Perjalanan Mendebarkan Pulang ke Kampung Halaman di Gayo Lues via Aceh Tengah

“Kita berangkat jalur darat saja, ya, enggak berani jalur udara, cuaca di Banda Aceh sedang hujan,” ujar teman sekantor yang bersamanya aku akan melakukan perjalanan dinas dari Kota Banda Aceh menuju Kabupaten Gayo Lues. Kampung halamanku. Kabupaten yang terletak di jalur Bukit Barisan dan karenanya dijuluki Negeri Seribu Bukit.

Setelah memesan tiket di salah satu travel rute Banda Aceh-Blangkejeren, aku pun mempersiapkan segala keperluan untuk melaksanakan perjalanan tersebut.

Awalnya, aku berpikir kami akan berangkat menuju Gayo Lues melalui jalur Aceh Barat Daya melewati Kecamatan Terangun. Pascabanjir bandang terjadi, jalur Terangun itu adalah satu-satunya akses yang bisa dilewati dari dan menuju ke Gayo Lues.

Setelah dijemput oleh sopir travel, barulah kami tahu kalau jalur yang akan ditempuh ternyata via Aceh Tengah. Ini jalur umum yang biasanya ditempuh menuju Gayo Lues sebelum banjir bandang menerjang. Langsung terbayang olehku jalan yang masih rusak dan sangat ekstrem untuk dilalui via Aceh Tengah. Sebelumnya aku juga baru pulang ke kampung, tapi melalui jalur Aceh Barat Daya di pantai barat selatan Aceh.

Namun, sopir tersebut meyakinkan kami bahwa jalur Banda Aceh–Aceh Tengah–Gayo Lues sudah aman. Ada dua jalur yang biasanya dilewati melalui Aceh Tengah, yaitu jalur Kecamatan Bintang yang melewati tepi Danau Lut Tawar dan jalur Isaq di Kecamatan Linge. Kali ini kami akan melewati jalur Isaq. Lebih aman, begitu kata sopirnya. Bismillah. Maka berangkatlah kami pada Jumat malam, 20 Februari 2026 bersama para penumpang lainnya.

Kami tak banyak protes, dan langsung melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan, sang sopir juga banyak bercerita tentang bencana alam ekologis yang terjadi pada akhir November 2025 lalu. Ia bercerita, saat kejadian itu ia sempat terjebak beberapa hari di Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Ia sedang dalam perjalanan menuju Banda Aceh dengan membawa penumpang mahasiswa dan sejumlah logistik sebagai bekal mereka di kos nanti. Logistik itulah yang mereka masak dan makan bersama selama terjebak di sana.

Setelah beberapa hari terjebak, sang sopir akhirnya memberanikan diri keluar dari Linge bersama dengan rombongan lainnya dan meninggalkan mobilnya di rumah warga setempat.

Sang sopir menyebutkan, bahwa mencekamnya kejadian tersebut melebihi mencekamnya pada saat kejadian tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Logistik berkurang, keluarga tak bisa dihubungi karena sinyal internet padam total, hanya secercah harapan bahwa musibah itu akan berakhir.

Pascabencana banjir, pihak travel, khususnya yang beroperasi di rute Banda Aceh–Gayo Lues mengalami kemerosotan pendapatan karena jalur ke sana lumpuh total. Sampai akhirnya rute Blangkejeren–Banda Aceh melalui Kecamatan Terangun, Kabupaten Aceh Barat Daya dibuka.

Namun, konsekuensinya adalah naiknya tarif angkutan. Banyak penumpang yang kontra dengan kenaikan tarif yang diberlakukan saat itu, padahal kenaikan tarif tersebut tidak sebanding dengan risiko yang ditanggung. Terlebih, saat itu BBM juga sangat langka. Tarif normal ke Gayo Lues sebelum bencana Rp270 ribu. Harganya melambung tinggi menjadi Rp400 ribu pascabencana. Saat aku pulang kemarin, harga tiket sudah turun menjadi Rp300 ribu.

Keadaan saat itu begitu kacau. Berbagai macam harga bahan pokok naik. Bantuan ke Kabupaten Gayo Lues hanya bisa disalurkan lewat udara dan itu pun tidak merata.

Setelah sopir selesai bercerita, aku diserang kantuk. Malam kian larut. Perjalanan dari Banda Aceh memang dilakukan malam hari. Aku pun tertidur, meski sesekali terjaga karena perjalanan tidak begitu mulus. Lubang-lubang di beberapa titik badan jalan membuat mobil tidak stabil. Membuat penumpang di dalam ikut berguncang.

Kondisi Jembatan Atu Peltak di Kec. Rikit Gaib, Gayo Lues, pascabanjir bandang.

Paginya, 21 Februari 2026, saat aku terbangun, kami sudah sampai di daerah Ise-Ise di Kecamatan Pantan Cuaca. Sudah masuk Kabupaten Gayo Lues. Jalanan di kawasan ini berkelok-kelok menuju Kecamatan Rikit Gaib. Pemandangan di sekitar sini yang banyak ditumbuhi pohon pinus masih sama. Indah dan menawan. Apalagi masih diselimuti kabut.

Namun, aku melihat secara langsung, bahwa Gayo Lues belum benar-benar pulih, walaupun sudah tiga bulan bencana alam ekologis berlalu. Kabupaten Gayo Lues tercatat sebagai salah satu daerah yang paling parah diamuk bencana.

Selama perjalanan itu, aku melihat bangunan sekolah yang hancur, jembatan yang sudah miring, rumah yang hancur, jalanan yang rusak dan badan jalan yang amblas, serta persawahan yang rusak parah dan tepat wisata yang rusak pula. Di beberapa titik juga sedang dibangun hunian sementara agar masyarakat tak lagi mengungsi dengan fasilitas seadanya.

Setelah sampai di Blangkejeren dan menyelesaikan tugas-tugas kami, aku menuju kampungku di Gumpang, Kecamatan Putri Betung. Sebelumnya untuk menuju kampungku (lintas Blangkejeren-Kutacane) diberlakukan buka-tutup jalan di jam-jam tertentu. Alhamdulillah, saat aku berangkat tidak diberlakukan aturan itu sehingga tak perlu mengantre lama saat menuju kampungku.

Tapi tetap saja hatiku dag dig dug ser saat melewati akses yang terkena longsor terutama di Daerah Tetumpun, Tangsaran, dan Begade Empat. Apalagi saat usai hujan, jangan coba-coba menguji adrenalin di jalur itu. Ketiga tempat itu adalah titik akses paling parah saat bencana terjadi dan membutuhkan waktu yang sangat lama dalam perbaikannya. Semoga saja segera pulih.

Kayu besar yang terbawa arus banjir bandang dan tersangkut di areal persawahan Desa Gumpang.

Saat di jalur Tetumpun itu aku tak berani lewat, untung saja ada orang baik yang menawarkan bantuan untuk membawa motorku sampai ke jalan yang bagus.

Saat sudah sampai di Desa Gumpang, aku mengunjungi persawahan yang tak jauh dari rumahku. Kami melihat areal persawahan itu kini berubah bentuk. Sudah ada aliran sungai baru yang melewati areal tersebut.

Dulunya tanah itu ditanami padi dan beberapa komoditas lain. Sekarang tak ubahnya seperti hamparan bebatuan dan pasir. Terasa gersang saat matahari menyinari. Sepertinya tak bagus lagi untuk bercocok tanam seperti dulu. Struktur tanah telah berubah, bebatuan besar dan kayu-kayu memenuhi areal tersebut. Ah, bagaimana petani mau menanam kalau begini.

Aku memandang nun ke sana. Memandangi sinar mentari yang menyinari tanah yang dulunya subur, namun kini harus hancur diterpa bencana. Hatiku terasa masygul. Segeralah pulih Gayo Lues. Segeralah pulih Aceh.[]

Catatan perjalanan, 23 Februari 2026

Artikel Lainnya Seperti Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru