Di balik megahnya pelaminan kasab sulam benang emas Aneuk Jamee Aceh Selatan, ada tangan-tangan perempuan yang bekerja dalam diam. Mereka menyulam untaian benang emas di atas selembar kain beludru dengan penuh ketelitian, kesabaran, dan ketekunan. Sayangnya, kerja budaya yang mereka lakukan selama puluhan tahun sering kali luput dari perhatian.
Berangkat dari kenyataan itulah, Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh bersama Yellsaints Family menyelenggarakan Apresiasi Pengrajin Kasab Aneuk Jamee Aceh Selatan. Didukung oleh Yayasan Kito Basamo dan Berkah Kasab, kegiatan ini direncanakan pada Kamis, 9 Juli 2026, bertempat di Gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Dipilih tempat ini karena gampong ini pernah ditetapkan sebagai kampung Pengrajin Kasab pada tahun 2012 lalu.
Kegiatan ini menjadi ruang untuk memberikan penghargaan kepada perempuan-perempuan pengrajin kasab yang selama ini menjaga salah satu warisan budaya penting masyarakat Aneuk Jamee. Tanpa mereka, tidak akan ada pelaminan yang menjadi pusat perhatian dalam sebuah pesta pernikahan. Tidak ada kemegahan yang menyambut pengantin di pelaminan. Tidak ada pula sulaman benang emas yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Aneuk Jamee.
Dalam setiap jahitan kasab, tersimpan waktu, kesabaran, dan ketelitian yang luar biasa. Namun, hingga kini, sebagian besar pengrajin masih menerima upah yang jauh dari sebanding dengan keterampilan dan dedikasi yang mereka berikan. Karena itu, penghargaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan atas peran perempuan sebagai penjaga warisan budaya yang telah menghidupkan identitas masyarakat Aceh Selatan selama bergenerasi.
Pengrajin Perlu Mengenal Makna Budaya yang Mereka Jaga
Selain pemberian penghargaan, para pengrajin juga mengikuti sesi Edukasi Pelaminan Kasab Aneuk Jamee Aceh Selatan. Pada kesempatan ini, setiap pengrajin diberi buku “Makna Pelaminan Kasab Aneuk Jamee Aceh Selatan” karya Yelli Sustarina.
Selama ini, sebagian besar pengrajin mewarisi keterampilan menjahit Kasab secara turun-temurun. Mereka mahir menyulam berbagai motif, tetapi belum banyak yang mengetahui filosofi di balik setiap ornamen, makna simboliknya, maupun ketentuan adat yang menyertai penggunaan pelaminan Kasab dalam prosesi pernikahan.

Gelang dengan motif hiasan kasab benang emas khas Aceh Selatan.
Melalui buku ini diharapkan para pengrajin tidak hanya menjadi pelaku budaya yang terampil, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya yang mereka rawat sehingga pengetahuan tersebut dapat diwariskan kepada generasi berikutnya secara utuh.
Menjahit Masa Depan Kasab Bersama Generasi Muda
Salah satu tantangan terbesar pelestarian kasab hari ini adalah minimnya regenerasi. Mayoritas pengrajin merupakan perempuan dari generasi yang lebih tua, sementara anak-anak muda mulai enggan menekuni profesi ini karena prosesnya rumit, membutuhkan ketelitian tinggi, dan belum dianggap memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.
Melalui Workshop Menjahit Kasab Sulam Benang Emas, generasi muda diajak belajar langsung bersama para pengrajin. Tidak hanya mempelajari teknik dasar menyulam, peserta juga diperkenalkan pada inovasi produk kreatif berbasis Kasab.
Dalam workshop ini, kasab dikreasikan menjadi berbagai produk suvenir bernilai jual seperti gelang, gantungan kunci, syal, tempat tisu, kipas, hingga produk kreatif lainnya. Harapannya, kasab tidak hanya hadir sebagai pelaminan adat, tetapi juga berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang mampu membuka peluang usaha baru bagi perempuan dan generasi muda.
Mengenalkan Kasab Sejak Usia Dini
Pelestarian budaya tidak dapat dimulai ketika seseorang telah dewasa. Karena itu, kegiatan ini juga menghadirkan kegiatan Mewarnai Kaus Motif Kasab bagi anak-anak. Melalui aktivitas yang menyenangkan, anak-anak diperkenalkan pada motif-motif khas kasab Aneuk Jamee sejak usia dini. Dengan cara ini, mereka tidak hanya belajar mengenal bentuk dan warna, tetapi juga mulai membangun rasa bangga terhadap budaya daerahnya sendiri.
Diharapkan, kecintaan terhadap budaya lokal tumbuh secara alami sejak masa kanak-kanak sehingga kelak mereka menjadi generasi yang mau menjaga dan melestarikannya. Sebagai bentuk apresiasi, seluruh peserta workshop menjahit maupun kegiatan mewarnai kaos akan memperoleh goody bag yang dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan sekaligus penyemangat untuk terus berkarya.
Pameran Karya Pengrajin

Rangkaian kegiatan juga dimeriahkan dengan Pameran Karya Pengrajin Kasab yang menampilkan berbagai hasil sulaman terbaik karya perempuan pengrajin Aceh Selatan.
Pameran ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk lebih dekat mengenal keindahan kasab sekaligus memberikan dukungan nyata kepada para pengrajin. Seluruh karya yang dipamerkan dapat dibeli langsung oleh pengunjung, sehingga kegiatan ini juga menjadi upaya memperluas akses pasar dan meningkatkan nilai ekonomi hasil karya para perempuan pengrajin.
Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap pelestarian budaya tidak berhenti pada upaya menjaga benda budaya semata, tetapi juga memperkuat perempuan sebagai penjaga pengetahuan, membuka ruang regenerasi, serta menghadirkan inovasi agar kasab tetap hidup, relevan, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Karena menjaga budaya berarti juga menjaga perempuan-perempuan yang selama ini dengan tekun merawatnya. Dan ketika perempuan pengrajin diberi ruang untuk dihargai, belajar, dan berkembang, sesungguhnya yang sedang dijaga bukan hanya selembar kain bersulam benang emas, melainkan identitas budaya Aceh yang akan terus hidup dari generasi ke generasi.
Kami mengajak seluruh masyarakat Aceh Selatan untuk hadir dan meramaikan Apresiasi Pengrajin Kasab Aneuk Jamee Aceh Selatan. Mari beri penghargaan kepada tangan-tangan perempuan yang telah menjaga warisan budaya kita, kunjungi pameran, dukung karya mereka, dan ikut menyebarkan semangat pelestarian budaya. Sebagai bagian dari komitmen terhadap lingkungan, kami mengajak setiap pengunjung membawa tumbler dan tempat bekal pribadi untuk wadah konsumsi. Mari bersama-sama membuktikan bahwa mencintai budaya juga berarti mencintai bumi.[]
