Beranda blog

Combine Hibah Dua Perangkat Starlink untuk Komunitas Perempuan di Aceh

Combine Resource Institution (CRI) sebuah yayasan yang berbasis di Yogyakarta menghibahkan dua unit paket konektivitas darurat berupa perangkat internet satelit Starlink dan panel surya kepada dua komunitas perempuan di Aceh. Bantuan ini ditujukan untuk mendukung kegiatan komunitas sekaligus memperkuat akses komunikasi warga penyintas bencana banjir dan longsor di Aceh.

Dua komunitas penerima hibah tersebut adalah Perempuan Peduli Leuser (PPL) di Banda Aceh dan Kelompok Cendana di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang. Penyerahan perangkat untuk Kelompok Cendana difasilitasi oleh tim PPL.

Koordinator PPL, Ayu ’Ulya, mengatakan bahwa komunikasi antara pihaknya dengan pihak Combine telah terjalin sejak awal bencana terkait dengan beberapa agenda kerja sama. Salah satunya yang berkaitan dengan rencana hibah perangkat tersebut.

“Sejak awal bencana, PPL dan Combine terus berkomunikasi mengenai kemungkinan hibah perangkat konektivitas ini.  Kami melakukan asesmen dan mengajukan beberapa lokasi, tetapi untuk tahap awal ini ada dua perangkat yang dihibahkan,” kata Ayu ‘Ulya yang didampingi dua personel PPL, Ihan Nurdin dan Dian Guci, saat penyerahan perangkat kepada Kelompok Cendana, Kamis, 5 Maret 2026.

Serah terima dengan PPL, Rabu, 4 Maret 2026.

Ia berharap perangkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan positif serta membantu meningkatkan produktivitas kelompok perempuan di desa tersebut. Pemilihan Kelompok Cendana juga bukan tanpa alasan, melainkan karena pertimbangan kelompok tersebut melakukan kerja-kerja pemberdayaan dan pengorganisasian perempuan. Khususnya di bidang pemberdayaan ekonomi perempuan dan penjagaan lingkungan yang sejalan dengan visi misi PPL.

“Semoga perangkat ini bisa dipergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, termasuk untuk memperkuat kegiatan kelompok dan meningkatkan produktivitas anggota. Semoga organisasinya semakin solid dan usaha kelompok semakin berkembang setelah ada internet di sini,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ayu juga mengingatkan pentingnya setiap individu untuk bisa melek digital mengingat tantangan di media siber juga sangat kompleks. Misalnya, penyebaran hoaks dan penipuan (phising) yang sangat merugikan hingga game dan judi online yang sangat meresahkan.

Internet Masih Sulit Diakses

Proses pemasangan perangkat

Sementara itu, Ketua Kelompok Cendana, Beti Lestari, mengatakan keterbatasan akses internet selama ini menjadi kendala besar bagi warga Desa Sumber Makmur. Jaringan internet belum menjangkau wilayah desa secara merata karena lokasinya yang sangat terpelosok.

Untuk mendapatkan koneksi yang stabil, warga biasanya harus pergi ke Desa Tenggulun yang dapat ditempuh sekitar 15–20 menit menggunakan sepeda motor. Dalam keadaan darurat, di mana mereka memerlukan akses internet di malam hari tentunya sangat berisiko.

“Ketiadaan internet sangat menyulitkan kami dalam mengakses informasi, terutama saat terjadi bencana seperti akhir tahun lalu, kami jadi ketinggalan informasi, pekerjaan jadi tersendat. Alhamdulillah, sekarang sudah ada bantuan perangkat Starlink. Terima kasih untuk PPL yang sudah menjembatani bantuan hibah dari Yayasan Combine,” kata Beti.

Ia menceritakan pengalamannya saat banjir bandang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu. Saat itu ia sedang mengikuti kegiatan di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Selama beberapa hari ia terjebak dalam kondisi tanpa akses internet. Ketika akhirnya ia mendapatkan jaringan, ia tetap tidak bisa menghubungi keluarganya di Tenggulun karena desa tersebut tidak memiliki koneksi internet yang memadai.

“Ketika saya sudah bisa mengakses internet, justru keluarga di rumah tidak bisa dihubungi karena di desa kami tidak ada jaringan,” ujarnya.

Dalam aktivitas sehari-hari, keterbatasan internet juga menyulitkan kegiatan kelompok. Untuk menginput data kegiatan atau laporan, anggota kelompok harus pergi ke desa tetangga agar bisa mendapatkan akses jaringan. Selain menghabiskan banyak waktu juga menghabiskan banyak biaya.

Kebutuhan akan konektivitas yang andal menjadi semakin penting setelah serangkaian bencana hidrometeorologi melanda wilayah Sumatra pada akhir 2025.

Kampanye internet positif

Pada November 2025, fenomena Siklon Tropis Senyar memicu hujan sangat lebat hingga ekstrem di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Sistem cuaca langka yang terbentuk di Selat Malaka tersebut meningkatkan intensitas curah hujan dan memicu banjir serta tanah longsor di berbagai daerah.

Di tengah kondisi bencana, keterbatasan jaringan komunikasi kerap membuat warga kesulitan memperoleh informasi, menghubungi keluarga, maupun berkoordinasi dengan pihak luar.

Karena itu, perangkat internet satelit seperti Starlink dinilai penting untuk memastikan komunikasi tetap berjalan, terutama di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi konvensional.

Perempuan Peduli Leuser (PPL) merupakan komunitas perempuan yang bergerak dalam advokasi lingkungan, kampanye perlindungan Kawasan Ekosistem Leuser, serta penguatan peran perempuan dalam isu sosial dan ekologis di Aceh melalui pendekatan jurnalistik.

“Terima kasih kepada Combine yang sudah memercayakan kami sebagai mitra lokal untuk melakukan asesmen dan pendistribusian perangkat. Dengan adanya dukungan perangkat konektivitas ini, semoga komunitas perempuan di Aceh dapat lebih mudah mengakses informasi, memperkuat jaringan kerja, serta meningkatkan kapasitas mereka dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk risiko bencana di masa depan,” kata Ayu.[]

Perjalanan Mendebarkan Pulang ke Kampung Halaman di Gayo Lues via Aceh Tengah

0

“Kita berangkat jalur darat saja, ya, enggak berani jalur udara, cuaca di Banda Aceh sedang hujan,” ujar teman sekantor yang bersamanya aku akan melakukan perjalanan dinas dari Kota Banda Aceh menuju Kabupaten Gayo Lues. Kampung halamanku. Kabupaten yang terletak di jalur Bukit Barisan dan karenanya dijuluki Negeri Seribu Bukit.

Setelah memesan tiket di salah satu travel rute Banda Aceh-Blangkejeren, aku pun mempersiapkan segala keperluan untuk melaksanakan perjalanan tersebut.

Awalnya, aku berpikir kami akan berangkat menuju Gayo Lues melalui jalur Aceh Barat Daya melewati Kecamatan Terangun. Pascabanjir bandang terjadi, jalur Terangun itu adalah satu-satunya akses yang bisa dilewati dari dan menuju ke Gayo Lues.

Setelah dijemput oleh sopir travel, barulah kami tahu kalau jalur yang akan ditempuh ternyata via Aceh Tengah. Ini jalur umum yang biasanya ditempuh menuju Gayo Lues sebelum banjir bandang menerjang. Langsung terbayang olehku jalan yang masih rusak dan sangat ekstrem untuk dilalui via Aceh Tengah. Sebelumnya aku juga baru pulang ke kampung, tapi melalui jalur Aceh Barat Daya di pantai barat selatan Aceh.

Namun, sopir tersebut meyakinkan kami bahwa jalur Banda Aceh–Aceh Tengah–Gayo Lues sudah aman. Ada dua jalur yang biasanya dilewati melalui Aceh Tengah, yaitu jalur Kecamatan Bintang yang melewati tepi Danau Lut Tawar dan jalur Isaq di Kecamatan Linge. Kali ini kami akan melewati jalur Isaq. Lebih aman, begitu kata sopirnya. Bismillah. Maka berangkatlah kami pada Jumat malam, 20 Februari 2026 bersama para penumpang lainnya.

Kami tak banyak protes, dan langsung melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan, sang sopir juga banyak bercerita tentang bencana alam ekologis yang terjadi pada akhir November 2025 lalu. Ia bercerita, saat kejadian itu ia sempat terjebak beberapa hari di Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Ia sedang dalam perjalanan menuju Banda Aceh dengan membawa penumpang mahasiswa dan sejumlah logistik sebagai bekal mereka di kos nanti. Logistik itulah yang mereka masak dan makan bersama selama terjebak di sana.

Setelah beberapa hari terjebak, sang sopir akhirnya memberanikan diri keluar dari Linge bersama dengan rombongan lainnya dan meninggalkan mobilnya di rumah warga setempat.

Sang sopir menyebutkan, bahwa mencekamnya kejadian tersebut melebihi mencekamnya pada saat kejadian tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Logistik berkurang, keluarga tak bisa dihubungi karena sinyal internet padam total, hanya secercah harapan bahwa musibah itu akan berakhir.

Pascabencana banjir, pihak travel, khususnya yang beroperasi di rute Banda Aceh–Gayo Lues mengalami kemerosotan pendapatan karena jalur ke sana lumpuh total. Sampai akhirnya rute Blangkejeren–Banda Aceh melalui Kecamatan Terangun, Kabupaten Aceh Barat Daya dibuka.

Namun, konsekuensinya adalah naiknya tarif angkutan. Banyak penumpang yang kontra dengan kenaikan tarif yang diberlakukan saat itu, padahal kenaikan tarif tersebut tidak sebanding dengan risiko yang ditanggung. Terlebih, saat itu BBM juga sangat langka. Tarif normal ke Gayo Lues sebelum bencana Rp270 ribu. Harganya melambung tinggi menjadi Rp400 ribu pascabencana. Saat aku pulang kemarin, harga tiket sudah turun menjadi Rp300 ribu.

Keadaan saat itu begitu kacau. Berbagai macam harga bahan pokok naik. Bantuan ke Kabupaten Gayo Lues hanya bisa disalurkan lewat udara dan itu pun tidak merata.

Setelah sopir selesai bercerita, aku diserang kantuk. Malam kian larut. Perjalanan dari Banda Aceh memang dilakukan malam hari. Aku pun tertidur, meski sesekali terjaga karena perjalanan tidak begitu mulus. Lubang-lubang di beberapa titik badan jalan membuat mobil tidak stabil. Membuat penumpang di dalam ikut berguncang.

Kondisi Jembatan Atu Peltak di Kec. Rikit Gaib, Gayo Lues, pascabanjir bandang.

Paginya, 21 Februari 2026, saat aku terbangun, kami sudah sampai di daerah Ise-Ise di Kecamatan Pantan Cuaca. Sudah masuk Kabupaten Gayo Lues. Jalanan di kawasan ini berkelok-kelok menuju Kecamatan Rikit Gaib. Pemandangan di sekitar sini yang banyak ditumbuhi pohon pinus masih sama. Indah dan menawan. Apalagi masih diselimuti kabut.

Namun, aku melihat secara langsung, bahwa Gayo Lues belum benar-benar pulih, walaupun sudah tiga bulan bencana alam ekologis berlalu. Kabupaten Gayo Lues tercatat sebagai salah satu daerah yang paling parah diamuk bencana.

Selama perjalanan itu, aku melihat bangunan sekolah yang hancur, jembatan yang sudah miring, rumah yang hancur, jalanan yang rusak dan badan jalan yang amblas, serta persawahan yang rusak parah dan tepat wisata yang rusak pula. Di beberapa titik juga sedang dibangun hunian sementara agar masyarakat tak lagi mengungsi dengan fasilitas seadanya.

Setelah sampai di Blangkejeren dan menyelesaikan tugas-tugas kami, aku menuju kampungku di Gumpang, Kecamatan Putri Betung. Sebelumnya untuk menuju kampungku (lintas Blangkejeren-Kutacane) diberlakukan buka-tutup jalan di jam-jam tertentu. Alhamdulillah, saat aku berangkat tidak diberlakukan aturan itu sehingga tak perlu mengantre lama saat menuju kampungku.

Tapi tetap saja hatiku dag dig dug ser saat melewati akses yang terkena longsor terutama di Daerah Tetumpun, Tangsaran, dan Begade Empat. Apalagi saat usai hujan, jangan coba-coba menguji adrenalin di jalur itu. Ketiga tempat itu adalah titik akses paling parah saat bencana terjadi dan membutuhkan waktu yang sangat lama dalam perbaikannya. Semoga saja segera pulih.

Kayu besar yang terbawa arus banjir bandang dan tersangkut di areal persawahan Desa Gumpang.

Saat di jalur Tetumpun itu aku tak berani lewat, untung saja ada orang baik yang menawarkan bantuan untuk membawa motorku sampai ke jalan yang bagus.

Saat sudah sampai di Desa Gumpang, aku mengunjungi persawahan yang tak jauh dari rumahku. Kami melihat areal persawahan itu kini berubah bentuk. Sudah ada aliran sungai baru yang melewati areal tersebut.

Dulunya tanah itu ditanami padi dan beberapa komoditas lain. Sekarang tak ubahnya seperti hamparan bebatuan dan pasir. Terasa gersang saat matahari menyinari. Sepertinya tak bagus lagi untuk bercocok tanam seperti dulu. Struktur tanah telah berubah, bebatuan besar dan kayu-kayu memenuhi areal tersebut. Ah, bagaimana petani mau menanam kalau begini.

Aku memandang nun ke sana. Memandangi sinar mentari yang menyinari tanah yang dulunya subur, namun kini harus hancur diterpa bencana. Hatiku terasa masygul. Segeralah pulih Gayo Lues. Segeralah pulih Aceh.[]

Catatan perjalanan, 23 Februari 2026

Perempuan, Le‌user, dan Lu​ka‌ A‌ntrop‌osen di Aceh

Oleh Syarifah Huswatun Miswar*

Banjir bandang yang melanda sejumlah wila‌yah di Aceh (juga di Sumatera Utara dan Sumatera Barat) pada akhir November 2025 lalu​ bu‌kanlah peristiwa yan​g datang tanpa sebab. Air yan‌g m⁠eluap, lumpur yang memas‌uki rumah-rumah, dan​ lahan yang rusak tidak bisa semata-mata dijelaskan seb​agai akibat hujan d‌er‌as.

Ia adala‍h hasil dari proses‌ panjang, ketik​a‍ hutan kehilangan fung​sinya sebagi penjaga k​es​eimbangan, d‌an alam dipaksa tunduk pada logika ekonomi yang m‌enggadaikan daya dukung ke‌hidu​pan. Perubaha‌n terjadi tak hanya di darat, tet‌ap​i juga​ di udara, la‌ut, bahkan pada jan‌gkauan lebih luas dari bumi tempat kita tinggali.

Dalam setiap b‌encana ekologis, negara c‌enderung‌ berbicara melalui angka: jumlah ko‌rban, rumah rusak, serta kerugian m‌aterial.​ Namun‌, ada dimensi lain yang sering lup​ut dari perhati‌an, yakni bagaimana krisis ekologis pertama-tama dirasakan melalui tub​uh manusia, terutama tubuh perempuan.

Ke​tika h​utan runtuh, yang lebih dulu kehilangan kese‌i​mbangan bukanlah statistik, melainkan kehidupan sehri-hari yang dikelola oleh perempuan.

D‌i b​anyak‌ komunitas di Aceh, perempuan memiliki​ peran se​ntral dalam mengatur air, pangan,‌ dan ritme rumah t​angga. Mereka meng‌etahui kapan air sungai mula​i be‌rubah‌ war​na, kapan sumur tidak lagi layak minum, dan kapan hasil kebun menu‌r​un kualitasnya. Pe‌ngetahuan ini lahir​ dari pengalama hidup y​ang terus‌-menerus bersentuhan den‌gan alam, bukan dari l‌aporan teknis atau peta kebijakan.

Ketika banjir bandang datang, beban perem​p⁠uan tidak berhent‌i pada status sebag​ai penyintas. Mereka tetap harus memastikan anak-anak makan, mera​wat lansia,‍ membersihkan lumpur,‌ mencari air bersih, dan memulihkan kehidupan di tengah k​eterbatasan. Namun, kerja ini jarang dike​nali sebagai b​agian dari dampak bencana. Nega​ra menyebut “pengungsi”, tetapi sering melupakan ker​ja reprouktif yang runtuh dan harus‌ dibangun kembali, sebagian besar dari kerja itu‌ dilakukan oleh perempuan.

Kawasan Ekosistem Leuser selama berabad-abad bukan sekadar hampar‌an hutan​. Ia adalah mitra hidup​:‌ penjaga air‌, penyeimbang iklim lokal,​ dan ruang hidup bagi manus‌ia serta makhluk n‌on-manusia. Namun, dal‌am beberapa dekade ter​akhir, Leuser semakin sering diper‌lakukan sebagai komoditas. Hutan‌ d​ihitung dalam‌ satuan ekonomi, di‌peta‌kan sebagai su​m‌ber‌ d‌aya, dan dibuka atas nama pembang‌unan.

W‌a‌ja​h antroposen di Aceh semakin jelas, d‌i mana ketika relasi manusia dan alam be​rgeser dari‌ hubungan timbal‌ balik menjadi relasi penguasaan.​ Deforestasi dan alih fungsi lahan tidak hany‌a mengubah lanskap fisik‌, tetapi juga merusak sistem ekologis yang selama ini melindungi kehidupan. Dampaknya hadir secara nyata:​ b​anj​ir yang s​ema​kin sering, tanah yang kehilangan daya serap, dan​ sikl‌us a​ir yang terganggu.

Apa yang terjad‌i d‌i Aceh s‌ejatinya tidak berdiri sendiri. Logika y‌ang mendorong pembukaan hutan di Sumatra bekerja dalam jaringan global yang sama dengan ekspl‌oitasi sumber daya di berbagai belahan dunia. Na‌luri‌ man​usia untuk menguasai cadangan e‌n​ergi demi rasa aman yang dulu menopang kelangsungan hidup, kini bekerja dalam sk​a‌la planet melalui mekanisme pasar,​ izin konses, dan kebijakan pembangu‌nan.‍

Namun,​ da​mpak dari logika global ini tidak te‌rbagi secara​ adil. Wilayah seperti Aceh menanggung b‌eban ekologi​s p‌aling berat, sem‌enta‌ra manfaat ekonominya sering menga​lir ke tempat lain.

Dalam situasi ini, peremp​u​an kembali berada di garis depan dampak krisis, sekaligus paling jauh dari ruang pe‌nga​mbilan keputusa‌n.

Tubuh p​erempuan sejatinya berfung‌si sebagai s‌ensor awal krisis ek​olog‌is. Merek​a​ yang p​er‌tama merasakan sulitnya air bersih, p‌erubahan pola pangan, dan meningk​atn​ya beb​an kerja ketika alam tidak lagi‌ men‌opang kehidupan. Namun, s‌uara ini jarang dianggap‌ sebagai sumber pengetahuan yang sah. Perempu‌an kerap⁠ diposisikan sebaga​i korban pasif, bukan seb‌agai subjek yang memahami‌ perubah‌an ekologis secara langsung.

Di s​ekitar Leuser, terda​pat pen​getahuan lokal yang lahir dari pengalaman panja‌ng hidup berdampingan dengan hutan. Pengetahuan ini tidak romantik;​ i‌a​ prakti​s dan berorientasi pada keberlanjutan. Namun, dalam banyak kasus​, pengetahuan​ tersebut tersingkir oleh logika pasar dan proy‌e​k pembangu‌n‌an j​angka pende​k. Yang hilang bukan hanya tradisi, tetapi ju‌ga sistem pengetahuan yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Banjir banda​ng di Aceh seharusn‌ya​ dibaca sebagai perin​gatan, buka​n sekadar⁠ musibah yang akan segera dilupakan. Jika Leuser dan kawasa‌n se​kitarnya terus dipela‌kukan sebagai komoditas, maka per​empuan akan ter​us m​ejadi pihak yang paling aw‌al menanggung dampaknya dan paling lama mem‌uli​hkan kehidupan​ setelah‌nya.

Menyelamatkan Leuser bukan s​emata s‌oal kebijak​an teknis atau targe​t lingkungan.⁠ Ia m‌enuntut p‌erubahan ca‌ra pandang: bah​wa krisis ekologis selalu memiliki dimens​i sosial dan gender, dan bahwa perempuan buk​an pelengkap narasi, me‌lainkan subjek penge​t‌ahuan yang perlu di dengar. P‌ercaya atau tidak, k‌risis ekologis selalu lebih d‌ulu berbicara melalui tubu​h perempu​an. Pertanyaannya bukan lagi apakah banjir akan terul‌ang, melainkan apakah kita bersedia mendengarkan suara yang selam​a‌ ini paling de​kat d‌engan alam?[]

Penulis adalah anggota Perempuan Peduli Leuser. Saat ini sedang menempuh studi doktoral di Central China Normal University, Political Science and Foreign Studies, International Relations

Editor: Ihan Nurdin

Ramadan di Bawah Tenda Biru

Oleh Yessi*

Rabu, 21 Januari 2026

Pukul 09.30 pagi itu, saya dan kawan-kawan bersiap pergi ke Blang Seunong. Blang Seunong, desa yang berada di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, adalah salah satu desa yang terdampak paling parah akibat banjir bandang pada 26 November 2025 lalu. Mengingat medan yang akan kami datangi tidak mudah, sebelum pergi kami memastikan dahulu kondisi sepeda motor kami. Dan benar saja. Beberapa titik jalan yang kami lalui masih digenangi air, lumpur lengket, dan jalanan yang kanan kirinya longsor. Dari kejauhan kita bisa melihat hutan gundul di sana sini, dan, ironisnya, pokok-pokok kelapa sawit yang berbaris rapi, nyaris tidak terdampak bencana.

Kami bergerak dari Desa Akoja, Alue Ie Mirah, dan setelah menempuh dua jam perjalanan, kami sampai di Blang Seunong. Memasuki desa, kami disambut pemandangan yang membuat kelopak mata tiba-tiba menghangat. Titik-titik air berdesakan, seolah berlomba ingin keluar.

Di sisi kiri jalan ada barisan sepeda motor terparkir rapi. Pemiliknya memilih berjalan kaki, karena di depan sana sedang ada mobil yang mengeruk lumpur sisa banjir. Saya lihat di kiri jalan ada tenda-tenda penuh anak-anak. Rupanya mereka siswa sekolah yang berlokasi tepat di seberangnya. Anak-anak ini terpaksa belajar di tenda karena bangunan sekolah mereka rusak parah. Tidak ada lagi suasana riang khas sekolah seperti yang biasanya dulu terlihat. Seluruh situs sekolah dipenuhi lumpur yang mulai memadat, lumpur yang terhampar seluas mata memandang.

Kami bertemu dengan Pj. Kepala Sekolah, Nurzaitun, S.Pd. Menurut Bu Nurzaitun, kegiatan belajar mengajar (KBM) baru dilakukan dua hari, mengingat kondisi yang tidak memungkinkan. Anak-anak belajar dengan baju dan peralatan belajar seadanya. Tapi mereka tetap terlihat sangat antusias belajar.

Sambil menunggu pengerukan lumpur, kami mampir di kedai salah seorang warga. Nek Gu, begitu dia biasa dipanggil. Ia menceritakan bahwa seumur hidupnya belum pernah ia mengalami musibah banjir seperti ini. Banjir memang bukan hal baru di desa  itu, tetapi kali ini dampaknya luar biasa parah. Kedainya hancur, seluruh barang dagangan rusak. Bangunan rumahnya bahkan sampai terangkat dan bergeser ke tempat lain.

Kondisi Kantor Keuchik Blang Seunong. Foto: Yessi

Kerugian material sudah pasti sangat besar. Kedai Nek Gu merupakan kedai terbesar, sekaligus satu-satunya kedai terlengkap di desanya. Beberapa hari sebelum banjir Nek Gu baru saja berbelanja stok barang dalam jumlah besar, mengingat pada masa lalu, setiap kali banjir naik, akses warga untuk keluar sangat sulit. Maka dipastikan warga akan berbelanja di kedainya. Walau mengalami kerugian besar, Nek Gu masih bersyukur karena semua orang selamat, tidak ada korban jiwa dalam bencana banjir ini.

Perjalanan kami lanjutkan. Kami dijemput oleh kawan kami, Pak Abdul Halim.  Di sepanjang jalan cuaca cerah, bagus,  kontras dengan pemandangan yang kami lihat. Rumah-rumah rusak parah, tidak lagi bisa ditinggali. Tenda-tenda berdiri di samping, depan, atau tepat di tengah di tapak rumah. Sementara bangunan rumahnya sendiri sudah hilang, hanyut terbawa arus banjir.  Jejak banjir terlihat  di tembok-tembok bangunan yang masih ada, di pohon-pohon kelapa, juga pada pokok pohon-pohon yang kering dan mati tercekik banjir.

Dari keterangan warga di sana, ketinggian banjir mencapai kabel listrik, atau sekitar enam meter. Banjir ini bukan sekedar air seperti dulu, tapi juga membawa lumpur dan gelondongan kayu-kayu besar yang menghancurkan  rumah dan kebun warga.

Kami berjalan bersama iring-iringan mobil rombongan relawan dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Mereka membawa bungkusan paket-paket sembako, juga mengadakan pemeriksaan serta pengobatan gratis dari rumah ke rumah, didampingi oleh  kepala dusun.

Desa Blang Seunong memiliki lima dusun. Ada tiga dusun terdampak banjir paling parah, yaitu Dusun Blang Seunong, Dusun Peulalu, dan Dusun Parek. Sementara dua dusun lainnya yang terletak di perbukitan, aman dari banjir.

Aktivitas ekonomi pascabencana belum normal sepenuhnya, tetapi pelan-pelan warga sudah mulai berangkat kembali ke kebun. Kedai-kedai juga sudah mulai buka. Kita sudah bisa memesan kopi dan gorengan hangat di sana.

Aktivitas warga hampir kembali normal sejak  2 atau 3 hari belakangan (mulai sekitar tanggal 18 Januari), ketika lumpur di jalan mulai dibersihkan. Sebelum itu mereka bertahan di tenda-tenda pengungsian dalam kondisi seadanya. Warga seolah terjebak, tak bisa ke mana-mana. Bahkan untuk menengok rumah masing-masing pun, butuh berjalan kaki enam jam pergi pulang, untuk jarak yang dalam kondisi normal dapat ditempuh dalam waktu 7-10 menit. Hal ini disebabkan lumpur yang masih sangat tebal. Hingga beberapa lama setelah air surut, belum ada  alat berat masuk desa untuk membantu mengeruk lapisan lumpur. Sebelumnya warga sempat membuat permohonan, ditandatangani seluruh warga, meminta pinjaman alat berat kepada perusahaan (Medco, red) dan pemerintah setempat agar lumpur dapat dibersihkan secara maksimal.

Warga yang kami jumpai mengatakan bahwa minimnya perhatian dari pemerintah membuat proses pemulihan berjalan lambat. Dari pembicaraan bersama warga kami mendapati bahwa ternyata sedari dulu, atas prakarsa mandiri, warga membuat jalo (sampan kecil) yang disimpan di rumah masing-masing, agar jika sewaktu-waktu banjir mereka dapat segera evakuasi diri.

Tidak semua warga memiliki sampan. Tetapi mereka mengatur bahwa setidaknya dalam setiap 4 rumah yang berdekatan, akan ada satu rumah yang memiliki sampan. Selain kehadiran speedboat dari pemerintah yang dihibahkan di tahun 2023, inisiatif mitigasi inilah yang membuat warga dapat diselamatkan tepat waktu tanpa harus menimbulkan korban jiwa.

Bersama Pak Abdul Halim dan istrinya, Ibu Masyitah, guru di SDN  Blang Seunong, kami berkeliling desa. Tampak bangunan kantor keuchik yang rusak berat. Juga SMPN 5 Pante Bidari, SMAN  2 Pante Bidari, masjid, menasah, dan balai pengajian, semuanya masih terkubur lumpur. Warga bersama TNI sempat membersihkan sebagian lumpur yang ada. Namun karena keterbatasan alat kerja, pembersihan maksimal tidak dapat dilakukan. Sebagai akibatnya bangunan-bangunan itu tetap belum bisa digunakan.

“Ramadan sudah dekat. Di mana salat Tarawih dan kegiatan ibadah lainnya akan diselenggarakan nanti?” tanya kami.

“Kami akan bergotong royong membersihkan masjid. Sementara itu, dalam bulan suci Ramadan ini kami akan menghidupkan kembali kegiatan ibadah di bawah tenda,” sahut warga.

Menurut rencana, tenda-tenda untuk ibadah ini akan ditegakkan di halaman masjid. Rencananya kerangkanya dibuat dari baja ringan yang diperoleh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sementara atapnya adalah lembaran plastik lebar yang kemudian dilapisi lagi dengan terpal plastik yang lebih tebal.

“Tetapi kami masih belum tahu dari mana atau bagaimana kami bisa memperoleh tikar, sajadah, pelantang, dan lampu penerangan yang diperlukan untuk menunjang kegiatan salat Tarawih, maupun perlengkapan salat lainnya,” mereka menyambung.

Tenda sekolah darurat di Desa Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur. Foto: Yessi

Kami juga mengunjungi sekolah darurat yang didirikan di bawah tenda. Puluhan siswa-siswi usia sekolah dasar duduk di atas tikar plastik, khusyuk mendengarkan sang guru yang berdiri di depan. Semangat dan optimisme mereka untuk tetap menimba ilmu di tengah situasi darurat pascabencana ini membuat mata spontan basah.

Cukup jelas bahwa inisiatif, juga optimisme masyarakat, untuk pulih dan bangkit dari kondisi pascabencana banjir ini sangat kuat. Namun, itu tidak berarti bahwa mereka tidak memerlukan bantuan. Magnitudo bencana galodo November 2025 terlalu besar bagi rakyat untuk dapat mengatasinya secara mandiri. Mereka membutuhkan bantuan sekecil apa pun agar pemulihan ini berjalan dengan tepat dan tuntas sehingga warga bisa mulai menata kembali kehidupan mereka. Ini bukan bicara tentang siapa yang sudah membantu dan siapa yang belum, melainkan tentang kerja sama dan empati.

Kehadiran negara tidak ditandai dengan kunjungan para pejabat. Rakyat menantikan tindakan nyata. Tindakan cepat tanggap yang didampingi kebijakan struktural, langsung menyasar pada ketersediaan kebutuhan dasar manusia, tanggapan atas situasi darurat yang tengah dihadapi, itulah yang diperlukan.

Jalo, yang dengan kesadaran penuh disediakan penduduk di rumah masing-masing sebagai antisipasi banjir, seharusnya menjadi inspirasi mitigasi bencana di kemudian hari. Aceh telah memiliki Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB), yang dibentuk pada tahun 2017 silam. Sesuai dengan visi Forum PRB Aceh yaitu “menjadi organisasi yang permanen dalam hal memberikan pemahaman terhadap bencana di kalangan masyarakat Aceh”, maka Aceh tentunya telah memiliki konsep dan mekanisme mitigasi kebencanaan yang mumpuni. Tanpa melupakan SOP mitigasi bencana internasional seperti misalnya pengadaan “ransel darurat bencana” bagi setiap anggota keluarga, kearifan lokal seperti penyediaan jalo sebagai moda evakuasi, atau konsep ketahanan pangan “peger ni keben” dalam masyarakat Gayo, yang dapat menjadi cadangan pangan masa bencana, selayaknya dimasukkan ke dalam rencana mitigasi kebencanaan khas Aceh. 

Jam telah menunjukkan pukul 14.25 ketika kami bergegas pulang. Kami berjalan perlahan di atas lapisan lumpur yang memadat. Tidak bisa terlalu gegas, risiko terpeleset selalu ada.

Langit mulai gelap oleh mendung. Jika hujan turun, besar kemungkinan kami akan terjebak, tak dapat pulang. Karena tanah lumpur yang dikerok dari badan jalan hanya ditumpukkan di tepi, sehingga bila hujan turun cukup deras maka tumpukan itu akan meleleh, kembali menggenangi jalan.

Dalam perjalanan pulang kami melewati Desa Pante Labu, Alue Ie Mirah. Pemandangan yang terhampar di sepanjang jalan nyaris sama: lumpur di mana-mana. Mengerak hingga ke batas sawang. Sedikit nyala harapan terbersit dari huntara (hunian sementara) Pante Rambung, Kecamatan Pante Bidari, yang telah dibangun oleh Pemerintah.

Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al Farlaky, memulai peletakan batu pertama pembangunan huntara di Kecamatan Idi Rayeuk pada 9 Januari 2025. Rencananya huntara akan dibangun di Simpang Jernih, Serba Jadi, Idi Rayeuk, Peureulak, Julok Madat, dan Pantee Bidari. Untuk Kecamatan Pante Bidari sendiri, direncanakan akan dibangun 87 unit huntara.

Huntara dibangun dengan dua pendekatan, yakni secara in-situ (di lokasi semula) dan melalui relokasi, disesuaikan dengan tingkat kerusakan dan kondisi wilayah terdampak. Secara fungsi, huntara dibangun sebagai hunian darurat sementara proses pembangunan huntap (hunian tetap) berlangsung. Pembangunan huntap pun akan difasilitasi oleh Pemerintah Aceh Timur dengan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat.

Pantauan kami, huntara yang telah dibangun memiliki dua desain. Yang satu berupa rangkaian rumah kopel dengan lingkungan yang ditata, lainnya berupa rumah-rumah mandiri yang dipisahkan satu sama lain dengan grid (gang). Sambil kembali mengendarai motor, menyusuri jalan pulang, kami diam-diam mengucapkan doa. Semoga  kondisi segera membaik, dan semoga rakyat terdampak bencana akan segera memperoleh kembali kedamaian dari hidup yang normal. Itulah harapan kami. Harapan kita semua.[]

Penulis adalah warga Desa Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur

Penanganan Bencana Harus Berbasis Pengetahuan Lokal dan Sains

Situasi bencana tidak hanya memicu kerusakan fisik, tetapi juga secara signifikan meningkatkan kerentanan perempuan, terutama ibu hamil dan menyusui. Direktur LSM Flower Aceh, Riswati, M.Si., menegaskan bahwa dalam kondisi darurat hingga pascabencana, perempuan dan anak menghadapi risiko berlapis, mulai dari ancaman penularan penyakit di pengungsian, keterbatasan akses kebersihan, hingga minimnya fasilitas yang ramah perempuan.

“Penyediaan hunian sementara kerap belum sensitif terhadap kebutuhan perempuan, dan masih terbatasnya data serta respons kebencanaan berbasis kerentanan,” kata Riswati.

Kerentanan kelompok rentan inilah yang mengemuka dalam webinar bertajuk “Bencana Banjir Sumatra dalam Perspektif Lingkungan, Pembangunan Ekonomi, dan Kerentanan terhadap Perempuan dan Anak” yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh atau Aceh Climate Change Initiative (ACCI) Universitas Syiah Kuala, Kamis, 15 Januari 2026.

Dalam forum tersebut, Koordinator Divisi Mitigasi Bencana Geologi Pusat Penelitian Mitigasi Bencana Tsunami (Tsunami Disaster Mitigation Research Center) Universitas Syiah Kuala, Prof. Mukhsin, menekankan pentingnya pengurangan risiko bencana (PRB), mengingat Indonesia berada di kawasan lempeng tektonik aktif, sementara bencana yang paling sering terjadi justru banjir.

Ia memaparkan bahwa penanggulangan bencana harus dikelola dalam siklus yang jelas, yakni prabencana melalui asesmen risiko dan mitigasi, saat bencana melalui tanggap darurat, serta pascabencana melalui rehabilitasi dan rekonstruksi.

“PRB juga perlu mempertimbangkan return period sebagai dasar perencanaan dan kesiapsiagaan,” ujarnya.

Ia turut menyoroti pentingnya pengetahuan sosial lokal, seperti praktik smong di Pulau Simeulue, serta peran sains dan rekayasa untuk memperkuat sistem dan data kebencanaan. Menurutnya, penanganan bencana bersifat lintas batas sehingga kolaborasi multipihak, termasuk internasional, menjadi krusial.

“Dalam konteks tata kelola, kerja multistakeholder dan pendekatan multidisiplin penting untuk koordinasi penanganan bencana hingga fase rehabilitasi dan rekonstruksi,” katanya.

Sementara itu, Prof. Budy Resosudarmo dari Arndt-Corden Department of Economics sekaligus Head of Australian National University Indonesia Project menegaskan bahwa tingkat kejadian natural hazard dan bencana di Indonesia tergolong tinggi dan berdampak luas. Dampak tersebut, kata dia, kerap lebih berat dirasakan oleh masyarakat miskin sehingga berpotensi memperlebar ketimpangan.

“Karena itu, kebijakan publik perlu memperkuat pengetahuan kebencanaan, sistem peringatan dini, serta dukungan bantuan pascabencana dan pemulihan, termasuk dukungan finansial,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dampak jangka panjang bencana terhadap anak, termasuk menurunnya peluang pendidikan bagi anak terdampak dibandingkan yang tidak terdampak. Untuk itu, ia mengangkat pentingnya instrumen perlindungan seperti pengembangan asuransi kebencanaan dengan prinsip pemerataan dan subsidi silang antarpeserta.

Dalam fase pemulihan, Prof. Budy menekankan bahwa pascabencana tidak hanya menyangkut rekonstruksi fisik, tetapi juga pemulihan mata pencaharian yang membutuhkan horizon jangka panjang, sekitar lima hingga sepuluh tahun.

Webinar ini diikuti oleh lebih dari 150 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, terdiri atas praktisi, akademisi, perwakilan pemerintah, serta berbagai lembaga terkait. Kegiatan dibuka oleh Head of ACCI USK, Ir. Suraiya Kamaruzzaman, M.T., dan dimoderatori oleh Prof. Cut Dewi.

Forum ini menegaskan bahwa banjir sebagai bencana yang paling sering terjadi memerlukan penguatan manajemen risiko bencana yang terintegrasi, sejak prabencana hingga pemulihan jangka panjang, sekaligus memastikan perlindungan yang memadai bagi kelompok rentan.

Sejumlah masukan juga dicatat sebagai langkah tindak lanjut bagi pemerintah daerah dalam menghadapi bencana hidrometeorologi, antara lain penegakan aturan terhadap penebangan hutan dan aktivitas tambang yang tidak berkelanjutan; rehabilitasi kawasan hulu dan daerah aliran sungai melalui penanaman tanaman konservasi dan pendekatan agroforestry bernilai ekonomi; percepatan penyediaan hunian sementara dan relokasi permanen di lokasi aman; serta pemenuhan kebutuhan dasar kelompok rentan dan perbaikan sarana pendidikan serta kesehatan.

Melalui kegiatan ini, ACCI USK mendorong penguatan agenda PRB yang komprehensif, berbasis data dan teknologi yang andal, kolaboratif lintas lembaga, sensitif terhadap kelompok rentan, serta menempatkan pemulihan sosial-ekonomi jangka panjang sebagai bagian integral dari strategi kebencanaan.[]

Regulasi Teknis untuk Pemenuhan Hak Disabilitas

0

Pemerintah Aceh menggelar konsultasi publik dan penjaringan masukan substansi Ranpergub Aceh tentang Pelaksanaan Qanun Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Kegiatan ini diikuti oleh seratusan peserta dari berbagai perwakilan lembaga dan organisasi, serta berlangsung sehari penuh di Hotel Ayani Banda Aceh, Kamis, 8 Januari 2026.

Kepala Biro Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat Setda Aceh, Dr. Yusrizal Zainal, menjelaskan bahwa konsultasi publik dan penjaringan masukan ini merupakan tindak lanjut dari lahirnya Qanun Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas.

“Qanun tersebut tidak dapat dijalankan secara efektif tanpa adanya pergub dan karena itu pertemuan ini menjadi penting. Ini ruang yang strategis untuk berkontribusi dalam mencapai target tersebut,” kata Yusrizal dalam sambutannya.

Pemerintah Aceh kata Yusrizal, menaruh perhatian penuh dan bersungguh-sungguh dalam melanjutkan rancangan pergub tersebut. Keberadaannya akan menjadi pilar yang sangat penting untuk mengoptimalkan output yang diharapkan. Ia berharap proses penjaringan bisa segera selesai dan draf ranpergub bisa segera difinalkan.

“Kita juga berpacu dengan waktu. Harapannya apa yang jadi tujuan penyusunan pergub ini nantinya dapat diimplementasikan secara efektif dan menjadi instrumen hukum yang sah,” katanya.

Mengapa Pergub Ini Penting?

Sementara itu, Plt. Kadis Sosial Aceh, Chaidir, M.M., dalam paparan materi pengantar menjelaskan, penyusunan ranpergub tersebut berlandas pada Qanun Nomor 2 Tahun 2025. Qanun itu hadir sebagai solusi untuk berbagai persoalan yang dihadapi oleh para penyandang disabilitas.

Ia menjelaskan, penyandang disabilitas memiliki hak yang setara sebagai warga negara.

Namun, dalam kenyataannya, masih terdapat kesenjangan pada akses layanan dasar, perlindungan sosial, ataupun pada pemberdayaan.

Oleh karena itu, pergub ini nantinya akan menjadi regulasi teknis sehingga qanun tersebut dapat diimplementasikan. Ia juga menekankan, dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas perlu integrasi lintas sektor, yang peran strategisnya ada di dinas sosial.

“Saya tidak mau ada regulasi, tapi tidak bisa diimplementasikan karena terkendala dengan kewenangan yang lebih tinggi. Pergub ini sangat urgen karena di sinilah norma, standar, prosedur, dan kriteria pelaksanaan Qanun Nomor 2 Tahun 2025 tersebut dijabarkan,” kata Chaidir saat pemaparan materi pengantar sebelum penjaringan dan penelaahan rancangan pergub.

Setelah di-SK-kan oleh gubernur, pergub tersebut juga akan menjadi pedoman teknis bagi organisasi perangkat daerah dalam merencanakan, menganggarkan, dan melaksanakan berbagai program yang berkaitan dengan pemenuhan hak penyandang disabilitas. Kehadiran qanun atau pergub ini juga diharapkan bisa menyelesaikan persoalan data terkait jumlah penyandang disabilitas di Aceh. Tanpa data, perencanaan penganggaran yang berpihak pada disabilitas tidak bisa dilakukan secara inklusif.

“Misalnya sekarang, Kemensos minta data berapa penyandang disabilitas yang terdampak bencana, tapi datanya masih simpang siur. Masing-masing OPD punya data, atau datanya tidak ter-up date. Ke depan, semoga semua data terintegrasi, by name by addres,” katanya.

Dampak dari persoalan tersebut, banyak individu atau kelompok disabilitas yang tidak mendapatkan perhatian pemerintah dalam penanganan pascabencana. Kondisi ini diharapkan bisa diatasi dengan adanya Pergub Pelaksanaan Qanun Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Selain menjamin pemenuhan hak penyandang disabilitas yang sistematis, kehadiran pergub ini juga bisa membuat program-program yang dirancang oleh OPD lebih terarah dan tidak tumpang tindih.

“Dan sejalan dengan visi misi gubernur, kita berharap terwujudnya Aceh yang ramah dan inklusif bagi disabilitas,” ujarnya.

Selain Chadir, paparan materi pengantar juga disampaikan oleh dua narasumber lain, yaitu Nurdani, S.H. dari Kementerian Hukum Provinsi Aceh. Ia menyampaikan tentang Regulasi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Penyandang Disabilitas. Kedua, Bayu Satria dari Youth ID Aceh yang menyampaikan topik Mewujudkan Aceh Inklusif: Perspektif Penyandang Disabilitas terhadap Ranpergub.

Pada sesi kedua yang dimulai setelah zuhur, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok membahas dan memberikan masukan untuk bagian-bagian yang sudah ditentukan.

Ranpergub tentang Pelaksanaan Qanun Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas terdiri atas 14 bab yang terbagi menjadi 63 pasal. Ranpergub ini menjabarkan beberapa hal substansi, di antaranya, Sosialisasi Pelindungan dan Bantuan Hukum; Pemberian Bantuan, Dukungan, dan Pendampingan Kewirausahaan; hingga tentang Unit Layanan Disabilitas.[]

Tampil Cantik: Semangat bagi Penyintas Bencana

0

Di sebuah ruangan luas, seorang perempuan bersimpuh, tangannya sibuk mengikat-ikat sehelai handuk kecil. Mulanya ekspresinya biasa saja. Seiring waktu, ada perubahan di wajah itu. Seperti geram. Gemas. Ikatan pada handuk berkali-kali dieratkannya. Matanya berkaca-kaca.

Seorang perempuan berkacamata menghampirinya. Bertanya lembut.

“Ibu kesal pada siapa? Atau pada apa? Boleh Ibu ceritakan?”

Dan perempuan itu pun bercerita.

Dia marah pada keadaan. Pada ketidakmampuannya menyediakan makanan untuk anak-anaknya. Pada tenda, pada tempatnya tidur yang hanya beralas tikar. Di akhir cerita, air matanya mengalir tak terbendung. Terisak-isak. Perempuan berkacamata yang sedari tadi mendengarkan, memeluknya. Belasan perempuan lain memperhatikan adegan itu. Ekspresi mereka memahami.

Setelah mengeluarkan beban yang bertumpuk di hati, perempuan tadi tampak lebih tenang. Ira, perempuan yang berkacamata, menjelaskan kepadanya bahwa setelah beban perasaan berkurang, maka kita harus kembali tenang dan menyayang. Keluarga membutuhkan ketenangan kita. Boneka beruang lucu yang tadi dibuat dengan cara mengikat kencang-kencang, penuh emosi itu, sekarang harus dijaga dan disayang.

“Triknya begitu,” kata Ira pada perempuanleuser.com. “Mereka semua korban terdampak bencana. Beban psikologis sudah pasti ada. Masalahnya, mereka tidak punya ruang, kesempatan, dan waktu untuk menjaga kesehatan mental mereka, karena disibukkan usaha bertahan hidup. Di situlah kami hadir, memberikan ruang dan kesempatan tadi.”

Hari itu, Jumat, 19 Desember 2025, Tim Institut Teknologi Bandung (ITB) Peduli ada di Gampong Raya Dagang, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Mereka hadir untuk membantu meringankan beban para korban terdampak Galodo[1] Sumatera yang terjadi pada 26 November 2025.

Bu Ira, panggilan sehari-hari Dr. Ira Adriati, M.Sn., adalah Ketua Tim Psikososial atau trauma healing. Dalam kegiatan layanan psikososial ini ia dibantu dua mahasiswa magister, Rahyannita Ilma dan Binda Intan Zahrani. ITB sendiri bekerja sama dengan Prodi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK), serta Universitas Al Muslim Bireuen. Tim akan melakukan aksi tanggap bencana di Kecamatan Peusangan dan Kecamatan Kuta Blang pada 19-20 Desember 2025. Selain layanan psikososial, layanan lain yang diberikan adalah layanan kesehatan, donasi obat-obatan dan sembako, juga pemasangan instalasi pengolahan air bersih.

Fakultas Kedokteran USK diperkuat jajaran dokter ahli, termasuk ahli anak, ahli penyakit dalam, ahli THT, serta ahli kulit dan kelamin. Penanggung jawab Tim USK adalah Dr.rer.nat. dr. Muhsin, Sp.PD dari Fakultas Kedokteran.

Klinik darurat dibuka di masjid Desa Jambo Kajeung. Turut turun tangan, Direktur Rumah Sakit Pendidikan USK, Dr. dr. Mulkan Azhary, M.Sc., Sp.P (K). Para pengabdi masyarakat ini bekerja sejak pukul delapan pagi. Berhenti hanya ketika pasien sudah tak ada lagi. Saat ini terjadi, matahari sudah tinggi dan pasien yang dilayani mencapai 150 orang.

Absennya tempat tinggal serta sarana sanitasi yang memadai, ditambah kondisi lingkungan pasca banjir dan cuaca tak menentu, menyebabkan para pengungsi banyak yang terdampak infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan penyakit kulit. Namun, yang tak kurang banyaknya, adalah mereka yang terdampak secara psikologis. Di sinilah layanan psikososial berperan.

Tim Psikososial ITB bekerja sama dengan tim dari Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USK membawa program pemulihan psikologis untuk usia PAUD-SD, usia remaja, dan usia dewasa. Tim USK diketuai Dr. Sanusi, S.Pd., M.Si.

Kabupaten Bireuen adalah salah satu kabupaten yang mengalami kerusakan sangat parah akibat bencana galodo. Saksi mata mengatakan bahwa gelombang banjir bandang yang menerjang beberapa wilayah di Bireuen berasal dari dua arah. Satu, dari arah selatan atau arah hulu Krueng Peusangan; dan yang kedua dari arah timur, dari anak-anak sungai yang mengalir di sana. Volume air yang sangat tinggi, ditambah balok-balok kayu besar yang turut hanyut, menghantam Bireuen dengan kekuatan penuh.

Harian Serambi Indonesia melaporkan bahwa 28 jembatan, terdiri atas 8 jembatan rangka baja, 4 jembatan kayu, dan 16 jembatan beton berbagai ukuran, putus total. Bupati Bireuen, H. Mukhlis, S.T., menyebut bahwa delapan jembatan berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan. Dua ribu hektare sawah hancur, 16 ribu rumah terdampak, mulai dari kerusakan berat, sedang hingga ringan. Total sekitar 110 ribu kepala keluarga mengungsi. Melihat ini, tanpa menghitung korban jiwa pun, sudah pasti rakyat Bireuen menanggung beban yang sangat berat.

Dalam dua hari bertugas, Tim Psikososial ITB baru melayani kaum ibu. “Bukan tidak mau membantu kaum bapak memulihkan diri. Tetapi ketika kami datang, para bapak masih sangat sibuk, memperbaiki ini-itu, evakuasi korban, bahkan membuka jalan,” jelas Ira. Namun, ke depan, tim berharap bahwa para bapak akan dapat mengikuti kegiatan ini juga.

“Sebab ini bukan kali pertama dan terakhir kami turun,” kata Ira. “Pemulihan dari bencana perlu waktu. Dan Tim kami insyaaallah akan mendampingi masyarakat Aceh hingga tuntas.”

Kegiatan psikososial yang diampu Tim ITB meliputi kegiatan menyanyi, menari, menggambar, mewarnai gambar dan bercerita untuk anak-anak. Kegiatan menggambar diintegrasikan dengan layanan pemulihan trauma, anak-anak diminta menggambarkan apa yang membuat mereka takut. Bagi remaja, kegiatan meliputi latihan sensorik dan emosi seperti merobek kertas, membangun “segitiga harapan”, merangkai gelang manik-manik dan gantungan kunci tali prusik. Para ibu dibantu “bersentuhan” dengan emosi mereka melalui kegiatan sharing, membuat boneka dari handuk dan membuat kain jumputan. Mereka juga mendapat sesi terapi khusus bertajuk Photo Therapy.

Seorang peserta usia anak menceritakan tentang gambar yang dibuatnya (dok: Tim Psikososial ITB)

Salah satu hasil mewarnai gambar. Tulisan pada layangan adalah pertanyaan dari Tim. Perhatikan jawaban kanan atas: “Siapa yang bisa menolong kamu saat banjir? Allah.” (dok: Tim Psikososial ITB)

Ada hal menarik terjadi dalam sesi sharing. Ira menawarkan pada peserta, siapa yang bersedia berbagi cerita lebih dulu. Semula, semua enggan. Tapi ketika ada peserta memberanikan diri untuk sharing dan Ira memberikan kosmetik sebagai apresiasi, mendadak antusiasme peserta yang lain timbul.

“Agaknya sudah menjadi naluri perempuan,” kata Ira tersenyum lebar, “walaupun di tengah keadaan darurat, perempuan selalu ingin tampil sebaik mungkin.”

Kosmetik yang dibagikan merupakan sumbangan dari Ikatan Orangtua Mahasiswa (IOM) ITB. Disebutkan, bahwa tampil bersih, wangi, dan menarik, selain merupakan fitrah manusia dan sunah Nabi, juga membangkitkan kembali rasa percaya diri. Pada korban bencana, harga dan kepercayaan diri adalah salah satu aset dasar yang hancur. Maka dengan membantu mereka memulihkan harga diri, akan lebih mudah bagi mereka untuk mengatasi tantangan hidup.

Terapi lain yang dibawa oleh Tim ITB adalah phototherapy. Beberapa foto khusus ditunjukkan pada peserta. Lalu mereka diminta menceritakan apa yang mereka rasakan saat melihat gambar itu, bagaimana pikiran mereka.

Phototherapy Kit (dok: perempuanleuser.com)

Foto yang mendapat komentar paling banyak dan paling menarik adalah foto wajah manusia yang dibalut helaian kain kasa. Seperti mumi Mesir. Peserta menyebut bahwa foto itu seperti mewakili keadaan mereka saat ini, yang seperti ditutup mata, hidung dan mulut, tak bisa berbuat apa-apa. Di lain saat, foto beberapa pasang kaki mendapat komentar bahwa kita (masyarakat terdampak bencana) harus tetap melangkah, pantang menyerah, mencari jalan ke arah pemulihan. Dan karena kaki yang nampak ada beberapa pasang, mereka mengomentari bahwa “kita harus bekerja sama”.

“Komentar-komentarnya menunjukkan pemahaman atas situasi yang mereka hadapi, dan resiliensi yang luar biasa,” ujar Ira. “Bahkan anak-anak pun begitu. Selanjutnya kami sekadar mengelaborasi, sikap mental serta tindakan apa yang sebaiknya diambil, setelah masa darurat berlalu.”

Disebutkan, bahwa para ibu yang membuat kain jumputan, mendapat ide untuk “melanjutkan hidup”, setelah melihat hasil karya mereka.

Hasil karya para peserta tengah dijemur (dok: Tim Psikososial ITB)

“Mereka langsung penuh ide, ingin membuat ini-itu dengan teknik jumputan ini. Ada yang sampai berlinang air mata, karena merasa dirinya ‘hidup’ dan kembali memiliki harapan, apa yang bisa dilakukannya di masa depan,” kata Ira.

Ekspresi emosi seorang peserta setelah sesi membuat jumputan (dok: Tim Psikososial ITB)

Dalam sesi kreativitas untuk remaja, kegiatan dibagi dua. Remaja putra membuat gantungan kunci dari tali prusik[1], remaja putri membuat gelang manik-manik. Sebelum itu, mereka melalui rangkaian terapi merobek kertas, membuat “Segitiga Harapan” dari batang bambu, serta mengisi kuesioner tentang kelebihan dan kekurangan diri masing-masing.

Membuat gelang manik-manik (dok: Tim Psikososial ITB)

Tim ITB bersama seorang penduduk dan remaja putra yang “pamer” gantungan kunci DIY (dok: Tim Psikososial ITB)

Saat sesi merobek kertas, sebagian peserta memprotes. “Sayang banget, Bu, kertas bagus begini dirobek-robek,” kata mereka.

Ira meyakinkan mereka bahwa ini ada maksudnya. Dia menganjurkan agar para remaja itu membayangkan kertas di tangan sebagai rintangan terbesar yang mereka hadapi saat ini, lalu merobeknya.

“Ayo robek, robek lagi!” Ira menyemangati. “Robek semua rintangan!”

Suasana jadi meriah saat para remaja itu bersemangat “merobek rintangan”. Wajah mereka aga berubah, menjadi lebih percaya diri.

“Senang sekali bisa sedikit membantu mereka mengeluarkan kepribadian positif mereka kembali,” kata Ira. Kedua asistennya yang turut hadir saat wawancara, mengangguk tanda setuju.

“Luar biasa mereka,” kata Binda, “bencana sebesar ini, mereka hadapi dengan sikap yang tetap positif.”

“Kami beruntung bisa ikut dalam tim ini,” sambung Ilma, “banyak sekali pelajaran hidup yang kami dapat.”

“Ya. Sejatinyanya, bukan kami yang membantu mereka. Tapi merekalah yang membantu kami, untuk lebih memahami hidup, serta memahami artinya bersyukur,” pungkas Ira lagi.[]

[1] Tali prusik adalah tali kecil berbahan sintetis (biasanya polyester), digunakan sebagai alat bantu pendakian atau panjat tebing, untuk membuat simpul yang menjerat tali utama

[1] Galodo adalah istilah Minangkabau untuk banjir bandang yang disertai benda-benda besar seperti batang kayu, batu dan lain-lain

Pendampingan Perempuan dan Penguatan Kesadaran Lingkungan Jadi Fokus Pemulihan di Balee Panah

0

Perempuanleuser.com | Bireuen—Warga Gampong Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, masih menjalani proses pemulihan pascabanjir yang melanda wilayah mereka. Selain dampak sosial dan ekonomi, warga menyoroti persoalan lingkungan yang dinilai turut berkontribusi terhadap terjadinya bencana.

Isu tersebut mengemuka dalam pertemuan Yayasan Perempuan Anak dan Negeri (YPANBA) bersama Pemerintah Gampong Balee Panah, Selasa (7/1/2025), di sela persiapan peletakan batu pertama pembangunan tiga unit rumah bantuan bagi warga terdampak di Dusun Kayee Jato.

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan pelaksanaan program pemulihan pascabencana berbasis masyarakat, dengan fokus pada pendampingan perempuan dan penguatan kesadaran lingkungan.

Keuchik Balee Panah, Muntazar, SE, menyampaikan bahwa banjir menjadi pengingat penting akan perlunya menjaga keseimbangan lingkungan.

“Pemulihan pascabanjir tidak cukup hanya membangun kembali rumah warga, tetapi juga harus disertai upaya menjaga lingkungan agar kejadian serupa tidak terus berulang,” ujarnya.

Ia juga menekankan peran strategis perempuan dalam proses pemulihan keluarga dan komunitas.

Sementara itu, Desy Setiawaty, Staf Program YPANBA, menyampaikan bahwa pendekatan pemulihan yang dilakukan YPANBA tidak hanya berfokus pada bantuan darurat, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat.

“Kami melihat perempuan penyintas memiliki pengalaman dan pengetahuan penting dalam menghadapi bencana. Pendampingan ini bertujuan memperkuat peran mereka sebagai agen pemulihan sekaligus penjaga lingkungan di tingkat keluarga dan komunitas,” jelasnya.

Warga menilai banjir tidak semata disebabkan curah hujan tinggi, tetapi juga dipengaruhi perubahan kondisi lingkungan, termasuk penebangan hutan dan perluasan kebun sawit yang mengurangi daya dukung alam serta meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

Hasil pemantauan lapangan menunjukkan kondisi posko pengungsian masih belum layak, dengan keterbatasan akses air bersih, sanitasi yang tidak memadai, serta minimnya ruang privasi bagi perempuan dan anak.

Dari sisi ekonomi, banjir menyebabkan terhentinya sumber penghidupan warga, khususnya perempuan yang sebelumnya bergantung pada usaha kecil seperti produksi kue, berkebun, dan bekerja di kilang kayu.

Melalui pendekatan pemulihan yang mengintegrasikan isu lingkungan, YPANBA berharap masyarakat tidak hanya pulih dari dampak banjir, tetapi juga semakin sadar akan pentingnya perlindungan lingkungan guna mengurangi risiko bencana di masa depan.[]

Liburan Jadi Asyik Karena Bertualang Mengenal Kampung

Oleh Innaya Zahra Hafiza*

Liburan sekolah sudah tiba, saya bersama teman-teman melakukan kegiatan bertualang. Mulai dari mengenal delapan sumber mata air yang ada di Gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, mengenal sampah organik dan anorganik, hingga makan-makan dan mewarnai bersama teman-teman baru.

Saat mengenal delapan sumber mata air, kami menjungi telaga pertama, yaitu Talago Mengkudu.

Mengapa dinamai Talago Mengkudu? Karena ada pohon mengkudu di telaga itu. Namun, sekarang pohon mengkudunya tidak ada lagi karena sudah ditebang. Sekarang telaga tersebut sudah tidak dipakai lagi, karena tidak ada yang merawatnya. Mungkin sudah banyak lintah yang hidup di telaga itu.

Telaga kedua yang kami kunjungi adalah Talago Nek Maricat. Mengapa dinamai Talago Nek Maricat? Karena telaga tersebut punya Nek Maricat. Dia dulunya dukun di kampung Air Sialang. Kalau ada yang “merampot” atau kesambet, diobati oleh Nek Maricat. Di telaga ini airnya bersih dan jernih, banyak ikan-ikan kecil yang hidup di telaga ini. Setelah itu, kami memilih sampah organik dan anorganik. Di sini cuma ada sampah organik yang berasal dari daun-daun yang jatuh.

Sumber mata air yang ketiga kami kunjungi adalah Talago Surau. Mengapa dinamakan Talago Surau? Karena telaga tersebut dekat sekali dengan surau tempat kaum ibu belajar. Di situ airnya bersih dan jernih. Ibu-ibu bisa mencuci, mandi, dan berwudu di sini. Setelah itu kami memungut sampah organik dan anorganik. Di sini banyak sampah anorganik dari kemasan sampo, sabun, dan lainnya. Bahkan sampahnya juga ada di kolam.

Salah satu telaga yang kami kunjungi. Foto: Yelli Sustarina

Lanjut ke sumber mata air yang keempat, namanya Talago Tampang. Mengapa dinamai Talago Tampang? Karena dulu ada pohon tampang (Artocarpus lamellosus) yang sangat besar sekali. Panjang atau tingginya mencapai 200 m. Telaga ini airnya jernih, bersih, dan banyak ikannya. Kita juga bisa mandi dan mencuci baju di sini. Cuma di sini juga banyak sampah dari kemasan sampo, sabun, dan lainnya.

Kami lanjut lagi ke sumber mata air yang kelima. Talago Meunasah. Mengapa dinamakan Talago Meunasah? Karena berdekatan dengan meunasah atau surau. Telaga itu sangat dalam dan kalau saya mandi, bisa tenggelam saya saking dalamnya. Airnya juga jernih dan banyak ikan-ikan kecil berenang. Setelah itu, kami memilih sampah organik dan anorganik di sekitar telaga.

Sumber mata air yang keenam kami kunjungi adalah Talago Punjuik. Mengapa dinamakan Talago Punjuik? Karena atas surau yang ada di samping telaga berbetuk punjut, tali pocong. Konon katanya dulu banyak penampakan pocong, tapi itu hanya mitos orang tua dulu. Sekarang tidak pernah ada lagi tampak pocongnya dan telaga ini banyak orang yang pakai untuk mandi, mencuci, dan lainnya. Kami pun juga memilih sampah di sekitar telaga.

Sumber mata air yang ketujuh kami kunjungi adalah Talago Lubuk Ek ‘Ot. Dinamakan Lubuk Ek ‘Ot karena dulunya ada pohon bambu besar. Saat angin datang, bambu itu berderit-derit dan bunyinya terdengar serupa ek ‘ot, ek ‘ot. Makanya dinamai Lubuk Ek ‘Ot. Di sini juga banyak sampah organik dari dedaunan pohon yang jatuh di sekeliling telaga.

Lanjut ke sumber mata air yang terakhir ialah Talago Lamen. Mengapa dinamai Talago Lamen? Karena telaganya berada di halaman rumah. Ini telaga terbaru karena telaga yang ada di sampingnya sudah tidak bagus lagi.

Innaya Zahra Hafiza

Setelah bertualang, kami duduk di teras rumah Bunda Yelli. Tas kami dibagikan oleh bunda-bunda lainnya. Saya mengambil kotak bekal yang sudah disiapkan dari rumah untuk dimakan bersama dengan teman-teman. Terlebih dahulu kami mencuci tangan dulu sebelum makan lalu berdoa bersama.

Sehabis makan, kami duduk di dekat Talago Lamen. Bunda Atul memilah sampah organik dan anorganik yang kami temukan di sekitar telaga. Setelah itu, kami dibagi dua kelompok untuk menonton video banjir menggunakan laptop. Ada juga video fungsi pohon di hutan dan perbedaan tanah yang kosong dengan tanah yang berisi tumbuhan.

Setelah kami menonton video, kami dibagikan boneka gypsum untuk diwarnai. Saya mendapatkan bentuk kupu-kupu, saya pun mewarnainya dengan warna pink dan ungu.

Setelah itu, saya difoto oleh Bunda Yelli dan kami pun juga berfoto bersama. Liburan sekolah kali ini sungguh berkesan buat saya, karena sebelumnya tidak ada kegiatan yang seperti ini di kampung kami. Saya jadi paham bahwa ternyata kampung saya punya sumber air yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh kampung lainnya. Setelah semua kegiatan selesai, kami membaca doa penutup majelis lalu pulang sambil bersalaman dengan semua bunda-bunda fasilitator dan menyanyikan lagu “Gelang Sepatu Gelang”.[]

Status Gunung Bur Ni Telong Turun ke Level Waspada (II)

0

REDELONG–Pada Sabtu, 3 Januari 2026, Status aktivitas vulkanik Gunung Burni Telong di Kabupaten Bener Meriah diturunkan dari Level III (Siaga) ke Level II (Waspada).

Penurunan ini dilakukan berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental Gunung Bur Ni Telong. Penurunan status mulai berlaku sejak pukul 14.00 WIB, 3 Januari 2026.

Aktivitas kegempaan vulkanik menunjukkan tren penurunan sejak 1 Januari 2026. Hingga 3 Januari siang, gempa yang terekam berkuang dan tidak teramati asap kawah secara visual.

Namun, berdasarkan rilis yang diterbitkan BPBD Bener Meriah, meski diturunkan, potensi bahaya tetap masih ada. Gunung ini dikenal sensitif terhadap gempa tektonik, sehingga peningkatan aktivitas dapat terjadi kembali sewaktu-waktu.

Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati area kawah dalam radius 3 km. Menghindari area fumarol dan solfatara. Juga senantiasa mewaspadai embusan gas vulkanik, terutama saat cuaca mendung ata hujan.[]