Beranda blog Halaman 5

Sosok Ayah di Masa Konflik

Menjadi seorang laki-laki Aceh yang hidup di masa konflik amat sangat menakutkan. Bagaimana tidak, kaum ini selalu dicurigai oleh kedua belah pihak yang bertikai. Sedikit saja salah bertindak, nyawa jadi taruhan. Sedikit saja ada gelagat yang dianggap mencurigakan, siap-siap menjadi target sasaran. Bila tidak sesuai dengan yang diinstruksikan, harus rela menerima hukuman tanpa pembelaan.

Bagi yang melakukan perlawanan disebut pemberontak. Sedangkan yang tidak ikut berjuang disebut sebagai penghianat. Mereka serba salah, diteror dari dua arah. Padahal mereka hanyalah sipil yang harus dilindungi, tapi merekalah yang kerap menjadi korban dan sasaran. Inilah era ketika masyarakat Aceh berada pada kegelapan, harga diri di ujung kaki para tentara dan kombatan.

Rentetan peristiwa berdarah yang pernah terjadi di Aceh, melibatkan banyak kaum laki-laki. Di antaranya para ayah yang mempunyai anak-anak yang mestinya dihidupi. Namun, kekejaman konflik Aceh membuat anak-anak yatim kehilangan sosok ayah. Seperti tragedi Jambo Kupok di Aceh Selatan pada 17 Mei 2003, belasan laki-laki dibakar hidup-hidup di sebuah rumah kosong oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Rintihan kesakitan dan lolongan pilu dari korban terdengar langsung ke telinga anak-anak. Larut bersamaan dengan kobaran api yang begitu mencekam. Salah satunya Ali Usman yang menjadi saksi hidup dalam peristiwa itu. Usianya baru beranjak 15 tahun, tapi ia harus berhadapan dengan trgedi yang memilukan. Pasalnya, di antara yang menjadi korban pembakaran itu adalah ayahnya, Suwandi, (bbc.com; Kesaksiaan korban peristiwa Jamboe Kupok, diakses 27 Juli 2023).

Selain tregedi Jambo Kupok, terdapat benyak peristiwa lainnya seperti tragedi Simpang KKA (Aceh Utara), tragedi Rumoh Gedong (Pidie), tragedi Beutong Ateuh (Aceh Barat–sekarang Nagan Raya) dan banyak peristiwa lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Ini menunjukkan betapa sulitnya menjadi laki-laki dan betapa takutnya anak-anak kehilangan sosok ayah pada masa itu.

Memori Korban Konflik dari Orang Terdekat

Di antara banyak peristiwa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) semasa konflik bersenjata Aceh, ada juga rentetan peristiwa yang tidak terdata. Ini berkaitan dengan orang-orang terdekat saya. Meskipun tidak seberat peristiwa besar yang disebut di atas, tapi memori ini tidak bisa serta-merta dibuang begitu saja.

Ingatan ini menjadi landasan dasar bagi saya, betapa susahnya hidup di masa konflik. Bahkan untuk saya yang berusia anak-anak saat itu, kehilangan ayah menjadi momok yang sangat menakutkan. Terlebih pekerjaan Ayah saya seorang sopir angkutan umum, tidak menutup kemungkinan terjadi perilaku kekerasan di perjalanan oleh pihak yang bertikai. Berikut kumpulan memori yang sudah pernah saya dengar dari Ayah yang kemudian saya konfirmasi ulang lagi kebenarannya ke Ayah (27 Juli 2024).

Contoh kecilnya saja dulu di sekitar tahun 2000, saat Ayah membawa mobil lintas Tapaktuan–Meulaboh, ia sering ditahan di Posko Brimob Lamainong, Aceh Barat Daya. Para tentara meminta jatah uang kepada Ayah, tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Begitu pula bila ada kebutuhan tentara yang ingin dibelikan di Meulaboh, mereka meminta bantuan Ayah untuk membelinya. Namun, lagi-lagi pakai uang Ayah.

Kekerasan verbal pun tak jarang diterima Ayah. Namun, dalam kondisi tersebut apa yang bisa diperbuat? Diam dan menjawab seperlunya adalah cara terbaik daripada membantah. Tidak hanya itu,  karena salah sangka oleh pihak tentara, mobil Ayah juga pernah diadang oleh mobil tentara. Lalu Ayah diproses di posko tentara sambil ditodong senjata.

Masalahnya sepele, yaitu surat yang disangka dititipkan oleh seseorang tentara kepada Ayah rupanya sudah dikirim melalui kantor pos ke Medan. Hal itu baru terungkap setelah tiga hari Ayah mendapat ancaman dari tentara. Selama itu, Ayah merasa tertekan karena setiap melalui posko brimob tersebut, Ayah ditanyai tentang surat. Bahkan Ayah sempat bertanya ke rekan-rekan seprofesinya tentang surat tersebut, setiap kali berpapasan dengan sopir yang dikenal Ayah. Barangkali ada dititipkan di mobil mereka. Namun, tak satu pun yang tahu keberedaan surat itu. Padahal surat yang dimaksud sudah dikirim via kantor pos oleh oknum yang bersangkutan.

Seusai kejadian itu, koflik Aceh semakin memanas. Banyak masyarakat yang tidak bersalah jadi korban. Persoalan bunuh-membunuh kian sering terdengar. Termasuk ayah angkatnya Ayah (kakek saya) menjadi korban tembak oleh oknum kombatan. Kejadiannya itu selepas magrib, kakek didatangi oleh oknum kombatan di rumahya.

Tanpa banyak tanya, oknum tersebut langsung menembakkan satu peluru ke paha kanan kakek dengan jarak satu meter. Akibatnya kakek tidak tertolong setelah sempat dilarikan ke rumah sakit. Nenek yang melihat kejadian itu, langsung berteriak histeris dan memohon kepada oknum tersebut agar tidak menyakiti kakek lagi. Ternyata oknum tersebut melakukan hal itu karena sakit hati lantaran tidak dikasih uang oleh kakek.

Kakek yang saat itu beprofesi sebagai kepala desa (keuchik) memang sering didatangi oleh pihak tentara maupun kombatan. Namun, siapa sangka malam itu ia menjadi korban keberingasan oknum yang mengaku membela bangsa. Sungguh sedih istri dan anak-anak yang ditinggalkannya. Terlebih anak bungsunya masih berusia balita. Saya saja sebagai cucu angkatnya begitu terpukul dengan kematiannya yang tak wajar, konon lagi anak kandungnya jauh lebih hancur melihat ayahnya diperlakukan demikian.

Berjuang di Tengah Konflik

Ayah kemudian memutuskan tidak lagi bekerja sebagai sopir, karena situasi yang semakin memburuk. Ia memilih bekerja di rumah menjaga kios kecil yang sebelumnya dikelola oleh ibu. Sayangnya, penghasilan dari menjaga kios tidak bisa mencukupi keluarga kami. Akhirnya ibu terpaksa mengambil alih dengan berjualan pakaian dan kasab sulam benang emas yang dijahitnya sendiri.

Ibulah yang pergi-pergi keluar daerah menawarkan barang dagangannnya, dan saya selalu ikut menemani ibu. Sebab ketika di dalam perjalanan terjadi sweeping oleh tentara, maka akan mudah dilewatan karena ada anak kecil. Tidak hanya itu, saya juga ikut membantu ibu dengan berjualan es di sekolah, umur saya baru delapan tahun. Namun, di situasi itu, perempuan dan anak-anak mengambil peran mencari rezeki karena para lelaki kesulitan bekerja di luar rumah lantaran kondisi yang tidak aman.

Di suatu waktu, jelang peringatan 4 Desember, Ibu disuruh menjahit bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) oleh kombatan. Ia terpaksa menerimanya bukan karena kepepet uang, toh saat itu bayarannya cuma Rp1500 per lembarnya. Namun, ibu takut kalau menolaknya akan berakibat buruk bagi keluarga kami.

Di lain sisi, ibu juga khawatir tentara mengetahui bahwa ibu menjahit bendera GAM. Karena jika pihak tentara tahu, keluarga kami pasti akan dihabisi karena dianggap mendukung GAM. Ada yang unik saat itu, melihat aktivitas ibu menjahit benang kasab, beberapa tentara meminta ibu menjahit lambang mereka dengan menggunakan benang kasab. Jadi, ketika siang ibu membuat pesanan jahitan tentara, sedangkan malamnya ibu menjahit bendera GAM.

Hingga di tahun 2003, ketika diberlakukannya Darurat Militer di Aceh padan tanggal 19 Mei, kami yang tinggal di pedalaman dekat gunung, tepatanya di Gampong Air Sialang Hilir, Samadua, Aceh Selatan disuruh mengungsi. Semua orang kampung yang tinggal berbatasan dengan pegunungan juga ikut mengungsi. Ibu kehilangan mata pencahariannya, sedangkan ayah tidak bekerja. Beberapa hari setelah kami diungsikan, Ayah mencari pekerjaan karena tidak ada uang di tangan dan persedian makanan semakin menipis.

Alhamdulillah, Ayah kembali menjadi sopir angkutan umum. Namun, kali ini lintas Tapaktuan–Kandang (Kluet Selatan). Meskipun lintasan daerah ini merupakan zona merah pada masa konflik, Ayah tetap mengambil risiko itu demi menghidupi anak-anak dan istrinya. Benar saja, beberapa minggu setelah ayah menjadi sopir, perilaku kekerasan pun kembali diterima Ayah dari pihak tentara.

Kali ini masalahya karena seorang tentara menuduh Ayah menabrak pacarnya. Padahal perempuan (pacar tentara) tersebut jatuh sendiri tepat di depan mobil yang dikendarai Ayah. Tentara itu pun mengamuk dan memukul punggung Ayah dengan gagang senjata. Tidak cukup itu, pipi Ayah juga dipukul dengan gagang senjata hingga Ayah tersungkur tak berdaya. Tentara itu juga mengancam Ayah agar tidak menceritakan kejadian itu ke siapa pun. Setelah itu, barulah Ayah dilepaskan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.

Tidak ada yang membela, di mata meraka Ayah salah karena menabrak pacar tentara. Meskipun tidak seperti itu kronologisnya dan walaupun ada saksi para penumpang Ayah yang melihat kejadian itu, mereka bisa berbuat apa? Hanya bisa bungkam seribu bahasa menyaksikan Ayah dihajar tentara.

Beberapa hari setelah kejadian itu, gigi ayah rontok satu per satu. Jangan tanya bagaimana rasa sakitnya, tapi ayah kembali lagi dengan aktivitasnya demi mencari rezeki. Terlebih saat itu kami sedang mengungsi, dan harus membayar sewa rumah sebagai tempat mengungsi membuat Ayah kuat, meskipun menyimpan rasa trauma. Ayah kembali menjalani aktivitasnnya sebagai sopir.

Di suatu hari, Ayah juga pernah terjebak dalambaku tembak antara tentara dan kombatan di Gunung Lokrukam, ketika hendak pergi ke tempat kerjanya mengambil mobil. Saat itu Ayah menggunakan sepeda motor. Ayah hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Allah agar selamat dari kontak senjata tersebut. Sambil menepi di antara mobil tentara, ayah terus melajukan motornya, tanpa memedulikan anak peluru berseliweran di atas kepala Ayah. Hingga akhirnya sampai ke kampung Air Pinang, Tapaktuan, Aceh Selatan, tepatnya di rumah toke Ayah. Orang-orang pada menangis melihat Ayah karena lolos dari maut. Meskipun Ayah selamat, ingatan mencekam berada di tengah kontak senjata, tentu tidak mudah dilupakan dalam sekejap mata.

Selain ayah dan kakek yang mengalami perlakuan kekerasan di masa konflik, juga ada guru sekolah saya. Kejadiannya itu menjelang damai Aceh di tahun 2004. Guru laki-laki yang mengajar pelajaran fiqih di sekolah saya, disandra di gunung oleh kombatan. Bahkan kami satu sekolah sempat membuat doa bersama untuk keselamatan sang guru. Qadarullah, guru tersebut akhirnya dibebasakan setelah kurang lebih satu bulan disandra dan membayar tebusan.

Selama guru tersebut disandra, selama itu pula mata pelajaran fikih di sekolah kosong karena tidak ada yang menggantikannya. Saya tidak tahu bagaimana perlakuan kombatan kepada dia selama itu. Namun, dari situ saya bisa menyimpulkan tidak mudah hidup sebagai seorang ayah di masa konflik Aceh.

Harapan ke Depan

Damai Aceh memang sudah 20 tahun berlangsung, tapi ingatan kelam tentang koflik Aceh masih melekat. Terutama bagi mereka yang pernah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan di masa itu. Tentunya kejadian lalu, jangan sampai terulang lagi pada anak cucu. Cukuplah mereka yang merasakan hidup dalam ketidaknyamanan.

Korban konflik pelanggara HAM berat seperti yang saya paparkan di awal tulisan, sudah barang tentu mendapatkan rekonsiliasi dan ganti rugi dari negara. Walaupun itu belum sepadan, tapi langkah baik pemerintah perlu kita apresiasi. Namun, tidak semua korban konflik Aceh terdata dengan baik, terlebih untuk kasus-kasus orang terdekat yang saya ceritakan di tulisan.

Harapan terbesar saya sebagai keluarga korban konflik Aceh, berharap ada pelayanan rehabilitasi mental dan kesehatan yang kompeten untuk masyarakat Aceh. Memang saat ini, masyarakat Aceh bisa berobat gratis ke pelayanan kesehatan. Namun, mutu pelayananannya masih jauh panggang dari api. Di tulisan ini saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar bagaimana mutu pelayanan kesehatan di Aceh. Cukup masyarakat kalangan bawah sajalah yang tahu karena mereka yang sering mengaksesnya.

Sedangkan para pejabat dan pengusaha yang punya uang, pasti memilih pelayanan kesehatan di negeri jiran ketika sakit. Menurut kacamata awam saya, kalaulah para petinggi daerah dan penguasa rupiah memilih pelayanan kesehatan yang ada di sini, dikarenakan memang kualitasnnya bagus, itulah yang diinginkan masyarakat korban konflik, mendapat pelayanan kesehatan yang sama tanpa membeda-bedakan kelas dan latar belakang. Semoga harapan itu kesampaian setelah 20 tahun Aceh DAMAI.[]

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Menulis Jurnalisme Warga yang diselenggarakan oleh Koalisi NGO HAM Aceh pada Juli 2025.

Warga Panton Rayek T Minta Kejelasan Mitigasi terkait Pencucian Sumur Gas Medco

BANDA ACEH–Warga Desa Panton Rayek T, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, mengeluhkan minimnya sosialisasi teknis terkait rencana pencucian sumur Blok AS-9 milik PT Medco E&P Malaka di kawasan tersebut. Pencucian tersebut direncanakan berlangsung pada bulan Agustus 2025 ini. Warga menilai, pihak perusahaan tidak memberikan informasi yang jelas dan tidak menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang konkret untuk meminimalisasi dampak.

Hal tersebut disampaikan oleh warga Desa Panton Rayek T yang diwakili oleh Zulkifli (Teungku Don) dan Suhendra dalam konferensi pers yang berlangsung di Banda Aceh, Rabu, 6 Agustus 2025. Dalam konferensi pers tersebut, warga didampingi oleh Community Organizer (CO) Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, Nuraki. Hadir juga Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Ahmad Shalihin, dan Kadiv Advokasi dan Kampanye, Afifuddin Acal.

Menurut Tgk Don, mestinya pihak perusahaan memberikan penjelasan yang konkret dan sesuai SOP, termasuk kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan upaya mitigasinya agar masyarakat tidak cemas. Kecemasan tersebut menurutnya sangat beralasan, mengingat sudah beberapa kali warga Panton Rayek T mengalami keracunan akibat terhirup gas hidrogen sulfida (H2S) yang dilepaskan saat pencucian sumur minyak dan gas.

“Kejadian pertama pada tahun 2021, lalu pada 2022 juga ada, ketiga pada tahun 2023 dan menelan korban cukup besar, sebanyak 34 warga Panton Rayek T, termasuk keluarga saya, harus dirawat inap di rumah sakit kabupaten. Kami tidak mau kondisi seperti itu terulang lagi,” kata Tgk Don.

Menurut Tgk Don, pada Kamis-Jumat, 24-25 Juli 2025, pihak perusahaan memang sudah memberitahukan perihal rencana pencucian sumur gas tersebut kepada masyarakat melalui rapat. Menurut pihak perusahaan, sebagaimana disampaikan oleh Tgk Don, aktivitas pencucian disebut aman untuk jarak di atas radius 500 meter.

“Namun, pengalaman dari kejadian sebelumnya, warga yang keracunan itu berada pada jarak satu kilometer dari lokasi sumur Blok AS-9. Jarak dari permukiman dengan sumur sekitar 1.200 meter, lebih dari 500 meter, tetapi ambruk juga,” kata Tgk Don.

Suhendra menambahkan, dalam pertemuan dengan pihak perusahaan pada 24–25 Juli 2025, lebih banyak membahas tentang rencana pemberian tali asih atau kompensasi oleh perusahaan. Pada hari Jumat, pertemuan berlangsung menjelang pelaksanaan salat Jumat dan diakhiri dengan santunan anak yatim. Sedangkan yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah sosialisasi yang lebih teknis dan sesuai SOP, seperti bagaimana proses evakuasi jika terjadinya keracunan gas, ke mana evakuasinya, dan siapa yang akan mengevakuasi warga?

“Adapun mengenai jumlah tali asihnya diputuskan sepihak oleh perusahaan, tidak mengakomodasikan tawaran dari masyarakat. Sementara ketika ditanya apa jaminan untuk keselamatan kami, tidak ada jawaban pasti. Pihak perusahaan hanya mengatakan prosesnya aman, warga tidak perlu khawatir, tetapi siapa yang bisa menjamin?”

Mengenai jumlah tali asih, pihak perusahaan menawarkan Rp1 juta per kepala keluarga. Bagi warga yang memiliki kebun dalam jarak radius 500 meter dengan sumur akan mendapat tambahan Rp1.750.000. Warga sendiri memberikan penawaran agar kompensasi diberikan Rp300 ribu per hari. Jumlah tersebut untuk mengganti pendapatan warga yang aktivitas ekonominya tersendat selama proses pencucian sumur yang bisa berlangsung sekitar dua pekan.

Trauma Fisik yang Menjadi Trauma Psikologis

Bentuk molekul hidrogen sulfida (H2S) yang bersifat korosif.

Sementara itu, menurut Nuraki, pada dasarnya warga tidak menentang aktivitas tersebut. Namun, dalam praktiknya keselamatan nyawa manusia harus menjadi prioritas utama. Hal ini bisa dilakukan oleh perusahaan dengan menyampaikan informasi atau sosialisasi yang utuh dan tidak bersifat manipulatif dengan membungkusnya menjadi “program” Jumat Berkah. Di sisi lain, pemilihan waktu yang tidak tepat telah menutup akses bagi perempuan untuk hadir, padahal perempuan–termasuk anak-anak dan lansia–adalah yang paling rentan ketika keracunan terjadi.

Perusahaan perlu menjelaskan secara konkret apa kegiatannya, dampak positif dan negatifnya apa, serta bagaimana langkah-langkah antisipatif agar tidak terulang seperti sebelumnya. Kejadian tak terduga pada 2021 dan 2023 telah menimbulkan efek trauma bagi warga. Dari yang semula trauma fisik, kini telah menjadi trauma psikologis yang memicu kecemasan saat mendengar rencana pencucian sumur di Panton Rayek.

“Seharusnya mereka belajar dari pengalaman, mitigasi itu penting untuk meminimalisasi dampak negatif. Selesaikan dulu aspek teknis, metode sosialisasinya perlu disesuaikan, baru bicara soal tali asih,” kata Nuraki.

Suhendra adalah satu korban keracunan gas pada tahun 2023 yang mendapat perawatan serius di RSUD Zubir Mahmud. Sejak kejadian itu, ia sering mengalami kecemasan. Saat ini misalnya, ketika mendengar akan ada aktivitas pencucian sumur gas, seolah-olah ia kembali mencium bau ceungeh (bau gosong) atau bau telur busuk (bau khas H2S). Alam bawah sadarnya menghadirkan kembali pengalaman trauma fisik akibat terhirup gas dua tahun lali. Kesakitan akibat reaksi gas di dalam tubuhnya yang menimbulkan efek sesak, bahkan sempat hilang kesadaran, terus membayanginya.

Adik perempuan Tgk Don juga demikian. Alhasil, hal pertama yang ia tanyakan kepada Tgk Don adalah mengungsi ke mana, bukan berapa tali asih yang bakal didapat. Jika saja pihak perusahaan memfasilitasi ‘rumah aman’ sementara selama proses pencucian sumur, disebut justru lebih melegakan bagi warga.

Mengapa Sumur Gas Perlu Dicuci?

Pencucian sumur gas atau well cleaning/well washing adalah proses teknis dalam industri minyak dan gas untuk membersihkan sumur produksi dari berbagai pengotor yang menghambat aliran gas atau minyak. Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan sumur dari sumbatan-sumbatan seperti lumpur atau endapan lainnya sehingga dapat mengembalikan atau meningkatkan laju produksi.

Yang menjadi kekhawatiran adalah karena selama proses pencucian diperlukan penyuntikan zat kimia pelarut atau penyemprotan fluida tekanan tinggi sehingga berisiko lepasnya gas berbahaya (H2S) yang beracun ke permukaan. Zat ini bisa mengakibatkan gangguan pernapasan, hilang kesadaran, atau kematian jika terhirup dalam jumlah besar.

Konferensi pers ditutup dengan seruan agar pemerintah daerah dan provinsi turut turun tangan, mengeluarkan pernyataan resmi, dan memantau dampak jangka panjang dari paparan gas beracun terhadap kesehatan masyarakat.[]

Rumah Pengetahuan untuk Warga Samar Kilang

RUMAH Pengetahuan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) “Umah Uteun”. Begitulah nama yang tertera pada selembar pamflet berbahan mika yang menempel pada dinding rumah panggung seukuran 8×6 meter itu. Rumah itu terletak di Desa Gerpa, Kemukiman Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah. Jalan masuknya persis di sebelah lapangan yang ada di sisi jalan dua jalur di Desa Blang Panu.

Rumah ini secara resmi telah berfungsi sejak diresmikan pada minggu pertama bulan Juli 2025. Nama rumah itu diambil dari kosa kata bahasa Gayo yang berarti rumah ‘uteun‘ dan hutan ‘uteun‘. Secara harfiah, Umah Uteun berarti rumah hutan atau rumah untuk mengelola hasil hutan. Nama ini juga menjadi simbol atau identitas bagi warga Samar Kilang yang mayoritasnya beretnis Gayo.

Rumah pengetahuan ini dibangun oleh Katahati Institute yang didukung oleh Denver Zoo sebagai pusat aktivitas kelompok perempuan Samar Kilang dalam mengolah HHBK, khususnya aren (Arenga pinnata) dan janeng (Dioscorea hispida dennst) yang melimpah di daerah tersebut. Adapun Katahati Institute adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang sejak lima tahun terakhir hadir di Samar Kilang untuk melakukan program-program pemberdayaan.

Hari itu, Rabu, 16 Juli 2025, belasan perempuan berkumpul di kolong Rumah Pengetahuan Umah Uteun. Selembar tikar plastik dibentangkan dan menjadi alas untukmereka duduk. Tiap-tiap orang punya kesibukan masing-masing. Ada yang sedang mengayak gula merah bubuk, ada yang sedang mengukur kelapa dengan geulungku (alat kukur tradisional)—untuk kemudian dicampur dengan tiwul janeng, ada juga yang sedang merebus nira di dapur. Begitulah kesibukan mereka sehari-hari jika sedang ada kegiatan produksi. Sisanya ada yang duduk-duduk saja sambil bercengkerama satu sama lain. Sembari menunggu tiwul janeng siap disantap.

Belasan perempuan itu adalah anggota kelompok binaan Katahati Institute yang hampir dua tahun terakhir mulai serius mengolah aren dan janeng. Mereka terbagi menjadi dua grup, yaitu grup Markilang yang mengolah janeng dan grup Samaren yang mengolah aren. Para ibu ‘ine‘ tersebut berasal dari berbagai desa yang ada di Samar Kilang.

Samar Kilang bisa jadi nama yang familier di telinga banyak orang. Namun, saat ditanya di mana letaknya, kemungkinan mereka akan bingung menjawabnya.

Saking terisolasinya kawasan ini, tak banyak orang yang secara sengaja (mau) datang ke Samar Kilang. Selain, sarana transportasi ke sana juga sangat terbatas. Orang-orang yang datang ke sana, bisa dipastikan mereka yang memiliki agenda khusus, seperti halnya tim Katahati.

Rumah Pengetahuan HHBK Umah Uteun yang multifungsi.

Samar Kilang adalah nama salah satu dari dua kemukiman yang ada di Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah. Kecamatan ini terletak di wilayah utara dan berbatasan langsung dengan Aceh Utara dan Aceh Timur. Samar Kilang sendiri adalah ibu kota Kecamatan Syiah Utama. Meskipun kecamatan ini berada di Bener Meriah, nyatanya suhu di sini sama seperti suhu pesisir karena secara geografis berada di lembah.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Bener Meriah mencatat Syiah Utama sebagai kecamatan terluas di kabupaten itu. Mencapai 814,63 km atau 41,95 persen dari total wilayah Bener Meriah yang mencakup 1.941,61 km. Bener Meriah sendiri merupakan hasil pemekaran wilayah dari Kabupaten Aceh Tengah dan resmi menjadi kabupaten pada 7 Januari 2004.

Syiah Utama juga dicatat sebagai kecamatan dengan penduduk paling sedikit, hanya 1,42 persen dari keseluruhan penduduk Bener Meriah yang tersebar di sepuluh kecamatan. Jumlah DPT di kecamatan ini tak sampai dua ribu orang.

Secara definitif, Syiah Utama hanya punya 14 desa. Tujuh di antaranya terdapat di Kemukiman Samar Kilang, yaitu: Gerpa, Goneng, Geruti Jaya, Kerlang, Tempen Baru, Pasir Putih, dan Uning. Di sepanjang perjalanan menuju ke Samar Kilang lebih banyak kawasan hutan ketimbang permukiman penduduknya. Kantor kecamatan terdapat di Kerlang, sedangkan Mapolsek dan Makoramilnya terdapat di Kemukiman Pantan Senie.

DAS Krueng Jambo Aye memiliki peranan penting bagi warga Samar Kilang. Para ayah atau ama menjadikan sungai ini sebagai tempat menjala ikan jurung, sedangkan para ine menjadikannya sebagai tempat untuk mengolah janeng.

Syiah Utama juga termasuk kecamatan paling terisolasi di Bener Meriah. Selama berpuluh tahun warga Samar Kilang lebih senang “turun” ke Aceh Utara melalui jalur sungai untuk berbelanja kebutuhan pokok, ketimbang “naik” ke Pondok Baru karena tidak adanya akses jalan darat yang memadai. Menyusuri sungai dengan rakit bambu dinilai lebih memungkinkan untuk dilakukan, meski sangat berisiko, ketimbang pergi ke Pondok Baru dengan berjalan kaki yang harus melewati hutan belantara yang juga berisiko bertemu hewan buas.  Namun, sesekali mereka tetap melalui jalan darat jika kondisinya terdesak.

“Saat pertama kali Katahati hadir di Samar Kilang pada tahun 2020, jalan lintas kecamatan yang menghubungkan Samar Kilang dengan ibu kota kabupaten belum beraspal. Jalanan berlumpur, rawan longsor, dan di beberapa titik kendaraan terpaksa harus didorong baru bisa lewat,” kata Direktur Katahati Institute, Raihal Fajri, Kamis, 17 Juli 2025.

Warga Samar Kilang baru menikmati jalan beraspal sejak tahun 2022 lalu. Setelah jalan “jaring laba-laba” yang menghubungkan Samar Kilang–Pondok Baru dan dibangun oleh Pemerintah Aceh melalui proyek tahun jamak sejak 2018 rampung dibangun. Saat ini, jalan tersebut menjadi satu-satunya akses jalan darat yang menghubungkan Samar Kilang dengan ibu kota kabupaten di Redelong.

Jaraknya hampir 70 kilometer dengan waktu tempuh lebih dari dua jam. Tak hanya terkurung karena tak ada jalan, selama ini warga Samar Kilang juga “terputus” akses dengan dunia luar karena tak ada jaringan telepon seluler. Sinyal Telkomsel baru masuk ke sana pada tahun 2019. Jika listrik padam, sinyal pun tenggelam. Kabar buruknya, listrik padam bisa berjam-jam lamanya.

Katahati Hadir untuk Membuka Akses

Para ibu atau ine sedang melihat konten kreatif di media sosial sebagai sumber inspirasi mempromosikan produk mereka.

Menurut Raihal, Samar Kilang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi ekowisata. Termasuk di dalamnya potensi HHBK.

Berdasarkan identifikasi yang dilakukan Katahati, beberapa HHBK potensial di Samar Kilang ada rotan, janeng, aren, durian, dan jernang. Hanya saja terbatas oleh prasarana dan sarana.

Selain itu, kecamatan ini juga menjadi satu-satunya kecamatan di Bener Meriah yang secara administratif masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser yang menjadi rumah bagi aneka satwa kunci, seperti harimau sumatra, gajah sumatra, orangutan sumatra, dan badak sumatra. Sebagian hutannya masih alami dengan beraneka flora fauna, seperti aneka burung dan tumbuh-tumbuhan.

DAS Jambo Ayee yang memiliki luas hingga 4.640 kilometer mengalir melewati Samar Kilang dan bermuara ke Selat Malaka di pesisir utara-timur Aceh. Sungai ini menjadi tempat beranak-pinak ikan jurung (keureuling) yang menjadi andalan warga Samar Kilang untuk memenuhi asupan protein hewani mereka. Sungai inilah yang disusuri oleh warga Samar Kilang yang ingin pergi ke Lhoksukon, Aceh Utara. Di kawasan ini juga terdapat makam ulama bernama Bener Meriah—yang namanya dilakabkan sebagai nama kabupaten.

Berbagai potensi itulah yang membuat Katahati hadir dan bersama warga setempat serius mengolah HHBK-nya. Sebagai bentuk keseriusan dan keberlanjutan, Katahati pun membangun Rumah Pengetahuan sebagai pusat aktivitas dan belajar bersama. Di tempat itu, tamu-tamu yang datang ke Samar Kilang bisa belajar langsung tentang berbagai pengetahuan lokal yang masih dipertahankan di Samar Kilang.

Misalnya, pengetahuan tentang obat-obatan herbal, tentang pengolahan janeng, termasuk cerita-cerita totemisme yang menjadi simbol interaksi manusia dan alam yang masih terjaga dengan baik.

Di sisi lain, tamu-tamu yang datang ke sana juga bisa bertukar pengalaman dan pengetahuan kepada warga lokal.

Mak Jamur memperkenalkan salah satu sumber pangan lokal, rimbang atau terung pipit (Solanaceae) kepada Tamtam–konten kreator asal Jakarta yang berkunjung ke Samar bersama tim Katahati.

Katahati sendiri bukan asal masuk ke sana. Jauh sebelum fokus pada pengelolaan janeng dan aren di Samar Kilang, Katahati melakukan riset mendalam.

“Tujuan utama kami adalah mempromosikan kegiatan-kegiatan pelestarian alam dan hutan yang ada di sini. Di sisi lain, kami juga perlu mendorong masyarakatnya agar mandiri secara ekonomi sehingga tak lagi bergantung pada hasil hutan kayu. Kalau masyarakat punya alternatif sumber penghasilan, mereka tentu tidak hanya semata-mata tertuju pada hutan,” kata Raihal.

Berawal dari situlah kata Raihal, pihaknya kemudian membuat analisis SWOT. Dimulai dengan mendata pihak-pihak mana saja yang sudah lebih dulu hadir ke Samar Kilang dan apa program utama mereka. Analisis ini penting agar tidak terjadi tumpang tindih program. Selain itu, antarpihak juga bisa saling mendukung dan bersinergi. Saat ini misalnya, Katahati juga bersinergi dengan Forum Konservasi Leuser (FKL) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) III yang telah membangun Stasiun Riset Samar Kilang sebagai stasiun penelitian di timur KEL.

“Setelah tahu apa potensinya, apa tantangannya, barulah kami susun program dan intervensinya bagaimana. Alhamdulillah, sambutan dari masyarakat sangat baik. Untuk tahap awal fokus kita pada aren dan janeng, dan memanfaatkan DAS Krueng Jambo Aye untuk lokasi bamboo rafting,” kata Raihal lagi.

Sebenarnya, kata Raihal, warga setempat menyadari banyak potensi HHBK yang bisa mendatangkan nilai ekonomis. Mereka punya pengetahuan dasar untuk mengolah janeng dan aren. Hanya saja, warga tidak punya akses pada pasar. Infrastuktur jalan dan sarana transportasi yang tidak memadai juga berdampak pada tersendatnya distribusi hasil pertanian atau perkebunan warga. Hal itu juga diakui oleh salah satu anggota Kelompok Samaren.

“Selama ini kami juga sudah membuat gula aren, tapi untuk kami makan sendiri,” katanya.

Begitu juga dengan janeng, meski tak dikatakan secara gamblang, warga Samar sendiri sudah “bosan” mengonsumsi janeng. Umbi janeng hanya dikonsumsi sebagai makanan selingan atau alternatif ketika gagal panen atau musim paceklik. Setelah Katahati hadir, janeng-janeng Samar Kilang sudah diolah menjadi aneka produk turunan, seperti tepung, tiwul, kerupuk, dan keripik. Pelanggannya pun mulai beragam dan tersebar dari berbagai kota. Begitu juga dengan gula aren yang tersedia dalam bentuk cair, bubuk, dan padat.

General Manager Katahati, Andra Masyhuri, menuturkan, Katahati lebih banyak berperan dalam peningkatan SDM sehingga produk yang dihasilkan bisa lebih berkualitas. Kualitas produk sangat penting jika ingin menembus konsumen luar. Diversifikasi produk juga penting agar serapan pasar semakin luas.

“Kami juga mendatangkan mentor untuk melatih cara mengemas produk yang baik dan higienis, pelan-pelan kami sisipkan tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan. Kami menjadikan masyarakat sebagai mitra, jadi semua proses yang selama ini telah dijalankan dilakukan dengan prinsip kebersamaan dan kesetaraan,” kata Andra.

Tak hanya itu, Katahati juga berperan dalam membuka akses pasar yang lebih luas. Misalnya, dengan memperkenalkan produk-produk tersebut ke berbagai pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional. Di antara anggota kelompok juga ada yang diikutsertakan dalam pameran sehingga mereka bisa melihat langsung potensi produk mereka. Hal itu menambah semangat dan motivasi mereka untuk lebih produktif.

Anggota Kelompok Markilang, Mak Jamur, turut menceritakan pengalamannya saat menghadiri pameran di Provinsi Bali. Ia tak mengira produk janeng yang diolah oleh tangan-tangan terampil di pedalaman Gayo ternyata mendapat sambutan hangat dari konsumen luar.

“Nyesal kita bawa produknya sedikit, ya,” kata Rauyah atau Mak Jamur kepada Andra.

Selain membangun Rumah Pengetahuan, Katahati sudah lebih dulu membentuk Koperasi Multipihak Perempuan Gayo Sejahtera sebagai badan usaha. Koperasi ini menaungi tiga kelompok usaha, yaitu Markilang dan Samaren di Bener Meriah, plus Keriga di Aceh Tengah.

Koperasi ini menjadi penting sebagai wadah bagi kelompok agar bisa terus berkembang. Selain, untuk memudahkan pemasaran produk.

Mitos Janeng: Umbi yang Berasal dari Nasi

Ama Tris memperlihatkan umbi janeng yang tumbuh di kebunnya di pinggir DAS Krueng Jambo Aye. Sebagai warga lokal yang pernah menjadi kepala desa dan kini sebagai Mukim, Ama Tris memiliki pengetahuan yang banyak mengenai nilai-nilai kearifan lokal di Samar Kilang.

Janeng (Dioscorea hispida dennst) atau yang sering disebut juga sebagai umbi hutan atau gadung hutan, adalah tanaman yang pohonnya menjalar. Tanaman ini memiliki kandungan karbohidrat seperti halnya beras yang diolah menjadi nasi dan bersifat mengenyangkan. Masyarakat Samar Kilang punya mitos tersendiri mengenai janeng.

Menurut penjelasan Mukim Samar Kilang, Ama Tris, konon janeng berasal dari setumpuk nasi yang ditaruh di dekat pohon.

Nasi itu pun tumbuh menjadi pohon janeng dan umbinya dapat dimakan sebagai pengganti nasi.

Hanya saja, janeng mengandung zat sianida yang beracun sehingga tak bisa dikonsumsi langsung sebelum dibuang racunnya.

Mengolah janeng pun membutuhkan keterampilan khususnya. Setidaknya membutuhkan proses hingga satu minggu untuk menetralisir zat racun dalam umbi janeng.

Penampakan umbi dan batang jaeng. Daunnya mirip daun kacang-kacangan. Batangnya berduri.

Menurut Mak Jamur, setelah umbi dikupas, perlu digarami dulu, kemudian diberi abu dan diperam selama tiga hari. Setelah itu direndam selama tiga malam di sungai atau pada air yang mengalir. Barulah setelah itu janeng bisa diolah dan aman dikonsumsi.

Sedangkan menurut Ama Tris, tidak semua umbi janeng beracun. Dalam satu batang pohon, hanya satu umbi yang beracun.

“Biasanya umbi-umbi yang seperti ini,” kata Ama Tris menunjukkan umbi yang paling atas dan gemuk dari beberapa umbi dalam satu batang pohon.

Hanya saja kata dia, tak semua orang punya keahlian atau kemampuan untuk mendeteksi umbi yang beracun itu. “Jadi, untuk lebih amannya, ya, kita proses semuanya,” kata pria bernama asli Muhammd Syam (57) itu.

Janeng sendiri kata Ama Tris ada dua macam: janeng pulut yang berwarna kuning dan janeng beras yang berwarna putih. Tumbuhan ini sangat melimpah dan tumbuh subur di hutan-hutan di Samar Kilang.

Produk yang sudah dikemas dengan bagus dan siap dipasarkan.

Penawar dari racun janeng sendiri ada pada daunnya. Biasanya penawar ini diberikan pada orang yang mabuk janeng untuk level parah.

“Kalau mabuk biasa-biasa aja cukup diminumkan air cucian beras atau air tebu sampai muntah, tapi kalau sudah parah, bisa kita gunakan penawar dari daun janeng itu sendiri. Kita ambil daun janeng yang sudah tua atau kering, lalu dilinting dan dibakar ujungnya, kemudian diisap seperti kita isap rokok daun,” kata mantan kepala Desa Kerlang itu.

Berbagai pengetahuan yang meluncur dari mulut Mak Jamur atau Ama Tris di Rumah Pengetahuan itu, sejatinya adalah pengetahuan yang bersumber dari tradisi lisan. Pengetahuan yang membuat eksistensi mereka ada hingga saat ini. Diwarisi dari leluhur mereka secara turun-temurun. Nilai dan semangat yang menjadi social capital atau aset untuk mencapai tujuan bersama. Kehadiran Katahati tentulah sebagai lokomotif.[] Bersambung.

Putri yang Menjelma Menjadi Aren dan Kaitannya dengan Totemisme

DENGAN sigap Nek Sila menaiki panteu yang diikat khusus di batang pohon aren. Batang pohon aren itu tak terlalu tinggi. Hanya dengan berdiri di panteu yang tingginya tak sampai satu meter itu, Nek Sila sudah bisa menjangkau tandan buah aren jantan yang lebat. Sepintas, bentuk buahnya mirip kurma muda. Hanya saja, kulit buahnya tampak ungu kecokelatan. Tangkai buahnya juga panjang dan menjuntai ke bawah. Nek Sila kemudian memukul-mukul tangkai tandan aren dengan kayu yang panjangnya kira-kira sehasta. Pukulannya pelan-pelan saja.

Nek Sila adalah panggilan sehari-hari bagi Isnaini. Ia salah satu warga Kecamatan Samar Kilang yang kini aktif memproduksi gula aren bersama anggota kelompok lainnya. Hari itu, Selasa, 16 Juli 2025, Nek Sila sedang memeragakan cara “mempersiapkan” buah aren jantan atau mayang jantan sebelum disadap untuk diambil niranya.

Lazimnya, penyadapan nira dilakukan oleh laki-laki karena batang pohonnya tinggi-tinggi. Namun, menurut rekan Nek Sila, Mak Iwan, ada juga perempuan yang melakukannya.

“Misalnya perempuan yang suaminya sudah meninggal, kadang terpaksa dia harus menyadap nira demi menafkahi keluarga. Kalau enggak, nggak bisa makan,” kata Mak Iwan yang aslinya bernama Saedah.

Pohon aren itu adalah milik Ama Tris. Tumbuh di kebun yang letaknya persis di pinggir Krueng Jamboe Ayee yang hilirnya ada di Selat Malaka. Selain aren, di kebun itu juga banyak tumbuh janeng. Salah satunya tumbuh dan menjalari batang pohon aren itu. Nek Sila bersama rekan-rekannya sering ke kebun itu untuk mengambil umbi janeng.

Sebelumnya, Ama Tris sudah lebih dulu mencontohkan bagaimana cara menyadap nira yang muslihat. Diawali dengan membaca bismilah, diikuti membaca dua kalimat syahadat, lalu membacakan “rapalan” singkat yang dalam istilah bahasa Gayo disebut dengan “jangen” atau senandung yang berbunyi:

anakku ni jema mutuah,

aku ni jema legeh,

jema nyanya,

anakku ini orang baik (bertuah)

aku ini orang fakir

orang susah

mudah-mudahan dengan kuasa Allah,

rezeki yang mudah

Senandung itu tak ubahnya seperti ungkapan pujian orang tua untuk membangkitkan semangat putrinya. Barulah kemudian Ama Tris menggoyang-goyangkan tangkai tandannya sambil berselawat sekurang-kurangnya dua—tiga ratus kali.

Prosesi itu setidaknya mesti dilakukan hingga sepekan sebelum mayang jantan dipotong. Dari tandan yang dipotong itulah nantinya cairan batang pohon aren atau nira keluar dan bisa dipanen. Selanjutnya dijadikan bahan baku membuat gula aren.

Dalam kehidupan sosial masyarakat Gayo, khususnya masyarakat Samar Kilang, pohon aren bukan semata-mata pohon yang buah jantannya dapat menghasilkan nira atau buah betinanya menghasilkan kolang-kaling.

Namun, ia dianggap sebagai jelmaan seorang gadis, seorang anak, yang merelakan dirinya menjadi sebatang pohon demi membebaskan orang tuanya dari utang-utang yang melilit.

Ama Tris saat memeragakan cara menyadap nira.

Legenda mengisahkan, konon pernah hidup sepasang suami-istri yang sangat papa. Namanya Jibon dan Peteri Renggino. Mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Putri Itam. Ketika sang putri sudah baligh, tujuh orang pemuda datang untuk mempersuntingnya. Ironisnya, semua pinangan itu diterima oleh orang tua Putri Itam dengan harapan bisa membebaskan mereka dari jerat utang.  

Pada hari yang telah ditentukan, ketujuh pemuda itu pun datang untuk menjemput Putri Itam. Namun, tak mungkin Putri Itam dinikahi oleh semua pemuda itu. Putri Itam pun minta izin kepada orang tuanya untuk mengorbankan diri. Ia memohon kepada Tuhan agar dirinya bisa menjadi pohon yang bermanfaat bagi ayah ibunya. Tak lama setelah itu, Putri Itam pun berubah menjadi sebatang pohon yang kini dikenal sebagai pohon aren atau enau (Arenga pinnata). Dari batang hingga daun pohon aren diyakini sebagai representasi dari anggota tubuh Putri Itam.

“Ijuk yang ada pada pohon aren adalah perwujudan rambut Putri Itam yang hitam dan panjang,” kata Ama Tris.

Karena keyakinan tersebutlah, pohon-pohon aren yang disadap untuk diambil niranya harus diperlakukan dengan baik. Mesti “disayang-sayang” dulu dengan jangen yang menyentuh hati. Jadi, tak sembarang dieksploitasi. Dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Untuk penyadapan, biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari.

“Seumpama orang tua yang menyayangi dan memperlakukan anaknya dengan baik, begitulah selayaknya perlakuan kita kepada pohon aren ini,” kata Ama Tris lagi.

Ama Tris adalah panggilan bagi pemilik nama Muhammad Syam (57). Ia kini menjabat sebagai Mukim Samar Kilang. Mantan kepala Desa Kerlang. Ama Tris—yang menyandang nama anak pertamanya, Tris—adalah mantan penyadap nira di Samar Kilang sehingga ia tahu banyak soal cerita rakyat tersebut. Menurutnya, prosesi yang dilakukan itu bukan sesuatu yang direka-reka sendiri, melainkan ada dasarnya.

“Ada sejarahnya, tidak banyak yang tahu ini,” katanya lagi.

Pukulan-pukulan pada pangkal tandan itu dimaksudkan untuk merangsang supaya nira yang keluar bisa lebih banyak. Warga Samar juga memiliki keyakinan bahwa jika dimanfaatkan dengan baik, pohon aren sangat berpotensi secara ekonomi. Jika orang tersebut memiliki utang, dengan izin Allah akan terlunasi utangnya. Hal ini sesuai dengan “hajat” Putri Itam saat mengorbankan dirinya. Selain, aren memang memiliki banyak manfaat, tak hanya nira dan kolang-kaling, ijuk dan lidi aren juga bisa dijadikan komoditas.

Umbi janeng.

Tak hanya tentang aren, masyarakat Samar juga memiliki cerita rakyat tentang janeng yang konon adalah jelmaan dari setumpuk nasi yang ditaruh di dekat pohon.

“Lama-lama nasi itu tumbuh,” kata Ama Tris.

Karena itulah pohon janeng “memerlukan” pohon atau kayu sebagai jalaran. Masyarakat Samar Kilang juga pernah menjadikan janeng sebagai sumber pokok pengganti nasi saat paceklik. Cerita ini mirip dengan dongeng yang mengatakan bahwa kura-kura berasal dari “setumpuk daging” yang disimpan di bawah cobek batu.

Kini, setelah Katahati Institute hadir di Samar Kilang, aren dan janeng di sana telah diolah menjadi berbagai produk turunan yang bernilai ekonomi.

Namun, mengolah janeng memang memiliki tantangan tersendiri sebab umbi pohon tersebut mengandung zat sianida yang beracun. Ama Tris juga memiliki pengetahuan untuk membedakan mana umbi yang beracun atau tidak.

Totemisme dan Alat Pelestarian Lingkungan

Dari kiri ke kanan: Nek Sila (Isnaini), Mak Iwan (Saedah), Mak Jamur (Rauyah), dan Mak Pira. Perempuan Samar Kilang berperan besar dalam melakukan praktik-praktik pelestarian lingkungan melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

Praktisi pembangunan Aceh, Bulman Satar, S.Sos., yang juga fokus pada isu-isu antropologi budaya mengatakan, keyakinan warga Samar Kilang yang percaya bahwa aren merupakan jelmaan manusia adalah bentuk lain dari praktik-praktik totemisme. Yakni sistem kepercayaan yang mengaitkan satu individu atau kelompok dengan entitas alami, seperti hewan atau tumbuhan sebagai simbol leluhur atau kekuatan spiritual.

“Totemisme semacam keyakinan yang mengasosiasikan manusia dengan alam. Dalam praktiknya, totemisme bisa menjadi ‘alat’ untuk pemuliaan dan menjadikan tanaman sebagai sesuatu yang sakral. Secara tidak langsung juga dapat menjadi alat dalam melestarikan lingkungan,” kata Bulman, Jumat, 1 Agustus 2025.

Keyakinan serupa juga ditemukan di banyak tempat, khususnya di daerah-daerah yang masyarakatnya sangat bergantung dari hasil hutan. Di Aceh Besar misalnya, juga terdapat keyakinan serupa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh dosen ISBI Aceh, Achmad Zaki, M.A., asal usul pohon aren juga diyakini berasal dari jelmaan seorang putri dari keluarga miskin yang terlilit utang. Namanya Putri Seuno.

“Putri Seuno juga ingin menjadi pohon yang bermanfaat untuk melunasi utang orang tuanya,” kata Achmad Zaki, Minggu, 3 Agustus 2025.

Proses penyadapan nira juga diawali dengan selawat dan dibacakan rapalan senandung, yang di antaranya berbunyi:

ng hai kuneng,

kaek keunoe kupeumeuen

Ie lam plupeuk kapeuk keuno

Ie lam alue kahue keunoe

Ie lam laot kaboet keuno

Ie lam pucok kajoek keuno

Ie lam bak kasinthak keunoe

Ie lam abeuk kapeuk keuno

“Inti dari senandung tersebut adalah si penyadap menyebutkan segala sumber air, mulai air dari pelepah, dari parit, laut, rawa, untuk naik dan berkumpul di tandan yang akan disadap. Tujuannya adalah untuk membuat tandan nira itu maksimal dalam menghasilkan air. Hal ini merupakan gambaran tradisi lisan merupakan produk masyarakat yang memiliki perannya tersendiri,” katanya.

Lebih lanjut kata Zaki, muatan kearifan lokal yang kaya akan praktik dan pengetahuan tradisional ini berpotensi sebagai sumber ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif yang berbasis pada budaya mendatangkan keuntungan ganda bagi masyarakat. Pertama, menjadikan kekayaan budaya sebagai modal ekonomi dan sosial. Kedua, kelestarian budaya dapat terjaga. Dalam hal ini, masyarakat bukan sebagai objek, melainkan menjadi subjek.

Konsep tersebut menurutnya dapat dikembangkan melalui praktik-praktik ekowisata yang mengedepankan konservasi lingkungan, pendidikan lingkungan, kesejahteraan penduduk lokal, dan menghargai budaya lokal.

“Dalam kaitannya dengan tradisi penyadapan nira ini, baik di Samar Kilang atau di Aceh Besar, ada beberapa hal yang potensial, misalnya pertunjukan syair-syair itu sendiri, proses penyadapannya, dan pengetahuan masyarakat tentang simbol-simbol ketika penyadapain, termasuk produk turunan yang dihasilkan dari nira.”

Apa yang disampaikan Bulman dan Zaki, secara tak langsung memang menjadi misi hadirnya Katahati Institute di Samar Kilang, Mereka menggali berbagai cerita dan nilai-nilai kearifan lokal yang menguatkan narasi tentang keistimewaan janeng dan aren bagi warga Samar atau masyarakat Gayo pada umumnya. Katahati mendampingi dan mengedukasi para ibu ‘ine’ sehingga janeng dan aren Samar Kilang kini bisa hadir sebagai produk yang berkualitas dan bernilai ekonomi. Katahati juga membangun Rumah Pengetahuan HHBK “Umah Uteuen” sebagai pusat aktivitas kelompok dampingan. [bersambung]

Perempuan Melawan Perubahan Iklim

1

“Silakan dicicipi,” kata perempuan muda yang menjaga salah satu stan. Ia menunjuk pada kue yang sepintas bentukannya mirip jambu air. Hanya saja warnanya putih. Irisan daun pandan di bagian atas kue tak ubahnya tangkai pada buah jambu. Kue itu ditaruh dalam wadah-wadah kecil yang terbuat dari ôn keurusông alias daun pisang tua yang sudah kering. Ditata di atas “pinggan” daun pisang segar yang sudah dilayu di atas api.

“Ada dijual?” tanya saya.

“Ada. Lima ribu satu plok.”

Nama kue itu geuleupak. Ada juga yang menyebutnya jeuleupak. Kue ini hanya terbuat dari bahan dasar sederhana, yaitu tepung (ketan/beras), gelapa parut, gula (atau gula merah), dan garam. Dari segi rasa, rasa geuleupak tergolong standar di lidah. Dominannya rasa tepung mentah dengan sedikit rasa lemak dan manis dari kelapa segar dan gula, juga rasa gurih dari tambahan garam. Yang menarik dari geuleupak—menurut saya—justru pada cara membuatnya. Terselip semangat kebersamaan dan gotong royong yang kental di kalangan perempuan.

Sekadar kilas balik ke masa lalu, sebelum tepung-tepung kemasan menjamur dan mudah ditemukan seperti sekarang ini, perempuan Aceh umumnya memproduksi tepung sendiri. Tepung-tepung yang berasal dari beras itu ditumbuk dengan jeungki ‘alat penumpuk padi tradisional’ yang murni mengandalkan kekuatan kaki untuk menggenjot tuasnya. Di musim-musim tertentu, seperti menjelang puasa atau Idulfitri dan Iduladha, aktivitas menumbuk tepung semakin intens. Tepung-tepung itu nantinya disimpan sebagai bahan untuk membuat kue-kue sebagai hidangan selama bulan puasa ataupun untuk hari raya.

Tidak semua orang memiliki jeungki di rumahnya. Selain, menumbuk tepung juga tidak bisa dilakukan seorang diri. Minimal harus dua orang. Satu orang sebagai penggenjot tuas, satu lagi duduk di ulee jeungki atau di dekat lesung. Tangan orang yang duduk di ulee jeungki ini berfungsi sebagai “spatula” agar tepung tidak berserakan. Karena itulah, ibu-ibu dulu sering menumbuk tepung bersama-sama dengan tetangga atau kerabatnya.

Kegiatan ini juga menjadi ruang bersosialisasi bagi perempuan; sekaligus ruang untuk saling tukar informasi. Tak jarang para tetangga hadir hanya untuk menonton temannya menumbuk tepung sambil bercengkerama tentang apa saja.

Di akhir prosesi menumbuk itu, biasanya akan disisakan sedikit tepung untuk dijadikan kudapan. Tepung yang masih basah itu pun diberi tambahan kelapa parut, garam, dan gula. Kemudian ditumbuk lagi sampai semuanya merata. Baru setelah itu dikepal-kepal sesuai selera. Kepalan itulah yang disebut dengan geuleupak.

Suasana bazaar

Keberadaan geuleupak dalam bazaar Kampanye We Can “Kita Bisa Menanggulangi Perubahan Iklim” di pekarangan Kantor Camat Lhoknga pada Senin, 28 Juli 2025, sukses menghadirkan nostalgia saat saya menumbuk tepung bersama almarhumah nenek buyut saya—yang diakhiri dengan membuat dan menikmati camilan geuleupak. Kampanye tersebut dilaksanakan oleh Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) Aceh yang menggandeng TP PKK Kecamatan Lhoknga sebagai tuan rumah.

Selain geuleupak, saya juga mencicipi ie bu peudah ‘bubur pedas’. Bubur ini hampir tak pernah ditemukan di bulan-bulan selain Ramadan. Saya pun beranjak dari satu stan ke stan lain. Menengok satu produk ke produk lain. Ada bhoi (bolu kering khas Aceh), boh rom-rom (buah melaka), payeh ôn mulieng (sayur khas Aceh Besar dari daun melinjo), sie reuboh (daging rebus cuka), dan banyak lagi.

Tak hanya sensasi rasa yang saya dapatkan di arena bazaar, tetapi juga sensasi suasana seperti di pasar rakyat. Para ibu berjualan di gang-gang pasar yang sempit. Para pengunjung berlalu-lalang saling bertabrakan bahu saking sesaknya. Dengan ramah mereka menyapa setiap pengunjung yang mampir ke stan. “Piyôh ‘singgah’.” “Silakan dicicipi.” “Silakan dibeli.”

Suasana bazaar semakin riuh dan hidup berkat kepiawaian Agus Agandi melakoni perannya sebagai MC. Kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulutnya malah membuat saya teringat pada penjual obat keliling yang dulu sering kita tengok di pasar-pasar tradisional. Salah seorang pengunjung dengan raut wajah takjub bertanya, “Siapa MC-nya?”

Staf Program-Kampanye YKPI Aceh, Desy Setiawaty, mengatakan, kampanye tersebut memang dirancang secara dua arah. YKPI hadir untuk memberi edukasi tentang pentignya keterlibatan perempuan dalam kampanye penanggulangan dampak perubahan iklim. Sedangkan dari kelompok masyarakat berpartisipasi dengan memamerkan dan menjual berbagai produk UMKM mereka. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan manfaat ekonomi.

“Kami ingin, melalui bazaar ini kampanye atau ajakan menjaga lingkungan sebagai upaya memitigasi dampak perubahan iklim bisa sejalan dengan gerakan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Desy.”

Salah seorang anggota PKK menandatangani komitmen penanggulangan perubahan iklim.

Melalui bazaar ini pula, YKPI ingin menunjukkan bahwa upaya-upaya memitigasi dampak perubahan iklim tak semengerikan yang ada dalam benak segelintir orang. Tidak melulu membutuhkan usaha super atau teknologi canggih yang tak terjangkau oleh masyarakat biasa. Dalam praktiknya, memungkinkan dilakukan oleh setiap individu dengan cara-cara yang sederhana dan murah.

Misalnya, kata Desy, penggunaan kemasan-kemasan yang ramah lingkungan. Seperti yang ada di stan-stan tersebut, air tebu dan air nira dihidangkan dalam “tumbler” dari bambu; bubur pedas dalam wadah batok kelapa muda; sayur rebus dalam wadah “mangkok” daun pisang; hingga telur asin yang dibungkus dengan ôn keureusông; sie reuboh dalam wadah tembikar; dan aneka umbi-umbian menggoda selera di atas nyiru berbahan batang bemban (bak bili).

“Semuanya alami dan bahan-bahan itu mudah terurai, juga tersedia di sekitar kita,” kata Desy.

Ajakan Tobat Ekologis

Proses transaksi dalam bazaar yang saling menguntungkan.

Inisiatif-inisiatif seperti di atas yang disebut oleh Ketua YKPI Aceh, Ruwaida, sebagai upaya melakukan “tobat ekologis”. Meski kecil, tetapi dampaknya bisa besar jika dilakukan secara berjemaah atau massal. Karena itu pula, selain bazaar, kampanye itu juga diisi dengan talkshow yang menghadirkan tiga perempuan pionir di Kecamatan Lhoknga: Siti Fatimah (TP PKK Gampong Weu Raya), Nurhayati (tokoh perempuan dan adat Gampong Nusa), dan Yusriati (Ketua TP PKK Kecamatan Lhoknga). Talkshow dengan tema yang sama ini hadir sebagai ruang edukasi sebaya atau peer education dari, oleh, dan untuk mereka sendiri.  

Dalam kesempatan saat membuka talkshow tersebut, Ruwaida mengajak semua pihak untuk melakukan tobat ekologis. Istilah tersebut akhir-akhir ini memang semakin berdengung seiring semakin nyatanya dampak perubahan iklim yang terjadi akibat terperangkapnya panas matahari di atmosfer akibat emisi gas rumah kaca. Musim kemarau cenderung menjadi lebih panjang dan curah hujan yang sangat tinggi di luar siklus musim.

“Melalui pendidikan, inovasi, dan kepatuhan terhadap komitmen iklim, seyogianya kita dapat membuat perubahan yang diperlukan untuk melindungi planet Bumi,” kata Ruwaida.

Suhu panas ekstrem yang melanda Aceh misalnya, mencapai angka 36,1 derajat celcius. Bahkan, Bank Sentral Eropa memprediksikan, suhu ekstrem dapat memicu terjadinya inflasi pada berbagai komoditas sebesar 0,5—1,2 persen pada tahun 2035.

Karena itulah kata Ruwaida, kesadaran saja tak cukup. Harus ada action yang nyata. Perubahan perilaku harus terus dilakukan. Semua orang harus mengambil peran, termasuk kelompok-kelompok perempuan yang menjadi perekat di masyarakat seperti halnya organisasi PKK.

Bukan Mitos Belaka

Aneka produk berbahan rotan

Mengenai dampak perubahan iklim, memang bukan lagi omong kosong belakang. Cerita tentang itu tak bisa dianggap sebagai mitos untuk “menakut-nakuti” agar orang tak zalim pada alam. Siti Fatimah telah merasakan sendiri bagaimana dampaknya.

Saat kemarau panjang melanda Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, pada pertengahan tahun 2024 lalu, ibu-ibu atau perempuan sangat jera. Kekurangan air untuk memasak, tak ada air untuk mencuci pakaian, bahkan air yang digunakan untuk menceboki anak-anak pun harus dihemat-hemat. Bantuan air bersih pun didatangkan untuk masyarakat Lhoknga. Pusatnya di tempat yang sama di tempat berlangsunya kampanye hari itu.

Beranjak dari pengalaman itu, Siti pun menggalang aksi perubahan dengan mengajak warga. Inisiasi itu gayung bersambut dengan kehadiran YKPI di Kecamatan Lhoknga untuk memberikan penguatan kelompok, terutama perempuan. Hasilnya?

“Desa kami kini punya Satgas Penanggulangan Bencana,” kata Siti bangga saat tampil dalam talkshow.

Adapun Nurhayati, yang telah lebih dulu melakukan gerakan perubahan di desanya, Nusa, kini mulai “memanen” hasil. Nusa sering menjadi tujuan wisatawan lokal yang ingin membuang penat di akhir pekan sekadar untuk mejeng di jembatan kayu yang ikonik. Perubahan di Nusa terjadi berkat tangan dingin perempuan-perempuan hebat. Salah satu pionirnya adalah Nurhayati.

Ia mulai mengampanyekan budaya bersih dan lestari di desanya sejak dua dekade silam. Ia membentuk bank sampah dan kini telah terbentuk juga pelopor sampah. Nusa kini menjadi desa wisata yang kesohor se-Nusantara. Tamu-tamu yang bertandang ke Nusa dan mendapat jamuan dari warga setempat, jangan harap menemukan air minum kemasan. Kalau mereka menginap di homestay yang ada di Nusa, pengademnya juga hanya pakai kipas angin.  

Yang menakjubkan dari cerita Nurhayati, konsistensi mereka dalam merawat alam Nusa telah mendatangkan manfaat ekonomi bagi warga setempat.

Perempuan Aceh telah terbukti tangguh dalam berbagai situasi. Perjuangan itu sendiri sejatinya tak pernah selesai, kini saatnya mereka melawan perubahan iklim. Seperti halnya kebersamaan yang dibutuhkan untuk menghadirkan sekepal geuleupak, berjuang melawan perubahan iklim juga tak bisa sendiri.[]

Saatnya Mengawal Perencanaan dan Kebijakan Perlindungan Perempuan dan Anak di Aceh

0

MINIMNYA dukungan anggaran untuk Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh (DPPPA) berdampak pada tidak optimalnya program-program yang dijalankan untuk isu-isu terkait perlindungan perempuan dan anak di Aceh.

Anggaran yang minim, menyebabkan DPPPA selama ini hanya bisa fokus pada program-program yang sifatnya penanganan kasus. Sedangkan program-program yang sifatnya pencegahan atau preventif belum bisa dioptimalkan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin masa depan perempuan dan anak di Aceh akan menjadi semakin suram dengan berbagai ancaman kekerasan yang mereka hadapi.

Mengingat, kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak di Aceh cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Modus-modus kekerasan dan kejahatan yang dilakukan terhadap perempuan dan anak juga semakin bervariasi.

Kekhawatiran tersebut mengemuka dalam focus group discussion yang dilaksanakan oleh Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) di hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh, Senin, 16 Juni 2025. FGD ini diikuti oleh lebih 20 peserta yang berasal dari perwakilan SKPA terkait, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan jurnalis. Hadir juga anggota Komisi V DPRA.

Koordinator MaTA, Alfian, menyampaikan bahwa FGD ini, di antaranya, bertujuan untuk merumuskan strategi yang efektif dan berkelanjutan dalam mengadvokasi isu-isu perlindungan perempuan dan anak di Aceh agar masuk dalam berbagai dokumen perencanaan daerah. Dokumen-dokumen tersebut, seperti rencana pembangunan jangka menengah (RPJM), rencana strategis (renstra), atau rencana kerja (renja).

“Sebagai langkah awal, MaTA telah menyusun laporan background study dan policy brief. Dokumen tersebut sudah kami serahkan kepada Bappeda dan juga DPRA pada bulan Mei lalu. Penyusunan dokumen ini telah dimulai sejak enam lalu, kami melakukan kajian dan penguatan data dari berbagai unsur masyarakat di enam kabupaten/kota di Aceh,” kata Alfian.

Selanjutnya, yang paling penting adalah mengawal agar apa yang telah dirumuskan dalam background study dan policy brief berjudul
“Mendorong Transformasi Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan GEDSI untuk Pembangunan Berkeadilan” bisa masuk dalam RPJM yang rancangan awalnya per hari ini sudah diserahkan ke legislatif untuk tahapan selanjutnya.

“Oleh karena itu, FGD ini menjadi penting untuk kita berkoordinasi agar setiap elemen ini mengawal sesuai kapasitas masing-masing. Yang perlu kita garisbawahi bahwa isu ini adalah tanggung jawab semua orang, tidak bisa dipikul oleh DPPPA sendiri,” kata Alfian.

Secara rinci, background study tersebut berisikan 23 rekomendasi yang berkaitan dengan pencegahan, penanganan kasus, hingga rehabilitasi bagi korban kekerasan. Rekomendasi ini perlu diintegrasikan ke berbagai dokumen perencanaan pembangunan, khususnya dalam RPJMA 2025–2029 dan Rencana Strategis DPPPA.

Sementara itu, anggota Komisi V DPRA, Syarifah Nurul Carissa, menyatakan komitmennya dalam memperjuangkan isu-isu perlindungan perempuan dan anak di legislatif. Komisi V yang membidangi isu kesehatan, sosial, dan kesejahteraan saat ini memiliki tiga anggota legislatif perempuan. Dua lainnya, yaitu Martini dan Diana Putri Amelia. Komposisi ini menurutnya menjadi satu kekuatan tersendiri di parlemen.

Di antara upaya yang dilakukan pihaknya adalah bertemu dengan Deputi BPJS di Medan untuk membicarakan agar BPJS juga dapat menanggung biaya berobat bagi korban kekerasan dalam rumah tangga.

“Namun, kebijakan BPJS ternyata memang tidak bisa menanggung untuk KDRT. DPRA juga mencari solusi lain seperti berkoordinasi dengan baitul mal,” kata Syarifah.

Ia juga menyampaikan beberapa informasi terbaru terkait Raqan Perlindungan Perempuan dan Raqan Perlindungan Anak.

Untuk Raqan Perlindungan Perempuan sudah difasilitasi ke Kementerian Dalam Negri dan tinggal menunggu nomor untuk pengesahan menjadi qanun.

Adapun Raqan Perlindungan Anak masih perlu ditinjau ulang dan kemungkinan baru bisa masuk ke program legislasi tahun 2026.

“Kehadiran Qanun Perlindungan perempuan nantinya bisa menjawab sejumlah persoalan yang dirasakan oleh perempuan selama ini,” katanya.

Adapun perwakilan dari DPPPA, Isna, menyampaikan informasi terkini terkait perubahan nomenklatur dan penambahan bidang di DPPPA. Bidang-bidang tersebut meliputi Bidang Perlindungan Perempuan, Bidang Perlindungan Khusus Anak, dan Bidang Perencanaan Pengendalian Penduduk. Dengan perubahan ini diharapkan upaya-upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak bisa lebih terfokus.

Selain itu, beragam respons dan saran kritis juga disampaikan oleh tiap-tiap peserta.[]



Balai Syura Dorong Tanggung Jawab Sosial untuk Pencegahan Kekerasan Seksual

Banda Aceh—Untuk mendorong kesadaran bersama tentang bahaya kekerasan seksual yang meningkat, Balai Syura Ureung Inong Aceh mengadakan Kajian Duha dengan tema “Tanggung Jawab Sosial Islam terkait Pencegahan Kekerasan Seksual di Aceh.” Kajian ini berlangsung di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, dan dihadiri oleh berbagai perwakilan lembaga perempuan Aceh, Jumat, 7 Maret 2025.

Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan Hari Perempuan Internasional (IWD) 2025 dan bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai implementasi nilai-nilai Islam dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di masyarakat.

Selain itu, juga membahas optimalisasi peran aktif masyarakat, khususnya perempuan Aceh, dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan.

Kajian ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Rasyidah, M.Ag. selaku Ketua Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh dan Masithah dari Fatayat NU Aceh.

Rasyidah mengatakan, kepedulian terhadap pencegahan dan penanganan kekerasan seksual merupakan kewajiban setiap individu. Pencegahan ini tidak cukup dengan doa, tetapi diperlukan aksi nyata.

“Dalam Islam, aksi nyata ini merupakan dakwah amar makruf nahi mungkar dan melaksanakannya menjadi jalan untuk mendapatkan predikat sebagai orang yang beruntung. Namun, di antara kita masih banyak yang lebih memilih diam dan abai daripada peduli dengan aksi nyata,” tegas Rasyidah.

Sebagai refleksi bersama, perlu dibangun kembali sistem pengawasan komunal terhadap anak-anak di masyarakat. Pada masa-masa sebelumnya, setiap individu merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan menegur anak-anak yang tidak berada di sekolah atau berperilaku menyimpang. Di Aceh konsep ini dikenal dengan istilah “pageu gampong” atau pagar kampung, yakni setiap anak dianggap sebagai bagian dari komunitas.

Ungkapan “anakmu, anakku, anak kita semua” menjadi hal yang lumrah di masa lalu. Namun, saat ini kepedulian sosial seperti ini kian menurun, seiring melemahnya fungsi sosial tokoh mayarakat.

“Situasi ini berkontribusi pada meningkatnya perilaku negatif di kalangan anak-anak, termasuk kekerasan seksual,” kata Rasyidah.

Senada dengan itu, Masithah menambahkan tentang pentingnya pengawasan orang tua terhadap akses pada teknologi digital oleh generasi muda, agar aktivitas di media sosial tetap positif. Di era ini, anak-anak dan remaja memiliki akses tak terbatas ke berbagai informasi dan konten melalui internet.

“Kecanggihan teknologi, jika tidak diimbangi pengawasan dan bimbingan yang tepat, dapat berdampak negatif, termasuk paparan konten pornografi, pelecehan seksual (cyber harassment), dan berbagai bentuk eksploitasi seksual lainnya.”

Para peserta kajian sepakat bahwa orang tua perlu meningkatkan literasi digital agar dapat memahami cara kerja teknologi dan melindungi anak-anak dari potensi bahaya di dunia maya.

Selain itu, fakta bahwa pelaku kekerasan seksual sering kali adalah orang yang dikenal korban, bahkan memiliki hubungan dekat seperti ayah, teman, atau keluarga menjadi keresahan besar. Hal ini menjadi tantangan serius dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual.

Masyarakat perlu lebih peka terhadap tanda-tanda potensi kekerasan seksual, terutama di lingkungan keluarga atau orang terdekat.

Korban sering kali takut atau malu melaporkan kejadian yang dialami, terutama jika pelaku memiliki otoritas. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang aman dan suportif sangat penting agar korban berani berbicara dan mencari bantuan.

Faizah dari Balai Syura Kota Banda Aceh turut berbagi pengalamannya tentang aksi nyata untuk penanganan kekerasan seksual. Menurutnya, sangat penting berstrategi dalam menjalankan aksi nyata ini. Sebagai tuha peut perempuan, Faizah menerima beberapa laporan kasus KS, dan jalur penangan yang diupayakannya melalui silent movement. Ini menjadi lebih aman menurutnya.

Efek jera bagi pelaku juga bagian yang hangat dalam Kajian Duha Balai Syura ini.

Salah satu peserta, Nur, dari pengajian komunitas Lam Duro menyampaikan kegelisahannya terkait efek jera yang kurang berefek untuk menjerakan pelaku. Cambuk, bahkan penjara masih sangat ringan menurutnya. Mestinya kata Nur bisa lebih berat lagi.

Peran perempuan Aceh saat ini sangat dibutuhkan dalam mencegah kasus kekerasan seksual. Selain itu, pengajian-pengajian perlu diaktifkan kembali sebagai wadah edukasi dan diskusi. Bersamaan dengan itu, organisasi terkait juga harus lebih aktif berkontribusi dalam upaya pencegahan dan penanganan kasus secara lebih strategis.[]

Editor: Ihan Nurdin

Pulang Kampung

Oleh Amrina Habibi*

Dengan ucapan bismillah, sepanjang perjalanan pulang saya menetapkan tujuan ingin menuliskan sebahagian kenangan indah di tanah tempat saya dilahirkan, yaitu Gampong Namploh Blang Garang. Secara administrasi pemerintahan, saya menemukan informasi bahwa Gampong Namploh Blang Garang memiliki kode Kemendagri 11.11.01.2007. Kode ini menunjukkan bahwa gampong saya telah memiliki status administrasi pemerintahan yang jelas.

Gampong saya terletak di Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, dan berbatasan dengan beberapa desa lain, yaitu Gampong Kandang, Namploh Krueng, Gampong Putoh, dan Gampong Namploh Baro. Luas wilayahnya sekitar 1.234 km2 dengan jumlah penduduk berkisar 341 jiwa. Berulang kali ayah saya mengatakan, bahwa banyak janda di gampong kami dan sekaligus berperan sebagai kepala keluarga.

Pemberian nama dusun menggunakan nama tokoh yang memiliki karakteristik istimewa, bahkan salah satunya menjadi situs bersejarah dan dipercaya oleh banyak orang sebagai tempat keramat. Alhasil, setiap hari Senin dan Kamis ada orang yang datang ke kampung kami untuk peuglah kaoy atau melepaskan nazar. Mereka membawa ketan, ayam, bebek, kambing, bahkan sapi untuk dimasak di lokasi tersebut. Banyak juga yang datang dari jauh, bahkan beberapa seingat saya berasal dari Peureulak, Aceh Timur.

Semoga niat peuglah kaoy ini tidak melenceng dari aturan Allah. Peuglah kaoy ini juga memberi dampak ekonomi kepada masyarakat setempat dan juga memiliki dampak sosial lainnya karena warga dapat merasakan nikmatnya kuah kari kambing atau lembu yang juga dibagikan kepada masyarakat. Istilahnya yak theun kuah bak kubu.

Sedangkan dua dusun lagi, yaitu Dusun Tgk Tanoh Abee dan Dusun Tgk Di Pantee jug memiliki cerita dan sejarah luar biasa karena kedua tokoh tersebut adalah orang dengan pengetahuan yang baik dan suri teladan bagi masyarakat.

Mata Kehidupan
Orang-orang di kampung saya memiliki profesi yang beragam. Ada yang berjualan, bertani, bergerak di sektor layanan jasa, dan juga menjadi pegawai pemerintah. Banyak juga yang merantau dan punya cerita sukses kendati ada juga yang sedih, juga ada yang bekerja sebagai buruh kasar. Maka, sangat wajar jika kemudian setiap saat muncul rasa rindu dalam diri saya untuk pulang kampung karena akan bertemu orang tua, sanak saudara, dan sahabat-sahabat baik. Kerinduan itu bertambah sempurna saat membayangkan bisa menyusuri lorong lorong atau jurong-jurong kecil yang tentunya penuh dengan kenangan manis.

Aneka juadah dan makanan tradisional yang dijual seperti bu guri, seupet, keukarah, hingga boh usen sudah berganti tangan peraciknya karena para miwa dan nyakwa yang dulu gesit sudah pada sepuh, bahkan beberapa sudah kembali ke akhirat.

Pada kepulangan kali ini di pertengahan Februari 2025, pagi-pagi sekali saya menyusuri satu lorong yang sebahagian jalannya sudah diaspal. Terlihatlah ada buhom (kompleks kuburan) salah satu keluarga tokoh di kampung kami yang di dalamnya penuh dengan tanaman cabai dan timun suri. Ini pasti dipersiapkan untuk Ramadan dan ternyata sudah mulai panen kecil. Rezeki saya bisa menikmati timun suri segar di pagi itu. Ada empat buah yang sudah tua dan bisa dipanen. Timun suri itu pun langsung dipetik dan berpindah ke tangah saya. Sebagai gantinya, saya menyodorkan uang Rp50 ribu. Begitu sampai di rumah, saya pecahkan es batu dan mencemplungkan ke dalam daging timun yang sudah dibersihkan, juga sedikit gula pasir. Rasanya nikmat luar biasa.

Perempuan Tangguh dan Berkarya

Selepas dari kebun timun suri, saya bertandang ke sebuah rumah dan terdengar aktivitas di dapur yang cukup ramai. Ternyata, ibu-ibu di dapur sedang mempersiapkan pesanan nasi goreng untuk acara penutupan pengajian TPA yang akan ditutup sementara untuk menghadapi Ramadan. Ibu yang punya rumah langsung keluar dengan sambutan yang sangat hangat. Itu salah satu ciri khas orang kampung, adat peumulia jamee sangat dijaga dan kemudian disusul oleh anak perempuannya yang notabene merupakan pemilik pohon anggur dan aneka tanaman lainnya seperti strobery dan bayam brazil yang tumbuh menghijau dan sangat subur.

Dari mulutnya yang munggil keluarlah cerita bagaimana anggur bisa berbuah lebat dengan aneka jenis. Ia bercerita bahwa tanaman anggur membutuhkan perawatan yang bagus. Harus konsisten merawatnya. Perlakuan ini sama juga dengan perjalanan sebuah rumah tangga, butuh dirawat dan diberi “pupuk”, serta perlu dipangkas atau dibuang cabang-cabang yang tidak diperlukan.

Ketika saya tanya apa motivasinya menanam, ibu muda ini menjawab selain karena hobi dan menjadi saluran yang menyenangkan untuk membuat hari-harinya menjadi lebih bahagia. Plusnya ada rupiah yang dapat diperoleh untuk mengisi dompet dan ikut mendukung keuangan rumah tangga.

Ayo, ibu-ibu dan mamak-mamak di mana pun berada, mari kita penuhi lahan perkarangan kita dengan tanaman yang bernilai. Karena selain kita dapat nilai (value), juga bisa meningkatkan posisi tawar kita (bargaining) dalam rumah tangga karena ada unsur kemandirian. Tentunya, alam pun menjadi lebih hijau dan sehat.

Kalau ekonomi kita sehat, rumah tangga menjadi lebih tangguh. Sebuah pembelajaran luar biasa, bukan?

Secara otomatis pula, melalui kegiatan berkebun di rumah, ibu-ibu sudah mendukung program kerja pemerintah terutama 10 program pokok PKK yang ketiga, yaitu pangan. Dalam hal pangan, PKK menggalakkan penyuluhan untuk pemanfaatan pekarangan, antara lain, dengan menanam tanaman yang bermanfaat, seperti sayuran, umbi-umbian, buah-buahan, dan bumbu-bumbuan. Bahkan juga dianjurkan memelihara unggas dan ikan serta cara pemeliharaannya di lahan pekarangan mereka sendiri. Hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga. Selebihnya dapat dijual untuk menambah pendapatan keluarga dan meningkatkan penganekaragaman pangan lokal.

Berbicara soal pangan lokal tentu lebih sehat, lebih murah, dan terjamin kualitasnya. Hanya saja, ketika disajikan atau diolah butuh sedikit kreativitas karena generasi sekarang, yakni Gen-Z atau Gen Alpha tentu beda dengan generasi terdahulu para Baby Boomer. Generasi muda sekarang punya kecenderungan mengonsumsi makanan yang tentu berbeda seleranya dengan generasi-generasi sebelumnya. Umumnya suka yang instan dan terkadang mengabaikan kualitas gizi makanan yang dikonsumsi tersebut. Hal ini menjadi tantangan dan PR bagi para orang tua agar pangan lokal dapat diolah dan disajikan secara menarik. Juga, perlu membangun kebiasaan positif dalam mengonsumsi makanan agar real food lebih disukai ketimbang junk food.

Sehat Itu Mahal
Seseorang bisa sehat tentu dipengaruhi oleh banyak faktor. Beberapa orang yang saya jumpai di kampung terlihat masih bugar kendati usianya lebih tua dari saya. Menurut mereka, makan secukupnya, tetapi tetap berimbang adalah kuncinya. Artinya, dalam setiap makanan yang dikonsumsi ada karbohidrat, protein, dan sayur rebus sudah cukup. Sedangkan untuk asupan buah pada umumnya mereka makan pisang atau buah pepaya. Seringnya, buah pepaya atau boh peutek ini juga melengkapi manisnya kuah reuboh yang menjadi konsumsi hari-hari para miwa atau nyakwa.

Orang tua di kampung, terutama di era nenek saya dan juga secara umum berlaku sampai sekarang, mendapat asupan vitamin D berupa sinar matahari yang cukup. Mereka mendapatkan vitamin D saat beraktivitas di sawah, kebun, atau di pekarangan rumah. Hingga usia senja chik (nenek) saya memiliki pola hidup yang sangat teratur, termasuk kebutuhan berjemur dibarengi culek bak naleung atau mencabut rumput dengan menggunakan pisau. Masyaallah, orang kampung hidup dengan keberterimaan diri sepenuhnya bahwa apa pun yang dijalani adalah bagian dari ketentuan Allah. Mereka bangun lebih cepat dan juga tidur lebih cepat. Namun, tampaknya budaya itu sekarang sudah bergeser. Di rumah-rumah tampak belum ada aktivitas kendatipun matahari sudah mulai tinggi. Mungkin karena sang empunya tidur terlalu larut sehingga kesulitan beraktivitas di pagi hari.

Gampong Sudah Berubah
Suasana gampong semasa saya kecil jauh lebih asri dan hijau. Datangnya banjir yang hampir setiap tahun justru membuat tanah tanah menjadi lebih subur. Hingga awal tahun ’90-an, kampung saya masih banyak pohon durian, termasuk di kebun tanjong milik keluarga kami. Jika cerita enak dan puasnya makan durian, masa-masa itu sudah pernah saya lewati. Ada jenis boh drien mee, kecil buahnya tapi rasanya legit. Ada jenis durian berbuah besar, yang dalam satu batang mungkin hanya ada beberapa buah saja, tapi kalau jatuh suaranya seperti bom meletus saking kerasnya suara gedebum. Suaranya sampai ke rumah kami yang berselang beberapa jauh dari Tanjong.

Ada aneka ragam jenis durian lainnya yang memang sungguh nikmat dan memang buah surga ini bikin ter-hawa-hawa atau kepingin. Semua itu tinggal kenangan. Kebun Tanjong saat ini telah bersalin rupa menjadi pusat peradaban dengan berdirinya Dayah MUDI Mesra 2 sebagai sebuah harapan baru bagi para fisabillah. Juga harapan menjadi pusat pendidikan agama yang terintgerasi memberi
kesejahteraan kepada warga kampung saya.

Baca juga: Kreatifnya Saudi, Mengubah Sampah Menjadi Rial Bernilai Triliunan

Hal lainnya yang menggelisahkan saya adalah kondisi air sungai yang keruh dan menyusut karena buangan sampah, limbah rumah tangga, ataupun dampak dari galian C. Anak-anak sekarang pasti tak senyaman saat kami kecil dulu ketika mandi berjam-jam di sungai. Pada musim tertentu, kami masih bisa mencari pempeng/lokan atau kerang sungai karena sungai masih memiliki pantee atau pantai.

Saya berharap akan ada kebijakan pengelolaan sampah, apalagi buangan got rumah tangga tidak turun ke sungai karena sungai bisa rusak dan ketika sungai rusak maka rusak juga peradaban.

Pemimpin Muda
Dalam beberapa tahun terakhir, pimpinan gampong atau keuchik sudah berasal dari kalangan anak muda. Salut saya atas keberanian mereka memimpin roda pemerintahan yang tentu tidaklah mudah dan banyak tantangannya. Beberapa program yang mereka jalankan juga memberi dampak dan perhatian langsung kepada kelompok rentan, seperti anak yatim, ada usaha berkelanjutan, dan daging meugang tidak perlu beli karena gampong menyediakannya secara gratis. Masyarakat yang berkurban pun selalu ada karena dibuat sistem julo-julo.

Saya mencintai gampong saya karena saya percaya itu adalah sebagian dari iman. Saya juga berharap, jika ada beberapa anak putus sekolah dapat dicegah dengan sistem subsidi silang atau bentuk pemberdayaan lainya. Karena putus sekolah akan berdampak buruk, apalagi buat anak perempuan yang bisa menyebabkan mereka menikah di usia anak. Mata rantai kemiskinan tidak akan putus bila angka putus sekolah tinggi dan sejumlah dampak lainnya termasuk harus bekerja di usia anak.

Semoga gampong halaman saya terus berbenah dan warganya hidup sejahtera dan bahagia. Dengan demikian, tamsilan Blang Garang yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti Sawah Gembira benar adanya.[]

Penulis adalah Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Aceh

Alam yang Pemurah

0

Setelah menamatkan dua buku Seri Pangan Nusantara yang ditulis oleh Ahmad Arif, yakni Sorgum Benih Leluhur untuk Masa Depan dan Sagu Papua untuk Dunia, saya jadi bernostalgia ke masa lalu. Pada masa-masa di tahun ‘90-an saat saya berusia sekolah dasar dan orang tua saya yang berprofesi sebagai petani tinggal di sebuah perkampungan di Aceh Timur. 

Seperti yang pernah saya kisahkan pada tulisan-tulisan terdahulu, kampung masa kecil saya itu konturnya berbukit-bukit. Masyarakatnya bertahan hidup dari bertani dan berkebun. Aneka palawija, seperti cabai, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, hingga sayur-sayuran menjadi tumpuan hidup warga di fase-fase awal. Pada fase berikutnya mereka mulai berkebun, utamanya menanam kakao (cokelat) dan kelapa. Pada fase berikutnya, perkampungan ini justru “lenyap” akibat terjadinya konflik sosial. Pada masa-masa sebelum konflik terjadi, tinggal di perkampungan itu sangat membahagiakan. Kebutuhan akan pangan, sebagaimana yang menjadi konteks dari tulisan ini nantinya, sangat mudah didapat.

Pada masa-masa itu, di awal-awal tahun ‘90-an, selain untuk bersekolah, nyaris seluruh waktu saya habis di ladang atau di kebun. Ibu sering mengajak saya dan adik pergi ke ladang. Kalau hari Minggu, bisa dipastikan seharian kami bakal berada di ladang. Belakangan, setelah ayah fokus menggalas, ia jadi jarang ke ladang. 

Meski hidup dan tumbuh dalam kondisi yang serbaterbatas, tetapi jiwa kanak-kanak saya sangat bahagia. Terbatas yang saya maksud di sini adalah prasarana dan sarana pembangunan. Misalnya, pada masa itu jalan utama di kampung kami belum beraspal, bahkan sampai sekarang pun belum. Listrik baru masuk sekitar tahun ‘97, saat saya sudah hijrah ke kota untuk melanjutkan pendidikan SLTP. Air bersih juga sangat susah karena terbatasnya sumber-sumber mata air. Parit-parit atau sumur baru melimpah air ketika musim hujan tiba. Kami terbiasa mandi dengan air yang sangat terbatas, yang kami ciduk sedikit demi sedikit di ceruk-ceruk parit atau sumur. Di musim kemarau, di dasar sumur yang airnya sedikit itu, terkadang tampak hitam oleh kecebong. Saat cidukan air kami siram ke badan, tak jarang kecebong-kecebong itu ikut mendarat. Namun, hal-hal semacam itu tak sekali pun menjadi keluhan kami.

Lingkungan tempat kami tinggal sangat kondusif. Dengan teman-teman sebaya semuanya sangat kompak. Kami, anak-anak di dusun itu, terbiasa mencari kayu bakar bersama di kebun-kebun kelapa; main rumah-rumahan; atau menggembala ternak. Kami pergi dan pulang sekolah bersama-sama, juga sering mengerjakan tugas sekolah bersama; malamnya mengaji dan hampir selalu diwarnai dengan bermain petak umpet. Belum semua rumah mempunyai televisi sehingga aktivitas bermain bersama lebih disukai anak-anak, alih-alih mengurung diri di rumah. Rumah warga yang punya televisi itu pada malam harinya sering ramai. Para tetangga yang tak punya barang “mewah” itu di rumahnya, ke sanalah mereka menikmati hiburan di malam hari.

Saya dan anak-anak lainnya di kampung sangat akrab dengan ladang. Berada di ladang sangat menyenangkan. Satu kebanggaan tersendiri bagi saya kalau punya baju “kerja”, yakni baju yang hanya dipakai khusus untuk ke ladang. Jadi, kalaupun kotor tak masalah. Justru kalau semakin kotor bisa menjadi indikator tingkat kerajinan. Jika saya ingat-ingat lagi sekarang, ladang-ladang dan kebun milik orang tua kami dulu adalah laboratorium besar yang sangat luar biasa. Di ladang itu kami bisa bermain tanah tanpa perlu takut kotor.

Lebih dari itu, kami bisa mengenali aneka jenis tanah: mana tanah yang subur, mana tanah yang tandus; mana tanah liat, mana tanah humus. Saat berada di ladang atau kebun, otot-otot kami terlatih untuk menjadi lebih kuat. Fungsi motorik kami berkembang dengan alami. Kami terbiasa berjalan di atas permukaan tanah yang licin selepas hujan. Biasa juga berjalan menanjak di kebun-kebun kakao dengan beban berat di kepala karena menyunggi hasil panen. Bergelantungan di pohon atau main perosotan dari ketinggian bukit benar-benar menguji nyali.

Begitu juga fungsi sensorik. Pancaindra kami terbiasa mengolah atau menerima informasi yang bersumber dari alam. Misalnya, ketika sedang bermain di hutan, kami bisa mendeteksi apakah ada ancaman atau tidak “hanya” dari mendengar suara anjing menggonggong di kejauhan. Kalau suaranya intens, itu berarti sedang ada warga yang memburu babi. Babi rusak adalah ancaman kalau kita berada di hutan.

Dengan ikut bekerja membantu orang tua di ladang, seperti membersihkan gulma pada tanaman atau saat memanen cabai dan kakao, kami bisa belajar mengenai morfologi tumbuhan. Bagaimana bentuk bunga tanaman, kapan putik bunga berubah menjadi bakal buah, hingga kapan waktunya panen. Bahkan kami bisa menakar beratnya dari wadah yang digunakan. Pelajaran matematika bisa dipelajari secara alami dan (sebenarnya) sangat mudah dan menyenangkan. Dari satu ember biji kakao basah yang dipanen sudah bisa dikira-kira berapa uang yang dihasilkan nanti. Bonus berladang adalah bisa melihat aneka binatang, seperti ragam jenis semut, burung, tupai, monyet, dan babi hutan. Saya juga pernah melihat trenggiling melintas.

Pernah tinggal di desa adalah salah satu hal yang sangat saya syukuri dan saya rindukan saat ini. Terutama tentang adanya pemahaman bahwa alam sangat pemurah kepada manusia. Alam menyediakan banyak kebutuhan manusia, terutama soal kebutuhan pangan. Menurut hemat saya, sekalipun hidup tak bergelimang harta, tetapi jika kebutuhan pangan tercukupi, maka kita tak perlu merasakan kesengsaraan. Di kampung kami, sumber pangan, khususnya sayur-sayuran sangat melimpah. 

Saya akan mencoba mengingat-ingat kembali sayuran apa saja yang dengan mudahnya kami peroleh pada saat itu. Kangkung dan pakis adalah dua sejoli yang sangat mudah didapat. Dua jenis sayuran ini sama-sama membutuhkan tempat yang lembab (basah) untuk bertumbuh. Pakis banyak tumbuh di pinggir pinggir parit atau di kebun-kebun kelapa/cokelat yang teduh. Kangkung banyak tumbuh di parit-parit tak bertuan yang dapat kami petik dengan gratis. 

Pernah suatu kali kami beramai-ramai pergi memetik kangkung di parit besar. Masing-masing kami membawa pulang kangkung air satu kantong plastik besar. Kangkung air beda dengan kangkung tajuk/tanam. Kangkung air memiliki daun dan batangnya besar-besar. Tekstur batangnya lebih renyah. Saat dipetik atau dipitili muncul suara ‘tup-tup’ karena efek suara angin yang terkurung di dalam rongga batang. Ketika ditumis atau dilemak sangat enak.

Di antara bedeng-bedeng cabai, mudah sekali menemukan sintrong atau daun meranti. Ini sebenarnya jenis gulma, tetapi enak dijadikan sayuran. Sintrong memiliki aroma yang tajam, tetapi ketika diurap atau ditumis dengan campuran sayuran lain, aroma menyengat daun sintrong justru menjadi penggugah selera. Bayam rusa yang daunnya lebar-lebar juga tumbuh dengan sendirinya. Begitu juga dengan bayam ek itek atau bayam liar yang juga masuk dalam kategori gulma, tetapi bisa disayur. Ada juga sawi hutan yang warnanya hijau pekat dan bunganya kuning. Tomat bunga tumbuh dengan buah yang sangat lebat. Saat berada di kebun, kami sering merambat sayuran hutan seperti sawi hutan, meranti, sintrong, bayam, dan pucuk gambutan (rambot bue) alias markisa hutan untuk disayur campur. Nantinya dimakan dengan lalapan terasi atau sambal kelapa. Dengan lauk ikan asin, duh, nikmatnya.   

Kalau daun ubi jangan ditanya. Terkadang tumbuh sendiri di semak-semak. Daun ubi karet pun bisa dimakan karena pucuknya muda-muda. Begitu juga dengan pucuk labu tanah yang sering tumbuh di belakang rumah atau di dekat dekat kandang lembu atau di semak-semak kebun kelapa. Pisang monyet mudah sekali didapat, tumbuh di dekat-dekat parit. Batang dalamnya enak sekali disayur. Buahnya yang seukuran jari-jari tangan, meskipun penuh dengan biji, tetapi memiliki rasa asam-asam buah yang segar.

Kalau perlu jantung pisang tinggal petik saja. Begitu juga kalau kepingin memasak gulai pisang muda, tak perlu kelimpungan mencarinya. Di semak-semak, pohon rimbang tumbuh sebagaimana pohon hutan lainnya. Siapa saja bebas memetik. Di semak-semak itu pula tumbuh petai cina yang bijinya enak dibuat oblok-oblok atau botok, jenis lauk yang dibuat dari olahan biji petai dengan campuran kelapa parut.

Pohon terong, gambas, labu, kecipir, atau kacang panjang yang ditanam di ladang buahnya melimpah saking suburnya tanah. Ada juga daun kelor yang meskipun bukan konsumsi utama, tetapi ada di sekitar rumah. Buah-buahan hutan, seperti seri, cimpluan, dan markisah hutan menjadi favorit untuk diburu. 

Bunga atau bonggol pepaya bukanlah sayur mahal seperti sekarang. Buah pepaya mengkal pun bisa ditumis atau dijadikan campuran kuah pliek. Bisa juga dimasak kuah lada yang segar. Ketika pohon nangka yang ada di kebun coklat berbuah, juga bisa dimasak untuk melengkapi variasi hidangan di dapur. Semua itu tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk membelinya. Sayur-sayur yang dibeli hanyalah sayur-sayuran yang tak tumbuh di tempat kami, seperti kol, wortel, atau kentang dan sangat jarang dibeli.

Kebutuhan dapur yang perlu dibeli hanya perbawangan, minyak, gula-garam, beras, atau rempah-rempah. Kalau ikan, karena kampung kami yang jauh dari pesisir, lebih sering mengandalkan ikan-ikan kering, seperti teri, kepah, sarden, telur, atau ikan asin. Saya hampir tak pernah mendengar ibu mengeluh karena tak tahu hendak menyayur apa.

Membayangkan kembali secuil masa lalu tersebut saja rasanya sudah bikin saya kenyang. Namun, saat melihat bahwa kampung itu sekarang sudah bersalin rupa menjadi areal perkebunan sawit, alam yang murah itu pun menjadi “mahal”. []

Kebijakan yang Meminggirkan Pangan Lokal

0

DUA buku karya wartawan Kompas, Ahmad Arif, masing-masing berjudul Sorgum Benih Leluhur untuk Masa Depan dan Sagu Papua untuk Dunia yang menjadi bagian dari buku Seri Pangan Nusantara akhirnya selesai saya baca. Buku ini saya beli menjelang akhir tahun 2023 saat Ahmad Arif datang ke Banda Aceh untuk mengisi pelatihan yang diinisiasi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh bersama Wild Conservation Society (WCS). Buku pertama selesai saya baca di awal tahun 2024, sedangkan buku kedua menjadi buku pertama yang saya tuntaskan di tahun 2025 ini. Isi buku ini ibarat hidangan yang terbuat dari sorgum dan sagu; mengonsumsinya bikin kenyang dan sehat.

Judul: Sagu Papua untuk Dunia
Pengarang: Ahmad Arif
Bahasa: Bahasa Indonesia
Genre: Humaniora
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia X ANJ
Tahun : 2019
Halaman: 208 (cetakan ke-2)
ISBN: 978-602-481-199-0

Karena buku terakhir yang saya tuntaskan adalah Sagu Papua untuk Dunia, maka resensi ini lebih menitikberatkan pada isi buku tersebut. Meski demikian, muatan, substansi, dan alur penceritaan kedua buku ini sama, yakni sama-sama mengulas tentang masing-masing komoditas pangan yang (pernah) menjadi sumber konsumsi utama masyarakat di wilayah timur Indonesia tersebut. Inti persoalannya memiliki irisan yang sama, yaitu terpinggirkannya (termarginalkan) komoditas pangan lokal akibat invasi beras. Alih-alih membuat Indonesia mandiri pangan, kebijakan pemerintah yang seragam pada akhirnya justru (akan) menjadi penyebab krisis pangan di Indonesia.

Buku ini terdiri dari atas lima bab: Tanah Asal Sagu (Bab 1); Sagu Adalah Ibu (Bab 2); Lapar di Kampung Sagu (Bab 3); Sumber Pangan Masa Depan (Bab 4); dan Sagu Papua untuk Dunia (Bab 5). Penulisannya diawali dengan prolog berisi cuplikan pidato Presiden Sukarno pada tahun 1952 yang berisikan kegelisahan Presiden tentang ketergantungan pangan Indonesia pada negara lain. Pada masa itu, pemerintah menggelontorkan uang setiap tahunnya hingga 150 juta dolar untuk mengimpor beras. Sukarno menyadari betul bahwa kemandirian suatu negara sangat dipengaruhi oleh kedaulatan pangan. Oleh sebab itu, Sukarno bilang, “Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa; apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka ‘malapetaka’. Oleh karena itu, perlu usaha besar-besaran, radikal, dan revolusioner.”

Ironisnya, meskipun cita-cita akan kedaulatan pangan telah digaungkan sejak era Orde Lama, nyatanya sampai kini Indonesia belum mandiri pangan. Fakta miris lainnya, beberapa komoditas pangan lokal justru semakin terpinggirkan dan dianggap sebagai sumber pangan kelas dua seperti yang dialami sorgum dan sagu. Program-program yang dibuat pemerintah untuk swasembada pangan justru tidak berbasis pada potensi sumber daya pangan lokal. Seiring dengan seragamnya pola konsumsi beras dari Aceh hingga Papua, aneka pangan lain yang menjadi sumber karbohidrat seperti ubi, talas, atau ketela tak lagi dianggap sebagai sumber pangan pokok. Kehadirannya hanya sebatas pelengkap atau camilan. Selaras dengan itu pula, penderita penyakit-penyakit degeneratif yang dulu tak begitu dikenal oleh masyarakat kini semakin akrab di telinga kita. Efek dari mengonsumsi beras (nasi) yang tinggi kadar glikemik atau mengonsumsi terigu yang tinggi gluten.

Indonesia adalah negara kepulauan yang terbentang di sepanjang garis khatulistiwa dari Aceh hingga Papua. Kultur masyarakatnya yang agraris ditambah kondisi maritimnya telah menciptakan sistem budaya yang sangat-sangat beragam. Setiap daerah memiliki ciri khas atau keunikan masing-masing yang menjadi bagian dari identitas budayanya. Misalnya, antara satu provinsi dengan provinsi lain dapat dipastikan jenis makanan dan pola konsumsinya beragam. Bahkan antarwilayah di dalam satu provinsi saja tidak tertutup kemungkinan memiliki variasi kuliner yang sangat beragam.

Di Aceh misalnya, selain menjadikan beras sebagai makanan pokok, masyarakatnya juga sangat tergantung pada sumber protein hewani karena hasil lautnya yang melimpah. Lidah masyarakat Aceh sangat akrab dengan ikan sehingga tak mengherankan jika “sayurnya” orang Aceh adalah aneka lauk olahan ikan. Hidangan tempe atau tahu bagi masyarakat Aceh hanya pelengkap, bukan menu atau sumber protein utama. Itu sebab, hanya menyajikan menu tempe atau tahu kepada orang Aceh bisa dianggap “pelit”. Dalam berbagai upacara adat, menu-menu yang bersumber dari olahan protein hewani selalu menduduki “kasta” tertinggi.

Sementara di Jawa, (dulu) masyarakatnya terbiasa mengolah ubi kayu menjadi tiwul atau nasi jagung. Demikian pula di Indonesia timur yang pada awalnya tidak menjadikan beras sebagai konsumsi utama, tetapi mengonsumsi sagu yang diolah menjadi papeda atau berbagai variasi olahan sorgum. Namun, entah mengapa dan entah sejak kapan, orang-orang yang mengonsumsi tiwul, nasi jagung, atau talas dan pisang sebagai pengganti nasi identik dengan kemiskinan. 

Ibu saya yang masa kecilnya dihabiskan di pelosok Aceh Tamiang di sekitar daerah perkebunan sering mengaitkan kemiskinan warga pada masa itu dengan “terpaksa” makan nasi jagung atau ubi karena tak sanggup membeli beras. Harga beras mahal, terutama di musim-musim paceklik. Bagi mereka yang bekerja di perkebunan karet, jatah beras yang mereka peroleh dari perkebunan juga tak mencukupi. Maka, nenek saya yang rajin pun menanam aneka jenis tanaman di sekitar rumahnya untuk “mengakali” agar tidak kelaparan ketika musim paceklik tiba. Aneka jenis pisang, aneka jenis tebu, pepaya, ubi, tumbuh subur di pekarangan rumahnya. 

Gejala yang sama juga terjadi di Papua, generasi mudanya kini tak lagi mengenal dan mau mengonsumsi sagu. Pelan-pelan masyarakat Papua mengalami ketergantungan pada beras melalui program-program pembagian beras raskin oleh pemerintah yang diseragamkan dari Aceh hingga Papua. Padahal, Papua adalah surganya sagu karena beraneka jenis varietas sagu tumbuh di sana. Bukan hanya itu, daerah ini juga memiliki potensi cadangan sagu yang luar biasa. (hal. 16; 37)

Selain sebagai bahan baku pangan, sagu di Papua juga menjadi bagian dari unsur budaya yang lekat. Adat istiadat masyarakat Papua menjadikan sagu sebagai “ibu” yang mengikat mereka sejak lahir hingga mati. Namun, mencermati apa yang dinarasikan di dalam buku ini, ketika konsumsi sagu mulai ditinggalkan, ancaman krisis pangan semakin menghantui masyarakat Papua. Lebih ironisnya lagi, gizi buruk dialami oleh anak-anak Papua seperti yang terjadi di Kabupaten Asmat, di tempat yang justru tanaman sagu tumbuh dengan subur. Sementara rantai pasoknya juga telah didominasi oleh para pendatang. Lama kelamaan identitas Papua yang identik dengan papeda (sagu) pun semakin luntur. Tergerus oleh “modernisasi” yang terjadi karena pergeseran pola konsumsi.  

Alih fungsi lahan besar-besaran juga terus menggeser pertumbuhan sagu yang selama ini tumbuh di lahan-lahan berawa yang memiliki genangan air. Kondisi ini bertolak belakang dengan semangat pemerintah yang terus menciptakan program-program semacam cetak sawah baru untuk menopang produksi pangan di Indonesia. Namun, justru menghilangkan lahan-lahan pangan yang sudah ada. Dibandingkan padi, tanaman sagu lebih banyak memiliki keunggulan. Secara geografis, sagu lebih mudah tumbuh di tanah Papua yang konturnya berupa pegunungan dan banyak terdapat rawa, tidak mengharuskan di hamparan yang datar. Dari segi waktu, menanam padi lebih boros waktu dan membutuhkan perawatan yang intens. Belum lagi, penggunaan pupuk pada padi yang dapat menjadi kontaminan bagi ekosistem. Dalam konteks lingkungan, menanam sagu selaras dengan cita-cita besar mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan. Konon lagi jika mengonversi lahan sagu menjadi tanaman monokultur seperti sawit, jelas-jelas ibarat menabur angin untuk nantinya menuai badai di masa depan. (hal. 129)

Di Aceh sagu juga nyaris punah. Tanaman tersebut di Aceh disebut dengan istilah bak sage atau bak meuria (rumbia). Beberapa orang yang saya tanyai tentang pohon sagu mengaku bingung apakah sagu dan rumbia sama? Bahkan ada yang tak dapat membayangkan bagaimana yang disebut dengan bak sage atau sagu. Di Aceh, salah satu daerah yang pernah sangat terkenal dengan sagunya adalah Kabupaten Aceh Barat. Sekitar dua dekade silam, teman kuliah saya yang berasal dari Aceh Barat masih menjadikan boh meuria teupeujruek atau asinan buah rumbia sebagai buah tangan ketika balik ke Banda Aceh setelah mudik. Namun, kini asinan rumbia seolah menjadi legenda. 

Di Kabupaten Pidie, sari pati sagu diolah menjadi beureune sage atau sagu kering yang jika diolah menjadi bubur atau lepat sagu rasanya sangat nikmat–selain mengenyangkan. Almarhumah nenek buyut saya pernah menjadikan rumbia sebagai salah satu penopang hidupnya. Ia memiliki sepetak kebun rumbia yang daunnya bisa dipanen untuk dijadikan atap. Adapun batangnya, ketika sudah masa panen, bisa diparut dan dijual untuk dijadikan pakan unggas atau diolah untuk diambil sari patinya menjadi tepung. Dua dekade berlalu, kebun-kebun rumbia yang biasanya banyak tumbuh di dekat sumber-sumber air atau di rawa di tengah sawah mulai menghilang. Berganti dengan kompleks-kompleks perumahan atau ditebang karena merasa tak memiliki manfaat.

Salah satu ciri khas rumoh Aceh yang ikonik adalah menjadikan daun rumbia sebagai atapnya. Jalinan atap daun rumbia yang rapat tidak saja menjadikan suasana di dalam rumah menjadi sejuk, tetapi juga awet hingga puluhan tahun. 

Melalui Sagu Papua untuk Dunia pandangan dan wawasan kita terbuka dan tersadar bahwa hilangnya satu per satu batang sagu (khususnya) di Papua bukan semata-mata karena kurangnya edukasi masyarakat, melainkan ada peran politis yang secara sengaja atau tidak, disadari atau tidak, telah meminggirkan sagu sebagai pangan pokok masyarakat Papua. Pemberian izin terhadap alih fungsi lahan dan penyeragaman beras sebagai komoditas bantuan beras miskin (raskin), ditambah kebijakan-kebijakan yang pro pada produk-produk pangan impor hanya segelintir contoh kebijakan keliru yang berakibat fatal. Kita tentu tak ingin kebijakan-kebijakan seperti itu terus menjadi momok bagi masa depan pangan Indonesia.

Terlepas dari muatannya yang sangat bergizi, buku ini juga sangat eye catching dari segi tampilan. Baik Sorgum ataupun Sagu keduanya memiliki sampul yang sederhana, tetapi kuat dan sarat makna. Warnanya soft dan memikat. Desainnya full colour dan dilengkapi dengan foto-foto jepretan Ahmad Arif yang sangat “bercerita”. Antarbab dipisahkan dengan ilustrasi yang menarik. Jarak antarbaris dan ukuran maupun jenis huruf juga sangat nyaman di mata. Bagi pembaca Kompas, tentu akrab dengan nama Ahmad Arif. Maka, siapa yang meragukan hasil karya tulisnya?[]