Damai itu adalah kebebasan bergerak dalam menjalankan kehidupan yang normal.
Hari itu di tahun 2002, aku masih kelas VI SD. Suatu pagi, di halaman sekolah yang seluas lapangan bola kaki, para siswa dengan seragam merah putih asyik menikmati waktu senggang sebelum bel masuk kelas bunyi. Ada yang asyik main bola, main petak umpet, main lompat-lompat karet, ada juga yang asyik menjaga dagangan (jajanan), termasuk aku salah satunya. Hari-hari terakhir kami di sekolah karena tak lama lagi akan memasuki ujian akhir nasional.
Sudah menjadi patokan bagi kami para siswa, jika motor Honda Super Cub 80 yg ditunggangi oleh Guru Matematika sudah terparkir di halaman kantor guru, tak lama kemudian bel pasti bunyi.
Namun, pagi itu, sudah lewat dari waktu biasanya, tapi bel masuk kelas belum juga dibunyikan. Tentunya itu yang sangat diharapkan oleh hampir semua siswa, sampai kemudian terjadi sesuatu. Alih-alih suara bel, justru terdengar suara dentuman senjata yang memecahkan suasana.
Semua siswa lari ke kelas. Sedangkan aku, entah kenapa justru lari ke kantor guru, mungkin karena posisiku lebih dekat dengan kantor.
Tidak lama kemudian, salah seorang warga dari desa sekitar sekolah muncul dan menerobos ke kantor dewan guru. Dengan napas terengah-engah beliau mengatakan, bahwa salah seorang guru kami ditembak.
Suasana kantor langsung histeris. Guru-guru bergegas ke luar. Kepala Sekolah langsung bergegas dengan motornya. Beberapa guru lain menuju ke lokasi dengan berjalan kaki.
Aku, dengan keberanian yang datang entah dari mana, lari menuju ke lokasi kejadian yang jaraknya sekitar satu kilometer dari sekolah.
Untuk pertama kalinya aku melihat rakyat sipil menjadi korban akibat selisih paham antara TNI dengan GAM. Guruku terbaring di aspal bersimbah darah. Guru Matematika yang kami tunggu-tunggu.
Aku menangis sejadi-jadinya di dekat beliau. Semua orang yang hadir di sana menangis tanpa terkecuali. Untuk pertama kalinya Aku merasakan kehilangan sosok berarti dalam hari-hariku di sekolah. Guruku yang humoris itu sudah pergi untuk selama-lamanya.
Kelas Terakhir dengan Pak Guru
Sehari sebelum kejadian tersebut, beliau membuka kelas dengan main tebak-tebakan (teka-teki).
“Gajah mati meninggal apa?”
Salah satu temanku spontan menjawab, “Meninggalkan gading, Pak.“
“Benar!” pungkas beliau, “kalau harimau mati?” lanjutnya.
“Belang, Pak.” Serentak kami menjawab.
Kami mengetahui jawabannya karena ada di buku bacaan. Tidak berakhir di situ, Pak Guru melanjutkan.
“Nah, kalau manusia mati meninggalkan apa?”
“Meninggalkan baju, Pak”
“Bukan!”
“Rumah!”
“Bukan.”
Hampir semua barang rumah tangga kami sebutkan, tetapi masih saja bukan itu jawab guruku.
Sejenak kelas menjadi hening, menunggu jawaban dari sang guru. Lalu, dengan telunjuk diarahkan ke atas, sambil diturunkan perlahan, beliau menjawab, “Maanusiaa matiiiii meninggalkaan naaaaaaama …”
“Oooowh. Iya ya.”
Beliau langsung terkekeh girang karena kami kalah tebakan. Kami melanjutkan pelajaran setelahnya.
Guruku itu paling humoris.
Pelajaran utama yang beliau ajari adalah Matematika, juga kadang-kadang mengajarkan PPKN, Bahasa Indonesia, dan Mulok (Muatan Lokal).
Beliau sangat humoris dan penuh jenaka saat mengajar pelajaran Mulok. Namun, sangat disegani dan ditakuti okeh murid-murid yang sedikit bandel. Begitu tampak beliau dari kejauhan saja mereka langsung sembunyi, agar tidak ketahuan.
Saat melihatnya bersimbah darah, aku melihat beliau tidak lagi bergerak, tapi matanya masih terbuka belinangan air mata, dan tersenyum. Orang-orang di sekitar sangat histeris saat itu, tidak tahu harus melakukan apa.
Beberapa hari kemudian, kampung kami banyak didatangi tentara, setiap hari suasana begitu tegang karena hentakan serentak kaki para tentara atau guncangan mobil tank.
Seminggu kemudian, di malam hari, kampung kami dihebohkan dengan kejadian kebakaran gedung sekolah MIN yang jaraknya 300 meter dari rumahku. Beberapa sekolah di kemukiman tetangga juga mengalami nasib yang sama.
Totalnya ada empat bangunan sekolah/madrasah: MIN 1 Gapui, MTSs Gapui, SD Impres, hanya sekolahku yang tidak dibakar, yakni SDN 1 Gapui, mungkin karena letaknya dikelilingi hutan yang dominan bambu sehingga tak begitu tampak di malam hari. Sejak saat itu, aktivitas sekolah dihentikan.
Sekolah itu baru aktif kembali tahun 2003, saat aku sudah beranjak SMP. Sebenarnya, ada juga momen lain setelah aktivitas sekolah dihentikan sementara.
Teringat sekali sampai sekarang. Saat itu, kami yang kelas VI mau ujian akhir. Aku sering memperhatikan beberapa guru sekolah kami berkumpul di rumah salah satu guru, tepat di depan rumah orang tuaku. Ternyata, mereka melakukan sebuah rapat mengenai ujian kelulusan kami.
Mengemban Tugas Berat
Hingga suatu hari, aku dipanggil ke rumah guru tersebut, aku diminta menuliskan semua nama-nama teman sekelasku. Dan tugas yang paling berat adalah aku diminta untuk mendatangi setiap rumah teman-teman sekelas untuk membagikan lembar soal ujian.
Beberapa temanku yang rumahnya berdekatan denganku ternyata juga sudah pernah dipanggil ke rumah guru tersebut, tapi mereka semua menolak dengan alasan takut. Tidak ada yang memberitahuku tentang itu, bahkan guru pun.
Aku adalah orang terakhir yang dipanggil. Namun, karena keinginanku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya begitu tinggi, aku memutuskan untuk menerima “tugas” tersebut. Sampai-sampai orang tuaku memarahiku, tapi niatku sudah sangat bulat saat itu.
Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, jiwa beraniku memang sudah tumbuh sejak kecil.
Sekarang Aceh sudah dua puluh tahun damai. Dalam sepekan ini, menjelang peringatan dua dekade damai Aceh pada 15 Agustus 2025, terdapat pro-kontra terhadap larangan menaikkan bendera bulan bintang (bendera GAM) dalam peringatan hari damai Aceh. Padahal, yang menjadi momentumnya bukan di bendera.
Menurut pendapat saya, akan tetapi bagaimana masyarakat Aceh bisa bergerak dalam segala aspek, tanpa perasaan khawatir kalau-kalau akan diperiksa, akan dituduh, bahkan ditodong senjata. Damai itu adalah kebebasan bergerak dalam menjalankan kehidupan yang normal.
Semoga dengan damai Aceh dapat membuka kembali pola pikir seluruh masyarakat Aceh serta merasakan manfaatnya secara adil dan merata.
Khususnya bagi Generasi Z, kalian tidak harus merasakan kembali peristiwa yang pernah dirasakan oleh orang-orang terdahulu yang hidup dalam situasi konflik bersenjata. Namun, sejarah masyarakat Aceh yang pernah hidup dalam situasi demikian patut diketahui dan dikenang.
Penulis adalah warga Neulop II Gapui, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie

Terimakasih teman”
Khusus nya kak ihan Nurdin dan kak Dian Guci atas support sistemnya untuk aku.