Tampil Cantik: Semangat bagi Penyintas Bencana

Di sebuah ruangan luas, seorang perempuan bersimpuh, tangannya sibuk mengikat-ikat sehelai handuk kecil. Mulanya ekspresinya biasa saja. Seiring waktu, ada perubahan di wajah itu. Seperti geram. Gemas. Ikatan pada handuk berkali-kali dieratkannya. Matanya berkaca-kaca.

Seorang perempuan berkacamata menghampirinya. Bertanya lembut.

“Ibu kesal pada siapa? Atau pada apa? Boleh Ibu ceritakan?”

Dan perempuan itu pun bercerita.

Dia marah pada keadaan. Pada ketidakmampuannya menyediakan makanan untuk anak-anaknya. Pada tenda, pada tempatnya tidur yang hanya beralas tikar. Di akhir cerita, air matanya mengalir tak terbendung. Terisak-isak. Perempuan berkacamata yang sedari tadi mendengarkan, memeluknya. Belasan perempuan lain memperhatikan adegan itu. Ekspresi mereka memahami.

Setelah mengeluarkan beban yang bertumpuk di hati, perempuan tadi tampak lebih tenang. Ira, perempuan yang berkacamata, menjelaskan kepadanya bahwa setelah beban perasaan berkurang, maka kita harus kembali tenang dan menyayang. Keluarga membutuhkan ketenangan kita. Boneka beruang lucu yang tadi dibuat dengan cara mengikat kencang-kencang, penuh emosi itu, sekarang harus dijaga dan disayang.

“Triknya begitu,” kata Ira pada perempuanleuser.com. “Mereka semua korban terdampak bencana. Beban psikologis sudah pasti ada. Masalahnya, mereka tidak punya ruang, kesempatan, dan waktu untuk menjaga kesehatan mental mereka, karena disibukkan usaha bertahan hidup. Di situlah kami hadir, memberikan ruang dan kesempatan tadi.”

Hari itu, Jumat, 19 Desember 2025, Tim Institut Teknologi Bandung (ITB) Peduli ada di Gampong Raya Dagang, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Mereka hadir untuk membantu meringankan beban para korban terdampak Galodo[1] Sumatera yang terjadi pada 26 November 2025.

Bu Ira, panggilan sehari-hari Dr. Ira Adriati, M.Sn., adalah Ketua Tim Psikososial atau trauma healing. Dalam kegiatan layanan psikososial ini ia dibantu dua mahasiswa magister, Rahyannita Ilma dan Binda Intan Zahrani. ITB sendiri bekerja sama dengan Prodi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK), serta Universitas Al Muslim Bireuen. Tim akan melakukan aksi tanggap bencana di Kecamatan Peusangan dan Kecamatan Kuta Blang pada 19-20 Desember 2025. Selain layanan psikososial, layanan lain yang diberikan adalah layanan kesehatan, donasi obat-obatan dan sembako, juga pemasangan instalasi pengolahan air bersih.

Fakultas Kedokteran USK diperkuat jajaran dokter ahli, termasuk ahli anak, ahli penyakit dalam, ahli THT, serta ahli kulit dan kelamin. Penanggung jawab Tim USK adalah Dr.rer.nat. dr. Muhsin, Sp.PD dari Fakultas Kedokteran.

Klinik darurat dibuka di masjid Desa Jambo Kajeung. Turut turun tangan, Direktur Rumah Sakit Pendidikan USK, Dr. dr. Mulkan Azhary, M.Sc., Sp.P (K). Para pengabdi masyarakat ini bekerja sejak pukul delapan pagi. Berhenti hanya ketika pasien sudah tak ada lagi. Saat ini terjadi, matahari sudah tinggi dan pasien yang dilayani mencapai 150 orang.

Absennya tempat tinggal serta sarana sanitasi yang memadai, ditambah kondisi lingkungan pasca banjir dan cuaca tak menentu, menyebabkan para pengungsi banyak yang terdampak infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan penyakit kulit. Namun, yang tak kurang banyaknya, adalah mereka yang terdampak secara psikologis. Di sinilah layanan psikososial berperan.

Tim Psikososial ITB bekerja sama dengan tim dari Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USK membawa program pemulihan psikologis untuk usia PAUD-SD, usia remaja, dan usia dewasa. Tim USK diketuai Dr. Sanusi, S.Pd., M.Si.

Kabupaten Bireuen adalah salah satu kabupaten yang mengalami kerusakan sangat parah akibat bencana galodo. Saksi mata mengatakan bahwa gelombang banjir bandang yang menerjang beberapa wilayah di Bireuen berasal dari dua arah. Satu, dari arah selatan atau arah hulu Krueng Peusangan; dan yang kedua dari arah timur, dari anak-anak sungai yang mengalir di sana. Volume air yang sangat tinggi, ditambah balok-balok kayu besar yang turut hanyut, menghantam Bireuen dengan kekuatan penuh.

Harian Serambi Indonesia melaporkan bahwa 28 jembatan, terdiri atas 8 jembatan rangka baja, 4 jembatan kayu, dan 16 jembatan beton berbagai ukuran, putus total. Bupati Bireuen, H. Mukhlis, S.T., menyebut bahwa delapan jembatan berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan. Dua ribu hektare sawah hancur, 16 ribu rumah terdampak, mulai dari kerusakan berat, sedang hingga ringan. Total sekitar 110 ribu kepala keluarga mengungsi. Melihat ini, tanpa menghitung korban jiwa pun, sudah pasti rakyat Bireuen menanggung beban yang sangat berat.

Dalam dua hari bertugas, Tim Psikososial ITB baru melayani kaum ibu. “Bukan tidak mau membantu kaum bapak memulihkan diri. Tetapi ketika kami datang, para bapak masih sangat sibuk, memperbaiki ini-itu, evakuasi korban, bahkan membuka jalan,” jelas Ira. Namun, ke depan, tim berharap bahwa para bapak akan dapat mengikuti kegiatan ini juga.

“Sebab ini bukan kali pertama dan terakhir kami turun,” kata Ira. “Pemulihan dari bencana perlu waktu. Dan Tim kami insyaaallah akan mendampingi masyarakat Aceh hingga tuntas.”

Kegiatan psikososial yang diampu Tim ITB meliputi kegiatan menyanyi, menari, menggambar, mewarnai gambar dan bercerita untuk anak-anak. Kegiatan menggambar diintegrasikan dengan layanan pemulihan trauma, anak-anak diminta menggambarkan apa yang membuat mereka takut. Bagi remaja, kegiatan meliputi latihan sensorik dan emosi seperti merobek kertas, membangun “segitiga harapan”, merangkai gelang manik-manik dan gantungan kunci tali prusik. Para ibu dibantu “bersentuhan” dengan emosi mereka melalui kegiatan sharing, membuat boneka dari handuk dan membuat kain jumputan. Mereka juga mendapat sesi terapi khusus bertajuk Photo Therapy.

Seorang peserta usia anak menceritakan tentang gambar yang dibuatnya (dok: Tim Psikososial ITB)

Salah satu hasil mewarnai gambar. Tulisan pada layangan adalah pertanyaan dari Tim. Perhatikan jawaban kanan atas: “Siapa yang bisa menolong kamu saat banjir? Allah.” (dok: Tim Psikososial ITB)

Ada hal menarik terjadi dalam sesi sharing. Ira menawarkan pada peserta, siapa yang bersedia berbagi cerita lebih dulu. Semula, semua enggan. Tapi ketika ada peserta memberanikan diri untuk sharing dan Ira memberikan kosmetik sebagai apresiasi, mendadak antusiasme peserta yang lain timbul.

“Agaknya sudah menjadi naluri perempuan,” kata Ira tersenyum lebar, “walaupun di tengah keadaan darurat, perempuan selalu ingin tampil sebaik mungkin.”

Kosmetik yang dibagikan merupakan sumbangan dari Ikatan Orangtua Mahasiswa (IOM) ITB. Disebutkan, bahwa tampil bersih, wangi, dan menarik, selain merupakan fitrah manusia dan sunah Nabi, juga membangkitkan kembali rasa percaya diri. Pada korban bencana, harga dan kepercayaan diri adalah salah satu aset dasar yang hancur. Maka dengan membantu mereka memulihkan harga diri, akan lebih mudah bagi mereka untuk mengatasi tantangan hidup.

Terapi lain yang dibawa oleh Tim ITB adalah phototherapy. Beberapa foto khusus ditunjukkan pada peserta. Lalu mereka diminta menceritakan apa yang mereka rasakan saat melihat gambar itu, bagaimana pikiran mereka.

Phototherapy Kit (dok: perempuanleuser.com)

Foto yang mendapat komentar paling banyak dan paling menarik adalah foto wajah manusia yang dibalut helaian kain kasa. Seperti mumi Mesir. Peserta menyebut bahwa foto itu seperti mewakili keadaan mereka saat ini, yang seperti ditutup mata, hidung dan mulut, tak bisa berbuat apa-apa. Di lain saat, foto beberapa pasang kaki mendapat komentar bahwa kita (masyarakat terdampak bencana) harus tetap melangkah, pantang menyerah, mencari jalan ke arah pemulihan. Dan karena kaki yang nampak ada beberapa pasang, mereka mengomentari bahwa “kita harus bekerja sama”.

“Komentar-komentarnya menunjukkan pemahaman atas situasi yang mereka hadapi, dan resiliensi yang luar biasa,” ujar Ira. “Bahkan anak-anak pun begitu. Selanjutnya kami sekadar mengelaborasi, sikap mental serta tindakan apa yang sebaiknya diambil, setelah masa darurat berlalu.”

Disebutkan, bahwa para ibu yang membuat kain jumputan, mendapat ide untuk “melanjutkan hidup”, setelah melihat hasil karya mereka.

Hasil karya para peserta tengah dijemur (dok: Tim Psikososial ITB)

“Mereka langsung penuh ide, ingin membuat ini-itu dengan teknik jumputan ini. Ada yang sampai berlinang air mata, karena merasa dirinya ‘hidup’ dan kembali memiliki harapan, apa yang bisa dilakukannya di masa depan,” kata Ira.

Ekspresi emosi seorang peserta setelah sesi membuat jumputan (dok: Tim Psikososial ITB)

Dalam sesi kreativitas untuk remaja, kegiatan dibagi dua. Remaja putra membuat gantungan kunci dari tali prusik[1], remaja putri membuat gelang manik-manik. Sebelum itu, mereka melalui rangkaian terapi merobek kertas, membuat “Segitiga Harapan” dari batang bambu, serta mengisi kuesioner tentang kelebihan dan kekurangan diri masing-masing.

Membuat gelang manik-manik (dok: Tim Psikososial ITB)

Tim ITB bersama seorang penduduk dan remaja putra yang “pamer” gantungan kunci DIY (dok: Tim Psikososial ITB)

Saat sesi merobek kertas, sebagian peserta memprotes. “Sayang banget, Bu, kertas bagus begini dirobek-robek,” kata mereka.

Ira meyakinkan mereka bahwa ini ada maksudnya. Dia menganjurkan agar para remaja itu membayangkan kertas di tangan sebagai rintangan terbesar yang mereka hadapi saat ini, lalu merobeknya.

“Ayo robek, robek lagi!” Ira menyemangati. “Robek semua rintangan!”

Suasana jadi meriah saat para remaja itu bersemangat “merobek rintangan”. Wajah mereka aga berubah, menjadi lebih percaya diri.

“Senang sekali bisa sedikit membantu mereka mengeluarkan kepribadian positif mereka kembali,” kata Ira. Kedua asistennya yang turut hadir saat wawancara, mengangguk tanda setuju.

“Luar biasa mereka,” kata Binda, “bencana sebesar ini, mereka hadapi dengan sikap yang tetap positif.”

“Kami beruntung bisa ikut dalam tim ini,” sambung Ilma, “banyak sekali pelajaran hidup yang kami dapat.”

“Ya. Sejatinyanya, bukan kami yang membantu mereka. Tapi merekalah yang membantu kami, untuk lebih memahami hidup, serta memahami artinya bersyukur,” pungkas Ira lagi.[]

[1] Tali prusik adalah tali kecil berbahan sintetis (biasanya polyester), digunakan sebagai alat bantu pendakian atau panjat tebing, untuk membuat simpul yang menjerat tali utama

[1] Galodo adalah istilah Minangkabau untuk banjir bandang yang disertai benda-benda besar seperti batang kayu, batu dan lain-lain

Artikel Lainnya Seperti Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru