Rumah Pengetahuan untuk Warga Samar Kilang

RUMAH Pengetahuan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) “Umah Uteun”. Begitulah nama yang tertera pada selembar pamflet berbahan mika yang menempel pada dinding rumah panggung seukuran 8×6 meter itu. Rumah itu terletak di Desa Gerpa, Kemukiman Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah. Jalan masuknya persis di sebelah lapangan yang ada di sisi jalan dua jalur di Desa Blang Panu.

Rumah ini secara resmi telah berfungsi sejak diresmikan pada minggu pertama bulan Juli 2025. Nama rumah itu diambil dari kosa kata bahasa Gayo yang berarti rumah ‘uteun‘ dan hutan ‘uteun‘. Secara harfiah, Umah Uteun berarti rumah hutan atau rumah untuk mengelola hasil hutan. Nama ini juga menjadi simbol atau identitas bagi warga Samar Kilang yang mayoritasnya beretnis Gayo.

Rumah pengetahuan ini dibangun oleh Katahati Institute yang didukung oleh Denver Zoo sebagai pusat aktivitas kelompok perempuan Samar Kilang dalam mengolah HHBK, khususnya aren (Arenga pinnata) dan janeng (Dioscorea hispida dennst) yang melimpah di daerah tersebut. Adapun Katahati Institute adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang sejak lima tahun terakhir hadir di Samar Kilang untuk melakukan program-program pemberdayaan.

Hari itu, Rabu, 16 Juli 2025, belasan perempuan berkumpul di kolong Rumah Pengetahuan Umah Uteun. Selembar tikar plastik dibentangkan dan menjadi alas untukmereka duduk. Tiap-tiap orang punya kesibukan masing-masing. Ada yang sedang mengayak gula merah bubuk, ada yang sedang mengukur kelapa dengan geulungku (alat kukur tradisional)—untuk kemudian dicampur dengan tiwul janeng, ada juga yang sedang merebus nira di dapur. Begitulah kesibukan mereka sehari-hari jika sedang ada kegiatan produksi. Sisanya ada yang duduk-duduk saja sambil bercengkerama satu sama lain. Sembari menunggu tiwul janeng siap disantap.

Belasan perempuan itu adalah anggota kelompok binaan Katahati Institute yang hampir dua tahun terakhir mulai serius mengolah aren dan janeng. Mereka terbagi menjadi dua grup, yaitu grup Markilang yang mengolah janeng dan grup Samaren yang mengolah aren. Para ibu ‘ine‘ tersebut berasal dari berbagai desa yang ada di Samar Kilang.

Samar Kilang bisa jadi nama yang familier di telinga banyak orang. Namun, saat ditanya di mana letaknya, kemungkinan mereka akan bingung menjawabnya.

Saking terisolasinya kawasan ini, tak banyak orang yang secara sengaja (mau) datang ke Samar Kilang. Selain, sarana transportasi ke sana juga sangat terbatas. Orang-orang yang datang ke sana, bisa dipastikan mereka yang memiliki agenda khusus, seperti halnya tim Katahati.

Rumah Pengetahuan HHBK Umah Uteun yang multifungsi.

Samar Kilang adalah nama salah satu dari dua kemukiman yang ada di Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah. Kecamatan ini terletak di wilayah utara dan berbatasan langsung dengan Aceh Utara dan Aceh Timur. Samar Kilang sendiri adalah ibu kota Kecamatan Syiah Utama. Meskipun kecamatan ini berada di Bener Meriah, nyatanya suhu di sini sama seperti suhu pesisir karena secara geografis berada di lembah.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Bener Meriah mencatat Syiah Utama sebagai kecamatan terluas di kabupaten itu. Mencapai 814,63 km atau 41,95 persen dari total wilayah Bener Meriah yang mencakup 1.941,61 km. Bener Meriah sendiri merupakan hasil pemekaran wilayah dari Kabupaten Aceh Tengah dan resmi menjadi kabupaten pada 7 Januari 2004.

Syiah Utama juga dicatat sebagai kecamatan dengan penduduk paling sedikit, hanya 1,42 persen dari keseluruhan penduduk Bener Meriah yang tersebar di sepuluh kecamatan. Jumlah DPT di kecamatan ini tak sampai dua ribu orang.

Secara definitif, Syiah Utama hanya punya 14 desa. Tujuh di antaranya terdapat di Kemukiman Samar Kilang, yaitu: Gerpa, Goneng, Geruti Jaya, Kerlang, Tempen Baru, Pasir Putih, dan Uning. Di sepanjang perjalanan menuju ke Samar Kilang lebih banyak kawasan hutan ketimbang permukiman penduduknya. Kantor kecamatan terdapat di Kerlang, sedangkan Mapolsek dan Makoramilnya terdapat di Kemukiman Pantan Senie.

DAS Krueng Jambo Aye memiliki peranan penting bagi warga Samar Kilang. Para ayah atau ama menjadikan sungai ini sebagai tempat menjala ikan jurung, sedangkan para ine menjadikannya sebagai tempat untuk mengolah janeng.

Syiah Utama juga termasuk kecamatan paling terisolasi di Bener Meriah. Selama berpuluh tahun warga Samar Kilang lebih senang “turun” ke Aceh Utara melalui jalur sungai untuk berbelanja kebutuhan pokok, ketimbang “naik” ke Pondok Baru karena tidak adanya akses jalan darat yang memadai. Menyusuri sungai dengan rakit bambu dinilai lebih memungkinkan untuk dilakukan, meski sangat berisiko, ketimbang pergi ke Pondok Baru dengan berjalan kaki yang harus melewati hutan belantara yang juga berisiko bertemu hewan buas.  Namun, sesekali mereka tetap melalui jalan darat jika kondisinya terdesak.

“Saat pertama kali Katahati hadir di Samar Kilang pada tahun 2020, jalan lintas kecamatan yang menghubungkan Samar Kilang dengan ibu kota kabupaten belum beraspal. Jalanan berlumpur, rawan longsor, dan di beberapa titik kendaraan terpaksa harus didorong baru bisa lewat,” kata Direktur Katahati Institute, Raihal Fajri, Kamis, 17 Juli 2025.

Warga Samar Kilang baru menikmati jalan beraspal sejak tahun 2022 lalu. Setelah jalan “jaring laba-laba” yang menghubungkan Samar Kilang–Pondok Baru dan dibangun oleh Pemerintah Aceh melalui proyek tahun jamak sejak 2018 rampung dibangun. Saat ini, jalan tersebut menjadi satu-satunya akses jalan darat yang menghubungkan Samar Kilang dengan ibu kota kabupaten di Redelong.

Jaraknya hampir 70 kilometer dengan waktu tempuh lebih dari dua jam. Tak hanya terkurung karena tak ada jalan, selama ini warga Samar Kilang juga “terputus” akses dengan dunia luar karena tak ada jaringan telepon seluler. Sinyal Telkomsel baru masuk ke sana pada tahun 2019. Jika listrik padam, sinyal pun tenggelam. Kabar buruknya, listrik padam bisa berjam-jam lamanya.

Katahati Hadir untuk Membuka Akses

Para ibu atau ine sedang melihat konten kreatif di media sosial sebagai sumber inspirasi mempromosikan produk mereka.

Menurut Raihal, Samar Kilang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi ekowisata. Termasuk di dalamnya potensi HHBK.

Berdasarkan identifikasi yang dilakukan Katahati, beberapa HHBK potensial di Samar Kilang ada rotan, janeng, aren, durian, dan jernang. Hanya saja terbatas oleh prasarana dan sarana.

Selain itu, kecamatan ini juga menjadi satu-satunya kecamatan di Bener Meriah yang secara administratif masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser yang menjadi rumah bagi aneka satwa kunci, seperti harimau sumatra, gajah sumatra, orangutan sumatra, dan badak sumatra. Sebagian hutannya masih alami dengan beraneka flora fauna, seperti aneka burung dan tumbuh-tumbuhan.

DAS Jambo Ayee yang memiliki luas hingga 4.640 kilometer mengalir melewati Samar Kilang dan bermuara ke Selat Malaka di pesisir utara-timur Aceh. Sungai ini menjadi tempat beranak-pinak ikan jurung (keureuling) yang menjadi andalan warga Samar Kilang untuk memenuhi asupan protein hewani mereka. Sungai inilah yang disusuri oleh warga Samar Kilang yang ingin pergi ke Lhoksukon, Aceh Utara. Di kawasan ini juga terdapat makam ulama bernama Bener Meriah—yang namanya dilakabkan sebagai nama kabupaten.

Berbagai potensi itulah yang membuat Katahati hadir dan bersama warga setempat serius mengolah HHBK-nya. Sebagai bentuk keseriusan dan keberlanjutan, Katahati pun membangun Rumah Pengetahuan sebagai pusat aktivitas dan belajar bersama. Di tempat itu, tamu-tamu yang datang ke Samar Kilang bisa belajar langsung tentang berbagai pengetahuan lokal yang masih dipertahankan di Samar Kilang.

Misalnya, pengetahuan tentang obat-obatan herbal, tentang pengolahan janeng, termasuk cerita-cerita totemisme yang menjadi simbol interaksi manusia dan alam yang masih terjaga dengan baik.

Di sisi lain, tamu-tamu yang datang ke sana juga bisa bertukar pengalaman dan pengetahuan kepada warga lokal.

Mak Jamur memperkenalkan salah satu sumber pangan lokal, rimbang atau terung pipit (Solanaceae) kepada Tamtam–konten kreator asal Jakarta yang berkunjung ke Samar bersama tim Katahati.

Katahati sendiri bukan asal masuk ke sana. Jauh sebelum fokus pada pengelolaan janeng dan aren di Samar Kilang, Katahati melakukan riset mendalam.

“Tujuan utama kami adalah mempromosikan kegiatan-kegiatan pelestarian alam dan hutan yang ada di sini. Di sisi lain, kami juga perlu mendorong masyarakatnya agar mandiri secara ekonomi sehingga tak lagi bergantung pada hasil hutan kayu. Kalau masyarakat punya alternatif sumber penghasilan, mereka tentu tidak hanya semata-mata tertuju pada hutan,” kata Raihal.

Berawal dari situlah kata Raihal, pihaknya kemudian membuat analisis SWOT. Dimulai dengan mendata pihak-pihak mana saja yang sudah lebih dulu hadir ke Samar Kilang dan apa program utama mereka. Analisis ini penting agar tidak terjadi tumpang tindih program. Selain itu, antarpihak juga bisa saling mendukung dan bersinergi. Saat ini misalnya, Katahati juga bersinergi dengan Forum Konservasi Leuser (FKL) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) III yang telah membangun Stasiun Riset Samar Kilang sebagai stasiun penelitian di timur KEL.

“Setelah tahu apa potensinya, apa tantangannya, barulah kami susun program dan intervensinya bagaimana. Alhamdulillah, sambutan dari masyarakat sangat baik. Untuk tahap awal fokus kita pada aren dan janeng, dan memanfaatkan DAS Krueng Jambo Aye untuk lokasi bamboo rafting,” kata Raihal lagi.

Sebenarnya, kata Raihal, warga setempat menyadari banyak potensi HHBK yang bisa mendatangkan nilai ekonomis. Mereka punya pengetahuan dasar untuk mengolah janeng dan aren. Hanya saja, warga tidak punya akses pada pasar. Infrastuktur jalan dan sarana transportasi yang tidak memadai juga berdampak pada tersendatnya distribusi hasil pertanian atau perkebunan warga. Hal itu juga diakui oleh salah satu anggota Kelompok Samaren.

“Selama ini kami juga sudah membuat gula aren, tapi untuk kami makan sendiri,” katanya.

Begitu juga dengan janeng, meski tak dikatakan secara gamblang, warga Samar sendiri sudah “bosan” mengonsumsi janeng. Umbi janeng hanya dikonsumsi sebagai makanan selingan atau alternatif ketika gagal panen atau musim paceklik. Setelah Katahati hadir, janeng-janeng Samar Kilang sudah diolah menjadi aneka produk turunan, seperti tepung, tiwul, kerupuk, dan keripik. Pelanggannya pun mulai beragam dan tersebar dari berbagai kota. Begitu juga dengan gula aren yang tersedia dalam bentuk cair, bubuk, dan padat.

General Manager Katahati, Andra Masyhuri, menuturkan, Katahati lebih banyak berperan dalam peningkatan SDM sehingga produk yang dihasilkan bisa lebih berkualitas. Kualitas produk sangat penting jika ingin menembus konsumen luar. Diversifikasi produk juga penting agar serapan pasar semakin luas.

“Kami juga mendatangkan mentor untuk melatih cara mengemas produk yang baik dan higienis, pelan-pelan kami sisipkan tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan. Kami menjadikan masyarakat sebagai mitra, jadi semua proses yang selama ini telah dijalankan dilakukan dengan prinsip kebersamaan dan kesetaraan,” kata Andra.

Tak hanya itu, Katahati juga berperan dalam membuka akses pasar yang lebih luas. Misalnya, dengan memperkenalkan produk-produk tersebut ke berbagai pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional. Di antara anggota kelompok juga ada yang diikutsertakan dalam pameran sehingga mereka bisa melihat langsung potensi produk mereka. Hal itu menambah semangat dan motivasi mereka untuk lebih produktif.

Anggota Kelompok Markilang, Mak Jamur, turut menceritakan pengalamannya saat menghadiri pameran di Provinsi Bali. Ia tak mengira produk janeng yang diolah oleh tangan-tangan terampil di pedalaman Gayo ternyata mendapat sambutan hangat dari konsumen luar.

“Nyesal kita bawa produknya sedikit, ya,” kata Rauyah atau Mak Jamur kepada Andra.

Selain membangun Rumah Pengetahuan, Katahati sudah lebih dulu membentuk Koperasi Multipihak Perempuan Gayo Sejahtera sebagai badan usaha. Koperasi ini menaungi tiga kelompok usaha, yaitu Markilang dan Samaren di Bener Meriah, plus Keriga di Aceh Tengah.

Koperasi ini menjadi penting sebagai wadah bagi kelompok agar bisa terus berkembang. Selain, untuk memudahkan pemasaran produk.

Mitos Janeng: Umbi yang Berasal dari Nasi

Ama Tris memperlihatkan umbi janeng yang tumbuh di kebunnya di pinggir DAS Krueng Jambo Aye. Sebagai warga lokal yang pernah menjadi kepala desa dan kini sebagai Mukim, Ama Tris memiliki pengetahuan yang banyak mengenai nilai-nilai kearifan lokal di Samar Kilang.

Janeng (Dioscorea hispida dennst) atau yang sering disebut juga sebagai umbi hutan atau gadung hutan, adalah tanaman yang pohonnya menjalar. Tanaman ini memiliki kandungan karbohidrat seperti halnya beras yang diolah menjadi nasi dan bersifat mengenyangkan. Masyarakat Samar Kilang punya mitos tersendiri mengenai janeng.

Menurut penjelasan Mukim Samar Kilang, Ama Tris, konon janeng berasal dari setumpuk nasi yang ditaruh di dekat pohon.

Nasi itu pun tumbuh menjadi pohon janeng dan umbinya dapat dimakan sebagai pengganti nasi.

Hanya saja, janeng mengandung zat sianida yang beracun sehingga tak bisa dikonsumsi langsung sebelum dibuang racunnya.

Mengolah janeng pun membutuhkan keterampilan khususnya. Setidaknya membutuhkan proses hingga satu minggu untuk menetralisir zat racun dalam umbi janeng.

Penampakan umbi dan batang jaeng. Daunnya mirip daun kacang-kacangan. Batangnya berduri.

Menurut Mak Jamur, setelah umbi dikupas, perlu digarami dulu, kemudian diberi abu dan diperam selama tiga hari. Setelah itu direndam selama tiga malam di sungai atau pada air yang mengalir. Barulah setelah itu janeng bisa diolah dan aman dikonsumsi.

Sedangkan menurut Ama Tris, tidak semua umbi janeng beracun. Dalam satu batang pohon, hanya satu umbi yang beracun.

“Biasanya umbi-umbi yang seperti ini,” kata Ama Tris menunjukkan umbi yang paling atas dan gemuk dari beberapa umbi dalam satu batang pohon.

Hanya saja kata dia, tak semua orang punya keahlian atau kemampuan untuk mendeteksi umbi yang beracun itu. “Jadi, untuk lebih amannya, ya, kita proses semuanya,” kata pria bernama asli Muhammd Syam (57) itu.

Janeng sendiri kata Ama Tris ada dua macam: janeng pulut yang berwarna kuning dan janeng beras yang berwarna putih. Tumbuhan ini sangat melimpah dan tumbuh subur di hutan-hutan di Samar Kilang.

Produk yang sudah dikemas dengan bagus dan siap dipasarkan.

Penawar dari racun janeng sendiri ada pada daunnya. Biasanya penawar ini diberikan pada orang yang mabuk janeng untuk level parah.

“Kalau mabuk biasa-biasa aja cukup diminumkan air cucian beras atau air tebu sampai muntah, tapi kalau sudah parah, bisa kita gunakan penawar dari daun janeng itu sendiri. Kita ambil daun janeng yang sudah tua atau kering, lalu dilinting dan dibakar ujungnya, kemudian diisap seperti kita isap rokok daun,” kata mantan kepala Desa Kerlang itu.

Berbagai pengetahuan yang meluncur dari mulut Mak Jamur atau Ama Tris di Rumah Pengetahuan itu, sejatinya adalah pengetahuan yang bersumber dari tradisi lisan. Pengetahuan yang membuat eksistensi mereka ada hingga saat ini. Diwarisi dari leluhur mereka secara turun-temurun. Nilai dan semangat yang menjadi social capital atau aset untuk mencapai tujuan bersama. Kehadiran Katahati tentulah sebagai lokomotif.[] Bersambung.

Artikel Lainnya Seperti Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru