Beranda blog Halaman 4

Gerakan Perempuan Aceh Alihkan Puncak Kampanye 16 HAKTP untuk Respons Kemanusiaan

0

Gerakan Perempuan Aceh yang terdiri atas berbagai lintas organisasi bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Aceh membatalkan agenda puncak Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) yang semula dijadwalkan berlangsung di Banda Aceh pada Kamis, 11 Desember 2025.

Keputusan ini diambil menyusul situasi Aceh pascabencana banjir bandang dan longsor yang dalam dua pekan terakhir melanda belasan kabupaten/kota, merusak infrastruktur, memutus akses komunikasi, serta memaksa puluhan ribu orang mengungsi.

Sebagai gantinya, Gerakan Perempuan Aceh mengadakan kegiatan Sehari Bersama Penyintas yang dilaksanakan di Desa Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, pada Rabu, 10 Desember 2025. Pengalihan ini sebagai respons langsung dan prioritas kemanusiaan di tengah bencana yang sedang terjadi di Aceh.

“Pembatalan ini dilakukan atas dasar prioritas kemanusiaan dan prinsip solidaritas sosial yang dipegang teguh oleh gerakan perempuan Aceh,” kata Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh, Rukiyah Hanum, Kamis, 11 Desember 2025.

Untuk saat ini, gerakan perempuan Aceh akan sepenuhnya aktif, fokus, berpartisipasi, dan bersinergi dalam upaya-upaya tanggap bencana di berbagai lokasi terdampak, salah satunya di Desa Babah Krueng, Pidie Jaya. Babah Krueng termasuk salah satu desa di Pidie Jaya yang terdampak sangat parah. Ketinggian air di beberapa titik mencapai lebih dari tiga meter, merusak rumah, fasilitas publik, dan memaksa warga mengungsi ke meunasah dan titik aman lainnya.

Kegiatan Sehari Bersama Penyintas ini diisi dengan serangkaian agenda gotong royong dan distribusi bantuan yang berfokus pada kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Para relawan Gerakan Perempuan Aceh yang dikoordinasikan oleh LSM Paska memasak di dapur umum dan kemudian mendistribusikan makanan siap saji bagi masyarakat di beberapa titik pengungsian. Selanjutnya menyerahkan bantuan logistik penting, meliputi mukena, pakaian layak pakai, dan air mineral. Relawan juga turut serta dalam kegiatan membersihkan dan merapikan meunasah (balai pengajian/musala) yang hingga saat ini masih digunakan oleh warga sebagai tempat menginap sementara.

“Kami juga mengisi kegiatan ini dengan memberikan permainan edukasi kepada anak-anak untuk menghibur mereka. Tidak hanya kepada anak, kami juga menyasar perempuan dan lansia yang punya riwayat sebagai penyintas konflik bersenjata,” kata Hanum.

Di tempat yang sama, Kepala UPTD PPA Aceh, Endang Mulyani, mengatakan, selama kegiatan berlangsung, mereka menemukan adanya praktik baik ruang aman sebagai upaya perlindungan anak oleh masyarakat Babah Krueng. Dalam situasi darurat seperti ini, di mana semua orang berada dan tidur di lokasi yang sama, para ibu melindungi anak-anak mereka, terutama anak perempuan, dengan memberikan mereka tempat di tengah-tengah. Sedangkan para ibu tidur di pinggir sehingga bisa “memagari” anak-anak mereka agar tetap aman.

“Semoga cara-cara sederhana ini dapat ditiru dan diterapkan di posko-posko lain,” kata Endang.

Sementara itu, Oni Imelva selaku pegiat HAM dan seni yang turut dalam rombongan tersebut menambahkan, dalam situasi seperti ini, juga perlu dipastikan ketersediaan layanan yang spesifik gender di posko-posko pengungsian, termasuk sanitasi, kebutuhan dasar perempuan (pakaian dalam, pembalut), dan ruang yang aman bagi perempuan dan anak.

“Dalam kurun sepuluh tahun ini, masyarakat Pidie Jaya telah mengalami berbagai bencana, mulai dari gempa pada tahun 2016, Covid-19, dan sekarang banjir bandang dan longsor. Belum lagi, masyarakat di sini juga penyintas konflik bersenjata. Trauma yang mereka alami sudah berlapis-lapis dan ini tentunya perlu dipulihkan,” kata Oni.

Kepala DPPPA Meutia Juliana yang sangat fokus untuk Kampanye 16HAKTP juga berharap perempuan penyintas di daerah-daerah terdampak bencana secara langsung dapat dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan. Mengingat, pengalaman dan pengetahuan mereka yang sangat berharga di tingkat komunitas.

Komitmen Melanjutkan Perjuangan

Meskipun acara puncak Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) dibatalkan, namun komitmen gerakan perempuan Aceh untuk terus mengampanyekan penghapusan kekerasan terhadap perempuan tidak akan surut. Justru, komitmen ini semakin kuat, mengingat dalam situasi bencana seperti ini, perempuan dan anak menjadi rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, eksploitasi, dan kurangnya akses terhadap bantuan spesifik gender.

Pemerintah Aceh melalui DPPPA, bersama Gerakan Perempuan Aceh menjadikan kegiatan Sehari Bersama Penyintas sebagai ruang bercerita yang secara langsung mendengarkan dan merekam pengalaman para lansia, perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas saat menghadapi bencana, serta menampung harapan mereka untuk masa depan.

Pengalaman berharga tersebut dapat menjadi informasi utama dan jembatan pengetahuan bagi pemerintah dan gerakan perempuan. Hal ini dapat menjadi landasan untuk merumuskan konsep dan pelaksanaan program pemulihan psikososial yang lebih responsif, inklusif, dan berkelanjutan di masa pemulihan pascabencana.

Gerakan Perempuan Aceh mengapresiasi respons cepat dari berbagai pihak dalam penanganan pascabencana, termasuk inisiatif masyarakat melalui gerakan “Warga Bantu Warga” atau “Rakyat Bantu Rakyat”, serta upaya Pemerintah Aceh di kabupaten/kota terdampak.

Namun, Gerakan Perempuan Aceh, melalui Hanum, merasa perlu mengingatkan tentang pentingnya memastikan hadirnya perlindungan bagi mereka yang paling rentan dalam situasi penuh keterbatasan saat ini.

“Memastikan adanya data terpilah gender sejak dalam masa tanggap darurat merupakan salah satu prasyarat bagi hadirnya perlindungan dan ruang aman bagi mereka yang paling rentan di pengungsian. Ketersediaan data terpilah gender akan memudahkan dalam memastikan bantuan yang disalurkan telah tepat sasaran,” tegas Hanum.

Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSUIA), yang memiliki simpul di berbagai kabupaten/kota (Aceh Utara dan Lhokseumawe), terlibat aktif dalam upaya penyelamatan dan pendistribusian logistik bagi korban.

Namun, di beberapa simpul, seperti Aceh Tamiang, Langsa, Bener Meriah, dan Aceh Tengah, upaya tersebut belum maksimal. Kondisi lapangan yang sulit, jalur transportasi yang belum pulih, keterbatasan distribusi bantuan, serta fakta bahwa beberapa pengurus simpul juga menjadi korban bencana, menghambat kerja-kerja kemanusiaan di wilayah tersebut.[]

“Di Pegunungan Sana Banyak Pohon Ditebang”

0

Ismail (41) adalah Kepala Desa Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Ia juga Ketua Forum Kepala Desa Kecamatan Bandar Dua. Kecamatan ini memiliki 45 desa. Dua di antaranya, yaitu Desa Babah Krueng dan Desa Alue Keutapang, tercatat sebagai desa yang terdampak sangat parah. Di Babah Krueng, ketinggian banjir di beberapa titik mencapai tiga meter lebih.

Pada Rabu, 26 November 2025, Ismail berada di RSUD Pidie Jaya di Meureudu. Ia sedang mendampingi istrinya yang menjalani operasi caesar untuk melahirkan anak keempat mereka. Pada Rabu malam, ia menginap di rumah sakit. Tak memungkinkan baginya untuk langsung pulang dan meninggalkan istrinya yang baru dioperasi.

Namun, semalaman itu ia terus teringat pada kondisi desanya karena guyuran hujan tak kunjung berhenti. Ia teringat pada warganya yang berjumlah 350-an KK. Juga pada anak-anaknya yang ia titipkan pada ibunya di rumah.

Esoknya, Ismail kembali ke Babah Krueng dengan berjalan kaki dari Meureudu sejauh sebelas kilometer. Dalam perjalanan itu, Ismail sempat mampir ke Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya untuk menanyakan, apakah ada boat yang bisa digunakan untuk mengevakuasi warga.

“Saya harus segera pulang. Selain saya perlu memastikan bagaimana kondisi warga saya, anak-anak dan ibu saya juga sudah terjebak di rumah. Setelah mengevakuasi mereka (anak dan ibu) ke atap rumah, saya langsung bergegas untuk mengevakuasi masyarakat,” kata Ismail, Rabu, 10 Desember 2025.

Ismail dibantu oleh empat warga desa, mulai mengevakuasi warga yang terjebak di rumah-rumah. Fokus utamanya adalah warga yang rumahnya dekat dengan sungai. Ia juga menginisiasi memanggil relawan dari kelompok pramuka dan bergotong royong dengan masyarakat untuk membersihkan meunasah.

Mereka menggunakan alat bantu seadanya. Hanya dengan ban yang diikat pada seutas tali. Mereka dievakuasi ke meunasah.

Evakuasi berlangsung hingga pukul sebelas malam. Prosesnya juga sangat sulit karena listrik sudah padam dan arus banjir sangat deras.

Sesudah banjir surut, sambil terus berkoordinasi dengan Camat Bandar Dua, Ismail mengupayakan alat berat dari Samalanga untuk membersihkan lumpur di desanya, terutama yang menutupi akses jalan utama.

Alat berat bekerja selama delapan hari penuh. Sekitar satu ton bahan bakar habis untuk mengoperasikannya. Dan semua biaya tersebut ia keluarkan dari kantong sendiri.

Jalan Desa Babah Krueng merupakan akses utama menuju sebelas desa lainnya di kawasan Ulee Glee bagian barat. Jika Ismail tidak berinisiatif membersihkan jalan tersebut, maka akses ke sebelas desa lainnya akan terhambat.

Baginya, inilah bentuk tanggung jawabnya sebagai pemimpin desa. Ia sadar dirinya menjadi tumpuan harapan masyarakat.

Ia juga memastikan warga desanya tidak ada yang kelaparan. Karena itu, pada hari Jumat ia langsung berkoordinasi dengan pemerintah daerah sehingga desanya mendapat bantuan 80 sak beras. Bantuan kedua juga sudah diterima.

“Kita sebagai pemimpin harus bertanggung jawab seratus persen. Itu prinsip saya,” kata Ismail.

Ismail adalah putra asli Desa Babah Krueng. Ia bilang, di daerah itu memang rawan banjir. Namun, ini banjir terparah yang melanda desanya yang pernah ia saksikan selama hidup.

Berbeda dengan banjir-banjir yang pernah terjadi, banjir kali ini arusnya sangat deras. Banjir juga membawa lumpur yang kini mengendap di rumah-rumah warga. Endapan lumpur juga merusak kebun dan sawah warga.

Menurut Ismail, banjir takkan separah ini jika hutan-hutan di pegunungan sana tidak digunduli.

“Itulah problemnya. Di Pegunungan sana banyak pohon yang ditebang oleh oknum-oknum. Imbasnya ke masyarakat. Kami sangat kewalahan,” kata Ismail.

Seluruh warga desa merasakan pahitnya dampak buruk dari deforestasi. Bencana ini lebih dari sekadar banjir yang menggenangi permukiman. Lumpur tebal yang terbawa arus telah merusak kebun, sawah, dan fasilitas publik yang ada di desa.

Sumur-sumur warga tercemari lumpur dan tak bisa digunakan. Warga kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk air konsumsi, hanya mengandalkan air minum kemasan yang berasal dari bantuan.

Ada petani yang gagal panen. Sawah yang mestinya sudah bisa dibajak kembali kini tertutupi lapisan lumpur tebal. Sedangkan padi-padi hasil panen sebelumnya menjadi busuk karena terendam banjir.

Banjir memang sudah surut, tapi kini masyarakat dihantui oleh persoalan lain. Bagaimana mereka bertahan hidup setelah masa tanggap darurat berlalu?[]

Surat untuk Mualem

5

Mualem,

Saya masih ingat euforia pada tahun 2002 silam ketika Anda menjadi Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menggantikan allahu yarham Abdullah Syafii yang gugur pada 22 Januari 2002.

Memakai baju loreng, Anda terlihat gagah. Brewok di wajah tidak saja membuat Anda terlihat karismatik, tapi juga dikagumi para dara. Bahkan, ada yang bilang Anda mirip Suniel Shetty—aktor India yang sedang booming kala itu.

Lebih dari itu, euforia tersebut sebenarnya karena ada harapan besar yang terpendam di hati rakyat Aceh. Anda diharapkan bisa “memerdekakan” Aceh.

Euforia tersebut terulang ketika Anda menjadi Gubernur Aceh. Dua puluh dua tahun setelahnya. Wibawa Anda (masih) menjadi tumpuan harapan bagi jutaan rakyat Aceh. Harapan agar Anda bisa memerdekakan Aceh masih ada. Tentunya, merdeka dalam konteks yang berbeda.

Mualem,

Saat saya menuliskan ini, saya sudah kembali berada di Kota Banda Aceh—setelah sebelumnya sempat terkurung di Takengon (Aceh Tengah) bersama sejumlah rekan. Hari ini, Selasa, 9 Desember 2025, dua pekan setelah banjir bandang dan longsor menerjang Aceh. Delapan belas kabupaten/kota terdampak. Itu artinya, lebih dari 75 persen kabupaten/kota di Aceh saat ini lumpuh.

Tamiang berubah seperti “kota zombie”. Kering dan tanpa kehidupan. Jalan-jalan di Tamiang tidak saja berdebu, tapi mulai menguarkan aroma menyengat dari jenazah yang belum terevakuasi. Di Pidie Jaya, rumah-rumah warga tertimbun sedimen lumpur hingga mencapai atap. Di Aceh Tengah, ada masyarakat yang sudah minta dikirimkan kain kafan. Di Aceh Utara, ada kampung-kampung yang hilang. Begitu juga di daerah-daerah lain.

Aceh berada dalam situasi krisis. Di tengah situasi seperti ini, rakyat sangat membutuhkan kehadiran pemimpin. Agar mereka tenang. Tidak merasa ditinggalkan. Dan tahu apa yang akan disongsong pada hari esok. Sebagai pemimpin tertinggi di Aceh, Andalah satu-satunya tumpuan harapan rakyat Aceh.

Mualem,

Penting bagi Anda untuk mengatasi krisis ini. Namun, penting juga untuk memikirkan kebijakan apa yang bisa Anda lakukan untuk mencegah bencana serupa tidak terulang lagi.

Anda bisa memulai dengan memikirkan dan merenungkan kembali soal rencana program wilayah pertambangan rakyat (WPR). Anda bisa mulai dengan memetakan lahan-lahan kritis di Aceh dan mengonsep rencana untuk merehabilitasinya. Ya, bukan hanya orangnya, tanah dan hutan kita juga perlu disehatkan kembali.

Lebih dari itu, Anda bisa beraksi dengan meninjau dan membatalkan izin-izin perusahaan tambang yang sudah dan akan beroperasi di Aceh. Anda juga harus berpikir kembali, bagaimana caranya agar hutan-hutan di Aceh tidak terus dibabat untuk ditanami sawit. Anda jangan terkecoh dengan pernyataan Pak Presiden yang mengatakan “sawit adalah pohon”. Itu pernyataan manipulatif. Sebagai Gubernur Aceh, Anda punya kewenangan dan kekuasaan untuk itu. Kerahkan seluruh sumber daya di Satuan Kerja Pemerintah Aceh.

Jika Anda ingin menyejahterakan rakyat, jika Anda ingin rakyat tersenyum dan bahagia, jika Anda ingin rakyat hidup tenang tanpa rasa waswas saat hujan turun, maka tambang bukan solusinya. Program-program replanting sawit perlu dikaji ulang.

Mualem,

Rakyat yang sebenarnya adalah yang hari ini Anda lihat. Mereka yang terkurung di desa-desa terpencil setelah banjir bandang dan longsor menghantam. Mereka yang menanti bantuan dengan harapan yang nyaris karam. Mereka yang hanya bisa berdoa di tengah gelapnya gulita malam. Mereka yang terpaksa melihat desa-desa mereka menjadi aliran-aliran sungai baru.

Mereka yang tanah, kebun, sawah, dan harta bendanya hanyut tak bersisa. Mereka yang kebingungan mau makan apa esok? Mau tinggal di mana esok? Mau menyekolahkan anak-anaknya dengan apa esok? Mereka, yang bahkan hingga dua pekan setelah bencana, ada yang belum tahu di mana dan bagaimana keberadaan keluarga mereka.

Rakyat yang sebenarnya hanyalah individu-individu tak berdaya yang tak punya kuasa melawan hegemoni oligarki. Mereka yang tak punya modal untuk membiayai operasional tambang rakyat. Alih-alih membiayai operasional tambang, bahkan untuk membeli bensin seliter di tengah situasi begini saja mereka tak punya uang. Mereka tak punya kuasa untuk melawan kebijakan dan regulasi yang kejam.

Mereka yang terpaksa tabah ketika bencana terjadi. Mereka yang terkatung-katung karena pertolongan tak kunjung datang. Mereka yang rela berjalan kaki hingga puluhan kilometer, yang rela mempertaruhkan nyawa dan risiko tinggi, demi mencari segenggam beras untuk keluarganya. Itulah rakyat yang sebenarnya.

Mualem,

Saya pernah mewawancarai seorang mantan anggota GAM. Beliau bercerita, suatu ketika dalam pelariannya di dalam hutan, ia bertemu dengan seekor harimau. Tapi harimau itu tidak mengganggunya. Hanya melihat dari jauh, lalu pergi. Kami juga tidak pernah mendengar ada anggota GAM yang diganggu oleh gajah atau binatang buas lainnya selama persembunyian mereka di hutan.

Begitulah sifat alami Teungku Rayek atau Po Meurah—juga hewan-hewan lain di dalam hutan. Mereka sangat penyayang. Mereka pintar. Sehingga tahu, yang bersembunyi di hutan bukan untuk disakiti. Karena memang, mereka tak pernah punya SOP untuk menyerang manusia, apalagi meneror dan mengusir manusia dari permukiman. Jadi, mengapa kita tega merusak hutan hingga ke jantung-jantungnya yang selama ini menjadi istana bagi para penghuni rimba? Memaksa mereka terusir dan terbunuh dengan tragis?

Bahkan, ada anggota GAM yang justru menciptakan lagu perjuangan ketika berada di hutan. Suatu malam, saat ia melepas lelah sambil duduk di ayunan, ia melihat langit sangat cerah, bulan bersinar terang, dan dipenuhi kerlip bintang. Ah, betapa syahdunya. Jiwa seni dan kreatifnya terpantik sehingga tercipta sebuah lagu heroik. Bahkan Anda memintanya untuk menyanyikan lagu itu dalam sebuah “rapat negara” pada tahun 2001. Lagu itu masih sering digemakan hingga saat ini.

Saya juga membaca kisah-kisah pejuang GAM yang mampu bertahan dalam situasi sulit karena tetap ada yang bisa mereka makan selama berada di hutan. Ikan-ikan masih bisa ditangkap di sungai-sungai yang jernih dan berarus deras. Buah-buah hutan yang aman dikonsumsi tinggal dipetik.

Artinya, Anda tentulah paling paham apa arti dan fungsi hutan yang sesungguhnya. Hutan adalah sumber kehidupan yang sesungguhnya. Hutanlah yang telah menyelamatkan kita dalam berbagai fase kehidupan.

Mualem,

Saya tahu, hutan dan alam kita sudah sangat rusak. Sudah sangat babak belur. Namun, Anda masih punya kesempatan untuk tidak membuatnya menjadi lebih buruk. Mungkin, Anda—hanya—akan dibenci oleh para oligarki jika memilih melindungi rakyat dengan menyelamatkan hutan kita. Namun, percayalah, Anda akan disayangi oleh jutaan rakyat. Nama Anda akan selalu dikenang dan diingat.

Yang kita sebut sebagai bencana hidrometeorologi ini ibarat “pre-test” dari Tuhan. Uhm, sebenarnya, menyebut ini sebagai “bencana hidrometeorologi” pun tidak tepat. Sebab dampaknya tentulah tidak seburuk dan separah ini kalau manusia tidak rakus dan tamak. Dan lagi, alam tentu tidak akan berubah fenomenanya jika manusia tetap bijak.

Saya menyebutnya sebagai pre-test. Tuhan mungkin ingin menguji kemampuan awal kita, sejauh apa pengetahuan kita tentang mitigasi bencana, dan bagaimana kesiapan kita untuk menghadapinya.

Hasil pre-test-nya bisa kita lihat sendiri. Hingga dua pekan setelah banjir bandang dan longsor menerjang, wilayah-wilayah terisolasi belum seluruhnya bisa dijangkau, distribusi bantuan belum merata, masyarakat kehilangan harapan sehingga ada yang meminta dikirimkan kain kafan. Belum lagi soal listrik yang juga belum normal, jaringan telekomunikasi masih megap-megap, juga biaya transportasi yang tiba-tiba melambung tinggi. Efek dominonya bahkan dirasakan oleh daerah-daerah yang tidak terdampak langsung oleh bencana. Termasuk di Kota Banda Aceh, ibu kota provinsi.

Bukan itu saja, melalui pre-test ini, kami bisa melihat kualitas dan kapasitas para pemimpin kami. Ada yang kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Ada yang egois, tega meninggalkan rakyatnya demi “foto mesra” dengan pasangan berdalih ibadah. Ada yang fokus pada pencitraan, dan tak malu untuk “nebeng” foto dengan bantuan yang dibawa relawan. Yang terbiasa menjilat, tetap saja menjilat. Kami juga bisa melihat, siapa pemimpin yang bersungguh-sungguh bersama dan memikirkan rakyatnya. Bahkan, Anda sampai menangis, dan bukan hanya sekali.

Saya yakin, Anda juga geram dengan tingkah-tingkah pejabat dari pusat. Yang tidak hanya lamban, tapi juga tidak punya empati. Yang mengecilkan harga nyawa rakyat Aceh. Yang menjadikan bencana ini semacam guyon yang mereka nikmati di media sosial.

Apa artinya ini? Artinya, ini kesempatan Anda untuk merenung kembali, kepada siapa Anda berpihak dan siapa yang berpihak kepada Anda.

Mualem,

Sebagai pemimpin, sebagai orang nomor satu di Aceh, Anda tentulah sering dan akan dihadapkan pada pilihan dan keputusan sulit. Dihadapkan pada berbagai ironi. Tapi, seorang pemimpin sejati, tentu tidak akan mengorbankan rakyatnya demi kepentingan kekuasaan, bukan?

Setiap kali Anda bimbang, ingatlah tatapan kosong dan air mata para ibu yang kehilangan suami dan anaknya. Ingatlah rasa bersalah para ayah yang tidak bisa menyelamatkan keluarganya. Ingatlah jerit para anak yang kehilangan orang tuanya. Ingatlah pada kami, rakyatmu.[]

Misi Perdamaian IWPG: Belajar dari Korea, Bergerak di Indonesia

Oleh Amrina Habibi*

SALAH satu peristiwa penting dan menjadi sejarah baik bagi saya sepanjang tahun 2025 ini adalah ketika saya dan sembilan teman lain dengan latar belakang jurnalis dan aktivis perdamaian Internasional Women Peace Group (IWPG ) menginjakkan kaki di Cheong Ju, Korea Selatan, untuk mengikuti Internasional Peace Conference yang diselenggarakan oleh Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL). Ini adalah organisasi masyarakat sipil yang didirikan oleh Lee Man Hee, seorang aktivis kemanusiaan yang sangat aktif dalam menggelorakan perdamaian, baik di Korea maupun di dunia.

Cheongju adalah ibu kota Provinsi Chungcheong Utara, Korea Selatan, terletak sekitar 120 km selatan Seoul dan dikenal sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, dan ekonomi provinsi. Cheongju kaya akan sejarah dan budaya, termasuk museum percetakan awal Korea dan berbagai festival seni internasional seperti Cheongju International Craft Biennale. Kota ini juga terkenal bersih dan tertata rapi, dengan taman, sungai, serta pegunungan yang menambah keindahan dan menyediakan jalur rekreasi bagi warganya.

HWPL adalah organisasi yang memiliki tujuan untuk mencapai perdamaian dunia melalui solusi komprehensif yang melibatkan para pemimpin, perempuan dan pemuda dari berbagai budaya, keyakinan, dan wilayah. HWPL terlibat dalam berbagai inisiatif, seperti mempromosikan pendidikan perdamaian, mengadvokasi Deklarasi Perdamaian dan Penghentian Perang (DPCW), dan menyelenggarakan KTT perdamaian dunia untuk menumbuhkan budaya damai. Organisasi ini berafiliasi dengan Departemen Komunikasi Global PBB (DGC) dan memiliki Status Konsultatif Khusus dengan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC).

Pada tanggal 18 September setiap tahunnya menjadi momentum pelaksanaan HWPL Global Peace Leaders Conference sebagai sebuah forum besar yang menyatukan misi bersama untuk perdamaian dunia. Terpetakan dari beberapa laporan, tak kurang 25 ribu masyarakat menjadi relawan HWPL sebagai bentuk dukungan untuk menjaga dunia tetap damai dan harmoni. Ibarat tamu agung, pengurus pusat dengan sejumlah relawan IWGP menyambut kedatangan delegasi Indonesia dengan komandan Ketua IWPG Indonesia, Ana Milana Puspitasari, di Bandara Internasional Incheon menuju Hotel Enford. Pada hari Kamis, tanggal 18 September 2025, seluruh delegasi Indonesia dan belasan negara lainnya mengikuti conferensi di Cheong Ju Church dengan pelayanan sangat istimewa.

Dari sepuluh orang delegasi Indonesia, dua di antaranya dari Aceh, yakni dari Balai Syura Ureung Inong Aceh dan dari Rumah Baca Lentera Habibi. Selebihnya, empat perwakilan media, yakni Suara Pembaruan, Indo Tren, TV One, BTV, dan Lentera Kartini dari Sampit. Juga dua pengurus IWPG Indonesia.

Pada hari kedua dan ketiga, saya dan kawan-kawan sudah dengan agenda khsusus IWPG yang dipusatkan di Hotel Enford. Konferensi IWPG terbagi menjadi beberapa sesi, termasuk memberikan penghargaan atas sejumlah kerja baik para tokoh perempuan dunia dari berbagai negara yang bergerak untuk isu women peace. Adapun sesi berbagi pengalaman dan praktik baik disampaikan oleh beberapa narasumber, di antaranya, Kim Simplis Barrow (mantan Ibu Negara Belize), Hon. Maria Theresa R. Timbol (Wakil Wali Kota Kapalong, Davao Del Norte, Philiphina), H.E. Bouare Bintou Foune Samake (mantan Menteri Perempuan, Anak, dan Keluarga Mali).

Hampir semua mengungkapkan hal senada bahwa selama ini keterlibatan perempuan sering tidak dianggap, tapi hari ini kita bisa lihat bahwa peran perempuan sangat penting. Mereka juga menekankan bahwa perdamaian dunia tidak bisa dicapai tanpa peran perempuan, semua pihak harus ikut terlibat dalam menjaga dan merawat perdamaian dunia. Mereka juga mendorong agar lebih banyak lagi pemimpin perempuan di dunia agar perdamaian dapat terus dirawat dan dijaga.

Setelah beberapa hari di Korea, saya melihat bahwa negeri ini memang sangat romantis sesuai dengan apa yang ada di drama-darama Korea. Negara ini sangat bersih, pengaturan terkait sampah sudah sangat baik karena diwajibkan untuk memilah sampah, trotoar menjadi surga bagi pejalan kaki, dan kedai skin care dengan berbagai tawaran produk yang berjejeran di setiap sudut kota, makanan korea juga tentu menjadi incaran.

Kembali kepada fokus bahwa IWPG pusat juga mendorong dan membuka peluang untuk saling mendukung dan bekerja sama dengan banyak lembaga dari sejumlah negara dan salah satunya adalah Indonesia. Saya dan teman-teman di hari akhir acara akhirnya berjibaku dalam diskusi serius untuk merancang objektivitas gerakan bersama yang akan dilakukan satu tahun ke depan di Aceh dan Sampit (Kalimantan Tengah) dalam rangka menyebarluaskan pendidikan damai dengan fokus pada penguatan agensi dan peningkatan SDM perdamaian di tingkat komunitas.

Pemilihan ini tak terlepas dari kondisi bahwa Aceh dan Sampit pernah menjadi daerah konflik dan trauma konflik masih belum pulih. Dua puluh tahun damai Aceh adalah momentum yang perlu dirawat dengan pendidikan damai yang mengakar dan ruang keadilan untuk penglibatan perempuan pada seluruh sektor pembagunan secara setara adalah sebuah keharusan. Suara dan peran perempuan jangan berbatas pada saat pemilu atau sekadar pendamping hidup.

International Women’s Peace Group (IWPG) memiliki cabang di berbagai negara. Berdasarkan informasi terbaru, IWPG memiliki 114 cabang di 123 negara dan 808 organisasi mitra di 66 negara. Beberapa negara yang disebutkan sebagai lokasi cabang IWPG, antara lain: Asia (Korea Selatan, Mongolia, Filipina, Indonesia); Amerika (Kolombia, Meksiko, Brasil [tidak disebutkan secara eksplisit, tapi disebutkan sebagai bagian dari kegiatan di Amerika Latin]); Afrika (Uganda, Pantai Gading, Afrika Selatan, Malawi); dan Eropa (Ceko).

IWPG juga memiliki kegiatan di negara-negara lain, seperti Fiji, India, Bangladesh, Pakistan, Afghanistan, dan Kazakhstan. Jumlah pasti negara anggota IWPG mungkin lebih banyak daripada yang disebutkan di atas, karena IWPG terus berkembang dan melakukan kegiatan di berbagai wilayah.[]

Penulis adalah anggota Dewan Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh.

Serunya Belajar Membuat Tempe di Rumoh Pangan Aceh

Saat menyantap gurihnya tempe di piring makan kita, kita hanya fokus pada rasa yang dicecap oleh lidah. Tempe tidak “sesederhana” harganya yang murah. Ia adalah karya yang lahir dari ketelatenan dan keuletan para pengkarya. Ia sumber protein nabati yang kaya manfaat.

“Tempenya enak, I am very full,” celoteh Ummi girang setelah menghabiskan seporsi besar makan siangnya yang kumasak dengan beragam lauk pauk sehat, salah satunya tempe.

Sejujurnya, tidak ada perlakuan khusus pada tempe yang kusajikan siang itu. Tempenya hanya kutaburi sejumput garam, lalu kugoreng hingga matang. Walaupun cara memasaknya terkesan simpel, tetapi justru proses pembuatan tempenyalah yang istimewa.

Sajian tempe yang kuhidangkan di rumahku saat itu berasal dari bahan baku tempe olahanku sendiri yang dihasilkan melalui pelatihan pembuatan tempe dari program Rumoh Pangan Aceh (RPA) pada tanggal 23-24 Agustus 2025.

Program edukasi ketahanan pangan itu berlangsung selama dua hari di Rumah Tempe InoPi, yang berlokasi di Alue Naga, Syiah Kuala, Banda Aceh.

InoPi merupakan singkatan dari Inovasi Pangan Indonesia yang menjadi subbisnis dari organisasi masyarakat Rumoh Pangan Aceh. Rumah Tempe InoPi menjadi pusat produksi sekaligus pusat edukasi tempe sehat yang dikelola oleh Rumoh Pangan Aceh.

Atas: proses penyortiran kacang. Bawah: pengupasan kulit kacang.

Produk tempe berkualitas yang dihasilkan berasal dari bahan baku pilihan seperti kacang kedelai dan kacang koro. Selain menjadi rumah produksi tempe segar untuk masyarakat, tempat ini juga menjadi wadah pemberdayaan komunitas lokal untuk mengampanyekan informasi terkait pangan lokal yang sehat lagi bergizi.

Selalu ada kejutan di setiap proses pembelajaran, termasuk saat belajar membuat tempe dari nol.

Dalam pelatihan ini, aku dan para peserta hadir tidak hanya untuk belajar memahami proses pembuatan tempe secara teoretis. Akan tetapi, kami juga langsung diajak terjun ke dapur produksi tempe InoPi.

Kami bertemu dengan para ibu, warga Gampong Alue Naga, yang bekerja di sana. Menurut info yang kuterima, bahan kacang koro yang digunakan untuk membuat tempe InoPi ini berasal dari hasil kebun petani lokal di Aceh yang dibina langsung oleh Rumoh Pangan Aceh.

Para peserta diajak menikmati proses langsung pembuatan tempe tahap demi tahap. Kami menyentuh langsung kacang koro berwarna putih sekeras batu dan belajar menyortirnya satu-satu. Kami juga diajak terjun langsung mengupas kulit kacang koro yang sudah direndam semalaman, kemudian dicincang, dicuci, dan dibersihkan.

Atas: kacang dikeringkan setelah dicuci bersih. Bawah: proses penggilingan kacang dengan mesin.

Aroma sianida yang kuat tercium saat kacang koro direbus dan kemudian dicuci bersih dengan air mengalir berkali-kali. Hal itu mengingatkanku pada proses pengolahan bahan pangan janeng—umbi beracun dari Aceh—yang tampak serupa.

Sebagai tipe pembelajar praktis, pengalamanku di hari pertama dan kedua sungguh berbeda. Saat ragam teori terkait pembuatan tempe dipaparkan, aku merasa bosan dan kantuk pun menyerang dengan teramat sangat.

Namun, hari kedua terasa berbeda, semangat belajarku sungguh membara. Di hari kedua, semua inderaku terasa hidup.

Kulitku merasakan sensasi dinginnya air mengalir dan panasnya tungku kayu untuk merebus kacang koro dan kedelai. Mataku dimanja dengan beragam rupa peralatan dan ragam aktivitas peserta dan pelatih yang melakukan praktik pembuatan tempe bersama di dapur produksi.

Ragi tempe.

Telingaku dipenuhi ragam dengung mesin pemotong koro dan pengupas kulit kedelai yang sebelumnya tak pernah kukenal. Hidungku menangkap rupa-rupa aroma, dari bau langu yang menggangu hingga gurihnya aroma tempe yang siap disantap bersama.

Tentu saja, lidahku turut mengecap nikmat ragam tektur dan rasa tempe yang terbuat dari kedelai, koro, atau pencampuran keduanya.

Dari seluruh rangkaian aktivitas membuat tempe sehat yang sungguh asyik, ternyata ada tantangan besar lainnya yang baru aku sadari. Bahwa, selayaknya membuat tape, proses pembuatan tempe juga ternyata tak lantas langsung berhasil, alias bisa saja gagal.

“Setelah paham rumitnya membuat tempe, kalau di pasar pedagang menawarkan harga 5 ribu sebatang, akan saya tawar ulang. ‘6 ribu saja, boleh, Bang?’” kisah salah seorang ibu yang sedang membersihkan kacang koro bersama kami sambil terkekeh.

Atas: tempe yang sudah jadi dengan tekstur yang sangat bagus. Bawah: tempe yang sudah digoreng menghasilkan warna yang keemasan.

Pemilihan ragi dan cara menaburnya ke kacang kedelai dan koro—yang telah bersih, masak, dan kering—dengan tepat menjadi penting, juga proses pengemasan dengan menggunakan plastik atau dedaunan pilihan, bahkan kehadiran suhu ruang fermentasi yang harus tepat (29-32 derajat celsius) menjadi sederet faktor lainnya yang menentukan keberhasilan atau kegagalan pembuatan tempe.

“Jadi tempe ini tidak dapat dibuat di suhu dingin, termasuk di suhu negara bersalju,” ungkap Puteri, Sang Manager Operasional InoPi.

Aku terkesima dengan pernyataan tersebut. Sumber protein nabati yang sangat aku gemari karena rasanya yang enak dan harganya yang cukup terjangkau itu ternyata perlu melalui proses pembuatan yang sangat panjang, bahkan berpotensi gagal.

Tim RPA bersama para peserta pelatihan membuat tempe.

Pada akhirnya, aku sadar bahwa hal yang mungkin kita kira sederhana dan mudah kita dapatkan layaknya tempe, ternyata membutuhkan keuletan dan kesabaran yang tidak sedikit oleh para pengrajinnya. Syukur menggunung seketika timbul dalam lubuk hatiku yang terdalam.

Ada begitu banyak orang-orang terampil yang dengan tabah dan ikhlas berkarya untuk menghasilkan produk pangan sehat terbaik. Sehingga konsumen seperti kita dapat dengan mudah menyantap dengan nikmat dan berkata, “Hmm… enaaakkk!”

Jika Anda tertarik untuk mencobanya di rumah, berikut saya terakan juga tata cara pembuatannya.

Tata Cara Membuat Tempe Kedelai

BAHAN BAKU

  • Kacang kedelai
  • Ragi (1 gr ragi/1 kg kacang)
  • Air bersih

PERALATAN DAN MESIN PEMBUATAN TEMPE

  • Dandang
  • Kompor
  • Wadah plastik
  • Saringan
  • Kipas angin
  • Saringan plastik
  • Ember
  • Timbangan
  • Jarum pelubang yang sudah disterilisasi
  • Sealer
  • Mesin penggiling kedelai
  • Termometer digital

PIHAK TERKAIT

  • Supervisor produksi
  • Staff produksi

PROSEDUR

Hari Pertama:

Kacang Kedelai

  1. Pengrajin tempe menyortir kacang kedelai secara manual dan memisahkan yang rusak
  2. Kacang kedelai direndam selama 1 jam
  3. Kacang kedelai direbus selama 45 menit
  4. Kacang kedelai direndam selama 24 jam

Hari Kedua:

Kacang Kedelai

  1. Kacang kedelai digiling dengan mesin penggiling kedelai untuk memisahkan kacang dan kulit ari
  2. Kacang kedelai dicuci bersih dan dibilas sebanyak 3 kali
  3. Kacang kedelai direbus selama 30 menit
  4. Kacang kedelai ditiriskan dan dikeringkan dengan cara menyebarkannya secara merata di atas meja yang dilapisi dengan kain katun dan menggunakan kipas angin
  5. kacang kedelai dimasukkan ke wadah plastik dan diberi ragi dengan rasio 1 kg kacang kedelai sama dengan 1 gram ragi tempe
  6. Kemasan plastik dilubangi dengan jarum pelubang yang sudah disterilisasi
  7. Kacang kedelai dimasukkan kedalam plastik kemasan yang sudah dibolongi kemudian ditutup menggunakan sealer
  8. Kacang kedelai dimasukkan ke dalam ruangan fermentasi bersuhu 29-32 derajat celcius dan diletakkan di rak fermentasi selama 30 jam
  9. Setelah 30 jam tempe dikeluarkan dari ruangan fermentasi dan dipindahkan ke meja penyimpanan dan plastik tempe dilubangi lagi agar tempe masak dengan sempurna

Hari Keempat:

  1. Tempe kacang kedelai siap diolah lebih lanjut.[]

Aceh yang Kaya, tetapi Mengapa Kebanyakan Rakyatnya Justru Jauh dari Kata Sejahtera?

Jika melihat dengan empati dan mata hati, maka kita akan menyadari bahwa tidak sedikit orang muda yang tinggal tak jauh dari sekolah dan kampus terbaik di Aceh, justru tidak mendapatkan kesempatan dan akses untuk mengenyam pendidikan di sana.

Mak Yet (53)
Warga Desa Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh

Waktu itu, usia saya sekitar 17 tahun. Saat libur sekolah di Banda Aceh, teman akrab saya mengajak untuk menginap di rumahnya, di Tangse. Di sanalah pertama kali saya melihat langsung gunung dibakar semasa konflik bersenjata. Saat itu barulah saya sadar bahwa ternyata DOM semengerikan itu. Pahamlah saya alasan mengapa orang-orang melarikan diri ke Banda Aceh.

Sempat muncul perasaan takut yang teramat sangat, setelah tiga malam saya menginap di Tangse. Bahkan saya sempat tidak berani ke mana-mana setelah penyaksian singkat atas efek kerunyaman yang ditimbulkan akibat konflik bersenjata di Pidie.

Bagi orang muda yang tinggal di seputaran Banda Aceh, sejatinya saya tidak benar-benar mengerti makna DOM itu sendiri. Memang saya sempat mendengarkan desingan bunyi peluru yang berterbangan dari berjarak sekitar dua kilometer dari arah sawah dan rawa sekitar Lhong Raya (Kec. Banda Raya). Tapi bunyi itu cukup jauh. Saya tidak pernah tahu sebelumnya kalau pergolakan konflik bersenjata terjadi begitu panas di daerah-daerah.

Mungkin kengerian serupa yang menjadi alasan kuat bagi ayah menghapus marganya dari belakang nama saya dan tiga saudara lainnya. Sitompul, garis keturunan dari Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Bukan hanya dari ijazah, nama marga itu bahkan sudah sirna sejak pembuatan akta kelahiran kami.

Walau ibu saya seorang asoe lhok dari Lhong Raya serta saya yang lahir dan besar di Banda Aceh, tetap ada rasa pilu ketika mengingat bahwa konflik bersenjata menjadi penyebab saya beserta saudara lainnya harus menghilangkan identitas diri hanya demi memperoleh rasa aman, bahkan mungkin agar bisa lepas dari petaka bernama ajal.

Sempat suatu kali, di saat kegentingan efek DOM sudah mulai menjalari Banda Aceh, ayah berkeinginan untuk kembali ke kampung halamannya di Tapanuli. Namun, niat tersebut diurungkannya. Ayah bilang, “Alah, kalau mati, matilah!”

Ayah sangat pintar berbahasa Aceh. Namun logat Bataknya tetap mencuat kuat. Saat berbicara dalam bahasa Aceh, tutur katanya menjadi runut dan terdengar lebih lembut. Dia adalah seorang laki-laki Tapanuli Utara yang memilih merantau ke Banda Aceh demi mencari rezeki untuk menyambung hidup setelah orang tuanya meninggalkan dunia.

Saya rasa tentu berat bagi ayah menanggalkan kenangan indah satu-satunya dari kampung halamannya—sempena nama marga Sitompul—dari anak-anaknya. Akan tetapi tampaknya ayah lebih mementingkan keselamatan kami. Sebab marga tersebut bukan saja menghadirkan identitas kesukuan yang berbeda, tetapi juga dapat menyiratkan identitas sebagai mayoritas dari pemeluk agama yang tak sama.

Sepertinya ayah paham betul bahwa ada identitas yang menguntungkan dan ada pula identitas yang jika dimunculkan pada waktu dan saat yang salah akan berbuah petaka.

Kembali ke masa konflik bersenjata di provinsi terbarat Indonesia. Ungkapan “apalah arti sebuah nama,” benar-benar tidak berlaku di wilayah ini. Saya, mahasiswi Pendidikan Seni di Universitas Syiah Kuala—yang bertolak dari Aceh menuju Medan demi mengikuti Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas)—menjadi saksi hidup akan betapa nama di masa itu bisa seberharga nyawa.

Dalam perjalanan, berkali-kali bus kami dihentikan. Penyebabnya karena di dalam bus terdapat nama-nama yang disinyalir menunjukkan identitas kesukuan berbeda. Sebab nama mereka didominasi huruf O. Huruf khas yang menyirat kental kesukuan dominan dari lawan politik semasa konflik bersenjata.

Namun, tampaknya keberuntungan masih berpihak ke pada kami, kartu resmi dari kampus yang menunjukkan identitas kami sebagai mahasiswa membuat kami mengantongi izin untuk melanjutkan perjalanan.

Kini di tahun 2025, saat kembali merefleksikan momentum 20 tahun Aceh damai, sebagai seorang guru dan seorang nenek yang sudah memiliki cucu, alih-alih merasa gempita, saya justru gusar. Dua dekade damai di Aceh terlihat bagaikan api dalam sekam. Kedamaian yang tampak semu di mata masyarakat awam seperti saya tentunya.

Saya tidak kunjung paham akan tujuan sesungguhnya dari perjuangan berdarah-darah rakyat Aceh di masa konflik bersenjata terdahulu. Bahkan, kini saya ragu akan hasil kedamaian sejati yang konon katanya dihadirkan demi kesejahteraan rakyat kecil.

Saya melihat Aceh sebagai daerah yang sangat kaya, tetapi mengapa kebanyakan rakyatnya justru jauh dari kata sejahtera. Apa karena ambisi segelintir orang yang mau hidup sempurna? Sehingga rela mengorbankan banyak hal, termasuk rasa kemanusiaan.

Sebagai guru, saya merasa tugas mendidik kian hari kian berat. Guru diwajibkan untuk mengarahkan anak-anak melalui sentuhan emosi dan memberi pemahaman agar mereka tidak menjadi orang yang mengambil hak orang lain.

Para guru berusaha mengajarkan anak-anak murid di sekolah untuk menjadi orang baik, berkasih sayang, dan menjadi jujur. Namun, apa lacur, kebanyakan anak-anak di zaman kini telah kehilangan teladan, baik dari sosok orang tua maupun para pejabat daerahnya.

Belum lagi kesempatan untuk mencerdaskan diri yang tampak semakin tidak mungkin. Andai kita bijak berkaca dari runyamnya pendidikan di masa DOM, di mana banyak anak-anak Aceh yang berhenti belajar karena sekolah-sekolah mereka dibakar. Kini, di masa yang katanya damai ini, mimpi buruk itu seakan terulang kembali. Kampus-kampus yang seharusnya menjadi Jantong Ate Rakyat Aceh itu sekarang seakan tak lagi memprioritaskan pendidikan putra-putri daerahnya sendiri.

Layaknya kata pepatah, “Bagaikan ayam yang mati di lumbung padi”, jika melihat dengan empati dan mata hati, maka kita akan menyadari bahwa tidak sedikit orang muda yang tinggal tak jauh dari sekolah dan kampus terbaik di Aceh tapi tidak mendapatkan kesempatan dan akses untuk mengenyam pendidikan di sana.

Tidak ada keringanan, tidak diprioritaskan, walau para ahli perdamaian bersepakat bahwa dukungan dan perlindungan terbaik harus diberikan kepada orang-orang yang sudah mengalami masa suram yang begitu panjang selama kejadian pelanggaran HAM berat, para penyintas konflik bersenjata di Aceh misalnya.

Jika melihat dengan empati dan mata hati, maka kita akan menyadari bahwa tidak sedikit orang muda yang tinggal tak jauh dari sekolah dan kampus terbaik di Aceh, justru tidak mendapatkan kesempatan dan akses untuk mengenyam pendidikan di sana.[]

Semoga Harga Beras Bisa Murah

Harapan saya sebagai ibu rumah tangga tidak muluk-muluk, semoga harga beras bisa lebih murah.

Eva Kusmaningsih (43)
Warga Desa Ilie, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh

Saya warga asli Banda Aceh. Lahir dan besar di ibu kota provinsi. Saat masa-masa konflik dulu situasi di Banda Aceh cenderung lebih “aman” dibandingkan di daerah-daerah lain di Aceh.

Namun, bukan berarti kami sama sekali tidak merasakan suasana yang mencekam. Sebelum tahun 2000-an, saya bersekolah di kawasan dekat Kampus Universitas Abulyatama di Gampong Lam Ateuk, Aceh Besar. Kadang-kadang kami kesulitan mendapatkan angkutan umum (labi-labi) jika keadaan sedang tidak kondusif.

Kemudian, di sore hari, karena ada pemberlakuan jam malam, jadi sejak pukul enam sore hingga pukul enam pagi suasana di kampung sudah sangat sepi. Kalau malam tidak bisa ke mana-mana.

Sebagai ibu kota provinsi, di Banda Aceh juga sering terjadi demo-demo oleh mahasiswa. Waktu itu saya berpikir, kapan Aceh aman?

Alhamdulillah, sekarang kita sudah merasakan perdamaian. Setelah damai ini, sebagai masyarakat kecil, harapan saya tidak muluk-muluk. Saya seorang istri dan ibu dari empat anak.

Suami saya bekerja di gudang gas LPG sebagai buruh dengan penghasilan yang tidak besar. Saya sendiri juga bekerja sebagai petugas cleaning service di sebuah rumah sakit di Banda Aceh. Pendapatan saya tiap bulan di bawah UMR.

Saya sangat bersyukur karena tidak menganggur, meskipun dengan penghasilan yang kami peroleh mustahil kami bisa menabung. Sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sangat bersyukur.

Kami memiliki empat orang anak. Yang sulung sudah tamat SMA dan tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena keterbatasan keuangan kami. Saat ini anak sulung kami juga sudah bekerja dan masih menyimpan harapan bisa kuliah.

Yang kedua dan ketiga juga sedang dalam masa pendidikan. Sedangkan yang terakhir belum bersekolah, baru berusia tiga tahun.

Sebagai ibu rumah tangga, harapan saya adalah harga beras bisa lebih murah. Dengan enam orang anggota keluarga, kami bisa menghabiskan beras hingga tiga sak setiap bulannya.

Dengan harga beras seperti sekarang, kami harus mengeluarkan Rp700 ribu per bulan hanya untuk beras. Tapi kan kita tidak makan nasi saja? Perlu juga ikan, lauk.

Belum lagi harga bahan pokok yang lain juga mahal-mahal. Mulai dari gula sampai minyak. Semoga ini menjadi perhatian pemerintah.

Kalau yang lain, seperti pelayanan di kantor-kantor pemerintah, saya lihat sudah baik. Ini pengalaman, saya, ya. Mungkin berbeda dengan orang lain. Tapi yang paling terasa adalah di ekonomi.

Kemudian, kalau bisa biaya di perguruan tinggi juga jangan terlampau mahal sehingga masyarakat seperti kami ini bisa menyekolahkan anak hingga ke universitas.[]

Ayah Menggali Lubang untuk Tempat Kami Bersembunyi

Saat balita, adik saya pernah melihat orang berbaju hitam menodongkan senjata pada mamak. Saat bisa bicara, adik saya menjadi gagap. Entah karena trauma itu penyebabnya, saya tidak bisa memastikannya.

Fitriyani (33)
Warga Luengbaro, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen

Saya Fitriyani. Ketika masa konflik, saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Dalam ingatan saya yang agak samar-samar, saya sering bermain dengan adik yang paling kecil, umurnya masih satu tahun. Adik saya badannya gemuk, kulitnya putih. Saya sering menggendongnya.

Siang hari tentara sering berdiri di depan rumah kami. Entah untuk berjaga atau apa, saya tidak tahu jelas. Ayah saya seorang pegawai negeri sipil (guru), jadinya para tentara cukup baik pada ayah. Terkadang, ada juga yang menodongkan senjata sehingga ayah harus menampakkan surat-surat sekolah sebagai bukti ia abdi negara.

Ada hari yang mencekam saat kontak senjata antara GAM dan TNI terjadi di desa kami di Luengbaro, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen.

Ketika mobil tank lalu-lalang di depan rumah kami. Saat suara bom menggelegar dan menggetarkan tanah. Kami tidak tidur di atas kasur atau di dalam kamar, tapi di tanah yang beralaskan terpal biru.

Ayah menggali lubang di dalam rumah untuk tempat persembunyian saya, mamak, dan adek. Agar peluru tidak mengenai kami. Itu trauma yang masih saya rasakan saat ini, takut gelap.

Di malam hari, sering terdengar suara langkah sepatu yang berat. Ayah selalu tidur di balik pintu sehingga bisa langsung membukanya ketika ada yang mengetuk pintu. Yang datang laki-laki, mereka minta beras, uang, kadang bebek atau ayam juga.

Adik saya dulu sampai takut setiap melihat orang memakai baju hitam. Pernah di suatu siang, kami tinggal bertiga di rumah: adik, saya, dan mamak. Lalu, datang tentara berpakaian hitam dan menodongkan senjata di pelipis mamak. Sedangkan adik saya dalam gendongan mamak. Orang itu bertanya, ayah saya di mana, apakah ayah saya seorang GAM?

Itu menjadi trauma berat untuk adik saya. Sampai saya kelas 5 SD kalau saya tak salah ingat. Setiap dia melihat orang berbaju hitam, dia pasti menangis tak henti-henti. Sampai-sampai mesti dirajah untuk mengembalikan semangatnya (tueng seumangat).

Lambat laun ia mulai sembuh dari ketakutan itu. Tapi saatnya bisa bicara, adik saya menjadi gagap. Entah karena trauma itu penyebabnya, saya tidak bisa memastikannya.

Banyak juga orang hilang di desa kami. Hampir tiap hari suara tam tum terdengar. Tak jauh di depan rumah kami ada kamp tentara, mereka sering turun ke rumah kami. Ada yang baik, ada yang sebaliknya.

Yang baik sering memberi kami roti (ransum) yang keras. Ada yang membacakan cerita dongeng. Ketika sedang tidak kontak senjata, mereka sering duduk ramai-ramai di depan rumah kami. Halaman rumah penuh dengan manusia berbaju loreng.

Saat kamp itu kosong, justru GAM yang sering ke rumah kami. Mereka makan di rumah kami. Mamak selalu kewalahan untuk masak dalam jumlah besar. Setelah makan, mereka pulang dengan membawa beras, bebek, ayam, kadang sejumlah uang yang diberikan ayah semampunya.

Pernah sekali waktu, ayah menyuruh kami buru-buru masuk ke lubang persembunyian. Saya dan adik ditidurkan beralaskan bantal, semua duduk di lubang itu. Ternyata, sesaat kemudian lewat mobil tank, diikuti gelegar suara bom. Jaraknya sekitar dua kilometer dari rumah kami.

Harapan saya, jangan ada lagi konflik di Aceh, apa pun jenis dan bentuknya. Karena masih banyak anak-anak yang dulu terpapar langsung dengan kekerasan konflik, sekarang mereka sudah dewasa dan masih belum pulih dari rasau trauma.

Semoga damai ini abadi. Pemerintah Aceh juga tidak boleh melupakan orang-orang yang telah berjasa di masa lalu.[]

Sistem Pendidikan dan Pelayanan Publik Perlu Diperbaiki

Ada beberapa aspek yang menurut saya perlu dibenahi seperti sistem pendidikan atau perbaikan pelayanan publik di segala bidang.

Maria Ulva (38)
Gampong Blang Garot, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie

Kondisi sebelum damai sangat mencekam. Saya tinggal di daerah yang dianggap paling rawan dan pusat persembunyian GAM. Kampung saya di Gampong Blang Garot, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie.

Setiap hari pasti terdengar kontak senjata. Ketika itu, saya masih menjadi siswa SMP. Menjelang malam (mulai pukul 6 sore hingga pukul 6 subuh), sudah tidak ada masyarakat yang berani keluar rumah. Berada di dalam rumah pun masih ketakutan.

Bukan tidak mungkin rumah-rumah penduduk justru menjadi sasaran orang GAM yang ingin bersembunyi atau didatangi aparat yang ingin mencari orang GAM.

Yang paling menakutkan itu ketika diterapkannya darurat militer sekitar tahun 2002-2004, sebelum tsunami terjadi. Saat itu, kendaraan bermotor tidak dibenarkan beroperasi sehingga kami harus ke sekolah menggunakan sepeda menempuh jarak 10 km.

Dan kondisinya benar-benar tidak aman karena kontak senjata bisa terjadi kapan saja. Bahkan pengeboman juga sering terjadi saat itu.

Penyisiran dilakukan secara besar-besaran di setiap kampung sehingga banyak kampung yang terpaksa mengungsi di masjid atau musala. Kemudian, banyak masyarakat yang tidak bersalah menjadi target aparat ketika mereka menanyakan di mana GAM.

Setelah tsunami saya mulai mendengar kabar tentang perdamaian Aceh. Saya mendengar berita di TV dan juga perbincangan warga bahwa Aceh sudah damai. Banyak juga masyarakat yang saat itu tidak peduli lagi dengan kondisi konflik karena duka yang mendalam akibat kehilangan keluarga dan sanak saudara setelah tsunami.

Sebagai remaja yang pernah merasakan ketakutan saat-saat konflik melanda Aceh, sudah pasti saya berharap agar Aceh bisa tetap aman dan damai. Sekarang keluar rumah di malam hari tidak perlu takut, bisa bekerja dengan aman, tidak ada lagi pemeriksaan-pemeriksaan seperti dulu.

Untuk kondisi saat ini menurut saya sudah ideal karena kita sudah merasa aman. Mau keluar rumah pukul 2-3 malam pun tidak perlu takut lagi. Namun, saya juga memiliki harapan agar damai ini menjadi lebih berarti bagi kita.

Ada beberapa aspek yang menurut saya perlu dibenahi, seperti sistem pendidikan atau perbaikan pelayanan publik di segala bidang. Jangan lagi kalau misalnya ada yang dikenal atau istilahnya “orang dalam”, maka fasilitas itu baru bisa kita digunakan dengan baik. Agar daerah kita bisa maju, maka hal-hal seperti ini masih harus diperhatikan dan dibenahi.

Dan juga, lebih baik untuk tidak lagi membahas luka lama agar bisa hidup berdampingan dengan semua pihak. Aktivitas sehari-hari saya sekarang adalah sebagai guru di sebuah madrasah aliah di Pidie.[]

Nyawa yang Dihabisi Mungkin Tidak Pernah Bisa Kita Ikhlaskan

Bukan karena saya tidak takut, akan tetapi passion berbisnis yang saya miliki menambah sejumput keberanian untuk terus maju di masa mencekam itu.

Nasriana (55)
Warga Gampong Meunasah Bak U, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar

Saya lahir di Gampong Meunasah Bak U, Kecamatan Leupung, pada 18 September 1970. Saya ingin mengisahkan sekelumit pengalaman hidup ketika melalui masa-masa kelam selama konflik bersenjata di Aceh.

Tahun 1990-an, ketika konflik terjadi, saya sudah menjalankan bisnis mode dengan menjual pakaian dari Jakarta yang kemudian dibawa masuk ke Malaysia melalui penerbangan Medan. Tahun 1997 dan 1998, kondisi Banda Aceh cenderung aman, tetapi berbeda dengan kondisi di daerah-daerah. Selama perjalanan bisnis itu, momentum konflik bersenjata terpanas di Aceh yang saya rasakan terjadi pada tahun 1999.

Di masa konflik bersenjata, saya memang jarang menetap di gampong karena harus bolak-balik melakukan perjalanan bisnis. Namun, selama perjalanan saya kerap melihat langsung masyarakat yang dihilangkan secara paksa saat sweeping militer.

Walau di tengah runyam masa konflik bersenjata, saya tetap memutuskan berbisnis ke Malaysia. Bukan karena saya tidak takut, akan tetapi passion berbisnis yang saya miliki menambah sejumput keberanian untuk terus maju di masa mencekam itu.

Kami pernah ditodong senjata di Lhoksemawe. Lutut gemetar, jantung berdebar kencang. Ada sekitar 2-3 kali saya melihat penumpang yang diambil dan dihilangkan. Saya terus berselawat selama perjalanan itu.

Saya tidak merasakan secara instens efek dari konflik bersenjata. Akan tetapi, keluarga besar saya yang menetap di Leupung menjadi korban dari sengketa senjata antara TNI dan GAM. Di lorong rumah kami di Leupung, baku tembak terjadi.

Akan tetapi tetap saja, bencana kemanusiaan tersebut tetap menyisakan serpihan luka di batin saya. Walau tidak melihat dan tidak merasakan secara langsung penyiksaan atau pembunuhan semasa konflik, akan tetapi kenangan ngeri tersebut tetap saja menghantui hingga kini.

Kalau melihat senjata, rasanya trauma berat. Kalau gempa-tsunami itu saya pikir memang takdir, ya, sudahlah. Tetapi masa konflik itu menderita sekali. Nyawa yang dihabisi mungkin tidak pernah bisa kita ikhlaskan.

Leupung memiliki sejarah panjang yang cukup kelam. Kecamatan Leupung bukan saja salah satu wilayah terparah di Aceh yang dihantam bencana megatsunami, melainkan juga daerah bekas konflik bersenjata.

Di wilayah ini, gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dari Daerah IV Sagoe XXV (struktur militer GAM Aceh Rayeuk) melakukan operasinya.[]