Ular besi dari rangkaian barisan ratusan tabung gas 12 kg melingkari taman. Kepala si ular menghadap gerbang tertutup gudang agen elpiji di Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Jumat, 12 Desember 2025.
“Katanya tadi pagi ada kiriman 300 tabung. Nanti sore 100 lagi,” ujar seorang lelaki berjaket biru.
Entah info dari mana ia dapat. Kami yang mengantre, hanya bergegas mengaminkan. Seolah info samar itu doa.
Sejak Galodo Sumatra 26 November, gas elpiji raib di Banda Aceh dan sekitarnya. Para emak mulai menjerit. Cagak besi kaki tiga yang biasa untuk penopang kuali kala kenduri, ramai dicari orang di pasar.
Tiba-tiba kayu bakar kembali menjadi incaran. Aroma asap yang khas, merasuk kembali dalam makanan dan air minum. Seperti hantu dari masa silam.
Mengantre untuk mendapat gas, jadi pekerjaan tambahan para ibu.
“Kami bolak balik mengantre. Dua hari memang tak ada lagi kerja kami, hanya mengantre itulah,” Sari, warga Gp Blang Oi, Meuraxa, menuturkan pengalamannya.
Dua hari mengantre. Itu perlu stamina seorang atlet. Apa betul dia bertahan terus di depan gudang?
“Ada warga sana yang inisiatif, menawarkan menjaga tabung, supaya kami bisa pulang. Biaya titipnya 5 ribu per tabung.”
Ketiadaan elpiji bukan hanya menggelisahkan para emak, tapi juga berdampak dahsyat pada UMKM.
Indah, penduduk Gampong Punge, pengusaha katering, menuturkan bahwa pelanggannya terpaksa dia kurangi hingga tinggal empat saja.
“Keuangan nggak berputar, Kak. Terpaksa kami hentikan pelanggan yang rumahnya jauh. Tak ada gas untuk masak, tak ada bensin untuk mengantar rantang,” katanya.
Padahal, sejak suaminya mengalami kecelakaan beberapa bulan lalu, biaya hidup mereka seluruhnya tergantung dari hasil usaha rantangan.
“Apalagi, saya baru punya bayi. Biaya hidup nambah. Tak tahu lagi mau bilang apa,” meski ketara sedih, suara Indah tegar.
Indah penyintas tsunami 2004. Kakinya sempat terancam diamputasi gegara luka sobek terkena seng, saat bergelut dalam air hitam tsunami.
Beruntung, dokter di USS Lincoln berhasil menyelamatkan kakinya.
Pukul 07.30 WIB di sebuah kedai kopi di kawasan Gampong Geuceu, Kecamatan Banda Raya, etalase kuenya tampak berbeda. Biasanya, tiga etalase kaca setinggi 1,5 m itu dipenuhi berbagai jenis kue yang mengundang selera.
Ada juga bu prang, nasi kuning, mie, bahkan dimsum, pizza mini dan susu kedelai. Banyak ibu membeli bekal sekolah anak-anaknya di sini, tertarik ragam pilihannya yang luar biasa.
Setelah galodo, ada yang berubah: ragam kue berkurang. Tidak terlihat bolu, pulot– kue-kue yang perlu waktu lama untuk mengolahnya. Tinggal camilan yang digoreng, atau potongan segitiga roti tawar yang diberi selai.
“Banyak yang libur, Kak. Itu kue yang masuk, semua yang serba praktis. Hemat gas,” kata pemilik kedai, akrab dipanggil Ogek.
Bahkan, menu MBG di sekolah-sekolah pun berubah. Nasi dan lauk pauk menghilang. Anak-anak dibagi paket plastik berisi biskuit, wafer, susu kotak, dan sebiji buah. Biasanya salak atau rambutan.
“Nggak kenyang, nggak enak. Tapi ya, sudahlah. Kan, teman–teman di Tamiang–lebih susah,” kata Aiman, siswa kelas VII SMP 17.
Sementara SMPN 19 Percontohan, yang memiliki asrama, terpaksa memulangkan semua siswa/i asrama. Sebab pengelola katering yang selama ini melayani asrama, sudah lempar handuk.
“Teringat waktu tsunami dulu. Tapi dulu nggak sesusah inilah kita, Kak. Bantuan cepat masuk, tenaga kesehatan ada. Sekarang ini lebih berat, karena banyak orang lapar, rasa kemanusiaan juga hilang,” kata Indah.
Dalam sehari, berbagai peristiwa renik menunjukkan, betapa warga Banda Aceh yang berada ratusan kilometer dari kabupaten terdampak galodo, ternyata hajat hidupnya ikut terganggu.
Memang benar kata Nabi: muslim itu seperti satu tubuh. Satu bagian sakit, seluruh tubuh sakit.
Bagah puleh, Aceh lon sayang. Kita memang bukan bangsa di bawah rata-rata. Kita pasti bisa.[]
*Galodo: istilah khusus dalam bahasa Minang untuk banjir bandang yang disertai balok-balok kayu, batu, dan benda lainnya
