Banyak Hal yang Terjadi di Luar Akal Sehat

Di masa konflik, banyak hal yang terjadi di luar akal sehat. Sedangkan di masa damai, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Hafsah binti Abdullah (58)
Warga Gampong Keude Dua, Kecamatan Darul Ihsan, Kabupaten Aceh Timur

Saya mulai menyadari ada sesuatu yang tidak “beres” di Aceh sejak tahun 1980-an. Saat itu saya belum menikah. Kebetulan orang tua saya berasal dari Pidie–salah satu basis konflik yang sangat parah. Pada masa itu, orang-orang belum memiliki sarana MCK di dalam rumah seperti sekarang. Alhasil, ketika mereka ingin BAB harus pergi ke sungai atau ke kebun di sekitar rumah.

Saya ingat sekali, salah satu tetangga memperingatkan saya untuk berhati-hati jika ingin BAB di malam hari. Katanya, nanti bisa kepergok dengan “orang-orang” yang kemungkinan ada di dekat rumah-rumah warga.

Siapa orang itu? Katanya AM. Apa itu AM? Belakangan saya baru tahu kalau itu singkatan untuk Aceh Merdeka.

Setelah menikah, saya ikut suami ke Aceh Timur. Kami tinggal di pedalaman Kecamatan Idi Rayek. Memasuki tahun 1990-an, desas-desus mengenai sesuatu yang tidak beres itu semakin nyata. Kehidupan kami yang semula tenang menjadi terusik sehingga harus mengungsi.

Itulah untuk pertama kalinya saya merasakan menjadi pengungsi, pada awal tahun 1990-an. Setelah situasi agak tenang, kami kembali lagi ke kampung. Lebih dari separuh warga kampung kami yang suku Jawa tak kembali lagi.

Pada tahun 1999, situasi kembali memanas, kami kembali mengungsi. Saya kira, saya masih bisa kembali ke kampung seperti sebelumnya. Ternyata, sampai hari ini kami tak kembali lagi ke sana. Rumah kami terpaksa dibongkar. Sedangkan rumah salah satu keluarga saya dibakar OTK. Beberapa kerabat saya memutuskan untuk menetap di Sumut.

Hingga beberapa tahun setelah itu kami tinggal di rumah orang. Mencari nafkah sangat sulit saat itu. Para suami tak bisa ke kebun tanpa ditemani istri. Tapi, ada juga peristiwa memilukan. Seseorang yang saya kenal, istrinya suku Jawa–justru ditembak oleh OTK saat sedang memetik cokelat.

Selain punya kebun, suami saya juga pedagang hasil bumi. Truk kami pernah diancam bakar oleh awak nanggroe. Ancaman yang kami rasakan dari kedua belah pihak. Suami saya termasuk segelintir laki-laki di kampung kami yang memilih untuk tetap bertahan di kampung pada saat itu. Pernah ada tentara yang mengomel, katanya asal mereka masuk ke kampung kami jarang sekali terlihat ada laki-laki.

Pada masa itu, kabar kematian menjadi “makanan” sehari-hari kami. Telinga kami terbiasa mendengar suara letusan senjata, suara ledakan, suara panser dan truk reo yang horor, hingga suara helikopter yang datang untuk mengambil mayat. Saya pernah melihat jasad yang masih menggelepar-gelepar setelah ditembak, pernah melihat jasad yang lututnya terpelintir. Semua ingatan itu masih terang di ingatan. Suami saya juga pernah dipukuli oleh TNI hingga bergeser tulang rusuknya.

Di masa konflik, banyak hal yang terjadi di luar akal sehat. Misalnya, kendaraan jenis RX King atau GL Pro, termasuk baju mantel dianggap identik dengan GAM. Saat terjadi perang besar di Idi Rayek, saya terpaksa mencemplungkan mantel suami saya ke sumur. Kemudian, jika rumah kita pernah atau sering didatangi aparat, justru dicurigai oleh pihak GAM. Begitu terjepitnya keadaan masyarakat saat itu.

Damai ini tentu harus disyukuri. Ini anugerah dari Allah. Setelah damai mencari nafkah menjadi lebih tenang. Tapi, saya lihat, yang kaya kaya terus, yang miskin miskin terus. Orang-orang di kampung saya masih banyak yang kesulitan mencari pekerjaan. Bahkan salah satu tetangga saya yang suaminya korban peristiwa berdarah PT Bumi Flora, sampai hari ini masih tinggal di tanah wakaf.[]

Artikel Lainnya Seperti Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru