Membantu Tanpa Melukai Martabat Korban Bencana

Ada satu hal yang selama ini tidak pernah saya pikirkan ketika melihat bencana terjadi: apakah bantuan yang kita berikan benar-benar dibutuhkan oleh orang yang menerimanya?

Setiap kali bencana terjadi, kita sering melihat orang berbondong-bondong mengumpulkan bantuan. Ada makanan, air mineral, selimut, perlengkapan bayi hingga pakaian layak pakai. Niatnya tentu baik. Kita ingin membantu.

Tetapi setelah mengikuti Training of Trainer (ToT) Manajemen Bencana dan Standar Kemanusiaan (MADANI) Regional Aceh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh, pada 22–25 Agustus 2026, saya mulai melihat kegiatan kemanusiaan dari sudut yang berbeda.

Saya belajar satu hal sederhana, tetapi sangat dalam: membantu bukan hanya tentang memberikan sesuatu. Membantu juga tentang menjaga martabat orang yang kita bantu.

Pelatihan ini dibuka pada Sabtu malam di Grand Langkawi Banda Aceh. Suasananya menjadi awal dari rangkaian pembelajaran yang berbeda. Saya datang dengan pengetahuan yang masih terbatas tentang kebencanaan khususnya Sphere. Bahkan saat prates, nilai saya hanya 40 yang menunjukkan saya memang masih awam tentang materi ini.

Belasan tahun lalu, ketika kuliah Keperawatan, saya memang pernah belajar Keperawatan Bencana. Namun, pembahasannya masih luas. Di pelatihan ini, pembahasannya lebih spesifik: kami dipersiapkan bukan hanya memahami materi, tetapi juga menjadi trainer yang mampu meneruskannya kepada orang lain.

SPHERE Itu Binatang Apa?

Pembahasan Sphere menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian saya. Bahkan juga untuk peserta lainnya. Saat acara pembukaan, salah satu peserta tidak sabar bertanya “binatang apa itu SPHERE?” yang menimbulkan gelak tawa seisi ruangan. Sebab, kata itu terus disebut bahkan nama grup WhatsApp untuk pelatihan ini pun juga SPHERE.

Sebagai peserta yang baik, seperti yang dimaksudkan panitia bahwa kami diharapkan menjadi pelatih atau yang menyampaikan informasi tentang materi, maka saya mencoba memaparkan dengan bahasa awam di tulisan ini.

Sphere merupakan sebuah inisiatif yang dimulai pada tahun 1997 untuk meningkatkan kualitas dan akuntabilitas respons kemanusiaan. Sphere kemudian berkembang menjadi salah satu rujukan internasional dalam respons terhadap krisis dan bencana.

Sederhananya, Sphere membantu kita memahami bahwa ketika terjadi bencana, ada standar minimum kemanusiaan yang perlu diperhatikan ketika memberikan bantuan. Bukan berarti setiap bencana harus diperlakukan dengan cara yang sama. Justru kebutuhan harus dilihat berdasarkan konteks dan kondisi masyarakat terdampak.

Sphere memiliki empat bidang teknis utama, yaitu air, sanitasi, dan kebersihan (WASH); ketahanan pangan dan nutrisi; tempat tinggal dan permukiman; serta kesehatan.

Namun bagi saya, yang paling menyentuh bukan hanya standar teknis tersebut. Melainkan filosofi yang ada di belakangnya. Setiap manusia yang terdampak krisis tetap memiliki hak untuk hidup dengan martabat.

Mereka memiliki hak untuk menerima bantuan yang memadai dan layak, mendapatkan perlindungan dan keamanan, serta ikut berpartisipasi dalam keputusan yang berkaitan dengan pemulihan hidup mereka.

Di sinilah saya kemudian mempertanyakan kembali kebiasaan kita dalam memberikan bantuan. Selama ini, ketika terjadi bencana, kita sering berpikir: “Apa yang bisa saya berikan?”

Padahal seharusnya kita mulai bertanya: “Apa yang mereka butuhkan?” Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Ambil contoh yang paling sering kita lihat: pakaian layak pakai.

Ketika bencana terjadi, banyak orang mengumpulkan pakaian yang sudah tidak digunakan lagi di rumah untuk disumbangkan. Sekilas tampak seperti bentuk kepedulian. Namun, mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Kalau saya yang menerima pakaian ini, apakah saya mau memakainya? Apakah masih bersih? Apakah kondisinya benar-benar layak? Apakah nyaman dikenakan? Apakah pantas diberikan kepada orang lain?

Kalau jawabannya tidak, mengapa kita memberikannya kepada orang yang sedang berada dalam kondisi sulit? Pada titik tertentu, bantuan yang tidak kita butuhkan sebenarnya bukan lagi bantuan. Ia bisa berubah menjadi beban baru bagi korban bencana.

Alih-alih mengurangi masalah, kita justru menambah pekerjaan mereka untuk memilah, menyimpan atau membuang barang-barang yang tidak diperlukan.

Karena itu, menurut saya, bantuan yang bermartabat bukanlah memberikan apa yang tidak kita gunakan. Bantuan yang bermartabat adalah memberikan sesuatu yang memang dibutuhkan, layak, sesuai kondisi dan tetap menghargai orang yang menerimanya.

Agar Bantuan Tidak Salah Arah

Selain Sphere, kami juga belajar tentang Core Humanitarian Standard (CHS) atau Standar Inti Kemanusiaan. CHS berisi sembilan komitmen untuk memastikan bantuan kemanusiaan diberikan secara berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Saya mencoba memahami sembilan komitmen tersebut dengan bahasa yang sederhana. Pertama, bantuan harus sesuai kebutuhan. Jangan memberikan bantuan hanya karena barang itu tersedia. Cari tahu terlebih dahulu apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Kedua, bantuan harus tepat waktu dan efektif. Bantuan yang datang terlambat bisa kehilangan manfaatnya. Dalam situasi bencana, waktu sangat menentukan.

Ketiga, bantuan harus memperkuat kemampuan masyarakat. Masyarakat terdampak bukan sekadar objek yang menunggu diberi bantuan. Mereka juga memiliki pengetahuan, kemampuan dan kekuatan untuk bangkit. Karena itu, bantuan seharusnya membantu mereka menjadi lebih tangguh.

Keempat, jangan sampai bantuan justru menimbulkan masalah baru. Ini yang dikenal dengan prinsip do no harm. Bantuan jangan sampai memperbesar konflik, menimbulkan kecemburuan, diskriminasi atau membuat kelompok tertentu semakin rentan.

Kelima, masyarakat berhak menyampaikan keluhan. Organisasi yang baik bukan organisasi yang tidak pernah dikritik. Organisasi yang baik adalah organisasi yang mau mendengar, mencatat, menindaklanjuti, memberikan jawaban dan belajar dari kritik.

Keenam, bantuan harus terkoordinasi. Bantuan yang banyak belum tentu selalu baik jika tidak dikelola dan dikoordinasikan. Bisa saja satu tempat mendapat terlalu banyak bantuan, sementara tempat lain kekurangan.

Ketujuh, harus mau belajar dan memperbaiki diri. Setiap respon bencana seharusnya menjadi bahan pembelajaran. Apa yang sudah baik dipertahankan, apa yang kurang diperbaiki.

Kedelapan, orang yang memberikan bantuan harus kompeten dan beretika. Kualitas bantuan sangat dipengaruhi oleh kualitas orang yang memberikannya. Karena itu, relawan, staf dan fasilitator perlu memiliki kemampuan sekaligus etika dalam bekerja.

Kesembilan, sumber daya harus dikelola secara etis. Setiap rupiah yang diberikan masyarakat untuk membantu korban bencana adalah amanah. Karena itu, harus dikelola dengan baik, transparan, efektif dan bertanggung jawab.

Sembilan komitmen ini sebenarnya membawa kita kembali pada satu pertanyaan: Apakah bantuan yang kita berikan benar-benar membuat kehidupan orang terdampak menjadi lebih baik?

Empat hari tentu belum cukup untuk menguasai seluruh isi Sphere. Namun, pelatihan ini memberi saya sesuatu yang lebih penting: cara pandang baru.

Saya datang dengan pertanyaan tentang bagaimana membantu korban bencana. Saya pulang membawa pertanyaan yang lebih mendasar: apakah bantuan yang saya berikan benar-benar dibutuhkan dan tetap menjaga martabat orang yang menerimanya?

Pelatihan ini menjadi kesempatan berharga bagi saya untuk belajar kembali tentang kemanusiaan. Saya semakin percaya bahwa niat baik saja tidak selalu cukup. Niat baik membutuhkan pengetahuan. Kepedulian membutuhkan cara. Dan bantuan membutuhkan martabat.

Mungkin saya tidak selalu mampu melakukan hal besar saat bencana datang. Namun, saya bisa memulai dari hal sederhana: bertanya sebelum memberi, memahami sebelum bertindak, dan menempatkan diri sejenak di posisi orang yang menerima.

Sebab, bagi saya, bantuan terbaik bukanlah bantuan yang paling banyak kita berikan, melainkan bantuan yang membuat orang yang sedang kehilangan tetap merasa dihargai sebagai manusia.[]

Yelli Sustarina

Anggota Nasyiatul Aisyiyah Aceh, Perempuan Peduli Leuser (PPL) dan Forum Aceh Menulis (FAMe)

Artikel Lainnya Seperti Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru