Surat untuk Mualem

Mualem,

Saya masih ingat euforia pada tahun 2002 silam ketika Anda menjadi Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menggantikan allahu yarham Abdullah Syafii yang gugur pada 22 Januari 2002.

Memakai baju loreng, Anda terlihat gagah. Brewok di wajah tidak saja membuat Anda terlihat karismatik, tapi juga dikagumi para dara. Bahkan, ada yang bilang Anda mirip Suniel Shetty—aktor India yang sedang booming kala itu.

Lebih dari itu, euforia tersebut sebenarnya karena ada harapan besar yang terpendam di hati rakyat Aceh. Anda diharapkan bisa “memerdekakan” Aceh.

Euforia tersebut terulang ketika Anda menjadi Gubernur Aceh. Dua puluh dua tahun setelahnya. Wibawa Anda (masih) menjadi tumpuan harapan bagi jutaan rakyat Aceh. Harapan agar Anda bisa memerdekakan Aceh masih ada. Tentunya, merdeka dalam konteks yang berbeda.

Mualem,

Saat saya menuliskan ini, saya sudah kembali berada di Kota Banda Aceh—setelah sebelumnya sempat terkurung di Takengon (Aceh Tengah) bersama sejumlah rekan. Hari ini, Selasa, 9 Desember 2025, dua pekan setelah banjir bandang dan longsor menerjang Aceh. Delapan belas kabupaten/kota terdampak. Itu artinya, lebih dari 75 persen kabupaten/kota di Aceh saat ini lumpuh.

Tamiang berubah seperti “kota zombie”. Kering dan tanpa kehidupan. Jalan-jalan di Tamiang tidak saja berdebu, tapi mulai menguarkan aroma menyengat dari jenazah yang belum terevakuasi. Di Pidie Jaya, rumah-rumah warga tertimbun sedimen lumpur hingga mencapai atap. Di Aceh Tengah, ada masyarakat yang sudah minta dikirimkan kain kafan. Di Aceh Utara, ada kampung-kampung yang hilang. Begitu juga di daerah-daerah lain.

Aceh berada dalam situasi krisis. Di tengah situasi seperti ini, rakyat sangat membutuhkan kehadiran pemimpin. Agar mereka tenang. Tidak merasa ditinggalkan. Dan tahu apa yang akan disongsong pada hari esok. Sebagai pemimpin tertinggi di Aceh, Andalah satu-satunya tumpuan harapan rakyat Aceh.

Mualem,

Penting bagi Anda untuk mengatasi krisis ini. Namun, penting juga untuk memikirkan kebijakan apa yang bisa Anda lakukan untuk mencegah bencana serupa tidak terulang lagi.

Anda bisa memulai dengan memikirkan dan merenungkan kembali soal rencana program wilayah pertambangan rakyat (WPR). Anda bisa mulai dengan memetakan lahan-lahan kritis di Aceh dan mengonsep rencana untuk merehabilitasinya. Ya, bukan hanya orangnya, tanah dan hutan kita juga perlu disehatkan kembali.

Lebih dari itu, Anda bisa beraksi dengan meninjau dan membatalkan izin-izin perusahaan tambang yang sudah dan akan beroperasi di Aceh. Anda juga harus berpikir kembali, bagaimana caranya agar hutan-hutan di Aceh tidak terus dibabat untuk ditanami sawit. Anda jangan terkecoh dengan pernyataan Pak Presiden yang mengatakan “sawit adalah pohon”. Itu pernyataan manipulatif. Sebagai Gubernur Aceh, Anda punya kewenangan dan kekuasaan untuk itu. Kerahkan seluruh sumber daya di Satuan Kerja Pemerintah Aceh.

Jika Anda ingin menyejahterakan rakyat, jika Anda ingin rakyat tersenyum dan bahagia, jika Anda ingin rakyat hidup tenang tanpa rasa waswas saat hujan turun, maka tambang bukan solusinya. Program-program replanting sawit perlu dikaji ulang.

Mualem,

Rakyat yang sebenarnya adalah yang hari ini Anda lihat. Mereka yang terkurung di desa-desa terpencil setelah banjir bandang dan longsor menghantam. Mereka yang menanti bantuan dengan harapan yang nyaris karam. Mereka yang hanya bisa berdoa di tengah gelapnya gulita malam. Mereka yang terpaksa melihat desa-desa mereka menjadi aliran-aliran sungai baru.

Mereka yang tanah, kebun, sawah, dan harta bendanya hanyut tak bersisa. Mereka yang kebingungan mau makan apa esok? Mau tinggal di mana esok? Mau menyekolahkan anak-anaknya dengan apa esok? Mereka, yang bahkan hingga dua pekan setelah bencana, ada yang belum tahu di mana dan bagaimana keberadaan keluarga mereka.

Rakyat yang sebenarnya hanyalah individu-individu tak berdaya yang tak punya kuasa melawan hegemoni oligarki. Mereka yang tak punya modal untuk membiayai operasional tambang rakyat. Alih-alih membiayai operasional tambang, bahkan untuk membeli bensin seliter di tengah situasi begini saja mereka tak punya uang. Mereka tak punya kuasa untuk melawan kebijakan dan regulasi yang kejam.

Mereka yang terpaksa tabah ketika bencana terjadi. Mereka yang terkatung-katung karena pertolongan tak kunjung datang. Mereka yang rela berjalan kaki hingga puluhan kilometer, yang rela mempertaruhkan nyawa dan risiko tinggi, demi mencari segenggam beras untuk keluarganya. Itulah rakyat yang sebenarnya.

Mualem,

Saya pernah mewawancarai seorang mantan anggota GAM. Beliau bercerita, suatu ketika dalam pelariannya di dalam hutan, ia bertemu dengan seekor harimau. Tapi harimau itu tidak mengganggunya. Hanya melihat dari jauh, lalu pergi. Kami juga tidak pernah mendengar ada anggota GAM yang diganggu oleh gajah atau binatang buas lainnya selama persembunyian mereka di hutan.

Begitulah sifat alami Teungku Rayek atau Po Meurah—juga hewan-hewan lain di dalam hutan. Mereka sangat penyayang. Mereka pintar. Sehingga tahu, yang bersembunyi di hutan bukan untuk disakiti. Karena memang, mereka tak pernah punya SOP untuk menyerang manusia, apalagi meneror dan mengusir manusia dari permukiman. Jadi, mengapa kita tega merusak hutan hingga ke jantung-jantungnya yang selama ini menjadi istana bagi para penghuni rimba? Memaksa mereka terusir dan terbunuh dengan tragis?

Bahkan, ada anggota GAM yang justru menciptakan lagu perjuangan ketika berada di hutan. Suatu malam, saat ia melepas lelah sambil duduk di ayunan, ia melihat langit sangat cerah, bulan bersinar terang, dan dipenuhi kerlip bintang. Ah, betapa syahdunya. Jiwa seni dan kreatifnya terpantik sehingga tercipta sebuah lagu heroik. Bahkan Anda memintanya untuk menyanyikan lagu itu dalam sebuah “rapat negara” pada tahun 2001. Lagu itu masih sering digemakan hingga saat ini.

Saya juga membaca kisah-kisah pejuang GAM yang mampu bertahan dalam situasi sulit karena tetap ada yang bisa mereka makan selama berada di hutan. Ikan-ikan masih bisa ditangkap di sungai-sungai yang jernih dan berarus deras. Buah-buah hutan yang aman dikonsumsi tinggal dipetik.

Artinya, Anda tentulah paling paham apa arti dan fungsi hutan yang sesungguhnya. Hutan adalah sumber kehidupan yang sesungguhnya. Hutanlah yang telah menyelamatkan kita dalam berbagai fase kehidupan.

Mualem,

Saya tahu, hutan dan alam kita sudah sangat rusak. Sudah sangat babak belur. Namun, Anda masih punya kesempatan untuk tidak membuatnya menjadi lebih buruk. Mungkin, Anda—hanya—akan dibenci oleh para oligarki jika memilih melindungi rakyat dengan menyelamatkan hutan kita. Namun, percayalah, Anda akan disayangi oleh jutaan rakyat. Nama Anda akan selalu dikenang dan diingat.

Yang kita sebut sebagai bencana hidrometeorologi ini ibarat “pre-test” dari Tuhan. Uhm, sebenarnya, menyebut ini sebagai “bencana hidrometeorologi” pun tidak tepat. Sebab dampaknya tentulah tidak seburuk dan separah ini kalau manusia tidak rakus dan tamak. Dan lagi, alam tentu tidak akan berubah fenomenanya jika manusia tetap bijak.

Saya menyebutnya sebagai pre-test. Tuhan mungkin ingin menguji kemampuan awal kita, sejauh apa pengetahuan kita tentang mitigasi bencana, dan bagaimana kesiapan kita untuk menghadapinya.

Hasil pre-test-nya bisa kita lihat sendiri. Hingga dua pekan setelah banjir bandang dan longsor menerjang, wilayah-wilayah terisolasi belum seluruhnya bisa dijangkau, distribusi bantuan belum merata, masyarakat kehilangan harapan sehingga ada yang meminta dikirimkan kain kafan. Belum lagi soal listrik yang juga belum normal, jaringan telekomunikasi masih megap-megap, juga biaya transportasi yang tiba-tiba melambung tinggi. Efek dominonya bahkan dirasakan oleh daerah-daerah yang tidak terdampak langsung oleh bencana. Termasuk di Kota Banda Aceh, ibu kota provinsi.

Bukan itu saja, melalui pre-test ini, kami bisa melihat kualitas dan kapasitas para pemimpin kami. Ada yang kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Ada yang egois, tega meninggalkan rakyatnya demi “foto mesra” dengan pasangan berdalih ibadah. Ada yang fokus pada pencitraan, dan tak malu untuk “nebeng” foto dengan bantuan yang dibawa relawan. Yang terbiasa menjilat, tetap saja menjilat. Kami juga bisa melihat, siapa pemimpin yang bersungguh-sungguh bersama dan memikirkan rakyatnya. Bahkan, Anda sampai menangis, dan bukan hanya sekali.

Saya yakin, Anda juga geram dengan tingkah-tingkah pejabat dari pusat. Yang tidak hanya lamban, tapi juga tidak punya empati. Yang mengecilkan harga nyawa rakyat Aceh. Yang menjadikan bencana ini semacam guyon yang mereka nikmati di media sosial.

Apa artinya ini? Artinya, ini kesempatan Anda untuk merenung kembali, kepada siapa Anda berpihak dan siapa yang berpihak kepada Anda.

Mualem,

Sebagai pemimpin, sebagai orang nomor satu di Aceh, Anda tentulah sering dan akan dihadapkan pada pilihan dan keputusan sulit. Dihadapkan pada berbagai ironi. Tapi, seorang pemimpin sejati, tentu tidak akan mengorbankan rakyatnya demi kepentingan kekuasaan, bukan?

Setiap kali Anda bimbang, ingatlah tatapan kosong dan air mata para ibu yang kehilangan suami dan anaknya. Ingatlah rasa bersalah para ayah yang tidak bisa menyelamatkan keluarganya. Ingatlah jerit para anak yang kehilangan orang tuanya. Ingatlah pada kami, rakyatmu.[]

Artikel Lainnya Seperti Ini

5 KOMENTAR

  1. Masuk ke relung jiwa
    Kak Ihan mewakili suara rakyat Aceh yang dalam huru hara ketidaktenangan dan air mata
    Semoga Muallem membaca dan mengerti maksud rakyatnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru