DENGAN sigap Nek Sila menaiki panteu yang diikat khusus di batang pohon aren. Batang pohon aren itu tak terlalu tinggi. Hanya dengan berdiri di panteu yang tingginya tak sampai satu meter itu, Nek Sila sudah bisa menjangkau tandan buah aren jantan yang lebat. Sepintas, bentuk buahnya mirip kurma muda. Hanya saja, kulit buahnya tampak ungu kecokelatan. Tangkai buahnya juga panjang dan menjuntai ke bawah. Nek Sila kemudian memukul-mukul tangkai tandan aren dengan kayu yang panjangnya kira-kira sehasta. Pukulannya pelan-pelan saja.
Nek Sila adalah panggilan sehari-hari bagi Isnaini. Ia salah satu warga Kecamatan Samar Kilang yang kini aktif memproduksi gula aren bersama anggota kelompok lainnya. Hari itu, Selasa, 16 Juli 2025, Nek Sila sedang memeragakan cara “mempersiapkan” buah aren jantan atau mayang jantan sebelum disadap untuk diambil niranya.
Lazimnya, penyadapan nira dilakukan oleh laki-laki karena batang pohonnya tinggi-tinggi. Namun, menurut rekan Nek Sila, Mak Iwan, ada juga perempuan yang melakukannya.
“Misalnya perempuan yang suaminya sudah meninggal, kadang terpaksa dia harus menyadap nira demi menafkahi keluarga. Kalau enggak, nggak bisa makan,” kata Mak Iwan yang aslinya bernama Saedah.
Pohon aren itu adalah milik Ama Tris. Tumbuh di kebun yang letaknya persis di pinggir Krueng Jamboe Ayee yang hilirnya ada di Selat Malaka. Selain aren, di kebun itu juga banyak tumbuh janeng. Salah satunya tumbuh dan menjalari batang pohon aren itu. Nek Sila bersama rekan-rekannya sering ke kebun itu untuk mengambil umbi janeng.
Sebelumnya, Ama Tris sudah lebih dulu mencontohkan bagaimana cara menyadap nira yang muslihat. Diawali dengan membaca bismilah, diikuti membaca dua kalimat syahadat, lalu membacakan “rapalan” singkat yang dalam istilah bahasa Gayo disebut dengan “jangen” atau senandung yang berbunyi:
anakku ni jema mutuah,
aku ni jema legeh,
jema nyanya,
anakku ini orang baik (bertuah)
aku ini orang fakir
orang susah
mudah-mudahan dengan kuasa Allah,
rezeki yang mudah
Senandung itu tak ubahnya seperti ungkapan pujian orang tua untuk membangkitkan semangat putrinya. Barulah kemudian Ama Tris menggoyang-goyangkan tangkai tandannya sambil berselawat sekurang-kurangnya dua—tiga ratus kali.
Prosesi itu setidaknya mesti dilakukan hingga sepekan sebelum mayang jantan dipotong. Dari tandan yang dipotong itulah nantinya cairan batang pohon aren atau nira keluar dan bisa dipanen. Selanjutnya dijadikan bahan baku membuat gula aren.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Gayo, khususnya masyarakat Samar Kilang, pohon aren bukan semata-mata pohon yang buah jantannya dapat menghasilkan nira atau buah betinanya menghasilkan kolang-kaling.
Namun, ia dianggap sebagai jelmaan seorang gadis, seorang anak, yang merelakan dirinya menjadi sebatang pohon demi membebaskan orang tuanya dari utang-utang yang melilit.

Ama Tris saat memeragakan cara menyadap nira.
Legenda mengisahkan, konon pernah hidup sepasang suami-istri yang sangat papa. Namanya Jibon dan Peteri Renggino. Mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Putri Itam. Ketika sang putri sudah baligh, tujuh orang pemuda datang untuk mempersuntingnya. Ironisnya, semua pinangan itu diterima oleh orang tua Putri Itam dengan harapan bisa membebaskan mereka dari jerat utang.
Pada hari yang telah ditentukan, ketujuh pemuda itu pun datang untuk menjemput Putri Itam. Namun, tak mungkin Putri Itam dinikahi oleh semua pemuda itu. Putri Itam pun minta izin kepada orang tuanya untuk mengorbankan diri. Ia memohon kepada Tuhan agar dirinya bisa menjadi pohon yang bermanfaat bagi ayah ibunya. Tak lama setelah itu, Putri Itam pun berubah menjadi sebatang pohon yang kini dikenal sebagai pohon aren atau enau (Arenga pinnata). Dari batang hingga daun pohon aren diyakini sebagai representasi dari anggota tubuh Putri Itam.
“Ijuk yang ada pada pohon aren adalah perwujudan rambut Putri Itam yang hitam dan panjang,” kata Ama Tris.
Karena keyakinan tersebutlah, pohon-pohon aren yang disadap untuk diambil niranya harus diperlakukan dengan baik. Mesti “disayang-sayang” dulu dengan jangen yang menyentuh hati. Jadi, tak sembarang dieksploitasi. Dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Untuk penyadapan, biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari.
“Seumpama orang tua yang menyayangi dan memperlakukan anaknya dengan baik, begitulah selayaknya perlakuan kita kepada pohon aren ini,” kata Ama Tris lagi.
Ama Tris adalah panggilan bagi pemilik nama Muhammad Syam (57). Ia kini menjabat sebagai Mukim Samar Kilang. Mantan kepala Desa Kerlang. Ama Tris—yang menyandang nama anak pertamanya, Tris—adalah mantan penyadap nira di Samar Kilang sehingga ia tahu banyak soal cerita rakyat tersebut. Menurutnya, prosesi yang dilakukan itu bukan sesuatu yang direka-reka sendiri, melainkan ada dasarnya.
“Ada sejarahnya, tidak banyak yang tahu ini,” katanya lagi.
Pukulan-pukulan pada pangkal tandan itu dimaksudkan untuk merangsang supaya nira yang keluar bisa lebih banyak. Warga Samar juga memiliki keyakinan bahwa jika dimanfaatkan dengan baik, pohon aren sangat berpotensi secara ekonomi. Jika orang tersebut memiliki utang, dengan izin Allah akan terlunasi utangnya. Hal ini sesuai dengan “hajat” Putri Itam saat mengorbankan dirinya. Selain, aren memang memiliki banyak manfaat, tak hanya nira dan kolang-kaling, ijuk dan lidi aren juga bisa dijadikan komoditas.

Umbi janeng.
Tak hanya tentang aren, masyarakat Samar juga memiliki cerita rakyat tentang janeng yang konon adalah jelmaan dari setumpuk nasi yang ditaruh di dekat pohon.
“Lama-lama nasi itu tumbuh,” kata Ama Tris.
Karena itulah pohon janeng “memerlukan” pohon atau kayu sebagai jalaran. Masyarakat Samar Kilang juga pernah menjadikan janeng sebagai sumber pokok pengganti nasi saat paceklik. Cerita ini mirip dengan dongeng yang mengatakan bahwa kura-kura berasal dari “setumpuk daging” yang disimpan di bawah cobek batu.
Kini, setelah Katahati Institute hadir di Samar Kilang, aren dan janeng di sana telah diolah menjadi berbagai produk turunan yang bernilai ekonomi.
Namun, mengolah janeng memang memiliki tantangan tersendiri sebab umbi pohon tersebut mengandung zat sianida yang beracun. Ama Tris juga memiliki pengetahuan untuk membedakan mana umbi yang beracun atau tidak.
Totemisme dan Alat Pelestarian Lingkungan

Dari kiri ke kanan: Nek Sila (Isnaini), Mak Iwan (Saedah), Mak Jamur (Rauyah), dan Mak Pira. Perempuan Samar Kilang berperan besar dalam melakukan praktik-praktik pelestarian lingkungan melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.
Praktisi pembangunan Aceh, Bulman Satar, S.Sos., yang juga fokus pada isu-isu antropologi budaya mengatakan, keyakinan warga Samar Kilang yang percaya bahwa aren merupakan jelmaan manusia adalah bentuk lain dari praktik-praktik totemisme. Yakni sistem kepercayaan yang mengaitkan satu individu atau kelompok dengan entitas alami, seperti hewan atau tumbuhan sebagai simbol leluhur atau kekuatan spiritual.
“Totemisme semacam keyakinan yang mengasosiasikan manusia dengan alam. Dalam praktiknya, totemisme bisa menjadi ‘alat’ untuk pemuliaan dan menjadikan tanaman sebagai sesuatu yang sakral. Secara tidak langsung juga dapat menjadi alat dalam melestarikan lingkungan,” kata Bulman, Jumat, 1 Agustus 2025.
Keyakinan serupa juga ditemukan di banyak tempat, khususnya di daerah-daerah yang masyarakatnya sangat bergantung dari hasil hutan. Di Aceh Besar misalnya, juga terdapat keyakinan serupa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh dosen ISBI Aceh, Achmad Zaki, M.A., asal usul pohon aren juga diyakini berasal dari jelmaan seorang putri dari keluarga miskin yang terlilit utang. Namanya Putri Seuno.
“Putri Seuno juga ingin menjadi pohon yang bermanfaat untuk melunasi utang orang tuanya,” kata Achmad Zaki, Minggu, 3 Agustus 2025.
Proses penyadapan nira juga diawali dengan selawat dan dibacakan rapalan senandung, yang di antaranya berbunyi:
nöng hai kuneng,
kaek keunoe kupeumeuen
Ie lam plupeuk kapeuk keuno
Ie lam alue kahue keunoe
Ie lam laot kaboet keuno
Ie lam pucok kajoek keuno
Ie lam bak kasinthak keunoe
Ie lam abeuk kapeuk keuno
“Inti dari senandung tersebut adalah si penyadap menyebutkan segala sumber air, mulai air dari pelepah, dari parit, laut, rawa, untuk naik dan berkumpul di tandan yang akan disadap. Tujuannya adalah untuk membuat tandan nira itu maksimal dalam menghasilkan air. Hal ini merupakan gambaran tradisi lisan merupakan produk masyarakat yang memiliki perannya tersendiri,” katanya.
Lebih lanjut kata Zaki, muatan kearifan lokal yang kaya akan praktik dan pengetahuan tradisional ini berpotensi sebagai sumber ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif yang berbasis pada budaya mendatangkan keuntungan ganda bagi masyarakat. Pertama, menjadikan kekayaan budaya sebagai modal ekonomi dan sosial. Kedua, kelestarian budaya dapat terjaga. Dalam hal ini, masyarakat bukan sebagai objek, melainkan menjadi subjek.
Konsep tersebut menurutnya dapat dikembangkan melalui praktik-praktik ekowisata yang mengedepankan konservasi lingkungan, pendidikan lingkungan, kesejahteraan penduduk lokal, dan menghargai budaya lokal.
“Dalam kaitannya dengan tradisi penyadapan nira ini, baik di Samar Kilang atau di Aceh Besar, ada beberapa hal yang potensial, misalnya pertunjukan syair-syair itu sendiri, proses penyadapannya, dan pengetahuan masyarakat tentang simbol-simbol ketika penyadapain, termasuk produk turunan yang dihasilkan dari nira.”
Apa yang disampaikan Bulman dan Zaki, secara tak langsung memang menjadi misi hadirnya Katahati Institute di Samar Kilang, Mereka menggali berbagai cerita dan nilai-nilai kearifan lokal yang menguatkan narasi tentang keistimewaan janeng dan aren bagi warga Samar atau masyarakat Gayo pada umumnya. Katahati mendampingi dan mengedukasi para ibu ‘ine’ sehingga janeng dan aren Samar Kilang kini bisa hadir sebagai produk yang berkualitas dan bernilai ekonomi. Katahati juga membangun Rumah Pengetahuan HHBK “Umah Uteuen” sebagai pusat aktivitas kelompok dampingan. [bersambung]
