Oleh Yessi*
Rabu, 21 Januari 2026
Pukul 09.30 pagi itu, saya dan kawan-kawan bersiap pergi ke Blang Seunong. Blang Seunong, desa yang berada di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, adalah salah satu desa yang terdampak paling parah akibat banjir bandang pada 26 November 2025 lalu. Mengingat medan yang akan kami datangi tidak mudah, sebelum pergi kami memastikan dahulu kondisi sepeda motor kami. Dan benar saja. Beberapa titik jalan yang kami lalui masih digenangi air, lumpur lengket, dan jalanan yang kanan kirinya longsor. Dari kejauhan kita bisa melihat hutan gundul di sana sini, dan, ironisnya, pokok-pokok kelapa sawit yang berbaris rapi, nyaris tidak terdampak bencana.
Kami bergerak dari Desa Akoja, Alue Ie Mirah, dan setelah menempuh dua jam perjalanan, kami sampai di Blang Seunong. Memasuki desa, kami disambut pemandangan yang membuat kelopak mata tiba-tiba menghangat. Titik-titik air berdesakan, seolah berlomba ingin keluar.
Di sisi kiri jalan ada barisan sepeda motor terparkir rapi. Pemiliknya memilih berjalan kaki, karena di depan sana sedang ada mobil yang mengeruk lumpur sisa banjir. Saya lihat di kiri jalan ada tenda-tenda penuh anak-anak. Rupanya mereka siswa sekolah yang berlokasi tepat di seberangnya. Anak-anak ini terpaksa belajar di tenda karena bangunan sekolah mereka rusak parah. Tidak ada lagi suasana riang khas sekolah seperti yang biasanya dulu terlihat. Seluruh situs sekolah dipenuhi lumpur yang mulai memadat, lumpur yang terhampar seluas mata memandang.
Kami bertemu dengan Pj. Kepala Sekolah, Nurzaitun, S.Pd. Menurut Bu Nurzaitun, kegiatan belajar mengajar (KBM) baru dilakukan dua hari, mengingat kondisi yang tidak memungkinkan. Anak-anak belajar dengan baju dan peralatan belajar seadanya. Tapi mereka tetap terlihat sangat antusias belajar.
Sambil menunggu pengerukan lumpur, kami mampir di kedai salah seorang warga. Nek Gu, begitu dia biasa dipanggil. Ia menceritakan bahwa seumur hidupnya belum pernah ia mengalami musibah banjir seperti ini. Banjir memang bukan hal baru di desa itu, tetapi kali ini dampaknya luar biasa parah. Kedainya hancur, seluruh barang dagangan rusak. Bangunan rumahnya bahkan sampai terangkat dan bergeser ke tempat lain.

Kondisi Kantor Keuchik Blang Seunong. Foto: Yessi
Kerugian material sudah pasti sangat besar. Kedai Nek Gu merupakan kedai terbesar, sekaligus satu-satunya kedai terlengkap di desanya. Beberapa hari sebelum banjir Nek Gu baru saja berbelanja stok barang dalam jumlah besar, mengingat pada masa lalu, setiap kali banjir naik, akses warga untuk keluar sangat sulit. Maka dipastikan warga akan berbelanja di kedainya. Walau mengalami kerugian besar, Nek Gu masih bersyukur karena semua orang selamat, tidak ada korban jiwa dalam bencana banjir ini.
Perjalanan kami lanjutkan. Kami dijemput oleh kawan kami, Pak Abdul Halim. Di sepanjang jalan cuaca cerah, bagus, kontras dengan pemandangan yang kami lihat. Rumah-rumah rusak parah, tidak lagi bisa ditinggali. Tenda-tenda berdiri di samping, depan, atau tepat di tengah di tapak rumah. Sementara bangunan rumahnya sendiri sudah hilang, hanyut terbawa arus banjir. Jejak banjir terlihat di tembok-tembok bangunan yang masih ada, di pohon-pohon kelapa, juga pada pokok pohon-pohon yang kering dan mati tercekik banjir.
Dari keterangan warga di sana, ketinggian banjir mencapai kabel listrik, atau sekitar enam meter. Banjir ini bukan sekedar air seperti dulu, tapi juga membawa lumpur dan gelondongan kayu-kayu besar yang menghancurkan rumah dan kebun warga.
Kami berjalan bersama iring-iringan mobil rombongan relawan dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Mereka membawa bungkusan paket-paket sembako, juga mengadakan pemeriksaan serta pengobatan gratis dari rumah ke rumah, didampingi oleh kepala dusun.
Desa Blang Seunong memiliki lima dusun. Ada tiga dusun terdampak banjir paling parah, yaitu Dusun Blang Seunong, Dusun Peulalu, dan Dusun Parek. Sementara dua dusun lainnya yang terletak di perbukitan, aman dari banjir.
Aktivitas ekonomi pascabencana belum normal sepenuhnya, tetapi pelan-pelan warga sudah mulai berangkat kembali ke kebun. Kedai-kedai juga sudah mulai buka. Kita sudah bisa memesan kopi dan gorengan hangat di sana.
Aktivitas warga hampir kembali normal sejak 2 atau 3 hari belakangan (mulai sekitar tanggal 18 Januari), ketika lumpur di jalan mulai dibersihkan. Sebelum itu mereka bertahan di tenda-tenda pengungsian dalam kondisi seadanya. Warga seolah terjebak, tak bisa ke mana-mana. Bahkan untuk menengok rumah masing-masing pun, butuh berjalan kaki enam jam pergi pulang, untuk jarak yang dalam kondisi normal dapat ditempuh dalam waktu 7-10 menit. Hal ini disebabkan lumpur yang masih sangat tebal. Hingga beberapa lama setelah air surut, belum ada alat berat masuk desa untuk membantu mengeruk lapisan lumpur. Sebelumnya warga sempat membuat permohonan, ditandatangani seluruh warga, meminta pinjaman alat berat kepada perusahaan (Medco, red) dan pemerintah setempat agar lumpur dapat dibersihkan secara maksimal.
Warga yang kami jumpai mengatakan bahwa minimnya perhatian dari pemerintah membuat proses pemulihan berjalan lambat. Dari pembicaraan bersama warga kami mendapati bahwa ternyata sedari dulu, atas prakarsa mandiri, warga membuat jalo (sampan kecil) yang disimpan di rumah masing-masing, agar jika sewaktu-waktu banjir mereka dapat segera evakuasi diri.
Tidak semua warga memiliki sampan. Tetapi mereka mengatur bahwa setidaknya dalam setiap 4 rumah yang berdekatan, akan ada satu rumah yang memiliki sampan. Selain kehadiran speedboat dari pemerintah yang dihibahkan di tahun 2023, inisiatif mitigasi inilah yang membuat warga dapat diselamatkan tepat waktu tanpa harus menimbulkan korban jiwa.
Bersama Pak Abdul Halim dan istrinya, Ibu Masyitah, guru di SDN Blang Seunong, kami berkeliling desa. Tampak bangunan kantor keuchik yang rusak berat. Juga SMPN 5 Pante Bidari, SMAN 2 Pante Bidari, masjid, menasah, dan balai pengajian, semuanya masih terkubur lumpur. Warga bersama TNI sempat membersihkan sebagian lumpur yang ada. Namun karena keterbatasan alat kerja, pembersihan maksimal tidak dapat dilakukan. Sebagai akibatnya bangunan-bangunan itu tetap belum bisa digunakan.
“Ramadan sudah dekat. Di mana salat Tarawih dan kegiatan ibadah lainnya akan diselenggarakan nanti?” tanya kami.
“Kami akan bergotong royong membersihkan masjid. Sementara itu, dalam bulan suci Ramadan ini kami akan menghidupkan kembali kegiatan ibadah di bawah tenda,” sahut warga.
Menurut rencana, tenda-tenda untuk ibadah ini akan ditegakkan di halaman masjid. Rencananya kerangkanya dibuat dari baja ringan yang diperoleh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sementara atapnya adalah lembaran plastik lebar yang kemudian dilapisi lagi dengan terpal plastik yang lebih tebal.
“Tetapi kami masih belum tahu dari mana atau bagaimana kami bisa memperoleh tikar, sajadah, pelantang, dan lampu penerangan yang diperlukan untuk menunjang kegiatan salat Tarawih, maupun perlengkapan salat lainnya,” mereka menyambung.

Tenda sekolah darurat di Desa Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur. Foto: Yessi
Kami juga mengunjungi sekolah darurat yang didirikan di bawah tenda. Puluhan siswa-siswi usia sekolah dasar duduk di atas tikar plastik, khusyuk mendengarkan sang guru yang berdiri di depan. Semangat dan optimisme mereka untuk tetap menimba ilmu di tengah situasi darurat pascabencana ini membuat mata spontan basah.
Cukup jelas bahwa inisiatif, juga optimisme masyarakat, untuk pulih dan bangkit dari kondisi pascabencana banjir ini sangat kuat. Namun, itu tidak berarti bahwa mereka tidak memerlukan bantuan. Magnitudo bencana galodo November 2025 terlalu besar bagi rakyat untuk dapat mengatasinya secara mandiri. Mereka membutuhkan bantuan sekecil apa pun agar pemulihan ini berjalan dengan tepat dan tuntas sehingga warga bisa mulai menata kembali kehidupan mereka. Ini bukan bicara tentang siapa yang sudah membantu dan siapa yang belum, melainkan tentang kerja sama dan empati.
Kehadiran negara tidak ditandai dengan kunjungan para pejabat. Rakyat menantikan tindakan nyata. Tindakan cepat tanggap yang didampingi kebijakan struktural, langsung menyasar pada ketersediaan kebutuhan dasar manusia, tanggapan atas situasi darurat yang tengah dihadapi, itulah yang diperlukan.
Jalo, yang dengan kesadaran penuh disediakan penduduk di rumah masing-masing sebagai antisipasi banjir, seharusnya menjadi inspirasi mitigasi bencana di kemudian hari. Aceh telah memiliki Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB), yang dibentuk pada tahun 2017 silam. Sesuai dengan visi Forum PRB Aceh yaitu “menjadi organisasi yang permanen dalam hal memberikan pemahaman terhadap bencana di kalangan masyarakat Aceh”, maka Aceh tentunya telah memiliki konsep dan mekanisme mitigasi kebencanaan yang mumpuni. Tanpa melupakan SOP mitigasi bencana internasional seperti misalnya pengadaan “ransel darurat bencana” bagi setiap anggota keluarga, kearifan lokal seperti penyediaan jalo sebagai moda evakuasi, atau konsep ketahanan pangan “peger ni keben” dalam masyarakat Gayo, yang dapat menjadi cadangan pangan masa bencana, selayaknya dimasukkan ke dalam rencana mitigasi kebencanaan khas Aceh.
Jam telah menunjukkan pukul 14.25 ketika kami bergegas pulang. Kami berjalan perlahan di atas lapisan lumpur yang memadat. Tidak bisa terlalu gegas, risiko terpeleset selalu ada.
Langit mulai gelap oleh mendung. Jika hujan turun, besar kemungkinan kami akan terjebak, tak dapat pulang. Karena tanah lumpur yang dikerok dari badan jalan hanya ditumpukkan di tepi, sehingga bila hujan turun cukup deras maka tumpukan itu akan meleleh, kembali menggenangi jalan.
Dalam perjalanan pulang kami melewati Desa Pante Labu, Alue Ie Mirah. Pemandangan yang terhampar di sepanjang jalan nyaris sama: lumpur di mana-mana. Mengerak hingga ke batas sawang. Sedikit nyala harapan terbersit dari huntara (hunian sementara) Pante Rambung, Kecamatan Pante Bidari, yang telah dibangun oleh Pemerintah.
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al Farlaky, memulai peletakan batu pertama pembangunan huntara di Kecamatan Idi Rayeuk pada 9 Januari 2025. Rencananya huntara akan dibangun di Simpang Jernih, Serba Jadi, Idi Rayeuk, Peureulak, Julok Madat, dan Pantee Bidari. Untuk Kecamatan Pante Bidari sendiri, direncanakan akan dibangun 87 unit huntara.
Huntara dibangun dengan dua pendekatan, yakni secara in-situ (di lokasi semula) dan melalui relokasi, disesuaikan dengan tingkat kerusakan dan kondisi wilayah terdampak. Secara fungsi, huntara dibangun sebagai hunian darurat sementara proses pembangunan huntap (hunian tetap) berlangsung. Pembangunan huntap pun akan difasilitasi oleh Pemerintah Aceh Timur dengan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat.
Pantauan kami, huntara yang telah dibangun memiliki dua desain. Yang satu berupa rangkaian rumah kopel dengan lingkungan yang ditata, lainnya berupa rumah-rumah mandiri yang dipisahkan satu sama lain dengan grid (gang). Sambil kembali mengendarai motor, menyusuri jalan pulang, kami diam-diam mengucapkan doa. Semoga kondisi segera membaik, dan semoga rakyat terdampak bencana akan segera memperoleh kembali kedamaian dari hidup yang normal. Itulah harapan kami. Harapan kita semua.[]
Penulis adalah warga Desa Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur
