KENDARAAN roda empat yang dikemudikan Farhani menyusuri sepanjang Jalan Yos Sudarso Kota Takengon pagi itu, Rabu, 25 November 2025. Berangkat dari rumahnya di Jalan Malim Mudo, Farhani bermaksud mengantarkan adiknya yang mengajar di salah satu sekolah di daerah Toa, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Sekitar enam—tujuh kilometer dari tempat tinggal mereka di Tetunjung, Kecamatan Laut Tawar—kawasan ibu kota kabupaten. Farhani mengemudi dengan sangat awas.
Hujan yang terus mengguyur membuat jarak pandang Farhani terbatas. Bilah wiper di kaca depan terus bergerak ke kiri dan kanan, menyapu butiran air yang hinggap di kaca mobil. Pegunungan sekitar yang mengepung Kota Takengon seperti terbungkus selimut kelabu. Langit terlihat muram. Banjir mulai menggenangi titik-titik jalan yang lebih rendah. Dalam perjalanan pulang mobil Farhani sempat mogok di sekitar Pasar Paya Ilang. Sementara itu, genangan banjir makin tinggi. Farhani semakin tak tenang.
Dalam ingatan Farhani, sejak sepekan sebelumnya hujan memang terus mengguyur daerah berhawa sejuk itu. Puncaknya adalah di hari Rabu tersebut. Membuat Kota Takengon yang dingin semakin dingin.
“Cuaca saat itu sekitar 14 derajat,” kata Farhani saat ditemui di kediamannya, Senin, 16 Februari 2026.
Berhari-hari hujan membuat Farhani gelisah. Di benaknya terus-terusan timbul pertanyaan: ada apa ini, ya? Kok hujan nggak berhenti-berhenti. Ia pun menyibukkan diri dengan “bermain” ponsel. Membuka portal berita dan membaca informasi apa saja yang berseliweran di media sosial. Ke mana-mana pun tak bisa sebab hujan sama sekali tak berjeda.

Antrean panjang untuk mendapatkan layanan internet darurat di pascabencana pada 28 November 2025 di Takengon, Aceh Tengah.
Ia juga intens berkomunikasi dengan kakaknya yang tinggal di Kabupaten Bireuen. Namun, komunikasi itu terhenti saat Rabu siang listrik padam, diikuti sinyal internet yang hilang total. Farhani pun tak bisa lagi berselancar di dunia maya. Kondisi itu berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Selama hari-hari tersebut ia mengusir kebosanan dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an.
Informasi terakhir yang ia ketahui sebelum internet padam total adalah banjir di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, di pesisir utara Aceh. Informasi yang membuatnya bingung. Yang ia tahu, Juli tak pernah banjir. Ia penasaran, tetapi tak tahu mau mengonfirmasi ke siapa. Ia hanya menduga-duga, mungkin karena jebolnya Bendungan Irigasi Pante Lhong di Desa Beunyot.
Rasa penasaran itu terus bercokol di pikirannya sepanjang malam, bahkan berhari-hari. Belakangan ia tahu, banjir terjadi karena luapan Krueng Peusangan yang berhulu di dataran tinggi Gayo itu tak sanggup menahan debit air hujan. Alhasil, banjir bandang menyapu apa saja di selingkar pinggang Krueng Peusangan yang bermuara ke Selat Malaka. Mulai dari Kabupaten Aceh Tengah melalui Kabupaten Bener Meriah hingga ke Kabupaten Bireuen.
Di hari Minggu, Farhani mendapat kabar yang tak kalah mengejutkan, Jembatan Teupien Mane di Juli putus total. Bersamaan dengan itu, kebutuhan pokok di Kota Takengon mulai langka. Masyarakat mulai panik dan memborong apa saja yang bisa mereka beli. Tanpa jembatan itu, akses transportasi dari pantai utara menuju dataran tinggi Gayo otomatis terputus total. Beberapa jembatan yang ada di sepanjang jalur lintas Bireuen—Takengon juga putus, seperti Jembatan Tenge Besi (Bener Meriah) dan Jembatan Jamur Ujung (Aceh Tengah). Itu artinya, pasokan ke Takengon terhenti total. Tiga jalur alternatif dari Kabupaten Pidie (via Pameue), Kabupaten Nagan Raya (via Beutong), dan Kabupaten Aceh Utara (via Gunung Salak) juga terputus. Gayo terisolasi total.
Setelah internet putus, Farhani bukan hanya tak bisa menghubungi keluarganya yang ada di Bireuen, Pulau Sumatra, dan Pulau Jawa, termasuk keponakannya di Jepang. Ia juga tak bisa mengakses informasi apa pun. Bahkan tidak tahu-menahu apa yang terjadi di kecamatan-kecamatan sekitarnya. Dunia seolah menjadi hening.
Aceh Tengah merupakan salah satu kabupaten yang terletak di dataran tinggi Gayo. Berada pada titik koordinat 4022’ 14,42”–4042’ 40,8” LU dan 960 15’ 23,6” –970 22’ 10,76” BT. Topografinya didominasi oleh pegunungan dan perbukitan yang menjadi urat nadi Pegunungan Bukit Barisan. Berada pada ketinggian mulai dari 200—2.600 mdpl. Sebagian besar kawasan permukiman dan pusat kotanya berada di kisaran 1.200 mdpl. Kabupaten ini bertetangga dengan Bener Meriah—yang memiliki kondisi geografi dan topografi yang sama. Tak heran jika panorama alam dan suhu udara di daerah ini sangat indah dan sejuk.

Kondisi Gunung Bur Ni Telong pada 29 November sebelum dinyatakan Level III atau Siaga pada 30 Desember 2025.
Keindahan lanskap alam dan keberadaan Danau Lut Tawar di Gayo, ditambah Gunung Berapi Bur Ni Telong di Bener Meriah, menjadi magnet yang membuat Aceh Tengah menjelma menjadi daerah wisata. Ditambah daerah ini merupakan penghasil kopi arabika terbesar yang cita rasa dan kualitasnya telah mendunia. Memasuki akhir tahun merupakan puncak-puncak wisatawan berkunjung ke sini. Seiring dengan semakin populernya Aceh Tengah, berbagai kegiatan pemerintah juga kerap dibuat di Takengon, termasuk dari pemerintah pusat. Saat banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025, banyak wisatawan, buyer kopi, jurnalis, dan ASN dari berbagai instansi terperangkap berhari-hari di Aceh Tengah.
Pada Kamis, 27 November 2025, pemerintah daerah setempat mengoperasikan layanan telekomunikasi darurat di Kantor Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian. Berduyun-duyun orang datang ke sana. Antrean di pekarangan kantor mengular. Dengan jaringan internet yang sangat terbatas, setiap individu hanya diperbolehkan mengirim pesan kepada keluarganya melalui operator khusus. Farhani tidak termasuk yang mengantre di kantor tersebut.
“Saya sempat mengakses Starlink, tetapi yang ada di kantor kelurahan. Perangkatnya dibantu oleh pemerintah,” kata Farhani.
Banjir dan longsor tidak hanya memutus jembatan, tetapi juga meluruhkan lereng-lereng bukit dan menutupi badan jalan. Pascabanjir, Gunung Bur Ni Telong juga sempat terbatuk-batuk. Per 30 Desember 2025, pihak berwenang menaikkan statusnya menjadi Level III atau siaga. Keluarga Farhani di Bener Meriah terpaksa mengungsi ke rumahnya di Takengon. Pada 3 Januari 2026, levelnya diturunkan ke Level II atau waspada. Masyarakat pun sedikit lebih lega.
Jiwa Kemanusiaan yang Terpanggil

Seorang warga melintasi kawasan bencana di jalur alternatif yang menghubungkan Kabupaten Bener Meriah dengan Kabupaten Aceh Tengah via Desa Wih Porak Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kab Bener Meriah.
Farhani Elwani Syawal namanya. Ia biasa disapa Farhani. Perempuan berdarah Minang yang telah menjadi asoe lhok atau warga tempatan Desa Tetunjung itu lahir sebelum peristiwa pemberontakan pada tahun 1965. Ia menuturkan, kakeknya yang seorang sipir adalah orang Minang pertama yang menginjakkan kaki di Tanah Gayo pada tahun 1920-an. Bahkan, kata Tetunjung yang menjadi nama desa tersebut diambil dari bahasa Minang yang berarti terujung. Orang tua Farhani lahir di Tetunjung. Begitu juga dengan Farhani dan saudara-saudaranya. Karena itulah, tanpa melupakan leluhur asalnya, Farhani merasa dirinya sebagai orang Gayo tulen. Sebagai orang Aceh. Sehari-hari ia fasih berbahasa Gayo.
Farhani menghabiskan masa-masa SD hingga SMK di Takengon. Saat tiba waktunya masuk perguruan tinggi, ia memilih kuliah di Akademi Akuntansi Indonesia (AAI) di Kota Padang, di tanah asal leluhurnya. Selanjutnya, ia kuliah S-1 di Unversitas Medan Area (UMA). Setelah itu, ia pulang ke Takengon dan menjadi dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Putih. Ia mengajar ilmu akuntansi. Karena tuntutan profesi, ia pun melanjutkan S-2 ke Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Tamat pada tahun 2009. Setelah tidak lagi mengajar di kampus, Farhani sepenuhnya bekerja di Dinas Perdagangan Aceh Tengah. Di sanalah ia mengabdi selama belasan tahun hingga pensiun sejak dua tahun terakhir.
Di usia senjanya, setelah sang suami meninggal dunia, Farhani kini tinggal berdua dengan adiknya. Ia tidak memiliki buah hati. Meski begitu, ia tidak merasa kesepian. Ia tetap aktif dan eksis. Pribadinya hangat dan mudah bergaul. Ia rajin mengikuti pengajian agar hari-hari pascapensiun tidak membosankan. Ia juga semakin gandrung dengan internet karena memiliki banyak waktu luang.
“Kalau main internet bisa berjam-jam saya. Selain untuk mengobrol sama keluarga dan teman-teman di WhatsApp, saya menggunakan internet untuk mengakses media sosial, saya punya Facebook. Saya membaca berita-berita, terutama yang berkaitan dengan politik,” katanya.
Ia juga aktif sebagai pengurus masjid di kampungnya. Sesuatu yang sangat disyukuri oleh Farhani, khususnya di hari-hari pascabencana akhir tahun lalu. Karena jiwa lasaknya itulah dia tak bisa diam saat tahu banjir tersebut ternyata menimbulkan dampak yang sangat parah.
Berpuluh tahun hidup dan tinggal di Gayo, belum pernah ia melihat hujan turun berhari-hari selebat itu. Yang memicu terjadinya banjir bandang dan tanah longsor. Setelah Rabu terakhir di bulan November 2025 itu, pegunungan yang memagari Kota Takengon kini memiliki parut-parut bekas longsoran. Farhani merasa masygul setiap kali melihatnya.
Sehari setelah listrik padam dan internet putus total, Farhani masih berpikir semua baik-baik saja. Sampai, seorang kawannya bercerita, bahwa desa mereka–termasuk di kampung tetangga—mulai kedatangan para pengungsi yang berasal dari desa-desa di sekitar Danau Laut Tawar. Mereka tiba di Tetunjung setelah seharian berjalan kaki untuk keluar dari desa yang sudah tertimbun longsor. Cerita itu membuat Farhani tercengang dan kehilangan kata-kata.
“Ternyata sedemikian parahnya. Mereka cerita kalau rumahnya sudah hanyut,” kisahnya.
Mendengar cerita tersebut, jiwa kemanusiaan Farhani terpanggil. Ia tak bisa hanya diam dan berpangku tangan. Mula-mula, yang ia utarakan adalah keinginan untuk datang ke lokasi. Ia ingin memastikan dan melihat sendiri bagaimana kondisinya. Namun, keinginan itu ditentang oleh teman-temannya. Mereka meminta Farhani untuk “tahu diri”.
“Kita sudah tua, jangan nanti malah merepotkan orang. Sudah ada tim BPBD yang mengurus mereka,” kata Farhani menirukan larangan temannya saat ia mengajak mereka pergi ke daerah Mendale di sekitar danau.
Farhani memahami kekhawatiran temannya. Ia tak boleh memaksakan diri. Meskipun keinginan hatinya begitu kuat, dan ia pernah menaklukkan beberapa gunung di Sumatera Barat semasa mudanya dulu, tetapi kondisinya sekarang berbeda. Tungkai-tungkainya tak lagi sekuat dulu. Lagipula, hujan masih turun meskipun curahnya tidak lagi sederas hari-hari sebelumnya.
“Tapi karena keinginan saya begitu kuat, akhirnya di hari Sabtu ketika sudah tidak hujan lagi, saya pergi juga ke Mendale. Kami jalan kaki beberapa kilometer. Itu pun kami dimarah-marahi orang juga. Pulang dari situ saya bilang ke kawan, ‘Kita harus bantu mereka,’” kata Farhani penuh semangat.
Farhani berpikir cepat. Dalam kondisi tanggap darurat seperti itu, kebutuhan utama para pengungsi tentulah mendapatkan makanan. Ia pun berinisiatif mengumpulkan beras dari warga sekitar. Ia mendatangi satu per satu rumah warga di Tetunjung. Mengumpulkan beras berapa pun jumlahnya yang bisa mereka sumbang. Yang ingin menyumbangkan pakaian layak pakai juga diterima. Di luar perkiraan Farhani, kebanyakan para ibu rumah tangga di sana ternyata sudah menunggu-nunggu orang yang datang untuk menghimpun bantuan. Saat mengingat itu hati Farhani terasa hangat. Kepekaan hati perempuan telah mendorong mereka untuk meringankan beban para penyintas yang sedang kesulitan. Bahkan, salah satu teman Farhani yang mengelola home stay berinisiatif menggratiskan tempatnya bagi para relawan dari luar daerah. Ia membuat pengumuman khusus di media sosial sehingga informasnya dapat tersebar.
Perhatian Farhani tidak hanya pada pengungsi dari luar desa saja. Warga setempat yang berasal dari keluarga ekonomi lemah juga tak luput dari perhatiannya. Ia mengecek siapa saja warganya yang kehabisan beras atau kesulitan berbelanja karena tak punya uang. Ia prioritaskan hanya bagi yang benar-benar membutuhkan, seperti yang memiliki banyak anak. Supaya tidak terlalu mencolok, saat mengantarkan beras ia sembunyikan di balik mukenanya.
“Saya bilang sama warga, ‘eh berdosa kita kalau sempat ada warga kita kelaparan karena nggak bisa beli beras’. Makanya saya himpun lagi donasi beras untuk warga di sini. Ada yang saya antarkan setelah magrib, ada juga setelah subuh biar nggak dilihat sama yang lain,” ujarnya.
Beras-beras yang sudah dikumpulan itu kemudian dimasak oleh Farhani dan kawan-kawan. Selanjutnya, dibagikan kepada para pengungsi yang menempati masjid di desa tetangga. Lebih kurang sebulan lamanya ia memasak dan membagikan nasi bungkus untuk para pengungsi. Farhani juga berkeliling ke beberapa titik pengungsian yang ada di seputaran Kota Takengon untuk melihat langsung kondisi pengungsi.
Sebelum menggalang donasi beras, terlebih dahulu Farhani menghadap pada kepala dusun. Ia menyampaikan rencananya secara gamblang. Bahwa hasil donasi akan diberikan untuk pengungsi dan warga yang membutuhkan. Ide tersebut disambut baik dan disampaikan pada pengurus masjid. Kepala desa juga menyambut antusias dan memberi kewenangan penuh bagi Farhani.
Sebagai penduduk asli Tetunjung, Farhani merasa memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar. Ia termasuk orang yang dituakan dan warga menaruh hormat padanya. Kondisi ini memberinya keleluasaan karena suaranya masih didengar, usulan-usulannya dipertimbangkan. Hasilnya nyata, banyak warga yang mau menyumbang beras melalui dirinya.
Bencana, kata Farhani, memberikan dampak pada banyak hal, khususnya bagi perempuan. Urusan domestik yang selama ini selalu dibebankan kepada perempuan, menjadi “beban pikiran” sendiri bagi perempuan di tengah situasi menghadapi bencana. Ia mencontohkan salah satu tetangganya yang memiliki empat anak yang masih kecil-kecil. Saat bencana terjadi, suaminya sedang berada di Banda Aceh. Ia sendiri diliputi rasa waswas karena tak bisa mengirim atau menerima kabar dari suaminya akibat terputusnya saluran komunikasi. Sedangkan efek padamnya listrik menyebabkan banyak urusan domestik yang terbengkalai.
Selain tetap harus mengasuh anaknya yang masih kecil, tetangga tersebut juga harus memikirkan bagaimana caranya agar bisa menanak nasi dan anak-anaknya bisa tetap mandi, sedangkan bak air kosong karena PDAM juga turut padam. Belum lagi menghadapi kerewelan anak-anak. Kondisi seperti itu jelas-jelas membuat mereka kebingungan. Kelelahan bertambah. Melihat kesusahan tetangganya, Farhani memanggil tetangga lain dan meminta mereka membantu mengisi bak air di rumah tetangganya. Farhani juga mengeluarkan sampah-sampah di rumahnya dan meminta orang lain untuk membawanya ke bak pembuangan sampah.

Suasana Bandara Rembele di Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah yang biasanya lengang menjadi sangat ramai setelah bencana. Sebelum jalur darat bisa dilalui, satu-satunya jalan keluar dari Gayo hanya via udara.
Persoalan tak berhenti sampai di situ. Beberapa hari setelah bencana, kebutuhan bahan pokok di Takengon mulai langka. Utamanya beras. Panic buying telah menyebabkan stok sembako habis dengan cepat. Gas elpiji habis. Begitu juga dengan BBM. Nyaris semua SPBU kehabisan stok. Kalaupun ada yang masih memiliki stok, antreannya bisa hingga berkilo-kilometer. Harga minyak eceran per liter mencapai Rp25 ribu rupiah, bahkan ada yang menjual lebih. Harga satu tabung gas 3 kilogram mencapai ratusan ribu, yang 15 kg bahkan lebih dari satu juta rupiah. Sekitar sepuluh hari pascabencana, beras mulai masuk ke Takengon dan harganya gila-gilaan.
“Satu karung beras ada yang sampai Rp500 ribu rupiah. Syukurnya saya sudah belanja di hari Jumat. Karena cuma berdua di rumah jadi kami nggak perlu stok yang banyak. Gas sudah nggak ada waktu itu, kami masak balek sama kayu, masak dan mencuci dengan air sumur, syukurnya kami punya sumur di rumah.”
Mereka yang berada di pengungsian tentu lebih menyedihkan. Di hari-hari atau minggu-minggu pertama, banyak di antara mereka yang hanya terbengong-bengong saja di tenda atau tempat pengungsian. Tidak ada yang bisa dilakukan karena untuk urusan memasak biasanya masih dilakukan warga setempat. Minggu-minggu berikutnya baru para pengungsi terlibat di dapur umum sehingga mulai ada sedikit aktivitas.
Dijuluki si Ratu Share

Farhani mendokumentasikan struktur tanah yang menurutnya “unik” dengan ponsel pintarnya saat mengunjungi lokasi bencana di Desa Burlah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah pada 17 Februari 2026.
Farhani mulai mengenal internet sejak dekade 2000-an. Meskipun saat itu internet belum semasif sekarang dan penggunaannya masih terbatas, tetapi kehadirannya sangat membantu aktivitasnya sebagai seorang pendidik di perguruan tinggi. Ia jadi lebih mudah untuk mencari bahan ajar. Begitu juga saat ia bekerja sebagai PNS di instansi pemerintah, kehadiran internet memberikan kemudahan dalam banyak hal, terutama dalam mengakses informasi. Ia sudah menggunakan telepon seluler berbasis Android sejak lebih dari sepuluh tahun silam. Sebelum mengenal Android, ia menggunakan perangkat BlackBerry Messanger.
Dalam proses pengurusan pangkat atau pemberkasan lainnya dalam sistem administrasi kepegawaian, tinggal menginput data digital pada sistem data base yang telah ditentukan. Kehadiran internet juga telah melahirkan inovasi-inovasi berupa kemunculan berbagai aplikasi yang dapat memudahkan kerja-kerja pegawai. Jadi lebih efektif dan efisien. Farhani mengaku tak mengalami kendala dalam mengakses berbagai aplikasi untuk pegawai pemerintah. Di luar urusan pekerjaan, ia menggunakan internet untuk mencari resep masakan, mendengarkan ceramah-ceramah agama, hingga menonton video-video tentang kesehatan.
“Surat-surat dinas yang sebelumnya harus dikirim manual, sejak ada internet bisa kita kirim PDF, langsung diterima saat itu juga, jadi lebih hemat waktu dan biaya. Bayangkan kalau nggak ada internet, kita harus datangi semua kantor camat di Aceh Tengah ini, dan itu menghabiskan banyak waktu dan tenaga,” kata Farhani.
Farhani terdorong menggunakan Android mulanya karena sang adik yang disebutnya lebih “kekinian”. Jiwanya yang selalu penasaran jadi semakin terdesak untuk segera membeli. Meskipun dalam banyak hal ia kerap mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, tetapi yang berkaitan dengan IT, ia lebih suka berkonsultasi dengan anggota keluarga yang lebih paham.
“Seandainya salah, saya nggak dimarahi oleh mereka,” katanya sembari tertawa.
Sejak mengenal internet, Farhani mengaku sangat ketergantungan. Ia bahkan menyebut dirinya sudah “candu”. Betah berjam-jam menatap layar gawai. Aktivitas menggulir konten (scrolling) terasa sangat menyenangkan. Suatu waktu, sepupunya yang berdomisili di provinsi tetangga menegurnya karena terlalu banyak menghabiskan waktu untuk “bermain” ponsel. Ia pun menyarankan Farhani untuk mengikuti program belajar menerjamahkan Al-Qur’an dengan metode Tamyiz.
“Belajarnya online lewat HP,” begitu kata sepupunya. Terdorong oleh rasa penasaran, Farhani pun mendaftar. Ia mengikuti programnya, mengerjakan dan menyetorkan tugas-tugas harian. Ia menemukan keasyikan baru. Ternyata belajar Tamyiz sangat menyenangkan. Meskipun harus memelototi layar gawai berjam-jam, bahkan terkadang hingga larut malam, tetapi ia merasa menjadi lebih produktif. Dari hari ke hari pengetahuannya tentang Al-Qur’an bertambah. Ibadahnya menjadi lebih bermakna karena bacaan-bacaan Qur’an yang dihafal diketahui artinya. “Bahkan saya sudah bisa menuliskannya,” kata Farhani.
Kawan-kawannya terkadang meledeknya, nenek-nenek asyik main HP saja. Namun, sambil berseloroh Farhani menjawab, “Aku lagi kuliah S-3.”
Mengikuti program tersebut juga membuat jejaring pertemanan Farhani semakin luas. Ia kini punya teman online di berbagai daerah di Indonesia. Latar belakang mereka juga beragam. Pertemanan ini membuatnya selalu bersemangat melalui hari-hari setelah tak lagi menjadi pekerja kantoran. Farhani perlu membuat otaknya terus “bekerja” untuk mencegah kepikunan karena faktor usia. Semangat ini juga ia tularkan kepada teman-teman sesama lansia. Ia sering “mengompori” mereka supaya tak menyia-nyiakan ponselnya. “Jangan banyak bengong, gunakan HP untuk membaca informasi,” begitu ia sering mengatakan kepada teman-ttemannya.
“Alhamdulillah, sekarang sudah tujuh tahun saya belajar Tamyiz. Kalau saking asyiknya hingga jam dua—tiga malam biasa saja,” ujarnya.
Maka itu, saat bencana terjadi akhir tahun lalu dan internet padam untuk waktu yang sangat lama, Farhani sempat terkendala dalam mengerjakan tugas-tugas menerjemahkan Al-Qur’an. Ponselnya baru terkoneksi dengan jaringan internet setelah dua pekan. Sebagai pengguna provider Smartfren, jaringannya lebih lama pulih dibandingkan pengguna Telkomsel.
Hal pertama yang ia lakukan saat terhubung dengan internet adalah mengontak keluarganya yang ada di Bireuen, Bekasi, termasuk yang di Batam. Mereka sangat mencemaskan dirinya. Apalagi, keponakannya yang di Jepang melihat dari internet kalau Tetunjung sudah “putih” dan diyakini tenggelam oleh banjir. Informasi itu sempat membuat keluarganya panik. Saat terhubung kembali dengan dirinya, barulah mereka tenang.
“Mereka bilang, itu Ratu Share gimana, ya, enggak ada internet,” tuturnya.
Di grup keluarga ataupun grup-grup lainnya, Farhani dikenal rajin membagikan apa saja sehingga ia dijuluki “Ratu Share”. Baginya, setiap informasi yang diakses dan dirasa penting terasa kurang lengkap jika tidak dibagikan kepada mereka. Konten-konten yang sering ia bagikan, seperti informasi kesehatan atau ceramah agama dari ustaz favoritnya. Namun, tak semua yang dibagikan mendapat respons positif sebab ada juga konten yang meragukan. Seperti saat wabah Covid-19 berkecamuk, ada konten yang dibagikan oleh Farhani justru dipertanyakan kebenarannya.
“Ada yang bilang, ‘Apa itu di-share, itu kan hoaks.’ Kadang, memang ada yang cuma saya baca judul aja dan saya pikir bagus, ya, sudah, saya share aja. Toh nggak menghabiskan banya kuota juga,” katanya.
Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Farhani untuk berbagi informasi. Prinsipnya sederhana, jika tak suka dengan informasi yang dia bagikan, tinggal skip saja atau hapus. Nggak perlu ngomel-ngomel. Ia hanya ingin berbagi pengetahuan kepada mereka. Ia mengakui, jika informasi yang berseliweran di media sosial terkadang membingungkan. Namun, ia punya cara sendiri untuk “mendeteksi” hoaks. Dalam konteks bencana misalnya, pernah ia menemukan konten di Facebook yang menampilkan lokasi bencana seolah-olah di Aceh Tengah, ternyata bukan. Selain memperhatikan detail wilayahnya, ia juga menjadikan bahasa yang digunakan sebagai acuan. Misalnya, menampilkan konten seolah-olah di Gayo, tetapi cara bicaranya justru jauh dari kesan orang Gayo. Itu turut menjadi perhatian bagi Farhani.
Namun, yang paling sering ia dapatkan justru pesan-pesan penipuan yang mengatasnamakan institusi pajak atau pensiun. Farhani tak pernah terkecoh sebab modus penipuan seperti itu sudah ada sejak tahun 2000 melalui telepon rumah. Jika ada nomor-nomor asing yang masuk, ia juga memeriksa melalui aplikasi Getcontact. Justru ini menjadi kekhawatirannya bagaimana data pribadi seseorang sangat mudah bocor dan menjadi target penipuan di ranah digital.
Saat bencana, ketika listrik padam dan gas tidak ada, orang-orang pun mulai kembali memasak dengan kayu. Dalam kondisi seperti itu, kebiasaan Farhani berbagi ternyata sangat bermanfaat. Ketika salah seorang teman mudanya mengeluhkan cara menyalakan api dengan kayu, dengan senang hati Farhani membuat tutorialnya dan mengirimkannya kepada sang teman.
Berkaca dari bencana November 2025 lalu, meskipun intensitas hujan cukup tinggi dan Aceh Tengah merupakan daerah rawan longsor, tetapi tidak ada pesan atau informasi apa pun dari instansi pemerintah yang masuk ke ponselnya. Padahal, jika mengacu pada Undang-Undang Keterbukaan Informasi publik, pemerintah berkewajiban memberikan informasi serta merta kepada publik untuk mengantisipasi bahaya. Di antaranya, informasi tentang bencana alam dan situasi darurat.
Saling Menguatkan

Warga yang berdomisili di sekitar Danau Laut Tawar, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah mencuci pakaian ke danau pascabanjir bandang, Jumat, 29 November 2025.
Setelah kembali terakses internet, Farhani langsung berselancar. Barulah ia “melihat” kondisi yang sesungguhnya. Ia melihat di Pidie Jaya rumah-rumah tertimbun lumpur, begitu juga di Aceh Tamiang. Kabar-kabar tentang bencana ia akses melalui TikTok atau Instagram, tetapi yang paling sering melalui Facebook. Lebih dari 60 tahun umurnya, ia mengaku inilah banjir paling dahsyat yang pernah ia saksikan.
Ia meyakini bencana ini merupakan cobaan yang diberikan oleh Allah untuk Aceh, khususnya di Gayo. Ia tak menampik bahwa bencana tentu tak terjadi dengan sendirinya tanpa pemicu. Namun, ia tak ingin melihat dari sudut pandang politik atau perusakan lingkungan yang dilakukan oleh orang-orang tak bertanggung jawab karena dapat membangkitkan emosi dan sakit hati karena tak ada penyelesaian.
“Sakit hati, kecewa tetap karena hutan ditebangi, hasilnya diambil, sedangkan kita nggak dapat apa-apa kecuali bencana, kita menderita. Ini barusan saya baru saja tulis komentar, saya bilang ini investasi akhirat kita, yang penting kita ingat, kita nggak izin. Saya sebutir debu pun enggak izin, akhirat harus dibalikin sama si penjajah itu, si pengkhianat itu,” kata Farhani dengan suara bergetar.
Ia hanya ingin fokus pada apa yang bisa dilakukan. Misalnya, mengajak teman-temannya di WhatsApp grup untuk menggalang donasi kepada para pengungsi. Ia juga rajin menyambangi tempat-tempat pengungsian yang ada di seputar Kota Takengon. Ia melihat ibu-ibu dan anak-anak yang hanya bisa termenung. Wajah mereka menyiratkan trauma. Farhani sempat “protes” pada panitia pengungsian, mengapa mereka tidak dilibatkan. Setidaknya mereka bisa menghibur mereka. Hasil dari protes itu, panitia akhirnya menghubungi pihak dinas kesehatan. Psikolog didatangkan untuk menangani anak-anak yang mengalami trauma. Guru-guru relawan juga didatangkan ke pengungsian untuk mengajari anak-anak.
“Saya bilang ke mereka, jangan terlalu larut dengan aktivitas penebangan hutan karena semakin membuat mereka stres.”
Bagi Farhani, aktivitas sosial seperti itu bukan hal baru. Gerakan serupa sudah pernah ia lakukan dua dekade silam saat gempa dan tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004. Waktu itu, ia juga sibuk menggalang donasi untuk disumbangkan kepada para penyintas yang umumnya mendiami kawasan pesisir. Setelah peristiwa besar itu, edukasi tentang mitigasi gempa dan tsunami lebih sering didengungkan. Namun, untuk bencana-bencana lain, semacam mitigasi banjir atau longsor menurutnya hampir tak pernah disosialisasikan.
Ia juga tak berusaha untuk mencari tahu melalui situs-situs resmi, seperti situs BMKG atau situs kebencanaan lainnya. Pun, setelah bencana November 2025 lalu. Melihat informasi bencana justru memicu rasa takut dan trauma yang belum sepenuhnya hilang dalam dirinya. Dalam keadaan demikian, ia hanya memasrahkan diri kepada Tuhan.[]
Karya jurnalistik ini merupakan hasil kerja sama Perempuan Peduli Leuser (perempuanleuser.com) dengan Combine Resource Innovation (combine.or.id) untuk liputan dengan topik Perempuan, Internet, dan Kebencanaan.
