Surat untuk Pak Prabowo

Pak Prabowo,

Apa karena pemilih Anda saat pilpres lalu di Aceh cuma 787.024 suara, makanya Anda sengaja ingin membuat kami jera saat ini?

Maaf, Pak, saya terpaksa bertanya seperti itu, mengingat hingga hari ini, Selasa, 16 Desember, sudah 21 hari setelah bencana, tapi action negara untuk menolong kami masih biasa-biasa saja.

Saya juga ingin bertanya, sudah sekeras apa hati Anda, Pak? Sehingga tidak terenyuh atau tersentuh ketika melihat rakyat Anda menangis. Malah, Anda bilang masyarakat tegar karena masih bisa menyambut Anda dengan baik.

Pak, mereka bukan tegar. Kalau mereka tidak dikerahkan untuk menyambut Anda, untuk pura-pura happy di depan Anda sambil bertepuk tangan, mereka juga emoh, Pak. Justru, seharusnya Bapak yang mendatangi mereka, Bapak usap pundak mereka, Bapak tatap mata mereka. Bapak enggak usah ngomong. Diam saja. Nanti mereka yang malah akan banyak bicara, Pak. Karena pemimpin sejati mestinya, ya, banyak mendengar, bukan banyak retorika.

Saat saya melihat Bapak yang naik mobil dengan atap terbuka di lokasi bencana, sambil dada-dada. Atau Bapak yang kelihatan happy ketika ada yang berteriak-teriak menjagokan Anda sebagai presiden seumur hidup. Pak, Anda sedang tidak berada di lokasi kampanye, lho. Anda di lokasi bencana.

Baca juga: Surat untuk Mualem

Pak, hari ini hari ke-21 setelah banjir bandang dan longsor di Aceh. Gubernur kami bahkan sudah menetapkan fase kedua untuk masa tanggap darurat. Ini sebenarnya isyarat, Pak. Bendera putih sudah dikibarkan di beberapa tempat.

Apa Bapak lihat orang-orang yang berjalan di lereng-lereng bukit itu dengan barang yang mereka panggul di kepala atau pundak? Mereka itu bukan para peziarah di lembah suci, Pak. Mereka itu sedang berjuang agar esok masih ada yang namanya kehidupan.

Tapi Anda sebagai Presiden tampaknya memang tidak memiliki sense of crisis. Sense Anda malah muncul ketika ada rakyat yang nggak tahu kalau Mayor Teddy sekarang sudah berpangkat letnan kolonel.

Saat negara lain menawarkan bantuan, dengan pongahnya Anda menolak. Anda balut dengan kata terima kasih. Anda bilang negara mampu mengatasinya. Dan sudah mengatasinya dengan baik. Anda terus memantau situasi.

Anda bilang, ini cuma tiga provinsi yang terdampak bencana. Masih ada 35 provinsi lagi yang tidak kenapa-napa. Sehingga tidak perlu ditetapkan sebagai bencana nasional.

Pak, saat Anda mengatakan itu, ada subteks lain yang kami dengar dari perkataan Anda. Seolah-olah Anda sedang mengatakan: tuh, rasain. Kapitalis sekali cara berpikir Bapak. Ini negara, Pak. Bukan perusahaan. Ini bukan soal kuantitas.

Pak, apa yang membuat Anda enggan menerima bantuan dari negara lain? Saya bayangkan dunia ini adalah sebuah kompleks perumahan, di mana antara satu rumah dengan rumah yang lain bisa saja saling memberi makanan. Itu sesuatu yang lumrah dan karena itu justru silaturahmi menjadi semakin guyub. Dalam keadaan baik-baik saja kalau ada yang memberi kita tidak patut menolak, Pak, apalagi ini dalam kondisi emergency. Pak, beda lho antara menerima dengan meminta-minta.

Pak, jika negara kita begitu berani untuk berutang—seperti untuk membangun IKN, lantas mengapa terlalu malu untuk menerima pemberian? Apa karena cuma-cuma? Apa karena tidak ada kewajiban untuk membayar pokok beserta bunganya? Apa karena dari bantuan itu tidak memberikan “manfaat” bagi negara? Misalnya, negara jadi tidak punya dalih untuk menaikkan pajak dari rakyat?

Setahu saya, Pak, ada sih yang bersikap begitu. Tapi itu karena mereka mengalami superiority complex. Orang yang superiority complex itu, Pak, memang kompleks sih. Jalan pikirnya nggak bisa dicerna dengan akal sehat. Mereka cenderung curigaan sama orang yang baik sama mereka. Tapi, orang-orang yang begitu biasanya karena ada yang ditutup-tutupi. Jadi, mereka membuat benteng untuk dirinya sendiri. Biar nggak terdeteksi apa yang sedang mereka sembunyikan. Jadi, sok-sok hebat gitulah, Pak. Tapi sebenarnya, ya, nggak apa-apa kali juga.

Tapi, Anda kan tidak, ya, Pak. Lagi pula, apa yang hendak Anda tutup-tutupi. Kalau Anda ingin menutupi sesuatu, tentulah Anda tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden. Berkali-kali pula—dan pada akhirnya menjadi Presiden.

Syak wasangka saya cuma satu, Pak. Tok karena suara Anda di Aceh tidak seperti yang Anda harapkan. Tapi, Pak, tanpa suara yang dominan dari Aceh pun, Anda sudah jadi presiden kok. Dan, meski kecil, tetap ada kontribusi dari suara rakyat Aceh, ya, yang 787.024 suara itu. Dan, kalau dihitung dari persentase jumlah DPT, nggak dikit-dikit amat kok, Pak. Setidaknya ada 20 persen.

Nah, Pak, dalam kondisi saat ini, Bapak bantu saja mereka yang 20 persen itu, Pak. Bapak nggak usah tolong semua korban bencana. Bapak cukup tolong saja orang-orang yang sudah memilih Bapak. Jangan kecewakan mereka, Pak. Jangan biarkan mereka benci ruman ke Bapak. Jangan buat mereka menderita dua kali, Pak. Menderita karena bencana dan menderita karena Bapak abaikan.

Satu lagi, Pak, menteri-menteri Bapak itu, kalau mereka nggak bisa bicara yang pantas, mending Bapak suruh diam aja, Pak. Diam lebih baik daripada ngomong, tapi nyakitin hati.

Pak, kami rakyat Aceh punya rekam jejak yang buruk dengan Indonesia, tolong jangan dibuat semakin parah.[]

Artikel Lainnya Seperti Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru