Beranda blog Halaman 19

Andai Perempuan Tahu

0

PEKAN lalu saya menerima undangan diskusi dari Ihan Nurdin, jurnalis perempuan di Banda Aceh. Ihan tahun ini terpilih menjadi satu dari lima jurnalis perempuan Indonesia yang menerima fellowship Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara—Unesco. Diskusi khusus bagi kaum perempuan tersebut digelar Minggu (13/9/2020) di Banda Aceh. Tema utama yang diangkat: Akses Informasi untuk Mengurangi Dampak Covid-19 terhadap Perempuan Melalui Literasi.

Sebagai perempuan, saya sadar isu Covid-19 ini tak hanya berpotensi menyerang ketahanan kondisi sosial dan ekonomi keluarga, tetapi juga fisik dan mental secara personal. Wara-wiri berita pandemi di dunia maya yang entah benar entah hoaks, membuat masyarakat semakin jemu. Terlebih kaum ibu. Perempuan tiba-tiba menjadi garda utama bagi segala aktivitas keluarganya. Mulai dari penjagaan kesehatan, pendidikan, kepastian stok konsumsi, bahkan tak tertutup kemungkinan turut pasang badan sebagai korban kekerasan dalam rumah tangganya sendiri.

Di era Covid-19 ini, perempuan menerima beban kerja, rasa lelah, juga kecemasan berlipat ganda. Sehingga, benar kiranya bahwa pengetahuan untuk mampu mengakses informasi kredibel terkait perkembangan dan pencegahan Covid-19 menjadi salah satu hal penting untuk diketahui bersama.

Tanpa kemampuan berpikir kritis serta mengakses informasi secara tepat, kaum ibu mungkin akan kesulitan membimbing anak remaja mereka untuk tetap taat menjaga jarak dalam pergaulan, memakai masker, dan mencuci tangan. Tanpa informasi yang tepat, para istri menjadi tidak sadar bahwa keabaian suami mereka yang tetap berkerumun dalam ruang tertutup, seperti warung kopi atau lapangan futsal, tanpa menaati protokol kesehatan secara tidak langsung telah mendaftarkan anggota keluarnya dalam antrean calon pasien Covid-19. Dengan kata lain, tanpa pemahaman pengaksesan informasi yang tepat, keberadaan internet—terutama media sosial—hanya menjadi tambahan beban mental tanpa solusi mencerahkan.

Kerentanan perempuan

Dunia ini seimbang. Jika terdapat sisi gemerlap, maka tentu ada bagian gelap. Demikian juga dengan kehebohan work from home atau study from home yang terus didengungkan sepanjang 2020 ini. Sebegitu berisiknya, mungkin kita jadi tidak sempat menyadari hal penting lainnya yang justru terbungkamkan. Seperti kerentanan berlipat ganda yang dihadapi para perempuan.

Kemampuan manusia untuk membawa hampir seluruh aktivitas sosial sehari-hari ke dalam rumah dengan bantuan teknologi tentunya sekilas terkesan solutif dan sungguh bergaya modern. Namun, pada kenyataannya, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tersebut juga membawa beragam kemelut baru yang tak disangka-sangka. Seperti peningkatan rasa kesepian (loneliness), problematika kawin-cerai dini, pernikahan siri, dan juga tindak kekerasan di ranah domestik.

Demikianlah yang disampaikan Amrina Habibi, Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, yang hadir sebagai salah satu pemateri diskusi. Melalui tema “Problematika Perempuan yang Muncul Akibat Covid-19”, Amrina memaparkan besarnya kerentanan masalah kesehatan dan keselamatan para perempuan di era Covid-19 dengan beban domestiknya yang mengganda.

Bisa jadi struktur sosial masyarakat Aceh yang kini cenderung patriarki menjadi salah satu pemicunya. Masyarakat dengan mudah melabelkan segala aktivitas domestik sebagai “lencana” milik perempuan seorang.  Sehingga, ketika pandemi terjadi, segala aktivitas sosial di luar rumah pun menjadi bagian domestik, maka perempuanlah yang dituntut sepenuhnya bertanggung jawab. Perempuan pergi belanja, memasak, cuci piring dan pakaian. Perempuan menjaga dan mengajarkan anak, melayani suami dan perempuan juga harus menyelesaikan beban kerjanya sendiri. Sayangnya, kebanyakan perempuan tak sadar bahwa segala hal yang disematkan sebagai “kewajiban” itu bukanlah miliknya seorang diri karena menyandang jenis kelamin perempuan.

Sebagai manusia, kaum laki-laki yang makan dan berpakaian, juga bisa membantu berbelanja, memasak, dan mencuci. Para suami juga bisa meluangkan waktu mengajari anak-anaknya. Bahkan, mereka juga dapat belajar melayani dan menolong sesama anggota keluarga lainnya.

Sejatinya, kondisi lockdown ini dapat digunakan untuk kembali membangun relasi kerja sama yang sehat di ranah domestik. “Menata ulang kebenaran makna berkeluarga yang seharusnya banyak dibubuhi kata ‘saling’ dalam setiap aktivitas di dalamnya,“ papar Amrina yang juga aktif sebagai Dewan Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh.

Kita terlalu lama hidup dalam dogma-dogma palsu. Narasi aneh yang mengharuskan laki-laki bersikap cuek dan dingin agar dihormati. Padahal, laki-laki yang peka, mampu berempati, bekerja sama, dan memperlihatkan kehangatan emosi tentu lebih dipandang terhormat, bahkan mampu dicintai dan disayangi oleh anggota keluarganya secara penuh.

Akses informasi

Terkait akses informasi ini, Nurlaily Idrus MH, Komisioner Komisi Informasi Aceh, yang hadir sebagai pemateri diskusi, menerangkan bahwa masyarakat seharusnya tahu bahwa mereka memiliki hak untuk mengakses informasi publik terbaru dan terpercaya dari badan publik. Hal ini sejalan dengan amanah UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Dalam kondisi wabah seperti ini badan publik berkewajiban memberikan informasi serta-merta yang mudah diakses oleh masyarakat melalui website-website resmi mereka. Jika tidak tersedia, maka informasi tersebut dapat diajukan permintaan ketersediaannya ke badan publik terkait entah itu di bidang kesehatan, pendidikan, maupun sosial. Menurut Nurlaily, proses perolehan data/informasi publik itu penting untuk dipelajari, terutama oleh kaum perempuan sebagai salah satu upaya mengurangi dampak Covid-19 yang mereka hadapi.

Menjelang siang, diskusi santai—penuh pengetahuan, tetapi tetap taat protokoler pencegahan Covid-19—di bawah Rumoh Aceh Tibang itu pun harus berakhir. Diskusi keperempuanan yang dimoderatori Yamen Dinamika, Pembina Forum Aceh Menulis sekaligus Redaktur Serambi Indonesia, ditutup dengan khidmat. Semoga kegiatan tersebut mampu menginspirasi masyarakat untuk menggelar diskusi-diskusi serupa pada hari-hari selanjutnya.

Artikel ini telah tayang di serambinews.com pada tanggal 19 September 2020.

Menikmati Pesona Empat Air Terjun di Tangse Pidie

TANGSE dan sekitarnya yang terletak di dataran Kabupaten Pidie selalu saja memiliki magnet yang membuat para petualang seolah tak bisa menghentikan pacu adrenalinnya. Lanskap alamnya yang sempurna dengan kombinasi dataran tinggi, sungai berarus deras, dan air terjun, membuat Tangse dan sekitarnya patut menjadi primadona.

Kali ini aku akan mengajak kalian untuk menyusuri secuil keindahan di pedalaman Pidie, tepatnya di Dusun Cot Weng, Kecamatan Beungga. Ini merupakan dusun terakhir di desa tersebut. Wilayah yang masih dikepung hutan belantara ini masih sangat sejuk sehingga saat kita ke sana wajib mengenakan pakaian tebal untuk menghalau dingin yang menusuk.

Tempat yang menjadi langganan amukan gajah liar ini juga menyimpan pesona nan indah yang tentunya belum banyak dijamah orang. Untuk menjangkau keberadaannya harus melalui perjalanan yang ekstrem, dan wajib dipandu oleh orang yang sudah berpengalaman seperti aku misalnya. Hehehe.

Untuk eksplorasi kali ini, tujuan perjalananku dan tim yaitu mengeksplorasi air terjun yang ada di pedalaman hutan Tangse. Perjalanan yang dilalui dengan susur sungai ini menawarkan berbagai tantangan yang memacu adrenalin, di antaranya menelusuri track hutan lebat, menerobos semak belukar, menaiki tebing, juga beberapa tempat harus menyebrang sungai dengan arus yang sangat deras.

Untuk sampai ke tempat yang menakjubkan ini, butuh waktu enam jam tracking, tapi jangan ragu, di setiap sudut tempat ini menyajikan spot–spot indah untuk dinikmati, jika sudah lelah dan gerah tinggal mengayunkan tangan ke sungai yang tidak pernah jauh dari lingkaran perjalanan kita. Kesegaran air dingin nan jernih pun siap melenyapkan dahaga.

Jangan terburu-buru terkesima dengan alurnya, berikut aku akan terangkan secara lengkap wujud perjalanannya berdasarkan hasil eksplorasi kami beberapa waktu lalu.

Air Terjun Jeurulong

Dinamakan Air Terjun Jeurulong (Bahasa Indonesia: tumpahan) karena bentuk aliran airnya seperti tumpahan air dari sebuah wadah. Air terjun ini memiliki ketinggian lebih kurang 9 meter dan permukaan ceruknya memiliki lebar 4 meter. Nahh, ini merupakan air terjun pertama yang kita jumpai di jalur tracking.

Pertama kali aku eksplor ke tempat ini tahun 2013, kembali lagi pada tahun 2017, selanjutnya pada 2018 dan 2019. Ternyata bersebelahan dengan air terjun ini di permukaan cabang sungai yang lain juga terdapat air terjun baru dengan ketinggian 12 meter. Namun, debit airnya kecil, akan menakjubkan jika disaksikan setelah hujan lebat, ekstrem banget tapi, ya. Diperkirakan air terjun ini terbentuk karena fenomena alam yaitu longsor.

Air Terjun Palong

Tiba di persimpangan sungai, di antara dua aliran sungai yang deras menawarkan dua pilihan. Pilih kiri atau kanan, tetapi dua–duanya sudah pasti memberikan kesan yang luar biasa.

Mari kita pilih kiri dulu sobat, di sini setelah menyusur sungai sekitar sepuluh menit dari percabangan sungai, alam pun menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Bagaimana tidak, air terjun yang mengelurkan suara gemuruh di balik tebing-tebing yang membentuk labirin ini, karenanya ia disebut sebagai air terjun palong.

Air Terjun Teurace Angen

Kembali ke percabangan sungai, di sini merupakan spot yang tepat untuk ngecamp. Kenapa harus buru–buru untuk kembali, jika alam saja masih menginginkan kita bersamanya. Di persimpangan sungai ini menjadi tempat yang cocok untuk bermalam, memulihkan energi untuk besoknya menjelajah lagi, karena untuk menuju ke air terjun ini memiliki track yang sangat ekstrem.

Air terjun terurace angen (Bahasa Indonesia: terpaan angin), adalah yang paling besar di antara lainnya juga memiliki ketinggian lebih kurang 15 meter, dan lebar mencapai 6 meter. Terpaan angin yang sangat kuat membawa terbang butiran air dan membuat tebing–tebing kokoh menjulang tinggi dipenuhi lumut yang sangat tebal. Di sini aku menegaskan, untuk menuju tempat ini harus dipandu oleh yang berpengalaman.

Air Terjun Ateuh

Sudah menjadi sifatnya air, yaitu mengalir dari dataran tinggi menuju dataran rendah. Karena tingkat penasaran tim yang tinggi, kami melanjutkan track ke atas air terjun Teuraceu Angen. Menyusuri track tebing yang curam tibalah kami ke Air Terjun Ateuh (bahasa Indonesia: air terjun atas). Sebenarnya nama air terjun ini aku berikan sendiri tanpa persetujuan tim, hahaha. Ini disebabkan letaknya paling atas, air terjun ini ketinggiannya mencapai 10 meter dan memiliki debit air yang besar.

Demikian penjabaran eksplorasi aku kali ini. Nah, dalam trip ini aku dan tim menghabiskan waktu bercengkerama dengan alam selama dua hari dua malam. Namun, jika tidak berniat untuk bermalam atau camping, hanya membutuhkan sepuluh jam total perjalanan tracking. Dan di sini perjalananku untuk kembali, tidak ada perjalanan yang tidak merindukan pulang (kembali), juga aku akhiri tulisan ini dengan sedikit nasihat alam.

Berpergianlah kamu menyusuri bumi, karena hidup di bumi itu mahal, namun itu semua sudah termasuk mengelilingi matahari setiap tahunnya. Bertualanglah kamu sampai ke ujung bumi, kelak kamu akan menempati bahwa kamu itu begitu kecil, yang besar itu hanyalah nikmat Tuhan.

Jika kamu bersenggama dengan alam, maka lakukan tiga hal: tidak mengambil apa pun kecuali foto; tidak memburu apa pun kecuali waktu; dan tidak meninggalkan apa pun kecuali jejak. Kami menyebutnya etika alam.[]

Penulis adalah seorang gadis Pidie yang hobi memanjat tebing, bertualang di alam liar. Orang-orang menyebutnya sebagai pencinta alam. Artikel ini dipublikasikan di situs AcehTrend.com 26 Juli 2020.

Relasi Erat Perempuan dan Lingkungan

0

Educate a girl, empower a nation

–Queen Rania of Jordan—

If you educate a man you educate an individual, but if you educate a woman you educate a nation.

–Dr. James Emmanuel Kwegyir-Aggrey–

 

Sekolah adalah tempat kita menimba ilmu, memperoleh Inspirasi dan kekuatan untuk menggerakkan perubahan. Sementara, Rumah adalah “Sekolah” pertama bagi anak-anak, dengan sosok ibu dalam Rumah itu sebagai “mahaguru.” Seorang perempuan yang berpendidikan patut, akan mengusahakan agar anak-anaknya memperoleh pendidikan yang (minimal) sama dengannya. Sebagai guru pertama, perempuan bertanggung jawab menularkan pengetahuan bagi anak-anaknya.

Perempuan yang paham isu lingkungan, dengan demikian, akan menularkan pemahamannya pada anak-anaknya. Seorang anak akan cenderung mematuhi ibunya. Artinya, bila ibunya menanamkan kecintaan dan kepedulian pada lingkungan sejak berusia dini, si anak akan terbiasa bersikap ramah pada lingkungan hidup.

Dan pada gilirannya, anak-anak yang beribukan perempuan sadar lingkungan ini akan dapat menjadi ujung tombak penyuara isu lingkungan hidup. Anak-anaknya akan menjadi “duta besar” yang bisa berbicara dan berbuat langsung untuk kepentingan lingkungan hidup, dengan pengetahuan yang tidak berjarak dengan masalah di kehidupan nyata.

Selain itu, fitrah perempuan sebagai jenis manusia yang paling memiliki kepentingan terhadap lingkungan hidup, membuat mereka dapat menjadi agen ideal dari pencarian solusi masalah lingkungan. Sejak masa purba ketika masyarakat manusia masih terbagi atas kaum pemburu dan kaum pengumpul, perempuan memberi makan anak-anaknya dengan cara bersekutu dengan alam.

Maksudnya, perempuan mengandalkan dan bergantung pada sumber alam sekitar untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan anak-anak dan keluarganya. Bila keseimbangan lingkungan terganggu, maka perempuanlah yang akan pertama kali merasakan pukulan hebat pada kelangsungan kesejahteraan hidup diri dan keluarganya.

Hingga kini, ditengah pesatnya kemajuan teknologi serta ganasnya perubahan iklim, di berbagai belahan dunia perempuan masih memesrai alam untuk menjaga kesejahteraan keluarganya. Perempuanlah yang paling berkepentingan atas tersedianya air bersih, lingkungan bebas bencana, dan adanya sumber makanan yang menerus.

Banjir, misalnya, atau ketiadaan sumber air bersih, akan seketika merampas kesempatan perempuan untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan anak-anaknya. Dengan demikian, adalah wajar dan sangat masuk akal bila perempuan mengambil sikap memihak pada usaha-usaha menjaga kelangsungan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

“Perubahan nyata akan terjadi bila kita “berinvestasi” pada perempuan,” ujar Nigel Chapman, CEO Plan International. Katanya, “Setiap tahun, jutaan gadis muda dihalangi untuk memperoleh Pendidikan layak, yang jelas dapat mengubah hidup mereka, juga mengubah dunia di sekitar mereka.”

Bila kemampuan perempuan untuk mengubah dunia di sekitar telah dikuatkan dengan Pendidikan yang baik, maka bukan hanya lingkungan hidup kita ini saja yang akan memperoleh manfaat yang sangat besar, namun juga kelangsungan hidup bangsa-bangsa di dunia.

Saya perempuan. Karena itu saya cinta dan peduli lingkungan.

Leuser, Separuh Asa Masih Tertinggal di Sana

0

Hutan, sukarelawan, masyarakat dan orang luar, itulah empat kata yang muncul di benak saya kala membaca poster bertuliskan kata “Leuser”.  Sepintas kenangan akan dataran indah Gayo tahun 2011 silam kembali menari-nari. Sebut saja keberuntungan, di kala itu kebanyakan relawan perempuan E-Mate (E-Learning Medan, Aceh, Taiwan) menolak untuk di tempatkan di daerah indah ini. Tanpa pikir panjang, saya dengan enteng menggangguk menyanggupi.

Tidak ada bayaran rupiah atau pun fasilitas mewah, mereka mengingatkan kembali—khawatir akan lisan yang tidak sinkron dengan pemikiran—dan saya kembali mengangguk untuk mengklarifikasi. Maklum saja, berbeda dengan para pria yang memiliki banyak kesempatan mengeksplorasi alam dan rasa penasaran secara mandiri. Bagi kami perempuan kesempatan sakral seperti ini hanya bisa disiasati melalui kegiatan tertentu.

Belum lagi ditambah perjuangan perizinan orang tua melalui wawancara panjang bak lamaran kerja. Sehingga tak heran jika banyak relawan perempuan yang mundur cantik sedari awal penempatan. Padahal kepedulian terhadap lingkungan bisa jadi lebih mudah disosialisasikan kepada masyarakat sekitar melalui perempuan, sebab mereka mudah merasa dan senang bercerita. 

Perjalanan saya ke Gayo Lues tahun 2011 dilakukan dalam rangka memberikan pelatihan untuk para pemuda, guru dan siswa terkait proteksi hutan yang dikemas dalam berbagai bentuk penataran. Beberapa di antaranya berupa program pengenalan manajemen daur ulang sampah, edukasi pengurangan sampah digital, pelatihan kepenulisan dan pembuatan desain campaign proteksi hutan hujan—yang lebih dikenal dengan sebutan Leuser. 

Ada hal unik yang saya pelajari selama menjadi sukarelawan, salah satunya adalah fakta lapangan yang saya dapati akan besarnya antusiasme orang-orang luar negeri terhadap alam dan hutan Aceh. Dari menjadi pemateri, peneliti, bahkan sukarelawan pun mereka lakoni demi memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan proteksi Leuser, sang paru-paru dunia.

Sedangkan kita, masyarakat Indonesia,  masih ramai yang bergeming—antara bingung dan tak peduli—menganggap segala hal baik-baik saja. Lebih disayangkan lagi, ternyata masih banyak pula masyarakat Aceh yang tak mengenal Leuser sama sekali. Bahkan ada yang mengira Leuser itu merupakan nama gunung di luar negeri. 

Dari 10 hari target perjalanan, 6 hari kami gunakan untuk pelatihan dan sisanya untuk bersilaturrahmi ke masyarakat dan mengeksplorasi hutan. Tentu tak lupa diselingi dengan kegiatan ngopi di sana sini—dari cafetaria hingga rumah warga—yang pada akhirnya membuat saraf mulai tak karuan dan jantung terus berdebar, sepertinya ketagihan. 

Kenangan yang paling menyenangkan adalah kala kami ikut terlibat langsung dalam proses memanen kopi dan coklat di perkebunan warga dan melihat langsung proses pengolahannya.  Saat itulah mata saya terbuka, ternyata alam kita sangatlah kaya. 

Namun manusia kerap egois, kenangan indah itu berakhir miris. Saat saya dan kawan-kawan relawan melanjutkan perjalanan menuju Leuser, tiba-tiba kami dihentikan warga di tengah perjalanan. “Kebakaran hutan, ada harimau yang mati, sebaiknya perjalanan dicukupkan sampai di sini,” nasehat warga kepada kami. Kecewa dan sedih saat tak bisa menapaki Leuser padahal sudah tak jauh lagi.

Namun yang paling mengiris hati adalah kala melihat kepulan asap dan perpohonan gosong yang menghitam dari kejauhan. Dari sudut lainnya juga terlihat beberapa bagian hutan yang gundul karena pembabatan liar. Padahal tanpa merusak apapun, alam telah memberikan lebih dari sekedar cukup namun mengapa manusia ini tak puas juga?

Bayangkan saja andai kita semua mencoba untuk sedikit lebih peduli dalam menjaga Leuser sejak dini, mungkin akan ada kisah indah yang dapat kita tuturkan untuk anak cucu kelak. Bayangkan pula bagaimana bahagianya hati kala para cucu dari masa depan berselfie ria, mengupload foto mereka ke sosial media dan men-tag kita dengan caption sedemikian rupa.

“Terima kasih Nek untuk cerita indah Leuser selama ini. Kini kami masih bisa menikmatinya secara nyata. Kami akan terus menjaganya juga seperti yang kalian lakukan sebelumnya.”  #ILoveLeuser #NenekKece #PerempuanPeduliLeuser 

Mengapa Saya Perempuan Peduli Leuser?

0

“Nenek” sebutan dari binatang buas yang hidup di hutan. Kami biasanya menyebut Harimau dengan kata tersebut yaitu Nenek. Dulunya dia menjadi teman dekat manusia, bahkan Kakek dari Ibuku pernah mempunyai teman Harimau yang diberi nama Si Pincang, karena Harimau peliharaannya mempunyai kaki yang pincang. Hampir rata-rata orang di Kampungku dulu mempunyai cerita yang sama bahwa Harimau telah menjadi teman baik Manusia. Tapi itu setengah Abad yang lalu.

Kini Harimau itu bak musuh yang siap menerkam Manusia yang lalu lalang di hadapannya. Masuk ke Kampung memakan ternak Warga, bahkan mencabik-cabik tubuh manusia itu sendiri. Muncul persepsi bahwa Harimau itu jahat, perusak, liar dan membahayakan. Padahal jika ditinjau lebih dalam, Manusia itulah yang merusak habitat Harimau dan satwa liar lainnya. Keserakahan Manusia dalam menjarah hutan membuat ribuan satwa liar kehilangan tempat tinggal mereka.

Aku tinggal di Kabupaten Aceh Selatan, salah satu kawasan yang mempunyai Hutan Leuser. Menurut Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 276/Kpts-II/1997 tentang penunjukkan Taman Nasional Gunung Leuser terdapat 20.000 hektare Suaka Margasatwa di Kluet Aceh Selatan. Besarnya cakupan leuser yang terdapat di Aceh Selatan tentunya menjadi sumber kehidupan bagi seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten ini, terutama sebagai sumber air. Terdapat banyak sungai yang mengalir ke permukiman warga, sehingga untuk keperluan air bersih tidak perlu bantuan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Tapi sekarang lingkungan kami terancam, karena banyak kegiatan ilegal loging yang semakin mendekati hutan ini. Berdasarkan analisis Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAKA) kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi) di Aceh pada periode 2014-2015 di Aceh Selatan sebesar 3.061 Hektare.

Melihat fenomena itu tidakah hati ini tergerak untuk peduli terhadap lingkunganku sendiri? Boleh saja aku mengabaikannya dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, tapi perubahan yang terjadi selama ini telah berdampak terhadap lingkungan tempat tinggal kami.

Nyatanya sekarang, telaga yang biasanya tidak pernah kering kini surut, debit air di sungai pun menyusut. Ketika hujan lebat sungai meluap dan memuntahkan airnya sampai ke perkampungan yang mengakibatkan banjir. Lantas haruskah aku tetap diam dengan kondisi seperti ini? Inilah alasanku kenapa aku harus peduli terhadap lingkungan.[]

Perempuan Peduli Lingkungan

0

Saya adalah anak bangsa yang sedari kecil selalu penasaran dengan cara hidup tumbuhan dan makhluk hidup lainnya. Tumbuhan yang paling mengesankan saya adalah putri malu. Bagaimana bisa tumbuhan bisa bergerak seperti itu. apakah ia punya nyawa sama seperti manusia dan hewan?

Pertanyaan tersebut terus mengusik pikiran saya hingga terjawab ketika pelajaran mengenai gerak tumbuhan di sekolah menengah pertama. Saat itu memang pelajaran favorit saya adalah biologi. Pelan tapi pasti saya menemukan setiap jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya mengenai tumbuhan, hewan, dan manusia melalui pelajaran favorit saya tersebut.

Mulai memasuki masa perkuliahan, saya memilih jurusan farmasi. Kekaguman saya semakin bertambah terhadap beragam ciptaan tuhan ketika saya mengetahui bahwa mereka semua memiliki khasiat, peran, dan tanggung jawab masing-masing.

Bahkan, tumbuhan beracun yang mematikan seperti Digitalis purpurea pun dapat memiliki khasiat sebagai obat jantung yang dapat menyelamatkan umat manusia. Sungguh karunia yang sangat besar bagi umat manusia jika kita bisa melestarikan dan mempelajari beragam keanekaragaman hayati di bumi pertiwi ini.

Kemudian semasa kuliah, saya pun memilih masuk ke sebuah organisasi lingkungan nasional. Disana saya menemukan wadah yang sangat tepat untuk menampung kepedulian saya terhadap lingkungan. Layaknya difusi yang terus menyebar ke sekeliling, saya bersama teman yang memiliki tujuan dan minat yang sama pun kemudian berbagi ilmu yang telah kami peroleh dan mengajak masyarakat untuk turut aktif peduli terhadap lingkungan melalui beragam kegiatan yang telah kami laksanakan selama 4 tahun.

Pada tahun 2017, saya tergabung dalam Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, Dan Keindahan (DLHK3) Kota Banda Aceh sebagai staf paruh waktu. Disana saya mengaplikasikan keahlian saya dalam bidang desain grafis. Saya mendesain beragam info gambar yang disebarkan melalui sosial media instagram @dlhk3_bna untuk mengedukasi dan mengingatkan warga mengenai lingkungan dan kebersihan.

Saya sangat tertarik ketika mendesain selebaran edukasi untuk program WCP (Waste Collecting Point) dimana program tersebut sangat memainkan peran masyarakat kota Banda Aceh untuk belajar memilah sampah, mendaur ulang sampah, dan mentaati peraturan dalam menjaga lingkungan seperti tidak membakar sampah dan tidak membuang limbah rumah tangga sembarangan. Saat ini program tersebut telah diujicobakan di gampong Alue Deah Teungoh Banda Aceh.

Melalui peran saya bersama DLHK3, saya dapat mempromosikan dan mengedukasi warga mengenai lingkungan yang mana menjadikan saya sangat bersyukur karena pekerjaan, hobi, dan minat saya bergabung menjadi satu.

Itulah perjalanan hidup saya dalam mengarungi berbagai pertanyaan dalam benak saya mengenai lingkungan hingga menjadikan saya seorang agen pembawa pesan lingkungan kepada masyarakat.[]

Dari Perempuan untuk ‘Generasi Hijau’

0

Saya adalah satu dari dua perempuan yang hadir ke diskusi bertajuk Diaspora Hutan Wakaf yang dibuat Komunitas Kanot Bu pada Kamis petang, 17 Agustus 2017. Diskusi ini sangat menarik, sebab tema yang diangkat mengenai gerakan konservasi berjamaah yang dikemas dengan konsep Islam yaitu wakaf.

Selama ini setiap kali mendengar istilah konservasi, yang terbayang di benak kita adalah pekerjaan yang berat. Membutuhkan tak hanya tenaga tapi juga biaya yang tidak sedikit. Dan hanya bisa dilakukan oleh tangan-tangan kokoh milik lelaki.

Namun, Akmal Senja, sang inisiator Hutan Wakaf yang hadir untuk memantik diskusi sore itu, mampu menyederhanakan makna konservasi tersebut. Dengan gerakan berjamaah ini, konservasi yang notabenenya adalah upaya penyelamatan hutan, memungkinkan untuk dilakukan oleh siapa pun. Termasuk kaum perempuan seperti saya. Karena ketertarikan itu pula saya memutuskan untuk hadir ke diskusi tersebut bersama seorang rekan sesama perempuan.

Sama halnya dengan lelaki, perempuan juga memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam menjaga lingkungan. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan merupakan subjek yang langsung merasakan dampak jika ada masalah dengan ketidakseimbangan lingkungan.

Katakanlah ketika musim kemarau panjang, sumber-sumber mata air menjadi kering. Saat pasokan air bersih ke rumah-rumah menjadi tersendat, perempuanlah yang lebih dulu panik. Karena untuk masak dan mencuci, mereka tentunya membutuhkan air bersih.

Secara kodrat, perempuan juga ditakdirkan menjadi ibu untuk melahirkan anak-anaknya kelak. Ia adalah madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anak-anaknya sebelum mengecap pendidikan formal di institusi pendidikan. Inilah yang membuat perempuan harus memiliki pengetahuan dan kepedulian terhadap lingkungan yang memadai. Agar ia bisa mendidik dan mencetak generasi-generasi yang sayang lingkungan.

Dengan bekal pengetahuan mengenai lingkungan yang cukup, seorang ibu bisa ‘mendoktrin’ anaknya sejak dini. Sederhananya, ia akan mengajarkan anaknya agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama di sumber-sumber mata air seperti kolam atau sungai, mengajarkan anak menanam dan mencintai pohon, hingga hemat dalam menggunakan air atau energi.

Bayangkan jika semua anak mendapatkan pendidikan tentang lingkungan yang cukup di keluarganya, mereka akan tumbuh menjadi ‘generasi hijau’ yang peduli pada lingkungan. Dan untuk itu mereka tidak harus menjadi aktivis lingkungan.

Perempuan sebagai ‘ratu’ rumah tangga, juga sangat memungkinkan untuk menggunakan produk-produk ramah lingkungan di rumahnya. Bahkan untuk memilih jenis detergen saja, seseorang harus memiliki pengetahuan yang cukup. Agar ia bisa membedakan mana detergen yang ramah lingkungan, mana yang sebaliknya.[]

FGD dengan PIHAK USAID

Pelaksana Tugas Direktur USAID Indonesia , Ryan Washburn melaksanakan kunjungan kerja ke Kabupaten Gayo Lues  untuk memeriksa benih Kopi di Kecamatan Pantan Cuaca bersama Bupati Gayo Lues dan unsur Muspika Kecamatan Pantan Cuaca serta memberi dukungan  kepada masyarakat untuk memelihara hutan yang masih dapat dilakukan sembari mendapatkan manfaat ekonomi dari hutan tersebut.

Disamping melaksanakan kunjungan tersebut, Plt Direktur USAID Indonesia  tersebut juga melakukan Forum Discusssion Group untuk membahas apa-apa saja yang dapat dilakukan dalam upaya pelestarian Hutan di Kabupaten Gayo Lues,

Keterangan Foto : Foto Bersama dengan Pelaksana Tugas Direktur USAID Indonesia (Ryan Washburn), Deputy Director of Environment USAID (Jason Seuc), Samantha Martin (Writer USAID), Erlinda Ekaputri DCOP Project lestari untuk Aceh dan Kalimantan dan Anggota Perempuan Peduli Leuser

Dalam acara FGD tersebut dihadiri oleh Beberapa Aktivis Lingkungan serta SKPK/Dinas yang menanganani masalah lingkungan, serta beberapa Kepala Desa/Pengulu.

Untuk Perempuan Leuser dihadiri oleh Susi, Lia dan Marini Siregar.

Dalam Diskusi tersebut, pihak PPL memberikan pandangan apa-apa saja yang harus dilakukan untuk menjaga hutan termasuk tentang pentingnya Penerapan Perhutani Sosial, disamping itu pihak PPL juga menyarankan agar dibuat semacam pelatihan khusus untuk perempuan yang berkenaan dengan  pelestarian hutan serta SKPK terkait dapat melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah tenang pentingnya menjaga kelestarian tersebut, disamping itu, karena pada saat FGD tersebut dihadri oleh beberapa Pengulu, Pihak PPL juga menyarankan agar Para Kepala Desa dapat melibatkan perempuan dalam pengambilan kebijakan di tingkat desa (Gampong) baik kebijakan tentang Sumber Daya Alam, maupun kebijakan lainnya.

Sosialisasi Sumber Daya Alam Energi Terbarukan dan Pemanfaatannya

0

Pelaksanaan Sosialisasi tentang Sumber Daya Alam Energi yang terbarukan sangat perlu dilakukan, mengingat banyak sekali Sumber Daya Alam yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Atas maksud tersebut, Saya dan teman-teman Perempuan Peduli Leuser Kabupaten Gayo Lues (Susi, Lia, dan Ami) menerima ajakan dari Pihak  Ketua Forum Perempuan Aceh Peduli Sumber Daya Alam di bawah Naungan WWF Indonesia (NGO), untuk melaksanakan sosialisasi tersebut.

Keterangan Foto : Foto Bersama dengan Ketua Forum Perempuan Peduli SDA Aceh, anggota PPL, Pengulu Kampung Agusen dan Peserta Sosialisasi

Sosialisasi ini dilaksanakan di Kampung Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, pada tanggal 27 Maret 2019 , yang dihadiri oleh Ketua Forum Perempuan Aceh Peduli SDA, Ibu Murni serta salah satu dosen Unsyiah yang memberi materi tentang pentingnya memanfaatkan biogas sebagai upaya pemanfaatan Sumber Daya Alam Energi yang terbarukan yang juga  dihadiri oleh Pengulu dan para ibu-ibu desa setempat.

Dalam acara tersebut, diadakan sosialisasi tentang pembuatan Biogas /Briket dengan memanfaatkan sampah bekas sayuran, bekas kulit buah yang bisa terurai dalam tanah sehingga pengolahan sampah-sampah dengan kriteria tersebut tidak menjadi masalah dan dibuang sia-sia.

Dari hasil sosialisasi tersebut diharapkan masyarakat dapat mengetahui dan memanfaatkan sampah bekas sayuran, serta sampah sampah kulit buah seperti kulit kopi dan batok kelapa dapat dimanfaatkan untuk pembuatan briket.

Dana Desa untuk Lingkungan

0

Tahun 2018 sepertinya terpaksa kita tutup dengan lembaran muram. Rentetan bencana alam yang terjadi di tanah air semakin meneguhkan keyakinan kita bahwa Indonesia merupakan negeri yang rawan bencana.

Sebagai bentuk empati kepada korban bencana, beberapa kepala daerah di Indonesia secara khusus mengeluarkan imbauan agar malam pergantian tahun diisi dengan kegiatan religi seperti istigasah dan zikir bersama.

Rasanya sangat keterlaluan bila ada yang merayakan pergantian tahun dengan hura-hura dan bersenang-senang, sementara saudara-saudara kita di Aceh Tenggara, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, Lampung, dan Banten masih bergelut dalam situasi bencana.

Dalam aspek teologi, adanya suatu bencana sudah sepatutnya membuat kita semakin dekat dengan Tuhan. Menjadikannya sebagai momentum untuk refleksi. Namun, bencana hendaknya tidak hanya dipandang sebatas dalam aspek teologi semata, sehingga akan melahirkan sikap apatis untuk menanggulanginya.

Mengenal Bencana

Dalam UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menjelaskan, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Undang-undang tersebut juga mengelompokkan bencana menjadi tiga jenis, yaitu bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial. Bencana alam umumnya terjadi karena faktor alam, seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, hingga tanah longsor.


Bencana nonalam meliputi peristiwa yang terjadi akibat gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Sedangkan bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa akibat ulah manusia yang meliputi konflik antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat dan teror.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga 25 Oktober 2018 tercatat 1.999 bencana di Indonesia. Dampak yang terjadi berupa korban meninggal dunia dan hilang sebanyak 3.548 orang, 13.112 luka-luka, 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, dan ribuan fasilitas umum rusak. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp30 triliun lebih. Angka ini tentu akan semakin menggelembung bila ditambah dengan berbagai bencana yang terjadi hingga akhir tahun.

Secara nasional, bencana alam yang terjadi di Indonesia masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi, seperti puting beliung mencapai 605 kejadian, banjir 506, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 353, longsor 319, erupsi gunung api 55, gelombang pasang dan abrasi 33, gempa bumi yang merusak 17, dan tsunami 2 kali (Palu dan Selat Sunda).

Bagaimana dengan Aceh? Sebelas dua belas dengan kondisi di Indonesia pada umumnya, masyarakat Aceh kian akrab dengan bencana. Banjir misalnya, nyaris terjadi di sepanjang tahun dengan sebaran wilayah yang berbeda-beda. Bila dulu kita hanya mengenal dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau, sekarang sulit untuk melihat perbedaan antara keduanya. Teranyar, banjir bandang di Aceh Tenggara yang terjadi sebanyak tiga kali dalam satu bulan di lokasi yang sama. Faktar miris yang membuat kita mengurut dada. Mau tidak mau harus kita akui, ada yang terputus dalam sistem rantai lingkungan kita.

Berdasarkan catatan akhir tahun 2018 WALHI Aceh yang dirilis dalam konferensi pers di Banda Aceh Kamis, 27 Desember 2018, tercatat 91 kali bencana ekologi (lingkungan) yang terjadi di Aceh. Estimasi kerugian finansial mencapai sekitar Rp969 miliar. Banjir menduduki urutan paling tinggi mencapai 43 kali, kebakaran hutan dan lahan (karhutla)18, kekeringan 8, angin kencang 7, puting beliung 6, longsor dan abrasi masing-masing 3 kali, dan gempa kuat satu kali, dan lainnya.


Akibatnya, 24.910 ha hutan dan lahan terkena dampak. Sedangkan jumlah manusia yang terkena dampak mencapai 50.270 jiwa, termasuk 1.728 di antaranya yang mengalami krisis air akibat kekeringan. Sebanyak 897 unit rumah rusak. Tahun ini terjadi peningkatan banjir sebanyak lima kali dibandingkan tahun sebelumnya.

Dana Desa untuk Pelestarian Lingkungan

Bencana di Indonesia adalah keniscayaan. Untuk menanggulanginya perlu usaha dan kerja keras banyak pihak. Tidak bisa dibebankan kepada satu lembaga atau instansi saja. Bencana juga tidak bisa ‘diselesaikan’ hanya dengan meresponsnya sebagai kondisi tanggap darurat. Jika seperti itu, maka kita hanya mempersiapkan stok mi instan saja untuk menghadapi bencana. Sementara akar permasalahannya tidak pernah diselesaikan.

Mengurangi risiko bencana erat kaitannya dengan edukasi dan harus dilihat sebagai investasi jangka panjang. Oleh karena itu harus dikonsep dan disikapi secara serius pula. Menurut hemat penulis, pemerintah perlu ‘membuang’ modal yang banyak untuk investasi tersebut.

Pelestarian lingkungan sebagai upaya mengurangi risiko bencana harus diselaraskan dengan program-program lain, seperti ekonomi, sosial, dan budaya. Antarinstansi terkait harus saling berkoordinasi dan bersinergi untuk menyelaraskan program-program yang dibuat. Tidak jalan sendiri-sendiri. Selain itu juga bisa dibuat sharing budget untuk menutupi kekurangan anggaran di instansi lainnya.

Misalnya, ketika yang difokuskan hanya membangun infrastruktur dengan tujuan untuk mendongkrak ekonomi masyarakat, tetapi mengabaikan aspek pelestarian lingkungan, maka saat terjadi bencana alam bukan cuma infrastruktur yang hancur, tetapi juga mematikan kehidupan masyarakat. Bila kondisi ini dibiarkan terus menerus, sejatinya kita sedang menuju pada kemiskinan.

Saat ini pemerintah sedang semangat-semangatnya membangun desa dimulai sejak diterbitkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Sejak 2015 pemerintah mengalokasikan sebesar 10% dana APBN untuk membangun desa yang disebut dengan Dana Desa. Setiap desa mendapatkan kucuran dana beragam, tergantung dari letak geografis, jumlah penduduk, tingkat kemiskinan, dan luas wilayah.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong Provinsi Aceh, Bukhari, dalam Refleksi 4 Tahun Implementasi Undang-Undang Desa (Potret gampong terkini pascalahir Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa) pada 20 Desember 2018 lalu menyebutkan, selama empat tahun lahirnya UU Desa, Aceh telah menerima kucuran dana Rp14,8 triliun. Aceh adalah provinsi ketiga penerima Dana Desa terbesar di Indonesia setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ironisnya kata Bukhari, kehadiran Dana Desa belum mampu menyelesaikan persoalan kemiskinan di Aceh. Selama ini 80% Dana Desa habis untuk pembangunan infrastruktur. Ke depan skemanya akan dibalik, porsinya akan lebih besar digunakan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurut hemat penulis di sinilah peran Dana Desa untuk menyokong pelestarian lingkungan bisa dioptimalkan.

Dalam hal pengelolaan Dana Desa, pemerintah agaknya perlu mengadopsi sistem yang diterapkan oleh Pemkab Pidie. Bupati Pidie melalui Perbup Nomor 12 Tahun 2018 telah mengatur bahwa 15% dari total Dana Desa yang diterima setiap desa harus dialokasikan untuk pelestarian lingkungan. Ini merupakan terobosan baru Pemkab Pidie sebagai dasar pembangunan berkelanjutan yang berpijak pada tiga pilar, yaitu sosial, ekonomi, dan ekologi. Dalam hal ini Aceh patut berbangga sebab Kabupaten Pidie merupakan pionir dalam hal ini. Satu-satunya daerah di Indonesia yang telah berpikir jauh untuk memaksimalkan pemanfaatan Dana Desa.

Dengan alokasi tersebut masyarakat bisa memanfaatkannya untuk ruang terbuka hijau, pembersihan DAS, pemeliharaan hutan bakau/hutan gampong, perlindungan terumbu karang, penghijauan pada areal hutan gampong/hutan adat, perkebunan, paya, payau, dan pantai skala gampong.

Selanjutnya untuk pembibitan dan/atau penanaman pohon langka, penanaman tanaman buah/tanaman keras, reboisasi, pengelolaan sampah, dan program atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan tipologi dan kondisi gampong.

Dengan skema di atas, ‘tanggung jawab’ menjaga lingkungan tidak hanya dibebankan kepada masyarakat desa atau pinggiran hutan saja. Namun menjadi tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat. Selain itu juga sangat potensial dari segi ekonomi. Pertanyaannya, siapkah kita dengan tanggung jawab bersama ini? Wallahu’alam.[]

*Ihan Nurdin, jurnalis, anggota FAMe, dan anggota Perempuan Peduli Leuser Banda Aceh