Bagaimana rasanya jika sebuah acara pelestarian budaya justru meninggalkan tumpukan sampah yang akhirnya mencemari sungai?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya jauh sebelum Apresiasi Pengrajin Kasab Aneuk Jamee Aceh Selatan dilaksanakan. Semakin dekat hari pelaksanaan, yang saya pikirkan bukan hanya bagaimana acara berjalan lancar atau bagaimana para pengrajin menerima penghargaan. Saya justru lebih sering membayangkan hal yang mungkin luput dari perhatian banyak orang: bungkus nasi, gelas plastik, sendok sekali pakai, dan sampah-sampah yang biasanya tersisa setelah sebuah acara selesai.
Saya tidak ingin itu terjadi. Sebab bagi saya, melestarikan budaya tidak boleh mengorbankan lingkungan. Kegiatan yang dilaksanakan pada 9 Juli 2026 di Gampong Air Sialang, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan ini merupakan bagian dari Bantuan Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Aceh dari Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh. Proposal saya ajukan secara perorangan karena persyaratan kelompok saat itu cukup kompleks, meskipun dalam pelaksanaannya kegiatan ini akhirnya menjadi ruang kolaborasi banyak pihak.
Namun, jauh sebelum panggung berdiri dan para pengrajin menerima penghargaan, saya lebih dulu “berdebat” dengan diri sendiri tentang satu hal: bagaimana membuat sebuah acara budaya tanpa menghasilkan banyak sampah?
Ketika Sungai Menjadi Tempat Sampah
Saya tinggal di Gampong Air Sialang, sebuah kampung yang dikelilingi sungai. Sungai itu menjadi sumber kehidupan masyarakat. Airnya digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Namun, ada kenyataan yang membuat hati saya tidak tenang.
Di tiga gampong yang berada di kawasan Air Sialang—Air Sialang Hulu, Air Sialang Tangah, dan Air Sialang Hilir—belum tersedia sistem pengelolaan sampah yang memadai. Tidak ada tempat pembuangan sampah yang benar-benar terkelola. Akibatnya, membuang sampah ke sungai menjadi kebiasaan yang dianggap biasa.
Pemandangan kantong plastik yang hanyut bersama arus perlahan menjadi sesuatu yang dianggap lumrah. Padahal, di balik air yang terus mengalir itu, habitat ikan dan satwa air tawar menghadapi ancaman yang nyata.
Karena itulah saya merasa tidak tenang. Bagaimana mungkin saya mengajak orang melestarikan kasab Aneuk Jamee, tetapi di saat yang sama justru menambah sampah yang kemungkinan besar akan berakhir di sungai yang sama? Bukankah budaya dan alam sama-sama warisan yang harus dijaga?
Memilih Jalan yang Lebih Repot
Saat menyusun konsep acara, saya sadar keputusan ini tidak akan mudah. Awalnya, konsumsi siang akan disiapkan dalam bentuk nasi kotak. Praktis, cepat, dan umum digunakan di berbagai kegiatan.
Namun, saya langsung membayangkan sekitar seratus kotak makanan, plastik pembungkus, sendok plastik, dan kantong kresek yang akan berakhir menjadi sampah hanya dalam hitungan jam.
Saya kemudian berdiskusi dengan Novi Rosmita, pendiri Yayasan Ruang Kito Basamo, yang berkolaborasi membantu konsumsi peserta. Saya menyampaikan keinginan agar acara ini menggunakan konsep ramah lingkungan. Sempat terpikir menggunakan bungkus daun pisang, tetapi prosesnya cukup rumit.
Setelah berdiskusi, kami akhirnya sepakat memilih cara yang mungkin lebih melelahkan, tetapi jauh lebih ramah bagi lingkungan, yaitu makan siang disajikan secara prasmanan menggunakan piring dan sendok yang dapat dipakai kembali.
Cerita yang sama juga terjadi dengan konsumsi snack dari Peunajoh Irda. Awalnya bubur akan dibagikan dalam puluhan cup plastik. Lagi-lagi saya membayangkan tumpukan sampah setelah acara selesai. Setelah berdiskusi, akhirnya bubur juga disajikan secara prasmanan.
Boleh jadi, bagi sebagian orang keputusan ini terlihat merepotkan. Tetapi saya percaya, lebih baik repot sehari daripada meninggalkan sampah yang baru akan terurai puluhan bahkan ratusan tahun kemudian.
Mengajak Peserta Membawa Tempat Bekal Sendiri
Konsep ramah lingkungan tidak berhenti di dapur. Saya juga meminta seluruh peserta workshop dan anak-anak peserta mewarnai kaos motif kasab membawa tumbler dan tempat bekal kosong dari rumah.
Beberapa orang sempat bertanya, “Kenapa harus membawa tempat makan sendiri?” Saya hanya menjawab singkat, “Nanti akan diisi makanan.” Sederhana. Namun, dari langkah kecil itu, kami berhasil mengurangi penggunaan wadah sekali pakai dalam jumlah yang cukup banyak.
Sehari sebelum acara, saya juga sempat mendapat penolakan dari beberapa pihak yang bertugas di dapur. Menurut mereka, konsep ini jauh lebih merepotkan karena semua piring harus dicuci setelah digunakan.
Saya memahami kekhawatiran itu. Lalu saya mengingatkan mereka tentang kebiasaan orang-orang tua kita dahulu. Ketika menjamu tamu, mereka menggunakan piring, gelas, dan peralatan makan yang dicuci kembali setelah selesai. Bahkan hari ini, konsep seperti itu mulai kembali digunakan di banyak kota sebagai bagian dari gerakan mengurangi sampah.
Pelan-pelan mereka memahami maksud saya. Dan saya sangat bersyukur karena akhirnya semua bersedia menjalankannya.
Ketika Budaya dan Lingkungan Berjalan Bersama

Peserta kegiatan menikmati bubur dengan wadah bukan sekali pakai. Foto: Yelli Sustarina/perempuanleuser.
Hari pelaksanaan akhirnya tiba. Rangkaian acara berlangsung sejak pagi hingga sore, mulai dari penampilan tari ranup lampuan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan, pemberian penghargaan kepada sepuluh pengrajin kasab Aneuk Jamee Aceh Selatan, workshop menjahit kasab untuk generasi muda, mewarnai kaos bermotif kasab bagi anak-anak, hingga pameran karya para pengrajin.
Namun, ada satu momen yang paling saya tunggu. Waktu makan siang. Saya berjalan menuju dapur dengan perasaan campur aduk. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana.
Tim dapur sibuk menata makanan di atas meja prasmanan. Para tamu menikmati hidangan menggunakan piring. Bubur disajikan tanpa cup plastik. Anak-anak datang membawa tempat bekalnya masing-masing. Seusai kegiatan mewarnai, mereka pulang dengan kotak bekal yang telah terisi makanan.
Pemandangan itu membuat saya lega. Bukan karena acaranya berhasil, tetapi karena kami berhasil membuktikan bahwa sebuah acara budaya dapat diselenggarakan tanpa menghasilkan tumpukan sampah plastik.
Memang, tim dapur harus bekerja lebih keras mencuci piring. Tetapi saya selalu percaya, repot sehari jauh lebih ringan dibandingkan mewariskan sampah yang akan bertahan jauh lebih lama daripada usia kita.
Kita mungkin hidup enam puluh atau tujuh puluh tahun. Namun, plastik yang kita buang hari ini bisa tetap berada di bumi hingga ratusan tahun setelah kita tiada. Bukankah itu juga bagian dari tanggung jawab yang akan kita pertanggungjawabkan?
Saya sangat bersyukur karena Novi Rosmita dan Peunajoh Irda tidak hanya mendukung kegiatan ini, tetapi juga bersedia keluar dari kebiasaan demi mewujudkan konsep ramah lingkungan. Di akhir dokumentasi kegiatan, Novi menyampaikan sebuah pesan yang sangat membekas, “Sampahmu adalah tanggung jawabmu. Mari lestarikan budaya dan lingkungan.”
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Saya percaya, melestarikan budaya dan melestarikan lingkungan bukanlah dua gerakan yang berdiri sendiri. Keduanya saling menguatkan.
Apa artinya menjaga warisan leluhur jika alam tempat budaya itu tumbuh justru kita rusak dengan tangan kita sendiri? Semoga langkah kecil dari sebuah kampung ini menjadi inspirasi bahwa setiap acara, sekecil apa pun, selalu memiliki pilihan. Pilihan untuk meninggalkan jejak sampah, atau meninggalkan jejak perubahan.
Karena pada akhirnya, warisan terbaik yang bisa kita berikan kepada anak cucu bukan hanya budaya yang tetap lestari, tetapi juga bumi yang tetap layak dihuni.
Mari mulai dari hal yang sederhana. Bawa tumbler, gunakan tempat makan yang dapat dipakai berulang, kurangi plastik sekali pakai, dan jadikan setiap kegiatan budaya sebagai ruang untuk merawat alam.
Sebab budaya akan terus hidup ketika manusianya peduli. Dan bumi akan tetap lestari ketika kepedulian itu diwujudkan dalam tindakan, sekecil apa pun.[]
