Itu masa-masa paling buruk dalam hidup saya. Alhamdulillah, semua sudah berlalu. Saya tidak ingin menukar damai ini dengan apa pun.
Martini binti Zakaria (74)
Warga Dusun Pawoh, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya
Masa konflik itu sangat menegangkan bagi saya. Ada masa ketika (GAM) menyuruh seluruh gampong di Aceh Barat Daya menaikkan bendera bulan bintang. Mereka yang tidak memasang, dipukuli atau dibawa ke gunung.
Kampung kami (Susoh) tidak terlalu ditekan untuk memasang bendera, mungkin karena dekat Pos SGI. Tapi kampung-kampung lain seperti Babahrot, Kuala Batee, dll. yang dekat ke gunung, mereka (GAM) memeriksanya ke setiap rumah, apakah ada bendera bulan bintang.
Di kampung-kampung itu, GAM juga meminta dua anak muda untuk dilatih kemiliteran setiap pagi. Ada si X, sekarang ini dia bidan, karena adiknya yang laki-laki sakit-sakitan, dia mengajukan diri untuk dilatih. Memang si badannya tinggi gagah.
Karena dia mengerti ilmu kesehatan, orang itu (GAM) hormat padanya. Selama konflik keluarga dia aman, karena teuntra pun respek pada orang kesehatan.
Saya pernah menemukan jenazah orang tersangkut di pagar tetangga. Orang itu bukan orang kampung kami. Entah dari mana. Kondisinya menyeramkan, karena matanya dicongkel, lalu dipasakkan di keningnya. Beberapa jarinya juga tidak ada.
Anak saya yang laki-laki, waktu itu (di masa DOM) kuliah di Banda Aceh. Tapi sesudah referendum dia pulang. Nah, ketika dia di kampung itulah penyakit asma dan asam lambung saya tambah menjadi, karena cemas akan keselamatan dia.
Setiap malam saya sembunyikan anak saya di kandang bebek, supaya tidak ketahuan oleh TNI dan orang itu (GAM).
Anak-anak muda lain juga tidak ada yang tidur di kampung, semua bersembunyi. Masa itu saya tidak berani salat Subuh di masjid.
Saya juga mencemaskan menantu saya. Sebab walau pun dia tinggal di Blangpidie, tapi dia punya beberapa kebun yang harus diurus. Setiap kali dia pergi mengurus kebunnya, saya tidak berhenti berzikir, mendoakan keselamatannya.
Dari rumah mantu saya di Kuta Tuha, Blangpidie, kita bisa mendengar suara tembakan di arah gunung. Anak tetangga kami, seorang perwira polisi, setiap pulang sekolah selalu dijemput mobil polisi. Bahkan satu kali pernah dijemput dengan mobil yang macam tank itu (mobil lapis baja).
Ketika abang sulung kami di Banda Aceh meninggal, kami sesaudara naik L300 ke Banda Aceh.
Perjalanan memakan waktu lama karena setap kali melewati pos aparat, kami harus berhenti.
Mereka (aparat) mencari orang yang mengenakan peci dan menyelindang sarung, karena itu dianggap tanda orang GAM.
Di salah satu pos, kedua abang saya yang pergi bersama kami sempat mengalami kekerasan, ditampar dan dipukul perutnya. Lalu mereka disuruh tiarap di pinggir jalan. Adik bungsu saya menangis-nangis, berkata bahwa keduanya adalah abang kami, kami akan ke Banda Aceh karena abang kami yang tertua meninggal.
Setelah itu, kedua abang kami dilepas, kami boleh melanjutkan perjalanan. Tapi perjalanan kami begitu lambat karena pos yang kami lalui begitu banyak, sehingga keponakan kami, anak abang kami, yang bekerja di Jakarta, sudah sampai lebih dulu di Banda Aceh.[]
