Beranda blog Halaman 13

IMKA: Desa Terpilih di Kecamatan Ulee Kareng untuk Lokasi Vaksinasi Massal

Oleh Rahmat M*

Pengumuman akan adanya vaksinasi massal berkumandang dari toa masjid Gampong Ie Masen, Kaye Adang, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Seluruh masyarakat diundang untuk menghadiri acara tersebut. Saya salah seorang warga yang ikut menghadiri vaksinasi massal itu.

Hari itu, Jumat, 29 April 2022, pelaksanaan vaksin massal atas kerja sama  Rumah Sakit Bhayangkara Banda Aceh dan Pemerintah Gampong Ie Masen Kaye Adang yang mewakili Kecamatan Syiah Kuala, berlangsung dengan baik. Antusias  masyarakat  tinggi, terdata dari pasien yang divaksinasi sebanyak 1.085 orang, baik warga Ie Masen Kaye Adang, maupun warga dari desa lain yang ada di Kecamatan Syiah Kula.

Ditunjuknya Ie Masen Kaye Adang sebagai tempat pelaksanaan vaksinasi tidak terlepas dari pelaksanaan pemerintahan desa yang baik dan hubungan masyarakat yang harmonis.

Dalam catatan sejarah, awal mulanya Gampong Ie Masen Kaye Adang (IMKA) merupakan gampong dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar yang bernaung di Kecamatan Ingin Jaya. Namun, sejak perluasan Kota Banda Aceh, gampong ini bergabung ke wilayah Kota Banda Aceh. Ditetapkan berdasarkan PP Nomor 5 Tahun 1983 sebagai salah satu gampong di Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.  Sewaktu masih dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar, gampong ini hanya berpenduduk 60 KK dengan jumlah 600 jiwa. Begitu bergabung dengan daerah tingkat II Kota Madya Banda Aceh, jumlah penduduk bertambah setiap tahunnya. Pertumbuhan penduduk ini bukanlah disebabkan oleh peningkatan angka kelahiran (fertilitas), melainkan karena hadirnya pendatang baru yang membuat rumah dan bertempat tinggal di IMKA. Data terbaru tahun 2021, jumlah penduduk ada  1.307 KK dengan jumlah  4.595  jiwa.

Dengan luas 73,25 ha, letak IMKA juga sangat strategis, terletak di tengah dan diapit oleh desa-desa lain sehingga memudahkan segala akses. Sebelah utara berbatasan dengan Gampong Pineung menuju arah Darussalam sebagai tempat perkuliahan dengan mudah dijangkau. Sebelah selatan berbatasan dengan Gampong Doi, yang dekat dengan akses menuju pasar Ulee Kareng. Sebelah timur berbatasan dengan Gampong Meunasah Papeun, Kabupaten Aceh Besar. Sementara sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Kota Baru yang langsung berhadapan dengan jalan Teuku Panglima Nyak Makam, tempat  warung-warung kopi dan kafé berjejer dan mudah dijumpai.

Harmonisasi Sosial

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, harmoni berarti selaras atau serasi. Sedangkan makna  ’sosial’ menurutEnde M.C adalah cara tentang bagaimana individu saling berhubungan secara baik dan saling menghargai satu sama lain. Harmonisasi sosial adalah sesuatu yang sesuai dengan keinginan masyarakat, seperti keadaan tertib, teratur, dan aman dengan kondisi setiap individu hidup sejalan dan serasi dengan tujuan masyarakat.

Faktor-faktor terwujudnya harmonisasi sosial masyarakat antara lain, adanya kecocokan antarmasyarakat dalam melakukan hubungan sosial, menyikapi perbedaan dengan sikap positif, serta ada toleransi.

 Pemerintah gampong dan masyarakat IMKA memiliki toleransi dan menyikapi perbedaan dengan sangat baik. Baik itu antara strata masyarakat yang sejahtera dan kurang sejahtera, maupun antara penduduk asli dan pendatang. Khusus penerimaan terhadap pendatang sangat terbuka dan menghargai. Ketika seseorang mempunyai sumber daya (SDM) yang baik, maka dialah yang akan dipakai, tanpa membedakan penduduk asli atau pendatang.

Selain itu sebagai salah satu gampong urban yang terus berkembang, keberadaan hunian-hunian baru dari luar juga diterima dengan baik. Misalnya terdapat beberapa asrama mahasiswa di gampong ini, yakni asrama Teunom (Aceh Jaya), asrama Samatiga (Aceh Barat), asrama Susoh (Abdya), asrama Nagan Raya, dan asrama putri Pereulak (Aceh Timur). Masih di pinggir jalan utama, yakni Jalan Pangraed, berdiri pula sebuah kompleks perumahan di lahan seluas lebih kurang 5.000 m, yakni Perumahan Alamanda. Semuanya hidup berdampingan dalam keragaman, rukun, dan damai.

Saat ini, Gampong IMKA yang berada di bawah komando Keuchik Zulfikar, dan Sekdes Junaidi berkembang maju. Representasi kemajuan itu dengan mudah disaksikan dari keberadaan masjidnya, yakni Masjid  An-Nur yang semakin diperluas dan indah, serta kantor desa yang nyaman. Kedua tempat pusat kegiatan masyarakat itu  berdampingan di lokasi yang sama. Kantor desa adalah sebuah bangunan sederhana. Di halamannya ada taman bunga nan asri sehingga membuat pengunjung yang akan mengurus sesuatu betah menunggu. Di samping kantor, terdapat tiga ruangan yang melengkapi, yakni ruangan posyandu, tuha peut gampong), dan badan usaha milik gampong).

Memasuki ruangan kantor desa yang bersih dan rapi, para pegawai dengan sigap dan ramah melayani segala urusan masyarakat. Kantor Gampong Ie Masen Kaye Adang beroperasi setiap Senin–Jumat dari pukul 08.00-16.45 WIB.  Berkat kerja sama semua pihak dalam berbagai bidang dan keteraturan jalannya pemerintahan gampong dan masyarakat, menjadikan Ie Masen Kaye Adang  meraih beberapa prestasi. Pada tahun 1989-1990, berturut-turut menjadi Desa Terbaik Se- Kecamatan Syiah Kuala. Pada tahun 1990 juga menjadi juara pertama Lomba Desa Tingkat Kota Madya Banda Aceh. Untuk saat ini termasuk salah satu desa terbaik di bidang kebersihan, pelayanan administrasi, dan kerja sama dengan pemerintahan daerah di Kecamatan Syiah Kuala.

Harmonisasi desa, meningkatkan kepercayaan terhadap desa tersebut, baik kepercayaan pemerintah daerah maupun masyarakat desa itu sendiri. Pemerintah daerah menjadi nyaman melaksanakan kegiatan bersama dengan pemerintah desa.

 Di gampong sendiri, secara teratur posyandu dilaksanakan dua kali sebulan, yakni Posyandu Balita, dan Posyandu Lansia (berumur di atas 55 tahun), juga Posbindu (Pos Pelayanan Terpadu, berumur di atas 15 tahun).  Pelaksanaan posyandu tersebut selalu diminati oleh masyarakat, tentu  berkat hubungan baik perangkat desa dengan masyarakatnya.

Sementara itu,  kegiatan lain yang berlangsung dalam waktu belakangan ini di IMK,  selain pelaksanaan  vaksinasi massal,  juga ada perlombaan voli antar-SMA putra se-Banda-Aceh, yang berlangsung pada 10-13 Maret 2022. Kejuaraan itu terselenggara atas kerja sama yang baik antara Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kota Banda Aceh dengan Pemerintahan Gampong Ie Masen Kaye Adang. Pertandingan ini merupakan hiburan yang cukup menyenangkan bagi masyarakat menjelang memasuki bulan Ramadhan yang baru berlalu. Ajang ini juga dimanfaatkan untuk mengedukasi warga agar mau vaksinasi Covid-19/

Kembali ke suasana vaksinasi massal, ini merupakan vaksinasi massal yang kedua yang berlangsung di IMKA, setelah vaksinasi massal pertama sukses berlangsung di awal Januari 2022.  Hadir dalam acara vaksinasi massal kedua ini adalah dr. Hafiz, bersama rekan-rekannya dari Rumah Sakit Bhayangkara Lamteumeun Banda Aceh. Mereka tak hentinya memberikan pencerahan  kepada masyarakat yang hadir, bahwa vaksinasi kedua bisa dilakukan paling cepat 28 hari setelah vaksinasi pertama. Sedangkan vaksin penguat (booster), dapat dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan setelah mendapatkan suntikan vaksin dosis kedua.

Sebagai tipikal masyarakat urban yang terbuka dan maju, banyak masyarakat yang sebelumnya masih ragu, tidak melakukan vaksin di vaksinasi pertama, akhirnya melakukannya di vaksinasi massal yang kedua ini.

Ie Masen Kaye Adang tentu bukanlah satu-satunya gampong di kota urban. Namun, gampong ini mewakili gampong lainnya yang tatanan kotanya teratur, pelaksanaan pemerintahan desa yang berlangsung dengan baik, serta hubungan masyarakatnya yang harmonis.  

 Saya, mewakili segenap warga Gampong Ie Masen Kaye Adang Kecamatan Syiah Kuala kota Banda Aceh, mengucapkan selamat Idulitri 1443 H, mohon maaf lahir dan bathin.[]

Penulis adalah anggota Komunitas Jurnalis Warga Banda Aceh

Ikhtiar Melawan Pandemi dengan Vaksinasi

Bumi yang kita tinggali saat ini sudah berusia sangat tua, memasuki usia uzur. Berbagai macam cobaan penyakit sudah pernah dirasakan oleh Bumi. Sejarah mencatat banyak sekali penyakit yang telah merenggut nyawa banyak orang. Situasi kacau yang ditimbulkan oleh wabah secara global telah berhasil melahirkan temuan-temuan di bidang kesehatan.

Penyakit yang memengaruhi banyak orang itu disebut pandemi. Sepanjang sejarah, telah terjadi sejumlah wabah yang membunuh ratusan ribu hingga jutaan umat manusia.

Pandemi Flu Spanyol adalah pandemi yang paling diingat dengan tingkat kematian tinggi di antara mereka yang berusia di bawah lima tahun, usia 20-40 dan 65 tahun ke atas.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat angka kematian yang tinggi di kalangan orang sehat, termasuk di tahun 2040-an, menjadi ciri khas pandemi ini. Meskipun virus H1N1 tahun 1918 telah disintesis dan dievaluasi, sifat-sifat yang membuatnya begitu menghancurkan tidak dipahami dengan baik. Dengan tidak adanya vaksin influenza dan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri sekunder yang mungkin terkait dengan influenza, upaya pengendalian di seluruh dunia terbatas pada intervensi non-farmasi seperti; isolasi, kebersihan pribadi yang baik, penggunaan disinfektan, dan akses publik yang terbatas. demonstrasi, diterapkan secara tidak merata.

Pada tahun 1918, tidak ada obat untuk  influenza atau antibiotik untuk mengobati komplikasi seperti pneumonia. Banyak rumah sakit kewalahan. Banyak teater, ruang dansa, bioskop, dan gereja telah ditutup selama beberapa bulan, tetapi pemerintah belum memberlakukan blokade atau blokade yang lebih ketat  untuk mengekang penyebaran virus.

Sebagian besar kedai minuman, yang memiliki jam kerja terbatas selama perang,  tetap buka. Liga Sepak Bola dan Piala FA juga dibatalkan karena perang, tetapi tidak ada upaya yang dilakukan untuk membatalkan  atau membatasi partisipasi dalam pertandingan lain. Acara olahraga untuk 4.444 pria dan kerumunan besar kompetisi sepak bola wanita berlanjut selama pandemi.

Sejumlah upaya juga dilakukan oleh pemerintah, jalanan di dalam kota dan sekitarnya disemprot dengan desinfektan dan beberapa orang memakai masker anti-kuman, saat mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Pesan-pesan layanan kesehatan pun membingungkan banyak orang-dan, seperti saat ini, banyak kabar bohong dan teori konspirasi bertebaran. Di beberapa pabrik, aturan dilarang merokok dilonggarkan, dengan keyakinan bahwa rokok akan membantu mencegah infeksi.

Kondisi kaos flu Spanyol tidak jauh berbeda pada tahun 1918 di Hindia-Belanda, yang melanda kota-kota besar di Jawa. Hingga 1,5 juta orang telah menjadi korban kekerasan virus dari daratan Eropa. Lambatnya respons pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi gelombang pertama pandemi flu Spanyol menjadi penyebab tingginya angka kematian tersebut. Pemerintah saat itu hanya memiliki sedikit strategi pencegahan dini. Mereka  menganggap enteng virus itu dan menyamakannya dengan flu biasa.

Setelah mendapati angka kematian yang semakin tinggi, pemerintah mulai bergerak menangani penyebaran virus. Berbagai upaya pun mereka lakukan. Langkah awal adalah dengan membentuk Influenza Commissie pada 16 November 1918. Komisi ini bertugas menginvestigasi akar penyebaran dan gejala flu spanyol. Kebijakan yang dihasilkan di antaranya imbauan untuk mengenakan masker hingga pendistribusian obat anti-influenza.

Selain pemerintah, masyarakat juga berusaha sekuat tenaga mencari jalan terbaik untuk menanggulangi wabah. Mereka bahkan rela melakukan segala cara agar terbebas dari penyakit tersebut, mulai dari metode medik sampai cara klenik. Cara terakhir itu lazim dilakukan kalangan bumiputera dan Tionghoa.

Majalah HistoriA menulis bahwa di tengah situasi genting dan penuh kekalutan seperti itu, pemerintah dan masyarakat dibuat pusing dengan munculnya informasi-informasi palsu tentang wabah flu spanyol, mulai dari cara penanganan, obat-obatan, hingga sebab kemunculan virus. Sejumlah oknum memanfaatkan momen tersebut untuk menyebar berita bohong agar tercipta kepanikan di masyarakat.

“Menjamurnya berbagai berita bohong selama periode tersebut, ternyata dilihat sebagai kesempatan emas bagi segelintir oknum untuk mengeruk keuntungan dengan memanfaatkan kepanikan masyarakat,” tulis Ravando dalam Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919.

Lemahnya literasi kesehatan juga mengakibatkan jatuhnya korban flu Spanyol tanpa pernah mendapatkan bantuan yang berarti. Pesan-pesan layanan kesehatan pun membingungkan banyak orang, dan seperti situasi saat ini, banyak kabar bohong dan teori konspirasi bertebaran.

Di beberapa pabrik, aturan dilarang merokok dilonggarkan, dengan keyakinan bahwa rokok akan membantu mencegah infeksi.

Dalam sebuah debat tentang pandemi, anggota parlemen dari partai Konservatif, Claude Lowther, lantang bertanya: “Apakah sudah ada faktanya bahwa cara yang ampuh untuk melawan influenza itu adalah dengan merokok tiga kali sehari?”

Berbagai kampanye dan membagikan selebaran dilakukan untuk memperingatkan agar tidak menyebarkan penyakit melalui batuk dan bersin.

Pada November 1918, News of the World menyarankan para pembacanya: “Mencuci hidung dengan sabun dan air setiap malam dan pagi; paksa diri Anda untuk bersin pada malam dan pagi hari, lalu bernapas dalam-dalam. Jangan mengenakan selendang; langsung pulang ke rumah selepas kerja dan menyantap bubur hangat.”

Covid-19 hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern yang sudah jauh lebih baik di dalam gaya hidup; teknologi, informasi, gawai pintar, dan kemajuan pengetahuan di bidang kesehatan. Kita punya semuanya yang menuntun kita menjadi tanggap dan siaga bencana. Kemudian sejarah kaos flu Spanyol terulang kembali; persebaran berita bohong, informasi palsu dari pihak yang tidak bertanggung jawab demi keuntungan pribadi, berita palsu, dan rendahnya literasi di tengah masyarakat.

Padahal, ada berita-berita dan informasi yang dapat menjadi sumber rujukan utama yang ditulis oleh para ahli di bidangnya. Namun, menikmati berita bohong seolah adalah sebuah kenikmatan, sehingga kita menjadi mengulang-ulang informasi untuk sebuah gejala penyakit, atau sekadar memberikan informasi dan pesan layanan kesehatan. Miris sekali, karena kita sudah masuk ke zaman di mana penggunaan gawai pintar yang bisa mengakses berita baik dan terpercaya hanya lewat sentuhan jari.

Namun bukan berarti, berita baik tersebut tidak menjadi konsumsi masyarakat Indonesia saat ini. Ada banyak masyarakat Indonesia yang teguh, komitmen, dan bersungguh-sungguh demi tercapainya imun yang lebih baik dan sebagai ikhtiar di masa pandemi.

Tak gentar pada berita bohong, mereka melakukan vaksinasi 1, 2, dan 3, bahkan sampai booster. Pencapaian tingkat pemahaman dan nalar yang lebih kritis telah membawa mereka mencapai daya pikir yang lebih bijaksana.

Salah seorang warga Banda Aceh, Enny (42), seorang wirausahawan menuturkan perjuangannya untuk mendapatkan vaksinasi, “Waktu awal-awal pandemi, saya sangat khawatir terpapar virus korona, setelah ada imbauan pemerintah tentang vaksinasi, saya bilang sama suami dan anak saya, ‘Ayo, kita cari vaksin buat cegah penularan,'” katanya pada 15 Maret 2022.

Tidak berhenti sampai di situ, Enny juga mengajak tetangganya untuk melakukan vaksinasi, “Kamu sudah lama tidak pulang kampung, nanti kamu terpapar karena belum vaksin,” katanya kepada si tetangga.

Enny juga bercerita bahwa awalnya tetangganya menolak untuk melakukan vaksinasi, “Tapi kemudian saya terus mengimbau dan mengedukasi dia supaya mau melakukan vaksinasi, karena saya takut kalau dia lalu lalang di depan rumah saya, saya dan keluarga jadi terpapar.”

Fernando (18), warga Peunayong mencari informasi dan tempat di mana vaksinasi dilakukan, “Sebagai ikhtiar di masa pandemi dan bertujuan untuk menjaga imunitas, saya mencari tahu di mana lokasi vaksinasi, setelah mendapatkan informasi akurat, saya membawa orang tua saya untuk melakukan vaksinasi sampai booster, karena meskipun hoaks atau berita bohong di luar sana bertebaran, tapi pemerintah sudah menjamin mutu dan kualitas vaksin, jadi kenapa harus takut?” katanya.

Sejauh mata memandang ada banyak kisah-kisah sukses vaksinasi Covid-19 di tengah masyarakat Indonesia yang patut diacungi jempol.

Frina salah satunya. Setelah mendapatkan informasi dan sumber yang berasal dari seorang dokter, kegunaan, fungsi, dan faedah melakukan vaksinasi, Frina akhirnya memutuskan untuk melakukan vaksinasi, “Tidak berselang lama setelah informasi dari sumber yang akurat tersebut, Frina melakukan vaksinasi, sebagai ikhtiar untuk menjaga diri dari tertularnya virus. Setelah melakukan vaksinasi, tidak merasakan efek samping yang terlalu berat seperti isu-isu miring di luar sana, dan setelah vaksinasi, Frina merasakan tubuh menjadi lebih bugar,” katanya.

Berita bohong yang beredar di tengah-tengah masyarakat adalah tantangan karena berita bohong yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab lebih dipercaya daripada informasi akurat dari para ahli di bidang kesehatan.

Yuk, belajar dari sejarah silam masa pandemi flu Spanyol.[]

Penulis adalah anggota Jurnalis Warga Banda Aceh dan Ketua Forum Lingkar Pena Banda Aceh

Cakupan Vaksinasi pada Kelompok Rentan di Banda Aceh Masih Rendah

Banda Aceh — Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Kesehatan terus mengupayakan agar cakupan vaksinasi pada kelompok rentan bisa terus meningkat. Di antaranya dengan melakukan Gebyar Vaksinasi Lansia (GVL). Hingga April 2022, jumlah lansia di Banda Aceh yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis 1 sebanyak 9.722 orang (72,05%); dosis 2 sebanyak 6.904 orang (51,17%); dan booster sebanyak 1.452 (10,76%).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, drg. Supriady M.Kes, mengatakan kelompok rentan dalam hal ini lansia, menjadi sasaran prioritas vaksinasi Covid-19. Rata-rata kematian akibat Covid-19 selama dua tahun ini umumnya terjadi pada lansia dengan usia di atas 60 tahun.

“Lima puluh persen yang meninggal dunia karena Covid-19 di Banda Aceh adalah lansia,” katanya dalam talkshow Memperluas Cakupan Vaksinasi pada Kelompok Rentan yang berlangsung di Radio Serambi FM, Selasa, 19 April 2022.

Lansia pada umumnya juga memiliki riwayat penyakit bawaan atau komorbid seperti diabetes, hipertensi, jantung, atau stroke sehingga imunitas tubuhnya perlu diperkuat dengan vaksinasi. Dengan demikian, tubuh akan lebih siap ketika terpapar oleh virus tersebut.

Berdasarkan data yang dipaparkan Supriady, selain vaksinasi lansia yang persentasenya masih rendah, untuk target vaksinasi anak, disabilitas, ibu hamil dan menyusui juga masih rendah. Anak yang sudah mendapatkan vaksin dosis 1 sebanyak 17.980 orang (62,88%), dosis 2 sebanyak 7.470 orang (26,13%), dan dosis 3 hanya 1 orang (0,00%). Sedangkan ibu hamil dan menyusui untuk dosis 1 sebanyak 11 orang (0,01%), dosis 2 sebanyak 6 orang (0,00%), dan dosis 3 sebanyak 3 orang (0,00%). Adapun disabilitas untuk dosis 1 sebanyak 19 orang (0,02%), dosis 2 sebanyak 14 orang (0,01%), dan dosis 3 sebanyak 2 orang (0,00%).

Secara umum, total cakupan vaksinasi di Kota Banda Aceh sudah mencapai 123,00% untuk dosis 1 (234.048 orang), 89,72% untuk dosis 2 (170,736 orang), dan 16,25% untuk dosis 3 (16,25%). Oleh karena itu, Supriady meminta agar semua pihak bisa bersikap kooperatif dalam program vaksinasi ini. Demikian juga dengan individu yang memiliki anggota keluarga yang masuk dalam kategori rentan, seperti anak-anak, lansia, atau disabilitas, agar bersedia membawa atau mendampingi mereka untuk mendapatkan vaksinasi.

Talkshow ini juga menghadirkan Roos Afrida, warga Banda Aceh. Dalam kesempatan itu Roos memaparkan sejumlah persoalan yang ada di level akar rumput terkait program vaksinasi Covid-19. Di antaranya, keengganan warga untuk vaksinasi lebih karena khawatir terhadap adanya kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI). Pemberitaan yang ada di media terkait beberapa KIPI yang terjadi di kalangan masyarakat menjadi ketakutan tersendiri.

“Ketidakpercayaan terhadap vaksin Covid-19 juga masih ada. Ada juga yang masih percaya pada hoaks seperti tidak mau divaksinasi karena takut disuntikkan microchip ke dalam tubuh,” kata Roos.

Tak hanya itu, munculnya aneka varian Covid-19 dengan nama yang asing bagi masyarakat awal telah menimbulkan persepsi tersendiri bagi masyarakat. Tak jarang nama-nama Covid-19 dianggap sebagai candaan, misalnya, “Kalau ada Omicron berarti ada Tantecron,” kata Roos.

Roos juga menyampaikan harapannya agar pemerintah lebih proaktif lagi dalam memberikan pelayanan vaksinasi kepada warga yang disabilitas. Hal ini karena disabilitas memiliki kendala tersendiri seperti terbatasnya akses ke pusat pelayanan vaksinasi sehingga perlu dilakukan jemput bola.[]

Ini Strategi Pemko Banda Aceh dalam Meningkatkan Cakupan Vaksinasi Lansia

Banda Aceh — Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Kesehatan telah melakukan sejumlah strategi untuk memaksimalkan cakupan vaksinasi bagi masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan, dalam hal ini kalangan lansia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, drg. Supriady R, M.Kes. mengatakan, adapun strategi tersebut di antaranya melakukan penyuluhan yang masif ke masyarakat dengan mendatangi warga dari rumah ke rumah.

“Dalam melakukan penyuluhan ini kami menurunkan bidan ke gampong-gampong, bekerja sama dengan babinsa (TNI) dan bhabinkantibmas (Polri) dengan tujuan mengedukasi masyarakat akan pentingnya vaksinasi Covid-19. Namun, saat itu tidak langsung divaksinasi, tetapi kita mencari tahu dulu apa saja kendala yang dihadapi oleh warga,” ujar drg. Supriady dalam talkshow Memperluas Cakupan Vaksinasi pada Kelompok Rentan yang berlangsung di Radio Serambi FM, Selasa, 19 April 2022.

Selanjutnya Dinkes Banda Aceh juga melakukan Gebyar Vaksinasi Lansia (GVL) di sembilan kecamatan yang ada di wilayah Kota Banda Aceh. Vaksinasi diselenggarakan di sejumlah titik yang mudah diakses oleh masyarakat. GVL ini dilakukan sebagai salah satu upaya menurunkan penyebaran Covid-19 di Kota Banda Aceh, khususnya pada lansia mengingat mereka termasuk dalam kelompok rentan karena memiliki daya tahan tubuh yang lemah.

Setidaknya ada dua tempat yang menjadi lokasi vaksinasi massal Gebyar Vaksinasi Lansia ini, yaitu di Kompleks Objek Wisata Kapal Apung dan Taman Sari Banda Aceh. Untuk menarik minat warga, bagi siapa saja yang melakukan vaksinasi akan mendapatkan hadiah berupa minyak goreng dan gula.

“Sedangkan selama bulan Ramadan ini kami juga melakukan Safari Ramadan Vaksinasi yang dipusatkan di masjid. Dalam HUT Kota Banda Aceh yang jatuh pada 22 April ini kita juga melakukan layanan vaksinasi massal, tetapi karena ini jatuh pada bulan puasa, eventnya diselenggarakan pada 18 Mei 2022,” kata Supriady.

Dengan adanya Safari Ramadan Vaksinasi ini, warga yang datang ke masjid untuk salat Tarawih bisa sekaligus mendapatkan vaksinasi Covid-19 sehingga akan menghemat waktu dan tenaga mereka tanpa perlu mendatangi pusat pelayanan kesehatan seperti ke puskesmas.

Mewakili pemerintah, Supriady mengimbau masyarakat agar tetap melakukan vaksinasi meskipun saat ini kasus Covid-19 bisa dibilang sudah melandai.

“Jangan hanya melakukan vaksinasi karena tuntutan administrasi, atau karena keperluan untuk pulang kampung atau mudik, tetapi lakukan karena kesadaran sendiri karena vaksinasi ini memang sangat dibutuhkan oleh tubuh,” katanya.

Berdasarkan pemaparan Supriady, hingga April 2022, jumlah lansia di Banda Aceh yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis 1 sebanyak 9.722 orang (72,05%); dosis 2 sebanyak 6.904 orang (51,17%); dan booster sebanyak 1.452 (10,76%).[]

Amankah Vaksinasi Covid-19 Saat Tubuh Berpuasa?

Bulan suci Ramadan telah tiba. Bagi seluruh umat Islam, datangnya bulan Ramadan ditandai dengan perintah wajibnya menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Tak hanya itu, malam harinya juga disunahkan untuk melakukan ibadah salat Tarawih berjemaah. Oleh karena itu, tubuh yang sehat dan stamina yang kuat merupakan kunci terlaksanakannya ibadah secara maksimal di bulan ini.

Dibolehkannya salah Tarawih berjemaah pada Ramadan 1443 H/2022 M ini merupakan sesuatu yang perlu disyukuri. Meskipun begitu, tentunya kita tidak boleh abai pada protokol kesehatan karena pandemi Covid-19 belum musnah seratus persen. Namun, agar ibadah tidak terusik jangan abaikan vaksinasi Covid-19.

Menurut dr Liza Fathiariani, yang selama ini menjadi vaksinator Covid-19 di Museum Aceh, melakukan vaksinasi Covid-19 saat tubuh sedang berpuasa aman-aman saja.

“Prosedurnya sama saja dengan hari biasa, asalkan yang bersangkutan tidak dalam keadaan sakit seperti demam dengan suhi di atas 38 derajat. Intinya lulus skrining,” kata dr Liza, Rabu, 30 Maret 2022.

Hal yang sama juga berlaku bagi lansia ataupun anak-anak. Selama mereka tidak memiliki masalah kesehatan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Namun, sebelum mendapatkan vaksinasi ada baiknya perlu memperhatikan beberapa hal seperti istirahat yang cukup di malam hari, mengonsumsi makanan bergizi saat sahur, dan mencukupi kebutuhan cairan tubuh dengan meminum air putih yang cukup.

“Penting diketahui bahwa vaksin itu disuntikkan ke otot, panjang prosesnya untuk sampai ke perut (lambung). Jadi, kalau ada yang merasa mual atau pusing itu lebih ke efek psikosomatis saja,” kata dr Liza yang saat ini bertugas di Rumah Sakit Jiwa Aceh.

Dikutip dari alodokter.com, gangguan psikosomatis adalah keluhan fisik yang terjadi atau dipengaruhi oleh pikiran/emosi, bukan oleh alasan fisik yang jelas seperti luka/infeksi. Kondisi seperti ini bisa dialami oleh individu dengan berbagai usia dengan gejala seperti sakit kepala, sakit punggung, mudah lelah, nyeri otot, sesak napas, jantung berdebar kencang, atau telapak tangan berkeringat.

Jadi, bagi Anda yang ingin melakukan vaksinasi selama bulan puasa ini, tinggal mendatangi saja gerai-gerai vaksinasi terdekat.[]

Respons Positif Warga Desa Bah Aceh Tengah terhadap Vaksin Covid-19

Oleh Maghfudh*

Pada 28 Februari 2022, saya bersama relawan lainnya melakukan perjalanan ke sebuah desa di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh tengah. Perjalanan kami membutuhkan waktu sekitar 7-8 jam dari sekretariat Rumah Relawan Remaja di Banda Aceh. Perjalanan ini bukan tanpa alasan.

Sejak September 2021 hingga sekarang, saya dan lima relawan lainnya bergabung dalam sebuah komunitas bernama Rumah Relawan Remaja dan mengikuti sebuah program dari 3R yaitu (Pustaka Kampung Impian (PKIp). Saat ini kami sedang menjalankan tugas penempatan di Desa Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, sedangkan satu tim lagi di Desa Serempah. Kami bertugas di sana untuk jangka waktu satu bulan.

Berhubung saya sedang berada di desa, sembari berjalan dan menikmati indahnya pemandangan dan juga dinginnya udara, saya menelusuri lorong-lorong dan gang-gang rumah warga yang tersusun dan diadang oleh pemandangan pegunungan yang indah.

Sore 27 Maret 2022, setelah menjalankan kegiatan bersama adik-adik setempat, saya menyempatkan untuk keliling desa dan pandangan saya tiba-tiba mengarah pada sebuah rumah. Di beranda tampak duduk dua anak-anak dan juga dua bapak-bapak, serta ibu yang sedang asyik menyiapkan dagangannya. Saya pun berjalan menuju ke arah mereka. Mereka menyapa saya sembari mengajak mampir dan ngopi bersama. Maklum, di sana kaya akan kopi. Masyarakat sudah terbiasa jikalau ada orang baru selalu mereka suguhkan kopi. Begitulah keramahtamahan dan khasnya tanah Gayo.

Di sela-sela ngopi, salah seorang bapak bernama Sugianto sedang melanjutkan pembicaraan mengenai vaksinasi yang dilakukan di salah satu sekolah yang ada di desa tersebut. Mereka mengatakan, ternyata masih ada anak-anak yang tidak mau vaksinasi karena alasan takut jarum. Selain itu, menurut Sugianto, sebagian orang tua tidak setuju anaknya divaksinasi karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan setelah vaksinasi. Informasi-informasi semacam itu mereka dapatkan dari berbagai platform tanpa saringan.

Untuk akses masyarakat dalam melakukan vaksinasi sangat dipermudah. Berkat kerja sama reje (kepala desa) dan perangkat desa lainnya yang melakukan sosialisasi mengenai vaksin, membuat masyarakat antusias untuk vaksinasi yang dilakukan di kantor reje. Warga setempat sangat berterima kasih kepada kepala desa.

Sugianto saat ini sudah masuk usia 59 tahun, dia sudah melakukan vaksinasi pertama pada 8 Mei 2021 dan yang kedua pada 5 Juni 2021. Begitu pun dengan istrinya Suryani. Awalnya dia mengatakan, pada saat vaksinasi cuma di sekitar bekas suntikan yang agak terasa kebas.

“Tapi untuk lainnya, alhamdulillah tidak ada,” kata Sugianto.

Suryani juga demikian, setelah vaksinasi pertama tidak ada muncul gejala selain kebas di bagian suntikan dan bagian bahu. Namun, saat vaksinasi kedua ada sedikit kambuh asam lambung.

“Sebelumnya Ibu belum ngerasa penyakit lambung, eeh setelah vaksinasi asam lambung Ibu kumat. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit dan sudah mendingan alhamdulillah,” kata Suryani, 58 tahun, yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

Berdasarkan percakapan saya dengan Reje Mude Sedang, bahwa hampir 98% masyarakat dengan kriteria pemuda, remaja dan anak, ibu-ibu, dan juga lansia di Desa Bah sudah melakukan vaksinasi. Selebihnya untuk anak-anak dan lansia memang masih ada beberapa yang belum melakukan vaksinasi karena faktor usia dan penyakit bawaan (komorbid).

Salah satu lansia di Desa Bah, Siti Aisyah yang umurnya sekitar 70 tahun, mengaku bahwa vaksinasi Covid-19 cukup aman. Hingga saat ini nenek tersebut sudah melakukan vaksinasi dua kali. Ia sama sekali tidak merasa takut. Ia mengatakan, pemerintah harus menganjurkan semua orang baik muda atau tua untuk vaksinasi agar sehat dan bisa beraktivitas dengan nyaman di tengah pandemi Covid-19.

Untuk anak-anak sekolah juga ada dilakukan vaksinasi, tetapi kurangnya peran orang tua terhadap sosialisasi kepada anak-anaknya membuat tidak semua anak mau divakasinasi. Kekhawatiran para orang tua bermacam-macam, ada yang mengaku masih ragu dengan kandungan vaksin, ditambah faktor anak-anak tersebut yang takut jarum suntik. Seorang murid SD, Naima Rezeki, mengaku tidak mau divaksinasi karena takut jarum suntik.

Ketika saya bertanya kepada masyarakat secara acak, baik ibu-ibu, bapak-bapak, dan juga pemuda, kenapa mereka melakukan vaksinasi? Umumnya mereka menjawab demi keamanan dan kenyamanan saat bepergian sebab tidak semua kebutuhan tersedia di desa mereka. Sebagian yang lain menjawab, meski mereka berada di desa, tetapi tidak menutup kemungkinan orang luar mendatangi desa mereka dan bukan tidak mungkin membawa virus Covid-19.

“Dengan kita vaksinasi sistem kekebalan tubuh kita akan meningkat terhadap penjagaan melawan virus dan juga kalaupun kita terserang ataupun tertular gejala yang ditimbulkan agak sedikit ringan dibandingkan jikalau kita tidak melakukan vaksin,” ujar seorang warga Desa Bah.[]

Penulis merupakan relawan di 3R dan anggota Komunitas Jurnalis Warga Banda Aceh

Belajar dari Semangat Loshe Lisa Membumikan Vaksinasi di SMP Methodist

Oleh  Munawwar*

Yayasan Methodist merupakan salah satu lembaga pendidikan yang ada di Kota Banda Aceh. Yayasan ini berada di Jalan Pocut Baren Nomor 3 Gampong Mulia, Banda Aceh, dan menaungi empat jenjang pendidikan, yaitu TK, SD, SMP, dan SMA. Untuk tingkat SMP dipimpin oleh Sheilisa yang akrab dipanggil Loshe Lisa. Saya sendiri tercatat sebagai guru PPkN di SMP Methodist Banda Aceh.

Loshe Lisa sangat aktif dalam mengawasi pergerakan peserta didik. Tak jarang bagi peserta didik yang diantar oleh orang tuanya langsung bertemu dengan Loshe Lisa. Melalui sapaan hangat, “Selamat pagi, Nak,” seolah menjadi mantra yang menyemangati peserta disik untuk belajar.

Ketika Covid-19 melanda dunia dan sampai ke Aceh pada Maret 2020, yang diikuti dengan adanya kebijakan pembelajaran jarak jauh, Loshe Lisa menjadi orang yang paling sibuk. Saat saya mewawancarai Loshe Lisa pada awal Maret 2022, beliau bercerita bahwa kehadiran Covid-19 memang memberikan banyak dampak negatif, tetapi juga ada yang positif, “Yakni memaksa kita melakukan perubahan, seperti pola pembelajaran yang berubah, guru-guru juga diberikan pelatihan agar melek teknologi. Membiasakan penggunaan platform seperti Zoom, Google Meet, WhatsApp, Instagram, Google Classroom, dan YouTube,” katanya.

Belakangan ketika pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan vaksinasi, Loshe Lisa sangat memercayai pemerintah, bahkan ia termasuk orang yang melakukan vaksinasi di tahap-tahap awal. Ia percaya melalui vaksin dapat memberikan efek positif untuk kesehatan. Ketika program vaksinasi sudah menyasar anak-anak usia sekolah, ia menyosialisasikan vaksinasi kepada peserta didik dan mengarahkan langsung para orang tua murid melalui personal chatt agar anak-anaknya diberikan vaksin Covid-19. Ia juga mendorong agar semua guru SMP melakukan vaksinasi.

Loshe Lisa juga mengedukasi mereka dengan menceritakan pengalamannya sebelum dan sesudah vaksinasi. Seperti munculnya efek pegal atau perasaan mengantuk dan lapar. Efek ini menurutnya sangat lumrah, bahkan bayi yang diimunisasi pun juga mengalami efek seperti demam setelah disuntik.

“Melalui testimoni langsung dari orang yang mereka kenal, akan membuat mereka percaya dan yakin bahwa vaksin itu aman. Tentunya akan berbeda apabila yang menyampaikan orang yang tidak dikenali,” kata Loshe Lisa tentang strategi “membumikan” vaksin di SMP Methodist Banda Aceh.

Tak berhenti sampai di situ, ia juga membuat seminar tentang Covid-19 dan vaksinasi dengan menghadirkan dokter ke sekolah. Setelah seminar, para guru dan tenaga kependidikan mulai melakukan vaksinasi. Hasilnya, satu per satu guru dan peserta didik mulai minta divaksinasi karena mereka telah memiliki pemahaman bahwa vaksin sangat menolong dalam kondisi pandemi seperti sekarang. Semua guru di SMP Methodist saat ini sudah melakukan vaksinasi sampai tahap dua. Tujuannya agar semua bisa sehat dan bisa menjalankan kegiatan dengan baik.

“Saya juga mencari cara supaya bisa memperoleh vaksin pada jenjang SMP dengan mencari cara siapa yang bisa memfasilitasi. Kebetulan saya memiliki teman di Puskesman Kuta Alam, yang ingin vaksinasi saya antar ke lokasi vaksinasi. Tidak hanya kepada guru, saya juga mengantarkan peserta didik untuk melakukan vaksinasi bagi yang tidak bisa diantarkan oleh orang tuanya,” ujarnya penuh semangat.

Loshe Lisa memang tidak mengundang vaksinator ke sekolah karena jumlah peserta didik yang belum melakukan vaksinasi jumlahnya sedikit. Dalam hal vaksinasi Loshe Lisa memang sangat fokus dan ia mengurusnya sendiri. Tak heran jika ia hafal berapa jumlah peserta didik yang sudah mendapatkan vaksin. Ia menamsilkan vaksin itu seperti benteng bagi tubuh. Saat ini sebanyak 153 peserta didik jenjang SMP sudah melakukan vaksinasi. Hanya satu orang yang belum mendapatkan vaksin. Ternyata setelah beliau cari tahu, yang belum vaksinasi ini karena dilarang oleh orang tuanya.

“Orang tuanya sudah melakukan vaksin, tetapi mengalami gejala yang kurang enak dan trauma,” katanya menceritakan perihal satu murid yang belum vaksinasi.

Pelajar SMP Methodist Banda Aceh

Ia juga memberikan motivasi kepada peserta didik mengenai pentingnya vaksin dan bahaya Covid-19, sehingga mereka bisa mengedukasi orang tua dan keluarga di rumah dengan memberikan pemahaman seperti yang didapatkan di sekolah. Jangan sampai orang tua mereka termakan berita-berita hoaks tentang vaksin. Setiap pertemuan di kelas Loshe Lisa tak bosan-bosannya menyampaikan kepada peserta didik, “Ayo kalian ngomong dan menyensor informasi!”

Meski sekarang semua peserta didik dan guru sudah divaksinasi dan sekolah mulai tatap muka, tetapi protokol kesehatan tetap diberlakukan dengan ketat. Setiap orang yang masuk ke sekolah harus mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau dengan hand sanitizer.

Ketika akan masuk ke ruang belajar senantiasa dicek suhu tubuhnya dan dicatat di buku yang telah tersedia. Begitu juga saat pulang, suhu tubuh siswa kembali dicek.  Saat waktu istirahat, peserta didik tidak boleh ke mana-mana. Mereka harus makan di ruang kelas karena kantin tidak boleh dibuka untuk menghindari terjadinya kerumunan. Peserta didik diharuskan membawa bekal dari rumah atau diantar oleh orang tua saat waktu istirahat. Selain iu juga peserta tidak diperbolehkan meminjam alat tulis temannya. Apabila mereka diminta ke depan untuk menjawab pertanyaan di papan tulis, maka harus menggunakan spidol sendiri.

Jika ada peserta didik yang sakit seperti batuk atau pilek, mereka tidak diizinkan belajar secara tatap muka, tetapi melalui pembelajaran jarak jauh. Namun, jika mereka mengalami sakit di sekolah, maka diminta pulang setelah dijemput oleh orang tuanya. Begitu juga jika ada peserta didik yang pergi ke luar kota, maka ketika masuk sekolah diwajibkan melakukan tes antigen. Jika hasilnya negatif baru diizinkan mengikuti pelajaran sebagaimana biasanya.

Loshe Lisa juga sangat memperhatikan imbauan pemerintah tentang tata cara belajar di masa pandemi. Misalnya dengan memperhatikan jarak antarmeja yang harus terpaut 1,5 meter. Dalam satu ruangan hanya terisi oleh 18 peserta didik. Pada awal pembelajaran tatap muka jenjang SMP, pihak sekolah mengeluarkan surat dengan pemberitahuan ketentuan, pengantaran, penjemputan peserta didik, dan area parkir kendaraan. Orang tua tidak boleh lama-lama di area sekolah setelah mengantarkan peserta didik karena semakin lama akan menimbulkan kerumunan.    

“Vaksin itu hanya salah satu cara agar membuat imun tubuh lebih tinggi, tapi bukan berarti membuat kita tidak tertular. Setekah vaksinasi pun bisa tertular hanya saja gejalanya lebih ringan,” demikian Loshe Lisa selalu menjelaskan kepada orang-orang di sekitarnya. Menurutnya hal ini penting diberitahu agar orang-orang tetap menjaga prokes.

Ia selalu berprinsip, bahwa para orang tua telah memercayakan anak mereka kepada pihak sekolah sehingga perlu menjaga kepercayaan itu dengan tanggung jawab penuh. Peserta didik harus dijaga dengan baik dengan memberi instruksi yang jelas tentang wajib masker, menjaga jarak, tidak berkerumun, diantar dan dijemput pada waktunya. Semoga pandemi cepat berakhir.[]

Penulis adalah guru SMP Methodist Banda Aceh dan anggota Komunitas JW Banda Aceh. Mahasiswa PPs UIN Ar-Raniry

Vaksinasi Bikin Atlet PON Aceh Tak Waswas saat Latihan

Meski Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 yang berlangsung di Provinsi Papua sudah berlalu, tetapi euforianya masih melekat di hati masyarakat Indonesia. Atlet Aceh yang ambil bagian dalam event ini pun sukses menyumbangkan berbagai medali yang membanggakan daerah. Salah satunya Mega Lestari (27) di cabang olahraga panjat tebing.

Mega salah satu penyumbang medali perak boulder perorangan di Porwil Bengkulu 2019 yang menjadi tiketnya untuk bisa mengikuti PON XX 2021 di Papua. Walaupun tidak meraih medali, tidak memutuskan semangat Mega untuk lebih keras lagi berlatih mengikuti PON XXI Aceh- Sumut 2024 mendatang. Selain itu Mega juga sudah meraih tiga medali emas dan tiga medali perak pada Pekan Olahraga Aceh (PORA) Jantho 2018.

Mega lahir di Kuning II, Aceh Tenggara, 08 Maret 1995. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Banda Aceh. Mega mulai serius menekuni panjat tebing saat menjadi anggota Mapala STIK dari tahun 2013, dan memacu dirinya sendiri untuk menjadi atlet profesional.

Mega mengawali kariernya sebagai atlet dengan latihan keras, disiplin, jatuh bangun. Sikapnya yang tenang selalu jadi kunci keberhasilannya, hingga kiprahnya sebagai atlet berhijab di cabang olahraga ekstrem ini semakin diperhitungkan. Ia berharap prestasi yang sudah ditorehkan dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk mengharumkan nama Aceh di masa depan.

Seperti diketahui, PON XX berlangsung di tengah kondisi pandemi Covid-19. Untuk persiapan PON Papua 2021, Mega dan atlet lainnya melakukan latihan gabungan di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh. Namun, semenjak pandemi Covid-19 mulai masuk ke Aceh pada Maret 2020, banyak aktivitas yang dibatasi dan harus menjaga jarak.

Para atlet dan peminat panjat tebing pun enggan melakukan latihan gabungan karena sadar akan risiko tertular Covid- 19, padaha; latihan gabungan sangat diperlukan dalam latihan panjat tebing. Hal ini tentu saja sangat berdampak pada kualitas hasil latihan dan prestasi panjat tebing atlet Aceh.

Karena sadar akan risiko tertular Covid-19, Mega dan atlet panjat tebing lainnya pun melakukan vaksinasi dosis pertama dan kedua di Puskesmas Banda Raya sebagai upaya preventin menjaga imunitas tubuh. Setelah menerima dosis kedua vaksin Covid- 19, Mega merasa semakin aman dan menjadi lebih percaya diri menghabiskan waktunya untuk belatih bersama atlet lainnya.

“Walaupun kita bisa tertular virus, tapi setidaknya kita bisa mengurangi dampak terkena virus dan mengurangi dampak menulari virus kepada orang lain, dan itu demi kebaikan kita bersama,” kata Mega saat berbincang pada pertengahan Maret 2022.

Setelah vaksinasi, tidak ada kendala atau efek samping apa pun yang dirasakan Mega, baik setelah vaksin dosis pertama ataupun kedua. Pihak medis Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh juga menyosialisasikan serta mewajibkan para atletnya untuk melakukan vaksinasi selama Pelatihan Daerah (Platda) PON Papua 2021.

Selain Mega Lestari, ada juga atlet muda yang baru saja mengukir prestasi pada Prakualifikas Pekan Olahraga Aceh (Pra-PORA) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh pada 25 Oktober 2021 lalu. Sarah Salsa Bila (20) namanya. Ia merupakan atlet Panjat Tebing muda, dan meraih medali perak pertamanya pada Boulder Mix Pra-PORA FPTI 2021 mewakili FPTI Banda Aceh.

Sarah Salsa Bila

Sarah lahir di Simpang Empat, Nagan Raya, Aceh, 19 Desember 2001 dan sedang duduk di bangku kuliah Universitas Syiah Kuala (USK). Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Kelautan dan Perikanan USK ini memiliki hobi berkegiatan di alam bebas dan mulai serius menekuni panjat tebing saat menjadi anggota Mapala Leuser USK dari bulan Juli 2021 lalu.

Meskipun baru mulai menekuni olahraga ekstrem panjat tebing selama tiga bulan, Sarah langsung meraih prestasi pada kejuaraan panjat tebing pertamanya dan ini merupakan hasil dari kesungguhan dan kedisiplinannya selama latihan dan memacu dirinya untuk menjadi atlet profesional hingga saat ini. Tidak sampai di situ, saat ini Sarah sedang mempersiapkan diri untuk kejuaraan selanjutnya pada akhir tahun ini yaitu pada PORA Pidie 2022 mendatang. Ia berharap akan mengukir prestasi yang lebih gemilang dan membanggakan kedua orang tuanya serta bisa mengikuti PON XXI Aceh-Sumut 2024 yang akan datang seperti Mega Lestari.

Selain menjadi atlet panjat tebing, Sarah juga adalah seorang atlet pencak silat yang telah meraih banyak prestasi. Sarah memiliki banyak kegiatan, selain menjadi atlet juga menjadi mahasiswa yang aktif pada organisasi-organisasi kampus USK. Sebagai mahasiswa, Sarah memiliki kewajiban untuk melakukan vaksinasi dosis pertama untuk melanjutkan studinya. Meski memiliki kegiatan yang padat setiap harinya, tetapi tidak menghalangi Sarah untuk melakukan vaksinasi dosis pertama di Banda Aceh Convention Hall.

Sama seperti Mega, setelah melakukan vaksinasi dosis pertama, Sarah juga mengaku tidak ada efek samping yang yang dirasakannya. Akan tetapi, ia belum berani untuk melakukan vaksinasi dosis kedua dan masih mencari tahu lebih dalam apakah suntikan kedua itu menyebabkan masalah atau efek samping.[]

Ditulis oleh Irda Agustina, anggota Komunitas Jurnalis Warga Banda Aceh dan anggota Mapala Leuser USK

Turnamen Voli Jadi Ajang Sosialisasi Vaksinasi Covid-19

Banda Aceh—Pada 10—13 Maret 2022 telah berlangsung pertandingan vola voli antar-SMA di Kota Banda Aceh. Kejuaraan itu diselenggarakan oleh Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kota Banda Aceh, bekerja sama dengan Pemerintahan Desa Ie Masen Kaye Adang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

Pertandingan berlangsung di lapangan voli IKVC di Jalan Pang Raed Desa Ie Masen Kayee Adang, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.

Menurut panitia pelaksana, Bapak Saidi, ada sebelas regu voli SMA/MA di Banda Aceh yang berpartisipasi dalam kejuaraan ini. Bukan hanya itu, dia juga mengatakan bahwa ajang ini juga menjadi ajang sosialisasi vaksinasi Covid-19 bagi warga.

“Tema yang diusung adalah Ayo Olahraga, Imunitas Tubuh Semakin Kuat, Jauhi Narkoba, Chip/Higgs Domino, Judi Online, dan Sejenisnya,” kata Pak Saidi.

Menurut keterangan Pak Saidi, seluruh peserta, pelatih, dan official sudah divaksinasi. Panitia juga tidak berhenti menyuarakan agar penonton senantiasa menjaga jarak sebagai salah satu protokol kesehatan.

“Kami juga mengimbau bagi warga yang belum divaksinasi agar segera ikut vaksinasi,” katanya.

Pada Minggu, 13 Maret 2022, dimulai pukul 15.00 sore, berlangsung partai puncak, yakni partai semifinal dan final. Di semifinal, SMA 9 berhasil menekuk SMK 2, dan menahbiskan diri sebagai pemenang ke-3.   

Khusus partai final, berlangsung sangat sengit antara SMAKON (SMA Keberkatan Olahraga Negeri)/PPLP rival MAN 3 Rukoh. Pertandingan harus dimainkan 5 set dengan hasil akhir kemenangan bagi SMAKON/PPL. Keseruan permainan tersebut membuat penonton membeludak.

Di akhir acara diserahkan hadiah bagi para pemenang berupa piala, piagam, dan sejumlah uang. Juara 1 mendapatkan hadiah Rp4 juta, juara 2 Rp3 juta, dan juara 3 Rp2 juta.

Anggota DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, yang hadir dalam kegiatan itu mengatakan,  “Kejuaraan ini adalah motivasi untuk ikut berolahraga karena bisa meningkatkan imun untuk menolak penyakit di masa pandemi ini. Juga untuk membina prestasi agar menemukan atlet-atlet berbakat yang  nantinya bisa dibina, sehingga bisa mewakili dan mengharumkan daerah ke kancah nasional.”[]

Ditulis oleh Rahmat R, jurnalis warga Banda Aceh

Vaksinasi Pada Individu Rentan Penting untuk Meminimalisir Risiko

Banda Aceh — Selama ini banyak orang yang memutuskan sepihak untuk tidak melakukan vaksinasi Covid-19 karena menyadari dirinya memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Padahal, yang bisa menentukan seseorang dengan komorbid bisa divaksinasi atau tidak ialah dokter atau tenaga kesehatan setelah dilakukan screening kepada yang bersangkuatan. Justru orang-orang dengan penyakit penyerta ini sangat membutuhkan vaksinasi karena mereka masuk dalam kelompok masyarakat rentan Covid-19.

“Apa yang dimaksud dengan masyarakat rentan?” kata Health Officer Unicef Perwakilan Aceh, dr. Dita Ramadonna, dalam diskusi publik bertajuk Memperluas Cakupan Vaksinasi Covid-19 kepada kelompok rentan yang diselenggarakan oleh KJW Banda Aceh di Aula Klinik PKBI Aceh di Banda Aceh, Selasa, 8 Maret 2022.

“Kita perlu memahami dulu bahwa ketika bicara Covid-19 maka yang dimaksud dengan masyarakat rentan berarti mereka yang berisiko tertular dan apabila terkena Covid-19 dampaknya bisa lebih parah,” kata dr Dita.

Terkait indikator masyarakat rentan, ia memaparkan ada beberapa kriteria. Selain individu dengan komorbid juga termasuk anak-anak, orang tua/lansia, ibu hamil, disabilitas, orang dengan autoimun, termasuk juga orang dengan obesitas yang body mass index-nya di atas 27kg/m2. Masyarakat dalam kelompok rentan ini juga perlu mendapatkan prioritas untuk vaksinasi untuk mencegah terjadinya risiko kematian, mencegah sakit berat, mencegah sakit ringan, dan mencegah transmisi atau penularan.

Namun, bagi kelompok rentan ini memang memerlukan prosedur khusus sebelum divaksinasi. Misalnya, bagi mereka yang memiliki komorbid hipertensi atau asma, maka mereka baru boleh disuntik vaksin setelah tekanan darahnya atau asmanya stabil. Begitu juga pada orang yang memiliki riwayat diabetes, maka suntikan vaksin dilakukan apabila tidak sedang dalam kondisi gula darah yang tidak terkontrol.

Bukan hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa ada kalanya vaksin tidak cukup hanya sekali, tetapi memerlukan suntikan kedua atau ketiga yang disebut dengan booster. Vaksin pertama disebut dengan suntikan primer dan antibodi yang terbentuk biasanya masih sedikit sehingga memerlukan booster untuk membentuk antibodi sekunder yang lebih kuat.

“Untuk booster atau suntikan kedua, vaksin yang diberikan boleh sama, boleh juga berbeda, misalnya suntikan pertama dan kedua dengan Sinovac, saat booster bisa menggunakan Moderna,” katanya.

Secara komunal vaksinasi juga dibutuhkan untuk membentuk kekebalan kelompok yang sangat berguna untuk melindungi individu yang tidak bisa divaksin, memutus mata rantai, dan akhirnya mengubah epidemiologi penyakit atau mengeliminasi/eradikasi. Dengan vaksin, kita sama-sama menjaga lingkungan, maka semakin banyak orang yang terlindungi,” katanya.

Diskusi publik ini juga menghadirkan narasumber dari unsur masyarakat yaitu Saprina Siregar. Dalam kesempatan yang sama perempuan yang akrab disapa Bunda Ina ini memaparkan berbagai informasi di masyarakat terkait penerimaan vaksin. Salah satunya kata dia, banyak masyarakat yang membutuhkan sertifikat vaksin untuk keperluan administrasi, tetapi sayangnya mereka sendiri malah menolak vaksin.

Di sisi lain kata dia berbagai hoaks yang berkembang telah membuat masyarakat bingung mengenai program vaksin ini. Ia berharap tenaga kesehatan selaku pihak yang berada di garda utama dalam memerangi Covid-19 bisa terus mengedukasi masyarakat agar semakin sadar bahwa vaksin sangat diperlukan agar pandemi segera berakhir.