Beranda blog Halaman 15

Marini Siregar; Ranger Perempuan Penjaga Hutan Leuser

Bila mendengar kata ranger, generasi tahun 90-an seperti saya pasti teringat akan sebuah serial televisi yang menampilkan aksi lima manusia super dinamai Power Rangers. Dengan meggunakan kostum rangers, mereka bertugas menyelamatkan warga bumi dari para monster yang ingin menguasai dunia. Serial yang populer di tahun 1993-2002 itu menyita banyak perhatian publik, khususnya anak-anak.

Power Rangers ini pada dasarnya hanyalah cerita fiktif yang diadaptasi dari serial televisi Jepang. Namun, di Aceh keberadaan ranger nyata adanya. Mereka adalah tim polisi hutan yang bertugas berpatroli dan melakukan aksi penyelamat hutan dari ancaman kegiatan illegal, seperti perburuan, perambahan, dan pembalakan liar. Hutan tersebut dinamai dengan Leuser, sebagian kawasannya dikenal sebagai Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Leuser inilah yang merupakan paru-paru dunia, sumber air bagi 4 juta penduduk Aceh dan Sumatera Utara, serta tempat tinggal berbagai macam satwa.

Dengan beban di punggung yang beratnya mencapai 50 kilogram sebagai bawaan, para ranger menyusuri Leuser berhari-hari.Terkadang mereka harus mengarungi sungai, melewati jalan menanjak, menurun, bahkan medan yang terjal pun harus dilalui untuk mencapai titik lokasi yang dituju. Belum lagi ketika mereka dihadapkan dengan para pembalak yang kadang susah untuk diajak kompromi. Bila tidak pandai-pandai bernogosiasi justru akan menimbulkan konflik yang dapat mengancam keselamatan diri.

Ranger bagian yang tidak bisa terpisahkan dari Leuser karena dengan adanya mereka, Leuser yang luasnya mencapai 2,6 juta hektare itu bisa terjaga keselamatannya dari para perambah. Tidak hanya mengamankan Leuser, ranger juga bertugas mencatat jejak, sarang, dan kotoran satwa serta menghancurkan jerat yang dipasang pemburu. Kegiatan itu rutin dilakukan sebulan sekali dengan lama patroli 14-15 hari. Selama berada di dalam Leuser, mereka membawa perbekalan seadannya, tidur di dalam tenda ditemani oleh penghunyi rimba.

Mungkin pekerjaan ini dianggap lazim bagi laki-laki, namun bukan berarti perempuan tidak dapat ikut berperan. Pekerjaan yang dilakukan Marini sebagai satu-satunya ranger perempuan yang ambil bagian sebagai tim patroli hutan di wilayah kerjanya menjadi contoh baik peran perempuan di ruang publik. Walau sudah menikah dan memiliki anak, nyatanya Marini masih saja aktif mengawal hutan Leuser hingga sekarang.

Lantas bagaimana Marini Siregar mampu bertahan hingga12 tahun lamanya menjalani profesi sebagai ranger? Mari simak kisahnya.

****

Minggu, 18 Juli 2021, saya bertolak ke Aceh Barat Daya (Abdya) dari Aceh Selatan yang merupakan tempat kediaman saya. Tujuan saya ke daerah tetangga ini untuk bertemu Marini Siregar yang juga teman sekomunitas saya di Perempuan Peduli Leuser (PPL). Ia tinggal di sebuah rumah dinas Puskemas Bineh Krueng, Kecamatan Tangan-tangan. Bersama suami dan ketiga anaknya, mereka menempati rumah tersebut, karena suami Marini berstatus sebagai petugas Ambulance Puskesmas Bineh Krueng.

Setiba di kediaman Marini, saya disambut oleh bocah laki-laki yang merupakan anak bungsu Marini. Kemudian disusul sang kakak berusia kurang lebih tiga tahun lebih tua dari si adik. Kedua bocah tersebut tersenyum, seolah mereka mengetahui bahwa saya orang yang ditunggu oleh ibu mereka. Tidak lama kemudian, Marini pun keluar menyambut kedatangan saya. Saat itu, Marini sedang sibuk mempersiapkan makan siang.

“Harap maklum saja ya Yel, kondisi rumah di hari libur ini,” ujarnya dengan seyum khas sambil mempersilakan saya dan suami duduk. Selanjutnya, ia bergegas ke dapur untuk membuat minuman dan mengambil cemilan untuk dihidangkan.

Marini yang saya lihat saat itu, hanyalah seorang perempuan biasa. Rasanya sungguh menakjubkan jika mengingat bahwa ibu tiga anak di hadapan saya ini sesungguhnya adalah seorang ranger. Sama halnya seperti Power Ranger yang terlihat biasa ketika berada di masyarakat dan akan berubah mengenakan kostum ranger saat melakukan upaya penyelamatan. Begitulah kehidupan Marini yang bisa menyesuaikan diri antara profesionalitasnya saat bekerja dan kesahajaannya saat bersama keluarga.

Bila Marini sedang melakukan patroli, anak-anak akan diasuh oleh sang suami. “Saya bilang ke anak-anak, ‘Mamak kerja nggak pulang selama beberapa hari, jadi kalian di rumah bersama abah ya.’ Mereka tanya kenapa saya lama di hutan dan ngapain aja di sana. Di situlah saya mengedukasi mereka tentang pentingnya menjaga hutan.” Jelas Marini.

Sebelum Marini berangkat untuk patroli ke hutan, semua persediaan di rumah seperti bahan makanan dan kebutuhan anak-anaknya disiapkan terlebih dahulu. Jadi, ketika Marini pergi meninggalkan rumah, ia merasa tenang. Sehingga ia dapat fokus terhadap apa yang dikerjakannya di hutan. Kemudian, ketika Marini pulang dari patroli, ia tidak lupa membawa buah tangan untuk anak-anaknya. Tidak perduli pakaiannya yang masih berlumpur, ia singgah dulu ke kedai untuk membeli jajanan sebagai oleh-oleh dibawa pulang. Begitulah keseharian Marini menyeimbangkan perannya sebagai seorang ibu dan ranger.

Pertama kali saya bertemu dengan Marini, yaitu di tahun 2017 saat kegiatan pelatihan Perempuan Peduli Leuser (PPL) yang diselenggarakan oleh USAID Lestari. Saat itu kami terpilih sebagai perwakilan perempuan dari lima kabupaten/kota di Aceh yang dilatih untuk mengampanyekan isu-isu lingkungan, khususnya Leuser.

Marini yang mewakili Kabupaten Abdya saat itu berstatus sebagai ranger di TNGL. Meskipun ia tahu banyak tentang isi dalam Leuser, tapi sang ranger lebih memilih diam dan banyak mendengarkan cerita dari teman-teman perempuan lainnya. Ia hanya berbicara seperlunya bila dimintai pendapat atau menceritakan pengalamannya selama di lapangan. Pembawaanya yang santai dan murah senyum membuatnya mudah berbaur dengan para peserta pelatihan, hingga ia dikenal baik oleh sesama anggota PPL.

Mungkin banyak yang penasaran tentang kehidupan Marini sebagai seorang ranger. Sebab, jarang sekali perempuan melakukan pekerjaan ini, terlebih harus berlama-lama di dalam hutan meninggalkan keluarga. Oleh karena itu, saya mendatanginya langsung untuk mendengarkan kisah awal mula Marini terlibat sebagai ranger hingga akhirnya ia mencintai profesinya tersebut.

Perempuan Satu-satuya    

Sebelum terlibat sebagai ranger, Marini adalah seorang honorer yang bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, untuk wilayah TNGL. Ia mengerjakan tugas di bagian tata usaha dan kebetulan hanya Marini seorang perempuan yang bekerja di situ. Di awal masa kerjanya, Marini merasa tidak percaya diri karena hanya dia sendiri yang perempuan.

“Baru beberapa bulan saya bekerja di situ, kemudian saya nggak masuk lagi sampai setahun lamanya. Sebab, saya berpikir akan dideskriminasi karena cuma sendiri perempuan. Rupanya pemikiran saya salah besar. Justru tempat ini yang memberi kenyamanan saya bekerja hingga sekarang. Padahal sebelumnya, saya ganti-ganti terus pekerjaan.” Ungkap Marini yang juga mengaku pernah bekerja di mini market dan di Bank.

Namun ketika Marini tidak masuk kerja, ia dipanggil lagi oleh atasannya dan menanyakan alasan kenapa ia tidak mau bekerja. Setelah menyampaikan alasan klasik yang ada dipikirannya, ia pun sadar bahwa tidak perlu ada yang ditakutkan karena rekan kerjanya tidak pernah macam-macam terhadapanya. Ia pun menghalau semua kegundahan yang dikhawatirkannya selama ini, lalu  bekerja kembali di instansi tersebut, meskipun hanya dirinya yang seorang perempuan.

Perempuan asal Sumatera Utara ini pun mulai tertarik dengan pekerjaannya yang awalnya hanya duduk manis di kantor, kemudian ingin mencoba terjun lapangan untuk berpatroli hutan. Marini penasaran melihat teman-temannya yang setiap bulan memasuki Leuser dengan membawa berbagai macam perbekalan dan perlengkapan. Awalnya ia hanya mencoba rute pendek selama dua malam, rupanya ia ketagihan menikmati perjalanan di hutan. Hingga akhirnya, ia memberanikan diri mengambil rute panjang sampai dua minggu lamanya memasuki Leuser hingga ke pedalaman.

“Sebelum kita turun ke lapangan, kita diperiksa dulu kesehatan dan fisiknya. Sebab, beban yang kita bawa tidaklah ringan. Begitu pula rute yang kita lewati bukanlah mudah. Tentu harus sehat fisiknya,” ujar ibu tiga anak ini.

Marini juga dibekali dengan berbagai macam pengetahun tentang apa yang harus dilakukan selama di hutan. “Jadi, ada semacam semester pendek dulu yang harus diikuti. Di sini kita belajar mengenali tanda-tanda satwa, seperti sarang, jejak, lintasan, dan kotorannya. Kemudian mengamati apakah masih ada ketersediaan makanan di sekitar satwa tersebut. Dengan begitu kita bisa memastikan keberadaan satwa tersebut di Leuser ini, berapa jumlah populasinya, dan di mana saja keberadaannya. Selain itu, kita juga belajar bagaimana tindakan yang kita lakukan saat menemukan orang yang sedang melakukan pembalakan, dan hal yang paling penting ialah bagaimana menginput temuan kita selama berada di hutan menjadi sebuah data dasar,” jelas Marini.

Itulah retetan kegiatan yang dilakukan Marini bersama teman-teman rangernya selama 15 hari di hutan Leuser. Jadi, mereka bukan sekadar jalan-jalan saja, melainkan bekerja untuk memperoleh data. Dari temuan merekalah dapat diketahui jumlah satwa yang tersisa, dan bagaimana kondisi hutan Leuser yang merupakan sumber air dan oksigen bagi kehidupan manusia.

Sebenarnya, apa yang dilakukan Marini saat ini jauh berbeda dari latar belakan pendidikannya. Perempuan kelahiran Kota Pinan, 23 Maret 1988, ini lulusan akutansi dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tahun 2007. Setelah mencoba berbagai macam pekerjaan, di tahun 2010 Marini bekerja di TNGL, hingga akhirya memilih menjadi ranger. Ia bisa beradaptasi dengan pekerjaannya itu walau semua teman-temannya laki-laki.

“Toh mereka semua sopan-sopan sama saya. Selama saya bekerja hingga sekarang, tidak pernah mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan. Justru saya sudah menganggap mereka sebagai keluarga. Dan mereka pun juga memberikan perhatian sesuai porsinya dan privasi sama saya. Misalnya saat di hutan, saya diberikan tenda sendiri. Kemudian ketika saya mandi di sungai dekat perkemahan, mereka pergi jauh-jauh supaya saya tidak terganggu dengan keberadaan mereka. Jadi, kalau saya nggak betah, tidak mungkin rasanya saya bisa bertahan sampai sekarang,” ujar Marini.

Sudut Pandang Pekerjaan Marini

Bekerja di tempat yang didominasi oleh laki-laki, tidak menjadi persoalan bagi suami Marini. Justru laki-laki yang bernama Jaddal Iman ini, selalu mendukung Marini selama istrinya bisa menjaga diri dan melakukan pekerjaan sesuai jalurnya. Namun, ada kalanya sudut pandang orang terhadap pekerjaan Marini membuat bunga api dalam rumah tangganya. Untungnya cobaan itu bisa mereka lalui dengan jalan diskusi dan saling membuka diri.

“Pandangan orang ketika saya bekerja di sini yang berat. Apalagi ketika turun patroli dari hutan, dilihat sendiri perempuan, semua mata tertuju pada saya. Bahkan suami saya sempat termakan hasutan orang yang membuatnya tidak sabar. Kemudian saya kasih pengertian ke dia, omongan orang jangan ditelan mentah-mentah gitu. Sebab, orang menyampaikan ke kita bukan karena niat baik, tapi ingin melihat kita hancur. Jadi, itu tergantung abang. Kalau misalnya saya disuruh keluar dari pekerjaan ini, saya keluar. Namun, kalau abang mendukung, saya melanjutkannya.” Kata Marini mengulang ucapan yang disampaikan ke suaminya.

Itulah tantangan Marini di masa awal-awal pekerjaannya. Seiring berjalannya waktu, orang-orang akhirnya memahami apa yang dikerjakan Marini bersama ranger lainnya. Hingga tidak ada lagi yang memandang buruk pekerjaannya. Bahkan masyarakat di sekitar Leuser pun sudah mengenal baik Marini. Ketika ada perselisihan di masyarakat tentang status kepemilikan hutan adat, Marini biasanya ambil bagian untuk bernegosiasi dengan para perempuan di tempat tersebut.

Berada di hutan dan melakukan patroli selama berhari-hari dan bermalam-malam, menjadi pengobat stress bagi Marini ketika bosan bekerja di kantor. Apalagi ketika ia menemukan hal-hal baru di dalam Leuser. Pengalaman berkesan yang membuat Marini semakin mencintai pekerjaannya ialah saat pertama kali menemukan jejak harimau secara langsung.

“Jadi, rasa penasaran saya terus muncul. Saat itu tidak ada perasaan takut sama sekali karena tujuan kita datang ke Leuser punya niat baik. Jauh-jauh datang ke sana menemukan sesuatu hal baru membuat kita merasa senang pastinya,” cerita Marini dengan semangat.

Anak sulung dari pasangan Alm Umar Dani Siregar dan Mardiana Pohan ini juga menjelaskan sekilas tentang perilaku harimau. Lebih lanjut Marini mengatakan bahwa bila harimau mencium keberadaan manusia, satwa yang satu ini akan menghindar. Jadi, ia dan teman-temannya hanya bisa menemukan jejaknya saja tanpa pernah bertemu langsung dengan raja hutan tersebut.

“Kemudian bila kita tersesat di hutan dan bertemu jejak harimau, maka ikuti saja jejak tersebut. Pasti jejak tersebut akan membawa kita ke tepi sungai. Jadi, bila sudah menemukan sungai tinggal ikuti saja alurnya hingga sampai ke perkampungan. Cara ini sering kami lakukan saat tersesat di hutan. Sebab, yang namanya GPS kan sering error, bahkan kadang-kadang kami lebih memilih mengikuti petunjuk alam dari pada alat buatan manusia,” ujar Marini dengan senyum khasnya.

Selama menjadi ranger, banyak ilmu baru yang ditemuinya khususnya pengetahuan dalam menjaga hutan. Marini berharap ke depan ada perempuan-perempuan lainnya yang mau dan tertarik melakukan tugas ini. Sebab, perempuan bisa bercerita lebih banyak tentang hutan khususnya bisa menjadi bahan edukasi bagi anak-anak mereka.

Teruntuk para perempuan, Marini berpesan supaya tetap berpikir positif dan percaya terhadap kemampuan diri. Jangan mau diintimidasi dan diintervensi oleh siapa pun dan jadilah diri sendiri. Bila mempunyai kemampuan dan keterampilan, teruslah mengasahnya dan belajar. Jangan pedulikan apa kata orang lain, selagi itu masih di jalur yang benar.[]

Rida Nurdin; Pengabdian Seorang Pengacara

“SAYA sudah lama melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti ini, sejak tahun 1998,” kata Rida Nurdin, mengawali perbincangan tentang aktivitas yang dilakoninya selama ini pada Minggu, 17 Juli 2021, di sebuah kafe di kawasan kampus Darussalam, Banda Aceh.

Itu artinya, aktivitas Rida yang bergiat pada isu-isu advokasi dan perlindungan perempuan dan anak sudah setua usia reformasi di Indonesia. Saat itu, Rida masih bergiat di Women Crisis Center yang dikelola Kelompok Kerja Transformasi Gender Aceh (KKTGA), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang digerakkan oleh aktivis perempuan dan diketuai Nursiti. “Jadi, memang ada komitmen pribadi, saya suka dengan kegiatan-kegiatan advokasi,” ujarnya lagi.

Kata “suka” yang terlontar dari mulut Rida jelas bukan kata-kata biasa. Sebagai seorang sarjana hukum lulusan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, dan profesinya sebagai pengacara, Rida tentu punya ilmu dan memang cakap. Kata suka itu bisa dimaknai sebagai pengabdiannya kepada kelompok rentan atas semua ilmu yang dimilikinya.

Rida adalah konselor psikologi dan hukum (pengacara) di Unit Pelayanan Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Provinsi Aceh. Ia bekerja di sana sejak masih bernama Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) hingga berubah menjadi UPTD setelah terbitnya Pergub No. 59 Tahun 2019. Tugasnya memberikan pendampingan hukum bagi perempuan dan anak korban kekerasan, anak yang berkonflik dengan hukum, serta perempuan yang berhadapan dengan hukum. Rida sudah akrab dengan pengadilan sejak sewindu lalu. Sidang demi sidang telah ia lalui untuk mendampingi perempuan atau anak yang berhadapan dengan hukum.

Sebelum bekerja di UPTD PPA, Rida sempat bekerja di sejumlah lembaga swadaya masyarakat seperti Forum LSM Aceh dan Mispi. Jobdesk-nya juga tak jauh-jauh dari kegiatan advokasi. Namun, akhirnya ia memilih berlabuh ke UPTD PPA. Menjadi pengacara bagi perempuan dan anak-anak berhadapan dengan hukum yang diadvokasi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Bagi Rida, semua ini merupakan panggilan jiwa.

“Kalau misalnya dibilang karena uang, di awal-awal dulu gajinya Rp150 ribu per bulan, jelas itu bukan tujuan,” kata Rida sambil tersenyum, “memang ada uang pendampingan yang saya terima, tapi per kasus yang ditangani, besarnya Rp150 ribu per surat tugas, tetapi sejak tahun ini menjadi Rp140 per surat tugas,” ujar perempuan yang genap berusia setengah abad itu.

Karena modal panggilan jiwa inilah, Rida selalu enjoy menikmati pekerjaannya. Alih-alih berharap penghasilan yang memadai dari pekerjaannya, justru uang pribadinya yang sering terpakai. Misalnya ketika turun lapangan ke daerah-daerah, uang perjalanan dinas dari kantor jelas tidak bisa meng-cover semua kebutuhan di lapangan yang sering kali di luar prediksi.

Namun, Rida tak pernah mempersoalkan itu. Ia meyakini, kerja-kerja ikhlas yang dilakukan karena dasar kemanusiaan dan semata-mata berlandas pada Sang Pemilik Semesta, pasti akan selalu tercukupkan. Ia bahkan bekerja lebih dari yang semestinya diberikan sebagai tanggung jawab profesional. Misalnya, rela menemui kliennya di hari-hari libur yang notabenenya di luar jam kerja dengan jarak yang cukup jauh.

Menurut Rida, kerja-kerja advokasi memang pekerjaan yang tidak saja menyita tenaga dan pikiran, tetapi juga waktu dan ekonomi. Menangani kasus seseorang yang sedang tersangkut hukum misalnya, tidak cukup hanya dengan mendampingi mereka saat menghadiri sidang demi sidang. Nyatanya, kehidupan orang-orang yang berhadapan dengan hukum ini sangat kompleks sehingga juga menyita perhatian untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang lain.

Rida Nurdin saat menemui kliennya di Kabupaten Aceh Besar

“Kadang-kadang di akhir pekan saat seharusnya kita menghabiskan waktu di rumah untuk keluarga, kita justru harus hadir bersama mereka, tetapi karena memang sudah punya komitmen dengan diri sendiri, ya dinikmati saja, keluarga pun sudah memahami karena selalu dikomunikasikan,” katanya.

Salah satu kasus yang pernah ditangani Rida dan sangat berkesan baginya ialah saat menangani seorang anak berkebutuhan khusus yang mengalami sodomi tahun 2020 lalu. Tidak diketahui siapa pelakunya karena memang sulit untuk mendapatkan informasi dari korbannya yang ABK. Peliknya, anak ini juga lahir dari hasil hubungan inses yang terjadi di barak pengungsian. Ibunya korban tsunami Aceh pada 2004 silam. Dan di sanalah ia mendapatkan perlakuan tak senonoh dari salah satu keluarganya.

Saat anak ini berusia dua tahun, ada salah satu keluarga yang mengadopsinya. Namun, ketika usia anak ini sudah remaja, ayah angkatnya meninggal dunia. Dari sinilah prahara demi prahara dalam hidup anak ini dimulai.

Ibu angkatnya tidak lagi bersedia merawatnya karena terlalu sering mendengar gunjingan tetangga perihal status anak tersebut. Ia pun memulangkan anak ini pada ibu kandungnya. Sang ibu yang telah menikah ternyata juga menolak karena suaminya tidak bersedia menerima anak itu. Kasus ini sempat ditangani oleh P2TP2A Aceh Besar, P2TP2A  Banda Aceh, dan Dinas Sosial Aceh sebagai kasus penanganan bersama. Penanganan yang dilakukan meliputi penanganan anak sebagai korban, saksi, dan pelaku. Juga penanganan perempuan sebagai korban dan perempuan yang berhadapan dengan hukum terhadap ibu anak tersebut.

Hidup remaja ABK ini pun sempat terlunta-lunta. Dia sempat menjadi anak jalanan. Sebelum akhirnya dirujuk ke UPTD PPA karena keterbatasan sumber daya di Aceh Besar, baik tenaga maupun dari sisi anggaran. Karena persoalannya yang kompleks, anak tersebut juga membutuhkan penanganan psikiater, advokasi pendidikan, dan penanganan dari psikolog.

“Kami lantas mencari tahu keberadaannya dan terhubunglah kami dengan ibu angkatnya dan ibu kandungnya. Dari sini saya jadi tahu ternyata si anak ini juga sudah dikeluarkan dari kartu keluarga ibu angkatnya, sekolahnya juga putus. Dalam kasus ini saya penanggung jawabnya, selain itu UPTD PPA juga mengadvokasi dengan lintas sektor dalam pemenuhan hak-hak korban,” kata Rida.

Karena tidak ada satu pun yang menerimanya, Rida lantas menitipkan anak tersebut di Lembaga Perlindungan Kesejahteraan Sosial untuk sementara. Tentu saja persoalannya tak selesai sampai di situ, kondisi remaja tersebut yang ABK, ditambah juga memiliki gangguan kemih sehingga sering mengompol, membuat Rida harus memutar otak untuk mengatasi persoalan itu.

“Kalau dia sudah ngompol saya sering mendapat telepon, nanti saya datang ke panti,” kata Rida sambil tertawa.

Rida juga mengadvokasi ke Baitul Mal Aceh sehingga anak tersebut mendapatkan bantuan dana zakat sebesar Rp1,5 juta. Dengan uang itulah dia membawa anak ini ke dokter spesialis dan digunakan untuk menebus obat yang harganya tidak murah. Sisanya untuk membeli keperluan sehari-hari anak tersebut.

Selanjutnya ia juga mengadvokasi ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Banda Aceh agar anak ini bisa mendapatkan kartu identitas anak (KIA). Berkat advokasi yang dilakukan Rida dan rekan-rekannya, anak tersebut akhirnya bisa ditampung oleh Panti Media Kasih. Media Kasih juga bersedia memasukkan nama anak ini dalam daftar kartu keluarga pemiliknya. Bukan hanya itu, Rida juga pernah membawanya untuk konsultasi dengan psikolog.

“Yang paling dibutuhkan oleh anak ini sebenarnya kehadiran orang tua, kasih sayang, makanya itu juga nggak boleh luput. Khusus untuk anak ini, seminggu sekali saya bawa jalan-jalan, kami bawa jajan di luar, kalau kita tidak punya kesabaran tentu nggak akan sanggup melakukan yang begini,” ujarnya lagi.

Namun, Rida cukup lega sebab ending dari perjuangan ini berakhir happy ending. “Saat ini anak itu sudah di Jakarta, ia ditempatkan di Panti Media Kasih Jakarta dan dididik menjadi hafiz (penghafal Quran) di sana, tapi masih sering komunikasi, sering video call. Anak ini betah di sana,” ujarnya haru.

Rida Nurdin saat mengantarkan kliennya ke bandara yang hendak pergi ke Jakarta

Cerita itu hanyalah segelintir saja tentang bagaimana totalitas seorang Rida Nurdin dalam bekerja. Bertahun-tahun menjadi pengacara, tak terhitung kasus yang berhasil diselesaikannya. Menjalani tugas sebagai advokat, memang bukan perkara mudah. Tak jarang Rida mendapatkan ancaman, umumnya ketika menangani kasus-kasus perebutan hak asuh anak. Suatu ketika, saat ia mendampingi kliennya di Aceh Besar, kaca mobil kliennya malah dihancurkan dengan parang oleh suaminya sendiri. Menghadapi kondisi-kondisi tak terduga ini kecut juga hati Rida, tetapi tak lantas membuatnya patah arang. Dukungan orang-orang di sekitarnya, seperti Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, Nevi Ariyani, dan Kepala UPTD PPA, Irmayani, memberinya keleluasaan dalam bekerja.

Di lain waktu saat ia menangani kasus perebutan hak asus anak kliennya yang bersuamikan seorang TNI, komandannya bahkan sampai datang ke kantornya dan mencoba mengintervensi. Pernah juga beberapa kali dipanggil polisi karena dituduhkan telah menyembunyikan anak-anak mereka yang sedang dalam perebutan hak asuh.

“Padahal ya bukan disembunyikan, tetapi anak ini diamankan sementara karena orang tuanya sedang menjalani proses hukum, dan ini juga sepengetahuan ibunya,”

Bagi Rida, selama yang diperjuangkan itu benar, tidak perlu merasa gentar. Didikan kedua orang tuanya, Nurdin Nasir dan Roslina, yang berprofesi sebagai TNI dan pengusaha kuliner telah membentuk karakternya menjadi sosok yang selalu disiplin dan penuh dedikasi saat mengemban amanah. Sejak kecil ia juga kerap diajarkan tentang arti berbagi dan itu terus terbawa hingga saat ini. Ditambah ia juga berada dalam lingkaran positif yang selalu mendukung kerja-kerjanya. Merekalah yang selalu membuatnya kembali bersemangat saat mengalami kendala dalam menjalankan tugasnya.

Di luar kerja-kerja advokasi, Rida juga aktif menghimpun zakat dari teman-temannya untuk disalurkan kepada individu-individu dari kelompok rentan. Tahun 2021 ini ia berhasil menghimpun dana zakat hingga Rp16 juta, tahun sebelumnya malah lebih besar lagi hingga Rp20 juta. Baginya menjadi kesenangan tersendiri saat bisa memudahkan hidup orang lain, tidak hanya di ranah hukum, tetapi juga dalam hal ekonomi atau pemenuhan hak-hak lainnya.

Praktik-praktik baik selalu membutuhkan motor sebagai penggerak, dan Rida memilih untuk menjadi penggeraknya.[]

Vivi Sharmila: Bisnis yang Berkembang Sarana Membantu Orang Lain

VIVI Sharmila atau yang lebih dikenal dengan sebutan Vivi Spa merupakan salah satu perempuan pengusaha di Aceh. Ia dikenal tidak saja karena usahanya, tetapi juga karena kiprahnya di masyarakat. Di Kota Banda Aceh, saat menyebut nama Vivi pasti akan langsung mengingatkan pada jenama Vivi Spa yang terdapat di sejumlah lokasi. Ini merupakan usaha berbasis perawatan tubuh yang mulai dirintisnya belasan tahun silam. Tempat ini sering menjadi akhir bagi kaum hawa untuk memanjakan diri, relaksasi, atau membuang penat bagi yang jenuh karena deraan rutinitas.

Suasana tempat perawatan yang nyaman dengan alunan musik relaksasi langsung menghadirkan perasaan tenang saat saya mengunjungi salah satu cabang Vivi Spa di Lampriet, Banda Aceh. Selain di sini, juga ada tiga cabang lainnya di kawasan Lamnyong, Lamlagang, dan Kampung Laksana. Dari empat lokasi ini mempekerjakan sekitar 80 perempuan.

Namun, siapa sangka, bisnis Vivi Spa yang terkenal ini, mulanya berawal dari garasi rumah? Pemiliknya, Vivi Sharmila, merupakan salah satu mantan terapis dari salon kecantikan ternama Indonesia, Martha Tilaar. 

“Saya lumayan terkenallah saat bekerja di Martha Tilaar. Jadi, setelah saya tidak bekerja lagi di situ, pelanggan-pelanggan saya dulu mencari keberadaan saya. Jadi, ada yang minta potong rambut, bonding dan sebagainya. Tidak mungkinkan, nggak saya layani? Kondisinya saat itu, saya masih tinggal di rumah saudara. Cuma ada garasi sebagai tempat yang memungkinkan untuk melakukan aktivitas salon saya. Padahal awalnya saya nggak niat buka salon, toh saat itu saya sedang mempunyai bayi yang harus saya asuh,” ujar Vivi saat berbincang.

Mulai dirintis sejak 2005, usaha Vivi berkembang pesat. Lantas bagaimana seorang Vivi mengembangkan bisnisnya, hingga akhirnya memiliki empat cabang dalam waktu 16 tahun, dan melatih ribuan perempuan dalam bidang kecantikan? Mari simak kisahnya agar bisa dijadikan contoh dan panutan.

****

Sabtu, 3 Juli 2021 saya tiba di Vivi Spa Lampriet di Jl. Mujair No.6, Bandar Baru, Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Kedatangan saya kemari bukan untuk mempercantik atau memanjakan diri seperti tamu lainnya, melainkan untuk mendengarkan kisah perjuangan Vivi Sharmila dalam membangun bisnis spanya.

Perempuan berseragam batik menyambut ramah kedatangan saya. Dengan senyum lebarnya, ia menawarkan bantuan. Namun, setelah mengetahui kalau saya ingin menemui sang owner, ia pun menyilakan saya duduk di kursi tamu. Saya menikmati ketenangan di ruangan itu; alunan musik yang menenangkan dan interior yang sedap dipandang. Beberapa menit kemudian, akhirnya yang ditunggu muncul di balik pintu dari ruangan sebelah. Ia menyapa saya dengan senyum semringah, sambil memberi salam sesuai protokol kesehatan. Setelah basa-basi, kami pun beranjak ke ruangan sebelah yang merupakan ruangan butik Vivi Spa.

Di sinilah saya mulai menggali seluk-beluk terbentuknya Vivi Spa dari cerita perempuan kelahiran Panton Labu, 13 Oktober 1982 ini. Sebelum terjun ke bisnis spa, Vivi menempuh pendidikan formal terlebih dahulu di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Banda Aceh. Ia mengambil jurusan kecantikan sesuai minatnya.

Tahun 2000, Vivi menjadi salah satu murid yang terpilih dari jurusannya untuk mengikuti pelatihan di salon kecantikan Martha Tilaar Jakarta. Saat itu Vivi masih kelas tiga, padahal persyaratan untuk mengikuti pelatihan harus tamat SMK karena Martha Tilaar mau buka cabang di Aceh. Jadi mereka merekrut alumni dari SMK, untuk dilatih dan dijadikan terapis di salon mereka nantinya.

Karena Vivi mempunyai kemampuan yang bagus, maka dipilihlah oleh gurunya untuk mengikuti pelatihan tersebut. Setelah mengikuti pelatihan selama enam bulan di Jakarta, Vivi pun pulang ke Aceh dan menyelesaikan sekolahnya yang sempat tertinggal. Setelah lulus, ia langsung bekerja di Martha Tilaar dengan lima tahun kontrak masa kerja.

Tsunami Sebagai Batu Loncatan

Tsunami Aceh tahun 2004 menjadi batu loncatan bagi Vivi untuk memulai usahanya. Padahal kala itu, ia dan suaminya hampir saja ditenggelamkan oleh gelombang besar yang disebut tsunami. Vivi yang tinggal di Gampong Lampulo, sempat merasakan terombang-ambing selama enam jam bersama reruntuhan material tsunami. Pasangan muda yang baru tiga bulan menikah ini, harus berjuang untuk menyelamatkan diri. Mereka sempat digulung-gulung oleh air bah dan dijepit oleh beberapa balok kayu yang ikut tersapu oleh tsunami. Vivi dan suaminya terus berpegangan tangan, sambil mendorong balok-balok kayu yang menjepit tubuh mereka.

“Mungkin ada sekitar 10 batang dengan panjang 6 meter, balok yang mengapit kami bersama dengan air tsunami itu. Kondisi saya saat itu sedang hamil muda. Perut saya pun juga ikut terjepit. Saya berpikir, mungkin tidak selamat anak ini. Jadi, saya nggak memperdulikan lagi kehamilan saya. Jangankan untuk mengosumsi vitamin, makan nasi pun tidak,” kenang Vivi.

Selama tiga hari dalam pengungsian, Vivi dihantui rasa takut yang amat dalam. Mungkin tidak hanya dia, tapi semua orang yang mengalami peristiwa tersebut merasakan demikian. Kengerian tsunami seperti yang diberitakan televisi dan media masa, tidak seberapa dibandingkan dengan orang yang megalaminya langsung. Terlebih ketika muncul isu, ada tsunami susulan yang membuat para korban tsunami kocar-kacir, tidak tenang, dan lari ke tempat tinggi untuk menyelamatkan diri. Begitu pula Vivi yang berkali-kali harus naik-turun tangga, ketika mendengar isu yang tidak jelas kabar burungnya itu.

Psikis Vivi benar-benar terganggu saat itu. Ia menolak semua makanan yang diberikan kepadanya. Melihat kondisi Vivi seperti itu, suaminya pun membawa Vivi ke Bireun tempat saudaranya. Di sini mereka memeriksakan kehamilan Vivi ke dokter spesialis kandungan. Saat di USG, rupanya masih ada denyut jantung dari janin yang dikandung Vivi.

“Ini benar-benar mukjizat dan di luar nalar menurut saya. Sebab, perut saya waktu itu kejepit oleh balok-balok besar. Kalau dilihat kondisi perut saya yang biru-biru, penuh lebam bekas jepitan hantaman, tidak mungkin rasanya bayi tersebut bertahan. Tambahnya lagi saya sempat terminum air tsunami karena tenggelam saat digulung-gulung ombak itu. Qadarullah, ia selamat dan lahir tanpa ada kurang satu pun.” Ujar ibu dari dua anak ini.

Di situlah Vivi bersemangat lagi, ia pun kembali merawat kehamilannya dan mengonsumsi makanan sehat. Dua hari di Bireun, Vivi dibawa oleh suaminya ke Medan. Di sana mereka menumpang di rumah orang Aceh yang tinggal di Medan, sebelum akhirnya mereka berangkat ke Jakarta tempat ibu mertua Vivi.

Beberapa bulan di Jakarta, suami Vivi kembali ke Aceh untuk mengurus keperluan pekerjaan. Sedangkan Vivi tinggal di Jakarta dengan mertuanya hingga anak pertamanya lahir di Jakarta. Anak yang telah melewati banyak perjuangan untuk selamat dari bencana besar itu, diberi nama Najla Qanita.

Lima bulan usia Najla, Vivi pun pulang ke Aceh sambil membawa bayinya. Semua orang kaget melihat Vivi karena mereka mengira ia ikut menjadi korban keganasan tsunami. Bahkan ada yang sempat menitipkan doa saat tahlilan untuk Vivi, karena dianggap sudah meninggal dunia.

“Mereka kira saya sudah meninggal. Sebab tidak ada kabar apa pun tentang saya. Terlebih saya tidak terlihat di Aceh, eh tiba-tiba pulang ke Aceh gendong bayi. Kaget kan orang?” ungkapnya dengan gelak tawa.

Di Aceh, Vivi mulai kembali menjalani hidup barunya dengan tinggal di rumah saudaranya di Kampung Keramat. Ia pun kembali bekerja sebagai terapis di Martha Tilaar untuk menyelesaikan kontraknya yang enam bulan lagi tersisa. Setelah itu, Vivi tidak melanjutkan lagi kontraknya, tapi memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan fokus mengasuh anaknya.

Rupanya keberadaan Vivi dikenal oleh orang-orang di sekitarnya. Khususnya para mahasiswi yang pernah menjadi pelanggannya di Martha Tilaar. Mereka datang menemui Vivi untuk disalon, seperti gunting rambung, rebonding, dan sebagainya. Saat itu Vivi tidak memiliki modal apa pun karena dia tidak berniat untuk membuka usaha salon. Namun, karena sudah diminta oleh pelanggannya, maka dimanfaatkanlah garasi rumah tempat tinggalnya untuk melakukan aktivitas salonnya.

“Kebetulan saat itu saya belum punya mobil, jadi di garasi itulah saya nyalonin mereka sambil ayun-ayun anak. Saya hanya punya cermin kecil, terus kursi tempat duduk, gunting, dan satu buah kipas angin. Awalnya cuma diminta untuk potongin rambut, terus ada yang minta rebonding juga. Jadi saya belilah catokan yang murah-murah itu. Untuk mencuci rambut, mereka harus ke kamar mandi dan untuk mengeringkan rambut menggunakan kipas angin secara manual. Ya, begitulah keadaan awalnya,” kata Vivi.

Mulai dari garasi rumah, semakin banyak yang mengetahui aktivitas salon Vivi. Mereka tahu dari mulut ke mulut, hingga semakin hari kian bertambah pelanggannya. Dari yang semula lima orang, meningkat jadi sepuluh, lima belas, dan seterusya. Uang dari hasil salonnya itu, Vivi belikan barang-barang untuk kebutuhan salonnya, seperti beli cermin yang lebih besar, alat pengering rambut, dan beberapa produk perawatan lainnya. Sebab, ada pelanggan yang meminta perawatan wajah (facial) ke Vivi.

Vivi berbincang dengan salah satu karyawannya terkait pelayanan kepada pelanggan

Tamunya yang datang pun mulai dari kalangan atas dan orang hebat-hebat yang sebelumnya pernah menggunakan jasa Vivi saat ia bekerja di Martha Tilaar. “Saya tanya ke ibu itu, ‘apa nggak malu Bu perawatan di sini dengan kondisi salon seadanya ini?’ Nggak apa-apa asalkan dengan Vivi bilang ibu-ibu itu,” jelas Vivi saat menceritakan kisahnya ke saya.

Setahun kemudian, Vivi menyewa sebuah toko yang berada di Kampung Laksana, Jalan Darma, tepatnya di belakang Pertamina. Sebab, tidak memungkinkan lagi aktivitas salonnya dilakukan di garasi rumah karena pelanggannya semakin ramai. Ia membeli perabotan untuk kebutuhan salonnya itu ke orang-orang kampung yang dikenalnya, agar bisa dicicil bayarannya.

Di salon barunya itu, sudah ada enam buah cermin, bathtub, dan perabotan lainnya pun sudah lumayan lengkap. Vivi mulai mengajarkan keahliannya ini ke adik, kakak, dan saudara-saudara terdekatnya untuk membantunya di salon. Begitu pula dengan perempuan-perempuan yang putus sekolah, ia rekrut untuk dilatih dan bekerja di salonnya. Di sini Vivi mulai memberikan jasa pelayanan spa karena sudah mempunyai barang-barang yang menunjang pelayanan tersebut.

“Ada sekitar tujuh orang yang bekerja dengan saya saat itu. Alhamdulillah, karena pelanggannya lumayan ramai, setahun kemudian kita pindah ke toko yang lebih besar di sebelahnya yang dibeli dari hasil salon tersebut. Saya merekrut karyawan yang lebih banyak lagi, sekitar 15 orang. Mereka kita latih selama tiga bulan, uang saku kita kasih, dan setelah bisa, kemudian baru kita pekerjakan di Vivi Spa.” Jelas Vivi.

Dua tahun setelah tsunami, tepatnya Tahun 2006 Vivi yang semula tidak berniat membuka usaha sudah menjadi pengusaha muda yang sukses di bidang kecantikan. Tidak hanya lihai dalam menata rambut dan melakukan spa, Vivi juga seorang make up (MUA) pengantin yang cukup terkenal di Kota Banda Aceh. Sehari dia bisa mendadani empat sampai lima pengantin, bila sedang banyak yang mengadakan acara pernikah. Bahkan bila di saat musim wisuda, Vivi bisa mendandani 80-100 wisudawati yang akan di wisuda dalam sehari.

“Itu mulai dari jam tiga pagi sudah ada yang datang untuk kita dandani. Mungkin dari sekitar 500-an orang yang di wisuda dari berbagai fakultas, seratusnya dandannya ke kita. Jadi, ada empat dan enam asisten yang membantu saya saat itu. Sebab waktu itu, cuma ada tiga MUA yang ada di Banda Aceh, jadi wajarlah kita banyak mendapat orderan,” cerita Vivi dengan penuh semangat.

Begitulah aktivitas Vivi di salon kecantikan yang dibangunnya, hingga mempekerjakan banyak perempuan yang dilatihnya mulai dari nol. Semua karyawan yang bekerja dengan Vivi bukanlah orang yang siap jadi, melainkan ditempa terlebih dahulu hingga mereka mempunyai keahlian dalam bidang yang digelutinya. Vivi bukan saja mengajarkan keahlian dalam menata rambut, spa, atau perawatan tubuh lainnya kepada para perempuan yang direkutnya, tapi juga teknik komunikasi, dan cara melayani pelanggan dengan baik sehingga membuat nyaman setiap pelanggannya. Bahkan Vivi juga melatih mereka menjadi seorang trainer sehingga bisa melatih perempuan lainnya yang akan direkrut menjadi karyawan berikutnya.

Vivi juga selalu memberi motivasi kepada karyawannya agar mempunyai mimpi dan bersemangat untuk meraih kesuksesan. Di antara para perempuan yang dilatih dan pernah bekerja dengannya, juga sudah ada yang membuka usaha salon sendiri. Itu menjadi sebuah kebanggan bagi Vivi karena ilmu yang diajarkan bermanfaat untuk orang lain dan mendatangkan penghasilan buat mereka.

Menurut Vivi kurang lebih ada seribu perempuan yang pernah dilatihnya sejak tahun 2005. Berbagai macam karakter perempuan sudah pernah dihadapi dengan bermacam tingkah perilaku. “Ada yang sudah sukses buka usaha salonnya sendiri, bisa jadi pelatih buat calon karyawan baru yang direkrut, ada yang masih bekerja dari pertama sampai sekarang, tapi banyak juga yang bertingkah dan melanggar kontrak secara sepihak. Alasannya juga beragam, karena sudah menikah, ada yang tidak cocok kemudian keluar, dan banyak juga yang berkhianat kemudian kabur tanpa ada kabar.”  

Perjalanan Vivi dalam mengembangkan bisnis spanya, sebenarnya tidak seperti yang terlihat mulus-mulus saja. Banyak kendala dan air mata di awal membangun bisnis spanya. Jika bukan karena pasionnya, mungkin Vivi sudah duluan menyerah sebelum sukses seperti sekarang. Namun, kendala itu akhirnya bisa juga dilaluinya setelah mengikhlaskan semua masalah yang menghampiri dirinya.

Kendala dalam Bisnis Spa

Pijat gratis untuk nenek-nenek di panti jompo

Vivi mengatakan kendala utama dalam merintis bisnis spa ini terletak pada sumber daya manusianya. Sebab yang ia bangun bukanlah barang atau benda, tapi manusianya. Bagaimana yang awalnya mereka tidak bisa apa-apa, menjadi orang yang mempunyai keahlian khusus sehingga mendatangkan penghasilan bagi mereka. Tentunya dalam mendidik manusia itu butuh kesabaran dan keikhlasan, karena bila tidak, akan menjadi bumerang bagi diri jika harapan tidak sesuai dengan kanyataan.

“Di awal-awal merintis usaha, saya sempat kaget dan stress berbulan-bulan ketika dihadapkan dengan masalah. Sebab masalahnya bukan karena nggak ada pelanggan, tapi di karyawannya. Ada yang sudah kita ajarkan kemudian mereka bertingkah saat bekerja, susah diatur, tidak melayani pelanggan dengan baik, tidak bisa diajak bekerjasama, dan sebagainya. Namun, yang paling menyakitkan itu di antara masalah lainnya, yaitu ketika setengah dari karyawan saya berhenti bekerja dan diambil oleh orang lain yang baru membuka bisnis spa dengan iming-iming gaji yang lebih besar dari gaji yang saya berikan.” 

Padahal saat itu Vivi sudah melatih mereka mulai dari nol dan mengeluarkan uang yang tidak sedikit selama masa pelatihan. Persoalan ini benar-benar menjadi masalah besar bagi Vivi, bahkan ia sampai ingin menyerah. Beruntung ia mempunyai suami yang selalu memberi motivasi dan semangat di kala ia jatuh.

“Suami saya bilang, ‘ilmu yang kamu kasih itu adalah ilmu bermanfaat untuk mereka, jadi kamu harus ikhlas memberikannya. Memang ikhlas itu tidak sekadar diucapkan di mulut, sakit hati dan kecewa pasti ada. Namun, lama-kelamaan kamu akan belajar mengikhlaskan dan melepaskan mereka dengan rasa tanpa beban. Perlu kamu ingat bahwa rezeki itu buka dari mereka, tapi dari Allah melalui mereka. Namun, bila mereka sudah tidak cocok dengan kita berarti itu bukan rezeki kita. Ada cara lain yang Allah gantikan untuk kamu nantinya.’ Dari situlah saya belajar menjadi pemimpin yang bijaksana, mempunyai hati yang luas, sehingga ketika menghadapi persoalan seperti itu saya bisa mengikhlaskannya tanpa beban,” jelas Vivi.

Vivi tidak mau membawa persoalan yang dihadapinya melalui jalur hukum. Walaupun sebenarnya jalan itu bisa ia tempuh karena para karyawan tersebut masih terikat kontrak kerja dengannya. Namun, Vivi lebih memilih mengikhlaskan dari pada memperpanjang persoalan. Ia mengikhlaskan semua ilmu yang sudah diajarkan kepada mereka karena amalan dari ilmu yang bermanfaat itu, tiada henti selama mereka masih mempergunakannya untuk jalan kebaikan.

Selain itu, ada tahap yang lebih menyakitkan lagi yang menurut Vivi tidak pantas untuk ditiru. Seorang karyawan yang menjadi kepercayaannya, justru membuka usaha salon yang konsepya sama dengan Vivi Spa tanpa sepengetahun dirinya. Kemudian merekrut semua pelanggan terbaik Vivi ke salon yang dibuka karyawan tersebut.

“Bagi saya sebenarnya tidak masalah kalau dia membangun usaha spa, karena dia sudah bekerja dan mungkin ingin mandiri juga dengan membuka usaha sendiri. Harusnya dia sudah keluar dulu dari tempat saya, baru membangun usahanya sendiri. Bukannya membangun usaha, tapi posisinya dia masih bekerja dengan saya sebagai seorang terapis. Otomatis dong saat dia bekerja di tempat saya, dia mengajak pelanggan saya pindah ke tempat dia,” ujar Vivi sedikit kesal.

Bahkan karyawan tersebut menjiplak semua konsep Vivi Spa, mulai dari menu, produk, dan seragam karyawan yang digunakan sama seperti yang dibuat Vivi. Padahal saat itu si karyawan masih terikat kontrak kerja dengan Vivi Spa. Saat Vivi mengklarifikasi semuanya ke dia, justru karyawan tersebut keluar dari Vivi Spa dengan tanpa terhormat dan meninggalkan Vivi begitu saja.

Manager Vivi sempat geram dan marah saat itu atas perilaku karyawan tersebut. Namun, apa yang dilakukan Vivi? Dia hanya diam dan mengikhlaskan tanpa mau memperkarakan hal itu. Baginya itu adalah ujian dan tantangan dalam bisnis spa.

“Saya tidak mau direpotkan dengan masalah-masalah kayak gitu. Setiap usaha pasti punya masalah, dari 100% perjalanan usaha hanya 40% yang aman. Selebihnya yang 60% itu adalah masalah. Jadi, saya nggak mau berlama-lama dengan masalah itu. Bila ada satu karyawan yang bermasalah, saya harus melepaskannya karena saya masih punya puluhan karyawan lainnya yang loyal ke saya. Anggap saja itu bukan rezeki saya dan saya nggak mau dipusingkan lagi dengan masalah tersebut. Makanya saya lebih memilih diam dari pada memperkarakannya.”

Fokus Vivi dalam mengembangkan bisnis spanya bukan pada masalah. Ia tidak mau terbeban dengan masalah seperti yang diceritakan di atas. Bila ada karyawan bermasalah, dia melepaskan karyawan tersebut bila dianggap sama-sama tidak cocok lagi. Kemudian Vivi merekrut orang baru yang kemudian dilatihnya lagi dari awal sampai siap jadi. Tak heran bila ditotalkan sejak tahun 2005, perempuan yang pernah dilatih Vivi sampai ribuan jumlahnya. Sebab masalah dalam bisnis spa ini selalu ada dan tidak jauh-jauh dari keloyalan seorang karyawan.

Fokus Vivi ialah bagaimana ia bisa tetap menjalani usahanya dan membuka cabang lebih banyak lagi, bahkan bisa di seluruh daerah yang ada di Aceh kemudian di luar Aceh. Itu terbukti sampai sekarang Vivi masih bisa bertahan dan terus melebarkan sayap usahanya ke berbagai daerah.

“Sekarang kita lagi proses tahap pembangunan Vivi Spa di Meulaboh dan Bireun. Lokasinya sudah dapat, tinggal launching saja lagi nanti mungkin di pertengahan atau akhir tahun ini.” Vivi sangat senang dengan apa yang diperolehnya saat ini.

Menurut Vivi untuk bisa sampai ke titik di mana ia harus mengikhlaskan semua masalah tersebut, butuh pembelajaran panjang. Pembelajaran itu ia dapat dari suami yang terus mendukung dan menyemangati Vivi ketika dihadapkan dengan masalah. Sebab yang menjadi masalah itu bukan karena tidak ada pelanggan atau dengan rumah tangganya, tapi terletak pada sumberdaya manusianya.

Vivi berharap ke depan bisa terus membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi perempuan. Dia terus melatih orang-orang yang menginginkan ilmu darinya walau ada yang akhirnya menghiantai. Namun, itu dianggapnya sebagai tabungan amal di akhirat kelak karena yang diajarinya ilmu yang bermanfaat. Vivi juga berkeinginan suatu saat nanti ia bisa melatih dan mendidik para ibu rumah tangga yang suaminya tidak mempunyai penghasilan. Dengan adanya keahlian yang dilatih, berharap akan mendatangkan penghasilan buat mereka dan keluarganya.

Aktivitas Sosial

Pelatihan menjahit untu ibu-ibu

Memiliki usaha yang mapan menjadi sarana bagi Vivi untuk kegiatan-kegiatan sosial. Ia memiliki orgnisasi nirlaba yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan yang bernama Yayasan Dara Mandiri Aceh. Yayasan ini berdiri pada 2018 dan Vivi merupakan pembinanya.

Melalui yayasan ini, ia menularkan semangat berbagi kepada mereka yang hidupnya kurang beruntung. Ia memberikan pelayanan kepada mereka sesuai bidang yang ditekuninya. Misalnya, memberikan potong rambut gratis untuk anak-anak di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kampung Jawa.

Pernah juga melakukan kegiatan yang sama dan berbagi dengan anak-anak panti asuhan Yayasan Islam Media Kasih, kegiatan memberikan pijat gratis untuk nenek-nenek di panti jompo Aceh, dan potong rambut bagi pasien di Rumah Sakit Jiwa Aceh.

Selain itu, Vivi juga membuat pelatihan gratis menjahit hijab syari di Gampong Lampulo, Gampong Keramat, dan Gampong Laksana. Vivi juga memberikan mainan dan buku cerita untuk anak-anak di Baby Care Bunda Meri. Kegiatan sosial ini rutin dilakukannya setiap tahun.[]

Nuu Husien; Ibunya Para Penyintas Talasemia

NUU Husien layak dilakabkan sebagai “ibunya” para thallers di Aceh. Suatu istilah yang disematkan bagi para penyintas talasemia: penyakit kelainan darah yang terjadi karena faktor genetik dan mengharuskan penyintasnya melakukan transfusi darah sepanjang hidup mereka. Orang-orang dengan talasemia memiliki hemoglobin rendah sehingga kerap mengalami anemia. Itu sebabnya para penyintas perlu melakukan transfusi darah secara rutin.

Penyakit ini, bukan saja namanya yang bikin keseleo lidah saat disebut, tetapi juga kalah populer di telinga orang awam dibandingkan penyakit-penyakit lain seperti hipertensi, kanker, tumor, tuberkulosis, atau diabetes. Padahal, penyakit ini justru lebih berbahaya karena tak bisa disembuhkan. Tak bisa pula dicegah melalui pola gaya hidup sehat. Itu artinya, prevalensi talasemia sangat memengaruhi kualitas generasi-generasi yang lahir di masa mendatang jika tidak dilakukan intervensi sejak dini.

Namun, sejak lebih dari sewindu lalu, pelan-pelan kampanye tentang talasemia mulai bergaung. Sejak Yayasan Darah Untuk Aceh (YDUA) yang digerakkan Nuu Husien hadir di Aceh pada 2012 lalu. Saat itu, Nuu menggagas gerakan kakak asuh bagi para thallers agar lebih mudah mendapatkan pendonor setiap bulannya. “Satu thallers kita usahakan punya tiga kakak asuh, karena mereka ini kan harus transfusi setiap bulan, sementara kita hanya bisa mendonorkan darah tiap tiga bulan sekali, minimal 2 bulan,” kata Nurjannah Husien, yang akrab disapa Kak Nuu oleh rekan-rekannya, “dulu terdata pernah punya lebih dari dua ribu pendonor,” ujar Nuu Husien.

***

Minggu ketiga Juni 2021 lalu, saya dan Nuu Husien bertemu di sebuah kedai kopi di bilangan Jalan Panglima Nyak Makam Banda Aceh. Hari yang terik dan cuaca yang bikin gerah membuat kami memilih minuman dingin untuk diseruput sambil berbincang. Nuu juga memesan sepiring nasi dengan lauk ayam goreng untuk santap siangnya. Cerita demi cerita meluncur dari mulut Nuu Husien berselang-seling dengan suapan nasi yang masuk ke mulutnya.

Perempuan kelahiran Aceh Jaya, 24 April 1969 ini berkisah, YDUA lahir dari pengalaman pribadinya yang “indah”. Suatu ketika, ibunda Nuu sakit dan membutuhkan transfusi darah. Beruntung, pihak keluarga sangat mudah mendapatkan darah. Bertahun-tahun kemudian, sepenggal pengalaman dari masa lalu inilah yang memantik Nuu Husien untuk turut berbagi kemudahan bagi orang lain.

Sedikit flash back, awalnya Nuu adalah penggerak di Yayasan Bumiku Hijau atau Yabumi. Awal tahun 2012, yayasan ini membuat kegiatan donor darah dan bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia Banda Aceh. Siapa sangka, pertemuannya dengan Ketua PMI Banda Aceh saat itu, dr Ridwan, mengubah haluan aktivitas seorang Nurjannah Husien. Dari yang awalnya bergerak di bidang lingkungan, beralih pada isu sosial kemanusiaan. Bersama empat rekan lainnya, Nuu akhirnya membentuk yayasan baru yang diberi nama Yayasan Darah Untuk Aceh. Kombinasi kata “darah” dan “Aceh” memang terkesan “gahar” dan di awal-awal dulu, menurut keterangan Nuu, sering mengingatkan orang pada konflik Aceh.

“Dari Dokter Ridwan kami tahu bahwasanya ada pasien di rumah sakit yang rutin butuh darah setiap bulan,” kata Nuu, Senin, 22 Juni 2021.

Sebagai orang awam yang berlatar belakang pendidikan ekonomi, ia pun sempat bingung saat dokter menyebutkan istilah talasemia untuk penyakit yang diderita oleh pasien yang rutin membutuhkan transfusi darah tersebut. Namun, kebingungan itu segera terjawab setelah ia mencari tahu di internet. Meski sangat minim informasi, tetapi setidaknya ada satu informasi yang menjadi hot button bagi Nuu, yakni munculnya angka 13,4% yang menginformasikan jumlah penderita talasemia di Aceh.

“Angka ini juga bikin saya penasaran, soalnya tidak ada keterangan lain selain angka itu. Jadi tidak diketahui angka riilnya berapa.”

Namun, Nuu meyakini ini bukanlah angka yang kecil. Berbekal angka itu, Nuu mulai mencari-cari informasi dan melakukan pendekatan kepada pihak-pihak yang menurutnya bisa memberikan informasi, khususnya para dokter. Tak hanya dokter-dokter yang ada di Aceh, ia juga menjalin hubungan dengan dokter yang ada di Jakarta. Nuu juga mulai melacak keberadaan para penyintas talasemia di Aceh. Untuk ini tidak begitu sulit, dia tinggal pergi ke Sentra Talasemia Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin di Banda Aceh.

Bukan hanya itu yang membuat dirinya kaget, pasien talasemiayang rutin melakukan transfusi darah di RSZA juga sangat banyak. Ada ratusan pasien dari berbagai daerah di Aceh dan umumnya berasal dari Kabupaten Aceh Besar dan Pidie. Jumlahnya pun dari tahun ke tahun terus bertambah. Misalnya, pada 2018 lalu menurut catatan YDUA hanya 550 pasien, tahun 2021 ini naik signifikan menjadi 750 pasien. Menurut Nuu, angka ini hanyalah fenomena gunung es.

“Kami juga mendapatkan fakta, ternyata selama ini para penyintas ini juga dikucilkan di lingkungannya, mereka ada kalanya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan,” kata Nuu.

Selidik punya selidik, pengucilan itu terjadi akibat minimnya informasi tentang penyakit genetik ini. Tidak ada istilah lokal untuk talasemia. Penderitanya yang mengharuskan transfusi darah rutin ada kalanya dianggap sebagai penyakit kutukan, sebagai tumbal, hingga guna-guna. Tak jarang, alih-alih berobat ke rumah sakit, keluarga justru membawa ke dukun. Bukan hanya itu, kasus-kasus yang ditemui YDUA bahkan ada istri yang mendapatkan perlakuan tak layak bahkan diceraikan suaminya karena dianggap sial telah melahirkan anak dengan talasemia. Fenomena sosial ini tentu saja tidak bisa dibiarkan, karena faktanya anak-anak talasemia lahir dari pasangan orang tua yang berstatus sebagai carrier atau pembawa gen.

“Inilah yang harus diedukasi sehingga sasaran kesalahan itu tidak hanya ditimpakan pada satu pihak saja, khususnya perempuan sebagai ibu yang melahirkan. Satu-satunya cara untuk mencegahnya lahirnya generasi-generasi dengan talasemiaialah tidak menikah sesama carier, caranya bisa diketahui melalui skreening darah. Tapi, ini memang tantangan, walau bagaimanapun yang namanya perasaan dan cinta kan sudah urusan hati,” katanya dengan mimik prihatin.

Menyadari betapa peliknya kondisi ini, Nuu menjadi semakin serius mengampanyekan tentang penyakit tersebut. Sejak awal terbentuknya YDUA, selain menginisiasi gerakan kakak asuh, dia juga terus melakukan sounding baik di media arus utama maupun media sosial seperti Twitter atau Facebook. Sejalan dengan itu, dia terus menjalin hubungan dengan berbagai pihak dan terlibat dalam proyek-proyek penelitian tentang talasemia. Bagi Nuu, ini ibarat membuka jalan di hutan rimba.

Di tahun-tahun pertema terbentuk, YDUA langsung digandeng oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia untuk terlibat dalam penelitian. Pihaknya juga bekerja sama dengan komunitas darah rhesus negatif di Banda Aceh sebagai upaya memenuhi ketersediaan darah bagi pasien yang memiliki darah rhesus negatif. Saat ini, YDUA juga sudah bekerja sama dengan Laboratorium Prodia untuk pemeriksaan atau screening darah gratis. Baru-baru ini, mereka juga menjalin kerja sama dengan UIN Ar-Raniry untuk penelitian dari aspek antroplogi dan psikologi.

Belajar Talasemia dari Hanoi hingga Yunani

Nuu Husin bersama Farah Diba berdiri di depan poster YDUA saat menghadiri konferensi internasional di Yunani

Dedikasi Nuu untuk menghadirkan literasi yang memadai tentang talasemia memang tak bisa dianggap sebelah mata. Ia bahkan rela merogoh kocek pribadi untuk menimba ilmu hingga lintas benua. Tahun 2012, saat usia YDUA masih seumur jagung, bersama pendiri lainnya, Aulia Rohendi, Nuu menghadiri seminar internasional tentang talasemia di Hanoi, Vietnam.

“Saya terpaksa menjual dua alat selam seharga satu sepeda motor untuk biaya kami ke Hanoi, biaya tiket, dan semua akomodasi selama lima hari di sana,” ujar perempuan yang juga lihai menyelam ini.

Namun, ada satu momentum selama perjalanan ke Hanoi yang membuat Nuu tidak pernah menyesali keputusannya saat itu. Dalam perjalanan menuju Hanoi, mereka transit di Kuala Lumpur. Dalam pesawat rute Kuala Lumpur—Hanoi ini ia bertemu dengan seorang gadis dari Asia Selatan, tepatnya dari Maladewa. Kursi mereka satu deret dan posisi gadis itu diapit oleh Nuu dan Aulia. Untuk mengisi waktu selama perjalanan, seperti biasa, perempuan ramah ini pun mulai menyapa “tetangganya”.

“Dan siapa sangka ternyata gadis itu seorang penyintas dan dia juga menjadi salah satu peserta seminar di Hanoi,” cerita Nuu yang masih mengingat dengan jelas memori itu, “saat itu juga ada perasaan haru yang muncul dalam diri saya, saya peluk gadis itu, saya menangis, benar-benar tidak bisa menahan emosi. Saya yakin ini bukan kebetulan, tetapi cara Allah membuka jalan pada saya…”

Dalam forum internasional itu, Nuu Husien tak melewatkan sedetik pun waktu yang mereka punya. Karena terkendala bahasa, kadang-kadang dia meminta Aulia untuk menerjemahkan paparan pemateri. “Saya menyimak, mencatat poin-poin penting. Saat itu saya bertekad, saya katakan pada Aulia, ‘Suatu hari, kita harus bisa presentasi seperti itu,’” ujar Nuu dengan penuh semangat.

Semangat itu menjadi oleh-oleh berharga setelah kembali lagi ke Aceh. Yang pertama dilakukan ialah segera membentuk badan hukum komunitas supaya lebih leluasa dalam bergerak. Pola kampanye pun mulai diubah, dari awalnya fokus pada pemenuhan darah bagi pasien, menjadi lebih fokus pada kegiatan-kegiatan penelitian sebagai upaya preventif untuk jangka panjang. Komitmennya adalah memutuskan rantai talasemia di Aceh yang sangat tinggi. YDUA berkomitmen hadir bukan saja untuk membantu persoalan jangka pendek. Misi lembaga ini mencegah terjadinya kelahiran dengan talasemia mayor pada 2035.

Tahun  2017, kesempatan kedua untuk belajar ke luar negeri kembali hadir. Kali ini ke Kota Thesaloniki, Yunani. Sebuah negeri di Semenanjung Balkan yang namanya sering muncul di buku-buku karena tokoh-tokohnya di masa lampau. Lagi-lagi, kegigihan dan pengorbanan Nuu diuji di sini. Kendala biaya tetap menjadi faktor utama. Ia berhasil mendapatkan sokongan dana dari salah satu perusahaan farmasi di Jakarta, ia juga mendapatkan bantuan dari Darwati A Gani, politisi perempuan di Aceh yang saat itu suaminya menjabat sebagai Gubernur Aceh. Namun, dana yang terkumpul masih jauh dari cukup. Ia memutuskan untuk menjual sepeda motornya untuk mendapatkan uang tambahan.

“Akhirnya, berangkatlah kami, tapi itu pun tidak semulus yang kami bayangkan, karena terkendala visa, kami tidak bisa langsung terbang ke Yunani dari Indonesia, tetapi harus mampir dulu di Jerman. Selama di Jerman kami menumpang pada WNI yang ada di sana,” kenangnya.

Perjalanannya ke Yunani kali ini bersama Farah Diba, salah satu relawan di YDUA dan berlatar belakang dari dunia kesehatan. Keberadaan Farah yang pernah studi di Jerman tentu saja sangat membantu.

Selama di Yunani, mereka bertemu dengan para ahli talasemia dunia seperti dari Amerika, Inggris, Siprus, dan sebagainya. Siprus pernah menjadi negara dengan kasus talasemia tinggi, tetapi kini kasusnya menjadi nol karena keseriusan intervensi pemerintahnya. Salah satunya dengan mencegah terjadinya pernikahan sesama carier. Bahkan, salah satu peserta adalah dokter dari Iran yang juga seorang penyintas. Pertemuan dengan dokter tersebut lagi-lagi menginspirasi Nuu untuk memasifkan kampanye talasemia di Aceh.

Namun, yang sangat berkesan saat itu, YDUA mendapatkan kesempatan untuk presentasi. Walaupun hanya beberapa menit di atas podium, tetapi bisa menyuarakan kondisi di Aceh ke panggung dunia tentulah kemewahan luar biasa. Nuu merasa impian kecilnya yang disampaikan pada Aulia tempo hari di Hanoi telah terwujud.

Kerja keras Nuu Husien dan para relawan di YDUA bukan hanya mengadvokasi kebutuhan darah bagi pasien saja. Secara psikologis juga memberikan pendampingan bagi mereka. Tak bisa dimungkiri, para thallers ini awalnya banyak yang memiliki tingkat kepercayaan diri rendah. Di rumah sakit misalnya, mereka seolah menjadi pasien kelas dua. Namun, berkat edukasi bertahun-tahun, kini mereka sudah berani speak up dan tak malu-malu lagi mengakui diri mereka sebagai penyintas. Yang lebih menggembirakan, komunitas-komunitas para thallers mulai terbentuk dengan induk bernama Squad Talasemia. Sudah terbentuk juga di beberapa daerah. Mereka yang tergabung di komunitas ini diharapkan bisa menjadi perpanjangan tangan untuk mengedukasi masyarakat.

Di awal-awal pandemi, Nuu sangat kesulitan mendapatkan darah untuk pasien talasemia, ia pun meminta Kasdam untuk mengirimkan pendonor akhirnya prajurit Batalion Raider di Mata Ie, Aceh Besar, melakukan donor darah massal

Membangun Rumah Singgah “Rumah Kita”

Dalam perjalanannya, pasien-pasien yang diadvokasi oleh YDUA bukan hanya pasien talasemia saja, melainkan pasien dengan penyakit-penyakit berat seperti kanker dan tumor. Mereka umumnya berasal dari luar Kota Banda Aceh dan berasal dari keluarga ekonomi lemah. Rumah singgah ini menjadi hunian sementara bagi pasien dan keluarga pasien yang berobat ke Banda Aceh. Tak hanya di Aceh saja, pendampingan juga dilakukan hingga ke rumah sakit yang ada di Jakarta.

Selain tidak berbayar, rumah singgah ini juga menyediakan makanan sehat gratis terutama bagi pasien. Nuu sering membagikan informasi tentang aktivitas rumah singgah di beranda media sosialnya dan itu menjadi sarana untuk untuk menghimpun donasi. Dalam istilah Nuu, orang-orang baik selalu dikirimkan Tuhan dengan cara yang ajaib. Misalnya, ketika stok pangan sudah menipis, tiba-tiba sudah ada yang mengantarkan sembako. Ia juga bersyukur karena di sekelilingnya hadir orang-orang yang tulus dan bergerak tanpa pamrih.

“Kampanye ini akan terus dilakukan, kenapa? Karena talasemia ini merupakan salah satu dari lima besar penyakit yang menggerogoti anggaran kesehatan kita. Estimasinya, satu anak itu dalam setahun bisa menghabiskan Rp300—400 juta rupiah, karena mereka tidak cukup hanya dengan transfusi saja, tetapi juga perlu mengonsumsi obat untuk menghilangkan efek penumpukan zat besi. Obat ini mahal dan dosisnya akan semakin tinggi bagi pasien yang transfusinya sering,” kata finalis Kartini Next Generation 2014 dari Kominfo dan CNN Heroes ini.

Berkat kampanye masif ini, pada peringatan World Talasemia Day pada 2016 lalu, Pemerintah Aceh akhirnya mencanangkan kampanye zero talasemia. Namun, Nuu berharap, tindak lanjut dari kegiatan itu bisa terus dilakukan dengan melahirkan berbagai kebijakan pencegahan talasemia. Dalam seminar yang digelar YDUA pada 10 Juli lalu, Ketua PKK Aceh, Diah Erti, sudah menyatakan ajakannya untuk bekerja sama dengan YDUA. Nuu tentu saja menyambut gembira ajakan ini.

Tantangan di Masa Pandemi

Istri Gubernur Aceh, Dyah Erti, berkunjung ke Rumah Kita pada Maret 2020 untuk mengantarkan donasi dan memastikan anak-anak di RK aman selama pandemi.

Kondisi pandemi menjadi tantangan tersendiri bagi YDUA untuk mendapatkan darah bagi pasien dampingan mereka. Kondisi ini membuat orang-orang takut mendonorkan darahnya ke PMI, sehingga stok darah di PMI sering kali kosong. Kalau sudah begini, Nuu akan “bermuka tebal” mengirimkan broadcast ke berbagai grup Whatsapp atau media sosial Facebook mengenai kebutuhan darah lengkap dengan nama pasien.

Tahun lalu, suatu kali ia sangat kesulitan mendapatkan darah untuk salah satu anak yang kondisinya sudah inkompatibilitas. Ini merupakan reaksi penolakan alamiah tubuh jika pasien mendapatkan darah dari orang-orang yang berbeda dan tidak cocok. Dalam kasus pasien tersebut, sudah beberapa pendonor dites kecocokan darahnya tetapi tidak ada yang sesuai. Namun, tiba-tiba Nuu mendapat informasi kalau Gubernur Aceh Nova Iriansyah akan melakukan donor darah ke PMI. Ia pun mencari tahu apa jenis golongan darah gubernur dan ternyata cocok dengan pasien tersebut.

Setelah mengetahui itu, ia langsung mengontak rekannya di PMI dan meminta agar darah itu disiapkan untuk pasien.

“Alhamdulillah, darah Pak Gub cocok dengan pasien ini dan kali itu dia berhasil mendapatkan pendonor,” kata Nuu, tetapi, yang ia tidak sangka, kondisi ini kembali berulang, sayangnya pada kali kedua ini pasien tidak bisa diselamatkan.

Namun, ia bersyukur, kejadian itu membuat pemimpin daerah jadi tahu bagaimana susahnya mencari darah di masa pandemi ini. Tak lama berselang, Pemerintah Aceh mengeluarkan kebijakan wajib donor darah bagi setiap ASN. “Ini salah satu bentuk dukungan pemerintah yang sangat besar, walaupun darah-darah itu tidak semuanya digunakan untuk pasien talasemia, tetapi kebijakan ini perlu diapresiasi apalagi di tengah kondisi sulit seperti sekarang,” katanya.

Tiga jam bersama Nuu Husien rasanya terlalu singkat, banyak cerita kerelawanan yang perlu diteladani dari sosok yang penuh energi itu. Darinya juga kita bisa belajar; semangat untuk membantu orang lain tak selamanya dipantik oleh pengalaman buruk atau menyedihkan. Jika kebahagiaan bisa menggerakkan, mengapa harus menunggu pengalaman pahit?[]

Sigupai Mambaco: Bakti Literasi Sang Dara Bohemian

Kampung Tangah Rawa, Aceh Barat Daya, adalah pemukiman tua di batas Kecamatan Susoh dengan Blangpidie. Disebut ‘tangah rawa’ atau ‘di tengah rawa’ karena pada akhir abad ke-19 kampung ini memang berdiri di tanah rawa, yang banyak mengepung Susoh masa itu. Namun, versi lain mengatakan bahwa “rawa” di sini, dibaca sesuai pengucapan bahasa Jamu (rao), sebenarnya menunjukkan asal muasal penduduk kampung ini. Yaitu dari Rao, sebuah kecamatan yang kini termasuk Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.

Di kampung yang penduduknya ramah ini, sebuah rumah di Dusun Kulam Tuha tampaknya seperti magnet bagi anak-anak. Setiap Ahad sore, rumah itu ramai oleh anak-anak yang duduk-duduk membaca. Di hari lain, mereka tampak asyik mendengarkan dongeng yang dituturkan seorang dewasa. Hari lain lagi, eksperimen sederhana seperti membuat kompos dan mendaur ulang sampah, hadir di situ.

Itulah selintas kegiatan yang ada di Sigupai Mambaco (Sigupai Membaca) besutan Nita Juniarti.

“Sebetulnya saya ini lulus sebagai ‘tukang asah batu nisan’,” canda Nita. Candaan ini biasa dilemparkan orang saat tahu jurusan yang digeluti Nita di kampusnya dulu. Namun, gadis penduduk asli Susoh kelahiran 1993 ini tidak sakit hati bila ada yang berguyon begitu.

“Yang penting sikap pribadi kita. Setiap pilihan ada konsekuensinya,” katanya saat dihubungi via telepon, Kamis, 17 Juni 2021. Pembawaan Nita yang riang dan positif, seolah cermin sederet pengalaman hidupnya yang menarik.

Selepas lulus dari Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Ar Raniry Banda Aceh, Nita sempat menjadi pengajar dan staf di PAUD UIN Ar Raniry. Menjadi ‘kakak asrama’ di Fatih Bilingual School Banda Aceh juga sempat dilakoninya.

“Saya memang sangat tertarik pada dunia pendidikan, budaya dan literasi,” ujar Nita. Tahun 2015 saat mulai menjadi jurnalis sebuah media siber, Nita dipilih Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) sebagai salah satu kuli flashdisk meliput kegiatan Explore Pulo Aceh.

Selain piawai menulis, yang ditabalkannya dengan menjuarai beberapa lomba menulis, Nita mengaku tak betah diam menetap di suatu tempat. Rekam jejaknya sejak 2015 menunjukkan kedinamisan yang mendukung pengakuannya ini.

“Saya suka anak-anak, dan gemar sekali jalan-jalan alias merantau,” katanya. Hobinya ini mendorongnya menjadi pegiat program Pustaka Ransel besutan komunitas Aceh Let’s Do It. Sekelompok perempuan muda yang ingin ‘menularkan virus gemar baca’ pada anak usia sekolah, membawa buku dalam ransel dan merambah daerah-daerah terpencil untuk memperkenalkan asyiknya membaca. Dalam tugasnya ini, Nita merambah Kecamatan Pulo Aceh di Kabupaten Aceh Besar, juga Kabupaten Aceh Tamiang.

Aktivitas buku keliling di Desa Mon Mameh Kecamatan Setia, Aceh Barat Daya @dok Nita Juniari

Namun, Nita tak puas hanya menularkan virus literasi dan pendidikan di kampungnya, Aceh. Ia ingin dapat berguna bagi bangsa Indonesia.

“Karena itu saya mendaftar ke program Indonesia Mengajar. Kali pertama melamar saya belum berjodoh dengan program gagasan Pak Anies Baswedan ini. Tapi kali kedua, saya lulus tes dan ditempatkan di Banggai, Sulawesi Tengah.”

Setahun di Banggai, mata Nita semakin melek akan kenyataan bahwa manusia Indonesia yang melek literasi masih sangat langka. Selama setahun menjadi Pengajar Muda, sebuah komunitas anak muda di Banggai memberinya gagasan dan semangat.

Penyala Banggai, sebuah komunitas relawan, menggelar Minggu Membaca setiap Ahad. Dan peminatnya banyak. Mereka juga membuat berbagai kegiatan lain seperti pengajian untuk anak-anak dan sebagainya. Saat itu sebuah ilham menyala di kepala saya. Saya yakin, anak-anak kampung saya dapat memperoleh banyak manfaat dari kegiatan yang serupa,” tutur Nita. Ia menengarai bahwa minat baca anak-anak dan kaum muda di desanya sebenarnya sangat baik.

“Mereka hanya belum punya sarana memadai untuk menyalurkan minat baca itu,” katanya bersemangat.

Pulang dari Banggai, gadis murah senyum putri sulung Bapak Azmi dan Ibu Nurbaiti ini lantas memutuskan untuk segera mewujudkan proyek idealis yang inspirasinya diperolehnya di rantau. Tujuh Januari 2018, berbekal buku-buku bacaan dalam ransel, keranjang milik ibunya dan sehelai ‘terpal’ (alas plastik tebal), Nita memulai apa yang kemudian menjadi embrio dari komunitas literasi Sigupai Mambaco.

Nita mulai mangkal di Lapangan Persada, Blangpidie, Aceh Barat Daya. Pertimbangannya, karena lapangan olah raga itu terletak di pusat Kota Blangpidie, di pinggir jalan utama pusat perdagangan yang ramai. Namun, setelah beberapa kali mangkal di sana, ternyata tak seorang pun mampir ke lapak bukunya.

“Jadi saya pindahkan. Awalnya ke kawasan Kompleks Perkantoran Bukit Hijau, lalu ke Dermaga Ujong Serangga, Susoh.”

Nita membuka lapaknya setiap sore hari Ahad. Di sinilah Sigupai Mambaco mulai berkembang. Sore hari, pantai dan TPI Ujong Serangga selalu ramai dikunjungi orang. Bukan hanya para tauke ikan, tetapi juga warga masyarakat yang JJS alias jalan-jalan sore.

“Banyak anak-anak juga. Awalnya mereka yang datang menengok lapak kami, selalu menanyakan apakah buku-buku itu dijual,” Nita tersenyum mengingat-ingat. “Ketika tahu bahwa buku-buku itu boleh dibaca di tempat, gratis tis tis, banyak anak yang wajahnya langsung ‘menyala’ kegirangan.”

Langkah Nita tidak langsung mulus. Dengan koleksi buku sekitar 400 judul, saat buka lapak Nita hanya bisa membawa100 judul karena terbatasnya tempat di sepeda motornya. Di masa awal ia membuka lapak baca, tak sedikit orang ragu bahwa ia akan berhasil.

“Yang mengejek juga banyak. Menurut mereka, masyarakat kita tak terbiasa ‘butuh membaca’. Jadi membuat taman bacaan akan sia-sia saja,” cerita Nita.

Anak-anak belajar mewarnai di rumah Nita Juniarti yang menjadi base camp Sigupai Mambaco @dok Nita Juniar

Memang benar, selama tiga bulan perdana ia menggelar perpustakaan sederhananya, lapaknya tak pernah mendapat pengunjung. Tapi, Nita tidak putus asa.

Keluarga adalah pendukung utamanya. Saat Nita sedang berjuang memperkenalkan lapak bacanya, kadang-kadang ayah atau adiknya sengaja datang ke lapaknya untuk mengantarkan buku. Dari hanya sendirian membawa dan menunggui lapak bacanya, Nita kemudian mendapat asisten setia. Adiknya, Randa Zahrial.

“Awalnya Randa ragu bergabung dengan Sigupai Mambaco. Namun, kemudian, di tahun 2018 Sigupai Mambaco mendapat dukungan berupa cator (becak-motor) dan rak buku dari Asuransi Astra. Nah, saya tidak pandai mengendarai becak motor yang berat itu. Di sinilah peran Randa dituntut.”

Dengan becak motor yang dikendarai Randa, Sigupai Mambaco dapat meluaskan jangkauannya. Buku yang dapat dibawa pun bertambah jumlahnya. April 2018, Nita merantau ke Muara Enim, Sumatera Selatan, untuk menjadi Community Development Facilitator dalam program Muara Enim Cerdas. Saat itulah Randa mulai sepenuhnya menjadi penanggung jawab program Bukling (Buku Keliling) Sigupai Mambaco.

“Awalnya saya sempat khawatir Sigupai Mambaco akan buyar. Apalagi karena sepanjang tahun 2019 saya rutin bolak-balik ke Jakarta, bahkan kemudian menetap di Malang sebagai Community Development Facilitator dalam proyek Sekolah Sehat JAPFA sampai pertengahan tahun 2020. Namun, dukungan keluarga di rumah membuat kegiatan Sigupai Mambaco tetap berjalan, walau pun saya sedang tidak ada di Abdya (Aceh Barat Daya),” kata Nita.

Memang, keluarga Nita adalah pilar-pilar utama pendukung kegiatan Sigupai Mambaco. Ibunda Nita bahkan bertindak sebagai manajer yang menangani kegiatan yang akan diadakan Sigupai Mambaco. Mulai dari menghubungi narasumber hingga pendaftaran anggota, semua dilakukan sang bunda. Bahkan, selain di Dermaga Susoh, kegiatan Sigupai Mambaco kini diadakan di rumah orang tua Nita di Jalan Rawa Sakti.

“Mamak adalah suporter utama saya,” aku Nita. “Bila saya tengah menyusun program, beliau bahkan membebaskan saya dari tugas rutin di rumah. Saya diperbolehkan nongkrong terus di depan laptop,” lanjut Nita seraya tertawa kecil. “Seringkali, ibu-ayah saya, bahkan juga nenek dan kakek, membantu membuka perpustakaan. Menata buku-buku dan menyimpannya kembali, mengawasi jalannya pinjam-meminjam buku, dan sebagainya.”

Mengelola komunitas Sigupai Mambaco memberikan kepuasan batin yang penuh. Terutama ketika apa yang dilakukan dalam komunitas ini berhasil menginspirasi orang lain untuk turut “menularkan virus literasi”.

Sekelompok anak-anak Sigupai Mambaco melakukan praktik cuci tangan. @dok Nita Juniari

Seperti baru-baru ini, ketika dua anggota muda Sigupai Mambaco, Shifa (12) dan Tasya (11), menggagas kegiatan “Keta Buku”. Dalam bahasa Aneuk Jamee, bahasa ibu mereka, keta berarti sepeda. Shifa dan Tasya mulai berkeliling dengan sepeda seraya membawa buku untuk dipinjamkan.

“Kami sempat mengadakan aksi galang dana untuk membeli sepeda bagi mereka. Sebab sepeda yang mereka gunakan sudah tidak layak. Alhamdulillah, kini keempat sepeda yang kami perlukan sudah ada.”

Keempat sepeda itu merupakan sumbangan dari Wakil Ketua DPRA asal Partai Gerindra, Safaruddin, seorang putra asli Kampung Rawa, Susoh. Warna-warni ungu dan merah sepeda-sepeda itu agaknya akan membantu menjaga semangat Shifa dan Tasya tetap menyala.

Kini, dari hanya sehelai alas plastik dan seratusan buku, hanya digawangi Nita seorang, Sigupai Mambaco telah berkembang menjadi perpustakaan dengan koleksi 1000-an buku, 11 pengurus tetap, 39 relawan, ditambah cator dan sepeda Bukling. Pandangan masyarakat juga perlahan telah bergeser. Dari heran, skeptis bahkan sinis, kini Sigupai Mambaco sudah dikenal luas di Aceh Barat Daya. Sepak terjang Nita bahkan telah diapresiasi Pemerintah dengan penunjukannya sebagai Perempuan Inspiratif (Peringkat 3) Tingkat Provinsi Aceh.

“Ke depannya, kami akan lebih memusatkan kegiatan Sigupai Mambaco pada isu literasi baca tulis dan lingkungan hidup. Kami ingin Sigupai Mambaco menjadi sebuah tempat bekerja, belajar, dan bertumbuh bagi anak-anak Aceh Barat Daya, serta bisa menjadi salah satu think-tank pendidikan dan penelitian di Aceh,” harap Nita.[]

Amrina Habibi; Bekerja Bukan Sekadar Mengabdi untuk Negara

JIKA menyebut nama Desa Lampageu di Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, orang-orang mungkin akan bertanya, di mana itu Lampageu? Namun, saat disebutkan nama Ujong Pancu, bisa dipastikan langsung terbayang pada kawasan pesisir yang diapit oleh laut dan pegunungan. Inilah daratan terakhir di ujung barat Pulau Sumatera. Dan Lampageu, merupakan desa terakhir di ujung daratan ini. Karena panoramanya yang indah, wisatawan lokal sering datang ke tempat ini; sekadar untuk mengaso di pinggir laut sambil menikmati segarnya kelapa muda dengan camilan ringan ataupun memancing untuk melarung jenuh karena rutinitas. Bagi yang suka bertualang, dengan mengeluarkan sedikit tenaga ekstra untuk mendaki gunung, sudah bisa menikmati panorama ciamik Pantai Lhok Mata Ie yang ada di sisi barat pulau. Tak jarang anak-anak muda menghabiskan akhir pekan dengan berkemah di bibir Samudra Hindia itu.

Desa Lampageu hanya terletak sekitar delapan kilometer di barat Kota Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Tak lebih dari setengah jam berkendara dari jantung kota Banda Aceh. Namun, desa ini rasa-rasanya seperti sangat terisolasi. Seolah tak tersentuh ingar-bingar ibu kota. Akses jalan mulus beraspal menuju kawasan Ujong Pancu hanya sampai Desa Lambadeuk, tiga desa tetangga sebelum Lampageu. Tidak ada kendaraan umum yang beroperasi ke kawasan yang pernah diporak-porandakan tsunami ini. Sepanjang jalan di kawasan ini, adalah biasa melihat kotoran ternak yang bertebaran di badan jalan. Saat akhir pekan banyak pesepeda melewati jalur ini.

Dihuni oleh 110 kepala keluarga, sebagian besar penduduk di desa ini berstatus warga dengan ekonomi lemah. Para lelakinya adalah nelayan tradisional atau bekerja sebagai pedagang ikan di pasar. Aktivitas melaut sangat dipengaruhi oleh cuaca dan musim. Sementara para perempuannya banyak yang menjadi pencari nafkah utama. Mereka ada yang bertani cabai, mencari rotan, atau membuat kue. Sekitar tujuh puluh warga Lampageu adalah anak-anak usia sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.

Sepertiga anak-anak itu berkumpul di Balee Nelayan Lampageu pada Jumat petang, 2 Juli 2021. Rerata adalah murid-murid usia sekolah dasar. Berkumpulnya mereka di sana tak lain untuk menyambut kehadiran sekaligus peresmian Taman Baca Rumah Lentera Habibi di desa mereka. Meski seremonial acara baru dimulai pukul lima sore, tetapi anak-anak itu sudah hadir di sana sejak setelah asar. Mereka duduk bersila mengikuti pola persegi bangunan permanen tersebut. Beberapa ibu juga terlihat hadir mewakili perangkat desa. Sejak tiga hari sebelumnya, anak-anak itu sudah begitu sibuk. Mereka membersihkan pekarangan balai nelayan yang tadinya dipenuhi belukar. “Supaya saat tamu-tamu datang hari ini, pekarangan balai sudah terlihat bersih,” ujar Irawati, warga sekitar yang menjadi tuan rumah acara itu.

Sikapnya yang ramah dan bersahaja membuatnya Amrina (duduk di tangga) bisa berinteraksi dan melebur dengan baik di masyarakat sehingga memudahkan kerjanya dalam mengadvokasi @dok Amrina Habibi

Salah seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA bertindak sebagai komando dan meramaikan sore itu dengan meminta anak-anak memperkenalkan diri dan menyebutkan cita-cita mereka. Canda dan celoteh gembira mereka meriangkan suasana. Angin pesisir berembus menghalau gerah karena terpaan panas yang menyengat hingga menjelang senja. Di kejauhan tampak pesisir Kota Banda Aceh berupa gundukan daratan yang dinaungi pohon-pohon cemara. Tak lama kemudian, acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai.

***

Adalah Amrina Habibi, seorang master hukum yang menjadi “bidan” di balik lahirnya Taman Baca Rumah Lentera Habibi Desa Lampageu. Meskipun ia seorang aparatur sipil negara dan berstatus sebagai pegawai negeri sipil dengan amanah Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Aceh, Amrina tak ingin membatasi ruang gerak hanya sebatas menunaikan “kewajiban” pada negara saja. Ia tak ingin seragam cokelatnya membatasi kerja-kerja sosialnya yang telah dilakoni sejak masih di bangku kuliah. Bahkan jauh sebelum itu, saat ia masih remaja. Itu sebabnya, bersama beberapa sahabatnya Amrina mendirikan Yayasan Rumah Lentera Habibi dan dipercayai sebagai ketua. Yayasan ini resmi berbadan hukum medio 2020 lalu, walaupun aktivitasnya telah berlangsung sejak tiga tahun lalu.

Amrina memilih Lampageu sebagai lokasi pertama Rumah Baca Yayasan Lentera Habibi atas keprihatinannya pada tumbuh kembang anak-anak di desa itu. Anak-anak di sana, tidak memiliki aktivitas berarti setelah pulang sekolah. Sebagai anak pesisir, waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk bermain di pantai. Kesibukan orang tua mereka dalam mencari nafkah membuat anak-anak ini kurang mendapatkan pengawasan orang tua. Di musim-musim tertentu, mereka akan pergi ke gunung untuk memetik buah jemblang. Namun, yang lebih mengkhawatirkan ialah tak sedikit dari anak-anak itu yang justru lalai dengan gawai. Bagaimana jika mereka mengakses konten-konten negatif? Bagaimana jika mereka kecanduan game? Bagaimana jika mereka jadi malas belajar? Banyak “bagaimana” lainnya yang akhirnya menjadi dasar keputusan Amrina dan teman-teman untuk menghadirkan taman baca sebagai sentral edukasi bagi anak-anak Lampageu.

“Ini kami lakukan sebagai panggilan jiwa dan di luar kegiatan dinas, sama sekali tidak berbasis anggaran dan merupakan hasil swadaya teman-teman,” kata Amrina.

Dengan hadirnya taman baca ini, anak-anak itu setidaknya jadi punya tempat untuk bermain sambil membaca dan melakukan aktivitas literasi lainnya. Sebagai aktivis perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan, Amrina mafhum bahwa literasi adalah kunci dari segala hal. Salah satunya, untuk mencegah terjadinya kasus-kasus pelecehan ataupun kejahatan seksual pada anak. Anak-anak yang teredukasi dengan baik, atau memiliki kecakapan literasi yang memadai, tentu akan lebih awas pada orang asing. Setidaknya bisa mengenali perilaku atau modus-modus orang dewasa yang membuat mereka tidak nyaman.

Sebelumnya, taman baca serupa juga sudah dibentuk di Desa Ujong Bate, Kecamatan Mesjid Raya, melalui Forum Partisipasi Masyarakat untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Aceh yang diketuai oleh Amrina. Namun, karena PUSPA masih berafiliasi dengan instansi pemerintah, Amrina ingin membentuk taman baca sendiri yang pengelolaannya lebih fleksibel.

Amrina Habibi bersama salah satu perempuan penyintas KDRT yang telah berhasil melewati masa-masa suram di hidupnya @dok Amrina

Sejak belia, perempuan kelahiran Samalanga, 30 Maret 1975 ini memang sudah diasah kepekaan sosialnya oleh ibu dan ayahnya. Sang ibu, almarhumah Azizah, adalah seorang guru yang tidak saja pandai mengajarkan alif ba ta atau a be ce de, tetapi juga guru kehidupan yang telah mengajarkan nilai-nilai kehidupan; pentingnya berbagi, mengutamakan kejujuran, disiplin, dan jangan pernah berhenti belajar. Sedangkan ayahnya, H Achmad Namploh, adalah orang di balik suksesnya Amrina sebagai seseorang yang cakap di atas panggung. Sebagai Juru Penerang yang bekerja di Dinas Penerangan tingkat kabupaten, Haji Achmad sering berkeliling kampung untuk menginformasikan berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah di masa itu. Amrina kecil sering diajaknya saat bertugas. Dalam setiap kesempatan, Amrina selalu diberikan panggung oleh ayahnya. “Walaupun itu hanya sebatas menyampaikan satu atau dua buah pantun sebelum acara dimulai,” kenang Amrina pada salah satu fragmen masa kecilnya bersama sang ayah saat berbincang dengan penulis pada Selasa, 15 Juni 2021, “tapi pengalaman itu melatih tumbuhnya rasa percaya diri saya sehingga menjadi berani saat berbicara di depan orang banyak,” ujar ibu dari empat buah hati ini.

“Saya tidak canggung beraktivitas di ruang publik karena orang tua mendidik kami dengan relasi kuasa yang setara. Tidak membedakan antara anak lelaki dengan perempuan, selalu mendukung aktivitas kami selama itu positif, itu menjadi modal saya sampai sekarang,” kata Amrina.

Petuah guru mengajinya di masa kecil, Tgk Imum Ali Hanafiah, turut menjadi pelecut tambahan bagi Amrina untuk tumbuh menjadi pribadi yang teguh dan punya prinsip. “Perempuan harus mandiri, punya bargaining, dan bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.” Kalimat itu selalu terekam di ingatannya hingga kini. Nilai-nilai itu membuat Amrina tumbuh sebagai sosok yang tidak hanya bisa menopang diri sendiri, tetapi juga menjadi tumpuan bagi perempuan lain. Ia bersyukur karena bisa bernaung di instansi yang pekerjaan utamanya mengadvokasi perempuan dan anak. Pekerjaan ini adalah estafet dari kerja-kerja sosial yang ia lakukan di masa-masa aktif berorganisasi seperti di KNPI, AMPI, Pemuda Pancasila, HMI, hingga organisasi berbasis swadaya masyarakat seperti Balai Syura Ureung Inong Aceh dan Kohati.

Pengalaman berharga saat ia menakhodai Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di bawah naungan instansi yang sama. Di luar yang orang pikirkan, pusat pelayan terpadu itu justru menjadi “rumah kehidupan” bagi Amrina. Ia bisa belajar dan berbagai pengalaman untuk membangun keluarga yang lebih berkualitas.

“Pengalaman dan kehidupan buruk seseorang menjadi pengalaman berarti buat saya, sebaliknya pengalaman saya pun bisa dibagi kepada orang lain,” katanya.

Ka DP3A Nevi Ariyani didampingi Amrina Habibi menyerahkan buku secara simbolis kepada salah satu anak sebagai tanda telah diluncurkannya Taman Baca Rumah Lentera Habibi di Gampong Lampageu @Ihan Nurdin

Kesempatan-kesempatan seperti ini memang selalu digunakan Amrina dengan baik. Misalnya, dalam setiap agenda turun ke daerah untuk urusan dinas, ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan komunitas ataupun individu yang membutuhkan bantuannya. Lewat pertemuan-pertemuan informal inilah dia bisa menggali banyak informasi dari masyarakat tentang persoalan khususnya yang dialami oleh perempuan dan anak, atau menanamkan pengetahuan tentang kesetaraan gender yang menjadi kunci relasi yang setara antara perempuan dengan laki-laki. Dia juga kerap memberikan konsultasi gratis bagi perempuan yang mengalami problem keluarga seperti KDRT atau yang berhadapan dengan hukum di luar kerja-kerjanya sebagai ASN.

Amrina mengakui, memang tidak mudah melakukan kerja-kerja advokasi seperti ini. Tantangan terbesarnya adalah minimnya kesadaran masyarakat atau individu tentang peran-peran kodrati dengan persepsi masyarakat tentang jenis kelamin. Tak ayal, seorang perempuan yang kerap mengalami KDRT malah enggan buka suara karena dianggap mempermalukan keluarga atau menganggap itu sesuatu yang lumrah dengan dalih “berbakti” pada suami. Belum lagi misalnya, nilai-nilai agama yang luhur belum terintegrasi dengan baik dalam tatanan kehidupan sehingga seringkali teks-teks agama dimaknai di luar konteks.

“Padahal Islam itu sudah sangat luar biasa mengatur tentang berbagai aspek kehidupan kita, kalau bicara tentang perempuan, betapa posisi perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya dalam agama, tetapi realitasnya tidak seperti itu,” ujar perempuan Inspirator Forum PUSPA Nasional Tahun 2017 KPPPAI ini.

Kesadaran ini memang perlu dibangun secara kolektif dengan menghadirkan kegiatan-kegiatan literasi yang berbasis di akar rumput, melibatkan banyak sumber daya, dan mampu menjangkau banyak tempat. Itulah substansi dibentuknya Yayasan Lentera Habibi.

“Ini akan menjadi exit strategy agar kami bisa terus berbuat kalau nanti sudah pensiun dari dinas, kerja-kerjanya meliputi penguatan literasi, budaya, dan kesejahteraan sosial,” ujar Amrina menjelaskan visi dari yayasannya. Mereka yang terlibat di yayasan ini beragam, mulai dari ASN seperti dirinya, polisi, pengacara, pekerja LSM, hingga psikolog. Kolaborasi adalah fondasi yang dibangun Amrina. Ia menyadari betul-betul, berjejaring adalah kunci kesuksesan di zaman ini.

***

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Aceh Kombes Pol Ade Harianto dan Ka DP3A Nevi Ariyani menyapa anak-anak usai peresmian Taman Baca Rumah Lentera Habibi @Ihan Nurdin

Senja yang bercampur rona merah jingga memantul di cakrawala. Satu per satu para bocah dan ibu-ibu yang tadi berkumpul di balai pulang menuju rumah masing-masing. Begitu juga dengan beberapa tamu undangan yang hadir khusus untuk memberi dukungan bagi Amrina dan teman-teman. Di antaranya Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, Nevi Ariyani, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Aceh Kombes Pol Ade Harianto, dan Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak Polda Aceh, AKP Elfiana, beberapa rekan wartawan, serta perwakilan dari Forum Anak Tanah Rencong. Namun, tidak dengan Amrina, dia masih di balai bersama beberapa rekan untuk membahas rencana tindak lanjut setelah peluncuran taman baca.

Sebagian Desa Lampageu sudah gelap karena dipunggungi matahari. Namun, kehadiran Yayasan Lentera Habibi, diharapkan bisa terus “menerangi” desa yang meskipun hanya selemparan batu dari ibu kota provinsi, tetapi tetap perlu perhatian khusus karena masuk dalam wilayah desa terluar, terdepan, dan tertinggal. Bukankah seterang-terangnya cahaya adalah cahaya ilmu dan pengetahuan?[]

Saprina Siregar Sukses Terapkan Kasih Sayang sebagai Dasar Pendidikan Inklusif

SAPRINA SIREGAR mengawali kariernya di dunia pendidikan sebagai guru di salah satu pesantren di Kabupaten Aceh Besar. Pernah juga mengajar di salah satu madrasah ibtidaiah di Kota Banda Aceh, sempat pula bekerja di lembaga swadaya masyarakat, sampai akhirnya “kecemplung” dan menenggelamkan dirinya dalam dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) inklusif sejak 2009 silam.

Lebih dari satu dekade menjadi praktisi PAUD inklusif, perempuan yang akrab disapa Bu Ina ini sangat kenyang dengan asam garam dalam mengelola PAUD inklusif. Berbagai formulasi dan praktik baik hasil uji coba yang selama ini ia terapkan di sekolah, lama kelamaan menjadi sebuah strategi yang bisa diterapkan secara permanen.

Bahkan, banyak praktisi PAUD yang mulai mengadopsi strategi yang oleh Bu Ina disebut sebagai “strategi kasih sayang” atau “strategi kayang”. Mengadopsinya pun mudah karena ia sudah mengemasnya menjadi sebuah buku berjudul Strategi Kayang di Sekolah Inklusi. Pada 2018 lalu, buku tersebut diikutkan dalam lomba yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan di luar sangkaannya buku itu berhasil meraih juara tiga.

Sejak itu, istilah “strategi kayang” semakin bergema di kalangan pendidik anak usia dini, khususnya di Aceh. Ina pun mendapat amanah yang lebih besar, Kementerian Pendidikan menunjuknya sebagai Pendamping PAUD untuk tiga kabupaten di Aceh; Aceh Besar, Aceh Jaya, dan Pidie dalam rentang waktu tiga tahun pada 2020—2022. Tugasnya mendampingi penjagaan mutu PAUD bidang manajerial, entrepreneur, supervisi, dan kolaborasi pembelajaran.

Saprina Siregar dengan buku Strategi Kayang di PAUD Inklusi hasil karyanya

“Kasih sayang adalah esensi dari sebuah pendidikan, karena setiap manusia ini pada dasarnya ingin dikasihi, saya ingin anak-anak bahagia, ceria, bisa bertumbuh sesuai kondisi mereka,” kata Ina saat berbincang dengan penulis, Jumat, 18 Juni 2021.

Konsep dasar ini merujuk pada sifat pengasih dan penyayang Sang Maha Pencipta, yaitu Arrahman dan Arrahim yang banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu sifat terpuji Allah Swt.

Pentingnya Sekolah Inklusif

Di telinga masyarakat awam, istilah sekolah inklusif atau PAUD inklusif mungkin masih terdengar asing. Sebenarnya, ini merupakan istilah untuk menunjukkan kondisi atau sistem sebuah sekolah yang menggabungan murid yang berkebutuhan khusus (ABK) dengan murid kebanyakan atau non-ABK. Sekolah inklusif memang belum familier, bahkan keberadaannya masih sangat langka. Sehingga para orang tua dengan ABK sering dibikin pusing saat mencari sekolah yang kondusif bagi buah hatinya.

Selama ini, anak-anak berkebutuhan khusus kerap disekolahkan di sekolah luar biasa, sedangkan anak-anak kebanyakan disekolahkan di sekolah-sekolah umum seperti yang kita kenal selama ini. Kalaupun ada ABK yang disekolahkan di sekolah umum, tak sedikit yang malah menjadi korban risakan. Kondisi ini tak ayal menimbulkan “gap” antara ABK dengan anak-anak kebanyakan. Dampaknya, membuat ABK malah kehilangan kepercayaan diri saat bergaul di masyarakat, sementara anak-anak kebanyakan sulit mengasah empatinya.

“Nah, inilah yang ingin kita ubah dengan adanya sekolah inklusif,” kata Ina, “interaksi antara ABK dan anak-anak kebanyakan pelan-pelan akan menumbuhkan rasa percaya diri ABK. Sedangkan pada anak-anak kebanyakan, empati mereka akan semakin bertumbuh. Anak kebanyakan kita beri kepercayaan untuk membantu atau menolong temannya yang ABK, mereka kita ajarkan untuk menghargai perbedaan dan ketidaksempurnaan sebagai anugerah Tuhan. Mereka akan merasa bangga saat bisa menolong orang lain,” kata Ina.

Masuknya Ina ke dalam dunia pendidikan inklusif bisa dibilang semacam kebetulan. Di tahun 2009, Ina sedang berada di rumah adiknya yang saat itu sedang melahirkan. Sebagai seorang kakak yang sudah lama menjadi ibu, Ina pun mengurus keponakannya dengan telaten. Seorang teman adiknya yang sedang bertamu rupanya diam-diam mengamati cara Ina mengurus keponakannya. Tak lama berselang, sang adik mengabari Ina kalau temannya itu meminta sang kakak untuk bekerja di sekolah PAUD-nya.

“Tamu tersebut adalah Bu Shadia Marhaban, pemilik yayasan sekolah PAUD Kasya Inklusif, sekolah yang kemudian menjadi tempat saya mengabdi selama dua belas tahun,” kata Ina.

Kasya ibarat laboratorium bagi Ina. PAUD ini bisa dibilang yang pertama di Banda Aceh menerapkan sistem inklusif. Saat pertama kali memutuskan bergabung dengan Kasya, Ina tak punya bekal apa pun tentang sekolah PAUD, alih-alih berpengalaman di dunia pendidikan inklusif. Di belakang namanya memang tersemat gelar sarjana pendidikan Islam, tetapi basic-nya adalah guru Pendidikan Agama Islam.

“Modal dasar saya awalnya karena saya memang sangat menyukai anak-anak,” ujar perempuan murah senyum kelahiran Takengon, 7 April 1975 ini, “saya juga belajar dari pengalaman diri sendiri, apa saja pengalaman di masa kecil yang saya rasa tidak menyenangkan atau tidak saya sukai, tidak akan saya terapkan pada anak-anak saya, begitu juga pada murid-murid saya,” katanya.

Kedekatan Saprina Siregar dengan sejumlah murid-muridnya

Setahun pertama di Kasya, Ina diberikan kepercayaan sebagai wakil kepala sekolah. Setahun kemudian, tanggung jawabnya lebih besar menjadi kepala sekolah. Kepercayaan dari pemilik yayasan membuat Ina jadi lebih leluasa dalam mengembangkan sekolah. Tak heran jika Kasya kemudian menjadi tempatnya bereksperimen hingga dua tahun kemudian lahirlah Strategi Kayang. Sebuah strategi yang menjadikan kasih sayang sebagai dasar dalam melayani peserta didik. Ina juga menatar para guru agar bisa mengelola sekolah sesuai dengan visi kasih sayang.

Semua pelayanan di sekolah harus berstandar kasih sayang yang diaplikasikan dalam gerak-gerik dan perilaku kepala sekolah, pendidik, peserta didik, orang tua, dan lingkungan sekitar. Itu sebabnya, pelibatan orang tua secara intens sangat penting dalam memantau perkembangan anak. Ina sendiri secara pribadi selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dengan para orang tua murid. Lama-lama, kebiasaan ini memunculkan program Parenting Day sebagai ruang konsultasi bagi orang tua murid. Dari sinilah, berbagai persoalan yang dialami orang tua dengan ABK biasanya perlahan-lahan ikut terkuak.

Ina juga senang mengamati. Obrolan-obrolan dengan orang tua murid tak luput begitu saja darinya. Misalnya, ketika ada orang tua yang bercerita tentang kondisi sekolah lain yang kepala sekolahnya sulit ditemui, atau guru yang tidak tahu program-program yang dijalankan sekolah, atau kecemasan mereka karena guru abai pada murid-muridnya karena sibuk bermain ponsel, diam-diam Ina mencatat semua itu di memorinya.

“Jangan sampai itu terjadi di sekolah saya! Sekecil apa pun ilmu yang didapat langsung dipraktikkan di sekolah, kami juga memaksimalkan pelayanan, dalam artian hubungan kami dengan orang tua harus terjalin dengan baik karena kami akan rutin membicarakan perkembangan anak dengan para orang tua,” katanya.

Pelayanan itu misalnya, diawali dengan menjalin hubungan baik dengan orang tua murid. Bahkan, tak hanya ayah atau ibu murid saja, tetapi juga nenek, atau siapa pun yang terlibat langsung dalam pengasuhan di rumah. Ini penting, khususnya bagi orang tua yang memiliki ABK, untuk menyamakan persepsi dalam memberikan terapi kepada anak.

Itu sebabnya, murid-murid yang sekolah di Kasya selalu diawali dengan screening dasar untuk mengobservasi anak yang meliputi enam aspek, yaitu instruksi/kepatuhan, bahasa, kognitif, fisik/motorik, sosial/emosional, dan kemandirian. Dari hasil observasi ini akan diketahui apakah anak-anak tersebut merupakan anak kebanyakan, atau ABK yang notabenenya mengalami kondisi seperti keterlembatan berbicara (speech delay), gangguan konsentrasi, gangguan pendengaran, sindrom martan, autis, down sindrom, atau celebral palsy. Dalam hal ini pihak sekolah juga menggandeng psikolog untuk kepentingan dalam mendiagnosa dan memberikan terapi pada anak.

Screening ini sangat penting karena tidak semua orang tua mampu mengenali ciri-ciri ABK. Tanpa pengetahuan yang memadai, akan berdampak pada cara menangani ABK, salah-salah penanganan yang tadinya ringan bisa menjadi sedang atau parah, begitu juga sebaliknya, kalau penanganannya benar, yang sedang bisa menjadi ringan,” ujar peraih juara III Lomba Apresiasi GTK PAUD Dikmas Tingkat Nasional 2018 ini.

Menjadi seorang guru PAUD kata Ina, juga harus memiliki sensitivitas yang tinggi. Seorang guru harus tahu kapan muridnya sedang merasa tidak nyaman. Orang-orang yang sedang merasa tidak nyaman, karena marah misalnya, cenderung ingin menyendiri. Kondisi ini membuat pihak sekolah akhirnya menyediakan “kursi ekspresi berbagi rasa”. Anak-anak yang sedang merasa tidak nyaman biasanya dengan sendirinya akan langsung duduk di kursi itu. Guru yang mendapati muridnya di kursi berbagi rasa ini tidak akan bertanya lagi ada apa dengan mereka.

Para guru juga begitu, jika mereka mengalami kendala saat menangani murid tertentu, mereka akan memberi kode pada guru—yang disebut dengan kode dan pembagian peran—lain sehingga ketidaknyamanan itu tidak akan diketahui oleh murid. Wajar saja, menjadi guru di sekolah inklusif lumrah berhadapan dengan murid-murid yang superaktif atau tantrum. “Kalau gurunya tidak memiliki rasa kasih sayang, mereka pasti nggak sanggup menghadapi situasi ini. Karena berlandaskan kasih sayang ini juga, kita tidak paksa guru yang sedang sedih misalnya, untuk menghadapi murid yang sedang tantrum atau tidak nyaman.”

Cerminan dari sikap, perilaku, cara berkomunikasi, berpakaian, bahasa tubuh, dan gestur yang berbasis kasih sayang ini pada akhirnya memberikan dampak yang besar. Perubahan positif mulai dirasakan oleh seluruh insan sekolah. Guru juga dibiasakan untuk selalu mengatakan “maaf” jika tanpa sengaja melakukan kesalahan. Permintaan maaf itu tidak hanya disampaikan kepada anak, tetapi juga pada orang tua jika misalnya mereka melakukan keteledoran yang berdampak pada anak. Artinya, kata Ina, sekolah selalu breusaha untuk bersikap kooperatif.

“Di sekolah inklusif ini setiap anak mendapatkan perlakuan yang sama, yang berbeda hanya program pendidikannya karena disesuaikan dengan kondisi anak,” ujar dosen luar biasa STKIP AN-Nur Prodi PG PAUD ini.

Perlakuan itu misalnya, semua anak mendapat kesempatan yang sama dalam setiap event yang diselenggarakan sekolah. Tak terkecuali bagi ABK. Bahkan, dalam sebuah pertunjukan seni tari, seorang murid dengan kondisi duduk di kursi roda juga pernah terlibat. “Murid itu kita dudukkan di kursi roda, bagi anak-anak seperti ini, bisa berpartisipasi saja sudah sangat luar biasa, mereka sangat senang dan bahagia karena tidak dibeda-bedakan,” ujarnya lagi.

Mendirikan PAUD Inklusif Harsya

Saprina Siregar memberi arahan bagi para guru dalam Raker I PAUD Inklusi Harsya

Riak-riak kecil juga kerap dirasakan Ina, misalnya, masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang sekolah inklusif membuat segelintir orang tua resah dengan kebijakan sekolah yang mencampurkan ABK dengan anak kebanyakan. Padahal, pendidikan inklusif tidak hanya memberikan keadilan pendidikan pada semua anak, tetapi juga sedini mungkin memperkenalkan pada anak tentang perbedaan fisik, mental, sosial, serta bagaimana mereka belajar menerima dan menyukai orang lain, menghargai perbedaan, dan melakukan kegiatan bersama. Itu sebabnya, ketika murid kebanyakan atau orang tua bisa menerima “kekhususan” yang ada di Kasya, baginya itu sebuah berkah yang besar. Karena diakui atau tidak, tidaklah mudah mengubah mindset orang lain dalam menghadapi kondisi yang tidak ideal di sekitarnya.

Berbagai kesempatan dimanfaatkan Ina untuk mengampanyekan sekolah inklusif. Memang tak semua orang bisa menerima, tetapi setidaknya ia sudah mencobanya. Tantangan lain juga terletak pada fasilitas pendukung seperti prasarana dan sarana belajar, serta program dan kurikulum yang lebih kompleks. Setiap anak membutuhkan penanganan yang berbeda, makanya komposisi antara ABK dan anak kebanyakan di sekolah inklusi tak boleh lebih dari 30:70.

Berkat kepiawaiannya menulis, Ina juga membagikan pengetahuannya menjadi buku. Setidaknya, beberapa buku sudah ia tulis berdasarkan pengalamannya di Kasya; Terapi Kasih Sayang di Rumah Kasya, Kasih Sayang di Rumah Kasya Catata dari Meja Bu Ina, Strategi KAYANG di Sekolah Inklusi, dan Karya Nyata: Strategi KAYANG di PAUD Kasya. Di luar itu, ia juga telah menelurkan beberapa buku lain baik solo maupun antologi. Bagi Ina, menulis bukan saja jalan untuk menyalurkan hobi, tetapi sarana untuk berbagi pengetahuan dan membangun kekuatan dalam komunitas. Itu pula yang membuatnya menahbiskan kayang sebagai nama komunitas untuk menghimpun ibu-ibu yang suka menulis; Komunitas Literasi Kayang.

Terlepas dari berbagai tantangan yang ada, Ina selalu bersyukur. Ia memiliki orang-orang yang senantiasa mendukungnya. Suami, anak-anak, keluarga, dan teman-temannya sangat mendukung aktivitasnya. Dukungan itu yang membuat Ina akhirnya berani mengepakkan sayap lebih lebar. Setelah dua belas tahun di PAUD Inklusif Kasya, Ina memutuskan untuk mendirikan sekolahnya sendiri yakni PAUD Inklusif Harsya. Tahun ajaran baru ini, PAUD ini resmi hadir untuk menambah daftar keberadaan PAUD inklusif di Banda Aceh.

Bagi Ina, di mana pun dia berada, kuncinya menjalani aktivitas tetaplah harus bertumpu pada Tuhan. Di samping, mengabdi dengan sepenuh hati dan kasih sayang. Sebab, sesuai moto hidupnya, hanya dengan kasih sayang perbedaan bisa dirangkul.[]

Solusi Faber-Castell dalam Penjagaan Lingkungan di Era PJJ dan PTM Terbatas

1

Aku sibuk mencari pena terbaik, padahal sebuah pensil bisa berfungsi sama baiknya.

(30+ Soht On Sale)

Petikan bijak itu muncul di sela derai tawa saat saya menonton kisah kocak dari film komedi romansa 30+ Soht On Sale. Siapa sangka, kalimat singkat yang dituturkan oleh sang pemeran utama di akhir sesi film tersebut mampu membangkitkan kembali memori lama. Sebuah ingatan yang cukup manis. Kenangan takdir yang mempertemukan saya untuk pertama kalinya dengan produk-produk legendaris Faber-Castell.

Tahun 2004, saat itu saya sedang menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sebagai remaja tanggung, saya dan teman-teman sedang senang-senangnya belajar dan bergaul. Hayalan, bualan, dan mimpi kami masih tinggi. Rasa takut dan malu masih minim. Entah karena sistem kinerja otak yang belum sempurna terbentuk atau disebabkan efek samping gejolak darah muda yang berapi-api. Intinya, di masa keemasan itu, saya merasa begitu percaya diri untuk menyongsong masa depan.

Nyatanya, bagi saya, momen-momen penuh warna dan tawa itu hanya berlangsung singkat. Saat tsunami melanda Aceh, tanpa sadar, impian-impian yang sebelumnya saya dekap erat-erat, pelan-pelan meredup, nyaris padam. Setelah kerusakan alam dan lingkungan yang begitu dahsyat, kehilangan tempat tinggal, hidup di kamp pengungsian berbulan-bulan, berhenti sekolah beberapa caturwulan, hingga kehilangan begitu banyak teman sepermainan, cita-cita gempita saya sebelumnya menjadi terseok-seok. Pascabencana, saya pun hanya mampu melewati hari-hari dengan bingung sekaligus murung. Semesta seakan menyedot saya ke dalam mimpi buruk yang begitu panjang. Sehingga, mimpi-mimpi indah yang rencananya diwujudkan sebulan demi sebulan berubah menjadi perjuangan untuk sekadar bertahan hidup senapas demi senapas.

Setelah berbulan-bulan mengungsi, saya sekeluarga pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Sebab kondisi kamp pengungsian tidak lagi kondusif. Pada kenyataannya, setelah diterpa bencana gempa dan tsunami, rumah kami pun tidak bisa dikatakan cukup layak untuk ditempati. Namun, minimal masih ada satu-dua ruang yang bisa dibersihkan dan terasa cukup aman untuk menampung seluruh anggota keluarga.

Kemudian, bulan berlalu, tahun pun berganti. Beberapa aktivitas di Provinsi Aceh, terutama Banda Aceh, mulai hidup kembali. Sejak pertengahan tahun 2005, sekolah dan kantor pun mulai aktif, walau dalam kondisi seadanya. Saya dan adik-adik pun kembali bersekolah walau tanpa seragam, buku bacaan, maupun peralatan sekolah.

Hingga suatu hari, sepulang kantor, ibu saya tiba di rumah dengan menjinjing sebuah tas pakaian hitam berukuran sedang berbahan kulit sintetis. “Ini hadiah peralatan belajar dari Faber-Castell,” tutur ibu sembari meletakkan tas tersebut di hadapan saya dan adik-adik.

www.faber-castell.co.id

Sontak, kami pun berebutan membongkar muatan isi tas misterius itu. Kami temukan berkotak-kota peralatan mewarnai berwarna-warni. Ada yang berjenis pensil kayu, krayon, cat air, hingga cat minyak. Mata kami berbinar-binar. Tak hanya itu, terdapat juga peralatan sekolah seperti kertas origami, buku gambar, buku tulis, pensil, rautan pensil, setip, dan penggaris. Menariknya, tas hadiah tersebut tidak hanya berisi peralatan menggambar dan menulis, tetapi juga berisi alat-alat musik seperti tamborin, suling recorder, dan pianika. Puas membongkar seluruh isi tas, wajah saya pun merona.

Sejujurnya, momen tersebut menjadi salah satu momen pascabencana yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Euforia semacam ini tentu tak mampu dipahami oleh semua orang. Sebab bagi mereka yang diliputi benderang mentari, sekelebat cahaya menjadi tak ada arti. Namun bagi orang-orang yang terjerebab dalam lorong gulita, seberkas sinar mampu membangkitkan asa. Dan pendar mungil di hati itulah yang saya rasakan kembali saat pertama kali berjumpa Faber-Castell.

Déjà vu

Sebuah nomor tak dikenal meninggalkan keterangan dua missed call di layar android. Bingung, saya menerka-nerka siapa kiranya dan apa gerangan pemilik nomor tersebut menghubungi. Sepersekian detik kemudian, gawai saya kembali bergetar. Masih dari nomor yang sama.

“Halo kak, ada di rumah? Saya mau mengantar pesanan,” sapa suara di seberang.

“Pesanan?” Saya tergagap. “Lho, seingat saya, dalam seminggu ini enggak pesan apa-apa tuh,” jawab saya linglung.

“Ada, Kak. Dari Faber-Castell nih,” jelas suara di ujung telepon.

“Oh, ya, ya. Datang aja. Saya di rumah,” klik, percakapan pun berakhir dalam geming.

Sabtu, 29 Mei 2021, paket itu pun tiba di genggaman. Saya merasa senang sekaligus bingung. Andai saja paket tersebut tidak disertai “surat cinta” kepada para rekan media dan blogger dari PR Manager Faber-Castell Indonesia, Pak Andri Kurniawan, maka sungguh saya akan berada dalam momen kebagongan yang nyata. Bayangkan, hati siapa yang tidak akan cukuwak kalau pada akhirnya hadiah yang diterima ternyata salah alamat ataupun salah orang.

Drama akhir pekan pun usai. Lalu terbitlah hari senin. Pada tanggal 31 Mei 2021, sebuah email pengumuman terkait jadwal dan link webinar “Refleksi Pendidikan Indonesia, di antara PJJ dan PTM” pun mendarat dengan mulus. Saat itu saya merasa begitu lega. Baru kali ini saya mengalami momen menerima paket lebih awal daripada pengumuman pesertanya. Seakan mengalami Déjà vu, lagi-lagi Faber-Castell hadir menemui saya dengan surprise-nya.

Rasa Peduli

Pandemi rasa tsunami. Itulah istilah yang saya sematkan untuk kondisi rakyat Indonesia, bahkan dunia, semenjak kehadiran Covid-19 sejak tahun 2020 silam. Bagi saya pribadi, tahun pandemi dan tahun tsunami nyaris begitu serupa. Kehadiran pandemi maupun bencana tsunami sama-sama membuat masyarakat gusar dan kesulitan, ekonomi runtuh, dan aktivitas di sekolah maupun kampus pun ditiadakan.

Adapun segelintir perbedaan antara keduanya terletak pada opsi pendidikan. Saat bencana tsunami terjadi, pendidikan formal di sekolah-sekolah provinsi Aceh digantikan pembelajaran seadanya di kamp pengungsian dengan bantuan para relawan. Adapun kini, di masa pandemi, kegiatan belajar formal yang dulunya full dilakukan di sekolah digantikan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah atau Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas jika memungkinkan.

Diakui atau tidak, sejatinya selalu ada berkah dan tantangan di setiap perubahan. Berkah dan tantangan itu juga hadir semenjak munculnya kebijakan PJJ dan PTM terbatas bagi keberlangsungan pendidikan anak-anak bangsa.

Keterkejutan perubahan sistem pendidikan tersebut tidak hanya menimpa para murid, tetapi juga guru sekaligus orang tua, terutama para ibu. Peningkatan stres dan beban kerja yang berganda membuat kebanyakan perempuan rentan. Berempati akan permasalah tersebut, saya pun menerbitkan sebuah tulisan di media massa berjudul “Andai Perempuan Tahu”. Karya kecil itu merupakan sebentuk dukungan moril yang saya curahkan demi menguatkan para pendidik dan orang tua, terutama kaum perempuan, yang kerap menjadi garda keluarga, terlebih selama masa pandemi.

Oleh karenanya, saat terpilih sebagai salah satu peserta webinar PJJ dan PTM , sungguh hati saya berbunga-bunga. Namun, awalnya saya sempat agak skeptis juga. Sebab kebanyakan seminar daring yang berlangsung cenderung monoton dan membosankan. Saya sempat gamang, “Akankah webinar ini berakhir menggenaskan?”

Lantas, pucuk di cinta ulam pun tiba. Sepertinya semesta sedang berbaik hati. Entah bagaimana, webinar pendidikan yang diadakan oleh Faber-Castell Indonesia ini justru tampil simpel dan menarik.

Menghadirkan Ibu Saufi Sauniawati dan Bapak Christian sebagai narasumber, webinar yang digelar nyaris 3 jam itu sama sekali tidak menyurutkan minat para peserta. Bahkan di detik-detik akhir kegiatan pun diskusi justru kian membara. Sehingga, Pak Andri Kurniawan, selaku moderator pun tampak ekstra hati-hati mengefisienkan waktu diskusi webinar di tengah gempuran “semangat 45” para peserta.

Akhirnya, kekhawatiran saya pun terbantahkan dan itu merupakan hal yang menyenangkan. Kebahagiaan semakin bertambah mana kala soalan yang saya ajukan menjadi salah satu pertanyaan terpilih untuk direspons oleh para narasumber. Semakin lega hati ini. Mengingat pertanyaan itu sejatinya merupakan keluh kesah para sejawat yang belum mampu saya rumuskan formula jawabannya. Beruntung sekali, sebab pertanyaan tersebut direspons sang pemateri, Bu Saufi.

Isi pertanyaan yang saya ajukan dalam webinar tersebut kira-kira begini, “Dari slide penjelasan yang diberikan, saya menangkap bahwa terdapat transisi yang besar pada peran orang tua dalam mendidik anak-anak mereka di rumah selama era PJJ. Tapi kenapa ya Bu, penambahan beban tersebut justru rerata dirasakan oleh kaum ibu? Lantas sejauh mana peran ayah selama pandemi? Adakah solusi yang bisa diajukan untuk para suami dalam membantu mengurangi double/tripel burdens para istri sehingga sebagai ibu mereka tidak mengalami stres akut saat mendidik anak?”

Sungguh, saat menekan tombol enter setelah menuliskan pertanyaan itu, entah mengapa timbul sedikit sesal. Sebab, saya merasa bahwa problem tersebut seakan sudah menjadi “rahasia umum” dan ujung-ujungnya berakhir dalam pengabaian tanpa solusi. Semacam kondisi yang sudah dianggap lumrah dari sononyo. Namun, hati kecil saya masih berharap bahwa akan ada tawaran opsi yang diberikan oleh Bu Saufi selaku pakar pendidikan.

Beruntung, ternyata Bu Saufi menanggapi dengan serius pertanyaan tersebut. Dengan senyum merekah, sebagai seorang ibu dari tiga orang anak, Bu Saufi menghadirkan jawaban faktual dan solutif dari permasalahan itu.

“Secara psikologis, pemberi kecerdasan itu ada di ayah sebenarnya. Makanya ayah harus ada kontributif ya. Adapun kontribusi paling kecil yang bisa saya sarankan kepada para ayah yang pulangnya sore, tolong ditanyakan begini pada anak, ‘Hari ini sudah belajar apa? Sudah gimana sama mama?’ Dua hal itu saja. Hal seperti itu sudah membuat para istri, ‘Alhamdulillah, akhirnya ada yang nanya,’ gitu.”

Bayangkan, itu baru satu contoh jawaban mencerahkan dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan selama sesi diskusi. Maka tak heran atmosfir diskusi webinar pendidikan yang digelar oleh pihak Faber-Castell dalam rangka syukuran HUT Faber-Castell ke-260 tahun itu terasa berkah dan hidup. So, untuk para pembaca yang ingin informasi lebih lanjut terkait PJJ dan PTM dapat mengakses materi-materi tersebut di SINI.

Niatan Baik

Paket Belajar Online Faber-Castell ini ide awalnya muncul saat kami menyadari bahwa pemberlakuan PJJ ini ternyata tidak bisa diakses secara maksimal oleh seluruh anak Indonesia,” papar Pak Christian di akhir sesi webinar. Dug… jantung saya seakan ingin loncat mendengarkan pernyataan tersebut. Sebab, butuh empati dan kerendahan hati untuk menyadari problematika mendasar semacam itu.

Menurut keterangan Pak Christian, tidak semua orang tua di Indonesia memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, misalnya untuk membeli laptop, demi mendukung anak-anak mereka memperoleh akses pembelajaran selama PJJ. Jadi paket belajar online dengan harga terjangkau tersebut dimunculkan oleh pihak Faber-Castell sebagai bagian dari dukungan akses PJJ yang merata bagi seluruh siswa di nusantara.

Contoh soal PJJ yang dapat dikerjakan dengan mudah dengan penggunaan Stylus

“Jadi, walaupun hanya punya gawai, dengan menggunakan Stylus Faber-Castell, anak-anak bisa tetap fokus mengerjakan soal-soal dengan mudah. Para orang tua pun tidak harus pusing dengan kegiatan ngeprint materi dan soal berulang-ulang. Esensi dari PJJ itu kan paperless,” jelas Pak Christian.

Selain itu, hal menarik lainnya dari paket belajar online ini adalah kesadaran pihak Faber-Castell untuk tidak “mendewa-dewakan” pembelajaran daring semata. Hal itu terbukti dengan tetap dihadirkannya peralatan belajar manual, seperti pensil, pulpen, setip, dan rautan dalam paket belajar tersebut. Ini menjadi poin penting, sebab PJJ maupun PTM terbatas, tetap ada saatnya para siswa memakai peralatan belajar manual tersebut selama pembelajaran.

Kemudian, dalam praktik penjagaan alam dan lingkungan, selain mengurangi penggunaan kertas (paperless), praktik baik lainnya adalah dengan menggunakan produk-produk berkualitas. Walaupun pensil masih harus menggunakan potongan-potongan kayu untuk melapisi inti grafit, pemilihan produk pensil yang tepat tentu membuat penggunaannya lebih awet. Semisal memilih menggunakan pensil Faber-Castell dengan desain yang cukup ramah lingkungan—tanpa penambahan cincin logam, penghapus, dan gagang—serta kekokohan kayu dan kelegaman inti pensilnya menjadikan produk Faber-Castell ini punya kemampuan all in one untuk digunakan dalam segala situasi dan kondisi.

Minimal menurut pengalaman saya pribadi, hal itu benar terjadi. Sekali beli, pensil Faber-Castell bisa digunakan berbulan-bulan hingga bertahun. Sebab saat diraut, inti pensil tidak mudah patah dan ukuran pensilnya amat nyaman digenggam. Jadi pensilnya lebih awet dan kita pun tetap betah menggunakannya dalam kurun waktu yang lama. Jadi, ramah lingkungan itu bukan sekadar menghindari produk plastik sekali pakai, tetapi juga bisa dilakukan dengan penggunaan produk berkualitas yang awet digunakan dalam jangka waktu yang panjang. Nah, bagi para pembaca yang penasaran dengan beragam produk Faber-Castell lainnya, silakan cek di LINK berikut ini ya.

Informasi lebih lanjut kunjungi juga: www.faber-castell.co.id.

Yuk Jaga Bumi Bareng Greevi

1

“I only feel angry when I see waste. When I see people throwing away things we could use.”

“Saya merasa marah jika melihat pemborosan. Saat saya melihat orang membuang barang yang bisa digunakan.”

—Mother Teresa

Kita sering mendapati slogan, “Buanglah sampah pada tempatnya.” Namun, jarang kita mengetahui definisi sampah yang sesungguhnya. Bahkan masih sedikit dari kita yang sadar bahwa tidak semua sampah layak dibuang. Sebab sebahagiannya bisa digunakan kembali (reuse) bahkan didaur ulang (recycle).

Berdasarkan istilah Statistik Lingkungan UNSD, sampah atau limbah didefinisikan sebagai bahan sisa dari produk utama yang dipasarkan dan tidak lagi digunakan—baik untuk keperluan produksi, transformasi, maupun konsumsi—sehingga ingin dibuang. Dengan kata lain, limbah atau sampah adalah bahan yang tidak diinginkan atau tidak lagi dapat digunakan, zat apa pun yang dibuang setelah penggunaan utama karena tidak lagi berharga, rusak, dan tidak berguna.

Pengertian di atas sungguh menarik. Sebab, jika kita tatap lamat-lamat dan renungi dalam-dalam, makna ‘rusak, tidak berguna, tidak berharga’ itu menjadi sangat relatif. Suatu benda yang dianggap tidak berguna bagi seseorang bisa jadi merupakan hal yang berharga bagi orang lain. Oleh karenanya, pemahaman akan manajemen sampah menjadi penting untuk dipelajari. Sehingga, sebagai konsumen kita menjadi bijak dalam memilih produk macam apa yang ramah lingkungan dan bisa mengurangi jumlah sampah (reduce) di muka bumi ini.

Sampah, Antara Whoever dan Whatever?

Dalam Hukum Kekekalah Energi disebutkan.

“Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Dia hanya dapat diubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi yang lain.”

Sejatinya besaran energi di alam semesta ini adalah tetap. Sehingga, segala macam energi yang terlibat dalam suatu proses kimia atau fisika hanya berupa perpindahan atau perubahan bentuk energi semata. Jika berkaca dari persoalan sampah, kita akan menyadari bahwa penggunaan materi di alam semesta secara tidak wajar berpotensi merusak keseimbangan alam.

Jika diumpamakan penumpukan sampah sekali pakai laksana lemak jenuh yang dikandung bumi, maka keabaian kita tidak seharusnya berbuah keluh, “Ih, gerah. Waduh, airnya kuning. Idih, tanahnya gersang. Hiks, hujannya jarang. Sial, kebanjiran.” Sadar atau tidak, demikianlah hasil yang kita petik dari ke-whatever-an kita terhadap menajemen sampah sehingga kita ikut menanggung imbas dari penderitaan bumi yang sedemikian rupa.

Maka penting disadari bahwa setiap kita memiliki peran penting dalam proses penjagaan bumi. Pengelolaan sampah secara bijak—reduce, reuse, recycle—merupakan segelintir aksi nyata pembuktian cinta kita kepada ibu bumi (mother earth). Air, tanah, udara, bumi memberikan begitu banyak untuk umat manusia. Andai kita tidak mampu membalas dengan kebaikan serupa pada bumi, minimal kita berusaha untuk mengurangi dampak kerusakannya. Cuz, whoever you are, your actions matter.

Bergerak Bersama Greevi

Greevi a.k.a green village (desa hijau) merupakan sebuah program bisnis sosial yang diinisiasikan oleh Komunitas Rumah Relawan Remaja (3R). Beragam sampah berbahan baju dan kain bekas diolah kembali menjadi tas kain (goodie bag) dan kantong (pouch) gaul siap pakai.

Semangat yang diusung melalui program ini, selain memperkuat sisi ekonomi masyarakat setempat melalui kreativitas daur ulang, juga menyasar pada perubahan pola pikir masyarakat Aceh terhadap pengurangan sampah, terutama sampah sekali pakai. “Seharusnya kita tidak gengsi menggunakan kembali barang-barang yang masih layak pakai atau didaur ulang. Toh, masih bagus kok. Selain hemat biaya, juga menjaga bumi,” ungkap Kasuma, salah seorang pengurus program Greevi tersebut.

Tanggapan senada juga datang dari Faza, seorang content creator yang tampak berwara-wiri menggunakan produk Greevi Collection dalam beberapa aktivitasnya. “Enak digunakan, simpel dan ringan. Apalagi untuk kegiatan santai.” Saat ditanyakan perasaannya menggunakan barang daur ulang, dia pun menambahkan, “Ngapain malu. Kan tasnya bagus. Yang penting warnanya senada atau netral dengan pakaian,” ungkap sang desainer grafis tersebut.

Selain daur ulang tas, Greevi Collection juga mengembangkan produk sabun handmade. Walau pun dibuat sendiri secara manual, sabun ini tetap menghasilkan busa dan enak digunakan. Setelah beberapa kali pemakaian, selain harum, saya sendiri merasakan kelembutan sabun tersebut di kulit. Pokoknya, enggak kalah deh dengan produk sabun ternama lainnya.

Pada akhirnya, perlu kita sadari bersama bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari menjaga diri. Bumi adalah satu-satunya rumah yang kita miliki hingga saat ini. Baik tidaknya kondisi bumi tentu akan memengaruhi kualitas hidup manusianya. Jadi, mari kita jaga bumi kita dengan menjadi konsumen cerdas. Dimulai dari kegiatan-kegiatan sederhana seperti mematikan arus listrik yang tidak terpakai, menutup keran air jika baknya sudah penuh, mencabut pengisi daya laptop dan gawai jika baterai sudah maksimal, membawa kantung belanja sendiri, dan ikut menjadi pendukung produk-produk kreativitas Greevi. Tunggu apa lagi. Yuk, bersama kita jaga bumi.[]

Menapaktilasi Perjuangan Profesor Eka Srimulyani dalam Menjembatani Mimpi Diri, Mahasiswa, dan Warga Desa

“Walaupun anak Ayah menikah, dia akan tetap lanjut kuliah. Nah, saya lihat kliknya di situ.”

Lengkungan senyum menghiasi wajah Eka Srimulyani saat menceritakan kenangan prosesi lamaran sang suami kepada orang tuanya. Sembari menyeruput kopi arang pesanannya, perempuan kelahiran Jeuram, Nagan Raya, Aceh Barat, ini menuturkan serangkaian kisah perjalanan hidupnya. Bertempat di sudut taman warkop T36 Banda Aceh, Selasa 18 Mei 2021, Eka membagikan pengalaman perjuangannya sebagai perempuan Aceh dalam menggapai cita-cita, sejak masa singlehood, menikah, hingga menjadi Ph.D Mama.

“Saat menjadi mahasiswa full-time, kita selalu dihantui beban pikiran. Ditambah lagi anak masih kecil. Jauh dari keluarga besar, apalagi saat itu masa konflik. Dulu sempat terpikir untuk menyerah. Tapi kehadiran pasangan yang tepat menjadi jembatan penguat. Frekuensinya ketemu. Visinya sama,” papar Eka terkait pengalamannya saat menempuh studi Doktoralnya (S-3) di University of Technology Sydney, Australia.   

Sebagai perempuan berkeluarga yang melanjutkan jenjang studi ke perguruan tinggi, dengan waktu dan energi yang serba terbatas, Eka menyadari bahwa menetapkan skala prioritas itu menjadi penting. Selain itu, pembiasaan diri menikmati tantangan dan keluar dari zona nyaman juga membantunya menjalani kehidupan dengan tenang walau berada di tengah gempuran riak-riak tekanan. Terutama ketika menempuh pendidikan di negeri orang.

“Konflik itu sendiri banyak sekali menyisakan rasa was-was. Saya dibesarkan dalam situasi yang tidak selalu nyaman, terbiasa dengan situasi-situasi yang tidak mudah. Saya sadar bahwa hidup itu tidak selalu tenang, indah, dan berbunga-bunga. Sehingga punya mekanisme proteksi internal. Saya lihat, kondisi Aceh yang secara umum tidak datar seperti ini membuat perempuan Aceh cukup kuat.”

Pernyataan tersebut sejalan dengan kutipan pendapat sang supervisor, Barbara Leigh. Dalam sekapur sirih buku bergenre inspirasi dan motivasi yang diterbitkan Eka di tahun 2020, Berjuang untuk Seimbang: Catatan Sederhana Tentang Keluarga dan Kerja, Barbara berpendapat. “Hal yang saya kagumi dari Eka adalah ketenangan hati. Ada beberapa tantangan besar yang dihadapinya dalam meraih cita-cita profesional, tetapi tekat kuat, pikiran penuh pertimbangan, dan ketenangan hati tetap menguasainya,” tulis Adjunct Professor University of Technology, Sydney, Australia ini.

Energi Cinta Pewujud Cita-cita

Dalam bukunya, Berjuang untuk Seimbang, Eka mengisahkan bagaimana keberhasilan cita-cita dan karirnya itu tidak terlepas dari dukungan banyak pihak, terutama dari para perempuan. Kenangan baik, kasih sayang, dan teladan yang ia terima selama menempuh pendidikan itulah yang dia jadikan stok energi baik untuk disebarkan kepada orang-orang yang mampu ia jangkau.

Saat mengonfirmasikan pernyataan ini, Eka pun berkisah. “Saya dipertemukan dengan orang-orang baik. Aura itu yang saya nikmati dalam-dalam. Saya merasa mendapat kesempatan untuk berkembang. Jadi, kalau sekarang saya akrab bersama mahasiswa, karena pembimbing saya juga begitu terhadap saya. Saya diperlakukan dengan sangat baik sampai sekarang. Jadi saya mendapatkan contoh (role model).”

Bagi Eka, dalam mendidik manusia, contoh konkret selalu lebih efektif dibanding sekadar teori. Menurutnya, level mendidik itu tidak boleh hanya berhenti di tingkat kepintaran tetapi juga seharusnya menyentuh sisi-sisi kemanusiaan. “Menurut saya, maunya pendidikan itu tidak hanya pemenuhan pada level pengetahuan, tapi juga afeksi dan psikomotor, keterampilan, itu satu paket sebenarnya. Perubahan bukan cuma menjadi lebih pintar, ada pengetahuan. Tetapi juga afeksi, rasa, empati, dan juga pada tindakan,” jelas akademisi yang pernah dua kali menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry.

Pewujudan pendidikan itu seharusnya tidak melulu melalui medium formal seperti ruang kelas saja. Mendidik dan menjalin afeksi juga bisa dilakukan saat melakukan konsultasi di warung kopi atau kafe. Membentuk ruang-ruang suportif agar masyarakat mahasiswa bisa mengembangkan potensi terbaik mereka dan terhindari dari sifat ku’eh (bahasa Aceh).

Ku’eh—iri dan dengki—saya pikir, semua kita punya. Memang sulit untuk menjadi orang yang betul-betul ikhlas. Namun, kemampuan untuk merasa senang dengan kebahagiaan orang lain itu perlu dimiliki. Sebab jika tidak, justru akan menjadi sumber malapetaka. Kita ini kayak magnet energi kan. Jadi softskill saling dukung mendukung itu harus dibiasakan. Dilatih, misalnya dengan membiasakan diri mengapresiasi orang lain minimal sekali dalam satu hari,” papar sang akademisi UIN Ar-Raniry yang telah bergelar profesor sejak di usianya yang ke-37 tahun.

Eka juga berharap agar seluruh masyarakat, terutama mahasiswa, memotivasi diri agar terus belajar. Melatih keinginan untuk mengetahui banyak hal baru. Memberikan pemikiran dan perhatian terhadap lingkungan sekelilingnya. Bisa menerima kekurangan diri dengan terus berupaya menjadi versi terbaik mereka sendiri.

“Yang bagus kan kita menjadi pembelajar sepanjang hayat. Di dunia yang terus berubah, kekuatan dari dalam (inner) penting untuk dimiliki. Pendidikan itu jangan sampai menghasilkan tenaga buruh yang bisa digantikan mesin. Tapi kerja-kerja yang high order thinking and skills. Tapi jangan sampai masyarakat kita terlalu memuja teknologi dan sains sampai merasa hampa. Materialnya sudah tapi immaterialnya itu juga harus ada. Ada keseimbangan,” papar lulusan post-doctoral di International Institute for Asian Studies (IIAS) Leiden, Belanda ini.

Universitas Membangun Desa

Eka merupakan segelintir contoh guru besar perguruan tinggi yang tidak melekatkan citra kampus menara gading atau pendidikan tidak merakyat pada dirinya. Hal itu terbukti dari kesungguhannya untuk terus terlibat mendampingi masyarakat secara langsung bahkan sejak masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pada tahun 2006 silam. “Saya berinteraksi dan terlibat dalam isu-isu pemberdayaan masyarakat sudah sangat lama. Sesibuk apapun, saya tetap menyempatkan diri terjun ke lapangan. Ternyata, ini panggilan jiwa. Pada akhirnya, menurut saya, ilmu itu harus punya dimensi praktisnya, kebermanfaatan langsung bagi masyarakat,” ungkap sang peneliti senior di International centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS).

Universitas Membangun Desa (UMD) adalah salah satu contoh program pengabdian masyarakat yang dilakukan UIN Ar-Raniry berkolaborasi bersama KOMPAK (DFAT). Ini merupakan sebentuk kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) termatik dengan fokus percepatan penanggulangan kemiskinan. Di sini Eka berperan dalam memberikan sentuhan desain program yang lebih pro rakyat. Sehingga KKN tidak hanya menjadi seremonial kampus semata. Kegiatan tersebut dilaksanakan sejak 2016. Kecamatan Arongan Lambalek pun terpilih sebagai lokasi binaan.

Saat kegiatan diinisiasi, berdasarkan data statistik, Arongan Lambalek adalah kecamatan termiskin di Aceh Barat. Kondisi ini disebabkan oleh nilai jual komoditi unggulan mereka yang turun drastis di pasaran. Sementara sawah sering dilanda banjir oleh luapan air sungai. Hal ini disebabkan oleh kerusakan kondisi hilir sungai yang tertutupi tumbuhan enceng gondok.

Sejak saat itu, Eka bersama timnya menggerakkan mahasiswa untuk bertransformasi menjadi aktor pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.Secara bergantian, gelombang demi gelombang mahasiswa KKN diturunkan di lokasi yang sama. Memang bukan hal yang mudah dalam membentuk pola pikir masyarakat agar berkembang. Namun, semangat untuk terus memajukan masyarakat desa tercermin jelas dari Eka. “Tantangannya, masyarakat kita belum selesai dengan membangun kembali trust, saling percaya. Jadi potensi konflik di gampong itu kadang-kadang ikut memengaruhi. Itu terjadi. Memang rumit. Membutuhkan kesungguhan. Tapi prinsip kita mencoba memediasi. Cari solusi,” ungkapnya.

Berbagai pendekatan dilakukan dan ragam tantangan dicoba selesaikan sebijaksana mungkin. Hingga akhirnya, masalah gulma enceng gondok yang membebani masyarakat itu justru bertransformasi menjadi hasil kerajinan yang memberikan pemasukan tetap bagi warga. Hasil kerajinan tersebut bahkan tembus hingga ke pasar internasional.

Bagi Eka, program pengabdian masyarakat tersebut tidak hanya memberi manfaat untuk warga sekitar, tetapi secara konseptual juga bisa digunakan sebagai acuan di tempat lainnya. Menurutnya, justru kebanyakan program dunia yang berdampak besar kerap kali dimulai dari pengabdian-pengabdian para dosen dan mahasiswa.

“Saya bahagia karena mahasiswa bisa kita ajak berpikir bersama, tidak hanya mementingkan diri sendiri. Pada akhirnya mereka pun bisa merasa, ‘Oh, ternyata keberadaan kami itu berharga.’ Pengrajin-pengrajin yang mereka dampingi sekarang sudah punya pendapatan sendiri. Keluarga-keluarga miskin sudah ada income tetap. Bahagia karena mereka bukan sekadar menjadi mahasiswa KKN untuk mendapatkan nilai. Tapi mampu membawa perubahan. Membawa masyarakat untuk memiliki motivasi,” cerita sang reviewer penelitian nasional dan internasional tersebut.

Harapan Bagi Generasi Muda

Sebagai seorang perempuan sekaligus ibu dari dua orang anaknya yang juga perempuan, Eka sangat menyadari pentingnya memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan untuk terus berkembang. Termasuk kesempatan memperoleh pendidikan. “Semua kita sebenarnya harus belajar sampai pada titik tertinggi yang kita mampu. Itu berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Kebetulan anak saya perempuan. Semangatnya untuk belajar sampai pada titik yang dia impikan, tetap kita dukung terus. Jadi sebagai anak perempuan yang hidup dalam masyarakat Aceh dia tidak merasa terhalang mimpinya hanya karena dia seorang perempuan.”

Sistem patriarki yang mendarah daging di negeri ini kerap merugikan banyak pihak, terutama perempuan. Patriarki merupakan bentuk asimetris dari relasi kuasa (power relation). Kondisi ketidakseimbangan dalam membahagiakan kedua belah pihak, perempuan dan laki-laki. Pembebanan pada perempuan kerap terjadi bahkan melewati ambang batas kemampuannya. Sayangnya, pendidikan tinggi pada perempuan pun tidak serta merta berhasil menghapus sistem patriarki ini. Bahkan kini sistem tersebut menjelma menjadi bentuk patriarki wajah baru.

“Oh iya, ada sesuatu yang keliru dalam masyarakat kita. Itu yang dinamakan partiarki.Pendidikan untuk perempuan pun ada kalanya malah menghasilkan bentuk patriarki wajah baru. Perempuan sudah bekerja, tapi dia di rumah pun masih bekerja juga. Kan double burden. Menurut Prof. Al-Yasa’ Abubakar, ‘Dalam dimensi relasi memang pada tingkat tertentu kita perlu berkorban. Kadang-kadang pengorbanan itu sebuah kenikmatan juga.’ Tapi jangan melampaui ambang batas,” papar penulis Buku Keluarga dan Relasi Kuasa di Provinsi Aceh yang diterbitkan pada akhir 2020 lalu.

Menurut Eka, untuk mengubah sistem patriarki yang sudah mendarah daging di masyarakat itu perlu waktu dan keterlibatan lintas pihak. Harus ada program dari pemerintah, komunikasi yang dibangun antarkeluarga, juga upaya-upaya bersama yang dilakukan oleh lintas organisasi dan komunitas. Harus dibangun gerakan kolektif secara masif.

“Intinya, perempuan dan laki-laki itu saling bermitra, berkolaborasi, bukan berkompetisi. Kalau bahagia, ya dua-duanya bahagia. Tidak ada yang dirugikan. Jadi jangan pernah takut untuk saling mendukung. Toh, pada akhirnya, tidak ada pihak yang dirugikan ketika perempuan itu berpendidikan dan terberdaya,”tutup Prof. Eka mengakhiri sesi bincang-bincang seru sore hari itu.[]