Surat untuk Bupati Mirwan: Tentang Talago, Masa Kecil, dan Masa Depan yang Tidak Bisa Dibeli dengan Emas

Pak Mirwan, pertama kali saya melihat foto Bapak ketika masa kampanye, saya sempat tersenyum sendiri. Gagah, rapi, dan percaya diri.

Entah mengapa, foto Bapak yang terpampang di baliho-baliho jalanan itu mengingatkan saya pada sosok CEO dalam drama Korea atau Cina. Rupawan, gagah, mapan, lalu datang membawa perubahan besar kepada perusahaan yang dipimpinnya.

Barangkali, ini hanya imajinasi seorang perempuan yang terlalu sering menonton drama. Tetapi dari balik candaan kecil itu, sebenarnya ada harapan yang serius.

Saya membayangkan, “Wah, kita punya bupati seorang pengusaha. Mungkin ekonomi rakyat Aceh Selatan akan dibangun dengan cara-cara kreatif.”

Saya membayangkan pengusaha-pengusaha kecil akan tumbuh. Perajin akan naik kelas. Anak-anak muda akan punya ruang untuk berkarya. Pariwisata akan berkembang. Budaya tidak hanya dipelihara sebagai kenangan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan.

Ketika Bapak kemudian benar-benar terpilih dan dilantik sebagai Bupati Aceh Selatan bersama Baital Mukadis pada 17 Februari 2025, harapan itu terasa semakin nyata.

Saya tahu, Bapak menerima amanah yang tidak kecil. Aceh Selatan bukan daerah yang miskin potensi. Justru sebaliknya. Daerah ini terlalu kaya untuk hanya dilihat dari apa yang tersimpan di bawah tanahnya.

Ada laut, gunung, hutan, sungai, mata air, budaya, dan kerajinan yang dilakukan oleh para perempuan yang sejak dulu terbiasa menciptakan sesuatu dengan kedua tangannya.

Maka, ketika belakangan ini persoalan pertambangan kembali begitu ramai dibicarakan di Samadua, saya bertanya-tanya dalam hati:

“Pak Mirwan, dengan latar belakang Bapak sebagai pengusaha, tidakkah Bapak juga melihat betapa banyak yang bisa kita tumbuhkan tanpa harus mengambil terlalu banyak dari perut bumi?”

 Pak Mirwan, bolehkah saya bercerita tentang air?

Saya tidak ingin memulai surat ini dengan tambang. Saya ingin memulainya dengan air. Sebagai perempuan yang lahir dan besar di sebuah kampung bernama Air Sialang, air lebih dari sekadar harta karun. Ia adalah bagian dari ingatan yang tumbuh bersama saya.

Air adalah suara masa kecil yang masih saya dengar sampai hari ini. Suara riaknya yang ketika anak-anak melompat ke dalamnya. Teriakan teman-teman yang saling memanggil dari tepian. Tawa yang pecah tanpa pernah memikirkan harga sebuah kolam renang. Di sanalah kami belajar berenang, belajar berani, berbagi, dan mungkin tanpa kami sadari, belajar mencintai kampung sendiri.

Dan mungkin bagi banyak orang Air Sialang yang kini tinggal jauh dari kampung halaman, ia juga menyimpan kenangan yang tidak bisa dibawa ke mana-mana, kecuali di dalam ingatan.

Salah satu kenangan itu adalah  mata air berbentuk kolam yang kami sebut talago. Di kampung kami ada banyak talago yang sejak dahulu dimanfaatkan masyarakat.

Bagi anak-anak Air Sialang, talago bukan sekadar sumber air. Ia adalah tempat bermain, bertemu, bercanda, belajar berenang. Bahkan banyak anak Air Sialang belajar berenang secara autodidak di sana.

Saya salah satunya. Anak saya juga. Hari ini, ketika saya tinggal di Banda Aceh, anak saya sering bercerita dengan bangga kepada teman-temannya tentang talago di kampung ibunya.

Teman-temannya mungkin harus mengikuti les berenang. Menyewa kolam. Membayar untuk beberapa jam.

Anak saya? Ia cukup pulang ke Air Sialang. Di sana ada talago. Airnya jernih, dingin, dan tidak perlu membeli tiket untuk menikmatinya. Ia bahkan bisa memilih talago mana yang ingin digunakan untuk berenang bersama teman-temannya.

Saya sendiri dahulu seperti itu. Kami tidak pernah merasa sedang menikmati kemewahan. Kami hanya sedang menjalani masa kecil. Baru setelah dewasa saya mengerti: ternyata masa kecil kami sedang menikmati sebuah kekayaan alam yang luar biasa.

Mungkin itulah sebabnya ketika warga Air Sialang yang tergabung dalam Air Sialang Bersatu (ASB) berkumpul pada Jumat malam, 31 Juli 2026, untuk membicarakan persoalan pertambangan, saya tidak heran jika begitu banyak orang datang.

Saya memang tidak berada di Masjid At-Taqwa malam itu. Saya berada di Banda Aceh. Tetapi foto dan video yang dikirim teman-teman ke grup membuat saya seperti ikut duduk di antara mereka.

Masjid penuh. Lebih dari seratus warga hadir. Yang membuat saya terharu bukan hanya mereka yang tinggal di Air Sialang. Tapi mereka yang sudah lama meninggalkan kampung, pulang bukan karena pesta atau hari raya. Namun, karena kampung sedang memanggil.

Ada sesuatu yang mereka rasa harus dijaga dan tidak boleh hilang. Mungkin bagi orang lain, yang sedang dibicarakan malam itu hanyalah sebuah dampak pertambangan. Tetapi bagi mereka, yang sedang dipertaruhkan adalah rumah dari begitu banyak kenangan.

Tempat mereka dahulu berlari tanpa alas kaki. Mandi di talago dan belajar berenang. Tempat mereka tumbuh, jatuh, tertawa, lalu menjadi dewasa dan pergi mencari kehidupan.

Dan ketika kampung itu kembali membutuhkan mereka, jarak ternyata tidak cukup kuat untuk membuat mereka berpaling. Mungkin begitulah cara sebuah kampung memanggil anak-anaknya pulang.

Ia tidak membutuhkan surat. Tidak membutuhkan undangan yang mewah. Cukup menyentuh kenangan. Dan orang-orang yang pernah tumbuh di dalamnya akan datang.

***

Pak Mirwan, saya tahu, persoalan pertambangan tidak sesederhana “ada tambang lalu alam rusak”.

Saya bukan ahli pertambangan. Saya juga tidak ingin membuat kesimpulan sebelum ada kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi justru karena itulah saya berharap pemerintah tidak menganggap kekhawatiran masyarakat sebagai ketakutan yang berlebihan.

Berdasarkan informasi yang saya temukan dari pemberitaan media massa dan dokumen perizinan, setidaknya ada dua perusahaan yang telah mengantongi izin eksplorasi tambang di kawasan ini.

Pertama, PT Mineral Mega Sentosa, dengan luas wilayah 739 hektare berdasarkan IUP Nomor 540/DPMPTSP/1272/IUP-EKS./2025 yang diterbitkan pada 19 November 2025.

Kedua, PT Bersama Sukses Mining, dengan luas wilayah 752,4 hektare berdasarkan IUP Nomor 545/DPMPTSP/882/IUP-EKS/2024 yang diterbitkan pada 17 Juli 2024.

Jika kedua wilayah itu dijumlahkan, luasnya mencapai sekitar 1.491,4 hektare. Angka itu mungkin terdengar biasa saja ketika hanya dibaca di atas kertas. Tetapi bagi kami yang lahir dan tumbuh di sana, itu bukan sekadar angka. Di dalamnya ada kampung, ada kebun, ada hutan, ada aliran sungai, ada sumber mata air, dan ada kehidupan yang selama ini berjalan tanpa banyak suara.

Wilayah yang tercakup dalam dua konsesi tersebut meliputi Gampong Subarang, Air Sialang Tengah, Air Sialang Hilir, Air Sialang Hulu, hingga kawasan Gunung Ketek.

Ya, salah satunya adalah Air Sialang. Kampung tempat saya dilahirkan dan tumbuh. Kampung yang namanya saja sudah membawa kata “air”.

Di sanalah air bukan sesuatu yang kami beli dalam botol. Air mengalir dari mata air, mengisi talago-talago, menghidupi rumah-rumah, menjadi tempat anak-anak bermain dan belajar berenang, sekaligus menjadi bagian dari ingatan yang melekat dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, ketika mendengar kata “eksplorasi”, yang muncul di kepala saya bukan hanya soal apa yang mungkin ditemukan di dalam tanah. Saya justru membayangkan apa yang mungkin berubah di atasnya.

Bagaimana jika suatu hari hutan yang selama ini menyimpan air mulai berubah? Sumber mata air yang selama puluhan tahun mengalir jernih mulai terganggu?

Bagaimana jika talago tempat anak-anak kami bermain hanya tinggal nama? Dan bagaimana jika suatu hari nanti kami harus menjelaskan kepada anak-anak bahwa dulu, di tempat yang mereka pijak, pernah ada mata air yang begitu jernih?

Saya kira, kekhawatiran itulah yang sedang dibawa warga ketika mereka bersuara. Mereka bukan sedang menghitung berapa banyak emas yang mungkin tersimpan di bawah tanah. Mereka sedang menghitung berapa banyak kehidupan yang mungkin hilang jika air yang selama ini menjadi sumber kehidupan terganggu.

Sebab bagi kami, emas adalah sesuatu yang mungkin ditemukan di dalam bumi. Tetapi air adalah sesuatu yang membuat kami bisa terus hidup di atas bumi.

Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan bahwa Bapak sekarang berada pada posisi yang sangat penting untuk memastikan bagaimana persoalan ini dibicarakan, diawasi, dan ditanggapi pemerintah daerah.

Karena masyarakat sudah bersuara. Mereka sudah menandatangani petisi, berkumpul, dan menyampaikan kekhawatiran lewat berbagai media massa. Sekarang mereka hanya ingin tahu: Apa yang dipikirkan pemimpinnya?

***

Telaga-telaga yang ada di Air Sialang sangat jernih. Telaga ini menjadi sumber air bersih bagi warga dari generasi ke generasi. Foto: Yelli Sustarina/Perempuanleuser.com

Pak Mirwan, kalau Bapak tidak percaya dengan apa yang saya ceritakan tentang Air Sialang, datanglah sekali ke kampung kami.

Tidak perlu datang dengan acara besar. Tidak perlu membawa rombongan. Datang saja. Duduk sebentar di dekat talago. Celupkan tangan ke airnya. Rasakan dinginnya. Lihat anak-anak bermain.  Lihat bagaimana air yang mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa saja, justru menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Mungkin setelah itu Bapak akan mengerti mengapa orang-orang Air Sialang begitu takut kehilangan talago. Karena yang mereka perjuangkan sebenarnya bukan kolam. Mereka sedang memperjuangkan kenangan.

Dan lebih dari itu, mereka sedang memperjuangkan agar kenangan itu masih bisa diwariskan kepada anak-anak mereka.

***

Pak Mirwan, saya pernah bertanya kepada anak saya yang usianya baru enam tahun.

“Kalau ada pilihan, mau talago yang airnya jernih atau emas yang banyak?”

Dia menjawab cepat.

“Talago.”

Saya bertanya lagi, “Kenapa?”

Jawabannya membuat saya terdiam.

“Karena kita nggak bisa berenang di emas.”

Lalu ia menambahkan: “Emas juga nggak bisa diminum.”

Logika anak kecil memang sederhana. Kalau punya emas, katanya, kita harus menjualnya dulu. Dapat uang. Kemudian membeli air. Kalau haus dan sedang ada bencana, prosesnya panjang.

“Kalau talago, kalau haus tinggal minum,” katanya.

Saya tersenyum. Tetapi setelah itu saya berpikir lama. Mungkin kita, orang dewasa, sering terlalu sibuk menghitung nilai sesuatu sampai lupa bertanya: Apa gunanya sesuatu itu ketika kehidupan sedang membutuhkan kita?

Emas bisa menjadi kekayaan. Tetapi air adalah kehidupan. Emas bisa dijual. Air tidak selalu bisa dibeli ketika sumbernya sudah hilang. Emas bisa disimpan di brankas. Air harus tetap mengalir.

Dan ketika bencana datang, seorang ibu tidak akan bertanya berapa gram emas yang masih tersimpan di rumah. Ia akan bertanya: “Di mana air untuk anak saya?”

***

Pak Mirwan, saya seorang ibu yang mempunyai dua anak perempuan, salah satunya masih bayi. Mungkin karena itu saya selalu membayangkan persoalan lingkungan dari sudut yang sangat sederhana: bagaimana kalau sesuatu terjadi kepada anak-anak kita?

Ketika bencana datang, perempuan dan anak-anak sering menjadi kelompok yang sangat rentan. Bayangkan seorang ibu tengah malam menggendong bayinya. Listrik padam. Banjir mulai masuk ke halaman. Anaknya menangis. Susu harus dibuat, tetapi air bersih tidak ada. Popok habis. Jalan keluar terputus. Suami mungkin sedang mencari anggota keluarga yang lain.

Dalam situasi seperti itu, seorang ibu tidak sedang memikirkan investasi. Tidak sedang memikirkan harga emas. Dan tidak sedang memikirkan pertumbuhan ekonomi. Ia hanya ingin memastikan anaknya selamat.

Saya pernah merasakan betapa pentingnya sumber air ketika listrik padam dan aktivitas masyarakat terganggu akibat bencana pada November tahun lalu.

Di Samadua, kami masih memiliki keberuntungan yang mungkin sering kita anggap biasa: sumber-sumber mata air. Di Air Sialang, kami punya talago. Tetapi bagaimana jika suatu hari sumber itu terganggu?

Apalagi Air Sialang berada di antara aliran sungai. Kami pernah mengalami banjir besar pada 2002 yang menyebabkan jembatan Air Sarap putus. Jika suatu hari bencana besar datang lagi, lalu sumber air yang selama ini menjadi tempat kami bergantung sudah tidak ada atau kualitasnya terganggu,  ke mana kami akan pergi?

Saya tidak ingin menunggu sampai pertanyaan itu benar-benar menjadi kenyataan.

Saya ingin jujur tentang peristiwa yang pernah membuat kami kecewa

Pak Mirwan, Saya tahu bagian ini mungkin tidak nyaman untuk Bapak baca. Tetapi surat dari hati ke hati seharusnya tidak hanya berisi hal-hal yang menyenangkan.

Pada akhir November 2025, Aceh Selatan dilanda banjir dan longsor. Bapak kemudian berangkat umrah pada 2 Desember 2025. Keputusan tersebut mendapat sorotan karena terjadi ketika penanganan bencana masih berlangsung. Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menyampaikan bahwa keberangkatan dilakukan setelah melihat kondisi wilayah yang dinilai mulai stabil, sementara Bapak sendiri menjelaskan bahwa umrah tersebut merupakan nazar yang telah direncanakan sebelumnya.

Namun, pemerintah pusat kemudian menyatakan Bapak bepergian tanpa izin yang dipersyaratkan dan menjatuhkan sanksi pemberhentian sementara selama tiga bulan.  Saya tidak ingin memperpanjang perdebatan tentang keputusan itu.

Saya hanya ingin menyampaikan rasa yang mungkin dirasakan sebagian masyarakat ketika pemimpinnya tidak berada di tengah mereka saat musibah.

Ketika bencana datang, kami seperti anak ayam kehilangan induknya. Seperti anak kecil yang sedang demam. Mungkin ia tahu bapaknya pergi karena ada alasan.

Tetapi ketika tubuhnya panas dan malam terasa panjang, yang dicari tetap satu:

“Bapak di mana?”

Begitulah kira-kira rakyat ketika bencana datang. Mereka membutuhkan pemimpinnya bukan hanya sebagai pejabat. Tetapi sebagai tempat menggantungkan rasa aman.

Karena itulah saya khawatir. Jika kelak aktivitas pertambangan benar-benar menimbulkan persoalan lingkungan yang kemudian memperbesar risiko bencana, apakah kami akan kembali merasakan kehilangan yang sama?

Saya tidak ingin itu terjadi. Bukan untuk Bapak. Bukan untuk kami. Bukan untuk Aceh Selatan. Bukankah kita bisa membangun ekonomi dari apa yang sudah kita punya?

Pak Mirwan, Saya tidak sedang mengatakan Aceh Selatan tidak membutuhkan investasi. Kita membutuhkannya. Masyarakat membutuhkan pekerjaan. Anak muda membutuhkan ruang. Ibu-ibu membutuhkan penghasilan. Pengusaha kecil membutuhkan pasar. Namun, mungkin kita perlu memperluas cara pandang tentang investasi.

Di Samadua, misalnya, ada para perempuan yang masih menekuni kasab. Penelitian Universitas Syiah Kuala menunjukkan bahwa Kasab di Kecamatan Samadua memiliki beragam bentuk dan tetap bertahan karena memiliki nilai jual, dikerjakan oleh pengrajin usia produktif, serta terus dikembangkan secara kreatif.

Bukankah ini ekonomi rakyat? Bukankah ini lapangan pekerjaan? Bukankah ini bisa dikembangkan menjadi ekonomi kreatif?

Bayangkan jika kasab tidak hanya dipertahankan sebagai benda adat, tetapi dikembangkan menjadi produk fesyen, aksesori, dekorasi, cendera mata, suvenir wisata, dan produk kreatif yang dipasarkan melalui dunia digital.

Bayangkan talago dikelola menjadi ekowisata berbasis masyarakat. Anak-anak muda menjadi pemandu. Ibu-ibu menjual kuliner. Perajin menjual produk. Petani menjual hasil kebun. Masyarakat mendapat penghasilan. Air tetap mengalir. Hutan tetap berdiri. Dan anak-anak masih bisa berenang. Bukankah itu juga pembangunan?

Saya kira, seorang pengusaha seperti Bapak justru sangat memahami bahwa nilai sebuah aset tidak selalu terletak pada bagaimana kita mengambilnya, tetapi bagaimana kita mengelolanya agar terus menghasilkan.

***

Pak Mirwan, saya tahu mungkin Bapak memiliki banyak pertimbangan. Ada kewenangan yang terbatas. Ada aturan yang harus dipatuhi. Ada pemerintah provinsi dan pusat. Dan ada perusahaan dan investasi untuk kepentingan ekonomi.

Karena itu saya tidak meminta Bapak mengambil keputusan hanya karena membaca surat ini. Saya hanya meminta Bapak “bersuara”.

Kalau kewenangan mencabut izin bukan berada di tangan Bapak, katakan kepada masyarakat siapa yang berwenang. Kalau ada prosedur yang harus ditempuh, jelaskan. Kalau ada kajian yang perlu dilakukan, lakukan secara terbuka.

Kalau aspirasi masyarakat perlu diteruskan kepada pemerintah provinsi atau pusat, sampaikan. Kalau pemerintah daerah melihat ada risiko yang perlu dievaluasi, katakan bahwa evaluasi akan dilakukan.

Sebab, diam membuat publik bertanya. Dan ketika jawaban tidak datang, ruang kosong itu akan diisi oleh dugaan. Saya tidak ingin masyarakat menilai Bapak pengecut.

Saya juga tidak ingin Bapak dipaksa memilih antara menjadi pemimpin yang pro-investasi atau pemimpin yang pro-lingkungan. Sebab menurut saya, pilihan itu terlalu sederhana. Pemimpin seharusnya pro-rakyat. Dan rakyat membutuhkan ekonomi yang tumbuh sekaligus lingkungan yang tetap hidup.

***

Pak Mirwan, hari ini 19 Agustus adalah Hari Kemanusiaan Sedunia. Peringatan ini memang berakar pada penghormatan kepada mereka yang membantu manusia yang terdampak konflik, bencana, dan krisis. Tetapi bagi saya, kemanusiaan juga dimulai jauh sebelum bencana terjadi: dari keberanian mencegah sesuatu yang bisa membahayakan kehidupan manusia.

Mungkin inilah bentuk kemanusiaan yang ingin saya titipkan melalui surat ini. Mendengarkan warga sebelum mereka kehilangan sesuatu. Mendengarkan ibu sebelum ia kehilangan air untuk anaknya. Mendengarkan petani sebelum sawahnya kehilangan sumber air. Mendengarkan anak-anak sebelum tempat bermain mereka menjadi kenangan. Mendengarkan orang-orang yang pulang dari perantauan hanya karena mereka masih merasa memiliki kampungnya. Dan mungkin, mendengarkan talago sebelum suatu hari ia tidak lagi bisa berbicara.

Indonesia tahun ini memasuki usia 81 tahun. Saya ingin percaya bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang memiliki suara.

Tentang bisa mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kita jaga. Tentang bisa memilih masa depan seperti apa yang ingin diwariskan kepada anak-anak.

Kami tidak ingin menjadi penonton ketika bumi Samadua dikeruk. Kami tidak ingin pembangunan membuat kami kehilangan sesuatu yang selama ini kami miliki secara cuma-cuma. Kami percaya masih banyak yang bisa dilakukan di atas tanah Samadua, sebelum kita memutuskan mengambil terlalu banyak dari perut buminya.

Pak Mirwan, Saya kembali membayangkan foto Bapak di baliho itu. Sosok yang dulu membuat saya berpikir tentang seorang CEO dalam drama. Seorang pemimpin yang punya kekuatan untuk membuat sesuatu tumbuh.

Mungkin sekarang saatnya saya berharap lebih sederhana. Bukan meminta Bapak menjadi seperti siapa pun. Bukan pula meminta Bapak memenuhi semua keinginan masyarakat.

Saya hanya ingin suatu hari nanti, ketika anak saya pulang ke Air Sialang dan membawa anaknya sendiri, ia masih bisa menunjuk ke sebuah talago dan berkata:

“Di sini dulu Mamak belajar berenang.”

Lalu anaknya bertanya:

“Airnya masih ada, Ma?”

Dan ia bisa menjawab:”Masih. Masih jernih, dingin, mengalir, dan jadi tempat anak-anak bermain. Masih menjadi tempat warga mengambil air ketika keadaan sulit. Masih menjadi bagian dari kampung dan menjadi bagian dari kehidupan.

Sebab emas mungkin bisa membuat seseorang kaya. Tetapi, air membuat semua orang tetap hidup. Dan ketika suatu hari sumber air terakhir mengering, pohon terakhir tumbang, dan talago terakhir tinggal nama, barangkali barulah kita sadar bahwa ada kekayaan yang tidak pernah bisa dihitung dengan harga emas.

Kita mungkin bisa menggali bumi untuk mencari emas. Tetapi jangan sampai, dalam pencarian itu, kita justru menggali lubang tempat masa depan anak-anak kita jatuh.

Pak Mirwan, tolong jangan biarkan anak-anak kami kelak hanya mewarisi cerita tentang talago. Biarkan mereka mewarisi talago itu sendiri.

Karena yang kami perjuangkan hari ini bukan sekadar air. Kami sedang berusaha memastikan bahwa anak-anak kami masih punya tempat untuk pulang.[]

Artikel Lainnya Seperti Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru