Kategori
Perempuan Berdaya

Jatuh Bangun Yulianti Meniti Karier Bidan hingga Mendirikan Bidan Holik Aceh

Berprofesi sebagai bidan merupakan pilihan hidup Yulianti, SST. Perempuan yang akrab disapa Kak Uli oleh tim Bidan Holik Aceh ini, begitu bangga dengan profesinya. Sebab, itulah yang menjadi andalan hidupnya setelah melewati proses pendidikan kebidanan yang butuh perjuangan.

Ya, sekolah di bidang kesehatan seperti halnya di jurusan kebidanan bukanlah perkara mudah. Butuh investasi uang, pikiran, dan waktu yang panjang untuk menyelesaikan semuanya. Setelah lulus pun masih banyak aral melintang, terutama saat mendapatkan pekerjaan. Lulusan kebidanan yang kian membeludak membuat persaingan begitu ketat di dunia kerja. Bahkan di antaranya terpaksa rela bekerja tak bergaji sebagai bidan bakti demi mempertahankan gengsi.

Namun, pilihan itu tak bisa ditempuh Uli karena ia masih mempunyai tanggung jawab lain. Selesai kuliah bukan berarti selesai pula urusannya. Sebab gengsi tidak bisa mengembalikan aset-aset orang tuanya yang tergadai demi membiayai pendidikannya. Tidak bisa juga membantu biaya sekolah adik-adiknya, bahkan tak mampu sekadar untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.

Uli ingin profesinya dihargai, setidaknya dengan mendapatkan jerih payah sesuai kemampuannya. Bisa menjadi sumber penghasilan yang memadai. Sebuah pilihan yang realistis demi keberlangsungan hidup seorang anak manusia. Namun, instansi mana yang mau menerima seorang fresh graduate yang hanya berbekal selembar ijazah? Uli pun berbalik haluan, banting setir kerja serabutan hanya demi untuk makan. Bagaimana kisah Uli bertahan hidup hingga akhirnya membangun Bidan Holik Aceh? Mari simak ceritanya agar bisa dijadikan contoh dan panutan.

***

Kamis, 11 Maret 2021 saya mendatangi Apotek Family Farma di Jalan Teuku Muhammad Daud Beureueh, Banda Aceh. Kedatangan saya untuk menemui pemilik Bidan Holik Aceh yang tidak lain ialah Yulianti. Lima menit menunggu, seorang perempuan turun dari Agya kuning menuju ruang tunggu apotek. Senyumnya merekah saat melihat saya duduk di sofa lalu menghampiri dan menyalami saya yang datang ditemani suami. Uli menyapa kami dan meminta maaf atas keterlambatannya. Sesaat kemudian ia pun mengajak saya ke ruang praktik Bidan Holik yang juga di gedung itu.

Kami tiba di ruangan seukuran 4×3 meter dan tampak pasangan muda yang sedang menunggui bayinya dipijat oleh pegawai Bidan Holik Aceh. Terdapat bak mandi yang dipenuhi bola-bola plastik, digunakan untuk bayi berenang. Meskipun tidak terlalu besar, ruangan itu sangat nyaman karena didekorasi dengan warna biru laut yang cerah lengkap dengan beberapa lukisan hewan bawah laut.

Uli mempersilakan saya untuk melihat proses pijat bayi atau baby massage. Bayi itu terlihat senang dipijat, begitu juga dengan orang tuanya tampak bahagia mengikuti proses itu. Setelah pemijatan selesai, Uli menggendong bayi tersebut sambil mengobrol dengan orang tuanya. Mereka kelihatan akrab karena ini bukanlah kali pertama bayi itu dibawa ke Bidan Holik untuk dipijat.  

“Bayi yang dipijat pasti hasilnya lebih maksimal. Ibarat dua tanaman yang satu dipupuk dan lainnya dibiarkan tumbuh begitu saja. Tentu tanaman yang dipupuk akan tumbuh lebih subur. Begitu pula bayi yang dipijat, pertumbuhan dan perkembangannya akan lebih baik karena akan memengaruhi daya isap saat ia menyeusui. Bila kebutuhan ASI tercukupi, aliran darah pun akan lancar yang akan mengantarkan nutrisi ke seluruh sel-sel tubuh. Hal ini akan berpengaruh pada kenaikan berat badan bayi karena nutrisi tercukupi. Begitu pula aliran darah yang lancar ke otak akan merangsang perkembangan otak anak,” jelas Uli memaparkan manfaat pijat bayi.

Orang tua bayi tersebut terlihat fokus menyimak penjelasannya. Tak terkecuali saya. Mungkin karena saya juga mempunyai bayi, informasi tersebut sangat menarik untuk diikuti. Namun, kedatangan saya ke sana bukanlah sekadar untuk mendengarkan tentang informasi bayi, tapi lebih dari itu. Lebih tepatnya mendengarkan kisah Uli dalam merintis usaha berbasis jasa; Bidan Holik Aceh.

Uli lantas mengajak saya ke ruangan sebelah. Kliennya tadi kembali dilayani oleh pegawainya. Di ruang sebelah kami bisa mengobrol dengan nyaman tentang jatuh bangunnya meniti kariernya sebagai seorang bidan profesional.

Susahnya Mencari Pekerjaan Tanpa Rekomendasi

Uli memulai pendidikannya di perguruan tinggi dengan bersekolah di Akademi Kebidanan (Akbid) Saleha Banda Aceh. Ia lulus pada 2011, tahun saat mulai diberlakukannya surat tanda register bagi seluruh tenaga kesehatan yang ingin bekerja di sektor pelayanan kesehatan. Uli yang baru saja lulus tahun itu belum bisa mengurus STR. Aturannya dua tahun setelah kelulusan baru bisa mendapatkan STR. Meskipun sudah ada peraturan tersebut, Uli tetap saja nekat melamar pekerjaan di pelayanan kesehatan. Berbekal ijazah D3, perempuan asal Aceh Besar ini mendatangi puskesmas di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Ia berharap ada kesempatan kepadanya untuk bekerja di sana. Sebab, dialah satu-satunya tumpuan orang tua dan harapan bagi kelima adiknya yang masih bersekolah.

“Orang tua mengeluarkan biaya besar untuk uang kuliah saya, paling tidak saya bisa membantu mereka dengan memberikan uang jajan adik setelah lulus. Meskipun ibu PNS, tapi gajinya tidak seberapa lagi karena sudah banyak ambil kredit di bank. Beberapa asetnya seperti sawah juga tergadai demi menguliahkan saya. Sedangkan ayah tidak bisa bekerja karena sakit. Makanya besar harapan ke saya agar bisa sedikit meringankan beban yang dipikul orang tua,” ungkap Uli.

Karena itulah Yuli benar-benar sangat membutuhkan pekerjaan. Namun, setiap kali ia melamar pekerjaan di pelayanan kesehatan, mereka selalu meminta persyaratan STR selain ijazah. Kemudian mereka juga meminta rekomendasi dari orang yang berpengaruh di pelayanan kesehatan tersebut. Sesuatu yang menurutnya sudah menjadi rahasia umum. Uli yang awam tentang persoalan itu mempertanyakan perihal rekomendasi tersebut. Sebagai lulusan baru yang minim pengalaman dan tidak punya kenalan orang berpengaruh, ia hanya bisa diam saat dimintai persyaratan tersebut. Lebih lanjut pihak puskesmas menjelaskan kalaupun ia diterima di pelayanan tersebut, statusnya hanya sebagai bidan bakti. Ia harus rela bekerja tanpa digaji.

Akhirnya ia mengurungkan niatnya dan mencari tempat pelayanan kesehatan lain. Kondisi yang sama kembali terulang. Selain STR juga diminta surat rekomendasi. Itu pun tetap dengan status sebagai bidan bakti. Hampir seluruh puskesmas di Aceh Besar dan Banda Aceh yang didatangi menetapkan persyaratan tersebut.

Belum juga menyerah, perempuan kelahiran 18 November 1989 ini mencoba melamar pekerjaan di rumah sakit. Hasilnya juga sama, ia tidak mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. Semua rumah sakit yang menerima surat lamaran pekerjaannya menolak Uli.

Menjadi Tukang Cuci dan Membuat Kue

Selama menunggu penantian pengurusan STR, Yuli bekerja serabutan. Ia membuka jasa laundry di rumah. “Saya mencuci baju orang karena tidak punya uang. Tidak mungkin lagi saya meminta kepada orang tua karena utang-utangnya saja sudah menumpuk. Jadi, saya membuka jasa laundry abal-abalan di rumah dan mencuci baju para tetangga. Selain itu, baju kotor teman-teman adik saya di pesantren saya suruh bawa pulang ke rumah untuk dicuci. Walaupun hasilnya tidak seberapa, tapi lumayanlah untuk mencukupi uang jajan adik saya yang satu itu. Namun, masih ada empat orang adik saya lainnya yang membutuhkan biaya sehari-hari untuk sekolah,” katanya.

Untuk menambah pemasukan, ia membuat kue basah dan menitipkannya ke kedai kopi. Dibantu oleh adik-adiknya, ia melakukan semua pekerjaan tersebut dengan ikhlas. Hasil dari jualan kue dan jasa laundry digunakan untuk membantu uang jajan adik-adiknya sehari-hari. Pekerjaan tersebut dilakoninya selama kurang lebih satu tahun.

Meski begitu, Uli juga sering dilibatkan dalam proses membantu persalinan pasien bidan-bidan senior mantan dosennya. Kebetulan ia mempunyai kedekatan emosional dengan beberapa bidan yang mempunyai klinik bersalin.

“Ibu ada lowongan buat saya, nggak? Saya belum ada STR, hanya berbekal ijazah D3. Apa saja boleh saya lakukan untuk membantu Ibu di klinik,” ujar Yuli sedikit mengiba saat menghubungi bidan-bidan senior tersebut.

Dari hasil menjaga pasien tersebutlah ia mendapat uang tambahan. Bila ada pasien yang akan melahirkan, dialah yang mendampingi hingga selesai. Setelah pasien pulang, dia juga yang datang ke rumah pasien tersebut untuk memandikan bayinya. Bermula dari pekerjaan memandikan bayi inilah, Uli mulai dikenal banyak orang.

Tantangan di Masyarakat

Selama melakoni pekerjaan memandikan bayi itulah Uli melihat masih banyak praktik yang dilakukan oleh mablin (dukun beranak) pada ibu pascasalin yang tak sesuai dengan ilmu kebidanan modern.

“Saya melihat ibu-ibu yang baru melahirkan dipijat oleh mablin atau wawak-wawak. Namun, cara pemijatannya tidaklah benar, justru membahayakan si ibu. Contoh yang paling sering saya temukan ialah ibu pascalahir dipijat untuk menaikkan perut. Padahal rahim si ibu masih dalam keadaan luka karena baru saja melahirkan. Kemudian dipijat oleh mablin sambil ditekan-tekan dan diangkat-angkat hingga membuat si ibu merasa kesakitan. Belum lagi batu panas yang dibalut menggunakan kain, lalu diletakkan di atas perut sambil ditekan-tekan. Hal seperti itu membuat perut relaksasi sehingga akan berpotensi terjadi perdarahan. Sebab prinsipnya rahim harus berkontraksi agar proses penyembuhan luka membaik. Bahkan kami akan menyuntikkan oksitosin kepada ibu melahirkan agar rahimnya berkontraksi, melakukan MA3K salah satunya masase perut, masase rahim supaya rahim dapat berkontraksi,” jelas Yuli.

Namun, yang ditemukan dirinya di lapangan justru rahim ibu pascamelahirkan dibuat relaksasi dengan cara dipijat. Rahim yang dalam keadaan luka tersebut akhirnya mengeluarkan banyak darah dan itu disangka baik oleh mereka. Padahal itu berisiko membuat si ibu perdarahan yang mengakibatkannya anemia, makanya kebanyakan ibu melahirkan kelihatan pucat karena kekurangan darah. “Sebab perdarahan lebih dari 500 mg disebut perdarahan patologi/penyakit,” lanjut Yuli.

Praktik tak sesuai lainnya ialah banyaknya pantangan bagi ibu pascasalin. Si ibu tidak diizinkan makan dan minum terlalu banyak, makan tidak boleh lebih dari tiga sendok, minum tidak boleh lebih dari tiga teguk, dan minum itu pun sangat jarang sekali, bahkan sampai kering bibir si ibu baru diizinkan minum. Belum lagi pantangan untuk memakan daging, ikan, udang, dan sebagainya. Makanan yang diberikan kepada ibu melahirkan hanya berupa sayur bening daun ubi, ikan keumamah (ikan kayu) atau kareng (teri kering). Padahal ibu melahirkan butuh asupan gizi yang tinggi dari berbagai makanan untuk memulihkan kondisi tubuhnya dan penyembuhan rahim.

“Dengan kondisi seperti itu, produksi ASI pun juga terhambat karena si ibu merasa tertekan dengan perlakuan yang tidak menyenangkan. Padahal si ibu harusnya dibuat senang dan bahagia agar hormon prolactin bekerja sehingga meningkatkan produksi ASI. Tapi, ini justru malah disakiti yang membuat si ibu stres. Ketika ASI tidak ada, lalu mereka bilang ASI ibu tidak enak, kemudian diberilah susu formula. Begitu ASI keluar, bayinya tidak mau lagi menyusui karena sudah bingung puting. Anak pun sering menangis karena kembung, lalu diberi pisang karena disangka lapar. Padahal bayi baru lahir belum bisa mencerna makanan padat karena sistem pencernaaannya masih dalam proses tahap perkembangan. Praktik seperti itu terus dilakukan, meskipun salah karena dilakukan berulang-ulang dianggap sesuatu kebenaran oleh masyarakat.”

Melihat kondisi tersebut batin Uli berontak. Ia pernah menyampaikan kegundahannya pada salah satu pasien dan keluarganya, tetapi dia justru diserang.

“Orang-orang dulu juga seperti itu, tapi mereka baik-baik saja,” jawab keluarga pasien.

Hal ini menjadi dilema bagi Uli, saat ia berusaha menyampaikan kebenarannya justru akan berpotensi menimbulkan konflik.

“Saat itu saya dimarahi sama ibu pasien, mertuanya, dan orang-orang sekitarnya. ‘Kamu tahu apa anak kemarin sore mau sok mengajarkan orang tua,’ kata mereka kepada saya. Berbagai bantahan datang dari mereka bila saya sampaikan kebenarannya. Salah-salah ngomong, bisa-bisa saya kehilangan job memandikan bayi,” tuturnya.

Dalam menghadapi tantangan itu, ia pun harus pandai-pandai berkomunikasi mengambil hati pasien dan keluarganya. Supaya mablin tidak tersinggung ketika ia sampaikan ilmunya dan tidak disangka menjadi musuh karena berpeluang mengambil job mereka. Uli banyak belajar dari bidan-bidan senior bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan pasien. Untuk memperdalam ilmunya tersebut, Uli pun memutuskan untuk melanjutkan kuliah D4 Kebidanan di Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) pada 2012.

Orang tuanya kembali harus menggadaikan sawah untuk biaya pendaftaran masuk perguruan tinggi. “Uang hasil dari gadai sawah itu semuanya habis untuk biaya masuk. Setelah saya hitung-hitung semua kwitansinya tercatat 25 juta lebih sedikit yang harus saya keluarkan.”

Selama dua tahun kuliah, ia tetap menyambinya dengan pekerjaan memandikan bayi. Namun, ia mulai menambah beberapa treatment lainnya seperti pijat bayi, perawatan tali pusat, edukasi perawatan bayi baru lahir kepada pasien, dan cara menyusui yang benar. 

Tamat kuliah pada 2014 dengan menyandang gelar Sarjana Sains Terapan, Uli pun menikah. Beruntung suaminya mempunyai jaringan yang bisa membuatnya diterima bekerja di sebuah rumah sakit. “Entah bagaimana prosesnya saya tidak tahu. Akhirnya saya bekerja di rumah sakit tersebut beberapa bulan. Sedangkan pekerjaan memandikan bayi tetap saya lakukan di samping bekerja sebagai bidan di rumah sakit tersebut.”

Kemudian pada saat itu, sedang ada dibuka lowongan pekerjaan bagi tenaga medis untuk sebuah rumah sakit yang baru dibuka. Uli memutuskan mengikuti proses seleski di rumah sakit tersebut. Semua tes yang dibuat rumah sakit dilaluinya, akhirnya ia diterima sebagai tenaga bidan di rumah sakit tersebut.

Karena rumah sakit ini baru dibuka, mereka masih menerapkan sistem roling dalam penempatan tenaga medis. Jadi, di tahun pertama dan kedua bekerja di situ, Uli berkesempatan mengikuti berbagai pelatihan yang dibuat pihak rumah sakit. Sistem roling yang dibuat rumah sakit juga memberikan kesempatan belajar bagi dirinya untuk mendalami ilmu dan pengalaman menjadi bidan.

“Saya pernah ditempatkan di ruang bersalin, kemudian dipindahkan ke instansi gawat darurat, lalu pindah lagi ke ruang perinatolgi. Jadi, saya bisa belajar banyak saat menangani pasien di ruang-ruang tersebut. Akhirnya semua dokter umum dan spesialis yang ada di rumah sakit itu saya kenal yang menambah jejaring pertemanan saya.”

Selama bekerja di rumah sakit, Uli tidak lagi menerima job memandikan bayi dari bidan-bidan senior. Sebab, setiap ia membantu persalinan di rumah sakit, ia juga berkesempatan untuk memandikan bayi mereka setelah pulang. Bahkan saking banyaknya pasien, ia tidak sanggup menanganinya sendiri. Ia pun mencari bidan junior yang sama sepertinya dulu untuk membantu pekerjaannya tersebut.

“Saat itu saya sudah punya karyawan, walaupun dua orang hasil dari pekerjaan tersebut sangat lumayan bagi saya. Kemudian saya terpikir, mau sampai kapan saya bekerja sama orang dan saya mulai membandingkan gaji yang saya dapat dari rumah sakit dengan penghasilan saya di luar. Akhirnya saya memutuskan untuk resign dari rumah sakit karena saya ingin fokus membangun usaha saya dengan tim yang saya bentuk.”

Diceraikan dan Jatuh ke Titik Terendah

Januari 2019, Uli resmi tidak bekerja lagi di rumah sakit. Akibatnya ia harus berusaha lebih keras untuk membangun semuanya dari nol. Begitu pula dengan pasien yang semulanya ramai, kini menjadi berkurang karena ia harus mencari pasien sendiri.

“Pasien pun jadi terputus karena saya tidak bekerja lagi di rumah sakit yang secara otomatis tidak ada lagi pemasukan untuk saya. Apalagi yang namanya kita masih merintis semua masih terbatas, termasuk modal. Jadi, waktu itu saya tidak pikir panjang saat resign sehingga ada sedikit timbul penyesalan di hati,” ungkap Yuli.

Terlebih rumah tangga Yuli saat itu sedang dilanda masalah. Ia harus merasakan pahitnya ditinggal suami karena diceraikan. “Kami belum punya buah hati, mungkin itu alasan utama dari kehancuran rumah tangga saya,” suaranya tercekat seakan ada beban berat yang masih disimpannya di dalam hati.

Situasi itu membuat Uli benar-benar merasa berada di titik terendah. Perkerjaan tak punya, teman pun tiada. Dua pegawainya terpaksa diistirahatkan karena tidak mampu menggaji mereka. Jangankan untuk membantu orang tua, untuk biaya hidup sendiri pun dia tak punya. Ia merasa sudah salah mengambil keputusan, tapi ia segera sadar bahwa apa pun jalan yang dipilihnya, itu adalah pilihan. “Nggak mungkin lagi melaju ke belakang karena waktu tidak bisa diputar. Sehingga pertama kali yang saya lakukan saat itu adalah salat. Itulah salat yang paling khusuk dalam hidup saya selama ini,” ungkapnya.

Dalam salat itu, ia berdoa kepada Allah Swt agar diberikan solusi atas masalah yang dihadapinya. Ia mengadukan semua masalah yang dialaminya kepada Sang Pencipta. “Saya tidak bisa hidup tanpa bantuan Engkau karena saya adalah ciptaan Engkau. Jadi, apa pun yang terjadi di masa lalu dan masa depan, Engkaulah yang tahu dan Engkau yang punya solusi atas masalah yang saya hadapi sekarang,” rintih Uli dalam doanya saat itu.

Setelah salat, tiba-tiba ia terpikir untuk membuat akun Instagram. Padahal sebelumnya ia tidak pernah menggunakan aplikasi tersebut. Dia meminta bantuan kepada salah satu pasiennya untuk dibuatkan akun Instagram. Pasien tersebut sedikit merasa aneh sebab di zaman digital seperti sekarang masih ada orang yang tidak tahu cara membuat akun Instagram. Apalagi Uli juga tergolong milenial.

“Walau awalnya diketawain oleh pasien saya, tapi dia tetap mau membantu saya untuk membuat akun Instagram. Kemudian dia juga mengajari saya cara meng-upload foto dan penggunaan beberapa fitur lainnya yang terdapat di Instagram. Akhirnya pada 4 Mai 2019, terbentuklah akun Instagram Bidan Holik Aceh.”

Bangkit dan Membangun Bidan Holik Aceh

Mengenai penggunaan nama Bidan Holik, ia teringat akan satu kata holic yang bermakna kecanduan. Ia merasa cocok kata itu disandingkan dengan kata bidan yang merupakan profesinya. Sebab bila menggunakan jenama Bidan Yuli, tidak ada yang mengenalnya karena masih banyak bidan lainnya yang jauh lebih terkenal dan senior dari dirinya.

“Saya memilih kata holic yang kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi holik. Dengan nama tersebut saya berharap orang-orang akan kecanduan dalam artian positif menggunakan jasa saya. Maksudnya saya mau orang yang sudah treatment pada saya datang lagi dan lagi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Kata holic yang mulanya bermakna negatif tidak selamanya buruk. Sama halnya seperti hidup saya yang sedang terpuruk, susah, dan sedang dilanda masalah akan bangkit menjadi pribadi yang lebih baik dan positif. Jadi, saya sengaja mengutip kata yang negatif untuk dijadikannya positif, maka jadilah Bidan Holik Aceh,” tutur Yuli.

Dengan penuh semangat dan keyakinan, ia pun kembali menghubungi bidan-bidan senior agar ketika ada pasien yang membutuhkan jasa memandikan bayi bisa menggunakan jasanya. Setiap kali melakukan tugasnya seperti memandikan bayi, memijat, dan perawawatan bayi lainnya, ia mengunggahnya ke Instagram.

Hingga suatu hari, orang yang berpengaruh di Aceh menjadi salah satu pasiennya. Anak mantan gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, menggunakan jasanya untuk perawatan bayinya. Uli dengan sigap menjalani tugasnya, mulai dari memandikan, memijat bayi tersebut, hingga perawatan lainnya. Tanpa sepengetahuan dirinya, Darwati Agani—istri Irwandi Yusuf—merekam aktivitasnya.  

“Bu Darwati memasukkan saya ke siaran langsung Instagramnya. Tidak lama kemudian, HP saya mulai dibanjiri banyak pesan, bahkan ada yang menelepon saya untuk mengkonfirmasi bahwa saya masuk siarang langsung Bu Darwati. Saya kaget dan balik bertanya apa itu siaran langsung, begitulah saking kurang update-nya saya,” ujarnya sambil tergelak.

Berkat unggahan Darwati, akun Instagram Bidan Holik Aceh mulai dikenal. Beberapa hari setelah itu, follower-nya bertambah menjadi empat ribu yang sebelumnya hanya beberapa puluh saja. Efeknya dia kebanjiran pekerjaan yang diterimanya melalui pesan Instagram. Hingga sebulan setelah video itu diunggah, Uli mempunyai jadwal memandikan bayi hingga satu bulan berikutnya.

Ia merasa inilah jawaban Tuhan atas semua doa yang dipanjatkannya beberapa waktu lalu. Ia pun memanggil kembali pegawai yang sempat diistirahatkan. Semakin hari nama Bidan Holik Aceh semakin dikenal. Beberapa pasien yang menggunakan jasanya secara sukarela mempromosikan usahanya. Sebab setelah melakukan treatment mereka mempostingnya ke Instagram masing-masing.

“Dari Instagram si A, kemudian diketahui oleh si B dan seterusnya, hingga semakin banyak yang mengetahui tentang Bidan Holik Aceh dan menggunakan jasa kami. Sampai hari ini sudah 19 ribu follower Bidan Holik Aceh dan kami sering mendapatkan orderan via Instagram. Dilihat sangat aktif di Instagram, alhamdulillah pada Agustus 2019 pihak Family Farma mengajak saya untuk melakukan praktik di tempat ini. Saya benar-benar tidak menyangka Allah akan kasih semuanya setalah beberapa kesulitan yang saya alami sebelumnya,” tukas Yuli.

Untuk memperdalam ilmu dan wawasannya, ia mengikuti berbagai pelatihan berbayar yang ada di luar Aceh dengan biayanya sendiri. Ia pun diajarkan cara berbisnis dan beberapa turunan ilmu kebidanan yang sudah dikembangkan. Tercatat ada empat pelatihan yang diikutinya. Mulai dari tiket penginapan, biaya pelatihan, tiket pesawat, dan biaya hidup selama pelatihan, ditanggungnya sendiri demi mendapatkan sertifikat dan pendalaman ilmu. Di awal 2020, ia berhasil membuat CV Bidan Holik Aceh dan memperkerjakan beberapa bidan untuk membantu usahanya.

Saat ini ada sepuluh pegawai yang berasal dari profesi bidan dan enam orang admin yang bukan bidan bekerja membantu Bidan Holik Aceh. Ia membuka rekrutmen saat menerima tenaga bidan yang bekerja untuknya, kemudian melatih sampai mereka benar-benar mahir melakukan perawatan, seperti pijat bayi, cara berkomunikasi dengan baik, dan beberapa skill penunjang lainnya.

Ia juga membuka cabang Bidan Holik di berbagai daerah. “Untuk saat ini ada lima tempat, yaitu di Meulaboh, Birueun, Lokseumawe, Lhoksukon, dan Aceh Selatan. Saya mengundang bidan dari daerah tersebut ke Banda Aceh, kemudian dilatih sampai mereka bisa dilepaskan untuk melakukan treatment di daerahnya masing-masing. Selama mereka di Banda Aceh, semua keperluannya saya yang tanggung begitu pula dengan semua pelatihan, saya berikan secara gratis. Setelah mereka setuju dengan kotrak yang Bidan Holik buat barulah mereka bisa bekerja di daerah masing-masing,” katanya semringah.

Di mata tim Bidan Holik Aceh, Uli dikenal baik dan pengertian. Ia memperlakukan karyawannya laiknya teman. Ia memberi kesempatan kepada bidan-bidan junior untuk bekerja di tempatnya dengan gaji sesuai dengan UMR.

“Alhamdullillah, penghasilan dari sini lebih mencukupi untuk kebutuhan saya dan jauh lebih tinggi bila bekerja di tempat lain,” ujar Uswah, salah satu pegawai Bidan Holik Aceh.

Uli sangat bersyukur dengan apa yang diperolehnya sekarang. Dengan usaha ini dia sudah bisa membuka lapangan pekerjaan untuk para bidan. Ia pun bisa membantu melunasi utang-utang orang tuannya dan membiayai pendidikan adik-adiknya. Begitu pula dengan fasilitas lainnya seperti rumah dan mobil sudah bisa ia miliki dari hasil jerih payahnya selama ini. Namun, yang paling penting Yuli bisa menerapkan ilmu kebidanan sesuai dengan apa yang dipelajarinya di dunia perkuliahan, tanpa harus sungkan mengatakan praktik perawatan ibu pascalahir yang salah dipahami masyarakat selama ini.

Kisah dari Yuli ini tentunya bisa dijadikan contoh teladan bagi banyak orang, khususnya tenaga bidan dan tenaga kesehatan lainnya. “Andai semua bidan bisa berpikir lebih kreatif dan tidak ada yang mau bakti tanpa digaji, pasti jasa bidan akan lebih dihargai. Sebab, pemerintah akan kewalahan karena tidak ada bidan yang mau bakti sehingga mau tidak mau pemerintah juga harus memberikan imbalan yang sesuai untuk jasa bidan dan tenaga kesehatan dengan gaji yang sesuai,” katanya berharap secuil harapan keadilan bagi rekan-rekan seprofesinya di luar sana.

Ia berharap lulusan bidan lebih mandiri dan tidak berharap ke orang lain apalagi menggunakan cara-cara yang tidak baik untuk mendapatkan pekerjaan. Yang terpenting teruslah berusaha dan berdoa karena dia sudah membuktikan, proses usaha dan doa sehingga sukses membangun usaha Bidan Holik Aceh.[]

23 tanggapan untuk “Jatuh Bangun Yulianti Meniti Karier Bidan hingga Mendirikan Bidan Holik Aceh”

Saya dari dulu gak terlalu percaya dengan dukun2 dan lebih percaya medis. Banyak mitos2 yang tak masuk akal/logika jika bayi lahir di dukun termasuk yang dijelaskan kak Yell..kadang penanganan dukun itu beda dengan dokter/bidan. Untung ada bidan ya bisa meluruskan mitos keliru di tengah2 masyarakat sehingga banyak orang yg semakin melek ilmu kesehatan dan menyerahkan persalinan, lahiran anak dan perawatannya pada pihak medis/bidan. Thanks tulisannya kak, bagus dan inspiratif 🙂

Suka banget dengan bidan yang selalu berinovasi seperti ini. memannng sudah saatnya para bidan bisa lebih berkembang bukan hanya sekedar membantu ibu hamil dan melahirkan saja tapi juga pasca melahirkan. ah, andai deket setelah melahirkan pengen banget ke sana.

Wow, sangat hebat perjuangan bidan Yulianti ini. Bangkit dari keterpurukannya dia mampu. Semua dilakoni dengan tulus ikhlas sehingga pada akhirnya semua yang dia lakukan ada buah manisnya. Semoga segala program bisa berkesinambungan ya. Salut!

MashaAllah. Tulisan yang luar biasa. Seorang tokoh perempuan yang menginspirasi. Mengajarkan kepada kita untuk tekun berusaha dan tak lelah berjuang. Semoga bidan Uli dan klinik Bidan Holik Aceh terus berkembang dan membawa manfaat bagi semua orang yang menggunakan jasanya, plus tentu saja masyarakat yang ada di sekitarnya. Aamiin YRA

Luar biasa, wanita degnan tekad yang kuad biasanya akan menjadi seseorang yang hebat. Hasil tidak mengkhianati usaha yaa..

Salut saya sama Bidan Yuli ini. Beliau bidan enterpreneur. Profesi bidan masih sangat dibutuhkan di Indonesia. Kalo gak bisa melamar kerja ke rumah sakit umum, daerah, atau swasta, ya ini patut dicontoh dong, ciptakan lapangan kerja sendiri seperti Bidan Holic karena skill yang dimiliki masih perlu banyak di masyarakat kita, khususnya yang hidup di pedesaan.

Masyaallah Kak Uli ini ya, istilahnya from zero to hero ya, berawal dari tantangan mencari penghidupan hingga sekarang bisa memiliki 5 cabang Bidan Holik, salah satunya di Lhokseumawe ya, ntar saya kasih tau adik saya yang tugas di sana ah. Tfs Kakak

Masya Allah keren banget Bu Bidan. Di tengah masyarakat yang masih percaya bgt dengan hal mitos bidan seperti ini emang dibutuhkan banget.

Saya dulu juga sempat di marahi sama ibu gegara nggak mau dipijat sama dukun beranak setelah melahirkan. Bahkan saya juga melarang bayi untuk dipijat sama dukun bayi itu. Padahal udah diundang ke rumah sama ibu.

Luar biasa ya perjuangan bu Yulianti ini. Suaminya pasti menyesal telah menceraikan wanita kuat ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *