Misi Perdamaian IWPG: Belajar dari Korea, Bergerak di Indonesia

Oleh Amrina Habibi*

SALAH satu peristiwa penting dan menjadi sejarah baik bagi saya sepanjang tahun 2025 ini adalah ketika saya dan sembilan teman lain dengan latar belakang jurnalis dan aktivis perdamaian Internasional Women Peace Group (IWPG ) menginjakkan kaki di Cheong Ju, Korea Selatan, untuk mengikuti Internasional Peace Conference yang diselenggarakan oleh Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL). Ini adalah organisasi masyarakat sipil yang didirikan oleh Lee Man Hee, seorang aktivis kemanusiaan yang sangat aktif dalam menggelorakan perdamaian, baik di Korea maupun di dunia.

Cheongju adalah ibu kota Provinsi Chungcheong Utara, Korea Selatan, terletak sekitar 120 km selatan Seoul dan dikenal sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, dan ekonomi provinsi. Cheongju kaya akan sejarah dan budaya, termasuk museum percetakan awal Korea dan berbagai festival seni internasional seperti Cheongju International Craft Biennale. Kota ini juga terkenal bersih dan tertata rapi, dengan taman, sungai, serta pegunungan yang menambah keindahan dan menyediakan jalur rekreasi bagi warganya.

HWPL adalah organisasi yang memiliki tujuan untuk mencapai perdamaian dunia melalui solusi komprehensif yang melibatkan para pemimpin, perempuan dan pemuda dari berbagai budaya, keyakinan, dan wilayah. HWPL terlibat dalam berbagai inisiatif, seperti mempromosikan pendidikan perdamaian, mengadvokasi Deklarasi Perdamaian dan Penghentian Perang (DPCW), dan menyelenggarakan KTT perdamaian dunia untuk menumbuhkan budaya damai. Organisasi ini berafiliasi dengan Departemen Komunikasi Global PBB (DGC) dan memiliki Status Konsultatif Khusus dengan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC).

Pada tanggal 18 September setiap tahunnya menjadi momentum pelaksanaan HWPL Global Peace Leaders Conference sebagai sebuah forum besar yang menyatukan misi bersama untuk perdamaian dunia. Terpetakan dari beberapa laporan, tak kurang 25 ribu masyarakat menjadi relawan HWPL sebagai bentuk dukungan untuk menjaga dunia tetap damai dan harmoni. Ibarat tamu agung, pengurus pusat dengan sejumlah relawan IWGP menyambut kedatangan delegasi Indonesia dengan komandan Ketua IWPG Indonesia, Ana Milana Puspitasari, di Bandara Internasional Incheon menuju Hotel Enford. Pada hari Kamis, tanggal 18 September 2025, seluruh delegasi Indonesia dan belasan negara lainnya mengikuti conferensi di Cheong Ju Church dengan pelayanan sangat istimewa.

Dari sepuluh orang delegasi Indonesia, dua di antaranya dari Aceh, yakni dari Balai Syura Ureung Inong Aceh dan dari Rumah Baca Lentera Habibi. Selebihnya, empat perwakilan media, yakni Suara Pembaruan, Indo Tren, TV One, BTV, dan Lentera Kartini dari Sampit. Juga dua pengurus IWPG Indonesia.

Pada hari kedua dan ketiga, saya dan kawan-kawan sudah dengan agenda khsusus IWPG yang dipusatkan di Hotel Enford. Konferensi IWPG terbagi menjadi beberapa sesi, termasuk memberikan penghargaan atas sejumlah kerja baik para tokoh perempuan dunia dari berbagai negara yang bergerak untuk isu women peace. Adapun sesi berbagi pengalaman dan praktik baik disampaikan oleh beberapa narasumber, di antaranya, Kim Simplis Barrow (mantan Ibu Negara Belize), Hon. Maria Theresa R. Timbol (Wakil Wali Kota Kapalong, Davao Del Norte, Philiphina), H.E. Bouare Bintou Foune Samake (mantan Menteri Perempuan, Anak, dan Keluarga Mali).

Hampir semua mengungkapkan hal senada bahwa selama ini keterlibatan perempuan sering tidak dianggap, tapi hari ini kita bisa lihat bahwa peran perempuan sangat penting. Mereka juga menekankan bahwa perdamaian dunia tidak bisa dicapai tanpa peran perempuan, semua pihak harus ikut terlibat dalam menjaga dan merawat perdamaian dunia. Mereka juga mendorong agar lebih banyak lagi pemimpin perempuan di dunia agar perdamaian dapat terus dirawat dan dijaga.

Setelah beberapa hari di Korea, saya melihat bahwa negeri ini memang sangat romantis sesuai dengan apa yang ada di drama-darama Korea. Negara ini sangat bersih, pengaturan terkait sampah sudah sangat baik karena diwajibkan untuk memilah sampah, trotoar menjadi surga bagi pejalan kaki, dan kedai skin care dengan berbagai tawaran produk yang berjejeran di setiap sudut kota, makanan korea juga tentu menjadi incaran.

Kembali kepada fokus bahwa IWPG pusat juga mendorong dan membuka peluang untuk saling mendukung dan bekerja sama dengan banyak lembaga dari sejumlah negara dan salah satunya adalah Indonesia. Saya dan teman-teman di hari akhir acara akhirnya berjibaku dalam diskusi serius untuk merancang objektivitas gerakan bersama yang akan dilakukan satu tahun ke depan di Aceh dan Sampit (Kalimantan Tengah) dalam rangka menyebarluaskan pendidikan damai dengan fokus pada penguatan agensi dan peningkatan SDM perdamaian di tingkat komunitas.

Pemilihan ini tak terlepas dari kondisi bahwa Aceh dan Sampit pernah menjadi daerah konflik dan trauma konflik masih belum pulih. Dua puluh tahun damai Aceh adalah momentum yang perlu dirawat dengan pendidikan damai yang mengakar dan ruang keadilan untuk penglibatan perempuan pada seluruh sektor pembagunan secara setara adalah sebuah keharusan. Suara dan peran perempuan jangan berbatas pada saat pemilu atau sekadar pendamping hidup.

International Women’s Peace Group (IWPG) memiliki cabang di berbagai negara. Berdasarkan informasi terbaru, IWPG memiliki 114 cabang di 123 negara dan 808 organisasi mitra di 66 negara. Beberapa negara yang disebutkan sebagai lokasi cabang IWPG, antara lain: Asia (Korea Selatan, Mongolia, Filipina, Indonesia); Amerika (Kolombia, Meksiko, Brasil [tidak disebutkan secara eksplisit, tapi disebutkan sebagai bagian dari kegiatan di Amerika Latin]); Afrika (Uganda, Pantai Gading, Afrika Selatan, Malawi); dan Eropa (Ceko).

IWPG juga memiliki kegiatan di negara-negara lain, seperti Fiji, India, Bangladesh, Pakistan, Afghanistan, dan Kazakhstan. Jumlah pasti negara anggota IWPG mungkin lebih banyak daripada yang disebutkan di atas, karena IWPG terus berkembang dan melakukan kegiatan di berbagai wilayah.[]

Penulis adalah anggota Dewan Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh.

Perempuan Peduli Leuser
Perempuan Peduli Leuserhttps://perempuanleuser.com
Perempuan Peduli Leuser (PPL) merupakan komunitas yang mewadahi perempuan untuk saling bertukar pikiran dan bersinergi dalam mengampanyekan isu-isu lingkungan.

Artikel Lainnya Seperti Ini

1 KOMENTAR

  1. Artikel yg bagus dan mendalam, dari Ibu aparatur negara, yg membumi (tidak tinggal duduk manis di meja komandan, tapi turun ke lapangan). Semoga Ibu, pemerintah dan LSM nya Ibu, bersama IWPG bisa membawa kedamaian yg sesungguhnya bagi Aceh tercinta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru