Rasanya sangat nikmat bisa tidur di tempat tidur lagi, bukan di kolongnya seperti pada masa konflik.
Musni (48)
Warga Gampong Pawoh, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya
Sekitar tahun 2001—2003, saya bekerja sebagai operator di sebuah wartel di Kota Blangpidie. Wartel itu berada di bagian belakang sebuah kafe yang cukup laris.
Masa itu, ada banyak pos aparat dibangun di Blangpidie, sepanjang jalan menuju Susoh, juga di jalan menuju Tapaktuan.
Sedikit pengalaman “menarik”, saya pernah ditodong pistol, diancam akan dibunuh, karena saya meminta agar para pelanggan yang masih duduk di kafe untuk beranjak. Sebab hari itu hari Jumat, menjelang salat, jadi kafe dan wartel akan ditutup.
Rupanya, salah satu pelanggan tak terima. Dia mengejar saya ke belakang, pistol di tangan.
Saya lari ke wartel, cepat-cepat mengunci pintu lalu menelepon abang sepupu di Pos SGI.
Sambil menunggu abang saya datang, saya gemetaran mendengar pelanggan berbaju loreng di luar berteriak-teriak sambil menendang dan berusaha mendobrak pintu wartel.
Syukurlah, abang saya segera datang. Peristiwa itu berakhir damai. Rupanya pangkat abang saya lebih tinggi, sehingga setelah diajak bicara oleh abang saya, pelanggan yang anggota TNI itu tidak pernah merusuh lagi di kafe.
Masa itu sangat tegang, saya jarang berani tidur di kampung (Pawoh), dan memilih tidur di rumah kakak saya di Blangpidie. Sebab di kampung setiap malam suasana sangat mencekam.
Orang laki semuanya bersembunyi menyelamatkan diri, takut akan “diangkat” aparat. Kami pun tidur di lantai, karena takut terkena peluru nyasar bila terjadi kontak senjata.
Waktu tentara (nonorganik) ditarik pulang, saya merasakan kelegaan. Saya kembali berani tidur di kampung.
Semoga Damai Berlangsung Abadi
Saya bersyukur dengan apa yang sudah kami dapat, tapi kan tidak salah kalau kami berharap dapat meningkatkan hidup kami?
Cut Fahmeulu (39)
Warga Dusun Merpati, Gampong Blang Oi, Banda Aceh
Kampung saya di Lhoong, Aceh Besar. Masa konflik saya masih duduk di bangku SMP. Waktu itu, terutama masa referendum, setiap kali patroli aparat lewat, kami anak-anak sekolah diwajibkan (oleh GAM) untuk berdiri di ambang pintu atau di teras rumah, sambil meneriakkan yel-yel: :ACEH MERDEKA! ACEH MERDEKA! REFERENDUM YESSS!!!
Ada abang-abang dan kakak-kakak mahasiswa yang kerap datang ke kampung untuk sosialisasi tentang referendum. Kami iya iya saja, karena anak SMP apalah yang kami ketahui.
Bukan mau sombong, gadis di kampung saya terkenal elok. Banyak kawan saya yang lebih tua (usia 17-20 th) pacaran dengan aparat yang bertugas di pos-pos yang didirikan di seputar kampung saya. Sedihnya, ketika hubungan mereka dengan serdadu Indonesia diketahui (oleh GAM), tidak sedikit dari mereka malam-malam dibawa ke gunung. Ada yang setelah dua-tiga hari dikembalikan dalam kondisi stres dan trauma, tapi banyak juga yang tidak kembali.
Masa itu, kami sering sekali mendengar letusan senjata, bahkan tembakan beruntun minimi. Setiap kali mendengar tembakan, kami cepat-cepat tiarap. Kontak senjata terjadi tak kenal waktu, cukup sering ketika kami pulang sekolah mendadak terdengar tembakan. Kami semua buru-buru tiarap, tak peduli di jalan, lumpur atau resam berduri. Yang penting selamat.
Masa remaja saya rasanya mencekam sekali, karena terus-terusan terjadi kontak senjata, juga penculikan. Kalau ke gunung, kami juga cukup sering menemukan mayat. Ketika akhirnya damai terjadi, rasanya seperti surga hidup ini.
Saya berani ke mana-mana, bahkan sendiri pun berani. Kami pun berani memulai usaha, dan menjalani hidup dengan tenang. Hanya, makin lama kenapa makin sulit bagi kami untuk mengembangkan usaha, ya? Harga barang naik semakin tinggi sementara modal kami segini-gini saja.
Tadinya kami berharap, damai akan membawa kemakmuran. Saya bersyukur dengan apa yang sudah kami dapat, tapi kan tidak salah kalau kami berharap dapat meningkatkan hidup kami?
Suami pernah mencoba menjadi sopir ojol, tapi tak bertahan lama karena bagian keuntungan dari aplikasi untuk supir sedikit sekali. Sekarang alhamdulillah anak saya yang sulung sudah bekerja, jadi beban kami sudah berkurang. Semoga damai berlangsung abadi.[]
