Ismail (41) adalah Kepala Desa Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Ia juga Ketua Forum Kepala Desa Kecamatan Bandar Dua. Kecamatan ini memiliki 45 desa. Dua di antaranya, yaitu Desa Babah Krueng dan Desa Alue Keutapang, tercatat sebagai desa yang terdampak sangat parah. Di Babah Krueng, ketinggian banjir di beberapa titik mencapai tiga meter lebih.
Pada Rabu, 26 November 2025, Ismail berada di RSUD Pidie Jaya di Meureudu. Ia sedang mendampingi istrinya yang menjalani operasi caesar untuk melahirkan anak keempat mereka. Pada Rabu malam, ia menginap di rumah sakit. Tak memungkinkan baginya untuk langsung pulang dan meninggalkan istrinya yang baru dioperasi.
Namun, semalaman itu ia terus teringat pada kondisi desanya karena guyuran hujan tak kunjung berhenti. Ia teringat pada warganya yang berjumlah 350-an KK. Juga pada anak-anaknya yang ia titipkan pada ibunya di rumah.
Esoknya, Ismail kembali ke Babah Krueng dengan berjalan kaki dari Meureudu sejauh sebelas kilometer. Dalam perjalanan itu, Ismail sempat mampir ke Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya untuk menanyakan, apakah ada boat yang bisa digunakan untuk mengevakuasi warga.
“Saya harus segera pulang. Selain saya perlu memastikan bagaimana kondisi warga saya, anak-anak dan ibu saya juga sudah terjebak di rumah. Setelah mengevakuasi mereka (anak dan ibu) ke atap rumah, saya langsung bergegas untuk mengevakuasi masyarakat,” kata Ismail, Rabu, 10 Desember 2025.

Ismail dibantu oleh empat warga desa, mulai mengevakuasi warga yang terjebak di rumah-rumah. Fokus utamanya adalah warga yang rumahnya dekat dengan sungai. Ia juga menginisiasi memanggil relawan dari kelompok pramuka dan bergotong royong dengan masyarakat untuk membersihkan meunasah.
Mereka menggunakan alat bantu seadanya. Hanya dengan ban yang diikat pada seutas tali. Mereka dievakuasi ke meunasah.
Evakuasi berlangsung hingga pukul sebelas malam. Prosesnya juga sangat sulit karena listrik sudah padam dan arus banjir sangat deras.
Sesudah banjir surut, sambil terus berkoordinasi dengan Camat Bandar Dua, Ismail mengupayakan alat berat dari Samalanga untuk membersihkan lumpur di desanya, terutama yang menutupi akses jalan utama.
Alat berat bekerja selama delapan hari penuh. Sekitar satu ton bahan bakar habis untuk mengoperasikannya. Dan semua biaya tersebut ia keluarkan dari kantong sendiri.
Jalan Desa Babah Krueng merupakan akses utama menuju sebelas desa lainnya di kawasan Ulee Glee bagian barat. Jika Ismail tidak berinisiatif membersihkan jalan tersebut, maka akses ke sebelas desa lainnya akan terhambat.
Baginya, inilah bentuk tanggung jawabnya sebagai pemimpin desa. Ia sadar dirinya menjadi tumpuan harapan masyarakat.
Ia juga memastikan warga desanya tidak ada yang kelaparan. Karena itu, pada hari Jumat ia langsung berkoordinasi dengan pemerintah daerah sehingga desanya mendapat bantuan 80 sak beras. Bantuan kedua juga sudah diterima.
“Kita sebagai pemimpin harus bertanggung jawab seratus persen. Itu prinsip saya,” kata Ismail.

Ismail adalah putra asli Desa Babah Krueng. Ia bilang, di daerah itu memang rawan banjir. Namun, ini banjir terparah yang melanda desanya yang pernah ia saksikan selama hidup.
Berbeda dengan banjir-banjir yang pernah terjadi, banjir kali ini arusnya sangat deras. Banjir juga membawa lumpur yang kini mengendap di rumah-rumah warga. Endapan lumpur juga merusak kebun dan sawah warga.
Menurut Ismail, banjir takkan separah ini jika hutan-hutan di pegunungan sana tidak digunduli.
“Itulah problemnya. Di Pegunungan sana banyak pohon yang ditebang oleh oknum-oknum. Imbasnya ke masyarakat. Kami sangat kewalahan,” kata Ismail.
Seluruh warga desa merasakan pahitnya dampak buruk dari deforestasi. Bencana ini lebih dari sekadar banjir yang menggenangi permukiman. Lumpur tebal yang terbawa arus telah merusak kebun, sawah, dan fasilitas publik yang ada di desa.
Sumur-sumur warga tercemari lumpur dan tak bisa digunakan. Warga kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk air konsumsi, hanya mengandalkan air minum kemasan yang berasal dari bantuan.
Ada petani yang gagal panen. Sawah yang mestinya sudah bisa dibajak kembali kini tertutupi lapisan lumpur tebal. Sedangkan padi-padi hasil panen sebelumnya menjadi busuk karena terendam banjir.
Banjir memang sudah surut, tapi kini masyarakat dihantui oleh persoalan lain. Bagaimana mereka bertahan hidup setelah masa tanggap darurat berlalu?[]
