Namanya Ismail. Usianya (baru) 41 tahun. Seorang suami dan ayah dari empat anak. Anak bungsunya, lahir pada hari Rabu, 26 November 2025. Melalui operasi caesar Di RSUD Pidie Jaya. Di rumah sakit, saat Ismail sedang menunggui istrinya dioperasi, suhu ruangan terasa dingin. Di luar sana, udara juga tak kalah dingin. Sudah berhari-hari hujan turun. Alih-alih mereda, guyurannya justru semakin lebat.
Belakangan, kita tahu, cuaca ekstrem ini akibat terjadinya Siklon Tropis Senyar. Siklon tropis langka yang tumbuh di sekitar Selat Malaka pada November 2025 lalu. Memicu cuaca ekstrem berupa hujan sangat lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi. Anomali yang terjadi akibat pemanasan global. Senyar, istilah yang asing dan (mungkin) baru kita dengar setelah amuk badai itu terjadi. Tapi sebenarnya, kita sering mengalami senyar. Pernah mengalami siku terantuk dengan benda keras dan memberikan rasa sakit yang “aneh”? Ya, itulah senyar.
Ismail adalah Kepala Desa Babah Krueng, Pidie Jaya. Saya bertemu dengannya saat ikut rombongan Gerakan Perempuan Aceh yang mengantarkan bantuan ke sana pada Rabu, 10 Desember 2025. Sosok yang ramah. Cekatan. Sigap.
Ia adalah wali bagi warganya yang berjumlah 330 kepala keluarga. Bagi seribu lebih jiwa. Maka, ketika pada Rabu malam itu ia menginap di rumah sakit untuk menemani istrinya, pikirannya terus-menerus tertuju pada kampungnya di Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Ia gusar semalam suntuk. Kabar demi kabar dari kampung terus masuk ke ponselnya.
Pada Kamis pagi, buru-buru Ismail pulang ke Babah Krueng. Ia pamit pada istrinya yang penuh pengertian. Ia tinggalkan bayinya yang masih merah bersama ibunya di rumah sakit. Ia pulang ke Babah Krueng dari Meureudu. Jauhnya sebelas kilometer. Dengan berjalan kaki. Otaknya berpikir cepat. Dalam perjalanan dari Meureudu itu, Ismail sempat mampir ke kantor BPBD Pidie Jaya. Barangkali ada boat yang bisa dipakai untuk mengeksekusi warga yang terjebak banjir. Tapi rupanya tidak ada.
Benar saja, jika ia tak cepat pulang. Barangkali akan ada warganya yang hanyut terbawa arus. Anak-anak dan lansia banyak yang terjebak banjir. Ismail tak kehabisan akal. Meski tak ada boat, ia mengevakuasi dengan alat bantu apa yang bisa. Ia gunakan ban mobil. Ia evakuasi warga dengan tangannya sendiri. Empat warga lain membantunya, meski tahu risikonya tinggi. Mereka dievakuasi ke meunasah yang berbentuk panggung.
“Kalau saya tak bergerak, nyawa warga saya terancam,” katanya.
Di hari Jumat, saat banjir mulai surut, ia bergegas pergi ke kantor bupati. Ia mencari beras. Warganya, terutama bayi dan anak-anak, bisa kelaparan jika tidak segera ada bantuan logistik. Hasilnya, 80 sak beras ia dapatkan. Bantuan kedua, berton-ton beras juga sudah diperoleh.
Ismail menceritakan itu saat kami “transit” sebentar di pekarangan kantor desa—sebelum pergi ke meunasah. Ia bercerita dengan penuh empati. Ketulusannya terpancar. Bukan asal karang agar terlihat keren. Padahal, dirinya sendiri juga korban. Anak-anak dan ibunya pun sempat terjebak di rumah. Ia berhasil mengevakuasi mereka ke atap rumah. Di rumah Ismail, ketinggiar air mencapai tiga meter lebih.
Setelah banjir surut, Babah Krueng penuh dengan endapan lumpur. Tinggi endapan bervariasi, tergantung tinggi rendahnya permukaan. Halaman sekolah, kantor desa, pekarangan meunasah, dan rumah-rumah penduduk semua terendap lumpur. Warga meminta Ismail untuk mencari beko untuk mengeruk lumpur tebal.
“Saya minta waktu pada warga satu jam,” katanya.
Ia berkoordinasi dengan camat. Menghubungi pihak yang memiliki alat berat di Samalanga, Kabupaten Bireuen. Tak sampai satu jam, ia dapatkan kepastian soal beko. Beko itu, tentu butuh bahan bakar untuk mengoperasikannya. Tentu ada jasa operator yang mesti dihitung—meskipun mungkin ada diskon. Ismail cepat mengambil keputusan, yang penting beko bisa langsung bekerja.
“Saya tancap gas, cari alat berat, saya usaha sendiri. Kita sebagai pemimpin harus bertanggung jawab seratus persen. Itu prinsip saya,” katanya.
Total delapan hari beko itu bekerja. BBM yang dihabiskan hingga satu ton. Biaya yang dihabiskan? Ismail menyebut angka dua digit. Uangnya dari mana? Dari kantong pribadi Ismail.
Baginya, uang bisa dicari. Tapi kesempatan untuk menjadi kepala desa yang bertanggung jawab dan ada 24 jam bagi warganya mungkin tidak datang dua kali. Ia tipikal kepala desa yang berprinsip. Tak sekalipun meninggalkan warganya kecuali untuk mencari bantuan.
Ismail sigap. Dia tahu apa yang mesti dilakukan. Mana yang mesti didahulukan. Dia tahu, warganya sudah kelelahan karena baru saja mengalami bencana. Ditambah harus membersihkan rumah dari lumpur. Karena itu, ia mengoordinaskan sepuluh relawan Pramuka Pidie Jaya untuk membersihkan meunasah. Ismail cerdik. Setelah ia panggil relawan, ia katakan kepada warga: ayo kita sama-sama bergotong royong. Ia sendiri, turut serta memegang cangkul, di sela-sela mengurus ini-itu sesuai tanggung jawabnya sebagai kepala desa—juga sebagai Ketua Forum Kepala Desa Bandar Dua.
Maka, pada hari Rabu (10/12) itu, sepuluh relawan Pramuka, dan warga desa yang muda-muda, sama-sama bergotong royong membersihkan lumpur di kolong dan pekarangan meunasah Babah Krueng.
Ismail juga tanggap. Ia tahu apa yang menjadi kebutuhan mendesak bagi warganya: air bersih. Maka, ia pun mengupayakan sehingga diperoleh bantuan satu unit sumur bor. Sumur itu digali di pekarangan meunasah. Di tempat umum. Di pekarangan rumah ibadah. Saat semua serbasulit, jangan sampai untuk beribadah pun kesulitan karena tak ada air untuk bersuci.
Ia juga bukan pemimpin yang egois. Pertimbangan segera membersihkan jalan dari endapan lumpur karena ada sebelas desa lagi yang akses utamanya lewat Babah Krueng. Agar bantuan ke desa-desa yang lain itu jadi mudah disalurkan. Agar desa-desa itu tak lumpuh. Cara berpikir Ismail sangat taktis dan sistematis.
Pada pertemuan hari itu, jika ada yang saya “sesalkan” dari Ismail adalah pernyataan minta maafnya. Ya, ia “minta maaf” karena katanya kami datang dalam kondisi desa yang sedang “kacau”. Dalam keadaan warga desa tak bisa memuliakan tamu (peumulia jamee). Ya, Allah, Pak ….[]
