Anak Saya Direnggut Konflik, Cucu Saya Direnggut Tsunami

Luka masa konflik jangan terulang lagi. Rawatlah lewat kesejahteraan masyarakatnya.
_Meridum | 80+_

Saya Meridum. Saya lahir pada masa Jepang hengkang dari Indonesia pada tahun 1945, di Nagan Raya.

Tidak ada tanggal pasti mengenai hari kelahiran saya. Kata orang tua saya, saya lahir ketika Jepang “plueng” (lari) dari Aceh. Dan ketika itu awal kemerdekaan sangat menyedihkan karena jangankan pakaian, makanan pun masih sangat sulit untuk diperoleh.

Ketika saya beranjak remaja hingga menikah, saya merasakan juga konflik Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Aceh yang terjadi pada tahun 1953 dan berakhir pada tahun 1962. Ketika itu banyak kerusuhan terjadi dan banyak juga yang meregang nyawa.

Yang paling menyayat hati juga yaitu konflik bersenjata antara GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia.

Selaku orang awam yang tinggal di kampung bagian pante di Aceh Barat, sangat dekat hutan dan harus menyebrangi sungai. Setiap hari suara tembak terdengar. Tak jarang saya harus mengungsi ke sana kemari karena takut anggota baju loreng atau orang GAM datang ke kampung.

Masa itu, tahun-tahun genting kami hadapi dengan penuh air mata. Kami punya kedai usaha kelontong tapi tak bisa memutar modal dan sering merugi.

Kadang mereka yang mengaku GAM atau baju loreng tak jarang mengancam keluarga agar dibebaskan untuk masuk ke kedai dan mengambil barang sesukanya.

Kejadian yang tak bisa saya lupakan seumur hidup saya yaitu pada tahun 2003, ketika saya berdoa dan berharap keluarga saya tetap utuh, termasuk anak- anak saya.

Saya hanya mempunyai satu anak laki-laki yang hidup sampai dewasa dan berkeluarga di Aceh Jaya dan tinggal di sana. Saya tinggal dengan anak perempuan saya dan membantunya berjualan di keude.

Anak laki laki saya bekerja sebagai penjual kayu tiang rumah. Ia juga teungku yang belajar di Dayah Tanoh Ano, dan bergaul dengan siapa pun termasuk orang GAM yang sering masuk ke hutan.

Ternyata, ia dicurigai oleh pihak baju loreng. Sebenarmya orang baju loreng juga sering berjumpa dan bertegur sapa dengannya. Tapi ada satu komandan yang mencuriagai anak saya sebagai pihak GAM.

Suatu hari, anak saya sedang berwudu di sumur belakang rumahnya yang terbuka. Hanya ada bilik mandi yang terbuat dari kayu. Namun, mengambil air harus dengan timba.

Magrib itu, ia sedang membasuh wajahnya sambil membungkuk. Tiba-tiba … dooorrr! Suara tembak berbunyi keras mengenai pelipisnya.

Lalu ada utusan yang datang dari Aceh Jaya menemui saya. Dia mengatakan, “Aneuk Mak teungoh peureule keu Mak, yak tajak laju.”

Katanya anak saya sedang membutuhkan saya, dia mengajak saya bergegas.

Hati dan perasaan saya langsung tidak enak. Saya meurateb (berzikir) di sepanjang perjalanan. Tanpa saya sadari, saya sudah merasakan sesuatu yang menyakitkan tentang anak saya, walaupun tidak dikatakan anak saya ka habeh umu atau sudah berpulang kepada Ilahi.

Jarak terasa jauh karena dari tempat saya tinggal di Pante Cermen harus menyebrangi sungai dengan rakit. Lalu naik mobil dari kampung ke kota. Mencari mobil sewa de kota Melaboh untuk sampai ke Teunom.

Sesampai saya ke rumahnya, saya melihat anak saya terbujur kaku pucat tak bernyawa. Betapa hancurnya hati saya ketika itu.

Apa pun itu, dan siapa pun itu penembaknya, saya tidak mau mencari tahu karena anak saya telah hilang nyawanya.

Dan konflik itu sangat menyakiti hati saya. Hidup dalam ketakutan dan masih trauma dengan kejadiannya.

Kehilangan saya rupanya tak berhenti sampai di situ. Ketika tsunami terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004, cucu saya–dari anak perempuan sulung saya–yang tinggal di Banda Aceh juga hilang tak diketahui jasadnya.

Setelah itu baru terjadi perdamaian dan tidak terdengar suara tembak atau kericuhan konflik.

Saya sudah mengalami kesulitan, kesedihan, dan sakit selama konflik. Saat ini ketika sudah damai, harapan saya, rawatlah dan sejahterakan rakyat, berikan pendidikan untuk anak-anak saat ini. Sejahterakan masyarakatnya dari semua sisi baik ekonomi dan sosialnya.[]

Teks dan foto dikirim oleh Sarah

Perempuan Peduli Leuser
Perempuan Peduli Leuserhttps://perempuanleuser.com
Perempuan Peduli Leuser (PPL) merupakan komunitas yang mewadahi perempuan untuk saling bertukar pikiran dan bersinergi dalam mengampanyekan isu-isu lingkungan.

Artikel Lainnya Seperti Ini

1 KOMENTAR

  1. Saya sebagai pendengar cerita dari nenek saya. Saya ikut merasakan masa-masa sulit itu walau belum memahami. Di usia 2 dan 3 tahun saya teringat di gendong untuk mengungsi dari rumah. Saya juga melihat baju ayahwa saya berlumuran darah yaitu abang dari ibu saya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru