Ada sesuatu yang membekas bagi saya ketika menghadiri Festival Santri Peduli Lingkungan di Pesantren Terpadu Raudhatul Jannah, Kota Subulussalam, pada 24 Oktober 2026. Bukan hanya karena festival ini mengangkat tema “Memaknai Hari Santri melalui Kepedulian terhadap Lingkungan”, melainkan karena saya melihat bagaimana kepedulian terhadap bumi tumbuh di tempat yang mungkin jarang dibayangkan orang sebagai ruang gerakan lingkungan, yaitu dayah.
Selama ini, ketika mendengar kata festival lingkungan, pikiran saya sering tertuju pada kegiatan komunitas, kampanye anak muda, atau aksi bersih-bersih alam. Namun, hari itu saya menemukan sesuatu yang berbeda. Sekitar 100 peserta dari 11 dayah berkumpul untuk membicarakan lingkungan, mulai dari hutan Aceh, fikih lingkungan, praktik baik di dayah, hingga pengelolaan sampah melalui ekobrik.
Sebagian besar peserta yang saya temui adalah perempuan. Melihat mereka, saya bertanya-tanya, jangan-jangan, selama ini ada begitu banyak potensi gerakan lingkungan yang tumbuh diam-diam di ruang-ruang belajar perempuan, tetapi belum cukup sering kita dengar ceritanya?
Dari Dayah Tumbuh Dakwah Ekologi
Kegiatan berlangsung sejak pagi. Setelah pembukaan, peserta mendengarkan penjelasan tentang hutan Aceh dari perwakilan Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA), berdiskusi mengenai fikih lingkungan, serta menyimak pengalaman para teungku inong yang berbagi praktik baik di dayah masing-masing.
Siangnya, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan ekobrik, diskusi kasus, dan penyusunan rencana tindak lanjut.
Bagi saya, kegiatan ini menarik karena menghubungkan pengetahuan agama dengan persoalan lingkungan yang kita hadapi sehari-hari. Di Aceh, dayah memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Jika kepedulian terhadap lingkungan tumbuh di sana, pesan yang disampaikan berpeluang menjangkau lebih banyak orang, dari santri hingga keluarga dan masyarakat di sekitar mereka.
Salah satu momen yang membekas terjadi ketika dua orang santriwati menghampiri saya. Mereka bertanya bagaimana caranya bergabung dengan HAkA.
Pertanyaannya sederhana. Namun, saya menangkap sesuatu di baliknya, yaitu rasa ingin tahu, ketertarikan, dan keinginan untuk mengambil bagian. Mereka tidak hanya ingin mendengar tentang lingkungan, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana caranya terlibat.
Saya membayangkan, mungkin setelah mendengarkan penjelasan HAkA dan menyaksikan empat teungku inong berbagi pengalaman, mereka mulai melihat bahwa menjaga lingkungan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. Ada ruang untuk belajar, ada orang-orang yang bisa menjadi teman seperjalanan, dan ada tindakan nyata yang bisa dimulai dari dayah sendiri.
Di sinilah saya melihat pentingnya menghadirkan teladan. Terkadang, satu cerita tentang seseorang yang telah melakukan perubahan dapat menyalakan keberanian orang lain untuk memulai.
Empat teungku inong yang hadir hari itu menunjukkan bahwa dakwah lingkungan dapat berjalan beriringan dengan dakwah keagamaan.
Teungku merupakan sebutan bagi orang yang memiliki pengetahuan agama. Sedangkan inong berarti perempuan dalam bahasa Aceh. Gerakan teungku inong yang didampingi HAkA sejak 2022 mendorong para ulama perempuan untuk menyampaikan pesan-pesan pelestarian lingkungan kepada santri dan masyarakat.
Umma Mardiarti, salah seorang teungku inong yang juga Wakil Pimpinan 1 Pesantren Terpadu Raudhatul Jannah, menjelaskan bahwa alam merupakan anugerah Allah Swt. yang menjadi sumber kehidupan. Karena itu, merawatnya adalah tanggung jawab bersama agar tetap bisa dinikmati oleh generasi setelah kita.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi maknanya dalam. Kita menerima air, udara, tanah, dan hasil bumi sebagai bagian dari kehidupan. Sudah semestinya kita ikut menjaga semuanya, bukan hanya untuk kebutuhan hari ini, melainkan juga agar anak cucu kita kelak masih dapat merasakan manfaatnya.
Para teungku inong bahkan telah menulis buku Dayah Ekologi yang disiapkan sebagai panduan pengembangan kurikulum lingkungan di dayah. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa gerakan mereka tidak berhenti pada ceramah atau percakapan.
Ada dakwah bil lisan, yakni menyampaikan pesan melalui perkataan. Dakwah bil hal, yaitu memberi teladan melalui tindakan nyata, dan dakwah bil qalam, yakni menyebarkan pengetahuan melalui tulisan. Ketiganya saling melengkapi: pesan disampaikan, dipraktikkan, lalu diwariskan melalui tulisan agar dapat dipelajari lebih luas.
Saya membayangkan, jika semakin banyak dayah mengadopsi pembelajaran ekologi, santri tidak hanya belajar memahami hubungan manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga mempraktikkan tanggung jawab terhadap makhluk hidup dan alam yang menjadi tempat mereka bertumbuh.
Belajar dari Air, Udang, dan Kehidupan
Cerita yang dibagikan Dinar, teungku inong dari Aceh Tamiang, membuat saya semakin memahami bahwa perubahan sikap terhadap lingkungan bisa berawal dari pengalaman yang sangat personal.
Dinar bercerita tentang kebiasaannya dahulu meracuni udang di anak-anak sungai agar lebih mudah mendapatkan hasil tangkapan dalam jumlah banyak. Cara itu terasa praktis. Udang bisa dikumpulkan dengan cepat, bahkan yang berukuran besar.
Namun, suatu ketika, ia dan teman-temannya mengalami gatal-gatal setelah mengonsumsi udang tersebut. Pengalaman itu menjadi teguran baginya. Apa yang dilakukan terhadap alam ternyata dapat kembali memengaruhi kehidupan manusia.
Sejak saat itu, ia tidak lagi meracuni udang. Setelah bergabung dengan teungku inong dan memperoleh pengetahuan lingkungan dari HAkA serta berbagi pengalaman dengan anggota lainnya, ia semakin memahami bahwa sungai bukan sekadar tempat mencari hasil tangkapan.
Sungai juga merupakan rumah bagi makhluk hidup lain. Ketika manusia merusaknya demi keuntungan sesaat, manusia sedang mempertaruhkan keseimbangan yang menopang kehidupannya sendiri.
Dinar kini ikut menyampaikan pesan lingkungan kepada sesama santri. Ia juga menuliskan praktik baik di dayahnya untuk buku Dayah Ekologi. Dia menceritakan tentang kebiasaan menghemat air di pondoknya. Mereka menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari, kemudian mengalirkannya ke bak penampungan. Untuk mengambil air, mereka menggunakan gayung, bukan keran.
Kebiasaan itu mengingatkan saya bahwa menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi mahal atau program besar. Menampung air hujan, menggunakan air secukupnya, dan menghindari pemborosan merupakan tindakan sederhana yang dapat dilakukan bersama.
Sementara itu, Masyitah Alzaira, Ketua Forum Teungku Inong, menceritakan upaya mereka membawa pesan lingkungan ke majelis-majelis taklim. Jika biasanya majelis taklim menjadi ruang untuk belajar agama dan memperkuat hubungan antarsesama, ruang yang sama juga dapat digunakan untuk membicarakan sampah, hutan, air, dan perubahan lingkungan yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.
Mereka juga mengembangkan modul tentang satwa liar yang memuat hikayat Aceh dan kearifan lokal dalam menjaga lingkungan. Melalui cerita yang akrab dengan masyarakat, pesan pelestarian alam dapat disampaikan tanpa terasa asing.
Bagi saya, pendekatan seperti ini penting. Pengetahuan lingkungan tidak harus selalu dimulai dengan istilah ilmiah yang sulit dipahami. Ia bisa dimulai dari kisah tentang sungai, pengalaman mencari udang, kebiasaan menggunakan air, atau cerita lokal tentang hubungan manusia dengan alam.
Sebab, menjaga lingkungan akan lebih mudah dipahami ketika orang menemukan kaitannya dengan kehidupan mereka sendiri.
Ketika Kerusakan Alam Menyentuh Rumah Kita
Di antara percakapan yang paling membekas bagi saya adalah ketika berbincang dengan Kiki, teungku inong dari Menggamat, Aceh Selatan. Kami berasal dari kabupaten yang sama sehingga obrolan kami terasa lebih dekat.
Namun, kedekatan itu juga membawa kesedihan ketika ia bercerita tentang kondisi lingkungan di kampungnya.
Menurut Kiki, aktivitas pertambangan ilegal di hulu sungai telah memengaruhi kualitas air yang dahulu digunakan masyarakat untuk mandi dan mencuci. Ia juga menceritakan aktivitas alat berat yang mengganggu ketenangan warga hingga malam hari. Bagi masyarakat yang tinggal di sana, persoalan itu bukan sekadar perdebatan tentang sumber daya alam. Mereka berhadapan langsung dengan perubahan lingkungan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Pada malam 24 Oktober, ketika hujan deras mengguyur Aceh Selatan, Kiki mendapat kabar dari keluarganya bahwa banjir melanda kampung mereka. Air dilaporkan mencapai sekitar pinggang orang dewasa. Karena cuaca dan kondisi banjir, ia sempat kehilangan kontak dengan keluarganya hingga keesokan pagi.
Saya bisa membayangkan kecemasan yang dirasakannya. Jauh dari rumah, mendengar kabar banjir, tetapi tidak bisa segera memastikan keadaan orang-orang yang dicintai. Ada rasa takut yang tidak mudah dijelaskan ketika kabar dari rumah mendadak terputus.
Pengalaman itu terasa dekat bagi saya karena saya juga berasal dari Aceh Selatan. Saya langsung teringat Air Sialang, kampung tempat saya tumbuh, yang menghadapi kekhawatiran atas rencana eksplorasi pertambangan di wilayah Kecamatan Samadua.
Berdasarkan informasi yang sebelumnya diberitakan media massa, terdapat dua izin eksplorasi yang mencakup wilayah sekitar Air Sialang dan kawasan sekitarnya. Kekhawatiran warga berkaitan dengan potensi dampak kegiatan tersebut terhadap hutan dan sumber mata air yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.
Saya tidak ingin menyamakan seluruh kondisi di Menggamat dengan apa yang mungkin terjadi di Air Sialang. Namun, cerita Kiki membuat saya semakin memahami mengapa masyarakat perlu didengarkan sebelum perubahan besar berlangsung di lingkungan tempat mereka tinggal.
Di Air Sialang, mata air bukan hanya sumber air untuk kebutuhan rumah tangga. Talago, sebutan masyarakat untuk kolam-kolam mata air, juga menyimpan ingatan masa kecil kami: tempat mandi, bermain, belajar berenang, dan berkumpul bersama teman sebaya.
Saya tidak ingin suatu hari nanti harus menjelaskan kepada anak-anak bahwa tempat-tempat itu hanya tinggal cerita.
Kiki sendiri menyadari bahwa ruang geraknya terbatas. Ia tidak memiliki kekuasaan untuk menghentikan persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Namun, ia masih memiliki suara, pengetahuan, dan ruang untuk menyampaikan pesan kepada sesama santri serta melalui tulisan.
Dari situ saya belajar bahwa tidak semua orang memiliki kuasa untuk mengubah kebijakan. Namun, bukan berarti mereka tidak memiliki peran.
Ada yang mengadvokasi, ada yang mengajar, ada yang mendokumentasikan, ada yang menulis, dan ada yang menguatkan masyarakat agar tidak merasa sendirian. Semua itu merupakan bagian dari upaya menjaga lingkungan.
Perempuan Tidak Harus Menunggu Punya Kuasa
Kisah-kisah di festival ini mengingatkan saya pada perjalanan sendiri bersama gerakan perempuan.
Sejak 2017, saya menjadi bagian dari Perempuan Peduli Leuser, komunitas yang mempertemukan perempuan dari berbagai daerah untuk bertukar pikiran, membangun jejaring, dan mengampanyekan perlindungan lingkungan. Gerakan ini juga memberi ruang bagi perempuan untuk mengembangkan kegiatan di bidang pendidikan, kepenulisan, penelitian, dan usaha hijau.
Pada Juni 2026, saya juga turut terlibat dalam pembentukan dan penguatan jejaring tuha peut inong melalui kegiatan yang difasilitasi Perempuan Peduli Leuser bersama HAkA. Inisiatif ini mendorong perempuan anggota tuha peut—legislator gampong—agar memiliki kapasitas lebih kuat dalam urusan tata kelola kampung, penyelesaian persoalan adat, serta perlindungan lingkungan.
Bagi saya, keterlibatan perempuan dalam gerakan lingkungan tidak cukup jika hanya ditempatkan sebagai peserta kegiatan. Perempuan juga perlu mendapat ruang untuk mengambil keputusan, menyampaikan pendapat, mengawasi kebijakan, dan menentukan masa depan lingkungan tempat mereka tinggal.
Sebab, ketika lingkungan rusak, perempuan kerap berhadapan langsung dengan akibatnya. Ketika air bersih sulit didapat, merekalah yang harus memikirkan kebutuhan keluarga. Ketika pangan berkurang, mereka ikut memikirkan bagaimana makanan tetap tersedia. Ketika bencana datang, perempuan yang mengasuh bayi dan anak kecil harus menghadapi kebutuhan yang tidak bisa ditunda, bahkan di tengah situasi darurat.
Namun, perempuan bukan semata-mata kelompok yang terdampak. Mereka juga memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan untuk menawarkan solusi.
Saya melihatnya pada para teungku inong yang menyampaikan dakwah lingkungan, santriwati yang ingin bergabung dengan HAkA, pengajar yang berusaha mengelola sampah dayah, serta perempuan seperti Kiki yang tetap mencari jalan untuk menyuarakan keresahan kampungnya.
Dalam sesi pelatihan ekobrik, saya berbincang dengan seorang pengajar yang pernah mencoba memilah dan mengumpulkan plastik untuk dijadikan ekobrik. Plastik itu sudah dicuci dan dikeringkan. Namun, ketika ia pulang kampung saat libur sekolah, plastik-plastik tersebut tercampur kembali sehingga rencananya tidak terlaksana.
Ia juga sedang belajar membuat lubang biopori secara mandiri melalui video. Ia ingin mengurangi sampah di dayah, tetapi merasa belum memiliki tempat untuk bertanya, berbagi gagasan, dan memperoleh dukungan.
Saya memahami keresahan itu. Kadang-kadang, seseorang tidak kekurangan kemauan untuk berbuat baik. Ia hanya membutuhkan teman seperjalanan.
Karena itulah, Festival Santri Peduli Lingkungan menjadi penting. Umma Mardiarti ingin menjadikan Pesantren Terpadu Raudhatul Jannah sebagai salah satu ruang belajar bersama agar dayah-dayah lain dapat saling mendukung dalam mengelola sampah dan mengembangkan praktik ekologi. Harapannya, setiap dayah bisa mulai membangun kemandirian melalui kegiatan seperti berkebun, bertani, atau beternak dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.
Ia juga berharap festival ini dapat berlangsung setiap tahun, menjadi ruang bagi dayah untuk memperlihatkan praktik baik yang telah mereka lakukan.
Saya membayangkan betapa menariknya jika kelak setiap dayah tidak hanya membawa hasil pembelajaran agama, tetapi juga cerita tentang kebun yang mereka rawat, sampah yang berhasil mereka kurangi, air yang mereka hemat, atau pangan yang mereka hasilkan sendiri tanpa mengabaikan keseimbangan alam.
Merawat Bumi, Mewariskan Kehidupan
Sepanjang mengikuti kegiatan itu, saya semakin yakin bahwa gerakan perempuan menjaga lingkungan tidak harus memiliki bentuk yang sama.
Ada perempuan yang berdiri di depan kelas untuk mengajarkan pentingnya menjaga hutan. Ada yang mengajak ibu-ibu mengelola sampah. Ada yang menulis tentang air dan kerusakan lingkungan. Ada pula yang memperjuangkan agar suara perempuan didengar dalam keputusan di tingkat gampong.
Ada yang bergerak melalui komunitas, ada yang melalui dayah, ada yang melalui lembaga, dan ada yang memulainya dari rumah sendiri.
Bagi saya, semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga agar kehidupan tetap berlangsung dengan baik, bukan hanya untuk manusia hari ini, tetapi juga bagi generasi yang akan datang.
Festival Santri Peduli Lingkungan membuat saya melihat bahwa dakwah lingkungan dapat tumbuh dari ruang belajar, percakapan, kebiasaan sehari-hari, bahkan dari penyesalan seseorang atas kesalahan yang pernah dilakukan terhadap alam.
Saya pulang dengan satu keyakinan bahwa kita tidak perlu menunggu menjadi orang yang paling berkuasa untuk mulai menjaga bumi. Kita hanya perlu menyadari bahwa kehidupan kita terhubung dengan kehidupan makhluk lain, lalu berani melakukan sesuatu sesuai kemampuan masing-masing.
Saya berharap semakin banyak perempuan Aceh yang mengambil bagian dalam gerakan ini. Bukan karena menjaga lingkungan adalah tanggung jawab perempuan semata, melainkan karena setiap suara dan pengalaman perempuan layak hadir dalam percakapan tentang masa depan bumi.
Sebab, merawat bumi bukan hanya tentang menyelamatkan pohon, sungai, atau hutan. Ini tentang memastikan anak-anak kita kelak masih memiliki air untuk diminum, tanah untuk ditanami, udara untuk dihirup, dan lingkungan yang aman untuk tumbuh.
Dan jika hari ini seorang santriwati mulai bertanya bagaimana caranya bergabung dengan gerakan lingkungan, mungkin di sanalah sebuah perubahan sedang tumbuh.
Kecil, tetapi berarti. Pelan, tetapi berkelanjutan. Dari dayah, dari kampung, dari suara perempuan yang memilih untuk tidak diam. Dari Aceh, untuk bumi yang ingin kita wariskan dalam keadaan lestari.[]
