Beranda blog Halaman 16

Jatuh Bangun Yulianti Meniti Karier Bidan hingga Mendirikan Bidan Holik Aceh

Berprofesi sebagai bidan merupakan pilihan hidup Yulianti, SST. Perempuan yang akrab disapa Kak Uli oleh tim Bidan Holik Aceh ini, begitu bangga dengan profesinya. Sebab, itulah yang menjadi andalan hidupnya setelah melewati proses pendidikan kebidanan yang butuh perjuangan.

Ya, sekolah di bidang kesehatan seperti halnya di jurusan kebidanan bukanlah perkara mudah. Butuh investasi uang, pikiran, dan waktu yang panjang untuk menyelesaikan semuanya. Setelah lulus pun masih banyak aral melintang, terutama saat mendapatkan pekerjaan. Lulusan kebidanan yang kian membeludak membuat persaingan begitu ketat di dunia kerja. Bahkan di antaranya terpaksa rela bekerja tak bergaji sebagai bidan bakti demi mempertahankan gengsi.

Namun, pilihan itu tak bisa ditempuh Uli karena ia masih mempunyai tanggung jawab lain. Selesai kuliah bukan berarti selesai pula urusannya. Sebab gengsi tidak bisa mengembalikan aset-aset orang tuanya yang tergadai demi membiayai pendidikannya. Tidak bisa juga membantu biaya sekolah adik-adiknya, bahkan tak mampu sekadar untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.

Uli ingin profesinya dihargai, setidaknya dengan mendapatkan jerih payah sesuai kemampuannya. Bisa menjadi sumber penghasilan yang memadai. Sebuah pilihan yang realistis demi keberlangsungan hidup seorang anak manusia. Namun, instansi mana yang mau menerima seorang fresh graduate yang hanya berbekal selembar ijazah? Uli pun berbalik haluan, banting setir kerja serabutan hanya demi untuk makan. Bagaimana kisah Uli bertahan hidup hingga akhirnya membangun Bidan Holik Aceh? Mari simak ceritanya agar bisa dijadikan contoh dan panutan.

***

Kamis, 11 Maret 2021 saya mendatangi Apotek Family Farma di Jalan Teuku Muhammad Daud Beureueh, Banda Aceh. Kedatangan saya untuk menemui pemilik Bidan Holik Aceh yang tidak lain ialah Yulianti. Lima menit menunggu, seorang perempuan turun dari Agya kuning menuju ruang tunggu apotek. Senyumnya merekah saat melihat saya duduk di sofa lalu menghampiri dan menyalami saya yang datang ditemani suami. Uli menyapa kami dan meminta maaf atas keterlambatannya. Sesaat kemudian ia pun mengajak saya ke ruang praktik Bidan Holik yang juga di gedung itu.

Kami tiba di ruangan seukuran 4×3 meter dan tampak pasangan muda yang sedang menunggui bayinya dipijat oleh pegawai Bidan Holik Aceh. Terdapat bak mandi yang dipenuhi bola-bola plastik, digunakan untuk bayi berenang. Meskipun tidak terlalu besar, ruangan itu sangat nyaman karena didekorasi dengan warna biru laut yang cerah lengkap dengan beberapa lukisan hewan bawah laut.

Uli mempersilakan saya untuk melihat proses pijat bayi atau baby massage. Bayi itu terlihat senang dipijat, begitu juga dengan orang tuanya tampak bahagia mengikuti proses itu. Setelah pemijatan selesai, Uli menggendong bayi tersebut sambil mengobrol dengan orang tuanya. Mereka kelihatan akrab karena ini bukanlah kali pertama bayi itu dibawa ke Bidan Holik untuk dipijat.  

“Bayi yang dipijat pasti hasilnya lebih maksimal. Ibarat dua tanaman yang satu dipupuk dan lainnya dibiarkan tumbuh begitu saja. Tentu tanaman yang dipupuk akan tumbuh lebih subur. Begitu pula bayi yang dipijat, pertumbuhan dan perkembangannya akan lebih baik karena akan memengaruhi daya isap saat ia menyeusui. Bila kebutuhan ASI tercukupi, aliran darah pun akan lancar yang akan mengantarkan nutrisi ke seluruh sel-sel tubuh. Hal ini akan berpengaruh pada kenaikan berat badan bayi karena nutrisi tercukupi. Begitu pula aliran darah yang lancar ke otak akan merangsang perkembangan otak anak,” jelas Uli memaparkan manfaat pijat bayi.

Orang tua bayi tersebut terlihat fokus menyimak penjelasannya. Tak terkecuali saya. Mungkin karena saya juga mempunyai bayi, informasi tersebut sangat menarik untuk diikuti. Namun, kedatangan saya ke sana bukanlah sekadar untuk mendengarkan tentang informasi bayi, tapi lebih dari itu. Lebih tepatnya mendengarkan kisah Uli dalam merintis usaha berbasis jasa; Bidan Holik Aceh.

Uli lantas mengajak saya ke ruangan sebelah. Kliennya tadi kembali dilayani oleh pegawainya. Di ruang sebelah kami bisa mengobrol dengan nyaman tentang jatuh bangunnya meniti kariernya sebagai seorang bidan profesional.

Susahnya Mencari Pekerjaan Tanpa Rekomendasi

Uli memulai pendidikannya di perguruan tinggi dengan bersekolah di Akademi Kebidanan (Akbid) Saleha Banda Aceh. Ia lulus pada 2011, tahun saat mulai diberlakukannya surat tanda register bagi seluruh tenaga kesehatan yang ingin bekerja di sektor pelayanan kesehatan. Uli yang baru saja lulus tahun itu belum bisa mengurus STR. Aturannya dua tahun setelah kelulusan baru bisa mendapatkan STR. Meskipun sudah ada peraturan tersebut, Uli tetap saja nekat melamar pekerjaan di pelayanan kesehatan. Berbekal ijazah D3, perempuan asal Aceh Besar ini mendatangi puskesmas di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Ia berharap ada kesempatan kepadanya untuk bekerja di sana. Sebab, dialah satu-satunya tumpuan orang tua dan harapan bagi kelima adiknya yang masih bersekolah.

“Orang tua mengeluarkan biaya besar untuk uang kuliah saya, paling tidak saya bisa membantu mereka dengan memberikan uang jajan adik setelah lulus. Meskipun ibu PNS, tapi gajinya tidak seberapa lagi karena sudah banyak ambil kredit di bank. Beberapa asetnya seperti sawah juga tergadai demi menguliahkan saya. Sedangkan ayah tidak bisa bekerja karena sakit. Makanya besar harapan ke saya agar bisa sedikit meringankan beban yang dipikul orang tua,” ungkap Uli.

Karena itulah Yuli benar-benar sangat membutuhkan pekerjaan. Namun, setiap kali ia melamar pekerjaan di pelayanan kesehatan, mereka selalu meminta persyaratan STR selain ijazah. Kemudian mereka juga meminta rekomendasi dari orang yang berpengaruh di pelayanan kesehatan tersebut. Sesuatu yang menurutnya sudah menjadi rahasia umum. Uli yang awam tentang persoalan itu mempertanyakan perihal rekomendasi tersebut. Sebagai lulusan baru yang minim pengalaman dan tidak punya kenalan orang berpengaruh, ia hanya bisa diam saat dimintai persyaratan tersebut. Lebih lanjut pihak puskesmas menjelaskan kalaupun ia diterima di pelayanan tersebut, statusnya hanya sebagai bidan bakti. Ia harus rela bekerja tanpa digaji.

Akhirnya ia mengurungkan niatnya dan mencari tempat pelayanan kesehatan lain. Kondisi yang sama kembali terulang. Selain STR juga diminta surat rekomendasi. Itu pun tetap dengan status sebagai bidan bakti. Hampir seluruh puskesmas di Aceh Besar dan Banda Aceh yang didatangi menetapkan persyaratan tersebut.

Belum juga menyerah, perempuan kelahiran 18 November 1989 ini mencoba melamar pekerjaan di rumah sakit. Hasilnya juga sama, ia tidak mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. Semua rumah sakit yang menerima surat lamaran pekerjaannya menolak Uli.

Menjadi Tukang Cuci dan Membuat Kue

Selama menunggu penantian pengurusan STR, Yuli bekerja serabutan. Ia membuka jasa laundry di rumah. “Saya mencuci baju orang karena tidak punya uang. Tidak mungkin lagi saya meminta kepada orang tua karena utang-utangnya saja sudah menumpuk. Jadi, saya membuka jasa laundry abal-abalan di rumah dan mencuci baju para tetangga. Selain itu, baju kotor teman-teman adik saya di pesantren saya suruh bawa pulang ke rumah untuk dicuci. Walaupun hasilnya tidak seberapa, tapi lumayanlah untuk mencukupi uang jajan adik saya yang satu itu. Namun, masih ada empat orang adik saya lainnya yang membutuhkan biaya sehari-hari untuk sekolah,” katanya.

Untuk menambah pemasukan, ia membuat kue basah dan menitipkannya ke kedai kopi. Dibantu oleh adik-adiknya, ia melakukan semua pekerjaan tersebut dengan ikhlas. Hasil dari jualan kue dan jasa laundry digunakan untuk membantu uang jajan adik-adiknya sehari-hari. Pekerjaan tersebut dilakoninya selama kurang lebih satu tahun.

Meski begitu, Uli juga sering dilibatkan dalam proses membantu persalinan pasien bidan-bidan senior mantan dosennya. Kebetulan ia mempunyai kedekatan emosional dengan beberapa bidan yang mempunyai klinik bersalin.

“Ibu ada lowongan buat saya, nggak? Saya belum ada STR, hanya berbekal ijazah D3. Apa saja boleh saya lakukan untuk membantu Ibu di klinik,” ujar Yuli sedikit mengiba saat menghubungi bidan-bidan senior tersebut.

Dari hasil menjaga pasien tersebutlah ia mendapat uang tambahan. Bila ada pasien yang akan melahirkan, dialah yang mendampingi hingga selesai. Setelah pasien pulang, dia juga yang datang ke rumah pasien tersebut untuk memandikan bayinya. Bermula dari pekerjaan memandikan bayi inilah, Uli mulai dikenal banyak orang.

Tantangan di Masyarakat

Selama melakoni pekerjaan memandikan bayi itulah Uli melihat masih banyak praktik yang dilakukan oleh mablin (dukun beranak) pada ibu pascasalin yang tak sesuai dengan ilmu kebidanan modern.

“Saya melihat ibu-ibu yang baru melahirkan dipijat oleh mablin atau wawak-wawak. Namun, cara pemijatannya tidaklah benar, justru membahayakan si ibu. Contoh yang paling sering saya temukan ialah ibu pascalahir dipijat untuk menaikkan perut. Padahal rahim si ibu masih dalam keadaan luka karena baru saja melahirkan. Kemudian dipijat oleh mablin sambil ditekan-tekan dan diangkat-angkat hingga membuat si ibu merasa kesakitan. Belum lagi batu panas yang dibalut menggunakan kain, lalu diletakkan di atas perut sambil ditekan-tekan. Hal seperti itu membuat perut relaksasi sehingga akan berpotensi terjadi perdarahan. Sebab prinsipnya rahim harus berkontraksi agar proses penyembuhan luka membaik. Bahkan kami akan menyuntikkan oksitosin kepada ibu melahirkan agar rahimnya berkontraksi, melakukan MA3K salah satunya masase perut, masase rahim supaya rahim dapat berkontraksi,” jelas Yuli.

Namun, yang ditemukan dirinya di lapangan justru rahim ibu pascamelahirkan dibuat relaksasi dengan cara dipijat. Rahim yang dalam keadaan luka tersebut akhirnya mengeluarkan banyak darah dan itu disangka baik oleh mereka. Padahal itu berisiko membuat si ibu perdarahan yang mengakibatkannya anemia, makanya kebanyakan ibu melahirkan kelihatan pucat karena kekurangan darah. “Sebab perdarahan lebih dari 500 mg disebut perdarahan patologi/penyakit,” lanjut Yuli.

Praktik tak sesuai lainnya ialah banyaknya pantangan bagi ibu pascasalin. Si ibu tidak diizinkan makan dan minum terlalu banyak, makan tidak boleh lebih dari tiga sendok, minum tidak boleh lebih dari tiga teguk, dan minum itu pun sangat jarang sekali, bahkan sampai kering bibir si ibu baru diizinkan minum. Belum lagi pantangan untuk memakan daging, ikan, udang, dan sebagainya. Makanan yang diberikan kepada ibu melahirkan hanya berupa sayur bening daun ubi, ikan keumamah (ikan kayu) atau kareng (teri kering). Padahal ibu melahirkan butuh asupan gizi yang tinggi dari berbagai makanan untuk memulihkan kondisi tubuhnya dan penyembuhan rahim.

“Dengan kondisi seperti itu, produksi ASI pun juga terhambat karena si ibu merasa tertekan dengan perlakuan yang tidak menyenangkan. Padahal si ibu harusnya dibuat senang dan bahagia agar hormon prolactin bekerja sehingga meningkatkan produksi ASI. Tapi, ini justru malah disakiti yang membuat si ibu stres. Ketika ASI tidak ada, lalu mereka bilang ASI ibu tidak enak, kemudian diberilah susu formula. Begitu ASI keluar, bayinya tidak mau lagi menyusui karena sudah bingung puting. Anak pun sering menangis karena kembung, lalu diberi pisang karena disangka lapar. Padahal bayi baru lahir belum bisa mencerna makanan padat karena sistem pencernaaannya masih dalam proses tahap perkembangan. Praktik seperti itu terus dilakukan, meskipun salah karena dilakukan berulang-ulang dianggap sesuatu kebenaran oleh masyarakat.”

Melihat kondisi tersebut batin Uli berontak. Ia pernah menyampaikan kegundahannya pada salah satu pasien dan keluarganya, tetapi dia justru diserang.

“Orang-orang dulu juga seperti itu, tapi mereka baik-baik saja,” jawab keluarga pasien.

Hal ini menjadi dilema bagi Uli, saat ia berusaha menyampaikan kebenarannya justru akan berpotensi menimbulkan konflik.

“Saat itu saya dimarahi sama ibu pasien, mertuanya, dan orang-orang sekitarnya. ‘Kamu tahu apa anak kemarin sore mau sok mengajarkan orang tua,’ kata mereka kepada saya. Berbagai bantahan datang dari mereka bila saya sampaikan kebenarannya. Salah-salah ngomong, bisa-bisa saya kehilangan job memandikan bayi,” tuturnya.

Dalam menghadapi tantangan itu, ia pun harus pandai-pandai berkomunikasi mengambil hati pasien dan keluarganya. Supaya mablin tidak tersinggung ketika ia sampaikan ilmunya dan tidak disangka menjadi musuh karena berpeluang mengambil job mereka. Uli banyak belajar dari bidan-bidan senior bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan pasien. Untuk memperdalam ilmunya tersebut, Uli pun memutuskan untuk melanjutkan kuliah D4 Kebidanan di Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) pada 2012.

Orang tuanya kembali harus menggadaikan sawah untuk biaya pendaftaran masuk perguruan tinggi. “Uang hasil dari gadai sawah itu semuanya habis untuk biaya masuk. Setelah saya hitung-hitung semua kwitansinya tercatat 25 juta lebih sedikit yang harus saya keluarkan.”

Selama dua tahun kuliah, ia tetap menyambinya dengan pekerjaan memandikan bayi. Namun, ia mulai menambah beberapa treatment lainnya seperti pijat bayi, perawatan tali pusat, edukasi perawatan bayi baru lahir kepada pasien, dan cara menyusui yang benar. 

Tamat kuliah pada 2014 dengan menyandang gelar Sarjana Sains Terapan, Uli pun menikah. Beruntung suaminya mempunyai jaringan yang bisa membuatnya diterima bekerja di sebuah rumah sakit. “Entah bagaimana prosesnya saya tidak tahu. Akhirnya saya bekerja di rumah sakit tersebut beberapa bulan. Sedangkan pekerjaan memandikan bayi tetap saya lakukan di samping bekerja sebagai bidan di rumah sakit tersebut.”

Kemudian pada saat itu, sedang ada dibuka lowongan pekerjaan bagi tenaga medis untuk sebuah rumah sakit yang baru dibuka. Uli memutuskan mengikuti proses seleski di rumah sakit tersebut. Semua tes yang dibuat rumah sakit dilaluinya, akhirnya ia diterima sebagai tenaga bidan di rumah sakit tersebut.

Karena rumah sakit ini baru dibuka, mereka masih menerapkan sistem roling dalam penempatan tenaga medis. Jadi, di tahun pertama dan kedua bekerja di situ, Uli berkesempatan mengikuti berbagai pelatihan yang dibuat pihak rumah sakit. Sistem roling yang dibuat rumah sakit juga memberikan kesempatan belajar bagi dirinya untuk mendalami ilmu dan pengalaman menjadi bidan.

“Saya pernah ditempatkan di ruang bersalin, kemudian dipindahkan ke instansi gawat darurat, lalu pindah lagi ke ruang perinatolgi. Jadi, saya bisa belajar banyak saat menangani pasien di ruang-ruang tersebut. Akhirnya semua dokter umum dan spesialis yang ada di rumah sakit itu saya kenal yang menambah jejaring pertemanan saya.”

Selama bekerja di rumah sakit, Uli tidak lagi menerima job memandikan bayi dari bidan-bidan senior. Sebab, setiap ia membantu persalinan di rumah sakit, ia juga berkesempatan untuk memandikan bayi mereka setelah pulang. Bahkan saking banyaknya pasien, ia tidak sanggup menanganinya sendiri. Ia pun mencari bidan junior yang sama sepertinya dulu untuk membantu pekerjaannya tersebut.

“Saat itu saya sudah punya karyawan, walaupun dua orang hasil dari pekerjaan tersebut sangat lumayan bagi saya. Kemudian saya terpikir, mau sampai kapan saya bekerja sama orang dan saya mulai membandingkan gaji yang saya dapat dari rumah sakit dengan penghasilan saya di luar. Akhirnya saya memutuskan untuk resign dari rumah sakit karena saya ingin fokus membangun usaha saya dengan tim yang saya bentuk.”

Diceraikan dan Jatuh ke Titik Terendah

Januari 2019, Uli resmi tidak bekerja lagi di rumah sakit. Akibatnya ia harus berusaha lebih keras untuk membangun semuanya dari nol. Begitu pula dengan pasien yang semulanya ramai, kini menjadi berkurang karena ia harus mencari pasien sendiri.

“Pasien pun jadi terputus karena saya tidak bekerja lagi di rumah sakit yang secara otomatis tidak ada lagi pemasukan untuk saya. Apalagi yang namanya kita masih merintis semua masih terbatas, termasuk modal. Jadi, waktu itu saya tidak pikir panjang saat resign sehingga ada sedikit timbul penyesalan di hati,” ungkap Yuli.

Terlebih rumah tangga Yuli saat itu sedang dilanda masalah. Ia harus merasakan pahitnya ditinggal suami karena diceraikan. “Kami belum punya buah hati, mungkin itu alasan utama dari kehancuran rumah tangga saya,” suaranya tercekat seakan ada beban berat yang masih disimpannya di dalam hati.

Situasi itu membuat Uli benar-benar merasa berada di titik terendah. Perkerjaan tak punya, teman pun tiada. Dua pegawainya terpaksa diistirahatkan karena tidak mampu menggaji mereka. Jangankan untuk membantu orang tua, untuk biaya hidup sendiri pun dia tak punya. Ia merasa sudah salah mengambil keputusan, tapi ia segera sadar bahwa apa pun jalan yang dipilihnya, itu adalah pilihan. “Nggak mungkin lagi melaju ke belakang karena waktu tidak bisa diputar. Sehingga pertama kali yang saya lakukan saat itu adalah salat. Itulah salat yang paling khusuk dalam hidup saya selama ini,” ungkapnya.

Dalam salat itu, ia berdoa kepada Allah Swt agar diberikan solusi atas masalah yang dihadapinya. Ia mengadukan semua masalah yang dialaminya kepada Sang Pencipta. “Saya tidak bisa hidup tanpa bantuan Engkau karena saya adalah ciptaan Engkau. Jadi, apa pun yang terjadi di masa lalu dan masa depan, Engkaulah yang tahu dan Engkau yang punya solusi atas masalah yang saya hadapi sekarang,” rintih Uli dalam doanya saat itu.

Setelah salat, tiba-tiba ia terpikir untuk membuat akun Instagram. Padahal sebelumnya ia tidak pernah menggunakan aplikasi tersebut. Dia meminta bantuan kepada salah satu pasiennya untuk dibuatkan akun Instagram. Pasien tersebut sedikit merasa aneh sebab di zaman digital seperti sekarang masih ada orang yang tidak tahu cara membuat akun Instagram. Apalagi Uli juga tergolong milenial.

“Walau awalnya diketawain oleh pasien saya, tapi dia tetap mau membantu saya untuk membuat akun Instagram. Kemudian dia juga mengajari saya cara meng-upload foto dan penggunaan beberapa fitur lainnya yang terdapat di Instagram. Akhirnya pada 4 Mai 2019, terbentuklah akun Instagram Bidan Holik Aceh.”

Bangkit dan Membangun Bidan Holik Aceh

Mengenai penggunaan nama Bidan Holik, ia teringat akan satu kata holic yang bermakna kecanduan. Ia merasa cocok kata itu disandingkan dengan kata bidan yang merupakan profesinya. Sebab bila menggunakan jenama Bidan Yuli, tidak ada yang mengenalnya karena masih banyak bidan lainnya yang jauh lebih terkenal dan senior dari dirinya.

“Saya memilih kata holic yang kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi holik. Dengan nama tersebut saya berharap orang-orang akan kecanduan dalam artian positif menggunakan jasa saya. Maksudnya saya mau orang yang sudah treatment pada saya datang lagi dan lagi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Kata holic yang mulanya bermakna negatif tidak selamanya buruk. Sama halnya seperti hidup saya yang sedang terpuruk, susah, dan sedang dilanda masalah akan bangkit menjadi pribadi yang lebih baik dan positif. Jadi, saya sengaja mengutip kata yang negatif untuk dijadikannya positif, maka jadilah Bidan Holik Aceh,” tutur Yuli.

Dengan penuh semangat dan keyakinan, ia pun kembali menghubungi bidan-bidan senior agar ketika ada pasien yang membutuhkan jasa memandikan bayi bisa menggunakan jasanya. Setiap kali melakukan tugasnya seperti memandikan bayi, memijat, dan perawawatan bayi lainnya, ia mengunggahnya ke Instagram.

Hingga suatu hari, orang yang berpengaruh di Aceh menjadi salah satu pasiennya. Anak mantan gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, menggunakan jasanya untuk perawatan bayinya. Uli dengan sigap menjalani tugasnya, mulai dari memandikan, memijat bayi tersebut, hingga perawatan lainnya. Tanpa sepengetahuan dirinya, Darwati Agani—istri Irwandi Yusuf—merekam aktivitasnya.  

“Bu Darwati memasukkan saya ke siaran langsung Instagramnya. Tidak lama kemudian, HP saya mulai dibanjiri banyak pesan, bahkan ada yang menelepon saya untuk mengkonfirmasi bahwa saya masuk siarang langsung Bu Darwati. Saya kaget dan balik bertanya apa itu siaran langsung, begitulah saking kurang update-nya saya,” ujarnya sambil tergelak.

Berkat unggahan Darwati, akun Instagram Bidan Holik Aceh mulai dikenal. Beberapa hari setelah itu, follower-nya bertambah menjadi empat ribu yang sebelumnya hanya beberapa puluh saja. Efeknya dia kebanjiran pekerjaan yang diterimanya melalui pesan Instagram. Hingga sebulan setelah video itu diunggah, Uli mempunyai jadwal memandikan bayi hingga satu bulan berikutnya.

Ia merasa inilah jawaban Tuhan atas semua doa yang dipanjatkannya beberapa waktu lalu. Ia pun memanggil kembali pegawai yang sempat diistirahatkan. Semakin hari nama Bidan Holik Aceh semakin dikenal. Beberapa pasien yang menggunakan jasanya secara sukarela mempromosikan usahanya. Sebab setelah melakukan treatment mereka mempostingnya ke Instagram masing-masing.

“Dari Instagram si A, kemudian diketahui oleh si B dan seterusnya, hingga semakin banyak yang mengetahui tentang Bidan Holik Aceh dan menggunakan jasa kami. Sampai hari ini sudah 19 ribu follower Bidan Holik Aceh dan kami sering mendapatkan orderan via Instagram. Dilihat sangat aktif di Instagram, alhamdulillah pada Agustus 2019 pihak Family Farma mengajak saya untuk melakukan praktik di tempat ini. Saya benar-benar tidak menyangka Allah akan kasih semuanya setalah beberapa kesulitan yang saya alami sebelumnya,” tukas Yuli.

Untuk memperdalam ilmu dan wawasannya, ia mengikuti berbagai pelatihan berbayar yang ada di luar Aceh dengan biayanya sendiri. Ia pun diajarkan cara berbisnis dan beberapa turunan ilmu kebidanan yang sudah dikembangkan. Tercatat ada empat pelatihan yang diikutinya. Mulai dari tiket penginapan, biaya pelatihan, tiket pesawat, dan biaya hidup selama pelatihan, ditanggungnya sendiri demi mendapatkan sertifikat dan pendalaman ilmu. Di awal 2020, ia berhasil membuat CV Bidan Holik Aceh dan memperkerjakan beberapa bidan untuk membantu usahanya.

Saat ini ada sepuluh pegawai yang berasal dari profesi bidan dan enam orang admin yang bukan bidan bekerja membantu Bidan Holik Aceh. Ia membuka rekrutmen saat menerima tenaga bidan yang bekerja untuknya, kemudian melatih sampai mereka benar-benar mahir melakukan perawatan, seperti pijat bayi, cara berkomunikasi dengan baik, dan beberapa skill penunjang lainnya.

Ia juga membuka cabang Bidan Holik di berbagai daerah. “Untuk saat ini ada lima tempat, yaitu di Meulaboh, Birueun, Lokseumawe, Lhoksukon, dan Aceh Selatan. Saya mengundang bidan dari daerah tersebut ke Banda Aceh, kemudian dilatih sampai mereka bisa dilepaskan untuk melakukan treatment di daerahnya masing-masing. Selama mereka di Banda Aceh, semua keperluannya saya yang tanggung begitu pula dengan semua pelatihan, saya berikan secara gratis. Setelah mereka setuju dengan kotrak yang Bidan Holik buat barulah mereka bisa bekerja di daerah masing-masing,” katanya semringah.

Di mata tim Bidan Holik Aceh, Uli dikenal baik dan pengertian. Ia memperlakukan karyawannya laiknya teman. Ia memberi kesempatan kepada bidan-bidan junior untuk bekerja di tempatnya dengan gaji sesuai dengan UMR.

“Alhamdullillah, penghasilan dari sini lebih mencukupi untuk kebutuhan saya dan jauh lebih tinggi bila bekerja di tempat lain,” ujar Uswah, salah satu pegawai Bidan Holik Aceh.

Uli sangat bersyukur dengan apa yang diperolehnya sekarang. Dengan usaha ini dia sudah bisa membuka lapangan pekerjaan untuk para bidan. Ia pun bisa membantu melunasi utang-utang orang tuannya dan membiayai pendidikan adik-adiknya. Begitu pula dengan fasilitas lainnya seperti rumah dan mobil sudah bisa ia miliki dari hasil jerih payahnya selama ini. Namun, yang paling penting Yuli bisa menerapkan ilmu kebidanan sesuai dengan apa yang dipelajarinya di dunia perkuliahan, tanpa harus sungkan mengatakan praktik perawatan ibu pascalahir yang salah dipahami masyarakat selama ini.

Kisah dari Yuli ini tentunya bisa dijadikan contoh teladan bagi banyak orang, khususnya tenaga bidan dan tenaga kesehatan lainnya. “Andai semua bidan bisa berpikir lebih kreatif dan tidak ada yang mau bakti tanpa digaji, pasti jasa bidan akan lebih dihargai. Sebab, pemerintah akan kewalahan karena tidak ada bidan yang mau bakti sehingga mau tidak mau pemerintah juga harus memberikan imbalan yang sesuai untuk jasa bidan dan tenaga kesehatan dengan gaji yang sesuai,” katanya berharap secuil harapan keadilan bagi rekan-rekan seprofesinya di luar sana.

Ia berharap lulusan bidan lebih mandiri dan tidak berharap ke orang lain apalagi menggunakan cara-cara yang tidak baik untuk mendapatkan pekerjaan. Yang terpenting teruslah berusaha dan berdoa karena dia sudah membuktikan, proses usaha dan doa sehingga sukses membangun usaha Bidan Holik Aceh.[]

Nuraini, Teungku Inong Modern Pendiri Balee Beut Kawasan Kampus

Empati dan peduli menjadi acuan penting untuk menjalani hidup dengan baik, terutama di era modern. Sikap-sikap itulah yang membuat kehidupan masyarakat tetap hangat. Kehidupan sehat yang jauh dari paradigma sosial berupa serangan kesepian (loneliness). Secanggih apa pun kehidupan, sebagai makhluk sosial, sejatinya setiap manusia tetap saling membutuhkan; memahami-dipahami, mencintai-dicintai, menolong-ditolong. Prinsip hidup semacam itulah yang tercermin jelas dalam keseharian aktivitas Nuraini Anazy S.Pd., yang akrab disapa Ummi Tet.

“Sedang bersiap-siap untuk takziah. Salah seorang warga baru berpulang ke Rahmatullah,” ujar Nuraini saat saya temui di kediamannya pada Minggu siang, 11 April 2021. Sebagai seorang perempuan berpengaruh di Gampong Rukoh, Banda Aceh, jadwal kegiatan Nuraini tergolong cukup padat. Setelah 24 tahun hidup di desa ini, Ummi Tet menjadi sangat melebur dengan masyarakat.

Penyuluh Kementerian Agama Non-PNS di Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, ini mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk mendidik dan membina masyarakat akan ajaran Islam. Sebagai pemimpin keagamaan perempuan, Ummi Tet menjadi tempat berlabuh bagi ibu-ibu yang ingin memperdalam pengetahuan agama dan memperbagus bacaan Quran mereka. Tak hanya itu, sikap Ummi Tet yang supel ternyata juga menarik minat banyak anak muda, terutama mahasiswa, untuk ikut belajar mengaji di Balai Pengajian Al-Ikhlas yang ia dirikan. Apalagi, ia tinggal di kawasan Kota Pelajar Mahasiswa Darussalam sehingga mudah diakses oleh mahasiswa yang kuliah di sejumlah perguruan tinggi yang ada di sana.

Balee ngaji ini aktif sejak 2010. Awalnya untuk mengajarkan anak sendiri. Saya ngajar ngaji di TPA juga. Namun, masih ada masyarakat yang minta diajarkan ngaji di rumah,” jelas ibu tiga anak tersebut. Pengajian ini berjalan karena banyaknya permintaan, baik dari kalangan ibu-ibu maupun mahasiswa.

Para ibu, suami, dan anak-anak mereka ingin belajar mengaji tapi malu atau takut berguru ke teungku di dayah. “Di sebagian dayah kan masih menggunakan metode memukul dengan rotan saat mengajar. Memang ada murid yang cocok seperti itu, tapi ada juga yang tidak kan. Kalau saya, tetap menggunakan metode Iqra walau mengajar di balee beut (balai pengajian). Pembelajaran tajwidnya juga saya sesuaikan dengan kebutuhan,” jelasnya.

Teungku Inong Modern

Walau menyandang predikat sebagai tokoh agama perempuan, Ummi Tet selalu bersikap ramah dan enggak neko-neko. Hal tersebut membuatnya mudah dekat dengan masyarakat dari beragam latar belakang dan usia. Dari orang dewasa, remaja, hingga kanak-kanak. 

Nuraini sendiri berpendapat bahwa tata cara penyampaian ilmu pengetahuan agama kini harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan personal. Sehingga masyarakat tidak takut dan tetap berminat untuk belajar. “Kita dulu, kalau enggak dipukul, enggak bisa. Kini beda. Anak-anak sekarang jika dipukul, besoknya enggak datang lagi,” papar Ummi Tet.

Selain program mengaji secara tatap muka, Nuraini juga membuka kelas belajar tajwid secara daring melalui gawai. Hal itu dilakukannya untuk menjangkau masyarakat lebih luas. Terutama bagi mereka yang berada di luar wilayah Banda Aceh. Program tersebut tentunya membantu masyarakat berkonsultasi mengenai bacaan Al-Qur’an dengan lebih fleksibel.

Kunjungan Mahasiswa Universitas Syiah Kuala ke Balai Pengajian Al-Ikhlas

Nah, adapun di kalangan mahasiswa, motivasi mereka belajar mengaji agak sedikit berbeda. Disebabkan ketidaklancaran membaca Al-Qur’an, para mahasiswa jadi tidak lulus program Tahsin. Secara otomatis, walau sudah lulus sidang skripsi, ijazah mereka tetap ditahan sementara oleh pihak kampus. “Sebenarnya UIN Ar-Raniry sudah punya wadah untuk belajar mengaji, cuma terkadang anak-anaknya memang kurang usaha. Biasanya mereka kesulitan karena enggak punya dasar ilmu. Mungkin karena logat daerahnya kan. Melafalkan 29 huruf hijaiah pun mereka kesulitan. Jadi harus di-peutakteh (tuntun).”

Di tengah padatnya kesibukan Nuraini dari pagi hingga malam; sebagai Penyuluh Kementerian Agama Non-PNS, pemimpin wirid Yasin Majlis Ta’lim, pengajar Al-Qur’an di TPA dan Diniah, dan panitia MTQ, nyatanya kegiatan balee beut di rumahnya tetap saja eksis. Pengajian itu digelar empat malam dalam sepekan, dari Senin hingga Kamis. Selepas magrib adalah waktu anak-anak belajar mengaji. Adapun bakda isya waktunya para dewasa dan orang tua. Semua usaha baik itu tidak akan berjalan lancar tanpa dukungan orang-orang tercinta. “Untuk pengajaran Iqra saya dibantu oleh kedua orang anak laki-laki saya. Jika yang hadir tidak ramai, maka mengajinya satu per satu. Kalau ramai, kita pakai metode tadarus bergantian. Jika bacaannya salah, langsung kita perbaiki.”

Untuk pembelajaran Quran di balee beut ini, Ummi Tet sama sekali tidak mematok harga untuk jasanya. Siapa pun umat Islam yang ingin belajar diterimanya. Karena keterbatasan waktu dan jarak, terkadang banyak juga masyarakat yang datang mengaji bukan pada waktu yang semestinya. Sembari dia memasak di dapur atau menggosok baju di siang hari. Atas dasar keinginan belajar agama, Ummi Tet dengan ikhlas meluangkan waktunya. ”Pembayaran suka rela. Tidak ada patokan. Terkadang ada yang membawa sayur-sayuran dari kampung. Alhamdulillah, kita terima. Insyaallah tetap kita ajarkan walau tidak dibayar. Nanti Allah kasih rezeki lain yang tidak kita sangka-sangka,” jelasnya semringah.

Kemudian, bagi Nuraini, tidak ada yang namanya kegagalan dalam mengajarkan Al-Qur’an. Walau harus melalui proses yang panjang, ia yakin setiap orang Islam akan lancar mengaji selama dia punya kemauan. “Kalau yang gagal tidak ada, cuma lama. Ada yang sampai tiga tahun baru bisa. Tapi ada juga yang tiga bulan sudah bisa baca Quran padahal awalnya Iqra pun tidak mengerti. Semua tergantung tekad, ya. Kalau mau belajar, semua bisa,” kenang Teungku Inong ini.

Ummi Tet menyerahkan hadiah di TPA An-Nur Sabilussalam

Di akhir pertemuan, perempuan kelahiran Sigli 1972 ini menceritakan bahwa awalnya dia memang pernah belajar mengaji di dayah-dayah kecil di kampungnya. Namun, ayahnyalah yang menjadi sosok utama dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam padanya. “Saya belajar dari Bapak. Beliau seorang petani biasa tapi pintar bertajwid dan tilawah. Dulu ada siaran khusus di radio tentang tajwid. Saya duduk di pangkuannya, menyimak bersama Bapak.”

Tampaknya, keberhasilan pola pengasuhan sang ayah telah menjadikan Nuraini sukses menjalani kehidupannya. Dia bisa mengelola waktunya secara bijak. Di balik beragam aktivitasnya yang cukup padat, dia tetap mampu mencurahkan segenap perhatian untuk keluarga tercinta. Tak heran, bimbingan yang ia berikan untuk para buah hati telah membawa mereka mengukir prestasi sejak dini. Bahkan Ummi Tet sendiri berhasil terpilih sebagai pemenang lomba pola asuh terbaik ibu dan anak. Sungguh sebuah perjalanan karier keperempuanan yang mengagumkan dan tentu patut dijadikan contoh teladan.[]

Bedah Buku “Rihon”; Soal Kerinduan Perempuan

0

Rindu adalah perasaan yang manusiawi. Saat merindu, kita dibawa pada dimensi lain. Dimensi dimana dunia menjadi samar. Hanya objek rindu kita yang mencuat.

Dalam kumpulan cerpen bertajuk Rihőn (rindu) Ihan Nurdin menuangkan berbagai rindunya. Kerinduan pada kemurnian, cinta dan kehangatan kemanusiaan.

Ihan banyak mengeksplorasi perasaan perempuan (dan non perempuan) dalam menghadapi berbagai konflik.

Sebagai jurnalis, Ihan terbiasa mencari angle unik mendalami sebuah peristiwa. Ia dapat menemukan hal-hal renik dalam perasaan perempuan, yang tidak atau belum digarap penulis lain.

Kompilasi cerita pendek setebal 200-an halaman ini, akan dibedah pada Jumat, 9 April 2021.  Pisau bedah dipegang penyair Diyus Hanafi dan penulis Dian Guci.

Dikenal dengan diksinya yang unik, Diyus tentunya akan menampilkan operasi pembedahan yang menarik.

Sementara itu, acara besutan Perempuan Peduli Leuser ini akan berlangsung di Cafe Albatros, Gampong Peulanggahan, dari pukul 14.30-16.30 WIB.

Diketahui, Perempuan Peduli Leuser (PPL) adalah komunitas beranggotakan perempuan dari lima Kabupaten/Kota di Aceh.

Fokus utama kegiatan mereka adalah isu-isu lingkungan hidup, kesetaraan, hak anak dan pemberdayaan.

Sebagai komunitas gabungan boomers-milenial-Gen Z, mereka mengoptimalkan platform media sosial sebagai alat kampanye.

Rindu lukisan, mata suratan, hatimu nan merindu, kata komponis besar Ismail Marzuki. Mereka yang merindu kegiatan literasi sastra dari perempuan, oleh perempuan dan untuk perempuan, sila mengontak narahubung: Yelli Sustarina di nomor 085260080834. [DG]

Artikel ini dipublikasikan di situs Nukilan.id 2 April 2021.

Kisah Rubama Membangun Perempuan Akar Rumput hingga Menjadi Pejuang Ekologi

Setengah jam menuju pukul empat sore. Matahari mulai redup. Semilir angin pepohonan di sepanjang Jalan T. Panglima Nyak Makam berembus malu-malu. Tak jauh dari bibir jalan terlihat sebuah rumah toko satu pintu yang difungsikan sebagai warung kopi; Leuser Coffee.

Di dalam warkop ber-tagline­-kan “konservasi dalam sebungkus kopi” itu tampak sekumpulan anak muda. Sebagian mereka sibuk menata letak kursi rotan, meja kayu, kamera, layar, dan juga sound system. Menurut kabar yang beredar, pada malam harinya akan diadakan pameran foto virtual yang memaparkan kondisi hutan di Provinsi Aceh selama sepuluh tahun terakhir.

Dari belasan orang yang berada di warkop itu, saya melihat seorang perempuan—berkemeja putih dengan kerudung warna linen hex—sedang berdiskusi santai bersama beberapa sejawatnya. Dialah Rubama.

“Kita tahu di hutan itu ada sumber kehidupan bagi siapa pun, terutama perempuan. Dulu orang tua kita kalau sakit tidak lari ke apotek, tapi larinya ke tumbuhan. Tapi apa yang terjadi hari ini? Penghilangan lahan bagi mereka, tidak bisa lagi masuk ke kawasan hutan.” Papar Rubama menjelaskan bagaimana kondisi hutan Aceh di masa lalu dan kini, mengawali perbincangan, Minggu, 21 Maret 2021.

Doc. Mongabay

Perempuan Aceh ini sejak dulu dikenal sangat antusias terhadap isu pemberdayaan masyarakat dan lingkungan hidup. Citranya sebagai warga—tentu setelah melalui segenap pancaroba—yang berhasil memajukan gampongnya sendiri, Gampong Nusa, sebagai desa wisata yang ramah lingkungan sudah diketahui khalayak ramai.

Menariknya, Rubama ternyata telah melebarkan sayap aksinya dengan bergabung bersama Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA). Transisi karier tersebut sempat menyedot perhatian banyak kenalannya, tak terkecuali warga net. “Nusa itu bagian dari tanggung jawab saya sebagai warga. HAkA ini tempat saya bekerja dan mencari nafkah. Saya sudah di HAkA sejak 2017,” cerita Rubama semringah.

Lalu di tahun 2018, bersama HAkA, Rubama melakukan inisiasi penanaman kembali pohon di Kawasan Ekosistem Leuser di wilayah Kabupaten Bener Meriah. Ia memfasilitasi kelompok perempuan Desa Damaran Baru, Kecamatan Timang Gajah, untuk bersama melindungi kawasan hutan melalui konsep Community Patrol Team: Women’s Ranger atau MpU Uteun.

Melalui Program Konservasi Keanekaragaman Hayati ke Wilayah Kelola Perempuan ini, mereka melakukan kegiatan rutin bersama-sama masyarakat. Misalnya berpatroli hutan, membudidayakan lebah madu dan ikan air tawar, hingga terciptanya kawasan ekowisata. Dengan kata lain, seraya menjaga hutan, diharapkan kelompok perempuan ini juga mendapat manfaat ekonomi dari kegiatan tersebut.

“Apa yang dilakukan oleh HAkA selama ini adalah memperkuat. Sebenarnya, di tingkat tapak itu sudah banyak sekali gerakan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat di kawasan hutan. Hal ini kemudian dirajut, diperkuat melalui advokasi. Melindungi hutan itu tidak bisa sendiri-sendiri. Maka koneksi dan jejaring itu sangat penting,” jelas sang pemenang KEHATI Award 2020 ini.

Doc. HAkA

Perempuan dan Hutan

“Hutan itu untuk siapa?” Ini merupakan pertanyaan penting yang perlu dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali masyarakat Aceh. Apalagi jika mengingat betapa strategisnya letak Kawasan Ekosistem Leuser (KEL)—dengan luasan hutan mencapai 2,6 juta hektare—yang sebagian besar lokasinya tersebar di 13 kabupaten di Provinsi Aceh. Dengan kata lain, sebagian besar masyarakat Aceh merupakan orang-orang yang bersinggungan langsung dengan hutan, serta menjadi orang-orang yang paling cepat merasakan dampak baik maupun buruk darinya.

Kemudian, terkait penggunaan dan pengelolaan hutan Aceh, Ru—sapaan akrab Rubama—turut memberikan pandangannya. “Di sini hidup habitatnya satwa, di sini hidup habitatnya manusia, mereka saling berhabitus. Habitus itu tempat makhluk hidup bekerja, mencari rezeki, dan sebagainya. Manusia punya itu. Satwa punya itu. Tumbuhan juga punya itu. KEL itu tidak hanya hutan lindung. Di sana ada areal penggunaan lain (APL) di mana masyarakat akan tinggal. Ada hutan produksi, yang biasanya ada hak guna usaha (HGU). Makanya penting untuk menghadirkan keadilan ekologi. Tidak ada yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.”

Bagi Rubama, membicarakan hutan itu sama artinya dengan membicarakan “dapur kehidupan”. Maka menjadi aneh baginya ketika terdapat doktrin yang menyatakan bahwa perempuan dan hutan merupakan kombinasi yang tabu. “Ketika hari ini dianggap perempuan tabu masuk hutan, itu karena sistem patriarki yang kental. Sampai hari ini kita tahu betul bahwa ada banyak hal yang sangat mendiskriminasikan perempuan.”

Adapun beberapa fakta lapangan yang dapat dijadikan contoh adalah sebagai berikut. Pertama, terkait kasus ketika perempuan dilarang bekerja di kebun. Alasannya klasik, terkait kekuatan fisik. Andai pun kelak fisik mereka terbukti mampu bekerja, lagi-lagi mereka hanya dianggap sebatas membantu; membantu orang tua, membantu saudara laki-laki, membantu suami. Dengan kata lain, perempuan seakan tidak memiliki ruang kemandirian dan kemerdekaan personal. Kedua, terkait pengelolaan sumber daya alam, katakanlah air, elemen paling urgen bagi manusia, terlebih perempuan. Kesehatan reproduksi perempuan itu sangat dekat dengan air. Air berasal dari alam. Kalau air rusak maka rusaklah kehidupan. Namun, sayangnya, di banyak rapat desa terkait pengelolaan sumber daya alam, perempuan jarang dilibatkan. Tak heran, angka persentase keterbatasan akses informasi bagi perempuan menjadi cukup tinggi. Tentunya, masih banyak permasalahan serupa lainnya.

Berlandaskan fenomena tersebut, Ru dan tim HAkA pun tergerak untuk membenahi hal tersebut. “Jadi, apa yang dilakukan kawan-kawan di Damaran Baru itu adalah pembagian peran pengelolaan hutan desa. Siapa melakukan apa. ‘Yuk, kita punya sistem yang bisa digunakan secara setara. Enggak ada pihak yang merasa disakiti. Enggak ada pihak yang direndahkan.’ Karena patriarki itu kan konstruksi sosial,” imbuhnya.

Ia juga menambahkan, disadari atau tidak, pada kenyataannya manusia tidak hanya “merampas” hasil alam dari masyarakat yang tinggal di seputaran kawasan hutan. Namun, juga lupa memberikan penghargaan-penghargaan terhadap pengalaman dan keilmuan lokal yang telah mereka bagikan. “Ketimbang mengajari, kita lebih banyak belajar dari mereka,” jelas Rubama. Oleh karenanya, ia mengajak orang-orang untuk membuat gerakan mengembalikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. “Misal, saat kita membuat tulisan, jangan gunakan bahasa-bahasa yang tinggi. Gunakanlah penjelasan yang menarik dan mudah dimengerti oleh masyarakat,” jelasnya.

Pendidikan Kemasyarakatan

Sebuah momentum diskusi paling menohok bersama Rubama sempat terjadi. Saat saya menanyakan pendapatnya mengenai ketiadaan korelasi pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi dengan permasalahan kehidupan nyata masyarakat. Ia pun merespons hal tersebut dengan pemaparan yang sungguh bijak.

“Sebenarnya, pengetahuan yang real itu ada pada warga. Pengetahuan itu ada di sudut-sudut gampong. Seluas gampong itu, sebanyak itulah ilmu pengetahuan. Jadi tidak akan ada istilah mahal untuk pendidikan. Kita kembali pada konsep, ‘Arti pendidikan itu apa sih sebenarnya?’” papar Rubama.

Doc. Rubama

Menurutnya, sistem pendidikan kita saat ini kurang menghargai pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki masyarakat di tingkat tapak. Para pendidikan kita dikonstruksikan untuk terpaku pada kurikulum sedemikian rupa sehingga mereka terjebak di dalamnya. Mereka sibuk menuliskan konsep tapi nihil dalam praktik. Para pendidik diberi begitu banyak tuntutan manajemen—memegang begitu banyak kelas bahkan mata pelajaran—sehingga mereka terlampau lelah. Belum lagi dukungan kesejahteraan bagi mereka yang masih tergolong rendah. Pada akhirnya, saat tiba waktu mengajar, mereka hanya bisa marah-marah. Sehingga murid-murid masa kini cenderung mudah stress.

“HAkA dan Nusa itu pasti berbeda. Tapi kita punya benang merah yang sama, yaitu kekuatan masyarakat itu dilakukan di tingkat tapak. Kita ini berangkat dari satu kesamaan akar. Akarnya apa? Bergerak sesuai kebutuhan. Makanya, Nusa punya paket kelas outdoor. Kita ingin memutarbalikkan fenomena itu. Melalu program ini, para siswa bisa belajar langsung di sudut-sudut gampong. Mereka melihat, menyentuh, membaui, mengecap, dan merasakan langsung ilmu pengetahuan yang biasanya hanya bisa mereka lihat di buku dan pelajari di dalam kelas.” Bahkan saking asyiknya belajar di Gampong Nusa, sering kali Rubama menemukan para murid yang menolak untuk mengakhiri waktu belajar di sana. “Kami enggak mau pulang. Masih mau main.” Kenang Rubama bahagia.

Kepekaan Rubama dalam mengembangkan masyarakat Aceh, terutama kaum perempuan, ternyata tidak terlepas dari pola asuh keluarganya. Kesetaraan perlakuan dan kemerdekaan berekspresi telah dirasakanya semenjak kecil.

“Ayah Ru Imam Gampong. Orang yang dihormati masyarakat pada masanya. Anaknya semua perempuan. Tapi waktu kecil, Ru boleh main ke lapangan, manjat pohon, berambut pendek. Enggak ada larangan. Pas waktu ngaji, pergi ngaji. Jadi sistem patriarki di keluarga kami itu sama sekali tidak terasa. Kami semua diperlakukan sama,” kenang Rubama tersenyum simpul penuh arti.

Di akhir pertemuan, Rubama menyatakan bahwa dia percaya setiap perempuan memiliki potensi yang mampu membuat mereka bersinar. Setiap perempuan itu unik. Mereka memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Buang jauh-jauh rasa pesimis, sebab rasa pesimis bisa jadi bukan murni berasal dari ketidakmampuan diri, akan tetapi dibentuk oleh sistem.

“Saya sangat percaya seluruh perempuan di dunia, terutama perempuan Aceh, punya potensi yang sangat besar. Potensi ini dipahami ketika kita tahu siapa diri kita. Mengetahui diri hanya terjadi ketika kita merdeka. Ketika perempuan menjadi ibu, jadilah ibu yang merdeka. Ketika perempuan menjadi akademisi, jadilah akademisi yang merdeka. Tidak ikut-ikutan. Sebab setiap perempuan yang terlahirkan ke dunia membawa potensi diri masing-masing.”[]  

Transformasi Badriah A Taleb; dari Korban dan Penyintas hingga Pejuang Hak Asasi Perempuan

Mengenakan setelan blazer dan rok hitam, jilbab dasar putih bermotif bunga violet dan biru, wajahnya sesekali dibuat meriah oleh senyum merekah. Tutur katanya lembut, jawaban dan ceritanya mengalir runtut dan teratur. Ia memesan kopi, yang disesapnya sedikit-sedikit selama berbincang. Sesekali ekspresinya menguat, ketika menuturkan beberapa hal yang mengungkit kenangan tak menyenangkan. Darah ulee balang Aceh tampak jelas membayang dalam kalimat-kalimatnya. Hari itu kami bertemu di sebuah kedai kopi di Banda Aceh, Jumat, 12 Maret 2021.

Namanya Badriah A Taleb. Biasa disapa Kak Bad, perempuan berputra tiga ini adalah pendamping korban, saksi, dan sekaligus penyintas kekerasan fisik dan mental.

“Saya menyaksikan bagaimana perempuan kawan-kawan sekampung saya berkali-kali menjadi korban kekerasan. Baik itu kekerasan psikologis, maupun kekerasan fisik,” tutur Badriah memulai. “Pelaku kekerasan bervariasi. Mulai dari pasangan hidup, orang tua hingga pada masyarakat sekitar.”

Badriah menengarai bahwa perilaku kekerasan pada perempuan di kampungnya adalah warisan dari sistem kemasyarakatan yang dipahami secara parsial.

“Seperti yang saya alami sendiri. Saat menikah ditahun 1992, suami saya saat itu melarang saya  keluar rumah untuk keperluan apa pun, kecuali untuk menggarap sawah,” terang Badriah. “Saya dilarang mengenakan baju model lain, kecuali baju kurung yang panjangnya hingga ke lutut, dikombinasikan kain sarung. Kalau ke sawah, saya harus mengenakan sehelai kain panjang menutupi kepala dan seluruh tubuh saya. Bagian depan kain itu harus ditarik mengalingi muka, agar menghalangi tatapan langsung orang ke wajah saya. Rambut saya sangat panjang kala itu, sampai terjela di tanah, karena perempuan muda tidak boleh memotong rambutnya.”

Sedari kecil, sebagai seorang perempuan dari keluarga ulee balang, Badriah dididik untuk selalu mengenakan baju dan rok panjang. Ia juga dilarang untuk bermain di luar rumah. Pulang sekolah, ia harus tinggal di rumah menjaga adik-adiknya.

“Sampai kelas lima SD saya tak punya kawan bermain,” cerita Badriah. Lulus SMP, perempuan kelahiran Meunasah Lhok, Aceh Utara tahun 1975 ini, dilarang untuk melanjutkan sekolah ke SMA. Alasannya, toh kelak ia harus menikah, melahirkan, dan mengurus keluarga. Tidak perlu sekolah terlalu tinggi untuk melakukan itu semua.

Badriah melanjutkan pendidikan dengan mondok di pesantren. Tapi ia hanya sanggup melakoninya selama delapan bulan, karena masuk pesantren bukanlah cita-citanya.

“Saya ingin kuliah di FKIP. Jadi guru,” ujar Badriah. Namun, orang tuanya hanya mengizinkan abangnya untuk kuliah, di fakultas hukum. Sedang Badriah sendiri tidak diizinkan.

“Saya masih sering memikirkannya. Berandai-andai, seandainya saya boleh kuliah waktu itu, mungkin sekarang sudah berhasil,” mata Badriah agak menerawang, mengingat-ingat masa lalunya. Abangnya, yang kuliah di fakultas hukum, keluar setelah dua semester.

Selama di pesantren Badriah sakit-sakitan. Diam-diam ia memendam derita batin karena mondok di situ tidak sejalan dengan keinginannya.

“Karena kesal, akhirnya saya putuskan untuk menerima lamaran seseorang,” kata Badriah. Itu terjadi saat usianya baru menginjak 17 tahun. Setelah menikah, pasangan baru itu tinggal di rumah sederhana yang dibuatkan orang tua Badriah. Untuk membiayai hidup, Badriah menggarap sawah.

Suaminya, yang sebelum menikah tidak begitu dikenalnya, tidak pernah membantunya bekerja. Lelaki itu juga sering pulang dalam keadaan mabuk. Badriah mencari nafkah sendiri dengan menjadi buruh pabrik bata, juga buruh tani.

“Semua saya kerjakan sendiri. Mulai dari membersihkan, membajak, menyemai benih hingga menanam. Saat padi tumbuh dan memerlukan perawatan, saya juga yang mengerjakan. Walaupun sedang hamil atau menyusui,” Badriah tersenyum pahit mengingat masa itu. “Suami saya baru akan turun tangan bila sudah waktunya panen. Saat itu dia justru akan melarang saya ke sawah. Dia sendiri yang memanen padi yang saya tanam, dia yang mengangkut, dia yang menjual dan menguasai seluruh hasilnya. Saya dan anak-anak tidak kebagian apa-apa.”

Di sisi lain, Badriah mengatakan bahwa sang suami tidak melakukan kekerasan fisik terhadapnya.

“Kalau soal itu, tidak. Saya tak pernah dipukulnya,” kata Badriah. “Tapi selama 13 tahun menikah, masa-masa dia tinggal dan berada di rumah bisa dihitung dengan jari.”

Selama pernikahan mereka, suaminya boleh dibilang tak pernah hadir untuk Badriah dan anak-anak mereka.  Dengan alasan bekerja, lelaki itu selalu bepergian. Tidak pula sebentar kepergiannya itu.

“Kadang dua tahun, pernah juga hingga lima tahun lamanya,” kata Badriah. “Kalau sesekali dia pulang, dibawanya dua pak biskuit, satu bungkus roti, beberapa bungkus mi instan. Itu saja, pemberian yang saya dan anak-anaknya terima. Selain itu tidak ada lagi.”

Suatu kali di tahun 2003, setelah suaminya pulang sebentar ke kampung, Badriah mengajak anak-anaknya untuk mencoba mencari si ayah. Saat itu Badriah dalam keadaan hamil dua bulan. Mereka sampai di Banda Aceh dengan bekal sangat tipis. Karena tahu bahwa ayah mereka konon berjualan es krim, kala melihat seorang penjual es krim salah satu putra Badriah berseru, “Ayah!” Agar tidak terlalu malu, Badriah membeli es krim seharga lima ratus rupiah. Kemudian sang tukang es krim bertanya, mengapa anak Badriah memanggilnya ayah. Pertahanan Badriah runtuh, diceritakannya semua. Si tukang es krim iba bukan buatan, diajaknya Badriah dan anak-anaknya untuk sementara tinggal di rumahnya. Selama tinggal dengan Pak Es Krim, Badriah tidak lelah memperlihatkan foto suaminya pada tukang-tukang es krim lain. Sampai akhirnya, ada yang mengenal suami Badriah, dan bisa menunjukkan alamatnya.

Penuh harap, Badriah pergi ke alamat tersebut. Benar, suaminya tinggal di situ. Namun, harapan Badriah hancur saat dilihat suaminya ternyata sudah hidup dengan perempuan lain. Badriah hanya menyampaikan bahwa ia hamil, dan malamnya kembali ke Aceh Utara. Sejak saat itu mereka putus komunikasi. Sang suami tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Namun, juga tidak menceraikannya.

Dari apa yang dialaminya sendiri, Badriah menilai bahwa pemahaman masyarakat kampungnya tentang hak dan kewajiban suami istri selama ini masih bersifat tradisional. Yaitu pemahaman yang sifatnya turun-temurun. Belum terdapat kesadaran untuk mempelajari lebih lanjut, apa yang sesungguhnya ada dalam ajaran agama Islam.

“Setelah mengikuti kegiatan dan diskusi dengan lembaga pemberdayaan perempuan yang mengadakan program di kampung, barulah terbuka pikiran saya,” kata Badriah. “Pelan-pelan saya mulai memahami posisi, hak, dan kewajiban seorang perempuan yang diatur dalam agama, juga yang diatur oleh negara.  Hak dan kewajiban perempuan sebagai istri, sebagai ibu, dan sebagai individu. Sebelum itu, pemahaman saya terbatas pada ajaran tradisional bahwa seorang istri wajib mematuhi apa pun kata suaminya, karena ‘surga seorang istri terletak di telapak kaki suaminya‘. Mempertanyakan keputusan suami, apalagi menentangnya, adalah dosa besar,” jelas Badriah, merujuk pada hadits populer ‘…law shaluha libasyarin ayyasjuda, libasyaril la amartul mar ata antasjuda li zawjiha, min ‘izhami haqi alayha.’ (…andaikan pantas, maka aku (Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalaam) akan perintahkan seorang istri untuk bersujud pada suaminya, sebab besarnya hak suami pada istrinya. (HR Tirmidzi dan al Hakim))

“Malam setelah saya paham bahwa seorang istri ternyata tidak hanya harus melaksanakan kewajiban, namun juga memiliki hak yang harus dipenuhi oleh suaminya, saya menangis sejadi-jadinya. Barulah saya tahu, bahwa apa yang selama ini saya yakini sebagai hal yang wajar dilakukan oleh seorang suami, ternyata menyimpang.” Badriah tersenyum lagi. “Sejak saat itu saya bertekad untuk membantu sesama perempuan untuk memahami posisi, hak dan kewajiban mereka.”

Badriah bertemu dengan para relawan dari lembaga RPuK (Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan) saat berada di pengungsian karena desa mereka dilanda tsunami pada 2004 silam. Di pengungsian itu Badriah terpaksa mencari kayu-kayu bekas dan berbagai karung plastik serta potongan tripleks, untuk membuat tempat berteduh. Badriah membangun sendiri gubuknya.

Tahun 2005, masih di pengungsian itulah, Badriah diajak untuk mengikuti bimbingan dan refleksi yang diadakan RPuK untuk perempuan pengungsi. Acara itu awalnya diadakan di sebuah meunasah. Menurut kesaksian Yusdarita, relawan RPuK yang kemudian menjadi sahabat Badriah, saat pertama kali bertemu dengan sahabatnya itu ia ketakutan setengah mati.

“Waktu itu penampilan dia menakutkan. Rambut panjang terjela-jela sampai tanah, mata mendelong, kepala ditutup kain panjang. Buat saya saat itu, dia kelihatan seperti kuntilanak,” Yus, begitu ia biasa disapa, terkekeh mengenang perjumpaan pertama dengan Badriah. “Mana dia memilih saya untuk menjadi pendampingnya, lagi. Saya ngeri betul waktu itu.”

Yus bercerita bahwa oleh psikolog yang bekerja sama dengan RPuK, Badriah didiagnosa menderita waham (kondisi kejiwaan seseorang meyakini sesuatu sebagai hal yang absolut, namun tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Keyakinan ini berasal dari pemikiran yang tidak terkontrol.)

“Saya sangat lama berada dalam kondisi pemahaman yang keliru itu. Jadi sebetulnya pemikiran dan jiwa saya tidak menerima perlakuan suami, termasuk juga keluarga dan masyarakat pada saya, tapi saya tak bisa berbuat apa pun sehingga menimbulkan tekanan jiwa yang luar biasa,” kata Badriah.

Didampingi RPuK, perlahan-lahan Badriah berhasil memperoleh kembali keseimbangan dirinya.

“Saya menjadi anggota Kelompok Beudoh Beusaree (Bangkit Bersama) dampingan RPuK. Anggota Beudoh Beusaree adalah janda serta perempuan kepala keluarga. Setiap kali ada acara dan diskusi, saya selalu datang, meski pun tak pernah bicara apa-apa. Tapi karena sesi-sesi terapi, perlahan keadaan saya mulai membaik,” cerita Badriah.

“Titik balik sepenuhnya terjadi di tahun 2007,” lanjutnya. “Ketika itu ada acara diskusi dengan pemateri dari LBH Apik Lhokseumawe. Temanya tentang mekanisme penyelesaian kasus di tingkat gampong. Diskusi itu benar-benar mencerahkan saya. Selesai diskusi, saya putuskan menggugat suami, untuk memperjelas status dan kedudukan saya di mata hukum.”

Badriah menggugat suaminya ke pengadilan syariah, dan mendapatkan haknya. Ia sah bercerai secara hukum agama maupun negara. Dengan kejelasan statusnya tersebut, pikiran Badriah benar-benar dimerdekakan. Ia pun terjun sepenuhnya ke dunia pendampingan.

Diawali dengan menjadi Ketua Beudoh Beusaree, memberi sosialisasi tentang kesetaraan plus hak dan kewajiban perempuan pada rekan-rekan sekampungnya, Badriah mulai memberikan konsultasi dan pendampingan pada perempuan korban kekerasan. Di rumahnya ia menerima mereka. Ia mendengarkan, mencatat, dan merujuk korban ke lembaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalahnya.

“Dari luar nampaknya saya membantu orang. Padahal sesungguhnya saya sendiri juga mendapatkan banyak sekali manfaat. Saya jadi memiliki jaringan yang kuat, memiliki contact person di instansi-instansi terkait, bertemu banyak stake holder dan sebagainya, yang semuanya membantu saya untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan,” tutur Badriah.

Bahwa Badriah memberikan layanan konsultasi, perlahan diketahui secara luas oleh masyarakat. Kaum perempuan berdatangan dari berbagai tempat, bahkan dari luar gampongnya, untuk berkonsultasi pada Badriah. Kelompoknya berkembang, dari hanya 14 anggota menjadi 50 orang lebih. Badriah juga menginisiasi suatu bentuk koperasi bagi anggotanya.

Badriah bekerja nyaris tanpa henti. Hampir setiap hari ada yang datang mengonsultasikan masalahnya. Telepon genggamnya sangat sering berbunyi, bahkan ketika ia tengah berada di sawah, tak terkecuali pada malam hari. Badriah menerima semuanya dengan hati lapang, karena ia tahu bahwa kaumnya di desa sangat membutuhkan bantuan moril.

“Oh, ya, pasti ada perasaan itu,” ujar Badriah saat ditanya apakah ia pernah merasa jenuh. “Saat merasa letih dan jenuh, biasanya saya ambil motor, pasang headphone di telinga, menyetel musik, lalu naik motor, jalan-jalan tanpa tujuan. Sampai kepala saya jernih kembali,” katanya. Ia tersenyum manis saat mengatakan jenis musik yang dipilihnya sebagai ‘obat’:

“Musik kecapi suling Sunda,” katanya. “Suara kecapi dan suling Sunda sangat menenangkan, cepat membantu pemulihan jiwa saya yang lelah.”

Menurut Badriah, dalam sehari ia bisa melayani konsultasi hingga tiga-empat perempuan.

“Tidak pernah saya tolak. Saya tahu betapa sakitnya berada dalam posisi korban yang tak berdaya,” kata Badriah. Dalam menjalankan misi kemanusiaan ini, ketiga anak lelakinya, ibu dan adik perempuan Badriah adalah rekan dan pendukungnya yang paling utama.

“Mereka tahu apa yang harus dilakukan, seandainya datang tamu yang ingin berkonsultasi sementara saya sedang tak ada di rumah,” cerita Badriah. “Mereka langsung menyiapkan ruangan, menyuguhi, kalau perlu bahkan mereka sudah tahu cara mencatat data tamu.  Mereka mendukung saya sepenuh hati.”

Saat ini, selain berbakti pada masyarakat melalui RPuK, Badriah juga tergabung dalam Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Aceh Utara, sejak tahun 2012.

“Tahun 2015 ada acara Bazaar Layanan, tahun 2016 ada Yandu (Pelayanan Terpadu) Itsbat Nikah besutan RPuK,” terang Badriah. “Saya terlibat dalam keduanya.”

Perjuangan Badriah memperkenalkan kesetaraan, hak, dan kewajiban suami istri serta hak anak, sangat sering membentur tantangan hebat.

“Oleh komunitas saya, saya pernah dicalonkan menjadi keuchik. Gara-gara itu saya dijuluki ‘perempuan pembawa aliran sesat’ dan ‘pelanggar syariah’ oleh tetua kampung. Rekan sekampung sesama perempuan dibuat enggan bergaul dengan saya. Tapi saya tidak peduli, terus berusaha untuk melakukan sosialisasi tentang kesetaraan pada mereka yang mau mendengarkan.”

Tahun 2015, beberapa bulan setelah menerima Anugerah Perempuan Aceh Award, kegigihan Badriah mendapat tantangan besar. Dalam rapat musrenbangdes, Badriah mengutarakan kritik tentang penggunaan dana desa yang menurutnya tidak sesuai peruntukannya. Hasilnya, berbulan-bulan ia menerima teror. Putranya yang kedua bahkan patah tangan akibat dianiaya oleh oknum keuchik atau kepala desa yang merasa tersinggung. Sengketa antara Badriah dengan keuchik ini selalu gagal diselesaikan di tingkat gampong, sehingga akhirnya Badriah memutuskan untuk membawanya ke ranah hukum. Pengadilan di Lhoksukon memenangkan perkara Badriah. Setelah itu, sanksi adat bagi Badriah (dicoret dari daftar penerima raskin, beasiswa anak-anaknya tidak diberikan, tidak dilibatkan dalam kegiatan desa dan lain sebagainya) akhirnya dicabut. Ia kembali dilibatkan dalam kegiatan dan rapat gampong.

“Alhamdulillah, aparatur desa yang sekarang jauh lebih terbuka. Mereka selalu mengundang saya dalam rapat-rapat desa. Saya juga dilibatkan sebagai pendamping dan konselor apabila ada kasus menimpa perempuan dan anak,” ujar Badriah. “Program saya untuk mengadakan layanan berbasis komunitas, juga pembentukan Forum Anak Gampong, mendapat prioritas dalam rencana pembangunan gampong. Saya juga dilibatkan dalam penyusunan draf aturan terkait mekanisme penyelesaian sengketa di tingkat gampong.”

Tidak terasa, matahari sudah condong jauh ke barat. Badriah menghabiskan kopinya, demikian juga Yusdarita. Mereka bermaksud untuk kembali ke kampung sore itu. Badriah ke Aceh Utara, Yusdarita ke Bener Meriah.

Melihat kedua pejuang hak asasi di tingkat akar rumput itu, hati terasa bagai mau pecah. Keharuan dan kebanggan campur aduk. Badriah dengan pakaiannya yang sangat representatif, dengan sinar matanya yang penuh percaya diri, pasti sangat berbeda dengan sosok Badriah ‘kuntilanak’ dulu, saat ia terbenam dalam penderitaan.

“Tekad saya adalah sedapat mungkin membantu kaum perempuan untuk mendapatkan hak kesetaraan. Bagi saya, tidak ada kepuasan yang melebihi kebahagiaan melihat kebangkitan kembali korban yang saya dampingi, baik secara psikologis, maupun fisik,” ujar Badriah menutup pertemuan kami.

Saat menatap Badriah berjalan pergi, kami dibuat yakin, bahwa superhero itu memang ada. Salah satunya, mengejawantah ke dalam tubuh perempuan asal Dusun Meunasah Lhok, Gampong Muara Batu itu: Badriah A Taleb.

__________________________________blang oi, Maret 2021

Bisnis Kuliner Sehat Tarcake yang Menyejahterakan Perempuan

6

Di teras sebuah rumah di Gampong Meunasah Papeun, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, seorang perempuan muda dengan setelan baju rumahan tampak sedang sibuk. Ia tampak sangat cekatan. Indra penciuman saya menangkap aroma sedap yang mengundang selera makan. Aroma itu berasal dari olahan sayur yang baru saja matang; kuah pliek. Gulai sayur khas Aceh yang menjadi primadona dan kerap dihidangkan di acara-acara istimewa. Selain itu, juga terlihat ada telur asin, kerupuk, buah potong serta jus buah. “Sedang mempersiapkan pesanan untuk katering,” kata perempuan itu sambil meneruskan pekerjaannya.

Dialah sang owner bisnis kuliner Tarcake, Sri Fatmawati, yang akrab disapa Tari. Tak lama kemudian, pekerjaan Tari pun beres. Barulah kami bercakap-cakap perihal usahanya yang semula dirintis sebagai penopang hidup itu.

“Dari semenjak ayah meninggal, itu kan down kali, ya. Mamak enggak punya kerjaan. Dari dulu selalu bergantung sama suami. Makanya Tari gini, ‘Ya Allah, jangan sampek aku gitu’. Sedih sesedih-sedihnya.”

Kalimat tersebut diutarakan secara mendalam oleh Tari. Pengusaha kuliner kelahiran Langsa tahun 1993 itu kembali menguak memorinya satu dekade silam. Pecahan kisah hidup yang memotivasinya untuk menjadi seorang perempuan yang berdikari. Perempuan mandiri yang mampu menolong diri sendiri dan perempuan lain di sekitarnya.

Sejatinya, Tari telah terjun ke dunia bisnis kuliner dan food service sejak duduk di bangku SMK. Kemampuan dan kemauannya dalam memanfaatkan skill masak-memasak telah menyelamatkan pendidikannya, bahkan ia berhasil mengukir prestasi di tingkat nasional. Hal tersebut membuatnya memperoleh beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), FKIP PKK, Jurusan Tata Boga.

“Jadi, semasa SMA, Tari belajar masak. Diajak guru mengurus katering, ikut. Jam pulang sekolah, Tari enggak pulang. Tari masak di lab, dapur sekolah. Nanti terkadang jadi pramusaji, dapat lagi duet. Kan alhamdulillah bisa bayar uang sekolah. Waktu itu umur baru 17 tahun,” katanya saat kami berbincang di rumahnya, Sabtu, 20 Februari 2021.

Kondisi hidup yang keras tak lantas membuat Tari menyerah. Bagaikan phoenix, ia terus bangkit. Sebagai contoh, di tahun awal perkuliahannya dulu, Tari sempat menghadapi krisis kesehatan akut. Hal itu disebabkan oleh kondisi finansialnya yang buruk. Namun, lagi-lagi, usaha kuliner yang dia jalankan telah menyelamatkannya dari lubang keterpurukan.

“Awal kuliah, Tari dikasih mamak uang 100 ribu per minggu untuk kuliah dan makan. Kami enggak ada ayah. Jadi Tari maklum. Enggak pernah nuntut. Dulu sewa kos satu kamar bertiga. Tidur udah kayak ikan asin. Terus, hampir setahun hidup gitu, tahan-tahan makan. Kena tipes Tari, pingsan. Akhirnya Tari coba berjualan kue. Supaya ada pemasukan lain untuk bertahan hidup semasa kuliah.”

Di saat anak seusianya memanfaatkan waktu luang untuk bersantai atau nongkrong bareng teman, Tari justru mulai menjalankan bisnisnya. Menariknya, usaha kuliner tersebut tidak hanya dikerjakan seorang diri. Dia turut menawarkan pekerjaan tersebut pada teman-teman sekosannya. Tentu tawaran itu disambut baik oleh mereka. Lumayan membantu mereka menghemat uang sekali waktu makan setiap harinya.

Di samping dukungan tenaga kerja dari teman-temannya, Tari juga mendapatkan dukungan berupa ilmu dan jejaring bisnis dari para dosen di kampusnya. Berbagai kegagalan dan kebingungan teratasi berkat keberaniannya untuk selalu bertanya.

Anak ketiga dari delapan bersaudara ini merupakan seorang perempuan pendobrak stigma. Baginya, memasak bukanlah sebatas aktivitas domestik. Namun, merupakan keahlian yang bisa menjadi ladang bisnis, bahkan amal yang semestinya bisa dipelajari dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan semua orang, termasuk perempuan.

Mantan Professional Pastry Chef Hotel Kyriad Muraya ini juga beberapa kali tampil sebagai pelatih kuliner. Dia memberikan pelatihan pengelolaan makanan sehat (non-MSG) bagi para anggota PKK di beberapa desa di Provinsi Aceh. Bagi Tari, apa pun yang terjadi, perempuan harus punya keterampilan yang membuat mereka sejahtera dan juga merdeka secara finansial.

“Seharusnya sebagai perempuan kita tidak ketergantungan sama suami sih. Supaya enggak linglung nantinya. Walaupun sekaya apa pun kita, tetap harus terjun juga. Kita punya sesuatu yang memang menghasilkan. Apa saja bisa. Apalagi sekarang zamannya udah sangat mudah kan. Bisa jualan online.

Program Berbagi “Jumat Barakah”

Sembari terus menjalankan bisnis kue dan jasa boga (katering) dari rumah, sejak 2020 lalu Tari pun menerima amanah baru. Seorang sejawat memintanya membuatkan makanan untuk disumbangkan kepada yatim-piatu. Dia juga diminta tolong untuk mencari rumah yatim yang sesuai. Menyanggupi ajakan tersebut akhirnya Tari berinisiatif untuk menjalankan program tersebut secara masif dan kontinu setiap Jumat. Tari pun mengajak serta kawan dan kenalan lain untuk terlibat dalam program kebajikan tersebut.

“Kita cari rejeki harus ada ibadahnya, sedekahnya. Alhamdulillah, sudah jalan lima bulan sampai sekarang. Konsisten sedekahnya setiap Jumat ke Panti BTRG, Ceurih. Di sana ada 73 anak. Kadang ada yang sumbang 30 bungkus atau 20 bungkus. Ada yang kontinu 5 atau 6 bungkus terus. Kalau mau menyumbang 1 bungkus boleh juga.”

Menurut keterangan Tari, Program Jumat Barakah awalnya hanya dikerjakan berdua dengan sang suami. Dari berbelanja, memasak, packaging hingga mengantar makanan tersebut ke Panti Asuhan Yatim Piatu Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (BTRG), Gampong Ceurih, Ulee Kareng. Namun, karena hanya berdua, aktivitas tersebut sangat menguras tenaga mereka. Konon lagi suami Tari, Munandar Syamsuddin, juga punya pekerjaan lain yang wajib dikerjakan di kantornya. 

Akhirnya Tari pun merekrut beberapa pekerja lepas berupa ibu-ibu yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya, di Desa Meunasah Papeun, Krueng Barona Jaya. Akan tetapi ternyata masalahnya tidak berhenti di situ. Keterbatasan ilmu dan kemampuan komunikasi masyarakat “asoe lhoek” menjadi tantangan baru bagi Tari.

“Pekerjanya rajin cuma enggak bisa masak. Jadi Tari bimbing. Senang mereka kerja sama Tari, ‘Mudah rejeki ya, mudah rejeki’. Selalu didoakan begitu. Terus satu lagi, kendala bahasa. Ibu-ibunya enggak bisa bahasa Indonesia. Apalagi bahasa Aceh Rayeuknya itu beda kali. Susah translate-nya. Kadang Tari kesel kan, tapi harus sabar, sabar, sabar.”

Tari juga menyebutkan bahwa harga bahan-bahan makanan yang terkadang melambung tinggi juga menjadi kendala tersendiri. Namun, menurutnya, suaminya sangat mendukung proses bisnis yang dia jalankan. Komitmen yang mereka bangun bersama semenjak sebelum menikah membuat Tari cukup leluasa untuk terus mengembangkan passion-nya di bidang bisnis kuliner.

“Usaha Tari semua ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan suami. Kawanin belanja. Antarin pesanan. The best-lah pokoknya. Enggak salah lho kita minta tolong suami. Dikomunikasikan aja. Sebelum menikah pun kami sudah bangun komitmen. ‘Bang, nanti setelah kita nikah, jangan larang-larang adek kerja ya. Selagi pekerjaan itu enggak di luar batas dan adek masih menghargai abang’. Soalnya bisnis ini memang udah jadi panggilan jiwa Tari,” katanya di ujung pertemuan.[]

Buah Manis Kerja Keras Mellyan Membumikan Literasi di Tanah Teuku Umar

2

Wangi bungong kupula (tanjung) yang pohonnya berjejer sepanjang jalan, meruap memenuhi udara. Kesejukan merambah dari sungai kecil di sisi jalan. Sore yang indah di Tanah Teuku Umar, Meulaboh, Aceh Barat. Sebuah rumah asri di kawasan Gampong Seuneubok tampak dipenuhi anak-anak muda. Di satu ruangan luas, masing-masing duduk melingkar, laptop di depan mereka. Menyimak pembicaraan perempuan muda berjilbab abu-abu yang bersimpuh di depan, Jumat, 12 Februari 2021.

Perempuan itu Mellyan. Kelahiran Meulaboh 33 tahun yang lalu. Sehari-hari dia meniti karier sebagai dosen Ekonomi Syariah di STAIN Teungku Dirundeng. Namun, sejak masa kuliah di Banda Aceh ia sudah terjun ke bidang jurnalistik dan literasi. Kerap mendapat penghargaan untuk karya-karya tulisnya, pada 2016 saat tengah rehat dari riset tesis S2-nya di UIN Ar Raniry, Banda Aceh, Mellyan menengarai bahwa Meulaboh belum memiliki wadah kreativitas bagi anak-anak muda.

“Saya lihat sebenarnya anak-anak muda Meulaboh ini punya potensi yang sangat besar. Tapi mereka tak ada yang mengarahkan,” kata Mellyan, akrab disapa Melly. “Saya merasa, kami punya sedikit ilmu yang dapat dibagikan. Dan kami ingin melakukan sesuatu untuk anak-anak muda ini.”

Setelah diskusi dan riset panjang dengan suaminya, Junaidi, yang juga seorang dosen dan jurnalis, akhirnya pada 14 April 2017 Basajan Creative School (BSC) berdiri. Dengan peserta awal sebagian besar mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng dan Universitas Teuku Umar (UTU), kini BSC sudah memiliki alumni sebanyak empat angkatan.

Sejak awal berdiri, BSC sudah berhasil mengantarkan anak didiknya menjuarai berbagai kompetisi. Anggota Basajan, bahkan didapuk menjadi Duta Baca Kabupaten Aceh Barat berturut-turut mulai 2017, 2018, dan terakhir 2019.

Para anggota yang muda belia ini juga sudah jadi langganan kampiun berbagai kompetisi. Kompetisi film dokumenter tahunan Aceh Documentary Competition (ADC) besutan Aceh Documentarymisalnya, sudah beberapa kali dimenangi para anggota Basajan.  Demikian juga UTU Award untuk bidang desain website. Tahun 2020, anggota senior Basajan, Nurul Fahmi, berhasil menembus sepuluh besar Ide Terbaik Eagle Award (Ranger Leuser). Saking seringnya anggota Basajan memenangkan kompetisi, nama sekolah informal ini pernah dicatut orang, sebagai semacam “jaminan mutu” kreativitas.

Seseorang melamar kerja pada sebuah perusahaan, dalam CV-nya ia mengaku anggota Basajan. Tak mudah termakan kata-kata, pemilik perusahaan menelepon Junaidi untuk mengonfirmasi kebenarannya. Dan seperti sudah bisa diduga, apa yang ditulis dalam CV itu, tidak benar.

Ternyata, yang seperti itu bukan hanya sekali. Tapi berkali-kali. Sepertinya, untuk Aceh Barat dan Meulaboh, sebut beberapa sumber, nama Basajan sudah tidak asing lagi.

Namun, justru itu membuat Melly agak khawatir. “Kami harus hati-hati. Selain dapat berakibat pada nama baik Basajan, itu bisa saja menyebabkan anggota kami nanti kena sindrom ‘jago kandang’.”

Bukan tanpa alasan Melly mengatakan itu. Ditengarainya, memenangkan kompetisi ternyata bisa membuat orang “ke-pede-an” sehingga berpengaruh pada sikap mereka sehari-hari.

“Itu antara lain tantangan yang kami hadapi. Mengasah kreativitas anggota, mengarahkan mereka untuk menemukan ide-ide baru yang lebih berorientasi global, boleh dibilang cukup mudah. Tetapi menjaga agar mereka tetap di jalur kerendahhatian dan berintegritas, itu yang sulit,” kata Melly.

“Di Basajan, anggota perempuan prestasinya lebih menonjol. Dalam hal menulis, membuat liputan atau film, mereka juga menunjukkan kinerja yang lebih baik,” ujarnya lagi. Dia menuturkan ihwal film yang digarap dua anggotanya, Oka dan Sonya, yang mendokumentasikan klinik bidan tradisional. Juga ada Mariani, yang menelusuri buangan limbah tambang batubara berjudul Lautan Bara. Film dokumenter Lautan Bara memenangkan kompetisi ADC 2018 sementara Klinik Nenek (Oka dan Sonya) masuk ke dalam tiga besar ADC 2019.

“Dan dua-duanya dikerjakan oleh perempuan,” sebut Melly. “Mungkin karena curiosity perempuan lebih mendetail. Mereka tidak cepat puas dengan data awal, dan terus mengejarnya hingga ke seluk-beluk yang lebih dalam. Saat itulah bimbingan saya dan Abang terkadang mereka diperlukan.”

Perkembangan Basajan membuat Melly dan Jun, panggilan akrab Junaidi, memutuskan untuk mengembangkannya secara lebih spesifik sejak 2018.

“Basajan kami jadikan CV, namanya Basajan Creative Media, membawahi empat anak usaha. Sekarang ini selain BSC sudah ada Sigupai Sinema, Basajan Production, dan Basajan.net,” jelas Melly.

Basajan.net yang merupakan situs berita, digawangi sendiri oleh Junaidi. Selain para anggota Basajan, tugas-tugas liputan dilakukan anggota Basajan yang sudah senior.

“Ada dua belas anggota senior, yang sekarang turut mengelola BSC,” katanya lagi. Mellyan sendiri, di sela tugasnya sebagai dosen, juga masih melakukan liputan dan menulis untuk Basajan.net. “Saya masih memotori kelas Penulisan Kreatif, Sastra dan Jurnalistik,” tambahnya.

Putri sulung almarhum bapak Nyak Man bin Nyak Abbas dan ibu Cut Keumala ini, sejak remaja memang menyukai dunia tulis menulis.

“Lebih berkembang saat kuliah,” kata Melly, yang novel pendeknya, Hikayat Negeri Terapung, memenangkan Juara II Sayembara Menulis Cerita Bersambung Majalah Femina, Jakarta, 2013. “Selain penerbitan kampus, saya sempat bekerja untuk sebuah tabloid di Banda Aceh. Sempat juga menjadi kontributor di Aceh Feature, yang dikepalai Mbak Linda Christanty. Juga, melakukan investigasi tentang pelanggaran HAM masa lalu, untuk Koalisi NGO HAM Aceh,” cerita Melly. Perjalanan investigasinya ke pedalaman Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, dan Bener Meriah meninggalkan kesan yang sangat dalam.

“Ngeri-ngeri sedap. Masa itu belum terlalu jauh dari masa konflik Aceh. Dan kami harus keluar masuk dusun, mengikuti informasi yang kami dapat dan harus ditelusuri kebenarannya,” kata Melly lagi. Tak jarang, Melly menemui situasi menegangkan yang seringkali terkait dengan statusnya sebagai jurnalis yang kebetulan berjenis kelamin perempuan.

“Ditatap sambil senyum-senyum, dimintai nomor telepon, bahkan suatu kali saya dan teman saya mengira bakal diculik,” Melly tertawa. Itu terjadi di Aceh Utara, saat sopir kendaraan yang disewanya menolak berhenti ketika Melly meminta. Rupanya hanya salah paham, Pak Sopir mengetahui tempat yang lebih baik daripada yang diminta Melly. “Tapi ya seram juga. Karena waktu itu sudah gelap.”

Hasil penelusuran selama tiga bulan itu menghasilkan dua buah buku. Diterbitkan oleh Koalisi NGO HAM Aceh. Salah satu buku, Fakta Bicara, disunting oleh jurnalis senior Nashrun Marzuki dan Adi Warsidi, sering dikutip oleh para pekerja kemanusiaan serta peneliti. Buku itu, menjadi semacam ‘kanon’ bagi penelusuran peristiwa pelanggaran HAM di Aceh. Novel Mellyan yang sempat memenangkan nomor pada lomba menulis novel Penerbit Madza, Malang, tokoh utamanya juga seorang penyintas konflik Aceh.

Menurut Melly, anak-anak muda yang ingin bergabung dengan Basajan tertarik karena melihat para seniornya yang sudah sukses. Pertama kali bergabung, biasanya sikap mereka serupa saja dengan anak-anak remaja yang serba ‘ingin lebih’ tapi serba enggan bekerja keras.

“Di Basajan, saat ini, tantangan terbesar saya adalah memicu minat baca para anggota,” kata Melly. “Lain dengan videografi dan fotografi yang ‘hasil cantik’nya langsung nampak, menulis memerlukan pendalaman. Dan salah satu cara pendalaman adalah dengan banyak membaca. Saya mencoba dengan mengajak mereka mendiskusikan buku-buku maestro nasional dan dunia. Tempat diskusi juga saya ganti-ganti, tidak selalu di Basajan. Sekali di warung kopi, sekali di pantai, saya coba agar mereka tidak jenuh dan bosan.”

Selama masa pandemi tahun lalu, Melly mencoba membangkitkan semangat membaca dan menulis para anggota dengan membuat sebuah program khusus. Program ini menghadirkan secara daring penulis pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019, Azhari Aiyub. Untuk videografi, Basajan menjalin kerjasama dengan Aceh Documentary.

“Program kami diadakan di sepuluh sekolah menengah di Aceh Barat. Memperkenalkan dasar-dasar videografi dan dokumenter pada siswa sekolah menengah,” kata Melly.

Untuk tahun-tahun yang akan datang, Basajan akan konsisten di jalur pengembangan skill yang sesuai dengan tuntutan skil industri 4.0.

“Anggota kami sekarang sebagian besar adalah Gen Z. Modal awal mereka sudah melek teknologi, akrab dengan internet. Kita tahu, teknologi cepat sekali berkembang. Apa yang tren hari ini, besok pagi bisa saja kedaluwarsa. Kami di Basajan harus bergerak sama cepatnya. Termasuk dalam hal kreativitas,” kata Melly.

Menyudahi obrolan, kami berkendara ke Lhok Bubon, wilayah pesisir sekitar 30 menit dari Meulaboh. Ada sebuah masjid kuno di sana, yang konon digunakan Teuku Umar untuk menyusun siasat melawan Belanda. Dalam teduhnya mimbar Masjid Teuku Umar, Melly menyatakan rencananya untuk melanjutkan riset tentang berbagai tradisi Aceh Barat yang sudah mulai lekang oleh zaman. “Banyak kearifan lokal Aceh yang lebih dari layak untuk didokumentasikan dan dipreservasi,” kata Melly. “Semoga saya bisa menyusurinya dan menuliskannya semua.”[]

Tangan Jahil Kita, Monstera, dan Efek Kupu-Kupu

0

Dalam teori chaos (kekacauan), efek kupu-kupu adalah saling ketergantungan yang peka terhadap kondisi awal sesuatu. Suatu perubahan kecil saja pada suatu tempat atau kondisi dalam sebuah sistem yang tak linier, akan mengakibatkan perubahan besar pada kondisi atau keadaan yang terjadi kemudian.

Teori chaos berkaitan dengan sistem yang sepintas tampak tidak teratur di alam: pohon, garis pantai, awan, yang sifatnya acak dan anarkis. Namun, bila bagian-bagian besar ini diamati dalam bagian yang lebih kecil, akan tampak bahwa sistem yang besar itu ternyata terdiri atas pengulangan bagian-bagian kecil yang saling berhubungan.

Efek kupu-kupu ditemukan E.N. Lorenz, seorang peneliti meteorologi asal Amerika Serikat, pada tahun 1961. Ia menerbitkan studi teoretis tentang efek ini pada 1963. Ceramahnya tentang efek ini pada tahun 1972 terkenal dengan judul “Does the flap of a butterfly’s wings in Brazil set off a tornado in Texas?”

Maka, efek ini menjelaskan tentang kepak sayap seekor kupu-kupu di hutan hujan Brasil, yang menyebabkan perubahan kecil dalam atmosfer bumi. Namun, perubahan kecil ini ternyata sanggup mengubah jalur tornado di Texas dengan cara memengaruhi persamaan matematis yang menyebabkan perubahan tekanan udara, yang menghasilkan tornado.

Burung cempala kuneng yang gagal dapat jodoh di lampôh pala Aceh Selatan karena tak mendengar suara gemercik riam (sungai kecil) gunung, dalam teori ini, akan mengakibatkan seorang mahasiswa di Bandung drop out, urung jadi sarjana. Lalu urung juga jadi menantu orang. Lalu frustrasi, dan akhirnya bunuh diri. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Lalu apa hubungannya efek kupu-kupu dengan tren tanaman hias, seperti yang diterakan dalam judul tulisan ini?

Tren memelihara tanaman hias akhir-akhir ini sudah berkembang menjadi fenomena. Bukan sekadar klangenan ibu-ibu rumah tangga saja, tanaman hias sudah menjadi komoditas bisnis yang menggeser jual beli model lain menjadi nomor sekian. Satu tanaman Monstera adansonii berdaun tiga helai bisa berharga sepuluh juta rupiah. Apalagi dari subspesies variegata-nya. Monstera adansonii Variegata bisa tembus delapan puluh juta rupiah. Seorang petani tanaman hias di Bandung bahkan konon sempat mengeruk dua ratus juta rupiah dalam sehari gegara menjual tujuh puluh pot tanaman hias!

Di sini kita tidak akan memeriksa reaksi kimia apa gerangan yang ada di dalam benak penggandrung tanaman. Yang akan kita lihat adalah efek kupu-kupu yang terjadi di lapangan ketika seorang kasmaran meminang tanaman yang diminati—baik secara ikhlas mau pun paksa. Karena peminangan tanaman pun bisa terjadi secara paksa. Kapan? Ketika kita menyerabut sesosok tanaman dari habitat alaminya. Hutan misalnya. Atau tepi sungai.

Tanaman hias yang paling bergengsi saat ini, keluarga monstera, adalah tanaman merambat dari keluarga Araceae asal Panama, Amerika Tengah. Lewat tangan para penjelajah Eropa, tanaman ini sampai di Bumi Suwarnadwipa. Tanah Sumatra rupanya cocok dengan si imigran cantik ini sehingga monstera dengan cepat berkembang biak di seluruh pelosok Pulau Emas.

Di habitat alamiahnya, monstera adalah suatu “physical ecosystem engineering”, sebuah gedung apartemen multilantai tempat berbagai satwa tinggal. Katak pohon, siput, serangga, bahkan juga burung-burung kecil. Hewan-hewan ini merupakan sumber energi (makanan) bagi satwa yang lebih besar. Ular, burung pemangsa, dan sebagainya. Pada gilirannya, hewan pemangsa juga akan menjadi sumber energi bagi apex predator, yang ujung-ujungnya berakhir pada manusia.

Mengambil monstera (atau tanaman lain yang sedang ngetren) dari hutan tampaknya tindakan biasa yang takkan mengubah apa pun. Toh, tanaman itu diambil untuk dipelihara. Jadi dia bakal hidup juga, kan. Bahkan mungkin lebih enak hidupnya, karena dipelihara di rumah mewah, disiram dan dipupuk. Namun, bagaimana nasib hewan-hewan yang tinggal di Apartment Grand Monstera tadi? Tentunya akan seperti penghuni kompleks perumahan yang tergusur!

Ah, kan hanya satu tanaman, pasti tak banyak pengaruhnya, mungkin begitu pikiran orang awam . Masalahnya, segala sesuatu di dunia ini adalah elemen dari sebuah grand design yang saling tergantung. Kepak sayap kupu-kupu di hutan Brazil dapat memengaruhi tornado di Texas, ingat? Begitu juga penggusuran Apartment Grand Monstera. Apakah kita berpikir hanya sekadar memindahkan tempat tumbuhnya saja? Coba pikir: tanaman yang diambil oleh tangan-tangan jahil atas nama pencinta keindahan (baca: tanaman hias) tadinya adalah rumah bagi seekor katak pohon. Karena telah diambil monstera itu, lalu dipindahkan ke pot di rumah pengambilnya, si katak terpaksa cari rumah lain. Karena katak mencari rumah lain, ular pemangsanya juga ikut pindah. Lalu, pohon tempat tinggal mereka ternyata dihuni juga oleh lebah madu.

Lalu, datang seorang pencari madu hendak memanen sarang lebah, apesnya ia tidak melihat ular yang baru pindah apartemen. Ular yang kaget, merasa terancam, mematuk si manusia. Pencari madu tewas. Akibatnya, empat anaknya menjadi yatim. Karena ayahnya sudah tiada, empat anak itu tak ada yang mencarikan nafkah. Tiga putus sekolah, yang sulung, bocah 14 tahun, terpaksa pergi bekerja ke kota. Jadi copet. Suatu kali dia nahas, tertangkap, digebuki sampai mati. Peristiwa ini mengilhami para politikus untuk melakukan impeachment pada kepala pemerintahan yang dianggap tak becus melindungi rakyat. Maka kepala pemerintahan pun dimakzulkan… oleh sesosok tanaman monstera yang telah dipindahkan dari habitat alaminya! Lihat, betapa tidak sederhana dampaknya.

Sebagai muslim, efek kupu-kupu ini seharusnya mengingatkan kita pada ayat Al Qur’an surah Luqman: 16:
Yaa bunayya, innaha intakmitsqala jannatim min khardalin fatakun fii shakhzati aufiissamaawaati uufil ardli ya’ti bihallahu; innallaha lathiifun khabiir.” (Luqman berkata: wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Apa pun yang kita kerjakan, sekecil dan seremeh apa pun, akan membawa akibat pada segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Kita boleh saja berpikir bahwa mengambil tanaman dari hutan (karena lagi ngetren) takkan berakibat buruk bagi lingkungan hidup. Namun, tidak begitu menurut Teori Chaos. Tidak begitu juga menurut Al Qur’an.

Lain waktu, sebelum melakukan apa pun, apalagi sesuatu yang sebesar memindahkan sebuah “apartemen”, lebih baik berhenti dan berpikir. Apakah gara-gara saya mencabut tanaman ini, akan ada kepala pemerintahan yang kena impeachment?

Tak ada salahnya berpikir dan bertindak bijak. Tren itu akan berlalu. Namun, hasil perbuatan kita akan permanen efeknya dan yang kena adalah anak cucu kita sendiri juga. Ironisnya, pada saat yang bersamaan kerap kita mengumbar “kepedulian” di media sosial, ayo jaga dan lindungi lingkungan. Aduh![]

Penulis adalah pemerhati isu HAM, perempuan, anak, dan lingkungan, pegiat di Komunitas Perempuan Peduli Leuser Aceh. Artikel ini dipublikasikan di situs AcehTrend.com 26 Januari 2021.

Membingkai Pengalaman Perempuan Mengajar di Desa Bah

0

Perkenalan Diri yang Canggung

Sinar matahari pada siang hari di sini sangatlah berbeda dibanding ketika berada di tengah hiruk pikuk Kota Banda Aceh. Di sini, saya merasa sangat kedinginan, meski cuaca tampak cerah. Hari ini merupakan kali pertama bagi saya berjumpa dengan anak-anak remaja Desa Bah. Kening saya mengerut ketika mendapati tubuh dan wajah anak-anak, yang usianya terpaut sepuluh tahun lebih muda dari saya, tampak lebih dewasa ketimbang saya. Anak remaja yang berusia setingkat pendidikan SMA dan SMP semuanya perempuan. Sementara yang lainnya sudah melanjutkan ke sekolah agama. Sehingga yang hadir di hari pertama dalam program Guru Impian Desa Bah itu hanya sembilan orang.

Riuhnya percakapan jiwa-jiwa muda kekinian, yang dulunya tentu juga pernah saya alami, sebagai gadis remaja adalah hal biasa. Ketika memiliki handphone,  anak-anak cenderung merayakannya dengan berswafoto bersama teman-temannya. Saya tidak heran karena masa muda semacam itu memang menyenangkan, semisal tampil narsis di depan kamera. Namun di sisi lain kelompok yang saya sebut “Arisan PKK” berbeda dengan beberapa anak lainnya yang terlihat “biasa saja” bagi saya.

Pada akhirnya, perkenalan awal tersebut pun diakhiri dengan berswafoto bersama mereka. Tentu tindakan tersebut murni permintaan mereka. Saya hanya menuruti. Hal itu merupakan langkah awal yang bagus untuk berkenalan dan memupuk relasi, bukan? Walau merasa kacau harus ikut bergaya layaknya anak-anak itu, minimal saya ikut tersenyum ceria. Awalnya, saya berpikir akan sulit memasuki dunia para remaja, apalagi mereka yang menggilai K-Pop. Namun pada kenyataaanya, saya justru mampu menjalin pertemanan baru. Mencoba menjadi bagian dari mereka melalui memahami kegemaran mereka, berdialog tentang apapun yang mereka senangi termasuk berbincang tentang pernikahan atau K-pop.

Oh iya, baru-baru ini saya mendapat kabar bahwa Dea-salah seorang anak remaja Desa Bah-semakin meningkat prestasinya setelah belajar bersama Guru Impian. Saya pikir hal itu merupakan sebuah prestasi besar Di kelas, Dea adalah anak yang lumayan aktif, dia sering mengajak saya berbicara. Dia sering membuat pertanyaan yang sebenarnya sudah diketahui jawabannya, tapi saya pikir inilah caranya berkomunikasi dengan saya.

Kelas Privat Pada Malam Hari

Sebelum masuk ke kelas konten, biasanya anak-anak diinisiasi untuk menentukan kelas yang akan diberikan kepada mereka. Kebetulan, saya memegang kelas remaja. Saya pikir modal pengalaman mengajar para remaja terdahulu akan memudahkan saya untuk mengajari anak-anak yang berada di kelas yang sama ketimbang mengajar anak-anak kelas dasar.

Selama proses belajar, saya mendapati kasus unik tentang seorang anak yang tidak paham baca-tulis kecuali menulis namanya sendiri. Hal tersebut baru saya ketahui saat meminta semua anak menuliskan biodata mereka. Melihat kertasnya masih kosong, saya terus saja menuntunnya menulis, sejauh yang dia mampu. Namun, dia hanya menyeringai. Lalu seorang teman di sebelahnya mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menulis, barulah kemudian ia dibantu untuk menuliskan biodata. Namanya Sahara.

Sahara adalah anak terakhir dari lima bersaudara. Keempat kakaknya telah menikah semua. Menurut penuturan sang ibunda, kesemua anaknya bisa membaca kecuali Sahara. Sejak di bangku Sekolah Dasar, Sahara memang sudah menunjukkan ketidakmampuan mengenali huruf hingga akhirnya dia menyelesaikan tiap tingkat dari rasa iba para guru. Saat ini, dia sudah delapan bulan lulus dari bangku Sekolah Dasar. Potensi belajarnya semakin berkurang sebab dia tak paham  baca-tulis.

Dari jauh, Sahara berjalan menghampiri saya dengan membawa sebuah tablet berwarna putih. Saya pun bertanya apa yang biasa dia lakukan dengan tablet itu. Dengan polosnya, dia menjawab digunakan untuk game. Mengetahui Sahara belum bisa baca tulis sementara ditangan anak remaja ini sudah disuguhkan tablet untuk bermain game sempat membuat saya geram. Malam itu saya memulai dengan mengajaknya menyebut huruf. Dia mampu melakukannya lalu membuat namanya berdasarakan urutan abjad. Saat saya memintanya menyebut satu huruf secara acak, dia tidak mampu sama sekali. Banyak huruf yang dituturkan terbalik-balik.

Saya tidak ingin menyebut ini sebagai tanggung jawab karena saya yakin kemampuan anak ini sepenuhnya disadari oleh dirinya sendiri. Saya hanya mencoba memfasilitasi dirinya untuk belajar baca-tulis dan setelah saya kembali pulang tantangannya apakah dia ingin belajar sendiri atau tidak. Tapi ketika saya bertanya tentang bagaimana nanti jika saya kembali ke Banda Aceh?

Dia pun menjawab, “Kalau bersama kakak saya bisa membaca” sebari tersenyum kecil dan malu-malu.

Pemilihan waktu belajar di malam hari ini saya pikir cukup efektif untuk Sahara agar dia dapat fokus. Saya mendengar darinya bahwa jika di rumah dia lebih sering memasak dan membersihkan rumah. Jika di rumah, dia tidak punya waktu untuk belajar. Menurut penuturan ibunya, Sahara lebih senang pergi ke kebun dari pada belajar. Selama proses belajar bersama kami, Sahara selalu datang setelah  magrib. Begitulah kesepakatan kami. Selain itu, saya juga melarang Sahara untuk membawa tablet selama proses belajar.

Beberapa metode yang saya peroleh dari buku bacaan kadang jika itu relevan dengannya akan saya gunakan. Termasuk pendekatan untuk membuat dirinya merasa nyaman belajar baca-tulis. Saya bertanya kepada Sahara apakah dirinya benar-benar ingin belajar atau mengatakan bahwa “kalau kamu tidak bisa baca tulis bagaimana kalau nanti ada orang asing datang membawa beberapa dokumen dan dia meminta tanda tangan kamu. Tapi , karena kamu tidak bisa baca tulis kamu hanya mendengarkan ucapan mereka tanpa melihat isi dokumen itu” Dia hanya manggut-manggut dan masih dengan senyuman yang susah kumengerti. Bukan untuk menakuti-nakuti, tapi bukankah di zaman yang oleh Steve Tesich sebut sebagai era Post-Truth ini segala wacana yang menjadi sumber kebutuhan manusia modern bisa dimanipulasi (data manipulation).

Literasi dasar membantu mencegah anak untuk tidak hanyut dalam pengaruh Radikalisme Post-Truth di masa depan. Yang bisa kita bekali adalah bagaimana anak memiliki minat baca yang menyenangkan bagi mereka, mampu menulis dan memahami lingkungan sekitarnya. Sadar literasi berarti ikut memajukan peradaban dari pembodohan zaman yang terus mencoba menggerus orang-orang buta literasi untuk ikut menjadi kelompok penyebar kebohongan.

Kelas Adalah Taman Bermain

Anak-anak di desa Bah super aktif.  Selalu saja ada pergerakan otau ocehan yang mereka bicarakan terutama anak-anak remaja dalam bahasa Gayo. Di sini, anak-anak akan datang lebih awal dari jam dimulainya kelas. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pustaka Kampung Impian. Jika yang dijadwalkan jam 13.30 WIB, mereka akan datang antara pukul 11.00 atau 12.00 WIB. Padahal di waktu tersebut, para Guru Impian masih sibuk mempersiapkan konten atau bahkan belum sempat sarapan. Namun, kedatangan anak-anak di waktu yang sungguh awal tersebut, apalagi mereka senang berteriak dan berlari ke sana ke mari, membuat suasana ruang terasa gerah.

Kebiasaan mereka ini saya pikir adalah sebuah upaya untuk diperhatikan. Mereka menyenangi kehadiran kami dan seolah-olah kami ini adalah makhluk asing yang jarang mereka jumpai. Bak seorang artis ibu kota mampir ke desa. Beragam cara mereka lakukan termasuk memberikan sesajian bunga mawar, jika tidak dalam pot maka tangkai bunga pun akan dipetik.

Di kelas, anak-anak tidak harus belajar dengan kaku; duduk dan memperhatikan apa yang disampaikan mentor. Anak-anak punya kebiasaan tengkurap saat menulis dan itu tidak lantas harus diubah. Kenyamanan belajar yang efektif paling mungkin untuk menumbuhkan minat belajar yang tidak mengekang di sekolah. Sekalipun nantinya mereka mau memanjat pohon untuk belajar itu pun tidak masalah. Sebab kita bukan mengajar anak-anak di kota yang terbiasa duduk di bangku empuk agar konsentrasi belajar. Anak-anak di sini lebih terbiasa belajar sambil tengkurap, memanjat, bahkan berlari-lari.

Beberapa anak yang saya temui selalu membawa serta adik-adiknya ke perpustakaan. Mereka bertugas menjaga adiknya selama orang tua mereka pergi berkebun. Namun, kehadiran kami tentu tak lantas mengalihkan tugas dan kebiasaan mereka. Pandangan bahwa anak sekecil itu sudah diberi tugas untuk menjaga adiknya merupakan hal keterlaluan mungkin dianggap kurang tepat. Jika itu dilakukan dengan terpaksa oleh mereka boleh saja kita mengira bahwa itu kekerasan terhadap anak. Namun inilah keseharian bagi mereka, bahkan jauh sebelum program ini ada. Merupakan hal yang wajar bila seorang anak berusia sembilan tahun menggendong bayi di pelukannya. Mereka tetap bisa ikut belajar meski bayi dipangkuan mereka.

Pernyataan Yang Memarginalkan

Sebelum Pameran Karya di Desa Bah kami laksanakan, kami menemui seorang lelaki untuk meminta izin menggunakan lahan untuk pameran. Lelaki ini merupakan pendatang dari kota beberapa bulan lalu. Dia bercerita tentang perbedaan didikan anak-anak kota dengan desa. Saya mendengarkan penuturannya dengan baik.

Jika anak-anak kota selain dapat belajar di sekolah ada dukungan orang tua yang ikut menyokong motivasi mereka untuk belajar. Lantas lelaki itu menyebut dengan serampangan bahwa orang-orang di desa ini masih primitif, sebutan untuk masyarakat yang tidak memiliki peradaban. Sebuah kata yang tak pantas diucapkan oleh seseorang yang berpendidikan tinggi seperti dirinya. Saya menahan diri untuk tidak menyanggah. Tapi, sungguh, kata seperti primitif seharusnya tak harus diucapkan karena itu menyakitkan.

Kata-kata primitif sudah lama tidak digunakan oleh para akademisi di kalangan saya, bahkan kata primitif itu dilarang sama sekali. Kata primitif mencerminkan sekelompok masyarakat yang marginal, kotor, tidak berperadaban, dan bahkan tidak bersifat manusiawi. Kata itu tidak pantas dilontarkan untuk sekelompok manusia meski ia jauh dari peradaban kekotaan.   Kita dibentuk oleh komunitas kita dan di sanalah kepribadian setiap individu mencerminkan kelompoknya.

Seorang anak yang lahir dari kelompok dengan kesadaran literasinya kurang bukan menjadi masalah besar bagi kelompoknya karena apa yang mereka percayai tidak sama dengan apa yang orang kota pikirkan. Sebagai contoh, anak desa Bah tidak melanjutkan sekolah ke jenjang Universitas karena alasannya mereka ingin berkebun saja di desa. Pada usia lima belas tahun mereka sudah memiliki kebun sendiri, mereka sudah diberi tanggung jawab untuk mengelola warisan yang telah dibagi oleh orang tua mereka. Kemampuan ini tentunya tak dimiliki oleh anak-anak kota untuk lihai dalam berkebun. Literasi dasar yang wajib mereka pahami sehingga mereka pandai baca tulis. Selebihnya adalah apa yang mereka butuhkan baik dari kelompoknya maupun dari dirinya sendiri. Saya yakin bahwa program ini tidak dirancang untuk membawa anak-anak keluar dari komunitasnya lalu sukses di kota sebagai orang yang lupa pada akar komunitasnya.[]

Waterfall Canyoning di Tangse

0

Assalamu’alaikum sahabat reader, pasti pada nunggu – nunggu ya tulisan aku??? Bad mood menjerumuskan ku ke dunia bawah sadar dalam kendalian rasa malas yang sangat besar, sehingga menjadi platform aku berdebu dan bersarang Laba-laba. Namun di tahun ini hal itu tidak akan ku biarkan lagi, dukung aku ya sahabat readers.

Nahh, kali ini aku akan membagikan pengalaman eksplorasi ku yang terbaru, terupdate, dan terhits di dunia olahraga alam bebas. Dalam pertualangan kali ini aku dan tim yang berlatar belakang pencinta alam dan penggiat alam bebas merintis olahraga alam bebas baru yang dikenal dengan “Canyoning”.

Menurut hasil Wikipedia aku di mbah Google, Canyoning atau dikenal juga dengan nama canyoneering sendiri sesuai asal katanya, canyon (Grand Canyon atau Ngarai Besar / Air Terjun Besar dan Terjal yang terbentuk oleh Sungai Colorado, di utara Arizona). Olahraga ini sangat populer di kancah internasional. Di Indonesia sendiri olahraga ini masih relatif baru dan belum populer di indonesia.

Olahraga yang merangkum beberapa teknik sekaligus seperti pemanjatan (climbing), turun tebing (rapeling), berenang (swimming), dan lompat tebing (climb jumping) sehingga menjadi sebuah disiplin ilmu alam bebas yang dikenal sebagai Canyoing. Sederhananya,  olahraga Canyongin ini adalah kolaborasi antara ilmu Panjat Tebing dan Susur Goa yang diaplikasikan pada media air terjun. Menurut aku pribadi, canyoning ini merupakan tantangan tingkat lanjut bagi penggiat susur gua dan panjat tebing, pun dilihat dari segi teknik, canyoning banyak menggunakan teknik dasar panjat tebing dan susur goa. 

Awalnya kami mengetahui olahraga canyoing ini di youtube, yang di unggah oleh “Canyoing Bali”, lalu kami mempelajari lebih lanjut dan kita juga melihat potensi serta landscape alam yang ada di kabupaten Pidie ini sangat mendukung akhirnya kita praktekan langsung di lapangan, tepatnya di pedalaman Dusun Geunie Kecamatan Beungga Pidie.

Olahraga dengan banyak nama ini menjelajahi daerah lanskap alam yang sulit dijangkau dengan mengikuti rute air yang diukir melalui formasi batuan, dan tentunya memberikan sensasi luar biasa serta memacu adrenalin. Walaupun kegiatan ini dilakukan untuk bersenang-senang dan menambah pengalaman, namun kita dituntut menggunakan peralatan teknis keselamatan atau safety first. Selain dua hal diatas, kegiatan ini juga dapat dilakukan untuk melatih skill, tingkat kesulitan kursus dan tantangan medan. 

Alat-alat canyoning umumnya meliputi:

1. Harness

Harness merupakan perlengkapan keselamatan utama yang dikenakan oleh pengarai yang dipasang ke tali untuk turun dan, jika perlu, memanjat.

2. Sepatu : Karena sifat ngarai yang berair, akan membutuhkan sepatu yang nyaman dan tahan lama dengan daya cengkeram yang sangat baik.

3. Pakaian selam atau life jacket :berfungsi daya tahan dan kehangatannya penting untuk pengarai yang dingin dan dalam. 

4. Helm : Perlindungan kepala yang melindungi kepala dari terpeleset dan terjatuh di ngarai.

5. Sarung Tangan : Sepasang sarung tangan yang berfungi untuk dapat menjaga tangan tetap aman saat menjelajahi bebatuan, meskipun tidak selalu diperlukan. 

6. Tali Kartmantel :untuk tali kartmantel bisa digunakan tali statis maupun dinamis. Akan tetapi lebih baik menggunakan tali statis, karena menahan kuat saat ditempatkan di bawah tekanan, dan memudahkan untuk abseiling atau Reppleling. Tali ini sangat penting untuk pengaman menjelajahi ngarai. 

7. Descender : peralatan turun yang digunakan sebagai rem gesekan, mengatur dan mengontrol turunan ngarai, memungkinkan belayer untuk memberi dan mengambil tali dengan aman. Alat descender yang biasa digunakan yaitu : ATC, Grigri, Figure of eight, Autostop. 

8. Ascender : peralatan naik yang juga dibutuhkan dalam Canyon untuk memanjat tebing. Alat Ascender yang biasa digunakan yaitu : Jummar, Tali Tangga  (Strap / Jedrack) 

9. Carabiner : Untuk pengamanan yang diperlukan di ngarai, carabiner adalah alat untuk menghubungkan harness dan descender. Sebaiknya digunakan yang crew get (kunci) untuk lebih safety karena dapat memasang sling dan peralatan lainnya.

10. Sling : pengaman yang berguna sebagai tindakan tambahan di area yang terbuka. 

11. Jangan lupa baca do’a sebelum dan setelah melakukan kegiatan, hehe

Semoga postingan ini bermanfaat bagi nusa dan bangsa.