Tanah kering teronggok di tepi jalan, membentuk tanggul panjang yang mengepulkan debu setiap kali angin bertiup. Tanggul ini rerata tingginya satu meter. Di beberapa tempat bahkan mencapai satu setengah meter.
Ahad, 14 Februari 2026, Gampong Paya Rabo Lhok, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, masih dipeluk dampak banjir dahsyat November 2025. Warna coklat menguasai pemandangan. Dinding rumah-rumah seolah terpoles cat warna khaki. Jalanan berselaput kerak. Warna sendu merayap bahkan pada daun pepohonan. Sebagian mengering, mati. Menjadi saksi dahsyatnya gempuran air yang mengamuk.
Diam-diam kami berdoa agar hujan cuti hari ini. Kami berbekal jas hujan, tetapi sekali hujan turun, seluruh jalanan akan berubah licin berlumpur. Kendaraan kami yang bukan four wheel drive dipastikan akan mengalami kesulitan. Kami juga tidak membawa pacok, sepatu bot karet.
“Dua minggu ini sudah lumayan, Kak,” kata field buddy kami, Nurwida. “Sebagian besar rumah sudah bebas tumpukan lumpur. Kami juga sudah mulai bisa mendapat akses ke air bersih.”
Keluarga Nurwida, akrab disapa Wida, harus mengeluarkan biaya dua setengah juta rupiah untuk membersihkan sumur. Sumber air di rumah mereka tercemari air banjir plus sedimen lumpur. Airnya yang semula jernih berubah kental berminyak. Boro-boro untuk minum. Untuk mandi pun tak layak.
“Jadi bagaimana kalian minum, pasca banjir?”
“Kami kan mengungsi, Kak. Ada bantuan di pengungsian.”
Setelah minum teh hangat yang disuguhkan, Tim perempuanleuser.com diantar Wida menyusuri jalan, lalu mendaki sebuah tanggul. Di puncak tanggul ada dua bangunan kayu, keduanya berlapis debu kuning tua. Kami melewati bangunan pertama, menuju rumah di bagian belakang. Rumah itu rumah panggung. Didirikan di atas beberapa tiang pancang. Dulu tentunya tiang-tiang itu menancap langsung ke tanah. Sekarang mereka terbenam dalam lapisan sedimen. Hanya tangga ke pintu utama yang nampak.
“Tinggi air sampai di sana,” Wida menunjuk ke atas. Ada garis kuning gelap di dinding kayu, sedikit di bawah plafon. Sekitar tiga meter dari lantai rumah, atau empat meter dari tanah.
“Kami sudah biasa menghadapi banjir tahunan. Tapi banjir November kemarin itu diluar dugaan,” kata Wida.

Gampong Paya Rabo Lhok dialiri Sungai Sawang, bagian dari DAS (Daerah Aliran Sungai) Krueng Peusangan. Hulu DAS Krueng Peusangan ada di Danau Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah. Seperti sebuah keluarga besar, Krueng Peusangan dan anak-anaknya mengalir sepanjang 128 km, melintasi lima kabupaten/kota, mulai dari Kabupaten Bener Meriah hingga bertemu Selat Malaka di Kabupaten Bireuen.
Setiap tahun Sungai Sawang menampung limpahan air dari Krueng Peusangan, yang setiap tahun juga menerima grojogan air dari gunung gemunung sekitarnya. Menurut Direktur Politeknik Artificial Intelligence Budi Mulia Dua Yogyakarta, Dr Ridho Rahmadi, dalam presentasi di kanal berbagi videonya, rimba di gunung gemunung sekitar hulu DAS Krueng Peusangan mengalami perubahan besar dalam satu dekade terakhir. Tampilan citra satelit dari daerah itu menunjukkan deforestasi berat. Warna hijau tua rimba berubah menjadi hijau sage perkebunan sawit. Padahal daerah hulu sungai ditetapkan sebagai daerah konservasi dan serapan air. Seharusnya fungsi ini bersifat tetap, tidak dapat diubah.
Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI No.170 Tahun 2000 tentang Penunjukan kawasan Hutan dan Perairan, menyatakan bahwa 167.443 hektare atau 65% dari luasan kawasan DAS Peusangan adalah kawasan budi daya atau areal penggunaan lain. Sebanyak 47.816 hektare (18%) merupakan hutan lindung; 24.383 hektare (9,5%) hutan produksi; sisanya berupa kawasan hutan produksi terbatas, suaka alam, dan perairan.
Dalam wawancara dengan Mongabay pada tahun 2017, Kepala Dinas Kehutanan Aceh Husaini Syamaun mengatakan bahwa beberapa DAS di Aceh ada dalam kondisi kritis. Dan DAS Krueng Peusangan adalah yang paling gawat. Ini disebabkan pembukaan kawasan hutan untuk dijadikan perkebunan kopi dan kentang. Galian C juga menjadi faktor perusak. Padahal tidak ada izin untuk galian C di DAS Peusangan, walau kenyataan di lapangan mengatakan lain (Mongabay Indonesia, 24 Januari 2017).
“Dulu kalau banjir, biasanya tidak tinggi. Paling-paling sebetis, pernah juga sepaha,” kata seorang perempuan paruh baya yang mengikuti Tim ke rumah narasumber, “tapi tidak pernah seperti kemarin (November 2025).”
“Kami pasrah saja. Sejak saya lahir, memang selalu banjir. Jadi saya pikir, memang akan selalu seperti ini,” kalimat itu dikeluarkan Dara, narasumber kami, saat ditanya apa yang dipikirkannya tentang banjir tahunan itu. Gadis langsing berkulit terang ini ekspresinya malu-malu, wajahnya kerap disembunyikan ke dinding, atau ke balik kain yang menudungi kepala. Suara bebek meleter dan kanak-kanak bermain menjadi latar percakapan kami.
Dara Assyifa, kelahiran Februari 2005, selesai SMP melanjutkan pendidikannya di Dayah Nasrul Muta’llimin, Bungkah. Sehari-hari dia menggarap sawah yang dulu biasa digarap ayahnya. Dia tinggal bersama dua adik laki-lakinya, di rumah kayu di Dusun Damee Sabe, yang dikepung sedimen banjir itu. Plafon rumah itu tak ada. Dengan menengadah sedikit, kita dapat melihat langsung pada kayu-kayu kasau dan atap seng. Kasur diletakkan di lantai, bersama beberapa barang lain. Termasuk satu lemari kecil berisi barang pecah belah.
“Ayah di Lhokseumawe bersama kakak. Ibu di Malaysia,” dengan lirih dia menjelaskan absennya orang tuanya. Dara anak keempat dari enam bersaudara. Kakak-kakaknya sudah berkeluarga di rantau. Salah seorang tinggal di Kota Lhokseumawe.
“Ayah sakit mata. Jadi Kakak membawanya ke Lhok, supaya mudah berobat.” Saat banjir bandang menyerbu Paya Rabo Lhok, Dara dan adik-adiknya mengarungi air setinggi pinggang, menuju Lapangan Desa Paya Rabo. Belajar dari pengalaman, lapangan itu biasanya tidak terdampak banjir. Pun di sana lebih mudah mendapatkan sinyal telepon selular, karena ada sebuah menara salah satu provider seluler di sana.
Dara mengaku sangat takut, karena listrik mati, kondisi desanya gelap gulita. Dia memegang telepon genggamnya erat-erat. Tangannya diangkat setinggi mungkin, agar ponselnya terhindar dari air.
“Waktu itu saya hanya berpikir, saya harus bisa menghubungi Kakak di Lhok(seumawe). Supaya bisa mengabari tentang kondisi kami,” kata Dara.

Lapangan Desa Paya Rabo ternyata terkena banjir juga. Walau hanya setinggi mata kaki, tapi alirannya deras. Dara dan adik-adiknya berhasil menemukan tempat di mana mereka bisa berdiri, tidak terlalu terganggu arus banjir. Tak lama setelah tiba di Lapangan Desa, Dara segera menerima panggilan telepon dari kakaknya. Sinyalnya buruk, terputus-putus. Namun, sang kakak sempat menanyakan seberapa tingginya banjir di Paya Rabo, dan apakah Dara serta kedua adiknya baik-baik saja.
“Kami mengungsi di Dayah (Pesantren) Darul Al Ikhlas. Di sana memang selalu kering, tidak pernah kebanjiran,” jelas Dara.
Selama di pengungsian, dia mengandalkan telepon genggamnya untuk tetap berhubungan dengan keluarganya. Pada hari-hari normal, benda itu juga menjadi ruang rehat dari kerja berat menggarap sawah. TikTok adalah aplikasi pilihannya, walaupun dia tidak bisa menyebutkan TikToker favoritnya. Pokoknya scrolling, katanya. Konten Aceh yang selalu ditontonnya. Selain itu, dia suka mengakses film-film Hindustan melalui YouTube.
Dia menggeleng ketika ditanya apakah dia menggunakan TikTok atau YouTube untuk mencari tahu tentang bencana yang melanda Paya Rabo Lhok.
“Ya, pernah dengar,” katanya tentang Siklon Senyar. Tapi dia tidak begitu paham kaitan Siklon Senyar dengan banjir. Dia juga tidak mencoba mencari informasi lebih lanjut. Tapi alasan Dara mengapa dia tidak cari tahu tentang Senyar, cukup seronok.
“Nggak tertarik,” katanya polos. “Soalnya kan memang (kampung ini) tiap tahun banjir. Jadi ya biasa saja. Tapi saya diberi tahu orang tentang Siklon Senyar. Katanya banjir ini gara-gara Senyar. Cuma saya nggak paham apa itu siklon.”
Beberapa hari mengungsi, Dara dijemput kakaknya yang tinggal di Lhokseumawe. Jarak antara Gampong Paya Rabo Lhok-Kota Lhokseumawe biasanya dapat ditempuh dalam satu jam saja. Kalau kakak Dara memerlukan waktu hingga begitu lama untuk sampai kampung mereka, itu menunjukkan halangan yang harus dihadapi.
Dara menginap di rumah kakaknya selama dua pekan. Lalu keluarga memutuskan bahwa Dara dan adik-adiknya harus kembali, untuk menjaga rumah mereka. Pulang ke Paya Rabo Lhok, Dara menghadapi tugas baru: membersihkan tumpukan lumpur.
Bila mengupahkan pada orang lain, biaya membersihkan rumah sebesar 6×6 meter persegi mencapai empat juta rupiah. Dara dibantu adik-adik dan tetangga, bahu membahu mengeruk sedimen lumpur. Butuh waktu, tenaga, plus ketabahan–namun akhirnya rumah mereka bisa bebas juga dari sekapan lumpur.
Walaupun sampai saat ini sisa sedimen masih tertumpuk di sekitar rumahnya, Dara tidak memiliki keinginan untuk pergi atau pindah dari Paya Rabo.
“Di sini banyak saudara. Saya tidak ingin ke mana-mana,” ujarnya. Dara cukup beruntung. Dia dan adik-adiknya masih bisa menempati rumah mereka sendiri, tidak usah lagi tinggal di Balee Dayah, maupun di tenda-tenda jingga BPBD yang terpasang di beberapa tempat.
“Harapan saya banjir tidak datang lagi….,” kata Dara pelan, “tapi kalau pun datang lagi, apa boleh buat. Kita kan tidak bisa berbuat apa-apa.”
Perempuan Pewaris Nabi Idris

Tangannya bergerak lincah dan pasti, mendorong kain ke bawah sepatu jarum. Bagi Raudhatul Muna, 25 tahun, ibu muda berpostur tegap asal Dusun Barona, Paya Rabo, menjahit bukan sekadar cara kreatif mencari uang. Itu hobinya, ditekuni sejak SMA. Sekarang hobi itu sudah berkembang menjadi profesi, yang bahkan menjadi periuk nasi utama keluarganya. Untuk sehelai gamis, Muna menetapkan tarif 70-90 ribu bagi setiap pakaian yang dijahitnya.
“Kalau pasang payet, lebih (mahal) lagi,” katanya. Payet yang memberi efek gemerlap dan mewah memang sangat disukai kaum perempuan Paya Rabo Lhok. Terutama untuk pakaian khanduri (pesta).
Usaha Muna cukup sukses. Pelanggannya datang dari seluruh gampong. Bahkan dari Keudee Sawang, ibu kota kecamatan. Sebelum banjir, Muna memiliki sebuah toko kecil di Barona. Dia bersama anak dan suaminya tinggal di ruang bagian belakang toko.
Pekan itu hujan turun secara konstan. Terus-menerus, tak berhenti, selama empat hari. Selasa 25 November 2025, Muna mendapat kabar melalui grup berbagi pesan kampung suaminya, bahwa air Sungai Sawang naik. Tengah malam, saat air sudah mencapai toko, Muna memutuskan untuk mengungsi ke rumah ibunya di Dusun Kuta Carok, yang berjarak hampir satu kilometer dari Barona.
“Suami saya tetap tinggal di toko untuk menjaga barang-barang kami,” kata Muna. Sepanjang malam ia tidak dapat tidur. Gemuruh air terdengar lain di telinganya.
“Di rumah Mamak pun air naik terus. Akhirnya kami putuskan untuk pergi ke Lapangan Desa. Di sana tanahnya lebih tinggi.”
Sebelum mengungsi ke lapangan, Muna menelepon suaminya. Ternyata di toko pun air sudah mencapai pinggang. Suami Muna terpaksa meninggalkan toko mereka, pergi ke rumah orang tuanya di Dusun Cot Suwe. Panggilan telepon pukul 3 pagi itu merupakan komunikasi terakhir mereka. Setelah itu, semua usaha menelepon suaminya, gagal.
“Listrik mati dan jaringan hilang total, lebih dari satu bulan lamanya,” cerita Muna. “Malam itu akhirnya kami semua menuju Dayah Darul Al Ikhlas. Sepertinya, seisi gampong mengungsi di situ. Perempuan dan anak-anak menempati balee (semacam bangunan gazebo besar tempat mengaji, umumnya dindingnya hanya separuh). Lebih dari sebulan kami tinggal di dayah.”
Muna tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak tahu bahwa aliran listrik putus karena sembilan tower dalam jaringan Aceh-Sumatera Utara telah roboh diterjang amukan banjir bandang. Dia juga tidak pernah mendengar, apa itu Siklon Senyar. Baginya, ada siklon atau tidak, sama saja. Yang sudah jelas adalah, rumah dan tokonya rusak. Barang-barangnya hancur. Motornya bahkan terendam lumpur hingga tak dapat lagi digunakan.
“Buat apa?” ia terdengar heran ketika ditanya apakah dia tidak ingin merekam bencana yang melanda desanya, dan menyebarkannya melalui media sosial. Muna merasa tak ada perlunya menyebarluaskan kabar, bahwa banjir telah meluluhlantakkan kampungnya.
“Ada juga saya dengar kata orang, bahwa ini (banjir) gara-gara penebangan (hutan). Tapi, banjir yang melanda kampung kami ini kan terjadi atas kehendak Allah. Jadi, ya, sudah, saya merasa tidak perlu mencari tahu sebabnya, atau mencoba mencegahnya. Tidak perlu juga menyebarkannya. Karena kehendak Allah kan pasti akan terjadi,” katanya.
Pasca banjir, perhiasan emas hasil jerih payahnya menjahit dijual untuk membeli keperluan sehari-hari, juga untuk biaya membetulkan mesin jahitnya yang terendam banjir. Walaupun perhiasannya habis dijual, Muna tidak menyesal.
“Karena kan itu untuk keperluan hidup kami juga,” ujarnya tegas. Keputusan menjual semua perhiasan itu disetujui sang suami, yang belum bisa menemukan pekerjaan lagi. Selama ini suami Muna bekerja serabutan, kadang-kadang menggarap sawah, kadang ikut orang membangun rumah.
Muna menggunakan aplikasi berbagi pesan untuk mempromosikan bisnisnya. Bila ia selesai menjahit baju klien yang menurutnya menarik, misalnya, maka Muna akan memasangnya di status aplikasi pesan. Atau langsung membagikannya di grup pertemanannya.
Ketika duduk di Kelas XII SMA Krueng Mane, Muna mendapat pengalaman tak terlupakan. Saat itu tahun 2020, Covid-19 membuat kegiatan belajar mengajar dengan metode konvensional, ambruk centang perenang. Bersama kawan-kawannya, Muna terpaksa sering duduk di warung kopi. Ini gara-gara mereka butuh Wi-Fi untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah.
“Waktu ujian juga cari Wi-Fi. Waktu itu ujian rasanya lebih berat dan capek daripada ujian biasa. Capek scrolling, capek tunggu soal-soalnya loading.”
Muna mengaku cukup trauma oleh banjir kemarin. Apalagi karena harta bendanya ikut musnah bersama banjir. Tapi dia tidak merasa perlu memikirkan, apa yang dapat dilakukannya untuk mencegah kehilangan seperti itu, seandainya banjir datang lagi.
“Hom,” (tidak tahu) katanya, menjawab pertanyaan apakah dia memiliki tas siaga. Yaitu tas berisi dokumen penting, pakaian, sekadar makanan dan barang-barang lain yang dibutuhkan saat darurat bencana. Hom juga yang dijawabnya, ketika ditanya situs internet apa yang sering diaksesnya. “Saya tidak candu ‘main hape’, lebih suka menjahit,” alasannya.

Kondisi jembatan gantung yang rusak parah di Desa Rambong Payong, Kec. Sawang, Aceh Utara setelah diamuk banjir bandang.
Berbeda dengan di Paya Rabo, penduduk Gampong Blang Seunong, Aceh Timur, memiliki kesadaran mitigasi bencana. Blang Seunong juga langganan banjir tahunan. Begitu seringnya banjir melanda dan mengisolasi desa ini dari dunia luar, sehingga penduduk berinisiatif untuk menyimpan sebuah jalo (sampan) di rumah. Meski tidak semua rumah memiliki jalo, namun mereka mengatur agar paling tidak setiap empat rumah memiliki satu jalo. Bila diperlukan, evakuasi bisa segera dilakukan tanpa harus menunggu bantuan dari luar.
Kesadaran akan “bencana rutin” ini juga membuat pemilik kedai terbesar di Blang Seunong bersiap-siap.
“Setiap musim hujan, Nek Guru (julukan pemilik kedai) selalu menyediakan stok sembako dan barang-barang keperluan sehari-hari lainnya dalam jumlah besar. Sebab beliau tahu, bila banjir datang, penduduk akan kesulitan belanja keluar desa. Dan kedainya pasti akan jadi tujuan utama,” cerita Yessi, relawan yang dihubungi via sambungan telepon.
Yessi berasal dari Alue Ie Mirah, desa yang bertetangga dengan Blang Seunong. Menurut Yessi, mereka juga umumnya memiliki semacam mezanin di rumah, sehingga bila air naik mereka dapat segera memindahkan barang-barang berharga ke atas, jauh dari jangkauan banjir. Informasi tentang cuaca dari BMKG, ketinggian air, tempat evakuasi dan sebagainya, juga dibagikan di grup berbagi pesan yang beranggotakan penduduk desa.
Tetapi bagi Muna, banjir tahunan yang selalu melanda Paya Rabo tidak pernah terlalu tinggi. Paling-paling setengah betis. Airnya pun cepat surut lagi. Jadi tidak perlu khawatir, atau mengadakan usaha mitigasi segala. Sedangkan banjir dahsyat seperti bulan November 2025, “Tidak akan terjadi lagi,” katanya yakin.
Ah, hom.
Cerita Pejuang Data Base: Petualangan dalam Gulita

Windi Maharani
Mobil berbelok. Pemandangan Kuala Simpang dengan jalan-jalan dan gedungnya yang berselaput debu, mulai berganti. Awalnya muncul sebentuk minaret. Sendirian, masjidnya sembunyi di balik tembok. Minaret ini tampilannya mirip mercusuar, hanya saja lautnya bukan air melainkan rumput dan pepohonan yang penuh debu sedimen banjir. Lalu kelapa sawit muncul, seperti pasukan gargoyle berbaris hingga ke batas sawang.
“Di sini ini langganan banjir juga,” kata Pak Sopir. Kami menghela napas panjang. Selalu begitu. Sawit, dan “langganan banjir”. Seperti dua sejoli sehidup semati, tak terpisahkan.
Jalanan menuju Tenggulun sebagian rusak berkerakal. Di dalam mobil kami seperti butiran boba, terkocok sempurna. Tapi akhirnya tanda bahwa kami sudah sampai Tenggulun tampak juga: deret garis sinyal di layar telepon seluler mendadak hilang.
Memang tak ada sinyal seluler di Tenggulun. Penduduk yang memerlukan komunikasi harus mencari tempat dimana sinyal seluler bisa ditangkap. Untuk internet, mereka biasanya pergi ke kafe.
“Sebab itu pekerjaan kami memutakhirkan data base sering terhambat,” kata Windi Maharani, 23 tahun, penduduk Tenggulun. Dia dan kawannya, Nia Ramadhani, 20, adalah operator data base Kelompok Cendana. Sebuah kelompok masyarakat sipil yang dimotori perempuan, dan memiliki perhatian pada lingkungan hidup dan ekonomi masyarakat.
Malam itu, Jumat 6 Februari 2025, kami duduk menikmati kopi di sebuah kafe. Kafe itu terletak di ruas jalan tempat sinyal seluler dapat diterima dengan baik. Espresso yang disediakan sungguh sedap.
“Waktu banjir itu kami beramai-ramai pergi ke bukit mencari sinyal,” ujar Windi. “Tapi lumayan sulit untuk mengurus data base di sana. Sebab itu pemutakhiran data base agak terbengkalai selama banjir.”
Data base yang disebutnya adalah kumpulan data tentang hutan, flora dan fauna serta kondisi lingkungan di daerah restorasi Tenggulun. Kelompok Cendana rutin mengadakan patroli ke hutan. Selain memetakan lingkungan hidup seputar Tenggulun, mereka juga mengawasi kalau-kalau ada pelanggaran etika terhadap lingkungan.
Dengan luas 151,43 km persegi, Tenggulun adalah kecamatan terluas di Kabupaten Aceh Tamiang. Curah hujan pada bulan November mencapai 241,70 mm dan bulan Desember 342,70 mm. (Sumber: Kecamatan Tenggulun dalam Angka, Biro Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang, 2024) Sedangkan perkebunan, luas kebun kelapa sawit baik kebun rakyat maupun korporasi mencapai 413,500 ribu hektar (Sumber: data.acehtamiangkab.go.id)
Curah hujan setinggi itu seperti sudah meramalkan, bahwa banjir akan selalu jadi menu tahunan.
“Tapi sebelum banjir besar November lalu, ada sesuatu, sih, Bu,” kata Windi.
“Maksudnya?”
“Yah, hari itu saya sedang ada kegiatan di SMA lain di Kuala Simpang. Di sana ada seorang bapak tua penjual es krim mengajak bicara.” Windi memang baru saja lolos jadi tenaga P3K di sebuah SMA.
Laki-laki tua penjual es krim mengatakan bahwa suasana dan cuaca saat itu serupa dengan suasana dan cuaca sebelum peristiwa banjir besar 2006. Hujan turun tanpa henti, terus menerus selama beberapa hari. Langit penuh awan gelap, suasana serba muram, menekan perasaan. Lelaki tua itu mengingatkan Windi agar berhati-hati, dan agar menjaga keluarganya.
Sore itu, air mulai berkumpul di lekukan-lekukan jalan di Tenggulun. Semakin lama semakin tinggi. Karena sudah terbiasa dengan banjir tahunan, warga bersikap biasa saja. Windi bahkan berputar mengelilingi kampung-kampung dengan motornya.

Nia Ramadhani (kanan) usai memanen jamur tiram milik usaha Kelompok Cendana.
Sementara itu di tempat lain, menjelang malam, dari gawainya Nia melihat sebuah video di aplikasi Facebook. Video mendirikan bulu kuduk: banjir bandang menerjang Sibolga. Ini bukan banjir bandang biasa, melainkan galodo. Banjir bandang dahsyat yang membawa balok-balok kayu, batu, lumpur dan sampah lainnya.
“Saya sempat bilang pada Ayah, ‘yaa Allah, kasihan sekali orang-orang Sibolga,’ ” kata Nia. Semakin larut malam, semakin tinggi air. Video itu adalah video media sosial terakhir yang sempat ditonton Nia. Sebab kemudian sinyal seluler lenyap. Tentu saja saat itu Nia tidak tahu bahwa menara-menara provider seluler sudah banyak yang rusak diterjang banjir.
“Tapi anehnya, air banjir itu relatif bersih, warna air hujan saja, tidak coklat butek seperti banjir biasa,” Windi menyambung. “Hari Selasa 25 November, sebelum padam lampu, saudara kami sedang mengadakan kenduri. Jadi kami membantu memasak dan sebagainya. Hujan deras turun terus. Kami meracik bahan makanan dan memasak di bawah siraman hujan. Kaki kami terendam air banjir…. Tapi itulah, airnya bersih. Aneh.”
Karena air tampak jinak, tak ada yang merasa khawatir. Seperti kata Windi, bagi masyarakat Tenggulun, banjir itu hidangan rutin.
“Hujan dua hari, banjir. Hujan dua hari, banjir,” kata Windi.

Proses pembangunan hunian sementara di Desa Paya Rabo Lhok, Sawang, Aceh Utara. Foto direkam pada 14 Februari 2026.
Malam hari selepas Isya, air sudah mulai mencapai anak tangga pertama rumah. Rumah Windi dibangun lebih tinggi dari tanah. Ada beberapa anak tangga sebelum mencapai teras. Lewat gawai, Windi juga melihat berita bahwa Kota Langsa sudah terendam banjir. Sibolga bahkan dilanda longsor.
“Saat itu para tetangga yang rumahnya lebih rendah, sudah berkumpul ke rumah saya, karena rumah mereka sudah terendam,” ujar Windi. Awalnya, semua orang mengira bahwa air takkan naik lagi, dan akan segera surut.
“Tapi saya merasa ada yang berbeda kali itu. Selain karena ada peringatan bapak tua di Kuala Simpang, saya sendiri juga punya perasaan tidak enak. Makin malam, hujan makin deras. Angin bertiup kencang. Bunyi air malam itu menakutkan sekali. Gemuruh, seperti sedang marah. Atap rumah kami berderak-derak dihajar angin dan hujan. Apalagi, listrik mendadak padam. Sinyal telepon seluler hilang total. Berdiam diri kegelapan sambil mendengar gemuruh air dan angin, benar-benar mencekam.”
Keesokan harinya, saat kenduri, situasi memburuk. Mereka tengah membaca tahlil ketika air mulai masuk rumah. Rupanya semua parit, saluran air, sungai kecil, sudah kewalahan menampung hujan. Air cepat sekali naik. Namun begitu, mereka tetap menyelesaikan tahlil, walaupun baju basah kuyup semua.
Di rumah Windi, tinggi air belum mencapai rumah, tetapi rumahnya sudah mulai dipenuhi sanak saudara yang mengungsi. Rumah keluarga besar Windi dihuni sekitar 20 orang, terdiri atas nenek, paman dan bibi, kedua orang tua Windi, lalu Windi sendiri dengan saudara-saudara kandung, sepupu serta keponakan. Rentang usia mereka mulai dari beberapa bulan hingga nyaris seabad.
“Nggak apa-apa ni,” kata para bapak. “Sebentar lagi juga surut. Kalian tidur saja, biar kami berjaga.”
Perkiraan mereka meleset. Bukannya surut, air makin mengamuk. Menjelang tengah malam para bapak membangunkan anggota keluarga yang perempuan, karena air sudah masuk rumah. Keluarga besar Windi memutuskan untuk mengungsi ke rumah tetangga yang tanahnya jauh lebih tinggi.
“Entah kenapa, saya merasa itu tidak akan cukup. Saya bilang pada ayah dan paman, lebih baik kita pergi sekarang. Saya usulkan agar mereka menebang beberapa batang pisang di belakang, lalu membuat rakit. Supaya nenek, sepupu dan keponakan yang masih kecil-kecil bisa segera mengungsi ke tempat aman,” anak bungsu dari enam bersaudara itu bercerita berapi-api. Salah seorang bibi Windi mendukung usul keponakannya itu untuk segera mengungsi.
“Ayok, kita pergi sekarang, daripada nanti kita tidak bisa lewat, terjebak di sini!” katanya.
Tapi para bapak “Tetap keukeuh,” kata Windi. Saran Windi untuk membuat rakit dan segera mengungsi, tidak digubris.
“Nanti saja, tunggu terang. Jadi enak kita, nampak jalan,” kata para bapak. Memang ada benarnya. Sebab, sumber cahaya waktu itu hanya dari telepon genggam plus senter. Dan semuanya sudah kehabisan daya, sebab listrik padam sejak kemarin.
Kemudian, sebagai usaha pertahanan, kaum bapak menggali tanah kebun. Tanah itu dilapisi terpal, dibuat semacam tanggul untuk menghempang celah pintu-pintu. Tujuannya untuk menahan air tetap di luar selama beberapa jam, sampai udara terang dan mereka bisa melihat jalan.
Tapi tidak lama, perkataan Windi terbukti. Sedikit lewat tengah malam, air menyerbu. Dari pintu depan, belakang, bahkan merembes melalui celah lantai. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain meninggalkan rumah itu. Windi masih sempat membatin, menyesali mengapa usulnya untuk pergi sejak awal, atau membuat rakit, tidak didengar. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.
Malam itu mereka semua bergiliran dalam rombongan kecil mengarungi air setinggi dada, perlahan-lahan dan meraba-raba, karena situasi gelap gulita. Tak bisa melihat apa-apa, mereka bisa saja terperosok ke dalam parit atau lubang.
Anak-anak dan balita diberangkatkan lebih dulu, menumpang ember-ember besar tempat cuci pakaian. Nenek Windi yang sudah amat sepuh, 98 tahun, dinaikkan ke atas ban dalam, yang dipinjam dari tetangga. Windi dan ibunya berangkat dalam rombongan terakhir. Mereka sempat tertinggal jauh, karena kesulitan mengarungi air deras, dalam gelap dan tanpa alas kaki.
Ketika akhirnya tiba di masjid yang dijadikan tempat pengungsian, halaman depan rumah ibadah itu pun sebenarnya sudah penuh air. Begitu juga di bagian belakang, di mana masyarakat membuat tanggul untuk menghalangi air dari sungai masuk ke masjid.
Mereka semua mengungsi tanpa persiapan apapun. Tak ada yang sempat membawa bahan makanan–jangankan makanan, pakaian ganti pun tak sempat. Maka setelah terang hari dan air surut, anak-anak muda yang berkumpul di Masjid menembus sisa air ke rumah masing-masing, mencari bahan makanan. Beras dan mie instan yang sudah terendam air berlumpur pun mereka bawa. Saat kembali ke Masjid, mereka “menemukan” tiga ekor ayam mendekam di ranting-ranting semak. Ketiga ayam itu mereka sembelih, dan mereka masak.
Bersyukur, ada beberapa warga yang rumahnya selamat dari banjir. Mereka langsung mengulurkan tangan, mengirimkan mie instan, sedikit beras, pisang, pepaya, apa pun yang dapat diberikan, pada para pengungsi.
“Yang paling mencemaskan, kami sama sekali tidak tahu situasi di luar. Tidak bisa mengabari saudara atau siapa pun di luar Tenggulun. Sementara orang di Kuala Simpang juga cemas karena tidak tahu kabar kami, apakah kami selamat atau tidak. Sebab, semua orang Tamiang tahu bahwa Tenggulun langganan banjir, jadi kalau Kuala Simpang saja hancur apalagi Tenggulun,” cerita Windi.
“Untungnya, setelah air surut kami bisa pergi ke bukit, dapat sinyal di sana,” sambung Nia. Gadis itu tidak mengungsi ke masjid, melainkan ke rumah neneknya, yang memang letaknya jauh lebih tinggi. “Berhari-hari, setiap sore, kami pergi ke bukit. Suasana di sana jadi ramai sekali. Seperti Pekan.”
Begitu ramainya, hingga salah seorang kawan Windi punya ide untuk berjualan kopi. Idenya sukses, jualannya laris.
“Di bukit itulah kami bisa melihat berita tentang dahsyatnya banjir di Kuala Simpang,” sambut Windi. “Sebelum itu pernah ada seorang bapak dari kota lewat di masjid, dia memberitakan bahwa banyak rumah di Kuala Simpang hilang dibawa banjir. Dan setelah kami lihat di internet, ternyata memang semengerikan itu.”

Nia Ramadhani bersama anggota Kelompok Cendana saat melakukan patroli hutan. Foto: dok pribadi
Hidup di pengungsian jauh dari nyaman. Empat hari di masjid, hari kelima Windi pulang untuk membersihkan rumah. Mencoba membuat rumahnya kembali bisa ditiduri. Kesulitan tidak berhenti di situ. Harga bahan bakar dan bahan makanan melonjak tinggi. Gas ukuran 3 kg mencapai 150 ribu satu tabung. Cabai merah 300 ribu sekilo. Mie instan yang pada hari biasa seharga 1500-2000 rupiah, saat itu dijual 5000 rupiah. Penduduk desa sebelah yang tidak kebanjiran, menjual bensin seharga 50-70 ribu seliter, dan tidak boleh dibeli hanya seliter.
“Pada hari pertama setelah banjir, masyarakat desa tetangga itu memang langsung membantu kami. Mereka memberikan air bersih. Tapi dihari kedua, waktu kami kembali ke sana karena memerlukan air, ternyata kami disuruh bayar,” kenang Windi.
Saat itu uang menipis dengan cepat. Akhirnya, para penyintas banjir ini menggunakan air sumur yang masih keruh untuk memasak nasi. Sedangkan untuk air minum mereka menampung air hujan.
Selama itu, listrik masih tetap padam.
“Ada satu hari listrik menyala, yaitu ketika Presiden Prabowo datang,” ujar Windi. Nia di sebelahnya tersenyum-senyum seperti mendengar lelucon. “Iya, listrik sempat menyala sehari itu, di Kuala Simpang. Tapi setelah Presiden pergi, listrik padam lagi.”
Berbeda dengan Dara atau Muna, Windi dan Nia sadar betul kaitan antara banjir dengan menghilangnya hutan.
“Saya melihat dengan mata kepala sendiri rumah-rumah di desa tetangga, yang luluh lantak oleh banjir. Saya juga tahu, bahwa mayoritas pekerjaan mereka adalah menebang kayu di hutan. Karena itu saya yakin betul, bahwa banjir ini bukan sembarang banjir, melainkan banjir karena penggundulan hutan. Dan tugas kitalah untuk menyadarkan mereka, bahwa alam ini perlu dijaga,” di sebelahnya, Nia mengangguk-angguk.
“Saya tidak peduli kata orang, yang menyebut bahwa tugas patroli ke hutan itu tidak cocok untuk perempuan. Saya akan tetap patroli, saya akan tetap mencoba menyadarkan mereka, bahwa alam ini bukan warisan, melainkan titipan.”[]
Karya jurnalistik ini merupakan hasil kerja sama Perempuan Peduli Leuser (perempuanleuser.com) dengan Combine Resource Innovation (combine.or.id) untuk liputan dengan topik Perempuan, Internet, dan Kebencanaan.
