Beranda blog Halaman 17

Bisnis Kuliner Sehat Tarcake yang Menyejahterakan Perempuan

6

Di teras sebuah rumah di Gampong Meunasah Papeun, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, seorang perempuan muda dengan setelan baju rumahan tampak sedang sibuk. Ia tampak sangat cekatan. Indra penciuman saya menangkap aroma sedap yang mengundang selera makan. Aroma itu berasal dari olahan sayur yang baru saja matang; kuah pliek. Gulai sayur khas Aceh yang menjadi primadona dan kerap dihidangkan di acara-acara istimewa. Selain itu, juga terlihat ada telur asin, kerupuk, buah potong serta jus buah. “Sedang mempersiapkan pesanan untuk katering,” kata perempuan itu sambil meneruskan pekerjaannya.

Dialah sang owner bisnis kuliner Tarcake, Sri Fatmawati, yang akrab disapa Tari. Tak lama kemudian, pekerjaan Tari pun beres. Barulah kami bercakap-cakap perihal usahanya yang semula dirintis sebagai penopang hidup itu.

“Dari semenjak ayah meninggal, itu kan down kali, ya. Mamak enggak punya kerjaan. Dari dulu selalu bergantung sama suami. Makanya Tari gini, ‘Ya Allah, jangan sampek aku gitu’. Sedih sesedih-sedihnya.”

Kalimat tersebut diutarakan secara mendalam oleh Tari. Pengusaha kuliner kelahiran Langsa tahun 1993 itu kembali menguak memorinya satu dekade silam. Pecahan kisah hidup yang memotivasinya untuk menjadi seorang perempuan yang berdikari. Perempuan mandiri yang mampu menolong diri sendiri dan perempuan lain di sekitarnya.

Sejatinya, Tari telah terjun ke dunia bisnis kuliner dan food service sejak duduk di bangku SMK. Kemampuan dan kemauannya dalam memanfaatkan skill masak-memasak telah menyelamatkan pendidikannya, bahkan ia berhasil mengukir prestasi di tingkat nasional. Hal tersebut membuatnya memperoleh beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), FKIP PKK, Jurusan Tata Boga.

“Jadi, semasa SMA, Tari belajar masak. Diajak guru mengurus katering, ikut. Jam pulang sekolah, Tari enggak pulang. Tari masak di lab, dapur sekolah. Nanti terkadang jadi pramusaji, dapat lagi duet. Kan alhamdulillah bisa bayar uang sekolah. Waktu itu umur baru 17 tahun,” katanya saat kami berbincang di rumahnya, Sabtu, 20 Februari 2021.

Kondisi hidup yang keras tak lantas membuat Tari menyerah. Bagaikan phoenix, ia terus bangkit. Sebagai contoh, di tahun awal perkuliahannya dulu, Tari sempat menghadapi krisis kesehatan akut. Hal itu disebabkan oleh kondisi finansialnya yang buruk. Namun, lagi-lagi, usaha kuliner yang dia jalankan telah menyelamatkannya dari lubang keterpurukan.

“Awal kuliah, Tari dikasih mamak uang 100 ribu per minggu untuk kuliah dan makan. Kami enggak ada ayah. Jadi Tari maklum. Enggak pernah nuntut. Dulu sewa kos satu kamar bertiga. Tidur udah kayak ikan asin. Terus, hampir setahun hidup gitu, tahan-tahan makan. Kena tipes Tari, pingsan. Akhirnya Tari coba berjualan kue. Supaya ada pemasukan lain untuk bertahan hidup semasa kuliah.”

Di saat anak seusianya memanfaatkan waktu luang untuk bersantai atau nongkrong bareng teman, Tari justru mulai menjalankan bisnisnya. Menariknya, usaha kuliner tersebut tidak hanya dikerjakan seorang diri. Dia turut menawarkan pekerjaan tersebut pada teman-teman sekosannya. Tentu tawaran itu disambut baik oleh mereka. Lumayan membantu mereka menghemat uang sekali waktu makan setiap harinya.

Di samping dukungan tenaga kerja dari teman-temannya, Tari juga mendapatkan dukungan berupa ilmu dan jejaring bisnis dari para dosen di kampusnya. Berbagai kegagalan dan kebingungan teratasi berkat keberaniannya untuk selalu bertanya.

Anak ketiga dari delapan bersaudara ini merupakan seorang perempuan pendobrak stigma. Baginya, memasak bukanlah sebatas aktivitas domestik. Namun, merupakan keahlian yang bisa menjadi ladang bisnis, bahkan amal yang semestinya bisa dipelajari dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan semua orang, termasuk perempuan.

Mantan Professional Pastry Chef Hotel Kyriad Muraya ini juga beberapa kali tampil sebagai pelatih kuliner. Dia memberikan pelatihan pengelolaan makanan sehat (non-MSG) bagi para anggota PKK di beberapa desa di Provinsi Aceh. Bagi Tari, apa pun yang terjadi, perempuan harus punya keterampilan yang membuat mereka sejahtera dan juga merdeka secara finansial.

“Seharusnya sebagai perempuan kita tidak ketergantungan sama suami sih. Supaya enggak linglung nantinya. Walaupun sekaya apa pun kita, tetap harus terjun juga. Kita punya sesuatu yang memang menghasilkan. Apa saja bisa. Apalagi sekarang zamannya udah sangat mudah kan. Bisa jualan online.

Program Berbagi “Jumat Barakah”

Sembari terus menjalankan bisnis kue dan jasa boga (katering) dari rumah, sejak 2020 lalu Tari pun menerima amanah baru. Seorang sejawat memintanya membuatkan makanan untuk disumbangkan kepada yatim-piatu. Dia juga diminta tolong untuk mencari rumah yatim yang sesuai. Menyanggupi ajakan tersebut akhirnya Tari berinisiatif untuk menjalankan program tersebut secara masif dan kontinu setiap Jumat. Tari pun mengajak serta kawan dan kenalan lain untuk terlibat dalam program kebajikan tersebut.

“Kita cari rejeki harus ada ibadahnya, sedekahnya. Alhamdulillah, sudah jalan lima bulan sampai sekarang. Konsisten sedekahnya setiap Jumat ke Panti BTRG, Ceurih. Di sana ada 73 anak. Kadang ada yang sumbang 30 bungkus atau 20 bungkus. Ada yang kontinu 5 atau 6 bungkus terus. Kalau mau menyumbang 1 bungkus boleh juga.”

Menurut keterangan Tari, Program Jumat Barakah awalnya hanya dikerjakan berdua dengan sang suami. Dari berbelanja, memasak, packaging hingga mengantar makanan tersebut ke Panti Asuhan Yatim Piatu Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (BTRG), Gampong Ceurih, Ulee Kareng. Namun, karena hanya berdua, aktivitas tersebut sangat menguras tenaga mereka. Konon lagi suami Tari, Munandar Syamsuddin, juga punya pekerjaan lain yang wajib dikerjakan di kantornya. 

Akhirnya Tari pun merekrut beberapa pekerja lepas berupa ibu-ibu yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya, di Desa Meunasah Papeun, Krueng Barona Jaya. Akan tetapi ternyata masalahnya tidak berhenti di situ. Keterbatasan ilmu dan kemampuan komunikasi masyarakat “asoe lhoek” menjadi tantangan baru bagi Tari.

“Pekerjanya rajin cuma enggak bisa masak. Jadi Tari bimbing. Senang mereka kerja sama Tari, ‘Mudah rejeki ya, mudah rejeki’. Selalu didoakan begitu. Terus satu lagi, kendala bahasa. Ibu-ibunya enggak bisa bahasa Indonesia. Apalagi bahasa Aceh Rayeuknya itu beda kali. Susah translate-nya. Kadang Tari kesel kan, tapi harus sabar, sabar, sabar.”

Tari juga menyebutkan bahwa harga bahan-bahan makanan yang terkadang melambung tinggi juga menjadi kendala tersendiri. Namun, menurutnya, suaminya sangat mendukung proses bisnis yang dia jalankan. Komitmen yang mereka bangun bersama semenjak sebelum menikah membuat Tari cukup leluasa untuk terus mengembangkan passion-nya di bidang bisnis kuliner.

“Usaha Tari semua ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan suami. Kawanin belanja. Antarin pesanan. The best-lah pokoknya. Enggak salah lho kita minta tolong suami. Dikomunikasikan aja. Sebelum menikah pun kami sudah bangun komitmen. ‘Bang, nanti setelah kita nikah, jangan larang-larang adek kerja ya. Selagi pekerjaan itu enggak di luar batas dan adek masih menghargai abang’. Soalnya bisnis ini memang udah jadi panggilan jiwa Tari,” katanya di ujung pertemuan.[]

Buah Manis Kerja Keras Mellyan Membumikan Literasi di Tanah Teuku Umar

2

Wangi bungong kupula (tanjung) yang pohonnya berjejer sepanjang jalan, meruap memenuhi udara. Kesejukan merambah dari sungai kecil di sisi jalan. Sore yang indah di Tanah Teuku Umar, Meulaboh, Aceh Barat. Sebuah rumah asri di kawasan Gampong Seuneubok tampak dipenuhi anak-anak muda. Di satu ruangan luas, masing-masing duduk melingkar, laptop di depan mereka. Menyimak pembicaraan perempuan muda berjilbab abu-abu yang bersimpuh di depan, Jumat, 12 Februari 2021.

Perempuan itu Mellyan. Kelahiran Meulaboh 33 tahun yang lalu. Sehari-hari dia meniti karier sebagai dosen Ekonomi Syariah di STAIN Teungku Dirundeng. Namun, sejak masa kuliah di Banda Aceh ia sudah terjun ke bidang jurnalistik dan literasi. Kerap mendapat penghargaan untuk karya-karya tulisnya, pada 2016 saat tengah rehat dari riset tesis S2-nya di UIN Ar Raniry, Banda Aceh, Mellyan menengarai bahwa Meulaboh belum memiliki wadah kreativitas bagi anak-anak muda.

“Saya lihat sebenarnya anak-anak muda Meulaboh ini punya potensi yang sangat besar. Tapi mereka tak ada yang mengarahkan,” kata Mellyan, akrab disapa Melly. “Saya merasa, kami punya sedikit ilmu yang dapat dibagikan. Dan kami ingin melakukan sesuatu untuk anak-anak muda ini.”

Setelah diskusi dan riset panjang dengan suaminya, Junaidi, yang juga seorang dosen dan jurnalis, akhirnya pada 14 April 2017 Basajan Creative School (BSC) berdiri. Dengan peserta awal sebagian besar mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng dan Universitas Teuku Umar (UTU), kini BSC sudah memiliki alumni sebanyak empat angkatan.

Sejak awal berdiri, BSC sudah berhasil mengantarkan anak didiknya menjuarai berbagai kompetisi. Anggota Basajan, bahkan didapuk menjadi Duta Baca Kabupaten Aceh Barat berturut-turut mulai 2017, 2018, dan terakhir 2019.

Para anggota yang muda belia ini juga sudah jadi langganan kampiun berbagai kompetisi. Kompetisi film dokumenter tahunan Aceh Documentary Competition (ADC) besutan Aceh Documentarymisalnya, sudah beberapa kali dimenangi para anggota Basajan.  Demikian juga UTU Award untuk bidang desain website. Tahun 2020, anggota senior Basajan, Nurul Fahmi, berhasil menembus sepuluh besar Ide Terbaik Eagle Award (Ranger Leuser). Saking seringnya anggota Basajan memenangkan kompetisi, nama sekolah informal ini pernah dicatut orang, sebagai semacam “jaminan mutu” kreativitas.

Seseorang melamar kerja pada sebuah perusahaan, dalam CV-nya ia mengaku anggota Basajan. Tak mudah termakan kata-kata, pemilik perusahaan menelepon Junaidi untuk mengonfirmasi kebenarannya. Dan seperti sudah bisa diduga, apa yang ditulis dalam CV itu, tidak benar.

Ternyata, yang seperti itu bukan hanya sekali. Tapi berkali-kali. Sepertinya, untuk Aceh Barat dan Meulaboh, sebut beberapa sumber, nama Basajan sudah tidak asing lagi.

Namun, justru itu membuat Melly agak khawatir. “Kami harus hati-hati. Selain dapat berakibat pada nama baik Basajan, itu bisa saja menyebabkan anggota kami nanti kena sindrom ‘jago kandang’.”

Bukan tanpa alasan Melly mengatakan itu. Ditengarainya, memenangkan kompetisi ternyata bisa membuat orang “ke-pede-an” sehingga berpengaruh pada sikap mereka sehari-hari.

“Itu antara lain tantangan yang kami hadapi. Mengasah kreativitas anggota, mengarahkan mereka untuk menemukan ide-ide baru yang lebih berorientasi global, boleh dibilang cukup mudah. Tetapi menjaga agar mereka tetap di jalur kerendahhatian dan berintegritas, itu yang sulit,” kata Melly.

“Di Basajan, anggota perempuan prestasinya lebih menonjol. Dalam hal menulis, membuat liputan atau film, mereka juga menunjukkan kinerja yang lebih baik,” ujarnya lagi. Dia menuturkan ihwal film yang digarap dua anggotanya, Oka dan Sonya, yang mendokumentasikan klinik bidan tradisional. Juga ada Mariani, yang menelusuri buangan limbah tambang batubara berjudul Lautan Bara. Film dokumenter Lautan Bara memenangkan kompetisi ADC 2018 sementara Klinik Nenek (Oka dan Sonya) masuk ke dalam tiga besar ADC 2019.

“Dan dua-duanya dikerjakan oleh perempuan,” sebut Melly. “Mungkin karena curiosity perempuan lebih mendetail. Mereka tidak cepat puas dengan data awal, dan terus mengejarnya hingga ke seluk-beluk yang lebih dalam. Saat itulah bimbingan saya dan Abang terkadang mereka diperlukan.”

Perkembangan Basajan membuat Melly dan Jun, panggilan akrab Junaidi, memutuskan untuk mengembangkannya secara lebih spesifik sejak 2018.

“Basajan kami jadikan CV, namanya Basajan Creative Media, membawahi empat anak usaha. Sekarang ini selain BSC sudah ada Sigupai Sinema, Basajan Production, dan Basajan.net,” jelas Melly.

Basajan.net yang merupakan situs berita, digawangi sendiri oleh Junaidi. Selain para anggota Basajan, tugas-tugas liputan dilakukan anggota Basajan yang sudah senior.

“Ada dua belas anggota senior, yang sekarang turut mengelola BSC,” katanya lagi. Mellyan sendiri, di sela tugasnya sebagai dosen, juga masih melakukan liputan dan menulis untuk Basajan.net. “Saya masih memotori kelas Penulisan Kreatif, Sastra dan Jurnalistik,” tambahnya.

Putri sulung almarhum bapak Nyak Man bin Nyak Abbas dan ibu Cut Keumala ini, sejak remaja memang menyukai dunia tulis menulis.

“Lebih berkembang saat kuliah,” kata Melly, yang novel pendeknya, Hikayat Negeri Terapung, memenangkan Juara II Sayembara Menulis Cerita Bersambung Majalah Femina, Jakarta, 2013. “Selain penerbitan kampus, saya sempat bekerja untuk sebuah tabloid di Banda Aceh. Sempat juga menjadi kontributor di Aceh Feature, yang dikepalai Mbak Linda Christanty. Juga, melakukan investigasi tentang pelanggaran HAM masa lalu, untuk Koalisi NGO HAM Aceh,” cerita Melly. Perjalanan investigasinya ke pedalaman Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, dan Bener Meriah meninggalkan kesan yang sangat dalam.

“Ngeri-ngeri sedap. Masa itu belum terlalu jauh dari masa konflik Aceh. Dan kami harus keluar masuk dusun, mengikuti informasi yang kami dapat dan harus ditelusuri kebenarannya,” kata Melly lagi. Tak jarang, Melly menemui situasi menegangkan yang seringkali terkait dengan statusnya sebagai jurnalis yang kebetulan berjenis kelamin perempuan.

“Ditatap sambil senyum-senyum, dimintai nomor telepon, bahkan suatu kali saya dan teman saya mengira bakal diculik,” Melly tertawa. Itu terjadi di Aceh Utara, saat sopir kendaraan yang disewanya menolak berhenti ketika Melly meminta. Rupanya hanya salah paham, Pak Sopir mengetahui tempat yang lebih baik daripada yang diminta Melly. “Tapi ya seram juga. Karena waktu itu sudah gelap.”

Hasil penelusuran selama tiga bulan itu menghasilkan dua buah buku. Diterbitkan oleh Koalisi NGO HAM Aceh. Salah satu buku, Fakta Bicara, disunting oleh jurnalis senior Nashrun Marzuki dan Adi Warsidi, sering dikutip oleh para pekerja kemanusiaan serta peneliti. Buku itu, menjadi semacam ‘kanon’ bagi penelusuran peristiwa pelanggaran HAM di Aceh. Novel Mellyan yang sempat memenangkan nomor pada lomba menulis novel Penerbit Madza, Malang, tokoh utamanya juga seorang penyintas konflik Aceh.

Menurut Melly, anak-anak muda yang ingin bergabung dengan Basajan tertarik karena melihat para seniornya yang sudah sukses. Pertama kali bergabung, biasanya sikap mereka serupa saja dengan anak-anak remaja yang serba ‘ingin lebih’ tapi serba enggan bekerja keras.

“Di Basajan, saat ini, tantangan terbesar saya adalah memicu minat baca para anggota,” kata Melly. “Lain dengan videografi dan fotografi yang ‘hasil cantik’nya langsung nampak, menulis memerlukan pendalaman. Dan salah satu cara pendalaman adalah dengan banyak membaca. Saya mencoba dengan mengajak mereka mendiskusikan buku-buku maestro nasional dan dunia. Tempat diskusi juga saya ganti-ganti, tidak selalu di Basajan. Sekali di warung kopi, sekali di pantai, saya coba agar mereka tidak jenuh dan bosan.”

Selama masa pandemi tahun lalu, Melly mencoba membangkitkan semangat membaca dan menulis para anggota dengan membuat sebuah program khusus. Program ini menghadirkan secara daring penulis pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019, Azhari Aiyub. Untuk videografi, Basajan menjalin kerjasama dengan Aceh Documentary.

“Program kami diadakan di sepuluh sekolah menengah di Aceh Barat. Memperkenalkan dasar-dasar videografi dan dokumenter pada siswa sekolah menengah,” kata Melly.

Untuk tahun-tahun yang akan datang, Basajan akan konsisten di jalur pengembangan skill yang sesuai dengan tuntutan skil industri 4.0.

“Anggota kami sekarang sebagian besar adalah Gen Z. Modal awal mereka sudah melek teknologi, akrab dengan internet. Kita tahu, teknologi cepat sekali berkembang. Apa yang tren hari ini, besok pagi bisa saja kedaluwarsa. Kami di Basajan harus bergerak sama cepatnya. Termasuk dalam hal kreativitas,” kata Melly.

Menyudahi obrolan, kami berkendara ke Lhok Bubon, wilayah pesisir sekitar 30 menit dari Meulaboh. Ada sebuah masjid kuno di sana, yang konon digunakan Teuku Umar untuk menyusun siasat melawan Belanda. Dalam teduhnya mimbar Masjid Teuku Umar, Melly menyatakan rencananya untuk melanjutkan riset tentang berbagai tradisi Aceh Barat yang sudah mulai lekang oleh zaman. “Banyak kearifan lokal Aceh yang lebih dari layak untuk didokumentasikan dan dipreservasi,” kata Melly. “Semoga saya bisa menyusurinya dan menuliskannya semua.”[]

Tangan Jahil Kita, Monstera, dan Efek Kupu-Kupu

0

Dalam teori chaos (kekacauan), efek kupu-kupu adalah saling ketergantungan yang peka terhadap kondisi awal sesuatu. Suatu perubahan kecil saja pada suatu tempat atau kondisi dalam sebuah sistem yang tak linier, akan mengakibatkan perubahan besar pada kondisi atau keadaan yang terjadi kemudian.

Teori chaos berkaitan dengan sistem yang sepintas tampak tidak teratur di alam: pohon, garis pantai, awan, yang sifatnya acak dan anarkis. Namun, bila bagian-bagian besar ini diamati dalam bagian yang lebih kecil, akan tampak bahwa sistem yang besar itu ternyata terdiri atas pengulangan bagian-bagian kecil yang saling berhubungan.

Efek kupu-kupu ditemukan E.N. Lorenz, seorang peneliti meteorologi asal Amerika Serikat, pada tahun 1961. Ia menerbitkan studi teoretis tentang efek ini pada 1963. Ceramahnya tentang efek ini pada tahun 1972 terkenal dengan judul “Does the flap of a butterfly’s wings in Brazil set off a tornado in Texas?”

Maka, efek ini menjelaskan tentang kepak sayap seekor kupu-kupu di hutan hujan Brasil, yang menyebabkan perubahan kecil dalam atmosfer bumi. Namun, perubahan kecil ini ternyata sanggup mengubah jalur tornado di Texas dengan cara memengaruhi persamaan matematis yang menyebabkan perubahan tekanan udara, yang menghasilkan tornado.

Burung cempala kuneng yang gagal dapat jodoh di lampôh pala Aceh Selatan karena tak mendengar suara gemercik riam (sungai kecil) gunung, dalam teori ini, akan mengakibatkan seorang mahasiswa di Bandung drop out, urung jadi sarjana. Lalu urung juga jadi menantu orang. Lalu frustrasi, dan akhirnya bunuh diri. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Lalu apa hubungannya efek kupu-kupu dengan tren tanaman hias, seperti yang diterakan dalam judul tulisan ini?

Tren memelihara tanaman hias akhir-akhir ini sudah berkembang menjadi fenomena. Bukan sekadar klangenan ibu-ibu rumah tangga saja, tanaman hias sudah menjadi komoditas bisnis yang menggeser jual beli model lain menjadi nomor sekian. Satu tanaman Monstera adansonii berdaun tiga helai bisa berharga sepuluh juta rupiah. Apalagi dari subspesies variegata-nya. Monstera adansonii Variegata bisa tembus delapan puluh juta rupiah. Seorang petani tanaman hias di Bandung bahkan konon sempat mengeruk dua ratus juta rupiah dalam sehari gegara menjual tujuh puluh pot tanaman hias!

Di sini kita tidak akan memeriksa reaksi kimia apa gerangan yang ada di dalam benak penggandrung tanaman. Yang akan kita lihat adalah efek kupu-kupu yang terjadi di lapangan ketika seorang kasmaran meminang tanaman yang diminati—baik secara ikhlas mau pun paksa. Karena peminangan tanaman pun bisa terjadi secara paksa. Kapan? Ketika kita menyerabut sesosok tanaman dari habitat alaminya. Hutan misalnya. Atau tepi sungai.

Tanaman hias yang paling bergengsi saat ini, keluarga monstera, adalah tanaman merambat dari keluarga Araceae asal Panama, Amerika Tengah. Lewat tangan para penjelajah Eropa, tanaman ini sampai di Bumi Suwarnadwipa. Tanah Sumatra rupanya cocok dengan si imigran cantik ini sehingga monstera dengan cepat berkembang biak di seluruh pelosok Pulau Emas.

Di habitat alamiahnya, monstera adalah suatu “physical ecosystem engineering”, sebuah gedung apartemen multilantai tempat berbagai satwa tinggal. Katak pohon, siput, serangga, bahkan juga burung-burung kecil. Hewan-hewan ini merupakan sumber energi (makanan) bagi satwa yang lebih besar. Ular, burung pemangsa, dan sebagainya. Pada gilirannya, hewan pemangsa juga akan menjadi sumber energi bagi apex predator, yang ujung-ujungnya berakhir pada manusia.

Mengambil monstera (atau tanaman lain yang sedang ngetren) dari hutan tampaknya tindakan biasa yang takkan mengubah apa pun. Toh, tanaman itu diambil untuk dipelihara. Jadi dia bakal hidup juga, kan. Bahkan mungkin lebih enak hidupnya, karena dipelihara di rumah mewah, disiram dan dipupuk. Namun, bagaimana nasib hewan-hewan yang tinggal di Apartment Grand Monstera tadi? Tentunya akan seperti penghuni kompleks perumahan yang tergusur!

Ah, kan hanya satu tanaman, pasti tak banyak pengaruhnya, mungkin begitu pikiran orang awam . Masalahnya, segala sesuatu di dunia ini adalah elemen dari sebuah grand design yang saling tergantung. Kepak sayap kupu-kupu di hutan Brazil dapat memengaruhi tornado di Texas, ingat? Begitu juga penggusuran Apartment Grand Monstera. Apakah kita berpikir hanya sekadar memindahkan tempat tumbuhnya saja? Coba pikir: tanaman yang diambil oleh tangan-tangan jahil atas nama pencinta keindahan (baca: tanaman hias) tadinya adalah rumah bagi seekor katak pohon. Karena telah diambil monstera itu, lalu dipindahkan ke pot di rumah pengambilnya, si katak terpaksa cari rumah lain. Karena katak mencari rumah lain, ular pemangsanya juga ikut pindah. Lalu, pohon tempat tinggal mereka ternyata dihuni juga oleh lebah madu.

Lalu, datang seorang pencari madu hendak memanen sarang lebah, apesnya ia tidak melihat ular yang baru pindah apartemen. Ular yang kaget, merasa terancam, mematuk si manusia. Pencari madu tewas. Akibatnya, empat anaknya menjadi yatim. Karena ayahnya sudah tiada, empat anak itu tak ada yang mencarikan nafkah. Tiga putus sekolah, yang sulung, bocah 14 tahun, terpaksa pergi bekerja ke kota. Jadi copet. Suatu kali dia nahas, tertangkap, digebuki sampai mati. Peristiwa ini mengilhami para politikus untuk melakukan impeachment pada kepala pemerintahan yang dianggap tak becus melindungi rakyat. Maka kepala pemerintahan pun dimakzulkan… oleh sesosok tanaman monstera yang telah dipindahkan dari habitat alaminya! Lihat, betapa tidak sederhana dampaknya.

Sebagai muslim, efek kupu-kupu ini seharusnya mengingatkan kita pada ayat Al Qur’an surah Luqman: 16:
Yaa bunayya, innaha intakmitsqala jannatim min khardalin fatakun fii shakhzati aufiissamaawaati uufil ardli ya’ti bihallahu; innallaha lathiifun khabiir.” (Luqman berkata: wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Apa pun yang kita kerjakan, sekecil dan seremeh apa pun, akan membawa akibat pada segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Kita boleh saja berpikir bahwa mengambil tanaman dari hutan (karena lagi ngetren) takkan berakibat buruk bagi lingkungan hidup. Namun, tidak begitu menurut Teori Chaos. Tidak begitu juga menurut Al Qur’an.

Lain waktu, sebelum melakukan apa pun, apalagi sesuatu yang sebesar memindahkan sebuah “apartemen”, lebih baik berhenti dan berpikir. Apakah gara-gara saya mencabut tanaman ini, akan ada kepala pemerintahan yang kena impeachment?

Tak ada salahnya berpikir dan bertindak bijak. Tren itu akan berlalu. Namun, hasil perbuatan kita akan permanen efeknya dan yang kena adalah anak cucu kita sendiri juga. Ironisnya, pada saat yang bersamaan kerap kita mengumbar “kepedulian” di media sosial, ayo jaga dan lindungi lingkungan. Aduh![]

Penulis adalah pemerhati isu HAM, perempuan, anak, dan lingkungan, pegiat di Komunitas Perempuan Peduli Leuser Aceh. Artikel ini dipublikasikan di situs AcehTrend.com 26 Januari 2021.

Membingkai Pengalaman Perempuan Mengajar di Desa Bah

0

Perkenalan Diri yang Canggung

Sinar matahari pada siang hari di sini sangatlah berbeda dibanding ketika berada di tengah hiruk pikuk Kota Banda Aceh. Di sini, saya merasa sangat kedinginan, meski cuaca tampak cerah. Hari ini merupakan kali pertama bagi saya berjumpa dengan anak-anak remaja Desa Bah. Kening saya mengerut ketika mendapati tubuh dan wajah anak-anak, yang usianya terpaut sepuluh tahun lebih muda dari saya, tampak lebih dewasa ketimbang saya. Anak remaja yang berusia setingkat pendidikan SMA dan SMP semuanya perempuan. Sementara yang lainnya sudah melanjutkan ke sekolah agama. Sehingga yang hadir di hari pertama dalam program Guru Impian Desa Bah itu hanya sembilan orang.

Riuhnya percakapan jiwa-jiwa muda kekinian, yang dulunya tentu juga pernah saya alami, sebagai gadis remaja adalah hal biasa. Ketika memiliki handphone,  anak-anak cenderung merayakannya dengan berswafoto bersama teman-temannya. Saya tidak heran karena masa muda semacam itu memang menyenangkan, semisal tampil narsis di depan kamera. Namun di sisi lain kelompok yang saya sebut “Arisan PKK” berbeda dengan beberapa anak lainnya yang terlihat “biasa saja” bagi saya.

Pada akhirnya, perkenalan awal tersebut pun diakhiri dengan berswafoto bersama mereka. Tentu tindakan tersebut murni permintaan mereka. Saya hanya menuruti. Hal itu merupakan langkah awal yang bagus untuk berkenalan dan memupuk relasi, bukan? Walau merasa kacau harus ikut bergaya layaknya anak-anak itu, minimal saya ikut tersenyum ceria. Awalnya, saya berpikir akan sulit memasuki dunia para remaja, apalagi mereka yang menggilai K-Pop. Namun pada kenyataaanya, saya justru mampu menjalin pertemanan baru. Mencoba menjadi bagian dari mereka melalui memahami kegemaran mereka, berdialog tentang apapun yang mereka senangi termasuk berbincang tentang pernikahan atau K-pop.

Oh iya, baru-baru ini saya mendapat kabar bahwa Dea-salah seorang anak remaja Desa Bah-semakin meningkat prestasinya setelah belajar bersama Guru Impian. Saya pikir hal itu merupakan sebuah prestasi besar Di kelas, Dea adalah anak yang lumayan aktif, dia sering mengajak saya berbicara. Dia sering membuat pertanyaan yang sebenarnya sudah diketahui jawabannya, tapi saya pikir inilah caranya berkomunikasi dengan saya.

Kelas Privat Pada Malam Hari

Sebelum masuk ke kelas konten, biasanya anak-anak diinisiasi untuk menentukan kelas yang akan diberikan kepada mereka. Kebetulan, saya memegang kelas remaja. Saya pikir modal pengalaman mengajar para remaja terdahulu akan memudahkan saya untuk mengajari anak-anak yang berada di kelas yang sama ketimbang mengajar anak-anak kelas dasar.

Selama proses belajar, saya mendapati kasus unik tentang seorang anak yang tidak paham baca-tulis kecuali menulis namanya sendiri. Hal tersebut baru saya ketahui saat meminta semua anak menuliskan biodata mereka. Melihat kertasnya masih kosong, saya terus saja menuntunnya menulis, sejauh yang dia mampu. Namun, dia hanya menyeringai. Lalu seorang teman di sebelahnya mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menulis, barulah kemudian ia dibantu untuk menuliskan biodata. Namanya Sahara.

Sahara adalah anak terakhir dari lima bersaudara. Keempat kakaknya telah menikah semua. Menurut penuturan sang ibunda, kesemua anaknya bisa membaca kecuali Sahara. Sejak di bangku Sekolah Dasar, Sahara memang sudah menunjukkan ketidakmampuan mengenali huruf hingga akhirnya dia menyelesaikan tiap tingkat dari rasa iba para guru. Saat ini, dia sudah delapan bulan lulus dari bangku Sekolah Dasar. Potensi belajarnya semakin berkurang sebab dia tak paham  baca-tulis.

Dari jauh, Sahara berjalan menghampiri saya dengan membawa sebuah tablet berwarna putih. Saya pun bertanya apa yang biasa dia lakukan dengan tablet itu. Dengan polosnya, dia menjawab digunakan untuk game. Mengetahui Sahara belum bisa baca tulis sementara ditangan anak remaja ini sudah disuguhkan tablet untuk bermain game sempat membuat saya geram. Malam itu saya memulai dengan mengajaknya menyebut huruf. Dia mampu melakukannya lalu membuat namanya berdasarakan urutan abjad. Saat saya memintanya menyebut satu huruf secara acak, dia tidak mampu sama sekali. Banyak huruf yang dituturkan terbalik-balik.

Saya tidak ingin menyebut ini sebagai tanggung jawab karena saya yakin kemampuan anak ini sepenuhnya disadari oleh dirinya sendiri. Saya hanya mencoba memfasilitasi dirinya untuk belajar baca-tulis dan setelah saya kembali pulang tantangannya apakah dia ingin belajar sendiri atau tidak. Tapi ketika saya bertanya tentang bagaimana nanti jika saya kembali ke Banda Aceh?

Dia pun menjawab, “Kalau bersama kakak saya bisa membaca” sebari tersenyum kecil dan malu-malu.

Pemilihan waktu belajar di malam hari ini saya pikir cukup efektif untuk Sahara agar dia dapat fokus. Saya mendengar darinya bahwa jika di rumah dia lebih sering memasak dan membersihkan rumah. Jika di rumah, dia tidak punya waktu untuk belajar. Menurut penuturan ibunya, Sahara lebih senang pergi ke kebun dari pada belajar. Selama proses belajar bersama kami, Sahara selalu datang setelah  magrib. Begitulah kesepakatan kami. Selain itu, saya juga melarang Sahara untuk membawa tablet selama proses belajar.

Beberapa metode yang saya peroleh dari buku bacaan kadang jika itu relevan dengannya akan saya gunakan. Termasuk pendekatan untuk membuat dirinya merasa nyaman belajar baca-tulis. Saya bertanya kepada Sahara apakah dirinya benar-benar ingin belajar atau mengatakan bahwa “kalau kamu tidak bisa baca tulis bagaimana kalau nanti ada orang asing datang membawa beberapa dokumen dan dia meminta tanda tangan kamu. Tapi , karena kamu tidak bisa baca tulis kamu hanya mendengarkan ucapan mereka tanpa melihat isi dokumen itu” Dia hanya manggut-manggut dan masih dengan senyuman yang susah kumengerti. Bukan untuk menakuti-nakuti, tapi bukankah di zaman yang oleh Steve Tesich sebut sebagai era Post-Truth ini segala wacana yang menjadi sumber kebutuhan manusia modern bisa dimanipulasi (data manipulation).

Literasi dasar membantu mencegah anak untuk tidak hanyut dalam pengaruh Radikalisme Post-Truth di masa depan. Yang bisa kita bekali adalah bagaimana anak memiliki minat baca yang menyenangkan bagi mereka, mampu menulis dan memahami lingkungan sekitarnya. Sadar literasi berarti ikut memajukan peradaban dari pembodohan zaman yang terus mencoba menggerus orang-orang buta literasi untuk ikut menjadi kelompok penyebar kebohongan.

Kelas Adalah Taman Bermain

Anak-anak di desa Bah super aktif.  Selalu saja ada pergerakan otau ocehan yang mereka bicarakan terutama anak-anak remaja dalam bahasa Gayo. Di sini, anak-anak akan datang lebih awal dari jam dimulainya kelas. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pustaka Kampung Impian. Jika yang dijadwalkan jam 13.30 WIB, mereka akan datang antara pukul 11.00 atau 12.00 WIB. Padahal di waktu tersebut, para Guru Impian masih sibuk mempersiapkan konten atau bahkan belum sempat sarapan. Namun, kedatangan anak-anak di waktu yang sungguh awal tersebut, apalagi mereka senang berteriak dan berlari ke sana ke mari, membuat suasana ruang terasa gerah.

Kebiasaan mereka ini saya pikir adalah sebuah upaya untuk diperhatikan. Mereka menyenangi kehadiran kami dan seolah-olah kami ini adalah makhluk asing yang jarang mereka jumpai. Bak seorang artis ibu kota mampir ke desa. Beragam cara mereka lakukan termasuk memberikan sesajian bunga mawar, jika tidak dalam pot maka tangkai bunga pun akan dipetik.

Di kelas, anak-anak tidak harus belajar dengan kaku; duduk dan memperhatikan apa yang disampaikan mentor. Anak-anak punya kebiasaan tengkurap saat menulis dan itu tidak lantas harus diubah. Kenyamanan belajar yang efektif paling mungkin untuk menumbuhkan minat belajar yang tidak mengekang di sekolah. Sekalipun nantinya mereka mau memanjat pohon untuk belajar itu pun tidak masalah. Sebab kita bukan mengajar anak-anak di kota yang terbiasa duduk di bangku empuk agar konsentrasi belajar. Anak-anak di sini lebih terbiasa belajar sambil tengkurap, memanjat, bahkan berlari-lari.

Beberapa anak yang saya temui selalu membawa serta adik-adiknya ke perpustakaan. Mereka bertugas menjaga adiknya selama orang tua mereka pergi berkebun. Namun, kehadiran kami tentu tak lantas mengalihkan tugas dan kebiasaan mereka. Pandangan bahwa anak sekecil itu sudah diberi tugas untuk menjaga adiknya merupakan hal keterlaluan mungkin dianggap kurang tepat. Jika itu dilakukan dengan terpaksa oleh mereka boleh saja kita mengira bahwa itu kekerasan terhadap anak. Namun inilah keseharian bagi mereka, bahkan jauh sebelum program ini ada. Merupakan hal yang wajar bila seorang anak berusia sembilan tahun menggendong bayi di pelukannya. Mereka tetap bisa ikut belajar meski bayi dipangkuan mereka.

Pernyataan Yang Memarginalkan

Sebelum Pameran Karya di Desa Bah kami laksanakan, kami menemui seorang lelaki untuk meminta izin menggunakan lahan untuk pameran. Lelaki ini merupakan pendatang dari kota beberapa bulan lalu. Dia bercerita tentang perbedaan didikan anak-anak kota dengan desa. Saya mendengarkan penuturannya dengan baik.

Jika anak-anak kota selain dapat belajar di sekolah ada dukungan orang tua yang ikut menyokong motivasi mereka untuk belajar. Lantas lelaki itu menyebut dengan serampangan bahwa orang-orang di desa ini masih primitif, sebutan untuk masyarakat yang tidak memiliki peradaban. Sebuah kata yang tak pantas diucapkan oleh seseorang yang berpendidikan tinggi seperti dirinya. Saya menahan diri untuk tidak menyanggah. Tapi, sungguh, kata seperti primitif seharusnya tak harus diucapkan karena itu menyakitkan.

Kata-kata primitif sudah lama tidak digunakan oleh para akademisi di kalangan saya, bahkan kata primitif itu dilarang sama sekali. Kata primitif mencerminkan sekelompok masyarakat yang marginal, kotor, tidak berperadaban, dan bahkan tidak bersifat manusiawi. Kata itu tidak pantas dilontarkan untuk sekelompok manusia meski ia jauh dari peradaban kekotaan.   Kita dibentuk oleh komunitas kita dan di sanalah kepribadian setiap individu mencerminkan kelompoknya.

Seorang anak yang lahir dari kelompok dengan kesadaran literasinya kurang bukan menjadi masalah besar bagi kelompoknya karena apa yang mereka percayai tidak sama dengan apa yang orang kota pikirkan. Sebagai contoh, anak desa Bah tidak melanjutkan sekolah ke jenjang Universitas karena alasannya mereka ingin berkebun saja di desa. Pada usia lima belas tahun mereka sudah memiliki kebun sendiri, mereka sudah diberi tanggung jawab untuk mengelola warisan yang telah dibagi oleh orang tua mereka. Kemampuan ini tentunya tak dimiliki oleh anak-anak kota untuk lihai dalam berkebun. Literasi dasar yang wajib mereka pahami sehingga mereka pandai baca tulis. Selebihnya adalah apa yang mereka butuhkan baik dari kelompoknya maupun dari dirinya sendiri. Saya yakin bahwa program ini tidak dirancang untuk membawa anak-anak keluar dari komunitasnya lalu sukses di kota sebagai orang yang lupa pada akar komunitasnya.[]

Waterfall Canyoning di Tangse

0

Assalamu’alaikum sahabat reader, pasti pada nunggu – nunggu ya tulisan aku??? Bad mood menjerumuskan ku ke dunia bawah sadar dalam kendalian rasa malas yang sangat besar, sehingga menjadi platform aku berdebu dan bersarang Laba-laba. Namun di tahun ini hal itu tidak akan ku biarkan lagi, dukung aku ya sahabat readers.

Nahh, kali ini aku akan membagikan pengalaman eksplorasi ku yang terbaru, terupdate, dan terhits di dunia olahraga alam bebas. Dalam pertualangan kali ini aku dan tim yang berlatar belakang pencinta alam dan penggiat alam bebas merintis olahraga alam bebas baru yang dikenal dengan “Canyoning”.

Menurut hasil Wikipedia aku di mbah Google, Canyoning atau dikenal juga dengan nama canyoneering sendiri sesuai asal katanya, canyon (Grand Canyon atau Ngarai Besar / Air Terjun Besar dan Terjal yang terbentuk oleh Sungai Colorado, di utara Arizona). Olahraga ini sangat populer di kancah internasional. Di Indonesia sendiri olahraga ini masih relatif baru dan belum populer di indonesia.

Olahraga yang merangkum beberapa teknik sekaligus seperti pemanjatan (climbing), turun tebing (rapeling), berenang (swimming), dan lompat tebing (climb jumping) sehingga menjadi sebuah disiplin ilmu alam bebas yang dikenal sebagai Canyoing. Sederhananya,  olahraga Canyongin ini adalah kolaborasi antara ilmu Panjat Tebing dan Susur Goa yang diaplikasikan pada media air terjun. Menurut aku pribadi, canyoning ini merupakan tantangan tingkat lanjut bagi penggiat susur gua dan panjat tebing, pun dilihat dari segi teknik, canyoning banyak menggunakan teknik dasar panjat tebing dan susur goa. 

Awalnya kami mengetahui olahraga canyoing ini di youtube, yang di unggah oleh “Canyoing Bali”, lalu kami mempelajari lebih lanjut dan kita juga melihat potensi serta landscape alam yang ada di kabupaten Pidie ini sangat mendukung akhirnya kita praktekan langsung di lapangan, tepatnya di pedalaman Dusun Geunie Kecamatan Beungga Pidie.

Olahraga dengan banyak nama ini menjelajahi daerah lanskap alam yang sulit dijangkau dengan mengikuti rute air yang diukir melalui formasi batuan, dan tentunya memberikan sensasi luar biasa serta memacu adrenalin. Walaupun kegiatan ini dilakukan untuk bersenang-senang dan menambah pengalaman, namun kita dituntut menggunakan peralatan teknis keselamatan atau safety first. Selain dua hal diatas, kegiatan ini juga dapat dilakukan untuk melatih skill, tingkat kesulitan kursus dan tantangan medan. 

Alat-alat canyoning umumnya meliputi:

1. Harness

Harness merupakan perlengkapan keselamatan utama yang dikenakan oleh pengarai yang dipasang ke tali untuk turun dan, jika perlu, memanjat.

2. Sepatu : Karena sifat ngarai yang berair, akan membutuhkan sepatu yang nyaman dan tahan lama dengan daya cengkeram yang sangat baik.

3. Pakaian selam atau life jacket :berfungsi daya tahan dan kehangatannya penting untuk pengarai yang dingin dan dalam. 

4. Helm : Perlindungan kepala yang melindungi kepala dari terpeleset dan terjatuh di ngarai.

5. Sarung Tangan : Sepasang sarung tangan yang berfungi untuk dapat menjaga tangan tetap aman saat menjelajahi bebatuan, meskipun tidak selalu diperlukan. 

6. Tali Kartmantel :untuk tali kartmantel bisa digunakan tali statis maupun dinamis. Akan tetapi lebih baik menggunakan tali statis, karena menahan kuat saat ditempatkan di bawah tekanan, dan memudahkan untuk abseiling atau Reppleling. Tali ini sangat penting untuk pengaman menjelajahi ngarai. 

7. Descender : peralatan turun yang digunakan sebagai rem gesekan, mengatur dan mengontrol turunan ngarai, memungkinkan belayer untuk memberi dan mengambil tali dengan aman. Alat descender yang biasa digunakan yaitu : ATC, Grigri, Figure of eight, Autostop. 

8. Ascender : peralatan naik yang juga dibutuhkan dalam Canyon untuk memanjat tebing. Alat Ascender yang biasa digunakan yaitu : Jummar, Tali Tangga  (Strap / Jedrack) 

9. Carabiner : Untuk pengamanan yang diperlukan di ngarai, carabiner adalah alat untuk menghubungkan harness dan descender. Sebaiknya digunakan yang crew get (kunci) untuk lebih safety karena dapat memasang sling dan peralatan lainnya.

10. Sling : pengaman yang berguna sebagai tindakan tambahan di area yang terbuka. 

11. Jangan lupa baca do’a sebelum dan setelah melakukan kegiatan, hehe

Semoga postingan ini bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Landok Begu, Tarian Sakral Suku Kluet untuk Mengusir Serangan Harimau

0

Dalam budaya Kluet–salah satu suku yang mendiami beberapa kecamatan di Aceh Selatan– pada umumnya masyarakat memiliki kepercayaan tentang hal-hal gaib di lingkungan alamnya. Kepercayaan yang tumbuh dari nenek moyang mereka mekar hingga saat ini, beberapa bahkan menjadi ciri khas orang-orang ini seperti bahasa yang merupakan unsur pertama dalam sistem kebudayaan.

Bahasa Kluet, jika didengar secara gamblang mirip seperti bahasa Gayo, beberapa seperti bahasa Karo dan bahasa Jawa. Bahasa lisan ini tumbuh dalam setiap gerakan budaya yang terpancar dalam satu tarian khas orang Kluet yakni, tarian landok begu. Satu tarian yang dipercaya sebagai simbol menghindari serangan harimau di hutan. Juga salah satu budaya yang kini telah lama dilupakan oleh sebagian orang Kluet yang berhubungan dengan harimau .

Tarian ini merepresentasikan hubungan manusia dengan hewan yang dikenal buas. Bagi masyarakat setempat, tarian ini merupakan sebuah tarian yang memiliki kesakralan yang cukup tinggi yang diperoleh melalui cerita-cerita rakyat sehingga terbentuklah sebuah edukasi untuk mengusir harimau. Landok artinya tarian, sedangkan begu artinya harimau.

Landok begu adalah upaya masyarakat untuk menghindari diri dari serangan harimau. Serangan dari harimau dianggap sebagai bala, sehingga tiap setahun sekali saat pelaksanaan upacara tulak bala atau tolakbala dilakukan pengusiran dengan cara ini. Hanya saja, saat ini tarian landok begu sangat sedikit digunakan sehingga banyak orang yang tidak tahu tentang keberadaan tarian ini.

Landok begu pertama kali dibawakan oleh Enyak Wali dan Abdul Gani antara tahun 1950-an dan tahun 1960. Namun, ketika terjadinya konflik tarian ini sempat meredup dan mulai hidup kembali ketika kondisi di Aceh mulai kondusif. Awal terciptanya landok begu ini karena masyarakat Lawee Sawah dulunya sering bertemu dengan harimau, sehingga mereka mencari cara untuk membela diri ketika berhadapan dengan raja hutan tersebut.

Landok begu merupakan sebuah tarian yang menirukan gerakan harimau di mana di dalam tarian ini terciptanya suasana yang mencekam karena perselisihan antara manusia dengan harimau. Landok begu ditarikan dengan harapan bahwa harimau tidak akan mengganggu ketentraman masyarakat setempat.
Gerakan pada tarian ini merupakan representasi dari kehidupan masyarakat Kluet yang pada umumnya bekerja sebagai petani, gerak lincah, gesit, dan tangkasnya seekor harimau yang sedang berburu mangsanya. Maka dalam tarian ini terdapat silat atau disebut silek begu.

Tidak ada pakaian tertentu yang digunakan saat menarikan tarian ini, hanya pakaian biasa yang umumnya digunakan orang-orang zaman dahulu. Namun, dalam beberapa kesempatan para penari menggunakan kostum kekinian yang menyerupai kulit harimau. Gerakan tarian ini diawali dengan salam pembuka dan diiringi dengan syair dari syeh hingga salam penutup.

Berikut syair yang dinyanyikan selama tarian berlangsung.

Salam alaikum, salam alaikum…
Salam alaikum kami ucapkon
Bandu hai sedaro, bandu hai sedaro..
Bandu hai sesedaro kekerianno, bandu hai sesedari kekerianno…

Landok begu, landok begu…
Landok begu no merupokon…
Sebuah gambaran, sebuah gambaran..
Sebuah gambaran maso waridi..
Gambaran ngeluh, gambaran ngeluh…
Gambaran ngeluh nyelamotkon diri..
Maso waridi, maso waridi..
Maso wari di na ngeluh dibagas talon..
Selalu jumpo, selalu jumpo..
Selalu jumpo, ngon begu-begu..
Begu nerong, begu nerong…
Begu nerong, tando bahayo…

Kuni caro, kune caro..
Nyelamotko diri..
Silek begu, silek begu..
Silek begu, idi mo di pakie..
Idimo caro, idiom caro…
Idiom caro, nyelamotko diri..
Wahe Bapak, wahe Bapak..
Wahe Bapak kam sedaro..
Maaf ko kelok, maaf ko kelok..
Maaf ko kelok mene lot salah.[]

Artikel ini telah tayang di acehtrend.com pada tanggal 03 November 2020

Andai Perempuan Tahu

0

PEKAN lalu saya menerima undangan diskusi dari Ihan Nurdin, jurnalis perempuan di Banda Aceh. Ihan tahun ini terpilih menjadi satu dari lima jurnalis perempuan Indonesia yang menerima fellowship Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara—Unesco. Diskusi khusus bagi kaum perempuan tersebut digelar Minggu (13/9/2020) di Banda Aceh. Tema utama yang diangkat: Akses Informasi untuk Mengurangi Dampak Covid-19 terhadap Perempuan Melalui Literasi.

Sebagai perempuan, saya sadar isu Covid-19 ini tak hanya berpotensi menyerang ketahanan kondisi sosial dan ekonomi keluarga, tetapi juga fisik dan mental secara personal. Wara-wiri berita pandemi di dunia maya yang entah benar entah hoaks, membuat masyarakat semakin jemu. Terlebih kaum ibu. Perempuan tiba-tiba menjadi garda utama bagi segala aktivitas keluarganya. Mulai dari penjagaan kesehatan, pendidikan, kepastian stok konsumsi, bahkan tak tertutup kemungkinan turut pasang badan sebagai korban kekerasan dalam rumah tangganya sendiri.

Di era Covid-19 ini, perempuan menerima beban kerja, rasa lelah, juga kecemasan berlipat ganda. Sehingga, benar kiranya bahwa pengetahuan untuk mampu mengakses informasi kredibel terkait perkembangan dan pencegahan Covid-19 menjadi salah satu hal penting untuk diketahui bersama.

Tanpa kemampuan berpikir kritis serta mengakses informasi secara tepat, kaum ibu mungkin akan kesulitan membimbing anak remaja mereka untuk tetap taat menjaga jarak dalam pergaulan, memakai masker, dan mencuci tangan. Tanpa informasi yang tepat, para istri menjadi tidak sadar bahwa keabaian suami mereka yang tetap berkerumun dalam ruang tertutup, seperti warung kopi atau lapangan futsal, tanpa menaati protokol kesehatan secara tidak langsung telah mendaftarkan anggota keluarnya dalam antrean calon pasien Covid-19. Dengan kata lain, tanpa pemahaman pengaksesan informasi yang tepat, keberadaan internet—terutama media sosial—hanya menjadi tambahan beban mental tanpa solusi mencerahkan.

Kerentanan perempuan

Dunia ini seimbang. Jika terdapat sisi gemerlap, maka tentu ada bagian gelap. Demikian juga dengan kehebohan work from home atau study from home yang terus didengungkan sepanjang 2020 ini. Sebegitu berisiknya, mungkin kita jadi tidak sempat menyadari hal penting lainnya yang justru terbungkamkan. Seperti kerentanan berlipat ganda yang dihadapi para perempuan.

Kemampuan manusia untuk membawa hampir seluruh aktivitas sosial sehari-hari ke dalam rumah dengan bantuan teknologi tentunya sekilas terkesan solutif dan sungguh bergaya modern. Namun, pada kenyataannya, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tersebut juga membawa beragam kemelut baru yang tak disangka-sangka. Seperti peningkatan rasa kesepian (loneliness), problematika kawin-cerai dini, pernikahan siri, dan juga tindak kekerasan di ranah domestik.

Demikianlah yang disampaikan Amrina Habibi, Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, yang hadir sebagai salah satu pemateri diskusi. Melalui tema “Problematika Perempuan yang Muncul Akibat Covid-19”, Amrina memaparkan besarnya kerentanan masalah kesehatan dan keselamatan para perempuan di era Covid-19 dengan beban domestiknya yang mengganda.

Bisa jadi struktur sosial masyarakat Aceh yang kini cenderung patriarki menjadi salah satu pemicunya. Masyarakat dengan mudah melabelkan segala aktivitas domestik sebagai “lencana” milik perempuan seorang.  Sehingga, ketika pandemi terjadi, segala aktivitas sosial di luar rumah pun menjadi bagian domestik, maka perempuanlah yang dituntut sepenuhnya bertanggung jawab. Perempuan pergi belanja, memasak, cuci piring dan pakaian. Perempuan menjaga dan mengajarkan anak, melayani suami dan perempuan juga harus menyelesaikan beban kerjanya sendiri. Sayangnya, kebanyakan perempuan tak sadar bahwa segala hal yang disematkan sebagai “kewajiban” itu bukanlah miliknya seorang diri karena menyandang jenis kelamin perempuan.

Sebagai manusia, kaum laki-laki yang makan dan berpakaian, juga bisa membantu berbelanja, memasak, dan mencuci. Para suami juga bisa meluangkan waktu mengajari anak-anaknya. Bahkan, mereka juga dapat belajar melayani dan menolong sesama anggota keluarga lainnya.

Sejatinya, kondisi lockdown ini dapat digunakan untuk kembali membangun relasi kerja sama yang sehat di ranah domestik. “Menata ulang kebenaran makna berkeluarga yang seharusnya banyak dibubuhi kata ‘saling’ dalam setiap aktivitas di dalamnya,“ papar Amrina yang juga aktif sebagai Dewan Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh.

Kita terlalu lama hidup dalam dogma-dogma palsu. Narasi aneh yang mengharuskan laki-laki bersikap cuek dan dingin agar dihormati. Padahal, laki-laki yang peka, mampu berempati, bekerja sama, dan memperlihatkan kehangatan emosi tentu lebih dipandang terhormat, bahkan mampu dicintai dan disayangi oleh anggota keluarganya secara penuh.

Akses informasi

Terkait akses informasi ini, Nurlaily Idrus MH, Komisioner Komisi Informasi Aceh, yang hadir sebagai pemateri diskusi, menerangkan bahwa masyarakat seharusnya tahu bahwa mereka memiliki hak untuk mengakses informasi publik terbaru dan terpercaya dari badan publik. Hal ini sejalan dengan amanah UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Dalam kondisi wabah seperti ini badan publik berkewajiban memberikan informasi serta-merta yang mudah diakses oleh masyarakat melalui website-website resmi mereka. Jika tidak tersedia, maka informasi tersebut dapat diajukan permintaan ketersediaannya ke badan publik terkait entah itu di bidang kesehatan, pendidikan, maupun sosial. Menurut Nurlaily, proses perolehan data/informasi publik itu penting untuk dipelajari, terutama oleh kaum perempuan sebagai salah satu upaya mengurangi dampak Covid-19 yang mereka hadapi.

Menjelang siang, diskusi santai—penuh pengetahuan, tetapi tetap taat protokoler pencegahan Covid-19—di bawah Rumoh Aceh Tibang itu pun harus berakhir. Diskusi keperempuanan yang dimoderatori Yamen Dinamika, Pembina Forum Aceh Menulis sekaligus Redaktur Serambi Indonesia, ditutup dengan khidmat. Semoga kegiatan tersebut mampu menginspirasi masyarakat untuk menggelar diskusi-diskusi serupa pada hari-hari selanjutnya.

Artikel ini telah tayang di serambinews.com pada tanggal 19 September 2020.

Menikmati Pesona Empat Air Terjun di Tangse Pidie

TANGSE dan sekitarnya yang terletak di dataran Kabupaten Pidie selalu saja memiliki magnet yang membuat para petualang seolah tak bisa menghentikan pacu adrenalinnya. Lanskap alamnya yang sempurna dengan kombinasi dataran tinggi, sungai berarus deras, dan air terjun, membuat Tangse dan sekitarnya patut menjadi primadona.

Kali ini aku akan mengajak kalian untuk menyusuri secuil keindahan di pedalaman Pidie, tepatnya di Dusun Cot Weng, Kecamatan Beungga. Ini merupakan dusun terakhir di desa tersebut. Wilayah yang masih dikepung hutan belantara ini masih sangat sejuk sehingga saat kita ke sana wajib mengenakan pakaian tebal untuk menghalau dingin yang menusuk.

Tempat yang menjadi langganan amukan gajah liar ini juga menyimpan pesona nan indah yang tentunya belum banyak dijamah orang. Untuk menjangkau keberadaannya harus melalui perjalanan yang ekstrem, dan wajib dipandu oleh orang yang sudah berpengalaman seperti aku misalnya. Hehehe.

Untuk eksplorasi kali ini, tujuan perjalananku dan tim yaitu mengeksplorasi air terjun yang ada di pedalaman hutan Tangse. Perjalanan yang dilalui dengan susur sungai ini menawarkan berbagai tantangan yang memacu adrenalin, di antaranya menelusuri track hutan lebat, menerobos semak belukar, menaiki tebing, juga beberapa tempat harus menyebrang sungai dengan arus yang sangat deras.

Untuk sampai ke tempat yang menakjubkan ini, butuh waktu enam jam tracking, tapi jangan ragu, di setiap sudut tempat ini menyajikan spot–spot indah untuk dinikmati, jika sudah lelah dan gerah tinggal mengayunkan tangan ke sungai yang tidak pernah jauh dari lingkaran perjalanan kita. Kesegaran air dingin nan jernih pun siap melenyapkan dahaga.

Jangan terburu-buru terkesima dengan alurnya, berikut aku akan terangkan secara lengkap wujud perjalanannya berdasarkan hasil eksplorasi kami beberapa waktu lalu.

Air Terjun Jeurulong

Dinamakan Air Terjun Jeurulong (Bahasa Indonesia: tumpahan) karena bentuk aliran airnya seperti tumpahan air dari sebuah wadah. Air terjun ini memiliki ketinggian lebih kurang 9 meter dan permukaan ceruknya memiliki lebar 4 meter. Nahh, ini merupakan air terjun pertama yang kita jumpai di jalur tracking.

Pertama kali aku eksplor ke tempat ini tahun 2013, kembali lagi pada tahun 2017, selanjutnya pada 2018 dan 2019. Ternyata bersebelahan dengan air terjun ini di permukaan cabang sungai yang lain juga terdapat air terjun baru dengan ketinggian 12 meter. Namun, debit airnya kecil, akan menakjubkan jika disaksikan setelah hujan lebat, ekstrem banget tapi, ya. Diperkirakan air terjun ini terbentuk karena fenomena alam yaitu longsor.

Air Terjun Palong

Tiba di persimpangan sungai, di antara dua aliran sungai yang deras menawarkan dua pilihan. Pilih kiri atau kanan, tetapi dua–duanya sudah pasti memberikan kesan yang luar biasa.

Mari kita pilih kiri dulu sobat, di sini setelah menyusur sungai sekitar sepuluh menit dari percabangan sungai, alam pun menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Bagaimana tidak, air terjun yang mengelurkan suara gemuruh di balik tebing-tebing yang membentuk labirin ini, karenanya ia disebut sebagai air terjun palong.

Air Terjun Teurace Angen

Kembali ke percabangan sungai, di sini merupakan spot yang tepat untuk ngecamp. Kenapa harus buru–buru untuk kembali, jika alam saja masih menginginkan kita bersamanya. Di persimpangan sungai ini menjadi tempat yang cocok untuk bermalam, memulihkan energi untuk besoknya menjelajah lagi, karena untuk menuju ke air terjun ini memiliki track yang sangat ekstrem.

Air terjun terurace angen (Bahasa Indonesia: terpaan angin), adalah yang paling besar di antara lainnya juga memiliki ketinggian lebih kurang 15 meter, dan lebar mencapai 6 meter. Terpaan angin yang sangat kuat membawa terbang butiran air dan membuat tebing–tebing kokoh menjulang tinggi dipenuhi lumut yang sangat tebal. Di sini aku menegaskan, untuk menuju tempat ini harus dipandu oleh yang berpengalaman.

Air Terjun Ateuh

Sudah menjadi sifatnya air, yaitu mengalir dari dataran tinggi menuju dataran rendah. Karena tingkat penasaran tim yang tinggi, kami melanjutkan track ke atas air terjun Teuraceu Angen. Menyusuri track tebing yang curam tibalah kami ke Air Terjun Ateuh (bahasa Indonesia: air terjun atas). Sebenarnya nama air terjun ini aku berikan sendiri tanpa persetujuan tim, hahaha. Ini disebabkan letaknya paling atas, air terjun ini ketinggiannya mencapai 10 meter dan memiliki debit air yang besar.

Demikian penjabaran eksplorasi aku kali ini. Nah, dalam trip ini aku dan tim menghabiskan waktu bercengkerama dengan alam selama dua hari dua malam. Namun, jika tidak berniat untuk bermalam atau camping, hanya membutuhkan sepuluh jam total perjalanan tracking. Dan di sini perjalananku untuk kembali, tidak ada perjalanan yang tidak merindukan pulang (kembali), juga aku akhiri tulisan ini dengan sedikit nasihat alam.

Berpergianlah kamu menyusuri bumi, karena hidup di bumi itu mahal, namun itu semua sudah termasuk mengelilingi matahari setiap tahunnya. Bertualanglah kamu sampai ke ujung bumi, kelak kamu akan menempati bahwa kamu itu begitu kecil, yang besar itu hanyalah nikmat Tuhan.

Jika kamu bersenggama dengan alam, maka lakukan tiga hal: tidak mengambil apa pun kecuali foto; tidak memburu apa pun kecuali waktu; dan tidak meninggalkan apa pun kecuali jejak. Kami menyebutnya etika alam.[]

Penulis adalah seorang gadis Pidie yang hobi memanjat tebing, bertualang di alam liar. Orang-orang menyebutnya sebagai pencinta alam. Artikel ini dipublikasikan di situs AcehTrend.com 26 Juli 2020.

Relasi Erat Perempuan dan Lingkungan

0

Educate a girl, empower a nation

–Queen Rania of Jordan—

If you educate a man you educate an individual, but if you educate a woman you educate a nation.

–Dr. James Emmanuel Kwegyir-Aggrey–

 

Sekolah adalah tempat kita menimba ilmu, memperoleh Inspirasi dan kekuatan untuk menggerakkan perubahan. Sementara, Rumah adalah “Sekolah” pertama bagi anak-anak, dengan sosok ibu dalam Rumah itu sebagai “mahaguru.” Seorang perempuan yang berpendidikan patut, akan mengusahakan agar anak-anaknya memperoleh pendidikan yang (minimal) sama dengannya. Sebagai guru pertama, perempuan bertanggung jawab menularkan pengetahuan bagi anak-anaknya.

Perempuan yang paham isu lingkungan, dengan demikian, akan menularkan pemahamannya pada anak-anaknya. Seorang anak akan cenderung mematuhi ibunya. Artinya, bila ibunya menanamkan kecintaan dan kepedulian pada lingkungan sejak berusia dini, si anak akan terbiasa bersikap ramah pada lingkungan hidup.

Dan pada gilirannya, anak-anak yang beribukan perempuan sadar lingkungan ini akan dapat menjadi ujung tombak penyuara isu lingkungan hidup. Anak-anaknya akan menjadi “duta besar” yang bisa berbicara dan berbuat langsung untuk kepentingan lingkungan hidup, dengan pengetahuan yang tidak berjarak dengan masalah di kehidupan nyata.

Selain itu, fitrah perempuan sebagai jenis manusia yang paling memiliki kepentingan terhadap lingkungan hidup, membuat mereka dapat menjadi agen ideal dari pencarian solusi masalah lingkungan. Sejak masa purba ketika masyarakat manusia masih terbagi atas kaum pemburu dan kaum pengumpul, perempuan memberi makan anak-anaknya dengan cara bersekutu dengan alam.

Maksudnya, perempuan mengandalkan dan bergantung pada sumber alam sekitar untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan anak-anak dan keluarganya. Bila keseimbangan lingkungan terganggu, maka perempuanlah yang akan pertama kali merasakan pukulan hebat pada kelangsungan kesejahteraan hidup diri dan keluarganya.

Hingga kini, ditengah pesatnya kemajuan teknologi serta ganasnya perubahan iklim, di berbagai belahan dunia perempuan masih memesrai alam untuk menjaga kesejahteraan keluarganya. Perempuanlah yang paling berkepentingan atas tersedianya air bersih, lingkungan bebas bencana, dan adanya sumber makanan yang menerus.

Banjir, misalnya, atau ketiadaan sumber air bersih, akan seketika merampas kesempatan perempuan untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan anak-anaknya. Dengan demikian, adalah wajar dan sangat masuk akal bila perempuan mengambil sikap memihak pada usaha-usaha menjaga kelangsungan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

“Perubahan nyata akan terjadi bila kita “berinvestasi” pada perempuan,” ujar Nigel Chapman, CEO Plan International. Katanya, “Setiap tahun, jutaan gadis muda dihalangi untuk memperoleh Pendidikan layak, yang jelas dapat mengubah hidup mereka, juga mengubah dunia di sekitar mereka.”

Bila kemampuan perempuan untuk mengubah dunia di sekitar telah dikuatkan dengan Pendidikan yang baik, maka bukan hanya lingkungan hidup kita ini saja yang akan memperoleh manfaat yang sangat besar, namun juga kelangsungan hidup bangsa-bangsa di dunia.

Saya perempuan. Karena itu saya cinta dan peduli lingkungan.

Leuser, Separuh Asa Masih Tertinggal di Sana

0

Hutan, sukarelawan, masyarakat dan orang luar, itulah empat kata yang muncul di benak saya kala membaca poster bertuliskan kata “Leuser”.  Sepintas kenangan akan dataran indah Gayo tahun 2011 silam kembali menari-nari. Sebut saja keberuntungan, di kala itu kebanyakan relawan perempuan E-Mate (E-Learning Medan, Aceh, Taiwan) menolak untuk di tempatkan di daerah indah ini. Tanpa pikir panjang, saya dengan enteng menggangguk menyanggupi.

Tidak ada bayaran rupiah atau pun fasilitas mewah, mereka mengingatkan kembali—khawatir akan lisan yang tidak sinkron dengan pemikiran—dan saya kembali mengangguk untuk mengklarifikasi. Maklum saja, berbeda dengan para pria yang memiliki banyak kesempatan mengeksplorasi alam dan rasa penasaran secara mandiri. Bagi kami perempuan kesempatan sakral seperti ini hanya bisa disiasati melalui kegiatan tertentu.

Belum lagi ditambah perjuangan perizinan orang tua melalui wawancara panjang bak lamaran kerja. Sehingga tak heran jika banyak relawan perempuan yang mundur cantik sedari awal penempatan. Padahal kepedulian terhadap lingkungan bisa jadi lebih mudah disosialisasikan kepada masyarakat sekitar melalui perempuan, sebab mereka mudah merasa dan senang bercerita. 

Perjalanan saya ke Gayo Lues tahun 2011 dilakukan dalam rangka memberikan pelatihan untuk para pemuda, guru dan siswa terkait proteksi hutan yang dikemas dalam berbagai bentuk penataran. Beberapa di antaranya berupa program pengenalan manajemen daur ulang sampah, edukasi pengurangan sampah digital, pelatihan kepenulisan dan pembuatan desain campaign proteksi hutan hujan—yang lebih dikenal dengan sebutan Leuser. 

Ada hal unik yang saya pelajari selama menjadi sukarelawan, salah satunya adalah fakta lapangan yang saya dapati akan besarnya antusiasme orang-orang luar negeri terhadap alam dan hutan Aceh. Dari menjadi pemateri, peneliti, bahkan sukarelawan pun mereka lakoni demi memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan proteksi Leuser, sang paru-paru dunia.

Sedangkan kita, masyarakat Indonesia,  masih ramai yang bergeming—antara bingung dan tak peduli—menganggap segala hal baik-baik saja. Lebih disayangkan lagi, ternyata masih banyak pula masyarakat Aceh yang tak mengenal Leuser sama sekali. Bahkan ada yang mengira Leuser itu merupakan nama gunung di luar negeri. 

Dari 10 hari target perjalanan, 6 hari kami gunakan untuk pelatihan dan sisanya untuk bersilaturrahmi ke masyarakat dan mengeksplorasi hutan. Tentu tak lupa diselingi dengan kegiatan ngopi di sana sini—dari cafetaria hingga rumah warga—yang pada akhirnya membuat saraf mulai tak karuan dan jantung terus berdebar, sepertinya ketagihan. 

Kenangan yang paling menyenangkan adalah kala kami ikut terlibat langsung dalam proses memanen kopi dan coklat di perkebunan warga dan melihat langsung proses pengolahannya.  Saat itulah mata saya terbuka, ternyata alam kita sangatlah kaya. 

Namun manusia kerap egois, kenangan indah itu berakhir miris. Saat saya dan kawan-kawan relawan melanjutkan perjalanan menuju Leuser, tiba-tiba kami dihentikan warga di tengah perjalanan. “Kebakaran hutan, ada harimau yang mati, sebaiknya perjalanan dicukupkan sampai di sini,” nasehat warga kepada kami. Kecewa dan sedih saat tak bisa menapaki Leuser padahal sudah tak jauh lagi.

Namun yang paling mengiris hati adalah kala melihat kepulan asap dan perpohonan gosong yang menghitam dari kejauhan. Dari sudut lainnya juga terlihat beberapa bagian hutan yang gundul karena pembabatan liar. Padahal tanpa merusak apapun, alam telah memberikan lebih dari sekedar cukup namun mengapa manusia ini tak puas juga?

Bayangkan saja andai kita semua mencoba untuk sedikit lebih peduli dalam menjaga Leuser sejak dini, mungkin akan ada kisah indah yang dapat kita tuturkan untuk anak cucu kelak. Bayangkan pula bagaimana bahagianya hati kala para cucu dari masa depan berselfie ria, mengupload foto mereka ke sosial media dan men-tag kita dengan caption sedemikian rupa.

“Terima kasih Nek untuk cerita indah Leuser selama ini. Kini kami masih bisa menikmatinya secara nyata. Kami akan terus menjaganya juga seperti yang kalian lakukan sebelumnya.”  #ILoveLeuser #NenekKece #PerempuanPeduliLeuser