Nyawa yang Dihabisi Mungkin Tidak Pernah Bisa Kita Ikhlaskan

Bukan karena saya tidak takut, akan tetapi passion berbisnis yang saya miliki menambah sejumput keberanian untuk terus maju di masa mencekam itu.

Nasriana (55)
Warga Gampong Meunasah Bak U, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar

Saya lahir di Gampong Meunasah Bak U, Kecamatan Leupung, pada 18 September 1970. Saya ingin mengisahkan sekelumit pengalaman hidup ketika melalui masa-masa kelam selama konflik bersenjata di Aceh.

Tahun 1990-an, ketika konflik terjadi, saya sudah menjalankan bisnis mode dengan menjual pakaian dari Jakarta yang kemudian dibawa masuk ke Malaysia melalui penerbangan Medan. Tahun 1997 dan 1998, kondisi Banda Aceh cenderung aman, tetapi berbeda dengan kondisi di daerah-daerah. Selama perjalanan bisnis itu, momentum konflik bersenjata terpanas di Aceh yang saya rasakan terjadi pada tahun 1999.

Di masa konflik bersenjata, saya memang jarang menetap di gampong karena harus bolak-balik melakukan perjalanan bisnis. Namun, selama perjalanan saya kerap melihat langsung masyarakat yang dihilangkan secara paksa saat sweeping militer.

Walau di tengah runyam masa konflik bersenjata, saya tetap memutuskan berbisnis ke Malaysia. Bukan karena saya tidak takut, akan tetapi passion berbisnis yang saya miliki menambah sejumput keberanian untuk terus maju di masa mencekam itu.

Kami pernah ditodong senjata di Lhoksemawe. Lutut gemetar, jantung berdebar kencang. Ada sekitar 2-3 kali saya melihat penumpang yang diambil dan dihilangkan. Saya terus berselawat selama perjalanan itu.

Saya tidak merasakan secara instens efek dari konflik bersenjata. Akan tetapi, keluarga besar saya yang menetap di Leupung menjadi korban dari sengketa senjata antara TNI dan GAM. Di lorong rumah kami di Leupung, baku tembak terjadi.

Akan tetapi tetap saja, bencana kemanusiaan tersebut tetap menyisakan serpihan luka di batin saya. Walau tidak melihat dan tidak merasakan secara langsung penyiksaan atau pembunuhan semasa konflik, akan tetapi kenangan ngeri tersebut tetap saja menghantui hingga kini.

Kalau melihat senjata, rasanya trauma berat. Kalau gempa-tsunami itu saya pikir memang takdir, ya, sudahlah. Tetapi masa konflik itu menderita sekali. Nyawa yang dihabisi mungkin tidak pernah bisa kita ikhlaskan.

Leupung memiliki sejarah panjang yang cukup kelam. Kecamatan Leupung bukan saja salah satu wilayah terparah di Aceh yang dihantam bencana megatsunami, melainkan juga daerah bekas konflik bersenjata.

Di wilayah ini, gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dari Daerah IV Sagoe XXV (struktur militer GAM Aceh Rayeuk) melakukan operasinya.[]

Artikel Lainnya Seperti Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru