Oleh: Ath Thahira Najwa*
Liburan telah tiba, saya dan teman-teman, juga adik-adik berpetualang mengunjungi delapan sumber mata air yang ada di Gampong Air Sialang Hilir, Samadua, Aceh Selatan. Kegiatannya dibuat oleh Yellsaints Family.
Jadi, pada hari Sabtu, 27 Oktober 2025 lalu saya bergegas menyiapkan bekal untuk dibawa saat berpetualang. Padahal mulai kegiatannya pukul 09.30 WIB, tapi saya sudah siap sejak pukul 08.00 WIB karena memang hari ini hari yang saya tunggu-tunggu.
Saking semangatnya, saya turut menjemput teman-teman yang belum hadir. Kebetulan rumah saya bersebelahan dengan tempat kegiatan Yellsaints Family. Ketika jam menunjukkan waktu hampir pukul 09.30 WIB, sedangkan teman-teman belum juga tiba, saya pun berinisiatif menjemput mereka supaya kegiatan berjalan tepat waktu.
Setelah teman-teman ramai, Bunda Atul dan Bunda Ulfa yang menjadi fasilitator di kegiatan ini, langsung mengumpulkan anak-anak membentuk lingkaran. Lalu kami bernyanyi sambil memperkenalkan diri satu per satu lewat lagu, dan dilanjutkan dengan membaca doa belajar. Setelah itu, barulah melakukan pemanasan dengan senam aram sam-sam dan gemu pemire.
Kami juga dikenalkan dengan permainan tradisional, yaitu tang-tang pukuik. Dalam permainan ini, ada dua orang yang bertugas sebagai “penjaga” dan membentuk formasi “gerbang” dengan cara menautkan kedua tangan mereka. Adapun yang lainnya membentuk barisan seperti kereta api sambil memegang bahu teman. Kemudian berjalan sambil menunduk melewati tangan dari dua orang yang berjaga tadi. Saya baru tahu ada permainan seperti itu, karena sebelumnya kami tidak pernah memainkannya.
Setelah bermain, kami dikenalkan lagu ‘Banjir Datang karena Apa?’ Barulah setelah itu berjalan kaki menuju sumber mata air sambil menyanyikan lagu tersebut.

Ath Thahira Najwa
Petualangan kami pertama mengunjungi sumber mata air yang diberi nama Talago Mengkudu. Menurut penjelasan Bunda Yelli, dulunya ini tempat mandi dan juga tempat kebutuhan menggambil air bersih. Namun, karena tidak dirawat, sumber mata air ini tidak digunakan lagi. Semak-semak pun sudah memenuhi badan telaga.
Kami tidak bisa turun ke bawah karena sudah banyak semak, takut ada ular dan biawak yang menghuni telaga itu. Disebut sebagai Talago Mengkudu karena di sini dulunya banyak batang mengkudu, makanya disebut Talago Mengkudu.
Kemudian, kami menuju sumber mata air yang kedua. Namanya Talago Nek Maricat. Ini telaga pribadi milik almarhumah Nek Maricat, kata Bunda Yelli. Semasa hidupnya Nek Maricat berprofesi sebagai penyembuh. Di sini airnya sangat jernih sehingga tampak ikan-ikan kecil yang berenang-renang. Bunda Yelli juga menjelaskan ciri-ciri air yang bersih, yaitu jernih, tidak berasa, dan tidak berbau. Airnya juga sejuk.
Kami bisa merasakan air di telaga ini, dan benar-benar segar dan sejuk. Di sekelilingnya juga masih banyak pohon yang rimbun sehingga telaga ini terjaga dan terlindungi. Tidak ada sampah plastik di sini, yang ada sampah dedaunan. Saya memungutnya dan memasukkan ke dalam tempat sampah organik yang dipegang oleh Bunda Atul.
Kami mengunjungi sumber mata air yang ketiga, yaitu Talago Surau. Airnya juga bersih dan jernih, bahkan kami bisa melihat udang galah yang sedang bermain di ekor telaga. Kata Bunda Ulfa, telaga ini disebut Talago Surau karena bersebelahan dengan surau kaum ibu. Jadi, surau ini juga digunakan oleh ibu-ibu untuk mandi, mencuci, dan juga berwudu. Telaga ini terdiri atas beberapa bagian. Di bagian depan ada tempat menaruh pakaian, yang tingginya sekitar satu meter, ada kolam tempat mandi, dan ekornya (alirannya) tempat mencuci ikan atau piring, dan kamar mandi atau WC di bagian paling ujung.
Setelah itu, kami mengunjungi Talago Tampang. Ini sumber mata air yang keempat. Namanya diambil dari pohon besar yang dulu pernah hidup di dekat telaga. Namanya batang tampang. Tingginya sekitar 200 meter, dengan diameter sekitar 2 meter, kata Bunda Ulfa. Di sana banyak burung elang bersarang. Tapi, sekarang batangnya tidak ada lagi karena sudah ditebang.
Kami lanjut ke Talago Meunasah, yang kelima. Ini tempat pemandian laki-laki. Dinamakan Talago Meunasah karena ada meunasah yang digunakan oleh laki-laki. Telaga ini paling besar dan dalam dibandingkan telaga lainnya. Setelah puas di sini, kami lanjut berjalan kaki lagi sambil menyanyikan lagu ‘Banjir Datang karena Apa?’.
Akhirnya, kami tiba ke Talago Punjuik, sumber mata air yang keenam. Menurut penjelasan Bunda Atul, nama telaga ini diambil dari Surau Punjuik yang ada di samping telaga. Konon katanya kepala surau itu berbentuk punjut, seperti ikat tali pocong. Selain itu, menurut cerita orang dulu katanya di sini sering terlihat hantu pocong karena dekat juga dengan kuburan.

Kegiatan mewarnai setelah bertualang. Foto: Yelli Sustarina
Lanjut ke sumber mata air yang ketujuh. Namanya Talago Lubuk Ek ‘Ot. Untuk menuju telaga ini kini harus menyeberang alur yang airnya sedalam betis saya. Disebut Talago Lubuk Ek ‘Ot karena dulunya ada batang bambu besar yang bila ditiup angin, bunyinya ek ‘ot, ek ‘ot. Begitu kata Bunda Atul. Telaganya kecil, tapi airnya sangat jernih dan sejuk karena di sekelilingnya ada pohon-pohon tinggi yang rimbun.
Setelah itu kami menuju sumber mata air yang terakhir, yaitu Talago Lamen. Disebut Talago Lamen karena berada di depan halaman rumah Bunda Yelli. Ini telaga yang baru saja dibuat, sebagai pengganti Talago Subarang Air yang sudah tertimbun. Kata Bunda Yelli, dulunya telaga ini adalah bekas dari kandang ayam dan pernah juga dijadikan tempat pembuangan sampah. Namun, sekarang sudah digali menjadi telaga dan airnya sangat jernih.
Setelah puas bertualang kami pun makan bersama. Kemudian menonton video tentang banjir, longsor, dan video tentang fungsi pohon di hutan. Setelah menonton kami mewarnai boneka gipsum, lalu pulang. Saya sangat senang bisa bertualang seperti itu. Liburan pun jadi terasa menyenangkan karena ada cerita yang bisa saya sampaikan ke teman-teman saat kembali bersekolah nanti.[]
Penulis adalah siswa MIN 10 Samadua, Aceh Selatan.
