Beranda blog Halaman 5

Banyak Hal yang Terjadi di Luar Akal Sehat

Di masa konflik, banyak hal yang terjadi di luar akal sehat. Sedangkan di masa damai, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Hafsah binti Abdullah (58)
Warga Gampong Keude Dua, Kecamatan Darul Ihsan, Kabupaten Aceh Timur

Saya mulai menyadari ada sesuatu yang tidak “beres” di Aceh sejak tahun 1980-an. Saat itu saya belum menikah. Kebetulan orang tua saya berasal dari Pidie–salah satu basis konflik yang sangat parah. Pada masa itu, orang-orang belum memiliki sarana MCK di dalam rumah seperti sekarang. Alhasil, ketika mereka ingin BAB harus pergi ke sungai atau ke kebun di sekitar rumah.

Saya ingat sekali, salah satu tetangga memperingatkan saya untuk berhati-hati jika ingin BAB di malam hari. Katanya, nanti bisa kepergok dengan “orang-orang” yang kemungkinan ada di dekat rumah-rumah warga.

Siapa orang itu? Katanya AM. Apa itu AM? Belakangan saya baru tahu kalau itu singkatan untuk Aceh Merdeka.

Setelah menikah, saya ikut suami ke Aceh Timur. Kami tinggal di pedalaman Kecamatan Idi Rayek. Memasuki tahun 1990-an, desas-desus mengenai sesuatu yang tidak beres itu semakin nyata. Kehidupan kami yang semula tenang menjadi terusik sehingga harus mengungsi.

Itulah untuk pertama kalinya saya merasakan menjadi pengungsi, pada awal tahun 1990-an. Setelah situasi agak tenang, kami kembali lagi ke kampung. Lebih dari separuh warga kampung kami yang suku Jawa tak kembali lagi.

Pada tahun 1999, situasi kembali memanas, kami kembali mengungsi. Saya kira, saya masih bisa kembali ke kampung seperti sebelumnya. Ternyata, sampai hari ini kami tak kembali lagi ke sana. Rumah kami terpaksa dibongkar. Sedangkan rumah salah satu keluarga saya dibakar OTK. Beberapa kerabat saya memutuskan untuk menetap di Sumut.

Hingga beberapa tahun setelah itu kami tinggal di rumah orang. Mencari nafkah sangat sulit saat itu. Para suami tak bisa ke kebun tanpa ditemani istri. Tapi, ada juga peristiwa memilukan. Seseorang yang saya kenal, istrinya suku Jawa–justru ditembak oleh OTK saat sedang memetik cokelat.

Selain punya kebun, suami saya juga pedagang hasil bumi. Truk kami pernah diancam bakar oleh awak nanggroe. Ancaman yang kami rasakan dari kedua belah pihak. Suami saya termasuk segelintir laki-laki di kampung kami yang memilih untuk tetap bertahan di kampung pada saat itu. Pernah ada tentara yang mengomel, katanya asal mereka masuk ke kampung kami jarang sekali terlihat ada laki-laki.

Pada masa itu, kabar kematian menjadi “makanan” sehari-hari kami. Telinga kami terbiasa mendengar suara letusan senjata, suara ledakan, suara panser dan truk reo yang horor, hingga suara helikopter yang datang untuk mengambil mayat. Saya pernah melihat jasad yang masih menggelepar-gelepar setelah ditembak, pernah melihat jasad yang lututnya terpelintir. Semua ingatan itu masih terang di ingatan. Suami saya juga pernah dipukuli oleh TNI hingga bergeser tulang rusuknya.

Di masa konflik, banyak hal yang terjadi di luar akal sehat. Misalnya, kendaraan jenis RX King atau GL Pro, termasuk baju mantel dianggap identik dengan GAM. Saat terjadi perang besar di Idi Rayek, saya terpaksa mencemplungkan mantel suami saya ke sumur. Kemudian, jika rumah kita pernah atau sering didatangi aparat, justru dicurigai oleh pihak GAM. Begitu terjepitnya keadaan masyarakat saat itu.

Damai ini tentu harus disyukuri. Ini anugerah dari Allah. Setelah damai mencari nafkah menjadi lebih tenang. Tapi, saya lihat, yang kaya kaya terus, yang miskin miskin terus. Orang-orang di kampung saya masih banyak yang kesulitan mencari pekerjaan. Bahkan salah satu tetangga saya yang suaminya korban peristiwa berdarah PT Bumi Flora, sampai hari ini masih tinggal di tanah wakaf.[]

Saya Pernah Ditodong Pistol

Rasanya sangat nikmat bisa tidur di tempat tidur lagi, bukan di kolongnya seperti pada masa konflik.

Musni (48)
Warga Gampong Pawoh, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya

Sekitar tahun 2001—2003, saya bekerja sebagai operator di sebuah wartel di Kota Blangpidie. Wartel itu berada di bagian belakang sebuah kafe yang cukup laris.

Masa itu, ada banyak pos aparat dibangun di Blangpidie, sepanjang jalan menuju Susoh, juga di jalan menuju Tapaktuan.

Sedikit pengalaman “menarik”, saya pernah ditodong pistol, diancam akan dibunuh, karena saya meminta agar para pelanggan yang masih duduk di kafe untuk beranjak. Sebab hari itu hari Jumat, menjelang salat, jadi kafe dan wartel akan ditutup.

Rupanya, salah satu pelanggan tak terima. Dia mengejar saya ke belakang, pistol di tangan.

Saya lari ke wartel, cepat-cepat mengunci pintu lalu menelepon abang sepupu di Pos SGI.

Sambil menunggu abang saya datang, saya gemetaran mendengar pelanggan berbaju loreng di luar berteriak-teriak sambil menendang dan berusaha mendobrak pintu wartel.

Syukurlah, abang saya segera datang. Peristiwa itu berakhir damai. Rupanya pangkat abang saya lebih tinggi, sehingga setelah diajak bicara oleh abang saya, pelanggan yang anggota TNI itu tidak pernah merusuh lagi di kafe.

Masa itu sangat tegang, saya jarang berani tidur di kampung (Pawoh), dan memilih tidur di rumah kakak saya di Blangpidie. Sebab di kampung setiap malam suasana sangat mencekam.

Orang laki semuanya bersembunyi menyelamatkan diri, takut akan “diangkat” aparat. Kami pun tidur di lantai, karena takut terkena peluru nyasar bila terjadi kontak senjata.

Waktu tentara (nonorganik) ditarik pulang, saya merasakan kelegaan. Saya kembali berani tidur di kampung.

Semoga Damai Berlangsung Abadi

Saya bersyukur dengan apa yang sudah kami dapat, tapi kan tidak salah kalau kami berharap dapat meningkatkan hidup kami?

Cut Fahmeulu (39)
Warga Dusun Merpati, Gampong Blang Oi, Banda Aceh

Kampung saya di Lhoong, Aceh Besar. Masa konflik saya masih duduk di bangku SMP. Waktu itu, terutama masa referendum, setiap kali patroli aparat lewat, kami anak-anak sekolah diwajibkan (oleh GAM) untuk berdiri di ambang pintu atau di teras rumah, sambil meneriakkan yel-yel: :ACEH MERDEKA! ACEH MERDEKA! REFERENDUM YESSS!!!

Ada abang-abang dan kakak-kakak mahasiswa yang kerap datang ke kampung untuk sosialisasi tentang referendum. Kami iya iya saja, karena anak SMP apalah yang kami ketahui.

Bukan mau sombong, gadis di kampung saya terkenal elok. Banyak kawan saya yang lebih tua (usia 17-20 th) pacaran dengan aparat yang bertugas di pos-pos yang didirikan di seputar kampung saya. Sedihnya, ketika hubungan mereka dengan serdadu Indonesia diketahui (oleh GAM), tidak sedikit dari mereka malam-malam dibawa ke gunung. Ada yang setelah dua-tiga hari dikembalikan dalam kondisi stres dan trauma, tapi banyak juga yang tidak kembali.

Masa itu, kami sering sekali mendengar letusan senjata, bahkan tembakan beruntun minimi. Setiap kali mendengar tembakan, kami cepat-cepat tiarap. Kontak senjata terjadi tak kenal waktu, cukup sering ketika kami pulang sekolah mendadak terdengar tembakan. Kami semua buru-buru tiarap, tak peduli di jalan, lumpur atau resam berduri. Yang penting selamat.

Masa remaja saya rasanya mencekam sekali, karena terus-terusan terjadi kontak senjata, juga penculikan. Kalau ke gunung, kami juga cukup sering menemukan mayat. Ketika akhirnya damai terjadi, rasanya seperti surga hidup ini.

Saya berani ke mana-mana, bahkan sendiri pun berani. Kami pun berani memulai usaha, dan menjalani hidup dengan tenang. Hanya, makin lama kenapa makin sulit bagi kami untuk mengembangkan usaha, ya? Harga barang naik semakin tinggi sementara modal kami segini-gini saja.

Tadinya kami berharap, damai akan membawa kemakmuran. Saya bersyukur dengan apa yang sudah kami dapat, tapi kan tidak salah kalau kami berharap dapat meningkatkan hidup kami?

Suami pernah mencoba menjadi sopir ojol, tapi tak bertahan lama karena bagian keuntungan dari aplikasi untuk supir sedikit sekali. Sekarang alhamdulillah anak saya yang sulung sudah bekerja, jadi beban kami sudah berkurang. Semoga damai berlangsung abadi.[]

Tak Ingin Menukar Damai dengan Apa Pun

Itu masa-masa paling buruk dalam hidup saya. Alhamdulillah, semua sudah berlalu. Saya tidak ingin menukar damai ini dengan apa pun.

Martini binti Zakaria (74)
Warga Dusun Pawoh, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya

Masa konflik itu sangat menegangkan bagi saya. Ada masa ketika (GAM) menyuruh seluruh gampong di Aceh Barat Daya menaikkan bendera bulan bintang. Mereka yang tidak memasang, dipukuli atau dibawa ke gunung.

Kampung kami (Susoh) tidak terlalu ditekan untuk memasang bendera, mungkin karena dekat Pos SGI. Tapi kampung-kampung lain seperti Babahrot, Kuala Batee, dll. yang dekat ke gunung, mereka (GAM) memeriksanya ke setiap rumah, apakah ada bendera bulan bintang.

Di kampung-kampung itu, GAM juga meminta dua anak muda untuk dilatih kemiliteran setiap pagi. Ada si X, sekarang ini dia bidan, karena adiknya yang laki-laki sakit-sakitan, dia mengajukan diri untuk dilatih. Memang si badannya tinggi gagah.

Karena dia mengerti ilmu kesehatan, orang itu (GAM) hormat padanya. Selama konflik keluarga dia aman, karena teuntra pun respek pada orang kesehatan.

Saya pernah menemukan jenazah orang tersangkut di pagar tetangga. Orang itu bukan orang kampung kami. Entah dari mana. Kondisinya menyeramkan, karena matanya dicongkel, lalu dipasakkan di keningnya. Beberapa jarinya juga tidak ada.

Anak saya yang laki-laki, waktu itu (di masa DOM) kuliah di Banda Aceh. Tapi sesudah referendum dia pulang. Nah, ketika dia di kampung itulah penyakit asma dan asam lambung saya tambah menjadi, karena cemas akan keselamatan dia.

Setiap malam saya sembunyikan anak saya di kandang bebek, supaya tidak ketahuan oleh TNI dan orang itu (GAM).

Anak-anak muda lain juga tidak ada yang tidur di kampung, semua bersembunyi. Masa itu saya tidak berani salat Subuh di masjid.

Saya juga mencemaskan menantu saya. Sebab walau pun dia tinggal di Blangpidie, tapi dia punya beberapa kebun yang harus diurus. Setiap kali dia pergi mengurus kebunnya, saya tidak berhenti berzikir, mendoakan keselamatannya.

Dari rumah mantu saya di Kuta Tuha, Blangpidie, kita bisa mendengar suara tembakan di arah gunung. Anak tetangga kami, seorang perwira polisi, setiap pulang sekolah selalu dijemput mobil polisi. Bahkan satu kali pernah dijemput dengan mobil yang macam tank itu (mobil lapis baja).

Ketika abang sulung kami di Banda Aceh meninggal, kami sesaudara naik L300 ke Banda Aceh.

Perjalanan memakan waktu lama karena setap kali melewati pos aparat, kami harus berhenti.

Mereka (aparat) mencari orang yang mengenakan peci dan menyelindang sarung, karena itu dianggap tanda orang GAM.

Di salah satu pos, kedua abang saya yang pergi bersama kami sempat mengalami kekerasan, ditampar dan dipukul perutnya. Lalu mereka disuruh tiarap di pinggir jalan. Adik bungsu saya menangis-nangis, berkata bahwa keduanya adalah abang kami, kami akan ke Banda Aceh karena abang kami yang tertua meninggal.

Setelah itu, kedua abang kami dilepas, kami boleh melanjutkan perjalanan. Tapi perjalanan kami begitu lambat karena pos yang kami lalui begitu banyak, sehingga keponakan kami, anak abang kami, yang bekerja di Jakarta, sudah sampai lebih dulu di Banda Aceh.[]

Anak Saya Direnggut Konflik, Cucu Saya Direnggut Tsunami

Luka masa konflik jangan terulang lagi. Rawatlah lewat kesejahteraan masyarakatnya.
_Meridum | 80+_

Saya Meridum. Saya lahir pada masa Jepang hengkang dari Indonesia pada tahun 1945, di Nagan Raya.

Tidak ada tanggal pasti mengenai hari kelahiran saya. Kata orang tua saya, saya lahir ketika Jepang “plueng” (lari) dari Aceh. Dan ketika itu awal kemerdekaan sangat menyedihkan karena jangankan pakaian, makanan pun masih sangat sulit untuk diperoleh.

Ketika saya beranjak remaja hingga menikah, saya merasakan juga konflik Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Aceh yang terjadi pada tahun 1953 dan berakhir pada tahun 1962. Ketika itu banyak kerusuhan terjadi dan banyak juga yang meregang nyawa.

Yang paling menyayat hati juga yaitu konflik bersenjata antara GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia.

Selaku orang awam yang tinggal di kampung bagian pante di Aceh Barat, sangat dekat hutan dan harus menyebrangi sungai. Setiap hari suara tembak terdengar. Tak jarang saya harus mengungsi ke sana kemari karena takut anggota baju loreng atau orang GAM datang ke kampung.

Masa itu, tahun-tahun genting kami hadapi dengan penuh air mata. Kami punya kedai usaha kelontong tapi tak bisa memutar modal dan sering merugi.

Kadang mereka yang mengaku GAM atau baju loreng tak jarang mengancam keluarga agar dibebaskan untuk masuk ke kedai dan mengambil barang sesukanya.

Kejadian yang tak bisa saya lupakan seumur hidup saya yaitu pada tahun 2003, ketika saya berdoa dan berharap keluarga saya tetap utuh, termasuk anak- anak saya.

Saya hanya mempunyai satu anak laki-laki yang hidup sampai dewasa dan berkeluarga di Aceh Jaya dan tinggal di sana. Saya tinggal dengan anak perempuan saya dan membantunya berjualan di keude.

Anak laki laki saya bekerja sebagai penjual kayu tiang rumah. Ia juga teungku yang belajar di Dayah Tanoh Ano, dan bergaul dengan siapa pun termasuk orang GAM yang sering masuk ke hutan.

Ternyata, ia dicurigai oleh pihak baju loreng. Sebenarmya orang baju loreng juga sering berjumpa dan bertegur sapa dengannya. Tapi ada satu komandan yang mencuriagai anak saya sebagai pihak GAM.

Suatu hari, anak saya sedang berwudu di sumur belakang rumahnya yang terbuka. Hanya ada bilik mandi yang terbuat dari kayu. Namun, mengambil air harus dengan timba.

Magrib itu, ia sedang membasuh wajahnya sambil membungkuk. Tiba-tiba … dooorrr! Suara tembak berbunyi keras mengenai pelipisnya.

Lalu ada utusan yang datang dari Aceh Jaya menemui saya. Dia mengatakan, “Aneuk Mak teungoh peureule keu Mak, yak tajak laju.”

Katanya anak saya sedang membutuhkan saya, dia mengajak saya bergegas.

Hati dan perasaan saya langsung tidak enak. Saya meurateb (berzikir) di sepanjang perjalanan. Tanpa saya sadari, saya sudah merasakan sesuatu yang menyakitkan tentang anak saya, walaupun tidak dikatakan anak saya ka habeh umu atau sudah berpulang kepada Ilahi.

Jarak terasa jauh karena dari tempat saya tinggal di Pante Cermen harus menyebrangi sungai dengan rakit. Lalu naik mobil dari kampung ke kota. Mencari mobil sewa de kota Melaboh untuk sampai ke Teunom.

Sesampai saya ke rumahnya, saya melihat anak saya terbujur kaku pucat tak bernyawa. Betapa hancurnya hati saya ketika itu.

Apa pun itu, dan siapa pun itu penembaknya, saya tidak mau mencari tahu karena anak saya telah hilang nyawanya.

Dan konflik itu sangat menyakiti hati saya. Hidup dalam ketakutan dan masih trauma dengan kejadiannya.

Kehilangan saya rupanya tak berhenti sampai di situ. Ketika tsunami terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004, cucu saya–dari anak perempuan sulung saya–yang tinggal di Banda Aceh juga hilang tak diketahui jasadnya.

Setelah itu baru terjadi perdamaian dan tidak terdengar suara tembak atau kericuhan konflik.

Saya sudah mengalami kesulitan, kesedihan, dan sakit selama konflik. Saat ini ketika sudah damai, harapan saya, rawatlah dan sejahterakan rakyat, berikan pendidikan untuk anak-anak saat ini. Sejahterakan masyarakatnya dari semua sisi baik ekonomi dan sosialnya.[]

Teks dan foto dikirim oleh Sarah

Rakyat Sipil yang Menjadi Korban Itu adalah Guruku

Damai itu adalah kebebasan bergerak dalam menjalankan kehidupan yang normal.

Hari itu di tahun 2002, aku masih kelas VI SD. Suatu pagi, di halaman sekolah yang seluas lapangan bola kaki, para siswa dengan seragam merah putih asyik menikmati waktu senggang sebelum bel masuk kelas bunyi. Ada yang asyik main bola, main petak umpet, main lompat-lompat karet, ada juga yang asyik menjaga dagangan (jajanan), termasuk aku salah satunya. Hari-hari terakhir kami di sekolah karena tak lama lagi akan memasuki ujian akhir nasional.

Sudah menjadi patokan bagi kami para siswa, jika motor Honda Super Cub 80 yg ditunggangi oleh Guru Matematika sudah terparkir di halaman kantor guru, tak lama kemudian bel pasti bunyi.

Namun, pagi itu, sudah lewat dari waktu biasanya, tapi bel masuk kelas belum juga dibunyikan. Tentunya itu yang sangat diharapkan oleh hampir semua siswa, sampai kemudian terjadi sesuatu. Alih-alih suara bel, justru terdengar suara dentuman senjata yang memecahkan suasana.

Semua siswa lari ke kelas. Sedangkan aku, entah kenapa justru lari ke kantor guru, mungkin karena posisiku lebih dekat dengan kantor.

Tidak lama kemudian, salah seorang warga dari desa sekitar sekolah muncul dan menerobos ke kantor dewan guru. Dengan napas terengah-engah beliau mengatakan, bahwa salah seorang guru kami ditembak.

Suasana kantor langsung histeris. Guru-guru bergegas ke luar. Kepala Sekolah langsung bergegas dengan motornya. Beberapa guru lain menuju ke lokasi dengan berjalan kaki.

Aku, dengan keberanian yang datang entah dari mana, lari menuju ke lokasi kejadian yang jaraknya sekitar satu kilometer dari sekolah.

Untuk pertama kalinya aku melihat rakyat sipil menjadi korban akibat selisih paham antara TNI dengan GAM. Guruku terbaring di aspal bersimbah darah. Guru Matematika yang kami tunggu-tunggu.

Aku menangis sejadi-jadinya di dekat beliau. Semua orang yang hadir di sana menangis tanpa terkecuali. Untuk pertama kalinya Aku merasakan kehilangan sosok berarti dalam hari-hariku di sekolah. Guruku yang humoris itu sudah pergi untuk selama-lamanya.

Kelas Terakhir dengan Pak Guru

Sehari sebelum kejadian tersebut, beliau membuka kelas dengan main tebak-tebakan (teka-teki).

“Gajah mati meninggal apa?”

Salah satu temanku spontan menjawab, “Meninggalkan gading, Pak.“

“Benar!” pungkas beliau, “kalau harimau mati?” lanjutnya.

“Belang, Pak.” Serentak kami menjawab.

Kami mengetahui jawabannya karena ada di buku bacaan. Tidak berakhir di situ, Pak Guru melanjutkan.

“Nah, kalau manusia mati meninggalkan apa?”

“Meninggalkan baju, Pak”

“Bukan!”

“Rumah!”

“Bukan.”

Hampir semua barang rumah tangga kami sebutkan, tetapi masih saja bukan itu jawab guruku.

Sejenak kelas menjadi hening, menunggu jawaban dari sang guru. Lalu, dengan telunjuk diarahkan ke atas, sambil diturunkan perlahan, beliau menjawab, “Maanusiaa matiiiii meninggalkaan naaaaaaama …”

“Oooowh. Iya ya.”

Beliau langsung terkekeh girang karena kami kalah tebakan. Kami melanjutkan pelajaran setelahnya.

Guruku itu paling humoris.

Pelajaran utama yang beliau ajari adalah Matematika, juga kadang-kadang mengajarkan PPKN, Bahasa Indonesia, dan Mulok (Muatan Lokal).

Beliau sangat humoris dan penuh jenaka saat mengajar pelajaran Mulok. Namun, sangat disegani dan ditakuti okeh murid-murid yang sedikit bandel. Begitu tampak beliau dari kejauhan saja mereka langsung sembunyi, agar tidak ketahuan.

Saat melihatnya bersimbah darah, aku melihat beliau tidak lagi bergerak, tapi matanya masih terbuka belinangan air mata, dan tersenyum. Orang-orang di sekitar sangat histeris saat itu, tidak tahu harus melakukan apa.

Beberapa hari kemudian, kampung kami banyak didatangi tentara, setiap hari suasana begitu tegang karena hentakan serentak kaki para tentara atau guncangan mobil tank.

Seminggu kemudian, di malam hari, kampung kami dihebohkan dengan kejadian kebakaran gedung sekolah MIN yang jaraknya 300 meter dari rumahku. Beberapa sekolah di kemukiman tetangga juga mengalami nasib yang sama.

Totalnya ada empat bangunan sekolah/madrasah: MIN 1 Gapui, MTSs Gapui, SD Impres, hanya sekolahku yang tidak dibakar, yakni SDN 1 Gapui, mungkin karena letaknya dikelilingi hutan yang dominan bambu sehingga tak begitu tampak di malam hari. Sejak saat itu, aktivitas sekolah dihentikan.

Sekolah itu baru aktif kembali tahun 2003, saat aku sudah beranjak SMP. Sebenarnya, ada juga momen lain setelah aktivitas sekolah dihentikan sementara.

Teringat sekali sampai sekarang. Saat itu, kami yang kelas VI mau ujian akhir. Aku sering memperhatikan beberapa guru sekolah kami berkumpul di rumah salah satu guru, tepat di depan rumah orang tuaku. Ternyata, mereka melakukan sebuah rapat mengenai ujian kelulusan kami.

Mengemban Tugas Berat

Hingga suatu hari, aku dipanggil ke rumah guru tersebut, aku diminta menuliskan semua nama-nama teman sekelasku. Dan tugas yang paling berat adalah aku diminta untuk mendatangi setiap rumah teman-teman sekelas untuk membagikan lembar soal ujian.

Beberapa temanku yang rumahnya berdekatan denganku ternyata juga sudah pernah dipanggil ke rumah guru tersebut, tapi mereka semua menolak dengan alasan takut. Tidak ada yang memberitahuku tentang itu, bahkan guru pun.

Aku adalah orang terakhir yang dipanggil. Namun, karena keinginanku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya begitu tinggi, aku memutuskan untuk menerima “tugas” tersebut. Sampai-sampai orang tuaku memarahiku, tapi niatku sudah sangat bulat saat itu.

Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, jiwa beraniku memang sudah tumbuh sejak kecil.

Sekarang Aceh sudah dua puluh tahun damai. Dalam sepekan ini, menjelang peringatan dua dekade damai Aceh pada 15 Agustus 2025, terdapat pro-kontra terhadap larangan menaikkan bendera bulan bintang (bendera GAM) dalam peringatan hari damai Aceh. Padahal, yang menjadi momentumnya bukan di bendera.

Menurut pendapat saya, akan tetapi bagaimana masyarakat Aceh bisa bergerak dalam segala aspek, tanpa perasaan khawatir kalau-kalau akan diperiksa, akan dituduh, bahkan ditodong senjata. Damai itu adalah kebebasan bergerak dalam menjalankan kehidupan yang normal.

Semoga dengan damai Aceh dapat membuka kembali pola pikir seluruh masyarakat Aceh serta merasakan manfaatnya secara adil dan merata.

Khususnya bagi Generasi Z, kalian tidak harus merasakan kembali peristiwa yang pernah dirasakan oleh orang-orang terdahulu yang hidup dalam situasi konflik bersenjata. Namun, sejarah masyarakat Aceh yang pernah hidup dalam situasi demikian patut diketahui dan dikenang.

Penulis adalah warga Neulop II Gapui, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie

Sosok Ayah di Masa Konflik

Menjadi seorang laki-laki Aceh yang hidup di masa konflik amat sangat menakutkan. Bagaimana tidak, kaum ini selalu dicurigai oleh kedua belah pihak yang bertikai. Sedikit saja salah bertindak, nyawa jadi taruhan. Sedikit saja ada gelagat yang dianggap mencurigakan, siap-siap menjadi target sasaran. Bila tidak sesuai dengan yang diinstruksikan, harus rela menerima hukuman tanpa pembelaan.

Bagi yang melakukan perlawanan disebut pemberontak. Sedangkan yang tidak ikut berjuang disebut sebagai penghianat. Mereka serba salah, diteror dari dua arah. Padahal mereka hanyalah sipil yang harus dilindungi, tapi merekalah yang kerap menjadi korban dan sasaran. Inilah era ketika masyarakat Aceh berada pada kegelapan, harga diri di ujung kaki para tentara dan kombatan.

Rentetan peristiwa berdarah yang pernah terjadi di Aceh, melibatkan banyak kaum laki-laki. Di antaranya para ayah yang mempunyai anak-anak yang mestinya dihidupi. Namun, kekejaman konflik Aceh membuat anak-anak yatim kehilangan sosok ayah. Seperti tragedi Jambo Kupok di Aceh Selatan pada 17 Mei 2003, belasan laki-laki dibakar hidup-hidup di sebuah rumah kosong oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Rintihan kesakitan dan lolongan pilu dari korban terdengar langsung ke telinga anak-anak. Larut bersamaan dengan kobaran api yang begitu mencekam. Salah satunya Ali Usman yang menjadi saksi hidup dalam peristiwa itu. Usianya baru beranjak 15 tahun, tapi ia harus berhadapan dengan trgedi yang memilukan. Pasalnya, di antara yang menjadi korban pembakaran itu adalah ayahnya, Suwandi, (bbc.com; Kesaksiaan korban peristiwa Jamboe Kupok, diakses 27 Juli 2023).

Selain tregedi Jambo Kupok, terdapat benyak peristiwa lainnya seperti tragedi Simpang KKA (Aceh Utara), tragedi Rumoh Gedong (Pidie), tragedi Beutong Ateuh (Aceh Barat–sekarang Nagan Raya) dan banyak peristiwa lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Ini menunjukkan betapa sulitnya menjadi laki-laki dan betapa takutnya anak-anak kehilangan sosok ayah pada masa itu.

Memori Korban Konflik dari Orang Terdekat

Di antara banyak peristiwa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) semasa konflik bersenjata Aceh, ada juga rentetan peristiwa yang tidak terdata. Ini berkaitan dengan orang-orang terdekat saya. Meskipun tidak seberat peristiwa besar yang disebut di atas, tapi memori ini tidak bisa serta-merta dibuang begitu saja.

Ingatan ini menjadi landasan dasar bagi saya, betapa susahnya hidup di masa konflik. Bahkan untuk saya yang berusia anak-anak saat itu, kehilangan ayah menjadi momok yang sangat menakutkan. Terlebih pekerjaan Ayah saya seorang sopir angkutan umum, tidak menutup kemungkinan terjadi perilaku kekerasan di perjalanan oleh pihak yang bertikai. Berikut kumpulan memori yang sudah pernah saya dengar dari Ayah yang kemudian saya konfirmasi ulang lagi kebenarannya ke Ayah (27 Juli 2024).

Contoh kecilnya saja dulu di sekitar tahun 2000, saat Ayah membawa mobil lintas Tapaktuan–Meulaboh, ia sering ditahan di Posko Brimob Lamainong, Aceh Barat Daya. Para tentara meminta jatah uang kepada Ayah, tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Begitu pula bila ada kebutuhan tentara yang ingin dibelikan di Meulaboh, mereka meminta bantuan Ayah untuk membelinya. Namun, lagi-lagi pakai uang Ayah.

Kekerasan verbal pun tak jarang diterima Ayah. Namun, dalam kondisi tersebut apa yang bisa diperbuat? Diam dan menjawab seperlunya adalah cara terbaik daripada membantah. Tidak hanya itu,  karena salah sangka oleh pihak tentara, mobil Ayah juga pernah diadang oleh mobil tentara. Lalu Ayah diproses di posko tentara sambil ditodong senjata.

Masalahnya sepele, yaitu surat yang disangka dititipkan oleh seseorang tentara kepada Ayah rupanya sudah dikirim melalui kantor pos ke Medan. Hal itu baru terungkap setelah tiga hari Ayah mendapat ancaman dari tentara. Selama itu, Ayah merasa tertekan karena setiap melalui posko brimob tersebut, Ayah ditanyai tentang surat. Bahkan Ayah sempat bertanya ke rekan-rekan seprofesinya tentang surat tersebut, setiap kali berpapasan dengan sopir yang dikenal Ayah. Barangkali ada dititipkan di mobil mereka. Namun, tak satu pun yang tahu keberedaan surat itu. Padahal surat yang dimaksud sudah dikirim via kantor pos oleh oknum yang bersangkutan.

Seusai kejadian itu, koflik Aceh semakin memanas. Banyak masyarakat yang tidak bersalah jadi korban. Persoalan bunuh-membunuh kian sering terdengar. Termasuk ayah angkatnya Ayah (kakek saya) menjadi korban tembak oleh oknum kombatan. Kejadiannya itu selepas magrib, kakek didatangi oleh oknum kombatan di rumahya.

Tanpa banyak tanya, oknum tersebut langsung menembakkan satu peluru ke paha kanan kakek dengan jarak satu meter. Akibatnya kakek tidak tertolong setelah sempat dilarikan ke rumah sakit. Nenek yang melihat kejadian itu, langsung berteriak histeris dan memohon kepada oknum tersebut agar tidak menyakiti kakek lagi. Ternyata oknum tersebut melakukan hal itu karena sakit hati lantaran tidak dikasih uang oleh kakek.

Kakek yang saat itu beprofesi sebagai kepala desa (keuchik) memang sering didatangi oleh pihak tentara maupun kombatan. Namun, siapa sangka malam itu ia menjadi korban keberingasan oknum yang mengaku membela bangsa. Sungguh sedih istri dan anak-anak yang ditinggalkannya. Terlebih anak bungsunya masih berusia balita. Saya saja sebagai cucu angkatnya begitu terpukul dengan kematiannya yang tak wajar, konon lagi anak kandungnya jauh lebih hancur melihat ayahnya diperlakukan demikian.

Berjuang di Tengah Konflik

Ayah kemudian memutuskan tidak lagi bekerja sebagai sopir, karena situasi yang semakin memburuk. Ia memilih bekerja di rumah menjaga kios kecil yang sebelumnya dikelola oleh ibu. Sayangnya, penghasilan dari menjaga kios tidak bisa mencukupi keluarga kami. Akhirnya ibu terpaksa mengambil alih dengan berjualan pakaian dan kasab sulam benang emas yang dijahitnya sendiri.

Ibulah yang pergi-pergi keluar daerah menawarkan barang dagangannnya, dan saya selalu ikut menemani ibu. Sebab ketika di dalam perjalanan terjadi sweeping oleh tentara, maka akan mudah dilewatan karena ada anak kecil. Tidak hanya itu, saya juga ikut membantu ibu dengan berjualan es di sekolah, umur saya baru delapan tahun. Namun, di situasi itu, perempuan dan anak-anak mengambil peran mencari rezeki karena para lelaki kesulitan bekerja di luar rumah lantaran kondisi yang tidak aman.

Di suatu waktu, jelang peringatan 4 Desember, Ibu disuruh menjahit bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) oleh kombatan. Ia terpaksa menerimanya bukan karena kepepet uang, toh saat itu bayarannya cuma Rp1500 per lembarnya. Namun, ibu takut kalau menolaknya akan berakibat buruk bagi keluarga kami.

Di lain sisi, ibu juga khawatir tentara mengetahui bahwa ibu menjahit bendera GAM. Karena jika pihak tentara tahu, keluarga kami pasti akan dihabisi karena dianggap mendukung GAM. Ada yang unik saat itu, melihat aktivitas ibu menjahit benang kasab, beberapa tentara meminta ibu menjahit lambang mereka dengan menggunakan benang kasab. Jadi, ketika siang ibu membuat pesanan jahitan tentara, sedangkan malamnya ibu menjahit bendera GAM.

Hingga di tahun 2003, ketika diberlakukannya Darurat Militer di Aceh padan tanggal 19 Mei, kami yang tinggal di pedalaman dekat gunung, tepatanya di Gampong Air Sialang Hilir, Samadua, Aceh Selatan disuruh mengungsi. Semua orang kampung yang tinggal berbatasan dengan pegunungan juga ikut mengungsi. Ibu kehilangan mata pencahariannya, sedangkan ayah tidak bekerja. Beberapa hari setelah kami diungsikan, Ayah mencari pekerjaan karena tidak ada uang di tangan dan persedian makanan semakin menipis.

Alhamdulillah, Ayah kembali menjadi sopir angkutan umum. Namun, kali ini lintas Tapaktuan–Kandang (Kluet Selatan). Meskipun lintasan daerah ini merupakan zona merah pada masa konflik, Ayah tetap mengambil risiko itu demi menghidupi anak-anak dan istrinya. Benar saja, beberapa minggu setelah ayah menjadi sopir, perilaku kekerasan pun kembali diterima Ayah dari pihak tentara.

Kali ini masalahya karena seorang tentara menuduh Ayah menabrak pacarnya. Padahal perempuan (pacar tentara) tersebut jatuh sendiri tepat di depan mobil yang dikendarai Ayah. Tentara itu pun mengamuk dan memukul punggung Ayah dengan gagang senjata. Tidak cukup itu, pipi Ayah juga dipukul dengan gagang senjata hingga Ayah tersungkur tak berdaya. Tentara itu juga mengancam Ayah agar tidak menceritakan kejadian itu ke siapa pun. Setelah itu, barulah Ayah dilepaskan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.

Tidak ada yang membela, di mata meraka Ayah salah karena menabrak pacar tentara. Meskipun tidak seperti itu kronologisnya dan walaupun ada saksi para penumpang Ayah yang melihat kejadian itu, mereka bisa berbuat apa? Hanya bisa bungkam seribu bahasa menyaksikan Ayah dihajar tentara.

Beberapa hari setelah kejadian itu, gigi ayah rontok satu per satu. Jangan tanya bagaimana rasa sakitnya, tapi ayah kembali lagi dengan aktivitasnya demi mencari rezeki. Terlebih saat itu kami sedang mengungsi, dan harus membayar sewa rumah sebagai tempat mengungsi membuat Ayah kuat, meskipun menyimpan rasa trauma. Ayah kembali menjalani aktivitasnnya sebagai sopir.

Di suatu hari, Ayah juga pernah terjebak dalambaku tembak antara tentara dan kombatan di Gunung Lokrukam, ketika hendak pergi ke tempat kerjanya mengambil mobil. Saat itu Ayah menggunakan sepeda motor. Ayah hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Allah agar selamat dari kontak senjata tersebut. Sambil menepi di antara mobil tentara, ayah terus melajukan motornya, tanpa memedulikan anak peluru berseliweran di atas kepala Ayah. Hingga akhirnya sampai ke kampung Air Pinang, Tapaktuan, Aceh Selatan, tepatnya di rumah toke Ayah. Orang-orang pada menangis melihat Ayah karena lolos dari maut. Meskipun Ayah selamat, ingatan mencekam berada di tengah kontak senjata, tentu tidak mudah dilupakan dalam sekejap mata.

Selain ayah dan kakek yang mengalami perlakuan kekerasan di masa konflik, juga ada guru sekolah saya. Kejadiannya itu menjelang damai Aceh di tahun 2004. Guru laki-laki yang mengajar pelajaran fiqih di sekolah saya, disandra di gunung oleh kombatan. Bahkan kami satu sekolah sempat membuat doa bersama untuk keselamatan sang guru. Qadarullah, guru tersebut akhirnya dibebasakan setelah kurang lebih satu bulan disandra dan membayar tebusan.

Selama guru tersebut disandra, selama itu pula mata pelajaran fikih di sekolah kosong karena tidak ada yang menggantikannya. Saya tidak tahu bagaimana perlakuan kombatan kepada dia selama itu. Namun, dari situ saya bisa menyimpulkan tidak mudah hidup sebagai seorang ayah di masa konflik Aceh.

Harapan ke Depan

Damai Aceh memang sudah 20 tahun berlangsung, tapi ingatan kelam tentang koflik Aceh masih melekat. Terutama bagi mereka yang pernah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan di masa itu. Tentunya kejadian lalu, jangan sampai terulang lagi pada anak cucu. Cukuplah mereka yang merasakan hidup dalam ketidaknyamanan.

Korban konflik pelanggara HAM berat seperti yang saya paparkan di awal tulisan, sudah barang tentu mendapatkan rekonsiliasi dan ganti rugi dari negara. Walaupun itu belum sepadan, tapi langkah baik pemerintah perlu kita apresiasi. Namun, tidak semua korban konflik Aceh terdata dengan baik, terlebih untuk kasus-kasus orang terdekat yang saya ceritakan di tulisan.

Harapan terbesar saya sebagai keluarga korban konflik Aceh, berharap ada pelayanan rehabilitasi mental dan kesehatan yang kompeten untuk masyarakat Aceh. Memang saat ini, masyarakat Aceh bisa berobat gratis ke pelayanan kesehatan. Namun, mutu pelayananannya masih jauh panggang dari api. Di tulisan ini saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar bagaimana mutu pelayanan kesehatan di Aceh. Cukup masyarakat kalangan bawah sajalah yang tahu karena mereka yang sering mengaksesnya.

Sedangkan para pejabat dan pengusaha yang punya uang, pasti memilih pelayanan kesehatan di negeri jiran ketika sakit. Menurut kacamata awam saya, kalaulah para petinggi daerah dan penguasa rupiah memilih pelayanan kesehatan yang ada di sini, dikarenakan memang kualitasnnya bagus, itulah yang diinginkan masyarakat korban konflik, mendapat pelayanan kesehatan yang sama tanpa membeda-bedakan kelas dan latar belakang. Semoga harapan itu kesampaian setelah 20 tahun Aceh DAMAI.[]

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Menulis Jurnalisme Warga yang diselenggarakan oleh Koalisi NGO HAM Aceh pada Juli 2025.

Warga Panton Rayek T Minta Kejelasan Mitigasi terkait Pencucian Sumur Gas Medco

BANDA ACEH–Warga Desa Panton Rayek T, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, mengeluhkan minimnya sosialisasi teknis terkait rencana pencucian sumur Blok AS-9 milik PT Medco E&P Malaka di kawasan tersebut. Pencucian tersebut direncanakan berlangsung pada bulan Agustus 2025 ini. Warga menilai, pihak perusahaan tidak memberikan informasi yang jelas dan tidak menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang konkret untuk meminimalisasi dampak.

Hal tersebut disampaikan oleh warga Desa Panton Rayek T yang diwakili oleh Zulkifli (Teungku Don) dan Suhendra dalam konferensi pers yang berlangsung di Banda Aceh, Rabu, 6 Agustus 2025. Dalam konferensi pers tersebut, warga didampingi oleh Community Organizer (CO) Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, Nuraki. Hadir juga Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Ahmad Shalihin, dan Kadiv Advokasi dan Kampanye, Afifuddin Acal.

Menurut Tgk Don, mestinya pihak perusahaan memberikan penjelasan yang konkret dan sesuai SOP, termasuk kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan upaya mitigasinya agar masyarakat tidak cemas. Kecemasan tersebut menurutnya sangat beralasan, mengingat sudah beberapa kali warga Panton Rayek T mengalami keracunan akibat terhirup gas hidrogen sulfida (H2S) yang dilepaskan saat pencucian sumur minyak dan gas.

“Kejadian pertama pada tahun 2021, lalu pada 2022 juga ada, ketiga pada tahun 2023 dan menelan korban cukup besar, sebanyak 34 warga Panton Rayek T, termasuk keluarga saya, harus dirawat inap di rumah sakit kabupaten. Kami tidak mau kondisi seperti itu terulang lagi,” kata Tgk Don.

Menurut Tgk Don, pada Kamis-Jumat, 24-25 Juli 2025, pihak perusahaan memang sudah memberitahukan perihal rencana pencucian sumur gas tersebut kepada masyarakat melalui rapat. Menurut pihak perusahaan, sebagaimana disampaikan oleh Tgk Don, aktivitas pencucian disebut aman untuk jarak di atas radius 500 meter.

“Namun, pengalaman dari kejadian sebelumnya, warga yang keracunan itu berada pada jarak satu kilometer dari lokasi sumur Blok AS-9. Jarak dari permukiman dengan sumur sekitar 1.200 meter, lebih dari 500 meter, tetapi ambruk juga,” kata Tgk Don.

Suhendra menambahkan, dalam pertemuan dengan pihak perusahaan pada 24–25 Juli 2025, lebih banyak membahas tentang rencana pemberian tali asih atau kompensasi oleh perusahaan. Pada hari Jumat, pertemuan berlangsung menjelang pelaksanaan salat Jumat dan diakhiri dengan santunan anak yatim. Sedangkan yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah sosialisasi yang lebih teknis dan sesuai SOP, seperti bagaimana proses evakuasi jika terjadinya keracunan gas, ke mana evakuasinya, dan siapa yang akan mengevakuasi warga?

“Adapun mengenai jumlah tali asihnya diputuskan sepihak oleh perusahaan, tidak mengakomodasikan tawaran dari masyarakat. Sementara ketika ditanya apa jaminan untuk keselamatan kami, tidak ada jawaban pasti. Pihak perusahaan hanya mengatakan prosesnya aman, warga tidak perlu khawatir, tetapi siapa yang bisa menjamin?”

Mengenai jumlah tali asih, pihak perusahaan menawarkan Rp1 juta per kepala keluarga. Bagi warga yang memiliki kebun dalam jarak radius 500 meter dengan sumur akan mendapat tambahan Rp1.750.000. Warga sendiri memberikan penawaran agar kompensasi diberikan Rp300 ribu per hari. Jumlah tersebut untuk mengganti pendapatan warga yang aktivitas ekonominya tersendat selama proses pencucian sumur yang bisa berlangsung sekitar dua pekan.

Trauma Fisik yang Menjadi Trauma Psikologis

Bentuk molekul hidrogen sulfida (H2S) yang bersifat korosif.

Sementara itu, menurut Nuraki, pada dasarnya warga tidak menentang aktivitas tersebut. Namun, dalam praktiknya keselamatan nyawa manusia harus menjadi prioritas utama. Hal ini bisa dilakukan oleh perusahaan dengan menyampaikan informasi atau sosialisasi yang utuh dan tidak bersifat manipulatif dengan membungkusnya menjadi “program” Jumat Berkah. Di sisi lain, pemilihan waktu yang tidak tepat telah menutup akses bagi perempuan untuk hadir, padahal perempuan–termasuk anak-anak dan lansia–adalah yang paling rentan ketika keracunan terjadi.

Perusahaan perlu menjelaskan secara konkret apa kegiatannya, dampak positif dan negatifnya apa, serta bagaimana langkah-langkah antisipatif agar tidak terulang seperti sebelumnya. Kejadian tak terduga pada 2021 dan 2023 telah menimbulkan efek trauma bagi warga. Dari yang semula trauma fisik, kini telah menjadi trauma psikologis yang memicu kecemasan saat mendengar rencana pencucian sumur di Panton Rayek.

“Seharusnya mereka belajar dari pengalaman, mitigasi itu penting untuk meminimalisasi dampak negatif. Selesaikan dulu aspek teknis, metode sosialisasinya perlu disesuaikan, baru bicara soal tali asih,” kata Nuraki.

Suhendra adalah satu korban keracunan gas pada tahun 2023 yang mendapat perawatan serius di RSUD Zubir Mahmud. Sejak kejadian itu, ia sering mengalami kecemasan. Saat ini misalnya, ketika mendengar akan ada aktivitas pencucian sumur gas, seolah-olah ia kembali mencium bau ceungeh (bau gosong) atau bau telur busuk (bau khas H2S). Alam bawah sadarnya menghadirkan kembali pengalaman trauma fisik akibat terhirup gas dua tahun lali. Kesakitan akibat reaksi gas di dalam tubuhnya yang menimbulkan efek sesak, bahkan sempat hilang kesadaran, terus membayanginya.

Adik perempuan Tgk Don juga demikian. Alhasil, hal pertama yang ia tanyakan kepada Tgk Don adalah mengungsi ke mana, bukan berapa tali asih yang bakal didapat. Jika saja pihak perusahaan memfasilitasi ‘rumah aman’ sementara selama proses pencucian sumur, disebut justru lebih melegakan bagi warga.

Mengapa Sumur Gas Perlu Dicuci?

Pencucian sumur gas atau well cleaning/well washing adalah proses teknis dalam industri minyak dan gas untuk membersihkan sumur produksi dari berbagai pengotor yang menghambat aliran gas atau minyak. Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan sumur dari sumbatan-sumbatan seperti lumpur atau endapan lainnya sehingga dapat mengembalikan atau meningkatkan laju produksi.

Yang menjadi kekhawatiran adalah karena selama proses pencucian diperlukan penyuntikan zat kimia pelarut atau penyemprotan fluida tekanan tinggi sehingga berisiko lepasnya gas berbahaya (H2S) yang beracun ke permukaan. Zat ini bisa mengakibatkan gangguan pernapasan, hilang kesadaran, atau kematian jika terhirup dalam jumlah besar.

Konferensi pers ditutup dengan seruan agar pemerintah daerah dan provinsi turut turun tangan, mengeluarkan pernyataan resmi, dan memantau dampak jangka panjang dari paparan gas beracun terhadap kesehatan masyarakat.[]

Rumah Pengetahuan untuk Warga Samar Kilang

RUMAH Pengetahuan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) “Umah Uteun”. Begitulah nama yang tertera pada selembar pamflet berbahan mika yang menempel pada dinding rumah panggung seukuran 8×6 meter itu. Rumah itu terletak di Desa Gerpa, Kemukiman Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah. Jalan masuknya persis di sebelah lapangan yang ada di sisi jalan dua jalur di Desa Blang Panu.

Rumah ini secara resmi telah berfungsi sejak diresmikan pada minggu pertama bulan Juli 2025. Nama rumah itu diambil dari kosa kata bahasa Gayo yang berarti rumah ‘uteun‘ dan hutan ‘uteun‘. Secara harfiah, Umah Uteun berarti rumah hutan atau rumah untuk mengelola hasil hutan. Nama ini juga menjadi simbol atau identitas bagi warga Samar Kilang yang mayoritasnya beretnis Gayo.

Rumah pengetahuan ini dibangun oleh Katahati Institute yang didukung oleh Denver Zoo sebagai pusat aktivitas kelompok perempuan Samar Kilang dalam mengolah HHBK, khususnya aren (Arenga pinnata) dan janeng (Dioscorea hispida dennst) yang melimpah di daerah tersebut. Adapun Katahati Institute adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang sejak lima tahun terakhir hadir di Samar Kilang untuk melakukan program-program pemberdayaan.

Hari itu, Rabu, 16 Juli 2025, belasan perempuan berkumpul di kolong Rumah Pengetahuan Umah Uteun. Selembar tikar plastik dibentangkan dan menjadi alas untukmereka duduk. Tiap-tiap orang punya kesibukan masing-masing. Ada yang sedang mengayak gula merah bubuk, ada yang sedang mengukur kelapa dengan geulungku (alat kukur tradisional)—untuk kemudian dicampur dengan tiwul janeng, ada juga yang sedang merebus nira di dapur. Begitulah kesibukan mereka sehari-hari jika sedang ada kegiatan produksi. Sisanya ada yang duduk-duduk saja sambil bercengkerama satu sama lain. Sembari menunggu tiwul janeng siap disantap.

Belasan perempuan itu adalah anggota kelompok binaan Katahati Institute yang hampir dua tahun terakhir mulai serius mengolah aren dan janeng. Mereka terbagi menjadi dua grup, yaitu grup Markilang yang mengolah janeng dan grup Samaren yang mengolah aren. Para ibu ‘ine‘ tersebut berasal dari berbagai desa yang ada di Samar Kilang.

Samar Kilang bisa jadi nama yang familier di telinga banyak orang. Namun, saat ditanya di mana letaknya, kemungkinan mereka akan bingung menjawabnya.

Saking terisolasinya kawasan ini, tak banyak orang yang secara sengaja (mau) datang ke Samar Kilang. Selain, sarana transportasi ke sana juga sangat terbatas. Orang-orang yang datang ke sana, bisa dipastikan mereka yang memiliki agenda khusus, seperti halnya tim Katahati.

Rumah Pengetahuan HHBK Umah Uteun yang multifungsi.

Samar Kilang adalah nama salah satu dari dua kemukiman yang ada di Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah. Kecamatan ini terletak di wilayah utara dan berbatasan langsung dengan Aceh Utara dan Aceh Timur. Samar Kilang sendiri adalah ibu kota Kecamatan Syiah Utama. Meskipun kecamatan ini berada di Bener Meriah, nyatanya suhu di sini sama seperti suhu pesisir karena secara geografis berada di lembah.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Bener Meriah mencatat Syiah Utama sebagai kecamatan terluas di kabupaten itu. Mencapai 814,63 km atau 41,95 persen dari total wilayah Bener Meriah yang mencakup 1.941,61 km. Bener Meriah sendiri merupakan hasil pemekaran wilayah dari Kabupaten Aceh Tengah dan resmi menjadi kabupaten pada 7 Januari 2004.

Syiah Utama juga dicatat sebagai kecamatan dengan penduduk paling sedikit, hanya 1,42 persen dari keseluruhan penduduk Bener Meriah yang tersebar di sepuluh kecamatan. Jumlah DPT di kecamatan ini tak sampai dua ribu orang.

Secara definitif, Syiah Utama hanya punya 14 desa. Tujuh di antaranya terdapat di Kemukiman Samar Kilang, yaitu: Gerpa, Goneng, Geruti Jaya, Kerlang, Tempen Baru, Pasir Putih, dan Uning. Di sepanjang perjalanan menuju ke Samar Kilang lebih banyak kawasan hutan ketimbang permukiman penduduknya. Kantor kecamatan terdapat di Kerlang, sedangkan Mapolsek dan Makoramilnya terdapat di Kemukiman Pantan Senie.

DAS Krueng Jambo Aye memiliki peranan penting bagi warga Samar Kilang. Para ayah atau ama menjadikan sungai ini sebagai tempat menjala ikan jurung, sedangkan para ine menjadikannya sebagai tempat untuk mengolah janeng.

Syiah Utama juga termasuk kecamatan paling terisolasi di Bener Meriah. Selama berpuluh tahun warga Samar Kilang lebih senang “turun” ke Aceh Utara melalui jalur sungai untuk berbelanja kebutuhan pokok, ketimbang “naik” ke Pondok Baru karena tidak adanya akses jalan darat yang memadai. Menyusuri sungai dengan rakit bambu dinilai lebih memungkinkan untuk dilakukan, meski sangat berisiko, ketimbang pergi ke Pondok Baru dengan berjalan kaki yang harus melewati hutan belantara yang juga berisiko bertemu hewan buas.  Namun, sesekali mereka tetap melalui jalan darat jika kondisinya terdesak.

“Saat pertama kali Katahati hadir di Samar Kilang pada tahun 2020, jalan lintas kecamatan yang menghubungkan Samar Kilang dengan ibu kota kabupaten belum beraspal. Jalanan berlumpur, rawan longsor, dan di beberapa titik kendaraan terpaksa harus didorong baru bisa lewat,” kata Direktur Katahati Institute, Raihal Fajri, Kamis, 17 Juli 2025.

Warga Samar Kilang baru menikmati jalan beraspal sejak tahun 2022 lalu. Setelah jalan “jaring laba-laba” yang menghubungkan Samar Kilang–Pondok Baru dan dibangun oleh Pemerintah Aceh melalui proyek tahun jamak sejak 2018 rampung dibangun. Saat ini, jalan tersebut menjadi satu-satunya akses jalan darat yang menghubungkan Samar Kilang dengan ibu kota kabupaten di Redelong.

Jaraknya hampir 70 kilometer dengan waktu tempuh lebih dari dua jam. Tak hanya terkurung karena tak ada jalan, selama ini warga Samar Kilang juga “terputus” akses dengan dunia luar karena tak ada jaringan telepon seluler. Sinyal Telkomsel baru masuk ke sana pada tahun 2019. Jika listrik padam, sinyal pun tenggelam. Kabar buruknya, listrik padam bisa berjam-jam lamanya.

Katahati Hadir untuk Membuka Akses

Para ibu atau ine sedang melihat konten kreatif di media sosial sebagai sumber inspirasi mempromosikan produk mereka.

Menurut Raihal, Samar Kilang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi ekowisata. Termasuk di dalamnya potensi HHBK.

Berdasarkan identifikasi yang dilakukan Katahati, beberapa HHBK potensial di Samar Kilang ada rotan, janeng, aren, durian, dan jernang. Hanya saja terbatas oleh prasarana dan sarana.

Selain itu, kecamatan ini juga menjadi satu-satunya kecamatan di Bener Meriah yang secara administratif masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser yang menjadi rumah bagi aneka satwa kunci, seperti harimau sumatra, gajah sumatra, orangutan sumatra, dan badak sumatra. Sebagian hutannya masih alami dengan beraneka flora fauna, seperti aneka burung dan tumbuh-tumbuhan.

DAS Jambo Ayee yang memiliki luas hingga 4.640 kilometer mengalir melewati Samar Kilang dan bermuara ke Selat Malaka di pesisir utara-timur Aceh. Sungai ini menjadi tempat beranak-pinak ikan jurung (keureuling) yang menjadi andalan warga Samar Kilang untuk memenuhi asupan protein hewani mereka. Sungai inilah yang disusuri oleh warga Samar Kilang yang ingin pergi ke Lhoksukon, Aceh Utara. Di kawasan ini juga terdapat makam ulama bernama Bener Meriah—yang namanya dilakabkan sebagai nama kabupaten.

Berbagai potensi itulah yang membuat Katahati hadir dan bersama warga setempat serius mengolah HHBK-nya. Sebagai bentuk keseriusan dan keberlanjutan, Katahati pun membangun Rumah Pengetahuan sebagai pusat aktivitas dan belajar bersama. Di tempat itu, tamu-tamu yang datang ke Samar Kilang bisa belajar langsung tentang berbagai pengetahuan lokal yang masih dipertahankan di Samar Kilang.

Misalnya, pengetahuan tentang obat-obatan herbal, tentang pengolahan janeng, termasuk cerita-cerita totemisme yang menjadi simbol interaksi manusia dan alam yang masih terjaga dengan baik.

Di sisi lain, tamu-tamu yang datang ke sana juga bisa bertukar pengalaman dan pengetahuan kepada warga lokal.

Mak Jamur memperkenalkan salah satu sumber pangan lokal, rimbang atau terung pipit (Solanaceae) kepada Tamtam–konten kreator asal Jakarta yang berkunjung ke Samar bersama tim Katahati.

Katahati sendiri bukan asal masuk ke sana. Jauh sebelum fokus pada pengelolaan janeng dan aren di Samar Kilang, Katahati melakukan riset mendalam.

“Tujuan utama kami adalah mempromosikan kegiatan-kegiatan pelestarian alam dan hutan yang ada di sini. Di sisi lain, kami juga perlu mendorong masyarakatnya agar mandiri secara ekonomi sehingga tak lagi bergantung pada hasil hutan kayu. Kalau masyarakat punya alternatif sumber penghasilan, mereka tentu tidak hanya semata-mata tertuju pada hutan,” kata Raihal.

Berawal dari situlah kata Raihal, pihaknya kemudian membuat analisis SWOT. Dimulai dengan mendata pihak-pihak mana saja yang sudah lebih dulu hadir ke Samar Kilang dan apa program utama mereka. Analisis ini penting agar tidak terjadi tumpang tindih program. Selain itu, antarpihak juga bisa saling mendukung dan bersinergi. Saat ini misalnya, Katahati juga bersinergi dengan Forum Konservasi Leuser (FKL) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) III yang telah membangun Stasiun Riset Samar Kilang sebagai stasiun penelitian di timur KEL.

“Setelah tahu apa potensinya, apa tantangannya, barulah kami susun program dan intervensinya bagaimana. Alhamdulillah, sambutan dari masyarakat sangat baik. Untuk tahap awal fokus kita pada aren dan janeng, dan memanfaatkan DAS Krueng Jambo Aye untuk lokasi bamboo rafting,” kata Raihal lagi.

Sebenarnya, kata Raihal, warga setempat menyadari banyak potensi HHBK yang bisa mendatangkan nilai ekonomis. Mereka punya pengetahuan dasar untuk mengolah janeng dan aren. Hanya saja, warga tidak punya akses pada pasar. Infrastuktur jalan dan sarana transportasi yang tidak memadai juga berdampak pada tersendatnya distribusi hasil pertanian atau perkebunan warga. Hal itu juga diakui oleh salah satu anggota Kelompok Samaren.

“Selama ini kami juga sudah membuat gula aren, tapi untuk kami makan sendiri,” katanya.

Begitu juga dengan janeng, meski tak dikatakan secara gamblang, warga Samar sendiri sudah “bosan” mengonsumsi janeng. Umbi janeng hanya dikonsumsi sebagai makanan selingan atau alternatif ketika gagal panen atau musim paceklik. Setelah Katahati hadir, janeng-janeng Samar Kilang sudah diolah menjadi aneka produk turunan, seperti tepung, tiwul, kerupuk, dan keripik. Pelanggannya pun mulai beragam dan tersebar dari berbagai kota. Begitu juga dengan gula aren yang tersedia dalam bentuk cair, bubuk, dan padat.

General Manager Katahati, Andra Masyhuri, menuturkan, Katahati lebih banyak berperan dalam peningkatan SDM sehingga produk yang dihasilkan bisa lebih berkualitas. Kualitas produk sangat penting jika ingin menembus konsumen luar. Diversifikasi produk juga penting agar serapan pasar semakin luas.

“Kami juga mendatangkan mentor untuk melatih cara mengemas produk yang baik dan higienis, pelan-pelan kami sisipkan tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan. Kami menjadikan masyarakat sebagai mitra, jadi semua proses yang selama ini telah dijalankan dilakukan dengan prinsip kebersamaan dan kesetaraan,” kata Andra.

Tak hanya itu, Katahati juga berperan dalam membuka akses pasar yang lebih luas. Misalnya, dengan memperkenalkan produk-produk tersebut ke berbagai pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional. Di antara anggota kelompok juga ada yang diikutsertakan dalam pameran sehingga mereka bisa melihat langsung potensi produk mereka. Hal itu menambah semangat dan motivasi mereka untuk lebih produktif.

Anggota Kelompok Markilang, Mak Jamur, turut menceritakan pengalamannya saat menghadiri pameran di Provinsi Bali. Ia tak mengira produk janeng yang diolah oleh tangan-tangan terampil di pedalaman Gayo ternyata mendapat sambutan hangat dari konsumen luar.

“Nyesal kita bawa produknya sedikit, ya,” kata Rauyah atau Mak Jamur kepada Andra.

Selain membangun Rumah Pengetahuan, Katahati sudah lebih dulu membentuk Koperasi Multipihak Perempuan Gayo Sejahtera sebagai badan usaha. Koperasi ini menaungi tiga kelompok usaha, yaitu Markilang dan Samaren di Bener Meriah, plus Keriga di Aceh Tengah.

Koperasi ini menjadi penting sebagai wadah bagi kelompok agar bisa terus berkembang. Selain, untuk memudahkan pemasaran produk.

Mitos Janeng: Umbi yang Berasal dari Nasi

Ama Tris memperlihatkan umbi janeng yang tumbuh di kebunnya di pinggir DAS Krueng Jambo Aye. Sebagai warga lokal yang pernah menjadi kepala desa dan kini sebagai Mukim, Ama Tris memiliki pengetahuan yang banyak mengenai nilai-nilai kearifan lokal di Samar Kilang.

Janeng (Dioscorea hispida dennst) atau yang sering disebut juga sebagai umbi hutan atau gadung hutan, adalah tanaman yang pohonnya menjalar. Tanaman ini memiliki kandungan karbohidrat seperti halnya beras yang diolah menjadi nasi dan bersifat mengenyangkan. Masyarakat Samar Kilang punya mitos tersendiri mengenai janeng.

Menurut penjelasan Mukim Samar Kilang, Ama Tris, konon janeng berasal dari setumpuk nasi yang ditaruh di dekat pohon.

Nasi itu pun tumbuh menjadi pohon janeng dan umbinya dapat dimakan sebagai pengganti nasi.

Hanya saja, janeng mengandung zat sianida yang beracun sehingga tak bisa dikonsumsi langsung sebelum dibuang racunnya.

Mengolah janeng pun membutuhkan keterampilan khususnya. Setidaknya membutuhkan proses hingga satu minggu untuk menetralisir zat racun dalam umbi janeng.

Penampakan umbi dan batang jaeng. Daunnya mirip daun kacang-kacangan. Batangnya berduri.

Menurut Mak Jamur, setelah umbi dikupas, perlu digarami dulu, kemudian diberi abu dan diperam selama tiga hari. Setelah itu direndam selama tiga malam di sungai atau pada air yang mengalir. Barulah setelah itu janeng bisa diolah dan aman dikonsumsi.

Sedangkan menurut Ama Tris, tidak semua umbi janeng beracun. Dalam satu batang pohon, hanya satu umbi yang beracun.

“Biasanya umbi-umbi yang seperti ini,” kata Ama Tris menunjukkan umbi yang paling atas dan gemuk dari beberapa umbi dalam satu batang pohon.

Hanya saja kata dia, tak semua orang punya keahlian atau kemampuan untuk mendeteksi umbi yang beracun itu. “Jadi, untuk lebih amannya, ya, kita proses semuanya,” kata pria bernama asli Muhammd Syam (57) itu.

Janeng sendiri kata Ama Tris ada dua macam: janeng pulut yang berwarna kuning dan janeng beras yang berwarna putih. Tumbuhan ini sangat melimpah dan tumbuh subur di hutan-hutan di Samar Kilang.

Produk yang sudah dikemas dengan bagus dan siap dipasarkan.

Penawar dari racun janeng sendiri ada pada daunnya. Biasanya penawar ini diberikan pada orang yang mabuk janeng untuk level parah.

“Kalau mabuk biasa-biasa aja cukup diminumkan air cucian beras atau air tebu sampai muntah, tapi kalau sudah parah, bisa kita gunakan penawar dari daun janeng itu sendiri. Kita ambil daun janeng yang sudah tua atau kering, lalu dilinting dan dibakar ujungnya, kemudian diisap seperti kita isap rokok daun,” kata mantan kepala Desa Kerlang itu.

Berbagai pengetahuan yang meluncur dari mulut Mak Jamur atau Ama Tris di Rumah Pengetahuan itu, sejatinya adalah pengetahuan yang bersumber dari tradisi lisan. Pengetahuan yang membuat eksistensi mereka ada hingga saat ini. Diwarisi dari leluhur mereka secara turun-temurun. Nilai dan semangat yang menjadi social capital atau aset untuk mencapai tujuan bersama. Kehadiran Katahati tentulah sebagai lokomotif.[] Bersambung.

Putri yang Menjelma Menjadi Aren dan Kaitannya dengan Totemisme

DENGAN sigap Nek Sila menaiki panteu yang diikat khusus di batang pohon aren. Batang pohon aren itu tak terlalu tinggi. Hanya dengan berdiri di panteu yang tingginya tak sampai satu meter itu, Nek Sila sudah bisa menjangkau tandan buah aren jantan yang lebat. Sepintas, bentuk buahnya mirip kurma muda. Hanya saja, kulit buahnya tampak ungu kecokelatan. Tangkai buahnya juga panjang dan menjuntai ke bawah. Nek Sila kemudian memukul-mukul tangkai tandan aren dengan kayu yang panjangnya kira-kira sehasta. Pukulannya pelan-pelan saja.

Nek Sila adalah panggilan sehari-hari bagi Isnaini. Ia salah satu warga Kecamatan Samar Kilang yang kini aktif memproduksi gula aren bersama anggota kelompok lainnya. Hari itu, Selasa, 16 Juli 2025, Nek Sila sedang memeragakan cara “mempersiapkan” buah aren jantan atau mayang jantan sebelum disadap untuk diambil niranya.

Lazimnya, penyadapan nira dilakukan oleh laki-laki karena batang pohonnya tinggi-tinggi. Namun, menurut rekan Nek Sila, Mak Iwan, ada juga perempuan yang melakukannya.

“Misalnya perempuan yang suaminya sudah meninggal, kadang terpaksa dia harus menyadap nira demi menafkahi keluarga. Kalau enggak, nggak bisa makan,” kata Mak Iwan yang aslinya bernama Saedah.

Pohon aren itu adalah milik Ama Tris. Tumbuh di kebun yang letaknya persis di pinggir Krueng Jamboe Ayee yang hilirnya ada di Selat Malaka. Selain aren, di kebun itu juga banyak tumbuh janeng. Salah satunya tumbuh dan menjalari batang pohon aren itu. Nek Sila bersama rekan-rekannya sering ke kebun itu untuk mengambil umbi janeng.

Sebelumnya, Ama Tris sudah lebih dulu mencontohkan bagaimana cara menyadap nira yang muslihat. Diawali dengan membaca bismilah, diikuti membaca dua kalimat syahadat, lalu membacakan “rapalan” singkat yang dalam istilah bahasa Gayo disebut dengan “jangen” atau senandung yang berbunyi:

anakku ni jema mutuah,

aku ni jema legeh,

jema nyanya,

anakku ini orang baik (bertuah)

aku ini orang fakir

orang susah

mudah-mudahan dengan kuasa Allah,

rezeki yang mudah

Senandung itu tak ubahnya seperti ungkapan pujian orang tua untuk membangkitkan semangat putrinya. Barulah kemudian Ama Tris menggoyang-goyangkan tangkai tandannya sambil berselawat sekurang-kurangnya dua—tiga ratus kali.

Prosesi itu setidaknya mesti dilakukan hingga sepekan sebelum mayang jantan dipotong. Dari tandan yang dipotong itulah nantinya cairan batang pohon aren atau nira keluar dan bisa dipanen. Selanjutnya dijadikan bahan baku membuat gula aren.

Dalam kehidupan sosial masyarakat Gayo, khususnya masyarakat Samar Kilang, pohon aren bukan semata-mata pohon yang buah jantannya dapat menghasilkan nira atau buah betinanya menghasilkan kolang-kaling.

Namun, ia dianggap sebagai jelmaan seorang gadis, seorang anak, yang merelakan dirinya menjadi sebatang pohon demi membebaskan orang tuanya dari utang-utang yang melilit.

Ama Tris saat memeragakan cara menyadap nira.

Legenda mengisahkan, konon pernah hidup sepasang suami-istri yang sangat papa. Namanya Jibon dan Peteri Renggino. Mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Putri Itam. Ketika sang putri sudah baligh, tujuh orang pemuda datang untuk mempersuntingnya. Ironisnya, semua pinangan itu diterima oleh orang tua Putri Itam dengan harapan bisa membebaskan mereka dari jerat utang.  

Pada hari yang telah ditentukan, ketujuh pemuda itu pun datang untuk menjemput Putri Itam. Namun, tak mungkin Putri Itam dinikahi oleh semua pemuda itu. Putri Itam pun minta izin kepada orang tuanya untuk mengorbankan diri. Ia memohon kepada Tuhan agar dirinya bisa menjadi pohon yang bermanfaat bagi ayah ibunya. Tak lama setelah itu, Putri Itam pun berubah menjadi sebatang pohon yang kini dikenal sebagai pohon aren atau enau (Arenga pinnata). Dari batang hingga daun pohon aren diyakini sebagai representasi dari anggota tubuh Putri Itam.

“Ijuk yang ada pada pohon aren adalah perwujudan rambut Putri Itam yang hitam dan panjang,” kata Ama Tris.

Karena keyakinan tersebutlah, pohon-pohon aren yang disadap untuk diambil niranya harus diperlakukan dengan baik. Mesti “disayang-sayang” dulu dengan jangen yang menyentuh hati. Jadi, tak sembarang dieksploitasi. Dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Untuk penyadapan, biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari.

“Seumpama orang tua yang menyayangi dan memperlakukan anaknya dengan baik, begitulah selayaknya perlakuan kita kepada pohon aren ini,” kata Ama Tris lagi.

Ama Tris adalah panggilan bagi pemilik nama Muhammad Syam (57). Ia kini menjabat sebagai Mukim Samar Kilang. Mantan kepala Desa Kerlang. Ama Tris—yang menyandang nama anak pertamanya, Tris—adalah mantan penyadap nira di Samar Kilang sehingga ia tahu banyak soal cerita rakyat tersebut. Menurutnya, prosesi yang dilakukan itu bukan sesuatu yang direka-reka sendiri, melainkan ada dasarnya.

“Ada sejarahnya, tidak banyak yang tahu ini,” katanya lagi.

Pukulan-pukulan pada pangkal tandan itu dimaksudkan untuk merangsang supaya nira yang keluar bisa lebih banyak. Warga Samar juga memiliki keyakinan bahwa jika dimanfaatkan dengan baik, pohon aren sangat berpotensi secara ekonomi. Jika orang tersebut memiliki utang, dengan izin Allah akan terlunasi utangnya. Hal ini sesuai dengan “hajat” Putri Itam saat mengorbankan dirinya. Selain, aren memang memiliki banyak manfaat, tak hanya nira dan kolang-kaling, ijuk dan lidi aren juga bisa dijadikan komoditas.

Umbi janeng.

Tak hanya tentang aren, masyarakat Samar juga memiliki cerita rakyat tentang janeng yang konon adalah jelmaan dari setumpuk nasi yang ditaruh di dekat pohon.

“Lama-lama nasi itu tumbuh,” kata Ama Tris.

Karena itulah pohon janeng “memerlukan” pohon atau kayu sebagai jalaran. Masyarakat Samar Kilang juga pernah menjadikan janeng sebagai sumber pokok pengganti nasi saat paceklik. Cerita ini mirip dengan dongeng yang mengatakan bahwa kura-kura berasal dari “setumpuk daging” yang disimpan di bawah cobek batu.

Kini, setelah Katahati Institute hadir di Samar Kilang, aren dan janeng di sana telah diolah menjadi berbagai produk turunan yang bernilai ekonomi.

Namun, mengolah janeng memang memiliki tantangan tersendiri sebab umbi pohon tersebut mengandung zat sianida yang beracun. Ama Tris juga memiliki pengetahuan untuk membedakan mana umbi yang beracun atau tidak.

Totemisme dan Alat Pelestarian Lingkungan

Dari kiri ke kanan: Nek Sila (Isnaini), Mak Iwan (Saedah), Mak Jamur (Rauyah), dan Mak Pira. Perempuan Samar Kilang berperan besar dalam melakukan praktik-praktik pelestarian lingkungan melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

Praktisi pembangunan Aceh, Bulman Satar, S.Sos., yang juga fokus pada isu-isu antropologi budaya mengatakan, keyakinan warga Samar Kilang yang percaya bahwa aren merupakan jelmaan manusia adalah bentuk lain dari praktik-praktik totemisme. Yakni sistem kepercayaan yang mengaitkan satu individu atau kelompok dengan entitas alami, seperti hewan atau tumbuhan sebagai simbol leluhur atau kekuatan spiritual.

“Totemisme semacam keyakinan yang mengasosiasikan manusia dengan alam. Dalam praktiknya, totemisme bisa menjadi ‘alat’ untuk pemuliaan dan menjadikan tanaman sebagai sesuatu yang sakral. Secara tidak langsung juga dapat menjadi alat dalam melestarikan lingkungan,” kata Bulman, Jumat, 1 Agustus 2025.

Keyakinan serupa juga ditemukan di banyak tempat, khususnya di daerah-daerah yang masyarakatnya sangat bergantung dari hasil hutan. Di Aceh Besar misalnya, juga terdapat keyakinan serupa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh dosen ISBI Aceh, Achmad Zaki, M.A., asal usul pohon aren juga diyakini berasal dari jelmaan seorang putri dari keluarga miskin yang terlilit utang. Namanya Putri Seuno.

“Putri Seuno juga ingin menjadi pohon yang bermanfaat untuk melunasi utang orang tuanya,” kata Achmad Zaki, Minggu, 3 Agustus 2025.

Proses penyadapan nira juga diawali dengan selawat dan dibacakan rapalan senandung, yang di antaranya berbunyi:

ng hai kuneng,

kaek keunoe kupeumeuen

Ie lam plupeuk kapeuk keuno

Ie lam alue kahue keunoe

Ie lam laot kaboet keuno

Ie lam pucok kajoek keuno

Ie lam bak kasinthak keunoe

Ie lam abeuk kapeuk keuno

“Inti dari senandung tersebut adalah si penyadap menyebutkan segala sumber air, mulai air dari pelepah, dari parit, laut, rawa, untuk naik dan berkumpul di tandan yang akan disadap. Tujuannya adalah untuk membuat tandan nira itu maksimal dalam menghasilkan air. Hal ini merupakan gambaran tradisi lisan merupakan produk masyarakat yang memiliki perannya tersendiri,” katanya.

Lebih lanjut kata Zaki, muatan kearifan lokal yang kaya akan praktik dan pengetahuan tradisional ini berpotensi sebagai sumber ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif yang berbasis pada budaya mendatangkan keuntungan ganda bagi masyarakat. Pertama, menjadikan kekayaan budaya sebagai modal ekonomi dan sosial. Kedua, kelestarian budaya dapat terjaga. Dalam hal ini, masyarakat bukan sebagai objek, melainkan menjadi subjek.

Konsep tersebut menurutnya dapat dikembangkan melalui praktik-praktik ekowisata yang mengedepankan konservasi lingkungan, pendidikan lingkungan, kesejahteraan penduduk lokal, dan menghargai budaya lokal.

“Dalam kaitannya dengan tradisi penyadapan nira ini, baik di Samar Kilang atau di Aceh Besar, ada beberapa hal yang potensial, misalnya pertunjukan syair-syair itu sendiri, proses penyadapannya, dan pengetahuan masyarakat tentang simbol-simbol ketika penyadapain, termasuk produk turunan yang dihasilkan dari nira.”

Apa yang disampaikan Bulman dan Zaki, secara tak langsung memang menjadi misi hadirnya Katahati Institute di Samar Kilang, Mereka menggali berbagai cerita dan nilai-nilai kearifan lokal yang menguatkan narasi tentang keistimewaan janeng dan aren bagi warga Samar atau masyarakat Gayo pada umumnya. Katahati mendampingi dan mengedukasi para ibu ‘ine’ sehingga janeng dan aren Samar Kilang kini bisa hadir sebagai produk yang berkualitas dan bernilai ekonomi. Katahati juga membangun Rumah Pengetahuan HHBK “Umah Uteuen” sebagai pusat aktivitas kelompok dampingan. [bersambung]

Perempuan Melawan Perubahan Iklim

1

“Silakan dicicipi,” kata perempuan muda yang menjaga salah satu stan. Ia menunjuk pada kue yang sepintas bentukannya mirip jambu air. Hanya saja warnanya putih. Irisan daun pandan di bagian atas kue tak ubahnya tangkai pada buah jambu. Kue itu ditaruh dalam wadah-wadah kecil yang terbuat dari ôn keurusông alias daun pisang tua yang sudah kering. Ditata di atas “pinggan” daun pisang segar yang sudah dilayu di atas api.

“Ada dijual?” tanya saya.

“Ada. Lima ribu satu plok.”

Nama kue itu geuleupak. Ada juga yang menyebutnya jeuleupak. Kue ini hanya terbuat dari bahan dasar sederhana, yaitu tepung (ketan/beras), gelapa parut, gula (atau gula merah), dan garam. Dari segi rasa, rasa geuleupak tergolong standar di lidah. Dominannya rasa tepung mentah dengan sedikit rasa lemak dan manis dari kelapa segar dan gula, juga rasa gurih dari tambahan garam. Yang menarik dari geuleupak—menurut saya—justru pada cara membuatnya. Terselip semangat kebersamaan dan gotong royong yang kental di kalangan perempuan.

Sekadar kilas balik ke masa lalu, sebelum tepung-tepung kemasan menjamur dan mudah ditemukan seperti sekarang ini, perempuan Aceh umumnya memproduksi tepung sendiri. Tepung-tepung yang berasal dari beras itu ditumbuk dengan jeungki ‘alat penumpuk padi tradisional’ yang murni mengandalkan kekuatan kaki untuk menggenjot tuasnya. Di musim-musim tertentu, seperti menjelang puasa atau Idulfitri dan Iduladha, aktivitas menumbuk tepung semakin intens. Tepung-tepung itu nantinya disimpan sebagai bahan untuk membuat kue-kue sebagai hidangan selama bulan puasa ataupun untuk hari raya.

Tidak semua orang memiliki jeungki di rumahnya. Selain, menumbuk tepung juga tidak bisa dilakukan seorang diri. Minimal harus dua orang. Satu orang sebagai penggenjot tuas, satu lagi duduk di ulee jeungki atau di dekat lesung. Tangan orang yang duduk di ulee jeungki ini berfungsi sebagai “spatula” agar tepung tidak berserakan. Karena itulah, ibu-ibu dulu sering menumbuk tepung bersama-sama dengan tetangga atau kerabatnya.

Kegiatan ini juga menjadi ruang bersosialisasi bagi perempuan; sekaligus ruang untuk saling tukar informasi. Tak jarang para tetangga hadir hanya untuk menonton temannya menumbuk tepung sambil bercengkerama tentang apa saja.

Di akhir prosesi menumbuk itu, biasanya akan disisakan sedikit tepung untuk dijadikan kudapan. Tepung yang masih basah itu pun diberi tambahan kelapa parut, garam, dan gula. Kemudian ditumbuk lagi sampai semuanya merata. Baru setelah itu dikepal-kepal sesuai selera. Kepalan itulah yang disebut dengan geuleupak.

Suasana bazaar

Keberadaan geuleupak dalam bazaar Kampanye We Can “Kita Bisa Menanggulangi Perubahan Iklim” di pekarangan Kantor Camat Lhoknga pada Senin, 28 Juli 2025, sukses menghadirkan nostalgia saat saya menumbuk tepung bersama almarhumah nenek buyut saya—yang diakhiri dengan membuat dan menikmati camilan geuleupak. Kampanye tersebut dilaksanakan oleh Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) Aceh yang menggandeng TP PKK Kecamatan Lhoknga sebagai tuan rumah.

Selain geuleupak, saya juga mencicipi ie bu peudah ‘bubur pedas’. Bubur ini hampir tak pernah ditemukan di bulan-bulan selain Ramadan. Saya pun beranjak dari satu stan ke stan lain. Menengok satu produk ke produk lain. Ada bhoi (bolu kering khas Aceh), boh rom-rom (buah melaka), payeh ôn mulieng (sayur khas Aceh Besar dari daun melinjo), sie reuboh (daging rebus cuka), dan banyak lagi.

Tak hanya sensasi rasa yang saya dapatkan di arena bazaar, tetapi juga sensasi suasana seperti di pasar rakyat. Para ibu berjualan di gang-gang pasar yang sempit. Para pengunjung berlalu-lalang saling bertabrakan bahu saking sesaknya. Dengan ramah mereka menyapa setiap pengunjung yang mampir ke stan. “Piyôh ‘singgah’.” “Silakan dicicipi.” “Silakan dibeli.”

Suasana bazaar semakin riuh dan hidup berkat kepiawaian Agus Agandi melakoni perannya sebagai MC. Kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulutnya malah membuat saya teringat pada penjual obat keliling yang dulu sering kita tengok di pasar-pasar tradisional. Salah seorang pengunjung dengan raut wajah takjub bertanya, “Siapa MC-nya?”

Staf Program-Kampanye YKPI Aceh, Desy Setiawaty, mengatakan, kampanye tersebut memang dirancang secara dua arah. YKPI hadir untuk memberi edukasi tentang pentignya keterlibatan perempuan dalam kampanye penanggulangan dampak perubahan iklim. Sedangkan dari kelompok masyarakat berpartisipasi dengan memamerkan dan menjual berbagai produk UMKM mereka. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan manfaat ekonomi.

“Kami ingin, melalui bazaar ini kampanye atau ajakan menjaga lingkungan sebagai upaya memitigasi dampak perubahan iklim bisa sejalan dengan gerakan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Desy.”

Salah seorang anggota PKK menandatangani komitmen penanggulangan perubahan iklim.

Melalui bazaar ini pula, YKPI ingin menunjukkan bahwa upaya-upaya memitigasi dampak perubahan iklim tak semengerikan yang ada dalam benak segelintir orang. Tidak melulu membutuhkan usaha super atau teknologi canggih yang tak terjangkau oleh masyarakat biasa. Dalam praktiknya, memungkinkan dilakukan oleh setiap individu dengan cara-cara yang sederhana dan murah.

Misalnya, kata Desy, penggunaan kemasan-kemasan yang ramah lingkungan. Seperti yang ada di stan-stan tersebut, air tebu dan air nira dihidangkan dalam “tumbler” dari bambu; bubur pedas dalam wadah batok kelapa muda; sayur rebus dalam wadah “mangkok” daun pisang; hingga telur asin yang dibungkus dengan ôn keureusông; sie reuboh dalam wadah tembikar; dan aneka umbi-umbian menggoda selera di atas nyiru berbahan batang bemban (bak bili).

“Semuanya alami dan bahan-bahan itu mudah terurai, juga tersedia di sekitar kita,” kata Desy.

Ajakan Tobat Ekologis

Proses transaksi dalam bazaar yang saling menguntungkan.

Inisiatif-inisiatif seperti di atas yang disebut oleh Ketua YKPI Aceh, Ruwaida, sebagai upaya melakukan “tobat ekologis”. Meski kecil, tetapi dampaknya bisa besar jika dilakukan secara berjemaah atau massal. Karena itu pula, selain bazaar, kampanye itu juga diisi dengan talkshow yang menghadirkan tiga perempuan pionir di Kecamatan Lhoknga: Siti Fatimah (TP PKK Gampong Weu Raya), Nurhayati (tokoh perempuan dan adat Gampong Nusa), dan Yusriati (Ketua TP PKK Kecamatan Lhoknga). Talkshow dengan tema yang sama ini hadir sebagai ruang edukasi sebaya atau peer education dari, oleh, dan untuk mereka sendiri.  

Dalam kesempatan saat membuka talkshow tersebut, Ruwaida mengajak semua pihak untuk melakukan tobat ekologis. Istilah tersebut akhir-akhir ini memang semakin berdengung seiring semakin nyatanya dampak perubahan iklim yang terjadi akibat terperangkapnya panas matahari di atmosfer akibat emisi gas rumah kaca. Musim kemarau cenderung menjadi lebih panjang dan curah hujan yang sangat tinggi di luar siklus musim.

“Melalui pendidikan, inovasi, dan kepatuhan terhadap komitmen iklim, seyogianya kita dapat membuat perubahan yang diperlukan untuk melindungi planet Bumi,” kata Ruwaida.

Suhu panas ekstrem yang melanda Aceh misalnya, mencapai angka 36,1 derajat celcius. Bahkan, Bank Sentral Eropa memprediksikan, suhu ekstrem dapat memicu terjadinya inflasi pada berbagai komoditas sebesar 0,5—1,2 persen pada tahun 2035.

Karena itulah kata Ruwaida, kesadaran saja tak cukup. Harus ada action yang nyata. Perubahan perilaku harus terus dilakukan. Semua orang harus mengambil peran, termasuk kelompok-kelompok perempuan yang menjadi perekat di masyarakat seperti halnya organisasi PKK.

Bukan Mitos Belaka

Aneka produk berbahan rotan

Mengenai dampak perubahan iklim, memang bukan lagi omong kosong belakang. Cerita tentang itu tak bisa dianggap sebagai mitos untuk “menakut-nakuti” agar orang tak zalim pada alam. Siti Fatimah telah merasakan sendiri bagaimana dampaknya.

Saat kemarau panjang melanda Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, pada pertengahan tahun 2024 lalu, ibu-ibu atau perempuan sangat jera. Kekurangan air untuk memasak, tak ada air untuk mencuci pakaian, bahkan air yang digunakan untuk menceboki anak-anak pun harus dihemat-hemat. Bantuan air bersih pun didatangkan untuk masyarakat Lhoknga. Pusatnya di tempat yang sama di tempat berlangsunya kampanye hari itu.

Beranjak dari pengalaman itu, Siti pun menggalang aksi perubahan dengan mengajak warga. Inisiasi itu gayung bersambut dengan kehadiran YKPI di Kecamatan Lhoknga untuk memberikan penguatan kelompok, terutama perempuan. Hasilnya?

“Desa kami kini punya Satgas Penanggulangan Bencana,” kata Siti bangga saat tampil dalam talkshow.

Adapun Nurhayati, yang telah lebih dulu melakukan gerakan perubahan di desanya, Nusa, kini mulai “memanen” hasil. Nusa sering menjadi tujuan wisatawan lokal yang ingin membuang penat di akhir pekan sekadar untuk mejeng di jembatan kayu yang ikonik. Perubahan di Nusa terjadi berkat tangan dingin perempuan-perempuan hebat. Salah satu pionirnya adalah Nurhayati.

Ia mulai mengampanyekan budaya bersih dan lestari di desanya sejak dua dekade silam. Ia membentuk bank sampah dan kini telah terbentuk juga pelopor sampah. Nusa kini menjadi desa wisata yang kesohor se-Nusantara. Tamu-tamu yang bertandang ke Nusa dan mendapat jamuan dari warga setempat, jangan harap menemukan air minum kemasan. Kalau mereka menginap di homestay yang ada di Nusa, pengademnya juga hanya pakai kipas angin.  

Yang menakjubkan dari cerita Nurhayati, konsistensi mereka dalam merawat alam Nusa telah mendatangkan manfaat ekonomi bagi warga setempat.

Perempuan Aceh telah terbukti tangguh dalam berbagai situasi. Perjuangan itu sendiri sejatinya tak pernah selesai, kini saatnya mereka melawan perubahan iklim. Seperti halnya kebersamaan yang dibutuhkan untuk menghadirkan sekepal geuleupak, berjuang melawan perubahan iklim juga tak bisa sendiri.[]