Beranda blog Halaman 6

Khalida Zia: Rekam Jejak Sukses Kepemimpinan Perempuan di The Leader

Saat itu, aku enggak berniat menjadi direktur. Tapi aku berniat memahami kondisi dan persepsi setiap anggota tim.

Khalida Zia menguak kembali memori silamnya saat ditanyakan sejarahnya terpilih untuk pertama kali sebagai Direktur Eksekutif The Leader, sebuah organisasi kepemudaan berbasis di Banda Aceh, Indonesia. Laksana plot twists cerita jenaka di layar kaca, Zia berkisah tentang keunikan prosesi pemilihannya sebagai perempuan pemimpin empat tahun silam.

“Aku sempat kaget. Sebab awalnya aku datang kan bukan sebagai calon. Tiba-tiba diajukan tim untuk masuk daftar kandidat dan menang voting,” tutur Zia kocak dibarengi tawa khasnya.

Sarjana Sosiologi Universitas Syiah Kuala ini merasa bahwa sudah sejak lama dia memiliki kepekaan terhadap orang-orang di lingkungan sosialnya, tetapi saat itu dia belum merasa perlu untuk mengambil peran. Namun, semenjak bergabung di The Leader, Zia berkesempatan untuk bertemu dengan beragam jenis manusia yang unik. Dia menghabiskan waktu duduk dan mendengarkan obrolan baru yang tidak sepenuhnya dia mengerti, tetapi berusaha dia pahami. Keluar dari zona nyaman anak rumahan untuk lebih sering ‘ngopi’ membahas beragam topik yang mengasah kepekaan hati.

Hingga akhirnya, perempuan Aceh kelahiran Pante Gajah, Bireuen, ini mengambil langkah konkret untuk secara langsung bertukar sapa terkait kondisi dan persepsi setiap anggota The Leader. Perlahan tapi pasti, Zia melakukan janji temu untuk ngobrol dari hati ke hati dengan para anggota tim.

“Aku cuma tanya,
‘Apa yang kamu rasakan sekarang terhadap organisasi kita?’
Dari situ obrolannya menjadi panjang dan mendalam,” papar Zia dalam usahanya memahami situasi dan dinamika The Leader di awal kepemimpinannya.

Dia menilai pertemuan secara personal memberikan setiap orang kesempatan untuk menjadi asli dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka dibanding pertemuan secara berkelompok.

Dia itu effort! Melakukan personal approach sama semua anggota. Secara internal sekarang kita jadinya bagus banget,

jelas Ratu, salah seorang anggota The Leader Generasi 4.

Ratu menimpali bahwa setiap direktur The Leader punya kekuatan dan keunikan masing-masing, termasuk di masa kepemimpinan Khalida Zia. Menurutnya, leadership ala Zia terbukti berhasil merekatkan dan mengajak berbagai individu di The Leader untuk saling bekerja sama dan merasa nyaman satu sama lain. Pencapaian tersebut, menurutnya, patut diapresiasi.

Komentar serupa juga datang dari Rima, anggota The Leader Generasi 3. Dia menilai Zia memiliki kemampuan untuk merangkul setiap anggota dengan pendekatan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan pribadi anggota masing-masing. Rima merasa kehadiran Zia sebagai pemimpin berhasil menghadirkan kembali perasaan nyaman yang dulu sempat pudar.

“Salah satu hal yang paling saya kagumi dari kepemimpinan Zia adalah rasa percaya yang dia tanamkan kepada timnya dalam menjalankan tugas-tugas. Dia percaya pada setiap kemampuan individu dengan tetap memberikan arahan dan pengawasan yang dirasa perlu,” ungkap Rima.

Pemilihan Khaliza Zia sebagai Direktur Eksekutif The Leader pada tahun 2020 yang terkesan insidental itu pada dasarnya punya akar penyebab yang cukup kuat. Keinginannya untuk memahami keunikan dan potensi setiap individu di dalam organisasi dengan cara mendatangi dan berbincang dari hati ke hati tanpa disadari telah membangun ikatan kepercayaan (trust) setiap anggota terhadap Zia.

“Aku adalah orang yang senang belajar dengan tekun. Ketika diberi kesempatan melakukan hal baik, aku akan dengan senang hati mencobanya,” jelas Zia atas tanya mengapa tak menolak kesempatan kepemimpinan yang cukup mendadak tersebut.

Perempuan yang kerap terlibat sebagai peneliti lapangan bidang ilmu sosial dan budaya ini mengaku kesempatan berharga tersebut digunakannya untuk belajar lebih banyak hal tentang leadership; dari memahami masalah organisasi, merancang alur kepemimpinan, mengumpulkan tawaran solusi, bahkan membentuk tim untuk berbagi peran.

Aku merasa dengan melihat lebih dalam, kita jadi tahu potensi sebenarnya dari setiap orang,

ungkap Zia.

Menurutnya, kebanyakan orang cenderung bekerja hanya dengan orang-orang yang membuat mereka merasa nyaman. Namun, Zia melakukan hal sebaliknya. Dia cenderung lebih suka membuat orang-orang tersebut merasa nyaman bekerja sama dengannya walau pun di awal mungkin tidak terlalu cocok.

“Ketika aku merasa dia bisa tetapi orang-orang tidak percaya, aku semakin tertantang untuk membuktikan. Saat tim terbentuk, semua belajar kembali dari nol.”

Zia mengaku bahwa di awal-awal kepemimpinannya, dia tidak berusaha membawa The Leader ke arah tertentu. Dia lebih memilih mengambil waktu untuk memahami alur dan siklus kepemimpinan berdasarkan keinginan para anggotanya. Ambisi pribadinya sebagai pemimpin dikesampingkan. Zia justru berfokus untuk menghadirkan kondisi senyaman mungkin untuk para anggota tim bertumbuh.

Aku justru banyak mendengarkan dan membuat organisasi sesuai keinginan orang-orang di dalamnya,

ungkap Zia.

Zia menjelaskan tentang ketidakpunyaannya akan peta leadership yang sangat rapi kala itu. Dia lebih memilih menggunakan perasaannya untuk meyakinkan orang-orang bahwa apapun yang mereka lakukan merupakan kepemilikan bersama. Dia memilih untuk lebih banyak diam dan mendengarkan keinginan anggota timnya. Memastikan agar setiap anggota menyadari bahwa mereka setara.

Jadi mereka bisa secara aman dan nyaman berbicara, bertindak, dan mengekpresikan diri sejati mereka,

imbuh Zia.

Bak gayung bersambut, tampaknya niatan sang penerima penghargaan Best Impactful Creation pada Peace Innovation Academy 2022 ini pun diamini oleh para anggota tim The Leader. Beragam komentar positif terkait kepemimpinan Zia yang dinilai berhasil menghadirkan ruang aman dan nyaman bagi anggotanya pun bermunculan. Salah satunya dari sang bendahara, Zikrullah alias Mr. Zik.

Zia berhasil menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan dan bebas tekanan. Dia mampu memimpin dengan tenang dan penuh perhatian,

ungkap Mr. Zik, anggota The Leader Generasi 4.

Sang Treasurer The Leader yang saat tulisan ini diterbitkan sedang menempuh pendidikannya di Amerika Serikat menilai kepemimpinan Zia mampu menghadirkan rasa aman dan ketentraman. Di bawah arahan Zia, Zik merasa menjalankan tugas tanpa paksaan dan tetap penuh semangat.

Pengalaman serupa ternyata juga dirasakan oleh sang ahli desain digital yang merupakan anggota The Leader Generasi 4, Shaddiq. Dia secara terbuka mengakui bahwa pada awal bergabung di organisasi tersebut sempat mengalami kerenggangan (gap) pemahaman yang cukup besar—dari gaya berkomunikasi, topik pembicaraan, hingga candaan di antara para anggota—yang menurutnya membingungkan. Shaddiq sendiri mengalami momentum di mana dia merasa tidak nyambung dan kesulitan beradaptasi saat awal-awal bergabung di The Leader.

“Butuh waktu nyaris 2 tahun untuk aku beradaptasi. Sebelumnya, aku merasa tak ada yang benar-benar mau tahu tentang aku. Aku bahkan sempat merasa kehadiranku hanya dibutuhkan sebagai tools. Namun hal itu berubah ketika hadir sesosok kakak gila yang bernama Zia,” ungkap Shaddiq. “Dia satu-satunya orang yang saat itu mencoba mencari tahu tentangku, mengapa aku di sini dan untuk apa aku di sini.”

Shaddiq cerita bahwa Zia adalah sosok pertama yang membuat kehadiran dirinya terasa berharga di organisasi kepemudaan tersebut. Sebagai pemimpin, Zia dianggap berhasil merangkul dan membentuk kepercayaandirinya juga kebanggaannya sebagai bagian dari The Leader.

Jalan perempuan bukanlah jalan tol, demikian narasi yang kerap diutarakan oleh para aktivis perempuan di Aceh. Zia, selaku bagian dari Aktivis Perempuan Aceh, tentu paham betul berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi seorang perempuan pemimpin dari provinsi terbarat Indonesia.

Selaku Direktur Eksekutif The Leader periode 2020-2024, Zia tentu menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan faktor pencapaian dan juga risiko. Keluasan hatinya sebagai pemimpin yang seutuhnya percaya akan kemampuan para anggotanya dalam berbuat tentu juga disertai risiko yang kelak akan dia tanggung. Namun menariknya, selaku perempuan pemimpin, Zia justru menjalankan tampuk kepemimpinan dengan realistis. Dia mampu menghadirkan keseimbangan perasaan dan logika secara bersamaan. Sehingga gaya kepemimpinan Zia jauh dari kesan baper (bawa perasaan) dan micromanage (pengawasan dan pengarahan yang berlebihan).

Sebab aku semudah itu bahagia dengan hal-hal sederhana. Saat melihat tim berkembang, aku sudah merasa senang. Aku percaya setiap manusia itu unik dan aku selalu penasaran dengan potensi yang mereka miliki,

jawab Zia saat ditanyai mengapa mudah baginya percaya pada tim.

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Kepemimpinan perempuan ala Khalida Zia tidak hanya menghadirkan kesempatan setara bagi seluruh anggota untuk berkembang dengan sukses, tetapi juga rasa aman bagi mereka untuk menikmati kegagalan dan belajar. Hal tersebut merupakan pendekatan kepemimpinan yang realistis sekaligus empati.

Empati, itulah kata yang sangat cocok untuk mendeskripsikan seorang Zia

sebut Mardhatillah, anggota The Leader Generasi 4.

Mardha mengaku belajar banyak hal terkait empati selama kepemimpinan Zia. Menurut Mardha, empati dari seorang Zia dapat dilihat dengan jelas melalui obrolan santai bersamanya, caranya memperlakukan orang-orang di sekitarnya secara konsisten, hingga postingan-postingan di media sosialnya yang selalu menghadirkan sudut pandang unik yang dapat diambil sebagai pembelajaran.  

Komentar serupa juga diutarakan Kekem, anggota The Leader Generasi 4. Menurutnya, Zia adalah sosok pemimpin dan juga teman yang mampu menyeimbangkan antara logika dan perasaannya. Sehingga, empati yang dihadirkan mampu menvalidasi emosi dan juga masuk akal.

Zia itu berpengaruh bukan sekadar sebagai pemimpin The Leader tetapi juga secara personal di hidup kami,

ungkapnya Kekem yang diamini para anggota lain.

Saat Kekem sakit parah tempo hari, satu-satunya orang yang terlintas di pikirannya untuk bercerita adalah Zia. Menurut Kekem, Zia adalah tipe orang yang tahu kapan harus pakai logika dan kapan harus pakai perasaan. Tentu penting baginya agar perasaan sedih dan terlukanya divalidasi. Akan tetapi dia juga perlu dikuatkan dengan nasihat-nasihat masuk akal. Kedua hal itu diperolehnya dari sosok Zia.

Dalam merekam jejak berserak kepemimpinan perempuan seorang Khalida Zia di The Leader selama nyaris 50 bulan ke belakang, tentu selalu ada hal yang perlu dikritisi untuk perbaikan ke depan maupun hal yang wajib diselebrasi sebagai kenangan baik yang dapat dijadikan acuan di masa yang akan datang. Untuk itu, beragam pendapat dari anggota tim pun dihimpun.

Branding saat ini menurut aku downgrade sih. Tapi dalam praktik lapangannya justru branding The Leader itu berhasil,

papar Ratu.

Sang ahli bidang Project Management The Leader memberikan pernyataan yang awalnya terkesan ambigu. Namun kemudian Ratu memberikan pemaparan lanjutan. Menurutnya, jika ditarik sejarah ke 12 tahun silam sejak The Leader didirikan (27/12/2012), benar bahwa terjadi penurunan kepopuleran organisasi ini di kalangan orang muda.

Namun menurutnya, kehadiran The Leader sebagai ‘pemain tunggal’ Organisasi Kepemudaan Non-Government (NGO) sejak saat itu justru telah terbukti menginspirasi banyak pihak untuk menghadirkan organisasi kepemudaan serupa (bahkan yang disponsori raksasa keuangan) yang lahir dan berkembang di Provinsi Aceh sekarang ini.

“Aku melihat secara branding pamornya tidak seperti dulu. Tapi secara internal, Ratu menganggap kita itu upgrade. Karena dulu, Ratu juga sempat ngerasain apa yang Shaddiq rasain. Cuma Me being Me adalah kunci.” Papar Ratu yang menyatakan sadar akan dinamika yang terjadi tetapi tidak merasa harus menjelaskan hal tersebut secara blak-blakan ke semua orang.

Terkait kondisi internal tim The Leader yang mengalami peningkatan, Ratu menilai Zia berhasil meleburkan suasana yang setara di antara anggota tim. Sehingga celah kekikukan antargenerasi menjadi kecil. Jadinya antara satu anggota dengan anggota lainnya dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dengan nyaman.

Aku merasa justru bagus. Seharusnya kita memang seperti ini, merasa setara. Saat orang-orang bisa mengekpresikan diri mereka sepenuhnya, konsep Horizontal Leadership benar-benar teraplikasikan, gitu.

Kemudian, saran lainnya muncul dari Mardha. Dia menilai ada sistem organisasi yang seharusnya dibenahi, bahkan jauh sebelum kepemimpinan Zia. Namun, menurutnya, hal itu belum dihadirkan hingga kini.

Ada kalanya mencuat kebingungan akan istilah “Standar The Leader” dalam membuat program, terutama jika mengacu pengalaman generasi sebelumnya. Namun belum ada guideline spesifik terkait hal ini,

papar Mardha yang pernah mengambil peran sebagai pimpinan program.

Mardha menilai ada kalanya Standar Operational Program (SOP) menjadi penting untuk dimiliki sebuah organisasi. Tujuannya agar keberhasilan ataupun kegagalan sebuah program yang dijalankan terukur secara ideal. Tanpa SOP, menurutnya, akan muncul multitafsir standar kesuksesan program. Mungkin sebagian tim merasa sudah memberikan yang terbaik, akan tetapi sebagian tim lainnya merasa program belum sesuai ekspektasi.

Menanggapi saran terkait standar, Zia yang merupakan anggota The Leader Generasi 2, mengakui bahwa pernah mendengarkan istilah tersebut. Namun sayangnya, secara pribadi dia tidak memahami makna maupun acuannya. Bagi Zia, selama kepemimpinannya, dia memiliki definisi tersendiri terhadap program yang dianggapnya sukses dan sesuai standar.

Sebuah program dianggap sukses ketika menciptakan solusi bagi masalah di sekitarnya. Program yang berhasil itu dipikirkan, dirancang, dan digerakkan bersama-sama, bukan hanya ide atau instruksi dari satu atau dua orang saja. Program yang sukses itu menciptakan kebermanfaatan bagi orang lain dan juga rasa aman dan puas bagi tim The Leader sendiri saat menjalankannya,

papar sang Direktur Eksekutif The Leader periode 2020-2024 itu.
Training Panglima Laot Bersama The Leader

Zia mengaku merasa senang ketika The Leader mudah dijangkau banyak pihak dan tidak harus tampil ekslusif. Sehingga dia dan timnya mencoba melakukan berbagai pendekatan untuk menjalin hubungan akrab dengan masyarakat akar rumput, lintas komunitas dan organisasi, bahkan pemerintah setempat.

“Makanya muncul program-program yang sengaja diadakan di daerah-daerah seperti Program DreamMaker di Pulau Aceh, Pulau Simeule, dan Aceh Timur. Pelatihan Panglima Laot di Simeulue. Pelatihan Aparatur Gampong di Sabang. Juga Pelatihan Pegawai di BPS Bireuen,” papar Zia.

Selain program bersifat kedaerahan, Zia menambahkan, terdapat pula program-program keren berstandar nasional dan bergaya urban lainnya yang berhasil digelar oleh tim The Leader di masa kepemimpinannya. Seperti Program Aku Berani Cerita (ABC), Aceh Art Peace Camp 1 dan 2, Tahun Toleransi dan Program Toleransi di Sekolah bareng Ayu Kartika Dewi, Dear Young Leader bersama Narasi TV dan AWE(Academy for Women Entrepreneurs).

AWE(Academy for Women Entrepreneurs)

Di samping itu, selama kepemimpinannya sebagai Direktur Eksekutif The Leader, Zia cukup banyak menghadiri undangan dari pemerintah dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) setempat. Zia secara konsisten turut menghadirkan Juru Bahasa Isyarat (JBI) dalam program-program The Leader agar lebih inklusif dan terjangkau oleh banyak pihak. Bahkan, The Leader sudah menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) bersama DP3A (Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Aceh terkait dukungan penyediaan ruang aman dan pencegahan kekerasan seksual dalam lingkungan organisasi.

Menariknya, dalam keterwujudan program-program sebuah organisasi, efek echo-chamber semacam self claim (klaim sepihak) atau overclaim (klaim berlebihan) terhadap sebuah keberhasilan tentu perlu dihindari. Echo Chamber atau Efek Ruang Gema dapat dimaknai sebagai sikap seseorang yang hanya menemukan informasi atau pendapat yang sesuai dengan perspektif dirinya sendiri tanpa mencari tahu sisi informasi lain di luar lingkungannya.

Untuk mencegah kondisi echo-chamber tersebut, maka penting untuk menghadirkan keragaman sudut pandang dari lintas generasi. Semisal perspektif dari Kenara, anggota The Leader Generasi 2, terkait sepak terjang kepemimpinan Khalida Zia.

Menurutnya, butuh waktu bagi Zia untuk beradaptasi dan memahami keberagaman anggota tim yang berada di The Leader. Namun, seiring waktu berjalan, dia melihat bahwa Zia terbukti mampu memimpin The Leader dengan menampilkan keunikan warnanya tersendiri.

“Aku kerap memantau perkembangan The Leader dari media sosial dan grup WhatsApp. Dari Zia, aku jadi memahami tagline, “Everyone Can Be A Leader” dengan cara tersendiri. Zia berhasil menunjukan bagaimana dia memimpin dan mengkoneksikan personal interest anggotanya dengan visi misi organisasi ini,” kata Kenara.

Apresiasi atas kinerja Zia dan timnya tidak hanya datang dari lingkar anggota The Leader saja. Baru-baru ini, seorang teman Seniman Aceh mengutarakan rasa sukanya atas program-program The Leader yang dirasa mampu menjangkau pihak-pihak yang semakin beragam.

Aku suka yang The Leader lakukan sekarang, program-programnya menjangkau seni dan masyarakat akar rumput. Mimpi-mimpi yang dibicarakan terbukti nyata dalam kepedulian terhadap orang-orang sekitar,

ucap sang senimal mural tersebut.

Layaknya peribahasa, “Ada Ubi, Ada Talas. Ada Budi, Ada Balas.” Rima pun ikut menitipkan sebuah pesan mendalam. Baginya, kehadiran Zia sebagai Direktur Eksekutif The Leader telah menghadirkan pengalaman yang luar biasa.

Empat tahun terasa sangat singkat. Saya berharap dapat terus bekerja dan belajar bersama, sekaligus melihat Zia melanjutkan perannya sebagai Direktur. Generasi baru juga masih membutuhkan sosok seperti Zia sebagai pemimpin yang mampu merangkul timnya dan memahami keberagaman yang ada.

Dia menilai The Leader telah berhasil menghadirkan ruang aman dan nyaman untuk banyak orang bertumbuh, termasuk para anggotanya. Tentu di balik pasang-surut kepemimpinan Zia, ada kritik dan apresiasi yang datang silih berganti. Akan tetapi, tentu kita yakin bahwa seperti Para Direktur The Leader sebelumnya, Khalida Zia telah memberikan yang terbaik selama masa jabatannya memimpin.

Jika ada kekurangan, itu mungkin hanya dari perspektif orang lain, tetapi dari sudut pandang saya, Zia telah melakukan yang terbaik.

Demikian penutup haba dari Mr. Zik.

[FOTO]: Keseruan Mengikuti Green Leader 10 Eco Camp

0

Tea ceremoni menyambut kedatangan peserta Green Leader 10 di Kompleks Eco Camp yang berlokasi di Jalan Pakar Barat, No. 3, Dago, Kecamatan Coblong, Kabupaten Bandung,  Jawa Barat.

Suasana hening saat makan bersama yang diawali dengan doa dan membacakan tujuh renungan sebelum makan membuat kita lebih menyadari manfaat dan fungsi dari setiap suapan yang masuk ke mulut kita.

Peserta mendapat kesempatan mengunjungi Taman Hutan Raya Djuanda–Kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman dengan jenis pinus yang terletak di Sub-Daerah Aliran Sungai Cikapundung dan DAS Citarum yang membentang mulai dari Curug Dago, Dago Pakar, sampai Curug Maribaya yang merupakan bagian dari kelompok hutan Gunung Pulosari.

Kompleks Eco Camp yang berlokasi di Jalan Pakar Barat, No. 3, Dago, Kecamatan Coblong, Kabupaten Bandung,  Jawa Barat, tempat kegiatan berlangsung sangat asri.

Bermain angklung bersama anak-anak korban gempa Kertasari, Bandung, Jawa Barat.

Baca keseruah pengalaman Yelli Sustarina mengikuti kegiatan tersebut di sini: Semangat Keberagaman Menjaga Alam: Catatan dari Green Leader 10 Eco Camp

Editor: Ihan Nurdin

Semangat Keberagaman Menjaga Alam: Catatan dari Green Leader 10 Eco Camp

“Yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”

–Ali bin Abi Thalib–

Kalimat itu kutemukan di buku Filosofi Teras yang ditulis oleh Henry Manampiring. Maknanya begitu mendalam sehingga memberiku keyakinan untuk berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan Green Leader 10 di Eco Camp. Sebelumnya ada keraguan di hati karena partisipannya dari berbagai lintas agama, daerah, usia, dan lembaga atau komunitas.

Terlebih, kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Lingkungan Hidup ini pemiliknya beragama Katholik. Ketika aku dimasukkan ke dalam grup Green Leader 10, aku melihat banyak para suster yang juga turut serta. Seketika terlintas pikiran yang “bukan-bukan”, apa nantinya keimananku terganggu ketika mengikuti kegiatan ini?

Sebagai masyarakat Aceh yang melekat dengan fanatisme agama, aku mengakui bahwa persoalan agama menjadi prinsipal. Agama tidak hanya menjadi pedoman spiritual, tetapi juga identitas budaya yang sudah tertanam di dalam jiwa. Namun, bagaimana ketika aku berinteraksi dengan orang yang berbeda agama? 

Aku jadi semakin penasaran, apa sebenarnya tujuan Eco Camp membuat kegiatan seperti ini? Dan apa misi mereka? Aku harus menemukan jawabannya agar tidak menerka-nerka dan berprasangka. Jadi, berangkatlah aku dari Aceh menuju Jakarta pada tanggal 19 Oktober 2024. Selanjutnya dari Jakarta ke Bandung pada tanggal 20 Oktober 2024. Selama perjalanan itu, hatiku terus gundah gulana mempertanyakan apakah aku bisa hidup berdampingan dengan mereka yang berbeda agama selama 11 hari?

Aku Sudah Sampai; Aku di Rumah

Setibanya aku di Kompleks Eco Camp yang berlokasi di Jalan Pakar Barat, No. 3, Dago, Kecamatan Coblong, Kabupaten Bandung,  Jawa Barat, aku langsung disambut dengan senyum semringah para anak muda berompi. Kutaksir usia mereka sekitar 20-an tahun, dua di antaranya menyodorkan beberapa lembar kertas kapadaku, sebagai persyaratan untuk registrasi.

Peserta lainnya semakin banyak berdatangan. Aku mengulurkan tangan untuk berkenalan. Rupanya mereka dari berbagai daerah. Ada yang dari Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Surabaya, Manado, hingga Papua. Namun, aku belum menemukan satu orang pun peserta yang berhijab sepertiku. Untungnya, mereka ramah-ramah. Kami pun saling berinteraksi, menanyakan asal daerah dan hal sederhana lainnya.

Sembari menunggu, aku melihat sebuah tulisan yang ditempelkan di tembok Eco Camp menggunakan flyer besar sehingga dari jarak 10 meter terlihat jelas tulisannya.

“Aku Sudah Sampai; Aku di Rumah.” Lama kupandangi kalimat itu, sambil melihat sekelilingnya. Di tempat ini terdapat berbagai pohon menjulang tinggi, beraneka macam tanaman tertata rapi, beragam dedaunan rindang yang membuat tempat ini begitu hijau dan teduh. Terlebih, riak aliran sungai membisik di telinga, seolah aku begitu familier dengan tempat ini.

Seketika ingatanku terlempar ke masa 25 tahun yang lalu, ketika usiaku baru beranjak tujuh tahun. Suasana seperti ini mirip seperti suasana di rumah nenek yang ada di Aceh Selatan. Di rumahnya terdapat pepohonan rimbun, bunga bermekaran, tanaman terhampar, dan dedaunan yang menghijau. Keberadaan telaga dan sungai kecil yang begitu jernih di depan rumah nenek menambah eksotis tempat itu.

Berbagai jenis tanaman yang ada di Eco Camp Bandung, pernah kulihat di rumah nenek, kecuali pala dan cengkih yang tidak kutemukan di sini. Sayangnya, setelah 12 tahun kepergian nenek, tanamannya pun ikut menghilang karena tidak dijaga oleh generasi sesudahnya. Bahkan telaga yang mengeluarkan sumber mata air yang begitu jernih telah ditimbun. Pepohonan seperti jambu, durian, palem, kelapa, dan kopi juga ditebang, sedangkan tanaman seperti berbagai macam jenis keladi menjadi mati karena tidak diurus lagi oleh empunya.

Tujuh Kesadaran Baru Hidup Ekologis

Selama sebelas hari, kami belajar tentang ekologi di Eco Camp. Kami mempelajari tujuh kesadaran baru ekologis. Kemudian yang diimplementasikan selama kegiatan Eco Camp. Kesadaran pertama, yaitu berkualitas. Seperti visinya Eco Camp menjadi manusia berkualitas yang merawat bumi dan berguru pada bumi. Maka setiap pagi sebelum memulai kegiatan para peserta melakukan earth care.

Para peserta dibagi menjadi delapan kelompok, masing-masingn terdiri atas 3—5 orang. Tugas earth care adalah memilah sampah, menyiapkan makanan di dapur, berkebun, menyapu halaman, membersihkan ruang makan, dan membersihkan aula sebagai tempat kegiatan. Setiap kelompok melakukan tugas earth care selama 15 menit per harinya. Dan setiap hari tugasnya berbeda-beda sesuai jadwal yang sudah ditentukan.

Selama aku mengikuti kegiatan atau pelatihan, baru kali ini kutemukan pelatihan yang pesertanya diminta melakukan pekerjaan rumah seperti itu. Bahkan sehabis makan harus mencuci piring. Bayangkan, aku jauh-jauh dari Aceh ke sana “hanya” untuk melakukan pekerjaan rumah yang setiap hari kulakukan? Terkadang kulakukan dengan hati dongkol karena kecapaian atau bosan melakukan tugas berulang.

Rutinitas ini memberikan makna lain. Ternyata, untuk menjadi manusia berkualitas kita harus hidup sebagai manusia yang mandiri. Dimulai dengan melakukan hal-hal kecil seperti membereskan rumah. Bayangkan bila setiap anggota keluarga melakukan earth care secara kompak, pasti setiap rumah bersih, tidak ada lagi sampah yang berantakan, ruangan yang acak-acakan, atau halaman yang tak terurus. Sebab semuanya mempunyai kesadaran ekologinya sendiri.

Kesadaran yang kedua ialah sederhana. Ini lebih ke pola pikir dan pola hidup. Bagaimana kita menyederhanakan hidup ini sehingga merasa cukup dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Sebab, bila setiap manusia menurutkan keinginannya maka bumi ini tidak cukup untuk memenuhinya.

Menurut National Footprint and Biocapacity Accounts (2022), jika semua orang hidup seperti orang Amerika, maka membutuhkan 5,1 Bumi untuk bisa memenuhi keinginannya. Dan untuk standar hidup orang Indonesia, membutuhkan 1,5 Bumi. Padahal Bumi kita hanya satu. Bila keinginan demi keinginan terus dilanjutkan, maka sumber daya yang disediakan alam habis untuk memenuhi keinginan manusia. Bisa jadi 20—50 tahun ke depan generasi kita tidak bisa menikmati kehidupan seperti kita saat ini.

Untuk melatih hidup sederhana, para peserta yang jumlahnya 40 orang mengambil makanan secukupnya setiap kali waktu makan. Sebelumnya akan ada yang memimpin doa dan membacakan tujuh renungan sebelum makan. Ketika mengambil makanan sampai duduk di meja makan, semua dalam keadaan hening. Sampai semua peserta mendapatkan makanan, barulah dibacakan doa yang diikuti dengan renungan.

“Marilah makan berkeadilan. Ambil secukupnya dan habiskan apa yang diambil. Membuang makanan adalah mencuri dari orang miskin. Ingat, masih banyak orang kelaparan. Hindari sikap serakah dan budaya membuang. Belajarlah hidup sederhana dan secukupnya.” Itulah penggalan bunyi poin kedua dari tujuh poin renungan sebelum makan.

Selama sebelas hari aku mengikuti pelatihan ini, aku selalu menghabiskan makananku. Begitu juga teman-teman yang lain. Aku jadi teringat saat dulu mengikuti pelatihan di hotel. Saking banyaknya makanan yang tersedia, aku mengambil makanan sesukaku, akhirnya malah bersisa. Berdalih ingin memperbaiki gizi, tetapi ternyata aku lupa bahwa keserakahan akan membawa malapetaka. Dan sehabis aku ikut pelatihan di hotel, selalu saja aku jadi sakit perut.

Namun, tidak di pelatihan Eco Camp. Aku sangat menikmati makanannya walaupun menunya ala vegetarian. Rasanya jauh lebih nikmat dari masakan hotel berbintang. Di sini, aku merasakan keajaiban rasa. Bentuk dan warna dalam sepiring makanan yang aku ambil terasa lezat. Semua menunya enak. Saat kutanya pada tim dapur yang memasak makanan tersebut, ternyata mereka tidak menggunakan penyedap instan sama sekali. Mereka menggunakan kaldu jamur yang mereka racik sendiri.

Kesadaran yang ketiga hemat. Pepatah mengatakan hemat pangkal kaya. Namun, hemat untuk mengumpulkan kekayaan diri sendiri sama dengan egosentrik. Hemat yang dimaksud di sini ialah hemat karena peduli dan berbagi pada sesama, terutama yang lemah dan miskin. Prinsipnya hemat pangkal selamat sama dengan ekosentris—yakni menjadikan alam atau ekologi sebagai pusat pemikiran atau aktivitas.

Kesadaran yang keempat peduli. Di pelatihan Eco Camp ini peserta diajarkan tentang Teori Membumi, Kesadaran Hati, & Mindfulnes, Spiritualitas dan Ekologi Kehidupan, Awakening the Dreamer & Changing the Dream, Green Business, Active Hope & Cosmic Walk.

Semua itu untuk menumbuhkan rasa dan sikap kepedulian kami terhadap bumi. Dengan demikian, setelah pulang tiap-tiap peserta bisa menerapkannya di daerah masing-masing. Kepedulian untuk memberi melahirkan semangat berbagi yang merupakan poin kelima.

Dalam sesi berbagi, kami mendatangi sebuah sekolah dasar di Kecamatan Kertasari, Bandung, Jawa Barat. Kawasan tersebut pada 18 September 2024 lalu terkena musibah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,0. Dampaknya, sebanyak 450 warga dari tiga desa terpaksa mengungsi, 58 orang luka ringan, dan 23 lainnya luka berat.

Oleh karena itu, kami ingin menghibur korban gempa di sana, terutama anak-anak. Ada puluhan anak-anak di sana. Kami bernyanyi; bergembira sambil bermain angklung. Tiap-tiap anak mendapatkan satu angklung. Dipandu oleh Pak Freddy sebagai dirigen, kami memainkan tiga buah lagu, salah satunya ‘Hallo-Hallo Bandung’.

Meskipun tidak sempurna karena kami hanya sempat beberapa kali latihan, dan anak-anak pun baru kali itu mengenal angklung, tetapi alunan musik begitu harmonis terdengar di telinga. Anak-anak bermain penuh antusias. Tawa, canda, gembira terlihat dari wajah mereka. Di situ aku merasakan kebermaknaan hidup yang merupakan poin keenam.

Ternyata, bahagia tidak melulu karena punya banyak harta, tapi hal kecil, sederhana, sanggup dilakukan dengan gembira itu jauh lebih indah. Bila kita tidak lagi memikirkan tentang diri sendiri, hidup jauh lebih bermakna.

Dan kesadaran yang terakhir ialah harapan. Meskipun bumi sedang tidak baik-baik saja, tetapi kita punya harapan untuk memperbaiki dan menjaganya. Seperti yang disampaikan oleh salah seorang pemateri Green Leader, Bijaksana Junerosano.

“Bila kau melihat anjing mati yang mengeluarkan bau menyengat, maka lihatlah gigi putihnya yang bersih.”

Jadi, kita harus melihat sisi positif dari setiap peristiwa atau kejadian.

Sebelas hari berada di Eco Camp menyadarkanku bahwa untuk menjaga bumi bukan tugas satu umat beragama saja, tetapi semua manusia. Tidak peduli apa agamanya, suku, dan daerah mana asalnya yang jelas kita tinggal di bumi yang sama.

Pikiran negatif dan prasangka yang kubangun saat menuju Eco Camp runtuh seketika. Selama di sana, aku sangat nyaman melakukan ibadah. Khusus bagi peserta muslim, setiap masuk waktu salat, diberikan kebebasan untuk salat berjemaah di musala. Pada hari-hari tertentu, peserta yang beragama Katholik juga melakukan misa bersama.

Keimananku jadi semakin kuat ketika berada di tengah keberagaman. Keyakinan kita dalam berhubungan dengan Tuhan berbeda-beda, tetapi kita disatukan dengan tujuan yang sama, yakni menjaga alam ini agar tetap lestari hingga bisa diteruskan untuk generasi mendatang.[]

Penulis adalah anggota Perempuan Peduli Leuser; copywriter dan fasilitator Bumoe Learning Community. Tulisan-tulisan lainnya dapat dibaca di www.yellsaint.com.

Editor: Ihan Nurdin

Peringati 75 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Australia: Program SIAP SIAGA Diperpanjang dan Temu Alumni Digelar di Aceh

Ada misteri di setiap takdir temu dan langkah kaki. Setidaknya hal itu yang tercermin dari ucapan Gita Kamath saat menyatakan kehadiran dirinya untuk pertama kali di Aceh. Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia ini hadir dalam rangka memantau program kerja sama pembangunan Australia-Indonesia, khususnya di bidang penanggulangan dan pengurangan risiko bencana, pemberdayaan perempuan, tata pemerintahan, dan juga keadilan.

“Bulan ini merupakan bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Indonesia, termasuk di Aceh. Selamat kepada BNPB atas terselenggaranya bulan PRB dengan baik melalui penandatanganan program SIAP SIAGA,” ungkap Gita pada Rabu pagi di Banda Aceh (9/10/2024)

Gita menyebutkan bahwa tahun 2024 merupakan tahun istimewa. Di tahun ini, masyarakat Aceh bahkan dunia akan memperingati 20 tahun tragedi bencana megatsunami yang pernah terjadi di provinsi terbarat Negeri Zamrud Khatulistiwa. Di tahun ini pula, negara Australia dan Indonesia memperingati hubungan diplomatik yang terjalin dengan baik antara kedua negara selama 75 tahun lamanya.

Perjanjian perpanjangan kerja sama program SIAP SIAGA untuk 2024-2027 tersebut ditandatangani oleh Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath bersama Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rustian di Banda Aceh.

“Sudah ada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, baik secara keilmuan maupun dampaknya terhadap penanganan bencana. Manajemen kebencanaan juga diperkenalkan dalam program SIAP SIAGA. Karena hasil kerja sama ini sudah terlihat, sehingga dilakukan perpanjangan kerja sama,” ungkap Rustian.

SIAP SIAGA merupakan program kemitraan Australia-Indonesia untuk manajemen risiko bencana yang bertujuan meningkatkan kemampuan Indonesia dalam mencegah, mempersiapkan, menanggapi, dan memulihkan diri dari bencana. Program tersebut menggunakan Problem-Driven Iterative Approach (PDIA) atau ‘Manajemen Adaptif’ yang berfokus pada konsep kolaborasi pentahelix. Pentahelix adalah kolaborasi yang melibatkan lima komponen penting yakni unsur pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan media. Sehingga diharapkan terbentuk efektivitas sistem penanggulangan bencana secara keseluruhan, bukan hanya efektivitas sub-sistemnya.

SIAP SIAGA bekerja dengan mitra di tingkat nasional dan daerah untuk mengidentifikasi hambatan dalam sistem penanggulangan bencana di berbagai tingkat pemerintah dan masyarakat. Kemudian melalui program tersebut dirancang solusi untuk meningkatkan efektivitas pelayanan penanggulangan bencana. Program SIAP SIAGA selaras dengan prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Indonesia (RPJMN). Program ini juga sejalan dengan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana, dan Strategi Kemanusiaan Pemerintah Australia.  

Adapun lokasi kerja program SIAP SIAGA yang sudah berjalan berada di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Pihak pemerintahan Indonesia berharap perpanjangan kerja sama bersama pemerintahan Australia untuk dua tahun ke depan juga membuka kesempatan untuk pengembangan program SIAP SIAGA di wilayah lainnya.

“Kita harap bisa dikembangkan. Seperti di Sumatra karena adanya isu megathrust dan juga di Sulawesi karena dekat dengan ibu kota Nusantara. Itu harapan kita, mudah-mudahan bisa terealisasi dari sekarang sampai 2027”.

Petuah Indonesia, Wejangan Australia

“Ada sebuah pribahasa Indonesia yang sangat saya sukai, ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Oleh karena itu, ijinkan saya membaca pidato saya dalam bahasa Indonesia dan saya mohon maaf jika ada ucapan yang salah,” papar Gita Kamath dalam sambutannya pada Selasa Malam di Banda Aceh (8/10/2024).

Oktober yang merupakan Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia terasa pekat berwarna dengan kehadiran Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia yang memilih berpidato dengan bahasa ibu rakyat Nusantara walau berada di tengah-tengah alumni Univesitas Australia yang tidak diragukan lagi kefasihan bahasa Inggris mereka. Tak berhenti di situ, Gita bahkan ikut menggunakan satu-dua kata dalam bahasa Aceh yang berhasil mengundang riuh tepuk tangan puluhan peserta hadir pada acara Australia Alumni Networking Dinner in Aceh tersebut.

“Alumni memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kerja sama antara Australia dan Indonesia. Alumni juga memiliki peran dalam mendukung bisnis, keamanan, dan kemakmuran bagi kedua negara,” papar Gita.

Foto Kredit: Australian Embassy Indonesia

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Farwiza Farhan—alumni magister dari University of Queensland [UQ], jurusan Manajemen Lingkungan—mengamini manfaat besar yang dia terima selaku putri Aceh yang melanjutkan pendidikan ke Negeri Kangguru tersebut.

“Saya pertama kali ke Australia di tahun 2009. Sampai di Australia saya merasa dunia saya tiba-tiba terbuka begitu luas. Saya belajar begitu banyak hal, berkenalan dengan sangat banyak orang,” papar sang penerima The Ramon Magsaysay Award for Emergent Leadership 2024.

Wiza, panggilan akrabnya, menyebutkan melalui pendidikan yang tepat, setiap orang berkesempatan untuk memberikan perubahan positif untuk dirinya dan juga masyarakat di sekitarnya. Sang aktivitas lingkungan dan konservasionis hutan di Kawasan Ekosistem Leuser tersebut menilai Australia menjadi jalan baginya untuk mengembangkan diri dan kemudian kembali ke Indonesia untuk berbakti.

“Sebab hati saya tetap di Aceh. Hati saya tetap di Kawasan Ekosistem Leuser,” papar sang penerima National Georgraphic Wayfinder 2022 dan pemimpin baru TIME100 Next 2022.

Hingga saat ini, terdapat lebih dari 400 alumni Australia asal Aceh. Adapun total keseluruhan alumni pendidikan Australia yang berasal dari Indonesia mencapai 200.000 orang. Perwakilan pemerintahan Australia tersebut menilai alumni dapat menjadi jembatan antara kedua negara untuk membangun pemahaman terkait Indonesia dan Australia serta masyarakatnya. Menurutnya, walau hubungan antarnegara itu penting, akan tetapi hubungan antar manusialah yang benar-benar sangat penting bagi terwujudnya keakraban kedua negara.

“Hubungan kita sudah terjalin selama ratusan tahun dalam perdagangan dan budaya. Tahun ini kita merayakan hubungan diplomatik antara Australia dan Indonesia yang telah berlangsung selama 75 tahun,” jelasnya.

Sang perwakilan Australia untuk Indonesia menyebutkan bahwa hubungan diplomatik yang terjalin antara Indonesia dan Australia telah membuka jalan bagi kedua negara untuk saling belajar, bertukar pengetahuan, terutama terkait mitigasi bencana. Gita menyebutkan, Australia selayaknya Indonesia, merupakan negara yang juga rawan terhadap bencana alam. Maka kerja sama dan saling dukung antara kedua negara merupakan hal yang penting untuk terus dirawat bersama.

“Banyak hal yang bisa kami pelajari dari Indonesia. Saat ini kita memiliki satu program di bidang penelitian terkait perubahan iklim. Nama programnya KONEKSI,” jelas Gita.

Kemitraan Australia-Indonesia dalam riset, sains, dan inovasi (KONEKSI) merupakan bentuk komitmen Australia dalam mendukung solusi berbasis pengetahuan melalui Platform Kemitraan Pengetahuan Australia-Indonesia. Penelitian dan inovasi akan menjadi dasar untuk menciptakan solusi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan adaptif terhadap dampak perubahan iklim dan kebutuhan sosial ekonomi yang terus berkembang. Sehingga tercapai Agenda Pembangunan Berkelanjutan di 2030.

Selayaknya pembelajaran yang diperoleh Oz dari Nusantara, maka Indonesia pun mempelajari banyak hal dari Australia. Selaku alumni, Farwiza menyebut Australia sebagai negara yang mampu melakukan penerimaan terhadap siapa pun. Menurutnya, di Australia, orang-orang bisa memilih apapun yang dia inginkan dan diterima apa adanya tanpa ada penolakan.

“Semua orang bisa menjadi dirinya sendiri. Jadi kita bisa belajar banyak dari Australia soal menghargai keragaman,” tutupnya.[]

Foto Kredit: Australian Embassy Indonesia

Seberapa Penting Keamanan Psikososial Bagimu?

Hari kedua kami memulai pagi dengan refleksi diri. Kak Alifi yang memandu kegiatan menanyakan apa saja hal yang disyukuri dan membuat kami bahagia pada pagi hari itu. Tentunya masing-masing peserta mempunyai jawaban yang beragam sesuai hal yang dirasakan.

Saya sangat bersyukur pada hari itu. Pagi buta saat hamparan danau Lut Tawar masih diselimuti kabut, saya dapat merasakan hawa dingin menembus sweater yang saya kenakan. Kabut tersebut kemudian sedikit demi sedikit menghilang, terganti dengan kehadiran mentari pagi yang begitu indah.

Bersama Kak Masni, salah seorang peserta asal Aceh Barat, kami berjalan kaki menuju bukit yang berada di sebelah Hotel Renggali. Dari atas bukit tersebut, saya bisa melihat luasnya danau yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Laksana memandangi lautan yang luas, hanya saja lebih tenang tanpa kehadiran gelombang.

Saya begitu khidmat menikmati pemandangan pagi itu. Rasanya begitu tenang diri ini melihat keindahan ciptaan Ilahi. Saya dan Kak Masni pun tak lupa mengabadikan diri lewat beberapa foto yang kami ambil bergantian menggunakan ponsel pintar.

Kesadaran Diri

Tujuan dari sesi Keamanan Psikososial bersama Kak Alifi adalah mengenalkan kesadaran diri dan keadaan lingkungan sosial di sekitarnya. Kemudian bagaimana lingkungan-lingkungan tersebut berpeluang memberikan dampak pada kesejahteraan fisik, digital, dan juga mental para aktivis dan jurnalis.

Bagi saya, psikososial merupakan kata yang tidak asing. Kata tersebut pernah saya dapatkan semasa kuliah pada materi Keperawatan Jiwa.

Psikososial berakar pada dua penggalan kata, yaitu psiko (berhubungan dengan mental/kejiwaan), dan sosio (bergubungan dengan orang lain dan lingkungan sekitar).

Adapun domain psikososial yang dimaksud dalam pelatihan ini ialah ketersediaan sumber daya dan kesadaran akan sistem lingkungan. Faktor psikologi individu dan aspek lingkungan sosial. Perasaan, pikiran, kognisi, perilaku, tindakan. Keragaman pengalaman subjektif. Serta kesadaran diri dalam memahami stres.

Psikososial adalah hubungan antara kondisi sosial seseorang dengan kesehatan mentalnya. Elemen yang terdapat dalam psikologi berupa pikiran, perasaan, emosi, sikap, perilaku. Sedangkan elemen sosial berupa interaksi dan relasi, lingkungan, budaya dan tradisi, peran dan tugas, serta konstruksi gender.

Kemudian Kak Alifi menunjukkan teori ekologi sistem yang menjelaskan bagaimana individu berinteraksi dan bergantung pada sistem di sekitarnya.Teori ini memiliki lima sistem lingkungan berlapis yang saling berkaitan, yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem.

Kesadaran diri itu merupakan kemampuan seseorang untuk memahami secara mendalam hal-hal yang membentuk diri.

Termasuk di dalamnya menyangkut tentang kepribadian, tindakan, nilai, tujuan, keyakinan, kebutuhan, emosi, dan pikiran. Juga kemampuan untuk memahami dampaknya pada diri sendiri dan orang lain. Agar setiap peserta memahami makna kesadaran diri, Kak Alifi memberikan beberapa pertanyaan untuk dijawab oleh masing-masing peserta.

“Apa yang membuat ANDA menjadi ANDA saat ini?”

Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut terdapat beberapa pertanyaan turunannya. Setelah menjawab pertanyaan tersebut, saya menyadari ternyata peran saya banyak, yaitu sebagai seorang ibu, istri, anak, atasan (kepala sekolah), bawahan (copywriter), teman, adik, dan role model (guru). Dengan peran sebanyak itu, tentu banyak persoalan dan rintangan yang saya hadapi yang berpotensi mengganggu psikis saya pribadi.

Untungnya saya bisa menentukan capaian dari peran saat ini agar termotivasi untuk menjalankan peran tersebut dan menganalisa siapa saja yang terpengaruhi oleh tindakan saya. Selama proses menjawab pertanyaan tersebut, saya mulai bisa melihat benang merah kehidupan saya saat ini. Sehingga saya mampu memahami kekuatan dan keterbatasan saya pribadi.

Ketika mendengarkan banyaknya cerita dari beragam peran yang dilakoni oleh orang-orang di sekitar, maka timbul kesadaran akan keberagaman latar belakang yang harus dijalani seseorang. Kesadaran tersebut memunculkan empati pada saya setiap kali berinteraksi dengan mereka.

Materi tersebut membantu saya memahami situasi kerja yang lebih kompleks dan berisiko tinggi, serta dampak apa yang terjadi dalam lingkungan yang lebih luas. Sehingga saya mampu mengelola emosi berlebih ketika dihadapkan pada persoalan yang menantang.

Dua jam lebih pemaparan materi kesadaran diri membuat saya membuka mata akan pilihan hidup yang saya jalani saat ini. Apalagi sebelum jam makan siang, kami diberikan sebuah permainan yang membuat kami paham tentang kondisi setiap orang berbeda-beda.

Dalam permainannya, kami diberikan satu gulungan kertas yang di dalamnya berisi kasus cerita. Kami harus menjadi tokoh dalam cerita tersebut. Kemudian ada beberapa pernyataan yang diajukan oleh panitia. Bila tokoh tersebut bisa melakukan instruksi tersebut, maka peserta diminta maju satu langkah. Namun, bila tidak mampu maka mundur satu langkah.

Saya mendapatkan tokoh cerita yang menurut saya memiliki kemampuan untuk kerap maju dan memilih kata “ya” pada beragam pernyataannya. Sehingga saya menjadi tokoh yang maju paling depan. Menariknya, di lain sisi, terdapat teman saya yang dengan latar belakang tokoh yang sama seperti yang saya memiliki, justru berakhir di posisi yang paling akhir.

Melalui kasus ini kita menyadari bahwa setiap orang dengan latar belakang berbeda menghasilkan respons yang berbeda-beda pula dari setiap kesempatan dan tantangan yang ada. Bahkan orang-orang dengan persoalannya sama sekalipun, tetap bisa berakhir berbeda. Hal itu dikarenakan perbedaan sudut pandang, kapasitas mental, dukungan orang terdekat, pengetahuan, dan sebagainya bagi setiap orang dalam menyikapi setiap persoalan dan kesempatan yang hadir.

Mengenal Emosi dan Menajemen Stres

Ini merupakan materi hari ketiga bersama Kak Alifi yang berjudul, “Tantangan Emosional dalam Bekerja Sebagai Aktivis dan Jurnalis.”

Diskusi dimulai dengan membahas sebuah studi kasus tentang seorang aktivis yang berangkat dari Barat Selatan Aceh ke Takengon, menghabiskan waktu di perjalanan begitu lama. Di perjalanan mobil yang ditumpanginya mogok. Sedangkan dia hanya makan satu bungkus roti sebelum berangkat tadi. Pada akhirnya, dia pun tiba ke tempat tujuan pada pukul 21.00 WIB dengan kondisi lemas dan kelaparan.

Dari kasus tersebut kami diminta untuk mengungkapkan emosi yang muncul bila berada di posisi sang tokoh. Berbagai jawaban seperti marah, kesal, sesal, gemetar, letih, lemas, capek, lesu dan emosi lainnya muncul dari peserta. Hal tersebut merupakan ungkapan emosi yang peserta sampaikan dalam menyikapi sebuah kejadian atau peristiwa.

Apa jadinya bila emosi tersebut terus dipendam dan ditekan dalam-dalam? Tentu lama-kelamaan emosi itu akan meledak dan berdampak buruk pada kesehatan mental. Oleh karenanya, kemampuan untuk mengatur stres agar emosi dapat tersalurkan dengan baik menjadi penting.

Stres merupakan respon fisiologis terhadap sumber stres (stressor) internal atau eksternal. Stres muncul akibat ketidakseimbangan antara sumber daya dengan tuntutan atau tekanan yang ada.

Ada dua macam stres, yaitu eustress (stres positif) dan distress (stres negatif). Eustress muncul saat level stres cukup tinggi yang dibarengi dengan motivasi untuk bergerak  menyelesaikan sesuatu. Misalnya saat dihadapkan dengan ujian tes CPNS, tubuh meresponnya dengan cara belajar lebih giat untuk bisa menjawab soal. Sedangkan distress muncul saat level stress terlalu tinggi atau terlalu rendah, tapi tubuh tidak mampu mengatasi stress tersebut. Sehingga akan memunculkan berbagai emosi seperti sedih, takut, tertekan, cemas, kesepian, bahkan putus asa.

Agar stres tersebut tidak menjadi masalah bagi kehidupan kita, perlu langkah-langkah dalam mengatasinya. Pertama, kita perlu Identifikasi stres tersebut. Kenali berbagai tantangan dan risiko yang umumya berpotensi mengganggu kondisi psikososial kita. Kemudian Sadari reaksi saat stress muncul. Misalnya pada fisik, otot tegang, lemas, sedih, cemas, menangis, atau menjauh dari orang-orang. Kemudian, Validasi kondisi diri terkini yang mungkin memang sedang stress atau tidak baik-baik saja. Selanjutnya Relaksasi dan Stabilisasi dengan menarik nafas dalam untuk meredakan reaksi emosi. Terakhir Self Care (merawat diri) dengan melakukan rutinitas perawatan diri secara holistik seperti jalan-jalan, nge-gym, spa ke salon, dan sebagainya sesuai dengan individu masing-masing.

Selain itu, ada cara cepat dan efektif untuk mengurangi itensitas emosi negatif dengan menggunakan panca indra, yang disebut Teknik Self-Soothing. Dimulai dari Penglihatan dengan cara meredupkan cahaya, bisa juga menutup mata, melihat warna favorit atau yang menenangkan seperti dedaunan hijau dan pepohonan, dan menonton film atau video yang menyenangkan.

Kemudian untuk Sentuhan bisa menyentuh benda halus seperti selimut atau boneka, melakukan pijatan, mandi air hangat atau dingin. Dari Suara kita bisa mendengarkan bunyi yang menyenangkan pikiran, seperti musik yang disukai, suara alam seperti riak air, kicauan burung atau angin.

Pada Penciuman bisa menggunakan aromaterapi, udara segar, lilin wangi/dupa, atau wawangian yang membuat nyaman. Dan terakhir, untuk Perasa bisa menggunakan rasa yang kuat seerti pedas, makan perlahan, minum air hangat/dingin, makan makanan kesukaan atau makan yang membawa nostalgia bahagia seperti masakan ibu.

Teknik Self-Sooting ini pernah kami praktikkan pada saat Morning Reflection di hari terakhir. Masing-masing peserta menggunakan semua indranya untuk menikmati benda yang ada di sakitarnya menggunakan panca indra. Mulai dari melihat 5 objek, dengar 4 suara, sentuh 3 benda, cium 2 bau, dan rasakan satu suasana. Hasilnya memang benar melegakan dan berhasil menjadikan para peserta bersemangat menjalani hari, meskipun di hari terakhir.

Sebagai penutup tulisan, saya akan membagikan konsep Lingkar Kendali yang menjadi salah satu cara sederhana mengelola stres. Konsep ini dikenalkan oleh Stephen Covey dalam bukunya The Habits of Highly Effective People.

Dalam lingkar kendali terdapat 3 lingkaran yang terdiri atas; Lingkar Kendali, Lingkar Pengaruh (sebagian di dalam kendali), dan Lingkar Peduli (di luar kendali).

Dalam Lingkar Kendali, fokus terletak pada pikiran, tindakan, dan perkataan kita yang bisa dikendalikan. Pada Lingkaran Pengaruh, alihkan perhatian dan energi kita pada hal-hal yang berada dalam kendali seperti sikap, usaha, pola pikir, kondisi kesehatan, keluarga, atau kinerja tim. Adapun Lingkar Peduli alias lingkaran terluar yang tidak bisa dikendalikan, seperti komentar atau tindakan orang lain, kebijakan pemimpin, pandemi, resesi, dan cuaca maka kita tidak memiliki kuasa apapun pada posisi tersebut. Maka fokuskan diri pada Lingkar Kendali dan Lingkar pengaruh saja dan tidak perlu menghabiskan energi dan atensi yang dimiliki pada Lingkar Peduli sebab dapat meningkatkan stres dan kecemasan.

Ketika menghadapi sebuah persoalan, fokuslah pada hal-hal yang dapat kita kendalikan. Sehingga Lingkaran Pengaruh akan bertambah luas.

Dengan mengidentifikasi mana yang menjadi kendali dan mana yang berada di luar kendali, kita dapat mengikis stres dan bisa menjaga keseimbangan emosional dan mental dalam menghadapi tantangan hidup. 

Sejauh ini bagaimana? Apakah teman-teman aktivis dan jurnalis sudah mengenali diri dan paham cara mengambil tindakan ketika dihadapkan berbagai persoalan? Mari kita kembali menilik diri.

Tentu penting bagi aktivis dan jurnalis untuk memiliki mental yang sehat agar keamanan psikososialnya terjaga tanpa ada hambatan. Untuk itu, penting bagi kita untuk memahami tata cara merawat diri (self-care) yang benar. Lantas bagaimana caranya? Nantikan ulasan selanjutnya ya!

Seberapa Penting Keamanan Holistik Bagimu?

HARI sudah gelap ketika saya tiba di Hotel Renggali Takengong pada Minggu, 11 Agustus 2024. Gigil udara pegunungan berselimut rintik hujan memasuki relung pakaian ketika saya turun dari mobil setelah menempuh sekitar delapan jam perjalanan dari Banda Aceh. Setelah mendapatkan kunci kamar dari resepsionis, saya bergegas menuju kamar. Di hotel tersebut, Pelatihan Keamanan Holistik untuk Aktivis dan Jurnalis selama lima hari ke depan akan digelar oleh tim panitia yang berasal dari Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA).

Berhubung belum makan malam, setelah meletakkan barang-barang di kamar, saya keluar menuju restoran hotel (resto) yang berjarak sekitar 20 meter. Letak antara gedung utama penginapan dan resto terpisah. Sesampainnya di resto, saya langsung mengambil makanan lalu duduk satu meja dengan Resqi dan Jal, peserta pelatihan lainnya.

“Kami sudah selesai makan nih kak,” ucap Resqi. Begitu juga dengan Jal, makanan di piring sudah habis disantapnya. Wajar saja mengingat perjalanan jauh yang kami tempuh tentu menguras tenaga. Alhasil perut kami pun keroncongan jadinya.

Sembari menyantap hidangan, saya melihat banyak wajah baru yang belum saya kenali di ruangan tersebut. Saat itu saya yakin bahwa mereka juga bagian dari peserta pelatihan. Kami tidak saling sapa karena belum mengenal satu sama lain. Kemudian setelah mengobrol singkat bersama Resqi dan Jal, kami pun beranjak ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Sebab rasa kantuk tak lagi bisa ditahan dan badan butuh direbahkan.

Sebelum tidur, demi kemanan, saya mengecek seluruh sudut ruangan kamar yang ditempati. Sebab setiap peserta difasilitasi sebuah kamar untuk seorang diri.

Ternyata di kamar tersebut tidak ada daftar nomor telepon yang bisa dihubungi. Adanya cuma lembaran menu makanan beserta harganya. Lantas, saya teringat panitia pernah mengirimkan Satuan Operational Prosedur (SOP) selama pelatihan. Lalu SOP itu saya pun baca-baca kembali sembari mencatat nomor panitia yang bisa dihubungi jika diperlukan sewaktu-waktu nanti.

Perkenalan Diri

Hari pertama pelatihan Keamanan Holistik dimulai pada Senin, 12 Agustus 2024. Sebanyak 13 orang peserta dari berbagai lembaga dan komunitas ikut serta. Mereka berasal dari kalangan aktivis dan jurnalis yang tentunya sering dihadapkan dengan persoalan keamanan ketika melakukan advokasi atau memberitakan isu-isu riskan. Inilah salah satu alasan pelatihan ini diadakan, untuk menjaga keamanan diri para aktivis dan jurnalis. Sebab sebagai jurnalis, saya dan teman-teman perempuanleuser.com selalu sepakat terkait prinsip bahwa:

Tidak ada berita seharga nyawa.

Pada sesi perkenalan diri, kami diminta untuk mendeskripsikan diri masing-masing dengan menggambarkan objek atau benda. Saya menggambar laut dan langit yang bewarna biru, sesuai warna favorit saya. Kebetulan saya mengenakan pakaian serba biru juga saat itu.

Keindahan Lut Tawar, Takengon

Langit merupakan simbol kebebasan dan potensi tak terbatas dan laut mewakili pesan petualangan, ketenangan, dan kekuatan. Meskipun dua hal ini terkesan bertolak belakang, tapi saling melengkapi. Adapaun warna biru mengandung makna kesetiaan, kecerdasan dan percaya diri dalam kehidupan, sehingga menjadi harapan untuk banyak orang.

Simbol-simbol tersebut cukup mewakili karakter saya yang menyukai kebebasan, tak ingin dikekang oleh batasan-batasan tertentu yang menekan. Sekalipun saya berstatus sebagai ibu rumah tangga, bukan berarti saya tidak bisa melakukan banyak hal. Sebab dari dulu saya suka berpetualang. Karena dengan itu saya bisa menulis banyak hal yang bisa memberi ketenangan, kedamaian, dan kekuatan di hidup saya.

“Jangan kukung dirimu karena keadaan yang kau rumitkan. Status bukan jadi alasan sebagai penghalang menggapai kebebasan. Banyak hal yang bisa kau lakukan, bila kau menganali diri.”

Beruntung saya memiliki suami yang memahami kehidupan saya. Dia memberi ruang gerak seluas-luasnya selama itu berbentuk kegiatan positif dan bermanfaat. Namun dua hal yang harus saya jaga, yaitu kepercayaan dan keterbukaan. Itulah moto yang kami pakai dalam menjalani hubungan sehingga kesetiaan tetap selalu ada di hati kami berdua.

“Kenyamanan dalam sebuah hubungan ketika pasangan tidak membatasi gerak. Bersama saling dukung untuk menggapai bahagia.”

Lalu seiring sejalan dan saling mengisi. Karena hidup sebagai perempuan bukan selalu mengalah dengan keadaan. Jadi perempuan harus paham akan keadaan tanpa mau diintimidasi.

Selesai menggambarkan deskripsi diri, masing-masing peserta kemudian memperlihatkan gambar yang dibuat dan bercerita tentang dirinya. Begitu juga dengan panitia, mereka juga ikut memperkenalkan diri. Perkenalan diri dengan cara seperti ini, menurut saya tergolong unik. Kita jadi mengetahui banyak informasi dan karakter dari peserta lainnya melalui media gambar yang mereka buat.

Selesai sesi perkenalan diri, kemudian dilanjutkan penyampain informasi keamanan tempat oleh pihak hotel. Di sini dijelaskan tentang titik kumpul evakuasi bila terjadi bencana, dan pintu keluar dari ruangan ini bila keadaan gawat terjadi. Begitu juga bila butuh suatu hal bisa menghubungi nomor telepon di angka ‘nol’ via telepon yang ada di kamar masing-masing atau menghubungi via WhatsApp ke nomor yang diberikan pihak hotel.

Selanjutnya peserta dan panitia membuat kesepakatan terkait Do & Don’t (hal apa saja yang boleh dan tidak boleh) dilakukan di ruangan selama pelatihan berlangsung. Kemudian, peserta juga menuliskan harapan yang ingin dicapai setelah mengikuti pelatihan tersebut.

Demi keamanan, kami sepakat selama pelatihan berlangsung, tidak ada dokumentasi yang dilakukan oleh peserta. Kemudian apapun aktivitas dan percakapan yang terjadi di dalam di dalam ruang selama pelatihan berlangsung untuk tidak terpublikasikan ke pihak luar.

Di antara banyaknya harapan pelatihan, saya mencantumkan harapan untuk menuliskan pengalaman dan pengetahuan yang saya peroleh selama mengikuti pelatihan tersebut. Saya rasa penting untuk menyebarluarkan informasi terkait Keamanan Holistik kepada publik.

Apalagi panitia sudah menyediakan fasilitas yang begitu aman dan nyaman untuk kami, para peserta. Bahkan seluruh biaya transportasi dan akomodasi selama pelatihan juga disedia. Oleh karenanya, tulisan ini merupakan bagian dari rasa syukur. Saya mencoba membagikan segelintir informasi dari luasnya pengetahuan yang saya peroleh selama mengikuti pelatihan Keamanan Holistik bersama Yayasan HAkA.

Untuk Apa Belajar Keamanan Holistik?

Ketika Kak Alifi—salah satu pemateri—menyebutkan kata Holistik, ingatan saya terlempar ke saat saya mempelajari Keperawatan Holistik semasa kuliah dulu. Keperawatan Holistik adalah bentuk keperawatan yang dilakukan secara menyeluruh menyangkut bio, psiko, sosio, dan spiritual yang dilakukan perawat kepada pasien. Dengan demikian, Keamanan Holistik dapat dimaknai sebagai proses keamanan yang dilakukan secara menyeluruh.

Ada tiga domain utama yang dibahas dalam Keamanan Holistik, yaitu Keamanan Fisik, Keamanan Digital, dan Keamanan Psikososial. Lantas, apa pentingnya belajar Keamanan Holistik untuk para aktivis dan jurnalis? Keamanan Holistik penting diketahui oleh aktivis dan jurnalis karena ruang gerak mereka mempunyai banyak risiko, yang bahkan bisa mengancam nyawa.

Dalam dunia jurnalis, terdapat slogal, “Tidak ada berita seharga nyawa.”. Itu artinya dalam melaksanakan tugas jurnalistik, jurnalis harus mengutamakan aspek-aspek keselamatan. Demikian juga dengan aktivis. Jangan sampai karena ingin mengadvokasi suatu hal, hingga lupa akan keamanan diri yang bisa berdampak buruk bagi kehidupan; baik fisik, digital, maupuan psikososial.

Analisis dan Penilaian Risiko

Risiko adalah segala kemungkinan yang diperkirakan dapat terjadi pada seseorang. Risiko terbentuk dari gabungan kerentanan dan ancaman.

Kerentanan dapat diartikan sebagai sekumpulan kondisi dan/atau suatu akibat keadaan (faktor fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan) yang berpengaruh buruk terhadap upaya-upaya pencegahan. Ancaman ialah suatu kondisi—secara alamiah maupun karena ulah manusia—yang berpotensi menimbulkan kerusakan atau kerugian dan kehilangan jiwa.

Risiko akan terjadi bila adanya kerentanan ditambah dengan ancaman. Semakin besar atau banyak kerentanan dan ancaman, maka risiko yang dihadapi pun semakin tinggi. Kerentanan ini bisa dari manusia, alat, atau pun lingkungan sekitarnya.

Dalam analisis dan penilaian risiko, ada empat hal yang harus dilakukan, yaitu identifikasi, analisis dan penilaian, mitigasi, dan pemantauan.

Identifikasi risiko merupakan pencatatan yang dilakukan untuk mengetahui kemungkin risiko yang terjadi dalam mencapai sebuah tujuan. Setelah itu, kita menganalisis dan menilai sejauh mana kemungknan risiko itu dapat terjadi.

Untuk menilai sebuah risiko, perlu menentukan penyebab utama sebuah masalah dan mencari penyelesaiannya (mitigasi). Caranya dengan menentukan spesifikasi masalah, mengumpulkan data, menentukan faktor penyebab terjadinya risiko, dan menentukan faktor penyebab utamanya.

Sangat penting bagi aktivis dan jurnalis menganalisis dan menilai risiko sebelum melakukan kegiatannya. Terutama untuk kegiatan berisiko tinggi seperti saat melakukan liputan investigasi dan advokasi terkait kasus pertambangan yang merusak alam dan lingkungan. Disebabkan ada banyak hal yang harus dihadapi. Sehingga selalu ada kemungkinan yang dapat mengancam keselamatan holistik.

Materi manajemen risiko ini diberikan oleh Bang Tezar dengan tujuan agar peserta mampu mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman dan kerentanan. Oleh karenanya, diperlukan mitigasi (pencegahan risiko) melalui cara-cara berikut; mentransfer, mengurangi, menghindari, dan menerima.

Dalam matrik risiko disebutkan bila probalitas alias peluang suatu peristiwa akan tinggi, maka dampak yang dihasilkannya pun tinggi. Melalui matrik risiko, aktivis dan jurnalis dapat menilai sejauh apa sebuah risiko dapat diterima, dapat diterima dengan mitigasi, atau tidak dapat diterima sama sekali.

Dalam contoh kasus mitigasi yang ditransfer, misalnya pada seseorang yang sedang mengalami burn out dalam pekerjaan, dan bila tetap dilanjutkan akan berdampak pada kesehatan mentalnya. Namun, di lain sisi, dia harus tetap menyelesaikan tugas tersebut. Jadi untuk mengantisipasi risiko yang terjadi pada dirinya, orang tersebut mengtransfer tugas tersebut ke rekan kerja lainnya.

Pilihan risiko dapat ditentukan berdasarkan kemampuan seseorang mengenali dirinya (materi kesadaran diri dijelaskan pada tulisan berikutnya). Sehingga dia paham tentang risiko yang mungkin terjadi beserta mitigasinya. Risiko dapat diminimalisasi setelah dilakukan identifikasi, analisa dan penilaian terhadap risiko tersebut.

Pelatihan di hari pertama ini cukup melelahkan tetapi diskusi begitu hidup karena adanya berbagai pemikiran kritis dan argumentasi dari para peserta dari lintas profesi dan keilmuan. Sehingga proses interaksi antara pemateri dan peserta bukan sekadar transfer ilmu, tapi juga membangun dialok aktif berbasis pengalaman lapangan sehari-hari.

Demikian cerita singkat untuk tahap pertama. Nantikan ulasan kisah pelatihan Keamanan Holistik selanjutnya!

Perusahaan “Daftar Hitam” di Proyek Jembatan Blang Mane Bireuen

SEBUAH ekskavator warna oranye “menyambut” kedatangan jurnalis di lokasi proyek pembangunan jembatan Blang Mane pada Jumat, 24 Mei 2024. Pukul dua siang kurang seperempat ketika jurnalis tiba di sana. Suasana di sekitar proyek sepi. Satu-satunya alat berat yang ada di sana sedang tidak beroperasi. Tak tampak juga ada pekerja yang lalu-lalang di lokasi proyek.

Di belakang alat berat itu, konstruksi jembatan rangka baja Blang Mane yang sedang dalam pengerjaan menjadi latar yang kontras dengan alat berat berwarna oranye. Pengerjaannya belum rampung. Lantai jembatan masih disemaki oleh sisa-sisa material. Struktur bangunan yang terletak pada kedua ujung jembatan (abutmen) juga belum selesai dibangun. 

Lokasi proyek hanya dibatasi dengan pagar dan pintu gerbang yang terbuat dari anyaman bambu yang sebagian sudah tampak reyot. Di samping pintu masuk tertempel spanduk kuning hitam bertuliskan larangan masuk tanpa izin dengan ancaman pidana 9 bulan penjara. Di sampingnya terdapat spanduk warna putih berisi informasi mengenai proyek yang sedang dikerjakan. Tertera di sana nama paket pekerjaannya adalah Penggantian Jembatan Blang Mane. Lokasi proyek berada di Gampong Tanjong Beuridi, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen.

Jembatan Blang Mane pertama kali dibangun pada tahun 2000 silam. Namun, setelah dua dekade lebih usianya, jembatan itu akhirnya tak bisa berfungsi lagi karena abutmennya tak kuat lagi menahan gerusan erosi. Per 21 Januari 2023, jembatan itu pun “pamit” setelah hujan deras mengguyur wilayah itu pada malam sebelumnya dan menyebabkan abutmen jembatan ambruk.

Proyek pembangunan penggantian jembatan tersebut bersumber dari APBN murni melalui proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Adapun pelaksananya PT Sarjis Agung Indrajaya, serta menggandeng PT Duta Bhuana Jaya sebagai konsultan supervisi. Sebagaimana yang tertera di lokasi proyek, jembatan ini dikerjakan berdasarkan kontrak tertanggal 8 November 2023 dengan nomor HK.02.03/Bb.1 PJN/44/APBN/2023. Pagu proyek ini sebesar Rp24 miliar dan dimenangi oleh PT Sarjis dengan harga penawaran Rp​​19.083.988.905,84. Adapun durasi kerja selama dua tahun, yakni pada tahun anggaran 2023—2024 atau multi year contract (MYC).

Sekilas tidak ada yang aneh di papan informasi proyek tersebut. Namun, jika dicermati, keberadaan nama PT Sarjis Agung Indrajaya sebagai pihak yang mengerjakan proyek Dirjen Bina Marga adalah hal yang janggal. Sebab PT Sarjis tercatat sebagai perusahaan yang sedang mendapat sanksi dan dilarang ikut serta dalam proyek pemerintah. 
Pertanyaan itu muncul, mengingat pada 9 November 2023, tepat sehari setelah tanggal kontrak, PT Sarjis justru mendapatkan sanksi dari Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Kalimantan Selatan. Sanksi yang diberikan berupa pembekuan keikutsertaan dalam proyek pemerintah terhitung sejak 9 November 2023 hingga 9 November 2024. Sanksi tersebut diberikan karena perusahaan tidak mampu menyelesaikan proyek pembangunan jembatan kembar di Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan.

Foto: Tim KJI Aceh/Rianza Alfandi

Dengan kondisi tersebut, mestinya Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah Aceh dapat mempertimbangkan kembali pemilihan atau penetapan PT Sarjis sebagai kontraktor yang memenangi lelang pembangunan Jembatan Blang Mane. Apalagi, jika menelusuri track record perusahaan tersebut, kasus jembatan Paringin bukanlah yang pertama tak diselesaikan oleh PT Sarjis.

***

Pemilihan PT Sarjis selaku kontraktor yang mengerjakan jembatan Blang Mane Bireuen pada akhir tahun 2023 menimbulkan reaksi publik di Aceh. Pasalnya, jarak antara tanggal kontrak dengan penerbitan daftar hitam untuk perusahaan tersebut hanya berselang satu hari.

Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) menilai, hal ini dapat terjadi karena ketidakcermatan penyelenggara lelang atau memang ada unsur kesengajaan untuk memenangkan perusahaan tersebut. 

“Mestinya, rekam jejak perusahaan bisa menjadi pertimbangan dalam menentukan patut atau tidaknya PT Sarjis memenangi tender proyek pemerintah,” kata Koordinator MaTA, Alfian. 

Apalagi, sejak awal Oktober 2023 PT Sarjis sudah menyatakan tidak mampu menyelesaikan proyek Jembatan Paringin di Kalimantan Selatan yang berujung pada pemutusan kontrak.  

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) menetapkan PT Sarjis masuk dalam daftar hitam dengan diterbitkannya SK Penetapan Nomor: HK.01.02/KPTS/Bb.11.6/24/2023. Perusahaan dinilai terbukti melanggar Peraturan LKPP No. 4 Tahun 2021 Lampiran II angka 3.1 huruf g yang berbunyi “penyedia yang tidak melaksanakan kontrak, tidak menyelesaikan pekerjaan, atau dilakukan pemutusan kontrak secara sepihak oleh PPK yang disebabkan oleh kesalahan penyedia barang/jasa.”

Masa berlaku sanksi terhitung sejak 9 November 2023 hingga 9 November 2024 dengan tanggal penayangan pada 10 November 2024.

PT Sarjis Agung Indrajaya merupakan perseroan tertutup yang berkedudukan di Kota Banda Aceh. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1993 yang ditandai dengan terbitnya nomor akta di notaris Sabaruddin Salam, S.H., dengan nomor akta 99 dan tertanggal 15 Desember 1993. Namun, pengesahannya baru empat belas tahun kemudian dengan tanggal SK 9 Oktober 2007 dan nomor SK Pengesahan C-00697 HT.01.01.-TH.2007. Berdasarkan data yang tercantum di profil perusahaan, PT Sarjis Agung Indrajaya beralamat di Jalan Prof. A. Madjid Ibrahim I No. 10, Meuraxa, Kota Banda Aceh. 

Saat pertama kali dibentuk, perusahaan ini memiliki struktur yang terdiri atas Salmiah Gading sebagai komisaris; Sasmita Andriana dan Achmad masing-masing tercatat sebagai direktur; serta Anwar tercatat sebagai direktur utama. Tertera juga nama Maya Sofa Trianty dan Sunita Farianty yang tanpa keterangan jabatan. Semua pengurus beralamat di Banda Aceh. Pada tahun 2010, sebagai penyesuaian terhadap UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, nomor SK perusahaan ini berubah menjadi AHU-52307.AH.01.02. Tahun 2010 dengan tanggal SK 8 November 2010 pada notaris yang sama.

Dalam perjalanannya, terjadi perubahan pada perusahaan sebanyak 19 kali sejak tahun 2007 hingga tahun 2022. Perubahan tersebut meliputi perubahan data perseroan yang mencakup perubahan direksi dan komisaris serta perubahan anggaran dasar perusahaan khususnya untuk Pasal 1 ayat 2. Selama perubahan itu, para direktur perusahaan mengalami pergantian beberapa kali. Namun, untuk posisi atau jabatan direktur utama tak sekali pun berganti nama. Uniknya, sang direktur utama, Anwar/Anwar Sarji, berdasarkan identitas yang tercantum di akta tercatat kelahiran tahun 1986. Itu artinya, ketika perusahaan ini dibentuk, yang bersangkutan masih sangat belia.

Berdasarkan perubahan data perseroan yang terakhir kali pada 2022, komposisi pengurus dan pemegang saham PT Sarjis Agung Indrajaya terdiri atas Anwar/Anwar Sarji sebagai direktur utama; Sukmayadi dan Syarifuddin sebagai direktur; serta Maya Sofa Trianti sebagai Komisaris. 

Lokasi Bimbel Khalifah yang terletak di persimpangan Jalan Mohd Jam I Banda Aceh. Foto: Tim KJI Aceh/ Ihan Nurdin

Untuk mengonfirmasi perihal proyek jembatan tersebut, kami menelusuri alamat perusahaan sebagaimana yang tercantum di dalam akte, yakni di Jalan Prof. A. Madjid Ibrahim I No. 10. Namun, di alamat tersebut justru lokasi usaha Bimbel Khalifah dengan nomor ruko 9–10. Salah satu staf di bimbel tersebut membenarkan jika ruko itu berada di alamat yang kami cari. Namun, ia tidak tahu-menahu tentang PT Sarjis Agung Indrajaya.

“Ruko ini milik owner bimbel ini,” kata staf yang enggan menyebutkan namanya itu, Senin (2/9/2024).

Alamat perusahaan yang tertera di akte berbeda dengan alamat yang tertera di portal pengadaan nasional Inaproc yang menampilkan informasi bahwa PT Sarjis Agung sedang di-blacklist. Selain menayangkan rencana pengadaan dan pengumuman pengadaan barang/jasa (PBJ) oleh kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan instansi, Inaproc juga memublikasikan perusahaan-perusahaan yang masuk dalam daftar hitam PBJ. 

Di Inaproc, perusahaan ini beralamat di Jalan AMD Manunggal No. 48 Dusun Ibrahim, Desa/Kelurahan Lamdom, Kecamatan Lueng Bata Kota Banda Aceh. Alamat ini sama dengan alamat yang tertera di situs indokontraktor.com, yakni situs milik perusahaan yang bergerak dalam media informasi bisnis, promosi, dan komunitas untuk industri konstruksi. 

Penelusuran di alamat ini juga tidak membuahkan hasil. Tidak ada rumah atau ruko yang teridentifikasi sebagai kantor PT Sarjis. Sementara titik lokasi di Google Maps yang tersemat di dalam profil di situs indokontraktor.com justru menunjukkan lokasi yang beralamat di Jalan Raja Mirah, Desa Cot Lamkuweuh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Sementara itu, di sebuah situs lowongan kerja loker.id, perusahaan tersebut mencantumkan alamat kantor cabangnya yang berada di Jalan Kebun Jeruk, Kembangan, Jakarta Barat. Pada tahun 2020, perusahaan tersebut pernah menerbitkan informasi lowongan kerja untuk posisi tenaga ahli atau personel K3 di kantor cabang Jakarta Barat. 

Bukan Blacklist Pertama

Penetapan daftar hitam pada tahun 2023 bukanlah yang pertama bagi PT Sarjis. Sebelumnya, pada tahun 2020, perusahaan itu juga pernah di-blacklist. Perusahaan itu kena blacklist selama satu tahun setelah terbitnya SK Penetapan Nomor: 180/SK/RSUD/V/2020 karena melanggar peraturan LKPP Nomor 17 Tahun 2018 Pasal 3 huruf g tentang penyedia yang tidak melaksanakan kontrak, tidak menyelesaikan pekerjaan, atau dilakukan pemutusan kontrak secara sepihak oleh PPK yang disebabkan oleh kesalahan penyedia barang/jasa. Masa berlaku sanksi terhitung sejak 22 Mei 2020 hingga 22 Mei 2021 dengan masa penayangan dimulai pada 8 Juni 2020. Anehnya, berselang hari sebelum jatuhnya sanksi, PT Sarjis ditetapkan sebagai pemenang untuk proyek pembangunan jembatan di bawah kewenangan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Aceh dengan tanggal kontrak 13 Mei 2020. 

Pada April 2023, DPRD Balikpapan juga dibikin kesal oleh PT Sarjis karena cakap tak serupa bikin terkait pembangunan SD dan SMP Terpadu di kompleks perumahan Balikpapan Regency. Bahkan, Ketua Komisi IV DPRD Balikpapan, Doris Eko Rian Desyanto, sebagaimana diberitakan pusaranmedia.com, meminta agar perusahaan diberikan SP 1 karena tak ada progres dari pekerjaan yang dilakukan. Ketika peninjauan ke lokasi oleh anggota DPRD Balikpapan, Dinas Pendidikan Kota Balikpapan selaku yang punya gawe telah memutus kontrak dengan PT Sarjis karena tidak mampu menyelesaikan proyek hingga akhir Desember 2023. Melewati trimester pertama tahun 2024, Disdik Balikpapan sedang dalam pengusulan daftar hitam.

Dengan sejumlah catatan PT Sarjis, wajar saja jika MaTA selaku salah satu lembaga swadaya masyarakat yang getol mengampanyekan antikorupsi di Aceh menjadi berang. MaTA lantas membuat pengaduan ke Direktur Penanganan Permasalahan Hukum Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Republik Indonesia di Jakarta Selatan. Dalam surat bernomor 033/B/MaTA/XI/2023 tanggal 24 November 2023 itu, Koordinator MaTA, Alfian, menegaskan jika Satker Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah I-Aceh patut diduga telah melanggar aturan.

Saat diwawancarai kembali terkait hal itu, Alfian membeberkan beberapa hal yang menjadi catatan sehingga pemenangan PT Sarjis perlu dipertanyakan.

“Pertama, jika kita lihat dari proses tender yang sudah dilakukan dan juga pemenangnya, itu kan bermasalah. Masalahnya adalah perusahaan yang memenangkan tender untuk pelaksanaan pembangunan jembatan tersebut berada dalam status daftar hitam (blacklist). Daftar hitam berarti perusahaan ini sebelumnya telah melakukan pelanggaran dalam pengadaan barang dan jasa,” kata Alfian.

Namun, pemerintah justru terkesan tutup mata sehingga tetap memenangkan perusahaan tersebut. Di sisi lain, MaTA juga menyayangkan sikap diam LKPP yang tidak menindaklanjuti aduan pihaknya. Padahal, menurut Alfian, LKPP memiliki kewenangan untuk merekomendasikan kementerian terkait agar proses tender bisa dilakukan ulang.

“Ini tidak biasa. Biasanya, ketika kami melapor ke LKPP dan menyurati mereka, ada respons positif,” kata Alfian.

Alfian mengkhawatirkan, jika ada pembiaran seperti ini akan terjadi lagi pada proyek-proyek APBN lainnya. Misalnya, proyek-proyek yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh. Ia menduga ada “main mata” antara panitia tender atau panitia lelang dengan perusahaan sehingga perusahaan yang sudah masuk daftar hitam malah bisa menang tender.

“Kami juga menyatakan bahwa tidak mungkin panitia pelelangan atau panitia tender tidak mengetahui perusahaan-perusahaan mana saja yang sudah di-blacklist,” kata Alfian.

Berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya kata Alfian, ketika suatu proyek terindikasi bermasalah dan begitu ada respons publik, langsung ada tindak lanjut dari pihak terkait. Di antaranya dengan melakukan tender ulang, meskipun pemenang lelangnya sudah diumumkan. Proses tender bisa dilakukan ulang jika ada temuan atau masalah yang dianggap serius. Namun, dengan tak adanya respons apa pun terhadap PT Sarjis, bahkan hingga menjelang rampungnya pekerjaan tersebut, MaTA menduga atau menaruh curiga ada yang mengendalikan proyek tersebut. Jika benar adanya, maka ini menjadi preseden buruk bagi proses pembangunan di Aceh yang masih mengedepankan praktik kolusi.

Sementara itu, Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional 1 Wilayah Aceh, Dedy Mandarsyah mengatakan seleksi tender pembangunan jembatan Blang Mane, Kecamatan Peusangan, Bireuen merupakan wewenang Balai Pelaksana Pemilihan Jasa Konstruksi (BP2JK) 1 daerah setempat. “Itu bukan wewenang kami,” kaya Dedy saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Sebagai upaya terakhir untuk mengonfirmasi direktur PT Sarjis, jurnalis mendatangi alamat yang tertera di situs steelindonesia.com, yakni di Jalan Perdamaian Lr. Cempaka Kuneng No. 67 Gampong Lampaseh, Kecamatan Kutararaja, Kota Banda Aceh. Alamat ini sesuai dengan alamat Anwar sebagaimana yang tertera di akta dan tercantum di Jalan Perdamaian Lorong Cempaka Kuneng. Meskipun, saat tiba di lokasi, nama yang tertulis di plang adalah Cempala Kuneng. Upaya ini membuahkan hasil, di alamat itulah Anwar tinggal.

Saat didatangi pada Selasa sore (3/9/2024), Anwar sedang berada di kediamannya. Mulanya Anwar merasa canggung menerima kedatangan jurnalis. Namun, setelah jurnalis menjelaskan tujuan kedatangan tersebut, suasana menjadi cair. Anwar membenarkan jika perusahaannya sedang dalam masa blacklist hingga November 2024. Karena itu pula, selama tahun 2024 ini hanya satu proyek yang ia kerjakan yaitu jembatan Blang Mane Bireuen. Ia juga merasa keberhasilan PT Sarjis mendapatkan proyek tersebut sesuai prosedur. 

“Blacklist itu sesudah kontrak kan. Waktu kita upload (berkas) belum keluar blacklist, kalau sudah akan tertahan dia,” katanya. 

Anwar juga tak menampik jika perusahaannya di-blacklist gara-gara pekerjaan yang tak selesai di Kalimantan Timur. Namun, ia mengaku jika perusahaannya dipinjam untuk mengikuti tender proyek tersebut. Namun, ia sendiri merasa heran mengapa di-black list pada bulan November 2023, sementera jangka waktu pengerjaan masih hingga Desember. Meskipun begitu, menurutnya mereka tidak merugikan negara karena ada jaminan asuransi.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Kepala BP2JK Wilayah Aceh, Soeryadi, S.T., M.T., belum membuahkan hasil. Jurnalis telah menghubungi dan mengirimkan pesan secara langsung ke nomor WhatsApp pribadinya pada Selasa (10/9/2024). Namun, hingga beberapa hari berselang, tak ada respons apa pun dari Soeryadi. Pada Jumat (13/9/2024), jurnalis mendatangi kantor LP2JK di Jl. Teungku Tanoh Abee, Kopelma Darussalam, Kec. Syiah Kuala, Banda Aceh. Namun, yang bersangkutan juga tidak berada di tempat. Sebagai langkah terakhir, jurnalis juga menyurati secara resmi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan apa pun dari pihak BP2JK Wilayah Aceh.[]

Tulisan ini merupakan hasil liputan kolaboratif yang dilakukan oleh Ihan Nurdin (perempuanleuser.com); Iskandar (ajnn.net); dan Rianza Alfandi (habaaceh.com) yang tergabung dalam Klub Jurnalis Investigasi (KJI) Aceh.

Peran Penting Masyarakat Sipil dalam Penyusunan Rancangan Teknokratik RPJM Aceh

0

Sejumlah peserta dari organisasi masyarakat sipil (CSO) mengikuti pertemuan dalam rangka penguatan kapasitas gerakan masyarakat sipil untuk memahami Rancangan Teknokratik RPJM Aceh dalam Perencanaan Daerah Tahun 2025—2029 yang diselenggarakan oleh Flower Aceh dan Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) di Hotel Fhandika Boutique Banda Aceh, Kamis (19/7/2024). Kegiatan ini berlangsung sehari penuh dan menghadirkan dua narasumber, yakni Cut Vivi Elvida dari Bappeda Aceh mewakili Kepala Bappeda Aceh, dan Abdullah Abdul Muthaleb dari Flower Aceh.

Cut Vivi Elvida, S.T., M.T. selaku Subkoordinator Kependudukan dan Kesejahteraan Sosial Bappeda Aceh yang tampil di sesi pertama mengawali paparannya dengan menjelaskan secara singkat apa yang dimaksud dengan RPJM teknokratik. RPJM teknokratik merupakan dokumen perencanaan yang dibuat oleh pemerintah daerah sebelum terpilihnya kepala daerah definitif. Penyusunannya menggunakan metodologi dan kerangka ilmiah untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah.

“Mengapa disebut RPJM teknokratik? karena belum masuk muatan politisnya, masih dilihat dan disusun berdasarkan sudut pandang akademik. Ini sifatnya masih draf sehingga masih terbuka masukan dari semua stakeholder baik pemerintah maupun nonpemerintah,” kata Cut Vivi.

Untuk memaksimalkan rancangan tersebut, Pemerintah Aceh melalui Bappeda Aceh melakukan FGD khususnya yang melibatkan mitra-mitra strategis Pemerintah Aceh, di antaranya, Sinergi dan Kolaborasi untuk Akses Layanan Dasar (SKALA) yang berkaitan dengan isu-isu kebijakan dan GEDSI; Unicef untuk isu-isu kesehatan; dan Flower Aceh.

Pada kesempatan itu, Cut Vivi memaparkan beberapa kondisi riil di Aceh yang selama ini sering menjadi sorotan publik. Misalnya, laju pertumbuhan ekonomi Aceh yang masih di bawah rata-rata nasional; kemiskinan kronis yang sulit diturunkan; pengangguran terbuka yang justru banyak terdapat di daerah perkotaan; angka prevalensi stunting yang masih lima “besar” nasional; dan cakupan imunisasi dasar lengkap yang juga masih rendah.

Di sisi lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Aceh cenderung naik dari tahun ke tahun. Data BPS menunjukkan, selama 2020—2023, IPM Aceh rata-rata meningkat sebesar 0,64 persen per tahun. Menurut Cut Vivi, naiknya IPM Aceh karena terdongkrak oleh IPM Banda Aceh yang mencapai angka 88,32 pada tahun 2023. Jauh melampaui angka nasional yang hanya 74,39 dan IPM Aceh 74,7.

Sementara untuk lima tahun berikutnya, sebagaimana yang tertuang dalam draf RPJM teknokratik, Aceh juga masih memiliki sejumlah “PR”, seperti 1) SDM yang masih rendah, 2) pertumbuhan ekonomi yang belum maksimal dan masih fluktuatif, 3) masih belum optimalnya tata kelola pemerintahan, 4) tingginya ketimpangan antarwilayah, 5) implementasi keistimewaan Aceh (pelaksanaan otonomi khusus, syariat Islam, korban konflik, dan perdamaian) yang belum optimal, dan 6) pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan serta ketahanan bencana yang masih rendah.

Untuk menyelesaikan berbagai persoalan tersebut, arah kebijakan pembangunan Aceh 2025—2029 menyasar lima fokus utama, yaitu: transformasi ekonomi; transformasi sosial; transformasi tata kelola pemerintahan termasuk pemerintahan desa; transformasi ketahanan sosial, syariat Islam, budaya, dan ekologi; dan transformasi fiskal.

Sementara itu, Abdullah Abdul Muthalib dalam pemaparannya di sesi kedua menjelaskan, merujuk pada UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, pendekatan teknokratik hanyalah salah satu pendekatan yang dilakukan pemerintah untuk menyusun RPJM. Masih ada tiga pendekatan lainnya yang perlu dilakukan untuk mematangkan penyusunan perencanaan tersebut, yaitu pendekatan politik, partisipatif, atas-bawah, dan bawah-atas. Secara umum, perencanaan pembangunan mencakup empat tahapan, yang terdiri atas penyusunan rencana, penetapan rencana, pengendalian pelaksanaan rencana, dan evaluasi pelaksanaan rencana.

Abdullah mengatakan, keberadaan berbagai dokumen perencanaan, mulai dari RPJP, RPJM, hingga rencana strategis ataupun rencana kerja instansi pemerintah adalah alat untuk mengukur komitmen pemerintah dalam melayani publik. Di sinilah menurutnya perlunya keterlibatan gerakan masyarakat sipil dalam memberi saran dan masukan agar dokumen yang disusun benar-benar berbasis pada kepentingan masyarakat.

RPJM teknokratik ini menurut Abdullah sangat penting karena dokumen inilah yang nantinya akan diserahkan kepada penyelenggara pilkada. Selanjutnya, penyelenggara pilkada akan menyosialisasikan dokumen tersebut kepada kontestan pilkada. Substansi dari dokumen inilah yang akan menjadi dasar bagi calon kepala daerah dalam menyusun visi misinya untuk diimplementasikan ketika terpilih dan menjabat nanti. Sebagaimana disampaikan Cut Vivi, visi misi kepala daerah terpilih nanti tidak akan meleset jauh dari RPJM yang disusun Bappeda karena isu-isu yang diangkat berangkat dari kondisi Aceh saat ini.

Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati, mengatakan pertemuan tersebut merupakan wadah untuk menyelaraskan persepsi jaringan masyarakat sipil di Aceh mengenai dokumen perencanaan daerah Aceh. Juga penting untuk meningkatkan pemahaman CSO mengenai alur tahapan dan tata cara penyusunan dokumen perencanaan daerah. Secara khusus, menjadi wadah bagi CSO untuk memahami gambaran umum yang berkaitan dengan isu GEDSI dalam rancangan teknokratik RPJMA 2025—2029.

CSO sebagai perpanjangan suara masyarakat sipil, terutama kelompok rentan dan marginal berperan penting dalam proses perencanaan pembangunan daerah agar berjalan secara adil, inklusi, dan berkelanjutan yang dapat mengakomodasikan kebutuhan dan hak setiap lapisan masyarakat.

Para peserta sangat antusias mengikuti pertemuan ini. Hal ini dapat dilihat dari animo peserta yang mengajukan pertanyaan atau saran kepada perwakilan Bappeda Aceh. Beberapa isu yang menjadi bahan diskusi mencakup isu kemiskinan dan pengangguran, penanganan stunting, dan pemenuhan hak-hak kelompok marginal di Aceh.

Adapun isu strategis pembangunan Aceh tahun 2025—2029 meliputi 19 isu, yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan penanggulangan stunting; pemerataan pendidikan, perkuatan pendidikan vokasi dan meningkatkan minat baca masyarakat; penanggulangan kemiskinan; peningkatan pendapatan perkapita dan memaksimalkan dan menstabilkan perumbuhan ekonomi Aceh; optimalisasi riset dan inovasi serta digital; membuka lapangan kerja dan meningkat produktivitas masyarakat; memperkuat industri pengolahan dan ekspor; mengembangkan produktivitas pangan dan ekonomi hijau; memperkuat perkotaan dan pendesaan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi; tata keolala pemerintahan yang berintegritas;  memperkuat otonomi khusus; kemandirian dalam ruang fiskal; memperkuat syariat Islam dan budaya Aceh; penanganan PMKS disabilitas, memperkat gender, dan keluarga; lingkungan dan energi terbarukan; pengurangan risiko bencana; memperkuat pembangunan kewilayahan; dan emperkuat prasarana dan sarana infrastruktur.[]

Sedekade YSEALI, Perempuan Aceh Gemparkan Panggung ASEAN

“Mungkin aksi kita tampak kecil bagi kebanyakan orang, tapi bisa jadi begitu berharga bagi seseorang. Sebab setiap tindakan kita itu berarti.”

Pernyataan Maulina Sari dari Yayasan Aceh Hijau ketika berada di atas benderangnya panggung studio @america di Jakarta disambut gemuruh tepuk tangan puluhan peserta berhadir. Moli, perempuan kelahiran Sigli ini, menjadi satu-satunya pembicara perwakilan Indonesia bersama tiga alumni YSEALI (Young Southeast Asian Leaders Initiative) lainnya yang berasal dari negara Singapura, Vietnam, dan Timor-Leste.

Sesi Youth Leadership and Social Impact ini merupakan bagian dari rangkaian acara The 2023 YSEALI Summit: Impact Showcase Workshop yang dilaksanakan sejak 27-30 Juni 2024 di Hotel Fairmont, Jakarta, Indonesia.

Agenda temu alumni YSEALI tersebut merupakan bagian dari penutupan acara YSEALI Summit 2023 yang dilaksanakan di Bali pada bulan Desember tahun lalu. Terdapat 150 pemudi dan pemuda dari 10 negara ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) plus Timor-Leste yang terpilih saat itu.

Namun, untuk sesi penutupan, hanya terseleksi 29 orang muda dari 11 negara. Tujuh di antaranya berasal dari Indonesia, dan 2 dari perwakilan negara zamrud khatulistiwa itu berasal dari Aceh, yaitu Moli dan saya sendiri.

Para Alumni YSEALI Summit 2023 yang berhadir pada acara penutupan tersebut merupakan orang muda yang dianggap berdampak terhadap perkembangan dirinya dan masyarakat di sekitaranya melalui program-program yang berhasil dijalankan setelah memperoleh dukungan Post-Summit Grants, Small Grants, dan/atau Professional Development Opportunities.

Saya selaku perwakilan Komunitas Perempuan Peduli Leuser berhasil menerima dua jenis hibah sekaligus, Small Grants dan Professional Development Opportunities. Melalui dukungan pendanaan itu, saya dan teman-teman perempuan menggelar program beasiswa penuh untuk pelatihan kepenulisan Jurnalisme Warga bagi 10 perempuan akar rumput di Aceh tanpa mengenal latar belakang pendidikan dan usia mereka.

Training secara daring dan luring yang turut mengajak peserta untuk terjun langsung ke Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) itu dilaksanakan pada Februari hingga Mei 2024 dengan tema Workshop and Field Trip to Leuser: Ecofeminism and Environmental Journalism (EEJ).

“Terima kasih kepada panitia karena sudah memilih saya. Walau saya ini seorang ibu rumah tangga tamatan SMA, tapi tidak dipadang sebelah mata.”

Papar Insra, peserta dari Aceh Tamiang, yang merasa diterima dengan baik oleh peserta lainnya dan juga panitia selama program EEJ berlangsung.

Pernyataan senada juga datang dari peserta termuda asal Gayo Lues. Dengan suara bergetar dan bulir air mata yang perlahan membasahi pipi, dia pun bercerita.

“Terima kasih telah memilih Naila yang memang masih di bawah umur, masih SMA, tapi kakak-kakak di sini dan panitia sangat welcome. Naila baru pertama ikut kegiatan seperti ini dan banyak belajar, bisa membuka pikiran terhadap isu-isu lingkungan termasuk isu air.”

Program Workshop and Field Trip to Leuser: Ecofeminism and Environmental Journalism (EEJ) ini tidak hanya menjadi program yang disukai dan bermanfaat bagi peserta secara lokal maupun global tetapi juga masuk dalam kategori program unggulan alumni YSEALI Summit.

Tak berhenti di situ, pada akhir Juni 2024, perempuanleuser.com melalui program Jurnalisme Warganya ikut terpilih menjadi satu dari dua media warga di Indonesia yang dianggap memiliki program dengan kategori paling menarik oleh @BaleBengong, sebuah portal jurnalisme warga asal Denpasar, Bali.

Saat diminta mengirimkan sepatah dua kata atas terpilihkan perempuanleuser.com sebagai media penerima AJW (Anugerah Jurnalisme Warga) 2024, saya pun berkata.

Voicing the voiceless, menyuarakan suara-suara terbungkam merupakan salah satu cita-cita besar media perempuanleuser.com. Terpilih sebagai salah satu media dengan program terbaik, Jurnalisme Warga, merupakan sebuah kesyukuran besar bagi kami. Ini merupakan langkah awal. Bukan hal yang berhenti pada selebarasi. Semangat terus untuk semua media. Salam sukses.”

Demikian cerita singkat dari panjangnya perjalanan program yang telah kami tempuh. Tentu merupakan kesyukuran tersendiri bagi saya dan teman-teman perempuan Aceh untuk menerima ragam kesempatan untuk berkarya dan berkontribusi nyata secara lokal dengan kualitas kerja yang terakui dalam skala nasional bahkan internasional, terutama di wilayah ASEAN.

Perempuan Aceh di Kancah ASEAN

YSEALI merupakan salah satu program pelatihan kepemimpinan dari pemerintahan Amerika Serikat untuk meningkatkan keterampilan generasi muda dari negara-negara Asia Tenggara.

Ayu ‘Ulya – Farwiza Farhan – Maulina Sari (kiri ke kanan)

Hingga saat ini, sudah banyak alumni program YSEALI yang tersebar di berbagai penjuru ASEAN. Negara-negara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) adalah Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Myanmar, Vietnam, Thailand, Filipina, Kamboja, Laos, dan Timor-Leste yang sedang dalam proses bergabung.

Pada pergelaran YSEALI Summit: A Decade of Impact yang dihadiri oleh 150 pemimpin muda ASEAN dari 11 negara, ada 28 alumni YSEALI Indonesia yang terpilih, dua di antaranya berasal dari Provinsi Aceh; Maulina Sari dan Ayu ‘Ulya. Hingga kini, Provinsi Aceh telah memiliki puluhan alumni YSEALI dari berbagai program dan bidang keahlian.

Salah satu hal paling menarik dari perayaan 10 tahun program YSEALI untuk negara-negara ASEAN yang digelar di Bali pada tanggal 3-8 Desember 2023 itu adalah kehadiran salah satu pembicara utama asal Aceh. Dia adalah Farwiza Farhan dari Yayasan HAkA (Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh).

This is the landscape (Leuser Ecosystem) that I love. This is the landscape that turned me to be a changemaker,” sebut Wiza, panggilan akrabnya, ketika hadir pada pembukaan acara YSEALI Summit: A Decade of Impact di Aula Prama Hotel Sanur, Bali.

A changemaker is someone who embodies the fear of innovation, empathy, and resilience. It is someone who not only envisions a better world but the tangible action to bring those visions alive. You are here because you are the changemakers. You are here because you understand the power of collaboration, empathy, and futility in a complex issue. You are here because, at some point in your life, you want to make a difference.

Farwiza Farhan memaparkan, “Pembuat perubahan adalah seseorang merangkul rasa takut akan inovasi, memiliki empati, dan juga ketangguhan. Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya membayangkan dunia yang lebih baik tetapi juga melakukan tindakan nyata untuk mewujudkan visi tersebut. Kalian berada di sini karena kalian adalah orang-orang yang membuat perubahan. Kalian berada di sini karena memahami kekuatan kolaborasi, empati, dan potensi kegagalan pada pemecahan masalah yang kompleks. Kalian berada di sini karena di suatu titik lini masa kehidupan yang ditempuh, kalian merindukan perubahan.”

Sebagai pembicara utama pertama, Wiza, perempuan Aceh yang membawa tema “Everyone is a Changemaker” mendapat berkali-kali anggukan dan meriahnya tepuk tangan dari para alumni YSEALI yang berhadir di pagi itu.

Sungguh efek domino dari segala hal itu nyata adanya. Kehadiran Wiza yang hangat, cerdas, dan profesional pada pergelaran YSEALI Summit: A Decade of Impact, disadari atau tidak, memberikan dampak positif sekaligus beban yang nyata kepada saya dan Moli sebagai perempuan yang juga berasal dari Aceh.

Ringkasnya, tanpa saling tahu, saat di Bali ternyata saya terpilih sebagai satu-satunya pembicara perwakilan Indonesia di sesi unconference YSEALI Summit: A Decade of Impact dengan tema ‘Building and Managing Community‘ pada 7 Desember 2023. Adapun Moli terpilih menjadi satu-satunya pembicara perwakilan Indonesia pada penutupan acara YSEALI Summit 2023 Impact Showcase pada 29 Juni 2024 di Jakarta. Tiga perempuan Aceh terpilih untuk mewakili Indonesia selama panjangnya proses acara menyambut sepuluh tahun program YSEALI untuk ASEAN.

Ayu ‘Ulya dalam sesi unconference YSEALI Summit: A Decade of Impact di Bali

Walau Aceh kerap dikenal dengan berbagai framing berita seputar sejarah konflik bersenjata, megatsunami, bahkan simpang siur pengaplikasian Syariah Islamnya, pada momentum YSEALI Summit ini ada angin segar untuk kehadiran orang muda Aceh di panggung ASEAN melalui jalur aksi dan prestasi. Tentu saja, berkat rahmat Allah dan didorong oleh keinginan luhur mengharumkan nama Indonesia dan juga Aceh, keberhasilan tersebut dapat diukur melalui respons yang sangat positif dari para peserta yang menghadiri sesi-sesi kami.

Namun uniknya, dari beragam momentum berharga yang terjadi, entah bagaimana kami bertiga—secara langsung maupun tidak— tetap saja mendapatkan respons mengejutkan yang serupa dari orang-orang di ruang, waktu, dan tempat berbeda melalui pernyataan rasa tanya yang cukup familiar;

“Beneran asli orang Aceh?!”

Kreatifnya Saudi, Mengubah Sampah Menjadi Rial Bernilai Triliunan


Oleh Amrina Habibi*

Bisa berhaji adalah mimpi saya sejak lama. Keinginan dan motivasi berhaji selalu muncul dan tumbuh dalam diri saya sejak kecil. Almarhumah nenek yang saya panggil Chik, dengan konsisten membangun semangat itu sejak saya bocah.

Setiap malam menjelang tidur, Chik selalu bercerita banyak hal, terutama soal sejarah, silsilah antarkeluarga, dan tema khusus tentang haji. Chik menceritakan pengalamannya berhaji ke Mekkah dengan kapal laut melalui Collen Station di Sabang. Butuh waktu yang sangat lama. Beliau berhaji dan berada di Arab selama tiga tahun untuk mendampingi seorang pocut (istri ulee balang) dari Samalanga. Chik yang pernah merasakan hidup di masa penjajahan Belanda dan Jepang, berpulang ketika saya kelas 2 SMA di tahun 90-an. Cerita-cerita Chik tentang haji melekat di benak saya. Alhamdulillah, saya bisa menunaikannya pada musim haji tahun ini.

Satu kalimat yang selalu Chik ucapkan adalah “la’ matis tahi“. Jangan enggak ada malu ya, terutama kalau mau menegur sebuah tindakan buruk saya. Setelah menikah baru saya menyadari, wah, ternyata itu pengasuhan yang positif karena Chik selalu berusaha lembut. Menegur, tapi tidak dengan cara yang kasar.

Satu hal yang menjadi perhatian serius saya saat berhaji adalah soal kebersihan. Di tanah haram, terutama pada fasilitas publik seperti masjid dan jalan sangat bersih. Tidak pernah sekali pun saya melihat tumpukan sampah atau mencium aroma tak sedap yang berasal dari sampah. Ke mana mereka membawa sampah-sampah yang cukup banyak itu? Untuk menjawab rasa penasaran itu, akhirnya saya mengirimkan pesan melalui WhatsApp kepada seorang abang kelas yang sudah sangat lama menetap di Arab Saudi. Jawabannya sungguh membuat saya kagum. Pemerintahah Saudi sangat ketat dalam mengontrol sampah dan limbah, terutama untuk menjaga kebersihan di Kota Mekkah dan Kota Madinah.

Setiap tahunnya negara Saudi menghasilkan sampah sekitar 106 juta ton. Bagi Saudi, sampah tersebut bukannya menjadi beban, malah menjadi uang masuk. Salah satu sumber produktif yang menghasilkan lembar-lembar rial. Berdasarkan penjelasan abang kelas saya, ada sekitar Rp457 triliun pemasukan yang diperoleh Pemerintah Saudi dari sampah dan limbah. Sambil bercanda ia mengatakan dengan jumlah itu bisa membangun IKN. Dana yang besar itu bersumber dari beberapa klaster, seperti dari penangangan sampah yang dihasilkan dari retribusi sampah, hasil pengolahan sampah daur ulang, dan sampah padat. Pengelolaan sampah dan limbah di Saudi ternyata bisa membuka lahan pekerjaan baru yang bisa menyerap hingga 77 ribu tenaga kerja.

Alangkah kerennya kalau pemerintah kita juga bisa berinovasi seperti itu. Karena semakin hari, semakin bertambah jumlah pengangguran di daerah kita. Tak terkecuali para pengangguran akademik yang bisa menimbulkan banyak masalah. Kerentanan ekonomi pada individu atau kelompok masyarakat dapat memicu meningkatnya angka kekerasan dalam rumah tangga, bahkan pemerkosaan terhadap anak yang dilakukan oleh ayah kandung atau orang terdekat. Ironisnya lagi, anak-anak yang dibesarkan dalam kondisi ekonomi keluarga yang buruk terpaksa harus bekerja di usia dini. Hal ini memicu mereka untuk mengemis atau melakukan pekerjaan berat. Beban hidup telah merampas hak-hak dasar anak untuk bersekolah, bermain, atau beristirahat.

Saudi punya 1.300 lebih pusat pengolahan sampah dan limbah yang di antaranya tersebar di Riyadh, Jubail, dan Yanbu. Mereka punya divisi pengolahan sampah rumah tangga, sampah padat, sampah elektronik, hingga sampai limbah cair. Alat-alat dan pengolahan sampah modern banyak yang menggunakan sistem pembakaran (incenerator). Uniknya, pembakaran tersebut tidak menghasilkan debu karena cerobong asap akan disemprot dengan air untuk menghindari polusi udara.

Piring-piring plastik dan aluminium yang tiap hari kami gunakan sebagai wadah makanan dan minuman ternyata didaur ulang kembali oleh bagian yang bernama Al Qaryan. Jadi, jangan heran jika di restoran atau rumah tangga tak ada “sesi” cuci piring yang melelahkan. Kalaupun ada yang harus dicuci hanya wadah untuk memasak. Di restoran mana pun kita makan, besar atau kecil, tak terkecuali di Zam Zam Tower, tetap saja menggunakan wadah plastik.

Tentunya setiap selesai makan ada juga potensi makanan yang mubazir termasuk dari sisa makanan catering pengelola haji yang kurang diterima oleh lidah jemaah. Ternyata juga ada unit khusus yang menangani sampah makanan untuk didaur ulang menjadi pupuk dan yang menanganinya adalah Tadweer.

Apakah perempuan terlibat dalam pengelolaan sampah ini? Saudi masih sangat ketat dalam gerakan pengarusutamaan gender atau gender mainstreaming. Pelibatan dan keterwakilan perempuan telah dibuka di mana-mana, tetapi masih terbatas pada orang lokal. Perempuan juga tidak bekerja pada sektor-sektor yang “kasar”, tetapi lebih pada urusan administrasi. Pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan di Saudi umumnya tidak mengandalkan otot, tetapi mengandalkan kompetensi intelektual.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah jemaah haji cukup bisa merespons kebijakan pengelolaan sampah ini dengan baik? Dalam pandangan pribadi saya terhadap hal ini, rasa-rasanya dibutuhkan kapasitas yang lebih teknis untuk mendorong perubahan perilaku dan penyesuaian jemaah dengan kondisi setempat. Keadaan di Saudi tentunya berbeda jauh dengan kondisi di kampung halaman kita. Kesimpulan sederhana saya, hal tersebut harus dimaknai “halus” seperti hati perempuan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor dan kondisi. Misalnya, bisa dilihat pada beberapa perilaku seperti tidak menyiram closet usai buang hajat karena ketidakcakapan penggunaan teknologi dan model closet yang sangat berbeda seperti di kampung halaman. Selain itu, juga tidak terbiasa meludah ke tong sampah yang telah disediakan khusus karena kebiasaan meludah di tanah. Hampir semua lantai sudah permanen, apalagi di kawasan masjid. Jalan-jalan yang tadinya kita lewati dan mungkin sempat kita ludahi, bukan tidak mungkin akan berubah menjadi tempat kita bersujud di lain waktu. Belum lagi masih ada tisu, pembalut, atau pampers bekas pakai yang tidak dibungkus dan tidak dibuang ke tempatnya.

Di lain sisi, yang menjadi perhatian adalah soal ketersediaan tong sampah yang terlalu kecil di kamar hotel. Antara jumlah penghuni kamar dengan kapasitas tempat sampah tidak sesuai. Terkait ini perlu dilihat dari dua sisi. Pertama, tong sampah hanya digunakan untuk menampung sampah kering yang tidak berbau. Untuk kotak nasi atau wadah makanan dan makanan sisa tidak dimasukan ke dalam tong sampah, tetapi ke dalam plastik besar atau langsung disetor ke tong besar di luar kamar. Selama di Mekkah, pada setiap lantai hotel terdapat tong besar yang dalam sehari akan diambil dan diganti sebanyak dua hingga tiga kali. Kalau ada laporan kepada manajer hotel mungkin bisa bertambah.

Jadi, intinya, menurut penjelasan abang kelas saya, jika ada kemauan dan manajemen yang bagus, persoalan sampah ini pasti mampu diatasi. Begitu juga dengan pengelolaan limbah di tempat kita yang masih karut-marut. Bahkan, saya dan rekan-rekan sebagai verifikator Kota Layak Anak (KLA), sering merasa miris ketika melakukan verifikasi ke lapangan. Predikat KLA mestinya beriringan dengan kebijakan kota hijau, kota inklusi, atau kebijakan lain yang berpihak pada pemenuhan hak-hak anak. Namun, yang sering kami temui di lapangan justru tumpukan sampah di mana-mana. Berbeda dengan apa yang tertulis di lembar-lembar dokumen.

Harapannya, siapa pun yang menjadi pemimpin, haruslah memenuhi kriteria sebagai pemimpin yang baik, jujur, amanah, dan cerdas. Sehingga bisa membangun Aceh di segala aspek, termasuk menuntaskan persoalan sampah.[]

Penulis adalah Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Aceh