Oleh Innaya Zahra Hafiza*
Liburan sekolah sudah tiba, saya bersama teman-teman melakukan kegiatan bertualang. Mulai dari mengenal delapan sumber mata air yang ada di Gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, mengenal sampah organik dan anorganik, hingga makan-makan dan mewarnai bersama teman-teman baru.
Saat mengenal delapan sumber mata air, kami menjungi telaga pertama, yaitu Talago Mengkudu.
Mengapa dinamai Talago Mengkudu? Karena ada pohon mengkudu di telaga itu. Namun, sekarang pohon mengkudunya tidak ada lagi karena sudah ditebang. Sekarang telaga tersebut sudah tidak dipakai lagi, karena tidak ada yang merawatnya. Mungkin sudah banyak lintah yang hidup di telaga itu.
Telaga kedua yang kami kunjungi adalah Talago Nek Maricat. Mengapa dinamai Talago Nek Maricat? Karena telaga tersebut punya Nek Maricat. Dia dulunya dukun di kampung Air Sialang. Kalau ada yang “merampot” atau kesambet, diobati oleh Nek Maricat. Di telaga ini airnya bersih dan jernih, banyak ikan-ikan kecil yang hidup di telaga ini. Setelah itu, kami memilih sampah organik dan anorganik. Di sini cuma ada sampah organik yang berasal dari daun-daun yang jatuh.
Sumber mata air yang ketiga kami kunjungi adalah Talago Surau. Mengapa dinamakan Talago Surau? Karena telaga tersebut dekat sekali dengan surau tempat kaum ibu belajar. Di situ airnya bersih dan jernih. Ibu-ibu bisa mencuci, mandi, dan berwudu di sini. Setelah itu kami memungut sampah organik dan anorganik. Di sini banyak sampah anorganik dari kemasan sampo, sabun, dan lainnya. Bahkan sampahnya juga ada di kolam.

Salah satu telaga yang kami kunjungi. Foto: Yelli Sustarina
Lanjut ke sumber mata air yang keempat, namanya Talago Tampang. Mengapa dinamai Talago Tampang? Karena dulu ada pohon tampang (Artocarpus lamellosus) yang sangat besar sekali. Panjang atau tingginya mencapai 200 m. Telaga ini airnya jernih, bersih, dan banyak ikannya. Kita juga bisa mandi dan mencuci baju di sini. Cuma di sini juga banyak sampah dari kemasan sampo, sabun, dan lainnya.
Kami lanjut lagi ke sumber mata air yang kelima. Talago Meunasah. Mengapa dinamakan Talago Meunasah? Karena berdekatan dengan meunasah atau surau. Telaga itu sangat dalam dan kalau saya mandi, bisa tenggelam saya saking dalamnya. Airnya juga jernih dan banyak ikan-ikan kecil berenang. Setelah itu, kami memilih sampah organik dan anorganik di sekitar telaga.
Sumber mata air yang keenam kami kunjungi adalah Talago Punjuik. Mengapa dinamakan Talago Punjuik? Karena atas surau yang ada di samping telaga berbetuk punjut, tali pocong. Konon katanya dulu banyak penampakan pocong, tapi itu hanya mitos orang tua dulu. Sekarang tidak pernah ada lagi tampak pocongnya dan telaga ini banyak orang yang pakai untuk mandi, mencuci, dan lainnya. Kami pun juga memilih sampah di sekitar telaga.
Sumber mata air yang ketujuh kami kunjungi adalah Talago Lubuk Ek ‘Ot. Dinamakan Lubuk Ek ‘Ot karena dulunya ada pohon bambu besar. Saat angin datang, bambu itu berderit-derit dan bunyinya terdengar serupa ek ‘ot, ek ‘ot. Makanya dinamai Lubuk Ek ‘Ot. Di sini juga banyak sampah organik dari dedaunan pohon yang jatuh di sekeliling telaga.
Lanjut ke sumber mata air yang terakhir ialah Talago Lamen. Mengapa dinamai Talago Lamen? Karena telaganya berada di halaman rumah. Ini telaga terbaru karena telaga yang ada di sampingnya sudah tidak bagus lagi.

Innaya Zahra Hafiza
Setelah bertualang, kami duduk di teras rumah Bunda Yelli. Tas kami dibagikan oleh bunda-bunda lainnya. Saya mengambil kotak bekal yang sudah disiapkan dari rumah untuk dimakan bersama dengan teman-teman. Terlebih dahulu kami mencuci tangan dulu sebelum makan lalu berdoa bersama.
Sehabis makan, kami duduk di dekat Talago Lamen. Bunda Atul memilah sampah organik dan anorganik yang kami temukan di sekitar telaga. Setelah itu, kami dibagi dua kelompok untuk menonton video banjir menggunakan laptop. Ada juga video fungsi pohon di hutan dan perbedaan tanah yang kosong dengan tanah yang berisi tumbuhan.
Setelah kami menonton video, kami dibagikan boneka gypsum untuk diwarnai. Saya mendapatkan bentuk kupu-kupu, saya pun mewarnainya dengan warna pink dan ungu.
Setelah itu, saya difoto oleh Bunda Yelli dan kami pun juga berfoto bersama. Liburan sekolah kali ini sungguh berkesan buat saya, karena sebelumnya tidak ada kegiatan yang seperti ini di kampung kami. Saya jadi paham bahwa ternyata kampung saya punya sumber air yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh kampung lainnya. Setelah semua kegiatan selesai, kami membaca doa penutup majelis lalu pulang sambil bersalaman dengan semua bunda-bunda fasilitator dan menyanyikan lagu “Gelang Sepatu Gelang”.[]
