kami juga mengimbau bagi warga yang belum divaksinasi agar segera ikut vaksinasi,” katanya.

Pada Minggu, 13 Maret 2022, dimulai pukul 15.00 sore, berlangsung partai puncak, yakni partai semifinal dan final. Di semifinal, SMA 9 berhasil menekuk SMK 2, dan menahbiskan diri sebagai pemenang ke-3.   

Khusus partai final, berlangsung sangat sengit antara SMAKON (SMA Keberkatan Olahraga Negeri)/PPLP rival MAN 3 Rukoh. Pertandingan harus dimainkan 5 set dengan hasil akhir kemenangan bagi SMAKON/PPL. Keseruan permainan tersebut membuat penonton membeludak.

Di akhir acara diserahkan hadiah bagi para pemenang berupa piala, piagam, dan sejumlah uang. Juara 1 mendapatkan hadiah Rp4 juta, juara 2 Rp3 juta, dan juara 3 Rp2 juta.

Anggota DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, yang hadir dalam kegiatan itu mengatakan,  “Kejuaraan ini adalah motivasi untuk ikut berolahraga karena bisa meningkatkan imun untuk menolak penyakit di masa pandemi ini. Juga untuk membina prestasi agar menemukan atlet-atlet berbakat yang  nantinya bisa dibina, sehingga bisa mewakili dan mengharumkan daerah ke kancah nasional.”[]

Ditulis oleh Rahmat R, jurnalis warga Banda Aceh

Vaksinasi Pada Individu Rentan Penting untuk Meminimalisir Risiko

Banda Aceh — Selama ini banyak orang yang memutuskan sepihak untuk tidak melakukan vaksinasi Covid-19 karena menyadari dirinya memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Padahal, yang bisa menentukan seseorang dengan komorbid bisa divaksinasi atau tidak ialah dokter atau tenaga kesehatan setelah dilakukan screening kepada yang bersangkuatan. Justru orang-orang dengan penyakit penyerta ini sangat membutuhkan vaksinasi karena mereka masuk dalam kelompok masyarakat rentan Covid-19.

“Apa yang dimaksud dengan masyarakat rentan?” kata Health Officer Unicef Perwakilan Aceh, dr. Dita Ramadonna, dalam diskusi publik bertajuk Memperluas Cakupan Vaksinasi Covid-19 kepada kelompok rentan yang diselenggarakan oleh KJW Banda Aceh di Aula Klinik PKBI Aceh di Banda Aceh, Selasa, 8 Maret 2022.

“Kita perlu memahami dulu bahwa ketika bicara Covid-19 maka yang dimaksud dengan masyarakat rentan berarti mereka yang berisiko tertular dan apabila terkena Covid-19 dampaknya bisa lebih parah,” kata dr Dita.

Terkait indikator masyarakat rentan, ia memaparkan ada beberapa kriteria. Selain individu dengan komorbid juga termasuk anak-anak, orang tua/lansia, ibu hamil, disabilitas, orang dengan autoimun, termasuk juga orang dengan obesitas yang body mass index-nya di atas 27kg/m2. Masyarakat dalam kelompok rentan ini juga perlu mendapatkan prioritas untuk vaksinasi untuk mencegah terjadinya risiko kematian, mencegah sakit berat, mencegah sakit ringan, dan mencegah transmisi atau penularan.

Namun, bagi kelompok rentan ini memang memerlukan prosedur khusus sebelum divaksinasi. Misalnya, bagi mereka yang memiliki komorbid hipertensi atau asma, maka mereka baru boleh disuntik vaksin setelah tekanan darahnya atau asmanya stabil. Begitu juga pada orang yang memiliki riwayat diabetes, maka suntikan vaksin dilakukan apabila tidak sedang dalam kondisi gula darah yang tidak terkontrol.

Bukan hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa ada kalanya vaksin tidak cukup hanya sekali, tetapi memerlukan suntikan kedua atau ketiga yang disebut dengan booster. Vaksin pertama disebut dengan suntikan primer dan antibodi yang terbentuk biasanya masih sedikit sehingga memerlukan booster untuk membentuk antibodi sekunder yang lebih kuat.

“Untuk booster atau suntikan kedua, vaksin yang diberikan boleh sama, boleh juga berbeda, misalnya suntikan pertama dan kedua dengan Sinovac, saat booster bisa menggunakan Moderna,” katanya.

Secara komunal vaksinasi juga dibutuhkan untuk membentuk kekebalan kelompok yang sangat berguna untuk melindungi individu yang tidak bisa divaksin, memutus mata rantai, dan akhirnya mengubah epidemiologi penyakit atau mengeliminasi/eradikasi. Dengan vaksin, kita sama-sama menjaga lingkungan, maka semakin banyak orang yang terlindungi,” katanya.

Diskusi publik ini juga menghadirkan narasumber dari unsur masyarakat yaitu Saprina Siregar. Dalam kesempatan yang sama perempuan yang akrab disapa Bunda Ina ini memaparkan berbagai informasi di masyarakat terkait penerimaan vaksin. Salah satunya kata dia, banyak masyarakat yang membutuhkan sertifikat vaksin untuk keperluan administrasi, tetapi sayangnya mereka sendiri malah menolak vaksin.

Di sisi lain kata dia berbagai hoaks yang berkembang telah membuat masyarakat bingung mengenai program vaksin ini. Ia berharap tenaga kesehatan selaku pihak yang berada di garda utama dalam memerangi Covid-19 bisa terus mengedukasi masyarakat agar semakin sadar bahwa vaksin sangat diperlukan agar pandemi segera berakhir.

Mengapa Ada Warga Enggan Vaksinasi?

Kamis, 24 Februari 2022, seperti biasa setiap sorenya untuk menghilangkan suntuk dan bosan, saya berjalan-jalan ke kawasan objek wisata Ulee lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Kawasan yang terdapat pelabuhan ini merupakan salah satu lokasi favorit masyarakat di Banda Aceh dan sekitarnya untuk dikunjungi setiap sorenya.

Walaupun penyebaran Covid-19 telah berlangsung sejak awal 2020, kawasan ini masih banyak diminati dan juga didatangi oleh pengunjung. Tak terkecuali bagi warga yang berjuang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan cara berdagang makanan di sepanjang kawasan ini.

Kesadaran masyarakat terhadap Covid-19 bisa dibilang masih sangat rendah. Begitu juga ketidakpercayaan masyarakat terhadap Covid-19, masih banyak ditemukan di lapangan. Salah satunya adalah seorang pedagang berinisial D yang sehari-hari berjualan di kawasan wisata Ulee Lheue Banda Aceh.

Kamis sore itu saya berbincang-bincang dengan Bang D. Dia merupakan lulusan salah satu kampus yang ada di Banda Aceh. Menurut Bang D, kepercayaan masyarakat terhadap Covid-19 sangat minim. Begitu juga dirinya.

“Alasan masyarakat kurang percaya Covid-19 karena yang sering terinfeksi kebanyakan mereka yang sudah renta,” kata Bang D. Sedangkan bagi yang tidak memiliki riwayat penyakit bawaan menurutnya aman-aman saja. Bang D percaya Covid-19 itu ada, tetapi ia menilai tidak begitu berbahaya.

Di sisi lain sampai sekarang Bang D masih enggan untuk divaksinasi. Dia tidak percaya dengan penyebaran virus ini dan juga program vaksinasi yang digalakkan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

“Untuk aktivitas sehari-hari saya juga tidak menggunakan masker, kalaupun saya memakai masker hanya saat ada tim keamanan yang melakukan pemantauan. Setelah mereka pergi saya mencopotnya kembali,” ceritanya.

Ia sendiri pernah ditegur dan dinasihati oleh pihak keamanan karena tidak taat prokes, tetapi dia hanya “mengiyakan” saja di depan petugas. Saat itu pihak keamanan juga menasihati Bang D supaya melakukan vaksinasi sehingga kesehatannya lebih terjamin ketika mencari nafkah. Tak hanya itu, dengan vaksinasi juga turut serta melindungi orang lain dari penularan.

Bang D berdalih, dirinya selama ini banyak berinteraksi dengan turis-turis dan juga orang-orang dari luar daerah, tetapi dia mengaku tidak mengalami gejala-gejala seperti terkena Covid-19. Ia juga punya pengalaman lain, adiknya sempat tidak sanggup bangun setelah disuntik vaksin.

Ia juga bingung dengan keadaan sekarang seolah-olah begitu mudahnya orang terinfeksi Covid-19. Mereka yang mengalami demam biasa sudah didiagnosa terinfeksi Covid-19. Padahal, menurut Bang D, di awal-awal pandemi muncul, mereka yang tertular virus ini cukup minum obat dan karantina mandiri saja di rumah.

Menurutnya program vaksinasi yang akhir-akhir ini sangat gencar hanyalah permainan politik antarnegara. Untuk menjaga stabilitas politik, pemerintah tidak enak untuk menolak vaksin yang berasal dari negara luar. Hal inilah yang membuatnya ragu soal vaksin. “Jika di awal-awal masyarakat bisa sembuh hanya dengan karantina 14 hari dan minum obat demam, mengapa sekarang harus perlu vaksin, dan seolah-olah dampak yang disebabkan oleh Covid-19 sangat berbahaya?”

Dia juga mengatakan bahwa negara Cina yang membuat vaksin dan menyuplai vaksin ke Indonesia malah tidak menggunakan vaksin tersebut. Namun, dia tidak menjelaskan dari mana mendapatkan informasi itu. Karena keraguannya itu pula Bang D tidak menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Dia menjalankan aktivitasnya tanpa masker, padahal sehari-hari dia berinteraksi dengan banyak orang, seperti wisatawan dari luar provinsi, bahkan mancanegara.

Bang D juga menceritakan, seorang kakek-kakek di kawasan itu yang berprofesi sebagai tukang becak selalu bekerja tanpa memakai masker. Saban hari dia mengantar jemput tamu-tamu asing ke pelabuhan, tetapi dia selalu sehat. Hal ini semakin menguatkan keraguan Bang D. Ia juga mengatakan, kejadian-kejadian ikutan pascaimunisasi seperti dugaan kelumpuhan yang dialami oleh individu tertentu turut memengaruhi persepsi masyarakat terhadap vaksin.

Pedagang lain yang saya temui di kawasan ini ialah Bapak M, seorang penjual gorengan. Dia mengatakan untuk urusan vaksinasi ini ikut saja apa yang dikatakan oleh kepala desa di kampungnya sehingga dia sudah mendapatkan suntikan vaksin dosis pertama. Namun, karena sekarang dia belum terlalu mendesak untuk keperluan administrasi, jadi belum mau melakukan vaksinasi untuk dosis kedua. Jika dibutuhkan baru dia akan ke rumah sakit katanya.

Ia juga menyatakan kebingungannya karena Covid-19 ini akan menjadi perhatian serius menjelang hari-hari besar Islam, sementara saat hari besar agama umat lain dianggap biasa-biasa saja. Dia juga bercerita jika anaknya yang masih usia sekolah awalnya tidak mau divaksinasi, tetapi setelah ditegur dan diberitahukan oleh guru kalau tidak suntik vaksin nantinya tidak bisa praktik di sekolah atau luar sekolah karena tidak ada sertifikat vaksin, barulah anaknya mau divaksinasi.

Sedangkan pedagang lainnya, Bapak Abd, yang juga berjualan di kawasan Ulee Lheue ini mengaku sangat ingin untuk divaksinasi. Namun, kondisinya yang mengalami penyakit diabetes melitus membuat harapannya sirna.[]

Ditulis oleh Maghfudh, jurnalis warga Banda Aceh

Vaksinasi sebagai Refleksi Rasa Syukur

Saya merasa senang sekali karena terpilih sebagai salah seorang peserta workshop dan mentoring Jurnalis Warga bertema Memperluas Literasi Kesehatan Melalui Jurnalisme Warga pada Sabtu-Minggu, 19-20 Februari 2022.

Pelatihan yang mencakup tentang ‘literasi kesehatan di masa pandemi’ itu, menghadirkan pemateri yang kompeten di bidangnya. Awalnya saya kurang percaya diri, disebabkan kemampuan literasi yang masih rendah terutama di bidang penulisan. Ditambah lagi, jujur saya akui bahwa saya belum divaksinasi dengan alasan ingin menyiapkan kondisi badan agar fit dan prima dulu sehingga ketika divaksinasi berjalan aman.

Namun, dalam suasana pelatihan yang penuh ‘warna’ itu, baik perbedaan usia, latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan talenta, kami seluruh peserta diberikan bimbingan dan dukungan yang sangat baik. Selain dibimbing bagaimana menjadi jurnalis atau reporter warga, juga mendapat pemahaman yang baik tentang kesehatan di masa pandemi Covid 19 ini.

Satu hal yang berkesan iaalah ketika pemateri seorang perempuan praktisi kesehatan dan juga penulis,memberikan dorongan kepada saya, “Jangan takut divaksin, ya. Karena semua orang bisa divaksin dengan treatment (pemeriksaan dan persiapan) yang benar,” begitu ucapnya.

Motivasi diri

Penulis di lokasi vaksinasi Museum Aceh

Selama ini memang berita tentang vaksin yang berseliweran di media sosial simpang siur, terutama di grup WhatsApp yang saya punya. Mendukung dan menolak vaksin dan saling sahut. Namun, hari ini, Selasa, 1 Maret 2022, berbekal motivasi diri yang didapat dari pelatihan, saya bertekad dan bersiap untuk vaksinasi.

Matahari agak malu menampakkan diri, cuaca sedikit mendung, tapi tidak hujan. Saya tiba di gedung Museum Aceh, tempat pelaksanaan vaksinasi sekitar pukul 15.00 WIB. Sejak tanggal 13 Januari 2022 lalu, Pemerintah Aceh telah memindahkan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 Banda Aceh Convention Center ke Museum Aceh. Suasana lingkungan museum yang asri memacu semangat saya. Dalam ruangan ada empat spot vaksinasi, yakni spot Rumah Sakit Zainoel Abidin (RSUZA), Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), Rumah Sakit Kesdam, dan RS Bhayangkara.

Saya sempat sejenak berdiskusi dengan petugas. “Ada dua vaksin yang tersedia, Pak. Moderna dan Pfizer,” katanya.

Moderna adalah vaksin yang diproduksi oleh Moderna TX, USA Amerika serikat, dan sejak tanggal 2 Juli 2021 telah mengantongi izin penggunaan darurat (emergency use authorizm-EUA) oleh Badan Pengawas Obat dan makanan (BPOM). Sedangkan Pfizer telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari BPOM sejak tanggal 14 Juli 2021. Pfizer merupakan produksi gabungan Pfizer, sebuah perusahaan farmasi Amerika Serikat dengan menggandeng BionTech, perusahaan dari jerman (penelusuran Google), mantap bukan!

Lebih lanjut petugas menjelaskan bahwa jika tekanan darah masih di bawah 180, maka vaksinasi masih aman dilakukan. Dan juga kedua vaksinasi telah disuntikkan pada ribuan orang dengan baik dan aman. Jadi masyarakat diimbau tidak pilih-pilih vaksin.  Hanya saja biasa efeknya sedikit pegal dan demam. Penjelasan petugas itu, membuat keresahan saya hilang dan saya memutuskan memilih vaksin Pfizer. Sebelumnya tekanan darah saya diukur dan dinyatakan aman untuk divaksinasi.

Lega sekali rasanya setelah divaksinasi, hanya terasa agak pegal di lengan bekas suntikan, tapi stamina menjadi berlipat. Dokter yang ramah berujar, “Jangan lupa datang ke vaksin kedua ya, Pak. Paling cepat 21 hari setelah vaksin pertama ini” .

“Siap, Pak!” jawab saya semangat.

Dengan bangga saya memajang foto di media sosial, seolah menyatakan, ‘Saya telah menunaikan kewajiban sebagai warga negara yang baik.” Ufh… sekian lama menanggung keraguan usai sudah akhirnya.

Selalu baik pada diri sendiri dan pada orang lain, demikian ujaran salah seorang pemateri di bidang jurnalistik.  Melakukan vaksinasi adalah salah satu kebaikan yang kita hadiahkan kepada diri sendiri.

Dengan demikian tubuh akan lebih kuat menolak penyakit. Menurut sumber yang sahih, dalam masa pandemi ini, orang-orang yang terkena Covid-19 hampir semuanya yang belum pernah divaksinasi. Selain itu, ketika kita sudah divaksinasi dan merasakan manfaatnya, bisa berbagi cerita pengalaman sendiri, serta mengajak orang-orang di sekeliling untuk ikut divaksinasi. Baik itu keluarga sendiri, teman sejawat, sanak famili, dan orang-orang di sekeliling.

“Coba lihat saya yang sudah vaksin, merasa lebih fit dan semangat dalam menjalani keseharian. Ayo ikut vaksin!!”

Demikianlah kebaikan yang dapat kita bagikan kepada orang lain.

Satu kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda dan vaksinasi adalah refleksi rasa syukur dari segala kebaikan itu.[]

Ditulis oleh Rahmat M, Jurnalis Warga Banda Aceh

Cerita Baik dari Zikrullah, Sukarela Vaksinasi setelah Tahu Manfaatnya

Semalam saya tiba-tiba mendapat pesan dari WhatsApp, isinya seperti ini, “Mardha, kalau Abang mau vaksin booster, cara dapatnya gimana ya?”

Pesan tersebut berasal dari M. Zikrullah, salah satu anggota The Leader yang juga merupakan mahasiswa S2 program Split Master di Universitas Syiah Kuala dan University of Rhode Island dari beasiswa BPSDM Aceh.

Setelah membaca pesan tersebut, saya pun cukup terkejut, lantaran pada umumnya orang menghindari vaksin, tapi teman saya ini malah bertanya dan ingin divaksinasi. Untuk menjawab rasa penasaran, saya pun bertanya lebih lanjut tentang alasan mengapa ia ingin divaksinasi, setelah saya memberikan arahan bagaimana cara mendapatkan vaksin booster.

Beliau bercerita bahwa karena sering bepergian ke luar daerah, vaksin menjadi salah satu kebutuhannya, tidak hanya untuk meningkatkan imunitas tubuh di masa pandemi ini, tapi juga untuk memenuhi persyaratan administrasi yang harus melampirkan sertifikat vaksin sebagai syarat melakukan perjalanan ke luar daerah. Di sisi lain, ketika mengunjungi tempat wisata, kantor pemerintahan atau tempat tertentu yang membutuhkan sertifikat vaksin, maka ia pun tak perlu khawatir lagi.

Lebih lanjut, ia pun juga bercerita pada awalnya keluarga intinya tidak percaya dengan Covid dan vaksin. Namun, sejak awal tahun 2022, salah satu anggota keluarganya harus dirawat di rumah sakit karena terkena Covid-19, dari situ baru muncul kesadaran dan pemahaman oleh seluruh anggota keluarga tentang bahaya Covid-19 dan pentingnya vaksinasi.

M. Zikrullah, pada awal vaksin dosis 1, melakukannya secara terpaksa karena tuntutan administrasi sebagai guru. Kemudian lama-kelamaan mulai paham betapa pentingnya vaksin, sejak ada salah satu temannya yang terkonfirmasi positif Covid-19. Pada saat temannya terkena Covid-19, ada yang sudah divaksinasi dan ada juga yang belum.

Ia pun baru memahami ternyata ada perbedaan gejala yang dialami, pada temannya yang belum divaksinasi gejala yang dirasakan sangat terasa seperti anosmia (tidak bisa mencium bau dan rasa), batuk, flu, dan sakit tenggorokan sedangkan pada temannya yang sudah divaksinasi gejalanya hanya ringan dan lebih cepat recovery. Jadi dari kejadian tersebut dapat menjadi pertimbangannya untuk melakukan vaksinasi dosis 2.

Dari cerita pengalaman Zikrullah, saat pandemi ini sering sekali kita mendengar dan melihat ada orang yang percaya Covid-19 dan ada juga yang menentang segala hal yang berkaitan dengan virus ini. Sebenarnya apa yang memengaruhi seseorang dalam berpikir sehingga menimbulkan sebuah keputusan yang pro dan kontra?

Mengutip sebuah tulisan dari humanhow.com tentang bias kognitif yang memengaruhi manusia dapat membuat keputusan yang rasional atau irasional. Jika dilihat dari pengertiannya, bias kognitif atau bisa juga disebut sebagai bias berpikir adalah suatu kesalahan sistematis dalam berpikir yang memengaruhi cara seseorang, sehingga dapat mendorong dalam mengambil keputusan atau penilaian yang tepat atau tidak.

Salah satu faktornya adalah herd behavior (perilaku kawanan) yaitu seseorang cenderung melakukan apa yang dilakukan oleh sekelompok orang di sekitarnya, padahal sebagai individu, belum tentu membuat pilihan yang sama. Dalam konteks pandemi, masyarakat sering kali lebih sering mengikuti apa yang orang di sekitarnya lakukan, padahal itu belum tentu benar.

Contoh: “Ah, teman-temanku pada gak pake masker, jadi ngapain aku pake masker juga.” “Di daerahku kayaknya aman deh, gak ada covid, jadi gak apa-apa kalau aku mau jalan-jalan.”  Dua contoh ini merupakan bias berpikir yang membuat seseorang mengambil tindakan yang salah, sedangkan pada contoh cerita M. Zikrullah, ia lebih yakin mau vaksin dosis 2 setelah mendengar cerita pengalaman dari dua temannya yang terkena Covid-19 dan ini bentuk dari bias berpikir yang mengarah pada tindakan yang benar.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, 68% pasien positif Covid-19 meninggal dunia karena belum mendapatkan vaksinasi dosis lengkap. Pada saat pandemi, tentu bias berpikir ini akan sangat merugikan banyak pihak, apabila tindakan yang dilakukan mengarah pada keputusan irasional. Pembahasan mengenai bias berpikir ini juga dibahas melalui akun Instagram @cisdi_id , mereka memberikan saran untuk menghindari bias kognitif di era pandemi yang dapat merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitar, caranya, yaitu:

1. Akui dan sadari bahwa kita memiliki bias dalam berpikir.

2. Kritis dalam menerima informasi dan lakukan riset dari sumber terpercaya dan

3. Jangan mengambil keputusan saat sedang lelah karena dalam situasi tersebut sangat rentan membuat keputusan yang salah.

Akhir kata, tidak apa-apa kalau dulunya Anda tidak percaya Covid-19 dan vaksin, dan juga lebih percaya apa yang disampaikan oleh lingkungan terdekat Anda daripada para pakar dan ahli. Namun, dari kesalahan tersebut, cobalah “tobat” dengan cara membuka mata dan hati untuk melihat dari perspektif yang berbeda.[]

Ditulis oleh Mardhatillah, jurnalis warga Banda Aceh

Kesibukan Mencari Nafkah Tidak Menghalangi Bu Darmawati untuk Vaksinasi

Saat melintasi kawasan Darussalam, tepatnya di seputaran gerbang kampus dekat UPT Perpustakaan Universitas Syiah Kuala, akan terlihat banyak penjual aneka jajanan. Kawasan ini memang ramai dengan mahasiswa sehingga banyak pedagang kaki lima berjualan makanan. Ada tiga kampus di sini, yaitu Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry, dan STAI Tgk Chik Pante Kulu. Wajar saja kalau kawasan ini tak pernah sepi.

Salah satu penjual makanan di sana ialah Ibu Darmawati. Ia menjual aneka gorengan seperti bakwan, tempe, pisang goreng, dan pisang molen. Gerobak dagangan Bu Darmawati tak jauh dari gerbang kampus. Menandai gerobak dagangan Bu Darmawati sangat mudah. Ada tulisan “Gorengan Asikk” di gerobaknya.

Bu Darmawati tinggal di Gampong Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala. Ia berasal dari Kecamatan Geulumpang Minyeuk, Kabupaten Pidie. Ia memiliki lima orang anak.

Ibu Darmawati sudah berjualan gorengan sejak tahun 2015. Setiap hari dia berjualan gorengan dari pagi hingga malam. Namun, sejak pandemi Covid-19 mulai masuk ke Aceh pada Maret 2020, geliat ekonomi di kawasan ini lumpuh total. Para pedagang tidak diperkenankan berjualan untuk menghindari terjadinya kerumunan. Selain itu, karena perkuliahan menjadi online, otomatis kawasan ini jadi sepi.

Bu Darmawati pun terpaksa berhenti berjualan selama lebih kurang lima bulan. “Setelah diperbolehkan lagi berjualan, saya kembali berjualan, tetapi penghasilan jauh menurun dari biasanya,” kata Bu Darmawati, Senin, 28 Februari 2022.

Bu Darmawati melayani pembeli @Irda Agustina

Ia bercerita, jika sebelumnya omset yang didapat bisa mencapai Rp2,5 juta per hari, setelah pandemi tiba jadi menurun drastis, bahkan pernah hanya cukup balik modal saja sekitar Rp1 juta.

“Tapi sekarang sudah mulai normal lagi, pendapatan sudah bisa seperti dulu lagi,” katanya.

Meski sehari-hari ia disibukkan dengan mencari nafkah dari siang hingga malam, tetapi tidak menghalangi Bu Darmawati dan keluarganya untuk melakukan vaksinasi Covid-19. Ia bersama suami dan kelima anaknya semua sudah mendapatkan suntikan vaksin dosis pertama.

Ia sadar bahwa semua orang harus menjaga kesehatan saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Apalagi pekerjaannya sebagai pedagang yang bertemu dengan banyak orang bisa dibilang cukup berisiko. Mereka sekeluarga melakukan vaksinasi di kantor desa tempat mereka tinggal.

Di kawasan lain, ada Bu Nurmala Dewi yang berjualan di seputaran depan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Bu Mala berjualan buah-buahan di trotoar jalan seperti jambu, timun, mangga, dan lain-lain.

Sama seperti halnya Bu Darmawati, Bu Mala juga tetap menyempatkan diri untuk melakukan vaksinasi meski dia sibuk mencari nafkah. Bu Mala merupakan warga Gampong Lambitra, Aceh Besar, dan punya tiga anak. Dua laki-laki dan satu perempuan. Ia juga berasal dari Pidie, persisnya di Grong-Grong. Di kampungnya juga aktif disosialisasikan untuk suntik vaksin oleh perangkat desa.[]

Ditulis oleh Irda Agustina, jurnalis warga Banda Aceh

Peran Paralegal Perempuan dalam Mitigasi Bencana dan Preservasi Lingkungan

0

Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA) menggelar pelatihan paralegal perempuan dan workshop dan teungku inong (perempuan ulama), 27-28 Februari 2022, bertempat di Hotel Rasamala, Banda Aceh.

Aceh yang memiliki tutupan hutan terluas di Indonesia, membutuhkan semua tenaga dan kekuatan untuk mempertahankan keutuhan lingkungan hidupnya. Yayasan HAkA yang bergerak di lingkungan hidup, mengadakan pelatihan perempuan paralegal bagi aktivis di tingkat tapak (akar rumput)untuk memberi suara nyata pada perempuan di tingkat tapak yang bergerak di isu lingkungan.

Pelatihan paralegal ini diadakan secara teratur sejak tahun 2020, diikuti oleh perempuan aktivis lingkungan dari 11 Kabupaten di Aceh, antara lain Aceh Barat Daya, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tamiang dan lain-lain.

Hadir pula Ibu Sumini, penggagas patroli Mpu Uteun di desa Damaran Baru, Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah. Desanya kini sudah menjadi Kampung Wisata Ramah Lingkungan (Ecovillage) yang memperoleh API Award 2020.

Ibu Sumini bersama fasilitator HAkA, Pak Budi Arianto

Patroli MpU Uteun kini beranggotakan sekitar 12 anggota aktif, belum terhitung para pendamping, yang berasal dari kaum bapak dan pemuda. Keunggulan strategi patroli Mpu Uteun dalam mengurangi kegiatan illegal logging di Desa Damaran Baru adalah komunikasi dari hati ke hati.

“Keahlian khusus perempuan adalah membaca gerak hati orang lain,”

ujar Sumini.

“Sejak awal patroli, kami membawa makanan dan minuman. Setiap bertemu pelaku penebangan liar, kami ajak mereka duduk ngopi, lalu mengobrol basa basi sampai akhirnya isi hati mereka tercurah. Di situlah baru kami pelan-pelan memberi mereka pengertian tentang bahayanya penebangan tak terkendali.”

MpU Uteun yang berarti “Penjaga Hutan” mulai aktif sejak bencana banjir bandang meluluh lantakkan Damaran Baru pada 2015. Mulanya mendapat cibiran terutama dari kaum lelaki, disebut “perempuan kurang kerjaan”, kini dengan didampingi Yayasan HakA Mpu Uteun justru menjadi penggerak ekonomi Desa Damaran Baru, dengan semakin berkembangnya wisata alam di sana.

Sumini memaparkan bahwa mereka juga sedang mengembangkan usaha penangkaran anggrek asli Tanah Gayo. Terutama jenis anggrek yang tumbuh di Bur ni Telong (bahasa Gayo = gunung berapi). Pada tahun 2019, beberapa ahli botani dari LIPI Bogor bahkan menemukan dua species anggrek baru di Tanah Gayo.

“Para ahli menyebut, rimba yang masih lebat di daerah kami menyimpan banyak spesies anggrek langka,” Sumini mengisahkan.

Bulbophyllum acehense | kompas.com

Salah satunya diberi nama Bulbophyllum acehense adalah anggrek epifit (menumpang tumbuh pada pohon lain) yang tumbuh alami di pegunungan hutan Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

Ditemukan oleh Dr. Destario Metusala, M.Sc, Peneliti di Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya (PPKTKR) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Epithet spesies menggunakan nama propinsi Aceh sebagai petunjuk bahwa kawasan Aceh memiliki keunikan diversitas anggrek yang tinggi. Penelitian diterbitkan di jurnal nasional Biologi Tropis.

Anggrek satunya diberi nama Paphiopedilum bungebelangi. Dalam bahasa Gayo, “bunga Belangi” berarti “bunga yang indah”

Ciri keluarga Paphiopedilum adalah bagian bunga yang berbentuk seperti bibir menggantung. Anggrek Bungabelangi memiliki bibir berwarna merah marun.

Anggrek ini masuk dalam regulasi Appendix I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), tidak boleh diperdagangkan.

Paphiopedilum bungebelangi | kompas.com

Dalam pelatihan selama dua hari ini, dua puluh paralegal perempuan seluruh Aceh berbagi pengalaman, membuka ruang komunikasi antar paralegal, untuk menyamakan dan memperkuat gerakan serta partisipasi perempuan dalam isu lingkungan hidup, khususnya di Aceh.

Hadir dalam sesi pertama, narasumber yang kompeten dalam bidangnya yaitu Sepriadi Utama, SH (Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Aceh), Suraiyya Kamaruzzaman, MT (aktivis, Kepala Pusat Studi Perubahan Iklim Universitas Syiah Kuala) dan Dr. Rina Suryani Oktari S.Kep., M.Si. (Kepala Tsunami Disaster Mitigation and Relief Centre USK).

Sesi tanya jawab dengan para pakar terasa hidup, bahkan sempat dihiasi tetesan air mata. Yaitu ketika paralegal wakil dari Aceh Tengah dan Aceh Barat Daya berbagi pengalaman mereka di lapangan.

Wakil Aceh Tengah, ibu Halimatussahdiah menceritakan tentang konflik masyarakat dengan gajah, sementara salah satu wakil Aceh Barat Daya (Abdya) dari Kecamatan Babah Rot, ibu Ira Maya, menceritakan perjuangannya mengadvokasi keberadaan tambang di desanya.

Jalannya diskusi larut menjadi agak emosional ketika Bu Diah menceritakan bahwa konflik dengan gajah di desanya sempat memakan korban tewas dari kalangan penduduk. Sementara Bu Ira Maya dengan berapi-api menceritakan usahanya memperoleh dokumen AMDAL dari tambang yang beroperasi di wilayah desanya, yang berujung ancaman.

Dari kiri ke kanan: Sepriady Utama, Suraiyya Kamaruzzaman, Rina Suryani Oktari

Menanggapi hal ini, aktivis kawakan Suraiyya Kamaruzzaman mengatakan bahwa sudah waktunya Ira Maya mengganti strategi advokasi.

“Jangan frontal. Gunakan jaringan, bergeraklah di belakang panggung,” nasihat Kak Aya, begitu dosen USK ini biasa dipanggil. “Cari dukungan dari tokoh yang memiliki “power”, biarkan mereka yang bicara.”

Kepala Kantor Komnas HAM perwakilan Aceh, Sepriady Utama, SH, mengatakan bahwa segala pelanggaran HAM yang dialami ibu-ibu paralegal ini dilapangan dapat dilaporkan ke Komnas HAM.

“Dalam situasi pandemi ini, kami memiliki prosedur pelaporan secara online. Ibu-ibu sekalian tinggal melampirkan laporan kronologi kasus dan identitas pelapor, yang tentu saja akan kami rahasiakan,” kata Sepriady.

Sedangkan Dr. Rina Suryani Oktari S.Kep., M.Si. yang akrab dipanggil Okta, mengatakan bahwa kekuatan ibu-ibu di tingkat tapak ini dapat membantu menengarai potensi bencana yang disebabkan kerusakan lingkungan. DR Okta juga mengingatkan, dalam situasi bencana, perempuan dan anak-anak adalah mereka yang mengalami dampak paling keras.

Karena itu, penting bagi ibu-ibu paralegal ini untuk mengetahui apa saja hak perempuan dan anak-anak, dan bagaimana memenuhi hak-hak tersebut. Bukan dalam situasi bencana saja, namun juga pada langkah-langkah strategis dalam proses mitigasi bencana.

Wakil dari Aceh Timur, ibu Yessi, yang sempat berbagi tentang bencana kebocoran gas PT Medco di kampungnya, merasa bahwa pelatihan ini benar-benar memberinya kekuatan untuk semakin siap bertindak, dan melancarkan advokasi.

“Bicara lingkungan, bicara advokasi lingkungan dan analisis sosial ternyata tidak hanya bicara tentang alamnya, hutan, tanah, air namun juga bercerita tentang interaksi sosial manusia denganalam sekitar, dirinya dgn org lain, dan juga bicara tentang bagaimana melihat dirinya sendiri, bagaimana mengetahui bahwa kita sudah mendapatkan apa yang  memang seharusnya didapatkan, baik itu pendidikan, kebebasan berpikir dan menentukan pilihan atas hidupnya,” ujar Yessi.

Teungku Inong: Agama dan Penyelamatan Ruang Hidup | Discover Aceh Official

Kemudian ia mengutip Dr. Danial Murdani, S.Ag., M.Ag, Rektor IAIN Lhokseumawe, dan Profesor Eka Srimulyani, Ph.D, guru besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh, yang juga merupakan narasumber dalam pelatihan ini:

“Kesadaran akan lingkungan hidup adalah sebagian dari keyakinan beragama,” katanya.

“Konsekuensinya, kita sebagai muslim wajib menjaga lingkungan hidup kita. Kalau mengutip Prof Eka, jangan sampai kita menjadi “kafir ekologis”, kita semua memiliki tanggung jawab terhadap alam raya ini.” pungkasnya.[]