BENCANA biasanya tidak datang tanpa tanda. Ada banyak isyarat yang disampaikan lewat pesan alam. Hujan yang turun lebih lama dari biasanya, sungai yang mulai meluap, air yang semula jernih berubah menjadi keruh, hingga hewan-hewan seperti burung, tikus, atau serangga bergerak massal menjauhi sungai atau lembah yang menjadi isyarat awal, bahwa banjir segera tiba.
Di banyak rumah, perempuan sering menjadi orang pertama yang bergerak mencari informasi, baik bertanya kepada tetangga, mengecek keadaan cuaca, memantau keadaan di sekitarnya sembari mengemasi barang-barang berharga. Ia juga orang pertama yang berperan menenangkan anak, mencarinya ketika belum sampai ke rumah, atau menghubungi via telepon jika anaknya berada di daerah berbeda untuk memastikan keadaannya.
Dalam situasi seperti itu, internet menjadi alat penting untuk mencari kabar, berbagi informasi, dan saling mengingatkan. Dari balik layar itulah, cerita-cerita tentang cara bertahan menghadapi banjir yang datang berulang perlahan terbentuk. Cerita yang jarang terdengar, tetapi menyimpan pengetahuan penting bagi kehidupan sehari-hari dan ke depannya.
Seperti cerita yang dituturkan oleh dua perempuan yang tinggal di Gampong Air Sialang Hilir. Sebuah kampung di Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Secara geografis, Gampong Air Sialang dikelilingi aliran sungai. Nama Air Sialang sendiri tidak lahir tanpa alasan, karena nama tersebut diambil dari nama sungai yang mengelilingi kampung ini, mulai dari Air Sialang Tengah, Air Sialang Hulu, hingga Air Sialang Hilir.
Selain sungai Air Sialang, daerah ini juga diapit oleh dua sungai lainnya, yaitu sungai Air Sarap dan Sungai Air Gadang. Untuk menuju ke permukiman, warga harus melewati beberapa jembatan penghubung. Sungai yang mengitari kampung itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Tak heran, terdapat banyak sumber mata air yang dibuat menjadi telaga di kampung ini. Namun di balik itu, juga menyimpan potensi ancaman saat hujan turun dalam waktu lama. Yaitu banjir yang datang secara berulang. Ada yang berskala besar hingga menelan jiwa dan harta benda, tapi ada juga yang hanya naik air sebatas ukuran mata kaki. Khususnya di rumah warga yang bangunannya masih rendah.
Bagi warga setempat, terutama para perempuan yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, perubahan tinggi air di sungai menjadi sesuatu yang selalu diperhatikan. Ketika hujan turun lebih lama dari biasanya, mereka mulai bersiap. Barang-barang penting diangkat lebih tinggi, stok makanan dan pakaian anak-anak disiapkan. Dokumen keluarga dan ijazah disimpan di tempat yang lebih aman.
Sebab, menurut sejarahnya, di Gampong Air Sialang pernah terjadi banjir dari waktu ke waktu. Pengalaman menghadapi banjir besar di masa lalu masih tersimpan dalam ingatan warga. Bahkan menjadi sebuah nilai-nilai kearifan lokal lewat cerita yang disampaikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Jauh sebelum telepon genggam dan media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kisah-kisah tentang bencana disampaikan lewat cerita orang tua kepada anak-anak mereka. Salah satu cerita yang masih diingat oleh sebagian warga adalah kisah tentang “Jailali Hanyut”, sebuah tragedi banjir besar yang terjadi sekitar tahun 1960-an.

Kehadiran internet kian memudahkan Suhartati berkomunikasi dengan anaknya yang terpisah oleh jarak. Ia juga kerap mencari informasi di internet tentang cara berkebun.
Suhartati (47 tahun), warga Air Sialang yang lahir pada tahun 1979, mengaku pertama kali mendengar cerita itu dari orang tuanya. Kisah tersebut sering diceritakan ulang sebagai pengingat bahwa banjir besar pernah terjadi di kampung mereka.
“Kami tidak mengalami langsung, tapi cerita itu sering disampaikan orang tua dulu. Mereka bilang pernah ada banjir yang sangat besar, sampai ada satu keluarga yang hanyut,” kata Suhartati yang merupakan ibu dari empat orang anak kepada perempuanleuser.com, 28 Februari 2026.
Cerita yang sama juga diketahui oleh warga lainnya bernama Surianti B (49 tahun). Ia mendengar kisah itu dari orang tuanya sejak masih kecil. Menurut cerita yang diwariskan di kampung, peristiwa itu bermula dari hujan lebat yang turun berhari-hari pada bulan Ramadan.
Saat itu, seorang warga bernama Jailali sedang berkebun di hulu Sungai Sikabu, tepatnya di daerah Panton Luas, Kecamatan Samadua, abupaten Aceh Selatan. Bersama istrinya dan seorang bayi mereka, Jailali tinggal sementara di sebuah pondok kecil di kebun yang berada di pinggiran sungai. Namun, hujan yang turun tanpa henti membuat air sungai meluap dengan cepat. Banjir besar datang membawa arus yang sangat deras hingga menghanyutkan pondok tempat mereka berteduh.
“Menurut cerita orang tua kami, pondok itu hanyut bersama air bah. Jailali dan istrinya terbawa arus,” ujar Surianti yang merupakan Kepala Sekolah TK At-Taqwa Air Sialang.
Beberapa waktu kemudian, warga menemukan Jailali dan istrinya dalam keadaan tidak bernyawa. Tubuh mereka ditemukan tidak jauh dari rumah Surianti. Tepatnya di Talago Lubuk Ek ‘Ot. Namun, di tengah tragedi itu, sebuah kisah yang sering diceritakan kembali oleh orang tua di kampung menjadi bagian yang paling diingat oleh warga. Bayinya Jailali ditemukan dalam keadaan selamat, berpegangan pada sehelai daun keladi di tepi tebing dekat Talago Punjuik.
Cerita tentang “Jailali Hanyut” mungkin terjadi puluhan tahun yang lalu. Akan tetapi, ingatan tentang banjir besar itu masih hidup dalam percakapan warga Gampong Air Sialang. Bagi generasi seperti Suhartati dan Surianti, kisah yang mereka dengar dari orang tua dulu bukan sekadar cerita lama. Ia menjadi pengingat bahwa sungai yang mengelilingi kampung mereka bisa berubah menjadi ancaman ketika hujan turun tanpa henti.
Puluhan tahun setelah cerita itu diwariskan dari generasi ke generasi, banjir kembali menguji warga Air Sialang. Pada tahun 2002, tepatnya pada 14 Ramadhan 1423 H, air sungai kembali meluap setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Bagi Suhartati, peristiwa itu datang pada masa yang sangat rentan dalam hidupnya. Saat banjir terjadi, ia baru saja melahirkan anak keduanya.
Air terus naik hingga membuat akses keluar masuk kampung terganggu. Suaminya yang saat itu sedang berada di daerah lain berusaha pulang ke rumah. Untuk sampai ke kampung, ia harus menyeberangi aliran sungai yang airnya sudah mencapai dada orang dewasa.
“Waktu itu saya baru melahirkan. Suami saya harus menyeberangi sungai dengan air setinggi dada supaya bisa sampai ke rumah. Terdengar pula kabar bawah rumah Abang sepupu saya hanyut terbawa banjir membuat perasaan saya semakin sedih,” kenang Suhartati dengan mata berkaca-kaca.
Situasi tersebut membuat warga kembali merasakan bagaimana rapuhnya akses menuju kampung yang dikelilingi aliran sungai. Ketika air meluap, beberapa rumah warga terbawa arus dan jembatan tidak dapat dilalui. Sehingga warga harus mencari cara lain untuk bisa saling menjangkau dan terhubung.

Surianti intens menggunakan internet untuk menunjang profesinya sebagai guru. Kreativitasnya juga bertambah berkat pengetahuan yang ia dapat melalui internet.
Cerita yang hampir serupa juga dialami oleh Surianti. Saat banjir melanda kampungnya, ia sedang berada jauh dari rumah karena sedang melanjutkan kuliah di Banda Aceh. Ia baru bisa pulang dua hari setelah kejadian banjir tersebut. Namun, perjalanan pulang ke kampung tidak mudah. Untuk sampai ke rumahnya di Air Sialang, Surianti harus menyeberangi Sungai Air Sarap. Karena jembatan yang biasa digunakan warga putus. Tidak bisa dilalui kendaraan bermotor, kecuali dengan jalan kaki dan menyusuri aliran sungai.
“Saya begitu terkejut melihat keadaan kampung. Waktu itu belum ada HP, saya baru tahu kejadian banjir setibanya di sini. Jadi, mobil yang mengantar kami tidak bisa masuk ke kampung Air Sialang. Terpaksa saya harus menyeberangi sungai Air Sarap lalu berjalan kaki sekitar 1 km untuk sampai ke rumah,” kenangnya.
Setibanya di rumah, Surianti juga mendapatkan kabar duka bahwa beberapa petak sawah peninggalan ayahnya kini sudah berubah menjadi aliran sungai. Meskipun banjir kali ini tidak merenggut nyawa, tapi banyak warga kehilangan harta benda.
Pengalaman itu membuat mereka kembali menyadari bahwa banjir bukan hanya cerita masa lalu seperti yang dulu sering disampaikan oleh orang tua mereka. Banjir masih menjadi bagian dari kehidupan yang terus berulang di kampung tersebut.
Pengetahuan Praktis yang Lahir dari Pengalaman

Kondisi sungai di Desa Air Sialang
Sejak saat itu, cara masyarakat menghadapi banjir perlahan berubah. Jika sebelumnya banyak hal dilakukan secara spontan saat air sudah meluap, kini warga mulai lebih peka terhadap tanda-tanda alam. Perempuan di rumah sering menjadi orang pertama yang mengingatkan keluarga ketika hujan turun lama atau ketika air sungai mulai meningkat.
Pengalaman tersebut perlahan membentuk cara-cara bertahan yang bersifat praktis. Pengetahuan ini tidak selalu tertulis, tetapi tumbuh dari pengalaman sehari-hari, dari mengamati sungai, mengingat peristiwa banjir di masa lalu, hingga belajar dari kejadian yang pernah menimpa saudara sendiri. Bagi banyak perempuan di kampung ini, pengalaman itu kemudian diterjemahkan menjadi strategi sederhana untuk menjaga keluarga tetap aman ketika air sungai mulai naik.
Suhartati adalah salah satu yang belajar dari pengalaman itu. Ia menyadari bahwa kampung tempat tinggalnya berada di wilayah yang kerap dilanda banjir. Kesadaran itu memengaruhi keputusan besar yang ia ambil bersama suaminya, ketika membangun rumah pada tahun 2009. Mereka sengaja membuat pondasi rumah lebih tinggi dari rumah-rumah di sekitarnya, bahkan membangun rumah bertingkat dengan lantai dua.
Menurut Suhartati, keputusan itu tidak muncul begitu saja. Ia melihat bagaimana setiap kali ada perbaikan jalan di kampung, timbunan tanah dan aspal baru membuat permukaan jalan semakin tinggi. Akibatnya, rumah-rumah warga yang lebih lama dibangun menjadi semakin rendah dibandingkan jalan.
“Kami sudah tahu kampung ini langganan banjir. Jadi waktu bangun rumah kami buat pondasinya tinggi dan ada lantai dua,” kata Suhartati yang juga merupakan pengrajin kasab di Gampong Air Sialang.
Keputusan itu kemudian terbukti menjadi langkah yang tepat. Saat banjir melanda pada tahun 2014, banyak rumah warga mulai dimasuki air. Namun, rumah Suhartati tetap aman karena posisinya lebih tinggi. Hal yang sama juga terjadi ketika banjir kembali datang pada tahun 2024.
Pada banjir terakhir itu, situasi di sekitar rumahnya justru jauh lebih mengkhawatirkan. Jembatan Kadai, yang berjarak sekitar 20 meter dari rumahnya, hancur terbawa arus sungai. Tidak hanya itu, satu rumah warga yang berada di dekat jembatan juga ikut hanyut terseret banjir.
Meski rumahnya selamat dari genangan air, rasa khawatir tetap menyelimuti Suhartati. Bagian belakang rumahnya berbatasan langsung dengan Sungai Air Sialang. Ia selalu membayangkan kemungkinan terburuk jika suatu saat arus sungai mengikis tepi tanah di belakang rumahnya. Karena itu, setiap kali hujan lebat turun, ia selalu memantau kondisi sungai.
“Kalau tanggul pembatas sungai sudah mulai tenggelam, saya langsung bersiap-siap,” ujarnya.
Bersiap bagi Suhartati berarti segera mengemasi barang-barang penting. Dokumen keluarga, pakaian, dan beberapa kebutuhan lain dipindahkan ke lantai dua rumah. Ia juga menyiapkan stok makanan untuk berjaga-jaga jika banjir semakin besar. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, ketika banjir datang, warga tidak selalu memiliki banyak pilihan untuk menyelamatkan diri.
“Kalau harus lari pun mau ke mana? Kampung ini memang dikelilingi air,” katanya.
Pengalaman serupa juga membentuk cara berpikir Surianti, yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di TK At-Taqwa Air Sialang. Lokasi sekolah tempat ia mengajar memiliki sejarah tersendiri. Menurut cerita warga, kawasan tempat sekolah itu berdiri dulunya merupakan jalur aliran Sungai Air Sarap.

Kondisi sungai yang melintasi Desa Air Sialang yang dipenuhi sampah plastik.
Hal itu juga selaras dengan cerita Suharti yang lokasi tempatnya berkebun, termasuk jalur aliran Sungai Air Sarap. Ia mengingat cerita orang-orang tua di kampung bahwa jika ditarik garis lurus, aliran sungai itu dahulu sejajar dengan lokasi TK At‑Taqwa Air Sialang dan MIN 10 Aceh Selatan.
Seiring waktu, aliran sungai berubah arah. Bekas jalur sungai itu kemudian menjadi kebun warga dan sebagian dibangun menjadi fasilitas pendidikan. Meski kini terlihat seperti daratan biasa, ingatan tentang aliran sungai lama itu masih hidup dalam cerita warga. Kesadaran akan risiko itu membuat Surianti selalu waspada ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, terutama saat anak-anak sedang berada di sekolah.
“Kalau hujan lebat dan anak-anak masih di sekolah, kami minta mereka tetap di dalam kelas dulu,” jelasnya.
Ia memilih menunggu sampai hujan sedikit reda sebelum meminta orang tua menjemput anak-anak mereka. Langkah ini dilakukan untuk menghindari risiko jika air sungai tiba-tiba meluap. Selain itu, bangunan sekolah juga dibuat dengan pondasi yang lebih tinggi dibandingkan sebagian rumah warga di sekitarnya. Hal ini cukup membantu ketika banjir datang.
Pada banjir tahun 2014, air sempat masuk ke halaman dan ruang kelas sekolah. Namun, ketinggiannya hanya sampai mata kaki. Meski demikian, air yang masuk sempat merusak beberapa barang yang ada di sekolah.
Buku-buku dan dokumen yang berada di lantai menjadi basah. Lemari dan meja yang terkena air banjir juga mulai lapuk. Hingga sekarang masih ada bekas ketinggian air yang pernah masuk ke sekolah itu. Dan kini menjadi saksi bisu bahwa banjir kerap menghampiri kampung ini.
Perubahan kecil kemudian terjadi pada tahun 2018, ketika sekolah mendapatkan bantuan pembangunan pagar. Tanpa disadari, pagar tersebut kemudian menjadi pelindung tambahan ketika banjir besar kembali datang pada tahun 2024. Saat itu, banyak rumah warga di sekitar sekolah terendam air karena posisinya lebih rendah. Namun, halaman dan bangunan TK At-Taqwa relatif lebih aman dari terjangan banjir.
Bagi Surianti dan Suhartati, pengalaman-pengalaman tersebut perlahan membentuk pengetahuan yang tidak diajarkan di ruang kelas mana pun. Pengetahuan itu lahir dari pengamatan terhadap sungai, dari ingatan tentang banjir di masa lalu, serta dari upaya sederhana untuk melindungi anak-anak dan keluarga ketika air mulai naik.
Di kampung yang dikelilingi aliran sungai seperti Air Sialang, pengetahuan praktis semacam itu menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Ia hidup dalam keputusan-keputusan kecil. Dari cara membangun rumah, menyimpan dokumen penting, hingga memastikan anak-anak tetap aman ketika hujan turun lebih lama dari biasanya.
Internet dalam Strategi Bertahan Warga

Berkreasi mengolah sampah plastik menjadi ekobrik
Jika pengalaman menghadapi banjir berulang telah melahirkan berbagai pengetahuan praktis bagi warga Gampong Air Sialang, maka di masa sekarang pengetahuan itu juga semakin diperkaya oleh kehadiran internet.
Suhartati mengaku bahwa internet membantunya memahami kondisi cuaca dan perkembangan bencana di berbagai daerah. Ketika hujan turun berhari-hari, ia kerap membuka informasi prakiraan cuaca untuk mengetahui kemungkinan yang akan terjadi di wilayahnya. Dari internet pula ia mengetahui bagaimana bencana berdampak di wilayah lain.
Salah satu peristiwa yang ia ingat adalah banjir bandang yang melanda beberapa wilayah Aceh pada November 2025 lalu. Khususnya di bagian utara, timur, dan tengah Aceh seperti Pidie, Aceh Timur, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Aceh Tengah. Dampak dari bencana itu, membuat akses informasi di kampung mereka justru sangat terbatas. Banjir yang terjadi menyebabkan listrik di Air Sialang padam hingga dua minggu lamanya.
Situasi tersebut memaksa warga kembali menjalani kehidupan seperti masa lalu. Pada malam hari mereka menggunakan lampu minyak sebagai penerangan. Di dapur, kayu bakar kembali menjadi bahan utama untuk memasak karena gas LPG sulit didapatkan. Setiap pagi warga pergi ke telaga untuk mencuci dan mengambil air yang akan digunakan untuk memasak dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Untuk mandi, warga mendatangi beberapa talago yang terdapat di Gampong Air Sialang, seperti Talago Lamen, Talago Nek Maricat, Talago Tampang, Talago Surau, Talago Meunasah, Talago Punjuik, dan Talago Lubuk Ek’ot. Inilah sumber air yang selama ini menjadi tempat warga membersihkan diri ketika air di rumah tidak bisa digunakan.
Listrik hanya menyala tiga hari sekali dan itu pun hanya beberapa jam. Pada saat-saat itulah Suhartati berusaha memanfaatkan internet untuk melihat berita tentang bencana yang terjadi di daerah lain.
“Kalau listrik hidup sebentar, saya langsung buka internet. Saya lihat berita banjir di daerah lain dan memantau keadaan sekitar di sini juga,” ujarnya.
Melihat berbagai berita bencana sering menimbulkan rasa waswas di dalam dirinya. Ia membayangkan kemungkinan yang sama bisa saja terjadi di kampungnya. Karena itu, setiap kali jaringan internet kembali tersedia, ia selalu menghubungi anaknya yang sedang bekerja di Meulaboh, Aceh Barat untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
Namun, bagi Suhartati, internet tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi ketika bencana terjadi. Dari internet pula lahir kesadaran baru tentang pentingnya menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Rumah Suhartati berdiri tepat di tepi Sungai Air Sialang. Ketika musim kemarau tiba, ia sering melihat sungai berubah menjadi tempat penumpukan sampah warga. Bau tidak sedap dari tumpukan sampah tersebut kerap tercium hingga ke rumahnya.
Kegelisahan itu mendorongnya mencari cara agar sampah plastik tidak lagi dibuang begitu saja ke sungai. Inspirasi datang ketika ia bertamu ke rumah seorang teman dan melihat plastik bekas sabun cair diolah sebagai kerajinan tangan. Sebagai pengrajin kasab yang terbiasa menyulam benang emas dengan berbagai pola, rasa ingin tahunya muncul. Ia mulai memperhatikan pola dan bentuk kerajinan tersebut.
Sepulang dari rumah temannya, Suhartati membuka internet untuk mencari video tentang cara membuat tas dan tikar dari plastik bekas sabun cair. Setelah mempelajarinya dengan saksama, ia akhirnya berhasil membuatnya sendiri. Sejak saat itu, plastik bekas sabun cuci pakaian tidak lagi dibuang. Ia mengumpulkannya untuk dijadikan bahan kerajinan tangan.
Tas dari plastik bekas tersebut bahkan ia gunakan sendiri ketika pergi mencuci pakaian ke telaga. Ketika tetangga melihatnya membawa tas itu, banyak yang tertarik dan ingin belajar membuatnya. Suhartati kemudian mengajak para perempuan di sekitar rumahnya untuk mengumpulkan plastik bekas sabun cuci mereka. Setelah terkumpul banyak, ia mengajarkan cara membuat tikar dan tas dari plastik tersebut sesuai dengan kreativitas masing-masing. Perlahan-lahan kebiasaan membuang plastik bekas sabun ke sungai pun mulai berkurang.
“Daripada dibuang ke sungai, lebih baik kita buat jadi barang yang bisa dipakai,” katanya.
Selain itu, ia juga mengajak anak-anaknya membuat ecobrick dari plastik kemasan makanan. Botol plastik tersebut diisi dengan potongan plastik hingga padat dan rencananya akan disusun menjadi sofa sederhana, jika jumlahnya sudah cukup banyak. Sementara itu, botol plastik bekas produk perawatan tubuh dikumpulkan untuk dijual kembali. Menurut Suhartati, langkah kecil itu ia lakukan agar warga mulai melihat bahwa sampah bisa memiliki nilai.
“Mulainya dari diri sendiri dulu. Kalau orang lihat bagus, biasanya mereka ikut.”
Suhartati juga merasa senang ketika suatu waktu anaknya, Nazira (8 tahun), mengikuti kegiatan “Aktivitas Asyik dan Seru Mengenal Kampung Air Sialang” yang diadakan oleh Yellsaints Family. Dalam kegiatan itu, anak-anak diajak menjelajahi delapan sumber mata air yang ada di Gampong Air Sialang, sekaligus belajar tentang sejarah kampung mereka. Termasuk kisah banjir besar yang dikenal dengan peristiwa Jailali hanyut.
Sepulang dari kegiatan tersebut, Nazira pulang dengan penuh cerita. Ia bercerita tentang mata air yang mereka kunjungi, tentang banjir yang pernah terjadi di kampungnya, hingga tentang pentingnya menjaga lingkungan agar bencana tidak semakin parah. Cerita-cerita itu disampaikan dengan antusias, seolah membuka cara pandang baru bagi seorang anak tentang kampung tempat ia tumbuh.
Bagi Suhartati, momen itu menjadi harapan kecil yang berarti. Ia melihat bagaimana pengetahuan yang selama ini hidup dari pengalaman orang dewasa mulai dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Ia percaya, jika anak-anak sudah memahami pentingnya menjaga sungai dan lingkungan, maka kebiasaan membuang sampah sembarangan perlahan bisa berubah.
“Kalau dari kecil sudah tahu, nanti mereka pasti lebih peduli,” ujarnya.
Di tengah ancaman banjir yang terus berulang, bagi Suhartati, perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Cukup dari anak-anak yang pulang membawa cerita, lalu tumbuh dengan kesadaran untuk menjaga kampungnya sendiri.
Selain membuat kerajinan tangan, Suhartati juga membantu suaminya berkebun. Di lahan yang dulu disebut-sebut sebagai bekas aliran sungai, mereka menanam cabai dan berbagai sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam kegiatan berkebun itu, internet juga menjadi sumber pengetahuan baru baginya. Ia kerap mencari informasi tentang cara pembibitan cabai, perawatan tanaman, hingga cara mengatasi hama.
“Kalau ada tanaman yang tidak bagus pertumbuhannya, saya cari di internet bagaimana cara merawatnya,” jelasnya.
Bagi Suhartati, internet bukan hanya membantu memantau bencana, tetapi juga menjadi sarana belajar untuk menjaga sumber penghidupan keluarga. Meski internet membantu Suhartati memperoleh banyak informasi tentang cuaca dan bencana, ia juga menyadari bahwa tidak semua informasi yang beredar di dunia maya dapat dipercaya begitu saja. Menurutnya, berita yang belum jelas kebenarannya kerap membuat orang menjadi panik jika tidak disikapi dengan bijak.
Ia pernah mendengar cerita dari anaknya yang tinggal di Meulaboh. Suatu hari anaknya menerima kabar dari internet bahwa Aceh Selatan sedang dilanda banjir besar. Karena khawatir, anaknya segera menelepon untuk memastikan keadaan keluarganya di kampung. Setelah dikonfirmasi, ternyata banjir tersebut hanya terjadi di satu wilayah, yaitu di Kecamatan Sawang saja. Sementara daerah Air Sialang masih dalam kondisi aman. Selain itu, Suhartati juga beberapa kali menerima pesan berantai yang memperingatkan akan terjadi gempa besar atau banjir besar. Namun, ia memilih untuk tidak langsung panik.
“Kalau dapat informasi seperti itu, saya tetap waspada saja. Kalau tidak terjadi, Alhamdulillah. Yang penting kita sudah bersiap-siap,” ujarnya.
Menurutnya, lebih baik tetap berhati-hati daripada mengabaikan informasi sama sekali. Namun, ia juga menilai masyarakat perlu lebih bijak dalam menyebarkan kabar yang belum jelas sumbernya.
“Jangan langsung diteruskan kalau belum tahu benar atau tidak. Lebih baik dicek dulu, bisa lewat televisi atau sumber yang jelas,” katanya.
Bagi Suhartati, arus informasi yang cepat kadang juga menimbulkan rasa khawatir. Berita tentang berbagai bencana di banyak tempat membuatnya semakin sering memantau kondisi lingkungan di sekitarnya.
Berbeda dengan Suhartati, Surianti memanfaatkan internet terutama untuk mendukung aktivitas pendidikan di sekolah. Sebagai kepala sekolah di TK At-Taqwa Air Sialang, ia sering menggunakan internet untuk mencari informasi tentang metode pembelajaran serta perkembangan anak usia dini. Selain itu, ia juga memantau informasi cuaca dan kebencanaan agar dapat mengambil keputusan yang tepat ketika anak-anak masih berada di sekolah saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
Internet juga menjadi sarana penting baginya untuk membangun solidaritas sosial. Ketika banjir dan longsor melanda beberapa wilayah Aceh di bulan November 2025 lalu, ia berkomunikasi dengan teman-temannya sesama alumni PGSD tahun 2003 melalui grup WhatsApp. Dari percakapan tersebut muncul inisiatif untuk menggalang dana bagi korban bencana.
Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui teman-teman mereka yang berada di daerah terdampak. Aktivitas serupa juga pernah dilakukan sebelumnya ketika banjir besar melanda Ladang Rimba pada tahun 2024. Dalam kegiatan tersebut, Surianti bahkan melibatkan anak-anak di TK At-Taqwa untuk ikut belajar tentang kepedulian sosial. Bersama para muridnya, ia mengadakan kegiatan penggalangan dana di kampung Air Sialang.
“Kami ajarkan kepada anak-anak bahwa membantu orang lain itu penting. Bisa saja suatu hari nanti kita juga mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Menurut Surianti, pengalaman menghadapi banjir di kampungnya sendiri juga menunjukkan pentingnya upaya mitigasi yang lebih baik. Ia berharap suatu saat ada pembangunan saluran air atau parit di sepanjang jalan Air Sialang. Saluran tersebut diharapkan dapat membantu mengalirkan air hujan menuju Sungai Air Sarap atau Sungai Air Sialang, sehingga genangan air tidak lagi masuk ke rumah-rumah warga.
Terkait dalam menyikapi berita hoaks tentang bencana di internet, ia tidak terlalu ambil pusing. Baginya yang penting selalu waspada. Sebab, menurutnya, sebelum internet hadir seperti sekarang, masyarakat justru lebih mudah diliputi kepanikan ketika menerima kabar yang belum tentu benar.
Ia masih mengingat peristiwa yang terjadi pada tahun 2005, beberapa bulan setelah tsunami Aceh dan Nias. Saat itu trauma masyarakat terhadap gempa dan tsunami masih sangat kuat. Suatu malam beredar kabar bahwa air laut sedang naik dan berpotensi menimbulkan tsunami. Tanpa memastikan kebenaran informasi tersebut, warga di Gampong Air Sialang beramai-ramai berlari menuju daerah pegunungan untuk menyelamatkan diri. Namun, setelah ditunggu lama, kabar tersebut ternyata tidak benar.
Peristiwa seperti itu bahkan terjadi beberapa kali. Setiap kali gempa terasa, warga segera berlari ke dataran tinggi karena tidak memiliki informasi yang jelas mengenai kondisi yang sebenarnya. Menurut Surianti, situasi sekarang sudah jauh berbeda. Dengan adanya internet, informasi mengenai gempa dapat diketahui dengan cepat dan lebih akurat.
“Sekarang kalau ada gempa, langsung ada pemberitahuan di telepon dari BMKG. Kita bisa tahu pusat gempa di mana, kedalamannya berapa, dan apakah berpotensi tsunami atau tidak,” ujarnya.
Informasi tersebut membuat masyarakat tidak lagi panik seperti dulu. Internet, menurutnya, membantu warga mengambil keputusan dengan lebih tenang dan terarah. Meski demikian, ia tetap mengingatkan bahwa informasi yang beredar di internet harus disikapi dengan bijak.
Bagi Suhartati dan Surianti, kabar tentang bencana yang beredar di dunia maya sebaiknya dipahami sebagai pengingat untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan sebagai sumber kepanikan. Banjir memang datang dan pergi di kampung ini, tapi pengalaman yang ditinggalkan tidak pernah benar-benar hilang. Cerita itu menetap di ingatan warga Gampong Air Sialang, meresap dalam cara mereka memandang langit, mendengar deras hujan, hingga memutuskan apa yang harus diselamatkan lebih dulu ketika air mulai naik.
Dulu, ketidakpastian membuat orang berlari tanpa arah. Kini, di tengah keterbatasan yang masih ada, perempuan-perempuan seperti Suhartati dan Surianti menemukan cara lain untuk bertahan, menggabungkan ingatan lama dengan pengetahuan baru dari layar kecil di tangan mereka.
Dari sana, mereka belajar membaca cuaca, memilah informasi, menjaga keluarga tetap terhubung, hingga mengubah sampah menjadi harapan. Internet tidak menghilangkan banjir, tetapi memberi mereka ruang untuk tidak lagi sepenuhnya tak berdaya. Dan dari langkah-langkah kecil yang mereka lakukan, tumbuh satu hal yang tak kalah penting dari bantuan apa pun: keyakinan bahwa mereka bisa tetap berdiri, bahkan ketika air kembali datang.[]
Karya jurnalistik ini merupakan hasil kerja sama Perempuan Peduli Leuser (perempuanleuser.com) dengan Combine Resource Innovation (combine.or.id) untuk liputan dengan topik Perempuan, Internet, dan Kebencanaan.
