Beranda blog Halaman 3

Kirim Surat Terbuka, Dewan Profesor USK Desak Presiden Buka Akses Bantuan Internasional 

0

Banda Aceh–Situasi kemanusiaan pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatera, khususnya Aceh, pada akhir November 2025 dilaporkan semakin kritis. Menyikapi kondisi tersebut, Dewan Profesor Universitas Syiah Kuala (USK) melayangkan surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, mendesak percepatan akses dan koordinasi logistik bantuan kemanusiaan internasional.

Surat yang ditandatangani oleh Ketua Dewan Profesor USK, Prof. Dr. Ir. Izarul Machdar, M.Eng., tersebut menyoroti dampak bencana yang telah merenggut nyawa dan melumpuhkan infrastruktur vital.

Kondisi saat ini, jumlah korban jiwa akibat bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mencapai sekitar 1.006 orang. Ratusan lainnya dilaporkan masih hilang atau terluka.

“Jumlah pengungsi dan warga terdampak mencapai ratusan ribu jiwa, sementara banjir dan longsor telah merusak atau menghancurkan puluhan ribu rumah penduduk,” tulis Dewan Profesor USK dalam surat terbuka

Kerusakan infrastruktur di Provinsi Aceh menjadi sorotan utama. Tercatat sebanyak 332 titik jembatan rusak, ribuan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan rumah ibadah terdampak. Kondisi ini diperparah dengan putusnya jaringan telekomunikasi dan pemadaman listrik yang meluas, menghambat upaya penyelamatan serta kelumpuhan ekonomi lokal.

Dalam catatan kontekstualnya, Dewan Profesor USK mengungkapkan adanya kesenjangan antara kebutuhan di lapangan dengan respons pemerintah pusat. Meskipun Pemerintah Aceh telah mengajukan permintaan bantuan kepada lembaga PBB (seperti UNDP dan UNICEF), laporan menunjukkan bahwa pemerintah pusat hingga kini belum mengaktifkan secara penuh mekanisme penerimaan bantuan internasional.

“Alasan kemampuan nasional masih dapat menangani situasi tampaknya tidak sejalan dengan kondisi di lapangan yang menunjukkan kebutuhan sangat besar dan mendesak,” demikian di antara bunyi catatan tersebut.

Desakan ini semakin krusial mengingat prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan potensi cuaca ekstrem masih akan berlanjut. 

Dewan Profesor USK memperingatkan bahwa tanpa respons cepat dan terkoordinasi, risiko dampak kesehatan jangka panjang dan kelumpuhan total sektor ekonomi mikro serta UMKM tidak akan terelakkan.

“Kondisi ini telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang memerlukan respons cepat, terkoordinasi, termasuk dalam konteks keterlibatan bantuan kemanusiaan internasional yang masih belum berjalan optimal,” tegas Prof. Izarul Machdar menutup surat tersebut.

Berkaitan dengan situasi saat ini, Dewan Profesor USK mengeluarkan sebelas rekomendasi strategis, yaitu:

  1. Mempercepat pembukaan jalur akses transportasi utama (bandara, pelabuhan, jalan raya) untuk masuknya bantuan kemanusiaan internasional.
  2. Menetapkan status darurat bencana nasional yang komprehensif.
  3. Mendirikan humanitarian logistics coordination center di Aceh yang melibatkan BNPB, kementerian terkait, pemerintah daerah, TNI/Polri, dan perwakilan lembaga internasional untuk sinkronisasi data kebutuhan dan distribusi bantuan.
  4. Menyederhanakan prosedur izin dan clearance bagi organisasi kemanusiaan internasional (misalnya WHO, UNICEF, UNDP, IFRC, IOM, dll) termasuk dalam efisiensi bea cukai dan karantina barang bantuan.
  5. Mengaktifkan sistem common logistics tracking yang terintegrasi antara pemerintah dan organisasi kemanusiaan, agar aliran bantuan dapat dipantau, direspons, dan dialokasikan secara real-time sesuai kebutuhan di berbagai titik terdampak.
  6. Mengoptimalkan pembentukan aid staging areas atau titik konsolidasi logistik di lokasi strategis (misalnya Banda Aceh, Lhokseumawe, Bener Meriah) untuk menyimpan, memverifikasi, dan mendistribusikan bantuan baik yang masuk dari dalam maupun luar negeri, termasuk memprioritaskan pemulihan jaringan komunikasi dan internet untuk mendukung koordinasi tanggap darurat.
  7. Mempercepat pemulihan infrastruktur listrik dan telekomunikasi sebagai prioritas utama, mengingat ketergantungan operasional tanggap darurat, komunikasi koordinasi, serta keberlanjutan ekonomi lokal pada ketersediaan energi dan konektivitas.
  8. Mempercepat pemulihan akses rute darat yang terputus, dengan prioritas pada jalur yang menghubungkan posko utama dengan wilayah terpencil.
  9. Memastikan ketersediaan transportasi darat, laut, dan udara yang memadai (termasuk helikopter dan kendaraan berat) untuk menjangkau wilayah yang benar-benar terisolasi akibat kerusakan infrastruktur.
  10. Mengundang kerja sama teknis dari mitra internasional untuk dukungan teknologi, kapasitas logistik, dan manajemen rantai pasok darurat yang efektif.
  11. Menegaskan komitmen nasional terhadap transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan bantuan kemanusiaan, agar partisipasi internasional dapat dimaksimalkan.[]

Pemimpin Sigap

0

Namanya Ismail. Usianya (baru) 41 tahun. Seorang suami dan ayah dari empat anak. Anak bungsunya, lahir pada hari Rabu, 26 November 2025. Melalui operasi caesar Di RSUD Pidie Jaya. Di rumah sakit, saat Ismail sedang menunggui istrinya dioperasi, suhu ruangan terasa dingin. Di luar sana, udara juga tak kalah dingin. Sudah berhari-hari hujan turun. Alih-alih mereda, guyurannya justru semakin lebat.

Belakangan, kita tahu, cuaca ekstrem ini akibat terjadinya Siklon Tropis Senyar. Siklon tropis langka yang tumbuh di sekitar Selat Malaka pada November 2025 lalu. Memicu cuaca ekstrem berupa hujan sangat lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi. Anomali yang terjadi akibat pemanasan global. Senyar, istilah yang asing dan (mungkin) baru kita dengar setelah amuk badai itu terjadi. Tapi sebenarnya, kita sering mengalami senyar. Pernah mengalami siku terantuk dengan benda keras dan memberikan rasa sakit yang “aneh”? Ya, itulah senyar.

Ismail adalah Kepala Desa Babah Krueng, Pidie Jaya. Saya bertemu dengannya saat ikut rombongan Gerakan Perempuan Aceh yang mengantarkan bantuan ke sana pada Rabu, 10 Desember 2025. Sosok yang ramah. Cekatan. Sigap.

Ia adalah wali bagi warganya yang berjumlah 330 kepala keluarga. Bagi seribu lebih jiwa. Maka, ketika pada Rabu malam itu ia menginap di rumah sakit untuk menemani istrinya, pikirannya terus-menerus tertuju pada kampungnya di Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Ia gusar semalam suntuk. Kabar demi kabar dari kampung terus masuk ke ponselnya.

Pada Kamis pagi, buru-buru Ismail pulang ke Babah Krueng. Ia pamit pada istrinya yang penuh pengertian. Ia tinggalkan bayinya yang masih merah bersama ibunya di rumah sakit. Ia pulang ke Babah Krueng dari Meureudu. Jauhnya sebelas kilometer. Dengan berjalan kaki. Otaknya berpikir cepat. Dalam perjalanan dari Meureudu itu, Ismail sempat mampir ke kantor BPBD Pidie Jaya. Barangkali ada boat yang bisa dipakai untuk mengeksekusi warga yang terjebak banjir. Tapi rupanya tidak ada.

Benar saja, jika ia tak cepat pulang. Barangkali akan ada warganya yang hanyut terbawa arus. Anak-anak dan lansia banyak yang terjebak banjir. Ismail tak kehabisan akal. Meski tak ada boat, ia mengevakuasi dengan alat bantu apa yang bisa. Ia gunakan ban mobil. Ia evakuasi warga dengan tangannya sendiri. Empat warga lain membantunya, meski tahu risikonya tinggi. Mereka dievakuasi ke meunasah yang berbentuk panggung.

“Kalau saya tak bergerak, nyawa warga saya terancam,” katanya.

Di hari Jumat, saat banjir mulai surut, ia bergegas pergi ke kantor bupati. Ia mencari beras. Warganya, terutama bayi dan anak-anak, bisa kelaparan jika tidak segera ada bantuan logistik. Hasilnya, 80 sak beras ia dapatkan. Bantuan kedua, berton-ton beras juga sudah diperoleh.

Ismail menceritakan itu saat kami “transit” sebentar di pekarangan kantor desa—sebelum pergi ke meunasah. Ia bercerita dengan penuh empati. Ketulusannya terpancar. Bukan asal karang agar terlihat keren. Padahal, dirinya sendiri juga korban. Anak-anak dan ibunya pun sempat terjebak di rumah. Ia berhasil mengevakuasi mereka ke atap rumah. Di rumah Ismail, ketinggiar air mencapai tiga meter lebih.

Setelah banjir surut, Babah Krueng penuh dengan endapan lumpur. Tinggi endapan bervariasi, tergantung tinggi rendahnya permukaan. Halaman sekolah, kantor desa, pekarangan meunasah, dan rumah-rumah penduduk semua terendap lumpur. Warga meminta Ismail untuk mencari beko untuk mengeruk lumpur tebal.

“Saya minta waktu pada warga satu jam,” katanya.

Ia berkoordinasi dengan camat. Menghubungi pihak yang memiliki alat berat di Samalanga, Kabupaten Bireuen. Tak sampai satu jam, ia dapatkan kepastian soal beko. Beko itu, tentu butuh bahan bakar untuk mengoperasikannya. Tentu ada jasa operator yang mesti dihitung—meskipun mungkin ada diskon. Ismail cepat mengambil keputusan, yang penting beko bisa langsung bekerja.

“Saya tancap gas, cari alat berat, saya usaha sendiri. Kita sebagai pemimpin harus bertanggung jawab seratus persen. Itu prinsip saya,” katanya.

Total delapan hari beko itu bekerja. BBM yang dihabiskan hingga satu ton. Biaya yang dihabiskan? Ismail menyebut angka dua digit. Uangnya dari mana? Dari kantong pribadi Ismail.

Baginya, uang bisa dicari. Tapi kesempatan untuk menjadi kepala desa yang bertanggung jawab dan ada 24 jam bagi warganya mungkin tidak datang dua kali. Ia tipikal kepala desa yang berprinsip. Tak sekalipun meninggalkan warganya kecuali untuk mencari bantuan.

Ismail sigap. Dia tahu apa yang mesti dilakukan. Mana yang mesti didahulukan. Dia tahu, warganya sudah kelelahan karena baru saja mengalami bencana. Ditambah harus membersihkan rumah dari lumpur. Karena itu, ia mengoordinaskan sepuluh relawan Pramuka Pidie Jaya untuk membersihkan meunasah. Ismail cerdik. Setelah ia panggil relawan, ia katakan kepada warga: ayo kita sama-sama bergotong royong. Ia sendiri, turut serta memegang cangkul, di sela-sela mengurus ini-itu sesuai tanggung jawabnya sebagai kepala desa—juga sebagai Ketua Forum Kepala Desa Bandar Dua.

Maka, pada hari Rabu (10/12) itu, sepuluh relawan Pramuka, dan warga desa yang muda-muda, sama-sama bergotong royong membersihkan lumpur di kolong dan pekarangan meunasah Babah Krueng.

Ismail juga tanggap. Ia tahu apa yang menjadi kebutuhan mendesak bagi warganya: air bersih. Maka, ia pun mengupayakan sehingga diperoleh bantuan satu unit sumur bor. Sumur itu digali di pekarangan meunasah. Di tempat umum. Di pekarangan rumah ibadah. Saat semua serbasulit, jangan sampai untuk beribadah pun kesulitan karena tak ada air untuk bersuci.

Ia juga bukan pemimpin yang egois. Pertimbangan segera membersihkan jalan dari endapan lumpur karena ada sebelas desa lagi yang akses utamanya lewat Babah Krueng. Agar bantuan ke desa-desa yang lain itu jadi mudah disalurkan. Agar desa-desa itu tak lumpuh. Cara berpikir Ismail sangat taktis dan sistematis.

Pada pertemuan hari itu, jika ada yang saya “sesalkan” dari Ismail adalah pernyataan minta maafnya. Ya, ia “minta maaf” karena katanya kami datang dalam kondisi desa yang sedang “kacau”. Dalam keadaan warga desa tak bisa memuliakan tamu (peumulia jamee). Ya, Allah, Pak ….[]

Galodo yang Memunculkan Si Ular Besi

0

Ular besi dari rangkaian barisan ratusan tabung gas 12 kg melingkari taman. Kepala si ular menghadap gerbang tertutup gudang agen elpiji di Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Jumat, 12 Desember 2025.

“Katanya tadi pagi ada kiriman 300 tabung. Nanti sore 100 lagi,” ujar seorang lelaki berjaket biru.

Entah info dari mana ia dapat. Kami yang mengantre, hanya bergegas mengaminkan. Seolah info samar itu doa.

Sejak Galodo Sumatra 26 November, gas elpiji raib di Banda Aceh dan sekitarnya. Para emak mulai menjerit. Cagak besi kaki tiga yang biasa untuk penopang kuali kala kenduri, ramai dicari orang di pasar.

Tiba-tiba kayu bakar kembali menjadi incaran. Aroma asap yang khas, merasuk kembali dalam makanan dan air minum. Seperti hantu dari masa silam.

Mengantre untuk mendapat gas, jadi pekerjaan tambahan para ibu.

“Kami bolak balik mengantre. Dua hari memang tak ada lagi kerja kami, hanya mengantre itulah,” Sari, warga Gp Blang Oi, Meuraxa, menuturkan pengalamannya.

Dua hari mengantre. Itu perlu stamina seorang atlet. Apa betul dia bertahan terus di depan gudang?

“Ada warga sana yang inisiatif, menawarkan menjaga tabung, supaya kami bisa pulang. Biaya titipnya 5 ribu per tabung.”

Ketiadaan elpiji bukan hanya menggelisahkan para emak, tapi juga berdampak dahsyat pada UMKM.

Indah, penduduk Gampong Punge, pengusaha katering, menuturkan bahwa pelanggannya terpaksa dia kurangi hingga tinggal empat saja.

“Keuangan nggak berputar, Kak. Terpaksa kami hentikan pelanggan yang rumahnya jauh. Tak ada gas untuk masak, tak ada bensin untuk mengantar rantang,” katanya.

Padahal, sejak suaminya mengalami kecelakaan beberapa bulan lalu, biaya hidup mereka seluruhnya tergantung dari hasil usaha rantangan.

“Apalagi, saya baru punya bayi. Biaya hidup nambah. Tak tahu lagi mau bilang apa,” meski ketara sedih, suara Indah tegar.

Indah penyintas tsunami 2004. Kakinya sempat terancam diamputasi gegara luka sobek terkena seng, saat bergelut dalam air hitam tsunami.

Beruntung, dokter di USS Lincoln berhasil menyelamatkan kakinya.

Pukul 07.30 WIB di sebuah kedai kopi di kawasan Gampong Geuceu, Kecamatan Banda Raya, etalase kuenya tampak berbeda. Biasanya, tiga etalase kaca setinggi 1,5 m itu dipenuhi berbagai jenis kue yang mengundang selera.

Ada juga bu prang, nasi kuning, mie, bahkan dimsum, pizza mini dan susu kedelai. Banyak ibu membeli bekal sekolah anak-anaknya di sini, tertarik ragam pilihannya yang luar biasa.

Setelah galodo, ada yang berubah: ragam kue berkurang. Tidak terlihat bolu, pulot– kue-kue yang perlu waktu lama untuk mengolahnya. Tinggal camilan yang digoreng, atau potongan segitiga roti tawar yang diberi selai.

“Banyak yang libur, Kak. Itu kue yang masuk, semua yang serba praktis. Hemat gas,” kata pemilik kedai, akrab dipanggil Ogek.

Bahkan, menu MBG di sekolah-sekolah pun berubah. Nasi dan lauk pauk menghilang. Anak-anak dibagi paket plastik berisi biskuit, wafer, susu kotak, dan sebiji buah. Biasanya salak atau rambutan.

“Nggak kenyang, nggak enak. Tapi ya, sudahlah. Kan, teman–teman di Tamiang–lebih susah,” kata Aiman, siswa kelas VII SMP 17.

Sementara SMPN 19 Percontohan, yang memiliki asrama, terpaksa memulangkan semua siswa/i asrama. Sebab pengelola katering yang selama ini melayani asrama, sudah lempar handuk.

“Teringat waktu tsunami dulu. Tapi dulu nggak sesusah inilah kita, Kak. Bantuan cepat masuk, tenaga kesehatan ada. Sekarang ini lebih berat, karena banyak orang lapar, rasa kemanusiaan juga hilang,” kata Indah.

Dalam sehari, berbagai peristiwa renik menunjukkan, betapa warga Banda Aceh yang berada ratusan kilometer dari kabupaten terdampak galodo, ternyata hajat hidupnya ikut terganggu.

Memang benar kata Nabi: muslim itu seperti satu tubuh. Satu bagian sakit, seluruh tubuh sakit.

Bagah puleh, Aceh lon sayang. Kita memang bukan bangsa di bawah rata-rata. Kita pasti bisa.[]

*Galodo: istilah khusus dalam bahasa Minang untuk banjir bandang yang disertai balok-balok kayu, batu, dan benda lainnya

Nyaris Seribu Orang Mendaftar sebagai Calon Relawan Aceh Bergerak

0

Banda Aceh–Nyaris seribu orang mendaftar sebagai calon relawan yang dibuka oleh Yayasan Aceh Bergerak untuk membantu korban bencana alam di Aceh. Sejak pendaftaran dibuka pada 6–12 Desember 2025, total pendaftar mencapai 900 orang. Dalam tiga hari pertama pendaftaran dibuka, tercatat lebih 500 orang mendaftar.

Ketua Aceh Bergerak, Eva Hazmaini, menyampaikan bahwa pendaftar tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Aceh, tetapi juga dari luar daerah seperti Padang, Medan, Riau, Kalimantan, hingga Jakarta. Beberapa calon relawan bahkan menyatakan kesediaan berangkat dengan biaya pribadi demi bisa terlibat langsung dalam aksi kemanusiaan tersebut.

“Kita memang membutuhkan banyak tenaga dengan berbagai kemampuan, seperti relawan medis, pemetaan, maupun mereka yang memiliki keahlian lain sangat dibutuhkan di kondisi seperti ini,” ujar Eva, Sabtu, 13 Desember 2025.

Untuk tahap awal, relawan direncanakan akan membantu kegiatan trauma healing serta pembersihan fasilitas umum di wilayah Pidie Jaya yang terkena dampak. Setelah itu, tim akan bergerak menuju ke Aceh Tamiang, salah satu daerah yang banyak dilaporkan membutuhkan penanganan cepat.

“Sementara wilayah seperti Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah kemungkinan menjadi lokasi tahap berikutnya, menyesuaikan akses dan kondisi di lapangan,” kata Eva.

Saat ini, Aceh Bergerak sedang melakukan pendataan kemampuan masing-masing relawan agar penempatan di lapangan lebih efektif dan tepat sasaran. Untuk memastikan keseriusan calon relawan, mereka diminta untuk mendaftar ulang dengan batas waktu hingga Sabtu malam (13/12/2025). Hingga Sabtu sore yang mendaftar ulang sudah ada 650 orang.

Menurut Eva, meski sejumlah wilayah mulai menerima bantuan, tetapi masih banyak daerah terpencil yang belum tersentuh. Sehingga dibutuhkan banyak relawan untuk mendistribusikan bantuan.

“Sekecil apa pun kontribusinya, tetap sangat berarti bagi para korban,” katanya.

Pemberangkatan gelombang pertama relawan direncanakan berlangsung awal pekan depan.

Dengan hampir seribu relawan siap bergerak, Aceh Bergerak kembali menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat tetap kuat untuk saling membantu dalam situasi bencana.[]

KKJ Aceh Kecam Perampasan dan Penghapusan Karya Jurnalistik Jurnalis Kompas TV

Banda Aceh–Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Aceh mengecam keras tindakan perampasan alat kerja dan penghapusan karya jurnalistik yang dialami jurnalis Kompas TV Aceh, Davi Abdullah. Peristiwa tersebut diduga dilakukan oleh sejumlah aparat TNI di Posko Terpadu Penanganan Bencana Alam, Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM) di Blang Bintang, Aceh Besar, Kamis, 11 Desember 2025.

Koordinator KKJ Aceh, Rino Abonita, melalui siaran pers yang diterbitkan KKJ Aceh pada Jumat, 12 Desember 2025, mengatakan, insiden itu bermula ketika Davi bersama rekan kerjanya bersiap melakukan siaran langsung sekitar pukul 10.05 WIB.

Saat menjalankan tugas pengambilan gambar di sekitar Lanud SIM, Davi merekam kedatangan sejumlah orang yang turun dari kendaraan membawa koper, beberapa di antaranya mengenakan atribut menyerupai bendera Malaysia.

Ketika Davi mendekat untuk mendapatkan visual yang lebih jelas, sejumlah anggota TNI dan seorang yang mengaku intelijen menghampiri rombongan tersebut. Terjadi ketegangan terkait dokumen kedatangan warga negara asing (WNA) itu.

Dalam rombongan terdapat tiga orang yang mengaku staf khusus Gubernur Aceh dan menjelaskan bahwa para WNA hendak menuju Aceh Tamiang untuk membantu penyintas banjir bersama iring-iringan gubernur.

Namun, rombongan tersebut diminta meninggalkan lokasi oleh Aster Kasdam Iskandar Muda, Kolonel Inf Fransisco. Seluruh kejadian itu direkam Davi menggunakan telepon genggam miliknya.

Tak lama kemudian, seorang anggota TNI AU mendatangi Davi dan meminta agar rekaman dihapus. Davi menolak dan menjelaskan bahwa pengambilan gambar tersebut merupakan bagian dari tugas jurnalistik. Situasi kemudian memanas ketika beberapa anggota TNI lainnya memotret identitas Davi, melontarkan hardikan, dan menekan agar rekaman dihapus.

Davi menyatakan rekaman tersebut tidak akan ditayangkan dan hanya disimpan sebagai dokumentasi. Ia kemudian menjauh dan bergabung dengan rekan-rekannya. Namun, Kolonel Inf Fransisco kembali mendatangi Davi bersama beberapa anggota TNI dan kembali memaksa penghapusan rekaman disertai ancaman akan merusak ponsel milik Davi.

Ponsel Davi kemudian dirampas dan diserahkan kepada seorang provos TNI AU. Dua file rekaman berdurasi sekitar empat menit dihapus secara paksa sebelum ponsel dikembalikan kepada Davi. Menurut pengakuan Davi, sebelum pergi, Fransisco sempat melontarkan ancaman.

KKJ Aceh menilai tindakan tersebut sebagai bentuk kekerasan terhadap jurnalis dan penghalang-halangan kerja jurnalistik yang melanggar kebebasan pers. Tindakan tersebut dinilai bertentangan dengan Pasal 28F UUD 1945 serta Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, khususnya Pasal 4 ayat (2) dan Pasal 18 ayat (1).

“KKJ Aceh mengutuk segala bentuk kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis. KKJ mendesak aparat keamanan menghormati kerja jurnalistik, meminta atasan langsung pelaku menjatuhkan sanksi disiplin militer, serta mendesak kepolisian memproses kasus ini secara hukum karena merupakan delik umum,” kata Rino.

Selain itu, KKJ Aceh mengingatkan bahwa keberatan terhadap produk jurnalistik harus ditempuh melalui mekanisme hak jawab atau hak koreksi, bukan dengan intimidasi atau kekerasan. KKJ juga mendorong jurnalis yang mengalami kekerasan agar segera melaporkan setiap kejadian yang dialami.

KKJ Aceh merupakan bagian dari KKJ Indonesia yang dideklarasikan pada 14 September 2024. Saat ini, KKJ Aceh beranggotakan organisasi profesi jurnalis dan organisasi masyarakat sipil di Aceh.[]

Editor: Ihan Nurdin

Gerakan Perempuan Aceh Alihkan Puncak Kampanye 16 HAKTP untuk Respons Kemanusiaan

0

Gerakan Perempuan Aceh yang terdiri atas berbagai lintas organisasi bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Aceh membatalkan agenda puncak Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) yang semula dijadwalkan berlangsung di Banda Aceh pada Kamis, 11 Desember 2025.

Keputusan ini diambil menyusul situasi Aceh pascabencana banjir bandang dan longsor yang dalam dua pekan terakhir melanda belasan kabupaten/kota, merusak infrastruktur, memutus akses komunikasi, serta memaksa puluhan ribu orang mengungsi.

Sebagai gantinya, Gerakan Perempuan Aceh mengadakan kegiatan Sehari Bersama Penyintas yang dilaksanakan di Desa Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, pada Rabu, 10 Desember 2025. Pengalihan ini sebagai respons langsung dan prioritas kemanusiaan di tengah bencana yang sedang terjadi di Aceh.

“Pembatalan ini dilakukan atas dasar prioritas kemanusiaan dan prinsip solidaritas sosial yang dipegang teguh oleh gerakan perempuan Aceh,” kata Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh, Rukiyah Hanum, Kamis, 11 Desember 2025.

Untuk saat ini, gerakan perempuan Aceh akan sepenuhnya aktif, fokus, berpartisipasi, dan bersinergi dalam upaya-upaya tanggap bencana di berbagai lokasi terdampak, salah satunya di Desa Babah Krueng, Pidie Jaya. Babah Krueng termasuk salah satu desa di Pidie Jaya yang terdampak sangat parah. Ketinggian air di beberapa titik mencapai lebih dari tiga meter, merusak rumah, fasilitas publik, dan memaksa warga mengungsi ke meunasah dan titik aman lainnya.

Kegiatan Sehari Bersama Penyintas ini diisi dengan serangkaian agenda gotong royong dan distribusi bantuan yang berfokus pada kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Para relawan Gerakan Perempuan Aceh yang dikoordinasikan oleh LSM Paska memasak di dapur umum dan kemudian mendistribusikan makanan siap saji bagi masyarakat di beberapa titik pengungsian. Selanjutnya menyerahkan bantuan logistik penting, meliputi mukena, pakaian layak pakai, dan air mineral. Relawan juga turut serta dalam kegiatan membersihkan dan merapikan meunasah (balai pengajian/musala) yang hingga saat ini masih digunakan oleh warga sebagai tempat menginap sementara.

“Kami juga mengisi kegiatan ini dengan memberikan permainan edukasi kepada anak-anak untuk menghibur mereka. Tidak hanya kepada anak, kami juga menyasar perempuan dan lansia yang punya riwayat sebagai penyintas konflik bersenjata,” kata Hanum.

Di tempat yang sama, Kepala UPTD PPA Aceh, Endang Mulyani, mengatakan, selama kegiatan berlangsung, mereka menemukan adanya praktik baik ruang aman sebagai upaya perlindungan anak oleh masyarakat Babah Krueng. Dalam situasi darurat seperti ini, di mana semua orang berada dan tidur di lokasi yang sama, para ibu melindungi anak-anak mereka, terutama anak perempuan, dengan memberikan mereka tempat di tengah-tengah. Sedangkan para ibu tidur di pinggir sehingga bisa “memagari” anak-anak mereka agar tetap aman.

“Semoga cara-cara sederhana ini dapat ditiru dan diterapkan di posko-posko lain,” kata Endang.

Sementara itu, Oni Imelva selaku pegiat HAM dan seni yang turut dalam rombongan tersebut menambahkan, dalam situasi seperti ini, juga perlu dipastikan ketersediaan layanan yang spesifik gender di posko-posko pengungsian, termasuk sanitasi, kebutuhan dasar perempuan (pakaian dalam, pembalut), dan ruang yang aman bagi perempuan dan anak.

“Dalam kurun sepuluh tahun ini, masyarakat Pidie Jaya telah mengalami berbagai bencana, mulai dari gempa pada tahun 2016, Covid-19, dan sekarang banjir bandang dan longsor. Belum lagi, masyarakat di sini juga penyintas konflik bersenjata. Trauma yang mereka alami sudah berlapis-lapis dan ini tentunya perlu dipulihkan,” kata Oni.

Kepala DPPPA Meutia Juliana yang sangat fokus untuk Kampanye 16HAKTP juga berharap perempuan penyintas di daerah-daerah terdampak bencana secara langsung dapat dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan. Mengingat, pengalaman dan pengetahuan mereka yang sangat berharga di tingkat komunitas.

Komitmen Melanjutkan Perjuangan

Meskipun acara puncak Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) dibatalkan, namun komitmen gerakan perempuan Aceh untuk terus mengampanyekan penghapusan kekerasan terhadap perempuan tidak akan surut. Justru, komitmen ini semakin kuat, mengingat dalam situasi bencana seperti ini, perempuan dan anak menjadi rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, eksploitasi, dan kurangnya akses terhadap bantuan spesifik gender.

Pemerintah Aceh melalui DPPPA, bersama Gerakan Perempuan Aceh menjadikan kegiatan Sehari Bersama Penyintas sebagai ruang bercerita yang secara langsung mendengarkan dan merekam pengalaman para lansia, perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas saat menghadapi bencana, serta menampung harapan mereka untuk masa depan.

Pengalaman berharga tersebut dapat menjadi informasi utama dan jembatan pengetahuan bagi pemerintah dan gerakan perempuan. Hal ini dapat menjadi landasan untuk merumuskan konsep dan pelaksanaan program pemulihan psikososial yang lebih responsif, inklusif, dan berkelanjutan di masa pemulihan pascabencana.

Gerakan Perempuan Aceh mengapresiasi respons cepat dari berbagai pihak dalam penanganan pascabencana, termasuk inisiatif masyarakat melalui gerakan “Warga Bantu Warga” atau “Rakyat Bantu Rakyat”, serta upaya Pemerintah Aceh di kabupaten/kota terdampak.

Namun, Gerakan Perempuan Aceh, melalui Hanum, merasa perlu mengingatkan tentang pentingnya memastikan hadirnya perlindungan bagi mereka yang paling rentan dalam situasi penuh keterbatasan saat ini.

“Memastikan adanya data terpilah gender sejak dalam masa tanggap darurat merupakan salah satu prasyarat bagi hadirnya perlindungan dan ruang aman bagi mereka yang paling rentan di pengungsian. Ketersediaan data terpilah gender akan memudahkan dalam memastikan bantuan yang disalurkan telah tepat sasaran,” tegas Hanum.

Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSUIA), yang memiliki simpul di berbagai kabupaten/kota (Aceh Utara dan Lhokseumawe), terlibat aktif dalam upaya penyelamatan dan pendistribusian logistik bagi korban.

Namun, di beberapa simpul, seperti Aceh Tamiang, Langsa, Bener Meriah, dan Aceh Tengah, upaya tersebut belum maksimal. Kondisi lapangan yang sulit, jalur transportasi yang belum pulih, keterbatasan distribusi bantuan, serta fakta bahwa beberapa pengurus simpul juga menjadi korban bencana, menghambat kerja-kerja kemanusiaan di wilayah tersebut.[]

“Di Pegunungan Sana Banyak Pohon Ditebang”

0

Ismail (41) adalah Kepala Desa Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Ia juga Ketua Forum Kepala Desa Kecamatan Bandar Dua. Kecamatan ini memiliki 45 desa. Dua di antaranya, yaitu Desa Babah Krueng dan Desa Alue Keutapang, tercatat sebagai desa yang terdampak sangat parah. Di Babah Krueng, ketinggian banjir di beberapa titik mencapai tiga meter lebih.

Pada Rabu, 26 November 2025, Ismail berada di RSUD Pidie Jaya di Meureudu. Ia sedang mendampingi istrinya yang menjalani operasi caesar untuk melahirkan anak keempat mereka. Pada Rabu malam, ia menginap di rumah sakit. Tak memungkinkan baginya untuk langsung pulang dan meninggalkan istrinya yang baru dioperasi.

Namun, semalaman itu ia terus teringat pada kondisi desanya karena guyuran hujan tak kunjung berhenti. Ia teringat pada warganya yang berjumlah 350-an KK. Juga pada anak-anaknya yang ia titipkan pada ibunya di rumah.

Esoknya, Ismail kembali ke Babah Krueng dengan berjalan kaki dari Meureudu sejauh sebelas kilometer. Dalam perjalanan itu, Ismail sempat mampir ke Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya untuk menanyakan, apakah ada boat yang bisa digunakan untuk mengevakuasi warga.

“Saya harus segera pulang. Selain saya perlu memastikan bagaimana kondisi warga saya, anak-anak dan ibu saya juga sudah terjebak di rumah. Setelah mengevakuasi mereka (anak dan ibu) ke atap rumah, saya langsung bergegas untuk mengevakuasi masyarakat,” kata Ismail, Rabu, 10 Desember 2025.

Ismail dibantu oleh empat warga desa, mulai mengevakuasi warga yang terjebak di rumah-rumah. Fokus utamanya adalah warga yang rumahnya dekat dengan sungai. Ia juga menginisiasi memanggil relawan dari kelompok pramuka dan bergotong royong dengan masyarakat untuk membersihkan meunasah.

Mereka menggunakan alat bantu seadanya. Hanya dengan ban yang diikat pada seutas tali. Mereka dievakuasi ke meunasah.

Evakuasi berlangsung hingga pukul sebelas malam. Prosesnya juga sangat sulit karena listrik sudah padam dan arus banjir sangat deras.

Sesudah banjir surut, sambil terus berkoordinasi dengan Camat Bandar Dua, Ismail mengupayakan alat berat dari Samalanga untuk membersihkan lumpur di desanya, terutama yang menutupi akses jalan utama.

Alat berat bekerja selama delapan hari penuh. Sekitar satu ton bahan bakar habis untuk mengoperasikannya. Dan semua biaya tersebut ia keluarkan dari kantong sendiri.

Jalan Desa Babah Krueng merupakan akses utama menuju sebelas desa lainnya di kawasan Ulee Glee bagian barat. Jika Ismail tidak berinisiatif membersihkan jalan tersebut, maka akses ke sebelas desa lainnya akan terhambat.

Baginya, inilah bentuk tanggung jawabnya sebagai pemimpin desa. Ia sadar dirinya menjadi tumpuan harapan masyarakat.

Ia juga memastikan warga desanya tidak ada yang kelaparan. Karena itu, pada hari Jumat ia langsung berkoordinasi dengan pemerintah daerah sehingga desanya mendapat bantuan 80 sak beras. Bantuan kedua juga sudah diterima.

“Kita sebagai pemimpin harus bertanggung jawab seratus persen. Itu prinsip saya,” kata Ismail.

Ismail adalah putra asli Desa Babah Krueng. Ia bilang, di daerah itu memang rawan banjir. Namun, ini banjir terparah yang melanda desanya yang pernah ia saksikan selama hidup.

Berbeda dengan banjir-banjir yang pernah terjadi, banjir kali ini arusnya sangat deras. Banjir juga membawa lumpur yang kini mengendap di rumah-rumah warga. Endapan lumpur juga merusak kebun dan sawah warga.

Menurut Ismail, banjir takkan separah ini jika hutan-hutan di pegunungan sana tidak digunduli.

“Itulah problemnya. Di Pegunungan sana banyak pohon yang ditebang oleh oknum-oknum. Imbasnya ke masyarakat. Kami sangat kewalahan,” kata Ismail.

Seluruh warga desa merasakan pahitnya dampak buruk dari deforestasi. Bencana ini lebih dari sekadar banjir yang menggenangi permukiman. Lumpur tebal yang terbawa arus telah merusak kebun, sawah, dan fasilitas publik yang ada di desa.

Sumur-sumur warga tercemari lumpur dan tak bisa digunakan. Warga kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk air konsumsi, hanya mengandalkan air minum kemasan yang berasal dari bantuan.

Ada petani yang gagal panen. Sawah yang mestinya sudah bisa dibajak kembali kini tertutupi lapisan lumpur tebal. Sedangkan padi-padi hasil panen sebelumnya menjadi busuk karena terendam banjir.

Banjir memang sudah surut, tapi kini masyarakat dihantui oleh persoalan lain. Bagaimana mereka bertahan hidup setelah masa tanggap darurat berlalu?[]

Surat untuk Mualem

5

Mualem,

Saya masih ingat euforia pada tahun 2002 silam ketika Anda menjadi Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menggantikan allahu yarham Abdullah Syafii yang gugur pada 22 Januari 2002.

Memakai baju loreng, Anda terlihat gagah. Brewok di wajah tidak saja membuat Anda terlihat karismatik, tapi juga dikagumi para dara. Bahkan, ada yang bilang Anda mirip Suniel Shetty—aktor India yang sedang booming kala itu.

Lebih dari itu, euforia tersebut sebenarnya karena ada harapan besar yang terpendam di hati rakyat Aceh. Anda diharapkan bisa “memerdekakan” Aceh.

Euforia tersebut terulang ketika Anda menjadi Gubernur Aceh. Dua puluh dua tahun setelahnya. Wibawa Anda (masih) menjadi tumpuan harapan bagi jutaan rakyat Aceh. Harapan agar Anda bisa memerdekakan Aceh masih ada. Tentunya, merdeka dalam konteks yang berbeda.

Mualem,

Saat saya menuliskan ini, saya sudah kembali berada di Kota Banda Aceh—setelah sebelumnya sempat terkurung di Takengon (Aceh Tengah) bersama sejumlah rekan. Hari ini, Selasa, 9 Desember 2025, dua pekan setelah banjir bandang dan longsor menerjang Aceh. Delapan belas kabupaten/kota terdampak. Itu artinya, lebih dari 75 persen kabupaten/kota di Aceh saat ini lumpuh.

Tamiang berubah seperti “kota zombie”. Kering dan tanpa kehidupan. Jalan-jalan di Tamiang tidak saja berdebu, tapi mulai menguarkan aroma menyengat dari jenazah yang belum terevakuasi. Di Pidie Jaya, rumah-rumah warga tertimbun sedimen lumpur hingga mencapai atap. Di Aceh Tengah, ada masyarakat yang sudah minta dikirimkan kain kafan. Di Aceh Utara, ada kampung-kampung yang hilang. Begitu juga di daerah-daerah lain.

Aceh berada dalam situasi krisis. Di tengah situasi seperti ini, rakyat sangat membutuhkan kehadiran pemimpin. Agar mereka tenang. Tidak merasa ditinggalkan. Dan tahu apa yang akan disongsong pada hari esok. Sebagai pemimpin tertinggi di Aceh, Andalah satu-satunya tumpuan harapan rakyat Aceh.

Mualem,

Penting bagi Anda untuk mengatasi krisis ini. Namun, penting juga untuk memikirkan kebijakan apa yang bisa Anda lakukan untuk mencegah bencana serupa tidak terulang lagi.

Anda bisa memulai dengan memikirkan dan merenungkan kembali soal rencana program wilayah pertambangan rakyat (WPR). Anda bisa mulai dengan memetakan lahan-lahan kritis di Aceh dan mengonsep rencana untuk merehabilitasinya. Ya, bukan hanya orangnya, tanah dan hutan kita juga perlu disehatkan kembali.

Lebih dari itu, Anda bisa beraksi dengan meninjau dan membatalkan izin-izin perusahaan tambang yang sudah dan akan beroperasi di Aceh. Anda juga harus berpikir kembali, bagaimana caranya agar hutan-hutan di Aceh tidak terus dibabat untuk ditanami sawit. Anda jangan terkecoh dengan pernyataan Pak Presiden yang mengatakan “sawit adalah pohon”. Itu pernyataan manipulatif. Sebagai Gubernur Aceh, Anda punya kewenangan dan kekuasaan untuk itu. Kerahkan seluruh sumber daya di Satuan Kerja Pemerintah Aceh.

Jika Anda ingin menyejahterakan rakyat, jika Anda ingin rakyat tersenyum dan bahagia, jika Anda ingin rakyat hidup tenang tanpa rasa waswas saat hujan turun, maka tambang bukan solusinya. Program-program replanting sawit perlu dikaji ulang.

Mualem,

Rakyat yang sebenarnya adalah yang hari ini Anda lihat. Mereka yang terkurung di desa-desa terpencil setelah banjir bandang dan longsor menghantam. Mereka yang menanti bantuan dengan harapan yang nyaris karam. Mereka yang hanya bisa berdoa di tengah gelapnya gulita malam. Mereka yang terpaksa melihat desa-desa mereka menjadi aliran-aliran sungai baru.

Mereka yang tanah, kebun, sawah, dan harta bendanya hanyut tak bersisa. Mereka yang kebingungan mau makan apa esok? Mau tinggal di mana esok? Mau menyekolahkan anak-anaknya dengan apa esok? Mereka, yang bahkan hingga dua pekan setelah bencana, ada yang belum tahu di mana dan bagaimana keberadaan keluarga mereka.

Rakyat yang sebenarnya hanyalah individu-individu tak berdaya yang tak punya kuasa melawan hegemoni oligarki. Mereka yang tak punya modal untuk membiayai operasional tambang rakyat. Alih-alih membiayai operasional tambang, bahkan untuk membeli bensin seliter di tengah situasi begini saja mereka tak punya uang. Mereka tak punya kuasa untuk melawan kebijakan dan regulasi yang kejam.

Mereka yang terpaksa tabah ketika bencana terjadi. Mereka yang terkatung-katung karena pertolongan tak kunjung datang. Mereka yang rela berjalan kaki hingga puluhan kilometer, yang rela mempertaruhkan nyawa dan risiko tinggi, demi mencari segenggam beras untuk keluarganya. Itulah rakyat yang sebenarnya.

Mualem,

Saya pernah mewawancarai seorang mantan anggota GAM. Beliau bercerita, suatu ketika dalam pelariannya di dalam hutan, ia bertemu dengan seekor harimau. Tapi harimau itu tidak mengganggunya. Hanya melihat dari jauh, lalu pergi. Kami juga tidak pernah mendengar ada anggota GAM yang diganggu oleh gajah atau binatang buas lainnya selama persembunyian mereka di hutan.

Begitulah sifat alami Teungku Rayek atau Po Meurah—juga hewan-hewan lain di dalam hutan. Mereka sangat penyayang. Mereka pintar. Sehingga tahu, yang bersembunyi di hutan bukan untuk disakiti. Karena memang, mereka tak pernah punya SOP untuk menyerang manusia, apalagi meneror dan mengusir manusia dari permukiman. Jadi, mengapa kita tega merusak hutan hingga ke jantung-jantungnya yang selama ini menjadi istana bagi para penghuni rimba? Memaksa mereka terusir dan terbunuh dengan tragis?

Bahkan, ada anggota GAM yang justru menciptakan lagu perjuangan ketika berada di hutan. Suatu malam, saat ia melepas lelah sambil duduk di ayunan, ia melihat langit sangat cerah, bulan bersinar terang, dan dipenuhi kerlip bintang. Ah, betapa syahdunya. Jiwa seni dan kreatifnya terpantik sehingga tercipta sebuah lagu heroik. Bahkan Anda memintanya untuk menyanyikan lagu itu dalam sebuah “rapat negara” pada tahun 2001. Lagu itu masih sering digemakan hingga saat ini.

Saya juga membaca kisah-kisah pejuang GAM yang mampu bertahan dalam situasi sulit karena tetap ada yang bisa mereka makan selama berada di hutan. Ikan-ikan masih bisa ditangkap di sungai-sungai yang jernih dan berarus deras. Buah-buah hutan yang aman dikonsumsi tinggal dipetik.

Artinya, Anda tentulah paling paham apa arti dan fungsi hutan yang sesungguhnya. Hutan adalah sumber kehidupan yang sesungguhnya. Hutanlah yang telah menyelamatkan kita dalam berbagai fase kehidupan.

Mualem,

Saya tahu, hutan dan alam kita sudah sangat rusak. Sudah sangat babak belur. Namun, Anda masih punya kesempatan untuk tidak membuatnya menjadi lebih buruk. Mungkin, Anda—hanya—akan dibenci oleh para oligarki jika memilih melindungi rakyat dengan menyelamatkan hutan kita. Namun, percayalah, Anda akan disayangi oleh jutaan rakyat. Nama Anda akan selalu dikenang dan diingat.

Yang kita sebut sebagai bencana hidrometeorologi ini ibarat “pre-test” dari Tuhan. Uhm, sebenarnya, menyebut ini sebagai “bencana hidrometeorologi” pun tidak tepat. Sebab dampaknya tentulah tidak seburuk dan separah ini kalau manusia tidak rakus dan tamak. Dan lagi, alam tentu tidak akan berubah fenomenanya jika manusia tetap bijak.

Saya menyebutnya sebagai pre-test. Tuhan mungkin ingin menguji kemampuan awal kita, sejauh apa pengetahuan kita tentang mitigasi bencana, dan bagaimana kesiapan kita untuk menghadapinya.

Hasil pre-test-nya bisa kita lihat sendiri. Hingga dua pekan setelah banjir bandang dan longsor menerjang, wilayah-wilayah terisolasi belum seluruhnya bisa dijangkau, distribusi bantuan belum merata, masyarakat kehilangan harapan sehingga ada yang meminta dikirimkan kain kafan. Belum lagi soal listrik yang juga belum normal, jaringan telekomunikasi masih megap-megap, juga biaya transportasi yang tiba-tiba melambung tinggi. Efek dominonya bahkan dirasakan oleh daerah-daerah yang tidak terdampak langsung oleh bencana. Termasuk di Kota Banda Aceh, ibu kota provinsi.

Bukan itu saja, melalui pre-test ini, kami bisa melihat kualitas dan kapasitas para pemimpin kami. Ada yang kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Ada yang egois, tega meninggalkan rakyatnya demi “foto mesra” dengan pasangan berdalih ibadah. Ada yang fokus pada pencitraan, dan tak malu untuk “nebeng” foto dengan bantuan yang dibawa relawan. Yang terbiasa menjilat, tetap saja menjilat. Kami juga bisa melihat, siapa pemimpin yang bersungguh-sungguh bersama dan memikirkan rakyatnya. Bahkan, Anda sampai menangis, dan bukan hanya sekali.

Saya yakin, Anda juga geram dengan tingkah-tingkah pejabat dari pusat. Yang tidak hanya lamban, tapi juga tidak punya empati. Yang mengecilkan harga nyawa rakyat Aceh. Yang menjadikan bencana ini semacam guyon yang mereka nikmati di media sosial.

Apa artinya ini? Artinya, ini kesempatan Anda untuk merenung kembali, kepada siapa Anda berpihak dan siapa yang berpihak kepada Anda.

Mualem,

Sebagai pemimpin, sebagai orang nomor satu di Aceh, Anda tentulah sering dan akan dihadapkan pada pilihan dan keputusan sulit. Dihadapkan pada berbagai ironi. Tapi, seorang pemimpin sejati, tentu tidak akan mengorbankan rakyatnya demi kepentingan kekuasaan, bukan?

Setiap kali Anda bimbang, ingatlah tatapan kosong dan air mata para ibu yang kehilangan suami dan anaknya. Ingatlah rasa bersalah para ayah yang tidak bisa menyelamatkan keluarganya. Ingatlah jerit para anak yang kehilangan orang tuanya. Ingatlah pada kami, rakyatmu.[]

Misi Perdamaian IWPG: Belajar dari Korea, Bergerak di Indonesia

Oleh Amrina Habibi*

SALAH satu peristiwa penting dan menjadi sejarah baik bagi saya sepanjang tahun 2025 ini adalah ketika saya dan sembilan teman lain dengan latar belakang jurnalis dan aktivis perdamaian Internasional Women Peace Group (IWPG ) menginjakkan kaki di Cheong Ju, Korea Selatan, untuk mengikuti Internasional Peace Conference yang diselenggarakan oleh Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL). Ini adalah organisasi masyarakat sipil yang didirikan oleh Lee Man Hee, seorang aktivis kemanusiaan yang sangat aktif dalam menggelorakan perdamaian, baik di Korea maupun di dunia.

Cheongju adalah ibu kota Provinsi Chungcheong Utara, Korea Selatan, terletak sekitar 120 km selatan Seoul dan dikenal sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, dan ekonomi provinsi. Cheongju kaya akan sejarah dan budaya, termasuk museum percetakan awal Korea dan berbagai festival seni internasional seperti Cheongju International Craft Biennale. Kota ini juga terkenal bersih dan tertata rapi, dengan taman, sungai, serta pegunungan yang menambah keindahan dan menyediakan jalur rekreasi bagi warganya.

HWPL adalah organisasi yang memiliki tujuan untuk mencapai perdamaian dunia melalui solusi komprehensif yang melibatkan para pemimpin, perempuan dan pemuda dari berbagai budaya, keyakinan, dan wilayah. HWPL terlibat dalam berbagai inisiatif, seperti mempromosikan pendidikan perdamaian, mengadvokasi Deklarasi Perdamaian dan Penghentian Perang (DPCW), dan menyelenggarakan KTT perdamaian dunia untuk menumbuhkan budaya damai. Organisasi ini berafiliasi dengan Departemen Komunikasi Global PBB (DGC) dan memiliki Status Konsultatif Khusus dengan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC).

Pada tanggal 18 September setiap tahunnya menjadi momentum pelaksanaan HWPL Global Peace Leaders Conference sebagai sebuah forum besar yang menyatukan misi bersama untuk perdamaian dunia. Terpetakan dari beberapa laporan, tak kurang 25 ribu masyarakat menjadi relawan HWPL sebagai bentuk dukungan untuk menjaga dunia tetap damai dan harmoni. Ibarat tamu agung, pengurus pusat dengan sejumlah relawan IWGP menyambut kedatangan delegasi Indonesia dengan komandan Ketua IWPG Indonesia, Ana Milana Puspitasari, di Bandara Internasional Incheon menuju Hotel Enford. Pada hari Kamis, tanggal 18 September 2025, seluruh delegasi Indonesia dan belasan negara lainnya mengikuti conferensi di Cheong Ju Church dengan pelayanan sangat istimewa.

Dari sepuluh orang delegasi Indonesia, dua di antaranya dari Aceh, yakni dari Balai Syura Ureung Inong Aceh dan dari Rumah Baca Lentera Habibi. Selebihnya, empat perwakilan media, yakni Suara Pembaruan, Indo Tren, TV One, BTV, dan Lentera Kartini dari Sampit. Juga dua pengurus IWPG Indonesia.

Pada hari kedua dan ketiga, saya dan kawan-kawan sudah dengan agenda khsusus IWPG yang dipusatkan di Hotel Enford. Konferensi IWPG terbagi menjadi beberapa sesi, termasuk memberikan penghargaan atas sejumlah kerja baik para tokoh perempuan dunia dari berbagai negara yang bergerak untuk isu women peace. Adapun sesi berbagi pengalaman dan praktik baik disampaikan oleh beberapa narasumber, di antaranya, Kim Simplis Barrow (mantan Ibu Negara Belize), Hon. Maria Theresa R. Timbol (Wakil Wali Kota Kapalong, Davao Del Norte, Philiphina), H.E. Bouare Bintou Foune Samake (mantan Menteri Perempuan, Anak, dan Keluarga Mali).

Hampir semua mengungkapkan hal senada bahwa selama ini keterlibatan perempuan sering tidak dianggap, tapi hari ini kita bisa lihat bahwa peran perempuan sangat penting. Mereka juga menekankan bahwa perdamaian dunia tidak bisa dicapai tanpa peran perempuan, semua pihak harus ikut terlibat dalam menjaga dan merawat perdamaian dunia. Mereka juga mendorong agar lebih banyak lagi pemimpin perempuan di dunia agar perdamaian dapat terus dirawat dan dijaga.

Setelah beberapa hari di Korea, saya melihat bahwa negeri ini memang sangat romantis sesuai dengan apa yang ada di drama-darama Korea. Negara ini sangat bersih, pengaturan terkait sampah sudah sangat baik karena diwajibkan untuk memilah sampah, trotoar menjadi surga bagi pejalan kaki, dan kedai skin care dengan berbagai tawaran produk yang berjejeran di setiap sudut kota, makanan korea juga tentu menjadi incaran.

Kembali kepada fokus bahwa IWPG pusat juga mendorong dan membuka peluang untuk saling mendukung dan bekerja sama dengan banyak lembaga dari sejumlah negara dan salah satunya adalah Indonesia. Saya dan teman-teman di hari akhir acara akhirnya berjibaku dalam diskusi serius untuk merancang objektivitas gerakan bersama yang akan dilakukan satu tahun ke depan di Aceh dan Sampit (Kalimantan Tengah) dalam rangka menyebarluaskan pendidikan damai dengan fokus pada penguatan agensi dan peningkatan SDM perdamaian di tingkat komunitas.

Pemilihan ini tak terlepas dari kondisi bahwa Aceh dan Sampit pernah menjadi daerah konflik dan trauma konflik masih belum pulih. Dua puluh tahun damai Aceh adalah momentum yang perlu dirawat dengan pendidikan damai yang mengakar dan ruang keadilan untuk penglibatan perempuan pada seluruh sektor pembagunan secara setara adalah sebuah keharusan. Suara dan peran perempuan jangan berbatas pada saat pemilu atau sekadar pendamping hidup.

International Women’s Peace Group (IWPG) memiliki cabang di berbagai negara. Berdasarkan informasi terbaru, IWPG memiliki 114 cabang di 123 negara dan 808 organisasi mitra di 66 negara. Beberapa negara yang disebutkan sebagai lokasi cabang IWPG, antara lain: Asia (Korea Selatan, Mongolia, Filipina, Indonesia); Amerika (Kolombia, Meksiko, Brasil [tidak disebutkan secara eksplisit, tapi disebutkan sebagai bagian dari kegiatan di Amerika Latin]); Afrika (Uganda, Pantai Gading, Afrika Selatan, Malawi); dan Eropa (Ceko).

IWPG juga memiliki kegiatan di negara-negara lain, seperti Fiji, India, Bangladesh, Pakistan, Afghanistan, dan Kazakhstan. Jumlah pasti negara anggota IWPG mungkin lebih banyak daripada yang disebutkan di atas, karena IWPG terus berkembang dan melakukan kegiatan di berbagai wilayah.[]

Penulis adalah anggota Dewan Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh.

Serunya Belajar Membuat Tempe di Rumoh Pangan Aceh

Saat menyantap gurihnya tempe di piring makan kita, kita hanya fokus pada rasa yang dicecap oleh lidah. Tempe tidak “sesederhana” harganya yang murah. Ia adalah karya yang lahir dari ketelatenan dan keuletan para pengkarya. Ia sumber protein nabati yang kaya manfaat.

“Tempenya enak, I am very full,” celoteh Ummi girang setelah menghabiskan seporsi besar makan siangnya yang kumasak dengan beragam lauk pauk sehat, salah satunya tempe.

Sejujurnya, tidak ada perlakuan khusus pada tempe yang kusajikan siang itu. Tempenya hanya kutaburi sejumput garam, lalu kugoreng hingga matang. Walaupun cara memasaknya terkesan simpel, tetapi justru proses pembuatan tempenyalah yang istimewa.

Sajian tempe yang kuhidangkan di rumahku saat itu berasal dari bahan baku tempe olahanku sendiri yang dihasilkan melalui pelatihan pembuatan tempe dari program Rumoh Pangan Aceh (RPA) pada tanggal 23-24 Agustus 2025.

Program edukasi ketahanan pangan itu berlangsung selama dua hari di Rumah Tempe InoPi, yang berlokasi di Alue Naga, Syiah Kuala, Banda Aceh.

InoPi merupakan singkatan dari Inovasi Pangan Indonesia yang menjadi subbisnis dari organisasi masyarakat Rumoh Pangan Aceh. Rumah Tempe InoPi menjadi pusat produksi sekaligus pusat edukasi tempe sehat yang dikelola oleh Rumoh Pangan Aceh.

Atas: proses penyortiran kacang. Bawah: pengupasan kulit kacang.

Produk tempe berkualitas yang dihasilkan berasal dari bahan baku pilihan seperti kacang kedelai dan kacang koro. Selain menjadi rumah produksi tempe segar untuk masyarakat, tempat ini juga menjadi wadah pemberdayaan komunitas lokal untuk mengampanyekan informasi terkait pangan lokal yang sehat lagi bergizi.

Selalu ada kejutan di setiap proses pembelajaran, termasuk saat belajar membuat tempe dari nol.

Dalam pelatihan ini, aku dan para peserta hadir tidak hanya untuk belajar memahami proses pembuatan tempe secara teoretis. Akan tetapi, kami juga langsung diajak terjun ke dapur produksi tempe InoPi.

Kami bertemu dengan para ibu, warga Gampong Alue Naga, yang bekerja di sana. Menurut info yang kuterima, bahan kacang koro yang digunakan untuk membuat tempe InoPi ini berasal dari hasil kebun petani lokal di Aceh yang dibina langsung oleh Rumoh Pangan Aceh.

Para peserta diajak menikmati proses langsung pembuatan tempe tahap demi tahap. Kami menyentuh langsung kacang koro berwarna putih sekeras batu dan belajar menyortirnya satu-satu. Kami juga diajak terjun langsung mengupas kulit kacang koro yang sudah direndam semalaman, kemudian dicincang, dicuci, dan dibersihkan.

Atas: kacang dikeringkan setelah dicuci bersih. Bawah: proses penggilingan kacang dengan mesin.

Aroma sianida yang kuat tercium saat kacang koro direbus dan kemudian dicuci bersih dengan air mengalir berkali-kali. Hal itu mengingatkanku pada proses pengolahan bahan pangan janeng—umbi beracun dari Aceh—yang tampak serupa.

Sebagai tipe pembelajar praktis, pengalamanku di hari pertama dan kedua sungguh berbeda. Saat ragam teori terkait pembuatan tempe dipaparkan, aku merasa bosan dan kantuk pun menyerang dengan teramat sangat.

Namun, hari kedua terasa berbeda, semangat belajarku sungguh membara. Di hari kedua, semua inderaku terasa hidup.

Kulitku merasakan sensasi dinginnya air mengalir dan panasnya tungku kayu untuk merebus kacang koro dan kedelai. Mataku dimanja dengan beragam rupa peralatan dan ragam aktivitas peserta dan pelatih yang melakukan praktik pembuatan tempe bersama di dapur produksi.

Ragi tempe.

Telingaku dipenuhi ragam dengung mesin pemotong koro dan pengupas kulit kedelai yang sebelumnya tak pernah kukenal. Hidungku menangkap rupa-rupa aroma, dari bau langu yang menggangu hingga gurihnya aroma tempe yang siap disantap bersama.

Tentu saja, lidahku turut mengecap nikmat ragam tektur dan rasa tempe yang terbuat dari kedelai, koro, atau pencampuran keduanya.

Dari seluruh rangkaian aktivitas membuat tempe sehat yang sungguh asyik, ternyata ada tantangan besar lainnya yang baru aku sadari. Bahwa, selayaknya membuat tape, proses pembuatan tempe juga ternyata tak lantas langsung berhasil, alias bisa saja gagal.

“Setelah paham rumitnya membuat tempe, kalau di pasar pedagang menawarkan harga 5 ribu sebatang, akan saya tawar ulang. ‘6 ribu saja, boleh, Bang?’” kisah salah seorang ibu yang sedang membersihkan kacang koro bersama kami sambil terkekeh.

Atas: tempe yang sudah jadi dengan tekstur yang sangat bagus. Bawah: tempe yang sudah digoreng menghasilkan warna yang keemasan.

Pemilihan ragi dan cara menaburnya ke kacang kedelai dan koro—yang telah bersih, masak, dan kering—dengan tepat menjadi penting, juga proses pengemasan dengan menggunakan plastik atau dedaunan pilihan, bahkan kehadiran suhu ruang fermentasi yang harus tepat (29-32 derajat celsius) menjadi sederet faktor lainnya yang menentukan keberhasilan atau kegagalan pembuatan tempe.

“Jadi tempe ini tidak dapat dibuat di suhu dingin, termasuk di suhu negara bersalju,” ungkap Puteri, Sang Manager Operasional InoPi.

Aku terkesima dengan pernyataan tersebut. Sumber protein nabati yang sangat aku gemari karena rasanya yang enak dan harganya yang cukup terjangkau itu ternyata perlu melalui proses pembuatan yang sangat panjang, bahkan berpotensi gagal.

Tim RPA bersama para peserta pelatihan membuat tempe.

Pada akhirnya, aku sadar bahwa hal yang mungkin kita kira sederhana dan mudah kita dapatkan layaknya tempe, ternyata membutuhkan keuletan dan kesabaran yang tidak sedikit oleh para pengrajinnya. Syukur menggunung seketika timbul dalam lubuk hatiku yang terdalam.

Ada begitu banyak orang-orang terampil yang dengan tabah dan ikhlas berkarya untuk menghasilkan produk pangan sehat terbaik. Sehingga konsumen seperti kita dapat dengan mudah menyantap dengan nikmat dan berkata, “Hmm… enaaakkk!”

Jika Anda tertarik untuk mencobanya di rumah, berikut saya terakan juga tata cara pembuatannya.

Tata Cara Membuat Tempe Kedelai

BAHAN BAKU

  • Kacang kedelai
  • Ragi (1 gr ragi/1 kg kacang)
  • Air bersih

PERALATAN DAN MESIN PEMBUATAN TEMPE

  • Dandang
  • Kompor
  • Wadah plastik
  • Saringan
  • Kipas angin
  • Saringan plastik
  • Ember
  • Timbangan
  • Jarum pelubang yang sudah disterilisasi
  • Sealer
  • Mesin penggiling kedelai
  • Termometer digital

PIHAK TERKAIT

  • Supervisor produksi
  • Staff produksi

PROSEDUR

Hari Pertama:

Kacang Kedelai

  1. Pengrajin tempe menyortir kacang kedelai secara manual dan memisahkan yang rusak
  2. Kacang kedelai direndam selama 1 jam
  3. Kacang kedelai direbus selama 45 menit
  4. Kacang kedelai direndam selama 24 jam

Hari Kedua:

Kacang Kedelai

  1. Kacang kedelai digiling dengan mesin penggiling kedelai untuk memisahkan kacang dan kulit ari
  2. Kacang kedelai dicuci bersih dan dibilas sebanyak 3 kali
  3. Kacang kedelai direbus selama 30 menit
  4. Kacang kedelai ditiriskan dan dikeringkan dengan cara menyebarkannya secara merata di atas meja yang dilapisi dengan kain katun dan menggunakan kipas angin
  5. kacang kedelai dimasukkan ke wadah plastik dan diberi ragi dengan rasio 1 kg kacang kedelai sama dengan 1 gram ragi tempe
  6. Kemasan plastik dilubangi dengan jarum pelubang yang sudah disterilisasi
  7. Kacang kedelai dimasukkan kedalam plastik kemasan yang sudah dibolongi kemudian ditutup menggunakan sealer
  8. Kacang kedelai dimasukkan ke dalam ruangan fermentasi bersuhu 29-32 derajat celcius dan diletakkan di rak fermentasi selama 30 jam
  9. Setelah 30 jam tempe dikeluarkan dari ruangan fermentasi dan dipindahkan ke meja penyimpanan dan plastik tempe dilubangi lagi agar tempe masak dengan sempurna

Hari Keempat:

  1. Tempe kacang kedelai siap diolah lebih lanjut.[]