Sosok Ayah di Masa Konflik

Menjadi seorang laki-laki Aceh yang hidup di masa konflik amat sangat menakutkan. Bagaimana tidak, kaum ini selalu dicurigai oleh kedua belah pihak yang bertikai. Sedikit saja salah bertindak, nyawa jadi taruhan. Sedikit saja ada gelagat yang dianggap mencurigakan, siap-siap menjadi target sasaran. Bila tidak sesuai dengan yang diinstruksikan, harus rela menerima hukuman tanpa pembelaan.

Bagi yang melakukan perlawanan disebut pemberontak. Sedangkan yang tidak ikut berjuang disebut sebagai penghianat. Mereka serba salah, diteror dari dua arah. Padahal mereka hanyalah sipil yang harus dilindungi, tapi merekalah yang kerap menjadi korban dan sasaran. Inilah era ketika masyarakat Aceh berada pada kegelapan, harga diri di ujung kaki para tentara dan kombatan.

Rentetan peristiwa berdarah yang pernah terjadi di Aceh, melibatkan banyak kaum laki-laki. Di antaranya para ayah yang mempunyai anak-anak yang mestinya dihidupi. Namun, kekejaman konflik Aceh membuat anak-anak yatim kehilangan sosok ayah. Seperti tragedi Jambo Kupok di Aceh Selatan pada 17 Mei 2003, belasan laki-laki dibakar hidup-hidup di sebuah rumah kosong oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Rintihan kesakitan dan lolongan pilu dari korban terdengar langsung ke telinga anak-anak. Larut bersamaan dengan kobaran api yang begitu mencekam. Salah satunya Ali Usman yang menjadi saksi hidup dalam peristiwa itu. Usianya baru beranjak 15 tahun, tapi ia harus berhadapan dengan trgedi yang memilukan. Pasalnya, di antara yang menjadi korban pembakaran itu adalah ayahnya, Suwandi, (bbc.com; Kesaksiaan korban peristiwa Jamboe Kupok, diakses 27 Juli 2023).

Selain tregedi Jambo Kupok, terdapat benyak peristiwa lainnya seperti tragedi Simpang KKA (Aceh Utara), tragedi Rumoh Gedong (Pidie), tragedi Beutong Ateuh (Aceh Barat–sekarang Nagan Raya) dan banyak peristiwa lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Ini menunjukkan betapa sulitnya menjadi laki-laki dan betapa takutnya anak-anak kehilangan sosok ayah pada masa itu.

Memori Korban Konflik dari Orang Terdekat

Di antara banyak peristiwa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) semasa konflik bersenjata Aceh, ada juga rentetan peristiwa yang tidak terdata. Ini berkaitan dengan orang-orang terdekat saya. Meskipun tidak seberat peristiwa besar yang disebut di atas, tapi memori ini tidak bisa serta-merta dibuang begitu saja.

Ingatan ini menjadi landasan dasar bagi saya, betapa susahnya hidup di masa konflik. Bahkan untuk saya yang berusia anak-anak saat itu, kehilangan ayah menjadi momok yang sangat menakutkan. Terlebih pekerjaan Ayah saya seorang sopir angkutan umum, tidak menutup kemungkinan terjadi perilaku kekerasan di perjalanan oleh pihak yang bertikai. Berikut kumpulan memori yang sudah pernah saya dengar dari Ayah yang kemudian saya konfirmasi ulang lagi kebenarannya ke Ayah (27 Juli 2024).

Contoh kecilnya saja dulu di sekitar tahun 2000, saat Ayah membawa mobil lintas Tapaktuan–Meulaboh, ia sering ditahan di Posko Brimob Lamainong, Aceh Barat Daya. Para tentara meminta jatah uang kepada Ayah, tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Begitu pula bila ada kebutuhan tentara yang ingin dibelikan di Meulaboh, mereka meminta bantuan Ayah untuk membelinya. Namun, lagi-lagi pakai uang Ayah.

Kekerasan verbal pun tak jarang diterima Ayah. Namun, dalam kondisi tersebut apa yang bisa diperbuat? Diam dan menjawab seperlunya adalah cara terbaik daripada membantah. Tidak hanya itu,  karena salah sangka oleh pihak tentara, mobil Ayah juga pernah diadang oleh mobil tentara. Lalu Ayah diproses di posko tentara sambil ditodong senjata.

Masalahnya sepele, yaitu surat yang disangka dititipkan oleh seseorang tentara kepada Ayah rupanya sudah dikirim melalui kantor pos ke Medan. Hal itu baru terungkap setelah tiga hari Ayah mendapat ancaman dari tentara. Selama itu, Ayah merasa tertekan karena setiap melalui posko brimob tersebut, Ayah ditanyai tentang surat. Bahkan Ayah sempat bertanya ke rekan-rekan seprofesinya tentang surat tersebut, setiap kali berpapasan dengan sopir yang dikenal Ayah. Barangkali ada dititipkan di mobil mereka. Namun, tak satu pun yang tahu keberedaan surat itu. Padahal surat yang dimaksud sudah dikirim via kantor pos oleh oknum yang bersangkutan.

Seusai kejadian itu, koflik Aceh semakin memanas. Banyak masyarakat yang tidak bersalah jadi korban. Persoalan bunuh-membunuh kian sering terdengar. Termasuk ayah angkatnya Ayah (kakek saya) menjadi korban tembak oleh oknum kombatan. Kejadiannya itu selepas magrib, kakek didatangi oleh oknum kombatan di rumahya.

Tanpa banyak tanya, oknum tersebut langsung menembakkan satu peluru ke paha kanan kakek dengan jarak satu meter. Akibatnya kakek tidak tertolong setelah sempat dilarikan ke rumah sakit. Nenek yang melihat kejadian itu, langsung berteriak histeris dan memohon kepada oknum tersebut agar tidak menyakiti kakek lagi. Ternyata oknum tersebut melakukan hal itu karena sakit hati lantaran tidak dikasih uang oleh kakek.

Kakek yang saat itu beprofesi sebagai kepala desa (keuchik) memang sering didatangi oleh pihak tentara maupun kombatan. Namun, siapa sangka malam itu ia menjadi korban keberingasan oknum yang mengaku membela bangsa. Sungguh sedih istri dan anak-anak yang ditinggalkannya. Terlebih anak bungsunya masih berusia balita. Saya saja sebagai cucu angkatnya begitu terpukul dengan kematiannya yang tak wajar, konon lagi anak kandungnya jauh lebih hancur melihat ayahnya diperlakukan demikian.

Berjuang di Tengah Konflik

Ayah kemudian memutuskan tidak lagi bekerja sebagai sopir, karena situasi yang semakin memburuk. Ia memilih bekerja di rumah menjaga kios kecil yang sebelumnya dikelola oleh ibu. Sayangnya, penghasilan dari menjaga kios tidak bisa mencukupi keluarga kami. Akhirnya ibu terpaksa mengambil alih dengan berjualan pakaian dan kasab sulam benang emas yang dijahitnya sendiri.

Ibulah yang pergi-pergi keluar daerah menawarkan barang dagangannnya, dan saya selalu ikut menemani ibu. Sebab ketika di dalam perjalanan terjadi sweeping oleh tentara, maka akan mudah dilewatan karena ada anak kecil. Tidak hanya itu, saya juga ikut membantu ibu dengan berjualan es di sekolah, umur saya baru delapan tahun. Namun, di situasi itu, perempuan dan anak-anak mengambil peran mencari rezeki karena para lelaki kesulitan bekerja di luar rumah lantaran kondisi yang tidak aman.

Di suatu waktu, jelang peringatan 4 Desember, Ibu disuruh menjahit bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) oleh kombatan. Ia terpaksa menerimanya bukan karena kepepet uang, toh saat itu bayarannya cuma Rp1500 per lembarnya. Namun, ibu takut kalau menolaknya akan berakibat buruk bagi keluarga kami.

Di lain sisi, ibu juga khawatir tentara mengetahui bahwa ibu menjahit bendera GAM. Karena jika pihak tentara tahu, keluarga kami pasti akan dihabisi karena dianggap mendukung GAM. Ada yang unik saat itu, melihat aktivitas ibu menjahit benang kasab, beberapa tentara meminta ibu menjahit lambang mereka dengan menggunakan benang kasab. Jadi, ketika siang ibu membuat pesanan jahitan tentara, sedangkan malamnya ibu menjahit bendera GAM.

Hingga di tahun 2003, ketika diberlakukannya Darurat Militer di Aceh padan tanggal 19 Mei, kami yang tinggal di pedalaman dekat gunung, tepatanya di Gampong Air Sialang Hilir, Samadua, Aceh Selatan disuruh mengungsi. Semua orang kampung yang tinggal berbatasan dengan pegunungan juga ikut mengungsi. Ibu kehilangan mata pencahariannya, sedangkan ayah tidak bekerja. Beberapa hari setelah kami diungsikan, Ayah mencari pekerjaan karena tidak ada uang di tangan dan persedian makanan semakin menipis.

Alhamdulillah, Ayah kembali menjadi sopir angkutan umum. Namun, kali ini lintas Tapaktuan–Kandang (Kluet Selatan). Meskipun lintasan daerah ini merupakan zona merah pada masa konflik, Ayah tetap mengambil risiko itu demi menghidupi anak-anak dan istrinya. Benar saja, beberapa minggu setelah ayah menjadi sopir, perilaku kekerasan pun kembali diterima Ayah dari pihak tentara.

Kali ini masalahya karena seorang tentara menuduh Ayah menabrak pacarnya. Padahal perempuan (pacar tentara) tersebut jatuh sendiri tepat di depan mobil yang dikendarai Ayah. Tentara itu pun mengamuk dan memukul punggung Ayah dengan gagang senjata. Tidak cukup itu, pipi Ayah juga dipukul dengan gagang senjata hingga Ayah tersungkur tak berdaya. Tentara itu juga mengancam Ayah agar tidak menceritakan kejadian itu ke siapa pun. Setelah itu, barulah Ayah dilepaskan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.

Tidak ada yang membela, di mata meraka Ayah salah karena menabrak pacar tentara. Meskipun tidak seperti itu kronologisnya dan walaupun ada saksi para penumpang Ayah yang melihat kejadian itu, mereka bisa berbuat apa? Hanya bisa bungkam seribu bahasa menyaksikan Ayah dihajar tentara.

Beberapa hari setelah kejadian itu, gigi ayah rontok satu per satu. Jangan tanya bagaimana rasa sakitnya, tapi ayah kembali lagi dengan aktivitasnya demi mencari rezeki. Terlebih saat itu kami sedang mengungsi, dan harus membayar sewa rumah sebagai tempat mengungsi membuat Ayah kuat, meskipun menyimpan rasa trauma. Ayah kembali menjalani aktivitasnnya sebagai sopir.

Di suatu hari, Ayah juga pernah terjebak dalambaku tembak antara tentara dan kombatan di Gunung Lokrukam, ketika hendak pergi ke tempat kerjanya mengambil mobil. Saat itu Ayah menggunakan sepeda motor. Ayah hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Allah agar selamat dari kontak senjata tersebut. Sambil menepi di antara mobil tentara, ayah terus melajukan motornya, tanpa memedulikan anak peluru berseliweran di atas kepala Ayah. Hingga akhirnya sampai ke kampung Air Pinang, Tapaktuan, Aceh Selatan, tepatnya di rumah toke Ayah. Orang-orang pada menangis melihat Ayah karena lolos dari maut. Meskipun Ayah selamat, ingatan mencekam berada di tengah kontak senjata, tentu tidak mudah dilupakan dalam sekejap mata.

Selain ayah dan kakek yang mengalami perlakuan kekerasan di masa konflik, juga ada guru sekolah saya. Kejadiannya itu menjelang damai Aceh di tahun 2004. Guru laki-laki yang mengajar pelajaran fiqih di sekolah saya, disandra di gunung oleh kombatan. Bahkan kami satu sekolah sempat membuat doa bersama untuk keselamatan sang guru. Qadarullah, guru tersebut akhirnya dibebasakan setelah kurang lebih satu bulan disandra dan membayar tebusan.

Selama guru tersebut disandra, selama itu pula mata pelajaran fikih di sekolah kosong karena tidak ada yang menggantikannya. Saya tidak tahu bagaimana perlakuan kombatan kepada dia selama itu. Namun, dari situ saya bisa menyimpulkan tidak mudah hidup sebagai seorang ayah di masa konflik Aceh.

Harapan ke Depan

Damai Aceh memang sudah 20 tahun berlangsung, tapi ingatan kelam tentang koflik Aceh masih melekat. Terutama bagi mereka yang pernah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan di masa itu. Tentunya kejadian lalu, jangan sampai terulang lagi pada anak cucu. Cukuplah mereka yang merasakan hidup dalam ketidaknyamanan.

Korban konflik pelanggara HAM berat seperti yang saya paparkan di awal tulisan, sudah barang tentu mendapatkan rekonsiliasi dan ganti rugi dari negara. Walaupun itu belum sepadan, tapi langkah baik pemerintah perlu kita apresiasi. Namun, tidak semua korban konflik Aceh terdata dengan baik, terlebih untuk kasus-kasus orang terdekat yang saya ceritakan di tulisan.

Harapan terbesar saya sebagai keluarga korban konflik Aceh, berharap ada pelayanan rehabilitasi mental dan kesehatan yang kompeten untuk masyarakat Aceh. Memang saat ini, masyarakat Aceh bisa berobat gratis ke pelayanan kesehatan. Namun, mutu pelayananannya masih jauh panggang dari api. Di tulisan ini saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar bagaimana mutu pelayanan kesehatan di Aceh. Cukup masyarakat kalangan bawah sajalah yang tahu karena mereka yang sering mengaksesnya.

Sedangkan para pejabat dan pengusaha yang punya uang, pasti memilih pelayanan kesehatan di negeri jiran ketika sakit. Menurut kacamata awam saya, kalaulah para petinggi daerah dan penguasa rupiah memilih pelayanan kesehatan yang ada di sini, dikarenakan memang kualitasnnya bagus, itulah yang diinginkan masyarakat korban konflik, mendapat pelayanan kesehatan yang sama tanpa membeda-bedakan kelas dan latar belakang. Semoga harapan itu kesampaian setelah 20 tahun Aceh DAMAI.[]

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Menulis Jurnalisme Warga yang diselenggarakan oleh Koalisi NGO HAM Aceh pada Juli 2025.

Artikel Lainnya Seperti Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru